Anda di halaman 1dari 8

Laporan Praktikum Hari/ tanggal : Kamis/ 19 Mei 2016

Biokimia Umum Waktu : 12.00 – 14.30 WIB.


PJP : Puspa Puspita J, S.Si, M.Sc.
Asisten : 1. Eldi Ramdhani
2. Annisa Dhiya A.K
3. Sabighoh Zanjabila
4. M. Maftuchin Sholeh

PENENTUAN KADAR GLUKOSA DALAM DARAH


Kelompok 3
Sutisno B04150042
Resti Indana B04150052
Nais Nashiatul K B04150187

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN (FKH)


INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2016
PENDAHULUAN

Gula darah merupakan istilah yang mengacu kepada tingkat glukosa yang
ada di dalam darah. Glukosa dibentuk dari senyawa-senyawa glukogenik yang
mengalami glukogenesis. Glukoneogenesis memenuhi kebutuhan akan glukosa
pada saat karbohidrat tidak tersedia dalam jumlah yang cukup dalam makanan.
Pasokan glukosa yang terus menerus diperlukan sebagai sumber energy,
khususnya bagi sistem saraf dan eritrosit. Glukosa juga diperlukan di dalam
jaringan adipose sebagai sumber gliseralida-gliserol dan glukosa juga mempunyai
peran dalam mempertahankan kadar intermediet pada siklus asam sitrat di seluruh
jaringan tubuh. Glukosa juga merupakan satu-satunya bahan bakar yang memasok
energi bagi otot rangka pada keadaan anaerob (Murray 2006).
Spektrofotometri merupakan metode analisis yang didasarkan pada
absorpsi radiasi elektromagnet. Cahaya terdiri dari radiasi gelombang dengan
panjang berlainan akan menimbulkan cahaya yang berlainan sedangkan campuran
cahaya dengan panjang-panjang ini akan menyusun cahaya putih. Cahaya putih
meliputi seluruh spektrum nampak yaitu terdapat pada 400-760 mm.
Spektrofotometer ini hanya terjadi bila adanya perpindahan elektron dari tingkat
energi yang rendah ke tingkat energi yang lebih tinggi. Perpindahan elektron
tidak diikuti oleh perubahan arah spin, hal ini dikenal dengan sebutan tereksitasi
singlet. Prinsip kerja spektrofotometri berdasarkan Hukum Lambert-Beer, bila
cahaya monokromatik melalui suatu media, maka sebagian cahaya disebut
diserap, sebagian dipantulkan, dan sebagian diteruskan (Sabrina 2012).
Proses mempertahankan kadar glukosa yang stabil di dalam darah
merupakan salah satu mekanisme hemeostatis dan juga menjadi salah satu
mekanisme di hepar, jaringan ekstrahepatik, serta beberapa hormon. Hormon yang
mengatur kadar glukosa darah ialah insulin dan glukagon. Insulin merupakan
suatu hormon anabolik yang merangsang sintesis komponen makromolekuler sel
dan mengakibatkan terjadinya pengimpanan glukosa. Glukagon merupakan suatu
katabolik yang membatasi sintesis makromolekuler dan menyebabkan terjadinya
pengeluaran glukosa yang disimpan (Wirahadikusumah 1985). Peningkatan
glukosa dalam sirkulasi mengakibatkan peningkatan konsentrasi glukosa dalam
sirkulasi mengakibatkan peningkatan sekresi insulin serta pengurangan glukagon
dan sebaliknya (Winarno 1984).
Dalam tubuh manusia, kadar glukosa darah normal adalah 70-90 mg/dL (1
dl=100 mL). Namun, kadar glukosa darah tersebut tergantung dengan waktu
setelah makan dalam satu jam pertama setelah makan, kadar gula darah meningkat
sekitar 130 mg/dl darah, lalu menurun setelah 2-3 jam berikutnya setelah glukosa
tersebut digunakan dalam berbagai jaringan. Sejumlah glukosa diubah menjadi
glikogen dan disimpan dalam hati dan otot. Bila glukosa diperlukan untuk energi
atau glikogen, kelebihan glukosa akan diubah menjadi lemak. Glikogen
merupakan sumber energi cadangan yang akan dikonversi kembali menjadi
glukosa pada saat dibutuhkan lebih banyak energi. Meskipun lemak simpanan
dapat juga menjadi sumber energi cadangan, lemak tidak pernah secara langsung
dikonversi menjadi glukosa. Fruktosa dan galaktosa lain yang dihasilkan dari
pemecahan karbohidrat, langsung diangkut ke hati yang mengkonversinya
menjadi glukosa (Suarsana 2010).
Diabetes melitus merupakan suatu keadaan yang disebabkan oleh gagalnya
pengaturan gula darah. Diabetes melitus merupakan penyakit kronik yang
disebabkan oleh ketidakmampuan organ pankreas untuk memproduksi hormon
insulin dalam jumlah yang cukup, tubuh tidak dapat menggunakan insulin yang
telah dihasilkan oleh pankreas secara efektif, ataupun dapat disebabkan oleh
gabungan dari kedua hal tersebut. Penderita diabetes melitus yang tidak terkontrol
akan terjadi peningkatan kadar glukosa darah yang disebut hiperglikemia.
Hiperglikemia yang berlangsung dalam waktu lama akan menyebabkan kerusakan
serius pada sistem tubuh, terutama pada saraf dan pembuluh darah (Dawn 2000).
Tipe diabetes melitus (DM) secara umum terbagi menjadi tiga jenis di
antaranya DM tipe 1, DM tipe 2, dan diabetes gestasional. DM tipe 1 disebabkan
oleh kurangnya produksi insulin oleh pankreas. DM tipe 2 disebabkan oleh
resistensi insulin sehingga penggunaan insulin oleh tubuh menjadi tidak efektif.
Diabetes gestasional merupakan hiperglikemia yang pertama kali ditemukan saat
kehamilan. Keadaan yang mana kadar glukosa darah yang lebih tinggi dari nilai
normal, namun belum cukup tinggi untuk didiagnosis sebgai diabetes melitus
disebut dengan pradiabetes. Toleransi glukosa terganggu (TGT) dan glukosa
darah puasa terganggu (GDPT) termasuk dalam keadaan pradiabetes. Keadaan
pradiabetes ini akan meningkatkan risiko seseorang untuk menderita DM tipe 2,
penyakit jantung atau stroke (Nogrady 1992). Tujuan dari percobaan ini adalah
mahasiswa mampu menentukan kadar gula pereduksi (glukosa) dalam darah
dengan metode spektofotometri, mampu melakukan pemisahan/isolasi suatu
makromolekul polisakarida dalam jaringan hewan, dan mampu mengamati
perbedaan hidrolisis glikogen oleh enzim dan oleh asam mineral.

METODE PRAKTIKUM

Tempat dan Waktu Praktikum


Percobaan dilakukan di laboratorium pendidikan Biokimia, Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor. Waktu
pelaksanaan praktikum pada hari Kamis, 19 Mei 2016, pukul 12.00-14.30 WIB.

Alat dan Bahan


Alat yang digunakan pada praktikum ialah gelas piala, pipet volumetrik,
pipet tetes, tabung reaksi, rak tabung reaksi, penangas air, stopwatch, kertas
saring, corong, penjepit tabung reaksi, tabung Folin Wu, dan labu Erlenmeyer.
Bahan-bahan yang digunakan ialah darah, akuades, Na-wolframat 10%, H 2SO4
0.67 N, kupritartrat, dan fosfomolibdat.

Prosedur Percobaan
Penentuan Kadar Glukosa dalam darah. Sebanyak 1 mL darah dipipet
ke dalam Erlenmeyer kecil. Selanjutnya, ditambahkan tetes demi tetes 7 mL
akuades, 1 mL Na-wolframat 10%, dan 1 mL H 2SO4 0.67 N. Kemudian, dicampur
baik-baik dan dibiarkan 10 menit dengan disaring menggunakan kertas saring.
Setelah itu, disiapkan 3 tabung Folin Wu dan diisi dengan campuran yang telah
ditentukan. Selanjutnya, ketiga tabung tersebut dipanaskan dalam air mendidih
selama 8 menit tepat. Kemudian, ketiga tabung tersebut didinginkan dan
diencerkan dengan 7 mL akuades. Setelah itu, setiap tabung ditambahkan 1 mL
fosfomolibdat dan dibaca intensitasnya pada panjang gelombang 660 nm.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Metode Folin-Wu dikenalkan pertama kali oleh Folin dan Wu pada tahun 1919
(Berkman 2002). Metode ini merupakan metode yang digunakan untuk membuat
filtrat darah bebas protein dengan pengendapan protein oleh pembentukan asam
tungstat. Endapan terjadi akibat adanya kombinasi anion asam dengan bentuk
kationik dari protein. Metode ini memiliki beberapa keuntungan, antara lain hanya
dibutuhkan dua pelarut, filtrat yang terbentuk lebih netral, dan proses filtrasi lebih
cepat (Suharso 2008).

Kupritartrat + glukosa Cu2O (endapan)

Cu2O (endapan) + fosfomolibdat oksida Mo (biru tua)

Gambar 1 Reaksi yang terjadi pada metode Follin Wu

Pada praktikum ini, 1 mL darah dipipet ke dalam erlenmeyer, kemudian


ditambahkan 7 tetes akuades, 1 mL Na-wolframat 10%, dan 1 mL H 2SO4 0,67 N
(tetes demi tetes). Penambahan akuades ditujukan untuk mengencerkan darah
sehingga albumin dalam darah larut dalam akuades. Albumin merupakan protein
yang dapat larut dalam air serta dapat terkoagulasi oleh panas. Albumin terdapat
dalam serum darah dan putih telur (Poedjiadi 1994). Penambahan Na-wolframat
bertujuan untuk mengendapkan albumin yang terlarut dalam air. H2SO4 berfungsi
sebagai katalisator untuk mempercepat reaksi pengendapan albumin oleh Na-
wolframat dan menciptakan suasana asam karena reaksi dengan fosfomolibdat
terjadi pada suasana asam.
Larutan yang telah dibuat didiamkan selama 10 menit agar terjadi endapan
albumin secara sempurna, sehingga ketika endapan tersebut dipisahkan dengan
kertas saring akan memisah dengan sempurna. Penambahan larutan kupritartrat
pada percobaan ini ditujukan untuk membentuk warna biru ketika ditambahkan
pereaksi fosfomolibdat, karena larutan ini mengandung asam laktat dan ion Cu 2+
(Uetake et al.2006).

Tabel 1 Penentuan kadar glukosa darah


Sampel A terukur A terkoreksi Kadar Glukosa Darah
(mg/dL)
Blanko 0.021 - 1.74
Standar 0.961 0.94 0.8
Sampel 1 0.111 0.09 9.24
Sampel 2 0.408 0.38 33.96
Contoh perhitungan:
A terkoreksi = A terukur – A blanko
= 0.111 – 0.021 = 0.09
A sampel
Kadar glukosa darah = [
A standar ]
x C standar x Faktor Pengenceran
= [ 0.111
0.961 ]
x 0.1 mg/mL x 8
=[ 0.1155 ] x 0.8 mg/mL
= 0.0924 mg/mL = 9.24 mg/dL
Ketiga tabung reaksi dipanaskan dengan air mendidih selama 8 menit
tepat. Pemanasan berfungsi menambah laju reaksi oleh kupritartrat. Spektroskopi
merupakan metode pengukuran yang didasarkan pada interaksi antara cahaya
dengan materi. Bila materi disinari kemungkinan cahaya akan diserap dan
dipancarkan kembali dengan panjang gelombang yang sama atau berbeda.
Spektroskopi sering digunakan untuk mengidentifikasi suatu unsur dan
senyawa, melalui pemancaran dan penyerapan sebuah spektrum. Suatu alat untuk
merekam spektrum disebut spektrometer. Penentuan struktur senyawa
mengunakan metode spektroskopi berdasarkan panjang gelombangnya. Perubahan
warna dan intensitas warnanya diamati dengan spektronik-20 pada panjang
gelombang 660 nm. Pengamatan dengan spektronik-20 menggunakan prinsip
hukum Lambert Beer. Faktor yang mempengaruhi adalah konsentrasi larutan dan
bentuk wadah. Bagian sinar yang diserap akan tergantung pada berapa banyak
molekul yang berinteraksi dengan sinar. Jika zat warna tersebut berupa larutan
pekat maka akan diperoleh absorbansi yang sangat tinggi karena ada banyak
molekul yang berinteraksi dengam sinar. Akan tetapi, dalam larutan yang sangat
encer, sangat sulit untuk melihat warnanya. Absorbansinya sangat rendah. Bentuk
wadah yang semakin panjang akan mempengaruhi panjang larutan sehingga sinar
akan lebih banyak diserap karena sinar berinteraksi dengan lebih banyak molekul
(Murray 2003).
Sampel darah yang digunakan pada percobaan (Tabel 1) ialah darah yang
berasal dari darah sapi. Kadar glukosa darah normal pada ternak ruminansia
bervariasi, yaitu antara 40-60 mg/dL dan 35-55 mg/dL. Berdasarkan hasil yang
diperoleh kadar glukosa darah pada sampel 1 adalah 18.5 mg/dL dan sampel 2
adalah 18.6 mg/dL. Menunjukkan kadar glukosa darah berada dalam kondisi
dibawah kadar glukosa normal. Hal ini kemungkinan saat pengambilan darah sapi
dalam kondisi sebelum memakan pakan sehingga belum mendapatkan glukosa
dari hasil pakannya. Skema pencernaan karbohidrat secara normal dapat dilihat
pada gambar 2.

Gambar 2 Skema pencernaan karbohidrat secara normal

Glukosa merupakan kelompok senyawa karbohidrat sederhana atau


monosakarida. Di alam, glukosa terdapat dalam buah-buahan dan madu lebah.
Glukosa berfungsi sebagai sumber energi untuk sel-sel otak, sel saraf, dan sel
darah merah. Darah manusia normal mengandung glukosa dalam jumlah atau
konsentrasi yang tetap, yaitu antara 70-100 mg tiap 100 mL darah. Glukosa darah
ini dapat bertambah setelah kita makan makanan sumber karbohidrat, namun
setelah kira-kira 2 jam setelah makan, jumlah darah akan kembali seperti semula.
Pada orang yang menderita diabetes melitus, jumlah glukosa darah lebih besar
dari 130 mg/100 mL darah. Agar dapat berfungsi secara optimal, tubuh
hendaknya dapat mempertahankan konsentrasi darah gula (dalam bentuk glukosa)
dalam batas-batas tertentu, yaitu 70-120 mg/mL dalam keadaan puasa. Bila gula
darah naik di atas 170 mg/100mL, gula akan dikeluarkan melalui urine.
Sebaliknya bila gula darah turun hingga 40-50 mg/mL, kita akan merasa gugup,
pusing, lemas dan lapar (Lestari et al. 2013).
Gula darah terlalu tinggi disebut hiperglikemia dan bila terlalu rendah
disebut hipoglikemia. Hiperglikemia dalam jangka panjang dapat menyebabkan
masalah-masalah kesehatan yang berkepanjangan pula yang berkaitan dengan
diabetes, termasuk kerusakan pada mata, ginjal, dan saraf (Rahmawati et al.
2009). Beberapa macam hormon terlibat dalam pengaturan darah ini, salah
satunya hormon insulin. Tingkat gula darah dalam tubuh diatur oleh pankreas
dengan cara memproduksi hormon insulin. Insulin bertanggung jawab untuk
mengontrol kadar gula dalam darah dan juga untuk memproses karbohidrat,
lemak, dan protein menjadi energi yang diperlukan tubuh manusia (Bawono
2008).
Diabetes terjadi jika tubuh tidak menghasilkan insulin yang cukup untuk
mempertahankan kadar gula darah yang normal atau jika sel tidak memberikan
respon yang tepat terhadap insulin. Diabetes tipe 1 adalah diabetes yang
bergantung pada insulin dimana tubuh kekurangan hormon insulin, dikenal
dengan istilah Insulin Dependent Diabetes Mellitus (IDDM). Hal ini disebabkan
hilangnya sel beta penghasil insulin pada pulau-pulau langerhans pankreas.
Diabetes tipe 1 banyak ditemukan pada balita, anak-anak, dan remaja (Munadi
dan Ardinata 2008). Sedangkan diabetes tipe 2 terjadi jika hormon insulin dalam
tubuh tidak dapat berfungsi dengan semestinya, dikenal dengan istilah Non-
Insulin Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM). Hal ini dikarenakan berbagai
kemungkinan seperti kecacatan dalam produksi insulin, resistensi terhadap insulin
atau berkurangnya respon sell dan jaringan tubuh terhadap insulin yang ditandai
dengan meningkatnya kadar insulin di dalam darah (Adnan et al. 2013). Kedua
jenis diabetes ini mengakibatkan terlalu banyaknya glukosa yang terdapat dalam
tubuh. Proses pencernaan karbohidrat pada kondisi terkena DM dapat dilihat pada
gambar 3.
Gambar 3 Skema perjalanan karbohidrat kondisi DM

Proses sintesis glikogen dari glukosa disebut glikogenesis, Secara garis


besar proses pembentukan glikogen sebagai berikut. Tahap pertama adalah
pembentukan glukosa-6-fosfat dari glukosa, dengan bantuan enzim glukokinase
dan mendapat tambahan energi dari ATP dan fosfat. Glukosa-6-fosfat dengan
enzim glukomutase menjadi glukosa- 1-fosfat. Glukosa-1-fosfat bereaksi dengan
UTP (Uridin Tri Phospat) dikatalisis oleh uridil transferase menghasilkan uridin
difosfat glukosa (UDP-glukosa) dan pirofosfat (PPi). Tahap terakhir terjadi
kondensasi antara UDP-glukosa dengan glukosa nomor satu dalam rantai glikogen
primer menghasilkan rantai glikogen baru dengan tambahan satu unit glukosa
(Hawab 2005).

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan
Penentuan kadar glukosa dalam darah dilakukan dengan menggunakan
metode spektrofotometri. Pengamatan dengan menggunakan spektronik-20
dengan panjang gelombang 660 nm dan menggunakan prinsip Hukum Lambert
Beer. Hasil pengamatan kadar glukosa dalam darah ayam adalah sampel 1 yaitu
18.5 mg/dL dan sampel 2 yaitu 18.6 mg/dL, sedangkan berdasarkan literatur
Kadar glukosa darah normal pada ternak ruminansia bervariasi, yaitu antara 40-60
mg/dL dan 35-55 mg/dL. Hal ini menunjukkan adanya penambahan glukosa
sebelum darah diambil untuk di uji kadarnya.

Saran
Sebelum praktikum dimulai hendaknya praktikan memperhatikan aturan-
aturan pemakaian alat-alat laboratorium agar tidak terjadi kesalahan yang fatal
sehingga dapat mempengaruhi hasil percobaan. Alat yang akan digunakan
hendaknya dicuci dan dibersihkan terlebih dahulu supaya kesterilan bahan yang
diamati dan diuji terjaga. Jumlah alat tiap kelompok hendaknya sama agar tidak
terjadi pergantian alat dengan kelompok lain sehingga dapat memperlambat
praktikum.
DAFTAR PUSTAKA

Adnan M, Mulyati T, Isworo J. 2013. Hubungan indeks massa tubuh dengan


kadar gula darah penderita diabetes mellitus tipe 2 rawat jalan di
rumah sakit tugurejo semarang. Jurnal Gizi Universitas
Muhammadiyah Semarang. 2 (1): 18-19.
Bawono M. 2008. Kontrol hormon insulin dan glukagon dalam perubahan
metabolisme selama latihan. Jurnal Pelangi Universitas Negeri
Surabaya. 2 (2): 2-4.
Berkman B. 2002. Dasar-Dasar Kimiawi dan Biologis Biokimia. Jakarta (ID):
EGC.
Dawn BM. 2000. Biokimia Kedokteran Dasar: Dasar-Dasar Kimiawi dan
Biologis Biokimia. Jakarta (ID): EGC.
Hawab H. 2005. Pengantar Biokimia. Malang (ID): Bayu Media.
Lestari D, Purwanto D, Kaligis S. 2013. Gambaran kadar glukosa darah puasa
pada mahasiswa angkatan 2011 fakultas kedokteran universitas
samratulangi dengan indeks massa tubuh 18,5- 22,9 kg/m2. Jurnal e-
Biomedik. 1 (2): 991-994.
Munadi, Ardinata D. 2008. Perubahan kadar glukosa darah penderita diabetes
mellitus tipe 2 yang terkontrol setelah mengonsumsi kurma. Majalah
Kedokteran Nusantara. 41 (1): 30.
Murray. 2003. Harper Biochemistry. Jakarta (ID): EGC.
Nogrady T. 1992. Kimia Medisinal Jilid ke-2. Bandung (ID): ITB Press.
Poedjiadi, A. 1994. Dasar-Dasar Biokimia. Jakarta (ID): UI Press.
Rahmawati, Setiarini A, Sudikno. 2009. Pengaruh status gizi terhadap kejadian
hiperglikemia pada pegawai negeri sipil: studi kasus kota depok tahun
2009. Jurnal Gizi Indonesia. 32 (1): 63-65.
Sabrina A. 2012. Perbandingan metode spektrofotometri UV-Vis dan KCKT
(Kromatografi Cair Kinerja Tinggi) pada analisis kadar asam benzoat
dan kafein dalam teh kemasan. [Skripsi]. Malang (ID): Universitas
Negeri Malang.
Suarsana IN. 2010. Sintesis glikogen hati dan otot pada tikus diabetes yang diberi
ekstrak tempe. Jurnal Veteriner. 11(3):190-195.
Suharso M. 2008. Enzim dalam Biokimia. Yogyakarta (ID): UGM Press.
Uetake K, Ishiwata, Abe T, Eguchi N, Tanaka Y. 2006. Hormonal and
metabolic relation to restraint and human handling in growing-
fattening steers. Jurnal Animal Science. 77 (3): 370-374.
Wirahadikusumah M. 1985. Biokomia: Metabolisme Energi, Karbohidrat, dan
Lipid. Bandung (ID): ITB Press.