Anda di halaman 1dari 31

DAFTAR PERTANYAAN

1. (KELOMPOK 1) DIJAWAB OLEH : NADYA VIOLANI


Berdasarkan gametnya, proses SECARA GENERATIF dapat dikelompokkan sebagai :
 Isogami
 Anisogami
 Oogami
 Gametangiogami
 Somatogami
 Spermatisasi

TolongandajelaskankembalidariIsogami,Anisogami
,Oogami ,Gametangiogami ,Somatogami ,Spermatisasi ?

JAWAB:

Isogamiyaitupeleburan 2 gamet yang sama bentuk dan ukurannya, bila gamet-gamet


tersebut tidak sama ukurannya disebut anisogami. Apabila peleburan 2 gamet tersebut
yang berbeda adalah bentuk dan ukurannya, maka disebut oogami. Pada oogami, ovum
yang dihasilkan dalam oogoium dibuahi oleh spermatozoid yang bentuk dalam
anteridium. Sedangkan yang disebut dengan gametangiogami adalah bila peleburanisi 2
gametangium yang berbeda jenisnya tersebut menghasilkan zigospora.

Pada somatogami, yang terjadi yaitu peleburan 2 selhifa.Duas elhifa yang tidak
berdeferensiasi intiselnya berpasangan, kemudian terbentuk hifa diploid yang selanjutnya
akan dibentuk askospora.

Sedangkan spermatisasi yaitu peleburan antara spermatium(gamet jantan) dengan


gametangium betina (hifa) yang kemudian berkembang membentuk hifa baru (diploid)
dan menghasilkan askospora.

2. (KELOMPOK 2) DIJAWAB OLEH : HERLIN WAHYUDI

Bisakahandajelaskantentangpenyakit yang
timbulolehjamurterutamapadaTineacapitis&Tineafavosa. Gejalasepertiapakah yang
ditimbulkanpadapenyakittersebut.
JAWAB :
a. Tineacapitis
Merupakan infeksi jamur yang menyerang stratum corneum kulit kepala dan rambut
kepala, yang disebabkan oleh jamur Mycrosporum dan Trichophyton.Gejalnya
adalah rambut yang terkena tampak kusam, mudah patah dantinggalrambut yang
pendek-pendekpadadaerah yang botak.Padainfeksi yang
beratdapatmenyebabkanedematousdanbernanah.
b. Tineafavosa
Merupakaninfeksipadakulitkepala, kulitbadan yang tidakberambutdan kuku.
PenyebabnyaadalahTrichophytonschoenleinii.Gejalnyaberupabintik-
bintikputihpadakulitkepalakemudianmembesarmembentukkerak yang
berwarnakuningkotor.
Kerakinisangatlengketdalnbiladiangkatakanmeninggalkanlukabasahataubernanah.

3. (KELOMPOK 3) DIJAWAB OLEH : EVA NOVIANI


1. Di slide anda, ada menyebutkan bahwa Mikosis superfisial
merupakan mikosis yang menyerang kulit, kuku, dan rambut terutama disebabkan oleh 3
generasi jamur, yaitu salah satunya Trichophyton. Bisakah anda anda berikan
gambaran kepada saya, tentang ‘trichophyton itu seperti apa???
JAWAB :
Trichophyton rubrum merupakan jamur yang paling umum menjadi
menyebabkan infeksi jamur kronis pada kulit dan kuku manusia. Pertumbuhan koloninya
dari lambat hingga bisa menjadi cepat. Teksturnya yang lunak, dari depan warnanya putih
kekuning-kuningan (agak terang) atau bisa juga merah violet. Kalau dilihat dari belakang
tampak pucat, kekuning-kuningan, coklat, atau cokelat kemerahan. Meskipun
trichophyton rubrum merupakan jamur yang paling umum terdeteksi menjadi
dermatophytes (jamur parasit – mycosis – yang menginfeksi kulit) dan menyebabkan
infeksi jamur kuku tangan. ditularkan melalui kontak langsung dengan kulit/kuku
manusia atau hewan yang terinfeksi.
Inilah yang menyebabkan jamur ini tergolong sebagai IMS karena bisa ditularkan
melalui ‘sentuhan, usapan, dan rabaan’ dari kulit yang mungkin terinfeksi. Bisa juga
akibat kontak kulit atau rambut kita dengan benda yang dihinggapi jamur ini seperti
pakaian, sisir, sikat rambut, kursi bioskop, topi, furniture, seprai, selimut, handuk, dan
lain sebagainya. Tergantung pada jenis organisme jamur yang ada di sekitar kita.
Kerentanan terkena infeksi terjadi apabila ada cedera pada kulit seperti luka tergores, luka
bakar, maupun suhu dan kelembaban yang berlebihan.

4. (KELOMPOK 4) DIJAWAB OLEH : ADE RESTU WAHYUNI

Tadi kelompok anda menjelaskan bahwa jamur tidak mampu melakukan fotosintesis
untuk kelangsungan hidupnya, jadi dengan cara apa jamur dapat meneruskan
kelangsungan hidupnya ?

JAWAB :
jamur itu bersifat heterotrof jadi untuk memperolehmakanan,
jamurmenyerapzatorganikdarilingkunganmelaluihifadanmiseliumnya,
kemudianmenyimpannyadalambentukglikogen.
Olehkarenajamurmerupakankonsumenmakajamurbergantungpadasubstrat yang
menyediakankarbohidrat, protein, vitamin,
dansenyawakimialainnya.Semuazatitudiperolehdarilingkungannya.
5. (KELOMPOK 5) DIJAWAB OLEH : ROZIANTY KHAIRIAH

Tadi anda sudah menjelaskan tentang anti jamur serta pengobatnnya. Bisakah anda
jelaskan peranan jamur dalam kehidupan manusia, selain yang kita ketahui dalam
penggunaan bahan pembuatan tapai serta tempe?

JAWAB :

Perananjamurdalamkehidupanmanusiasangatbanyak, baikperan yang merugikanmaupun


yang menguntungkan. Jamur yang menguntungkanmeliputiberbagaijenisantara lain
sebagaiberikut :

a. Volvariellavolvacea(jamurmerang) bergunasebagaibahanpangan
berproteintinggi.

b. RhizopusdanMucorbergunadalamindustribahanmakanan, yaitu
dalampembuatantempedanoncom.

c. KhamirSaccharomyces bergunasebagaifermentordalamindustri
keju, roti, danbir.

d. Penicilliumnotatumbergunasebagaipenghasilantibiotik.

Di sampingperanan yang menguntungkan, beberapajamurjugamempunyaiperanan yang


merugikan, antara lain sebagaiberikut.

a. Phytiumsebagaihamabibittanaman yang menyebabkanpenyakit


rebahsemai.

b. Saprolegniasebagaiparasitpadatubuhorganisme air.

c. Albugomerupakanparasitpadatanamanpertanian.

d. Pneumoniacariniimenyebabkanpenyakit pneumonia padaparu-paru


manusia.

e. Candida sp. penyebabkeputihandansariawanpadamanusia.

6. (KELOMPOK 6) DIJAWAB OLEH : SUNARDI

Tolongandajelaskan bagaimanaperbedaanantarafragmentasi&sporaaseksual??

JAWAB :
Fragmentasiadalahpemotonganbagian-
bagianhifadansetiappotongantersebutdapattumbuhmenjadihifabaru.Reproduksijamursecarafra
gmentasidiawalidenganterjadinyapemisahanhifadarisebuahmiselium.Selanjutnyahifatersebuta
kantumbuhdengansendirinyamenjadimiseliumbaru. Padakondisitertentu,
hifaakanterdegeneralisasimenjadisporangia (penghasilsporaaseksual).
Cara reproduksiaseksual yang lainadalahdenganspora yang disebutsporaaseksual.
Sporaaseksualadalahspora yang dihasilkandaripembelahansecara
mitosis.Pembentukansporaaseksualpadajamurterjadimelaluispora yang
dihasilkanolehhifatertentu.Sporatersebutmerupakansebuahselreproduksi yang
dapattumbuhlangsungmenjadijamur.Hal
inimiripdenganperkecambahanbijipadatumbuhantingkattinggi.

7. (KELOMPOK 7) DIJAWAB OLEH : SEPTILA ANGGRAINI

Menurut anda, hal – hal apa yang perlu diperhatikan saat kita mengkonsumsi obat – obat
anti jamur ?

JAWAB :
1. perhatikan efek samping yg terjadi dan reaksi yang merugikan seperti mual,
muntah, sakit kepala.
2. Menggunakan obat sesuai resep dokter
3. Perhatikan urin karena banyak obat – obat anti jamur mengakibatkan
nefrotoksisitas.
8. (KELOMPOK 2) DIJAWAB OLEH :MODERATOR (2PERTANYAAN)

Saya mau tanya tentang keputihan, yang saya ketahui kalau keputihan disebabkan oleh
jamurCandida sp. Jadi menurut anda bagaimana cara untuk kita terhindar dari keputihan ?

JAWAB :
menurut saya, kita harus menjaga kebersihan vagina atau alat kelamin kita, terus
kebetulan saya kemarin ada nonton acara tentang dokter OZ indonesia, disitu kita wanita
dianjurkan untuk tidak memakai underwere dari bahan nilon karena bahan nilon susah
untuk meresap air. Jadi kita disarankan untuk memakai underwere dari katun. Terus kita
tidak dianjurkan memakai antibiotik untuk membersihkan alat kelamin kita karena
antibiotik itu akan membunuh bakteri baik yang ada.

Trichophyton rubrum
16 Mei 2009 pisangkipas Tinggalkan Komentar Go to comments

Trichophyton rubrum merupakan jamur yang paling umum menjadi menyebabkan infeksi
jamur kronis pada kulit dan kuku manusia. Pertumbuhan koloninya dari lambat hingga bisa
menjadi cepat. Teksturnya yang lunak, dari depan warnanya putih kekuning-kuningan (agak
terang) atau bisa juga merah violet. Kalau dilihat dari belakang tampak pucat, kekuning-
kuningan, coklat, atau cokelat kemerahan. Meskipun trichophyton rubrum merupakan jamur
yang paling umum terdeteksi menjadi dermatophytes (jamur parasit – mycosis – yang
menginfeksi kulit) dan menyebabkan infeksi jamur kuku tangan, ada juga jenis jamur yang
lain yang menjadi sebab infeksi serupa, contohnya Tricophytum (T) mentagrophytes, T.
verrucosum, dan T. Tonsurans.

Penularan
Dermatophytes ditularkan melalui kontak langsung dengan kulit/kuku manusia atau hewan
yang terinfeksi. Inilah yang menyebabkan jamur ini tergolong sebagai IMS karena bisa
ditularkan melalui ‘sentuhan, usapan, dan rabaan’ dari kulit yang mungkin terinfeksi. Bisa
juga akibat kontak kulit atau rambut kita dengan benda yang dihinggapi jamur ini seperti
pakaian, sisir, sikat rambut, kursi bioskop, topi, furniture, seprai, selimut, handuk, dan lain
sebagainya. Tergantung pada jenis organisme jamur yang ada di sekitar kita. Kerentanan
terkena infeksi terjadi apabila ada cedera pada kulit seperti luka tergores, luka bakar, maupun
suhu dan kelembaban yang berlebihan.

Infeksi yang ditimbulkan meliputi:


- Ringworm (infeksi fungal pada kulit manusia dan hewan (sapi dan domba)) dikenal juga
dengan istilah dermatophytosis.
- Athlete’s foot (infeksi fungal pada kulit manusia yang menyebabkan sisik, flake, dan gatal
pada daerah yang terinfeksi) dikenal juga dengan istilah Tinea pedis.

Penyakit Athlete's foot

- Jock itch dikenal sebagai Tinea cruris (infeksi fungal pada daerah kunci (lipatan) paha),
yang lebih sering terlihat pada laki-laki.
- Fungal Folliculitis (peradangan kulit pada daerah berambut) pada daerah berambut di atas
kepala dikenal juga dengan nama Tinea capitis
- Fungal Folliculitis pada daerah janggut dikenal sebagai Tinea barbae
- Fungal Folliculitis pada kaki dan betis dikenal sebagai Majocchi granuloma, ini sering
terjadi pada wanita yang mencukur kaki mereka.
- Onychomycosis(infeksi fungal pada kuku) yang menyebabkan kuku tumbuh tidak normal.

Identifikasi jamur
idetifikasi terhadap infeksi jenis T. rubrum sulit karena banyak anggota genus yang bereaksi
mirip pada saat dikenai tes reagen. The Mycology Unit at the Adelaide Women’s and
Children’s Hospital menggunakan sebuah skema identifikasi dermatophyte, dibuat oleh
Gerraldine Kaminski. Skema ini menggunakan 6 macam media untuk membantu
mengidentifikasi dan membedakan berbagai jenis spesies dan strain Trichophyton. Media
dalam skema ini adalah Littman Oxgall agar, Lactritmel agar, Sabouraud agar dengan 5%
NaCl, 1% Peptone agar, Trichophyton agar No 1, dan hidrolisis urea.
Pengobatan
Untuk pembaca umum, jangan coba beli obat sendiri tanpa resep dokter karena bisa membuat
kuman resisten (kebal) terhadap obat. Harap ditanyakan pada dokter/medis yang
berkompeten, untuk dokter/medis yang ingin mempelajari bisa dicek di alamat Wikipedia
(paling bawah) yang sudah diberi link ke alamat bersangkutan (tampaknya masih diperlukan
tambahan literatur).

DERMATOMIKOSIS ( MIKOSIS SUPERFISIAL )

Mikosis Superfisial merupakan penyakit kulit yany disebabkan oleh jamur yang
menyerang kulit pada bagian epidermis yang mengandung keratin yaitu Stratum
korneum basale misalnya : kulit, rambut, kuku. Penyakit ini banyak ditemukan di
Indonesia dan merupakan penyakit rakyat. Berdasarkan topografinya ( bentuk
klinis ) Mikosis Superfisial ada 2 yaitu :
1. Dermatofitosis
2. Non dermatofitosis

DERMATOFITOSIS
Penyakit yang disebabkan oleh jamur golongan dermatofit, jamur ini dapat
mencerna keratin kulit  ( keratinofilik ), sehingga jamur ini dapat menyerang
lapisan kulit mulai dari stratum korneum sampaim stratum basalis.
Penyebabnya adalah genus : Trichophyton, Epidermophyton, Microsporum

Penularan penyakit ini melalui : Kontak langsung , kontak tak langsung ( alat-alat )


dari penderita ( manusia / Antropofilik ). Berdasarkan daerah infeksi  ada beberapa
istilah yaitu :
- Tinea Capitis ( jamur yang menyerang daerah kepala )
- Tinea Barbae  ( menyerang daerah jenggot )
- Tinea Fasei ( menyerang pada muka )
- Tinea Cruris ( menyerang daerah pantat ) 
- Tinea Pedis ( menyerang kaki )
- Tinea unguium ( menyerang kuku )
- Tinea Corporis ( menyerang badan )
- Tinea interdigitalis  ( menyerang jari kaki, tangan )
GENUS  TRICHOPHYTON
Secara Mikroskopik ditemukan hifa bersepta / bersekat, hifa spiral, ditemukan
makrokonidia berbentuk gada berdinding tipis terdiri dari 6 – 12 sel juga
ditemukan  mikrokonidia yang bentuknya seperti tetes air. Secara makroskopik
ditemukan koloni yang kasar berserbuk / radier pada bagian tengah
menonjol. Contoh : Trichophyton mentagropytes.
Trichophyton rubrum

GENUS MICROSPORUM

Genus Microsporum secara mikroskopik ditemukan hifa bersekat,Mikrokonidia.


Makrokonidia seperti gada dengan dinding  sel tebal dan berduri / kasar,  sel pada
makrokonidia terdiri dari 8 –12 sel.  Secara makroskopik koloni tampak granuler
berserbuk. Contoh  : M. Cannis, M . gypseum. M.  nannum. M. Cokkei
Genus Epidermophyton

Genus Epidermophyton secara mikroskopik tampak hifa bersekat, ditemukan


makrokonidia  berbentuk seperti gada berdinding halus mengandung 2 -  4 sel,
ditemukan klamidospora.   Makrokonidia ini tersusun pada satu konidiophore 2 – 3
buah. Tidak ditemukan mikrokonidia. Secara makroskopik koloni
epidermophyton tampak  granuler,berserabut,menonjol pada bagian tengah.
Contoh : Epidermophyton flocosum
NON DERMATOFITOSIS

Infeksi non dermatofitosis pada kulit biasanya terjadi pada kulit yang paling luar ,
karena jamur ini tidak dapat mencerna keratin kulit sehingga hanya menyerang
lapisan kulit bagian luar. Yang termasuk jamur non dermatofitosis antara
lain : Pitiriasis versicolor, Tinea nigra palmaris, Piedra.      

1. PITIRIASIS VERSICOLOR

Disebut juga  Pityrosporum ovale / Pytirosporum orbiculare / Tinea versicolor atau


Panu disebabkan oleh jamur Malazzezia furfur. Penyakit ini bersifat kronik ,
ditandai dengan adanya bercak putih sampai coklat bersisik menyerang pada
bagian badan, ketiak, paha, leher, tungkai dan kulit kepala. Infeksi terjadi jika
jamur / hifa/ spora melekat pada kulit. Penderita mengalami kelainan pada kulit ,
orang yang berkulit putih maka jamur akan tampak bercak-bercak coklat atau
merah  ( hiperpigmentasi ) sedangkan pada penderita berkulit sawo matang / hitam
maka jamur akan tampak bercak-bercak lebih muda ( hipopigmentasi ). Dengan
demikian  warna kulit tampak bermacam-macam ( versicolor).Penderita mengeluh
merasa gatal jika berkeringat atau tanpa keluhan gatal sama sekali, tetapi penderita
merasa malu karena adanya bercak-bercak pada kulit. Penyebaran jamur ini
melalui kontak atau alat- alat pribadi yang terkontaminasi kulit penderita dan
predisposisi kebersihan pribadi.

DIAGNOSA

Dengan pemeriksaan bahan pemeriksaan kerokan kulit yang mengalami kelainan.

a. Pemeriksaan langsung dengan KOH 10 % 

Kulit yang mengalami kelainan dilakukan kerokan dengan alat skalpel yang sudah
disterilkan dengan alkohol 70 %. Hasil kerokan ditampung pada cawan petri steril
atau kertas steril, dan dilakukan pemeriksaan dengan cara diambil dengan ose
diletakkan pada objek glas dan diberi KOH 10 % ditutup dengan deck glas dan
diperiksa dibawah mikroskop. Secara mikroskopik ditemukan hifa pendek –
pendek dan spora bergerombol.

b. Pemeriksaan sinar wood

Dengan pemeriksaan sinar wood pada daerah infeksi akan memperlihatkan


flouresens warna emas atau orange.

c. Kultur

Jamur Malazzezia furfur belum dapat dibiakkan pada media buatan.

           

TERAPI

Dengan pemberian salisil / salep imidazol / mikonazol / klotrimazol dan pemberian


ketokonazol secara oral.  
TINEA NIGRA PALMARIS

Tinea Nigra Palmaris merupakan infeksi jamur yang mengenai tangan atau kaki
yang mengalami bercak-bercak putih atau hitam. Penyebabnya adalah
Cladosporium werneckii. Infeksi jamur ini biasanya menyerang telapak tangan
atau kaki yang menimbulkan bercak-bercak warna tengguli hitam , tidak ada
keluhan yang jelas hanya dari segi estetika kurang sedap dipandang karena tampak
kotor pada tangan dan kaki, kadang-kadang terasa gatal. 

         

         

DIAGNOSA

Bahan pemeriksaan berasal dari kerokan kulit tempat infeksi, hasil


kerokan langsung dilakukan pemeriksaan mikroskopik dengan menggunakan KOH
10 %. Jamur akan tampak hifa dan tunas yang berwarna hitam atau hijau tua
dengan spora yang bergerombol.

KULTUR          

Jika dikultur akan tampak koloni granuler yang berwarna hitam.     

        
3. PIEDRA

Merupakan infeksi jamur pada rambut, berupa tonjolan, keras melekat pada
rambut. Ada dua jenis piedra yaitu : Piedra hitam dan Piedra putih.

PIEDRA HITAM

Merupakan infeksi jamur pada rambut kepala yang disebabkan oleh  Piedraia
hortai. Infeksi terjadi karena rambut kontak dengan spora jamur. Rambut yang
terinfeksi mengalami kelainan berupa benjolan yang keras pada rambut yang
berwarna coklat kehitaman. Benjolan sulit dilepaskan jika dipaksakan rambut akan
patah. Penderita tidak mengalami gangguan hanya pada saat menyisir rambut
mengalami kesulitan.

DIAGNOSA

Bahan pemeriksaan berasal dari potongan rambut yang terinfeksi, dilakukan


pemeriksaan langsung dengan menggunakan KOH 10 %.  Hasil mikroskopik akan
tampak hifa yang padat berwarna tengguli dan ditemukan askus yang mengandung
askospora. 

KULTUR

Jika ditaman pada media SGA tampak koloniyang berwarna Hitam


            

PIEDRA PUTIH

Merupakan infeksi jamur pada rambut yang disebabkan oleh Trichosporon


cutaneum. Infeksi terjadi karena  rambut kontak dengan spora jamur. Rambut
yang terifeksi mengalami kelainan berupa benjolan yang tidak berwarna .   

DIAGNOSA 

Bahan pemeriksaan berasal dari rambut yang terinfeksi dilakukan pemeriksaan


langsung dengan menggunakan KOH 10 %. Tampak anyaman hifa yang
padat tidak berwarna atau putih kekuningan, ditemukan arthrospora pada ujung
hifa.

KULTUR

Bahan pemeriksaan jika ditanam pada media akan tumbuh koloni yang berwarna
kuning, granuler.
Jamur yang bisa menyebabkan penyakit pada manusia antara lain adalah dermatofita
(dermatophyte, bahasa yunani, yang berarti tumbuhan kulit) dan jamur serupa ragi candida
albican, yang menyebabkan terjadinya infeksi jamur superficial pada kulit, rambut, kuku, dan
selaput lendir. Jamur lainnya dapat menembus jaringan hidup dan menyebabkan infeksi
dibagian dalam. Jamur yang berhasil masuk bisa tetap berada di tempat (misetoma) atau
menyebabkan penyakit sistemik (misalnya, histoplasmosis).1

Insidensi mikosis superfisial sangat tinggi di Indonesia karena menyerang masyarakat luas,
oleh karena itu akan dibicarakan secara luas. Sebaliknya mikosis profunda jarang terdapat.
Yang termasuk ke dalam mikosis superfisial terbagi 2: kelompok dermatofitosis dan non-
dermatofitosis. Istilah dermatofitosis harus dibedakan di sini dengan dermatomikosis.
Dermatofitosis ialah penyakit pada jaringan yang mengandung zat tanduk, misalnya stratum
korneum pada epidermis, rambut, dan kuku yang disebabkan golongan jamur dermatofita.
Penyebabnya adalah dermatofita yang mana golongan jamur ini mempunyai sifat mencerna
keratin. Dermatofita termasuk kelas fungi imperfecti yang terbagi dalam genus, yaitu
microsporum, trichophyton, dan epidermophyton. Selain sifat keratolitik masih banyak sifat
yang sama di antara dermatofita, misalnya sifat faali, taksonomis, antigenik, kebutuhan zat
makanan untuk pertumbuhannya, dan penyebab penyakit.

Hingga kini dikenal sekitar 40 spesies dermatofita, masing-masing 2 spesies epidermophyton,


17 species microsporum, dan 21 species trichophyton. Pada tahun-tahun terakhir ditemukan
bentuk sempurna (perfect stage), yang terbentuk oleh dua koloni yang berlainan “jenis
kelaminnya”. Adanya bentuk sempurna ini menyebabkan dermatofita dapat masuk kedalam
family gymnoascaceae. Dikenal genus Nannizzia dan arthroderma yang masing-masing
dihubungkan dengan genus microsporum dan tricophyton. 2

Penyakit infeksi jamur di kulit mempunyai prevalensi tinggi di Indonesia, oleh karena negara
kita beriklim tropis dan kelembabannya tinggi. Dermatofitosis adalah infeksi jamur
superfisial yang disebabkan genus dermatofita, yang dapat mengenai kulit, rambut dan kuku.
Manifestasi klinis bervariasi dapat menyerupai penyakit kulit lain sehingga selalu
menimbulkan diagnosis yang keliru dan kegagalan dalam penatalaksanaannya. Diagnosis
dapat ditegakkan secara klinis dan identifikasi laboratorik. Pengobatan dapat dilakukan
secara topikal dan sistemik. Pada masa kini banyak pilihan obat untuk mengatasi
dermatofitosis, baik dari golongan antifungal konvensional atau antifungal terbaru.
Pengobatan yang efektif ada kaitannya dengan daya tahan seseorang, faktor lingkungan dan
agen penyebab. Prevalensi di Indonesia, dermatosis akibat kerja belum mendapat perhatian
khusus dari pemerintah atau pemimpin perusahaan walaupun jenis dan tingkat prevalensinya
cukup tinggi.
Beberapa penelitian yang pernah dilakukan di Indonesia antara lain: 30% dan pekerja
penebang kayu di Palembang dan 11,8% dan pekerja perusahaan kayu lapis menderita
dermatitis kontak utama Wijaya (1972) menemukan 23,75% dan pekerja pengelolaan minyak
di Sumatera Selatan menderita dermatitis akibat kerja, sementara Raharjo (1982) hanya
menemukan 1,82%. Sumamur (1986) memperkirakan bahwa 50-60% dari seluruh penyakit
akibat kerja adalah dermatofitosis akibat kerja. Dari data sekunder ini terlihat bahwa
dermatofitosis akibat kerja memang mempunyai prevalensi yang cukup tinggi, walaupun
jenis dermatofitosisnya tidak sama. Dan angka insidensi dermatofitosis pada tahun 1998 yang
tercatat melalui Rumah Sakit Pendidikan Kedokteran di Indonesia sangat bervariasi, dimulai
dari persentase terendah sebesar 4,8 % (Surabaya) hingga persentase tertinggi sebesar 82,6 %
(Surakarta) dari seluruh kasus dermatomikosis.3

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi

DERMATOFITOSIS adalah setiap infeksi fungal superfisial yang disebabkan oleh


dermatofit dan mengenai stratum korneum kulit, rambut dan kuku, termasuk onikomikosis
dan berbagai macam bentuk tinea. Disebut juga epidermomycosis dan epidermophytosis. 4

Jamur dermatofit dinamai sesuai dengan genusnya (mycrosporum, trichophyton, dan


epidermophyton) dan spesiesnya misalnya, microsporum canis, t. rubrum). Beberapanya
hanya menyerang manusia (antropofilik), dan yang lainya terutama menyerang hewan
(zoofilik), walau kadang bisa menyerang manusia. Apabila jamur hewan menimbulkan lesi
dikulit pada manusia, keberadaaan jamur tersebut sering menyebabkan suatu reaksi inflamasi
yang hebat (misalnya, cattle ringworm).1

2.2 Etiologi

Berdasarkan sifat makro dan mikro, dermatofita dibagi menjadi: microsporum, tricopyton,
dan epidermophyton. Yang paling terbanyak ditemukan di Indonesia adalah T.rubrum.
dermatofita lain adalah: E.floccosum, T.mentagrophytes, M. canis, M. gypseum,
T.cocentricum, T.schoeleini dan T. tonsurans.5

2.2.1 Microsporum
Kelompok dermatofita yang bersifat keratofilik, hidup pada tubuh manusia (antropofilik) atau
pada hewan (zoofilik). Merupakan bentuk aseksual dari jamur. Terdiri dari 17 spesies, dan
yang terbanyak adalah: 6

SPECIES CLASSIFICATION (NATURAL RESERVOIR)


Microsporum audouinii Anthropophilic
Microsporum canis Zoophilic (Cats and dogs)
Microsporum cooeki Geophilic (also isolated from furs of cats, dogs, and
rodents)
Microsporum ferrugineum Anthropophilic
Microsporum gallinae Zoophilic (fowl)
Microsporum gypseum Geophilic (also isolated from fur of rodents)
Microsporum nanum Geophilic and zoophilic (swine)
Microsporum persicolor Zoophilic (vole and field mouse)

Tabel 2.1 Spesies Microsporum.

Koloni mikrosporum adalah glabrous, serbuk halus, seperti wool atau powder. Pertumbuhan
pada agar Sabouraud dextrose pada 25°C mungkin melambat atau sedikit cepat dan diameter
dari koloni bervariasi 1- 9 cm setelah 7 hari pengeraman. Warna dari koloni bervariasi
tergantung pada jenis itu. Mungkin saja putih seperti wol halus yang masih putih atau
menguning sampai cinamon.6

2.2.2 Epidermophyton

Jenis Epidermophyton terdiri dari dua jenis; Epidermophyton floccosum dan


Epidermophyton stockdaleae. E. stockdaleae dikenal sebagai non-patogenik, sedangkan E.
floccosum satu-satunya jenis yang menyebabkan infeksi pada manusia. E. floccosum adalah
satu penyebab tersering dermatofitosis pada individu tidak sehat. Menginfeksi kulit (tinea
corporis, tinea cruris, tinea pedis) dan kuku (onychomycosis). Infeksi terbatas kepada lapisan
korneum kulit luar.koloni E. floccosum tumbuh cepat dan matur dalam 10 hari. Diikuti
inkubasi pada suhu 25 ° C pada agar potato-dextrose, koloni kuning kecoklat-coklatan

2.2.3 Tricophyton

Trichophyton adalah suatu dermatofita yang hidup di tanah, binatang atau manusia.
Berdasarkan tempat tinggal terdiri atas anthropophilic, zoophilic, dan geophilic.
Trichophyton concentricum adalah endemic pulau Pacifik, Bagian tenggara Asia, dan
Amerika Pusat. Trichophyton adalah satu penyebab infeksi pada rambut, kulit, dan kuku pada
manusia.8

NATURAL HABITATS OF TRICHOPHYTON SPECIES


Species Natural Reservoir
Ajelloi Geophilic
Concentricum Anthropophilic
Equinum zoophilic (horse)
Erinacei zoophilic (hedgehog)
Flavescens geophilic (feathers)
Gloriae Geophilic
Interdigitale Anthropophilic
Megnini Anthropophilic
Mentagrophytes zoophilic (rodents, rabbit) /
anthropophilic
Phaseoliforme Geophilic
Rubrum Anthropophilic
Schoenleinii Anthropophilic
Simii zoophilic (monkey, fowl)
Soudanense Anthropophilic
Terrestre Geophilic
Tonsurans Anthropophilic
Vanbreuseghemii Geophilic
Verrucosum zoophilic (cattle, horse)
Violaceum Anthropophilic
Yaoundei anthropophilic

Tabel 2.2 Spesies Trichophyton.

2.3 Insidensi

Indonesia termasuk wilayah yang baik untuk pertumbuhan jamur, sehingga dapat ditemukan
hampir di semua tempat. Menurut Adiguna MS, insidensi penyakit jamur yang terjadi di
berbagai rumah sakit pendidikan di Indonesia bervariasi antara 2,93%-27,6%. Meskipun
angka ini tidak menggambarkan populasi umum.

Dermatomikosis atau mikosis superfisialis cukup banyak diderita penduduk negara tropis. Di
Indonesia angka yang tepat, berapa sesungguhnya insiden dermatomikosis belum ada. Di
Denpasar, golongan penyakit ini menempati urutan kedua setelah dermatitis. Angka insiden
tersebut diperkirakan kurang lebih sama dengan di kota-kota besar Indonesia lainnya. Di
daerah pedalaman angka ini mungkin akan meningkat dengan variasi penyakit yang berbeda.

Sebuah penelitian retrospektif yang dilakukan pada penderita dermatomikosis yang dirawat di
IRNA Penyakit Kulit Dan Kelamin RSU Dr. Soetomo Surabaya dalam kurun waktu antara 2
Januari 1998 sampai dengan 31 Desember 2002. Dari pengamatan selama 5 tahun didapatkan
19 penderita dermatomikosis. Kasus terbanyak terjadi pada usia antara 15-24 tahun (26,3%),
penderita wanita hampir sebanding dengan laki-laki(10:9). Dermatomikosis terbanyak ialah
Tinea Kapitis, Aktinomisetoma, Tinea Kruris et Korporis, Kandidiasis Oral, dan Kandidiasis
Vulvovaginalis.

Jenis organisme penyebab dermatomikosis yang berhasil dibiakkan pada beberapa rumah
sakit tersebut yakni: T.rubrum, T.mentagrophytes, M.canis, M.gypseum, M.tonsurans,
E.floccosum, Candida albicans, C.parapsilosis, C.guilliermondii, Penicillium, dan
Scopulariopsis. Menurut Rippon tahun 1974 ada 37 spesies dermatofita yang menyebabkan
penyakit di dunia.9

Di luar seperti India, berdasarkan penelitian di India yang mengambil sampel sebanyak 121
kasus (98 pria & 23 perempuan), dermatomikosis menempati urutan pertama untuk kasus
penyakit kulit, 103 kasus (70,5%), diikuti candidiasis 30 kasus (20,5%) dan pitiriasis
versikolor. Di Amerika endemik dermatomikosis di daerah Utara dan barat Venezuela, brasil,
dan beberapa kasus di laporkan di Columbia dan argentina. Di Eropa infeksi tinea adalah hal
yang umum. Perkiraan insidensi penyakit ini sekitar 10-20%. Di Eropa dermatomikosis
merupakan penyakit kulit yang menempati urutan kedua. Penyakit ini disebabkan oleh tinea
pedis, tinea corporis, tinea cruris, dan tinea rubrum. Tinea rubrum ditemukan pada 76,2%
kasus dermatomikosis melalui pemeriksaan sampel di Eropa.

Onset usia terjadi pada anak kecil yang baru belajar berjalan (toddlers) dan anak usia sekolah.
Paling sering menyerang anak berusia 6-10 tahun dan juga pada usia dewasa.9
Frekuensi infeksi pada spesies tertentu antara lain:

• Sekitar 58% dermatofita yang terisolasi adalah trichophyton rubrum


• 27% Trichophyton mentagrophytes
• 7% Trichophyton verrucosum
• 3% Trichophyton tonsurans
• Kecil dari 1 % yang terisolasi: Epidermophyton floccosum, Microsporum audouinii,
Microsporum canis, Microsporum equinum, Microsporum nanum, Microsporum versicolor,
Trichophyton equinum, Trichophyton kanei, Trichophyton raubitschekii, and Trichophyton
violaceum.10

2.4 Klasifikasi

Klasifikasi yang paling sering dipakai oleh para spesialis kulit adalah berdasarkan lokasi:
a. Tinea kapitis, tinea pada kulit dan rambut kepala
b. Tinea barbe, dermatofitosis pada dagu dan jengggot.
c. Tinea kruris, dermatofita pada daerah genitokrural, sekitar anus, bokong, dan kadang-
kadang sampai perut bagian bawah.
d. Tinea pedis et manum, dermatofitosis pada kaki dan tangan.
e. Tinea unguium, tinea pada kuku kaki dan tangan.
f. Tinea facialis, tinea yang meliputi bagian wajah
g. Tinea korporis, dermatofitosis pada bagian lain yang tidak termasuk 5 bentuk tinea diatas.
Selain 6 bentuk tinea di atas masih dikenal istilah yang mempunyai arti khusus, yaitu:
a. Tinea imbrikata: dermatofitosis dengan susunan skuama yang kosentris dan disebabkan
oleh tricophyton concentricum.
b. Tinea favosa atau favus: dermatofitosis yang terutama disebabkan oleh tricophyton
schoenleini: secara klinis antara lain berbentuk skutula dan berbau seperti tikus (mousy odor).
c. Tinea sirsinata, arkuata yang merupakan penamaan deskriptif dari morfologinya.
d. Tinea incognito: dermatofitosis dengan bentuk klinis tidak khas oleh karena telah diobati
dengan steroid topical kuat. 2

2.5 Gejala Klinis


2.5.1 Tinea Pedis

Infeksinya anthropophilic dermatophytes biasanya disebabkan oleh adanya elemen hifa dari
jamur yang mampu menginfeksi kulit. Skala desquamasi kulit bisa terinfeksi di lingkungan
selama berbulan-bulan atau tahun. Oleh karena itu transmisi bisa terjadi dengan kontak tidak
langsung lama setelah infeksi terjadi.
Bahan seperti karpet yang kontak dengan kulit vektor sempurna. Begitu, transmisi
dermatophytes suka Trichophyton rubrum, T. interdigitale dan Epidermophyton floccosum
yang biasnya pada kaki. infeksi di sini sering kronis dan tidak menimbulkan keluhan selama
beberapa tahun dan hanya ketika menyebar kebagian lain, biasanya di kulit.11

2.5.2 Tinea unguium (dermatophytic onycomicosis, ringworm of the nail)


Trichophyton rubrum dan T. interdigitale adalah spesies yang sering menyebabkan tinea
unguium.
Dermatofita jenis unguium digolongkan menjadi dua bagian utama: (1). Superficial white-
onycomycosis yang menempel atau membuat lubang pada permukaan kuku. (2). Invasif,
subungual dermatofita yang lateral dari proximal atau pun distal. Diikuti dengan menetapnya
infeksi pada dasar kuku. Onycomycosis subungual distal adalah bentuk umum dari
onycomycosis dermatofita. Jamur menyerang bagian distal bantalan jari yang menyebabkan
hiperkeratosis dari bantalan kuku dengan onycolisis dan menyebabkan penebalan lempeng
kuku.
Seperti namanya onycomycosis subungual lateral dimulai dari bagian lateral kuku dan sering
menyebar melibatkan semua lempeng kuku. Pada onycomycosis subungual proximal jamur
menginvasi kebawah kutikula dan menginfeksi bagian proximal daripada bagian distal karena
spot yellow-white akan menyerang lunula terlebih dahulu kemudian meluas ke lempeng
kuku.11

2.5.3 Tinea kruris (eczema marginatum, dhobie itch, ringworm of the groin)

Tinea kruris adalah dermatofitosis pada lipat paha, daerah perineum, dan sekitar anus.
Kelainan ini dapat bersifat akut ataupun menahun, bahkan dapat merupakan penyakit yang
berlangsung seumur hidup. Lesi kulit dapat berbatas pada daerah genito-krural saja, atau
meluas ke daerah sekitar anus, daerah gluteus, dan perut bagian bawah, atau bagian tubuh
yang lain.11

Kelainan kulit yang tampak pada sela paha merupakan lesi berbatas tegas. Peradangan pada
tepi lebih nyata daripada daerah di tengahnya. Fluoresensi terdiri atas bermacam-macam
bentuk yang primer dan sekunder (polimorfik). Bila menahun dapat disertai bercak hitam dan
bersisik. Erosi dan keluarnya cairan terjadi akibat garukan. Dan tinea kruris merupakan
bentuk klinis tersering di Indonesia.2

Dermatofit T rubrum menjadi penyebab yang paling umum untuk tinea cruris. T rubrum
menjadi dermatofit yang lazim 90% dari kasus tinea cruris, diikuti T tonsurans ( 6%) dan T
mentagrophytes ( 4%). Organisme lain, termasuk E floccosum dan T verrucosum,
menyebabkan suatu kondisi klinis yang serupa. Infeksi T rubrum dan E floccosum lebih
cenderung untuk menjadi kronis dan non-inflamatori, sedangkan infeksi oleh T
mentagrophytes sering dihubungkan dengan suatu presentasi klinis merah, menyebabkan
peradangan akut.12
Agen yang pada umumnya menyebabkan tinea kruris antara lain: T. rubrum, T. interdigitale
dan E. floccosum. 11

2.5.4 Tinea kapitis

Tinea kapitis adalah kelainan pada kulit dan rambut kepala yang disebabkan oleh spesies
dermatofita. Kelainan ini dapat ditandai dengan lesi bersisik, kemerahan, alopesia dan
kadang-kadang terjadi gambaran klinis yang lebih berat, yang disebut kerion. Ada tiga bentuk
tinea kapitis:
1. Gray patch ring-worm, merupakan tinea kapitis yang biasanya disebabkan oleh genus
microsporum dan sering ditemukan pada anak-anak. Penyakit mulai dengan papul merah
yang kecil di sekitar rambut. Papul ini melebar dan membentuk bercak, yang menjadi pucat
dan bersisik. Keluhan penderita adalah rasa gatal. Warna rambut menjadi abu-abu dan tidak
berkilat lagi. Rambut mudah patah dan terlepas dari akarnya sehingga mudah dicabut dengan
pinset tanpa rasa nyeri. Semua rambut di daerah tersebut terserang oleh jamur dan
menyebabkan alopesia setempat. Tempat-tempat terlihat sebagai gray patch, yang pada klinik
tidak menunjukan batas daerah sakit dengan pasti. Pada pemeriksaan lampu wood terlihat
fluoresensi hijau kekuningan pada rambut yang sakit, melampaui batas dari gray patch
tersebut. Tinea kapitis disebabkan oleh microsporum audouini biasanya disertai tanda
peradangan, hanya sesekali berbentuk kerion.2
2. Kerion, merupakan tinea kapitis yang terutama disebabkan oleh Microsporum canis
(Mulyono, 1986). Bentuk yang disertai dengan reaksi peradangan yang hebat. Lesi berupa
pembengkakan menyerupai sarang lebah, dengan sebukan radang di sekitarnya. Kelainan ini
menimbulkan jaringan parut yang menetap.13

3. Black dot ring-worm, merupakan tinea kapitis yang terutama disebabkan oleh
Trichophyton tonsurans dan Trichophyton violaceum (Mulyono, 1986). Gambaran klinis
berupa terbentuknya titik-titik hitam pada kulit kepala akibat patahnya rambut yang terinfeksi
tepat di muara folikel. Ujung rambut yang patah dan penuh spora terlihat sebagai titik hitam.
Diagnosis banding pada tinea kapitis adalah alopesia areata, dermatitis seboroik dan psoriasis
(Siregar, 2005). 13

2.5.5 Tinea korporis (tinea sirsinata, tinea glabrosa, scherende flechte, kurap, herpes
sircine trichophytique)

Merupakan dermatofitosis pada kulit tubuh yang tidak berambut (glabrous skin).
1. Kelainan yang dilihat dalam klinik merupakan lesi bulat atu lonjong, berbatas tegas terdiri
dari eritema, squama, kadang-kadang dengan vesikel dan papul ditepi. Daerah tengah
biasanya tenang. Kadang terlihat erosi dan krusta akibat garukan. Lesi-lesi pada umumnya
merupakan bercak-bercak terpisah satu dengan yang lain. Dapat terlihat sebagai lesi dengan
tepi polisiklik, karena beberapa lesi kulit menjadi satu.
2. Tinea korporis yang menahun tanda radang yang mendadak biasanya tidak terlihat lagi.
Kelainan ini dapat terjadi pada tiap bagian tubuh dan bersama-sama dengan kelainan pada
sela paha. Dalalm hal ini disebut tinea korporis et kruris atau sebaliknya tinea kruris et
korporis. Bentuk menahun dari trichophyton rubrum biasanya dilihat bersama-sama dengan
tinea unguium.
3. Bentuk khas dari tinea korporis yang disebabkan oleh trichophyton concentricum disebut
tinea imbrikata. Tinea imbrikata dimulai dengan bentuk papul berwarna coklat, yang perlahan
menjadi besar. Stratum korneum bagian tengah ini terlepas dari dasarnya dan melebar. Proses
ini setelah beberapa waktu mulai lagi dari bagian tengah, sehingga terbentuk lingkaran-
lingkaran berskuama yang kosentris.
4. Bentuk tinea korporis yang disertai kelainan pada rambut adalah tinea favosa atau favus.
Penyakit ini biasanya dimulai dikepala sebagai titik kecil di bawah kulit yang berwarna
merah kuning dan berkembang menjadi krusta berbentuk cawan (skutula) dengan berbagai
ukuran. Krusta tersebut biasanya tembus oleh satu atau dua rambut dan bila krusta diangkat
terlihat dasar yang cekung merah dan membasah. Rambut tidak berkilat lagi dan terlepas.
Bila tidak diobati, penyakit ini meluas keseluruh kepala dan meninggalkan parut dan botak.
Berlainan dengan tinea korporis yang disebabkan oleh jamur lain, favus tidak menyembuh
pada usia akil balik. Biasanya tercium bau tikus (mousy odor) pada para penderita favus. Tiga
spesies dermatofita yang menyebabkan favus, yaitu trichophyton schoenleini, trichophyton
violaceum, dan microsporum gypseum. Berat ringan bentuk klinis yang tampak tidak
bergantung pada spesies jamur penyebab, akan tetapi lebih banyak dipengaruhi oleh tingkat
kebersihan, umur, dan ketahanan penderita penderita.2
2.6 Pemeriksaan Penunjang

Mikroskopik langsung
Sediaan basah dibuat dengan meletakan bahan di atas gelas alas, kemudian ditambah 1-2 tetes
larutan KOH. Konsentrasi 10% untuk rambut dan untuk kulit, dan untuk kuku 20%. Setelah
sedian dicampur dengan KOH, tunggu 15-20 menit untuk melarutkan jaringan.untuk
mempercepat pelarutan dilakukan pemanasan sediaan basah di atas api kecil. Pada saat mulai
keluar uap, pemanasan dihentikan. Untuk melihat elemen jamur lebih nyata dapat
ditambahkan zat warna pada sedian KOH, misalnya tinta parker superchroom blue black.2
Kerokan kulit, kuku, dan epitel rambut diuji dengan KOH 10% dan sediaan tinta Parker atau
calcofluor -white.11
Kultur
Spesimen akan diinokulasi ke dalam media isolasi primer, seperti agar sabouraud’s dextrose
yang terdiri dari sikloheksimid (actidione) dan masa inkubasi 26-28o C selama 4 minggu.
Pertumbuhannya signifikan pada banyak dermatofita.11

2.7 Diagnosa

Umumnya dermatofitosis pada kulit memberikan morfologi yang khas yaitu bercak-bercak
yang berbatas tegas disertai efloresensi-efloresensi yang lain, sehingga memberikan kelainan-
kelainan yang polimorfik, dengan bagian tepi yang aktif serta berbatas tegas sedang bagian
tengah tampak tenang. Gejala objektif ini selalu disertai dengan perasaan gatal, bila kulit
yang gatal ini digaruk maka papula-papula atau vesikel-vesikel akan pecah sehingga
menimbulkan daerah yang erosit dan bila mengering jadi krusta dan skuama. Kadang-kadang
bentuknya menyerupai dermatitis (ekzema marginatum), tetapi kadang-kadang hanya berupa
makula yang berpigmentasi saja (Tinea korporis) dan bila ada infeksi sekunder menyerupai
gejala-gejala pioderma (impetigenisasi).3

Pemeriksaan mikologik untuk membantu menegakan diagnosa terdiri atas pemeriksaan


langsung sediaan basah dan biakan. Pemeriksaan lain misalnya pemeriksaan histopatologik,
percobaan binatang, dan imunologik tidak diperlukan.2

2.8 Diagnosa Banding

Tinea pedis et manum harus dibedakan dengan dermatitis, yang biasanya batasnya tidak jelas,
bagian tepi lebih aktif dari pada bagian tengah. Adanya vesikel-vesikel steril pada jari-jari
kaki dan tangan (pomfoliks) dapat merupakan reaksi id, yaitu akibat setempat hasil reaksi
antigen dengan zat anti pada tempat tersebut.
Efek samping obat juga dapat memberi gambaran serupa yang menyerupai ekzem atau
dermatitis, pertama-tama harus dipikirkan adanya suatu dermatitis kontak. Pada hiperhidrosis
terlihat kulit yang mengelupas (maserasi). Kalau hanya terlihat vesikel-vesikel, biasanya
terletak sangat dalam dan terbatas pada telapak kaki dan tangan. Kelainan tidak meluas
sampai di sela-sela jari. 2

Penyakit lain yang harus mendapat perhatian adalah kandidiosis, membedakannya dengan
tinea pedis murni kadang-kadang sangat sulit. Pemeriksaan sediaan langsung dengan KOH
dan pembiakan dapat menolong. Infeksi sekunder dengan spesies candida atau bakteri lain
sering menyertai tinea pedis, sehingga pada kasus-kasus demikian diperlukan interpretasi
bijaksana terhadap hasil-hasil pemeriksaan laboraturium. Sifilis II dapat berupa kelainan kulit
di telapak tangan dan kaki. Lesi yang merah dan basah dapat merupakan petunjuk. Dalalm
hal ini tanda-tanda lain sifilis akan terdapat misalnya: kondiloma lata, pembesaran kelenjar
getah bening yang menyeluruh, anamnesa tentang afek primer dan pemeriksaan serologi serta
lapangan gelap dapat menolong.

Tinea unguium yang disebabkan oleh bermacam-macam dermatofita memberikan gambaran


akhir yang sama. Psoriasis yang menyerang kuku pun dapat berakhir dengan kelainan yang
sama. Lekukan-lekukan pada kuku (nail pits), yang terlihat pada psoriasis tidak didapati pada
tinea unguium. Lesi-lesi psoriasis pada bagian lain badan dapat menolong membedakannya
dengan tinea unguium. Banyak penyakit kulit yang menyerang bagian dorsal jari-jari tangan
dan kaki dapat menyebabkan kelainan yang berakhir dengan distrofi kuku, misalnya:
Paronikia, yang etiologinya bermacam-macam ekzem/dermatitis, akrodermatitis perstans.

Tidak begitu sukar menentukan tinea korporis pada umumnya, namun ada beberapa penyakit
kulit yang dapat mericuhkan diagnosa itu, misalnya dermatitis seboroika, psoriasis, dan
pitiriasis rosea. Kelainan kulit pada dermatitis seboroika selain dapat menyerupai tinea
korporis, biasanya terlihat pada tempat-tempat predileksi, misalnya di kulit kepala (scalp),
lipatan-lipatan kulit , misalnya belakang telinga, daerah nasolabial, dan sebagainya. Psoriasis
dapat dikenal pada kelainan kulit pada tempat predileksinya, yaitu daerah ekstensor misalnya
lutut, siku dan punggung. Kulit kepala berambut juga sering terkena pada penyakit ini.
Adanya lekukan-lekukan pada kuku dapat pula menolong menentukan diagnosa. Ptiriasis
rosea distribusi kelainan kulitnya simetris dan terbatas pada bagian tubuh dan bagian
proksimal anggota badan, sukar dibedakan dengan tinea korporis. Pemeriksaan
laboraturiumlah yang dapat memastikan diagnosanya. Tinea korporis kadang sukar dibedakan
dengan dermatitis seboroik pada sela paha. Lesi-lesi ditempat predileksi sangat menolong
dalm menentukan diagnosa. Psoriasis pada sela paha dapat menyerupai tinea kruris. Lesi pada
psoriasis lebih merah, skuama lebih banyak dan lamelar. Adanya lesi psoriasis pada tempat
lain dapat membantu menentukan diagnosa.

Kandidosis pada daerah lipat paha mempunyai konfigurasi hen and chicken. Kelainan ini
biasanya basah dan berkrusta. Pada wanita ada tidaknya flour abus dapat membantu
pengarahan diagnosa. Pada penderita diabetes mellitus, kandidosis merupakan penyakit yang
sering dijumpai.

Eritrasma merupakan penyakit yang tersering berlokasi di sela paha. Efloresensi yang sama
yaitu eritema dan skuama, pada seluruh lesi merupakan tanda-tanda khas dari penyakit ini.
Pemeriksaan dengan lampu wood dapat menolong dengan adanya floresensi merah (coral
red).
Tinea barbe kadang sukar dibedakan dengan sikosis barbe, yang disebabkan oleh piokokus.
Pemeriksaan sediaan langsung dapat membedakan kedua penyakit ini.2

2.9 Pengobatan

Pengobatan dermatofitosis sering tergantung pada klinis. Sebagai contoh lesi tunggal pada
kulit dapat diterapi secara adekuat dengan antijamur topikal. walaupun pengobatan topikal
pada kulit kepala dan kuku sering tidak efektif dan biasanya membutuhkan terapi sistemik
untuk sembuh. Infeksi dermatofitosis yang kronik atau luas, tinea dengan implamasi akut dan
tipe "moccasin" atau tipe kering jenis t.rubrum termasuk tapak kaki dan dorsum kaki
biasanya juga membutuhkan terapi sistemik. Idealnya, konfirmasi diagnosis mikologi
hendaknya diperoleh sebelum terapi sistemik antijamur dimulai. Pengobatan oral, yang
dipilih untuk dermatofitosis adalah:2,11

Infeksi Rekomendasi Alternatif


Tinea unguium Terbinafine 250 mg/hrItraconazole 200 mg/hr /3-5 bulan atau 400
(Onychomycosis 6 minggu untuk kuku mg/hr seminggu per bulan selama 3-4 bulan
) jari tangan, 12 minggu
berturut-turut.
untuk kuku jari kaki Fluconazole 150-300 mg/ mgg s.d sembuh (6-
12 bln) Griseofulvin 500-1000 mg/hr s.d
sembuh (12-18 bulan)
Tinea capitis Griseofulvin Terbinafine 250 mg/hr/4 mgg
500mg/day Itraconazole 100 mg/hr/4mgg
(≥ 10mg/kgBB/hari) Fluconazole 100 mg/hr/4 mgg
sampai sembuh (6-8
minggu)
Tinea corporis Griseofulvin 500 Terbinafine 250 mg/hr selama 2-4 minggu
mg/hr sampai sembuh Itraconazole 100 mg/hr selama 15  hr atau
(4-6 minggu), sering 200mg/hr selama 1 mgg. Fluconazole 150-300
dikombinasikan mg/mggu selama 4 mgg.
dengan imidazol.
Tinea cruris Griseofulvin 500 Terbinafine 250 mg/hr selama 2-4 mgg
mg/hr sampai sembuh Itraconazole 100 mg/hr selama 15 hr atau 200
(4-6 minggu) mg/hr selama 1 mgg. Fluconazole 150-300
mg/hr selama 4 mgg.
Tinea pedis Griseofulvin 500mg/hr Terbinafine 250 mg/hr selama 2-4 mgg
sampai sembuh (4-6 Itraconazole 100 mg/hr selama 15 hr atau
minggu) 200mg/hr selama 1 mgg. Fluconazole 150-300
mg/mgg selama 4 mgg.
Chronic and/or Terbinafine 250 mg/hr Itraconazole 200 mg/hr selama 4-6 mgg.
widespread selama 4-6 minggu Griseofulvin 500-1000 mg/hr sampai sembuh
non-responsive (3-6 bulan).
tinea.

Tabel 2.3 Pilihan terapi oral untuk infeksi jamur pada kulit11

Pada pengobatan kerion stadium dini diberikan kortikosteroid sistemik sebagai antiinflamasi,
yakni prednisone 3x5 mg atau prednisolone 3x4 mg sehari selama dua minggu, bersamaaan
dengan pemberian grisiofulvine yang diberikan berlanjut 2 minggu setelah lesi hilang.
Terbinafine juga diberikan sebagai pengganti griseofulvine selama 2-3 minggu dosis 62,5-
250 mg sehari tergantung berat badan.

Efek samping griseofulvine jarang dijumpai, yang merupakan keluhan utama ialah sefalgia
yang didapati pada 15% penderita. Efek samping lain berupa gangguan traktus digestifus
yaitu: nausea, vomitus, dan diare. Obat tersebut bersifat fotosensitif dan dapat mengganggu
fungsi hepar.

Efek samping terbinafine ditemukan kira-kira 10% penderita, yang tersering gangguan
gastrointestinal diantaranya nausea, vomitus, nyeri lambung, diarea, konstipasi, umumnya
ringan. Efek samping lain berupa ganguan pengecapan, persentasinya kecil. Rasa pengecapan
hilang sebagian atau keseluruhan setelah beberapa minggu minum obat dan hanya bersifat
sementara. Sefalgia ringan dilaporrkan pula 3,3%-7% kasus.
Pada kasus resisten terhadap griseofulvin dapat diberikan ketokonazol sebagai terapi sistemik
200 mg per hari selam 10 hari sampai 2 minggu pada pagi hari setelah makan. Ketokonazol
kontraindikasi untuk kelainan hepar.2

BAB III
KESIMPULAN

Dermatofitosis adalah setiap infeksi fungal superfisial yang disebabkan oleh dermatofit dan
mengenai stratum korneum kulit, rambut dan kuku, termasuk onikomikosis dan berbagai
macam bentuk tinea.
Dermatofita dibagi menjadi : microsporum, tricopyton, dan epidermophyton. Yang paling
terbanyak ditemukan di Indonesia adalah T.rubrum. dermatofita lain adalah: E.floccosum,
T.mentagrophytes, M. canis, M. gypseum, T.cocentricum, T.schoeleini dan T. tonsurans.

Insidensi Indonesia termasuk wilayah yang baik untuk pertumbuhan jamur, sehingga dapat
ditemukan hampir di semua tempat. Menurut Adiguna MS, insidensi penyakit jamur yang
terjadi di berbagai rumah sakit pendidikan di Indonesia bervariasi antara 2,93%-27,6%.
Meskipun angka ini tidak menggambarkan populasi umum.

Klasifikasi yang sering dipakai oleh para specialis kulit yi berdasarkan lokasi:
a. Tinea kapitis, tinea pada kulit dan rambut kepala
b. Tinea barbe, dermatofitosis pada dagu dan jengggot.
c. Tinea kruris, dermatofita pada daerah genitokrural, sekitar anus, bokong, dan kadang-
kadang sampai perut bagian bawah.
d. Tinea pedis et manum, dermatofitosis pada kaki dan tangan.
e. Tinea unguium, tinea pada kuku kaki dan tangan.
f. Tinea korporis, dermatofitosis pada bagian lain yang tidak termasuk 5 bentuk tinea diatas.

Umumnya dermatofitosis pada kulit memberikan morfologi yang khas yaitu bercak bercak
yang berbatas tegas disertai efloresensi-efloresensi yang lain, sehingga memberikan kelainan-
kelainan yang polimorf, dengan bagian tepi yang aktif serta berbatas tegas sedang bagian
tengah tampak tenang. Gejala objektif ini selalu disertai dengan perasaan gatal, bila kulit
yang gatal ini digaruk maka papula-papula atau vesikel-vesikel akan pecah sehingga
menimbulkan daerah yang erosit dan bila mengering jadi krusta dan skuama. Kadang-kadang
bentuknya menyerupai dermatitis (ekzema marginatum), tetapi kadang-kadang hanya berupa
makula yang berpigmentasi saja (Tinea korporis) dan bila ada infeksi sekunder menyerupai
gejala-gejala pioderma (impetigenisasi).

Tinea pedis et manum dibedakan dengan dermatitis, hiperhidrosis karena (pengelupasan


kulit). Tinea pedis murni dan kandidosis sangat sulit dibedakan, biasanya pemeriksaan
dengan KOH membantu diagnosa. Dengan sifilis sekunder akan dibedakan dengan gejala lain
pada sifilis seperti pembesaran kelenjar getah bening, adanya kondiloma lata, afek primer dan
sebagainya membantu dalm mendiagnosa. Tinea unguium juga harus dibedakan denga
psoriasis pada kuku dan dengan kandidosis unguium. Sedangkan tinea korporis harus
dibedakan dengan dermatitis seboroik, psoriasis, ptiriasis rosea, eritrasma, dan kandidosis
kutis. Begitu pula dengan tinea kapitis. Semuanya dibandingkan tidak hanya berdasarkan lesi
tetapi juga berdasarkan predileksi.
Pengobatan dermatophytosis sering tergantung pada klinis. Sebagai contoh lesi tunggal pada
kulit dapat diterapi secara adekuat dengan antijamur topikal. Walaupun pengobatan topikal
pada kulit kepala dan kuku sering tidak efektif dan biasanya membutuhkan terapi sistemik
untuk sembuh. Pilihan terapi oral yaitu grisiofulfin atau itrakonazol atau ketokonazol bila
terdapat resistensi terhadap griseofulvin. Lama penggunaan juga disesuaikan dengan keadaan
klinis.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A.    DEFINISI

Dermatofitosis adalah penyakit pada jaringan yang mengandung zat tanduk, misalnya stratum
korneum pada epidermis, rambut dan kuku yang disebabkan golongan jamur dermatofita
(Budimulja, 2005).

Dermatofita dibagi menjadi genera Microsporum, Trichophyton dan Epidermophyton


(Madani, 2000). Golongan jamur ini mempunyai sifat mencernakan keratin. Hingga kini
dikenal sekitar 40 spesies dermatofita, masing-masing dua spesies Epidermophyton, 17
spesies Microsporum dan 21 spesies Trichophyton (Budimulja, 2005).

Topikal berasal dari bahasa Yunani topikos yang artinya berkaitan dengan daerah permukaan
tertentu, seperti anti infeksi topikal yang dioleskan pada daerah tertentu di kulit dan yang
hanya mempengaruhi daerah yang dioles tersebut (Dorland, 1996).

B.     ETIOLOGI

Berdasarkan sifat makro dan mikro, dermatofita dibagi menjadi: microsporum, tricopyton,
dan epidermophyton.

1.  Microsporum

Kelompok dermatofita yang bersifat keratofilik, hidup pada tubuh manusia (antropofilik) atau
pada hewan (zoofilik). Merupakan bentuk aseksual dari jamur. Terdiri dari 17 spesies, dan
yang terbanyak adalah:

SPECIES CLASSIFICATION (NATURAL RESERVOIR)


Microsporum audouinii Anthropophilic
Microsporum canis Zoophilic (Cats and dogs)
Microsporum cooeki Geophilic (also isolated from furs of cats, dogs, and
rodents)
Microsporum ferrugineum Anthropophilic
Microsporum gallinae Zoophilic (fowl)
Microsporum gypseum Geophilic (also isolated from fur of rodents)
Microsporum nanum Geophilic and zoophilic (swine)
Microsporum persicolor Zoophilic (vole and field mouse)
Tabel 2.1 Spesies Microsporum.

Koloni mikrosporum adalah glabrous, serbuk halus, seperti wool atau powder. Pertumbuhan
pada agar Sabouraud dextrose pada 25°C mungkin melambat atau sedikit cepat dan diameter
dari koloni bervariasi 1- 9 cm setelah 7 hari pengeraman. Warna dari koloni bervariasi
tergantung pada jenis itu. Mungkin saja putih seperti wol halus yang masih putih atau
menguning sampai cinnamon.

1. Epidermophyton

Jenis Epidermophyton terdiri dari dua jenis; Epidermophyton floccosum dan


Epidermophyton stockdaleae. E. stockdaleae dikenal sebagai non-patogenik, sedangkan E.
floccosum satu-satunya jenis yang menyebabkan infeksi pada manusia. E. floccosum adalah
satu penyebab tersering dermatofitosis pada individu tidak sehat. Menginfeksi kulit (tinea
corporis, tinea cruris, tinea pedis) dan kuku (onychomycosis). Infeksi terbatas kepada lapisan
korneum kulit luar. koloni E. floccosum tumbuh cepat dan matur dalam 10 hari. Diikuti
inkubasi pada suhu 25° C pada agar potato-dextrose, koloni kuning kecoklat-coklatan

1.  Tricophyton

Trichophyton adalah suatu dermatofita yang hidup di tanah, binatang atau manusia.
Berdasarkan tempat tinggal terdiri atas anthropophilic, zoophilic, dan geophilic.
Trichophyton concentricum adalah endemic pulau Pacifik, Bagian tenggara Asia, dan
Amerika Pusat. Trichophyton adalah satu penyebab infeksi pada rambut, kulit, dan kuku pada
manusia.

NATURAL HABITATS OF TRICHOPHYTON SPECIES


Species Natural Reservoir
Ajelloi Geophilic
Concentricum Anthropophilic
Equinum zoophilic (horse)
Erinacei zoophilic (hedgehog)
Flavescens geophilic (feathers)
Gloriae Geophilic
Interdigitale Anthropophilic
Megnini Anthropophilic
Mentagrophytes zoophilic (rodents, rabbit) /
anthropophilic
Phaseoliforme Geophilic
Rubrum Anthropophilic
Schoenleinii Anthropophilic
Simii zoophilic (monkey, fowl)
Soudanense Anthropophilic
Terrestre Geophilic
Tonsurans Anthropophilic
Vanbreuseghemii Geophilic
Verrucosum zoophilic (cattle, horse)
Violaceum Anthropophilic
Yaoundei anthropophilic
Tabel 2.2 Spesies Trichophyton.

C.    PENYEBAB

Indonesia termasuk wilayah yang baik untuk pertumbuhan jamur, sehingga dapat ditemukan
hampir di semua tempat. Menurut Adiguna MS, insidensi penyakit jamur yang terjadi di
berbagai rumah sakit pendidikan di Indonesia bervariasi antara 2,93%-27,6%. Meskipun
angka ini tidak menggambarkan populasi umum.

Dermatomikosis atau mikosis superfisialis cukup banyak diderita penduduk negara tropis. Di
Indonesia angka yang tepat, berapa sesungguhnya insiden dermatomikosis belum ada. Di
Denpasar, golongan penyakit ini menempati urutan kedua setelah dermatitis. Angka insiden
tersebut diperkirakan kurang lebih sama dengan di kota-kota besar Indonesia lainnya. Di
daerah pedalaman angka ini mungkin akan meningkat dengan variasi penyakit yang berbeda.

Jenis organisme penyebab dermatomikosis yang berhasil dibiakkan pada beberapa rumah
sakit tersebut yakni: T.rubrum, T.mentagrophytes, M.canis, M.gypseum, M.tonsurans,
E.floccosum, Candida albicans, C.parapsilosis, C.guilliermondii, Penicillium, dan
Scopulariopsis. Menurut Rippon tahun 1974 ada 37 spesies dermatofita yang menyebabkan
penyakit di dunia.

Frekuensi infeksi pada spesies tertentu antara lain:

1. Sekitar 58% dermatofita yang terisolasi adalah trichophyton rubrum


2. 27% Trichophyton mentagrophytes
3. 7% Trichophyton verrucosum
4. 3% Trichophyton tonsurans
5. Kecil dari 1 % yang terisolasi: Epidermophyton floccosum, Microsporum audouinii,
Microsporum canis, Microsporum equinum, Microsporum nanum, Microsporum
versicolor, Trichophyton equinum, Trichophyton kanei, Trichophyton raubitschekii,
and Trichophyton violaceum.

1. D.    GEJALA KLINIK

Dermatofitosis pada kulit kepala dan rambut ini umumnya menyerang anak prapubertas.
Jamur menyerang stratum korneum dan masuk ke folikel rambut yang selanjutnya akan
menyerang bagian luar atau sampai ke bagian dalam rambut, bergantung pada spesiesnya.

Satu jenis dermatofita dapat menghasilkan bentuk klinis yang berbeda,   tergantung letak
lokasi anatominya

1.      Tinea Kapitis

1.
1. Grey patch ringworm

Bentuk ini terutama disebabkan oleh Microsporum audouinii (Mulyono, 1986). Bentuk ini
ditemukan pada anak-anak dan biasanya dimulai dengan timbulnya papula merah kecil di
sekitar folikel rambut. Papula ini kemudian melebar dan membentuk bercak pucat karena
adanya sisik. Penderita mengeluh gatal, warna rambut menjadi abu-abu, tidak berkilat lagi.
Rambut menjadi mudah patah dan juga mudah terlepas dari akarnya. Pada daerah yang
terserang oleh jamur terbentuk alopesia setempat dan terlihat sebagai grey patch. Bercak abu-
abu ini sulit terlihat batas-batasnya dengan pasti bila tidak menggunakan lampu Wood.
Pemeriksaan dengan lampu Wood memberikan fluoresensi kehijau-hijauan sehingga batas-
batas yang sakit dapat terlihat jelas.

Gambar 1. Grey Patch Ringworm (Sumber : Kao, 2005)

1. Kerion

Merupakan tinea kapitis yang terutama disebabkan oleh Microsporum canis (Mulyono,
1986). Bentuk yang disertai dengan reaksi peradangan yang hebat. Lesi berupa
pembengkakan menyerupai sarang lebah, dengan sebukan radang di sekitarnya. Kelainan ini
menimbulkan jaringan parut yang menetap.

BAB III

PENUTUP

  A.   KESIMPULAN

1. Dermatofitosis adalah penyakit pada jaringan yang mengandung zat tanduk yang
disebabkan oleh jamur dari genus Microsporum, Trichophyton dan Epidermophyton.
Satu jenis dermatofita dapat menghasilkan bentuk klinis yang berbeda dan tergantung
letak lokasi anatominya.
2. Dermatofitosis meliputi tinea kapitis, tinea favosa, tinea korporis, tinea imbrikata,
tinea kruris, tinea manus, tinea pedis dan tinea unguium.
3. Pengobatan topikal harus disesuaikan kondisi penyakit kulitnya yang meliputi akut,
subakut dan kronik karena setiap obat topikal terdiri dari bahan dasar (vehikulum) dan
bahan aktif yang berbeda-beda indikasinya. Bahan aktif pada obat topikal antijamur
memiliki manfaat fungisid dan fungistatis berdasarkan besarnya konsentrasi, selain itu
juga ada yang memiliki sifat keratolitik dan antibakteri.
4. Bahan aktif yang terdapat pada pengobatan jamur dermatofita meliputi bahan kimia
antiseptik (seperti Cestallani paint atau solusio carbol fuchsin), bahan keratolitik
(seperti asam salisilat yang terkandung dalam salep Whitefield), golongan allilamin
(seperti naftitin dan terbinafin), golongan benzilamin (butenafin), golongan imidazol
(seperti mikonazol, klotrimazol, ketokonazol, ekonazol, oksikonazol, sulkonazol,
sertakonazol dan bifonazol) dan golongan lainnya (seperti siklopiroks, tolnaftat dan
haloprogin).

B.   SARAN

Dengan melihat kenyataan yang ada dikalangan masyarakat yang sering terkena penyakit ini
yaitu masyarakat yang pekerjaannya berkontak langsung dari matahari (panas). Kami
menyampaikan menyampaikan beberapa saran yang mungkin dapat mencegah atau
mengobati penyakit ini:

1. Pada masyarakat yang sudah terkena segeralah berobat dan jangan menularkan
penyakit sekalipun dengan sengaja.
2. Apabila masyarakat sudah merasakan gatal-gatal segerah mungkin berikan obat anti
gatal atau langsung periksakan kedokter

Penyakit yang Disebabkan oleh Jamur


Feb27

Jamur merupakan salah satu mikroorganisme penyebab penyakit pada manusia. Penyakit
yang disebabkan jamur pada manusia disebut mikosis, yaitu mikosis superficial dan mikosis
sistemik. Mikosis superfisial merupakan mikosis yang menyerang kulit, kuku, dan rambut
terutama disebabkan oleh 3 genera jamur, yaitu Trichophyton, Microsporum, dan
Epidermophyton. Sedangkan mikosis sistemik merupakan mikosis yang menyerang alat-alat
dalam, seperti jaringan sub-cutan, paru-paru, ginjal, jantung, mukosa mulut, usus, dan vagina.

Beberapa jenis mikosis superfisial antara lain sebagai berikut.


Tinea capitis
Merupakan infeksi jamur yang menyerang stratum corneum kulit kepala dan rambut kepala,
yang disebabkan oleh jamur Mycrosporum dan Trichophyton. Gejalnya adalah rambut yang
terkena tampak kusam, mudah patah dan tinggal rambut yang pendek-pendek pada daerah
yang botak. Pada infeksi yang berat dapat menyebabkan edematous dan bernanah.

Tinea favosa
Merupakan infeksi pada kulit kepala, kulit badan yang tidak berambut dan kuku.
Penyebabnya adalah Trichophyton schoenleinii. Gejalnya berupa bintik-bintik putih pada
kulit kepala kemudian membesar membentuk kerak yang berwarna kuning kotor. Kerak ini
sangat lengket daln bila diangkat akan meninggalkan luka basah atau bernanah.

Tinea barbae
Merupakan infeksi jamur yang menyerang daerah yang berjanggut dan kulit leher, rambut
dan folikel rambut. Penyebabnya adalah Trichophyton mentagrophytes, Trichophyton
violaceum, Microsporum cranis.

Dermatophytosis (Tinea pedis, Athele foot)


Merupakan infeksi jamur superfisial yang kronis mengenai kulit terutama kulit di sela-sela
jari kaki. Dalam kondisi berat dapat bernanah. Penyebabnya adalah Trichophyton sp.

Tinea cruris
Merupakan infeksi mikosis superfisial yang mengenai paha bagian atas sebelah dalam. Pada
kasus yang berat dapat pula mengenai kulit sekitarnya. Penyebabnya adalah Epidermophyton
floccosum atau Trichophyton sp.

Tinea versicolor (panu)


Merupakan mikosis superfisial dengan gejala berupa bercak putih kekuning-kuningan disertai
rasa gatal, biasanya pada kulit dada, bahu punggung, axilla, leher dan perut bagian atas.
Penyebabnya adalah Malassezia furtur.
malassezia furfur

Tinea circinata (Tinea corporis)


Merupakan mikosis superfisial berbentuk bulat-bulat (cincin) dimana terjadinya jaringan
granulamatous, pengelupasan lesi kulit disertai rasa gatal. Gejalanya bermula berupa papula
kemerahan yang melebar.

Otomycosis (Mryngomycosis)
Merupakan mikosis superfisial yang menyerang lubang telinga dan kulit di sekitarnya yang
menimbulkan rasa gatal dan sakit. Bila ada infeksi sekunder akan menjadi bernanah.
Penyebabnya adalah Epidermophyton floccosum dan Trichophyton sp.

Beberapa jenis mikosis sistemik antara lain sebagai berikut.


Nocardiosis
Merupakan mikosisi yang menyerang jaringan subkutan, yakni terjadi pembengkakan
jaringan yang terkena dan terjadinya lubang-lubang yang mengeluarkan nanah dan jamurnya
berupa granula. Penyebabnya adalah Nocardia asteroides.

Candidiasis
Merupakan mikosis yang menyerang kulit, kuku atau organ tubuh seperti hantung dan paru-
paru, selaput lendir dan juga vagina. Infeksi ini terjadi karena faktor predisposisi, misalnya
diabetes, AIDS, daerah kulit yang lembab dan obesitas. Penyebabnya adalah Candida
albicans.

Actinomycosis
Merupakan mikosis yang ditandai dengan adanya jaringan granulomatous, bernanah disertai
dengan terjadinya abses dan fistula. Penyebabnya adalah Actinomyces bovis.

Maduromycosis (Madura foot)


Merupakan mikosis pada kaki yang ditandai dengan terjadinya massa granulomatous yang
biasanya meluas ke jaringan lunak dan tulang kaki. Gejalanya dimulai dengan adanya lesi
pada tapak kaki bagian belakang, timbul massa granulomatous dan abses yang kemudian
terjadi sinus-sinus yang mengeluarkan nanah dan granula. Penyebabnya adalah Allescheris
boydii, Cephalosporium falciforme, Madurella mycetomi, dan Madurella grisea

Coccidioidomycosis
Merupakan mikosis yang mengenai paru-paru yang disebabkan oleh Coccidioides immitis.
Gejalnya mirip dengan pneumonia yang lain, berupa batuk dengan atau tanpa sputum yang
biasanya disertai dengan pleuritis,

Sporotrichosis
Merupakan mikosis yang bersifat granulomatous menimbulkan terjadinya benjolan gumma,
ulcus dan abses yang biasanya mengenai juga kulit dan kelenjar lympha superfisial.
Penyebabnya adalah Sporotrichum schenckii. Gejala awalnya berupa benjolan (nodul) di
bawah kulit kemudian membesar, merah, meradang, mengalami nekrosis kemudian terbentuk
ulcus. Nodul yang sama terjadi sepanjang jaringan lympha.

Blastomycosis
Merupakan mikosis yang menyerang kulit, paru-paru, viscera, tulang dan sistem saraf.
Penyebabnya adalah Blastomyces dermatitidis dan Blastomyces brasieliensis. Blastomycosis
kulit gejalanya brupa papula atau pustula yang berkembang menjadi ulcus kronis dengan
jaringan granulasi pada alasnya. Kulit yang sering terkena adalah wajah, leher, lengan dan
kaki. Bila menyerang organ dalam, gejalanya mirip tuberculosis.