Anda di halaman 1dari 2

Nama: Fitri Dwi Nurhayati .

NIM : N1A117020

Kelas : 6K (K3’17)

Batang Hari merupakan salah satu kabupaten dari 11 kabupaten dan kota di
Provinsi Jambi. Kabupaten ini memiliki penduduk berjumlah 264. 741 jiwa yang dilayani
oleh 17 Puskesmas Induk, 60 Puskesmas Pembantu, 60 Pos Kesehatan Desa serta dua
Rumah Sakit, yang tersebar di 8 Kecamatan, 110 desa, dan 14 kelurahan. Di antara
penduduk tersebut, terdapat Komunitas Adat Terpencil/Masyarakat Terasing (KAT) yaitu
Suku Anak Dalam (SAD) berjumlah 926 KK yang tersebar di empat lokasi. Mereka
bermukim di kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas. Secara administrative kawasan
Taman Nasional Bukit Duabelas terletak di antara tiga Kabupaten yaitu Kabupaten
Sarolangun Merangin, Tebo, dan Batang Hari. Tiga Kabupaten tersebut saling
berbatasan di punggung perbukitan Bukit Duabelas. Kawasan yang di diami Orang
Rimba ini secara geografis adalah kawasan yang di batasi oleh Batang Tabir di sebelah
barat, Batang Tembesi di sebelah timur, Batang Hari di sebelah utara, dan Batang
Merangin di sebelah selatan.

Orang Rimba merupakan sebutan diri bagi komunitas adat terpencil yang hidup
dan tersebar dalam hutan di Propinsi Jambi. Sebutan ini menurut mereka sebagai
interpretasi dari kehidupan mereka yang sejak nenek moyangnya, menggantungkan
hidupnya pada hutan dan hasil-hasilnya. Pemerintah menamai komunitas ini dengan
sebutan yang berubah-ubah sesuai dengan proyek yang akan diberlakukan untuk
komunitas ini. Diawali dengan sebutan suku terasing, yang merupakan generalisasi untuk
semua suku yang di anggap “belum hidup normal”. Kemudian mereka dinamai
Komunitas Adat Terpencil, yang berikutnya disebut Suku Anak Dalam. Istilah Kubu
merupakan sebutan yang dilekatkan oleh masyarakat Melayu pada komunitas ini. Kubu
diartikan hidup liar, kotor, bau, penuh dengan kekuatan mistis, bodoh dan tertutup.
Makanya penyebutan kubu ini sangat ditentang oleh Orang Rimba, dan kemudian mereka
menyebutkan identitas mereka sebagai Orang Rimba atauSuku Anak Dalam.
Keberadaan SAD Batin Sembilan telah ada sejak sebelum masa kemerdekaan
juga sejak Desa Tanjung Lebar masih berstatus sebagai dusun sebelum tahun 1981.
Semenjak diberlakukan Undang-Undang Desa tahun 1979, banyak perubahan yang
dihadapi oleh SAD Batin Sembilan seiring dengan perubahan status dusun menjadi desa
tersebut. Perubahan tersebut disusul oleh adanya gelombang besar kedatangan
masyarakat pendatang akibat adanya kebijakan transmigrasi dan perhutani, perusahaan,
maupun penduduk wilayah lain yang datang dengan sendirinya untuk membuka ladang
baru.

SAD diyakini sebagai keturunan Sembilan bersaudara anak dari Raden Ontar.
Raden Ontar sendiri dikenal sebagai anak dari Pangeran Nagosari dan cucu dari Maruhun
Sungsang Romo yang memiliki darah Mataram Hindu. Pangeran Nagosari kemudian
menikah dengan Putri Bayan Lais yang merupakan putri dari Pangeran Bagas Gayur yang
berasal dari Kerajaan Pagaruyung sekaligus keturunan dari Putri Berdarah Putih dari
Gunung Kembang, Kabuaten Sarolangun.

Anak Raden Ontar yang berjumlah Sembilan itu adalah Singo Jayo, Singo Jabo,
Singo Pati, Singo Inu, Singo Besak, Singo Laut, Singo Delago, Singo Mengalo, dan
Singo Anum. Setelah dewasa, kesembilan anak itu diperintahkan oleh Raden Ontar untuk
menguasai Sembilan anak sungai berbeda yang ada di Jambi. Kesembilan anak sungai
tersebut selanjutnya disebut sebagai Batin. Sementara itu, persebaran anak Raden Ontar
dalam menguasai sungai adalah di sekitar Sungai Batanghari, Batang Tembesi, dan
Sungai Lalan. Delapan anak Raden Ontar memilih tempat di wilayah timur Batanghari
dan Batang Tembesi, yaitu Sungai Burung Antu, Telisak, Sekamis, Pumisiran, Jangga,
Jebak, Bulian, dan Bahar. Satu anaknya memilih berada di wilayah Barat Batanghari,
yaitu Sungai Singoan. Berawal dari setiap batin inilah, keturunan Raden Ontar tersebut
berkembangbiak hingga sekarang.