Anda di halaman 1dari 9

PIKA

Karya : Sri Ramadayanti


TAMPAK TEMPAT TIDUR BESERTA BANTAL DAN GULING. POHON GUNDUL DI
ATASNYA TEGAK BERDIRI. SISA-SISA BATANG POHON YANG DITEBANG
SERTA DAUN DAUN KERING BERSERAKAN DILANTAI YANG DIPENUHI TANAH.

SUARA ANGIN MALAM SERTA SUARA HEWAN LIAR MENGHIASI PANGGUNG


YANG TAMPAK SEPERTI SUASANA HUTAN KETIKA TENGAH MALAM.

SEORANG PRIA TERTIDUR DENGAN GULING YANG DIPELUKNYA.


MENDENGKUR, LALU TERKADANG MENGGARUK KAKINYA ATAU
TANGANNYA YANG GATAL.

Hahhhhh!

BANGKIT DARI TIDURNYA LALU DUDUK SAMBIL MELEMPAR GULING YANG


DIPELUKNYA.

Nyamuk sialan. Hehhh apa kau tak bosan terus menggangguku? Sudah lama aku disini tapi
kita tak pernah berkenalan.

BERDIRI DARI DUDUKNYA MENATAP SEKITAR KEMUDIAN BERTERIAK.

Dimana?

TERTAWA TERBAHAK-BAHAK LALU SEKETIKA TERDIAM SEPERTI


MENDENGAR SEBUAH SUARA.

Sstttt. Dimana?

BERGERAK KE SISI KIRI KE SISI KANAN LALU KE TENGAH SAMBIL


MENUNJUK.

Oh itu.

MENYODORKAN TANGANNYA UNTUK BERKENALAN.

Perkenalkan namaku Pika. Siapa nama kalian?

PRIA ITU DIAM MENDENGARKAN SUARA YANG TIDAK DIDENGAR SIAPA PUN.

Kalian tak tahu nama kalian?

KEMBALI MENDENGARKAN.

Aku tahu kalian dari spesies mana yang kutanya nama kalian siapa?

MASIH MENDENGARKAN.

Dasar nyamuk berkenalan pun susah.

MENGGARUK KEPALANYA YANG GATAL LALU MELANJUTKAN TIDURNYA.


Awas kalian kalau menggigitku lagi.

MENGAMBIL GULING YANG TADI DILEMPARNYA LALU MELANJUTKAN


TIDURNYA. LALU AROMA TAK SEDAP MEMASUKI INDRA PENCIUMANNYA
DAN BERTERIAK.

Bau.

BERDIRI MENCARI-CARI ASAL BAU.

Sampah. Sampah. Sampah. Dari mana asal bau sampah ini? Ini sampah manusia atau sampah
masyarakat?

TERTAWA TERBAHAK-BAHAK.

Sampah manusia? Sampah masyarakat?

KEMBALI TERTAWA.

Sampah itu tidak ada yang harum, semua sampah itu menjijikkan. Mau sampah manusia atau
sampah masyarakat tetap saja bau tidak ada harum-harumnya sama sekali. Hei nyamuk, tahu
apa perbedaan sampah manusia dengan sampah masyarakat? Sampah manusia dibuang di
tempat-tempat tertentu. Sampah masyarakat tidak dibuang tapi ada dimana-dimana. Disini,
disana, disitu, di kota ini, di kota itu, di pulau ini, di pulau itu, di negara ini, di negara itu, di
dunia ini, dimana-dimana. Itulah mengapa sampah masyarakat selalu lebih hina dibandingkan
sampah manusia.

TERDUDUK DI LANTAI YANG DIPENUHI TANAH DAN DAUN-DAUN KERING.


MENUNDUKKAN KEPALA DIANTARA LUTUT LALU MENDONGAK SECARA
PERLAHAN MENATAP SEKITAR. BERJALAN TAK TENTU ARAH.

Dilahirkan sebagai seorang pria dengan tamatan S.Hut, Sarjana Kehutanan. Bekerja disebuah
NGO lingkungan, Non Government Organization. Orang-orang acap kali berpikir dari
namanya NGO Non Government Organization adalah pekerjaan yang keren. Tapi ketika
kukatakan dalam versi Indonesianya LSM mereka-mereka seperti tersadar dari kebodohan
mereka sendiri. Itulah negeri ini, bahasa luar, budaya luar, semua yang tentang luar akan
selalu terlihat keren. Yang salah siapa? Apakah orang-orang Inggris atau orang-orang luar
sana? Bukan, yang salah itu kita. Para orang tua yang mendidik anaknya untuk mencintai
budaya luar dibanding budayanya sendiri. Setiap hari pekerjaanku pasti semua yang
berhubungan dengan lingkungan. Orang-orang mengataiku sudah sepatutnya aku mencintai
lingkungan karena aku kuliah dan bekerja berhubungan dengan lingkungan. Mereka-mereka
menyuruh untuk merawat negeri ini. Lalu mereka? Hanya menasehati, menyuruh, berkoar-
koar di depan media, lalu foto mereka yang sedang berkoar-koar diambil untuk ditempel di
surat kabar atau media lainnya. Tidak melakukan apapun hanya duduk dibalik singgasananya
sambil menandatangani apa-apa yang perlu ia goreskan dengan penanya. Menanti kucuran
uang yang terus mengalir sesekali menggunakan uang itu untuk kepentingan pribadi. Toh
tidak ada yang tahu kan. Hanya Tuhan dan dirinya.

BERHENTI TEPAT DI TENGAH MENUNJUK KE DEPAN.


Hei nyamuk, kau dengar yang sebelumnya? Itu, ya yang tadi kubicarakan adalah sampah
masyarakat dengan label kemasan yang cantik, kalau mau dengan label kemasan yang jelek
juga ada. Perampok, pelaku begal, gelandangan, tukang minta-minta itu yang jelek. Nah
bagaimana dengan dirimu? Kalian memang membuang kotoran kalian di tempat-tempat
tertentu tapi bukan di tempat yang semestinya. Mereka-mereka menyediakan tong-tong besar
untuk menampung sampah yang kalian hasilkan. Apa tong-tong itu tidak muat menampung
sampah kalian? Kurang besar atau kurang banyak? Makanya berhenti menghasilkan sampah.
Itu pun bagus kalau kalian membuang sampah di tong-tong itu, tapi spesies kalian banyak
yang membuang sampah sesuka hati dimana kalian suka disitu kalian buang. Sungguh ironis
sekali spesies kalian. Sampah masyarakat menyediakan tong-tong besar untuk sampah
manusia, tong-tong besar tidak pernah cukup menampung sampah manusia, sampah manusia
pun juga menebar kotorannya di tempat yang ia mau. Lalu siapa yang salah sampah manusia
atau sampah masyarakat? Nyamuk, kau tahu siapa yang salah? Sampah manusia atau sampah
masyarakat?

MENDENGAR SUARA YANG TIDAK DIDENGAR OLEH ORANG LAIN.

Benar juga mana mungkin kau tahu, kau saja salah satu dari mereka.

KEMBALI KE TEMPAT TIDUR. DUDUK LALU MENCARI SESUATU DI KOLONG


TEMPAT TIDURNYA.

Dimana dia? Seingatku tadi aku menyimpanya disini. Siapa yang mengambilnya? Disini
tidak ada siapa pun hanya aku, nyamuk, lalu..... lalu..... lalu..... lalu pohon ini.

NAIK KE ATAS TEMPAT TIDURNYA LALU MEMEGANG BATANG POHON YANG


GUNDUL.

Apa kau yang sudah meminumnya?

TERDIAM UNTUK MENDENGARKAN.

Jika bukan dirimu lalu siapa yang meminumnya, tidak mungkin nyamuk yang meminumnya.
Dia dari tadi berbicara denganku. Lalu kau, pasti butuh air kan untuk menumbuhkan kembali
daun-daunmu itu. Ya aku memang kasihan denganmu tapi tidak mungkin kan aku membasahi
kerongkongaanku hanya dengan ludahku. Ludah? Eh ingin rasanya kuludahi wajah mereka.
Mereka yang menebang kawananmu dengan brutal. Dimana mereka?

SUARA POHONG-POHON YANG DITEBANG DENGAN MESIN-MESIN YANG


MEMEKAKKAN TELINGA. PRIA ITU TERDUDUK DI ATAS TEMPAT TIDURNYA
SAMBIL MENUTUP TELINGANYA RAPAT-RAPAT.

Berhenti, berhenti. Hentikan mesin-mesin itu. Aku tak kuat. Nyamuk tolonglah aku. Nyamuk
ayo tolong aku. Dimana kau? Nyamuk, dimana kau? Tolong aku.

TURUN DAR TEMPAT TIDURNYA. BERLARI KESANA KEMARI. SUARA POHON


YANG DITEBANG SEMAKIN BESAR HINGGA TERIAKAN YANG PANJANG
MENGHENTIKAN SUARA MESIN-MESIN ITU.
Tolong, tolong, tolong hentikan suara mesin sialan itu. Siapa yang berani melantunkan musik
kematian disini? Siapa? Tunjukkan wajahmu di depanku. Siapa? Siapa? Siapa? Nyamuk?
Dimana dia? Dimana nyamuk yang tadi berbicara denganku? Dimana?

BERPIKIR SEJENAK DAN TERSADAR.

Nyamuk, nyamuk, nyamuk sialan itu yang sudah melantunkan musik kematian. Dimana dia.
Kalau aku dapat, ia akan habis ditanganku. Akan kukirim dia ke neraka bersama sampah-
sampah masyarakat. Ya sampah masyarakat yang telah tega menebang pohon-pohon di
hutan. Aku masih ingat ketika sampah-sampah itu pernah berkata di pinggiran hutan dengan
para pekerja yang megoperasikan mesin-mesin penghancur pohon.

“Ingat ya yang saya bilang tadi, tebang pohon sesuai syarat dari atas.”
“Iya Pak.”
“Jangan lupa tanam 20 pohon sebagai gantinya untuk satu pohon yang ditebang ya.”
“Siap Pak.”

Ya begitulah dialog mereka. Lalu ketika yang kulihat selanjutnya tidak sesuai ekspektasi.
Para pekerja tidak melakukan instruksi dari atasannya.

“Heh Jon, mana bibit pohonnya?”


“Gak usahlah, gak tahu juga kok si Bos.”
“Eh kau ya yang tanggung nanti kalau kena marah.”
“Sip tenang aja.”

Bekerja sebagai NGO lingkungan membuatku acap kali bertemu denga para pekerja yang
mengoperasikan mesin penebang pohon. Dialog-dialog seperti itu sering kudengar, pernah
satu ketika aku menasehati mereka.

“Bang bibit pohonnya mana biar aku bantu tanam.”


“Gak ada dek.”
“Kok gak da bang?”
“Iya malas belinya dek.”
“Jangan malas lah Bang, kan abang digaji. Nanti makan gaji buta dong,” selorohku.
“Halah dek-dek gak usahlah urusin urusan orang.”
“Bukan gitu bang biar bumi kita tetap terawat kan untungnya untuk kita juga.”
“Mentang-mentang anak NGO lingkungan.”

Dialog-dialog seperti itu ada di kotaku, lalu dengan pasti juga akan ada di kota-kota lain
bahkan belahan dunia lain. Itu saja sudah menjadi masalah yang besar lalu bagaimana dengan
kebakaran hutan yang bahkan melenyapkan seisi hutan. Semuanya tanpa terkecuali. Metode
peladangan menjadi salah satu penyebab utama kebakaran hutan itu yang dikatakan orang
awam. Nyatanya hutan telah dimiliki perusahaan asing untuk mereka kuasai. Membakar satu-
satunya cara untuk membersihkan hutan beserta isinya. Masalah ini harusnya masuk dalam
kasus tindak pidana. Tapi uang akan selalu menang di atas segalanya. Hukum pun kalah
dengan uang. Kasus ini dilaporkan tapi berhenti begitu saja tanpa penyelidikan lebih lanjut.
Aku jadi berpikir mana yang lebih keji? Penebang pohon atau polisi?

NAIK KE ATAS TEMPAT TIDUR.


Hei kau, bagaimana rasanya mendengar lantunan musik kematian tadi? Seperti mengingat
sesuatu pada teman-temanmu yang telah tiada? Lihatlah teman-temanmu tergolek di atas
tanah ini tapi mereka tidak hidup lagi. Lagi pula untuk apa hidup jika seperti dirimu hanya
sebatang kara tanpa daun yang menemani? Hei aku disini cuma sebentar jadi jangan berharap
aku bisa menjadi temanmu. Ayo jujur saja kau kan yang sudah mengambil airku? Eh aku ini
sudah sangat haus ayo katakan dimana kau sembunyikan airku?

MENDENGAR.

Sungai? Ya di sungai banyak air tapi aku mau airku. Dimana kau sembunyikan airku?

MENDENGAR.

Sungai, sungai, dan sungai.

MENDENGAR LALU BERTERIAK FRUSTASI.

Di sungai banyak air tapi.....

TERDIAM DAN TURUN DARI TEMPAT TIDUR.

Sungai, sungai yang mana? Ya memang ada banyak sungai tapi sungai yang mana? Tak ada
sungai yang bisa kupercayai sebagai sungai saat ini. Semua sungai telah berubah menjadi
kumpulan air yang penuh dengan sampah manusia bahkan kotoran dari perusahaan asing
yang dengan berani mengotori sungai kita. Limbah pertambangan yang dibuang di sungai
kita dari mereka-mereka yang asing di negeri kita. Apakah tindakan ini dibenarkan?
Tindakan ini tidak dibenarkan tapi meski tidak dibenarkan apa ada pihak berwenang yang
dengan berani mengusut masalah ini secara transparan. Lagi-lagi uang yang menjadi tiang
utama untuk membungkam mulut-mulut yang mungkin akan berkoar. Sungai sekarang
warnanya tidak seperti dulu, yang sekarang begitu gelap entah itu lumpur atau tumpukan
sampah yang telah memendam di dalam sungai. Warna yang berubah bukan menjadi masalah
yang begitu serius karena yang lebih penting adalah ada kehidupan dari makhluk hidup lain
di dalamnya. Ikan, jika kematian ikan-ikan di sungai yang diakibatkan limbah-limbah
pertambangan serta sampah-sampah yang memenuhi sungai tidak lebih penting dari berita-
berita sensasi yang diciptakan badut-badut negeri ini maka negeri ini sudahlah salah dalam
berpikir. Itupun masih belum peduli hingga ketika nyamuk-nyamuk menggunakan airnya
untuk kehidupan mereka dan semua terasa begitu nyata, kekejaman orang-orang asing di
negeri ini baru nyamuk-nyamuk itu berkoar-koar, melakukan demo pada sampah-sampah
masyarakat berharap sungai kita kembali seperti sedia kala. Sampah-sampah masyarakat
tidak akan pernah menanggapinya karena suapan ekonomi telah menggembok mulut mereka.
Jadi ketika sungai sudah tidak bisa digunakan dimana aku bisa menemukan airku? Dimana
aku bisa membasahi kerongkonganku?

DUDUK DI ATAS BATANG POHON YANG TERGOLEK.

Aku butuh air bukan saja untuk membasahi kerongkonganku tapi untuk kerongkongan-
kerongkongan lainnya. Pohon itu juga butuh air, flora dan fauna dunia ini butuh air, dan yang
utama manusia atau nyamuk-nyamuk sepertiku butuh air untuk bertahan hidup. Jika sumber
air telah rusak maka kehidupan pun akan rusak nantinya.
KEMBALI TIDUR DI TEMPAT TIDURNYA. TIDUR TERLELAP HINGGA TIBA-TIBA
PRIA ITU TERBATUK DAN BANGUN DARI TIDURNYA. DUDUK SAMBIL
MENATAP SEKITAR.

Asap, ini asap kebakaran hutan atau asap kendaraan? Mau asap kebakaran hutan atau asap
kendaraan tidak ada yang baik untuk kesehatan.

MENCARI SESUATU DI KOLONG TEMPAT TIDUR. MENGAMBIL MASKER YANG


TERGELETAK.

Ini, benda ini pernah kubagi-bagikan pada pengendara dan pejalan kaki yang melintas di jalan
utama kota ini. Membagikannya atas dasar rasa peduli akan sesama. Memakai benda ini pun
nyatanya belum juga membuat kita aman dari asap yang menyelimuti kota ini, negeri ini.
Mataku, terasa pedih bukan hanya karena asap yang mengganggu penglihatanku tapi juga
dari sampah-sampah masyarakat yang ikut merasa begitu peduli tapi nyatanya mereka tak
peduli. Jika mereka peduli lalu mengapa mereka perbolehkan orang-orang asing itu
mendirikan perusahaan mereka disini lalu membeli hutan kita dan kemudian membakarnya
menjadi jalan yang cepat untuk membinasakan hutan beserta seluruh isinya. Tapi nyamuk-
nyamuk tak pernah sadar bahwa mereka dibodohi oleh sampah-sampah itu. Bumi ini seperti
akan dilanda kehancuran dimulai dari tempat kita berpijak beralih ke aliran kehidupan yang
sangat kita butuhkan hingga pasokan udara yang kita hirup. Dimana lagi tempat kita
berpulang jika bumi ini saja sudah akan rusak.

“Berenang di tepi pantai, banyak minyak, sampah dan kotoran


Aku nyebur menerjang ombak, bikin lengket badan dan rambut
Lepas kali tepi sungai, airnya coklat dan berbusa
Nggak ada ikan yang nyangkut, bikin gatel kulit dan bau
Lautku nggak biru nggak biru lagi
Sungaiku nggak jernih nggak jernih lagi
Alamku nggak bagus nggak bagus lagi
Alamku nggak perawan nggak perawan lagi

Lereng dan pegunungan, penuh lapangan golf dan villa


Nggak ada yang nahan air, bikin banjir kota-kota
Lihat hutan dari pesawat, mana solusi Indonesia?
Imagiku hutan rimba yang ada botak dan tandus
Gunungku nggak hijau nggak hijau lagi
Hutanku nggak lebat nggak lebat lagi
Alamku nggak bagus nggak bagus lagi
Alamku nggak perawan nggak perawan lagi.”

Nggak perawan lagi, ya lagu Slank tadi menjelaskan bahwa alam kita sudah tidak perawan
lagi. Siapa tersangka utama dari tidak perawannya alam kita? Siapa? Tadi aku baru saja
berkenalan dengan nyamuk, dia adalah salah satu yang menghasilkan sampah manusia. Ia
menghasilkan setidaknya satu bungkus plastik besar sampah dalam tiga hari, melakukan
kegiatan ilegal, melakukan tindakan yang benar menurutnya tapi salah di mata kebenaran,
melakukan apapun demi uang tanpa tahu apa baik buruknya, melakukan apapun agar ia
sejahtera tapi ketika dirasa tidak sehati maka ia akan memberontak pada sampah-sampah
masyarakat. Nyamuk itulah tersangka utama dari tidak perawannya alam kita. Ia sangat kecil
dan tidak berdaya tapi dia begitu lincah. Memerlukan kegesitan untuk dapat menepuknya. Ya
manusia sangat kecil dan tidak berdaya tapi begitu lincah untuk memanfaatkan uang dan
berkilah dari hukum. Tapi sifat serakah selalu ada pada makhluk hidup. Nyamuk akan terus
menghisap darah mangsanya tanpa ingin menyudahinya lalu manusia akan terus melakukan
apapun untuk terus menghasilkan uang dan tanpa mereka tahu sifat serakah itu tidak pernah
membawa keberuntungan. Nyamuk akan mati dalam satu kali tepukan karena ia tidak
sanggup untuk membawa tubuhnya terbang menghindar. Lalu manusia, mereka akan terjebak
dalam situasi tidak bisa kembali ke masa lalu dimana semuanya belum menjdi rumit. Yang
ada hanya penyesalan. Ketika alam, lingkungan ini bukan lagi sahabat kita. Sudahlah biarkan
aku tidur sebentar semoga tidak ada lagi yang menggangguku.

TIDUR DI TEMPAT TIDURNYA. TIDAK LAMA SETELAH TERTIDUR KEMBALI


TERBANGUN MENDENGAR SUARA TEMBAKAN YANG MEMEKAKKAN
TELINGA. BERLARI KESANA KEMARI SEPERTI KERA. MEMANJAT POHON
GUNDUL YANG BERADA DI DEKAT TEMPAT TIDURNYA. BERTINGKAH SEPERTI
KERA.

Siapa yang berani melepaskan pelurunya disini? Apalagi yang bisa didapatkan dari hutan
yang telah mati seperti ini? Apa lagi yang mau kalian cari? Tidak ada lagi pohon yang bisa
ditebang? Apa kalian juga akan menebang pohon gundul ini? Apa ingin mencari sumber air
yang baru? Air pun juga tidak ada. Apa? Apa lagi yang kalian inginkan? Tolong hentikan
keganasan kalian. Aku ingin tidur nyaman di tempat tidurku. Jika di kota atau pun desa aku
sudah tidak bisa merasakan kenyamanan maka izinkan aku merasakan kenyamanan di hutan
ini. Apa tidak boleh? Boleh atau tidak, hutan adalah milik bersama jadi aku tak peduli.
Tolong pergilah biarkan aku tidur.

KEMBALI TERDENGAR SUARA TEMBAKAN. PRIA ITU TIARAP DI BALIK


BATANG-BATANG POHON YANG BERSERAKAN DI TANAH.

Apa yang kalian cari? Apa kalian mencari Pika? Pika? Ya Pika, apa kalian ingin mencarinya
atau membunuhnya?

BANGUN DARI TIARAPNYA.

Pika salah satu hewan yang dilindungi negeri ini. Nama lainnya Nasalis Larvatus, orang-
orang memanggilnya Bekantan. Ya jika kita melakukan pencarian di internet maka ia salah
satu hewan yang dilindungi. Tapi apakah ia sudah dilindungi? Setiap tahun aku pasti
mendengar bahwa bekantan mati terbunuh. Lalu apakah ia sudah dilindungi? Orang-orang
berpikir mungkin ia dilindungi tapi kenyataannya ia sama sekali tidak dilindungi. Jika
dilindungi mengapa ia mati terbunuh oleh kebengisan manusia? Dimana tindak nyata
pemerintah dalam melindungi hewan yang disebut sebagai Kera Belanda ini? Dimana orang-
orang yang bertugas menjaganya? Orang-orang itu juga akan tunduk pada landasan ekonomi.
Orang-orang asing akan menyuguhkan kalian dengan uang-uang yang begitu banyak. Ya
semua akan tunduk pada uang. Orang-orang luar berbondong-bondong ingin melindunginya
tapi kita sebagai pemiliknya malah acuh padanya. Apa yang Pika lakukan hingga dengan tega
nyamuk-nyamuk, manusia-manusia laknat itu berani menembakinya dengan brutal. Seolah-
olah ia adalah santapan untuk peluru kalian. Apa yang Pika lakukan hingga dengan bengis
kalian membakar rumahnya? Terpaksa ia pergi dari rumahnya sendiri lalu ketika tak sanggup
maka mereka akan mati terpanggang di rumahnya sendiri. Kalian-kalian protes dengan
kedatangan Pika ke permukiman kalian, mengadu pada sampah-sampah masyarakat bahwa ia
menjadi ancaman bagi kalian. Padahal ancaman yang kalian katakan adalah ancaman yang
kalian ciptakan sendiri. Kalian memperluas ladang-ladang kalian mencapai area hutan.
Membuat Pika-Pika terancam. Kalian menebang pohon-pohon yang daunnya menjadi sumber
kehidupan mereka hingga kalian membakar hutan yang menjadi rumah mereka. Jadi jika
hutan telah binasa, dimana Pika tinngal? Lalu mereka pindah menuju permukiman kalian dan
kalian mengatakan ia mengacam kalian. Sungguh lucu kalian merasa terancam padahal kalian
sendiri yang menciptakan ancaman itu. Apa yang Pika lakukan? Apa? Aku tanya sekali lagi
apa yang telah dilakukan bekantan tak bersalah itu pada kalian apa? Tak ada yang bisa
menjawab karena bekantan itu tak pernah melakukan apa pun pada kalian. Hanya demi uang,
demi alasan ekonomi kalian menembakinya. Menembakinya di perutnya, di kakinya, di
kepalanya, dimana saja. Kalian terus menembakinya hingga kalian puas. Kalian puas dan
semua habis.

SUARA SATU TEMBAKAN DAN PRIA ITU TERKULAI DI TANAH DENGAN PERUT
YANG MENGELUARKAN DARAH.

Aku adalah orang yang telah merusak alamku, aku adalah musuh terbesar dari lingkunganku.
Aku Pika.

SELESAI