Anda di halaman 1dari 12

PEMIKIRAN DEWAN PROFESOR

UNIVERSITAS PADJADJARAN
TERKAIT USULAN PENANGANAN COVID-19
DI PROVINSI JAWA BARAT

Disampaikan kepada
Gubernur Provinsi Jawa Barat

Maret
2020

Usulan  Unpad  terkait  Penanganan  Virus  Covid-­‐19  di  Provinsi  Jawa  Barat  
Kata Pengantar

Sebagai bagian dari warga Provinsi Jawa Barat, Universitas Padjadjaran, yang
diwakili oleh para Profesor dan beberapa pakar merasa terpanggil untuk urun rembug dalam
menghadapi dan menangani wabah CORVID-19 yang secara memprihatinkan sedang
dihadapi dunia, Indonesia, dan termasuk juga oleh kita semua di Provinsi Jawa Barat.
Permasalahan CORVID-19, bukan merupakan tanggung jawab suatu pihak tertentu, tetapi
menjadi tanggung jawab seluruh lapisan masyarakat, Pemerintah, insan perguruan tinggi, dan
masyarakat. Penanggulangannya membutuhkan sinergi dari berbagai pihak agar badai
CORVID-19 ini dapat segela berlalu.
Buku Usulan Pemikiran Dewan Profesor Universitas Padjadjaran terkait Penanganan
CORVID-19 ini diinisiasi oleh para Profesor yang mendapat sambutan dan dukungan dari
Ketua Dewan Profesor, Ketua Senat Akademik dan tentunya dari Rektor Universitas
Padjadjaran. Harapannya, hasil usulan pemikiran ini akan menjadi pertimbangan atau
referensi bagi Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam memutuskan langkah yang tepat dalam
menangani CORVID-19, khususnya di Provinsi Jawa Barat.
Semoga sumbangsih pemikiran ini ada guna dan manfaatnya.

Dipati Ukur, 30 Maret 2020

Usulan  Unpad  terkait  Penanganan  Virus  Covid-­‐19  di  Provinsi  Jawa  Barat  
TIM PENYUSUN

Pelindung : Rektor Universitas Padjadjaran


Pemrakarsa : Ketua Senat Akademik
Ketua : Ketua Dewan Profesor

Editor dan Perumus : Prof. Tarkus Suganda, Ir., M.Sc., Ph.D.

Kontributor:
1. Prof. Dr. Hj. Rina Indiastuti,SE.,M.SIE.
2. Prof. Dr. Oekan Soekotjo Abdoellah, MA.
3. Prof. Dr. Hj. Sutyastie S. Remi, S.E., M.S.
4. Prof. Dr. Cissy Rachiana Sudjanna Prawira, dr., M. Sc., Sp. Ak.
5. Prof. Dr. Tatang Bisri, dr., SpAN-K.
6. Prof. Dr. Dany Hilmanto, dr., Sp.A(K).
7. Prof. Dr. Keri Lestari, S.Si., Apt., M.Si.
8. Prof. Dr. Rully Marsis Amirullah Roesli, SpPD-KGH.
9. Prof. dr. Rovina, SpPD., Ph.D.
10. Prof. Dr. dr. Budi Setiabudiawan,Sp.A(K).,M.Kes.
11. Prof. Dr.dr. Ida Parwati Santoso,Sp.PK (K).
12. Prof. Dr. Ajeng Diantini, M.Si.,Apt.
13. Prof. Dr. dr. Med Tri Hanggono Achmad
14. Prof. Dr. Arief Anshory Yusuf,SE.,M.Sc.
15. Prof. Dr. Juke Roosjati Siregar,M.Pd.
16. Prof. Dr. Tb. Zulrizka Iskandar, S. Psi., M.Sc.
17. Prof. Muradi, SS., M.Si., M.Sc., Ph.D.
18. Prof. drg. Soenardi Widyaputra, MS., Ph.D.
19. Dr. dr. med. Setiawan, AIFM.
20. Dr. Tommy Perdana SP., MM.

Sekretariat : Reni Anggraeni, S.Sos.

Usulan  Unpad  terkait  Penanganan  Virus  Covid-­‐19  di  Provinsi  Jawa  Barat  
Usulan Universitas Padjadjaran Terkait Penanganan COVID-19
di Provinsi Jawa Barat

Latar Belakang

1. Angka penduduk tertular COVID-19 terus bertambah secara cepat dan menyebabkan
banyak kematian, tetapi angka kematian akibat COVID-19 tidak menggambarkan
angka sesungguhnya. Sebagai contoh angka kematian di Indonesia secara keseluruhan
sampai saat tulisan ini dibuat adalah 11% (Jabar 14% yaitu 17 meninggal dari 119
kasus positif). Angka ini jauh lebih tinggi daripada angka kematian berdasarkan
literatur, yaitu hanya 2,3-4%. Hal ini menunjukkan pembagi yang merupakan
penderita corona positif atau carrier banyak yang tidak terdeteksi dengan
pemeriksaan dan masih banyak berkeliaran di masyarakat dan berpotensi untuk
menularkan. Berdasarkan data pertambahan jumlah orang terinfeksi dan prediksi para
ahli, trend bertambahnya penderita masih akan terus meningkat akibat kurang
efektifnya kebijakan yang diberlakukan saat ini. Sampai hari Senin, 30 Maret 2020
Pkl 07.00 WIB menurut https://pikobar.jabarprov.go.id/ di Jawa Barat terdapat 149
kasus positif COVID-19, meninggal 19 orang, dan sembuh 9 orang dari 5.293 ODP
dan 660 PDP.
2. Salah satu kebijakan yang telah diberlakukan, yaitu social/physical distancing
terbukti tidak efektif., karena tidak ditaati akibat tidak diikuti oleh penegakan hukum.
Penyebab social/physical distancing tidak efektif antara lain:
a. Informasi mengenai social/physical distancing kepada masyarakat masih
simpang siur, tidak rinci dan berbeda antar berbagai sumber.
b. Tidak disertai dengan SOP penegakan hukum (UU No. 4 Tahun 1984 tentang
Wabah Penyakit Menular, UU No. 6 Tahun 2016 tentang Kekarantinaan
Kesehatan, dan Pasal 212, 214, 216 dan 218 KUHP), misalnya dengan
tindakan pembubaran kerumunan, atau mempertegas jarak antar orang di
tempat-tempat umum (stasiun, terminal, pelayanan umum, dll.)
c. Sosialisasi tentang social/physical distancing kurang masif, berbeda dengan
saat terjadi gunung meletus dan bencana lain yang disiarkan oleh semua
stasiun TV dan media lainnya, padahal resiko dan ancaman kematian oleh
COVID-19 bersifat pandemik bukan hanya lokal di sekitar gunung berapi saja.

Usulan  Unpad  terkait  Penanganan  Virus  Covid-­‐19  di  Provinsi  Jawa  Barat  
d. Banyaknya penduduk yang memiliki pendapatan tidak tetap, termasuk
Kelompok Usaha Mikro dan Kecil (UMKK) yang sulit bagi mereka untuk
melakukan pembatasan sosial dan bekerja dari rumah.
3. Data menunjukkan bahwa tenaga kesehatan merupakan golongan masyarakat terbesar
(12%) yang menunjukkan hasil positif terinfeksi COVID-19. Di RS pendidikan,
peserta pendidikan dokter spesialis paling berpotensi terpapar penderita, sehingga
sebagian besar dikhawatirkan termasuk ODP. Terlebih lagi jam jaga yang panjang
bagi mereka mengakibatkan kelelahan dan berisiko untuk mengalami sakit yang berat,
sementara banyak petugas kesehatan bekerja tanpa Alat Pelindung Diri (APD) yang
standar, bahkan ada yang tidak menggunakannya.
4. Semakin bertambahnya petugas kesehatan yang menjadi sakit sehingga harus
dirumahkan atau dirawat akan menyebabkan semakin berkurangnya petugas yang
kapabel dan memenuhi ketentuan untuk menangani pasien COVID-19, karena tenaga
dokter ahli dan dokter praktik tidak dapat digantikan oleh para ko-as.
5. Pemahaman masyarakat akan COVID-19 juga masih belum tepat. Contohnya 52
perawat RS Hasan Sadikin ditolak pulang ke rumah atau lingkungan tempat
tinggalnya sehingga harus ditampung di UPTD Upelkes Dinkes Provinsi Jawa Barat.
6. Provinsi Jawa Barat merupakan wilayah yang berbatasan langsung dengan DKI
Jakarta sebagai provinsi dengan kasus COVID-19 terbanyak. Provinsi Jawa Barat
juga menjadi provinsi yang pergerakan manusianya antara keluar dan masuk sangat
tinggi. Sementara itu, Provinsi Jawa Barat tidak memiliki kelengkapan fasilitas dan
sarana prasarana yang cukup untuk mengantisipasi meningkatnya kasus COVID-19.
7. Dalam menangani kasus COVID-19, baik tindakan awal maupun pengobatan, belum
ada pedoman terapi yang terstandarkan.

Butir-Butir Usulan

Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, Universitas Padjadjaran mengusulkan


agar Gubernur Provinsi Jawa Barat menetapkan COVID-19 sebagai Kejadian Luar Biasa
(KLB) dan mengusulkan segera diberlakukannya Karantina Wilayah (sesuai dengan
Undang-Undang UU No. 6 Tahun 2018 tentang Karantina Kesehatan, berupa pelaksanaan
secara simultan:

Usulan  Unpad  terkait  Penanganan  Virus  Covid-­‐19  di  Provinsi  Jawa  Barat  
a. Karantina rumah untuk Orang Dalam Pemantauan (ODP) dan Pasien Dalam
Pengawasan (PDP) - belum diberlakukan
b. Karantina rumah sakit (sudah diberlakukan)
c. Karantina Wilayah (belum diberlakukan)
d. Pembatasan sosial berskala besar (mungkin belum saatnya diberlakukan).
Usulan kami ini diajukan karena untuk menetapkan Karantina Wilayah, menurut
UU No. 6 Tahun 2018 tersebut, hanya dapat dilakukan oleh Menteri Kesehatan atas ajuan
dari Kepala Gugus Tugas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) atas usulan
dari Kepala Daerah.
Oleh karena Karantina Wilayah merupakan opsi yang paling tepat untuk Provinsi
Jawa Barat, maka kami mengusulkan agar Gubernur Provinsi Jawa Barat segera
mengadakan kajian melibatkan berbagai fihak terkait, terutama yang terkait dengan
penyediaan pangan, dan penegakan ketertiban dan keamanan.
Kami sangat memahami bahwa penetapan Karantina Wilayah mengandung
konsekuensi, termasuk aspek sosial, budaya dan terutama aspek ekonomi dan keamanan,
namun ketiga syarat lainnya, yaitu epidemiologi dan tingkat bahaya COVID-19,
menjadikan keefektifan Karantina Wilayah jelas akan lebih baik dalam menekan terus
bermunculannya kasus masyarakat terjangkiti COVID-19.
Provinsi Jawa Barat, dengan jumlah penduduk 48,68 juta, jika laju pertambahan
penduduk terjangkiti COVID-19 seperti sekarang terus berlangsung, maka Provinsi Jawa
Barat saat ini tidak memiliki fasilitas perawatan yang mencukupi, karena:
a. Kapasitas RS rujukan di beberapa daerah belum memadai karena bercampur dengan
layanan kesehatan lainnya.
b. Jumlah pasien positif COVID-19 yang terus meningkat.
c. Bandung, dengan jumlah penduduk 2,4 juta orang merupakan kota besar dengan arus
mobilitas penduduk yang tinggi dari berbagai kota, bahkan dari dan ke luar negeri.
d. Tenaga kesehatan yang ada sekarang lebih fokus dalam melakukan perawatan pasien
COVID-19.
e. Adanya keresahan pasien non-COVID-19 apabila dirawat di RS yang sama dengan
pasien COVID-19.
Berkaitan dengan itu, kami mengusulkan agar Pemda Jawa Barat:
1. Membuat RS baru di hotel atau tempat lain sebagaimana penggunaan Wisma Atlit di
DKI Jakarta.

Usulan  Unpad  terkait  Penanganan  Virus  Covid-­‐19  di  Provinsi  Jawa  Barat  
2. Mengembangkan RS yang sedang dibangun seperti RS Edelweis sebagai RS COVID-
19.
3. Menjadikan RS Al Islam dan RS Al Ihsan dan RS provinsi lainnya menjadi rumah
sakit khusus COVID-19 sebagai back up RS Hasan Sadikin, karena kedua RS ini
memiliki fasilitas yang cukup besar.
Namun demikian, beberapa hal yang perlu dipertimbangkan adalah:
a. Perekrutan tenaga kesehatan yang diperlukan. Unpad bekerjasama dengan
beberapa perguruan tinggi sudah memberikan pelatihan tenaga kesehatan
(relawan perawat) yang dibutuhkan (lihat Lampiran). Selain itu, di RS Hasan
Sadikin terdapat peserta pendidikan dokter spesialis yang jumlahnya cukup
banyak (ca. 50-100 orang per departemen).
b. Fasilitas Rumah Sakit, APD, dll. sesuai yang dibutuhkan untuk penanganan
COPID-19
c. Waktu yang dibutuhkan untuk menyiapkan. Semakin cepat semakin baik.
d. Kesesuaian bangunan
e. Peruntukan yang jelas untuk jenis pasien (pasien ringan/ringan-sedang, sedang-
berat, berat, atau semua tingkatan)
f. Pembuangan limbah medis
g. Penolakan dari lingkungan. Perlu sosialisasi yang intensif melalui tokoh
masyarakat kepada warga sekitar.
4. Sosialisasi pemahaman Karantina Wilayah yang intensif dan jelas kepada masyarakat,
termasuk hak minimal dan kewajiban masyarakat, termasuk sanksi jika melanggar
ketetapan Karantina WIlayah dan durasi berapa lama Karantina Wilayah akan
diberlakukan.
5. Melakukan Active case finding dengan pemeriksaan rapid test masif untuk
masyarakat luas yang dapat dilanjutkan dengan pemeriksaan PCR bila positif atau
diulang 7–14 hari kemudian bila negatif. Dengan demikian data pembagi angka
kematian menjadi lebih akurat. Selain itu, dengan ditemukannya kasus positif, dapat
diantisipasi kemungkinan risiko penularannya.
6. Terkait rapid mass screening maka pemerintah dihimbau untuk melakukan:
a. Pengadaan BHP untuk rapid mass screening.
b. Memperluas laboratorium rujukan, termasuk laboratorium perguruan tinggi dan
rumah sakit yang kapabel.
7. Perlindungan tenaga kesehatan dengan APD standar:
Usulan  Unpad  terkait  Penanganan  Virus  Covid-­‐19  di  Provinsi  Jawa  Barat  
a. Mapping jumlah tenaga kesehatan (dokter, perawat, paramedis, dll) untuk
memperkirakan jumlah kebutuhan APD dalam 2-3 bulan ke depan dan
menyiapkan lapisan ke-2, ke-3, dst jika diperlukan.
b. Penyediaan dan produksi APD (gown, sarung tangan, masker surgical dan
N95, google, face shield) ditingkatkan. Mencari tempat/alamat pembuat APD
yang selama ini di ekspor ke Cina karena ditemukan bahwa pabriknya ada di
Jawa Barat. Pemerintah dapat melakukan pendekatan agar produksinya
diprioritaskan untuk Jawa Barat.
c. Jika butir b. di atas ditetapkan, diperlukan kebijakan khusus pemerintah untuk
mengizinkan prabrik tetap beroperasi dengan karyawan yang tinggal di dalam
pabrik dan dimonitor kesehatannya.
8. Selama masa Karantina Wilayah, Pemerintah Provinsi harus:
a. Memberikan izin khusus ke luar rumah untuk berobat ke rumah sakit bagi
pasien-pasien tertentu, contohnya pasien gagal ginjal yang harus cuci darah
2-3 kali seminggu.
b. Memberikan proteksi bagi orang rentan, seperti lansia, orang dengan penyakit
komorbid, dan ibu hamil, misalnya dengan pemberian Vitamin C dan E serta
suplemen lainnya serta menjamin pelayanan RS sesuai prosedur standar agar
tidak terjadi risiko perburukan kondisi pasien dan mencegah peningkatan
mortalitas bagi pasien kedaruratan non-COVID-19.
c. Mengatur waktu penugasan untuk mengurangi kelelahan peserta pendidikan
dokter spesialis di RS Pendidikan dengan melakukan penetapan jam kerja,
termasuk bagi PPDS jaga. Majelis Kolegium Kedokteran Indonesia (MKKI)
mengusulkan jam kerja bagi PPDS maksimal 11 jam setiap shift.
d. Menyediakan pedoman terapi obat (guideline) yang disesuaikan dengan
ketersediaan obat di lapangan.
e. Mempersiapkan akomodasi, transportasi dan insentif bagi tenaga medis yang
mengangani pasien COVID-19.
f. Melakukan pendataan dan pelatihan relawan tenaga medis dikoordinasikan
oleh 10 FK PTN di Indonesia. Unpad memiliki metode daring untuk
melakukan pelatihannya.
g. Mengurangi pemberitaan yang membuat panik/stress pada masyarakat dan
meningkatkan berita yang menumbuhkan rasa optimisme, karena kepanikan
dapat menyebabkan efek domino yang buruk.
Usulan  Unpad  terkait  Penanganan  Virus  Covid-­‐19  di  Provinsi  Jawa  Barat  
h. Menggerakkan anggota masyarakat dari mulai RT/RW untuk menumbuhan
solidaritas saling bekerjasama dan tolong menolong untuk menjelaskan
pentingnya menjaga “jarak aman”, pola hidup bersih dan sehat dalam
menghindari penularan virus Corona, dan membantu secara ekonomi
tetangga terdekat yang terimbas langsung oleh kebijakan Karantina Wilayah.
i. Menjamin toko dan warung sembako tetap buka dengan pengamanan dari
aparat keamanan;
j. Menjamin klinik kesehatan dan RS tetap bisa diakses;
k. Menjamin subsidi sembako bagi keluarga miskin kelas menengah ke bawah
l. Menjamin kebutuhan (makan dan minum), perlengkapan standar kesehatan
(masker standar) bagi aparat keamanan selama bertugas lapangan dan
pemeriksaan kesehatannya selama bertugas.

Penutup

Penyebaran penyakit oleh COVID-19 merupakan suatu kejadian luar biasa dengan
ancamannya adalah kematian bagi penderitanya. Kesehatan dan keberlangsungan hidup
masyarakat Jawa Barat merupakan prioritas utama, sementara aspek ekonomi dan keamanan
dan lain-lain merupakan prioritas berikutnya yang dapat diraih dengan upaya terencana dan
seksama. Universitas Padjadjaran sebagai institusi yang merupakan bagian dari Jawa Barat
sudah mengembangkan program AMARI COVID-19. AMARI (Aplikasi MAwas diRI
Corona Virus Disease 2019), dikembangkan dengan tujuan untuk:
1. membantu masyarakat menilai secara subyektif keadaan kesehatan dirinya, khususnya
yang terkait dengan infeksi COVID-19 yang sedang mewabah.
2. membantu masyarakat mengendalikan kekhawatiran/kepanikan dengan memahami
kerentanan dirinya terhadap potensi infeksi Covid-19.
3. membantu masyarakat mendapatkan saran-saran atau nasihat praktis yang seyogyanya
dilakuan sesuai informasi yang diberikan.
4. menjadi 'jembatan' penghubung individu/keluarga terhadap sistem layanan kesehatan
dalam masa wabah COVID-19 sebagai program surveilance deteksi awal mandiri
kemungkinan terpapar COVID-19. dan mengembangkan program-program yang
inovatif a.l. pengembangan obat herbal untuk diujicoba sebagai obat bagi penderita
COVID-19.

Usulan  Unpad  terkait  Penanganan  Virus  Covid-­‐19  di  Provinsi  Jawa  Barat  
Dengan demikian AMARI COVID-19 merupakan media atau tools sederhana untuk
penilaian mawas diri dan edukasi personal berbasis aplikasi, dan dilanjutkan dengan post
AMARI Response System, yaitu respons atau tanggapan yang bersifat tindak lanjut dari hasil
penilaian mawas diri.
Ini merupakan salah satu bukti partisipasi Universitas Padjadjaran yang siap
bersinergi penuh dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam menangani dan membasmi
COVID-19.

---

Usulan  Unpad  terkait  Penanganan  Virus  Covid-­‐19  di  Provinsi  Jawa  Barat  
Lampiran 1. AMARI Flow Chart (Dr. med. Setiawan, dr., AIFM)

Usulan  Unpad  terkait  Penanganan  Virus  Covid-­‐19  di  Provinsi  Jawa  Barat  
Lampiran 2 : Daftar Relawan

Variabel n %
Usia (tahun)
< 20 144 16,72
20 – 29 655 76,07
30 – 39 31 3,60
>= 40 16 1,86
Missing 15 1,74
Institusi
Unpad 578 67,13
Universitas di Bandung Raya 141 16,38
Universitas di Jawa Barat 20 2,32
Universitas di luar Jawa Barat 30 3,48
RS/Puskesmas/Klinik/Biro Psikologi/Psikolog 26 3,02
Lainnya 49 5,69
Missing 17 1,97
Apakah sudah bekerja?
Ya 48 5,57
Belum bekerja 51 5,92
Tidak (masih kuliah) 168 19,51
Missing 594 68,99
Tempat kerja/unit kerja
Farmasi/apoteker/apotek 132 20,85
Keperawatan/ners 242 38,23
Kedokteran 88 13,90
Kedokteran gigi 43 6,79
Kedokteran hewan 5 0,79
Kebidanan 26 4,11
Psikologi 39 6,16
Kesehatan masyarakat 4 0,63
RS/Puskesmas/Klinik 14 2,21
Non-kesehatan 40 6,32
Program studi
Farmasi/apoteker/apotek 40 23,81
Keperawatan/ners 42 25,00
Kedokteran 68 40,48
Kedokteran gigi 7 4,17
Kedokteran hewan 1 0,60
Kebidanan 3 1,79
Psikologi 3 1,79
Analis kesehatan 1 0,60

Usulan  Unpad  terkait  Penanganan  Virus  Covid-­‐19  di  Provinsi  Jawa  Barat