Anda di halaman 1dari 8

Nama : Kristika Mondang Matondang

Nim : 1193151035
Kelas : BK Reguler D 2019
UTS : Profesi Kependidikan
Dosen Pengampu : Yusra Nasution, S.Pd, M.Pd

1. Menurut pendapat anda apa perbedaan dari Profesi, Profesionalisme,


Profesionalisasi, dan Profesional?
Jawab:
1) Profesi adalah pekerjaan yang membutuhkan pelatihan dan pendidikan
minimal S1 terhadap suatu pengetahuan khusus. Suatu profesi biasanya
memiliki asosiasi profesi, kode etik, serta proses sertifikasi dan lisensi yang
khusus untuk bidang profesi tersebut.
2) Profesionalisme merupakan komitmen para anggota suatu profesi untuk
meningkatkan kemampuannya secara terus menerus. “Profesionalisme” adalah
sebutan yang mengacu kepada sikap mental dalam bentuk komitmen dari para
anggota suatu profesi untuk senantiasa mewujudkan dan meningkatkan kualitas
profesionalnya.
3) Profesionalisasi adalah sutu proses menuju kepada perwujudan dan
peningkatan profesi dalam mencapai suatu kriteria yang sesuai dengan standar
yang telah ditetapkan. Profesionalisasi adalah proses atau perjalanan waktu
yang membuat seseorang atau kelompok orang menjadi profesional.
4) Profesional adalah seseorang yang memiliki kompetensi atau keahlian dalam
suatu pekerjaan tertentu, keahlian yang dimaksud bukan sekedar keterampilan
semata melainkan menyangkut kemampuan, sikap, kecakapan, dan kemampuan
yang diperoleh melalui proses dan latihan tertentu.

2. Apa yang dimaksud dengan Etika Profesi? Dan jelaskan manfaat dari Etika
Profesi tersebut?
Jawab: Etika profesi adalah sikap hidup untuk memenuhi kebutuhan pelayanan
profesional dari klien dengan keterlibatan dan keahlian sebagai pelayanan dalam
rangka kewajiban masyarakat sebagai keseluruhan terhadap para anggota masyarakat
yang membutuhkannya dengan disertai refleksi yang seksama.
Manfaat:
1) Memberikan Rasa Tanggung Jawab – Adanya etika profesi dalam suatu
pekerjaan dapat memberikan rasa tanggung jawab kepada si pemilik pekerjaan
karena ia diberi amanah serta aturan-aturan khusus yang boleh atau tidak boleh
untuk dilakukan. Dengan demikian ia tidak bisa menjalankan pekerjaannya
dengan sesuka hatinya. Adapun bagi pemberi pekerjaan, akan lebih menghormati
terhadap pekerja tersebut beserta pekerjaanya.
2) Sebagai Pedoman Prinsip Profesionalitas – Etika profesi disusun sedemikian
rupa untuk dijadikan pedoman prinsip profesionalitas setiap profesi dalam suatu
perusahaan atau organisasi. Setiap profesi harus menjalankan dan menghormati
etika profesi ini tanpa kecuali yang b menghargiasanya disertai sanksi bagi
pelanggarnya seperti pemberian surat peringatan atau bahkan pemecatan.
3) Meningkatkan Kredibilitas Perusahaan/Organisasi – Suatu perusahaan atau
organisasi nasional biasanya memiliki kode etik profesi yang mana sangat
bermanfaat untuk meningkatkan kredibilitas perusahaan atau organisasi tersebut
baik secara internal maupun eksternal. Dengan kata lain, baik untuk orang dalam
yang terikat kode etik profesi tersebut maupun orang luar yang tidak terikat akan
lebih menghargai perusahaan atau organisasi yang menjunjung tinggi
profesionalitas.
4) Menciptakan Ketertiban dan Keteraturan – Sebagai sebuah aturan, kode etik
profesi dapat dijadikan sebuah sarana untuk menciptakan suasana yang tertib dan
teratur dalam suatu prusahaan atau organisasi. Hal ini karena semua orang yang
terikat kode etik tersebut harus berjalan dalam koridor-koridor tertentu yang dapat
mencegah adanya penyimpangan.
5) Sebagai Kontrol Sosial – Etika profesi juga dapat dijadikan sebagai sarana
kontrol sosial seseorang atas profesi yang dimilikinya. Dengan kata lain, pemilik
profesi akan berfikir terlebih dahulu sebelum melakukan tidakan-tindakan tertentu
karena ada aturan yang telah mengikatnya. Jika ia melanggar etika profesi tersebut
maka ia harus siap menerima segala konsekuansi yang menyertai segala
tindakannya.
6) Meningkatkan Kesejahteraan Anggota – Nyatanya etika profesi dapat
meningkatkan kesejahteraan anggota yang terikat kode etik profesi tersebut.
Mengapa? Hal ini karena etika profesi juga mengatur hubungan antar anggota atau
pekerja maupun hubungan antara pemimpin perusahaan/organisasi dengan
anggota/pekerjanya.
7) Mencegah Campur Tangan Pihak Luar – Keberadaan etika profesi sangat
diperlukan dalam suatu organisasi/perusahaan guna mencegah adanya campur
tangan pihak luar yang tidak terikat kode etik tersebut. Misalnya saja dalam hal
penerimaan anggota/pekerja, pihak luar tidak dapat ikut campur terhadapnya baik
terkait prosedur penerimaanya maupun calon-calon yang terpilih.
8) Melindungi Hak-hak Anggota/Pekerja – Selain mengatur tentang tanggung
jawab dan kewajiban, etika profesi juga memuat hak-hak anggota/pekerja. Oleh
karena itu, etika profesi juga bermanfaat untuk melindungi hak-hak
anggota/pekerja di suatu perusahaan/organisasi.
9) Sebagai Rujukan Penyelesaian Berbagai Permasalahan – Setiap perusahaan
atau organisasi tentunya pernah mengalami permasalahan baik di lingkungan
internal maupun eksternal. Etika profesi dapat dijadikan sebagai salah satu rujukan
untuk menyelesaikan berbagai permasalahan yang timbul di lingkungan
perusahaan/organisasi. Hal ini tidak terlepas dari keberadaan etika profesi yang
dianggap sebagai norma yang berlaku di dalam perusahaan/organisasi tersebut.

3. Menurut anda apa yang dimaksud dengan pelanggaran kode etik guru? Dan
faktor-faktor apa saja yang dapat menyebabkan pelanggaran itu?
Jawab: Pelanggaran kode etik profesi guru merupakan pelanggaran terhadap suatu
norma, nilai dan aturan profesional tertulis yang secara tegas menyatakan apa yang
benar dan baik bagi suatu profesi dalam masyarakat.
Faktor Penyebab Terjadinya Pelanggaran Kode Etik Guru :
Pendidikan merupakan upaya untuk mencerdaskan anak bangsa. Berbagai
upaya pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan telah dilaksanakan walapun
belum menunjukkan hasil yang optimal. Pendidikan tidak bisa lepas dari siswa atau
peserta didik. Siswa merupakan subjek didik yang harus diakui keberadaannya.
Berbagai karakter siswa dan potensi dalam dirinya tidak boleh diabaikan begitu saja.
Tugas utama guru mendidik dan mengembangkan berbagai potensi itu. Jika ada
pendidik (guru) yang sikap dan perilakunya menyimpang karena dipengaruhi
beberapa faktor.
Pertama, adanya malpraktik yaitu melakukan praktek yang salah atau
miskonsep. Guru salah dalam menerapkan hukuman pada siswa. Apapun alasannya
tindakan kekerasan maupun pencabulan guru terhadap siswa merupakan suatu
pelanggaran.
Kedua, kurang siapnya guru maupun siswa secara fisik, mental, maupun
emosional. Kesiapan fisik, mental, dan emosional guru maupun siswa sangat
diperlukan. Jika kedua belah pihak siap secara fisik, mental, dan emosional, proses
belajar mengajar akan lancar, interaksi siswa dan guru pun akan terjalin harmonis
layaknya orang tua dengan anaknya.
Ketiga, kurangnya penanaman budi pekerti di sekolah. Pelajaran budi pekerti
sekarang ini sudah tidak ada lagi. Kalaupun ada sifatnya hanya sebagai pelengkap,
lantaran diintegrasikan dengan berbagai mata pelajaran yang ada. Namun realitas di
lapangan pelajaran yang didapat siswa kebanyakan hanya dijejali berbagai materi.
Sehingga nilai-nilai budi pekerti yang harus diajarkan justru dilupakan.

4. Apa yang harus dilakukan seorang Guru agar dia dapat dikatakan sebagai Guru
Profesional?
Jawab:
1) Adil
Jadilah sosok pendidik yang obyektif, bukan subyektif. Adil di sini berarti
Bapak/Ibu tidak berpihak pada satu sisi atau kelompok tertentu. Jadi, harus
mampu menyikapi setiap siswa dengan karakter dan kemampuan yang
beragam.
2) Terbuka
Selain itu, keterbukaan juga merupakan kriteria yang sangat penting bagi
guru. Menerima kedatangan, pertanyaan, kritik, hingga masukan dari siswa.
Untuk memperbaiki karakter siswa, Bapak/Ibu terlebih dulu harus melakukan
perbaikan. Cobalah bersikap demokratis, tentu kelas akan jauh lebih
menyenangkan. Bukan hanya sikap, namun juga pikiran. Dengan terus
berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, Bapak/Ibu harus bisa
berpikiran terbuka. Ketimbang mengotak-ngotakkan mana murid pintar,
bodoh, dan sedang-sedang saja, alangkah baiknya jika diubah sedikit cara
berpikirnya. Setiap anak memiliki keunikan dan bisa sukses di
kemampuannya masing-masing. Ketika Bapak/Ibu berpikiran terbuka, maka
akan lebih mudah juga menyerap ilmu dari siapa pun, tanpa berpikir “Ah,
saya sudah tahu itu.
3) Jadi Contoh
Selama ini, metode pengajaran apa saja yang telah Bapak/Ibu terapkan? Kalau
hanya menyampaikan materi dengan ceramah panjang, rasanya tidak akan
efektif. Pernah dengar “masuk telinga kiri, keluar telinga kanan”, kan? Tentu
Bapak/Ibu tidak ingin hal demikian yang terjadi pada para peserta didik.
Sebagai contoh sederhana, misalnya ada sampah yang tidak pada tempatnya
di dalam kelas. Daripada hanya menegur “Jangan buang sampah sembarangan
ya, anak-anak,”, akan lebih baik jika Bapak/Ibu langsung mengambil sampah
tersebut dan memasukkannya dalam tempat sampah. Kemudian, ajak siswa
bersama-sama membersihkan sambil menghias kelas. Ingatkan siswa bahwa
sebagai penghuni kelas, maka harus bertanggungjawab atas semua yang
dipakai, termasuk menjaga kebersihan dan ketentraman kelas. Dengan
Bapak/Ibu memberi contoh, siswa tentu perlahan-lahan akan memiliki
kesadaran untuk melakukan hal serupa. Hal ini juga akan mendewasakan
siswa lho.
4) Bijaksana
Menjadi seorang guru, berarti harus bijaksana. Baik dalam mengambil
keputusan, menyikapi masalah, maupun bertindak. Kalau Bapak/Ibu mampu
menjadi sosok pendidik yang bijak, siswa tentu akan lebih respect. Pendidik
yang bijaksana tahu bagaimana melakukan pendekatan yang tepat terhadap
peserta didiknya.
5) Fleksibel
Menjadi guru memang harus punya prinsip, baik dalam nilai-nilai maupun
pengetahuan. Namun, dalam menyampaikan prinsipnya, Bapak/Ibu sebaiknya
fleksibel. Fleksibel di sini maksudnya adalah tidak kaku dan mampu
menyesuaikan dengan kondisi, perkembangan, sifat, kemampuan, serta latar
belakang siswa.
6) Peka
Bapak/Ibu Guru harus bisa cepat mengerti, memahami, dan melihat dengan
perasaan apa yang terlihat pada siswa. Mulai dari ekspresi wajah, gerak-gerik,
nada suara, dan lainnya. Jadi, guru dapat segera memahami apa yang dialami
oleh siswa. Tidak hanya cepat memahami, tapi juga cepat tanggap untuk
menanggulanginya.
7) Memahami proses
Dalam belajar dan mengajar, maka terjadi sebuah proses. Nah, proses ini tidak
selalu mudah dilalui dengan cepat, bergantung pada individu masing-masing.
Maka, penting sekali bagi seorang guru untuk bisa memahami arti proses.
Memilih untuk menjadi guru tentu harus siap stok sabar yang banyak, bukan?
Misalnya dalam mengajar, jika siswa tidak mudah memahami, maka jangan
langsung dimarahi. Coba cek lagi, bagaimana karakter, tipe belajar, dan cara
mengajar siswa tersebut.Ketika selesai mengajar, seringkali Bapak/Ibu
kembali ke rumah dalam keadaan yang sangat lelah. Tak terhindarkan juga
rasa jenuh yang melanda ketika kehabisan akal menghadapi para siswa. Ini
hal yang manusiawi kok. Namun, bisa diminimalisir jika Bapak/Ibu ingat
betapa pentingnya sebuah proses. Jika merasa masih gagal dalam mengajar,
cobalah untuk tetap menghargai setiap usaha yang telah dilakukan. Apabila
hanya fokus pada kegagalan, maka akan memicu kemalasan, dan motivasi
mengajar pun ikut turun. Jadi, hargai proses dan teruslah berinovasi.
8) Pengendalian diri
Menjadi seorang guru yang akan jadi teladan siswanya, maka harus bisa
mengendalikan diri. Bapak/Ibu mampu memberikan pertimbangan rasional
dalam memutuskan sesuatu dan memecahkan masalah. Kemudian, dapat
menjalin hubungan sosial yang wajar dengan siswa, sesama guru, serta
orangtua. Seorang guru yang profesional juga artinya telah bisa
mengendalikan emosinya. Tahu bagaimana, kapan, dan di mana harus
menyatakan emosinya.
9) Konsisten
Seorang guru juga harus bersikap konsisten, tidak plin-plan. Kalau sedikit-
sedikit berubah, tentu akan berpengaruh pada tingkat respect siswa ke
gurunya. Coba Bapak/Ibu tegas dan berwibawa dengan menerapkan disiplin
positif. Kalau dari awal kesepakatannya A, maka seterusnya akan A, jangan
tiba-tiba berubah haluan menjadi B. Sewaktu-waktu mungkin saja ada
perubahan, asal disertai alasan yang masuk akal dan memberi manfaat bagi
seluruh pihak. Menjadi seorang guru harus konsisten dalam mengajar. Guru
yang profesional dan tidak hanya berprofesi sebagai pengajar, namun juga
mendidik, membimbing, mengarahkan, serta mengevaluasi siswa. Sebagai
guru, Bapak/Ibu dituntut menjadi sosok yang mampu menanamkan nilai-nilai
terhadap siswa hingga mencapai kedewasaan. Jadi, harus tinggi
konsistensinya.
10) Memahami jiwa siswa
Seorang guru itu layaknya dokter. Bagaimana dokter mengobati pasien yang
sakit? Tentu dokter tersebut harus paham jenis penyakit yang diderita beserta
pengobatannya. Sama halnya dengan guru, mengobati jiwa siswa dan
membentuk karakter baik. Oleh karena itu, jadilah guru yang mengerti sifat
dasar jiwa manusia, kekurangan, serta cara menanganinya.Seorang guru ibarat
seorang dokter. Untuk mengobati yang sakit, maka deperlukan dokter yang
mengerti jenis penyakit yang diderita serta cara-cara mengobatinya. Begitu
pula dengan seorang guru, dalam mengobati jiwa anak didiknya, membentuk
akhlak yang baik. Untuk itu dibutuhkan pendidik yang mengerti akan sifat
dasar jiwa manusia, kelemahan dan cara mengobatinya. Ibarat sakit, lebih
baik mencegah daripada mengobati. Jadi sebelum diobati hendaknya
mencegah terjadinya penyakit. Dalam hal ini adalah akhlak anak didik.
Sebelum mereka tumbuh dewasa dengan akhlak yang buruk maka sedini
mungkin membentuk akhlak yang baik.

5. Bahan mengajar bagi Guru biasanya sudah cukup berat, bagaimana sebaiknya
guru membagi waktu sehingga ia masih dapat mengembangkan kemampuan
profesinya dengan berbagai kegiatan selain mengajar?
Jawab: Untuk membagi waktu bagi seorang guru agar dapat diperhatikan beberapa
macam kegiatan agar guru bisa mengembangkan kemampuan profesinya yang
diantaranya :
a. Membaca
Melalui banyak membaca membuat seorang guru bisa menyampaikan materi dengan
penjelasan yang baik dan terperinci
b. Mendidik siswa seperti mendidik anak sendiri
Seperti kita menyayangi dan member perhatian kepada anak sendiri yang bisa kita
lakukan  kepada siswa dan siswi
c. Mengetahui dan memahami latar belakang dari siswa-siswi yang kita ajarkan
Ketika kita bertindak sebagai guru bisa diperhatikan siswa dan mengerti apa yang kita
sampaikan
d.   Disiplin
Disiplin diri bagi yang paling penting bagi seorang guru yang menjadi penentu
kegiatan yang akan dilewati perharian, mingguan maupun kegiatan jangka panjang
e. Membuat perencanaan
Perencanaan yang matang mulai dari persiapan mengajar, perencanaan harian,
perencanaan hingga jangka panjang.