Anda di halaman 1dari 54

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pada dasarnya setiap manusia dalam aktifitasnya baik yang bersifat

duniawi maupun ukhrawi tidak lepas dari pada tujuan(maqosyid) dari apa

yang ia akan peroleh setelah aktifitas tersebut, dengan berbagai macam

perbedaan sudut pandang manusia itu sendiri terhadap esensi dari apa yang

hendak ia peroleh, maka tidak jarang dan sangat tidak menutup kemungkinan

sekali proses untuk menuju pada tujuan maqosyidnya pun berwarna-warni.

Salah satu contoh dalam aktifitas sosial ekonomi, banyak dari manusia

sendiri yang terjebak dalam hal ini, lebih mengedapankan pada pemenuhan

hak pribadi dan mengabaikan hak-hak orang lain, baik hak itu berupa

individu ataupun masyarakat umum. Akan tetapi Islam sebuah agama yang

rohmatan lil-alamin mengatur seluruh tatanan kehidupan manusia, sehingga

norma-norma yang diberlakukan Islam dapat memberikan solusi sebuah

keadilan dan kejujuran dalam hal pencapaian manusia pada tujuan daripada

aktifitasnya itu,sehingga tidak akan terjadi ketimpangan sosial antara mereka.

Maka tidak jarang diantara kita yang acap kali menemukan ayat dalam

kitab suci Al-quran yang mendorong perdagangan dan perniagaan, dan Islam

sangat jelas sekali menyatakan sikap bahwa tidak boleh ada hambatan bagi

perdagangan dan bisnis yang jujur dan halal, agar setiap orang memperoleh

penghasilan.
2

Dalam memenuhi kebutuhan ekonomi, masyarakar tidak bisa terlepas

dari kegiatan perbankan dimana dapat diketahui bahwa sektor perbankan

mengalami perkembangan yang sangat pesat, khususnya sektor perbankan

syariah.Bank syariah sebagai salah satu solusi alternatif terhadap persoalan

pertentangan antara bunga bank dengan riba. Bank syariah lahir di Indonesia

pada sekitar tahun 90-an atau tepatnya setelah ada Peraturan Pemerintah No.

72 tahun 1992, yang kemudian direvisi dengan UU No. 10 Tahun 1998 dalam

bentuk sebuah bank yang beroperasinya dengan sistem bagi hasil.1

Perbankan merupakan suatu lembaga yang melaksanakan tiga fungsi

utama antara lain:Meminjamkan uang, menerima simpanan uang, dan

memberikan jasa simpanan uang.

“Perbankan syariah merupakan suatu lembaga keuangan dimana lembaga


pokoknya memberikan pembiayaan dan jasa-jasa lainnya dalam lalu lintas
pembayaran serta peredaran uang yang pengoperasiannya disesuaikan
dengan prinsip-prinsip syariah Islam”.2

Persaudaraan dalam berproduksi,beroperasi menggunkan prinsip bagi

hasil yang memberikan alternative, menonjolkan aspek keadilan dalam

bertransaksi, Investasi yang beretika, mengedepankan nila-nilai kebersamaan

dansistem perbankan yang saling menguntungkan bagi masyarakat dan bank,

serta menghindari kegiatan spekulatif dalam bertransaksi keuangan adalah

sistem perbankan syariah.Dalam berbagai layanan jasa perbankan yang

beragam, menyediakan berbagai produk, dan skema keuangan yang lebih

1
Muhamad, Teknik Perhitungan Bagi Hasil dan Profit Margin Pada Bank Syariah,
(Yogyakata: UII Press, 2004), hlm. 1
2
Muhammad, manajemen bank syariah, (Yogyakarta: (UPP) AMP YKPN, 2002) hlm.
15
3

bervareatif, perbankan syariah menjadi alternative sistem perbankan yang

kradibel dan dapat dinikmati oleh golongan masyarakat tanpa terkecuali.3

Dalam perbankan syariah kita telah mengenal bahwa didalamnya tidak

menggunakan prinsip bunga melainkan prisip bagi hasil yang sesuai dengan

prinsip syariah. Prinsip syariah itu sendiri adalah aturan perjanjian

berdasarkan hukum Islam antara bank dan pihak lain untuk penyimpanan

dana dan/atau pembiayaan kegiatan usaha, atau kegiatan lainnya yang

dinyatakan sesuai dengan syariah, antara lain pembiayaan berdasarkan prinsip

bagi hasil (mudharabah), pembiayaan berdasarkan prinsip penyertaan modal

(musharakah), prinsip jual beli barang dengan memperoleh keuntungan

(murabahah), atau pembiayaan barang modal berdasarkan prinsip sewa murni

tanpa pilihan (ijarah), atau dengan adanya pilihan pemindahan kepemilikan

atas barang yang disewa dari pihak bank oleh pihak lain (ijarah wa iqtina).4

Equity financing atau transaksi bagi hasil adalah yang dalam pembiayaan

pembagian keuntungan didasarkan pada keadilan antara pihak bank dan

nasabah.Keadilan tersebut tercermin dalam prinsip profit and loss sharing,

rugi dibagi bersama dan untung dibagi bersama.5

Al-musyarakah adalah akad kerja sama antara dua belah pihak atau

lebih untuk suatu usaha tertentu dimana masing-masing pihak memberikan

3
http://www.bi.go.id/id/perbankan/syariah/contents/default.aspex: diakses tanggal 5 April
2018: pukul 10:30.wib
4
Jundiani, Pengaturan Hukum Perbankan Syariah di Indonesia, (Malang : UIN-Malang
Press, 2009), hlm. 113
5
Ahmad Dahlan, bank syariah teoritik, praktik, kritik ( Yogyakarta:penerbit teras, 2012),
hlm. 164
4

konstribusi dana (atau amal/expertise) dengan kesepakatan bahwa keuntungan

dan risiko akan ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan.6

Secara termonologis, menurut Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah,


“syirkah (musyarokah) adalah kerja sama antara dua orang atau lebih
dalam hal permodalan, keterampilan, atau kepercayaan dalam usaha
tertentu dengan pembagian keuntungan berdasarkan nisbah”.7

Pembiayaan adalah yang disebut Shahibul Maal (bank) atau yang

memberikan amanah kepada Nasabah (mudharib) berupa modal untuk

kemudian digunakan menjalankan usaha maupun keperluan lain yang sesuai

ketentuan syariat Islam dan Nasabah harus mengembalikan modal tersebut

sesuai kesepakatan awal.

Adapun tujuan pembiayaan yang berdasarkan prinsip syariah Islam

yaitu untuk meningkatkan produktifitas, meningkatkan kesempatan kerja,

membuka lapangan pekerjaan, terjadinya distribusi pendapatan dan

kesejahteraan ekonomi sesuai dengan nilai-nilai Islam.8

Banyak Bank yang memberikan kemudahan dan keuntungan dalam

melakukan pembiayaan, dengan cara menawarkan berbagai variasi

keunggulan untuk menarik minat masyarakat melakukan pembiayaan kepada

bank, termasuk masyarakat yang membutuhkan dana untuk kebutuhan

konsumtif.

Selain di lembaga perbankan pembiayaan Musyarakah juga diterapkan

dan di lembaga keuangan mikro yaitu di Baitul Mal Wattamwil (BMT). Salah

satu lembaga keuangan mikro yang menerapkan pembiayaan

6
Bidayatul Mujtahid II. hlm.253-257
7
Pasal 20 ayat (3)
8
Binti Nur Asiyah, Management pembiayaan Bank Syariah ( Yogyakarta: teras,2014),
hlm. 4-5
5

Musyarakahadalah KSPS Artha Jaya Barokah Rumbia kabupaten Lampung

Tengah.

Untuk memenuhi kebutuhan permodalan para nasabah bukan lagi

perkara yang sulit, pembiayaan musyarokah di berikan oleh KSPS Artha Jaya

Barokah kepada Nasabah dengan persyaratan yang telah ditetapkan dan di

sepakati oleh kedua belah pihak.

Pembiayaan musyarokah yang di miliki KSPS Artha Jaya

Barokahmerupakan akad kerjasama antara dua belah pihak atau lebih dalam

menjalankan usaha, dimana masing-masing pihak menyetorkan modal sesuai

dengan kesepakatan dengan jangka waktudan bagi hasil berdasarkan

kesepakatan antara pihak KSPS dan nasabah.

Adanya pembiayaan musyarakah dengan sistem bagi hasil yang

disepakati oleh KSPS Artha Jaya Barokah maka banyak nasabah yang

mengajukan pembiayaan untuk menjalankan kegiatan usaha atau kegiatan

ekonomi lainnya.

KSPS Artha Jaya Barokah dalam aplikasi pembiayaan Musyarakah

menggunakan jenis syirkah ‘innan dimana syirkah ‘innan didefinisikan

sebagai kontrak antara dua orang atau lebih,dimana setiap pihak memberikan

suatu porsi dari keseluruhan dana dan kerugian dan berpartisipasi dalam

kerja. Kedua belah pihak dalam keuntungan dan kerugian dibagi

berdasarakan kesepakatan. Akan tetapi, porsi masing-masing pihak, baik


6

dalam dana maupan kerja atau hasil, tidak harus sama sesuai dengan

kesepakatan mereka.9

Berdasarkan Latar belakang diatas penulis mengamati pembiayaan

Musyarakah yang terjadi di KSPS Artha Jaya Barokah, dan jumlah nasabah

pembiayaan Musyarakah cukup banyak.Sehingga penulis tertarik untuk

mengangkat judul “Implementasi Bagi Hasil Pada Pembiayaan Musyarakah

di KSPS Artha Jaya Barokah Rumbia Tahun 2018”

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas maka,

penulis merumuskan masalah yang akan dibahas yaitu: “Bagaimana

implementasi bagi hasil pada pembiayaan musyarakah pada KSPS Artha Jaya

Barokah 2018”

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka tujuan penelitian yang

hendak dicapai adalah Untuk mengetahui implementasi bagi hasil pada

pembiayaan musyarakah pada KSPS Artha Jaya Barokah 2018

D. Manfaat dan Kontribusi Penelitian

1. Bagi Penulis Peneliti

Diharap mampu mengembangkan dan menerapkan teori yang telah

diterima dalam bangku perkuliahan ke dalam praktik.Serta menambah


9
Muhammad Syafi‟i Antonio, Bank Syariah Dari Teori ke Praktik, (Jakarta : Gema
Insani, 2001), hlm. 93
7

kemampuan dalam menganalisa sebuah implementasi bagi hasil

pembiayaan Musyarakah pada KSPS Artha Jaya Barokah, serta

menumbuhkan sikap profesionalisme kerja yang berdasarkan teori ke

praktik dan meningkatakan kemampuan berfikir dalam pemecahan

masalah secara ilmiah.

2. Bagi Akademik

Peneliti diharap memberikan informasi dan berguna bagi akademisi

mengenai implementasi bagi hasil pembiayaan musyarakah pada KSPS

Artha Jaya Barokah dan praktik penganalisannya dalam hal ini

implementasi bagi hasil antara bank dan nasabah.Sekaligus sebagai

perbandingan antara teori yang dipelajari dengan praktik yang dijalankan.

3. Bagi Masyarakat

Peneliti diharap mampu menambah wawasan untuk masyarakat agar

memahami tentang prosedur implementasi bagi hasil pembiayaan

musyarakah, sehingga menjadi sebuah refrensi baru dalam dunia

perbankan syariah.

4. Bagi Lembaga Keuangan

Sebagai sumbangan informasi bagi pihak lembaga keuangan yang dalam

halini adalah KSPS Artha Jaya Barokahdalam mengimplementasikan

bagi hasil pembiayaan musayarakah untuk mensejahterakan rakyat sesaui

dengan syariat Islam.


8

E. Metode Penelitian

1. Pendekatan dan Jenis Penelitian

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan

kualitatif, yaitu prosedur penelitian yang menghasilkan data-data

deskriptif, berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan

perilaku yang diam.

Penelitian ini merupakan jenis penilitin lapangan (field

research).Penelitian lapangan adalah penelitian yang bertujuan

mempelajari sosialisai secara langsung dilapangan, latar belakang dan

keadaan yang sedang terjadi sekarang serta tidak melakukan perubahan

dengan apa yang diteliti.10

2. Sumber Data

Menurut Suharlah Arikunto yang dimaksut dengan sumber data

didalam penelitian adalah subjek darimana data diperoleh.Apabila

peneliti menggunakan kuesioner atau wawancara didalam pengumpulan

datanya, maka sumber data tersebut disebut responden, yaitu orang yang

merespon atau menjawab pertanyaan-pertanyaan peneliti, baik

pertanyaan tertulis maupun lisan.Sumber data penelitian ini adalah

sumber data primer, sumber data skunder, sumber data tersier.11

10
Moh.Kasiram, metodologi penelitian kualitatif-kuantitatif, (malang: UIN-Maliki Pres,
2010), hlm. 53
11
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik,( Jakarta: Rineka
Cipta 2006), hlm.12
9

a. Sumber data primer

Sumber Data primer yaitu sumber data utama yang diperoleh

langsung wawancara dan dokumentasiSumber data primer dalam

penelitian ini dari subyek atau pelaku dengan sumber informasi yang

dicari.12Sumber data primer adalah data yang diperoleh langsung dari

sumbernya melalui :

1) Bapak Wiryono selaku Manager KSPS Artha Jaya Barokah

2) Ibu Linda sebagai Account Officer (AO) KSPS Artha Jaya

Barokah. Agar mendapatkan informasi secara lebih lengkap lagi

guna keperluan data-data penelitian untuk laporan tugas akhir.

b. Sumber data sekunder

Sumber data sekunder adalah sumber penunjang dan

perbandingan yang berkaitan dengan masalah. Menurut Sugiono,

sumber data sekunder merupakan sumber yang tidak langsung

memberikan data, misalnya melalui orang lain atau melalui

dokumen.13

Terdapat juga data yang diperoleh dalam bentuk yang sudah jadi,

data yang sudah di olah dan dikumpulkan oleh pihak lain, biasanya

sudah dalam bentuk publikasi dan cetakan seperti buku-buku dan

sebagainya. Peneliti mencari buku, jurnal, serta beberapa referensi

yang lain dan dokumen-dokumen terkait dengan judul yang diangkat

penulis sebagai pendukung kelengkapan data. Beberapa buku yang


12
Saifudin Azwar, Metode Penelitian ( Yogyakarta:Pustaka Pelajar, 1998). hlm.91
13
Sugiono, Metode Penelitian Kualitatif, kualitatif, dan R&D., ( Bandung: Alfabeta, 2010)
hlm. 193
10

peneliti gunakan diantaranya adalah 1) Fiqih Muamalah dengan

pengarang Rahmad Syafei, 2) Fiqih Ekonomi Islam dengan pengarang

Mardani, 3) Bank Syariah dari Teori ke Praktek dengan pengarang M.

Syafi’i Antonio, 4) Pembiayaan Musyarakah dan Mudharabah dengan

pengarang Naf’an, 5) Manajemen Bank Syariah dengan pengarang

Muhammad.

c. Sumber data tersier

Sumber data tersier adalah bentuk yang ketiga yang merupakan

penunjang atau sampingan.14 Sumber data tersier dalam penelitian ini

berupa brosur dan data lain seperti Al-Quran dan terjemahannya,

kamus, ensikplodia dan sumber internet.

3. Tekhnik Pengumpulan Data

Adapun tekhnik yang digunakan dalam pengumpulan data didalam

penelitian ini yakni sebagai berikut:

a. Observasi

Tekhnik observasi yaitu pengamatan dan pencatatan secara

sistematik terhadap gejala yang tampak pada objek

penelitian.Observasi sebagai alat pengumpulan data banyak di

gunakan untuk mengukur tingkah laku ataupun proses terjadinya

suatu kegiatan yang dapat diamati, baik dalam situasi sebenarnya

maupun dalam situasi buatan. Observasi dapat dilakukan secara

langsung maupun tidak langsung.15


14
Sugiono,Metode Penelitian Kualitatif, kuantitatif, dan R&D, hlm. 194
15
Rianto Adi, Metode Penelitian Sosial dan Hukum (Jakarta:Granit,2004), hlm 70.
11

Observasi yang penulis lakukan disini yaitu dengan melakukan

observasi secara langsung terhadap kegiatan operasional yang ada di

KSPS Arta Jaya Barokah Rumbia Kabupaten Lampung Tengah.

b. Wawancara

Wawancara adalah sebuah dialog yang dilakukan oleh peneliti

yang berperan sebagai pewawancara untuk memperoleh informasi

dari terwawancara (interview). Interview atau wawancara adalah

sebuah dialog yang dilakukan dua orang atau lebih untuk

memperoleh informasi dari wawancara tersebut.16 Interview

dibedakan menjadi tiga yaitu:

a). Interview bebas ( tanpa pedoman pertanyaan)

b). Interview terpimpin ( menggunakan daftar pertanyan)

c). Interview bebas terpimpin ( kombinasi antara interview bebas dan

terpimpin)

Didalam hal ini, peneliti menggunakan interview bebas Terpimpin,

Untuk mendapatkan informasi secara lebih lengkap lagi guna

keperluan data-data penelitian untuk laporan tugas akhir, penulis

melakukan wawancara langsung dengan Bapak Wiryono selaku

Manager KSPS Artha Jaya Jaya dan Ibu Linda sebagai Account

Officer (AO).

c. Dokumentasi

Dokumentasi adalah mencari data yang mengenai hal-hal yang

berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, prasasti,


16
Sutrisno Hadi, Metodogi Research,(Yogyakarta: Andi Offest, 2000), hlm.75
12

notulen, rapat, lengger, agenda, dan lain sebagainya.17Tekhnik

dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data tertulis yang

mengandung keterangan dan penjelasan yang mempunyai

pemikiran tentang penelitian, seperti hal-hal yang berkaitan dengan

implementasi bagi hasil pada pembiayaan musyarokah di KSPS

Artha Jaya Barokah Rumbia Kabupaten Lampung Tengah.

4. Tekhnik Analisis Data

Analisis data adalah cara menyederhanakan data dengan bentuk

yang lebih mudah dipahami dan dibaca. Didalam hal mengambil

kesimpulan, penelitian ini menggunakan metode analisis yang bersifat

deskriptif dengan cara berfikir yang berbentuk induktif.

Menurut Sutrisno Hadi, berfikir induktif adalah berangkat dari

fakta-fakta atau peristiwa-peristiwa yang khusus, peristiwa-peristiwa

yang kongkret, kemudian dari fakta-fakta itu ditarik generalisasi-

generalisasi yang mempunyai sifat umum.18

Berdasarkan penjelasan diatas, analisis data yaitu membentuk teori

yang ada dengan kenyataan yang terjadi dilapangan untuk mengambil

suatu kesimpulan dari penelitian yang berkaitan dengan implementasi

bagi hasil pada pembiayaan musyarokah pada KSPS Artha Jaya Barokah.

17
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta: Rinike
Cipta) hlm.274
18
Sutrisno Hadi, Metodologi Research,hlm.42
13

BAB II
LANDASAN TEORITIK

A. Pengertian Musyarokah

Syirkah secara etismologis mempunyai arti percampuran (ikhli-that),

yakni bercampurnya salah satu dari dua harta dengan harta lainnya, tanpa

dapat dibedakan antara keduanya.1

Secara termonologis, menurut Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah,

syirkah (musyaroakah) adalah kerjasama antara dua orang atau lebih dalam

hal permodalan, keterampilan, atau kepercayaan dalam usaha tertentu dengan

pembagian keuntungan berdasarkan nisbah.2

Definisi lain dari musyarakah secara fiqih dalam kitab, As-Syailul

Jarrar III: 246 dan 248, Imam Asy-syaukani menulis sebagai berikut,

“(Syirkah syar‟iyah) terwujud (terealisasi) atas dasar sama-sama ridho di

antara dua orang atau lebih, yang masing-masing dari mereka mengeluarkan

modal dalam ukuran yang tertentu. Kemudian modal bersama itu dikelola

untuk mendapatkan keuntungan, dengan syarat masing-masing di antara

mereka mendapat keuntungan sesuai dengan besarnya saham yang diserahkan

kepada syirkah tersebut. Namun manakala mereka semua sepakat dan ridha,

keuntungannya dibagi rata antara mereka, meskipun besarnya modal tidak

sama, maka hal itu boleh dan sah, walaupun saham sebagian mereka lebih

sedikit sedang yang lain lebih besar jumlahnya. Dalam kacamata syariat, hal

1
Rahmat syafei, fiqh muamalah ( bandung: pustaka setia, 2001), hlm.183
2
Pasal 20 ayat (3)
14

seperti ini tidak mengapa, karena usaha bisnis itu yang terpenting didasarkan

atas ridha sama ridha, toleransi dan lapang dada.3

B. Rukun dan Syarat Musyarakah

Hanafiyah berpendapat bahwa rukun syirkahhanya ada satu, yaitu

sighot (ijab dan Kabul) yang mewujudkan adanya transaksi syirkah.Mayoritas

ulama berpendapat bahwa rukun Syirkah ada empat yaitu : shigat, dua orang

yang melakukan transaksi, (‘aqhidain), dan objek yang ditransaksikan.

Shighat, yaitu ungkapan yang keluar dari masing-masing dari dua

pihakyang bertransaksi yang menunjukkan kehendak untuk

melaksanakannya.Shighat terdiri dari ijab qobul yang sah dengan semua hal

yang menunjukkan maksud syirkah, baik berupa perbuatan maupun

ucapan.‘Aqidhain adalah dua pihak yang melakukan transaksi ahliyah

al-‘aqad, yaitu baligh, berakal, pandai, dan tidak dicekal untuk

membelanjakan harta.Adapun objek syirkah, yaitu modal pokok.Ini bisa

berupa harta maupun pekerjaan.Modal pokok syirkah harus ada.

Tidak boleh berupa harta yang terutang atau benda yang tidak diketahui

karena tidak dapat dijalankan sebagaimana yang menjadi tujuan syirkah, yaitu

mendapat keuntungan.

Adapun yang menjadi syarat syirkah menurut kesepakatan Ulama yaitu:

1. Dua pihak yang melakukan transaksi mempunyai kecakapan / keahlian

(ahliah) untuk mewakilkan dan meneriam perwakilan.Demikian ini

dapat terwujud bila seseorang berstatus merdeka, baligh, dan pandai

(rasyid). Hal ini karena masing-masing dari dua pihak itu posisinya
3
Naf’an, Pembiayaan Musyarakah dan Mudharaah, (Yogyakarta: Graha Ilmu, cet ke-1,
2014) hlm. 96
15

sebagai mitra jika ditinjau dari segi adilnya sehingaa ia menjadi wakil

mitranya dalam mebelanjakan harta.

2. Modal syirkah ada pada saat transaksi.

3. Modal syirkah diketahui.

4. Besarnya keuntungan diketahui dengan penjumlahan yang berlaku,

seperti setengah, dan lain sebagainya.4

Beberapa syarat musyarokah menurut Ustmani yang dikutip As-carya, antara

lain:

1) Syarat akad

Karena musyarokah merupakan hubungan yang dibentuk oleh para

mitra melalui kontrak/akad yang disepakati bersama, maka otomatis

empat syarat akad yaitu : syarat berlakunya akad ( In’iqod), syarat sahnya

akad (shihah), syarat terealisasiya akad (nafadz), syarat lazim yang harus

dipenuhi.Misalnya, para mitra harus memenuhi syarat pelaku akad

(ahliyah dan wilayah), akad harus dilaksanakan atas persetujuan para

pihak tanpa adanya tekanan, penipuan, atau penggambaran yang keliru,

dan sebagainya.

2) Pembagian Proporsi Keuntungan

Dalam pembagian proporsi keuntungan harus dipenuhi hal-hal berikut:

a. Proporsi keuntungan yang dibagikan kepada mitra usaha harus

disepakati di awal kontrak/akad. Jika proporsi belum ditetapkan,

akad tidak sah menurut syariah.

4
Abdullah bin Muhammad Ath-Thayyar, Ensiklopedi Fiqih Muamalah, (Yogyakarya:
Maktabah Al Hanafi, 2009), hlm.266
16

b. Rasio/nisbah keuntungan untuk masing-masing mitra usaha harus

ditetapkan sesuai dengan keuntungan nyata yang diperoleh dari

usaha, dan tidak ditetapkan berdasarkan modal yang disertakan.

Tidak diperbolehkan untuk menetapkan lumsum untuk mitra

tertentu, atau tingkat keuntunga tertentu yang dikaitkan dengan

modal investasinya.

3) Penentuan Proporsi Keuntungan

Dalam menentukan proporsi keuntungan terdapat beberapa

pendapat dari para ahli Hukum Islam sebagai berikut :

a. Imam Malik dan Imam Syafii berpendapat bahwa proporsi

keuntungan dibagi antara mereka menurut kesepakatan yang

ditentukan dalam akad sesuai dengan proporsi modal yang

disertakan.Imam Ahmad berpendapat bahwa proporsi keuntungan

dapat pula berbeda dari proporsi modal yang mereka sertakan.

b. Imam Abu Hanifah, yang bisa dikatakan sebagai pendapat tengah-

tengah, berpendapat bahwa proporsi keuntungan dapat berbeda dari

proporsi modal pada kondisi normal. Namun demikian, mitra yang

memutuskan modal pada kondisi normal. Namun demikian, mitra

yang memutuskan menjadi slleping partner, proporsi keuntungan

tidak boleh melebihi proporsi modalnya.

4) Pembagian kerugian

Para ahli Hukum Islam sepakat bahwa setiap mitra menanggung

kerugian sesuai dengan porsi investasinya.


17

5) Sifat Modal

Sebagian besar ahli hukum Islam berpendapat bahwa modal yang di

investasikan oleh setiap mitra harus dalam bentuk moda likuid. Hal ini

berate bahwa akad musyarokah hanya dapat dengan uang dan tidak dapat

dengan komoditas. Dengan kata lain, bagian modal dari suatu perusahaan

patungan harus dalam bentuk moneter (uang). Tidak ada bagian modal

dalam bentuk natura.

6) Manajemen musyarokah

Prinsip normal dari musyarokah bahwa setiap mitra mempunyai hak

untuk ikut serta dalam manajemen dan bekerja untuk perusahaan patungan

ini. Namun demikian akan dilakukan oleh salah satu dari mereka, dan

mitra lain tidak akan menjadi bagian manajemen dari musyarakah. Dalam

kasus seperti ini sleeping partnersakan memperoleh bagian keuntungan

sebatas investasinya, dan proporsi keuntungan hanya terbatas proporsi

penyertaan modal. Jika semua mitra sepakat untuk bekerja di perusahaan,

masing-masing mitra harus di perlakukan sebagai agen dari mitra yang lain

dalam semua urusan usaha, dan semua pekerjaan yang dilakukan oleh

setiap mitra, dalam keadaan usaha yang normal, harus disetujui oleh semua

mitra.

7) Penghentian Musyarakah

Musyarakah akan berakhir jika salah satu peristiwa terjadi, yaitu :

a) Setiap mitra memiliki hak untuk mengakhiri musyarakah kapan saja

setelah menyampaikan pemberitahuan kepada mitra yang lain

mengenai hal ini.


18

b) Jika salah seorang mitra meniggal pada saat musyarakah berjalan,

kontrak dengan almarhum tetap berakhir/dihentikan. Ahli warisnya

memiliki pilihan untuk menarik bagian modalnya atau meneruskan

kontrak musyarakah

c) Jika salah satu mitra menjadi hilang ingatan atau menjadi tidak

mampu melakukan transaksi komersial, maka musyarakah berakhir.5

C. Dasar Hukum Syirkah

1. Al-Quran

Dasar hukum musyarakah adalah QS. Shad (38): 24:

‫ين َآمنُوا َو َع ِملُ وا‬ ِ َّ ِ ٍ ‫وإِ َّن َكثِريا ِمن اخْل لَطَ ِاء لَيبغِي بعضهم علَى بع‬
َ ‫ض إاَّل الذ‬ ْ َ ٰ َ ْ ُ ُ ْ َ َْ ُ َ ً َ
‫يل َما ُه ْم‬ ِ‫ات وقَل‬
ِ ‫الصاحِل‬
ٌ َ َ َّ
Artinya: “ sesungguhmya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat
itu sebagian mereka berbuat zalim kepada sebagian yang lain,
kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh dan amat
sedikitlh mereka itu.”1

Dan firman Allah QS.an-nisaa’(4): 12:

ِ ُ‫الثل‬ ِ
‫ث‬ َ ‫َٰذل‬
ُّ ‫ك َف ُه ْم ُشَر َكاءُ يِف‬
Artinya: “... mereka bersekutu dalam sepertiga.2

5
Ascarya, Akad dan Produk Bank Syariah, (Jakarta: Rajawali Pres, 2011), hlm.53-58
1
Al-qur’an [38] :38
2
Al-qur’an [ 04] : 12
19

2. Al-Hadist

Adapun dalil sunnah adalah: dari Abi Hurairah r.a. yang rafa’kan

kepada Nabi SAW.Bahwa Nabi SAW bersabda, “sesungguhnya Allah

SWT berfirman, “Aku adalah yang ketiga pada dua orang yang bersekutu,

selama seorang dari keduanya tidak menghianati temannya.Aku akan

keluar dari persekutuan tersebut apabila salah seorang mengkhianatinya.”(

HR. Abu Dawud dan Hakim dan mensahihkan sanadnya.

3. Ijma’

Ibnu qudamah dalam kitabnya, Al-mughni,3 telah berkata, “kaum

muslimin telah berkonsensus terhadap legitimasi Musyarokahsecara global

walaupun terdapat perbedaan pendapat dalam beberapa elemen darinya.”

Maksutnya Allah akan menjaga dan menolong dua orang yang

bersekutu dan menurunkan berkah pada pandangan mereka. Jika salah

seorang yang bersekutu itu mengkhianati temannya, Allah SWT akan

menghilangkan pertolongan dan keberkahan tersebut.4

D. Jenis-jenis Musyarokah

Syirkah (musyarakah) itu dibagi menjadi dua jenis, yaitu syirkah amlak

(kepemilkan) dan syirkah ‘uqud/’akad(kontrak).

1. Syirkah al-milk,dapat diartikan sebagai kepemilikan bersama antara pihak

yang berserikat dan keberadaanya muncul pada saat dua orang atau lebih

secara kebetulan memperole kepemilikan bersama atas sesuatu kekayaan

3
Abdullah Ibn Ahmad Ibn Qudamah, Mughni waSyarh Kabir (Beirut: Darul-fikr, 1979),
vol. v, hlm. 109
4
Rahmat Syafe’I, Fiqih Muamalah,(Bandung: Pustaka Setia, 2001) hlm. 79
20

tanpa adanya perjanjian/ akad kemitraan yang resmi. Syirkah al-milk

biasanya berasal dari warisan.5

2. Syirkah al-uqud, dapat dianggap sebagai kemitraan yang sesunguhnya,

karena para pihak yang bersangkutan secara sukarela berkeinginan untu

membuat suatu perjanjian investasi bersama dan berbagi untung dan

resiko.

Sedangkan menurut Syaid Sabiq membagi lagi syirkah menjadi

empat bagian yaitu :

Syirkah inan, syirkah mufawwadah, syirkah wujuh, syirkah abdan.

1) Syirkah inan

Merupakan akad kerjasama usaha antara dua pihak atau lebih, yang

masing-masing pihak harus menserahkan modal yang porsi modalnya

tidak harus sama. Pembagian hasil usaha sesuai dengan kesepakatan,

tidak harus sesuai dengan kontriusi dana yang diberikan. Dalam

Syirkah Inan, masing-masing pihak tidak harus menyerahkan modal

dalam bentuk uang tunai saja, akan tetapi bisa dalam bentuk asset atau

kombinasi antara uang tunai dan asset atau tenaga

2) Syirkah mufawwadah

Merupakan akad kerjasama usaha antara dua pihak atau lebih, yang

masing-masing pihak harus menserahkan modal dengan porsi yang

sama dan bagi hasil atas usaha atau resiko ditanggung bersama dengan

jumlah yang sama. Dalam SyirkahMufawwadah, masing-masing mitra

usaha memiliki hak dan tanggung jawab bersama.

3) Syirkah wujuh
Hendi Suhendi, Fiqih Muamalah, (Jakarta: Rajawali Pers, 2010) hlm. 129
5
21

Merupakan akad kerjasama antara dua orang atau lebih dengan

menggunakan harta orang lain di luar keduanya. Dengan kata lain,

seseorang yakni investor menyerahkan hartanya kepada dua orang

pengelola atau lebih melalui syirkah mudharabah, sehingga dua orang

pengelola tersebut bersyirkah dalam keuntungan dengan harta dari

orang lain di luar keduanya. Lalu kedua pihak (yakni investor dan dua

orang pengelola) bersepakat untuk membagi keuntungan menjadi tiga

bagian yakni sepertiga bagian untuk masing-masing pengelola dan

sepertiga bagian lagi untuk investor, atau keuntungan dibagi empat

bagian yakni bagi investor seperempat dan bagi pengelola

setengahnya, atau dilakukan pembagian keuntungan dalam bentuk lain

sesuai dengan syarat yang disepakati.

4) Syirkah abdan

Merupakan bentuk akat kerja sama antara dua pihak atau lebih yang

masing-masing hanya memberikan kontribusi kerja (amal), tanpa

kontribusi modal (mal). Konstribusi kerja tersebut dapat berupa kerja

pikiran (seperti penulis naskah) ataupun kerja fsik (seperti tukang

batu). Syirkah ini juga disebut syirkah ‘amal.

E. Tujuan dan Manfaat Musyarokah

Tujuan dan manfaat musyarokah yaitu :

1. Memberikan keuntungan kepada para anggota pemilik modal.

2. Member lapangan kerja kepada karywannya.


22

3. Memberikan bantuan keuangan dari sebagian hasil usaha musyarokah

(syirkah) untuk mendirikan tempat ibadah, sekolah, dan sebagainya.6

F. Fatwa DSN tentang Pimbiayaan Musyarakah

Ketentuan pembiayaan musyarakah terdapat pada fatwa DSN-MUI

No.08 Tahun 2000, sebagai berikut:7

1. Pernyataan ijab dan qabul harus dinyatakan oleh para pihak untuk

menunjukkan kehendak mereka dalam mengadakan kontrak (akad),

dengan memperhatikan hal-hal berikut:

a. Penawaran dan penerimaan harus secara eksplisit menunjukkan

tujuan kontrak (akad).

b. Penerimaan dari penawaran dilakukan pada saat kontrak.

c. Akad dituangkan secara tertulis, melalui korespondensi, atau dengan

menggunakan cara-cara komunikasi modern.

2. Pihak-pihak yang berkontrak harus cakap hukum, dan memperhatikan

hal-hal berikut:

a. Kompeten dalam memberikan atau diberikan kekuasaan perwakilan.

b. Setiap mitra harus menyediakan dana dan pekerjaan, dan setiap mitra

melaksanakan kerja sebagai wakil.

c. Setiap mitra memiliki hak untuk mengatur aset musyarakah dalam

proses bisnis normal.

d. Setiap mitra memberi wewenang kepada mitra yang lain untuk

mengelola aset dan masing-masing dianggap telah diberi wewenang

6
Mardani, Fiqih Ekonomi Syariah, ( Jakarta: Prenamedia Group, 2012), hlm.224
7
Ghufron Aji, Fiqih Muamalah II Kontemporer-Indonesia, (Semarang: CV. Karya Aadi
Jasa, cet ke-1, 2015) hlm. 177-181
23

untuk melakukan aktifitas musyarakah dengan memperhatikan

kepentingan mitranya, tanpa melakukan kelalaian dan kesalahan

yang disengaja.

e. Seseorang mitra tidak diizinkan untuk mencairkan atau

menginvestasikan dana untuk kepentingannya sendiri.

3. Obyek akad (modal, kerja, keuntungan dan kerugian)

a. Modal

1) Modal yang diberikan harus uang tunai, emas, perak atau yang

lainnya sama. Modal dapat terdiri dari aset perdagangan, seperti

barang- barang, properti, dan sebagainya. Jika modal berbentuk

aset, harus terlebih dahulu dinilai dengan tunai dan disepakati

oleh para mitra.

2) Para pihak tidak boleh meminjam, meminjamkan,

menyumbangkan atau menghadiahkan modal musyarakah

kepada pihak lain, kecuali atas dasar kesepakatan.

3) Pada prinsipnya, dalam pembiayaan musyarakah tidak ada

jaminan, namun untuk menghindari terjadinya penyimpangan,

LKS dapat meminta jaminan.

b. Kerja

1) Partisipasi para mitra dalam pekerjaan merupakan dasar

pelaksanaan musyarakah; akan tetapi, kesamaan porsi kerja

bukanlah merupakan syarat. Seorang mitra boleh melaksanakan

kerja lebih banyak dari yang lainnya, dan dalam hal ini ia boleh

menuntut bagian keuntungan tambahan bagi dirinya.


24

2) Setiap mitra melaksanakan kerja dalam musyarakah atas nama

pribadi dan wakil dari mitranya. Kedudukan masing-masing

dalam organisasi kerja harus dijelaskan dalam kontrak.

c. Keuntungan

1) Keuntungan harus dikuantifikasi dengan jelas untuk

menghindarkan perbedaan dan sengketa pada waktu alokasi

keuntungan atau penghentian musyarakah.

2) Setiap keuntungan mitra harus dibagikan secara proporsional atas

dasar seluruh keuntungan dan tidak ada jumlah yang ditentukan

diawal yang ditetapkan bagi seorang mitra.

3) Seorang mitra boleh mengusulkan bahwa jika keuntungan

melebihi jumlah tertentu, kelebihan atau prosentase itu diberikan

kepadanya.

d. Kerugian

Kerugian harus dibagi di antara para mitra secara proporsional

menurut saham masing-masing dalam modal.

4. Biaya operasional dan persengketaan

a. Biaya operasional dibebankan pada modal bersama.

b. Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika

terjadi perselisihan di antara para pihak, maka penyelesaiannya

dilakukan melalui Badan Arbitrase Syariah setelah tidak tercapai

kesepakatan melalui musyawarah.


25

G. Implementasi Pembiayaan Musyarokah dalam Perbankan Syariah

1. Pembiayaan Proyek

Al-Musyarakah biasanya diaplikasikan untuk pembiayaan proyek

dimana nasabah dan Bank sama-sama menyediakan dana untuk

membiayai proyek tersebut. Setelah proyek itu selesai, nasabah

mengembalikan dana tersebut bersama bagi hasil yang telah disepakati

oleh Bank

2.   Modal Ventura

Pada lembaga keuangan khusus yang dibolehkan melakukan

investasi dalam kepemilikan perusahaan, al-musyarakah diterapkan

dalam skema modal ventura. Penanaman modal dilakukan untuk jangka

waktu tertentu dan setelah itu Bank melakukan divestasi atau menjual

bagian sahamnya baik secara singkat maupun secara bertahap.8

Adapun mekanismenya yaitu:

a. Bank dan nasabah masing-masing bertindak sebagai mitra usaha

dengan bersama-sama menyediakan dana dan/atau barang untuk

membiayai suatu kegiatan usaha tertentu.

b. Nasabah bertindak sebagai pengelola usaha dan Bank sebagai mitra

usaha dapat ikut serta dalam pengelolaan usaha sesuai dengan tugas

dan wewenang yang disepakati seperti melakukan review, meminta

bukti-bukti dari laporan hasil usaha yang dibuat oleh nasabah

berdasarkan bukti pendukung yang dapat dipertanggungjawabkan.

Muhammad Syafi’I Antonio, Bank Syariah dari Teori kepraktik ( Jakarta: Gema Insani,
8

2001) hlm. 93
26

c. Pembagian hasil usaha dari pengelolaan dana dinyatakan dalam

bentuk nisbah yang disepakati.

d. Nisbah bagi hasil yang disepakati tidak dapat diubah sepanjang

jangka waktu investasi, kecuali atas dasar kesepakatan para pihak

e. Pembiayaan atas dasar Akad Musyarakah diberikan dalam bentuk

uang dan/atau barang, serta bukan dalam bentuk piutang atau

tagihan.

f. Dalam hal Pembiayaan atas dasar Akad Musyarakah diberikan dalam

bentuk uang harus dinyatakan secara jelas jumlahnya.

g. Dalam hal Pembiayaan atas dasar Akad Musyarakah diberikan dalam

bentuk barang, maka barang tersebut harus dinilai atas dasar harga

pasar (net realizable value) dan dinyatakan secara jelas jumlahnya.

h. Jangka waktu Pembiayaan atas dasar Akad Musyarakah,

pengembalian dana, dan pembagian hasil usaha ditentukan

berdasarkan kesepakatan antara Bank dan nasabah.

i. Pengembalian Pembiayaan atas dasar Akad Musyarakah dilakukan

dalam dua cara, yaitu secara angsuran ataupun sekaligus pada akhir

periode Pembiayaan, sesuai dengan jangka waktu Pembiayaan atas

dasar Akad Musyarakah;

j. Pembagian hasil usaha berdasarkan laporan hasil usaha nasabah

berdasarkan bukti pendukung yang dapat dipertanggungjawabkan

danBank dan nasabah menanggung kerugian secara proporsional

menurut porsi modal masing-masing.


27

H. Skema Pembiayaan Musyarakah

Dalam pembiayaan Musyarakah, Bank syariah memberikan modal

sebagian dari total keseluruhan modal yang dibutuhkan. Dari pihak bank

dapat menyertakan modal sesaui porsi yang disepakati dengan nasabah.Untuk

mempermudah memahami sistem pembiayaan musyarakah, berikut ini skema

musyarakah dalam bentuk gambar:

Gambar 1 .

Shahibul mal 2 Akad Pembiayaan Musyarakah Shahibul mal 1

(Nasabah) (Bank Syariah)

Modal 30% Modal 70%

Kerjasama

Bagi hasil Bagi hasil


Pendapatan

Modal 30% Modal 70%


Modal

. Skema Pembiayaan Musyarakah


28

BAB III

PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum KSPS Arta Jaya Barokah

1. Sejarah berdirinya KSPS Arta Jaya Barokah

Pada hari sabtu tanggal 15 Desember 2013 pukul 19:30-20:00 WIB

telah dilaksanakan rapat pembentukan Koperasi bertempat dirumah Bapak

Supriyono,S.pd Dusun IV Rt 02 Rw 01 Kampung Rekso Binangun

Kecamatan Rumbia Kabupaten Lampung Tengah. Dalam rapat tersebut

dihadiri 25 orang daftar hadir terlampir.

Rapat tersebut memutuskan :

1. Mengesahkan Anggota Dasar Koperasi Simpan Pinjam Syariah

2. Menetapakan nama dan tempat kedudukan Koperasi Simpan Pinjam

Syariah yaitu:

KOPERASI SIMPAN PINJAM SYARIAH ARTA JAYA BAROKAH

disingkat “KSPS AJB” Berkedudukan di kampong Rekso Binangun

Kecamatan Rumbia Kabupaten Lampung Tengah.

3. Menetapkan setoran pokok Koperasi sebesar Rp. 10.000,- ( sepuluh

ribu rupiah) dan sertifikat Modal Koperasi sebesar Rp. 10.000,-

(sepuluh ribu rupiah) 1 lembar peranggota Koperasi

4. Memilih pengurus dan pengawas untuk pertama kalinya adalah :

a. Pengurus

Direktur Utama : Wiryono,S.Pd

Direktur Administrasi dan SDM : Andi Ariyanto

Direktur Keuangan : Wahyu Widianto


29

b. Dewan Pengawas Syariah

Ketua : Herly Syani

Sekertaris : Suparman

Anggota : Munawar

c. Pengawas

Ketua : Supriyono, S.pd

Sekertaris : Nasib Supriyono

Anggota : Ridwan

5. Masa jabatan Pengurus dan Pengawas selama 5 tahun.

6. Menetapkan pembagian SHU dengan porsi sebagai berikut:

a. 35% untuk cadangan

b. 40% untuk anggota

c. 10% untuk pendidikan

d. 10% untuk pengurus dan pengelola

e. 2.5 % untuk pembangunan

f. 2.5%untuk social

7. Menyetujui untuk memberikan kuasa kepada

a. Wiryono,S.pd

b. Andi ariyanto

c. Wahyu Widianto

Khusus untuk menyatakan pembentukan Koperasi Simpan Pinjam

Syariah Artha Jaya Baroakah dalam akta Notaris dan untuk itu pula

penerima kuasa berhak melakukan segala tindakan yang dapat

dikecualikan .
30

2. Visi, Misi, KSPS Artha Jaya Barokah

a. Visi KSPS Artha Jaya Barokah yaitu menjadi Koperasi Syariah yang

sehat dan bermanfaat bagi Ekonomi Umat.

b. Misi KSPS Arta Jaya Barokah yang pertama mewujudkan

kesejahteraan Anggota, kedua berpartipasi dalam memberdayakan

Ekonomi umat yang berpola Syariah, ketiga menyelenggarakan

Standar Operasional dan prosedur yang sesuai dengan Koperasi

Syariah yang sehat, terpercaya, serta terbuka dalam penyampaian

Keuangan.0

3. Struktur Organisasi KSPS Arta Jaya Barokah

Gambar 2.

RAPAT ANGGOTA

Pengawas Syariah Ketua: Pengawas


1.Herly S. 1. E. Siswanta, S.pd
Wiryono, S.pd
2. Suparman 2. Nasib Puryono
3. Munawar 3. Ridwan

Sekertaris Bendahara
Andi Asiyanto, S.pd Wahyu Widianto

Anggota

Dokumen/Arsip KSPS Arta Jaya Barokah


0
31

4. Produk-produk KSPS Artha Jaya Barokah

Produk Pembiayaan di KSPS Arta Jaya Barokah Rumbia

menggunakan akad Musyarakah danMurobahah.

a. Akad Murodorobah

Mudhorobah adalah akad kerja sama antara KSPS yang

menyediakan modal dengan mudharib (anggota) yang memanfaatkan

untuk tujuan-tujuan usaha yang produktif dan halal. Hasil keuntungan

dari penggunaan dana tersebut dibagi bersama berdasarkan nisbah yang

disepakati bersama.

b. Akad Musyarakah

Adalah akad kerja sama antara dua pihak atau lebih untuk suatu

usaha tertentu dimana masing-masing pihak memberikan konstribusi

dana dengan kesepakatan bahwa keuntungan dan risiko akan

ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan.0

0
Bidayatul Mujtahid II, hlm.253-257.
32

Skema akad Pembiayaan Musyrakah KSPS Artha Jaya Barokah

1. Permohonan Pembiayaan dari Nasabah ke KSPS Artha jaya Barokah

Gambar 3.

Penentuan Akad

Perjanjian Akad

Serah terima jaminan

Nasabah membayar angsuran


KSPS Arta Jaya
Barokah

Keterangan Skema :

a. Nasabah mengajukan permohonan fasilitas Pembiayaan

Musyarakah kepada KSPS Artha Jaya Barokah dan memenuhi

Persyaratan yang ditentukan KSPS Artha Jaya Barokah

b. KSPS Artha Jaya Barokah dan Nasabah melakukan Pembiayaan

Musyarakah

c. KSPS Artha Jaya Barokah melakukan serah terima objek

Pembiayaan Musyarakah Nasabah menerima objek dari KSPS

Artha Jaya Barokah

d. Nasabah membayar angsuran kepada KSPS Artha Jaya Barokah


33

5. Mekanisme Pembiayaan Musyarakah KSPS Arta Jaya Barokah

a. Rukun dan syarat Pembiayaan Musyarakah

Sesuai dengan teori yang telah dipaparkan dan sesuai jumhur

ulama bahwa rukun pembiayaan musyarakah adalah sebagai

berikaut:1) shigat, 2) dua orang yang melakukan transaksi,

(‘aqhidain), dan 3) objek yang ditransaksikan. Sedangkan syarat

pembiayaan musyarakah itu sendiri adalah: 1) mempunyai kecakapan /

keahlian (ahliah) untuk mewakilkan dan meneriam perwakilan, 2)

Modal syirkah ada pada saat transaksi, 3) Modal syirkah diketahui, 4)

Besarnya keuntungan diketahui.

Berdasarkan hasil riset yang peneliti lakukan bahwa rukun dan

syarat untuk pembiayaan Musyarakah yang diterapkan di KSPS Arta

Jaya Barokah adalah sebagai berikut:

1) Shighot

2) 2 orang yang melakukan transaksi

3) ‘aqidain

4) Objek yang di transaksikan

5) Syarat Syirkah :

a) 2 orang yang melakukan transaksi

b) Modal Syirkah ada pada saat transaksi

c) Modal syirkah diketahui

d) Besarnya keuntungan diketahui dengan penjumlahan yang

berlaku
34

Berdasarkan hasil riset diatas dapat disimpulkan bahwa rukun dan

syarat dalam pembiayaan Musyarakah di KSPS Arta Jaya Barokah

sudah sesuai dengan teori yang ada.

b. Prosedur Pembiayaan Musyarakah

1) Prospek

Pengajuan pembiayaan oleh calon Nasabah dengan

melengkapi Dokumentasi/ Persyaratan yang dibutuhkan dan

mengisi formulir aplikasi Pembiayaan.0

Setelah Nasabah melengkapi persyaratan yang dibutuhkan dan

mengisi formulir pembiayaan maka selanjutnya adalah tugas

Koperasi untuk menindaklanjuti pengajuan pembiayaan calon

Nasabah.

Nasabah hanya akan menunggu konfirmasi dari pihak

Koperasi apakah pengajuan Pembiayaan bisa dilanjutkan atau

tidak.

2) Inisiasi

Inisiasi terhadap calon Nasabah yang meliputi :

a) Pengecekan keaslian Dokumen

Dokumen yang sudah dipastikan keasliannya distempel sesuai

asli dan di paraf.

b) Melakukan Interview/wawancara terhadap calon Nasabah

Setelah Dokumen-dokumen dipastikan keasliaannya selanjutnya

AO (Accounting Officer) akan melakukan interview atau

0
Wawancara dengan AO KSPS Arta Jaya Barokah Ibu Linda pada tanggal 25 september
2019
35

wawancara terhadap calon Nasabah. AO akan menanyakan

secara mendetail kepada calon Nasabah mengenai latar

belakang keluarga, usaha yang dimiliki serta pendapatannya dan

juga mengenai jaminan.0

c) Evaluasi kelayakan calon Nasabah

Evaluasi Pembiayaan dilakukan untuk mengetahui apakah calon

Nasabah memenuhi Persyaratan Koperasi untuk diberikan

pembiayaan, baik dari sisi Kualitatif maupun Kuantitatif.

Analisa Kualitatif untuk mengetahui dan mengevaluasi latar

belakang calon Nasabah yang dilakukan dengan menggunakan

pendekatan judgemental apparoach (5C). Sedang Analisa

Kuantitatif digunakan untuk mengetahui kemampuan bayar

Nasabah atau RPC (Repayment capacity). Untuk Analisa secara

kuantitatif setiap calon Nasabah harus di evaluasi dan di verifikasi

sumber pendapatannya diantaranya:

a. Memastikan penghasilan perbulan Nasabah pada slip gaji/surat

keterangan penghasilan calon Nasabah dengan konfirmasi ke

HRD/ Bendahara gaji.

b. Menghitung RPC calon Nasabah

Repayment capacity (RPC) adalah maksimum angsuran

Nasabah setelah dikurangi kewajiban pada Koperasi/ lembaga

lainnya.

3) Pembuatan Usulan Pembiayaan ( MUP)


0
Wawancara, AO KSPS Arta Jaya Barokah Ibu Linda pada tanggal 25 agustus 2019
36

Sesuai ketentuan dalam kebijakan pembiayaan setiap usulan

pengajuan pemberian fasilitas harus berdasarkan permohonan

tertulis dari Nasabah.

Accaount Officer pemrakarsa mengajukan pemberian fasilitas

pembiayaan dengan menggunakan memorandum usulan

Pembiayaan (MUP) Konsumer. Pembuatan MUP dilakukan

setelah mendapatkan hasil investivigasi, checking, penilaian

jaminan dan verifikasi data kuantitatif maupun kualitatif terkait

usulan pembiayaan.

Setiap Pengajuan MUP harus di tandatangani oleh Account

Officer pemrakarsa untuk disetujui oleh Komite Pembiayaan yang

bertujuan untuk mengetahui pembiayaan yang bertujuan untuk

mengetahui pembiayaan calon Nasabah apakah disetujui atau

ditolak.

4) Pencairan Pembiayaan Musyarakah

Langkah terakhir yaitu Pencarian Pembiayaan kepada nasabah

dan dokumentasi Pembiayaan pasca pencairan.

5) Pembayaran Angsuran Nasabah

Setelah Pembiayaan dan Pencarian dana telah diberikan

Koperasi maka Nasabah wajib membayar Angsuran sesuai dengan

Akad yang telah disepakati diantara kedua belah pihak.0

Table 1. Dokumen Kelengkapan Pemohon

0
Wawancara dengan Manager KSPS Artha Jaya Barokah bapak Wiryono pada tanggal 25
Agustus 2019
37

Dokumen kelengkapan pemohon Ada Tidak ada


Copy KTP pemohon dan copy

KTP pasangan ( bila menikah)


Copy kartu keluarga
Copy surat nikah
Copy NPWP pribadi (untuk

pinjaman > Rp.50 juta)


Surat keterangan pekerjaan (asli/

copy SK pengangkatan)
Surat keterangan pekerjaan/slip

gaji (asli)
Copy rekening tabungan/giro

calon Nasabah
Copy Surat tanda Regristasi

c. Penentuan Bagi Hasil pada Pembiayaan Musyarakah KSPS Arta Jaya

Barokah

Secara terori penentuan bagi hasil pembiayaan Musyarakahadalah

sebagai berikut:

1. Disepakati diawal kontrak/akad

2. Nisbah keuntungan untuk masing-masing mitra usaha harus di

tetapkan sesuai dengan keuntungan tertu yang dikaitkan

berdasarkan modal yang disertakan

Berdasarkan hasil riset pembiayaan Musyarakah yang diterapkan

oleh KSPS Artha Jaya Barokah itu didasarkan pada:

1. Disepakati di awal kontrak

2. Ditetapkan berdasarkan keuntungannya bukan berdasarkan modal.

Misalnya: nasabah A mengajukan pembiayaan musyarokan kepada

pihak KSPS dengan jumlah Rp.10.000.000,- dengan keuntungan


38

Rp.3.000.000,-, maka yang akan dibagi antara pihak KSPS dengan

nasabah sesuai dengan kesepakatan adalah keuntungannya yaitu

sebesar Rp.3.000.000, dengan kesepakatan porsi 50:50 maka

keuntungan bagi hasil nasabah 50% x Rp.3.000.000, dengan

demikian masing-masing pihak mendapatkan Rp. 1.500.000,

Berdasarkan hasil riset diatas menunjukkan bahwa penentuan bagi

Hasil dalam Pembiayaan Musyarakah di KSPS Arta Jaya Barokah

sudah sesuai dengan teori yang ada.

d. Penentuan kerugian

Sedangkan pembagian Kerugian secara teori adalah apabila kerugian

terjadi dari usaha yang dikelolamaka setiap mitra akan menanggung

kerugaian susuai porsi masing-masing. Begitu pula dengan praktik

yang ada di KSPS Arta Jaya Barokah, setiap mitra akanmenanggung

kerugian sesuai dengan Porsi investasinya apabila usaha yang

dijalankan terjadi kerugian.

e. Cara menghitung Pembiayaan Musyarakah di KSPS Arta Jaya

Barokah

Contoh:

Modal Sendiri = 20.000.000,-

Modal Pinjaman = 25.000.000,-

Keuntungan = 5.625.000,-/ bulan

Nisbah = 20% : 80% (KSPS : Mitra)

- Pendapatan bagi-hasil KSPS:


39

5.625.000 x 20% = Rp. 1.125.000

- pendapatan bagi-hasil untuk mitra/anggota:

5.625.000 x80% = Rp. 4.500.000

Berdasarkan perhitungan di atas maka bagi hasil yang didapatkan

oleh pihak KSPS dengan porsi 20% adalah Rp. 1.125.000,-/bulan,

sedangkan bagi hasil yang didapatkan oleh mitra/anggota dengan porsi

80% adalah sebesar Rp. 4.500.000,-/bulan.

6. Data Pembiayaan Musyarakah KSPS Arta Jaya Barokah Tahun 2018

a. Jumlah Anggota pada Pembiayaan Musyarakah pada Bulan Januari

2018 adalah 4 orang

b. Jumlah Anggota pada Pembiayaan Musyarakah pada Bulan februari

2018 adalah 9 orang

c. Jumlah Anggota pada Pembiayaan Musyarakah pada Bulan Maret

2018 adalah 11 orang

d. Jumlah Anggota pada Pembiayaan Musyarakah pada Bulan April 2018

adalah 12 orang

e. Jumlah Anggota pada Pembiayaan Musyarakah pada Bulan Mei 2018

adalah 5 orang

f. Jumlah Anggota pada Pembiayaan Musyarakah pada Bulan Juni 2018

Anggota 5 orang

g. Jumlah Anggota Pembiayaan Musyarakah padaBulan Juli 2018

Anggota 8 orang
40

h. Jumlah Anggota Pembiayaan Musyarakah pada Bulan Agustus 2018

Anggota 4 orang

i. Jumlah Anggota Pembiayaan Musyarakah pada Bulan September 2018

Anggota 6 orang

j. Jumlah Anggota Pembiayaan Musyarakah pada Bulan Oktober 2018

Anggota 6 orang

k. Jumlah Anggota Pembiayaan pada Musyarakah pada Bulan November

2018 Anggota 6 orang

l. Jumlah Anggota Pembiayaan pada Musyarakah pada bulan Desember

2018 Anggota 12 orang

m. Jumlah keseluruhan Pembiayaan Musyarakah pada Tahun 2018

adalahRp. 528.450.000

B. Laporan Hasil riset penelitian Pada KSPS Artha Jaya Barokah

Perhitungan Bagi Hasil Anggota ( pada Bulan juni 2018 )

Penggunaan Modal : Tambahan Modal usaha

Sistem Pembayaran : Angsuran

Jenis Angsuran : tetap

Modal sendiri : Rp. 25.600.000;

Modal pinjaman : Rp. 32.000.000;

Nisbah : 20% : 80% ( KSPS : Mitra )

Jangka : 7 bulan

Jatuh tempo : 6 januari 2019 ( Angsuran dan Bagi Hasil /

bulan dibayar lambat setiap tanggal 6 )


41

Angsuran per/bulan :

= Rp. 2.000.000
7
= Rp. 285. 714 = Rp. 285.750

Penentuan Nisbah KSPS

Nisbah KSPS = Keuntungan / bln X 100%

Penjualan

= Rp. 1.920.000 X 100%

Rp. 9.600.000

= 20%

Nisbah Nasabah = 100% - 20% - 80%

Proyeksi Bagi Hasil KSPS

= Modal KSPS X Total keuntungan X Nisbah KSPS (%)

Total Modal

( Modal KSPS + Modal sendiri )

= Rp. 25.600.000 X Rp. 1.920.000 X 20%

Rp.57.000.000

= Rp. 172.463 = Rp. 173.000 / bulan

Dari sample perhitungan bagi hasil diatas dapat diketahui bahwa untuk

setiap bulannya mitra membayar angsuran Rp 173.000; ( sistem Angsuran )

Perhitungan Bagi Hasil Anggota ( bulan Agustus 2018 )

Penggunaan Modal : tambahan Modal usaha butik

Modal Sendiri : Rp. 96.250.000;

Modal Pinjaman : Rp. 161.250.000.000

Nisbah : 20% : 80% ( KSPS : Mitra )


42

Jangka waktu : 12 Bulan

Jatuh Tempo : 1 Agustus 20189 (Angsuran dibayar pada saat

jatuh tempo d an Bagi Hasil / bulan dibayar

paling lambat setiap tanggal 1)

Angsuran per/ bulan : (dibayar pada saat jatuh tempo sebesar Modal

Pinjaman)

Penentuan Nisbah :

Nisbah KSPS = Keuntungan/ bulan X 100%

Penjualan

= Rp. 8.500.000 X 100%

Rp. 51.500.000

= 16,5040 % = 20% ( dibulatkan)

Nisbah Nasabah = 100% - 20% = 80%

Proyeksi Bagi Hail KSPS

= Modal KSPS X Total Keuntungan X Nisbah KSPS (%)

Total Modal

( modal KSPS = Modal Sendiri )

= Rp. 161.500.000 X 49.000.000 X 20%

Rp 257.500

= Rp. 6.146.000.000 / bulan

Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa untuk setiap bulannya mitra

membayar bagi hasil sebesar Rp 6.146.000.000;, Sedangkan untuk


43

pembayaran angsuran per bulan tidak ada, karena pengembalian pokok

pinjaman dilakukan pada saat jatuh tempo (sistem jatuh tempo).

KSPS Artha Jaya Barokah dalam melaksanakan pembayaran

menyediakan dua alternatif, yaitu sistem pembayaran jatuh tempo dan

angsuran.

Jika mitra/anggota memilih sistem pembayaran jatuh tempo maka

pengembalian pokok pinjaman dilakukan pada saat jatuh tempo, dan tetap

membayar bagi hasil setiap bulannya.

Akan tetapi, jika mitra/anggota memilih sistem pembayaran angsuran maka

pengembalian pokok pinjaman dan bagi hasil dilakukan setiap bulan.

Jenis usaha yang cocok untuk sistem pembayaran angsuran adalah

usaha yang pendapatannya harian, seperti pedagang sayur di pasar, penjual

makanan, dan sebagainya. Sedangkan jenis usaha yang cocok untuk sistem

pembayaran jatuh tempo adalah usaha yang pendapatannya bulanan, seperti

usaha budidaya lele, perumahan, dan sebagainya.

Analisis Pembiayaan Musyarakah pada Pembiyaan Musyarakah

Dengan Fatwa Dewan Syari’ah Nasional Majelis Ulama Indonesia, Nomor:

08/DSNMUI/IV/2000 tentang Pembiayaan Musyarakah BMT KSPS Artha

Jaya Barokah berdasarkan Fatwa Dewan Syari’ah Nasional Majelis Ulama

Indonesia, Nomor: 08/DSN-MUI/IV/2000 telah memenuhi ketentuan yang

difatwakan. Akan tetapi dalam pembagian keuntungan masih belum sesuai

dengan Fatwa Dewan Syari’ah Nasional Majelis Ulama Indonesia, Nomor:

08/DSN-MUI/IV/2000. Pembagian keuntungan tidak dibagikan secara

proporsional atas dasar seluruh keuntungan, karena ada jumlah yang


44

ditentukan di awal berupa proyeksi bagi hasil. Sehingga ketika melaporkan

keuntungan per bulan, mitra cenderung menyamakan jumlah keuntungan

bulan itu dengan keuntungan awal ketika dilakukan survey.


45

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Pada Pembiayaan Musyarakah di KSPS Artha Jaya barokah yaitu akad

kerja sama antara kedua belah pihak atau lebih dimana masing pihak yaitu

Nasabah dan KSPS sama-sama menyertakan Modal sesuai kesepakatan, dan

bagi Hasil atas usaha bersama diberikan sesuai dengan Konstribusi dana atau

sesuai kesepakatan bersama.

Implementasi bagi hasi pembiayaan musyarakah pada KSPS Artha Jaya

Barokah memiliki prosedur yang cukup baik karena setiap nasabah atau

anggota yang ingin mengajukan pembiayaan musyarakah harus melalui

mekanisme yang ada.Beberapa mekanisme tahapan pembiayaan yang ada di

KSPS Arta Jaya Barokah diantaranya adalah: 1) Prospek, dimana di dalamnya

terdapat proses pengajuan pembiayaan oleh calon nasabah dengan mengisi

dokumen/formulir, 2) Inisiasi, yang di dalamnya merupakan proses

pengecekan dokumen dan melakukan wawancara terhadap calon nasabah

yang dilakukan oleh Account Officer,3) Evaluasi kelayakan, yaitu untuk

menentukan layak atau tidaknya calon nasabah diberikan pembiayaan, dan

apabila calon nasabah dinyatakan layak mendapatkan pembiayaan maka

tahap yang selanjutnya adalah pencairan pembiayaan musyaraka.

Pembiayaan Musyarakah KSPS Arhta Jaya Barokah sistem yang

digunakan dalam penerapanya sudah sesuai secara Teori dan Hukum

Perbankan Syariah.
46

B. Saran

Adapun saran yang diberikan dari penulis untuk pihak lembaga KSPS

Arta Jaya Barokah Rumbia Kabupaten Lampung Tengah adalah sebagai

berikut:

1. KSPS Artha Jaya Barokah harus tetap mempertahankan dan memberikan

inovasi pada produk khususnya produk pembiayaan musyarakahsehingga

mampu menarik minat masyarakat untuk mengajukan pembiayaan

Musyarakah.

2. KSPS Arhta Jaya Barokah harus tetap mempertahankan implementasi atau

penerapan bagi hasil pembiayaan musyarakah berdasarkan pada hukum

Islam (Muamalah) sehingga transaksi keuangan yang ada di KSPS Artha

Jaya Barokah murni berdasarkan syariat Islam.

3. Lebih optimal dalam menerapkan sistem lembaga keuangan yang

berdasarkan ajaran Islam, sehingga KSPS Artha Jaya Barokah mampu

menjadi tumpuan dalam menciptakan kesejahteraan dan kemaslahatan

umat dalam bidang ekonomi.


47

DAFTAR PUSTAKA

A. Buku

Abdullah bin Muhammad Ath-Thayyar, Ensiklopedi Fiqih Muamalah,


Yogyakarya: Maktabah Al Hanafi, 2009

Abdullah Ibn Ahmad Ibn Qudamah, Mughni waSyarh Kabir, Beirut: Darul-
fikr, 1979

Ahmad Dahlan, bank syariah teoritik, praktik, kritik Yogyakarta:penerbit


teras, 2012

Ascarya, Akad dan Produk Bank Syariah, Jakarta: Rajawali Pres, 2011

Binti Nur Asiyah, Management pembiayaan Bank Syariah, Yogyakarta:


teras,2014

Ghufron Aji, Fiqih Muamalah II Kontemporer-Indonesia, Semarang: CV.


Karya Aadi Jasa, cet ke-1, 2015

Hendi Suhendi, Fiqih Muamalah, Jakarta: Rajawali Pers, 2010

Ibnu Rusdi, Bidayatul Mujtahid II.Jakarta: Akbar Media, 2010

Jundiani, Pengaturan Hukum Perbankan Syariah di Indonesia, Malang : UIN-


Malang Press, 2009

Mardani, Fiqih Ekonomi Syariah, Jakarta: Prenamedia Group, 2012

Moh.Kasiram, metodologi penelitian kualitatif-kuantitatif, Malang: UIN-


Maliki Pres, 2010

Muhamad, Teknik Perhitungan Bagi Hasil dan Profit Margin Pada Bank
Syariah, Yogyakata: UII Press, 2004

Muhammad Syafi’I Antonio, Bank Syariah dari Teori kepraktik Jakarta:


Gema Insani, 2001

Muhammad, manajemen bank syariah, Yogyakarta: (UPP) AMP YKPN, 2002

Naf’an, Pembiayaan Musyarakah dan Mudharaah, Yogyakarta: Graha Ilmu,


cet ke-1, 2014

Rahmat Syafe’I, Fiqih Muamalah, Bandung: Pustaka Setia, 2001


48

Rianto Adi, Metode Penelitian Sosial dan Hukum, Jakarta:Granit,2004

Saifudin Azwar, Metode Penelitian ,Yogyakarta:Pustaka Pelajar, 1998

Sugiono, Metode Penelitian Kualitatif, kualitatif, dan R&D., Bandung:


Alfabeta, 2010

Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta:


Rinike Cipta,2006

Sutrisno Hadi, Metodogi Research,Yogyakarta: Andi Offest, 2000

B. Internet

http://www.bi.go.id/id/perbankan/syariah/contents/default.aspex: diakses pada


tanggal 5 April 2018
ix

Alat Pengumpul Data(APD)

Judul: Implementasi Bagi Hasil pada Pembiayaan Musyarokah di


KSPS Arta Jaya Barokah Rumbia.
Oleh: Agil Absari Dewi
NPM: 161120001
Prodi: D3 Perbankan Syariah

1. Observasi

a) Lokasi Penelitian

b) Jam Layanan KSPS Arta Jaya Barokah Rumbia

c) Jam Kerja KSPS Arta Jaya Barokah Rumbia

2. Wawancara

a. Manager

1) Kapan mulai berdirinya KSPS Arta Jaya Barokah Rumbia.

2) Apa visi dan misi KSPS Arta Jaya Barokah Rumbia.

3) Bagaimana struktur organisasi KSPS Arta Jaya Barokah Rumbia.

4) Apa saja produk yang dimiliki KSPS Arta Jaya Barokah Rumbia

b. Accounting Officer (AO)

1) Bagaimana mekanisme pembiayaan Musyarakah di KSPS Arta

Jaya Barokah Rumbia.

2) Apa saja Rukun dan Syarat-syarat untuk memperoleh akad

Pembiayaan Musyarakah.

3) Bagaimana KSPS Arta Jaya Barokah menentukan besarnya

Proporsi Keuntungan

4) Berapakah nasabah yang melakukan pembiayaan musyarakah pada

tahun 2018.
x

5) Apa Hak dan kewajiban nasabah (anggota) dan KSPS Arta Jaya

Barokah Rumbia dalam pembiayaan musyarakah.

6) Apa kendala yang dihadapi dalam menentukan pembiayaan akad

musyarakah.

7) Bagaimana mekanisme pelaksanaan akad pembiayaan musyarakah

di KSPS Arta Jaya Barokah Rumbia.

8) Bagaimana KSPS Arta Jaya Barokahmenentukan besarnya

Proporsi Keuntungan

9) Bagaimana alur (sekema) Pembiayaan Musyarakah yang ada di

KSPS Arta Jaya Barokah Rumbia

3. Dokumentasi

a. Data mengenai sejarah , visi, misi KSPS Arta Jaya Barokah Rumbia.

b. Penggambaran struktur organisasi KSPS Arta Jaya Barokah Rumbia.

c. Dokumen SOP KSPS Arta Jaya Barokah

Metro, 18 Agustus 2019

Pembimbing Peneliti

Wiwik Damayanti, M.E.Sy Agil Absari Dewi


xi

IMPLEMENTASI BAGI HASIL PADA PEMBIAYAAN MUSYARAKAH di


KSPS ARTA JAYA BAROKAH RUMBIA.

Halaman Sampul
Halaman Judul
Halaman Persetujuan
Halaman Pengesahan
Abstrak
Halaman Orisinilitas Penelitian
Halaman Motto
Halaman Persembahan
Halaman Kata Pengantar
Daftar Isi
Daftar Lampiran
BAB I Pendahuluan
A. Latar Belakang Masalah
B. Identifikasi Masalah
C. Rumusan Masalah
D. Tujuan Penelitian
E. Manfaat Penelitian
F. Metode Penelitian
1. Jenis Penelitian
2. Pendekatan Penelitian
3. Teknik Pengumpulan Data
a. Observasi
b. Wawancara
c. Dokumentasi
4. Sumber Data
a. Sumber Data Primer
b. Sumber Data Sekunder
c. Sumber Data Tersier
5. Teknik Analisis
xii

BAB II Kajian Teori


A. Pengertian Musyarakah
B. Rukun dan Syarat Musyarakah
C. Dasar Hukum Musysrakah
1) Al-Qur’an
2) Hadist
3) Ijma’
D. Jenis-jenis Musyarakah
1) Syirkah al-milk
2) Syirkah al-uqud
E. Tujuan dan Manfaat Musyarakah
F. Fatwa DSN tentang Pembiayaan Musyarakah
G. Implementasi Pembiayaan Musyarakah dalam Perbankan syariah
1) Pembiayaan proyek
2) Modal ventura
H. Skema Pembiayaan Musyarakah
BAB III Pembahasan
A. Sejarah KSPS Arta Jaya Barokah
B. Visi dan Misi KSPS Arta Jaya Barokah
C. Struktur Organisasi KSPS Arta Jaya Barokah
D. Produk Layanan KSPS Arta Jaya Barokah
E. Implementasi Bagi Hasil pada Pembiayaan Musyarakah di KSPS Arta
Jaya Barokah Rumbia
F. Hasil Wawancara Antara Peneliti dengan manager dan Account Officer
(AO) KSPS Arta Jaya Barokah Rumbia
xiii

BAB IV Kesimpulan dan Saran


A. Kesimpulan
B. Saran
Daftar Pustaka
Lampiran

Metro, 18 Agustus 2019

Pembimbing, Penulis,

Wiwik Damayanti, M.E.Sy Agil Absari Dewi


xiv

RIWAYAT HIDUP

Agil Absari Dewi lahir pada tanggal 5 April 1996 di

Terbanggi Besar. Anak ke empat dari lima bersaudara dari

pasangan Bapak Wahyudin dan Ibu Misiyah. Tinggal

bersama orang tua di Desa Putra Lempuyang , Kecamatan

Way Pengubuan , Kabupaten Lampung Tengah.

Pendidikan Formal yang pernah ditempuh oleh Peneliti adalah di SDN 2

Lempuyang Bandar pada Tahun 2008, selanjutnya MTS Miftahul Huda,pada

tahun 2011dan dilanjutkan kejenjang sekolah MAN Wonokromo Bantul

Jogjakarta diselesaikan pada Tahun 2014. Pada tahun 2014 peneliti terdaftar

sebagai mahasiswi jurusan Perbankan Syariah di Institut Agama Islam Maarif NU

( IAIM NU )