Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PENDAHULUAN

PRAKTEK PROGRAM PROFESI NERS


TAHUN AKADEMIK 2019-2020

“RETENSIO PLASENTA”

Disusun Oleh :

RENI NURAZIZAH S.Kep

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BINA PUTERA


BANJAR
PROGRAM STUDI NERS ANGKATAN KE-15
TAHUN AKADEMIK 2019-2020
Jl. Mayjen Lili Kusumah-Sumanding Wetan No. 33 Kota Banjar
Tlp (0265) 741100 Fax (0265) 744043
web: www.stikesbp.ac.id
A. Konsep Dasar Medis
1. Pengertian
Rest plasenta merupakan tertinggalnya bagian plasenta dalam uterus yang
dapat menimbulkan perdarahan post pasrtum sekunder. (Manuaba. 2006).
2. Etiologi
Penyebab terjadinya Rest Placenta adalah :
a. Placenta belum lepas dari dinding uterus
Placenta yang belum lepas dari dinding uterus. Hal ini dapat terjadi
karena :
1) kontraksii uterus kurang kuat untuk melepaskan placenta, dan
2) placenta yang tumbuh melekat erat lebih dalam.
Pada keadaan ini tidak terjadi perdarahan dan merupakan indikasi
untuk mengeluarkannya. 
b. Placenta sudah lepas tetapi belum dilahirkan. Keadaan ini dapat terjadi
karena atonia uteri dan dapat menyebabkan perdarahan yang banyak
dan adanya lingkaran konstriksi pada bagian bawah rahim. Hal ini
dapat disebabkan karena :
1) penanganan kala III yang keliru/salah dan
2) terjadinya kontraksi pada bagian bawah uterus yang menghalangi
placenta (placenta inkaserata).

3. Klasifikasi Retensio Plasenta


Menurut tingkat perlekatannya, retensio placenta dibedakan atas beberapa
tingkatan yaitu sebagai berikut :
a. Placenta Adhesiva : placenta melekat pada desidua endometrium lebih
dalam 
b. Placenta Inkreta : placenta melekat sampai pada villi khorialis dan
tumbuh lebih dalam menembus desidua sampai miometrium.
c. Placenta Akreta : placenta menembus lebih dalam kedalam
miometrium tetapi belum mencapai lapisan serosa.
d. Placenta Perkreta : placenta telah menembus mencapai serosa atau
peritonium dinding rahim.
e. Placenta Inkarserata : adalah tertahannya di dalam kavum uteri karena
kontraksi ostium uteri.

4. Patofisiologi
Setelah bayi dilahirkan, uterus secara spontan berkontraksi. Kontraksi
dan retraksi otot-otot uterus menyelesaikan proses ini pada akhir persalinan.
Sesudah berkontraksi, sel miometrium tidak relaksasi, melainkan menjadi
lebih pendek dan lebih tebal. Dengan kontraksi yang berlangsung kontinyu,
miometrium menebal secara progresif, dan kavum uteri mengecil sehingga
ukuran juga mengecil. Pengecilan mendadak uterus ini disertai mengecilnya
daerah tempat perlekatan plasenta.
Ketika jaringan penyokong plasenta berkontraksi maka plasenta yang
tidak dapat berkontraksi mulai terlepas dari dinding uterus. Tegangan yang
ditimbulkannya menyebabkan lapis dan desidua spongiosa yang longgar
memberi jalan, dan pelepasan plasenta terjadi di tempat itu. Pembuluh darah
yang terdapat di uterus berada di antara serat-serat otot miometrium yang
saling bersilangan. Kontraksi serat-serat otot ini menekan pembuluh darah
dan retaksi otot ini mengakibatkan pembuluh darah terjepit serta perdarahan
berhenti.
Pengamatan terhadap persalinan kala tiga dengan menggunakan
pencitraan ultrasonografi secara dinamis telah membuka perspektif baru
tentang mekanisme kala tiga persalinan. Kala tiga yang normal dapat dibagi
ke dalam 4 fase, yaitu:
a. Fase laten, ditandai oleh menebalnya dinding uterus yang bebas tempat
plasenta, namun dinding uterus tempat plasenta melekat masih tipis.
b. Fase kontraksi, ditandai oleh menebalnya dinding uterus tempat plasenta
melekat (dari ketebalan kurang dari 1 cm menjadi > 2 cm).
c. Fase pelepasan plasenta, fase dimana plasenta menyempurnakan
pemisahannya dari dinding uterus dan lepas. Tidak ada hematom yang
terbentuk antara dinding uterus dengan plasenta. Terpisahnya plasenta
disebabkan oleh kekuatan antara plasenta yang pasif dengan otot uterus
yang aktif pada tempat melekatnya plasenta, yang mengurangi permukaan
tempat melekatnya plasenta. Akibatnya sobek di lapisan spongiosa.
d. Fase pengeluaran, dimana plasenta bergerak meluncur. Saat plasenta
bergerak turun, daerah pemisahan tetap tidak berubah dan sejumlah kecil
darah terkumpul di dalam rongga rahim. Ini menunjukkan bahwa
perdarahan selama pemisahan plasenta lebih merupakan akibat, bukan
sebab. Lama kala tiga pada persalinan normal ditentukan oleh lamanya
fase kontraksi. Dengan menggunakan ultrasonografi pada kala tiga, 89%
plasenta lepas dalam waktu satu menit dari tempat implantasinya. Tanda-
tanda lepasnya plasenta adalah sering ada semburan darah yang mendadak,
uterus menjadi globuler dan konsistensinya semakin padat, uterus
meninggi ke arah abdomen karena plasenta yang telah berjalan turun
masuk ke vagina, serta tali pusat yang keluar lebih panjang. Sesudah
plasenta terpisah dari tempat melekatnya maka tekanan yang diberikan
oleh dinding uterus menyebabkan plasenta meluncur ke arah bagian bawah
rahim atau atas vagina. Kadang-kadang, plasenta dapat keluar dari lokasi
ini oleh adanya tekanan inter-abdominal. Namun, wanita yang berbaring
dalam posisi terlentang sering tidak dapat mengeluarkan plasenta secara
spontan. Umumnya, dibutuhkan tindakan artifisial untuk menyempurnakan
persalinan kala IV. Metode yang biasa dikerjakan adalah dengan menekan
secara bersamaan dengan tarikan ringan pada tali pusat.
WOC RETENSIO PLASENTA

Sebab patologik anatomik Placenta belum lepas Placenta sudah lepas


Sebab fungsional (perlekatan abnormal ) dari dinding uterus tetapi belum dilahirkan

1. His yang kurang kuat (sebab utama) 1. Plasenta adhesive


2. Tempat melekatnya yang kurang Melahirkan plasenta
2. Plasenta inkreta
menguntungkan (contoh : di sudut 3. Plasenta parkreta secara manual
tuba) 4. Plasenta akreta
3. Ukuran plasenta terlalu kecil Tarikan tali pusat
4. Lingkaran kontriksi pada bagian bawah
perut 
RETENSIO PLASENTA Inversio uteri

tidak dapat berkontraksi secara efektif (terjadi retraksi


dan kontraksi otot uterus ) nyeri

Pembuluh darah terbuka MK : Nyeri akut

MK : kecemasan perdarahan MK : risiko infeksi

Penurunan volume
darah

MK : kekurangan
volume cairan
5. Faktor-faktor yang mempengaruhi pelepasan plasenta
Faktor-faktor yang mempengaruhi pelepasan plasenta:
a. Kelainan dari uterus sendiri, yaitu anomali dari uterus atau serviks;
b. kelemahan dan tidak efektifnya kontraksi uterus, kontraksi yang kuat dari
uterus
c. serta pembentukan constriction ring.
d. Kelainan dari plasenta, misalnya plasenta letak rendah atau plasenta previa
dan adanya plasenta akreta.
e. Kesalahan manajemen kala tiga persalinan, seperti manipulasi dari uterus
yang tidak perlu sebelum terjadinya pelepasan dari plasenta menyebabkan
kontraksi yang tidak ritmik
f. pemberian uterotonik yang tidak tepat waktunya yang juga dapat
menyebabkan serviks kontraksi dan menahan plasenta
g. serta pemberian anestesi terutama yang melemahkan kontraksi uterus.

6. Gejala Klinis
a. Waktu hamil
1) Kebanyakan pasien memiliki kehamilan yang normal
2) Insiden perdarahan antepartum meningkat, tetapi keadaan ini biasanya
menyertai plasenta previa
3) Terjadi persalinan prematur, tetapi kalau hanya ditimbulkan oleh
perdarahan
4) Kadang terjadi ruptur uteri
b. Persalinan kala I dan II
Hampir pada semua kasus proses ini berjalan normal
c. Persalinan kala III
1) Retresio plasenta menjadi ciri utama
2) Perdarahan post partum, jumlahnya perdarahan tergantung pada derajat
perlekatan plasenta, seringkali perdarahan ditimbulkan oleh Dokter
kebidanan ketika ia mencoba untuk mengeluarkan plasenta secara
manual
3) Komplikasi yang sering tetapi jarang dijumpai yaitu invertio uteri,
keadaan ini dapat tejadi spontan, tapi biasanya diakibatkan oleh usaha-
usaha untuk mengeluarkan plasenta
4) Ruptura uteri, biasanya terjadi saat berusaha mengeluarkan plasenta

7. Tanda Dan Gejala Retensio Plasenta


a. Plasenta atau sebagian selaput (mengandung pembuluh darah) tidak
lengkap.
b. Terjadi perdarahan rembesan atau mengucur, saat kontraksi uterus keras,
darah berwarna merah muda, bila perdarahan hebat timbul syok, pada
pememriksaan inspekulo terdapat sisa plasenta.
c. Uterus berkontraksi tetapi tinggi fundus tidak berkurang.
d. Sewaktu suatu bagian dari plasenta (satu atau lebih lobus) tertinggal, maka
uterus tidak dapat berkontraksi secara efektif dan keadaan ini dapat
menimbulkan perdarahan. Tetapi mungkin saja pada beberapa keadaan
tidak ada perdarahan dengan sisa plasenta. Tertinggalnya sebagian
plasenta (rest plasenta)
e. Keadaan umum lemah
f. Peningkatan denyut nadi
g. Tekanan darah menurun
h. Pernafasan cepat
i. Gangguan kesadaran (Syok)
j. Pasien pusing dan gelisah
k. Tampak sisa plasenta yang belum keluar.

8. Komplikasi
a. Perdarahan
Terjadi terlebih lagi bila retensio plasenta yang terdapat sedikit
perlepasan hingga kontraksi memompa darah tetapi bagian yang melekat
membuat luka tidak menutup.
b. Infeksi
Karena sebagai benda mati yang tertinggal di dalam rahim meningkatkan
pertumbuhan bakteri dibantu dengan port d’entre dari tempat perlekatan
plasenta.
c. Dapat terjadi plasenta inkarserata dimana plasenta melekat terus
sedangkan kontraksi pada ostium baik hingga yang terjadi.
d. Terjadi polip plasenta sebagai massa proliferative yang mengalami
infeksi sekunder dan nekrosis Dengan masuknya mutagen, perlukaan
yang semula fisiologik dapat berubah menjadi patologik (displastik-
diskariotik) dan akhirnya menjadi karsinoma invasif. Sekali menjadi
mikro invasive atau invasive, proses keganasan akan berjalan terus.
Sel ini tampak abnormal tetapi tidak ganas. Para ilmuwan yakin bahwa
beberapa perubahan abnormal pada sel-sel ini merupakan langkah awal
dari serangkaian perubahan yang berjalan lambat, yang beberapa tahun
kemudian bisa menyebabkan kanker. Karena itu beberapa perubahan
abnormal merupakan keadaan prekanker, yang bisa berubah menjadi
kanker.
e. Syok haemoragik
9. Pemeriksaan diagnostik
a. Hitung darah lengkap :
Untuk menentukan tingkat hemoglogin (Hb) dan hematokrit (Hct),
melihat adanya trombositopenia, serta jumlah leukosit. Pada keadaan yang
disertai dengan infeksi, leukosit biasanya meningkat.
b. Menentukan adanya gangguan koagulasi :
Menentukan adanya gangguan koagulasi dengan hitung Protrombin
Time (PT) dan Activated Partial Time (CT) atau Bleeding Time (BT). Ini
penting untuk menyingkirkan perdarahan yang disebabkan oleh faktor lain
B. ASUHAN KEPERAWATAN PADA IBU POST PARTUM SISA
PLASENTA
1. Pengkajian
Beberapa hal yang perlu dikaji dalam asuhan keperawatan pada ibu
dengan rest placenta adalah sebagai berikut :
a. Identitas klien
Data biologis/fisiologis meliputi; keluhan utama, riwayat kesehatan masa
lalu, riwayat penyakit keluarga, riwayat obstetrik (GPA, riwayat
kehamilan, persalinan, dan nifas), dan pola kegiatan sehari-hari sebagai
berikut :
1) Sirkulasi :
a) Perubahan tekanan darah dan nadi (mungkintidak tejadi sampai
kehilangan darah bermakna)
b) Pelambatan pengisian kapiler
c) Pucat, kulit dingin/lembab
d) Perdarahan vena gelap dari uterus ada secara eksternal (placentaa
tertahan)
e) Dapat mengalami perdarahan vagina berlebihan
f) Haemoragi berat atau gejala syock diluar proporsi jumlah
kehilangan darah.
2) Eliminasi :
e. Kesulitan berkemih dapat menunjukan haematoma dari porsi atas
vagina
3) Nyeri/Ketidaknyamanan :
a. Sensasi nyeri terbakar/robekan (laserasi), nyeri tekan abdominal
(fragmen placenta tertahan) dan nyeri uterus lateral.
4) Keamanan :
a. Laserasi jalan lahir: darah memang terang sedikit menetap
(mungkin tersembunyi) dengan uterus keras, uterus berkontraksi
baik; robekan terlihat pada labia mayora/labia minora, dari muara
vagina ke perineum; robekan luas dari episiotomie, ekstensi
episiotomi kedalam kubah vagina, atau robekan pada serviks.
5) Seksualitas :
a. Uterus kuat; kontraksi baik atau kontraksi parsial, dan agak
menonjol (fragmen placenta yang tertahan)
b. Kehamilan baru dapat mempengaruhi overdistensi uterus (gestasi
multipel, polihidramnion, makrosomia), abrupsio placenta,
placenta previa.
1. Pemeriksaan fisik meliputi; keadaan umum, tanda vital, pemeriksaan
obstetrik (inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi). keadaan umum : klien
tampak lemah
a. Mata: sclera warna putih, konjungtiva merah muda, pupil isokor tidak
ada sekret
b. Mulut dan tenggorokan:
1) Leher : Simetris, tidak ada lesi, tidak ada pembesaran kelenjar
tiroid, tidak ada nyeri telan, vena jugularis tidak membengkak
2) Mulut : mukosa bibir lembab, gigi lengkap
c. Dada dan axila : mamae bentuk simetris dan membesar areola mamae
warna hitam tidak ada lesi papilla tampak menonjol, colosterum sudah
keluar
d. Pernafasan
1) Jalan nafas: normal tidak ada obstruksi jalan nafas
2) Suara nafas: normal tidak ada siara tambahan seperti wheezing
dan ronchi
e. Sirkulasi jantung
1) Kecepatan denyut jantung 92 x/menit
2) Irama regular bunyi S1-S2 tunggal
f. Abdomen
1) Luka bekas operasi: terbungkus kasa steril ± 15 cm
2) Bising usus: 12x/menit
3) TFU : 2 jari di bawah pusar
4) UC : terasa keras sa’at di raba(baik)
g. Extrimitas (integument/muskulus skeletal)
1) Integument: turgor kulit baik kembali dalam 1 detik, tidak ada lesi
2) Extrimitas atas: dapat di gerakkan dengan baik, pada tangan sebelah kiri
terpasang infus RL 28 tetes.
3) Ektrimitas bawah: kedua kaki dapat bergerak dengan baik
h. Vagina dan urogenetalia
1) Tidak ada lesi, bersih
2) Darah infus (+), lokea rubra, warna merah, sebatas tella penuh

f. Diagnosa, rencana intervensi keperawatan


1. Defisit volume cairan tubuh berhubungan dengan kehilangan melalui
vaskuler yang berlebihan.
Intervensi : 
a. Tinjau ulang catatan kehamilan dan persalinan/kelahiran, perhatiakan
faktor-faktor penyebab atau pemberat pada situasi hemoragi (misalnya
laserasi, fragmen plasenta tertahan, sepsis, abrupsio plasenta, emboli
cairan amnion atau retensi janin mati selama lebih dari 5 minggu)
Rasional : Membantu dalam membuat rencana perawatan yang tepat
dan memberikan kesempatan untuk mencegah dan membatasi
terjadinya komplikasi.
b. Kaji dan catat jumlah, tipe dan sisi perdarahan; timbang dan hitung
pembalut, simpan bekuan dan jaringan untuk dievaluasi oleh perawat.
Rasional : Perkiraan kehilangan darah, arteial versus vena, dan adanya
bekuan-bekuan membantu membuat diagnosa banding dan
menentukan kebutuhan penggantian.
c. Kaji lokasi uterus dan derajat kontraksilitas uterus. Dengan perlahan
masase penonjolan uterus dengan satu tangan sambil menempatkan
tangan kedua diatas simpisis pubis.
Rasional : Derajat kontraktilitas uterus membantu dalam diagnosa
banding. Peningkatan kontraktilitas miometrium dapat menurunkan
kehilangan darah. Penempatan satu tangan diatas simphisis pubis
mencegah kemungkinan inversi uterus selama masase.
d. Perhatikan hipotensi atau takikardi, perlambatan pengisian kapiler atau
sianosis dasar kuku, membran mukosa dan bibir.
Rasional : Tanda-tanda ini menunjukan hipovolemi dan terjadinya
syok. Perubahan pada tekanan darah tidak dapat dideteksi sampai
volume cairan telah menurun sampai 30 - 50%. Sianosis adalah tanda
akhir dari hipoksia.
e. Pantau parameter hemodinamik seperti tekanan vena sentral atau
tekanan baji arteri pulmonal bila ada.
Rasional : Memberikan pengukuran lebih langsung dari volume
sirkulasi dan kebutuhan penggantian. 
f. Lakukan tirah baring dengan kaki ditinggikan 20-30 derajat dan tubuh
horizontal.
Rasional : Perdarahan dapat menurunkan atau menghentikan reduksi
aktivitas. Pengubahan posisi yang tepat meningkatkan aliran balik
vena, menjamin persediaan darah keotak dan organ vital lainnya lebih
besar. 
g. Pantau masukan dan keluaran, perhatikan berat jenis urin.
Rasional : Bermanfaat dalam memperkirakan luas/signifikansi
kehilangan cairan. Volume perfusi/sirkulasi adekuat ditunjukan dengan
keluaran 30 – 50 ml/jam atau lebih besar.
h. Hindari pengulangan/gunakan kewaspadaan bila melakukan
pemeriksaan vagina dan/atau rektal
Rasional : Dapat meningkatkan hemoragi bila laserasi servikal, vaginal
atau perineal atau hematoma terjadi.
i. Berikan lingkungan yang tenang dan dukungan psikologis
Rasional : Meningkatkan relaksasi, menurunkan ansietas dan
kebutuhan metabolik.
j. Kaji nyeri perineal menetap atau perasaan penuh pada vagina. Berikan
tekanan balik pada laserasi labial atau perineal.
Rasional : Haematoma sering merupakan akibat dari perdarahan lanjut
pada laserasi jalan lahir.
k. Pantau klien dengan plasenta acreta (penetrasi sedikit dari
myometrium dengan jaringan plasenta), HKK atau abrupsio placenta
terhadap tanda-tanda KID (koagulasi intravascular diseminata).
Rasional : Tromboplastin dilepaskan selama upaya pengangkatan
placenta secara manual yang dapat mengakibatkan koagulopati.
l. Mulai Infus 1 atau 2 i.v dari cairan isotonik atau elektrolit dengan
kateter !8 G atau melalui jalur vena sentral. Berikan darah lengkap atau
produk darah (plasma, kriopresipitat, trombosit) sesuai indikasi.
Rasional : Perlu untuk infus cepat atau multipel dari cairan atau produk
darah untuk meningkatkan volume sirkulasi dan mencegah
pembekuan.
m. Berikan obat-obatan sesuai indikasi :  Oksitoksin, Metilergononovin
maleat, Prostaglandin F2 alfa.
Rasional : Meningkatkan kontraktilitas dari uterus yang menonjol dan
miometrium, menutup sinus vena yang terpajan, dan menghentikan
hemoragi pada adanya atonia.
2. Nyeri berhubungan dengan trauma atau distensi jaringan.
Intervensi : 
a. Tentukan karakteristik, tipe, lokasi, dan durasi nyeri. Kaji klien
terhadap nyeri perineal yang menetap, perasaan penuh pada vagina,
kontraksi uterus atau nyeri tekan abdomen.
Rasional : Membantu dalam diagnosa banding dan pemilihan metode
tindakan. Ketidaknyamanan berkenaan dengan hematoma, karena
tekanan dari hemaoragik tersembunyi kevagina atau jaringan perineal.
Nyeri tekan abdominal mungkin sebagai akibat dari atonia uterus atau
tertahannya bagian-bagian placenta. Nyeri berat, baik pada uterus dan
abdomen, dapat terjadi dengan inversio uterus.
b. Kaji kemungkinan penyebab psikologis dari ketidaknyamana.
Rasional : Situasi darurat dapat mencetuskan rasa takut dan ansietas,
yang memperberat persepsi ketidaknyamanan.
c. Berikan tindakan kenyamanan seperti pemberian kompres es pada
perineum atau lampu pemanas pada penyembungan episiotomi.
Rasional : Kompres dingan meminimalkan edema, dan menurunkan
hematoma serta sensasi nyeri, panas meningkatkan vasodilatasi yang
memudahkan resorbsi hematoma.
d. Berikan analgesik, narkotik, atau sedativa sesuai indikasi
Rasional : Menurunkan nyeri dan ancietas, meningkatkan relaksasi.
3. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan hipovalemia
Intervensi : 
a. Perhatikan Hb/Ht sebelum dan sesudah kehilangan darah. Kaji status
nutrisi, tinggi dan berat badan.
Rasional : Nilai bandingan membantu menentukan beratnya
kehilangan darah. Status yang ada sebelumnya dari kesehatan yang
buruk meningkatkan luasnya cedera dari kekurangan oksigen.
b. Pantau tanda vital; catat derajat dan durasi episode hipovolemik.
Rasional : Luasnya keterlibatan hipofisis dapat dihubungkan dengan
derajat dan durasi hipotensi. Penigkatan frekuensi pernapasan dapat
menunjukan upaya untuk mengatasi asidosis metabolik.
c. Perhatikan tingkat kesadaran dan adanya perubahan prilaku.
Rasional : Perubahan sensorium adalah indikator dini dari hipoksia,
sianosis, tanda lanjut dan mungkin tidak tampak sampai kadar PO2
turun dibawah 50 mmHg.
d. Kaji warna dasar kuku, mukosa mulut, gusi dan lidah, perhatikan suhu
kulit.
Rasional : Pada kompensasi vasokontriksi dan pirau organ vital,
sirkulasi pada pembuluh darah perifer diperlukan yang mengakibatkan
sianosis dan suhu kulit dingin.
e. Beri terapi oksigen sesuai kebutuhan
Rasional : Memaksimalkan ketersediaan oksigen untuk transpor
sirkulasi kejaringan.
f. Pasang jalan napas; penghisap sesuai indikasi
Rasional : Memudahkan pemberian oksigen.

4. Ancietas berhubungan dengan ancaman perubahan pada status kesehatan.


Intervensi : 
a. Evaluasi respon psikologis serta persepsi klien terhadap kejadian
hemoragii pasca partum. Klarifikasi kesalahan konsep.
Rasional : Membantu dalam menentukan rencana perawatan. Persepsi
klien tentang kejadian mungkin menyimpang, akan memperberat
ancietasnya.
b. Evaluasi respon fisiologis pada hemoragik pasca partum; misalnya
tachikardi, tachipnea, gelisah atau iritabilitas.
Rasional : Meskipun perubahan pada tanda vital mungkin karena
respon fisiologis, ini dapat diperberat atau dikomplikasi oleh faktor-
faktor psikologis.
c. Sampaikan sikap tenang, empati dan mendukung.
Rasional : Dapat membantu klien mempertahankan kontrol emosional
dalam berespon terhadap perubahan status fisiologis. Membantu dalam
menurunkan tranmisi ansietas antar pribadi. 
d. Bantu klien dalam mengidentifikasi perasaan ansietas, berikan
kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaan.
Rasional : Pengungkapan memberikan kesempatan untuk memperjelas
informasi, memperbaiki kesalahan konsep, dan meningkatkan
perspektif, memudahkan proses pemecahan masalah.
e. Beritahu kepada klien tujuan dari setiap tindakan yang akan dilakukan
Rasional : Kecemasan klien akan berkurang bila sebelum sebuah
tindakan dilakukan oleh perawat.
5. Kurang Pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi yang
diperoleh.
Intervensi : 
a. Jelaskan faktor predisposisi atau penyebab dan tindakan khusus
terhadap penyebab hemoragi.
Rasional : Memberikan informasi untuk membantu klien/pasangan
memahami dan mengatasi situasi.
b. Kaji tingkat pengetahuan klien, kesiapan dan kemampuan klien untuk
belajar. Dengarkan, bicarakan dengan tenang, dan berikan waktu untuk
bertanya dan meninjau materi.
Rasional : Memberikan informasi yang perlu untuk mengembangkan
rencana perawatan individu. Menurunkan stress dan ancietas, yang
menghambat pembelanjaran, dan memberikan klarifikasi dan
pengulangan untuk meningkatkan pemahaman.
c. Diskusikan implikasi jangka pendek dari hemoragi pasca partum,
seperti perlambatan atau intrupsi pada proses kedekatan ibu-bayi (klien
tidak mampu melakukan perawatan terhadap diri dan bayinya segera
sesuai keinginannya).
Rasional : Menurunkan ansietas dan memberikan kerangka waktu yang
realistis untuk melakukan ikatan serta aktivitas-aktivitas perawatan
bayi.
d. Diskusikan implikasi jangka panjang hemoragi pasca partum dengan
tepat, misalnya resiko hemoragi pasca partum pada kehamilan
selanjutnya, ataonia uterus, atau ketidakmampuan untuk melahirkan
anak pada masa datang bila histerektomie dilakukan.
Rasional : Memungkinan klien untuk membuat keputusan berdasarkan
informasi dan mulai mengatasi perasaan tentang kejadian-kejadian
masa lalu dan sekarang.
6. Resiko tinggi terjadi Infeksi berhubungan dengan trauma jaringan. 
Intervensi : 
a. Demonstrasikan mencuci tangan yang tepat dan teknik perawatan diri.
Tinjau ulang cara yang tepat untuk menangani dan membuang material
yang terkontaminasi misalnya pembalut, tissue, dan balutan.
Rasional : Mencegah kontaminasi silang/penyebaran organinisme
infeksious..
b. Perhatikan perubahan pada tanda vital atau jumlah SDP
Rasional : Peningkatan suhu dari 100,4 ºF (38ºC) pada dua hari
beturut-turut (tidak menghitung 24 jam pertama pasca partum),
tachikardia, atau leukositosis dengan perpindahan kekiri menandakan
infeksi.
c. Perhatikan gejala malaise, mengigil, anoreksia, nyeri tekan uterus atau
nyeri pelvis.
Rasional : Gejala-gejala ini menandakan keterlibatan sistemik,
kemungkinan menimbulkan bakterimia, shock, dan kematian bila tidak
teratasi.
d. Selidiki sumber potensial lain dari infeksi, seperti pernapasan
(perubahan pada bunyi napas, batuk produktif, sputum purulent),
mastitis (bengkak, eritema, nyeri), atau infeksi saluran kemih (urine
keruh, bau busuk, dorongan, frekuensi, nyeri).
Rasional : Diagnosa banding adalah penting untuk pengobatan yang
efektif.
e. Kaji keadaan Hb atau Ht. Berikan suplemen zat besi sesuai indikasi.
Rasional : Anemia sering menyertai infeksi, memperlambat pemulihan
dan merusak sistem imun.
DAFTAR PUSTAKA

Mitayani. 2009. Asuhan Keperawatan Maternitas. Jakarta: Salemba Medika.


Mochtar, Rustam, Prof.dr. 2011. Sinopsis Obstetri : Obstetri fisiologi dan Obstetri
Patologi. Edisi 3. Jakarta: EGC.
Norwitz, Errol. R. 2006. At a Glance : Obstetri dan Ginekologi. Edisi 2. Alih
Bahasa Diba Arsiyanti E. P. Jakarta : Erlangga.
Pratiwi, Delvita. 2012. “Retensio Plasenta” (online), (http://delvita-
pratiwi.blogspot.com/2012/06/retensio-plasenta.html
Prabowo, Eko. 2012. “Retensi Plasenta” (online),
(http://samoke2012.wordpress.com/2012/10/30/retensi-plasenta/
Rasyid, Abu. 2013. “ Askep Maternitas Retensio Plasenta” (online),
(http://asuhankeperawatankesehatan.blogspot.com/2013/03/askep-
maternitas-retensio-plasenta.html)

Anda mungkin juga menyukai