Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pada bidang kesehatan, karotenoid terutama -karoten merupakan salah satu senyawa
antioksidan alami. Antioksidan berfungsi sebagai pemadam (quencher) oksigen singlet
dan penangkal radikal bebas, yang berlangsung dalam sistem fotosintesis tumbuhan,
tetapi juga dalam tubuh manusia maupun hewan. Oksigen singlet adalah molekul oksigen
yang sangat reaktif, dapat menginisiasi peroksida lipid hingga terjadi reaksi berantai
radikal bebas yang dapat mengoksidasi komponen sel lain, seperti protein dan DNA, yang
dapat memicu penuaan dini pada manusia. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa
oksigen singlet yang berbahaya ini dapat dinonaktifkan oleh - karoten. Selain itu, -
karoten juga mampu bereaksi dengan radikal bebas (R) dengan proses transfer muatan
(elektron). Pada reaksi ini akan diperoleh radikal bebas -karoten yang relatif lebih stabil
dan tidak memiliki energi yang cukup untuk dapat bereaksi dengan molekul lain
membentuk radikal baru (Britton 1995; Gordon 1990; Gross 1991).

Beta-carotene (β-Karoten) merupakan senyawa organik dan diklasifikasikan sebagai


suatu terpenoid. β-Karoten adalah pigmen berwarna merah-orange yang sangat berlimpah
pada tanaman dan buah-buahan. Jumlah yang dibutuhkan tubuh memang hanya ukuran
milligram perhari. Tapi kalau tidak terpenuhi dapat menimbulkan gangguan fungsi
(Subawati, 2009).

Salah satu fungsi penting karotenoid adalah sebagai prekursor vitamin A yang akan
diubah oleh tubuh menjadi vitamin A (Lee dkk. 1989; Groos 1991; Sharma dkk. 2000;
Lila 2004).

Karotenoid provitamin A yang potensial dan banyak terdapat di alam adalah-


karoten. (Gross 1991; Bonnie & Choo 2000; Nyambaka & Riley 1996).

Seperti kita ketahui, vitamin A sangat berguna dalam membantu proses penglihatan,
pertumbuhan tulang dan gigi, reproduksi, pertahanan keutuhan jaringan epitel, kekebalan
tubuh, pembentukan dan pemeliharaan sel-sel kulit, saluran pencernaan dan selaput kulit,
serta dapat mencegah timbulnya penyakit kanker (Choo 1994).

-karoten di alam umumnya terdapat dalam bentuk trans, tetapi dapat terisomerisasi
karena pengaruh lingkungan seperti suhu dan cahaya ke bentuk cis-- karoten. Lebih
lanjut -karoten, yang terisomerisasi mudah mengalami degradasi oleh keberadaan
oksigen (Bonnie & Choo 1999; Gross 1991).

Melihat sifat karotenoid yang relatif kurang stabil, sangat memungkinkan terjadinya
degradasi -karoten selama proses pengolahan CPO, terutama pada tahap ekstraksi,
penyimpanan dan transportasi. Hal ini diakibatkan oleh pemanasan berlebihan, kehadiran
oksigen dan kontak dengan logam (besi, krom, dll.) yang menginisiasi oksidasi sehingga
komposisi dan aktivitas antioksidan karotenoidnya menurun (Gunstone 1987).

Karoten dan antioksidan pada makanan juga diduga berperan dalam mencegah
penyakit jantung sistemik, kadar antioksidan dalam plasma yang rendah dihubungkan
dengan meningkatnya resiko penyakit jantung koroner dan oksidasi LDL (Low Density
Lipoprotein) yang diduga mengawali terjadinya aterosklerosis (Gunawan, 2007).

1.2 Tujuan
Mahasiswa dapat mengetahui kadar karotenoid dari berbagai sample tumbuhan
(Pepaya, Salam, Mengkudu, Beluntas)
BAB II

2.1 EKSTRAKSI
Sample daun beluntas (Pluchea indica (L.) Less.) sebanyak 6 lembar
2.1.1 METODE EKSTRAKSI MASERASI

2.2 BAHAN YANG DIGUNAKAN


2.2.1 SALAM (Syzygium polyanthum)
Klasifikasi Taksonomi
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Ordo : Myrtales
Famili : Myrtaceae
Genus : Syzygium
Spesies : Syzygium polyanthum

Daun salam tingginya mencapai 25 m. Daunnya yang rimbun, berbentuk


lonjong/bulat telur, berujung runcing bila diremas mengeluarkan bau harum. Daun salam
mengandung zat-zat bahan warna, zat samak dan minyak atsiri yang bersifat antibakteri.
Zat tannin yang terkandung bersifat menciutkan (astringent). Daun salam juga bermanfaat
untuk mengatasi diare, diabetes, kudis atau gatal dan lambung lemah. (Harmanto, 2007)
Pada penelitian efektifitas antimikroba yang ditunjukkan ekstrak daun salam memiliki
zat aktif dalam menghambat pertumbuhan bakteri berupa tannin, flavonoid dan minyak
atsiri, yang mana ketiga zat tersebut merupakan komposisi kimia yang terkandung dalam
ekstrak daun salam. Daun salam biasanya hanya digunakan sebagai bahan tambahan pada
saat memasak dan kurang efektif dalam pemanfaatannya. Dalam suatu penelitian ternyata
daun salam dapat digunakan sebagai bahan campuran dalam pembuatan pasta gigi,
sehingga daun salam juga dapat berpotensi sebagai bahan baku dalam pembuatan obat
kumur. Kandungan pada obat kumur dapat membunuh bakteri yang berada pada rongga
mulut. Bakteri pada rongga mulut khususnya didalam saliva sangat menggangu
kebersihan mulut dan dapat menimbulkan plak dan karang gigi. (Sudirman, 2014)
Setiap kali seseorang mengkonsumsi makanan dan minuman yang mengandung
karbohidrat, maka bakteri penyebab karies di rongga mulut akan
memproduksi asam sehingga terjadi demineralisasi yang berlangsung selama
20-30 menit setelah makan, hal tersebut juga dikuatkan oleh Kidd (1992)
setelah mengkonsumsi karbohidrat pH plak akan turun, pH akan kembali normal dalam
30-60 menit. (Pintauli, 2008) http://eprints.ums.ac.id/42567/6/2.%20BAB%20I.pdf
2.2.2 BELUNTAS (Pluchea indica L.)
Klasifikasi Taksonomi
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Dycotyledonae
Ordo : Compositales
Famili : Compositae
Genus : Pluchea
Spesies : Pluchea indica L.

Salah satu tanaman asli Indonesia yang tersebar dengan luas dibeberapa daerah di
Indonesia serta berpotensi untuk dikembangkan yaitu tanaman Beluntas (Pluchea indica
L.) yang merupakan salah satu tanaman dari suku Asteraceae yang mengandung alkaloid,
flavonoid, tanin, minyak atsiri, asam klorogenik, natrium, kalium, magnesium, dan fosfor
sedangkan akarnya mengandung flavonoid dan tanin (Agoes, 2010).
Beluntas (P. indica) merupakan tanaman yang termasuk dalam herba famili
Asteraceae yang tumbuh secara liar di daerah kering di tanah yang keras dan berbatu atau
ditanam sebagai tanaman pagar. Beluntas sering dimanfaatkan sebagai obat tradisional
yaitu untuk menghilangkan bau badan dan mulut, mengatasi kurang nafsu makan,
mengatasi gangguan pencernaan pada anak, menghilangkan nyeri pada rematik, nyeri
tulang dan sakit pinggang, menurunkan demam, mengatasi keputihan dan haid yang tidak
teratur, hal ini disebabkan adanya kandungan senyawa fitokimia dalam daun beluntas
(Halim 2015).
Disebutkan bahwa dalam daun beluntas terdapat berbagai senyawa antara lain lignan,
terpena, fenilpropanoid, bensoid, alkana, sterol, katekin, fenol hidrokuinon, saponin,
tanin, dan alkaloid. Kandungan senyawa dalam daun beluntas memiliki beberapa aktivitas
biologis yaitu sebagai antiinflamasi, antipiretik, hipoglikemik, diuretik dan berbagai
aktivitas farmakologi (Widyawati, et al., 2013).
http://jurnal.unpad.ac.id/farmaka/article/download/17554/pdf

2.2.3 PEPAYA (Carica papaya L.)


Klasifikasi Taksonomi
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatopyhta
Kelas : Dicotyledonae
Ordo : Cistales
Family : Caricaceae
Genus : Carica
Spesies :Carica papaya L.
Tanaman pepaya (Carica papaya) merupakan salah satu tanaman yang banyak
ditemukan di Indonesia. Tanaman ini banyak digunakan sebagai bahan pengobatan
tradisional. Bagian yang banyak dimanfaatkan untuk obat adalah daunnya. Daun pepaya
mengandung alkaloid, karpain, enzim papain, vitamin C dan vitamin E (Anindhita dan
Oktaviani, 2016). Daun pepaya juga mengandung senyawa lain seperti saponin, flavonoid
dan tanin (Krishna dkk., 2008).
Senyawa tersebut merupakan senyawa hasil metabolit sekunder yang banyak
dihasilkan oleh tanaman. Senyawa flavonoid berperan sebagai antibiotik dengan
mengganggu mikroorganisme seperti fungi. Senyawa alkaloid berfungsi menghambat 5
pertumbuhan bakteri gram positif dan gram negatif. Saponin berperan dalam proses
pencernaan dengan cara meningkatkan permeabilitas dinding sel pada usus dan
meningkatkan penyerapan zat makanan (Hasiib dkk., 2015).
Papain adalah suatu senyawa yang membantu proses pencernaan alami yang efektif
memecah protein dan membersihkan saluran pencernaan (Santoso dan Fenita, 2015).
Saponin dan tannin merupakan agen defaunasi yang banyak digunakan dalam beberapa
penelitian untuk menekan jumlah protozoa.
Tanin selain berfungsi sebagai agen defaunasi juga berfungsi memproteksi protein
pakan (Wahyuni dkk., 2014).
Kandungan kimia yang terdapat dalam ekstrak etanol daun pepaya memiliki aktivitas
sebagai antelmetik, antibakteri dan antiinflamasi (Ayola dan Adeyeye, 2010).
Daun pepaya digunakan untuk membantu pencernaan dan penyerapan protein pada
saluran pencernaan (Santoso dan Fenita, 2015). Penambahan tepung dan ekstrak daun
pepaya dengan level 2% dan 4% dengan kandungan saponin 0,012% dan 0,024%
meningkatkan nilai produksi gas, KcBK dan KcBO. (Khoiriyah dkk., 2016).
2.2.4 MENGKUDU (Morinda citrifolia L.)
Klasifikasi Taksonomi
Kingdom : Plantae
Sub Kingdom : Tracheobionta
Sub Divisi : Spermatophyta
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Rubiales
Famili : Rubiaceae
Genus : Morinda
Spesies : Morinda citrifolia L.

Tanaman mengkudu adalah salah satu tanaman yang sudah dimanfaatkan


sejak lama hampir di seluruh belahan dunia. Di Cina, tanaman mengkudu telah
ditemukan pada tulisan - tulisan kuno yang dibuat pada masa dinasti Han sekitar
2000 tahun lalu. Di Hawaii, mengkudu malah telah dianggap sebagai tanaman
suci karena ternyata tanaman ini sudah digunakan sebagai obat tradisional sejak
lebih dari 1500 tahun lalu. Mengkudu telah diketahui dapat mengobati berbagai
macam penyakit, seperti tekanan darah tinggi, kejang, obat menstruasi, artistis,
kurang nafsu makan, artheroskleorosis, gangguan saluran darah, dan untuk meredakan
rasa sakit (Djauhariya 2003).
Mengkudu (Morinda citrifolia L) atau yang disebut pace maupun noni sudah
dikenal lama oleh penduduk di Indonesia. Pemanfaatannya lebih banyak
diperkenalkan oleh masyarakat jawa yang selalu memanfaatkan tanaman atau
tumbuhan herbal untuk mengobati beberapa penyakit (Djauhariya, 2003). Menurut
Bangun (2002), mengkudu memiliki nama yang khas berdasarkan daerah masing –
masing, diantaranya dikenal dengan nama pace, bentis, kemudu (Jawa), cangkudu
(sunda), kondhuk (Madura), keumudee (Aceh), bangkudu (Batak), Makudu (Nias),
tibah, (Bali) dan labanau (Kalimantan).
Mengkudu merupakan tanaman perdu, tingginya 3 – 8 meter, bercabang, kulit
batangnya berwarna coklat, cabang – cabangnya kaku, kasar tetapi mudah patah.
Daunnya bertangkai, berwarna hijau tua, duduk daun bersilang, berhadapan,
9 bentuknya bulat telur, lebar, sampai berbentuk elips, panjang daun 10 – 40 cm, lebar
5 – 17 cm, helai daun tebal, mengkilap, tepi daun rata, ujungnya meruncing, pangkal
daun menyempit, tulang daun menyirip. Bunga berbentuk bonggol, keluar dari ketiak
daun. Pada satu bonggol tumbuh lebih dari 90 mahkota bunga berwarna putih,
berbentuk tabung seperti terompet yang tumbuh secara bertahap 1 – 3 mahkota bunga
setiap 3 hari. Bonggol tersebut merupakan bakal buah. Buahnya berupa buah buni
majemuk, yang berkumpul menjadi satu, bertangkai pendek, bentuk bulat lonjong,
panjangnya 5 – 10 cm. Permukaan buah tidak rata, berbintik-bintik dan berkutil.
Buah muda berwarna hijau, semakin tua kulit buah agak menguning, dan buah yang
matang berwarna putih menguning dan transparan. Buah yang matang dagingnya
lunak berair dan bau busuk (Djauhariya, 2003).

a. Tanaman Buah Mengkudu


b. Bagian Dalam Buah Mengkudu
Gambar 1. Buah Mengkudu (Morinda citrifolia L)
Sumber : Purbaya (2008)

 Kandungan Zat Aktif Mengkudu


Hampir semua bagian tanaman mengkudu mengandung berbagai macam
senyawa kimia yang berguna bagi kesehatan dan pengobatan manusia. Senyawa –
10 senyawa yang lebih berperan dalam pengobatan tradisional adalah senyawa yang
terdapat dalam buahnya, antara lain xeronine, proxeronine, proxeronase, serotonin,
dammacanhtal, (zat anti kanker), scopoletin, vitamin C, anti oksidan, mineral, protein,
karbohidrat, enzim, alkaloid, kofaktor tanaman dan fitonutrient lainnya yang sangat aktif
yang sangat kuat dalam menguatkan sistem kekebalan tubuh, memperbaiki fungsi sel dan
mempercepat regenerasi sel – sel yang rusak. Kandungan kimia daun dan buah mengkudu
secara umum mengandung alkaloid, saponin, flavonoid, terpenoid, dan antraquinon,
disamping itu daunnya juga mengandung polifenol. (Kandungan bioaktif yang terdapat
dalam buah mengkudu disajikan dalam tabel 1).

Tabel 1. Kandungan bioaktif buah mengkudu dan manfaatnya

Kandungan Bioaktif Manfaat


Alizarin Pemutus hubungan
pembuluh darah
Antrakuinon Membunuh mikroba
Patogen
Arginin Pembentuk protein,
meningkatkan imun,
memproduksi Nitric
Oxid.

Damnacantal Anti Kanker, Anti


biotik alami
Lisin Membantu
penyerapan kalsium
dan pembentukan
colagen.
Penilalanin Penting untuk
diprosuksi sendiri
oleh tubuh, sehingga
harus didapatkan dari
luar.
Prolin Menatur sitem
kekebalan tubuh,
mecegah segala
penyakit autoimun.

Proxeronin Mempercepatt
penyerapan zat
makanan ke dalam
sitem pencernaan
Skopoletin Mengatur tekanan
darah

Selenium Antioksidan
Serotonin Menghalau stress
Sitosterol Menahan
pertumbuhan sel
kanker
Steroid Antiseptik dan
Disinfektan
Terpenoid Membantu tubuh
dalam proses sintesa
Vitamin C Antioksidan
Xeronin Mengaktifkan
kelenjar tiroid &
timus (untuk
kekebalan tubuh)

Sumber : (Djauhariya dkk., 2006).


http://media.unpad.ac.id/thesis/200110/2011/200110110303_2_3557.pdf

2.3 KAROTEN

Karotenoid merupakan tetraterpenoid (C40), merupakan golongan pigmen yang larut


lemak dan tersebar luas, terdapat hampir di semua jenis tumbuhan, mulai dari bakteri
sederhana sampai compositae yang berbunga kuning. Pada tumbuhan, karotenoid
mempunyai dua fungsi yaitu sebagai figmen pembantu dalam fotosintesis dan sebagai
pewarna dalam bunga dan buah (buah palsu mawar, tomat dan cabe capsium) (Harborne,
1996).
Saat ini terdapat lebih dari 300 karotenoid yang telah diketahui, yang paling umum
terdapat pada tumbuhan tinggi hanya sedikit, kemungkinan terbesar adalah ßkaroten
(Harborne, 1996).
Karoten yang dikenal sebagai prekursor vitamin A (beta karoten), saat ini telah
dikembangkan karoten sebagai efek protektif melawan sel kanker, penyakit
jantung, mengurangi penyakit mata, antioksidan, dan regulator dalam sistem imun
tubuh. Likopen yang terkandung dalam tomat mampu mengoksidasi LDL (low dencity
lipoprotein) sehingga kadar LDL berkurang. Selain itu mengurangi resiko pembentukkan
atheriosklerosis serta penyakit jantung koroner. Penelitian terbaru menunjukkan
bahwa likopen mampu mengurangi risiko penyakit kanker prostat, kanker paru-paru,
kanker rahim, dan kanker kulit (Leffingwell, 2001).
Beta-carotene (β-Karoten) merupakan senyawa organik dan diklasifikasikan sebagai
suatu terpenoid. β-Karoten adalah pigmen berwarna merah-orange yang sangat berlimpah
pada tanaman dan buah-buahan. Betakaroten diperkirakan memiliki banyak fungsi yang
tidak dimiliki senyawa lain. Jumlah yang dibutuhkan tubuh memang hanya ukuran
milligram perhari. Tapi kalau tidak terpenuhi dapat menimbulkan gangguan fungsi
(Subawati, 2009).
Manfaat betakaroten bagi tubuh adalah untuk mencegah dan menurunkan resiko
kanker. Mengkonsumsi makanan atau buah-buahan yang mengandung betakaroten
diharapkan bisa menunjang kebutuhan gizi dan meningkatkan kekebalan tubuh. Sifat
antioksidan yang terdapat pada betakaroten dapat melindungi tumbuhan dan
mikroorganisme dari sinar matahari yang merusak (Listya, 2010). http://repositori.uin-
alauddin.ac.id/3401/1/NURHASANAH%20IDRIS.pdf

2.4 KLOROFIL
Istilah klorofil berasal dari bahasa Yunani yaitu Chloros artinya hijau dan Phyllos
artinya daun. Ini diperkenalkan pada tahun 1818, dimana pigmen tersebut diekstrak dari
tumbuhan dengan menggunakan pelarut organik. Klorofil adalah pigmen pemberi warna
hijau pada tumbuhan, alga dan bakteri fotosintetik. Senyawa ini yang berperan dalam
proses fotosintesis tumbuhan dengan menyerap dan mengubah tenaga cahaya matahari
menjadi tenaga kimia. Proses fotosintesis, terdapat 3 fungsi utama dari klorofil yaitu yg
pertama memanfaatkan energy matahari, kedua memicu fiksasi CO2 menjadi karbohidrat
dan yang ketiga menyediakan dasar energetik bagi ekosistem secara keseluruhan.
Karbohidrat yang dihasilkan fotosintesis melalui proses anabolisme diubah menjadi
protein, lemak, asam nukleat, dan molekul organik lainnya (Muthalib, 2009). Sifat fisik
klorofil adalah menerima dan atau memantulkan cahaya dengan gelombang yang
berlainan (berpendar = berfluoresensi). Klorofil banyak menyerap sinar dengan panjang
gelombang antara 400-700 nm, terutama sinar merah dan biru. Sifat kimia klorofil, antara
lain (1) tidak larut dalam air, melainkan larut dalam pelarut organik yang lebih polar,
seperti etanol dan kloroform; (2) inti Mg akan tergeser oleh 2 atom H bila dalam suasana
asam, sehingga membentuk suatu persenyawaan yang disebut feofitin yang berwarna
coklat (Dwidjoseputro, 1981).
Pada tanaman tingkat tinggi ada 2 macam klorofil yaitu) yang berwarna hijau tua dan
berwarna hijau muda. Klorofil-a dan b paling kuat menyerap cahaya di bagian merah
(600-700 nm), sedangkan yang paling sedikit cahaya hijau (500-600 nm). Sedangkan
cahaya berwarna biru dari spektrum tersebut diserap oleh karotenoid. Karotenoid ternyata
berperan membantu mengabsorpsi cahaya sehingga spektrum matahari dapat
dimanfaatkan dengan lebih baik. Energi yang diserap karotenoid diteruskan kepada
klorofil-a untuk diserap digunakan dalam proses fotosintesis, demikian pula dengan
klorofil-b. Perbedaan klorofil a dan b adalah pada atom C3 terdapat gugusan metil untuk
klorofil a dan aldehid untuk klorofil b. karena itu keduanya mempunyai penyerapan
gelombang cahaya yang berbeda. Peranan pigmen klorofil adalah dalam reaksi
fotosistem. Klorofil mempunyai banyak electron yang mampu berpindah ke orbit eksitasi
karena menyerap cahaya (Nurdin dalam Razone, 2013).
Klorofil a; menghasilkan warna hijau biru, klorofil b; menghasilkan warna hijau
kekuningan, klorofil c; menghasilkan warna hijau cokelat, klorofil d; menghasilkan warna
hijau merah, klorofil a dan klorofil b paling kuat menyerap cahaya bagian merah dan
ungu spektrum,cahaya hijau yang paling sedikit diserap maka apabila cahaya putih
menyinari struktur-struktur yang mengandung klorofil seperti misalnya daun maka sinar
hijau akan dikirimkan dan dipantulkan sehingga strukturnya tampak berwarna hijau.
Karoten termasuk ke dalam kromoplas yaitu plastida yang berwarna dan mengandung
pigmen selain klorofil. Klorofil c terdapat pada ganggang coklat Phaeophyta serta
diatome Bacillariophyta.
Klorofil d terdapat pada ganggang merah Rhadophyta. Akibat adanya klorofil,
tumbuhan dapat menyusun makanannya sendiri dengan bantuan cahaya matahari.
Fotosintesis terjadi pada semua bagian berwarna hijau pada tumbuhan karena mamiliki
kloroplas, tetapi tempat utama berlangsungnya fotosintesis adalah daun. Pigmen warna
hijau yang terdapat pada kloroplas disebut dengan klorofil dan dari zat inilah warna daun
berasal. Klorofil menyerap energi cahaya yang menggerakkan sintesis molekul makanan
dalam kloroplas untuk menghasilkan energi (Campbell dalam Razone, 2013).
Kadar dari klorofil yang terkandung dalam suatu organ tumbuhan dapat diukur
dengan metoda spektrofotometer. Sel penutup pada lembaran daun yang mengandung
klorofil, didalam stroma pada sel tersebut akan berlangsung fotosintesis yang akan
menghasilkan karbohidrat (gula). Gula tersebut menyebabkan potensial osmotik cairan sel
yang menurun, potensial air juga akan menurun, dengan peristiwa itu timbul tekanan
turgor yang dapat menyebabkan terbentuknya stroma (Kimball, 1988).
http://eprints.umm.ac.id/35065/3/jiptummpp-gdl-dianrizkia-48255-3-babii.pdf

2.5 METODE SPEKTROFOTOMETRI

Kadar dari klorofil yang terkandung dalam suatu organ tumbuhan dapat diukur
dengan metoda spektrofotometer. Sel penutup pada lembaran daun yang mengandung
klorofil, didalam stroma pada sel tersebut akan berlangsung fotosintesis yang akan
menghasilkan karbohidrat (gula). Gula tersebut menyebabkan potensial osmotik cairan sel
yang menurun, potensial air juga akan menurun, dengan peristiwa itu timbul tekanan
turgor yang dapat menyebabkan terbentuknya stroma (Kimball, 1988).
Spektrofotometri UV-Vis adalah metode analisis berdasarkan interaksi antara radiasi
elektromagnetik ultra violet dekat (190-380 nm) dan sinar tampak (380-780 nm) dengan
memakai instrumen spektrofotometer dengan suatu materi (senyawa) (Mulja dan
Suharman, 1995). Metode ini berdasarkan penyerapan sinar ultraviolet maupun sinar
tampak yang menyebabkan terjadinya transisi elektron (perpindahan elektron dari tingkat
energi yang rendah ketingkat energi yang lebih tinggi) (Hendayana dkk., 1994).
Apabila dua buah atom saling berikatan dan membentuk molekul maka akan terjadi
tumpang tindih dua orbital dari kedua atom yang masing-masing mengandung satu
elektron dan kemudian terbentuk orbital molekul (Gandjar, 1991).
Hukum kuantitatif yang terkait dikenal dengan hukum LambertBeer. Menurut hukum
Lambert-Beer : T = It /Io = 10 –є.c.b A = log I/T = є.c.b Dimana T = transmitan, Io =
intensitas sinar yang datang, It = intensitas radiasi yang diteruskan, є = absorbansi molar
(Lt.mol-1 .cm1 ), c = konsentrasi (mol.Lt-1 ), b=tebal larutan (cm) dan A = absorban
(Mulja dan Suharman, 1995).
Beberapa sumber radiasi polikromatik yang dipakai pada spektrofotometer UV-Vis
adalah lampu deuterium, lampu tungsten dan lampu merkuri. Sumber radiasi tersebut
akan mengeksitasi benda ke tingkat energi yang lebih tinggi. Benda atau materi akan
kembali ke tingkat energi yang lebih rendah atau ke dasarnya, melepaskan foton dengan
energi yang sesuai dengan perbedaan energi antara tingkat tereksitasi dengan tingkat
dasar rendah.
BAB III
3.1 Waktu dan Tempat
3.2 Alat dan Bahan
3.3 Prosedur Kerja
3.3.1 Prosedur Ekstraksi Maserasi
3.3.2 Analisa Total Karoten
3.3.3 Analisa Total Klorofil
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Tabel Pengamatan


4.2 Hasil Analisa Total Karoten
4.3 Hasil Analisa Total Klorofil