Anda di halaman 1dari 8

INISIASI 2.

1
MANAJEMEN RISIKO
1. Pendahuluan
Risiko ada di mana-mana, bisa datang kapan saja, dan sulit dihindari. Jika risiko tersebut
menimpa suatu organisasi, maka organisasi tersebut bisa mengalami kerugian yang
signifikan. Dalam beberapa situasi, risiko tersebut bisa mengakibatkan kehancuran organisasi
tersebut. Karena itu risiko penting untuk dikelola.
Manajemen risiko bertujuan untuk mengelola risiko sehingga organisasi bisa bertahan,
atau barangkali mengoptimalkan risiko. Perusahaan seringkali secara sengaja mengambil
risiko tertentu, karena melihat potensi keuntungan dibalik risiko tersebut.
Pertanyaan yang sering muncul berkaitan dengan beragamnya risiko adalah bagaimana
mengelola risiko tersebut? Apakah risiko dikelola satu persatu atau secara serentak? Siapa
yang bertanggung jawab atas pengelolaan risiko, apakah setiap karyawan dan manajer
bertanggung jawab mengelola risiko masing-masing? Atau perlu ada staf atau manajer khusus
untuk menangani risiko?

a. Kompleksitas Risiko.
Semakin sederhana risiko, semakin mudah pengelolaannya. Setiap karyawan atau
manajer bertanggung jawab untuk mengelola risiko di unit kerja masing-masing. Mereka
harus memasukkan risiko yang dapat dihitung (calculated risk atau disebut juga expected
risk) ke dalam perencanaan.
Misalnya, manajer persediaan bahan baku perlu memperkirakan kerusakan atau
kehilangan bahan setiap periode. Risiko kehilangan atau kerugian tersebut dimasukkan dalam
rencana pembelian bahan baku, sistem pengawasan bahan baku, dan lainnya. Tentu saja
tindakan ini menimbulkan akibat berantai. Risiko kehilangan dan kerusakan menyebabkan
pembelian dan penggunaan bahan baku meningkat. Dampaknya berupa peningkatan biaya
bahan baku per unit produk. Tentu saja akibat berikutnya adalah kenaikan harga jual produk.

b. Kondisi Eksternal
Kompleksitas risiko sangat bergantung pada faktor eksternal perusahaan yang menjadi
peril atau penyebab risiko. Misalnya, risiko pasar semakin besar bila faktor-faktor ekonomi
berfluktuasi dengan besar. Misalnya, semakin besar fluktuasi harga minyak, gejolak politik,
pertumbuhan pendapatan nasional, inflasi, dan faktor fundamental lainnya, maka risiko pasar
semakin besar pula. Dalam kondisi seperti ini, perusahaan dapat menghitung expected risk.
Masalahnya, semakin besar gejolak fundamental cenderung memperbesar uncalculated atau
unexpected risk.
Risiko dengan komponen unexpected risky yang besar akan menyulitkan setiap staf atau
manajer untuk mengelola risiko secara individual. Kesulitan terjadi karena tidak semua staf
atau manajer memiliki keahlian yang mencukupi untuk mengidentifikasi dan mengelola risiko
tersebut. Oleh karena itu, pengelolaan unexpected risk kemudian diserahkan ke pihak lain
yang ditunjuk secara khusus.

c. Ketersediaan Produk Pengelolaan Risiko


Pada awalnya, asuransi merupakan satu-satunya produk yang berfungsi dalam
pengelolaan risiko. Itulah sebabnya setiap staf dan manajer perlu berurusan dengan asuransi
setiap menghadapi risiko, khususnya unexpected risk. Demikian juga bila perusahaan
menunjuk seseorang menjadi manajer risiko. Pekerjaan utama dia adalah mengidentifikasi
risiko, mengukurnya, dan menyeleksi produk asuransi yang cocok untuk mengelola risiko
tersebut.
Penerapan manajemen risiko di dalam industri perbankan sejak 9 Januari 2004 telah
diluncurkan Arsitekur Perbankan Indonesia (API). API menetapkan 6 pilar sebagai program
untuk menciptakan industri yang sehat.
1) Menciptakan Struktur Perbankan yang Sehat
2) Menciptakan Sistem Pengaturan yang Efektif
3) Melaksanakan Sistem Pengawasan Bank yang Independen
4) Menciptakan Industri Perbankan yang Kuat Dan Memiliki Daya Saing
5) Mewujudkan Infrastruktur yang Lengkap
6) Mewujudkan Pemberdayaan dan Perlindungan Konsumen

2. Pengertian Manajemen Risiko


Ada banyak definisi tentang manajemen risiko. Definisi yang disajikan dalam modul ini
hanyalah beberapa definisi yang saling melengkapi dan dibutuhkan untuk memahami apa
yang dimaksud dengan manajemen risiko.
(1) Redja, E George (2008:42) mendifinisikan risk management is a process that identifies
loss exposures faced by an organization and selects the most appropriate techniques for
treating such exposures.
(2) Bank Indonesia mendefinisikan manajemen risiko sebagai serangkaian prosedur dan
metodologi yang digunakan untuk mengidentifikasi, mengukur, memantau, dan
mengendalikan risiko yang timbul dari kegiatan usaha bank.
(3) Widigdo Sukarman mendefinisikan manajemen risiko sebagai keseluruhan sistem
pengelolaan dan pengendalian risiko yang dihadapi oleh bank yang terdiri dari
seperangkat alat, teknik, proses manajemen (termasuk kewenangan dan sistem dan
prosedur operasional) dan organisasi yang ditujukan untuk memelihara tingkat
profitabilitas dan tingkat kesehatan bank yang telah ditetapkan dalam corporate plan atau
rencana strategis perusaahaan lainnya sesuai dengan tingkat kesehatan perusaahaan yang
berlaku.
(4) William T. Thomhill mendefinisikan manajemen risiko sebagai sebuah disiplin
pengelolaan yang tujuannya adalah untuk memproteksi asset dan laba sebuah organisasi
dengan mengurangi potensi kerugian sebelum hal tersebut terjadi, dan pembiayaan
melalui asuransi atau cara lain atas kemungkinan rugi besar karena bencana alam,
keteledoran manusia, atau karena keputusan pengadilan. Dalam prakteknya, proses ini
mencakup langkah-langkah logis seperti pengidentifikasian risiko, pengukuran dan
penilaian atas ancaman (exposures) yang telah diidentifikasi, pengendalian ancaman
tersebut melalui eliminasi atau pengurangan; dan pembiayaan ancaman yang tersisa agar
apabila kerugian tetap terjadi, organiseisi dapat terus menjalankan usahanya tanpa
terganggu stabilitas keuangannya.

3. Tujuan Manajemen Risiko


Tujuan manajemen risiko menurut Redja, E George (2008:43) diklasifikasikan menjadi
dua, antara lain:
a. Pre-Loss Objectives
Tujuan yang ingin dicapai sebelum terjadi kerugian, meliputi ekonomi, pengurangan
kecemasan, dan memenuhi kewajiban hukum.
1) Tujuan Ekonomi
Tujuan ekonomi berarti bahwa perusahaan harus mempersiapkan potensi kerugian dengan
cara yang paling ekonomis. Persiapan ini melibatkan analisis biaya program keselamatan,

2|Page
premi asuransi yang dibayar, dan biaya yang berkaitan dengan teknik lain untuk
menangani kerugian.
2) Tujuan Mengurangi Kecemasan
Eksposur kerugian tertentu dapat menyebabkan kekhawatiran yang lebih besar dan
ketakutan untuk manajer risiko dan manajer perusahaan. Misalnya, ancaman gugatan
konsumen dari produk cacat .
3) Tujuan Memenuhi Kewajiban Hukum
Misalnya, peraturan pemerintah yang mewajibkan setiap perusahaan untuk menerapkan
standar upah minimum.

b. Post-Loss Objectives
Tujuan yang ingin dicapai setelah kerugian terjadi. Tujuan ini meliputi kelangsungan
hidup, keberlangsungan operasi, stabilitas pendapatan, pertumbuhan, dan tanggung jawab
sosial.
1) Kelangsungan Hidup
Kelangsungan hidup setelah kerugian terjadi diharapkan perusahaan masih dapat
melanjutkan kegiatan operasi.
2) Keberlangsungan Operasi
Untuk beberapa perusahaan, kemampuan untuk beroperasi setelah kerugian sangat
penting. Sebagai contoh, sebuah perusahaan yang melayaani konsumen harus terus
memberikan layanan. Bank, toko roti, susu, dan perusahaan kompetitif lainnya harus terus
beroperasi setelah kerugian. Jika tidak, bisnis akan bangkrut terdegradasi oleh pesaing.
3) Stabilitas Pendapatan
Laba bersih per lembar saham dapat dipertahankan jika perusahaan terus beroperasi.
Namun, sebuah perusahaan mungkin terjadi biaya tambahan yang cukup besar pada saat
perusahaan membuka cabang, dan pendapatan yang diharapkan akan diterima tidak dapat
dicapai.
4) Pertumbuhan Perusahaan.
Sebuah perusahaan dapat tumbuh dengan mengembangkan produk baru dan memperluas
pasar atau dengan mengakuisisi atau merger dengan perusahaan lain. Oleh karena itu
manajer risiko harus mempertimbangkan efek kerugian yang akan terjadi.
5) Tanggung Jawab Sosial
Tanggung jawab sosial adalah untuk meminimalkan efek kerugian yang akan dimemiliki
orang lain dan masyarakat. Sebuah kerugian yang parah dapat mempengaruhi karyawan,
pemasok, kreditur, dan masyarakat pada umumnya. Misalnya, kehilangan tanaman-
tanaman untuk memperluas pabrik di sebuah kota kecil dapat menyebabkan suhu udara
menjadi meningkat.

4. Manfaat Manajemen Risiko


Manfaat dari manajemen risiko akan dirasakan apabila didefinisikan dengan jelas tujuan
yang hendak dicapai dan disusun pedoman bagi penanggung jawab program dan evaluasi
hasilnya. Walaupun manajemen risiko merupakan disiplin ilmu yang sangat bersifat teknis
dan rumit, tetapi merumuskan tujuan tidak demikian. Ada yang mencantukan tujuan dalam
bentuk biaya. Memang biaya merupakan pertimbangan yang penting, tetapi terlalu
menekankan pada biaya, bisa menyebabkan penetapan program yang tidak memadai.
Program yang tidak memadai pada akhirnya akan lebih mahal dari program yang memadai,
karena penyediaan pengeluaran yang besar bagi penutupan kerugian yang datang secara
kebetulan.
Dengan diterapkannya manajemen risiko di suatu perusahaan ada tiga manfaat yang akan
diperoleh, yaitu:
a. Memberi sumbangan langsung pada laba perusahaan
Memberi sumbangan langsung pada laba perusahaan (atau bagi organisasi non laba
berupa efisiensi operasi) dengan menekan biaya dan sekaligus meningkatkan penghasilan.
Contoh: manajemen risiko dapat menurunkan biaya melalui pencegahan atau penurunan
kerugian yang tak terduga sebagai hasil dari upaya-upaya dengan biaya kecil tertentu, melalui
pengalihan kerugian serius yang potensial kepada pihak lain dengan biaya yang serendah
mungkin, dan melalui penanganan sendiri kerugian-kerugian kecil.

b. Memberi sumbangan tidak langsung pada laba perusahaan.


Memberi sumbangan tidak langsung pada laba perusahaan dengan cara
1) Jika perusahaan dapat berhasil menangani risiko mumi, maka ketenangan pikiran dan
kepercayaan yang ditimbulkannya memungkinkan manajer dapat memikirkan dan
melakukan risiko-risiko usaha yang lebih spekulatif. Contoh jika suatu perusahaan terus
khawatir terjadinya kebakaran atas pabriknya dan kecelakaan kerja atas karyawannya,
manajernya mungkin akan membatasi diri pada pasar yang ada saat ini saja. Jika terbebas
dari kekhawatiran itu, manajer akan memperluas pasaran ke luar negeri.
2) Dengan memberi peringatan kepada manajer puncak adanya aspek risiko murni dalam
usaha, manajemen risiko meningkatkan kualitas keputusan mengenai usaha itu. Contoh
suatu perusahaan yang sedang mempertimbangkan apakah menyewa atau membeli sebuah
gedung akan mengambil keputusan yang keliru, jika mengabaikan berbagai pengaruh
ekonomis dari kemungkinan kerusakan fisik karena kebakaran, gempa, dan sebagainya.
Jika suatu keputusan telah dibuat untuk melakukan suatu usaha yang berisiko,
penanganan aspek risiko murni yang sebaik-baiknya memungkinkan perusahaan
menjalankan usahanya lebih arif dan lebih efisien. Contoh: suatu perusahaan dapat
mengembangkan jenis-jenis produknya lebih agresif jika mendapat jaminan bahwa
perusahaan telah terlindungi terhadap kemungkinan tuntutan mengenai produknya.
Manajemen risiko dapat menekan fluktuasi dalam laba dan aliran kas, sehingga akan
membantu penyusunan rencana kerja dan anggaran perusahaan.
Kreditur, pelanggan, dan pemasok yang dapat menunjang laba perusahaan memilih
berhubungan dengan perusahaan yang mempunyai perlindungan yang cukup terhadap risiko-
risiko murni.

c. Menentukan kelangsungan hidup dan kegagalan perusahaan.


Beberapa risiko murni, seperti tuntutan liabilitas yang besar atau kehancuran fisik
fasilitas pabrik, dapat melumpuhkan suatu perusahaan; tan pa persiapan yang baik atas
peristiwa-peristiwa tersebut, perusahaan dapat bangkrut. Seandainya, manajemen risiko tidak
memberi sumbangan pada kesehatan ekonomis perusahaan dengan cara lainnya, kemanfaatan
ini saja sudah merupakan fungsi kritis dari manajemen perusahaan.

Manajemen Risiko Perusahaan


1. Pendahuluan
Istilah manajemen risiko perusahaan di beberapa litaratur kadang-kadang disebut
Enterprise Risk Management (ERM), Organization Risk Management (ORM), Integrated
Risk Management (IRM), atau Total Risk Management (TRM). Manajemen risiko perusahaan
adalah suatu sistem pengelolaan risiko yang dihadapi oleh perusahaan sccara komprehensif
untuk tujuan meningkatkan nilai perusahaan.
Bagan berikut menunjukkan manajemen risiko perusahaan (enterprise risk management)
terdiri dari dua elemen besar:
(1) Infrastruktur atau prasarana, yang terdiri dari prasarana lunak dan keras,
(2) Proses manajemen risiko.

4|Page
Kemudian manajemen risiko organisasi bertujuan membantu pencapaian tujuan
organisasi, dalam hal ini dirumuskan secara eksplisit menjadi memaksimumkan nilai
perusahaan.

INFRASTRUKTUR ATAU PRASARANA PROSES MANAJEMEN RISIKO

PERENCANAAN
Penetapan tujuan, misi
PRASARANA LUNAK
Penetpan target, penyusunan kebijakan, prosedur
BudayaRisiko
Dukungan Manajemen
PELAKSANAAN
Identifikasi dan Pengukuran risiko
Manajemen risiko: asuransi, diversifikasi, hedging,
PRASARANA KERAS penghindaran dan sebagainya
Teknologi Informasi
Prasarana Fisik Lainnya PENGENDALIAN
Evaluasi, pelaporan, komunikasi umpan balik.

MAKSIMASI NILAI PERUSAHAAN

Gambar 2.1 Manajemen Risiko Perusahaan

2. Elemen Manajemen Risiko Perusahaan


Misalkan kita ditugaskan untuk membuat dan memimpin departemen manejemen risiko
suatu perusahaan, bagaimana kita memulainya? Bagan di atas menunjukkan kerangka yang
bisa digunakan untuk memulai membangun departemen manajemen risiko. Pertama, kita
harus menyiapkan prasarana yang diperlukan untuk memulai pekerjaan manajemen risiko,
yang meliputi prasarana lunak (non-fisik) dan prasarana keras (fisik).
Salah satu hal yang penting dikerjakan untuk mempersiapkan manajemen risiko adalah
menyiapkan prasarana yang mendukung manajemen risiko, yang meliputi prasarana lunak
dan keras.
a. Prasarana Lunak
Ada beberapa isu yang berkaitan dengan penyiapan prasarana lunak untuk manajemen
risiko, yaitu: (1) Mengembangkan budaya sadar risiko untuk anggota organisasi, (2)
Dukungan manajemen.

b. Prasarana Keras
Di samping prasarana lunak, prasarana keras juga perlu disiapkan. Contoh prasarana
keras yang perlu disiapkan adalah ruangan perkantoran, komputer, dan prasarana fisik
lainnya. Prasarana fisik tersebut perlu dipersiapkan agar pekerjaan manajemen risiko berjalan
sebagaimana mestinya.

3. Penerapan Manajemen Risiko


Dalam menerapkan manajemen risiko secara efektif, baik untuk perusahaan secara
individual maupun untuk perusahaan secara konsolidasi dengan anak perusahaan, perusahaan
melakukan minimal mencakup empat pilar, yaitu:
(1) Melaksanakan tata kelola manajemen risiko perusahaan sesuai praktik terbaik.
(2) Menyediakan kerangka manajemen risiko yang memadai.
(3) Mengupayakan kecukupan proses identifikasi, pengukuran, pemantauan, dan
pengendalian risiko serta menyediakan sistem informasi manajemen risiko secara
memadai, dan menyediakan sumber daya manusia yang dibutuhkan baik secara kuantitas
maupun kualifikasi sesuai kebutuhan.
(4) Melaksanakan sistem pengendalian intern secara menyeluruh.

Prinsip tata kelola perusahaan adalah seperangkat ketentuan mengenai hubungan antara
Dewan Komisaris, Dewan Direksi, seluruh pihak yang memiliki kepentingan secara langsung
atau tidak langsung terhadap kegiatan usaha perusahaan (stakeholders) dan pemegang saham
perusahaan.
Tata kelola sistem manajemen risiko akan berjalan baik apabila perusahaan sudah
menerapkan batas risiko yang direncanakan diambil (risk appetite) dan toleransi risiko (risk
tolerance), dan menerapkan pengawasan aktif dari Dewan Komisaris, Dewan Direksi dan
manajemen senior lainnya.

a. Struktur Tata Kelola Perusahaan


Struktur tata kelola perusahaan di bank dapat bervariasi bergantung pada kebiasaan yang
berlaku, batasan hukum dan perkembangan sejarah, dan pengalaman tiap-tiap bank.
Meskipun tidak terdapat satu struktur yang ideal, terdapat isu-isu penting yang harus
diterapkan dalam rangka memastikan kecukupan checks and balances yang terbangun dalam
struktur, antara lain meliputi:
(1) Penetapan risk appetite dan toleransi risiko.
(2) Pengawasan aktif oleh Dewan Komisaris dan Direksi.
(3) Pengawasan oleh pihak yang tidak terlibat dalam menjalankan operasional bisnis.
(4) Pengawasan langsung terhadap setiap aktivitas bisnis yang dilaksanakan bank.
(5) Menyediakan fungsi manajemen risiko dan fungsi audit yang independen terhadap fungsi
bisnis.
(6) Melakukan proses 'fit and proper' terhadap personal kunci sesuai bidang pekerjaannya.
(7) Membuat laporan berkala mengenai pelaksanaan GCG.

b. Organisasi Manajemen Risiko


Organisasi manajemen risiko wajib dibentuk pada level direksi dan pada, level komisaris
yang disesuaikan dengan kompleksitas masing-masirg perusahaan.
1) Organisasi Manajemen Risiko di bawah Dewan Komisaris
2) Organisasi Manajemen Risiko di bawah Dewan Direksi

4. Hubungan Manajemen Risiko dengan Fungsi Lain


Hubungan antara manajemen risiko dengan fungsi-fungsi manajemen lainnya dapat
diklasifikasikan dengan dua cara, yaitu:
(1) Fungsi-fungsi yang langsung mengenali, menilai, dan menangani eksposur kerugian.
(2) Fungsi-fungsi yang membantu manajemen risiko dalam menangani risiko murni.
Berbagai bidang manajemen lain yang ikut menangani fungsi manajemen risiko termasuk
akuntansi, keuangan, pemasaran, personel, produksi, hukum, dan juga jasa pihak ketiga.

5. Proses Manajemen Risiko


Modul ini membicarakan manajemen risiko dalam konteks organisasi, yaitu bagaimana
suatu organisasi bisa mengelola risiko yang dihadapinya. Bagian berikut ini membicarakan
secara ringkas manajemen risiko. Manajemen risiko pada dasarnya dilakukan melalui proses-
proses berikut ini.
a. Identifikasi Risiko
Pengertian identifikasi risiko secara singkat adalah suatu proses yang dilakukan oleh
perusahaan secara sistematis dan terus-menerus dalam mengidentifikasi properti, liabilitas

6|Page
(liability), dan personnel exposures sebelum terjadinya peril. Jadi yang diidentifikasi adalah
peril yang dapat menimpa harta milik, personal perusahaan, serta kewajiban yang
menimbulkan kerugian.

Dalam hal ini terdapat tiga unsur penting yang perlu diketahui dalam proses identifikasi
risiko, yakni
(1) mengetahui keberadaan risiko,
(2) mengetahui penyebab timbulnya risiko, dan
(3) mengetahui metode yang digunakan untuk mengidentifikasi keberadaan dan penyebab
risiko.

b. Evaluasi dan Pengukuran Risiko


Pengukuran risiko digunakan untuk mengukur eksposur risiko perusahaan sebagai acuan
untuk memutuskan apakah perlu dilakukan proses pengendalian. Sesudah manajer risiko
mengidentifikasikan berbagai jenis risiko yang dihadapi perusahaan, maka selanjutnya risiko
itu harus diukur. Perlunya diukur adalah untuk menentukan relatif pentingnya dan memproleh
informasi yang akan menolong untuk menetapkan kombinasi peralatan manajemen risiko
yang cocok untuk menanganinya.
Informasi yang diperlukan berkenaan dengan dua dimensi risiko yang perlu diukur, yaitu:
(1) Frekuensi atau jumlah kerugian yang akan terjadi.
(2) Keparahan dari kerugian itu.

c. Pengelolaan Risiko
Setelah analisis dan evaluasi risiko, langfcah b&ikutnya adalah mengelola risiko. Risiko
harus dikelola. Jika organisasi gagal mengelola risiko, maka konsekuensi yang diterima bisa
cukup serius, misal kerugian yang besar. Risiko bisa dikelola dengan berbagai cara, seperti
penghindaran, ditahan (retention), diversifikasi, atau ditransfer ke pihak lainnya. Erat
kaitannya dengan manajemen risiko adalah pengendalian risiko (risk control), dan pendanaan
risiko (risk financing).
1) Penghindaran Risiko (Risk Avoidance)
Risk avoidance adalah teknik mengelola risiko dengan cara menghidari risiko. Cara ini
paling mudah dan aman pada saat perusahaan menghadapi risiko, maka risiko tersebut
dihindari. Namun, hal tersebut bisa dilakukan jika dengan menghidari risiko tersebut tidak
ada pengaruh negatif terhadap pencapaian tujuan perusahaan. Misalkan saja perusahaan
mempunyai dua pilihan untuk mencari gudang, satu di daerah rawan banjir, yang lainnya
di daerah aman banjir. Jika segala sesuatunya sama (misal harga sewanya sama),
perusahaan seharusnya memilih gudang yang di daerah aman banjir.
2) Penahan Risiko (Risk Retention).
Risk retention adalah upaya perusahaan dalam menghadapi risiko, dimana risiko tersebut
dihadapi sendiri. Jika risiko benar-benar terjadi, perusahaan harus menyediakan dana
untuk menanggung risiko tersebut. Sebagai contoh, seseorang yang memiliki kendaraan
roda empat, jelas mempunyai risiko kehilangan, risiko menabrak trotoar, atau spion ada
yang mencuri. Apabila salah satu risiko benar-benar terjadi, maka ia harus menanggung
sendiri risiko tersebut.
3) Diversifikasi.
Diversifikasi berarti menyebar eksposur yang kita miliki sehingga tidak terkonsentrasi
pada satu atau dua eksposur saja. Sebagai contoh, kita barangkali akan memiliki aset tidak
hanya satu, tetapi pada beberapa aset, misal saham A, saham B, obligasi C, properti, dan
sebagainya. Jika terjadi kerugian pada satu aset, kerugian tersebut diharapkan bisa
dikompensasi oleh keuntungan dari aset lainnya.
4) Pengendalian Risiko (Risk Control).
Untuk risiko yang tidak bisa dihindari, organisasi perlu melakukan pengendalian risiko.
Pengendalian risiko dilakukan untuk mencegah atau menurunkan probabilitas terjadinya
risiko atau kejadian yang tidak kita inginkan. Dengan menggunakan dua dimensi yaitu
probabilitas dan severity. Pengendalian risiko bertujuan untuk mengurangi probabilitas
munculnya kejadian, mengurangi tingkat keseriusan (severity), atau keduanya.
5) Pengalihan Risiko (Risk Transfer)
Jika kita tidak ingin menanggung risiko tertentu, kita bisa mengalihkan risiko tersebut ke
pihak lain yang lebih mampu menghadapi risiko tersebut. Pihak lain tersebut biasanya
mempunyai kemampuan yang lebih baik untuk mengendalikan risiko, baik karena skala
ekonomi yang lebih baik sehingga bisa mendiversifikasikan risiko lebih baik, atau karena
mempunyai keahlian untuk melakukan manajemen risiko lebih baik.
Risk transfer bisa dilakukan melalui beberapa cara:
(a) Asuransi
(b) Hedging
(c) Incorporated

8|Page