Anda di halaman 1dari 53

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI............................................................................................................i
DAFTAR TABEL.................................................................................................iii
DAFTAR GAMBAR.............................................................................................iv
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................1
1.1 Latar belakang.......................................................................................1
1.2 Identifikasi Masalah...............................................................................7
1.3 Pembatasan Masalah..............................................................................8
1.4 Rumusan masalah..................................................................................8
1.5 Tujuan....................................................................................................9
1.6 Manfaat..................................................................................................9
BAB II KAJIAN TEORI.....................................................................................11
2.1 Kerangka Teoritis................................................................................11
2.1.1 Kesiapan Berwirausaha...........................................................11
2.1.2 Adversity Intelligence.............................................................18
2.1.3 Technopreneurship..................................................................21
2.2 Penelitian Relevan...............................................................................23
2.3 Kerangka Berpikir...............................................................................27
2.4 Hipotesis Penelitian.............................................................................30
BAB III METODOLOGI PENELITIAN..........................................................31
3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian...............................................................31
3.2 Populasi dan Sampel............................................................................31
3.2.1 Populasi...................................................................................31
3.2.2 Sampel.....................................................................................32
3.3 Variabel Penelitian dan Defenisi Operasional.....................................32
3.3.1 Variabel Penelitian..................................................................32
3.4 Definisi Operasional............................................................................33
3.5 Teknik Pengumpulan Data..................................................................34
3.5.1 Observasi.................................................................................34
3.5.2 Dokumentasi............................................................................34

i
ii

3.5.3 Angket.....................................................................................35
3.6 Instrumen Penelitian dan Pengukuran.................................................35
3.6.1 Instrumen Penelitian................................................................35
3.6.2 Teknik Pengukuran.................................................................37
3.6.3 Uji Validitas Angket................................................................38
3.6.4 Uji Reliabilitas Angket............................................................39
3.7 Uji Asumsi Klasik................................................................................40
3.7.1 Uji Normalitas.........................................................................40
3.7.2 Uji Linearitas...........................................................................40
3.7.3 Uji Heterokedastisitas.............................................................41
3.7.4 Uji Multikolinearitas...............................................................42
3.8 Teknik Analisis Data...........................................................................42
3.8.1 Analisis Regresi Linear Berganda...........................................43
3.8.2 Pengujian Hipotesis.................................................................44
3.8.3 Uji Koefisien Determinasi (R2)...............................................46
DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 Nilai mata kuliah technopreneurship mahasiswa pendidikan bisnis

2016 6

Tabel 3.1 Populasi Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bisnis Angkatan

2016 32

Tabel 3.2 Layout Angket 36

Tabel 3.3 Pilihan Jawaban Serta Bobot Angket Kesiapan Berwirausaha di Era
Revolusi Industri 4.0 38

Tabel 3.4 Piihan Jawaban Serta Bobot Angket Adversity Intelligence 38

iii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Diagram Persentasi Kesiapan Berwirausaha di Era Revolusi

Industri 4.0 Mahasiswa Pendidikan Bisnis stambuk 2016 3

Gambar 1.2 Diagram Persentasi Adversity Inteligence Mahasiswa

Pendidikan Bisnis stambuk 2016 5

Gambar 2.1 Kerangka Berpikir 29

iv
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Pengangguran adalah suatu permasalahan yang sulit untuk diatasi. Butuh

waktu yang sangat lama untuk meminimaliskan tingkat pengangguran di

Indonesia. Berbagai kebijakan telah dilakukan Pemerintah untuk mengurangi

tingkat pengangguran setiap tahunnya. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS)

mengatakan bahwa Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) mengalami penurunan

sejak tahun 2015 hingga februari tahun 2019. Pada Agustus 2019, TPT turun

menjadi 5,28 persen dari 5,34 persen. Adapun angkatan kerja juga semakin

meningkat 0,23 persen, lulusan diploma dan universitas adalah peringkat ketiga

dan keempat dari angkatan kerja yang termasuk dalam pengangguran terbuka.

Artinya, walaupun mengalami penurunan pada tahun tertentu, tetapi angkatan

kerja juga akan bertambah pada tahun berikutnya. Jadi, hal tersebutlah yang

membuat sulitnya mencari keseimbangan. Salah satu penyebab pengangguran

yaitu banyaknya jumlah penduduk dan tingginya tingkat pertumbuhan penduduk

disertai dengan terbatasnya lapangan pekerjaan. Beberapa dari lulusan diploma

maupun universitas menginginkan pekerjaan yang mapan dengan mendapatkan

status yang terhormat dan menghasilkan profit yang maksimal setelah lulus dari

bangku kuliah (Oktarilis, 2012).

Salah satu pekerjaan yang sering dikatakan mapan dan mendapatkan

status yang terhormat dimata masyarakat adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS). Jika

dilihat daya tampung pegawai negeri sipil disetiap instansi yang hanya sedikit,

1
2

dan dibandingkan dengan calon yang melamar dan mengikuti tes yang sangat

banyak maka hanya kecil peluang untuk lulus. Hal itulah yang dikuatirkan, jika

lulusan diploma dan universitas hanya mengharapkan pegawai negeri sipil.

Peluang lapangan pekerjaan bagi lulusan Pendidikan Bisnis yang notabene adalah

keguruan/pendidik sangat sedikit peluang pekerjaannya. Adapun pendaftaran

CPNS tahun ini, sedikit formasi untuk lulusan pendidikan bisnis. Maka, ketika

fakta yang terjadi seperti itu, jurusan pendidikan bisnis unimed harus memiliki

kesiapan berwirausaha. Hamid (2011) menuliskan bahwa salah satu upaya

mempercepat tumbuhnya usaha-usaha baru adalah membuat terobosan-terobosan

melalui perubahan pola pandang (mindset) lulusan perguruan tinggi dari status

sebagai pencari kerja menjadi pencipta kerja atau berwirausaha.

Mahasiswa yang diharapkan melalui era revolusi industri 4.0 ini adalah

mahasiswa yang benar-benar siap untuk bersaing di dunia bisnis. Kemudian,

untuk dapat memasuki dunia bisnis tersebut, tentu saja harus dilandasi dengan

kemampuan menggunakan teknologi. Teknologi yang dimaksud di sini dapat

berupa smartphone, yang di dalamnya terdapat banyak aplikasi, baik itu

instagram, facebook, shopee, lazada, whattsapp, youtube, dan lain-lain. Aplikasi-

aplikasi tersebut pada dasarnya dapat digunakan oleh mahasiswa khususnya

mahasiswa di Program Studi Pendidikan Bisnis 2016 untuk masuk ke dunia

bisnis.

Untuk menciptakan pekerjaan, mahasiswa Pendidikan Bisnis 2016

Unimed seharusnya sudah memiliki kesiapan untuk berkecimpung di dunia bisnis.

Hal tersebutlah yang diteliti kepada setiap mahasiswa terkhusus mahasiswa


3

pendidikan bisnis stambuk 2016. Adapun faktor yang mempengaruhi dari

kesiapan berwirausaha adalah memiliki kepercayaan diri, berusaha selalu fokus

pada sasaran, mampu mengatasi resiko, bekerja keras, mencoba untuk berinovasi,

bertanggung jawab dan mampu memasarkan produk. Saat melakukan observasi

awal, peneliti mendapat hasil sebagai berikut.

Gambar 1.1
Diagram Persentasi Kesiapan Berwirausaha di Era Revolusi Industri 4.0
Mahasiswa Pendidikan Bisnis stambuk 2016

KESIAPAN BERWIRAUSAHA DI ERA REVOLUSI INDUSTRI


4.0

34% 38%
Kepercayaan Diri
Keberanian
Mengambil Resiko
Selalu Mencoba
28% Berinovasi

Sumber: Observasi Awal Pendidikan Bisnis 2019

Berdasarkan fakta penelitian ditemukan bahwa kesiapan berbisnis

(berwirausaha) mahasiswa Prodi Pendidikan Bisnis 2016 masih sangat rendah.

Dari data yang diperoleh berdasarkan observasi awal berupa angket yang

dilakukan peneliti pada 30 mahasiswa Pendidikan Bisnis Angkatan 2016 hanya

37% mahasiswa yang memiliki rasa percaya diri. Dalam memulai suatu

wirausaha diperlukan mental yang kuat yaitu keberanian mengambil resiko. Dari

hasil observasi awal pada 30 mahasiswa Pendidikan Bisnis Angkatan 2016

didapati bahwa 27% mahasiswa yang berani mengambil resiko. Dapat dilihat juga
4

berbagai hal yang menjadi pendorong kesiapan berbisnis yaitu selalu mencoba

berinovasi. Data menunjukkan hanya 33,33% mahasiswa dari 30 memiliki

kemampuan dalam menciptakan inovasi. Hal tersebutlah yang dikuatirkan jika

masalah ini tidak diteliti lagi, maka mahasiswa Pendidikan Bisnis tidak memiliki

kesiapan dalam berwirausaha.

Mahasiswa yang memiliki kesiapan berbisnis harus mampu menghadapi

kemajuan zaman sekarang yaitu di era revolusi industri 4.0. Tetapi pada

kenyataannya mahasiswa Pendidikan Bisnis stambuk 2016 masih takut untuk

mengambil resiko dan mengahadapi tantangan di era revolusi industri 4.0.

Kemampuan atau kecerdasan dalam menghadapi tantangan maupun kesulitan

dengan mengubahnya menjadi sebuah peluang sering disebut dengan adversity

intelligence. Adversity intelligence mahasiswa dapat diukur melalui respon yang

diberikan ketika meghadapi tantangan dan kesulitan. Ketika zaman terus

berkembang dengan sistem yang berbeda, ada kalanya mahasiswa akan gagal atau

mampu membuat hal tersebut menjadi suatu peluang untuk berwirausaha. Adapun

indikator dari adversity intelligence adalah control, origin dan ownership, reach,

dan endurance. Berdasarkan observasi awal peneliti melalui dua indikator yaitu

control dan endurance, ditemukan data pada mahasiswa Pendidikan Bisnis

stambuk 2016 mengenai adversity intelligence.


5

Gambar 1.2
Diagram Persentasi Adversity Inteligence Mahasiswa Pendidikan Bisnis
stambuk 2016

Adversity Intelligence

44%
Control
56% endurance

Sumber : Observasi awal Pendidikan Bisnis 2019

Berdasarkan observasi awal mengenai adversity intelligence pada

mahasiswa pendidikan bisnis stambuk 2016 masih rendah. Dibuktikan melalui

data yang telah didapat dari 30 mahasiswa pendidikan bisnis stambuk 2016 hanya

26,67% yang memiliki control diri dalam menghadapi kesulitan maupun

tantangan. Sedangkan hasil dari tingkat endurance 30 mahasiswa hanya 33,33%

yang memiliki ketahanan mengahadapi suatu tantangan. Padahal untuk terjun ke

dunia wirausaha, harus memiliki sikap yang mampu untuk menghadapi suatu

perubahan-perubahan yang dihadapi sehingga dapat merubah tantangan tersebut

menjadi suatu peluang.

Melakukan kegiatan berwirausaha tidak terlepas dengan menghasilkan

inovasi-inovasi baru. Inovasi yang harus dilakukan di era revolusi industri 4.0 saat

ini adalah dengan menggunakan teknologi sebagai alat berwirausaha. Gabungan

antara teknologi dan wirausaha sering disebut dengan technopreneurship.

Mahasiswa Pendidikan Bisnis stambuk 2016 sudah diperlengkapi dengan mata


6

kuliah technopreneurship di semester lima. Mata kuliah technopreneurship

mempelajari tentang pengembangan wirausaha melalui teknologi. Kesiapan

berwirausaha mahasiswa Pendidikan Bisnis di era revolusi industri 4.0

mengharuskan mahasiswa paham dalam menggunakan teknologi sebagai alat

berwirausaha. Untuk melihat pemahaman technopreneurship mahasiswa

Pendidikan Bisnis stambuk 2016 dapat dilihat dari nilai mata kuliah

technopreneurship.

Tabel 1.1
Nilai Mata Kuliah Technopreneurship Mahasiswa Pendidikan Bisnis 2016

JUMLA SAMPE NILAI


KELAS
H L A B
A
37 30
Reguler 33,33% 76,67%
B
37 27
Reguler 29,60% 70,40%
C
22 22
Ekstensi 59,10% 40,90%
JUMLA  40,67
96 79 
H % 62,64% 
Sumber : Data Diolah

Seperti pada tabel 1.1, dari 79 mahasiswa pendidikan bisnis stambuk

2016 terdapat 40,67% yang mendapat nilai A dan 62,64% yang mendapat nilai B.

Artinya bahwa Nilai Mata Kuliah Technopreneurship mahasiswa Pendidikan

Bisnis stambuk 2016 sudah baik, terdapat nilai A dan B yang artinya jika diukur

melalui nilai dinyatakan sudah sangat baik dan baik. Sesungguhnya, Mata Kuliah

Technopreneurship bertujuan untuk menghasilkan mahasiswa yang dapat

membuat bisnis sendiri dengan menerapkan teknologi sebagai instrumen

pendukungnya. Nilai mata kuliah technopreneurship sudah menyatakan bahwa

mahasiswa sudah memiliki kemampuan tetapi pada kenyataannya mahasiswa


7

Pendidikan Bisnis 2016 masih memiliki kesiapan berwirausaha di era revolusi

industri 4.0 yang rendah. Maka dari itu, peneliti ingin mengadakan penelitian

mengenai “Pengaruh Adversity Intelligence dan Nilai Mata Kuliah

Technopreneurship terhadap Kesiapan Berwirausaha di Era Revolusi

Industri 4.0 Mahasiswa Pendidikan Bisnis Stambuk 2016 Fakultas Ekonomi

UNIMED”.

1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan Latar Belakang Masalah di atas, peneliti melakukan identifikasi

masalah yaitu sebagai berikut :

1. Kesiapan berwirausaha di era revolusi pada mahasiswa Pendidikan Bisnis

angkatan 2016 masih rendah dilihat dari hasil observasi awal melalui

angket yang telah disebar ke 30 orang mahasiswa.

2. Tingkat Adversity intelligence mahasiswa didalam kehidupan sehari-hari

yang dilihat dari hasil observasi awal melalui penyebaran angket kepada

30 orang mahasiswa Pendidikan Bisnis stambuk 2016 masih tergolong

rendah.

3. Nilai mata kuliah Technopreneurship mahasiswa Pendidikan Bisnis

stambuk 2016 yang di dapat melalui angket sudah baik, meskipun dibawah

50% yang mendapat nilai A (sangat baik).

4. Nilai mata kuliah Technopreneurship sudah baik tetapi kesiapan

berwirausaha masih dalam kategori rendah.


8

1.3 Pembatasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah yang telah dipaparkan terlihat banyak

masalah namun mempertimbangkan waktu, tenaga dan biaya serta kemampuan

penelitu maka perlu dibuat batasan maslahnya, yaitu sebagai berikut :

1. Adversity intelligence yang diteliti pada penelitian ini dibatasi dengan

tingkat Control, Origin Ownership, Reach, Endurance yang dimiliki

oleh mahasiswa Pendidikan Bisnis stambuk 2016

2. Pada variabel kedua yaitu Nilai mata kuliah Technopreneurship dalam

penelitian ini dibatasi dengan nilai akhir yang terdapat di KHS

mahasiswa Pendidikan Bisnis stambuk 2016.

3. Kesiapan berwirausaha diteliti dalam penelitian ini terbatas pada

Kepercayaan diri, keberanian mengambil resiko, berorientasi kemasa

depan, selalu mencoba berinovasi, bertanggung jawab, dan

berkemampuan memasarakan mahasiswa Pendidikan Bisnis stambuk

2016.

1.4 Rumusan masalah

Berdasarkan pembatasan masalah diatas, maka penelitian ini dapat


dirumuskan bahwa :

1. Apakah terdapat pengaruh adversity intelligence terhadap kesiapan


berwirausaha di era revolusi industri 4.0 pada mahasiswa pendidikan
bisnis stambuk 2016
2. Apakah terdapat pengaruh nilai mata kuliah technopreneurship terhadap
kesiapan berwirausaha di era revolusi industri 4.0 pada mahasiswa
pendidikan bisnis stambuk 2016
9

3. Pengaruh Adversity Intelligence dan nilai mata kuliah Technopreneurship


terhadap Kesiapan Berwirausaha di Era Revolusi Industri 4.0 pada
Mahasiswa Pendidikan Bisnis Stambuk 2016

1.5 Tujuan

Tujuan dari penelitian ini adalah


1. Untuk mengetahui pengaruh adversity intelligence terhadap kesiapan
berwirausaha di era revolusi industri 4.0 pada mahasiswa pendidikan
bisnis stambuk 2016.
2. Untuk mengetahui pengaruh nilai mata kuliah technopreneurship terhadap
kesiapan berwirausaha di era revolusi industri 4.0 pada mahasiswa
pendidikan bisnis stambuk 2016.
3. Untuk mengetahui Pengaruh Adversity Intelligence dan nilai mata kuliah
Technopreneurship terhadap Kesiapan Berwirausaha di Era Revolusi
Industri 4.0 pada Mahasiswa Pendidikan Bisnis Stambuk 2016.

1.6 Manfaat

Dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik pada aspek

teoritis maupun praktik sebagai berikut :

1. Manfaat Teoritis

a. Penelitian ini dapat menjadi literatur atau sumber bacaan dalam

kajian ilmu technopreneurship, interpreneurship dan kesiapan

berbisnis diera revolusi industri 4.0.

b. Berguna bagi para peneliti kependidikan dimasa mendatang

sebagai literatur dalam penelitian lebih lanjut yang relevan.


10

2. Manfaat Praktis

a. Bagi mahasiswa Fakultas Ekonomi, penelitian ini berguna sebagai

penstimulus dalam meningkatkan kesiapan berwirausaha di era

revolusi industri 4.0.

b. Bagi kampus, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan

masukan kepada pihak kampus untuk menyiapkan lulusan yang

mampu bersaing di dunia kerja dan mampu untuk membuka usaha

secara mandiri di era revolusi industri 4.0.

c. Bagi mahasiswa, sebagai bahan evaluasi dan acuan pengembangan

diri agar nantinya setelah lulus kuliah tidak lagi bimbang untuk

menentukan antara bekerja pada orang lain atau berwirausaha.


BAB II

KAJIAN TEORI

2.1 Kerangka Teoritis

2.1.1 Kesiapan Berwirausaha

2.1.1.1 Pengertian Kesiapan Berwirausaha

Kesiapan merupakan suatu hal yang sangat penting bagi semua orang.

Untuk melakukan segala sesuatu harus memiliki kesiapan agar tujuan yang

diinginkan dapat tercapai. Kesiapan yang dimaksud adalah kesiapan yang

bersumber dari diri seseorang, seperti mental dan kemampuan. Dalam kegiatan

berwirausaha diperlukan kesiapan untuk menghadapi perubahan zaman yang

dinamis. Menurut Slameto (2003: 113) kesiapan adalah keseluruhan kondisi

seseorang yang membuatnya siap untuk memberi respons/jawaban di dalam

cara tertentu terhadap suatu situasi. Penyesuaian kondisi pada suatu saat akan

berpengaruh pada atau kecenderungan untuk memberikan respon. Kondisi

mencakup 3 aspek, yaitu :

1. Kondisi fisik, mental dan emosional;

2. Kebutuhan-kebutuhan motif dan tujuan;

3. Keterampilan, pengetahuan dan pengertian yang lain yang telah

dipelajari.

Adanya suatu kesiapan pada diri mahasiswa maka akan dapat

memberikan respon yang bijaksana dalam menghadapi suatu situasi baik

perubahan-perubahan yang muncul.

11
12

Menurut Daryanto (2012:3) “Kewirausahaan berasal dari kata

wirausaha. Wirausaha berasal dari kata wira artinya berani, utama, mulia.

Usaha berarti kegiatan bisnis komersiil maupun non komersiil”. Artinya

kewirausahaan itu adalah suatu keberanian yang dimiliki individu untuk

melakukan usaha bisnis maupun non bisnis secara mandiri. Orang yang

menciptakan dan menjalankan usaha disebut dengan wirausaha. Jadi, seorang

wirausaha harus memiliki mental yang kuat dalam membangun suatu usaha.

Usaha yang diciptakan adalah usaha yang inovatif dan kreatif yang mampu

bersaing di zaman yang semakin berkembang. Tujuan dari usaha tersebut

adalah untuk meningkatkan perekonomian serta memberi kesejahteraan bagi

masyarakat.

Dapat diambil kesimpulan bahwa kesiapan berwirausaha adalah suatu

kondisi fisik, mental serta kemampuan untuk menciptakan dan menjalankan

suatu usaha yang baru dan berbeda dengan yang lain karena selalu berinovasi

dan kreatif.

2.1.1.2 Aspek-aspek dalam Kesiapan Berwirausaha

Nitisusastro (2017: 82) menjelaskan ada tiga bekal kesiapan yang

penting untuk diantisipasi bagi seseorang untuk memasuki dunia usaha

meliputi, kesiapan mental, kesiapan pengetahuan dan kesiapan berwirausaha.

Hal yang perlu diperhatikan untuk memasuki dunia usaha, meliputi :

a. Meningkatkan rasa percaya diri

Rasa percaya diri akan meningkat apabila kita mengetahui dan

memahami tentang suatu hal yang akan kita lakukan dan kita jalankan.
13

Ketidakpahaman akan suatu bidang akan mengakibatkan perasaan ragu,

dan bila diteruskan mungkin berdampak kegagalan. Maka dalam

meningkatkan rasa percaya diri seorang wirausahawan perlu

mempersiapkan diri dengan segala pengetahuan dan kemampuan.

“Orang yang tinggi percaya dirinya adalah orang yang sudah matang

jasmani dan rohaninya” Alma (2016: 53). Jadi, orang yang sudah

matang akan menjadi pribadi yang siap sedia dalam melakukan sesuatu

dengan segala kemampuan yang dimiliki.

b. Berusaha selalu fokus pada sasaran

Berhubung dengan kewirausahaan, ketika pertama kali seseorang terjun

kedunia usaha, maka fokus sasaran pertama adalah dapat terwujudnya

usaha. Fokus yang kedua adalah mampu bertahan (survive) . dan fokus

sasaran selanjutnya usaha yang telah bertahan hidup ini mampu

berkembang serta memberikan manfaat bagi lingkungannya. Kembali

pada fokus sasaran yang pertama secara konkrit wujud terbentuknya

usaha berupa wadah organisasi.

c. Mempelajari cara mengenali dan mengatasi risiko

Risiko adalah suatu peristiwa yang tidak dikehendaki yang mungkin

terjadi. Kapan terjadinya suatu peristiwa yang tidak dikehendaki, belum

dapat diketahui secara pasti. Jika suatu risiko benar-benar terjadi maka

akibatnya akan menimbulkan dampak kerugian baik materi maupun non

materi. Hal tersebutlah yang harus di pelajari dan dianalisis oleh


14

seorang wirausaha. Caranya adalah degan menganalisis data-data

sebelumnya ataupun masalalu mengenai usaha yang akan dijalankan.

d. Melatih diri untuk bekerja keras

Tidak ada usaha yang sukses tanpa kerja keras. Bekerja keras menuntut

kesiapan fisik dan mental prima artinya tidak mudah menyerah dalam

kondisi apapun. Pengetahuan, keterampilan dan sikap dipadu menjadi

kekuatan yang harmonis memberdayakan seluruh sumber daya yang

tersedia. Seluruh sumber daya harus digunakan secara efektif dan

efesien dengan cara yang benar. Dalam menghadapi situasi dan kondisi

lingkungan dewasa ini dimana dinamika perubahan berlangsung begitu

cepat dan memberikan tekanan yang lebih berat dari masa sebelumnya,

maka bekerja keras saja tidak cukup, namun harus juga dibarengi

dengan kerja cerdas. Pelaku usaha yang selama ini belum bekerja keras,

harus mempersiapkan diri untuk bekerja lebih keras.

e. Selalu mencoba untuk berinovasi

Inovasi sangat diperlukan dalam dunia usaha agar dapat tampil beda

dan dapat memberikan nilai tambah bagi usaha tersebut.. Karena itu

pelaku usaha harus selalu mencoba melakukan inovasi. Inovasi dapat

dilakukan pada seluruh bauran pemasaran. Pada bauran produk, pada

bauran saluran distribusi, pada bauran peralatan pendukunng fisik dan

sebagainya. Tampil beda dalam produk yang ditawarkan memiliki

kelebihan dari produk pesaing. Atas dasar kebutuhan dan keinginan


15

konsumen yang selalu berubah inilah, pelaku harus terus berusaha

berinovasi untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen.

f. Memahami semua aspek guna meningkatkan rasa tanggung jawab

Seorang wirausahawan memang memikul tanggung jawab yang besar.

Tanggung jawab besar tersebut utamanya terletak pada

mempertahankan agar kegiatan usahanya tetap mampu bertahan hidup

ditengah dinamika kehidupan lingkungan. Lingkungan dimaksud

sebagaimana dimaksud, meliputi perusahaan dan para pesaingnya,

pemasok, pelanggan, produk pengganti dan pendatang baru. Oleh

karena itu termasuk dalam prsiapan berwirausaha adalah upaya pelaku

usaha senantiasa meningkatkan rasa tanggung jawab.

g. Memiliki kemampuan dalam memasarkan produk

Seorang wirausaha harus memiliki pengetahuan tentang bagaimana

memasarkan produk. Jika ada yang ingin menjalankan suatu usaha

tanpa memiliki skill pemasaran akan megakibatkan usaha tersebut

gagal. Karna hal yang mendasar yang harus dimiliki seorang usaha

adalah bisa memasarkan produknya.

Menurut Geoffrey G. Meredith (dalam Wahid, 2006), menjelaskan ada

enam ciri-ciri dan watak kewirausahaan, yaitu

1. Percaya diri, wataknya yaitu tidak ketergantung pada apapun,


memiliki keyakinan dan optimis.
2. Berorientasi pada tugas dan hasil, memiliki watak tekun,
inisiatif, dan energic.
3. Pengambilan resiko, wataknya berani menghadapi tantangan.
4. Kepemimpinan, wataknya berperilaku sebagai seorang
pemimpin.
5. Keorsinilan, wataknya menciptakan inovasi dan kreativitas.
16

6. Berorientasi ke masa depan, wataknya memiliki keinginan


untuk maju.

Unsur-unsur kompetensi kewirausahaan menurut Sumardika (2013:18)


a. Kemampuan (hubungan antara IQ dan skill)
 Dalam membaca peluang
 Dalam berinovasi
 Dalam mengelola usaha
 Dalam memasarkn produk
b. Keberanian (hubungan antara emotional quotient (EQ) dan
mental
 Dalam mengatasi ketakutan
 Dalam mengendalikan resiko
 Untuk keluar dari zona nyaman
c. Keteguhan hati (hubungan dengan motivasi diri)
 Persisten (ulet), pantang menyerah
 Determinasi (teguh akan keyakinan)
 Kekuatan akan pikiran (power of mind)
d. Kreativitas (hubungan dengan pengalaman
 Mampu berkreativitas untuk menghasilkan hal-hal baru
dan berbeda
 Dan mampu untuk melaksanakan hasil kreativitas ke
dalam kegiatan komersial.

2.1.1.3 Kesiapan Berwirausaha di Era Revolusi Industri 4.0

Era sering disebut dengan zaman, yang berorientasi pada waktu. Waktu

yang terus menerus berjalan yang akan merubah suatu situasi maupun kondisi.

Situasi tersebut dapat diartikan tentang kebutuhan manusia yang menuntut

efisiensi dalam melakukan segala aktivitasnya. Perubahan-perubahan

tersebutlah yang mengakibatkan munculnya revolusi industri dari zaman

kezaman, hingga saat ini berada pada era revolusi industri 4.0.

Haqiqi (2019:3) “Revolusi adalah suatu perubahan yang sifatnya


sangat cepat atau perubahan yang cukup mendasar dalam suatu bidang.
Industri adalah kegiatan memproses atau mengolah barang dengan
menggunakan sarana dan peralatan, misalnya mesin. Revolusi industri
adalah perubahan yang berlangsung cepat pada suatu proses produksi,
yang semula pekerjaan proses produksi dikerjakan oleh manusia, dapat
17

digantikan oleh mesin, sehingga barang yang dihasilkan dari proses


produksi itu memiliki nilai tambah (add value) secara komersial”
Revolusi industri 4.0 adalah zaman revolusi industri ke-4 di dunia yang

berbasis teknologi digital. “Revolusi industri 4.0 adalah sebuah zaman yang

menempatkan mesin, robot dan produk digital sebagai pemegang peranan vital

dalam kehidupan manusia” jelas Comunication dan Mix Marketing ( 2019:4).

Sehingga banyak hal-hal baru yang muncul dan terlihat begitu hebat dari

produk-produk revolusi industri 4.0 ini. Ayodya (2020:11) menyatakan

pengertian industri 4.0 adalah sebuah tren di dunia industri yang produksinya

dengan teknologi otomatisasi dengan teknologi cyber. Segala aktivitas

produksi dalam sebuah industri menggunakan komponen utama yaitu

teknologi.

Kotler, dkk (2005:151) menjelaskan bahwa dalam bidang teknologi,

perkembangan yang paling signifikan dan memiliki dampak yang sangat luas

pada dunia bisnis adalah jaringan teknologi yaitu teknologi broadband dan

akses internet berkecepatan tinggi. Dengan akses internet yang semakin cepat

akan memberikan keefektifan dan keefisienan bagi keberlangsungan aktivitas

manusia.

A.T. Kearney dalam (Haqiqi, 2019:36) menjelaskan beberapa aspek

yang terpengaruh signifikan terhadap kehadiran revolusi industri 4.0, yaitu :

Produksi dengan segala prosesnya, Pertumbuhan ekonomi, Inklusi Sosial,

Energi, Makanan, Keamanan , Pertanian, Pendidikan, Gender, Pekerjaan,

Lingkungan, Mobilitas, Informasi, Layanan, Perdagangan, dan Konsumen.

Aspek-aspek tersebut menjelaskan bahwa hampir keseluruhan kehidupan


18

manusia telah terkena dampak revolusi industri 4.0. Kesiapan seseorang dalam

menghadapi revolusi industri 4.0 menurut fiqqih (2019:65) ditinjau dari

beberapa faktor, yaitu kemampuan berinovasi sebagai daya saing individu,

perusahaan maupun negara.

Perubahan dunia kini tengah memasuki era revolusi industri 4.0 dimana

teknologi informasi menjadi bagian penting dalam aktivitas kehidupan

manusia. Segala hal kegiatan manusia tidak terlepas dengan teknologi. Dalam

berwirausaha, seorang wirausaha harus mampu mengikuti setiap perubahan-

perubahan tentang sistem berwirausaha pada saat ini. Jadi, kesiapan

berwirausaha di era revolusi industri 4.0 adalah suatu kondisi mental dan fisik

yang mampu bersaing pada tren teknologi cyber dengan memiliki kepercayaan

diri, selalu fokus pada sasaran, berorientasi kemasa depan, suka berinovasi,

berani mengambil resiko dan memiliki knowledge tentang wirausaha yang

menggunakan teknologi untuk memberi efisiensi produksi maupun pelayanan

dan menambah profit suatu usaha

2.1.2 Adversity Intelligence

Suatu kesuksesan seorang individu dipengaruhi oleh tingkah laku

pribadi individu tersebut. Pola tingkah laku yang terbentuk tersebut merupakan

kebiasaan-kebiasaan yang telah dibentuk sejak kecil. Seorang anak akan

tumbuh dewasa dengan memiliki kepribadian yang berbeda-beda. Seseorang

yang mampu menghadapi tantangan akan menang dalam pertandingan tetapi


19

ketika menyerah menghadapi tantangan maupun kesulitan yang menghadang

disebut dengan gagal.

Yoga (2018:18) menjelaskan bahwa Adversity qoutient (AQ)

menggabungkan riset psikologi kognitif, psikoneuroimunologi, dan

neurofiologi untuk membentuk gambaran tentang bagaimana cara manusia

menghadapi kesulitan. Kesulitan merupakan suatu hal yang sering dihindari

tetapi pada adversity quotient itu justru sebuah tantangan yang menjadikan

hidup lebih hidup. AQ merupakan alat ukur yang menentukan kondisi

kontradiktif dalam diri seseorang, seperti yang pertama dalam positif yaitu

mampu menghadapi kesulitan sedangkan negatif yaitu berlari meninggalkan

masalah, yang kedua dalam positif yaitu mampu mempertahankan kinerja

dengan kepercayaan diri yang luar biasa, sedangkan negatifnya yaitu mudah

terpengaruh dan berkecil hati melihat hasil karya orang. Banyak kondisi-

kondisi yang dapat diukur lainnya seperti dalam mengejar target, bertahan,

merumuskan masa depan, bersedia mengambil resiko, dan sebagainya.

Menurut Stoltz (dalam Wijaya:2007), teori Adversity Intelligence atau

sering disebut adversity quotient (kecerdasan menghadapi rintangan) adalah

suatu kemampuan untuk mengubah hambatan menjadi suatu peluang

keberhasilan mencapai tujuan. Kecerdasan dalam menghadapi rintangan

individu memiliki empat dimensi, yaitu CO2RE (Control, Origin Ownership,

Reach, Endurance).
20

a. Control (C)

Dimensi ini ditunjukan untuk mengetahui seberapa banyak kendali yang dapat

kita rasakan terhadap suatu peristiwa yang menimbulkan kesulitan. Hal yang

terpenting dari dimensi ini adalah sejauh mana individu dapat merasakan

bahwa kendali tersebut berperan dalam peristiwa yang menimbulkan kesulitan

seperti mampu mengendalikan situasi tertentu dan sebagainya.

b. Origin dan Ownership (O2)

Dimensi ini mempertanyakan siapa atau apa yang menimbulkan kesulitan dan

sejauh mana seseorang menganggap dirinya mempengaruhi dirinya sebagai

penyebab dan asal usul kesulitan seperti penyesalan, pengalaman dan

sebagainya.

c. Reach (R)

Dimensi ini merupakan bagian dari IA yang mengajukan pertanyaan sejauh

mana kesulitan yang dihadapi akan menjangkau bagian-bagian lain dari

kehidupan individu seperti hambatan akibat panik, hambatan akibat malas dan

sebagainya.

d. Endurance (E)

Dimensi keempat ini dapat diartikan ketahanan yaitu dimensi yang

mempertanyakan dua hal yang berkaitan dengan berapa lama penyebab

kesulitan itu akan terus berlangsung dan tanggapan indivudu terhadap waktu

dalam menyelesaikan masalah seperti waktu bukan masalah, kemampuan

menyelesaikan
21

pekerjaan dengan cepat dan sebagainya. Berdasarkan uraian di atas dapat

disimpulkan bahwa untuk mengetahui kecerdasan dalam menghadapi rintangan

tidak cukup hanya mengetahui apa yang diperlukan untuk meningkatkannya,

tetapi yang perlu diperhatiakan adalah dimensi-dimensinya agar dapat

memahami kecerdasan dalam menghadapi rintangan sepenuhnya. Individu

dalam menghadapi berbagai kesulitan dalam diri mereka didorong oleh

beberapa respon yang mengarahkan individu tersebut dalam pengambilan

keputusan. Ada beberapa respon yang mendorong individu dalam menghadapi

berbagai kesulitan dalam diri mereka.

2.1.3 Technopreneurship

Menurut Baihaqi dan M Nurif (2015:9) kata “Technopreneurship” itu

berasal dari dua kata yaitu “Technology” dan “Entrepreneurship” yang artinya

proses pembentukan dan kaloborasi antar bidang usaha dan penerapan

teknologi sebagai instrumen pendukung dalam suatu usaha baik dari segi

produk yang dihasikan, pihak yang terlibat, maupun dalam proses. Adapun

orang yang menjalankan Technopreneurship adalah Technopreneur.

Menurut Eko Suhartono dan Ary Setijadi (2010:56) ada beberapa ciri-

ciri technopreneurship yaitu `:

1. Sumber motivasi : eksplorasi kesempatan yang penuh kompetisi dan

risiko melalui teknologi baru

2. Kepemilikan : biasanya berasal dari saham kecil hingga besar


22

3. Manajemen : fleksibel dan memiliki semangat inovasi yang

berkelanjutan

4. Kepemimpinan : menghargai kontribusi, pencapaian, dan bekerja

secara kolektif

5. Inovasi : menjadi pemimpin dalam riset teknologi, penggunaan

teknologi informasi, dan kecepatan peluncuran produk ke pasar

6. Outsourching : bersama dalam satu tim

7. Potensi pertumbuhan : sangat besar karena selalu mengakuisisi

teknologi dan pasar berubah seiring munculnya teknologi baru

8. Target pasar: global dan mendidik konsumen dengan teknologi baru

Menurut Soegoto (2009: 13), “technopreneurship (technology

entrepreneurship), merupakan bagian dari entrepreneurship yang menekankan

pada faktor teknologi, yakni kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi

dalam proses bisnisnya”. Dalam menjalankan suatu bisnis maupun suatu usaha,

seorang entreprenuer secara dominan menggunakan teknologi dalam

prosesnya. Soegoto (2009: 13) menjelaskan dalam technopreneurship ada dua

yang menjadi fungsi utama, yaitu teknologi berfungsi sesuatu yang dibutuhkan

oleh pelanggan, dan teknologi tersebut dapat menghasilkan keuntungan

(profitable). Teknopreneur aadalah orang yang mampu menciptakan,

mengkreasikan dan berinovasi atas suatu produk yang dapat dipasarkan.

Adapun upaya-upaya yang dilakukan untuk membangun technopreneursip di

Indonesia adalah menggalakan perkembangan berbagai pusat inovasi dan


23

inkubator bisnis dalam bidang teknologi di beberapa perguruan tinggi dan

lembaga riset.

2.2 Penelitian Relevan

Penelitian yang dilakukan oleh Muhamad Zaqi Albana (2014) dalam

tugas akhir skripsi yang berjudul “Pengaruh Wawasan Technopreneurship,

Bimbingan Karier, dan Informasi Dunia Kerja terhadap Kesiapan

Berwirausaha Siswa Kelas XII Teknik Instalasi Tenaga Listrik SMK Negeri 3

Yogyakarta”. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan ex-post facto,

subjek penelitian ini adalah siswa kelas XII Kompetensi Keahlian Teknik

Instalasi Tenaga Listrik SMK Negeri 3 Yogyakarta dengan populasi sebanyak

113 siswa dan sampel 88 siswa. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat

pengaruh positif dan signifikan antara wawasan technopreneurship, bimbingan

karier, dan informasi dunia kerja secara bersama-sama terhadap kesiapan

berwirausaha siswa kelas XII Teknik Instalasi Tenaga Listrik SMK Negeri 3

Yogyakarta, yang ditunjukkan dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0,622.

Hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa wawasan

technopreneurship mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap

kesiapan berwirausaha dengan nilai korelasi sebesar 0,498. Artinya bahwa

siswa yang memiliki wawasan technopreneurship intensitas tinggi mempunyai

kecenderungan kesiapan berwirausaha yang tinggi. Dari penelitian ini, peneliti

dapat mengambil referensi karena beberapa variabel yang diteliti sama seperti

salah satu variabel X1 adalah wawasan technopreneurship dan variabel Y

adalah kesiapan berwirausaha. Tetapi ada sedikit perbedaan yaitu pada X 1


24

penelitian yang relevan adalah wawasan technopreneurship sedangkan pada

penelitian ini adalah nilai mata kuliah technopreneurship.

Penelitian yang dilakukan oleh Nurcahyo Putra Dwi Suryo dalam tugas

akhir skripsi yang berjudul “Pengaruh adversity intelligence, relasi sosial dan

kemampuan metakognitif terhadap nilai-nilai kewirausahaan yang dimiliki

siswa SMK Negeri di Kota Yogyakarta Program Keahlian Teknik

Ketenagalistrikan. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan ex-post

facto. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XII SMK Negeri di Kota

Yogyakarta Program Keahlian Teknik Ketenagalistrikan dengan populasi

sebanyak 232 siswa dan sampel sebanyak 145 siswa. Variabel bebas dalam

penelitian ini yaitu adversity intelligence (X1), relasi sosial (X2), dan

kemampuan metakognitif (X3). Hasil penelitian menunjukkan bahwa adversity

intelligence berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai-nilai

kewirausahaan dengan koefisien korelasi 0,738 dan memberikan kontribusi

sebesar 54,5%. Dalam penelitian ini variabel yang berhubungan adalah

adversity intelligence dan nilai berwirausaha. Variabel adversity intelligence

memiliki kesamaan terhadap penelitian yang dilakukan oelh penulis, namun

penelitian yang dilakukan oleh Nurcahyo Putra Dwi Suryo melihat pengaruh

dari adversity intelligence terhadap nilai-nilai berwirausaha, sedangkan peneliti

meneliti adversity intelligence terhadap kesiapan berwirausaha.

Penelitian oleh Arys Tri Yuliani yang berjudul “analisis faktor-faktor

yang mempengaruhi kesiapan berwirausaha”. Tujuan dari penelitian ini adalah

untuk mengetahui faktor paling dominan terhadap peningkatan kesiapan


25

berwirausaha. Metode yang digunakan adalah telaah pustaka yang

mendeskripsiskan hasil penelitian terdahulu yang berpengaruh terhadap

kesiapan berwirausaha untuk dianalisis dan kemudian diambil kesimpulan.

Hasil dari penilitian Arys Tri Yuliani menunjukkan bahwa terdapat beberapa

faktor yang berpengaruh terhadap kesiapan yaitu self efficacy, pengetahuan

kewirausahaan, motivasi, dan pengalaman praktik kerja industri. Penelitian

Arys Tri Yuliani memiliki kesamaan dengan penelitian peniliti ingin

mengetahui pengaruh faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kesiapan

berwirausaha, namun variabel yang diangkat peneliti adalah adversity

intelligence dan nilai mata kuliah technopreneurship.

Pada jurnal penelitian kurjono yang berjudul “Adversity Intelligence as

a Strategy to Increase the Readiness of Entrepreneurship Instrument”. Artinya

kecerdasan mengahadapi kesulitan sebagai strategi meningkatkan instrumen

kesiapan kewirausahaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh

kesulitan kecerdasan dengan kesiapan instrumen kewirausahaan. Data

dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan korelasi. Hasil

dari penilitian menunjukkan bahwa adanya korelasi yang positif dan signifikan

antara kecerdasan menghadapi kesulitan dengan kesiapan berwirausaha.

Analisis menunjukkan bahwa kontribusi kecerdasan menghadapi kesulitan

terhadap kesiapan berwirausaha adalah 11,45% sedangkan sisanya adalah

88,55% oleh faktor lain. Ketika telah memiliki kecerdasan menghadapi

kesulitan semakin tinggi maka kesiapan berwirausaha juga akan semakin tinggi

juga.
26

Penelitian Rahmat Irsyada, Ahmad Dardiri, R. Machmud Sugandi

(2018) dengan judul “Kontribusi Minat Berwirausaha dan Self Efficacy

terhadap Kesiapan Berwirausaha di Era Revolusi Industri 4.0 Mahasiswa

Teknik Informatika se-Malang”. Populasi penelitian ini berjumlah 405

mahasiswa vokasi D3/D4 teknik informatika se-Malang. Hasil penelitian yang

dilakukan dengan menyebarkan angket kepada 261 mahasiswa menunjukkan

hasil bahwa skor terendah yang diperoleh adalah 49 dan skor tertinggi

yangadiperoleh 84 dari skor maksimal yang dapat diperoleh sebesar 84.

Distribusi frekuensi data hasil penelitian variabel self efficacy, dapat terlihat

bahwa tingkat self efficacy yang masuk dalam kategori sangat rendah sebesar

0%. Self efficacy masuk dalam kategori rendah sebesar 0,4%. Self efficacy

masuk dalam kategori sedang sebesar 23,4%. Self efficacy masuk dalam

kategori tinggi sebesar 59,8 %. Self efficacy masuk dalam kategori sangat

tinggi sebesar 16,4 %. Persamaan penelitian ini adalah dalam penelitian ini

dibahas tentang faktor yang mendukung kesiapan berwirausaha mahasiswa di

era revolusi industri 4.0. Perbedaan dalam jurnal ini, di penelitian ini variabel

X nya adalah minat berwirausaha dan self efficacy sedangkan variabel X

penelitian peneliti adalah adversity intelligence dan nilai mata kuliah

technopreneurship.

Berdasarkan beberapa penelitian di atas, dapat di relevansikan melalui

variabel-variabel yang digunakan, ada kesamaan dengan penelitian peneliti.

Melalui penelitian relevan tersebut, menunjukkan bahwa terdapat pengaruh

positif wawasan technopreneurship terhadap kesiapan berwirausaha. Begitu


27

juga dengan hasil penelitian pengaruh adversity intelligence terhadap kesiapan

berwirausaha bahwa terdapat pengaruh positif. Adapun yang membedakan

penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah belum ada penelitian yang

meneliti ketiga variabel ini secara bersamaan, yaitu: Adversity intelligence

(X1), Nilai mata kuliah Technopreneurship (X2) dan Kesiapan berwirausaha di

era revolusi indusrtri 4.0 (Y). Kemudian belum terdapat peneliti lain di

Program Studi Pendidikan Bisnis Fakultas Ekonomi Unimed yang

menggunakan variabel tersebut. Oleh karena itu, penulis melakukan penelitian

ini untuk mengetahui pengaruh positif/negatif dan signifikan antara Adversity

Intelligence dan Nilai Mata Kuliah Technopreneurship terhadap Kesiapan

Berwirausaha di Era Revolusi Industri 4.0 Mahasiswa Pendidikan Bisnis

Stambuk 2016 Fakultas Ekonomi Unimed.

2.3 Kerangka Berpikir

Era revolusi industri 4.0 adalah suatu era yang membawa perubahan

dalam bidang teknologi yang serba digital bagi banyak negara di dunia

termasuk Indonesia. Teknologi yang serba digital telah menguasai segala

sistem termasuk dalam industri maupun perekonomian. Hal tersebut

merupakan suatu tantangan bagi dunia termasuk pada mahasiswa Pendidikan

Bisnis stambuk 2016. Setelah lulus akan diperhadapkan dengan dunia kerja

yang dinamis. Artinya akan terdapat perbedaan dalam mengelola suatu usaha

dengan memasarkan barang dagangannya secara tradisional dengan yang

menjalankan usaha menggunakan teknologi digital seperti smartphone.


28

Mahasiswa Pendidikan Bisnis harus memiliki sikap ataupun mental

yang kuat untuk dapat berkecimpung didalam dunia wirausaha. Adversity

Intelligence merupakan suatu kecerdasan atau kemampuan dalam menghadapi

tantangan. Seseorang yang telah memiliki Adversity Intelligence yang tinggi

akan mampu dalam memberi respon terhadap suatu tantangan ataupun

kesulitan. Tantangan yang dihadapi sesorang yang memiliki Adversity

Intelligence yang tinggi akan dapat mengubahnya menjadi sebuah peluang.

Demikian halnya dengan perubahan zaman yang semakin maju, sebahagian

orang akan menganggap bahwa ini merupakan kesulitan yang akan membuat

suatu kegagalan tetapi bagi orang yang memiliki Adversity Intelligence yang

tinggi akan menganggap ini adalah suatu peluang untuk berinovasi dan

mengembangkan usahanya dengan lebih baik. Maka, saat seseorang sudah

memiliki kemampuan dalam menghadapi tantangan ataupun perubahan-

perubahan, seseorang itu sudah memiliki kesiapan berwirausaha di era

revolusi industri 4.0.

Salah satu faktor yang mempengaruhi kesiapan berwirausaha secara

kognitif adalah pengetahuan. Pengetahuan yang mendukung seorang

mahasiswa untuk memiliki kesiapan berwirausaha tepatnya di era revolusi

industri 4.0, salah satunya adalah technopreneurship. Technopreneurship

adalah salah satu mata kuliah di prodi pendidikan bisnis yang bertujuan untuk

mempersiapkan mahasiswa Pendidikan Bisnis stambuk 2016 menjadi seorang

wirausaha di era revolusi industri 4.0. Era revolusi industri 4.0 adalah era

digital yang segala sistem diatur oleh teknologi yang canggih. Mahasiswa
29

diharapkan dapat menggabungkan kedua aspek tersebut yaitu teknologi dan

wirausaha. Agar dapat melihat tingkat pengetahuan technopreneurship

mahasiswa, peneliti menganalisis nilai yang didapat pada mata kuliah

technopreneurship. Menurut peniliti, nilai merupakan salah satu aspek yang

dapat menggambarkan pengetahuan ataupun kemampuan yang dimiliki

mahasiswa.

Dari penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa kerangka berpikir

penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh Adversity Intelligence (X1)

dan Nilai Mata Kuliah Technopreneurship (X2) terhadap Kesiapan

berwirausaha di Era Revolusi 4.0 (Y) mahasiswa. Model kerangka berpikir

adalah sebagai berikut:

Adversity Intelligence
(X1)

Kesiapan Berwirausaha di
Era Revolusi Industri 4.0

(Y)

Nilai Mata Kuliah


Technopreneurship
(X2)

Gambar 2.1 Kerangka Berpikir


30

2.4 Hipotesis Penelitian

Hipotesis merupakan jawaban sementara atau kesimpulan awal yang

diambil peneliti untuk menjawab permasalahan yang ada. Secara teoritis

dianggap paling mungkin dan paling tinggi tingkat kebenarannya serta harus di

uji tingkat kebenarannya secara empiris dengan alat yang ada (SPSS).

Berdasarkan kerangka teoritis dan kerangka berpikir diatas, maka dapat

diambil hipotesis penelitian ini yaitu :

1. Ada pengaruh positif dan signifkan Adversity Intelligence terhadap

Kesiapan Berwirausaha di Era Revolusi Industri 4.0 pada Mahasiswa

Pendidikan Bisnis stambuk 2016.

2. Ada pengaruh positif dan signifkan Nilai Mata Kuliah

Technopreneurship terhadap Kesiapan Berwirausaha di Era Revolusi

Industri 4.0 pada Mahasiswa Pendidikan Bisnis stambuk 2016.

3. Ada pengaruh positif dan signifkan Adversity Intelligence dan Nilai

Mata Kuliah Technopreneurship terhadap Kesiapan Berwirausaha di

Era Revolusi Industri 4.0 pada Mahasiswa Pendidikan Bisnis stambuk

2016.
31

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Fakultas Ekonomi Univesitas Negeri Medan

yang berlokasi di Jl.Willem Iskandar Pasar V, Kota Medan. Penelitian ini akan

dilaksanakan pada bulan November 2019 sampai dengan selesai.

3.2 Populasi dan Sampel

3.2.1 Populasi

Menurut Arikunto (2013:173) bahwa “Populasi adalah keseluruhan

subjek penelitian”. Artinya bahwa sekelompok atau sekumpulan individu yang

menjadi subjek penelitian. Sedangkan menurut Sugiyono (2013: 117)

“Populasi adalah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai

kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari

dan kemudian ditarik kesimpulannya”. Jadi, populasi adalah seluruh data yang

telah ditentukan untuk diteliti. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh

mahasiswa Program Studi Pendidikan Bisnis Angkatan 2016, yang berjumlah

96 orang.

Jumlah keseluruhan populasi dalam penelitian ini diperlihtakan dalam

tabel sebagai berikut :


32

Tabel 3.1
Populasi Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bisnis Angkatan 2016

Kelas Jumlah Mahasiswa


Reguler A 37
Reguler B 37
Ekstensi 22
Total 96

Sumber : Tata Usaha Prodi Pendidikan Bisnis Universitas Negeri Medan 2019

3.2.2 Sampel

Sampel adalah sebagian atau keseluruhan dari populasi yang dapat

diambil mewakili seluruh populasi sebagai sumber data peneliti ilmiah.

Arikunto (2013:174) bahwa: “apabila subjeknya kurang dari 100, lebih baik

diambil semua sehingga penelitinya merupakan penelitian populasi.

Selanjutnya, jika jumlah subjeknya besar, dapat diambil 10-15 % atau 20-25%

atau lebih”.

Sampel pada penelitian ini menggunakan tekni Total Sampling.

Berdasarkan ketentuan tersebut, maka sampel dalam penelitian ini adalah


33

seluruh mahasiswa prodi Pendidikan Bisnis angkatan 2016 Fakultas Ekonomi

Universitas Negeri Medan yang berjumlah 96 orang.

3.3 Variabel Penelitian dan Defenisi Operasional

3.3.1 Variabel Penelitian

Menurut Sugiyono (2013: 61), variabel penelitian adalah segala sesuatu

atribut atau sifat atau nilai dari orang, obyek atau kegiatan yang mempunyai

variasi tertentu yang ditetapkan oleh penliti untuk dipelajari kemudian ditarik

kesimpulannya. Dalam penelitian ini penulis menggunakan tiga variable, yakni

dua variabel bebas dan satu variable terikat, yaitu:

1. Variabel bebas/Independent variabel (X) : variabel penyebab atau

variabel yang mempengaruhi variabel lain. Dalam penelitian ini

terdapat dua variabel bebas, antara lain:

a. Variabel bebas satu (X1) : Adversity intelligence

b. Variabel bebas dua (X2) : Nilai Mata Kuliah Technopreneuship

2. Variabel terikat/dependent variabel (Y) : adalah variabel akibat atau

variabel yang ditimbulkan variabel bebas. Variabel terikat dalam

penelitian ini adalah Kesiapan berwirausa di era revolusi industri 4.0.

3.4 Definisi Operasional

Demi tercapainya pandangan yang sama terhadap penelitian ini,maka

penyeragaman pemikiran yang mempermudah pemahaman suatu masalah. Di


34

bawah ini di uraikan pemikiran-pemikiran yang digunakan sehubungan dengan

judul penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Adversity intelligence adalah tingkat kecerdasan seseorang dalam

mengubah hambatan menjadi sebuah peluang. Adapun indikator yang

dapat diukur dari adversity intelligence adalah control, origin and

ownership, reach, endurance. Jadi, semakin tinggi nilai yang diraih

maka semakin tinggi jugalah tingkat kecerdasan seseorang dalam

mengubah hambatan menjadi sebuah peluang.

2. Nilai mata kuliah technopreneurship adalah suatu tolak ukur untuk

dapat melihat kemampuan mahasiswa terhadap pengetahuan tentang

technopreneurship. Pengetahuan tentang technopreneurship yang telah

dipelajari selama satu semester yang telah diubah menjadi sebuah nilai.

3. Kesiapan Berwirausaha di era revolusi industri 4.0 adalah kemampuan

individu yang sudah memiliki rasa percaya diri dalam dirinya serta

mampu menciptakan inovasi dengan cara mengembangkan berbagai

sumber daya untuk diolah menjadi jasa atau barang yang dibutuhkan

oleh konsumen atau masyarakat dengan teknologi yang ada. Dalam

kesiapan berwirausaha individu juga harus memiliki orientasi yang baik

terhadap masa depan, serta memiliki jiwa kepemimpinan yang baik.


35

3.5 Teknik Pengumpulan Data

Untuk memperoleh data yang relevan dan akurat dalam penelitian ini,

penulis menggunakan beberapa metode teknik pengumpulan data yaitu:

3.5.1 Observasi

Menurut Sugiyono, (2013:310) menyatakan bahwa “through

observation to research learn about behavior and the meaning attached to

those behavior”. Observasi merupakan instrument pengumupulan data dengan

secara lansung ke kelas yang akan digunakan sebagai kelas observasi peneliti

untuk memperoleh data yang akurat dalam penelitian.

3.5.2 Dokumentasi

Metode dokumentasi dalam penelitian ini dimaksudkan untuk

memperoleh data sekunder berupa populasi mahasiswa Fakultas Ekonomi

Universitas Negeri Medan Program Studi Pendidikan Bisnis stambuk 2016.

3.5.3 Angket

Sugiyono (2013:199) menyatakan bahwa “ kuisioner merupakan teknik

pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat

pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya”.


36

Angket yang diberikan kepada responden adalah yang pertama tentang

Adversity Intelligence, dimana angket mengenai Adversity Intelligence ini

berisi pertanyaan yang didasari oleh indikator dari Adversity Intelligence yang

jumlah pertanyaannya adalah sebanyak 25 butir, dalam penelitian ini angket

yang digunakan adalah angket yang telah dilengkapi dengan pilihan jawaban

menggunakan model skala likert. Kedua adalah angket Kesiapan Berwirausaha

di era revolusi industri 4.0 yang didasari oleh indikatorkesiapa berwirausaha

dengan jumlah pertanyaan sebanyak 25 butir.

3.6 Instrumen Penelitian dan Pengukuran

3.6.1 Instrumen Penelitian

3.6.1.1 Angket

Angket yang diberikan kepada responden adalah tentang adversity

intelligence dan kesiapan berwirausaha di era revolusi industri 4.0, dimana

angket tersebut terdiri dari 50 butir pernyataan, dalam penelitian ini angket

yang digunakan adalah angket yang telah dilengkapi dengan pilihan jawaban

menggunakan model skala likert.

Adapun layout angket penelitian ditunjukkan dibawah ini.

Tabel 3.2

Layout Angket

No.
No Variabel Dimensi/Indikator Jumlah Skala
Item
1. Adversity Pengendalian Diri Likert
37

Intelligence (Control)
(X1) a. persaingan belajar di kelas 1 6
(Sumber: b. menyaring perkataan orang 2
Suryo, lain
2013) c. keyakinan bisa merubah 3, 21
d. ketegaran dalam hidup 4
e. keberanian menantang 5
hidup

Asal-usul dan Pengakuan


(Origin and Ownership)
a. mencari sebab 6 6
pemasalahan
b. ketenangan 7
menghadapi masalah
c. berusaha menghadapai 8, 22
kesulitan
d. dependensi masalah 9
e. berani mengakui kesalahan 10
Jangkauan
(Reach)
a. menjangkau jenis 11 6
permasalahan
b. pembatasan masalah 12
c. mengetahui pengaruh 13, 23
d. meyakini kepastian akibat 14
e. pengkondisian emosi 15
Daya Tahan
(Endurance)
a. penguatan diri terhadap 16 7
masalah
b. berfikir positif 17
c. tanggap terhadap masalah 18
d. cepat menyelesaikan 19, 24
kesulitan
e. optimis kuat 20, 25

Jumlah 25
No.
No Variabel Dimensi/Indikator Jumlah Skala
Item
4. Nilai mata Nilai mata kuliah Likert
kuliah technopreneurship
Technoprene mahasiswa Pendidikan
urship Bisnis stambuk 2016
(X2)
38

(Sumber:
DPNA)
5. Kesiapan Kepercayaan diri 1,2,3,4, 5
Berwirausaha 5
di era revolusi Keberanian mengambil 6, 7, 8, 4
industri 4.0 resiko 21
(Sumber: Berorientasi ke masa depan 9, 10, 4
Albana, 2014) 11, 22
Selalu mencoba berinovasi 12, 13, 4
14, 23
Bertanggung jawab 15, 16, 4
17, 24
Berkemampuan 18, 19, 4
memasarkan 20, 25
Jumlah 25

3.6.2 Teknik Pengukuran

3.6.2.1 Penskoran Angket

Untuk angket penelitian menggunakan skala Likert dengan 4 alternatif

jawaban, yakni Selalu (SL), Sering (SR), Kadang-Kadang (KK) dan Tidak

Pernah (TP) untuk variabel X1 mengenai adversity intelligence sedangkan

untuk variabel Y mengenai kesiapan berbisnis di era revolusi industri 4.0

mengunakan 4 alternatif jawaban yakni: Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Tidak

Setuju (TS), Sangat Tidak Setuju (STS). Adapun teknik penskoran angket

dalam penelitian ini yang menggunakan skala Likert dengan rincian sebagai

berikut:

Tabel 3.3
39

Pilihan Jawaban Serta Bobot Angket Kesiapan Berwirausaha di Era


Revolusi Industri 4.0

No. Pilihan Jawaban Skor

1. Sangat Setuju (SS) 4

2. Setuju (S) 3

4. Tidak Setuju (TS) 2

5. Sangat Tidak Setuju (STS) 1

Sumber: Sugiyono, (2013 : 199)

Tabel 3.4
Pilihan Jawaban Serta Bobot Angket Adversity Intelligence

No. Pilihan Jawaban Skor

1 Selalu (SL) 4

2 Sering (SR) 3

3 Kadang-kadang (KK) 2

4 Tidak Pernah (TP) 1

Sumber: Sugiyono, (2013 : 199)

3.6.3 Uji Validitas Angket

Sebuah instrumen dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang

ingin diukur. Nilai validitas dicari dengan menggunakan rumus korelasi

product moment dari Karl Pearson. Hal ini digunakan untuk mengkorelasikan
40

skor butir yang dinyatakan dengan simbol (X) terhadap skor total instrumen

yang dinyatakan dengan simbol (Y). Adapun rumusnya adalah sebagai berikut:

N ∑ XY −( ∑ X )(∑ Y )
r xy =
√ {N ∑ X 2−¿ ¿ ¿
Keterangan:

rxy = Koefisien korelasi yang tinggi

N = Jumlah sampel atau responden

ΣX = Jumlah skor butir

ΣY = Jumlah skor total

ΣY = Jumlah perkalian butir dan total

ΣX2 = Jumlah kuadrat butir

ΣY2 = Jumlah kuadrat total

(Suharsimi Arikunto, 2013: 87)

Dengan menggunakan kriteria jika rhitung > rtabel pada taraf signifikan 95% dan

(α = 0,05) maka angket itu dianggap valid dan jika r hitung ≤ rtabel maka angket

dianggap tidak valid.

3.6.4 Uji Reliabilitas Angket

Instrumen yang baik adalah harus reliabel. Suatu instrumen dikatakann

reliabel jika instrumen tersebut ketika dipakai untuk mengukur suatu gejala

yang sama dalam waktu yang berbeda akan menunjukkan hasil yang sama

(Suharsimi Arikunto, 2013: 101). Untuk menguji reliabilitas instrumen

digunakan rumus Cronbach Alpha. Rumus Alpha digunakan untuk mencari


41

reliabilitas instrumen yang skornya bukan 1 atau 0. Rumus Cronbach Alpha

adalah sebagai berikut:

2
n ∑σ
( )(
r 11 =
n−1
1− 2 i
σt )
Keterangan :

r11 = reliabilitas instrument

n = banyaknya butir pertanyaan atau banyaknya soal

∑σ i2 = jumlah varians total

σ i2 = varians total

(Suharsimi Arikunto, 2013: 122)

Untuk kriteria reliabilitas angket jika rhitung > rtabel dengan taraf signifikan (α =

0,05) maka angket itu dikatakan reliable. Namun dan jika rhitung ≤ rtabel maka

angket dianggap tidak memiliki reliabilitas.

3.7 Uji Asumsi Klasik

3.7.1 Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan mengetahui apakah data yang diperoleh dari

masing-masing variabel berdistribusi normal atau tidak. Untuk mengetahui

sebaran tiap variabel normal atau tidak, rumus yang digunakan dalam uji

normalitas ini adalah rumus Kolmogorov Smirnov. Data dikatakan normal

apabila nilai dari probabilitas dalam SPSS lebih besar dari 0,05. Sehingga jika

harga Kolmogorov Smirnov hasil untuk masing-masing variabel lebih besar


42

dari 0,05 maka berarti sebaran datanya normal. Sedangkan jika kurang dari

0,05 maka distribusi datanya tidak normal.

3.7.2 Uji Linearitas

Uji linearitas dilakukan untuk mengetahui apakah antara variabel bebas

(X) dan variabel terikat (Y) mempunyai hubungan linear atau tidak. Untuk

mengetahui hal tersebut, kedua variabel harus diuji menggunakan uji F pada

taraf signifikansi 5% dengan rumus sebagai berikut:

Freg = RKreg

RKres

Keterangan:

Freg = harga bilangan F untuk garis regresi

Rkreg = rerata kuadrat garis regresi

Rkres = rerata kuadrat residu

(Sutrisno Hadi, 2004: 14)


43

Selanjutnya Fhitung dikonsultasikan dengan Ftabel pada taraf

signifikansi 5%. Apabila Fhitung lebih besar atau sama dengan Ftabel maka

pengaruh antara variabel bebas dan variabel terikat dikatakan bersifat linear.

3.7.3 Uji Heterokedastisitas

Uji heterokedastisitas bertujuan untuk mengetahui apakah terjadi

ketidaksamaan varians dari residual pada semua pengamatan di dalam model

regresi. Syarat yang harus dipenuhi adalah terdapat kesamaan varians dari

residual atau homokedastisitas. Pengujiannya menggunakan bantuan program

SPSS menggunakan metode scatter plot, memplotkan nilai ZPRED (nilai

prediksi) dengan SRESID (nilai residual). Jika titik-titik pada output yang

dihasilkan acak atau tidak membentuk pola yang jelas dan menyebar di atas

dan di bawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heterokedastisitas.

Berdasarkan hasil outputnya dapat dilihat bahwa titik-titiknya menyebar secara

acak di atas ataupun di bawah angka 0 pada sumbu Y, dan tidak membentuk

pola. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi heterokedastisitas.

3.7.4 Uji Multikolinearitas

Uji multikolinearitas dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya

hubungan yang linear antara variabel bebas. Tolerance value mengukur

variabilitas variabel bebas yang terpilih yang tidak dapat dijelaskan oleh

variabel bebas lainnya. Tolerance value rendah sama dengan nilai VIF (Varian

Inflation Factor) tinggi (karena VIF = 1/tolerance) dan menunjukkan adanya


44

kolinearitas yang tinggi. Nilai cut off yang umum dipakai adalah nilai tolerance

≤ 0,10 atau sama dengan nilai VIF ≥ 10. Untuk mendeteksi ada tidaknya

multikolinearitas dalam model regresi yaitu:

1) Tolerance value ≤ 0,10 dan VIF ≥ 10 = terjadi multikolinearitas

2) Tolerance value ≥ 0,10 dan VIF ≤ 10 = tidak terjadi multikolinearitas

Sumber : Imam Gozhali, (2011: 106)

3.8 Teknik Analisis Data

Menurut Sugiyono (2013:207) yang dimaksud dengan analisis data

adalah sebagai berikut:

“Analisis data merupakan kegiatan setelah data dari seluruh


responden terkumpul. Kegiatan dalam analisis data adalah
mengelompokkan data berdasarkan variabel dan jenis responden,
mentabulasi data berdasarkan variabel dari seluruh responden,
menyajikan data dari setiap variabel yang diteliti, melakukan
perhitungan untuk menjawab rumusan masalah dan melakukan
perhitungan untuk menguji hipotesis yang telah diajukan”.

3.8.1 Analisis Regresi Linear Berganda

Metode analisis yang digunakan adalah model regresi linear berganda.

Menurut Sugiyono (2013:267) bahwa:

“Analisis regresi linear berganda bermaksud meramalkan bagaimana keadaan

(naik turunnya) variabel dependen (kriterium), bila dua atau lebih variabel
45

independen sebagai faktor prediator dimanipulasi (dinaik turunkan nilainya).

Jadi analisis regresi berganda akan dilakukan bila jumlah variabel

independennya minimal 2”.

Menurut Sugiyono (2014:277) persamaan regresi linear berganda yang

ditetapkan adalah sebagai berikut:

Y =a+b1 X 1 +b 2 X 2 + e

Keterangan:

Y = Kesiapan Berwirausaha di Era Revolusi Industri 4.0

a = Koefisien konstanta

b1 = Koefisien regresi Adversity Intelligence

b2 = Koefisien regresi Nilai Mata Kuliah Tehnopreneurship

X1 = Adversity Intelligence

X2 = Nilai Mata Kuliah Tehnopreneurship

Nilai dari a, b1, b2 pada persamaan regresi dapat dihitung dengan rumus

dibawah ini:

a=Y −b1 x 1 +b2 x 2+ e

b 1=( ∑ x 21 ) ( ∑ x 2 Y ) −¿ ¿

b 2=( ∑ x 21 ) ( ∑ x 2 Y ) −¿ ¿
46

3.8.2 Pengujian Hipotesis

3.8.2.1 Uji t ( Parsial )

Uji t (t-test) melakukan pengujian terhadap koefisien regresi secara

parsial, pengujian ini dilakukan untuk mengetahui signifikansi peran secara

parsial antara variabel independen terhadap variabel dependen dengan

mengasumsikan bahwa variabel independen lain dianggap konstan. Rumus

yang digunakan adalah

r √n−2
t=
√1−r 2

Sumber: Sugiyono, (2013: 259)

Keterangan:

t : t hitung

r : koefisien korelasi

n : jumlah responden

(t-test) hasil perhitungan ini selanjutnya dibandingkan dengan t tabel dengan

menggunakan tingkat kesalahan 0,05. Kriteria yang digunakan adalah sebagai

berikut:

- diterima jika nilai < atau nilai sig > α (α = 0,05)

- ditolak jika nilai ≥ atau nilai sig < α (α= 0,05)


47

Bila terjadi penerimaan Ho maka dapat disimpulkan bahwa tidak

terdapat pengaruh signifikan, sedangkan bila Ho ditolak artinya terdapat

pengaruh yang signifikan.

Rancangan pengujian hipotesis statistik ini untuk menguji ada tidaknya

pengaruh antara variabel independent (X) yaitu adversity intelligence (X1),

nilai mata kuliah technopreneurship (X2), terhadap Kesiapan berwirausaha di

era revolusi industri 4.0 (Y), adapun yang menjadi hipotesis dalam penelitian

ini adalah:

- Ho : β = 0 : terdapat pengaruh positif dan signifikan

- Ha : β ≠ 0 : terdapat pengaruh positif dan signifikan.

3.8.2.2 Uji F (Simultan)

Uji F adalah pengujian terhadap koefisien regresi secara simultan.

Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh semua variabel

independen yang terdapat di dalam model secara bersama-sama (simultan)

terhadap variabel dependen. Uji F dalam penelitian ini digunakan untuk

menguji signifikasi pengaruh Adversity Intelligence dan nilai mata kuliah

technopreneurship terhadap Kesiapan Berwirausaha di era revolusi industri 4.0

secara simultan dan parsial.

Menurut Sugiyono (2013:266) dirumuskan sebagai berikut:


48

R2 /k
F= 2
(1−R )/(n−k −1)

Keterangan:

R2 = Koefisien determinasi

k = Jumlah variabel independen

n = Jumlah anggota data atau kasus

Selanjutnya, Fhitung dikonsultasikan dengan Ftabel dengan derajat

kebebasan (dk) k lawan N-k-1 pada taraf signifikansi 5%. Apabila Fhitung lebih

besar atau sama dengan dari Ftabel maka terdapat pengaruh yang signifikan

antara variabel bebas terhadap variabel terikat. Jika Fhitung lebih kecil dari Ftabel

maka pengaruh antara variabel bebas terhadap variabel terikat tidak signifikan.

3.8.3 Uji Koefisien Determinasi (R2)

Uji Koefisien Determinan (R2) digunakan untuk mengetahui seberapa

besar kontribusi adversity intelligence dan nilai mata kuliah

technopreneurship terhadap kesiapan berwirausaha di era revolusi industri 4.0.

Adapun rumus koefisien determinasi adalah sebagai beriku:

R2=b ¿ ¿

Dimana :

R2 = Koefisien determinasi

b = Koefisien regresi variabel X dan Y

X = variabel independen

Y = variabel dependen
49

N = jumlah sampel

Dengan ketentuan jika R2 yang diperoleh dari hasil perhitungan

menunjukkan semakin besar (mendekati satu), maka dapat dikatakan bahwa

sumbangan dari variabel bebas terdapat variabel terikat semakin besar ( 0 < R2

<1). Untuk mempermudah perhitungan data maka digunakan bantuan sofware

SPSS Versi 25.