Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH AKUNTANSI KEPERILAKUAN

“HEURISTIK KETERWAKILAN”

Dosen: Olifia Y. Tala, SE, MSA

DISUSUN OLEH:

KELOMPOK 5

Ketua Kelompok: Alvira Angraini Gaghansa 17 304 152

Moderator: Romian M. Pangaribuan 17 304 155

Anggota: Arnoldy Maya 17 304 170


Gaby C. Ritongan 17 304 150
Jesika Ester 17 304 151
Seni Kaoci 17 304 156
Yuria Kaawoan 17 304 146

UNIVERSITAS NEGERI MANADO

FAKULTAS EKONOMI

AKUNTANSI 6B

2020

1
KATA PEGANTAR

Segala puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala
kelimpahan-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini. Semoga makalah
ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca dalam
proses belajar mengajar.

Harapan kami semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan pengalaman
bagi para pembaca, sehingga kami dapat memperbaiki bentuk maupun isi makalah ini sehingga
kedepannya dapat lebih baik. Makalah ini kami akui masih banyak kekurangan. Oleh karena itu,
kami harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat
membangun untuk kesempurnaan makalah ini

Tondano, April 2020

Penyusun

Kelompok 5

2
DAFTAR ISI

HALAMAN DEPAN .....................................................................................................................1

KATA PENGANTAR ...................................................................................................................2

DAFTAR ISI ..................................................................................................................................3

BAB I : PENDAHULUAN

A. Latar belakang ........................................................................................................4


B. Rumusan Masalah ..................................................................................................4
C. Tujuan Penulisan ....................................................................................................4

BAB II : PEMBAHASAN

A. Pengertian Heuristik.................................................................................................5

B. Heuristik Keterwakilan.............................................................................................5

BAB III : PENUTUP

A. Kesimpulan.............................................................................................................10
B. Saran.......................................................................................................................10

DAFTAR PUSTAKA...................................................................................................................11

LAMPIRAN……………………………………………………………………………………..12

3
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Heuristik adalah suatu penuntun yang diperlukan dalam menyelesaikan suatu masalah
yang dapat mengarahkan pemecahan masalah untuk menemukan penyeesaian soal yang
diberikan. Menurut Poyla (1973:112), heuristic as an adjective, means “serving to discover”.
Maksudnya heuristic (kata sifat) berarti “penuntun untuk menemukan”. Selanjutnya dalam
Webster’s (1985:856 tertulis bahwa heuristic helping to discover, to solutions or answer.
Mksudnya bahwa heuristic adalah penuntun untuk menemukan pemecahan atau masalah.

Demikian juga Alan H. Shoenfild (1982:23) menyatakan “ heuristic helping are genral
seggestions that help an individual to understand a problem bette or to make progress toward is
solution”. Kutipan ini mengandung makna bahwa heuristic adalah saran-saran (petunjuk-
petunjuk) umum yang dapat membantu individu untuk mengerti lebih baik suatu masalah atau
membuat kemajuan kea rah pemecahan masalahnya.

Dari definisi yang telah diuraikan, pengertian heuristik yang dimaksudkan dalam
penelitian ini adalah suatu penuntun (petunjuk) dalam bentuk pertanyaan atau perintah yang
mengarahkan pemecahan masalah komposisi fungsi dan invers fungsinyang diberikan.

B. RUMUSAN MASALAH

Adapun rumusan masalah yang penulis ambil untuk penyusunan makalah ini yaitu :

1. Pengertian Heuristik

2. Heuristik Keterwakilan

C. TUJUAN PENULISAN

Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini yaitu :

1. Untuk mengetahui pengertian heuristik

4
2. Untuk mengetahui pengertian heuristik keterwakilan

BAB II

PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN HEURISTIK

Heuristik adalah petunjuk praktis untuk mempermudah pengolahan informasi dalam


pengambilan keputusan. Heuristik mempercepat individu dalam pengambilan keputusan. Adanya
heuristik menyebabkan pengambilan keputusan yang kompleks menjadi lebih efisien. Heuristik
merupakan filter yang membantu kita untuk focus pada informasi yang penting dan mengabaikan
informasi-informasi yang tidak penting.

Heuristik yang digunakan secara tepat, sebenarnya dapat memberikan keuntungan yaitu
mengurangi waktu dan usaha yang diperlukan dalam pengambilan keputusan. Misalnya, heuristik
dapat digunakan untuk memprediksi atau menilai prospek perilaku klien.

Dalam kondisi keterbatasan waktu, informasi, dan kemampuan, heuristik akan


mengurangi kerumitan dalam pengambilan keputusan. Akan tetapi, heuristik juga menyebabkan
bias dalam pengambilan keputusan, jika tidak tepat dalam menggunakannya.

Contoh penggunaan heuristik yang tidak tepat, ketika melihat seseorang dengan baju rapi,
laptop dan kacamata, kita akan menyimpulkan dia merupakan eksekutif atau pejabat tinggi di
perusahaan. Namun, kenyataannya dia adalah petugas servis laptop.

Heuristik dapat menyebabkan kesalahan dalam mengambil keputusan. Individu seringkali


tidak mau mengeluarkan banyak energy untuk memperoleh dan mempertimbangkan informasi
sebelum mengambil keputusan, sehingga menggunakan petunjuk gratis.

B. HEURISTIK KETERWAKILAN

Heuristik keterwakilan merupakan penilaian subjektif terhadap objek berdasarkan


kemiripan onjek terhadap populasinya. Orang sering menilai apakah A mewakili kelompok B,
dengan menilai sejauh mana A menyerupai kelompok B. Misalnya, ketika kita mekihat orang
dengan membawa kamera, kita akan menyimpulkan dia adalah fotografer, meskipun dia bukan
fotografer.
5
Beberapa bias pengambilan keputusan yang disebabkan oleh heuristik keterwakilan:

1. Tidak sensitif terhadap base rates/insensitvity to base rate

Tidak sensitif terhadap base rates merupakan bias ketika dalam menilai probabllitas kejadian,
individu cenderung mengabaikan informasi base rate (data statistik, umum) dan memperhatikan
informasi yang lebih spesifik (informasi yang lebih khusus menjelaskan kasus tertentu). Ketika
menilai kemungkinan terjadinya suatu peristiwa, individu cenderung mengabaikan base rates jika
ada informasi lain yang diberikan (meskipun informasi tersebut tidak relevan).

Selama perang Vietnam, terdapat pilot pesawat tempur Kamboja dan Vietnam yang beroperasi di
area tersebut. Pilot AS diminta mengidentifikasi asal pilot pesawat tempur, apakah dari Vietnam
atau Kamboja?

Seorang pilot diambil dari kelompok yang berasal dari 70% pilot Vietnam dan 30% pilot
Kamboja.

Apakah pilot tersebut berasal dari Vietnam atau Kamboja?

Ketika tidak ada informasi spesifik, individu cenderung akan menggunakan informasi base rate
secara lebih tepat dan percaya bahwa pada pilot yang diambil dari grup pilot yang sebagian besar
dari Vietnam maka kemungkinan besar pilot tersebut berasal dari Vietnam. Namun ketika diberi
informasi yang spesifik, individu cenderung lebih menggunakan informasi spesifik tersebut
dibanding base rate. Misalnya: Pilot AS dibagi menjadi 2 kelompok; kelompok 1, Pilot AS
menerima kondisi A, dan kelompok 2, pilot ASmenerima kondisi B.

Kondisi A: Pilot AS Kelompok 1 Kondisi B: Pilot AS Kelompok 2

Pada kelompok ini, Pilot AS diberi informasi Pada kelompok ini, Pilot AS diberi informasi
mengenai deskripsi seorang pilot dengan mengenai deskripsi seorang pilot dengan
karakteristik: kulit berwarna, suka karakteristik: kulit berwarna, suka
matematika, dan risiko. matematika, dan risiko.

Pilot AS diberi informasi bahwa karakteristik Pilot AS diberi informasi bahwa karakteristik
6
itu diambil dari 70% Pilot Kamboja dan 30% itu diambil dari 30% Pilot Kamboja dan 70%
Pilot Vietnam. Pilot Vietnam.

Pilot AS memprediksi apakah pilot dengan Pilot AS memprediksi apakah pilot dengan
karakteristik tersebut dari Vietnam atau karakteristik tersebut dari Vietnam atau
Kamboja? Kamboja?

Meskipun individu menyadari bahwa deskripsi singkat bukan merupakan alat yang baik untuk
memprediksi, namun sebagian besar pilot AS memprediksi bahwa pilot tersebut berasal dari
Kamboja, (kenyataan dari Vietnam). Ketika ada informasi spesifik yang diberikan (kulit
berwarna, suka matematika, dan risiko), mereka mengabaikan informasi mengenai base rate:
bahwa deskripsi pilot diambil dari 70% Kamboja vs 30% Vietnam pada kondisi A dan 30%
Kamboja vs 70% Vietnam pada kondisi B.

Mengabaikan base rate memberikan implikasi negatif. Misalnya dalam Investasi terdapat
kemungkinan untung (gain) dan rug (loss). Akan tetapi, dalam berinvestasi kita terlalu yakin akan
selalu mendapat keuntungan tanpa memperhatian persentasi kerugian sehingga ketika pengelola
dana investasi Anda menyatakan Anda rugi, maka akan cenderung merasa stres yang berlebihan
dan mengajukan keberatan.

2. Tidak sensitif terhadap ukuran sampel

Ketika menilai reliabilitas dari informasi untuk mengambil keputusan, individu kadang
mengabaikan ukuran sampel. Meskipun ukuran sampel sangat penting dalam statistik, namun kita
seringkali mengabaikan ukuran sampel dalam intuisi kita (Tversky dan Kahneman, 1974).
Mengapa? Ketika kita dihadapkan pada permasalahan pengambilan sampel, individu cenderung
menggunakan heuristik keterwakilan.

Misalnya ketika auditor melakukan audit pada perusahaan besar yang sebelumnya diaudit oleh
Kantor Akuntan Publik besar, auditor baru cenderung memberikan penilaian bahwa tidak
terdapat salah saji dalam akun perusahaan, tanpa memperhatikan sampel audit yang digunakan.

7
Ukuran sampel yang lebih besar akan lebih akurat dibanding ukuran sampel kecil, tetapi
perusahaan seringkali memanfaatkan bias terhadap ukuran sampel ini sebaga strategi promosi.

Misalnya, iklan yang menyatakan bahwa 4 dari 5 dokter merekomendasikan pasta gigi merek QQ
mampu mengatasi gigi sensitif. Kita cenderung memercayai hasil survei tanpa memperhatikan
jumlah sampel dokter gigi yang digunakan dalam survei tersebut. Tanpa menyebutkan jumlah
sampel yang digunakan dalam survei tersebut, maka hasil survei tersebut tidak dapat
digeneralisasi untuk semua populasi dokter gigi.

3. Kesalahan konsepsi dari peluang

Individu sering berharap bahwa urutan data yang dihasilkan dari proses acak akan terlihat 'acak'.

Misalnya, dalam pertandingan sepak bola, pemain idola kita telah melakukan 4 kali lemparan
yang bagus, bagaimana probabilitas pemain tersebut melakukan lemparan yang baik pada
lemparan selanjutnya? Apakah probablitasnya lebih rendah, lebih tinggi, atau sama? Sebagian
besar komentator olahraga, penggemar akan memprediksi probabiltasnya lebih tinggi. Mungkin
terdapat alasan secara biologis, emos, dan fisik yang mendukung predikst tersebut. Namun
Tversky (:985) menemukan bahwa kesuksesan lemparan sebelumnya tidak menentukan
kesuksesan lemparan selanjutnya.

4. Regresi pada rata-rata

Individu cenderung mengembangkan prediksi bahwa outcome yang akan datang berhubungan
dengan outcome masa lalu. Individu secara naif mengembangkan prediksi berdasarkan asumsi
hubungan korelasi yang kuat dengan data masa lampau dan mengabaikan fakta bahwa terdapat
kejadian-kejadian ekstrem.

Misalnya: bagaimana jika seorang manajer gagal untuk memahami bias karena regresi rata-rata?
Manajer akan memprediksi kinerja pegawai berdasarkan kinerja tahun lalu. Pegawai yang
memilki kinerja sangat baik tahun lalu akan diprediksi memliki kinerja sangat baik tahun yang
akan datang. Namun, ketika di luar harapan, manajer tidak memberikan toleransi ketika pegawai
tersebut tidak memenuhi harapannya. Manajer yang gagal memahami bias ini akan membuat
asumsi yang salah pada hasil yang akan datang sehingga membuat harapan yang tidak tepat pada
kinerja pegawat di masa yang akan datang.

8
5. Kesalahan konjungsi

Kesalahan konjungsi terjadi ketika individu mengasumsikan bahwa kejadian-kejadian kondisi


spesifik akan lebih mungkin terjadi dibanding suatu kejadian yang umum. Berdasarkan teori
probabilitas, probabilitas konjungsi/conjunction P(A&B) tidak dapat melebihi probabilitas salah
satu dari konjungtanya/conjuct P(A) dan P(B)

P (A&B) = P(A) dan P(B)

Konjungsi/conjunction Konjungta/conjuct

Ini merupakan aturan konjungsi. Akan tetapi, ketika individu diminta untuk membandingkan
probabilitas konjungsi dan konjungtanya, individu akan memprediksi bahwa konjungsi akan lebih
mungkin terjadi disbanding konjungtanya. Hal ini terjadi karena konjungsi lebih mudah
dibayangkan disbanding konjungtanya. Contoh, kesalahan konjungsi yang dikemukakan oleh
Tversky dan Kahneman. Berikut ini adalah deskripsi dari Linda.

Linda berusia 31 tahun, belum menikah, cerdas, dan jujur. Dia sebagai sarjana ekonomi. Ketika
sebagai mahasiswa, dia sangat memperhatikan isu diskriminasi dan keadilan sosial dan
berpartisipasi dalam demokrasi anti nuklir. Menurut kalian, Linda adalah:

A. Seorang Teller Bank

B. Seorang Teller Bank dan aktif di pergerakan wanita

Opsi A merupakan konjungtan, dan Opsi B merupakan konjungsi/conjuction. Hasil menunjukkan


bahwa 85% individu memilih opsi B. Kata ‘dan’ pada opsi B membuat informasi lebih spesifik
dan mudah dibayangkan disbanding opsi A.

Kesalahan konjungsi dapat menyebabkan deviasi/penyimpangan dalam pengambilan keputusan


rasional dalam bidang bisnis, perlaku kriminal, keputusan medis. Kesalahan konjungsi dapat
menyebabkan buruknya prediksi pada kejadian yang akan datang sehingga antisipasi pada
kejadian yang tidak diinginkan tidak dipersiapkan dengan baik.

9
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Heuristik adalah petunjuk praktis untuk mempermudah pengolahan informasi dalam


pengambilan keputusan. Heuristik mempercepat individu dalam pengambilan keputusan. Adanya
heuristik menyebabkan pengambilan keputusan yang kompleks menjadi lebih efisien. Heuristik
merupakan filter yang membantu kita untuk focus pada informasi yang penting dan mengabaikan
informasi-informasi yang tidak penting.

Heuristik keterwakilan merupakan penilaian subjektif terhadap objek berdasarkan


kemiripan onjek terhadap populasinya. Heuristik keterwakilan terjadi ketika seseorang membuat
berdasarkan pada aturan yang relative sederhana; semakin mirip seseorang dengan ciri-ciri khas
orang-orang dari suatu kelompok, semakin mungkin ia merupakan bagian dari kelompok
tersebut.

B. SARAN

Demikianlah makalah ini kami susun sedemikian rupa walaupun masih belum sempurna.
Jika ada yang kurang di dalam karya tulis ini, kami mohon masukan dari para pembaca agar
dalam pembuatan karya tulis selanjutnya bisa lebih baik lagi

10
DAFTAR PUSTAKA

Candra, Ratna. 2017. Akuntansi Keperilakuan-Teori dan Implikasi. Yogyakarta: Andi

http://www.makalahskripsi.com/2014/06/pembelajaran-heuristik-pengertian.html

https://id.scribd.com/doc/302154754/Heuristik-Keterwakilan-KOGNISI-SOSIAL-Bag-2-Nana

11
LAMPIRAN
Bagian-bagian anggota kelompok dalam pembuatan:
Alvira Angraini Gaghansa: Bab 2 bagian B dan power point
Arnoldy Maya: Bab 3
Gaby C. Ritongan: Bab 1
Jesika Ester: Cover, kata pengantar
Romian M. Pangaribuan: Bab 2 bagian A
Seni Kaoci: Daftar isi
Yuria Kaawoan: Daftar pustaka, Lampiran

12