Anda di halaman 1dari 112

PT.

SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

V. Uraian Pendekatan, Metodologi


dan Program Kerja

Jenis data yang dibutuhkan untuk PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH


SAKIT UMUM PUSAT mencakup data primer maupun data sekunder yang erat
hubungannya dengan dampak yang ditimbulkan dari kegiatan Pembangunan Rumah
Saskit Umum Pusat di Kota Kupang.
Pendekatan studi dilakukan dalam upaya mencapai sasaran studi adalah menelaah
kondisi rona lingkungan hidup baik di tapak proyek maupun wilayah sekitar yang
diperkirakan terkena dampak. Penelahaan diikuti dengan uaraian rencana kegiatan
yang akan dilakukan pada Tahap Pra Konstruksi, Konstruksi, dan Operasi. Setelah itu
dilakukan delineasi ruang lingkup studi untuk mengidentifikasi dampak yang timbul
terhadap lingkungan hidup, meliputi aspek geofisik kimia, aspek biologi, serta aspek
sosial ekonomi dan kesehatan masyarakat. Pada tahap berikutnya akan dikumpulkan
data primer dan data sekunder dari setiap aspek komponen lingkungan tersebut.
Berdasarkan data kolektif, pemodelan melalui rumus-rumus matematis, professional
judgement, serta analogi terhadap tempat dan jenis kegiatan, akan diperkirakan
besaran dampak terhadap komponen lingkungan meliputi dampak yang terjadi di
tapak proyek dan di luar tapak proyek. Dampak yang terjadi selanjutnya dievaluasi
dan hasil evaluasi dampak akan dituangkan dalam bentuk rekomendasi pengelolaan
dan pemantauan selanjutnya secara terperinci akan disusun dokumen AMDAL.

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 1


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

Uraian Kegiatan dan Keluaran


Berikut ini uraian kegiatan yang harus dilakukan dalam penyusunan Dokumen
AMDAl rumh sakit umum pusat di Kota kupang yang terdiri dari ;
1. Dokumen Kerangka Acuan ANDAL (KA-ANDAL)
2. Dokumen Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL)
3. Dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL)
4. Dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL)
5. Dokumen Ringkasan Eksekutif
Sedangkan tahapan-tahapan yang akan dilaksanakan dalam menyusun dokumen
AMDAL tersebut diatas, adalah sebagai berikut :
1. Survey Pendahuluan
Kegiatan ini diperlukan agar Konsultan mempunyai gambaran tentang lokasi studi,
kondisi tapak proyek, pengumpulan data primer dan sekunder, koordinasi dengan
instansi yang bertanggung jawab dan instansi terkait serta sebagai bahan masukan
untuk proses pelingkupan (scoping).
2. Melaksanakan Sosialisasi AMDAL
Tujuan dilaksanakan sosialisasi adalah mengakomodasi keterlibatan masyarakat dan
keterbukaan informasi dalam proses AMDAL.
Instansi yang bertanggung jawab dan dibantu Konsultan meliputi :
 Mengumumkan rencana usaha dan/atau kegiatan sebelum dimulai
penyusunan dokumen AMDAL melalui media masa, papan
pengumuman.
 Menyelenggarakan konsultansi publik kepada warga masyarakat yang
berkepentingan dalam penyusunan dokumen Kerangka Acuan ANDAL.
 Memberikan informasi mengenai dokumen KA-ANDAL, ANDAL, RKL, dan
RPL.
 Menanggapi saran, pednapat dan tanggapan yang disampaikan oleh
warga masyarakat yang berkepentingan.
3. Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL (KA-ANDAL)
Dalam menyusun dokumen KA-ANDAL perlu mempertimbangkan faktor-faktor
sebagai berikut :

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 2


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

a. Keanekaragaman
ANDAL bertujuan menduga kemungkinan terjadinya dampak dari suatu rencana dan
kegiatan terhadap lingkungan hidup. Keanekaragaman rencann usaha dan kegiatan
serta rona lingkungan hidup, menyebabkan kemungkinan timbulnya suatu dampak
terhadap lingkungan hidup akan berbeda-beda pula. Dengan adanya Kerangka Acuan
ANDAL diharapkan dapat memberikan arahan tentang komponen kegiatan dan
komponen rona lingkungan yang harus ditelaah dan diamati dalam penyusunan
ANDAL.
b. Keterbatasan Sumber Daya
Penyusunan ANDAL seringkali dihadapkan pada keterbatasan sumber daya, seperti
keterbatasan waktu, dana, tenaga dan metoda. Dengan adanya KA – ANDAL akan
menyesuaikan ketegasan tentang bagaimana menyesuaikan tujuan dan hasil yang
ingin dicapai dalam penyusunan ANDAL dengan keterbatasan sumber daya tanpa
mengurangi mutu pekerjaan ANDAL.
4. Sidang Pembahasan/Presentasi Kerangka Acuan ANDAL (KA-
ANDAL)
Sidang Pembahasan Kerangka Acuan ANDAL (KA-ANDAL) dilaksanakan setelah draft
KA-ANDAL tersebut telah diselesaikan dan diserahkan kepada Komisi AMDAL. Apabila
dokumen KA-ANDAL tersebut ke Komisi Penilai AMDAL secara administrasi sudah
lengkap, maka dokumen tersebut siap dan layak dipresentasikan dinilai di hadapan
Komisi Penilai AMDAL dan masyarakatv yang berkepentingan.
5. Survey Pengumpulan Data
Survey pengumpulan data yang dilaksanakan merupakan suvey lanjutan untuk
mendapatkan data primer maupun sekunder untuk menyusun dokumen ANDAL.
Jenis maupun jumlah yang dibutuhkan di dalam pengumpulan data primer
merupakan data-data yang sudah disepakati di dalam dokumen Kerangka Acuan
ANDAL demikian pula, untuk data sekunder.
6. Pengolahan dan Analisis Data
Dalam tahap ini dilakukan pengolahan dan analisis data primer dan sekuner sesuai
dengan metode analisis yang dicantumkan dalam KA-ANDAL. Demikian pula terhadap
sampel-sampel yang perlu dianalisis di laboratorium. Dalam melakukan analisis data,

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 3


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

diharapkan berpedoman pada Pedoman Teknis Penyusunan AMDAL untuk


melaksanakan identifikasi dampak, dapat mengunakan Matriks Interaksi dan Flow
Chart (Bagan Alir), serta metode yang lain, sedangkan proses pelingkupan juga
dilaksanakan pada tahap identifikasi ini, sehingga diperoleh dampak penting
(hipotik), dan isu-isu pokok yang diprakirakan akan terjadi. Adapun untuk prakiraan
dampak, akan dilakukan berdasarkan besarana (magnitude) perubahan komponen
lingkungan akibat adanya kegiatan proyek dan berdasarkan perbandingan tingkat
kepentingan nilai parameter lingkungan hidup dengan nilai ambang batas. Untuk
mengevaluasi dampak bersifat langsung atau tidak langsung, sinergis atai antagonis,
kumulatif atau tidak.
1) Kegiatan yang Harus Ditelaah Dampaknya
a. Tahap pra-Konstruksi
b. Tahap Konstruksi
c. Tahap Pasca-Konstruksi
2) Komponen Lingkungan Yang Ditelaah
Komponen lingkungan yang berpotensi terkena dampak akibat kegiatan proyek
meliputi : komponen biogeofisik – kimia, sosial ekonomi dan budaya serta sarana dan
prasarana umum di sekitar lokasi proyek. Secara rinci, komponen lingkungan pada
masing-masing aspek yang dipandang relevan ditelaah dalam Penyusunan AMDAL
rumah sakit umum pusat di kuta kupang meliputi :
a. Aspek Biogeofisik – Kimia
 Hidrologi
 Fisiografi, morfologi, topografi dan struktur geologi.
 Ruang, Lahan dan Tanah meliputi penggunaan ruang (tata ruang), tata
guna lahan serta jenis dan sifat fisik kimia tanah pada tapak proyek.
 Biologi meliputi meliputi inventarisasi jenis, komposisi, nilai ekologis dan
penyebaran flora/ fauna terutama yang dilindungi baik di darat maupun
di air (aquatik).
b. Aspek Sosial Ekonomi dan Budaya
1) Kependudukan

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 4


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

2) Faktor Ekonomi : Kegiatan perekonomian masyarakat yang menonjol


dalam kaitannya dengan ekonomi setempat maupun regional, lapangan
usaha dan mata pencaharian masyarakat yang utama/ dominan di
sekitar lokasi studi.
3) Sosial Budaya
 Kondisi kesehatan masyarakat dan kesehatan lingkungan di wilayah
studi, termasuk jenis-jenis penyakit yang sering terjadi maupun vector
bpenyakit yang ada.
 Sikap dan persepsi masyarakat terhadap kehadiran proyek.
 Perubahan sosial yang terjadi dan yang diperkirakan akan terjadi akibat
kehadiran proyek.
 Kegiatan masyarakat setempat yang berkaitan dengan keberadaan
proyek seperti kegiatan adat istiadat dan aktivitas masyarakat.
 Keberadaan peninggalan sejarah yang bersinggungan langsung dengan
aktivitas proyek.
c. Sarana dan Prasarana Umum
Mencakup inventarisasi dan analisis jumlah dan lokasi sarana/ prasarana umum di
wilayah studi, antara lain : jalur transportasi darat, pelabuhan laut dan
sarana/prasarana perekonomian dll.
3) Prakiraan dan Evaluasi Dampak
Perkiraan dampak ditekankan pada pengaruh rencana kegiatan terhadap komponen
lingkungan baik fisik kimia, biotis maupun sosekbudkes. Metode perkiraan dampak
vpada keputusan Menteri Kependudukan dan Lingkungan Hidup (KLH), tentang
Pedoman Penentuan Dampak Penting. Didalam dampak penting dari suatu kegiatan
ditentukan oleh hal-hal sebagai berikut :
 Jumlah Manusia yang terkena dampak
 Luas wilayah persebaran dampak
 Lamanya dampak berlangsung
 Intensitas Dampak
 Banyaknya komponen lingkungan lainnya yang akan terkena dampak
 Sifat kumulatif dampak

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 5


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

 Berbalik atau tidak berbaliknya dampak tersebut

Berdasarkan hal tersebut diatas maka metode perkiraan digunakan dalam studi ini
bersifat informal yaitu metode perkiraan dan profesional judgement berdasarkan
profesi yang dimiliki pakar. Selanjutnya hasil dari penggunaan metode tersebut
digambarkan dalam matrik sederhana yang menunjukan interaksi antara komponen
lingkungan yang terkena dampak.
Adapun evaluasi dampak didasarkan atas intensitas dampak serta derajat pentingnya
dampak yang terjadi. Dari hasil penelitian tersebut akan dapat diketahui komponen
kegiatan mana yang menimbulkan dampak dan komponen
lingkungan mana yang terkena dampak paling besar. Selanjutnya dapat memberikan
rekomendasi rencana kegiatan yang akan dilaksanakan perlu adanya evaluasi
dampak secara holistik dengan menialai dampak yang terjadi terhadap semua
komponen lingkungan secara integrasi dan menyimpulkan pengaruh keberadaan
proyek tersebut.
7. Penyusunan Dokumen ANDAL RKL dan PRL
Penyusunan draft dokumen ANDAL dapat dilakukan lebih awal tanpa harus
menunggu proses pengolahan data dan selesainya uji laboratorium dan siap
dipresentasikan apabila secara teknis dan administrative sudah lengkap. Rencana
Pengelolan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL)
hendaknya disusun dengan memperhatikan pendekatan-pendekatan teknis,
ekonomis dan kelembagaan dengan mengacu pada hasil studi evaluasi lingkungan
yang telah dilakukan, sehingga dapat dirumuskan sebagai berikut:
1) Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL)
RKL hendaknya berisi ketentuan-ketentuan pokok pengelolaan dampak
berdasarkan hasil kajian terhadap lingkungan dan ditulis secara singkat dan
jelas bersifat instruktif dan berisi ketentuan antara lain :
 Jenis dampak yang harus dikelola
 Tata cara atau teknik pengolahannya
 Lingkup tugas dan tanggung jawab pemrakarsa dan instansi terkait
 Sumber dana

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 6


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

2) Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL)


RPL hendaknya berii tentang ketentuan-ketentuan pokok pemantauan hasil
pelaksanaan RKL dan ditulis secara singkat dan jelas, dan bersifat instruktif serta
berisi :
 Komoponen lingkungan yang dipantau
 Tata cara pemantauan yang mencakup lokasi dan periode atau lamanya
 waktu pemantauan
 Lingkup tugas dan tanggung jawab pmerakarsa dan instansi
terkait.
8. Sidang Pembahasan/Penilaian Dokumen ANDAL, RKL dan
RPL
Sidang pembahasan/penilaian dokumen ANDAL, RKL dan RPL dihadapan Komisi
Penilai AMDAL dan masyarakat yang berkepentingan apabila dokumen - dokumen
tersebut telah diserahkan dan secara administrasi telah dinyatakan lengkap dan layak
untuk dinilai.
9. Penyusunan Laporan Akhir Dokumen ANDAL, RKL dan RPL
Draft dokumen ANDAL, RKL dan RPL yang telah dinilai oleh Komisi AMDAL
selanjutnya diperbaiki, dan hasil perbaikan dokumen-dokumen tersebut merupakan
laporan akhir untuk mendapatkan rekomendasi kelayakan dari Bupati.

B.3. Pebdekatan Studi Penyusunan AMDAL


A. Konsep Pembangunan Berkelanjutan
Prinsip-prinsip umum pembangunan berkelanjutan dalam sistem pengaturan
sumberdaya alam yang mengalami perkembangan yang cepat sejak Deklarasi
Stockholm – 72, kemudian berkembang dan diperluas dalam Deklarasi Rio pada
tahun 1992, dan kemudian mencapai puncaknya pada Deklarasi Johannesburg pada
tahun 2002. Diantara prinsip-prinsip umum pembangunan berkelanjutan adalah
sebagai berikut:
a. Kewajiban yang dimuat dalam Prinsip 21 Deklarasi Stockholm dan prinsip 2
Deklarasi Rio yang mengatur hak berdaulat negara atas sumberdaya alam dan

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 7


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

tanggungjawab negara untuk mencegah dampak lingkungan yang bersifat


lintas batas batas negara;
b. Prinsip melakukan tindakan pencegahan (the principle of prevention action);
c. Prinsip bertetangga yang baik dan kewajiban melakukan kerjasama
internasional;
d. Prinsip pembangunan berkelanjutan (the principle of sustainable
development);
e. Prinsip kehati-hatian (the precautionary principle);
f. Prinsip pencemar membayar (the polluter – pays principle); dan
g. Prinsip kebersamaan dengan tanggungjawab yang berbeda ( the principle of
common but differentiated responsibility).

Konsep berkelanjutan ini setidaknya mengandung dua dimensi, yaitu dimensi waktu
karena berkelanjutan yang tidak lain menyangkut apa yang akan terjadi di masa
mendatang, dan dimensi interaksi antara sistem ekonomi dan sistem sumberdaya
alam dan lingkungan (Heal, 1998 dalam Fauzi, 2004). Pezzey (1992) melihat aspek
keberlanjutan dari sisi yang berbeda. Dia melihat bahwa keberlanjutan memiliki
pengertian statik dan dinamik. Keberlanjutan statik diartikan sebagai pemanfaatan
sumberdaya alam terbarukan dengan laju teknologi yang konstan, sementara
keberlanjutan dinamik diartikan sebagai pemanfaatan sumberdaya alam yang tidak
terbarukan dengan tingkat teknologi yang terus berubah (Fauzi, 2004). Dalam
kaitannya dengan pembangunan berkelanjutan, terdapat dua kaidah yang harus
diperhatikan dalam pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan, yaitu (Pearce dan
Turner, 1990):
a. Untuk sumberdaya alam yang terbarukan (renewable resources) dinyatakan
bahwa laju pemanenan harus lebih kecil atau sama dengan laju regenerasi
(produksi lestari).
b. Untuk masalah lingkungan dinyatakan bahwa laju pembuangan (limbah) harus
lebih kecil atau setara dengan kapasitas asimilasi lingkungan.

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 8


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

Aspek operasional dari konsep keberlanjutan ini dapat dipahami lebih jauh dengan
adanya lima alternatif pengertian sebagaimana yang diuraikan Perman, (1996) dalam
Fauzi (2004), sebagai berikut:
a. Suatu kondisi dikatakan berkelanjutan (sustainable) jika utilitas yang diperoleh
masyarakat tidak berkurang sepanjang waktu dan konsumsi tidak menurun
sepanjang waktu (non-declining consumption).
b. Keberlanjutan adalah kondisi dimana sumberdaya alam dikelola sedemikian
rupa untuk memelihara kesempatan produksi di masa mendatang.
c. Keberlanjutan adalah kondisi dimana sumberdaya alam ( natural capital stock)
tidak berkurang sepanjang waktu (non-declining).
d. Keberlanjutan adalah kondisi dimana sumberdaya alam dikelola untuk
mempertahankan produksi jasa sumberdaya alam.
e. Keberlanjutan adalah kondisi dimana kondisi minimum keseimbangan dan
daya tahan (resilience) ekosistem terpenuhi.

Selain definisi operasional diatas, Haris (2000) dalam Fauzi (2004) melihat bahwa
konsep keberlanjutan dapat diperinci menjadi tiga aspek pemahaman, yaitu:
a. Keberlanjutan ekonomi, yang diartikan sebagai pembangunan yang
mampu menghasilkan barang dan jasa secara kontinu untuk memelihara
keberlanjutan pemerintahan dan menghindari terjadinya ketidakseimbangan
sektoral yang dapat merusak produksi.
b. Keberlanjutan lingkungan: Sistem yang berkelanjutan secara lingkungan
harus mampu memelihara sumberdaya yang stabil, menghindari eksploitasi
sumberdaya alam dan fungsi penyerapan lingkungan. Konsep ini juga
menyangkut pemeliharaan keanekaragaman hayati, stabilitas ruang udara,
dan fungis ekosistem lainnya yang tidak termasuk kategori sumber-sumber
ekonomi.
c. Keberlanjutan sosial: Keberlanjutan secara sosial diartikan sebagai sistem
yang mampu mencapai kesetaraan, menyediakan layanan social termasuk
kesehatan, pendidikan, gender, dan akuntabilitas politik.

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 9


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

Menurut Munasinghe (1993), pembangunan berkelanjutan mempunyai tiga tujuan


utama, yaitu: tujuan ekonomi (economic objective), tujuan ekologi
(ecological objective) dan tujuan sosial (social objective). Tujuan ekonomi
terkait dengan masalah efisiensi (efficiency) dan pertumbuhan (growth); tujuan
ekologi terkait dengan masalah konservasi sumberdaya alam ( natural resources
conservation); dan tujuan sosial terkait dengan masalah pengurangan kemiskinan
(poverty) dan pemerataan (equity). Dengan demikian, tujuan pembangunan
berkelanjutan pada dasarnya terletak pada adanya harmonisasi antara tujuan
ekonomi, tujuan ekologi dan tujuan sosial. Menurut ASCE (1998) keberlanjutan
adalah keberfungsian suatu sistem saat ini dan yang akan datang dengan
memperhatikan aspek lingkungan, sosial, ekonomi, dan teknologi. Keberlanjutan
banyak dipengaruhi oleh variabel variabel teknis dan non teknis (Choguill, 1996).

B. Kebijakan Lingkungan Terkait dengan Penyusunan Dokumen AMDAL


Pembangunan berkelanjutan adalah upaya sadar dan terencana yang memadukan
aspek lingkungan hidup, sosial, dan ekonomi ke dalam strategi pembangunan untuk
menjamin keutuhan lingkungan hidup serta keselamatan, kemampuan,
kesejahteraan, dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan.

Namun kegiatan pembangunan juga mengandung risiko terjadinya pencemaran dan


kerusakan lingkungan. Kondisi ini dapat mengakibatkan daya dukung, daya tampung,
dan produktivitas lingkungan hidup menurun yang pada akhirnya menjadi beban
sosial. Oleh karena itu, lingkungan hidup Indonesia harus dilindungi dan dikelola
dengan baik berdasarkan asas tanggung jawab negara, asas keberlanjutan, dan asas
keadilan. Selain itu, pengelolaan lingkungan hidup harus dapat memberikan
kemanfaatan ekonomi, sosial, dan budaya yang dilakukan berdasarkan prinsip kehati-
hatian, demokrasi lingkungan, desentralisasi, serta pengakuan dan penghargaan
terhadap kearifan lokal dan kearifan lingkungan. Penggunaan sumber daya alam
harus selaras, serasi, dan seimbang dengan fungsi Iingkungan hidup. Sebagai
konsekuensi dari kebijakan, rencana, dan/atau program pembangunan harus dijiwai

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 10


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

oleh kewajiban melakukan pelestarian lingkungan hidup dan mewujudkan tujuan


pembangunan berkelanjutan.

Kebijakan lingkungan hidup bertitik tolak dari Garis-Garis Besar Haluan Negara
(GBHN) yang mencantumkan bahwa hakekat pembangunan Indonesia adalah
pembangunan untuk manusia seutuhnya dengan ciri-ciri pokok-pokok keselarasan
hubungan antara manusia dengan Tuhan Maha Pencipta, antara manusia dengan
masyarakat dan antara manusia dengan lingkungan alam. Jadi, apapun yang kita
bangun, arah pembangunan tersebut tidak boleh melepaskan diri dari tujuan
membentuk manusia seutuhnya.

Implementasi adanya kebijakan lingkungan hidup telah ditandai dengan adanya


Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup. Sebagai pelaksanaan dari UU tersebut dikeluarkanlah Peraturan
Pemerintah No. 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan.
Menurut peraturan, kegiatan yang diprakirakan berpotensi memberikan dampak
terhadap lingkungan meliputi :
1. Perubahan bentuk alam dan bentang alam.
2. Eksploitasi sumberdaya alam baik yang terbaharui
maupun yang tidak terbaharui.
3. Proses dan kegiatan yang secara potensial dapat
menimbulkan pemborosan, pencemaran,
kerusakan lingkungan hidup serta kemerosotan
sumberdaya alam dalam pemanfaatannya.
4. Proses dan kegiatan yang hasilnya dapat
mempengaruhi alam, lingkungan buatan serta
lingkungan sosial budaya.
5. Proses dan kegiatan hasilnya akan dapat
mempengaruhi pelestarian kawasan konservasi
sumberdaya alam dan / atau perlindungan cagar
budaya.

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 11


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

6. Introduksi jenis tumbuh-tumbuhan, jenis hewan


dan jasad renik.
7. Pembuatan dan penggunaan bahan hayati dan
non hayati.
8. Penerapan teknologi yang diprakirakan
mempunyai potensi besar untuk mempengaruhi
lingkungan.
9. Kegiatan yang mempunyai resiko tinggi dan / atau
mempengaruhi pertahanan negara.

Secara bertahap pula, Pemerintah Pusat telah mendelegasikan wewenangnya kepada


Pemerintah Daerah dalam pemeliharaan lingkungan hidup dan pengelolaan sumber
daya alam secara selektif sesuai dengan yang tercantum dalam Undang-Undang No
32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Mendayagunakan sumber daya alam
untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat dengan memperhatikan kelestarian
fungsi dan keseimbangan lingkungan hidup, pembangunan berkelanjutan,
kepentingan sosial- ekonomi dan budaya masyarakat lokal serta penataan ruang.
Sebagai pemrakarsa dari kegiatan Konservasi Pantai Candidasa di Kab. Karangasem,
maka terdapat beberapa kebijakan pengelolaan lingkungan dan upaya–upaya yang
harus dilakukan yaitu sebagai berikut :
 Setiap kegiatan yang menyangkut kepentingan
orang banyak atau masyarakat luas maka dalam
penggunaan sumber daya alam harus diikuti
dengan usaha / langkah yang mendukung
kegiatan dan kepentingan masyarakat di sekitar
proyek.
 Setiap kegiatan yang menyangkut eksploitasi
sumber daya alam atau penurunan tingkat
produktivitas SDA harus diikuti / diimbangi
dengan tindakan pembinaan, peremajaan, dan
pembinaan secara fisik.

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 12


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

 Selalu memperhatikan kelestarian ekologi dan


kepentingan ekonomi secara seimbang.
 Senantiasa melakukan evaluasi dan peninjauan
terhadap kegiatan yang telah dilakukan demi
terlaksananya kebijakan-kebijakan pembangunan
yang baik dan berwawasan lingkungan.

C. Pendekatan Studi Penyusunan Dokumen AMDAL


Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) adalah kajian lingkungan
hidup yang digunakan untuk memprakirakan dampak penting terhadap lingkungan
dari suatu rencana kegiatan. Hasil AMDAL dimaksudkan untuk memberi arahan bagi
pihak perancang rencana kegiatan untuk mengendalikan dampak lingkungan yang
diperkirakan terjadi. Dengan demikian, rencana kegiatan akan menjadi lebih ramah
lingkungan dan lebih dapat diterima masyarakat sekitar. Hasil AMDAL juga menjadi
dasar bagi pengambilan keputusan oleh pihak yang berwenang tentang suatu
rencana kegiatan dan memberi jaminan kepada pemberi izin bahwa dampak
lingkungan dari rencana kegiatan dapat dan akan ditanggulangi. AMDAL sebaiknya
dilakukan pada tahap awal perencanaan rencana kegiatan, sebelum diselesaikannya
rancang-bangun rinci (detailed engineering design), agar semua hasil AMDAL dapat
menjadi masukan bagi rancang-bangun rinci.
Proses AMDAL akan menghasilkan 4 (empat) buah dokumen utama sebagai berikut,
1. Laporan Kerangka Acuan ANDAL (KA-ANDAL) yang menjelaskan lingkup kajian
dampak lingkungan hidup yang akan dilakukan. Hasil penilaian dokumen KA-
ANDAL adalah sebuah kesepakatan antara pemrakarsa dengan pemerintah
tentang apa yang akan dikaji dalam tahap ANDAL.
2. Laporan Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL) yang menuangkan hasil
kajian antara lain tentang prakiraan dan evaluasi dampak penting yang
dilakukan dalam studi ANDAL. Laporan ini ditutup dengan pembahasan
tentang dampak-dampak yang dianggap penting serta arahan untuk
pengelolaan dampaknya.

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 13


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

3. Dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL) yang dikembangkan


berdasarkan arahan dalam ANDAL dan berisi uraian tentang bagaimana
dampak penting negatif akan diminimalisasi dan dampak penting positif akan
dioptimalkan pengaruhnya.
4. Dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL) berisi uraian tentang
bagaimana dampak-dampak penting akan dipantau untuk memastikan bahwa
pengaruhnya pada lingkungan hidup dan masyarakat sekitar dapat teratasi.

Gambar 2.1 Proses AMDAL Yang Menggambarkan Dokumen Lingkungan


dan Penilaiannya

Disamping itu, terdapat dokumen Ringkasan Eksekutif yang merupakan ringkasan


dari dokumen ANDAL dan RKL/RPL. Dokumen Ringkasan Eksekutif, ANDAL, dan
RKL/RPL digunakan sebagai dasar bagi intansi pemerintah yang berwenang untuk
mengambil ke-putusan tentang layak-tidaknya suatu rencana kegiatan dari segi
lingkungan hidup. Selain itu, dokumen-dokumen ini juga dimanfaatkan oleh
pemrakarsa untuk merancang kegiatan yang berwawasan lingkungan.

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 14


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

Dokumen Kerangka Acuan ANDAL (KA-ANDAL) memegang peranan yang sangat


penting dalam proses AMDAL karena dalam dokumen inilah pemrakarsa menuangkan
niatnya melakukan kajian ANDAL dan menjelaskan apa saja yang akan dikaji. Untuk
menentukan apa yang akan dikaji, akan dilakukan suatu tahap yang disebut
pelingkupan.

D. TUJUAN PELINGKUPAN
Seperti halnya dengan kajian-kajian yang lain, kajian ANDAL membutuhkan fokus
yang jelas, batasan yang pasti, dan mengikuti rambu-rambu yang disepakati. Fokus
dan batasan itu ditentukan sebelum kajian dilaksanakan, yaitu pada tahap
merancang kajian. Tanpa rancangan kajian yang jelas, kajian dampak lingkungan
(ANDAL) berpotensi menjadi sebuah kajian tidak berarah yang kemudian tidak ada
nilai dan manfaatnya. Rancangan kajian ANDAL itulah yang dikenal sebagai „lingkup
studi ANDAL‟ dan merupakan hasil proses pelingkupan. Dengan kata lain,
pelingkupan bertujuan untuk merancang kajian ANDAL agar menjadi kajian yang
tepat sasaran.
Pada umumnya, sebuah rancangan kajian ilmiah harus menjawab pertanyaan Apa
yang dikaji? Dimana dan kapan kajian dilakukan? Bagaimana kajian akan
dilakukan? Siapa saja yang terlibat dalam kajian? Oleh karena itu, rancangan suatu
kajian ANDAL harus meliputi:
 fokus kajian, terutama dampak-dampak penting yang diperkirakan akan
terjadi
 lokasi dimana kajian akan dilakukan
 kapan kajian akan dilakukan
 metode studi dan
 tenaga ahli apa saja yang akan dilibatkan dalam kajian
Rancangan kajian ANDAL yang baik akan memberi manfaat tambahan bagi
pelaksanaan AMDAL, yaitu dalam hal pemakaian biaya, tenaga, dan waktu secara
efektif dan efisien.
Pada akhir proses Pelingkupan akan dihasilkan sejumlah pernyataan yang
membentuk rancangan kajian ANDAL, yaitu:

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 15


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

 pernyataan-pernyataan tentang dampak yang akan dikaji dalam ANDAL,


dikenal dengan sebutan “dampak penting hipotetik”. Dampak-dampak ini,
berdasarkan hipotesa (dugaan awal), diperkirakan akan terjadi dan
memerlukan kajian yang mendalam untuk membuktikan dugaan tersebut; dan
 penentuan lokasi dan waktu kajian ANDAL yang menggambarkan wilayah-
wilayah dimana kajian terhadap dugaan dampak akan dilakukan serta faktor
waktu yang berkaitan dengan kajian dampak.
Kedua hasil pelingkupan di atas kemudian dipakai untuk menentukan metodologi
studi serta tenaga ahli yang akan dilibatkan dalam ANDAL.

E. LANGKAH KERJA DALAM PROSES PELINGKUPAN


Untuk melaksanakan proses pelingkupan, Peraturan Menteri Negara Lingkungan
Hidup Nomor 8 Tahun 2006 memaparkan sejumlah langkah kerja dalam bentuk tata-
laksana. Gambar 3.2 menunjukkan alur proses pelingkupan sesuai dengan aturan
pemerintah, khususnya Permen LH 08/2006.

Gambar 2.2 Proses Pelingkupan sesuai Permen LH 08/2006

Seluruh langkah kerja ini didasari oleh suatu proses berpikir yang baku dalam dunia
penelitian ilmiah, yaitu bagaimana merancang suatu kajian. Dengan memahami

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 16


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

esensi dari setiap langkah kerja maka tidak sulit untuk memahami apa yang perlu
dilakukan pada setiap langkah kerja. Esensi proses pelingkupan cukup sederhana,
sebagaimana terlihat dalam tabel di bawah ini (Tabel 2.1).
Tabel 2.1 Esensi Tata Laksana Pelingkupan Sesuai Permen LH 08/2006

F. INPUT DAN OUTPUT PELINGKUPAN


Setiap tahap yang tercantum dalam Gambar 3.2 menggunakan input (masukan)
tertentu dan menghasilkan output (hasil) tertentu pula. Beberapa tahapan dapat
menggunakan input yang sama. Sedangkan masing-masing tahap akan
menghasilkan output yang spesifik dan menjadi dasar bagi tahap selanjutnya. Tabel
3.2 menjabarkan input dan output dari masing-masing tahap di atas.
Dampak yang perlu atau akan dikaji dalam ANDAL harus dinyatakan secara lengkap
karena informasi itu akan digunakan untuk merencanakan kajian ANDAL. Ada unsur-
unsur informasi yang sebaiknya ditulis dalam pernyataan dampak hipotetik.
Tabel 2.2 Input dan output untuk setiap tahapan pelingkupan

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 17


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

Unsur-unsur ini berguna untuk membentuk rancangan kajian ANDAL atau dikenal
sebagai “lingkup kajian ANDAL”, yang terdiri dari:
1. batas wilayah studi dan rentang waktu prakiraan dampak.
2. metode penelitian yang diharapkan dapat membuktikan hipotesa tentang
dampak yang dikaji;
3. kedalaman studi ANDAL, digambarkan sebagai jumlah sampel yang harus
dikumpulkan dan dianalisis;

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 18


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

4. susunan tim AMDAL yang diperlukan untuk melakukan kajian dengan


interaksi, metodologi, dan kedalaman studi di atas.

B.4. Metodologi Pelaksanaan Pekerjaan


Pemilihan metode studi untuk kegiatan penyusunan AMDAL diperlukan dalam rangka
mendapatkan hasil telaahan analisis dan evaluasi dampak yang mungkin terjadi
dengan hasil lebih tepat dan akurat. Untuk mencapai hal tersebut diperlukan suatu
proses pengumpulan data dan informasi dasar jenis-jenis kegiatan dan rona
lingkungan saat ini yang bersifat sebagai data yang sahih dan reliable. Rencana
pembangunan rumah sakit umum pusat memerlukan data-data yang terkait dengan
data proyek secara teknis maupun data-data rona lingkungan yang menggambarkan
kondisi lingkungan awal sebelum dilakukan rencana kegiatan. Penyusunan AMDAL
rumah sakit umum pusat di kuta kupang, memerlukan data-data yang terkait dengan
data proyek secara teknis maupun data-data rona lingkungan yang menggambarkan
kondisi lingkungan awal (base line) sebelum dilakukan rencana kegiatan.

Dasar pendekatan studi yang dilakukan adalah dengan cara mengenali seluruh
interaksi antar komponen kegiatan dan lingkungan dalam suatu ekosistem secara
terpadu. Kegiatan identifikasi dampak, prakiraan dampak dan evaluasi dampak
merupakan suatu proses kegiatan ANDAL guna memperoleh tingkatan besar dan
pentingnya dampak yang selanjutnya menjadi acuan dalam kegiatan pengelolaan
dan pemantauan lingkungan. Pola pendekatan yang akan dilakukan untuk
pembuatan studi ANDAL dapat dilihat pada Gambar 2.3. Berikut ini metode studi
yang dilakukan dalam penyusunan Dokumen AMDAL :

1. SOSIALISASI MEDIA MASA DAN KONSULTASI PUBLIK


Kegiatan sosialisasi dengan masyarakat sekitar pada untuk pembangunan rumah
sakit umum pusat di kuta kupang dilakukan dengan 2 cara yakni melalui sosialisasi
di media massa serta konsultasi publik masyarakat sekitar. Kegiatan sosialisasi pada
media massa dan konsultasi publik ini merupakan kegiatan informasi awal bahwa
akan dilakukan kegiatan Rencana rumah sakit umum pusat di kuta kupang dan

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 19


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

fasilitas penunjangnya. Tujuan dari kegiatan sosialisasi pada media massa dan
konsultasi publik ini untuk mendapatkan masukan yang berupa saran pendapat dan
tanggapan masyarakat secara langsung tentang rencana proyek. Masukan dan
tanggapan tersebut akan dijadikan sebagai bahan kajian dan telaahan dalam
penyusunan AMDAL. Dari kegiatan publikasi rencana kegiatan tersebut juga akan
diketahui semua aspirasi masyarakat yang berhubungan dengan proyek. Kegiatan
publikasi dan sosialisasi rencana kegiatan dalam proses AMDAL bertujuan untuk :
1. Melindungi kepentingan masyarakat di sekitar rencana Memberdayakan
masyarakat dalam pengambilan keputusan atas kegiatan Rencana rumah
sakit umum pusat di kuta kupang dan fasilitas penunjangnya yang berpotensi
menimbulkan dampak terhadap lingkungan.
2. Memastikan adanya transparansi dalam keseluruhan proses AMDAL dan
rencana kegiatan tersebut.
3. Menciptakan suasana kemitraan yang setara antara semua pihak yang
berkepentingan, yaitu dengan menghormati hak-hak semua pihak untuk
mendapatkan informasi dan mewajibkan semua pihak untuk menyampaikan
informasi yang harus diketahui pihak lain yang terpengaruh.

2. METODE PENGUMPULAN DATA


Jenis data yang dibutuhkan untuk Studi AMDAL dapat mencakup data primer
maupun data sekunder yang erat hubungannya dengan dampak penting yang akan
ditimbulkan oleh rencana kegiatan rumah sakit umum pusat di kuta kupang. Data
primer merupakan data yang didapat melalui pengukuran, pengamatan,
wawancara/kuesioner atau sampling (yang kemudian dianalisis di laboratorium)
secara langsung di lapangan. Sedangkan data sekunder merupakan data yang
dikumpulkan melalui data penelitian orang lain atau instansi yang telah
dipublikasikan untuk umum dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Dalam pelaksanaan kegiatan pengumpulan data, dilakukan pendekatan yang


disesuaikan dengan komponen lingkungan yang akan diamati, yaitu antara lain:
a) Pendekatan Penelaahan Pustaka

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 20


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

Metode ini adalah melalui penelahaan terhadap buku , jurnal ilmiah atau publikasi
umum lainnya (sumbernya valid) yang erat kaitannya dengan studi AMDAL rumah
sakit umum pusat di kuta kupang.
Termasuk dalam hal ini adalah memperhatikan studi-studi AMDAL yang pernah
dilaksanakan oleh berbagai instansi yang ada di dalam dan disekitar daerah
lingkungan kerja Kota kupang. Penyusun juga dapat menggunakan data yang ada
dari hasil studi AMDAL tersebut selama data tersebut masih relevan untuk dapat
dipergunakan dikaitkan dengan komponen lingkungannya.

Gambar 2.3. Diagram Alir Penyusunan AMDAL

b) Pendekatan Survei Lapangan


Dalam metode survei lapangan ini dapat dibedakan lagi atas beberapa metode sesuai
dengan komponen lingkungan yang akan diteliti:
USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 21
PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

a. Metode Pengukuran dan Pengamatan Langsung

Metode ini adalah dengan melakukan pengukuran dan pengamatan komponen


lingkungan secara langsung sesuai dengan kondisi yang ada di lapangan misalnya:
kualitas udara, kepadatan lalu-lintas dan lainnya.
b. Metode Sampling Sesaat atau Periodik

Metode ini adalah dengan cara pengambilan sampel komponen lingkungan


pada saat yang telah ditentukan sebelumnya secara berkala atau periodik untuk
kemudian dilakukan analisis sampelnya di laboratorium, misalnya: pengambilan
sampel air, udara, dan lainnya.
c. Metode Wawancara dengan Kuesioner

Metode wawancara dengan kuesioner ini pada dasarnya adalah melakukan


tanya jawab secara langsung kepada penduduk yang berada di sekitar rencana
pembangunan untuk mendapatkan tanggapan dan persepsinya mengenai hal-hal
yang berkaitan dengan kegiatan yang akan dilaksanakan. Oleh karena itu metode ini
umumnya digunakan untuk pengamatan komponen sosial ekonomi dan budaya.
Terdapat 2 (dua) jenis data yang akan digunakan untuk aspek sosial ekonomi dan
budaya, yaitu data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dengan
melakukan wawancara atau diskusi dengan masyarakat atau dengan tokoh
masyarakat dan aparat pemerintah. Wawancara akan dilakukan oleh surveyor yang
dipandu dengan kuisioner. Data sekunder diperoleh dari monografi/potensi kelurahan
dan kecamatan maupun dari “Kabupaten karangasem Dalam Angka” atau dari dinas-
dinas terkait.
c) Pendekatan Instansional
Pendekatan ini dengan mengadakan pendekatan langsung kepada instansi terkait
yang diharapkan memiliki data yang diperlukan dalam studi AMDAL.
Pengumpulan dan analisa data yang berupa parameter – parameter dari berbagai
komponen lingkungan perlu dilakukan untuk:
a. Menelaah, mengamati, dan mengukur rona lingkungan awal yang diprakirakan

akan terkena dampak besar dan penting dari kegiatan proyek.

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 22


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

b. Menelaah, mengamati, dan mengukur komponen rencana kegiatan yang di

prakirakan akan terkena dampak besar dan penting dari lingkungan hidup
sekitarnya.
c. Memprakirakan kualitas lingkungan akibat kegiatan proyek, berdasarkan

perhitungan pada data (parameter) rona lingkungan awal.


Secara umum metode pengumpulan data untuk keseluruhan komponen lingkungan
yang akan ditelaah yang terkait dengan dampak penting hipotetik, dapat dilihat pada
Tabel 2.3.

Tabel 2.3. Metode Pengumpulan Data Primer dan Sekunder


Metode Instansi yang
Komponen
Jenis Data Jumlah dan Lokasi Pengumpulan Dihubungi
Lingkungan
Data
F I S I K – K I - Topografi Wilayah Kabupaten Inventarisasi BPS Kabupaten
MIA - Geologi Kabupaten Karangasem data sekunder Karangasem
- FISIOGRAFI - Jenis Tanah
DAN - Morfologi dll
GEOLOGI
- RUANG, - Tata - Wilayah studi Overlay peta Bappeda kab
LAHAN Guna tata guna lahan Karangasem
DAN TANAH Lahan - Wilayah studi Overlay peta Bappeda kab
- RTRW RTRW Karangasem
-KUALITAS - Kualitas - tapak proyek dan lokasi Analisa Laboratorium
UDARA DAN udara sekitar pelaksanaan Laboratorium lingkungan
KEBISINGAN pekerjaan
- tapak proyek dan lokasi Analisa Laboratorium
- Tingkat sekitar pelaksanaan Laboratorium lingkungan
kebising pekerjaan
an
sesaat
- - Volume - Wilayah studi dan Inventarisasi Dinas

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 23


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

Metode Instansi yang


Komponen
Jenis Data Jumlah dan Lokasi Pengumpulan Dihubungi
Lingkungan
Data
TRANSPORTASI lalu- akses jalan menuju dan observasi perhubungan
lintas wilayah studi Observasi
- Kerusak - Wilayah studi dan
an jalan akses jalan menuju Observasi
- Kemacet wilayah studi
an lalu- - Wilayah studi dan Observasi
lintas akses jalan menuju
- Kecelak wilayah studi
aan - Wilayah studi dan
lalu- akses jalan menuju
lintas wilayah studi
BIOLOGI - Keaneka Wilayah studi Observasi dan
ragama inventarisasi
n Wilayah studi Observasi dan
vegetasi inventarisasi
- Keaneka Wilayah studi Analisa
ragama laboratorium
n satwa
- Biota
perairan
SOSIAL-
EKONOMI
BUDAYA - Jumlah Kota kupang Inventarisasi BPS
- DEMOGR pendu
AFI duk
- Kepad
atan
pendu

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 24


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

Metode Instansi yang


Komponen
Jenis Data Jumlah dan Lokasi Pengumpulan Dihubungi
Lingkungan
Data
duk BPS
- Jenis Kota kupang Inventarisasi
kelami dan wawancara
- SOSIAL n
BUDAYA - Mobilit
as
pendu
duk BPS
- Tingka
t Inventarisasi
pendidi Kota kupang dan wawancara
kan
- SOSIAL - Sarana
EKONOM pendidi
I kan
- Jumlah
pemelu
k
- Sarana
periba
datan
- Mata
pencah
arian
- Kegiat
an
pereko
nomian

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 25


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

Metode Instansi yang


Komponen
Jenis Data Jumlah dan Lokasi Pengumpulan Dihubungi
Lingkungan
Data
- Tingka
t
penda
patan
- Interak
si
Sosial
dan
bu-
daya
- Kamtib
mas
- Sikap/
Persep
si
masyar
akat
- KESEHAT - Keseha Rumah sakit di Kota Inventarisasi Dinas Kesehatan
AN tan kupang dan wawancara Propinsi NTT
MASYARA masyar
KAT akat
- Keseha
tan
lingkun
gan
- Fasilita
s
keseha

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 26


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

Metode Instansi yang


Komponen
Jenis Data Jumlah dan Lokasi Pengumpulan Dihubungi
Lingkungan
Data
tan

3. Metode Pengumpulan Data Primer


Data primer fisik-kimia dan biologi dapat diperoleh dengan mengambil contoh
(sampel) di lapangan, yang kemudian dianalisis di laboratorium. Sedangkan data
primer sosial ekonomi budaya dan kesehatan masyarakat yang berada dalam batas
wilayah studi (diutamakan yang terkena dampak), dilakukan dengan cara tanya-
jawab atau wawancara secara langsung pada responden. Pertanyaan disusun dalam
bentuk kuesioner, yang digunakan pewawancara sebagai acuan dalam mendapatkan
data yang diperlukan.
Data primer yang perlu dikumpulkan untuk mendiskripsikan rona lingkungan
awal/saat ini, adalah sebagai berikut:

1. Data Komponen Lingkungan Fisik-Kimia


a) Kualitas Udara dan Kebisingan
Data kualitas udara merupakan data primer yang diperoleh dari pengukuran
dilapangan. Pengukuran kualitas udara dilakukan di wilayah studi dan di pemukiman
yang diprakirakan akan terkena dampak akibat kegiatan pembangunan. Kualitas
udara di daerah lokasi dan sekitarnya sangat tergantung pada kondisi geografi,
topografi, klimatologi, dan meteorologi daerah tersebut, sedangkan untuk kebisingan
dapat timbul baik oleh proses/kegiatan alam seperti angin dan aktifitas manusia.
Untuk parameter kualitas udara ambien dan kebisingan yang diambil untuk studi
AMDAL adalah gas dan partikel (debu) serta tingkat kebisingan.

Pengukuran dilapangan didasarkan pada pergerakan dan arah angin yang dominan.
Pengambilan contoh udara ambien dilakukan dengan mengoperasikan Impinger
untuk gas dan dust sampler untuk pengukuran debu. Larutan gas dan contoh udara

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 27


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

yang diperoleh dianalisis di laboratorium menggunakan spektrophotometer dan


kromatografi gas.

Pengambilan contoh tersebut didasari atas pertimbangan, bahwa gas polutan dan
debu dalam udara ambien maupun tingkat kebisingan akan terdispersi, serta
kemungkinannya dapat menimbulkan dampak terhadap reseptor, yaitu manusia dan
lingkungan di sekitarnya. Lokasi sampling ditetapkan berdasarkan pertimbangan-
pertimbangan berikut:
1) Rencana proyek
2) Arah dan kecepatan angin yang dominan di rencana proyek
3) Pola atau distribusi pemukiman penduduk/kegiatan disekitar lokasi proyek
Pelaksanaan pengambilan contoh udara dan analisis terhadap kadar bahan pencemar
udara dilakukan melalui kerja sama dengan Laboratorium yang ditunjuk oleh
Pemerintah.

Titik contoh pengamatan kualitas udara dilakukan pada titik yang dianggap
representatif dengan 3 (tiga) lokasi yang mewakili dari berbagai arah angin sekeliling
daripada letak lokasi proyek. Untuk kebisingan dilakukan juga pada 3 (tiga) lokasi
yang sama dengan lokasi kualitas udara (debu dan gas) dengan pengambilan
sampling setiap titik yang dilakukan secara sesaat (grab sample). Rincian
penempatan titik sampling kualitas udara dan tingkat kebisingan adalah:
Metode pengambilan sampel udara ambien dan kebisingan yang dilakukan mengacu
pada Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 1405/MenKes/SK/XI/2002 tentang Baku
Mutu Kualitas Udara Ambien.

b) Kualitas Air Permukaan


Parameter kualitas air permukaan yang diambil adalah sangat tergantung dari
keberadaan badan air terdekat, berdasarkan pola aliran yang ada. Parameter yang
dipilih adalah berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2001 tentang
Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran air dan Peraturan Gubernur

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 28


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

Bali No 8 tahun 2007. Pengambilan sampel kualitas air permukaan dilakukan pada
badan air dekat pada sungai dengan tiga titik yaitu hulu, tengah dan hilir

c) Kualitas air bersih


Pengambilan sampel juga dilakukan untuk kualitas air tanah/sumur untuk
mengetahui kualitas air tanah sebelum kegiatan proyek pembangunan dilakukan.
Pengambilan air sumur dilakukan pada warga atau permukiman terdekat dengan
lokasi proyek.
Untuk mengetahui ada tidaknya bakteri E. Coli maka pada air sumur dan air PDAM
perlu dilakukan pengambilan sampel mikrobiologi. Adapun batas syarat ada tidaknya
unsur mikroba pada air bersih mengacu pada Per.Menkes RI. No
416/MENKES/Per/IX/ 1990 dimana untuk air minum jumlah E. coli adalah 0 sedang
untuk air bersih bukan perpipaan batas syaratnya adalah 50 MPN/JPT.

d) Sistem Transportasi
Keberadaan rencana Konservasi Pantai Candidasa yang diprediksi akan menimbulkan
bangkitan lalu lintas baru dan kemungkinan kerusakan jalan yang akan menambah
beban jalan di sekitar lokasi, mengingat jumlah dan jenis kendaraan yang akan
membawa peralatan dan material pipa serta material penunjang cukup signifikan
dalam menambah kepadatan lalu-lintas. Dengan makin banyaknya truk-
truk/kendaraan berat yang melewati jalan menuju lokasi proyek akan menyebabkan
turunnya tingkat pelayanan lalu lintas. Dengan memperkirakan besarnya perubahan
tingkat pelayanan jalan yang ditimbulkan akibat kegiatan proyek, dapat diketahui
sejauh mana pengaruh bangkitan lalu lintas baru tersebut berdampak pada kinerja
lalu lintas ruas jalan maupun persimpangan.
Untuk mengetahui kondisi transportasi di wilayah studi maka diperlukan pengambilan
data primer pada ruas jalan keluar masuk lokasi proyek dengan pengamatan pada
hal-hal sebagai berikut:
1. Atribut jalan meliputi dimensi bagian-bagian jalan, yaitu panjang ruas jalan,
lebar jalur lalu lintas dan geometrik simpang;
2. Volume lalu lintas terklasifikasi;

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 29


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

3. Gerakan membelok arus lalu lintas pada persimpangan ( turning movement).


Untuk memperoleh data primer, kegiatan yang dilakukan adalah survei inventarisasi
jalan (inventory survey), survei volume lalu lintas terklasifikasi ( traffic counting
survey), survei pergerakkan membelok (turning movement survey) dan survei
bangkitan lalu lintas kawasan pembanding. Teknik pelaksanaannya adalah sebagai
berikut (Direktorat Jenderal Perhubungan Darat, Panduan Pengumpulan Data, 2001):
1. Survei Inventarisasi jalan (inventory survey);
a. Maksud dan tujuan survei inventarisasi jalan (inventory survey)
Maksud pelaksanaan survei inventarisasi jalan adalah untuk mengumpulkan data
yang berkaitan dengan atribut jalan, meliputi:
1) Panjang ruas jalan;
2) Lebar jalan;
3) Ruang Pemanfaatan Jalan (RUMAJA); dan
4) Geometrik simpang;
Tujuan pelaksanaan survei inventarisasi jalan adalah untuk dipergunakan dalam:
1) Menghitung kapasitas jalan;
2) Menghitung kapasitas persimpangan; dan
3) Analisis kinerja ruas jalan dan persimpangan
b. Target data
Data yang akan diamati dan dikumpulkan serta dicatat melalui formulir survei
inventarisasi jalan, mencakup:
1) Panjang ruas jalan;
2) Lebar jalan, daerah manfaat jalan, lajur-lajur lalu lintas dan trotoar;
3) Jenis dan lokasi rambu-rambu lalu lintas, marka jalan serta lokasi dari
perlengkapan jalan lainnya; dan
4) Desain geometrik persimpangan.
c. Waktu pelaksanaan:
Survei dilaksanakan pada jam di luar jam sibuk.
d. Metodologi pelaksanaan:

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 30


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

1) Lokasi survei ditentukan pada ruas jalan dan persimpangan yang


merupakan area terkena dampak yaitu Jalan Keluar Masuk
Pelaksanaan Kegiatan yang menjadi jalan akses menuju lokasi proyek
2) Lama survei: 1 hari
2. Survei Volume lalu lintas terklasifikasi (traffic counting survey);
a. Maksud dan tujuan survei volume lalu lintas terklasifikasi ( traffic
counting survey)
Maksud pelaksanaan survei volume lalu lintas terklasifikasi adalah untuk
mengumpulkan data volume lalu lintas pada suatu ruas jalan. Tujuan pelaksanaan
survei volume lalu lintas terklasifikasi adalah mencatat setiap kendaraan yang lewat
(melewati suatu titik atau garis tertentu) sehingga didapatkan informasi mengenai:
1) Pola arus lalu lintas;
2) Volume lalu lintas tiap pergerakkan;
3) Komposisi kendaraan dalam lalu lintas;
4) Faktor untuk memprediksi lalu lintas yang akan datang; dan
5) Tingkat okupansi kendaraan dalam lalu lintas.
b. Target data
Data yang akan diamati dan dikumpulkan serta dicatat melalui formulir survei volume
lalu lintas terklasifikasi adalah jumlah kendaraan yang melewati titik pengamatan
dalam periode waktu 15 menit yang dipisahkan dalam 4 kategori yaitu kendaraan
ringan (light vehicle), kendaraan berat (heavy vehicle), sepeda motor (motorcycle)
dan kendaraan tidak bermotor (unmotorized).

c. Waktu pelaksanaan
Survei dilaksanakan selama 1 hari pada jam sibuk pagi, siang dan sore masing-
masing selama 3 jam.
d. Metodologi pelaksanaan
1) Lokasi survei ditentukan pada dua titik Jalan Keluar Masuk
Pelaksanaan.
2) Lama survei: 1 hari
3. Survei gerakan membelok (turning movement survey);

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 31


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

a. Maksud dan tujuan survei gerakan membelok (turning movement


survey)
Maksud pelaksanaan survei gerakan membelok adalah untuk mengumpulkan data
volume lalu lintas tiap gerakan pada persimpangan.
Tujuan pelaksanaan survei gerakan membelok adalah mencatat setiap kendaraan
yang bergerak pada persimpangan sehingga didapatkan informasi mengenai:
1) Pola arus lalu lintas pada persimpangan; dan
2) Volume lalu lintas tiap arah pergerakan;
b. Target data
Data yang akan diamati dan dikumpulkan serta dicatat melalui formulir survei
gerakan membelok adalah jumlah kendaraan yang bergerak pada persimpangan
pada tiap-tiap arah pergerakkan dalam periode waktu 15 menit yang dipisahkan
dalam 4 kategori yaitu kendaraan ringan (ligth vehicle), kendaraan berat (heavy
vehicle), sepeda motor (motorcycle) dan kendaraan tidak bermotor (unmotorized).
c. Waktu pelaksanaan
Survei dilaksanakan selama 1 hari pada jam sibuk pagi, siang dan sore masing-
masing selama 3 jam.
d. Metodologi pelaksanaan
1) Lokasi survei ditentukan pada Jalan Keluar Masuk Pelaksanaan
Kegiatan.
2) Lama survei: 1 hari.
Selain jumlah volume kendaraan untuk mendapatkan kapasitas ruas dan
persimpangan jalan dibutuhkan data geometrik ruas dan persimpangan yang berupa
besaran lebar badan jalan, bahu jalan, median, dan hambatan samping, dimana data
ini dapat diketahui dari survey inventori jalan.
Mengenai survey akan dijelaskan sebagai berikut:
a. Survey volume lalu lintas
Survey lalu lintas bertujuan untuk mengetahui kondisi lalu lintas di sekitar lokasi
proyek. Survey lalu lintas dilakukan baik di ruas jalan maupun di persimpangan. Jenis
survey yaitu survey pencatatan jumlah kendaraan (per jenis kendaraan per arah).
b. Survey Inventori Jalan

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 32


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

Survey ini dilakukan untuk menginventarisasi tentang situasi, panjang jalan, lebar
bahu, trotoar, median, drainase, persimpangan dengan jalan lain, bangunan
pelengkap jalan dan lain-lain yang berada di daerah pengawasan jalan dengan
pengamatan minimal 50 meter dan maksimal 25 meter, atau sesuai dengan
kebutuhan.
Pelaksanaan ini harus sesuai dengan pedoman survey jalan yang dikeluarkan oleh
Direktorat Jenderal Bina Marga No. 016/T/BNKT/1990 dan pedoman yang berlaku
lainnya serta sesuai dengan permintaan Pemberi Tugas.

e) Ruang, Lahan dan Tanah


Parameter yang diamati adalah peruntukan lahan dengan kategori sebagai berikut
1. Penggunaan lahan pada saat ini di sekitar rencana kegiatan/proyek. Obyek
yang diamati adalah kondisi penggunaan lahan di kawasan Pelaksanaan
Kegiatan sebagai lokasi rencana Pelaksanaan Kegiatan serta penggunaan
lahan di luar kawasan yang diprakirakan akan terpengaruh oleh rencana
kegiatan/proyek. Kegiatan pengamatan penggunaan lahan di sekitar rencana
kegiatan/proyek ini dilakukan sebagai dasar untuk mendeskripsikan rona awal
penggunaan lahan.
2. Peruntukan lahan yang sudah direncanakan sesuai Rencana Tata Ruang
Wilayah Kabupaten Karangasem. Kegiatan inventarisasi penggunaan lahan di
sekitar rencana kegiatan/proyek ini dilakukan untuk memprakirakan pola
penggunaan lahan apabila tidak ada kegiatan pembangunan/proyek.
3. Penggunaan lahan yang akan dikembangkan untuk Pelaksanaan Kegiatan,
dikembangkan sesuai atau tidaknya dengan rencana tata ruang wilayah yang
ada. Kegiatan ini dilakukan untuk penyesuaian (matching) dengan rencana
tata ruang yang ada sehingga tidak menyimpang dengan rencana tata ruang
yang ada.
4. Karakteristik tanah dan kemampuan tanah di lokasi kegiatan yang
berpengaruh pada kekuatan menahan struktur bangunan pengaman pantai.

2. Data Komponen Lingkungan Biologi

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 33


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

a. Vegetasi
Metodologi pengumpulan data untuk aspek biologi mencakup komponen berikut:
Analisis fungsi vegetasi dalam ekosistem:
1. Tumbuhan sebagai evapotranspirator
2. Tumbuhan sebagai penghasil senyawa allelokimia
3. Sebagai penyelenggara relung ekologi (sumber pangan, tempat istirahat, bermain
dan berkembang biak satwa liar)
Metode pengumpulan data primer untuk vegetasi dilakukan dengan cara pengamatan
langsung di lapangan baik di lokasi permukiman terdekat dengan lokasi proyek
maupun di dalam tapak areal proyek. Pengamatan dilakukan untuk mendapatkan
inventarisasi jenis, jumlah, dan karakteristik vegetasi darat tersebut, serta potensinya
sebagai pendukung ekosistem daratan dan kategori kelangkaannya. Pengumpulan
data dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif dengan penetapan pembuatan plot-
plot cuplikan dan secara wawancara langsung pada penghuni permukiman terdekat
di wilayah proyek.
Pengambilan data vegetasi dilakukan secara purposive random sampling dengan
metode Plot (berpetak) Ganda 1, yakni dengan dengan banyak petak yang tersebar
secara sistematis menurut bentuk komunitas. Ukuran petak berbeda-beda menurut
kelompok tumbuhan, yaitu :
 Plot 10 X 10 m, kelompok tumbuhan verba untuk diameter batang > 20 cm;
 Plot 5 x 5 m , kelompok tumbuhan bawah yaitu untuk diameter batang < 20
cm dan tinggi > 1,5 m
 Plot 1 X 1 m, kelompok semak/anakan/perdu yaitu dengan tinggi 0 - 1,5 m.
Karena cukup luasnya lokasi proyek, maka pengumpulan vegetesi dilakukan dengan
sampling dengan metode purposive sampling (sampling bertujuan), hal ini sesuai
dengan perbedaan komunitas yang ada pada lokasi proyek. Berdasarkan karakteristik
topografis area lokasi proyek tersebut maka sampling analisis vegetasi juga
berdasarkan perbedaan komunitas tersebut. Luas sampling untuk area perbukitan,
dataran dan sekitar tempat berair, karena merupakan komunitas yang homogen
hanya diambil 5 % dari luas area yang sama.

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 34


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

Gambar 2.4. Contoh Penentuan Cuplikan Sampling Biologi


b. Satwa darat
Pengumpulan data fauna yang hidup pada lokasi proyek dan sekitarnya yang
termasuk dalam wilayah dampak, meliputi fauna yang bergerak aktif maupun yang
pasif. Pengumpulan data fauna pada lokasi proyek adalah fauna yang menempati
relung ekologis, meliputi Mammalia, Aves, Reptilia dan Pisces.

Untuk lokasi satwa di darat yang diamati sama dengan lokasi pengamatan untuk
vegetasi darat, dan dilakukan secara bersamaan dengan pengamatan untuk vegetasi
darat. Komponen satwa darat yang diamati dan diinventarisasi adalah satwa liar yang
mungkin ada maupun satwa binaan, baik dari jenis mammalia maupun jenis-jenis
burung (aves). Metode pengumpulan data lainnya dilakukan dengan cara wawancara
dengan warga sekitar proyek Pelaksanaan Kegiatan.

Pengumpulan data pada komponen fauna yang terkait dengan jenis hewan bergerak
aktif seperti pada golongan Mammalia dan Aves dilakukan dengan menggunakan
metode Sampling Biotik (hewan bergerak) : Garis Transek . Pada metode ini peneliti
berjalan sepanjang garis transek yang panjangnya L. Pengamatan hewan dilakukan
pada kedua sisi transek, kemudian jarak ( r ) antara lokasi hewan yang terlihat ( x )
dengan pengamat ( Z ) diperkirakan panjangnya.

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 35


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

Karena luasnya daerah pengamatan, maka analisis fauna dilakukan dengan sampling
dengan metode purposive sampling (sesuai dengan perbedaan komunitas). Luas
sampling hanya diambil 5 %.

Gambar 3.5. Contoh Metode Transek

3. Data Komponen Lingkungan Sosial-Ekonomi-Budaya


Pengumpulan data primer sosial, ekonomi dan budaya masyarakat dilakukan dengan
wawancara terstruktur menggunakan daftar pertanyaan sebagai pedoman
wawancara. Wawancara dilakukan dengan memperhatikan keragaman dan strata
sosial masyarakat dan melihat jarak tempat tinggal dari sumber dampak. Responden
anggota masyarakat biasa terutama mereka yang tinggal di sekitar lokasi rencana
kegiatan.
Pertimbangan lain dalam pengambilan sampling adalah pemilihan masyarakat yang
benar-benar berpotensi mendapat dampak langsung ataupun masyarakat yang
dianggap sebagai pemerhati lingkungan sekitar.
Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah sampel acak proporsional.
Pengambilan sampel dilakukan berdasarkan proporsi jumlah KK pada Desa di
wilayah studi.
Jumlah sampel minimal yang diambil ditentukan berdasarkan proporsi
menggunakan persamaan sebagai berikut
z2 / 2 p(1  p)
no 
d2

a. Sosial-Ekonomi
Pengumpulan data primer untuk aspek sosial-ekonomi dilakukan dengan cara:

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 36


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

1. Masukan langsung dari masyarakat yang berada di dalam batasan sosial atau
batasan wilayah studi ANDAL, yaitu masyarakat di wilayah yang berada
dekat proyek yang mungkin terkena dampak langsung maupun tidak
langsung hasil kuisioner pada saat sosialisasi dan konsultasi publik.
2. Masukan langsung dari masyarakat pemerhati setelah membaca pemasangan
iklan di koran lokal maupun nasional.
3. Hasil kuisioner untuk masyarakat yang berada di dalam batasan sosial atau
batasan wilayah studi ANDAL, yaitu masyarakat di wilayah maupun
masyarakat terdekat proyek yang mungkin terkena dampak langsung maupun
tidak langsung.
Metode yang digunakan untuk pengambilan sampel dilakukan dengan sistem Simple
Random Sampling (sampel acak sederhana), dengan pemilihan responden pada
wilayah Desa terdekat yang menjadi wilayah studi. Pengambilan sampel dilakukan
berdasarkan proporsi jumlah KK.

b. Sosial-Budaya
Pengumpulan data primer untuk aspek sosial-budaya dilakukan sama dengan
pengumpulan data aspek sosial-ekonomi yaitu:
1. Masukan langsung dari masyarakat yang berada di dalam batasan sosial atau
batasan wilayah studi ANDAL, yaitu masyarakat di wilayah yang mungkin
terkena dampak langsung maupun tidak langsung hasil kuisioner pada saat
sosialisasi dan konsultasi publik.
2. Masukan langsung dari masyarakat pemerhati setelah membaca pemasangan
iklan di koran nasional dan lokal.
3. Hasil kuisioner untuk masyarakat yang berada di dalam batasan sosial atau
batasan wilayah studi ANDAL, yaitu masyarakat di wilayah yang mungkin
terkena dampak langsung maupun tidak langsung
Metode yang digunakan untuk pengambilan sampel dilakukan dengan sistem Simple
Random Sampling (sampel acak sederhana). Kemudian jumlah sampel minimal KK
tersebut didistribusikan di wilayah studi yang ditentukan dengan rumus sebagai
berikut

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 37


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

Nh
nh  n
N
dimana: n : jumlah sampel minimal yang diambil
N : jumlah populasi
P : asumsi proporsi jumlah KK yang setuju dengan rencana kegiatan
pembangunan proyek = 0.5 (diambil angka yang akan memaksimumkan jumlah
sampel)
α : taraf signifikansi dari distribusi normal = 0.05
z : 1.96 (angka tabel distribusi normal baku untuk taraf signifikan 0.05)
d : tingkat kesalahan pengambilan sampel (besarnya delta/error antara
ekspektasi dengan observasi = 0.05)
nh : jumlah sampel per kelurahan wilayah studi (KK)
Nh : jumlah populasi per kelurahan wilayah studi (KK)
Sampling masing-masing di 2 Desa didistribusikan dengan cara acak dengan
menggunakan tabel bilangan acak berdasarkan daftar nama KK yang ada
dikelurahan. Nama KK yang tersampling yang nantinya diberi kuisioner.

4. Data Komponen Lingkungan Kesehatan Masyarakat


Pengumpulan data primer, dilakukan melalui wawancara langsung terhadap
penduduk di wilayah studi terutama di wilayah tapak proyek. Parameter lingkungan
yang diperkirakan terkena dampak rencana pembangunan dan berpengaruh
terhadap kesehatan adalah:
1. Sanitasi Lingkungan
Sanitasi Lingkungan yang dimaksud di sini adalah cerminan kondisi kesehatan
lingkungan hidup. Penduduk di wilayah studi akan menghasilkan limbah domestic
seperti limbah dapur, limbah kamar mandi, jamban, limbah padat/sampah, serta air
bersih yang digunakan, dapat mempengaruhi sanitasi lingkungan disekitarnya. Data
ini digunakan untuk mengetahui kondisi kesehatan lingkungan dan perilaku
masyarakat terhadap kesehatan di wilayah studi.
2. Tingkat kesehatan Masyarakat

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 38


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

Kondisi sanitasi lingkungan yang terkena dampak kegiatan ditambah dengan kondisi
kesehatan masyarakat setempat, akan sangat berpengaruh terhadap tingkat
kesehatan masyarakat. Pengumpulan data primer kondisi kesehatan masyarakat
dilakukan melalui wawancara langsung dan menyebar kuesioner terhadap penduduk
diwilayah studi. Kuesioner yang digunakan dirancang sedemikian rupa sehingga
dapat diperoleh data identitas responden, umur berdasarkan tahun, pekerjaan,
pendidikan, lama tinggal, kebiasaan merokok dan kondisi kesehatan saat ini terutama
hal-hal yang terkait dengan kelainan faal.
Untuk menganalisis data primer digunakan beberapa metoda statistika yang
digunakan untuk membantu menganalisis hubungan, pengaruh atau komparasi pada
variabel kontrol dan variabel yang diteliti.
Data-data hasil kegiatan Konsultasi Publik (sosialisasi pada masyarakat) juga
mendukung keseluruhan metode pengumpulan data primer di atas, yaitu berupa
saran, tanggapan dan pendapat dari masyarakat yang berkepentingan terhadap
keberadaan proyek beserta sarana prasarananya tersebut.

3. Metode Pengumpulan Data Sekunder


Data sekunder merupakan data yang dikumpulkan melalui instansi terkait dengan
studi AMDAL Pelaksanaan Kegiatan beserta sarana prasarananya. Data sekunder
yang diambil umumnya adalah data fisiografi, hidrologi, tata ruang dan lahan, sosial-
ekonomi, budaya, dan kesehatan masyarakat. Data ini antara lain berupa peta-peta,
data statistik, laporan studi, laporan puskesmas di daerah wilayah studi dan lain
sebagainya. Data sekunder ini dapat diperoleh dari laporan penyelidikan/studi
terdahulu maupun data/informasi yang berasal dari instansi/dinas terkait.
Beberapa data sekunder dapat diperoleh melalui:
a. Badan Lingkungan Hidup, untuk memperoleh data-data terkait kebijakan
lingkungan yang dibuat dan peraturan perundang-undangan yang berlaku di
wilayah studi.
b. Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah untuk memperoleh data
fisiografi, hidrologi, tata ruang dan lahan, dan seluruh sarana dan prasarana di
wilayah studi.

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 39


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

c. Badan Pusat Statistik untuk memperoleh data demografi dan kependudukan di


wilayah Kabupaten Karangasem
d. Dinas Perhubungan Kominfo, untuk memperoleh data-data terkait kebijakan
kegiatan transportasi darat, data lalu-lintas dan jaringan jalan di wilayah studi.
e. Dinas PU untuk memperoleh data Sistem Drainase di wilayah studi dan studi-
studi yang terkait dengan sistem drainase permukiman dan juga sistem
jaringan jalan di Kabupaten Karangasem.
f. Puskesmas untuk memperoleh data kesehatan lingkungan dan kesehatan
masyarakat di wilayah studi.
g. Kantor Kecamatan, untuk memperoleh data demografi dan kependudukan,
serta sosial-ekonomi-budaya.
h. Kantor Desa/Kelurahan untuk memperoleh data demografi dan
kependudukan.
i. Instansi terkait lainnya

4. METODE ANALISIS DATA


Untuk memprakirakan besaran dampak akan digunakan metoda formal dan informal
sesuai masing-masing aspek lingkungan. Data primer dan sekunder yang telah
dikumpulkan tidak semuanya dilakukan analisis. Penentuan dan analisis data,
bergantung pada kemungkinan terjadinya prakiraan dampak besar dan penting, di
wilayah sekitar lokasi dan akibat adanya rencana/usaha
Analisis data untuk tiap komponen dijelaskan sebagai berikut:
A. Metoda Formal
Metoda formal yang digunakan dalam prakiraan ini adalah pendekatan dengan
perhitungan matematik. Dengan metode ini, hubungan sebab akibat yang
menggambarkan dampak kegiatan proyek terhadap komponen lingkungan akan
dirumuskan secara kuantitatif, misalnya dalam bentuk rasio-rasio kuantitatif dan
model-model matematik. Contoh-contoh model matematik adalah sebagai berikut.
Metode analisis data untuk setiap komponen lingkungan adalah :

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 40


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

1. Data Komponen Lingkungan Fisik-Kimia


a. Kualitas udara dan Kebisingan
Analisis data dilakukan dengan cara membandingkan antara data yang terukur
dengan baku mutu kualitas udara ambien yang mengacu pada:
 Peraturan Pemerintah No.41 Tahun 1999 tentang Pengendalian
Pencemaran Udara
 Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No.48/MENLH/11/1996 Untuk
Baku Mutu Tingkat Kebisingan
 Peraturan Gubernur No 8 tahun 2007
Data awal ini akan berguna sebagai pembanding pada saat pengelolaan dan
pemantauan kelak, apakah daerah ini terkena dampak pencemaran udara dan
kebisingan akibat kegiaatan.
Kualitas udara merupakan salah satu komponen lingkungan yang menjadi dampak
proyek, pada saat pelaksanaan pekerjaan konstruksi maupun saat operasional
(pasca-konstruksi). Oleh karena itu, diperlukan pengukuran dan analisis untuk
mengetahui kondisi kualitas udara sebelum proyek berjalan, agar dapat dibandingkan
dengan kondisi kualitas udara saat proyek berjalan. Gangguan atau perubahan
kualitas udara, terutama akan terjadi sebagai akibat kegiatan transportasi dan
pengoperasian proyek. Prakiraan dampak yang akan timbul karena kegiatan tersebut
terhadap kualitas udara, akan didekati dengan model kualitas udara berdasarkan
distribusi Gauss.
Hubungan antara tingkat pengemisian pencemar dengan konsentrasi pencemar yang
akan terjadi terhadap lingkungan dinyatakan dalam persamaan:
2
2.QL 1 z 
C( X , Z )  exp   
2  z u 2 z 
Dengan:
C(z,x) = Konsentrasi zat pencemar (μg/m3)
QL = Laju emisi persatuan jarak (gr/sec. m)
x = Jarak sumber pencemar ke penerima (m)
z = Ketinggian penerima di atas tanah (m)
u = Kecepatan angin rata-rata

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 41


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

σ = Koefisien dispersi vertikal Gaussian


Besarnya baku mutu emisi sumber bergerak dapat dihitung berdasarkan faktor emisi
dari WHO Offset Publication No. 62, 1982. Besarnya emisi (pollutan) bahan bakar
solar untuk masing-masing parameter kualitas udara secara lebih jelas disajikan pada
Tabel 2.4.
Tabel 2.4. Baku Mutu Emisi Pollutan Per m3 Bahan Bakar
No. Polutan Faktor Emisi (kg/satuan waktu)
1 SO2 7,9544
2 NO2 9,2103
3 CO 36,4226
4 Partikulat/Debu 2,0095
Sumber: WHO Offset Publication N0. 62, 1982

Besarnya emisi = Faktor Emisi x Jumlah Bahan Bakar


Metode analisis dan peralatan untuk aspek kualitas udara dan kebisingan adalah
sebagai berikut:
Tabel 2.5. Metode Analisis Kualitas Udara dan Kebisingan
Baku
Metode Alat
No Parameter Mutu
Analisis Analisis
(g/m3)
1 Sulfur Dioksida (SO2) Pararosanilin Spectrophotometer 220
2 Karbon Monoksida NDIR NDIR Analyzer 260
(CO)
3 Nitrogen Dioksida Saltzman Spectrophotometer 92,5
(NO2)
4 Oksidan (O3) Chemiluminescent Spectrophotometer 0,1 ppm
5 Hidrokarbon (HC) Flame Ionization Gas 98,7
Chromatography
6 Partikel < 10 m Gravimetrik Timbangan Analitik 92,5
(PM10) Ku-antitatif, dust

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 42


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

Baku
Metode Alat
No Parameter Mutu
Analisis Analisis
(g/m3)
sampler
7 Debu Gravimetrik Timbangan Analitik 260
Ku-antitatif, dust
sampler
8 Timbal (Pb) Gravimetrik Hi-Vol 60
Pengabuan AAS
9 Nitrat (NH3) Nessier Spectrophotometer 1360
10 H 2S Mercurythiocyanate NDIR Analyzer 42
11 Kebisingan Statistik Sound Level Meter 55* db (A)
70** db
(A)

b. Kualitas Air
Parameter kualitas air permukaan yang diteliti merujuk pada Peraturan Pemerintah
Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 416/Menkes/Per/IX/1990 tentang Syarat-Syarat
Pengawasan Kualitas Air. Parameter, metode analisis dan peralatan yang digunakan
untuk penelitian kualitas air adalah sebagai berikut.
Tabel 2.6. Metoda Analisis Kualitas Air Permukaan
Baku Mutu
No Parameter Satuan Air Kelas II Metoda
*)
A. FISIKA
o
1 Temperatur C deviasi 3 Termometer
Total Disolved Solid Gravimetri
2 (TDS) mg/L 1000
3 Padatan Tersuspensi mg/L 50 Gravimetri

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 43


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

Baku Mutu
No Parameter Satuan Air Kelas II Metoda
*)
(SS)
B. KIMIA
1 pH - 6,0 - 9,0 pH meter
2 Barium mg/L Ba (-) AAS
3 Besi mg/L Fe (-) Spektrofotometri
4 Boron mg/L B 1 AAS
5 Mangan mg/L Mn (-) Spektrofotometri
6 Tembaga mg/L Cu 0,02 AAS
7 Seng mg/L Zn 0,05 AAS
8 Krom Heksavalen mg/L Cr6+ 0,05 AAS
9 Kadmium mg/L Cd 0,01 AAS
10 Raksa mg/L Hg 0,002 AAS
11 Timbal mg/L Pb 0,03 AAS
12 Arsen mg/L As 1 AAS
13 Selenium mg/L Se 0,05 AAS
14 Kobalt mg/L Co 0,2 AAS
15 Khlorida mg/L Cl 600 Argentometri
16 Sulfat mg/L SO4 (-) Spektrofotometri
17 Sianida mg/L CN 0,02 Spektrofotometri
18 Sulfida mg/L H2S 0,002 Iodometri
19 Fluorida mg/L F 1,5 Spektrofotometri
20 Sisa Khlor Bebas mg/L Cl2 0,03 Iodometri
mg/L PO4- Spektrofotometri
21 Total Phospat P 0,2
mg/L NO3- Spektrofotometri
22 Nitrat N 10
23 Nitrit mg/L NO2- 0,06 Spektrofotometri

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 44


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

Baku Mutu
No Parameter Satuan Air Kelas II Metoda
*)
N
mg/L NH3- Spektrofotometri
24 Amonia Bebas N (-)
25 BOD mg/L O2 3 Winkler
26 COD mg/L O2 25 Reflux/Titimetri
27 Disolved Oxygen (DO) mg/L O2 4 Iodometri
28 Detergent Anionik mg/L LAS 0,2 Spektrofotometri
29 Fenol mg/L 0,001 Spektrofotometri
30 Minyak & Lemak mg/L 1 Gravimetri
C. MIKROBIOLOGI
1 Fecal Coliform MPN/100ml 2000 -
2 Total coliform MPN/100ml 10000 -
Keterangan: *) = PP No. 82 Tahun 2001

Tabel 2.7. Metode Analisis Kualitas Air


No Parameter Metode Analisis Alat Analisis Baku
Mutu
A. FISIKA
1 Warna Kalorimetrik/ Kalorimeter/  50 TCU
spektrofotometrik Spektrofotometer
2 Rasa dan Bau Organoleptik -- Tidak
berasa dan
berbau
3 Kekeruhan Turbidimetrik Turbidimeter 25 NTU

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 45


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

No Parameter Metode Analisis Alat Analisis Baku


Mutu
4 Padatan terlarut Gravimetrik Timbangan Analitik 1500 mg/l
(TDS) dan kertas saring
0,45 m
5 Suhu Expansion Termometer Suhu
Udara 
3 0C
B. KIMIA
No Parameter Metode Analisis Alat Analisis Baku
Mutu
1 Air Raksa(Hg) Spektroskopi Atomic Absorption 0,001mg/l
Serapan Atom Spectrophotometer
(AAS)
2 Arsen (As) Pembentukan Atomic Absorption 0,05mg/l
Arsen Spektroskopi Spectrophotometer
Serapan Atom (AAS)
3 Florida (F) Spektrofotometrik Spektrofotometer 1,5 mg/l
4 Krom Ko-Presipitasi Flameless Atomic 0,05mg/l
hexavalent Spektros kopi Ab sorption
(Cr6+) Serapan Atom Spectrophoto
meter (AAS)
5 Kadmium (Cd) Ekstraksi solven – Flameless Atomic 0,005mg/l
Spektroskopi Ab sorption
Serapan Atom Spectrophoto
meter (AAS)
6 Nitrit sebagai N2 Spektrofotometrik Spektrofotometer 1 mg/l
7 Nitrat sebagai Spektrofotometrik Spektrofotometer 10 mg/l
N3
8 Selenium (Se) Reduksi dengan Spektroskopi 0,01 mg/l

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 46


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

No Parameter Metode Analisis Alat Analisis Baku


Mutu
Nyala hidrogen Serapan Atom
(Spektroskopi
Serapan Atom)
9 Aluminium (Al) Spektrofotometrik, Spektrofotometer, 0,2 mg/l
Spektroskopi AAS
Serapan Atom
10 Besi (Fe) Spektrofotometrik, Spektrofotometer, 1 mg/l
Spektroskopi AAS
Serapan Atom
11 Kesadahan Konduktivitimetrik Salinometer 500 mg/l
(CaCO3)
12 Klorida (Cl) Titrasi Titrasi 600 mg/l
Argentometrik
13 Mangan (Mn) Spektrofotometrik, Spektrofotometer, 0,5 mg/l
Spektroskopi AAS
Serapan Atom
14 Ph Potensiometrik Ph meter 6,5 – 9
15 Zeng (Zn) Ekstraksi solven – Flameless Atomic 15 mg/l
Spektroskopi Ab sorption
Serapan Atom Spectrophoto
meter (AAS)

16 Sulfat (SO4) Gravimetrik Skala Analisis 400 mg/l


17 Sianida Spektrofotometrik, Spektrofotometer, 0,1 mg/l
Spektroskopi AAS
Serapan Atom
18 Timbal(Pb) Spektrofotometrik, Spektrofotometer, 0,1 mg/l
Spektroskopi AAS

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 47


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

No Parameter Metode Analisis Alat Analisis Baku


Mutu
Serapan Atom
B. KIMIA ORGANIK
No Parameter Metode Analisis Alat Analisis Baku
Mutu
1 Zat Titrasi Buret 10mg/l
Organik(KMnO4)
2 Diterjen Titrasi Buret 0,5mg/l
C. MIKROBIOLOGI
No Parameter Metode Analisis Alat Analisis Baku
Mutu

1 Fecal Coliform MPN or Filtration MPN Table, Filter 50


hol-der and
counterfunnel
2 Total Coliform MPN or Filtration MPN Table, Filter 10
hol-der and
counterfunnel
Sumber: KepMenKes No.416/MENKES/Per/IX/1990

Untuk analisis mikrobiologi air minum/bersih adalah menggunakan secara


mikrobiologi dengan metode MPN/JPT, sesuai dengan persyaratan pada Per.Men.Kes
RI No. 416 /MEN.KES/PER/IX/1990.

Tabel 2.8. Metode Analisis Pengujian Mikrobiologis Air Bersih


Batas
Parameter Satuan Metode Maksimum)*
AM AB P/N
Total kolifom JPT/100 Tabung ganda, APHA 0 10/50

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 48


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

Batas
Parameter Satuan Metode Maksimum)*
AM AB P/N
ml 9221.E,Ed.20.1998
JPT/100 Tabung ganda, APHA
Koliform tinja 0 #
ml 9221.E,Ed.20.1998
Angka lempeng JPT/100 Metode Tabur APHA
# #
total ml 9215.B,Ed.20.1998
Sumber: Per.Men.Kes RI No. 416 /MEN.KES/PER/IX/1990

c. Sistem Drainase
Dalam menganalisis sistem hidrologi/drainase di kawasan studi, maka perencanaan
arah dan pola aliran serta sistem jaringan drainase diarahkan untuk dapat
menampung limpasan air hujan di area perencanaan sesuai curah hujan rencana
yang ditetapkan. Hal-hal yang diamati secara primer dianalisis sesuai dengan ada
tidaknya kemampuan saluran dalam menampung debit banjir, maupun kemampuan
tukad untuk mengalirkan air maupun kelayakan daya tampung yang dimiliki

d. Sistem Transportasi
Data-data transportasi berupa volume lalu-lintas dari berbagai jenis kendaraan
dianalisis dengan menggunakan prediksi peningkatan jumlah kendaraan terhadap
pola distribusinya di jalan. Prediksi jumlah kendaraan sangat penting untuk
memprakirakan sampai berapa lama terjadi kemacetan, tinggi kerusakan jalan dan
tingkat pelayanan jalan.
Data survey volume lalu lintas dapat dianalisa secara diskriptif dengan perhitungan
volume lalu-lintas seluruh jalan yang diteliti dan tiap jenis kendaraan yang diamati
untuk setiap interval 15 menit. Dianalisa pula kecenderungan arus lalu-lintas pada
jam-jam puncak pagi, siang dan malam hari.
Untuk mengetahui tingkat kerusakan jalan, perlu terlebih dahulu dilakukan prakiraan
pertambahan jumlah lalu lintas dan jenis kendaraan yang lewat/digunakan. Tahap

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 49


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

berikutnya adalah menganalisa tingkat kerusakan jalan dengan metode analisis yang
umumnya digunakan oleh Bina Marga yaitu:
1. Nilai Prosentase Kerusakan (Np)
Nilai prosentase kerusakan merupakan prosentase luas permukaan jalan yang rusak
terhadap keseluruhan bagian jalan yang ditinjau dengan nilai Np sebagai berikut:
Nilai Np = 2 jika kerusakan 0% - 5% : sedikit sekali
Nilai Np = 3 jika kerusakan 5% - 20% : sedikit
Nilai Np = 5 jika kerusakan 20% - 40% : sedang
Nilai Np = 7 jika kerusakan > 40 : banyak
2. Nilai bobot kerusakan jalan (Nb)
Nilai bobot kerusakan jalan dapat dilihat dari pengamatan langsung dari jalan dengan
bentuk kerusakan sebagai berikut:
a. Tambalan : 4
b. Retak : 5
c. Lepas : 5,5
d. Lubang : 6
e. Alur : 6
f. Gelombang : 6,5
g. Ambles : 7
h. Belahan : 7

3. Nilai jumlah kerusakan jalan (Nj)


Nilai jumlah kerusakan jalan merupakan perkalian antara nilai prosentase kerusakan
jalan (Np) dan nilai bobot kerusakan jalan (Nb). Nilai jumlah kerusakan jalan (Nj)
diperoleh dari Manual Penilaian Kondisi Permukaan Jalan, Ditjen Bina Marga, tahun
1979, sehingga Nj = Np x Nb.
Tabel 2.9 Nilai Jumlah Kerusakan (Nj)
Jenis Sedikit
Sedikit Sedang Banyak
No kerusakan sekali
1 Tambalan 8 12 16 20

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 50


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

Jenis Sedikit
Sedikit Sedang Banyak
No kerusakan sekali
2 Retak 10 15 20 25
3 Lepas 11 16.5 27.5 38.5
4 Lubang 12 18 30 42
5 Alur 12 18 30 42
6 Gelombang 13 19.5 32.5 45
7 Ambles 17 21 35 49
8 Belahan 14 21 35 49
Jumlah
Sumber: Manual Penilaian Kondisi Permukaan Jalan, Direktorat Jendral Bina Marga
4. Nilai Kerusakan Jalan (Nr)
Nr merupakan nilai yang diperoleh dari total nilai jumlah kerusakan.
5. Nilai Kenyamanan (Nn)
Nilai kenyamanan jalan diperoleh dari hasil penilaian dengan batasan sebagai
berikut:
a. Nyaman = 30
b. Kurang nyaman = 45
c. Tidak nyaman = 55
6. Nilai Gabungan Kondisi (Ng)
Ng merupakan nilai yang diperoleh dari gabungan antara nilai kerusakan (Nr) dan
nilai kenyamanan (Nn) dengan hubungan sebagai berikut:
Ng = 0,5 Nr + 0,5 Nn
7. Nilai Kondisi Permukaan Jalan (V)
V adalah nilai yang diperoleh dari nilai gabungan kondisi. Dengan diketahuinya nilai
gabungan kondisi, maka dapat ditentukan nilai kondisi permukaan jalan
Tabel 2.10. Hubungan Nilai Gabungan Kondisi dengan Nilai Kondisi
Permukaan
Nilai Kondisi Nilai Gabungan
No. Kondisi
Permukaan Kondisi

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 51


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

Nilai Kondisi Nilai Gabungan


No. Kondisi
Permukaan Kondisi
1 Sangat baik 8-10 20-30
2 Baik 6-8 30-50
3 Sedang 4-6 50-75
4 Jelek <4 75-150
Sumber: Manual Penilaian Kondisi Perkerasan Jalan Direktoral Jendral Bina Marga

e. Ruang, Lahan dan Tanah


Parameter yang diamati adalah peruntukan lahan dengan kategori sebagai berikut
1. Penggunaan lahan pada saat ini disekitar rencana kegiatan/proyek. Obyek
yang diamati adalah kondisi penggunaan lahan di sekitar lokasi proyek serta
penggunaan lahan di luar lokasi proyek yang diprakirakan akan terpengaruh
oleh rencana kegiatan/proyek. Kegiatan pengamatan penggunaan lahan
disekitar rencana kegiatan/proyek ini dilakukan sebagai dasar untuk
mendeskripsikan rona awal penggunaan lahan.
2. Peruntukan lahan yang sudah direncanakan Pemerintah Kabupaten
Karangasem melalui Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang ada.
3. Analisis terhadap perubahan tata guna lahan dan tata ruang dilakukan dengan
melihat kesesuaian antara proyek yang dilaksanaka1n dengan produk
RTRW/RTRK ataupun RDTRK di wilayah yang menjadi lokasi proyek.

f. Data Komponen Lingkungan Biologi


Analisa komponen biologi dapat dijelaskan sebagai berikut :
f.1. Vegetasi darat
Jumlah individu Spesies A
Kerapatan = ----------------------------------------------- X
100%
Luas area sampling

Jumlah plot ditemukan Spesies A

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 52


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

Frekwensi = ----------------------------------------------- X
100%
Jumlah seluruh plot

Jumlah basal area spesies A


Dominasi = ----------------------------------------------- X
100% Luas area sampling

Kerapatan Spesies A
Kerapatan relatif = ----------------------------------------------- X
100%
Kerapatan seluruh jenis

Frekwensi Spesies A
Frekwensi relatif = ---------------------------------------------- X
100%
Frekwensi seluruh jenis

Dominansi Spesies A
Dominansi relatif = ----------------------------------------------- X
100%
Dominansi seluruh jenis

Indek Nilai Penting = Kerapatan relatif + Frekwensi relatif +


Dominansi relatif.

Referensi : Agoes Soegianto, 1994, “ Ekologi Kuantitatif “ Usaha


Nasional, Surabaya

Dari data indek nilai penting (IVi) yang berkisar antara 0 – 3 (300%), dapat
digunakan untuk mendiskripsikan adanya dominansi suatu spesies dalam komunitas.

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 53


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

f.2. Fauna daratan


Fauna dataran yang teridentifikasi dapat diprediksi kepadatan populasinya.
Kepadatan populasi (N) dalam suatu tempat (A), dapat dihitung dengan rumus : (
Agoes Soegianto, 1994, “ Ekologi Kuantitatif “ Usaha Nasional, Surabaya)
n(2n –1)A
N = ----------------
2Lr
Sedangkan analisis struktur komunitas fauna daratan, digunakan indeks Simpson
(1949), sebagai berikut :
ni(ni-1)
 = -------------------
N(N-1)

Dimana  adalah indek dominansi dan ni adalah jumlah individu spesies ke i , bila
suatu komunitas memiliki keanekaragaman jenis yang tinggi, maka akan mempunyai
dominansi yang rendah. Jenis keanekaragaman dapat dihitung dengan rumus :
Ds = 1- 
Dimana Ds adalah indeks Keanekaragaman Simpson, nilai berkisar antara 0 – 1
makin mendekati 1 tingkat keanekaragaman makin tinggi.
Hasil pengamatan burung dianalisis kelimpahannya dengan indeks Kelimpahan
Jorgennsen, dengan perhitungan :
D = ni / N X 100 %
D = Indeks Kelimpahan jenis burung 1
ni = Jumlah individu burung jenis 1
N = Jumlah individu total semua jenis burung

g. Data Komponen Lingkungan Sosial-Ekonomi-Budaya


Analisis komponen sosial-ekonomi-budaya dilakukan dengan tujuan untuk melihat
pola kecenderungan dan bukan merupakan pola hubungan antar variabel, sehingga
digunakan metode statistik deskriptif. Data-data demografi dan kependudukan

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 54


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

dianalisis secara kuantitatif melalui beberapa rumusan seperti perhitungan kepadatan


penduduk, proyeksi jumlah penduduk dengan dasar perhitungan kondisi penduduk
saat ini.

Untuk data sosial-ekonomi seperti masalah ketenaga-kerjaan dan tingkat pendapatan


dapat dianalisis secara kualitatif berdasarkan kegiatan mobilisasi tenaga kerja untuk
pembangunan serta kegiatan perekonomian setempat yang mendukungnya.

Untuk data sosial-budaya yang meliputi persepsi masyarakat, ada tidaknya keresahan
masyarakat/sosial, kamtibmas dapat dianalisis secara kualitatif berdasarkan data
yang telah dihasilkan dari hasil wawancara/kuisioner dan konsultasi publik yang telah
dilakukan. Beberapa rumusan yang dapat digunakan untuk aspek sosial-ekonomi-
budaya adalah sebagai berikut:

Rasio beban ketergantungan (Dependency Ratio) (Suwandjoko Warpani, ITB


Press)
+
DR = P(0-14) P65 x k
P(15-64)

Dimana:
DR = dependency ratio (%)
P(0-14) dan P65+ = jumlah penduduk yang berusia 0 – 14 dan lebih dari 64
tahun.
P(15-64) = jumlah penduduk yang berusia 15 – 64 tahun (usia
Produktif)
K = satuan per 100

Kepadatan Penduduk (Dencity) (Suwandjoko Warpani, ITB Press)


D = Po
L
D = kepadatan Penduduk wilayah dan tahun tertentu (jiwa/km2)
Po = Jumlah penduduk pada wilayah dan tahun tertentu (jiwa/km2)

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 55


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

L = Luas wilayah (km2)

Rasio Jenis Kelamin (sex Ratio) (Suwandjoko Warpani, ITB Press)


SR = P Laki x k
P Wanita
Dimana: SR = Sex Ratio (%)
P Laki = Jumlah Penduduk laki-laki (jiwa)
P Wanita = Jumlah Penduduk Wanita (jiwa)
K = Satuan Per 100

h. Data Komponen Lingkungan Kesehatan Masyarakat


Komponen kesehatan masyarakat yang akan dianalisis dalam studi AMDAL ini adalah
data-data yang terkait dengan sarana dan prasarana kesehatan, tenaga medis,
temuan jenis penyakit terbanyak, perilaku masyarakat terkait dengan kesehatannya,
dan fasilitas sanitasi lingkungan yang dimiliki masyarakat. Metode analisanya adalah
statistik deskriptif, baik bersifat kualitatif maupun kuantitatif.
Untuk menganalisa aspek kesehatan masyarakat digunakan metode profesional
judgement yang didukung oleh data hasil kuesioner maupun data sekunder dari
Puskesmas setempat. Jenis penyakit yang digunakan sebagai indikator dalam analisa
ini adalah Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA), alergi serta diare. ISPA
merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh virus atau bakteri yang menyerang
saluran pernapasan bagian atas (hidung dan pangkal tenggorok). Penyakit ini
ditularkan melalui udara (airborne infection). Oleh karena itu, angka kejadian
penyakit ISPA (prevalensi) akan meningkat seiring dengan meningkatnya tingkat
pencemaran udara di lingkungan tersebut. Selain ISPA, alergi juga bisa ditimbulkan
akibat terjadinya pencemaran udara. Jenis penyakit lain yang dapat dijadikan
indikator untuk menganalisis dampak terhadap kesehatan masyarakat adalah
meningkatnya jenis penyakit yang dominan di daerah tersebut selain ISPA dan alergi
yaitu diare yang disebabkan karena penurunan kualitas lingkungan akibat genangan
ataupun pencemaran terhadap air permukaan/air sumur penduduk.

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 56


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

Analisis resiko kualitatif dan kuantitatif diprakirakan dengan menggunakan data


kecenderungan penyakit yang diderita masyarakat `sekitar yang kemudian
dikorelasikan dengan penyakit yang biasa timbul akibat kegiatan. Analisis biaya
dampak kesehatan dilakukan dengan perhitungan terhadap jumlah penyakit yang
biasa diderita oleh masyarakat akibat kegiatan dan kemudian dihitung biaya
penanggulangan dampak kesehatan tersebut. Analisis perubahan perilaku
masyarakat dilakukan untuk menentukan besaran dampak yang dihasilkan akibat isu
pokok pada suatu kegiatan.

5. METODE PRAKIRAAN DAMPAK PENTING


Prakiraan dampak yang dimaksud merupakan proses pendugaan adanya dampak
lingkungan akibat kegiatan proyek pada perspektif ruang, waktu, dan tahapan
kegiatan, baik ditinjau dari besaran dampak maupun tingkat kepentingan dampak.
Besaran dampak menunjukkan besarnya perubahan lingkungan yang terjadi akibat
rencana kegiatan. Sedangkan tingkat kepentingan dampak menunjukkan nilai
pentingnya perubahan lingkungan akibat rencana kegiatan.

Langkah awal dalam memprakirakan dampak adalah dengan mengidentifikasi


dampak kegiatan proyek terhadap komponen lingkungan. Proses identifikasi dampak
dilakukan dengan menggunakan metode cheklist yang dituangkan dalam matriks
interaksi antara komponen kegiatan dengan komponen lingkungan. Proses
selanjutnya adalah melakukan pelingkupan untuk menentukan komponen kegiatan
dan lingkungan yang benar-benar mempunyai kaitan yang sangat kuat yang nantinya
akan diprediksi dan dievaluasi dampaknya. Selain identifikasi, dalam memprediksi
dampak juga dibuat diagram alir dampak untuk memperlihatkan alur dampak,
sehingga akan terlihat gradasi dampak yang meliputi dampak primer, sekunder dan
tersier.

Metode yang akan digunakan untuk melakukan prakiraan dampak dapat memilih dari
salah satu metode yang ada tergantungan pada jenis komponen lingkungan yang
dimaksud. Adapun metode-metode yang digunakan adalah sebagai berikut:

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 57


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

a. Metode Pendekatan Model Matematis


Melalui penggunaan rumus matematis yang sesuai dengan kegiatan proyek serta
keadaan alam disekitar proyek yang akan diperkirakan seberapa jauh dampak yang
akan terjadi. Dampak yang diperkirakan dengan metode pendekatan model
matematis adalah penurunan jumlah vegetasi, debu dan penurunan kualitas udara,
tumpahan material di jalan,tersedianya jalan akses, kecelakaan kerja, perubahan
kualitas air permukaan, erosi dan sedimentasi, perubahan kuantitas dan kualitas air
tanah, pengendalian banjir, peningkatan limbah padat dan cair domestic.
b. Metode Pendekatan Berdasarkan Analogi
Prakiraan dampak dengan metode ini adalah dengan mengkaji masalah lingkungan
yang timbul di suatu lokasi yang mempunyai perilaku ekosistem yang sama dengan
lokasi proyek yang akan diperkirakan dampaknya.
Lokasi tersebut dipakai sebagai suatu pembanding/analog dari suatu lokasi proyek
yang akan dipakai sebagai studi, dalam hal ini lokasi proyek, sehingga akan diperoleh
prakiraan masalah-masalah lingkungan yang akan timbul dari kegiatan proyek ini.
Komponen lingkungan yang prakirakan dampaknya berdasarkan pada analogi
adalah: Keresahan masyarakat, nilai kompensasi, gangguan kesehatan masyarakat,
terciptanya kesempatan kerja, kerusakan jalan, dan timbulan limbah B3 (padat dan
cair), dll.
c. Metode Pendekatan Berdasarkan Empiris
Melalui metode yang berdasarkan hukum-hukum yang berlaku di lingkungan yang
menggambarkan sebab akibat. Komponen lingkungan yang prakiraan dampaknya
berdasarkan empiris antara lain peningkatan estetika lingkungan, timbulnya bau tidak
sedap dan vektor penyakit, pengembangan pariwisata, pengembangan budidaya
perikanan..
d. Metode Pendekatan dengan Penggunaan Baku Mutu Lingkungan
Prakiraan dampak dengan metode ini menggunakan pendekatan pada standar atau
kriteria baku mutu lingkungan yang telah ditetapkan berdasarkan pada peraturan
perundangan yang berlaku, baik yang berskala nasional, sektoral maupun regional.
Standar (baku mutu)ataupun kriteria ini umumnya dipergunakan sebagai
pembanding terhadap nilai parameter komponen lingkungan yang telah maupun

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 58


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

yang akan diperkirakan berubah terhadap nilai ambang batas yang diperbolehkan
atau diijinkan. Komponen lingkungan yang menggunakan baku mutu lingkungan
adalah kualitas air, kualitas udara dan kebisingan.
e. Metode Penilaian Para Ahli (Profesional Judgement)
Dampak lingkungan yang akan timbul dari proyek diprakirakan oleh para anggota tim
ahli sesuai dengan keahlian dari masing-masing anggota tim. Dengan pengalaman
dalam disiplin ilmu pakar yang bersangkutan mempunyai intuisi yang kuat terhadap
sesuatu hal dalam bidang atau komponen yang ditekuni, dari alasan ini maka
pendugaan komponen lingkungan dapat didekati dengan kepakaran para ahli
dibidangnya. Komponen lingkungan yang digunakan biasanya bukan komponen yang
detail, tetapi merupakan bidang yang luas. Komponen lingkungan yang prakirakan
dampaknya berdasarkan penilaian (judgement) adalah: kualitas udara dan
kebisingan, air tanah, flora dan fauna, kesehatan masyarakat, konflik
sosial/ketidakpuasan, sanitasi lingkungan, serta persepsi dan sikap masyarakat.

Beberapa metode formal yang dapat digunakan untuk menghitung perubahan


lingkungan adalah sebagai berikut:
1. Perubahan Kualitas Udara
Selain dengan gaussian methode, perubahan kualitas udara dapat dihitung melalui
pendekatan konversi ISPU (Indeks Standar Pencemar Udara) yang berpedoman pada
Keputusan Kepala BAPEDAL No. Kep. 107-/KABAPEDAL/11/1997 tentang Pedoman
Teknis Perhitungan dan Pelaporan serta Informasi ISPU sebagai berikut:
Tabel 2.11. Batas ISPU dalam satuan SI (pada T = 25 C dan 760 mm Hg)
Indeks
24 jam 24 jam 1 jam
Standar 8jam CO 1 jam O3
PM10 SO2 NO2
Pencemar g/m3) (g/m3)
(g/m3) (g/m3) (g/m3)
Udara
50 50 80 5 120 (2)
100 150 365 10 235 (2)
200 350 800 17 400 1130
300 420 1600 34 800 2260

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 59


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

Indeks
24 jam 24 jam 1 jam
Standar 8jam CO 1 jam O3
PM10 SO2 NO2
Pencemar g/m3) (g/m3)
(g/m3) (g/m3) (g/m3)
Udara
400 500 2100 46 1000 3000
500 600 2620 57,5 1200 3750
Sumber: Kep-107/KABAPEDAL/11/1997

Kategori dan rentang Polutan Standart Index, sebagai berikut:


0 - 50 : Baik
51 - 100 : Sedang
101 – 199 : Tidak sehat
200 – 299 : Sangat tidak sehat
300 - keatas : Berbahaya
2. Kebisingan karena mobilitas alat dan material
Pernyataan tingkat bising sesuai dengan Kepmen LH Nomor KEP-48/MENLH/11/1996
tentang Baku Mutu Tingkat Kebisingan sebagai berikut:
1
L ek  10 log
N
 N J 10 0,1Li
 Tingkat Bising Ekivalen:
dengan: N = Jumlah total pengukuran
NJ = Jumlah pengukuran pada tingkat bising Li
Lek = Tingkat bising ekivalen
1
LS  10 log
15
 N J 10 0,1.Leki
Tingkat Bising Siang:
dengan: LS = Tingkat bising siang
Leki = Jumlah jam pada tingkat kebisingan Lek
1
LM  10 log
9
 N J 10 0,1.Leki
 Tingkat Bising Malam:
dengan: LM = Tingkat bising malam
Lek = Jumlah jam pada tingkat kebisingan Lek

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 60


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

 Tingkat Bising Siang-Malam:

1 1 
LSM  10 log   N J 10 0,1.Leki   N J 10 0,1.Leki 
15 9 
dengan: LSM = Tingkat bising siang-malam
Lek = Jumlah jam pada tingkat kebisingan Lek

Metode formal untuk menghitung tingkat kebisingan di sekitar lokasi kegiatan akibat
lalu-lintas darat adalah sebagai berikut:
Ae = 7,4. 10-8 f2 r/B
Dimana:
Ae = tingkat kebisingan yang dilemahkan oleh absorbsi udara (dB)
f = tingkat frekuensi sumber bising (Hz)
r = jarak sumber ke reseptor (m)
B = kelembaban relative (%)

Untuk skala perubahan kualitas kebisingan selain dapat dihitung dengan formula
diatas, secara umum skala tingkat kebisingan dapat dikonversi melalui Nilai Skala
Kualitas Lingkungan Kebisingan.
Tabel 3.12. Skala Kualitas Lingkungan Kebisingan
Skala Tingkat kebisingan (dBA)
5 50-60 (a) 50-55 (b) 50-52 (c)
4 60-70 (a) 55- 63 (b) 52-59 (c)
3 70-80 (a) 63-71(b) 59-64 (c)
2 80-90 (a) 71- 82 (b) 64-77 (c)
1 90-100 (a) 82-100 (b) 77-100 (c)
Sumber: Canter and Hill, 1999
Keterangan: a. sesaat pada suatu waktu
b. sering di beberapa tempat
c. terus menerus di beberapa tempat

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 61


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

Atau dapat pula dihitung akumulasi rambatan tingkat kebisingan kegiatan


operasional proyek dengan formula sebagai berikut: (Razif M, Adhi Y, 2001)
LP total = 10 log (P12/P02) + (P22/P02)
Dimana:
LP total = tingkat kebisingan total (dBA)
P1 = intensitas suara sumber 1 (N/m2)
P2 = intensitas suara sumber 2 (N/m2)
P0 = Intensitas suara referensi (N/m2)
Perubahan tingkat kebisingan karena perubahan jarak dapat dihitung dengan rumus:
LP 2 = LP1 - 20 log (R2/R1)
Dimana:
LP 1 = tingkat kebisingan pada jarak r1 (dBA)
LP 2 = tingkat kebisingan pada jarak r2 (dBA)
r1 = jarak pengukukuran kebisingan dari sumber kebisingan 1
r2 = jarak pengukukuran kebisingan dari sumber kebisingan 2

Tabel 2.13. Rambatan Bising Peralatan Konstruksi


Jarak dari Rambatan Bising, dBA
Sumber
Cement Hammmer
Bising (R), Crane Derrick
Mixer Pile
m
0 110,0 100,0 95,0 115,0
100 62,0 52,0 47,0 67,0
200 56,0 46,0 41,0 61,0
300 52,5 42,5 37,0 58,0
400 50,0 40,0 35,0 55,0
500 48,0 38,0 33,0 53,0

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 62


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

3. Kualitas Air
Untuk menentukan besarnya beban pencemaran kegiatan terhadap kualitas air akan
digunakan bentuk persamaan sebagai berikut:
BP = total (BP dp) j - total (BP tp)j
dimana:
dp = dengan proyek
tp = tanpa proyek
j = jenis/sumber limbah

Dengan menganggap bahwa antara air dengan limbah akan tercampur dengan
sempurna maka besarnya kandungan parameter tertentu dalam air (badan air) akan
dihitung dari persamaan Mixing Zone Model sebagai berikut:
C = Q0.C0 + Q1.C1
Q0 + Q1
dimana:
Q0 = laju aliran badan air
Q1 = laju aliran limbah cair
C0 = konsentrasi zat tertentu dalam badan air
C1 = konsentrasi zat tertentu dalam air limbah
C = konsentrasi zat tertentu dalam sungai/perairan setelah bercampur

4. Volume Air Limbah


Metode formal untuk menghitung produksi limbah cair adalah sebagai berikut: (Ir.
Achmad Mufid, Pengelolaan Air Limbah, 1989)
Vc = (0,7 - 0,8) x Q x P
dimana:
Vc : produksi limbah cair (m3)
Q : kebutuhan air bersih, l/orang/hari
P : jumlah pemakai (orang)

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 63


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

5. Kebutuhan Air bersih


Kebutuhan air total dihitung berdasarkan jumlah pemakai air yang telah
diproyeksikan untuk 5-10 tahun mendatang dan kebutuhan rata-rata setiap pemakai
setelah ditambahkan 20% sebagai faktor kehilangan air (kebocoran). Kebutuhan
total ini dipakai untuk mengetahui apakah sumber air yang dipilih dapat digunakan.
Kebutuhan air ditentukan dengan perhitungan sebagai berikut:
a. Hitung kebutuhan air dengan persamaan berikut:

dengan pengertian:
Qrnd = kebutuhan air (liter/hari)
q = konsumsi air per orang per hari (liter/orang/hari)
P = jumlah jiwa yang akan dilayani sesuai tahun perencanaan
(jiwa)
f = faktor maksimum (1,05-1,15)
b. Hitung kebutuhan air total dengan persamaan:

dengan pengerean:
Qt = kebutuhan air total dengan faktor kehilangan air 20% (liter/hari)
c. Bandingkan dengan hasil pengukuran debit sumber air baku apakah dapat
mencukupi kebutuhan ini. Jika tidak mencukupi cari alternatif sumber air baku
lain.

6. Sistem transportasi
Volume kendaraan yang lewat di jalan dianalisis dengan menggunakan prediksi
peningkatan jumlah kendaraan terhadap pola distribusinya. Dampak yang
diperkirakan timbul dalam aspek transportasi adalah kemacetan lalu lintas dan
kerusakan jalan. Dengan memperkirakan besarnya kemacetan yang ditimbulkan
akibat kegiatan proyek, parameter yang ditinjau adalah kapasitas jalan dan derajat
kejenuhan. Untuk memperkirakan derajat kerusakan jalan, perlu terlebih dahulu

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 64


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

dilakukan prakiraan pertambahan jumlah lalu lintas dan jenis kendaraan yang
lewat/digunakan. Tahap berikutnya adalah menganalisis tingkat kerusakan jalan
dengan cara yang digunakan oleh Bina Marga.
Jumlah volume material dan jadwal pengangkutannya untuk memprediksikan
volume kendaraan pengangkut material yang akan beroperasi selama kegiatan
berlangsung. Pertambahan transportasi tersebut dapat dihitung sebagai
berikut: (Razif M, Adhi Y, 2001).

N = (N.V)/(T.Q),
Dimana:
N = jumlah truk (N/hari)
V = volume bahan bangunan (m3)
T = waktu kontruksi (bulan)
Q = transported soil (m3/hari) = 60 q E/Cm
E = waktu effisiensi
Cm = necessary time (menit) = 3.3 L + 16
L = jarak transportasi (km)
N = (N.V)/(T.Q)

Untuk memprakirakan ada tidaknya perubahan tingkat pelayanan jalan atau derajat
kejenuhan suatu jalan (DS) dapat dipakai acuan Manual Kapasitas Jalan Indonesia
(MKJI) 1997. Apabila dikerjakan secara manual rumus-rumus yang dipakai adalah
sebagaimana diuraikan dibawah. Berikut ini adalah rumusan yang digunakan dalam
analisa prakiraan dampak.

Perhitungan Kapasitas Jalan


C = Co * FCw * FCsf
Dimana:
C = Kapasitas (smp/jam)
Co = Kapasitas dasar (smp/jam)
FCw = Faktor penyesuaian kap. Akibat lebar jalur lalu lintas

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 65


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

FCsp = Faktor penyesuaian kap. Akibat pemisahan arah


FCsf = Faktor penyesuaian kapasitas akibat hambatan samping

Derajat Jenuh
DS = Q/C
Dimana:
DS = Derajat Jenuh
Q = Arus Lalu Lintas (smp / jam)
C = kapasitas aktual (pcu/h)
C = CO x FCw x FCSP x FCSF x FCCS
C0 = kapasitas dasar (pcu/h)
FCw = adjusment faktor untuk lebar jalan
FCSP = adjusment faktor untuk arah
FCSF = adjustment faktor untuk kebebasan samping (bahu jalan atau kerb)
FCCS = adjustment faktor untuk besarnya kota.

Kecepatan Arus Bebas


FV = (Fvo + FVw) *FFVsf * FFVrc
Dimana:
FV = Kecepatan arus bebas kendaraan ringan (km/jam)
Fvo = Kecepatan arus bebas dasar kendaraan ringan (km/jam)
FVw = Penyesuaian untuk akibat hambatan samping dan lebar bahu
FFVsf = Faktor penyesuaian akibat hambatan samping dan lebar bahu
FFVrc = Faktor penyesuaian akibat kelas fungsional jalan dan tata guna Lahan

Kecepatan rata-rata
Kecepatan rata-rata dihitung dengan mempergunakan MKJI 1997 dengan input
kecepatan arus bebas dan derajat jenuh.

7. Sosial-Ekonomi-Budaya

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 66


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

Model formal akan digunakan untuk menduga jumlah penduduk setelah proyek
pembangunan dilaksanakan, mengikuti formula sebagai berikut:
Pn = Po (1 + rn)
Dimana:
Pn = jumlah penduduk pada saat proyek dilaksanakan
Po = jumlah penduduk pada saat pengukuran (rona lingkungan awal)
r = rata-rata pertumbuhan penduduk selama kurun waktu n-
t = waktu prediksi (tahun)

Untuk aspek sosial ekonomi dan budaya prakiraan besarnya dampak dilakukan
dengan 2 (dua) cara yaitu dengan metode formal dan dengan metode informal.
Metode formal digunakan untuk memprakirakan besarnya perubahan dari variabel-
variabel yang dapat terukur secara kuantitatif, diantaranya perubahan pendapatan,
adanya kesempatan kerja, perubahan mata pencaharian.
Sedangkan metode informal yang digunakan adalah teknik analogi. Metode ini
digunakan untuk memprakirakan besarnya dampak dari variabel-variabel yang
bersifat kualitatif misalnya, keresahan masyarakat. Berikut ini disajikan cara yang
digunakan untuk perhitungan prakiraan dampak komponen sosekbudkes.

Tabel 3.15. Metode Prakiraan Dampak Komponen Sosekbudkes

No Komponen Indikator Metode Prakiraan dampak

1 Pendapatan Peningkatan /penurunan Naik, jika:


Masyarakat pendapatan  >X–Za/2 S/n
turun jika:
<X+Za/2 S/n
2 Mata Perubahan mata pencaharian Jumlah penduduk yang
Pencaharian kehilangan mata pencaharian
3 Kesempatan Tersedianya lapangan kerja Jumlah tenaga kerja yang
Kerja dan berusaha terserap oleh proyek dan
munculnya kesempatan

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 67


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

No Komponen Indikator Metode Prakiraan dampak

berusaha
4 Interaksi Persepsi masyarakat Analisa kualitatif terhadap
Sosial terhadap pendatang hasil kuesioner tentang
adanya pendatang baru.
5 Sikap dan Adanya persepsi masyarakat Analisa kualitatif (proporsi)
Persepsi dengan adanya proyek (baik berdasarkan pendapatan
dalam bentuk ganti rugi masyarakat (dari data
maupun perubahan sosial, kuesioner)
ekonomi dan budaya)

8. Kesehatan Lingkungan dan Kesehatan Masyarakat


Besaran dampak mencakup jenis, sifat, sebaran dan beban yang diproyeksikan
kepada jumlah penduduk terkena dampak. Sementara kecenderungan dimaksudkan
sebagai dampak yang segera muncul dan dampak tertunda. Jadi metoda yang akan
digunakan hendaknya merupakan rangkuman dan dua hal tersebut.
Beberapa metoda yang dapat dipergunakan untuk prakiraan dampak kesehatan
masyarakat yang berkaitan dengan perubahan lingkungan berdasar Keputusan Ka.
BAPEDAL Nomor KEP. 124/12/1997 tentang Panduan Kajian Aspek Kesehatan
Masyarakat Dalam Penyusunan AMDAL antara lain adalah:
Perkiraan perluasan habitat vektor penyakit
Analisis risiko kualitatif dan kuantitatif
Analisis jalur pemajanan di masa depan
Analisis risiko epidomiologis (absolute risk, attributable, dan relatif risk)
Analisis biaya dampak kesehatan
Analisis perubahan perilaku masyarakat terhadap dampak kesehatan.
Prakiraan besarnya dampak merupakan selisih kualitas lingkungan, yaitu pada saat
kegiatan rencana berlangsung mulai tahap pra konstruksi sampai pasca konstruksi
(RL dengan proyek) dan kondisi kualitas lingkungan pada saat belum dibangunnya
proyek (RL tanpa proyek).

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 68


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

Berbeda dengan prakiraan dampak penting yang ditinjau berdasarkan enam kriteria
untuk satu komponen lingkungan, besarnya dampak atau kriteria kualitas
lingkungan yang terjadi dan ditinjau per komponen kegiatan untuk satu komponen
lingkungan.
Dari kajian pada bab prakiraan dampak atau penentuan besarnya perubahan kualitas
lingkungan akibat kegiatan, besarnya perubahan kualitas lingkungan tersebut diberi
bobot dalam angka 1 hingga 5, yang disesuaikan dengan data dari literatur & acuan
yang digunakan yaitu Standard Skala Kualitas Lingkungan dari Chafid Fandeli,
“Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Prinsip Dasar dan Pemapanannya Dalam
Pembangunan”, Tabel 7.13. hal. 169.
Berdasarkan acuan ini, perubahan kualitas lingkungan dibagi dalam 5 (lima) skala,
yaitu:
skala 1 : kondisi lingkungan sangat buruk
skala 2 : kondisi lingkungan buruk
skala 3 : kondisi lingkungan sedang
skala 4 : kondisi lingkungan baik
skala 5 : kondisi lingkungan sangat baik
Seperti pada tabel 2.16 dan 2.17 berikut adalah skala kualitas lingkungan yang dapat
digunakan untuk menilai skala besarnya perubahan kualitas lingkungan.

Tabel 2.16. Kriteria Kualitas Lingkungan Geo Fisik Kimia

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 69


Komponen Nilai dan Rentangan *)
No
Lingkungan 1 2 3 4 5
PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN
I KUALITAS UDARA
1 Debu ( mg/m3)  0.26 0.20-0.25 0.13-0.19 0.06-0.12  0.05
2 Bau Sangat Berbau Agak Sedikit Tidak
berbau berbau berbau berbau
II KEBISINGAN
1 Tingkat Kebisingan 56-60
(dBA) > 60 51-55 45-60 41-45
III
1 TANAH & LAHAN 8-15
2 Topografi (%) 15 Perubahan 5-8 2-5 0-2
Tata Guna Lahan Terjadi 61-80% Perubahan Perubahan Perubahan
perubahan 41-60% 21-40%  20%
3 81-100% 6-9 kali per
Erosi Longsoran > 10 kali tahun 5-3 kali per 2-1 kali per Tidak
Setahun tahun tahun pernah
IV longsor
1 HIDROLOGI
Kualitas Air Agak coklat
a. Warna Hitam- Payau Kuning Agak
b. Rasa coklat Berbau Asam kuning Terang
c. Bau Asin tanpa Berbau bila Agak asam Tawar
Sangat dicium dicium Agak Tidak
berbau langsung langsung berbau bila berbau
dicium
2 d. Kekeruhan Keruh Agak keruh langsung
Bening tak
V Debit (m3/hr) Keruh 1-10 10-50 Bening berwarna
1 berlumpur berwarna > 100
LINGKUNGAN <1 50-100
Estetika Lingkungan Kondisi Kondisi
2 alamiah alamiah Kondisi
3 Kondisi sedang cukup Kondisi alamiah
Limbah Domestik alamiah 4.76-5.50 alamiah sangat
4 (m3/hr) kurang 21-40% 4.01-4.75 baik baik
USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 70
Kualitas Jalan > 5.50 Rusak 11-20%  3.25
> 40% 21-40% rusak 3.26-4.00 Tidak
Gangguan Lalu- rusak < 10% terjadi
PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

Sumber: Fandeli, Chafid (1992)


*) Keterangan: nilai/kriteria
1. sangat jelek
2. jelek
3. sedang
4. baik
5. sangat baik
Tabel 2.17. Kriteria Kualitas Lingkungan Biologi dan Sosekbudkesmas
Komponen Nilai dan Rentangan *)
No.
Lingkungan 1 2 3 4 5
I BIOLOGI
1 Keanekaragaman 0-0.17 0.18-0.35 0.36-0.53 0.54-0.71  0.72
2 Flora 0-0.17 0.18-0.35 0.36-0.53 0.54-0.71  0.72
Keanekaragaman
3 Fauna  20 21-50 51-100 101-200  200
Kerapatan Relatif
Vegetasi (ph/ha)
II
1 SOSEKBUDKESMAS Menganggur Tidak Ada mata Ada mata Ada mata
menentu pencaharian pencaharian pencaharian
Mata Pencaharian pokok pokok+
sambilan.
2 Terjadi Terjadi Terjadi Hanya Tidak
perubahan perubahan perubahan sedikit terjadi
Interaksi Sosial sangat besar agak besar terjadi perubahan
(Norma Sosial) besar perubahan.
3 Sda Sda
Sda Sda Sda
4 Nilai Budaya 1-3 1-2
1-5 penyakit penyakit 1 penyakit Tidak ada
Kesehatan semuanya infeksi; 4- infeksi; 3-5 infeksi; 2-5 penyakit

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 71


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

Komponen Nilai dan Rentangan *)


No.
Lingkungan 1 2 3 4 5
Masyarakat (5 penyakit 5 bukan bukan. bukan infeksi
5 macam jenis penyakit infeksi.
terbanyak) Tidak Kurang Setuju Sangat
Sangat tidak setuju setuju (10-29%) setuju
Persepsi Masyarakat setuju (50-69%) (30-49%) (<10%)
(>70%)
Sumber: Fandeli, Chafid (1992)
*) Keterangan: nilai/kriteria
1. sangat jelek 4. baik
2. jelek 5. sangat baik
3. sedang
Selanjutnya melalui proses perhitungan ini akan diperoleh skala besarnya perubahan
kualitas lingkungan bila dibandingkan dengan kualitas lingkungan pada kondisi awal
(sebelum ada proyek) yang juga dibagi menjadi 3 (tiga) skala, baik positip maupun
negatip yaitu:
skala 1 : besar perubahan kualitas lingkungan (prakiraan dampak) kecil
skala 2 : besar perubahan kualitas lingkungan sedang
skala 3 : besar perubahan kualitas lingkungan besar
Untuk penentuan dampak penting maka batasan kriteria penentuan dampak penting
dapat ditunjukkan pada Tabel 3.18. Dengan menggunakan berbagai metode
prakiraan dampak, dampak penting hipotetik yang diindikasikan akan timbul
dianalisis untuk mengetahui sifat dan tingkat kepentingan dampak yang selanjutnya
dipakai sebagai acuan untuk melakukan evaluasi dampak penting. Dampak penting
dikelompokkan menjadi dua, yaitu:
Dampak positif/negatif penting
Dampak positif/negatif tidak penting
Dampak positif merupakan dampak yang ditimbulkan akibat rencana kegiatan yang
difatnya menguntungkan/meningkatkan kualitas lingkungan hidup yang ada
sebelumnya. Sedangkan dampak negative merupakan dampak yang ditimbulkan

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 72


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

akibat rencana kegiatan yang sifatnya dapat merugikan/menurunkan kondisi


lingkungan hidup.
Untuk memprakirakan ukuran pentingnya dampak maka diperlukan batasan kriteria
dampak penting dan tidaknya dampak berdasarkan prioritas dampak penting
hipotetik dampak yang telah dihasilkan sebelumnya. Berdasarkan UU No 32 tahun
2009 tentang perlindungan dan pengelolaan Lingkungan Hidup, maka dampak
penting ditentukan berdasarkan kriteria:
a. Besarnya jumlah penduduk yang akan terkena dampak rencana usaha
dan/atau kegiatan;
b. Luas wilayah penyebaran dampak;
c. Intensitas dan lamanya dampak berlangsung;
d. Banyaknya komponen lingkungan hidup lain yang akan terkena dampak;
e. Sifat kumulatif dampak;
f. Berbalik atau tidak berbaliknya dampak; dan/atau
g. Kriteria lain sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Setiap komponen lingkungan yang ditinjau dari enam kriteria tersebut dengan kriteria
pentingnya dampak akan dibagi menjadi 2 (dua) penggolongan yaitu P (Penting) dan
TP (Tidak Penting). Penentuan arti pentingnya perubahan kualitas lingkungan
digunakan sebagai acuan Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang
Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup pasal 3 dan pasal 5, dan Keputusan
Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan No. Kep 056 Tahun 1994, dan UU
No 32 tahun 2009 yang menyebutkan bahwa dampak penting suatu komponen
lingkungan hidup ditentukan oleh:
1. Jumlah manusia yang terkena dampak.
Pengertian manusia yang akan terkena dampak mencakup aspek yang luas, maka
kriteria penting dikaitkan dengan sendi-sendi kehidupan yang di masyarakat
mempunyai posisi / nilai penting. Dampak lingkungan rencana usaha/kegiatan yang
penentuannya didasarkan pada sendi-sendi kehidupan pada masyarakat dan jumlah
manusia yang terkena dampak menjadi penting bilamana: “ manusia di wilayah studi
ANDAL yang terkena dampak lingkungan tetapi tidak menikmati manfaat dari

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 73


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

usaha/kegiatan, jumlahnya sama atau lebih besar dari jumlah manusia yang
menikmati manfaat dari usaha/kegiatan di wilayah studi”.

2. Luas wilayah penyebaran dampak


Dampak lingkungan dari rencana usaha/kegiatan bersifat penting bilamana ”rencana
usaha/kegiatan mengakibatkan adanya wilayah yang mengalami perubahan
mendasar dari segi intensitas dampak, atau tidak berbalik dampak atau segi
kumulatif dampak.
3. Lamanya dan intensitas dampak berlangsung
Dampak kegiatan dapat berlangsung lama atau dalam waktu singkat pada setiap
tahap pembangunan rencana kegiatan. Atas dasar pengertian ini maka dampak
lingkungan bersifat penting apabila rencana usaha/kegiatan mengakibatkan
timbulnya perubahan mendasar dari segi lamanya dan intensitas dampak.
4. Banyaknya komponen lingkungan lainnya yang terkena dampak
Dikarenakan dampak terhadap komponen lingkungan akan berdampak lanjut
terhadap komponen lingkungan lainnya, sehingga atas pengertian ini dampak
tergolong penting bila: rencana usaha/kegiatan menimbulkan dampak sekunder dan
dampak lanjutan lainnya yang jumlah komponennya lebih atau sama dengan
komponen yang terkena dampak primer.
5. Sifat kumulatif dampak tersebut
Dampak suatu usaha/kegiatan tergolong berdampak penting bilamana:
a. Dampak lingkungan berlangsung berulang kali dan terus menerus
sehingga pada kurun waktu tertentu tidak dapat diasimilasi oleh
lingkungan alam atau sosial yang menerimanya.
b. Beragam dampak lingkungan bertumpuk dalam suatu ruang tertentu
sehingga tidak dapat diasimilasi oleh lingkungan alam atau social yang
menerimanya.
c. Dampak lingkungan dari berbagai sumber kegiatan menimbulkan efek
yang saling memperkuat (sinergis).
6. Berbalik atau tidak berbaliknya dampak

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 74


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

Dampak bersifat penting bilamana: perubahan yang akan dialami oleh suatu
komponen lingkungan tidak dapat dipulihkan kembali walaupun dengan intervensi
manusia”.
7. Kriteria lain sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
Dampak bersifat penting bilamana:
1. Ilmu pengetahuan dan Teknologi /rekayasa sangat sulit diperoleh, dipelajari
dan diterapkan
2. Teknologi yang sulit diterapkan dan tidak didukung teori ilmu pengetahuan
dinilai penting
3. Sedangkan untuk menentukan skala pentingnya masing-masing kriteria
dampak dapat ditunjukkan pada Tabel 2.18.

Tabel 2.18. Batasan Kriteria Penentuan Dampak Penting


(Kep. Ka.Bapedal No.056/1994)
Faktor Penentu Kriteria Dampak Penting
No.
Dampak Penting Tidak penting Penting
1 Jumlah manusia yang Perbandingan antara Perbandingan antara
terkena dampak penduduk yang terkena penduduk yang terkena
dampak negatip dengan dampak negatip dengan
penduduk yang menikmati penduduk yang menik-
manfaat kurang dari 100% mati manfaat lebih besar
atau sama dengan dari
100%
2 Luas wilayah Tidak ada wilayah yang Ada wilayah yang
persebaran dampak mengalami perubahan mengalami perubahan
mendasar dari segi inten- mendasar dari segi
sitas dampak tidak intensitas dampak atau
berbaliknya dampak atau tidak berbaliknya dampak
segi kumulatif dampak atau segi kumulatif
dampak
3 Lama berlangsungnya Dampak yang terjadi Dampak yang terjadi

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 75


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

Faktor Penentu Kriteria Dampak Penting


No.
Dampak Penting Tidak penting Penting
dampak dan intensitas hanya berlangsung pada hanya berlangsung pada
dampak kurang dari satu tahapan kurang dari satu tahapan
kegiatan intensitas kegiatan intensitas
dampak: dampak:
Tidak ada Ada perubahan pada
perubahan pada sifat fisik atau hayati
sifat fisik atau lingkungan yang
hayati lingkungan melampaui baku
yang melampaui mutu ling-kungan
baku mutu yang telah ditetapkan
lingkungan yang Ada perubahan
telah ditetapkan mendasar pada kom-
Tidak ada ponen lingkungan
perubahan hidup yang
mendasar pada melampaui kriteria
komponen men-dasar berdasar
lingkungan hidup pertim-bangan ilmiah
yang melampaui Ada spesies langka ,
kriteria mendasar endemik yang
berdasar dilindungi menurut
pertimbangan peraturan per-
ilmiah undang-undangan
Tidak ada spesies yang berlaku,
langka, endemik terancam punah atau
yang dilindungi habitat alaminya
menurut peraturan mengalami kerusakan
perundang- Ada gangguan atau
undangan yang kerusakan pada
berlaku, terancam kawasan lindung

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 76


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

Faktor Penentu Kriteria Dampak Penting


No.
Dampak Penting Tidak penting Penting
punah atau habitat Ada kerusakan atau
alaminya pemusnahan benda-
mengalami benda bersejarah
kerusakan
Tidak ada gangguan Mengakibatkan konflik
atau kerusakan di kalangan
pada kawasan masyarakat, Pemda
lindung maupun Pemerin-tah
Tidak ada Pusat
kerusakan atau Mengubah atau
pemusnahan memodifikasi area
benda-benda yang mempunyai
bersejarah keindahan alami yang
Tidak tinggi
mengakibatkan
konflik di kalangan
masyarakat, Pemda
maupun Pemerintah
Pusat
Tidak mengubah
atau memodifikasi
area yang
mempunyai
keindahan alami
yang tinggi
4 Komponen lain yang Tidak menimbulkan menimbulkan dampak
terkena dampak dampak sekunder dan sekunder dan dampak
dampak lanjutan lainnya lanjutan lainnya yang
yang jumlah komponennya jumlah komponennya

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 77


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

Faktor Penentu Kriteria Dampak Penting


No.
Dampak Penting Tidak penting Penting
lebih atau sama dengan lebih atau sama dengan
komponen lingkungan komponen lingkungan
yang terkena dampak yang terkena dampak
primer primer
5 Sifat kumulatif dampak Tidak kumulatif Bersifat kumulatif, tidak
dapat diasimilasi oleh
lingkungan dan bersifat
sinergetik
6 Berbalik atau tidak Dapat dipulihkan Tidak dapat dipulihkan
berbaliknya dampak

Tabel 2.19. Kriteria Penentuan Dampak Penting Komponen Fisik-Kimia


No Faktor Penentu Kriteria Dampak Penting
Dampak Penting Tidak Penting Penting
1 Jumlah manusia Penduduk di wilayah studi Penduduk di wilayah studi
yang terkena yang terkena dampak < yang terkena dampak >
dampak 50% 50%; dan penduduk di luar
wilayah studi berpotensi
terkena dampak
2 Luas Wilayah Luas tapak kegiatan dan Melebihi luas tapak kegiatan
persebaran dampak disekitar tapak kegiatan dengan radius > 500 m
dengan radius < 500 m
3 Lama Dampak yang terjadi Dampak yang terjadi
berlangsungnya berlangsung pada < berlangsung pada >
dampak dan satu tahapan kegiatan satu tahapan
Intensitas dampak Perubahan pada sifat kegiatan
fisik lingkungan tidak Perubahan pada sifat
melampaui baku mutu fisik lingkungan

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 78


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

No Faktor Penentu Kriteria Dampak Penting


Dampak Penting Tidak Penting Penting
yang telah ditetapkan melampaui baku
Tidak mengakibatkan mutu yang telah
konflik di kala ngan ditetapkan
masyarakat, pemkot Mengakibatkan
maupun pemerintah konflik di kala ngan
pusat masyarakat, pemkot
maupun pemerintah
pusat
4 Komponen yang Tidak menimbulkan dampak menimbulkan dampak
terkena dampak lanjutan pada komponen lain lanjutan pada komponen
lain
5 Sifat Komulatif Tidak komulatif Komulatif dalam waktu dan
Dampak ruang yang sama
6 Berbalik atau tidak Dapat berbalik tanpa melalui Tidak dapat berbalik/dapat
berbaliknya dampak pengelolaan berbalik setelah melalui
pengelolaan
Sumber: Hasil Analisis Tim Penyusun AMDAL

Tabel 2.20. Kriteria Penentuan Dampak Penting Komponen Sosekbud


No Faktor Penentu Kriteria Dampak Penting
Dampak Penting Tidak Penting Penting
1 Jumlah manusia Jumlah penduduk yang Jumlah penduduk yang
yang terkena mengalami perubahan mengalami perubahan
dampak struktur ekonomi, sosial dan struktur ekonomi, sosial dan
budaya secara positif lebih budaya secara positif lebih
besar dibanding yang kecil dibanding yang
terkena dampak negatif terkena dampak negatif
2 Luas Wilayah Terpusat, berada di sekitar Menyebar minimal sampai

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 79


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

No Faktor Penentu Kriteria Dampak Penting


Dampak Penting Tidak Penting Penting
persebaran dampak lokasi kegiatan batas wilayah studi/ desa
pembangunan proyek lokasi proyek
3 Lama Dampak yang terjadi Dampak yang terjadi
berlangsungnya berlangsung pada < berlangsung pada
dampak dan satu tahapan kegiatan satu atau lebih
Intensitas dampak tahapan kegiatan
Tidak ada wilayah Terdapat wilayah
yang mengalami yang mengalami
perubahan mendasar perubahan mendasar
dari struktur ekonomi, dari struktur
sosial dan budaya ekonomi, sosial dan
warganya budaya warganya
Tidak merubah merubah struktur
struktur EKSOSBUD EKSOSBUD warga
warga
Tidak mengakibatkan Mengakibatkan
konflik secara vertikal konflik secara
maupun horisontal vertikal maupun
horisontal
4 Komponen yang Tidak menimbulkan menimbulkan perubahan
terkena dampak perubahan struktur struktur EKSOSBUD yang
EKSOSBUD yang negatif bagi negatif bagi masya rakat
masyarakat luas di luar area luas di luar area proyek
proyek
5 Sifat Kumulatif Perubahan struktur Perubahan struktur
Dampak EKSOSBUD tidak bersifat EKSOSBUD bersifat
komulatif dalam jangka komulatif dalam jangka
panjang bagi masyarakat panjang bagi masyarakat
disekitar area proyek disekitar area proyek

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 80


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

No Faktor Penentu Kriteria Dampak Penting


Dampak Penting Tidak Penting Penting
6 Berbalik atau tidak Perubahan struktur Perubahan struktur
berbaliknya dampak EKSOSBUD dapat mencapai EKSOSBUD tidak dapat
keseimbangan kembali mencapai keseimbangan
kembali
Sumber: Hasil Analisis Tim Penyusun AMDAL

Tabel 2.21. Kriteria Penentuan Dampak Penting Komponen Kesehatan


Masyarakat
No Faktor Penentu Kriteria Dampak Penting
Dampak Penting Tidak Penting Penting
1 Jumlah manusia Penduduk di wilayah studi Penduduk di wilayah studi
yang terkena yang terkena dampak < yang terkena dampak
dampak 50% >50%; dan penduduk di
luar wilayah studi
berpotensi terkena dampak
2 Luas Wilayah Terpusat, berada di sekitar Menyebar minimal sampai
persebaran dampak lokasi kegiatan batas wilayah studi/ desa
pembangunan proyek lokasi proyek
3 Lama Dampak yang terjadi bersifat Dampak yang terjadi
berlangsungnya sementara, tidak berlangsung lama,
dampak dan berlangsung lama dan tidak sehingga
Intensitas dampak menyebabkan perubahan menyebabkan
mendasar pada kondisi perubahan mendasar
kesehatan masyarakat pada kondisi
kesehatan
masyarakat.
Terjadi lonjakan
kasus
penyakit/kematian

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 81


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

No Faktor Penentu Kriteria Dampak Penting


Dampak Penting Tidak Penting Penting
minimal 2 kali dari
kondisi normal akibat
kegiatan proyek
Terdapat kasus
penyakit yang dapat
menimbulkan
kematian
4 Komponen yang Tidak menimbulkan dampak menimbulkan dampak
terkena dampak lanjutan pada komponen lain lanjutan pada komponen
lain
5 Sifat Komulatif Tidak komulatif Komulatif dalam waktu dan
Dampak ruang yang sama
6 Berbalik atau tidak Dapat berbalik tanpa melalui Tidak dapat berbalik/dapat
berbaliknya dampak pengelola an berbalik setelah melalui
pengelolaan
Sumber: Hasil Analisis Tim Penyusun AMDAL

Tabel 2.22. Kriteria Penentuan Dampak Penting Komponen Hidrologi


No Faktor Penentu Kriteria Dampak Penting
Dampak Penting Tidak Penting Penting
1 Jumlah manusia Penduduk di wilayah studi Penduduk di wilayah studi
yang terkena yang terkena dampak < yang terkena dampak
dampak 50% >50%; dan penduduk di
luar wilayah studi
berpotensi terkena dampak
2 Luas Wilayah Terpusat, berada di sekitar Menyebar minimal sampai
persebaran dampak lokasi kegiatan batas wilayah studi/ desa
pembangunan proyek lokasi proyek

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 82


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

No Faktor Penentu Kriteria Dampak Penting


Dampak Penting Tidak Penting Penting
3 Lama Dampak yang terjadi Dampak yang terjadi
berlangsungnya berlangsung pada < berlangsung lebih
dampak dan satu tahapan kegiatan dari satu tahapan
Intensitas dampak Tidak menyebabkan kegiatan
perubahan yang menyebabkan
mendasar pada perubahan yang
sistem drainase mendasar pada
Meskipun terjadi sistem drainase
peningkatan aliran Menyebabkan
permukaan, namun peningkatan aliran
tidak menga kibatkan permukaan sehingga
peningkatan frekuensi akan mengakibatkan
kejadian banjir kawasan akan
sering/selalu
tergenang apabila
hujan
4 Komponen yang Tidak menimbulkan dampak menimbulkan dampak
terkena dampak lanjutan pada komponen lain lanjutan pada komponen
lain
5 Sifat Komulatif Tidak komulatif Komulatif dalam waktu dan
Dampak ruang yang sama
6 Berbalik atau tidak Dapat berbalik tanpa melalui Tidak dapat berbalik/dapat
berbaliknya dampak pengelolaan berbalik setelah melalui
pengelolaan

Tabel 2.23. Kriteria Penentuan Dampak Penting Komponen Transportasi


No Faktor Penentu Kriteria Dampak Penting
Dampak Penting Tidak Penting Penting
1 Jumlah manusia Penduduk di wilayah studi Penduduk di wilayah studi

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 83


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

No Faktor Penentu Kriteria Dampak Penting


Dampak Penting Tidak Penting Penting
yang terkena yang terkena dampak < yang terkena dampak
dampak 50% >50%;
2 Luas Wilayah Terpusat, berada di sekitar Menyebar minimal sampai
persebaran dampak lokasi kegiatan batas wilayah studi/ desa/
pembangunan proyek jalan-jalan arteri di sekitar
lokasi proyek
3 Lama Dampak yang terjadi Dampak yang terjadi
berlangsungnya berlangsung pada < berlangsung pada >
dampak dan satu tahapan kegiatan satu tahapan
Intensitas dampak Tidak menyebabkan kegiatan
perubahan mendasar menyebabkan
pada sarana dan perubahan mendasar
prasarana transportasi pada sarana dan
Tidak menyebabkan prasarana
perubahan pada transportasi
sarana perjalanan menyebabkan
perubahan pada
sarana perjalanan t
4 Komponen yang Tidak menimbulkan dampak menimbulkan dampak
terkena dampak lanjutan pada komponen lain lanjutan pada komponen
lain
5 Sifat Komulatif Tidak komulatif Komulatif dalam waktu dan
Dampak ruang yang sama
6 Berbalik atau tidak Dapat berbalik tanpa melalui Tidak dapat berbalik/dapat
berbaliknya dampak pengelola an berbalik setelah melalui
pengelolaan
Sumber: Hasil Analisis Tim Penyusun AMDAL

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 84


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

Dari 2 data yaitu data prakiraan pentingnya dampak berdasarkan 6 kriteria berdasar
pada PP No. 27 tahun 1999 yaitu skala P (penting) dan TP (tidak penting) serta skala
perubahan kualitas lingkungan yang diperoleh dengan menggunakan metode formal
dan non formal, yang disatukan dalam bentuk matrik tipe Leopold dimana setiap
kolom komponen kegiatan dan komponen lingkungan akan diisikan skala besar
dampak lingkungan (M) dan skala pentingnya dampak (I).

Sebagai evaluasi akhir dampak kegiatan terhadap komponen lingkungan, apabila:


1. Apabila P = 1 dan besar prakiraan dampak  2 berarti dampak besar dan
penting
2. Apabila P = 1 dan besar prakiraan dampak  1 tetapi prakiraan pentingnya
dampak (P) untuk jumlah manusia yang terkena dampak, maka dampak yang
terjadi merupakan dampak besar dan penting
3. Apabila P  2 dan besar prakiraan dampak  1 dengan salah satu kriteria
dampak penting adalah jumlah manusia yang terkena dampak, maka dampak
merupakan dampak besar dan penting
4. Apabila P  3 dan besar prakiraan dampak = 1 maka dampak merupakan
dampak besar dan penting
5. Apabila P  2 dan besar prakiraan dampak  2 maka dampak merupakan
dampak besar dan penting
6. Di luar hasil evaluasi tersebut, bukan merupakan dampak besar dan penting

6. METODE EVALUASI DAMPAK PENTING


a) Telaahan Terhadap Dampak Penting
Telaahan terhadap dampak penting akan dilakukan secara holistik, maksudnya
dengan telaahan yang bersifat holistik di sini, adalah telaahan secara totalitas
terhadap beragam dampak penting dengan kegiatan yang merupakan
penyebab/sumber dampak. Semua komponen lingkungan yang terkena dampak
penting tersebut (baik positif maupun negatif), telaah sebagai satu kesatuan yang
saling terkait dan saling mempengaruhi, sehingga dapat diketahui sejauh mana
pertimbangan dampak penting yang bersifat positif, dengan yang bersifat negatif.

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 85


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

Telaahan secara holistik atas berbagai komponen lingkungan yang diprakirakan akan
terkena dampak penting diberikan dalam pedoman mengenai Ukuran Dampak
Penting. Dampak penting hasil evaluasi ini merupakan dampak penting yang akan
dikelola. Dari hasil evaluasi dampak lingkungan ini pula akan diusulkan beberapa cara
penanggulangan dampak untuk menghindari, mengurangi, memperbaiki atau
kompensasi terhadap setiap dampak yang merugikan dan dianggap penting. Dalam
penanggulangan dampak, masalah sosial ekonomi dan sosial budaya akan mendapat
perhatian utama.

b) Telaahan Sebagai Dasar Pengelolaan


Untuk memudahkan penyusunan Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL), maka
telaahan dibuat sedemikian rupa, sehingga dapat dilihat dengan jelas:
1. Hubungan sebab-akibat antara rencana kegiatan dan rona lingkungan awal
dengan dampak positif dan negatif yang diprakirakan akan timbul.
2. Ciri dari dampak penting yang timbul, seperti:
 Apakah terdapat dampak penting, baik positif maupun negatif akan
berlangsung terus menerus selama kegiatan yang bersangkutan berlangsung
 Apakah terdapat hubungan timbal-balik yang antagonis antara dampak yang
satu dengan dampak yang lain
 Bilamana ambang batas dampak penting mulai dilampaui setelah rencana
kegiatan dilaksanakan, atau akan berlangsung terus menerus sejak masa pra
konstruksi sampai dengan masa pasca konstruksi berakhir.
3. Kesenjangan antara perubahan kondisi masyarakat yang diinginkan dan
perubahan kondisi masyarakat yang mungkin terjadi akibat rencana
kegiatan. Untuk itu perlu diketahui kondisi masyarakat yang akan terkena
dampak negatif dan kondisi masyarakat yang akan terkena dampak positif.
4. Luas sebaran dapak penting: lokal, regional atau bahkan internasional yang
melewati batas Negara.

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 86


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

Dari matrik dampak besar dan penting dari rencana kegiatan, dapat dilakukan kajian
dampak secara holistik sehingga akan terlihat secara jelas karakteristik lingkungan
yang mengalami perubahan, agar dapat digunakan:
1. Sebagai arahan yang jelas komponen parameter lingkungan mana yang perlu
dikelola dan jenis kegiatan mana yang berpotensi menimbulkan dampak besar
dan penting sehingga perlu dikendalikan secara cermat.
2. Sebagai dasar dalam menentukan usaha-usaha apa yang diperlukan untuk
menekan dampak besar dan penting.
3. Digunakan untuk mengevaluasi efektivitas biaya yang direncanakan untuk
penanggulangan dampak.
4. Pengambil keputusan untuk menetapkan keputusannya.

Hasil evaluasi dampak tersebut akan digunakan untuk menyusun suatu alternative
pengendalian dan pencegahan dampak negatip dan pengembangan dampak positip
dalam rencana pengelolaan dan rencana pemantauan lingkungan (RKL/RPL).

7. RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN (RKL) DAN RENCANA


PEMANTAUAN LINGKUNGAN (RPL)
AMDAL mempunyai filosofi dasar bahwa dampak lingkungan tidak mutlak terjadi jika
ada perhatian pada faktor lingkungan di tahap perencanaan. AMDAL berlandaskan 3
(tiga) prinsip, yaitu mencegah, meminimalisasi, dan mengendalikan.
• Mencegah dampak (avoidance) – bahwa suatu dampak dapat dicegah dengan
merancang, dari awal, kegiatan yang berwawasan lingkungan.
• Minimalisasi dampak (minimization) – bahwa jika suatu dampak tidak dapat
dicegah, dampak tersebut dapat ditekan besaran dan/atau sebarannya.
• Pengendalian dan/atau kompensasi dampak (mitigation and/or compensation)
– bahwa jika suatu dampak tidak dapat dicegah dan tidak dapat
diminimalisasi, dampak tersebut dapat dikendalikan dengan pendekatan
teknologi dan/atau pengelolaan yang baik atau dengan pemberian kompensasi
kepada mereka yang terkena dampak tersebut.

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 87


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

Beberapa hal yang menjadi perhatian dalam membuat arahan RKL maupun RPL
adalah harus terlihat dengan jelas hubungan sebab-akibat antara kegiatan dan rona
lingkungan awal dengan dampak positip dan negatip yang diprakirakan timbul,
hubungan timbal balik yang antagonis antara dampak yang satu dengan dampak
lainnya, maupun luasan dampak yang terjadi apakah dalam skala lokal, regional atau
nasional.

1. Arahan Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL)


Dalam merumuskan rencana pengelolaan lingkungan, pertimbangan utama adalah
pengendalian sumber penyebab dampak agar dampak yang masuk ke dalam
lingkungan dapat dicegah atau dikurangi. Tindakan pencegahan dan minimalisasi
dampak tersebut dapat dilakukan melalui aplikasi ilmu pengetahuan dan teknologi
serta perubahan sikap manusia yang terlibat dalam aktivitas rencana kegiatan. Untuk
dampak sosial-ekonomi-budaya, tindakan pencegahan dapat dilakukan melalui
pendekatan yang intensif kepada instansi yang terkait dan masyarakat yang terkena
dampak sedini mungkin, selanjutnya rencana pengelolaan lingkungan dirumuskan
untuk mengendalikan dampak yang masuk ke dalam lingkungan. Selain itu,
pertimbangan ekonomi selalu diperhatikan agar perhitungan biaya/manfaat ekonomi
masih tetap menguntungkan, dengan kata lain penanganan dampak masih layak
secara ekonomi
Arahan RKL pada kegiatan dilakukan dengan beberapa pendekatan yaitu:
1. Pendekatan teknologi
Pendekatan teknologi merupakan pendekatan dengan memanfaatkan teknologi yang
ada dalam melakukan pencegahan, pengendalian dan penanggulangan dampak.
Pendekatan teknologi pada prinsipnya memusatkan perhatian pada alternatif cara-
cara teknologi apa saja yang tepat dan dapat digunakan secara berhasil guna dan
berdaya guna dalam menangani dampak lingkungan yang ditimbulkan. Teknologi
yang dipergunakan tentunya harus disesuaikan dengan dampak yang diperkirakan
akan timbul
2. Pendekatan sosial-ekonomi-budaya

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 88


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

Pendekatan sosial-ekonomi-budaya merupakan tahapan-tahapan yang ditempuh


dalam upaya mencegah, menanggulangi dan menangani dampak besar dan penting
yang terjadi terhadap lingkungan terutama lingkungan sosial-ekonomi-budaya
melalui tindakan-tindakan yang berlandaskan pada interaksi sosial dan bantuan
peran serta pemerintah. Upaya-upaya tersebut dilakukan untuk mengurangi
terjadinya gesekan antara masyarakat sekitar proyek dan pemrakarsa proyek.
3. Pendekatan institusional
Pendekatan institusional adalah pendekatan yang dilakukan melalui mekanisme
kerjasama antara kelembagaan baik kelembagaan pemerintah maupun swasta yang
akan ditempuh pemrakarsa dalam rangka menanggulangi dampak besar dan penting
terhadap lingkungan hidup. Pendekatan institusional dilakukan untuk mendapatkan
pengelolaan lingkungan yang lebih efektif dan efisien.
RKL pada dasarnya disusun dengan tujuan agar pihak-pihak yang berkepentingan
atas terlaksananya pengelolaan lingkungan mempunyai dokumen tertulis resmi yang
disepakati dan menjadi komitmen pelaksanaan pengendalian dampak di dalam
kegiatan tersebut.
Program pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup dibuat dalam bentuk tabel
dengan urutan sebagai berikut :
a. Jenis Dampak,
b. Sumber Dampak,
c. Tolok Ukur Dampak,
d. Parameter Dampak,
e. Tujuan Pengelolaan,
f. Pendekatan Teknologi, Pendekatan Sosial-Ekonomi-Budaya, Pendekatan
Institusi,
g. Lokasi Pengelolaan,
h. Periode Pengelolaan,
i. Institusi Pengelolaan Lingkungan yang meliputi Pelaksana, Pengawas dan
Pelaporan.
2. Arahan Rencana Pemantauan Lingkungan

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 89


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

Rencana pemantauan lingkungan dilakukan untuk mengetahui perubahan lingkungan


yang terjadi setelah dilakukan pengelolaan lingkungan. Selain itu, RPL digunakan
untuk mengetahui ada tidaknya penyimpangan kegiatan pengelolaan lingkungan.
Dasar penentuan titik pantauan adalah titik-titik sumber pencemar yang akan
dikelola, sehingga dapat dikatakan bahwa lokasi pemantauan sama dengan lokasi
pengelolaan lingkungan. Bila terjadi penyimpangan di lapangan maka haruslah
dilakukan mitigasi atau pengelolaan baru atau kegiatan dikembalikan seperti yang
tertuang pada dokumen RKL yang telah disahkan.
Pada dasarnya kegiatan RPL ini dilakukan setelah kegiatan pada RKL dilakukan.
Apabila terjadi penyimpangan maka dipertimbangkan upaya-upaya perbaikan berupa
mitigasi atau pengelolaan lebih lanjut. Dengan demikian dapat dipahami bahwa
pemantauan adalah alat managemen atau alat pengambilan keputusan. Pemantauan
sendiri bukanlah sasaran akhir tetapi merupakan masukan bagi pengambilan
keputusan pengelolaan lingkungan.
Dalam pemantauan lingkungan perlu diperhatikan prinsip-prinsip pemantauan
sebagai berikut:
a. Komponen lingkungan yang dipantau adalah yang diperkirakan mengalami
perubahan mendasar atau terkena dampak penting negatip.
b. Pemantauan dapat dilakukan pada sumber penyebab dampak atau pada
komponen/parameter lingkungan yang terkena dampak. Dengan memantau
kedua hal tersebut maka dapat dinilai/ diuji efektivitas kegiatan pengelolaan
lingkungan.
c. Pemantauan lingkungan harus layak secara ekonomi.
d. Rancangan manajemen pengumpulan data dan informasi dari aspek-aspek yang
perlu dipantau, yakni yang mencakup :
e. Lokasi pemantauan.
f. Frekuensi atau jangka waktu pemantauan.
g. Metode pengumpulan data dan informasi.
h. Metode analitik data
i. Kelembagaan pemantau lingkungan atau instansi yang bertanggung-jawab
sebagai penyandang dana pemantauan

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 90


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

B.5. Program Kerja


B.5.1. Umum
Rencana kerja merupakan gambaran menyeluruh dan komprehensif usulan dari
konsultan dalam melaksanakan pekerjaan yang akan ditangani sesuai dengan
Kerangka Acuan Kerja (KAK) yang telah diberikan. Dalam rencana kerja ini akan
diuraikan urutan – urutan pekerjaan, konsep penanganan masalah, tanggung jawab
dan personil yang terlibat, pengerahan sarana maupun personil pendukung, schedule
pelaksanaan pekerjaan serta schedule personil. Untuk memudahkan dalam
pelaksanaan pekerjaan, maka harus disusun Bagan Alir Pelaksanaan Pekerjaan.
Bagan Alir ini berisikan tahapan-tahapan pekerjaan yang akan dikerjakan, sehingga
dalam penyusunan jadwal pelaksanaan pekerjaan harus berpatokkan pada Bagan Alir
Pelaksanaan Pekerjaan tersebut.

B.5.2. Rencana Kerja


Rencana kerja ini disusun berdasarkan tahapan kegiatan sesuai dengan lingkup
pekerjaan sesuai dengan KAK. Secara garis besar rencana kerja pelaksanaan
pekerjaan diuraikan sebagai berikut :
A. Pengumpulan Data Primer
Dalam usaha pengumpulan data primer penunjang pelaksanaan pekerjaan, ada
beberapa metode yang akan digunakan.
1. Survei Lapangan
Pada tahap ini, lebih ditekankan pengumpulan data dan investigasi pada data primer
untuk melengkapi data yang sudah ada dan memperbaruhinya.
 Sosial Ekonomi
Data sosial ekonomi didapatkan dari project area pada saat studi dilakukan
yang mempunyai fungsi unuk meninjau kesiapan penduduk untuk menerima
pembangunan yang direncanakan. Data tersebut meliputi kependudukan, mata
pencaharian, pendapatan penduduk, pendidikan dan Ketata Negaraan
 Tata Guna Tanah

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 91


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

Data tata guna tanah diperlukan untuk mengetahui peruntukan lahan pada rencana
lokasi dan gambaran tentang tingkat perkembangan yang telah dicapai di lingkungan
project area pada saat ini.
 Kependudukan
Data kependudukan sangat diperlukan untuk mengetahui potensi kebutuhan
sumber daya manusia pada saat ini dan kebutuhannya untuk usulan pembangunan.
 Aspek Lingkungan dan Pembangunan
Sebagaimana telah ditetapkan poleh pemerintah yaitu pembangunan yang harus
berwawasan lingkungan, maka kegiatan survei lingkungan ditujukan untuk
memprediksi kemungkinan yang bisa mempengaruhi kualitas lingkungan
sebagaimana akibat adanya pembangunan.
Pengamatan lapangan yang dilakukan dalam rangka pengumpulan data umumnya
dalam kurun waktu yang singkat dan lebih ditujukan untuk mengidentifikasi dampak
potensial yang timbul. Target pelaksanaan ini dapat dicapai melalui serangkaian
kegiatan sebagai berikut :
 Melaksanakan pengamatan secara umum terhadap lokasi proyek berikut
rencana tata letak kegiatan. Bila kegiatan sudah berjalan perlu dilakukan pula
pengamatan terhadap jalannya proses konstruksi dan limbah yang mungkin
dihasilkan.
 Melakukan diskusi dengan pemrakarsa kegiatan perihal karakteristik rencana
kegiatan (misal, asal dan jumlah bahan baku yang akan digunakan,
rangkaian proses Konstruksi, jenis limbah yang dihasilkan, jumlah karyawan
yang diserap, rencana penanganan limbah dan lain-lain). Untuk kegiatan
yang telah berjalan dapat diperoleh data dan informasi yang lebih rinci.
 Pengamatan secara umum terhadap kondisi bentang alam, perairan umum,
kondisi biologi, dan sosial ekonomi wilayah sekitar rencana kegiatan proyek.
 Wawancara singkat dengan tokoh-tokoh masyarakat sekitar rencana kegiatan
dan pejabat pemerintahan setempat perihal rencana kegiatan. Wawancara
singkat ini diperlukan dalam rangka untuk memperoleh masukan tentang hal-
hal yang dipandang penting oleh masyarakat dan pemerintahan setempat
sehubungan dengan adanya rencana kegiatan/proyek.

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 92


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

Data primer yang didapat merupakan hasil pengamatan di lapangan, dimana data
pengamatan berbagai komponen fisik kimia, biotis dan sosial, budaya, ekonomi serta
budaya yang diteliti merupakan gambaran kondisi saat studi dilakukan.
Pedoman pengumpulan data dan analsis data disesuaikan dengan data yang telah
ditetapkan dalam keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup
(KLH) Nomor 50 Kep.Men. KLH/6/1987 tanggal 4 Juni 1987 tentang Pedoman
Penyusunan AMDAL.
a. Personil Yang Bertugas :
 Team Leader
 Ahli Sumber Daya Air
 Ahli Lingkungan
b. Waktu Kegiatan :
Dilaksanakan pada Bulan Ke-1

B. Pengumpulan Data Sekunder


Data sekunder diperoleh dari laporan-laporan yang ada kaitannya dengan studi yang
dimaksud yang disediakan oleh Badan Pelaksana Proyek, dan instasi - instansi terkait
yang meliputi Kantor Wilayah/Dinas Pekerjaan Umum Propinsi Bali/Sub Dinas
Pengairan dan instansi terkait di Daerah Tingkat II, Daerah Tingkat I Bali (Bappeda,
Kantor Statistik dan instansi lainnya) dan Departemen pekerjaan Umum/Direktorat
Jenderal Pengairan (Pusbitbang pengairan, Direktorat Bina Program pengairan dan
Direktorat Sungai ). Data yang diperlukan sebagai penunjang proses pelaksanaan
studi adalah data pertanian, data demografi, data sosial ekonomi, data teknis
mengenai rencana pembangunan dan data penunjang yang lain.

a. Personil Yang Bertugas :


 Team Leader
 Ahli Sumber Daya Air
 Ahli Lingkungan
b. Waktu Kegiatan :
Dilaksanakan pada Bulan Ke-1

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 93


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

C. Identifikasi Dampak
Identifikasi dampak dilakukan untuk mengetahui ada/tidaknya pengaruh suatu
kegiatan proyek terhadap lingkungan. Dalam penelitian ini akan digunakan metode
checlist atau daftar uji sederhana, yang pada dasarnya digunakan untuk menetukan
komponen lingkungan mana yang akan terkena dampak terhadap komponen
tersebut, komponen - komponen yang tekena dampak diberi tanda V.
a. Personil Yang Bertugas :
 Team Leader
 Ahli Sumber Daya Air
 Teknik Sipil
 Ahli Sosial Ekonomi dan Budaya
 Ahli Lingkungan
b. Waktu Kegiatan :
Dilaksanakan pada Bulan Ke-1 hingga bulan ke -3

D. Metode Prakiraan dan Evaluasi Dampak


Perkiraan dampak ditekankan pada pengaruh rencana kegiatan terhadap komponen
lingkungan baik fisik kimia, biotis maupun sosekbudkesmas. Metode perkiraan
dampak didasarkan pada Keputusan Menteri Kependudukan dan Lingkungan Hidup
(KLH) Nomor Kep.49/men.KLH/6/1987 tanggal 4 Juni 1987 tentang Pedoman
Penentuan Dampak Penting, didalam dampak penting dari suatu kegiatan ditentukan
oleh hal-hal sebagai berikut :
Perkiraan dampak ditekankan pada pengaruh rencana kegiatan terhadap komponen
lingkungan baik fisik kimia, biotis maupun sosekbudkes. Metode perkiraan dampak
pada keputusan Menteri Kependudukan dan Lingkungan Hidup (KLH), tentang
Pedoman Penentuan Dampak Penting. Didalam dampak penting dari suatu kegiatan
ditentukan oleh hal-hal sebagai berikut :
 Jumlah Manusia yang terkena dampak
 Luas wilayah persebaran dampak
 Lamanya dampak berlangsung

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 94


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

 Intensitas Dampak
 Banyaknya komponen lingkungan lainnya yang akan terkena dampak
 Sifat kumulatif dampak
 Berbalik atau tidak berbaliknya dampak tersebut
Berdasarkan hal tersebut diatas maka metode perkiraan digunakan dalam studi ini
bersifata informal yaitu metode perkiraan dan profesional judgement berdasarkan
profesi yang dimiliki pakar. Selanjutnya hasil dari penggunaan metode tersebut
digambarkan dalam matrik sederhana yang menunjukan interaksi antara komponen
lingkungan yang terkena dampak.
Adapun evaluasi dampak didasarkan atas intensitas dampak serta derajat pentingnya
dampak yang terjadi. Dari hasil penelitian tersebut akan dapat diketahui komponen
kegiatan mana yang menimbulkan dampak dan komponen lingkungan mana yang
terkena dampak paling besar. Selanjutnya dapat memberikan rekomendasi rencana
kegiatan yang akan dilaksanakan perlu adanya evaluasi dampak secara holistik
dengan menialai dampak yang terjadi terhadap semua komponen lingkungan secara
integrasi dan menyimpulkan pengaruh keberadaan proyek tersebut.
a. Personil Yang Bertugas :
 Team Leader
 Ahli Desain/Struktur
 Ahli Lingkungan
b. Waktu Kegiatan :
Dilaksanakan pada Bulan Ke-2 sampai bulan ke 3

E. Penyusunan RKL dan RPL


Rencana Pengelolan Lingkungan dan Rencana Pemantauan Lingkungan hendaknya
disusun dengan memperhatikan pendekatan-pendekatan teknis, ekonomis dan
kelembagaan dengan mengacu pada hasil studi evaluasi lingkungan yang telah
dilakukan, sehingga dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL)

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 95


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

RKL hendaknya berisi ketentuan-ketentuan pokok pengelolaan dampak berdasarkan


hasil kajian terhadap lingkungan dan ditulis secara singkat dan jelas bersifat instruktif
dan berisi ketentuan antara lain :
 Jenis dampak yang harus dikelola
 Tata cara atau teknik pengolahannya
 Lingkup tugas dan tanggung jawab
pemrakarsa dan instansi terkait
 Sumber dana
2. Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL)
RPL hendaknya berii tentang ketentuan-ketentuan pokok pemantauan hasil
pelaksanaan RKL dan ditulis secara singkat dan jelas, dan bersifat instruktif serta
berisi :
 Komponen lingkungan yang
dipantau
 Tata cara pemantauan yang
mencakup lokasi dan
periode atau lamanya waktu
pemantauan
 Lingkup tugas dan tanggung
jawab pmerakarsa dan
instansi terkait.
a. Personil Yang Bertugas :
 Team Leader
 Ahli Desain/Struktur
 Ahli Lingkungan
b. Waktu Kegiatan :
Dilaksanakan pada Minggu Ke-1 dan Ke-4 pada Bulan Ke-5

F. Penyusunan Laporan
4.1. Jenis dan Jumlah

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 96


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

Konsultan memahami bahwa produk dari pelaksanaan pekerjaan ini adalah beberapa
jenis laporan yang disusun dan diserahkan selama masa kontrak. Sesuai dengan KAK
maka Konsultan harus menyerahkan beberapa jenis laporan dan jumlah sesuai
dengan tertuang di KAK ke Satuan Kerja, meliputi :

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 97


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 98


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

B.6. Apresiasi dan Inovasi


A. Telaahan Terhadap Dampak Penting
Ada sebelas dampak penting yang bersifat negatif dan positif yang ditelaah dalam
uraian berikut, yang merupakan dampak dari kegiatan proyek terhadap lingkungan.
Adapun kesebelas dampak penting tersebut adalah sebagai berikut :
1. Menurunnya kualitas udara
2. Terganggunya aliran air sungai
3. Menurunnya kualitas air
4. Menurunnya flora dan fauna darat
5. Terganggunya flora dan fauna air
6. Meningkatnya komunitas flora dan fauna air
7. Timbulnya keresahan masyarakat
8. Hilangnya mata pencaharian penduduk
9. Terganggunya kawasan suci
10. Terjadinya kecelakaan kerja
11. Terjadinya kesehatan masyarakat

1. Menurunnya kualitas udara


Pada kegiatan ini akan mengakibatkan terjadinya peningkatan debu dari angkutan
barang timbunan yang dipindahkan dari quary ke tempat konstruksi. Peningkatan
aktivitas angkutan material ini akan mengakibatkan teremisinya debu ke atmosfer.
Emisi gas lain dari kendaraan pengangkutnya untuk kendaraan dengan bahan bakar
solar yang terbesar adalah gas NO2 dan SO2-nya, sedangkan untuk kendaraan
berbahan bakar bensin emisi gas buangnya sebagian besar adalah HC dan CO.
Konsentrasi gas-gas ini akan meningkat dengan semakin besarnya beban yang
diterima kendaraan dan macam operasional mesin kendaraannya. Berdasarkan
besarnya nilai yang diemisikan oleh kendaraan proyek maka besaran dampaknya
dapat dikatagorikan besar.
Terjadinya penurunnya terhadap kualitas udara yang berasal dari kegiatan
pembangunan pengaman pantai utama ini akan terjadi sepanjang jalur transportasi
sementara yang dibangun di sekitar sungai dan selama masa konstruksi. Masyarakat

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT 99


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

yang terkena dampak hanya terbatas pada yang bekerja di proyek yang mencapai
ratusan. Karena lokasi pengaman pantai jauh dari pemukiman dan kondisi
sekelilingnya masih sangat alami dan asri. Meskipun demikian, khusus untuk
komponen debu yang bila kegiatan proyek dilakukan pada musim kemarau, maka
akan dapat beterbangan cukup jauh ke daerah pemukiman penduduk sehingga
kesehatan masyarakat akan terganggu terutama infeksi pada saluran pernafasan
atas.
2. Menurunnya Kualitas Air
Menurunnya kualitas air pada kegiatan pembersihan dan pematangan lahan serta
pada kegiatan pembangunan di sekitar pantai terutama akan terjadi pada air laut
yaitu kualitas air laut mengingat ditapak proyek dan sekitarnya adalah badan pantai.
Dampak yang terjadi merupakan dampak turunan atau dampak tidak langsung.
Sebelum mengenai komponen lingkungan kualitas air terlebih dahulu akan mengenai
komponen lingkungan tanah dan hidrologi. Komponen lingkungan tanah yang
terkena dampak adalah berupa peningkatan erosi tanah yang akhirnya diteruskan
oleh limpasan air permukaan (run off) hasil erosi ke perairan laut.
Kegiatan pembersihan dan pematangan lahan yang meliputi kegiatan pembersihan
vegetasi dan bangunan, pengupasan lapisan permukaan serta pengurugan lahan
untuk pembangunan di lokasi kegiatan. Kegiatan ini akan menyebabkan adanya
lahan yang terbuka dan adanya timbunan tanah yang belum terlindungi yang akan
mudah tererosi apabila turun hujan. Agregat dan partikel tanah yang terlepas pada
kegiatan ini akan terangkut oleh air hujan yang mengalir dipermukaan akan masuk
ke perairan pantai Proses pengangkutan agregat dan partikel tanah ini dapat
meningkatkan nilai kekeruhan dan kandungan padatan tersuspensi, pelumpuran
dan pendangkalan sungai termasuk menurunnya kualitas air sungai. Disamping itu
tingkat dekomposisi kimia yang dibawa bersama-sama dengan material tanah akan
dapat meningkatkan BOD dan COD dan menurunkan kadar oksigen terlarut (DO)
pada perairan disepanjang alirannya.
Intensitas dampak juga diprakirakan kecil sebagai akibat sifat air laut yang mengalir
dan sangat dinamis. Intensitas dampak berlangsung selama kegiatan konstruksi.

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT


100
PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

Namun dampak ikutannya dapat terjadi pada komponen lingkungan lainnya yaitu
flora dan fauna air.

3. Menurunnya flora dan fauna darat


Pada tahap konstruksi, kegiatan pembersihan dan pematangan lahan yang akan
mengawali pembangunan meliputi pembersihan lokasi pantai dan sepanjang rencana
konervasi dari berbagai jenis tumbuhan yang akan menurunkan keberadaan flora dan
fauna darat. Besarnya dampak berupa hilangnya berbagai jenis flora darat pada
berbagai tingkatan pertumbuhan yang ada baik pada strata pohon dan strata tiang
vegetasi tak stabil, walaupun strata anakan tergolong stabil. Adapun kondisi
lingkungan awal, secara umum flora daratnya dapat dikelompokkan menjadi
tanaman budidaya pertanian dan vegetasi sempadan sungai.
Adanya kegiatan penebangan pohon pada tapak proyek yang teridentifikasi pada
lingkungan yang asri serta memiliki keanekaragaman tanaman yang tinggi, sehingga
dampaknya tergolong besar dan penting. Secara ekologis, nampaknya jenis flora
penyusun ekosistem (ekosistim alami) pada tapak proyek relatif sama dengan jenis
flora penyusun ekosistem disekitarnya. Sehingga berkurangnya populasi tegakan di
areal rencana tapak kegiatan tidak akan berpengaruh nyata terhadap keberadaan
habitat fauna. Namun prakiraan dampak ini akan dapat diantisipasi dengan proses
penataan penanaman menjelang akhir tahap konstruksi, sehingga dampak yang akan
terjadi tidak akumulatif, serta bersifat berbalik
Bermigrasinya fauna darat akan terjadi saat dilakukan kegiatan penebangan
tanaman. Pemakaian alat bantu mekanik pada saat penebangan akan menimbulkan
kebisingan dari pengoperasian alat berat, mobil crane, excavator, truk molen yang
dapat menimbulkan kebisingan puncak mencapai 85 dB. yang berdampak terhadap
kenyamanan fauna khususnya burung, sehingga proses migrasi akan terjadi. Migrasi
fauna hanya akan terjadi ke tempat terdekat/<200 m disekitarnya, mengingat
daerah sekitarnya mempunyai kondisi ekosistem yang sama dan bahkan mengarah
ke lebih baik. Dari hasil pengamatan lapang tidak ada teridentifikasi fauna langka.
4. Terganggunya flora dan fauna air

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT


101
PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

Kegiatan pembersihan dan pematangan lahan kemudian kegiatan pembangunan


jaringan distribusi, akan banyak melakukan pembongkaran terhadap lapisan tanah
sehingga cecerannya akan menurunkan kualitas air laut yang selanjutnya
mengganggu flora dan fauna air sungai yang ada.
Besarnya dampak kegiatan konstruksi di tapak proyek berpotensi menimbulkan
terjadinya erosi tanah yang mengarah ke perairan sungai. Selanjutnya flora dan
fauna air terganggu. Dampak yang ditimbulkan terjadi pada tahap kontruksi hingga
awal tahap pasca konstruksi. Selama itu kondisi plankton, benthos dan ikan akan
mengalami tekanan.
5. Meningkatnya komunitas flora dan fauna air
Setelah jaringan nantinya berfungsi maka tercipta suatu ekosistem perairan dengan
tipe tergenang dari yang tadinya jenis air mengalir Dengan demikian, plankton yang
biasanya sulit berkembang karena belum sempat tumbuh sudah terlanjur hanyut ke
hilir. Dengan tipe tergenang ini maka plankton memiliki kesempatan besar untuk
tumbuh dan berkembang, sehingga bukan hanya jenisnya yang bertambah tetapi
kelimpahannya juga meningkat. Hal ini memberi implikasi terhadap bertambahnya
ketersediaan makanan bagi benih-benih ikan. Akibatnya biota lain juga turut
berkembang di lokasi tersebut. Dengan kata lain adanya air yang tergenang ini
memacu pertambahan jenis dan kelimpahan biota lain sehingga kondisi ekosistem
pantai menjadi komplit. Semua trofik level ekologi perairan berkembang. Produsen
perairan yang berkembang baik, akan mengakibatkan level konsumennya
berkembang sejalan dengan waktu untuk membentuk kesetimbangan yang dinamis.
6. Timbulnya keresahan masyarakat
Rencana kegiatan pembangunan ini, menimbulkan banyak pertanyaan di
masyarakat sekitarnya. Kegiatan sosialisasi diperkirakan dapat menimbulkan dampak
berupa sikap dan persepsi negatif masyarakat terhadap rencana proyek. Hal ini dapat
terjadi apabila sosialisasi proyek tidak dilakukan dengan baik. Masyarakat tidak
mendapatkan informasi yang baik dan benar tentang rencana kegiatan yang akan
dilakukan. Selama ini masyarakat belum jelas tahu proyek apa sebenarnya yang akan
direncanakan dibangun, di mana tempat yang pasti proyek tersebut dibangun, apa

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT


102
PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

yang akan terjadi kemudian dengan para pemilik lahan dan keluarga-keluarga yang
tinggal dilokasi.
Persepsi dan sikap negatif masyarakat terhadap rencana pembangunan dapat terjadi
karena masyarakat tidak mendapat informasi yang baik, benar, dan memadai. Maka
dari itu pada tahap prakonstruksi kegiatan sosialisasi menjadi bagian yang sangat
penting dalam kegiatan ini. Masyarakat perlu mengetahui tentang site plan dari
rencana kegiatan, kepastian luas lahan yang diperlukan, jumlah dan kualifikasi
tenaga kerja yang diperlukan dan dampak apa yang mungkin timbul sebagai
akibat kegiatan rencana proyek (baik dampak positif maupun dampak negatif),
rencana penggunaan tenaga kerja dan sebagainya secara detail dan intensif.
Kegiatan pasca konstruksi berupa pemeliharaan jaringan distribusi, maka dalam hal
penggunaan air sungai dan mata air untuk berbagai kepentingan serta dalam
pembagian hasil retribusi, maka kalau tidak terkelola dengan baik akan berpeluang
terjadinya keresahan bahkan konflik, disamping itu pembagian air yang tidak sesuai
dengan harapan masyarakat juga akan memicu terganggunya keamanan dan
ketertiban masyarakat khususnya penduduk yang berada di sekitar lokasi hingga ke
hilir.
7. Terjadinya Kecelakaan Kerja
Pembersihan dan pematangan lahan kemudian kegiatan pembangunan bangunan
utama dan kegiatan pembangunan sarana dan prasarana akan menimbulkan dampak
terhadap keselamatan dan kesehatan kerja. Kondisi lahan yang amat terjal,
kemudian banyaknya pohon baik besar maupun kecil yang akan ditebang,
berpeluang terjadinya kecelakaan kerja.
Tenaga kerja yang dipergunakan dalam pembangunan ini mencapai puluhan.
Banyaknya pekerja yang beroperasi dalam waktu bersamaan bila tidak diatur dengan
baik dan bila mereka tidak mengindahkan aturan-aturan keselamatan kerja, maka
peluang terjadinya kecelakaan kerja semakin tinggi.
Berdasarkan kriteria ukuran dampak penting maka jumlah manusia yang terkena
dampak oleh kegiatan pembersihan dan pematangan lahan adalah para pekerja yang
mengerjakan kegiatan itu. Luas wilayah persebaran dampak hanya di lokasi kegiatan
atau lahan yang dibuka dengan intensitas ringan, dan dampak yang timbul bersifat

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT


103
PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

sementara, hanya selama kegiatan pembersihan lahan berlangsung. Komponen


lingkungan lain yang ikut terkena dampak adalah kualitas udara, estetika, flora dan
fauna darat, kualitas air sungai. Dampak tidak bersifat kumulatif dan berbalik ketika
kegiatan pembersihan lahan berakhir. Pembangunan diprakirakan dapat
menimbulkan dampak terhadap kesehatan masyarakat khususnya kesehatan pekerja.
Dampak ini kemungkinan timbul karena banyaknya alat berat yang digunakan serta
tingginya resiko pekerjaan di lokasi-lokasi yang sulit.

B. Telaah Sebagai Dasar Pengelolaan


Berdasarkan hasil evaluasi dampak penting, komponen lingkungan yang terkena
dampak penting adalah sebagai berikut :
1. Dampak komponen lingkungan fisik
 Menurunnya kualitas udara
 Terganggunya aliran air sungai
 Menurunnya Kualitas Air
2. Dampak komponen biologi
 Menurunnya flora dan fauna darat
 Terganggunya flora dan fauna air
 Meningkatnya komunitas flora dan fauna air
3. Dampak pada komponen lingkungan sosial ekonomi dan budaya
 Timbulnya Keresahan Masyarakat
 Hilangnya mata pencaharian penduduk
 Terganggunya Kawasan Suci
4. Dampak pada komponen lingkungan kesehatan masyarakat
 Terjadinya Kecelakaan kerja
 Terjadinya kecelakaan masyarakat
Arahan pengelolaan lingkungan yang dapat dilakukan sebagai upaya untuk
mengurangi atau meminimalkan dampak penting yang terjadi adalah sebagai berikut
:
1. Pengelolaan terhadap menurunnya kualitas udara

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT


104
PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

Kegiatan yang menimbulkan menurunnya kualitas udara adalah adanya zat


pencemaran berupa debu dan gas-gas pencemar pada kegiatan pengoperasian alat-
alat berat. Untuk mengurangi atau meminimalkan dampak negatip yang terjadi dapat
dilakukan dengan cara :
 Melakukan penyiraman jalan-jalan kerja secara berkala
 Pemberian biaya perawatan/pengobatan kepada masyarakat yang sakit
sebagai akibat terpapar oleh debu dan gas pencemar.
2. Pengelolaan terhadap terganggunya aliran air laut
Terganggunya aliran air laut akan terjadi pada kegiatan pembersihan lahan dan
pembangunan konstruksi. Untuk mengurangi atau meminimalkan dampak penting
yang terjadi dapat dilakukan upaya-upaya pengelolaan sebagai berikut :
 Mencegah terjadinya erosi ataupun longsor dari tebing-tebing pantai agar
tidak menutup jalan air

3. Pengelolaan terhadap menurunnya Kualitas Air


Kualitas air yang mengalami penurunan adalah kualitas air laut yang terjadi pada
kegiatan pembersihan lahan dan pembangunan. Untuk mengurangi dampak negatip
yang timbul dapat dilakukan upaya-upaya sebagai berikut :
 Pemasangan penutup bak kendaraan pengangkut tanah di sekitar lokasi
untuk mencegah ccerannya yang masuk ke perairan laut
 Mencegah terjadinya erosi ataupun longsor dari tebing-tebing sungai agar
tidak masuk ke badan air laut
4. Pengelolaan terhadap menurunnya flora dan fauna darat
Kegiatan pembersihan dan pematangan lahan yang akan mengawali pembangunan
meliputi pembersihan lokasi dari berbagai jenis tumbuhan yang akan menurunkan
keberadaan flora dan fauna darat. Untuk meminimalkan dampak penting yang
terjadi tersebut dapat dilakukan upaya-upaya pengelolaan sebagai berikut :
 Menyisakan vegetasi-vegetasi yang tidak terkena genangan
 Menanam kembali jenis-jenis vegetasi yang hilang setelah fase
pembangunan selesai

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT


105
PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

 Meminimalkan gangguan di tempat-tempat lain sekitar lokasi sebagai


tempat hijrah sementara begi satwa-satwa yang ada di lokasi
5. Pengelolaan terhadap terganggunya flora dan fauna air
Kegiatan pembersihan dan pematangan lahan kemudian kegiatan pembangunan
konstruksi serta pembangunan sarana dan prasarana, akan banyak melakukan
pembongkaran terhadap lapisan tanah sehingga cecerannya akan menurunkan
kualitas air laut yang selanjutnya mengganggu flora dan fauna air laut yang ada.
Untuk mengurangi dan meminimalkan dampak negatip penting yang timbul dapat
dilakukan upaya-upaya sebagai beikut :
 Pemasangan penutup bak kendaraan pengangkut tanah di sekitar lokasi
untuk mencegah cecerannya yang masuk ke perairan laut.
 Mencegah terjadinya erosi ataupun longsor dari tebing-tebing pantai agar
tidak masuk ke badan air laut.
6. Pengelolaan terhadap meningkatnya komunitas flora dan fauna air
Adanya air yang tergenang setelah fase pemeliharaan ini akan memacu pertambahan
jenis dan kelimpahan biota lain sehingga kondisi ekosistem perairan pantai menjadi
komplit. Semua trofik level ekologi perairan berkembang. Untuk meningkatkan
dampak positif penting yang timbul dapat dilakukan upaya-upaya sebagai beikut :
 Melakukan monitoring kualitas air secara berkala di perairan pantai
7. Pengelolaan terhadap timbulnya keresahan masyarakat
Adanya sikap dan persepsi negatif masyarakat disebabkan oleh beberapa kegiatan
antara lain ; kegiatan pengadaan lahan, sosialisasi rencana kegiatan; perekrutan
tenaga kerja baik pada tahap konstruksi maupun pada tahap operasional. Rencana
kegiatan pembangunan, menimbulkan banyak pertanyaan di masyarakat. Untuk
mengurangi dan meminimalkan dampak negatip yang timbul dapat dilakukan upaya-
upaya sebagai beikut :
 Mengadakan sosialisasi secara terus menerus tentang rencana usaha
dan/atau kegiatan kepada masyarakat khususnya masyarakat yang terkena
dampak

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT


106
PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

 Mengutamakan tenaga kerja setempat, khususnya masyarakat yang


lahannya dibebaskan/masyarakat yang kehilangan mata pencahariannya
baik pada tahap konstruksi maupun pada tahap operasional
 Menjalin kerjasama dan hubungan baik dengan semua instansi-instansi
setempat.
 Menyediakan dana untuk kegiatan Community Development yang memadai
untuk pemberdayaan masyarakat desa sekitar.
8. Pengelolaan terhadap terjadinya kecelakaan kerja
Terjadinya kecelakaan kerja pada tahap konstruksi yang mana kondisi lahan yang
amat terjal, kemudian banyaknya pohon baik besar maupun kecil yang akan
ditebang, berpeluang terjadinya kecelakaan kerja. Upaya mencegah terjadinya
kecelakaan kerja antara lain :
 Pekerja wajib menggunakan helm untuk melindungi kepala dari benturan
benda keras.
 Penggunaan masker pelindung muka dan mata wajib bagi para pekerja untuk
menghindari iritasi dan cedera pada mata.
 Pekerja harus menggunakan alat-alat keselamatan lainnya sesuai dengan
standard operating procedure (SOP).

C. Rekomendasi Penilaian Kelayakan Lingkungan


Untuk menetapkan rekomendasi penilaian kelayakan lingkungan dapat dilakukan
melalui empat pendekatan yaitu: (1) pendekatan tata ruang, (2) pendekatan
teknologi pengelolaan lingkungan, (3) pendekatan manfaat, dan (4) pendekatan
persetujuan masyarakat.
Pendekatan teknologi pengelolaan lingkungan. Secara umum dapat dikatakan
bahwa pembangunan apapun jenisnya, akan memberikan dampak baik positif
maupun negatif, tidak terkecuali hal yang sama akan terjadi pada pembangunan ini.
Adanya dampak negatif yang akan terjadi harus diantisipasi sedini mungkin dan
dapat dicarikan upaya pengelolaannya agar dampak negatif yang terjadi dapat
ditekan seminimal mungkin, sedangkan dampak positifnya dapat dikembangkan

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT


107
PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

semaksimal mungkin agar dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi


masyarakat di sekitar.
Pendekatan manfaat. Rencana pembangunan ini merupakan proyek yang sangat
penting dan strategis serta untuk kepentingan rakyat banyak, karena menghasilkan
berbagai manfaat dalam jangka pendek dan jangka panjang. Nilai manfaat lebih
banyak dibandingkan dengan dampak negatif yang terjadi. Nilai manfaat adalah
sebagai berikut :
 Lebih tersedianya sumber air bagi kebutuhan air minum masyarakat.
 Meningkatkan pengembangan pemanfaatan mata air untuk kemudian
dimanfaatkan bagi aktivitas masyarakat dan lingkungan.
Pendekatan persetujuan masyarakat. Dari hasil studi, masyarakat umum,
tokoh-tokoh masyarakat, dan pemilik lahan di sekitar lokasi rencana pembangunan
Pendekatan-pendekatan tersebut akan dituangkan dalam rencana pengelolaan dan
pemantauan lingkungan yang wajib diikuti oleh pemrakarsa, sehingga masyarakat
dapat menerima keberadaan proyek.
Dengan memperhatikan hasil analisis dari pendekatan tata ruang, pendekatan
teknologi pengelolaan lingkungan, pendekatan manfaat, dan pendekatan persetujuan
masyarakat, maka secara umum semua dampak-dampak negative yang dapat terjadi
terhadap lingkungan di sekitar dapat dikelola dengan baik. Pengelolan tersebut
intinya adalah sosialisasi secara jelas terhadap aspek social budaya dan ganti rugi
lahan penduduk sesuai kesepakatan. Oleh karenanya, rencana pembangunan ini
layak dari segi lingkungan.

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT


108
PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

ORGANISASI PERSONIL DAN PERALATAN PENDUKUNG

Organisasi

Berdasarkan pada pengalaman Konsultan dalam pelaksanaan pekerjaan studi


selama ini, sangat diperlukan struktur organisasi pelaksanaan pekerjaan yang
mantap, disertai pula dengan penempatan personil tenaga ahli yang berkualitas
sesuai dengan spesialisasi masing-masing, disamping penyediaan sarana peralatan
kerja dengan kualitas yang dapat dipertanggung jawabkan.
Untuk mencapai tujuan yang diharapkan pada akhir pekerjaan studi ini, maka tim
Konsultan telah menyiapkan organisasi pelaksanaan pekerjaan seperti yang tertera
pada Gambar Bagan Organisasi Pelaksanaan Pekerjaan. Organisasi pelaksanaan
pekerjaan menggambarkan hubungan antar personil Konsultan dan hubungan
kerja antara Konsultan dengan Pemberi pekerjaan sesuai hirarki tugas, tanggung
jawab dan wewenangnya masing-masing.

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

Personil

Dalam pelaksanaan PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM


PUSAT, untuk masing-masing kegiatan diperlukan tenaga ahli sejumlah 5 (lima)
orang tenaga ahli inti, dan 3 (tiga) orang tenaga pendukung.
Tingkat disiplin ilmu sekurang-kurangnya setingkat Strata 1 (S1) untuk Team
Leader dan Strata 1 (S1) untuk Tenaga Ahli dan D3/SMU Untuk Tenaga
Pendukung.

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

Fasilitas Dan Sarana Yang Digunakan

Konsultan akan menyediakan fasilitas dan peralatan yang diperlukan untuk


menunjang pekerjaan ini, yang meliputi antara lain :
1. Kantor/studio lengkap dengan peralatan yang diperlukan untuk
pelaksanaan pekerjaan
2. Biaya Komunikasi
3. Biaya Alat Tulis Kantor
4. 2 (empat) unit kendaraan operasional roda 2
5. 1 (satu) unit kendaraan operasional roda 4
6. Kebutuhan lainnya guna memperlancar dan menyukseskan pelaksanaan
pekerjaan ini
7. Apabila ada yang peralatan yang harus dibeli dalam kegiatan ini, maka pada
akhir penugasan barang atau peralatan yang dibeli tersebut harus
diserahkan kepada pengguna jasa.

Ruang Kerja/Kantor

Untuk kelancaran kegiatan pekerjaan pihak konsultan telah menyiapkan kantor


yang permanen Denpasar sehingga memudahkan Team Konsultan berkoordinasi
dengan pemberi pekerjaan dan setiap saat dapat asistensi/diskusi dalam
penyelesaian pekerjaan. Disamping itu diharapkan nantinya setelah selesai
pekerjaan pihak pemberi pekerjaan mudah menghubungi konsultan.

Peralatan

Peralatan yang digunakan untuk setiap pekerjaan disesuaikan dengan


kebutuhan masing-masing kegiatan, tergantung dari volume dan kapasitas alat.
Adapun volume dan kapasitas alat dari masing-masing pekerjaan tersaji pada Tabel
Daftar Peralatan Terlampir).

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT


PT. SIARPLAN UTAMA KONSULTAN

Jadwal Peralatan

Jadwal peralatan untuk pekerjaan akan disesuaikan dengan waktu pemakaian, dan
jadwal peralatan ini berkaitan dengan schedule pelaksanaan dan personil untuk
pelaksanaan seluruh kegiatan. Jadwal peralatan dan volume serta waktu
pemakaian tersaji pada Tabel Jadwal Penggunaan Peralatan (Terlampir).
Tabel Jadwal Penggunaan Peralatan
NO ACTIVITY TIME FRAME REMARK
BULAN
1 2 3
I KEGIATAN PRA STUDY
1 Kamera + Alat bantu
2 Kendaraan Operasional
3 Meteran Rol
II KEGIATAN STUDY DAN LAPORAN
1 Gps
2 Sound level meter
3 pH meter
4 Botol sampel
5 Thermometer
6 Counter
7 Pengujian tanah (fisik, kimia)
8 Pengujian kualitas air (fisik, kimia, biologi)
9 Peralatan Kantor

USULAN TEKNIS - PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL RUMAH SAKIT UMUM PUSAT