Anda di halaman 1dari 14

SULTAN MUHAMMAD ALFATIH

Sultan Mehmed II atau juga dikenal sebagai Muhammad Al-Fatih (bahasa


Turki Ottoman: ‫ محمد ثانى‬Meḥmed-i sānī, bahasa Turki: II. Mehmet, juga
dikenal sebagai el-Fatih (‫)الفاتح‬, "sang Penakluk", dalam bahasa Turki Usmani,
atau, Fatih Sultan Mehmet dalam bahasa Turki; 30 Maret 1432 – 3 Mei 1481)
merupakan seorang sultan Turki Utsmani yang menaklukkan Kekaisaran
Romawi Timur. Mempunyai kepakaran dalam bidang ketentaraan, sains,
matematika dan menguasai 6 bahasa saat berumur 23 tahun. Dari sudut
pandang Islam, ia dikenal sebagai seorang pemimpin yang hebat, pilih tanding,
dan tawadhu' setelah Sultan Salahuddin Al-Ayyubi (pahlawan Islam dalam
perang Salib) dan Sultan Saifuddin Mahmud Al-Qutuz (pahlawan Islam dalam
peperangan di 'Ain Al-Jalut melawan tentara Mongol).
Kejayaannya dalam menaklukkan Konstantinopel menyebabkan banyak kawan
dan lawan kagum dengan kepemimpinannya serta taktik dan strategi
peperangannya yang dikatakan mendahului pada zamannya dan juga kaedah
pemilihan tentaranya. Ia merupakan anak didik Syekh Syamsuddin yang masih
merupakan keturunan Abu Bakar As-Siddiq.
Ia jugalah yang mengganti nama Konstantinopel menjadi Islambol (Islam
keseluruhannya). Kini nama tersebut telah diganti oleh Mustafa Kemal Ataturk
1
menjadi Istanbul. Untuk memperingati jasanya, Masjid Al Fatih telah dibangun
di sebelah makamnya.

Sultan Muhammad II dilahirkan di Edirin pada 30 Maret 1423 M yang


mana pada waktu itu Edirin adalah pusat kota pemerintahan Dinasty Turki
Utsmani. beliau adalah putra dari Sultan Murad II beliau hidup di masa
setelahnya Sultan Salahuddin Al-Ayyubi (pahlawan perang Salib) 1137 -1193 M.

Konstantinopel ( bahasa Yunani: Κωνσταντινούπολις Ko̱ nstantinoúpolis,


bahasa Latin: Constantinopolis, bahasa Turki Utsmaniyah : ‫قسطنطینیه‬, bahasa
Turki : Kostantiniyye atau İstanbul ) adalah ibu kota Kekaisaran Romawi,
Kekaisaran Romawi Timur, Kekaisaran Latin, dan Kesultanan Utsmaniyah.
Hampir selama Abad Pertengahan, konstantinopel merupakan kota terbesar
dan termakmur di Eropa.

Konstantinopel adalah salah kota terindah pada zamannya yang di ikuti


oleh kota Roma di posisi kedua, dan kota ini terletak di antara dua benua yaitu
benua asia dan eropa dan menjadi tempat teramai arus perdagangan dunia
Kota ini didirikan tahun 330 M oleh Maharaja Bizantium yakni Constantine I.
Kedudukannya yang strategis, membuatnya punya tempat istimewa ketika
umat Islam memulai pertumbuhan di masa Kekaisaran Bizantium. Rasulullah
Shallallahu 'Alaihi Wasallam juga telah beberapa kali memberikan kabar
gembira tentang penguasaan kota ini ke tangan umat Islam seperti dinyatakan
oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam pada perang Khandaq.

2
Para khalifah dan pemimpin Islam pun selalu berusaha menaklukkan
Konstantinopel. Usaha pertama dilancarkan tahun 44 H pada zaman
Mu'awiyah bin Abi Sufyan Radhiallahu 'Anhu. Akan tetapi, usaha itu gagal.
Upaya yang sama juga dilakukan pada zaman Khilafah Umayyah.

Di zaman pemerintahan Abbasiyyah, beberapa usaha diteruskan tetapi


masih menemui kegagalan termasuk pada zaman Khalifah Harun al-Rasyid
tahun 190 H. Setelah kejatuhan Baghdad tahun 656 H, usaha menawan
Konstantinopel diteruskan oleh kerajaan-kerajaan kecil di Asia Timur (Anatolia)
terutama Kerajaan Seljuk. Pemimpinnya, Alp Arselan (455-465 H/1063-1072
M) berhasil mengalahkan Kaisar Roma, Dimonos (Romanus IV/Armanus),
tahun 463 H/1070 M. Akibatnya sebagian besar wilayah Kekaisaran Roma di
taklukkan dibawah pengaruh Islam Seljuk.

Awal kurun ke-8 Hijriyah, Daulah Utsmaniyah mengadakan kesepakatan


bersama Seljuk. Kerjasama ini memberi napas baru kepada usaha umat Islam
untuk menguasai Konstantinopel. Usaha pertama dibuat pada zaman Sultan
Yildirim Bayazid saat dia mengepung kota itu tahun 796 H/1393 M. Peluang
yang ada telah digunakan oleh Sultan Bayazid untuk memaksa Kaisar Bizantium
menyerahkan Konstantinopel secara aman kepada umat Islam. Akan tetapi,
usahanya menemui kegagalan karena datangnya bantuan dari Eropa dan
serbuan bangsa Mongol di bawah pimpinan Timur Lenk.

Selepas Daulah Utsmaniyyah mencapai perkembangan yang lebih maju


dan terarah, semangat jihad hidup kembali dengan napas baru. Hasrat dan
kesungguhan itu telah mendorong Sultan Murad II (824-863 H/1421-1451 M)
untuk meneruskan usaha menaklukkan Konstantinopel. Beberapa usaha

3
berhasil dibuat untuk mengepung kota itu tetapi dalam masa yang sama terjadi
pengkhianatan di pihak umat Islam. Kaisar Bizantium menabur benih fitnah
dan mengucar-kacirkan barisan tentara Islam. Usaha Sultan Murad II tidak
berhasil sampai pada zaman anak beliau, Sultan Muhammad Al-Fatih (Mehmed
II), sultan ke-7 Daulah Utsmaniyyah.

Sultan Muhammad II diangkat menjadi Khalifah Utsmaniyah pada tanggal 5


Muharam 855 H bersamaan dengan 7 Febuari 1451 M. Program besar yang
langsung ia canangkan ketika menjabat sebagai khalifah adalah menaklukkan
Konstantinopel.

Langkah pertama yang Sultan Muhammad lakukan untuk mewujudkan cita-


citanya adalah melakukan kebijakan militer dan politik luar negeri yang
strategis. Ia memperbarui perjanjian dan kesepakatan yang telah terjalin
dengan negara-negara tetangga dan sekutu-sekutu militernya. Pengaturan
ulang perjanjian tersebut bertujuan menghilangkan pengaruh Kerajaan
Bizantium Romawi di wilayah-wilayah tetangga Utsmaniah baik secara politis
maupun militer.

Semenjak kecil, beliau telah mencermati usaha ayahnya untuk


menaklukkan Konstantinopel. Bahkan beliau telah mengkaji usaha yang pernah
dibuat sepanjang sejarah Islam untuk menaklukkan Konstantinopel, sehingga
menimbulkan keinginan yang kuat baginya meneruskan cita-cita umat Islam.
Ketika beliau naik tahta pada tahun 1451 M, dia telah mulai berpikir dan
menyusun strategi untuk menawan kota bandar (kota/kota pelabuhan)
tersebut. Kekuatan Sultan Muhammad Al-Fatih terletak pada ketinggian
pribadinya. Sejak kecil, dia di didik secara intensif oleh para ulama' terkemuka
di zamannya. Di zaman ayahnya, yaitu Sultan Murad II, Sultan Murad II telah
4
menghantar beberapa orang ulama' untuk mengajar anaknya (Sultan
Muhammad Al-Fatih), tetapi oleh Sultan Muhammad Al-Fatih menolaknya.
Lalu, dia menghantar Asy-Syeikh Al-Kurani dan memberikan kuasa kepadanya
untuk memukul Sultan Muhammad Al-Fatih jika beliau membantah perintah
gurunya.

Waktu bertemu Sultan Muhammad dan menjelaskan tentang hak yang


diberikan oleh Sultan Murad II (ayahnya) kepada Syeikh Muhammad bin Isma'il
Al-Kurani, Sultan Muhammad tertawa. Dia lalu dipukul oleh Asy-Syeikh Al-
Kurani. Peristiwa ini amat berkesan pada diri beliau lantas setelah itu dia terus
menghafal Al-Qur'an dalam waktu yang singkat. Di samping itu, Murabbi
Syeikh Ak Syamsuddin yang juga merupakan Murabbi dari Sultan Muhammad
Al-Fatih. Dia mengajar Sultan Muhammad ilmu-ilmu agama seperti Al-Qur'an,
hadits, fiqih, bahasa (Arab, Parsi dan Turki), matematika, falak, sejarah, ilmu
peperangan dan sebagainya.

Syeikh Ak Syamsuddin lantas meyakinkan Sultan Muhammad bahwa dia


adalah orang yang dimaksudkan oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam di
dalam hadits penaklukan Kostantinopel. Ketika naik takhta, Sultan Muhammad
segera menemui Syeikh Ak Syamsuddin untuk menyiapkan bala tentaranya
untuk penaklukan Konstantinopel. Peperangan itu memakan waktu selama 54
hari. Persiapan pun dilakukan. Sultan berhasil menghimpun kira kira sebanyak
250,000 tentara. Para tentara lantas diberikan latihan dengan cara sungguh-
sungguh dan selalu diingatkan akan pesan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi
Wasallam terkait pentingnya Konstantinopel bagi kejayaan Islam.

5
Setelah proses persiapan yang teliti, akhirnya pasukan Sultan
Muhammad Al-Fatih tiba di kota Konstantinopel pada hari Kamis 26 Rabiul
Awal 857 H atau 6 April 1453 M. Di hadapan tentaranya, Sultan Al-Fatih lebih
dahulu berkhutbah mengingatkan tentang kelebihan jihad, kepentingan
memuliakan niat dan harapan kemenangan di hadapan Allah Subhana Wa
Ta'ala. Dia juga membacakan ayat-ayat Al-Qur'an mengenainya serta hadis
Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam tentang pembukaan kota Konstantinopel. Ini
semua memberikan semangat yang tinggi pada bala tentara dan lantas mereka
menyambutnya dengan zikir, pujian dan doa kepada Allah Subhana Wa Ta'ala.

Sultan Muhammad II juga menyiapkan lebih dari 4 juta prajurit yang


akan mengepung Konstantinopel dari darat. Pada saat mengepung benteng
Bizantium banyak pasukan Utsmani yang gugur karena kuatnya pertahanan
benteng tersebut. Pengepungan yang berlangsung tidak kurang dari 50 hari itu,
benar-benar menguji kesabaran pasukan Utsmani, menguras tenaga, pikiran,
dan perbekalan mereka.

Pertahanan yang tangguh dari kerajaan besar Romawi ini terlihat sejak
mula. Sebelum musuh mencapai benteng mereka, Bizantium telah memagari
laut mereka dengan rantai yang membentang di semenanjung Tanduk Emas.
Tidak mungkin bisa menyentuh benteng Bizantium kecuali dengan melintasi
rantai tersebut.

Akhirnya Sultan Muhammad menemukan ide yang ia anggap merupakan


satu-satunya cara agar bisa melewati pagar tersebut. Ide ini mirip dengan yang
dilakukan oleh para pangeran Kiev yang menyerang Bizantium di abad ke-10,
para pangeran Kiev menarik kapalnya keluar Selat Bosporus, mengelilingi

6
Galata, dan meluncurkannya kembali di Tanduk Emas, akan tetapi pasukan
mereka tetap dikalahkan oleh orang-orang Bizantium Romawi. Sultan
Muhammad melakukannya dengan cara yang lebih cerdik lagi, ia
menggandeng 70 kapalnya melintasi Galata ke muara setelah meminyaki
batang-batang kayu. Hal itu dilakukan dalam waktu yang sangat singkat, tidak
sampai satu malam.

Di pagi hari, Bizantium kaget bukan kepalang, mereka sama sekali tidak
mengira Sultan Muhammad dan pasukannya menyeberangkan kapal-kapal
mereka lewat jalur darat. 70 kapal laut diseberangkan lewat jalur darat yang
masih ditumbuhi pohon-pohon besar, menebangi pohon-pohonnya dan
menyeberangkan kapal-kapal dalam waktu satu malam adalah suatu
kemustahilan menurut mereka, akan tetapi itulah yang terjadi.

Sultan Muhammad Al-Fatih pun melancarkan serangan besar-besaran ke


benteng Bizantium di sana. Takbir "Allahu Akbar, Allahu Akbar" terus
membahana di angkasa Konstantinopel seakan-akan meruntuhkan langit kota
itu. Pada akhir-akhir perang 27 Mei 1453 dua hari sebelum kemenangannya 29
Mei, Sultan Muhammad Al-Fatih bersama tentaranya berusaha keras
membersihkan diri di hadapan Allah Subhana Wa Ta'ala. Mereka
memperbanyak salat, doa, dan dzikir. Hingga tepat jam 1 pagi siang hari Selasa
20 Jumadil Awal 857 H atau bertepatan dengan tanggal 29 Mei 1453 M,
serangan utama dilancarkan. Para mujahidin diperintahkan supaya
meninggikan suara takbir kalimah tauhid sambil menyerang kota. Peperangan
dahsyat pun terjadi, benteng yang tak tersentuh sebagai simbol kekuatan
Bizantium itu akhirnya diserang oleh orang-orang yang tidak takut akan
kematian. Akhirnya kerajaan besar yang berumur 11 abad itu jatuh ke tangan
kaum muslimin. Peperangan besar itu mengakibatkan 265.000 pasukan umat
7
Islam gugur. Pada tanggal 20 Jumadil Awal 857 H bersamaan dengan 29 Mei
1453 M, Tentara Utsmaniyyah akhirnya berhasil menembus kota
Konstantinopel melalui Pintu Edirne dan mereka mengibarkan bendera Daulah
Utsmaniyyah di puncak kota. Kesungguhan dan semangat juang yang tinggi di
kalangan tentara Al-Fatih akhirnya berjaya mengantarkan cita-cita
mereka.Sejak saat itulah ia dikenal dengan nama Sultan Muhammad al-Fatih,
penakluk Konstantinopel.

Kehilangan Konstantinopel memberi tamparan hebat kepada kerajaan


Kristian barat. Seruan Paus untuk melancarkan perang balas sebagai Perang
Salib tidak hiraukan oleh raja-raja Eropa. Ini menyebabkan paus sendiri pergi
untuk berperang tetapi kematian awal paus melenyapkan harapan serangan
balas.

Muhammad al-Fatih mendapat sebuah kota yang agung walaupun dalam


keadaan perselisihan kerana perang yang berlanjutan. Konstantinopel
membolehkan bangsa Turki mengukuhkan kedudukan mereka di Eropa serta
meluaskan wilayah mereka ke Balkan dan Mediterranean.

Pada waktu itu beliau (Sultan Muhammad Al- Fatih) menukar nama
Konstantinopel menjadi Islambol (Islam keseluruhan). Kini nama tersebut telah
ditukar oleh Mustafa Kamal Ataturk (Pemimpin Revolusi Turky) menjadi
Istanbul. karena jasanya masjid Al-Fatih di dirikan di dekat makamnya.
kepribadian beliau sangat mencerminkan seorang pemimpin yang luar biasa
dari segi salehnya dan keilmuannya yang tinggi.

Di ceritakan pada suatu hari timbul persoalan, ketika pasukan islam


hendak melaksanakan shalat jum’at yang pertama kali di kota itu.“Siapakah
8
yang layak menjadi imam shalat jum’at?” tak ada jawaban. Tak ada yang
berani yang menawarkan diri, kemudian Muhammad Al Fatih tegak berdiri.
Beliau meminta kepada seluruh rakyatnya untuk bangun berdiri. Kemudian
beliau bertanya. “ Siapakah diantara kalian yang sejak remaja, sejak akhil
baligh hingga hari ini pernah meninggalkan shalat wajib lima waktu, silakan
duduk” tak seorangpun pasukan islam yang duduk. Semua tegak berdiri. Lalu
Sultan Muhammad Al Fatih kembali bertanya: “ Siapa diantara kalian yang
sejak baligh dahulu hingga hari ini pernah meninggalkan shalat sunah
rawatib? Kalau ada yang pernah meninggalkan shalat sunah sekali saja silakan
duduk”. Sebagian lainya segera duduk. Dengan mengedarkan pandangan
matanya ke seluruh rakyat dan pasukanya, Muhammad Al Fatih kembali
berseru lalu bertanya: “ Siapa diantara kalian yang sejak masa akhil baligh
sampai hari ini pernah meninggalkan shalat tahajjud di kesunyian malam?
Yang pernah meninggalkan atau kosong satu malam saja, silakan duduk”
Semua yang hadir dengan cepat duduk” Hanya ada seorang saja yang tetap
tegak berdiri. dialah, Sultan Muhammad Al Fatih.

Pada bulan Rabiul Awal tahun 886 H/1481 M, Sultan Muhammad al-
Fatih pergi dari Istanbul untuk berjihad, padahal ia sedang dalam kondisi tidak
sehat. Di tengah perjalanan sakit yang ia derita kian parah dan semakin berat ia
rasakan. Dokter pun didatangkan untuk mengobatinya, namun dokter dan obat
tidak lagi bermanfaat bagi sang Sultan, ia pun wafat di tengah pasukannya
pada hari Kamis, tanggal 4 Rabiul Awal 886 H/3 Mei 1481 M. Saat itu Sultan
Muhammad berusia 52 tahun dan memerintah selama 31 tahun. Ada yang
mengatakan wafatnya Sultan Muhammad al-Fatih karena diracuni oleh dokter
pribadinya Ya’qub Basya, Allahu a’lam.

9
Tidak ada keterangan yang bisa dijadikan sandaran kemana Sultan
Muhammad II hendak membawa pasukannya. Ada yang mengatakan beliau
hendak menuju Itali untuk menaklukkan Roma ada juga yang mengatakan
menuju Prancis atau Spanyol.

Sebelum wafat, Muhammad al-Fatih mewasiatkan kepada putra dan


penerus tahtanya, Sultan Bayazid II agar senantiasa dekat dengan para ulama,
berbuat adil, tidak tertipu dengan harta, dan benar-benar menjaga agama baik
untuk pribadi, masyarakat, dan kerajaan.

31 tahun menjadi sultan (855-886 H/1451-1481), adalah masa yang


cukup lama. Al-Fatih dikenal sebagai pemipin yang tercerahkan, strateginya
dikenal sebagai paling populer, membuat senjata baru pada masa itu bernama
meriam.

Setidaknya kepribadian sang sultan selama memimpin rakyatnya dan


membawa panji Islam tergambar dari wasiyat singkat tersusun rapi, dalam dan
penuh makna.

Semoga dengan wasiyat Al-Fatih ini menjadi pelajaran bagi kita terutama
para pemimpin dan wakil rakyat bahwa mereka harus mementingkan urusan
agama diatas urusan yang lain.

Belajar dari wasiatnya, para pemimpin Muslim saat ini harus banyak
belajar darinya. Berikut ini adalah wasiat Muhammad Al-Fatih kepada putranya
saat ia menghadapi kematiannya; sebuah wasiat yang mengungkapkan
bagaimana prinsipnya menjalani kehidupan, nialai-nilai dan keyakinan yang ia
yakini dan ia harap dapat dijalankan oleh khalifah sesudahnya:

10
  “Tidak lama lagi aku akan mati. Tetapi aku tidak pernah menyesal karena
telah meninggalkan calon penerus sepetimu. Jadilah orang yang adil, shaleh
dan penyayang.

Lindungilah seluruh rakyatmu tanpa membeda-bedakan, dan bekerjalah untuk


menyebar agama Islam.

Karena ini adalah kewajiban semua raja di atas muka bumi . dahulukan
perhatianmu kepada agama atas urusan yang apa pun.

Jangan berhenti untuk terus melakoninya. Jangan memilih orang yang tidak
memperhatikan urusan agama… tidak menjauhi dosa-dosa besar dan
tenggelam dalam ma’syiat, ajuhilah bid’ah yang merusak.

Jauhi orang yang mengajakmu melakukan bid’ah itu. Perluaslah negerimu


dengan berjihad, dan jagalah jangan sampai harta Baitul Mal itu agar tidak
dihambur-hamburkan.

Jangan mengambil harta seorang pun dari rakyatmu kecuali dengan aturan
Islam. Berikan jaminan makanan bagi orang-orang lemah. Muliakanlah sebaik-
baiknya orang-orang yang berhak.

Ketahuilah bahwa para ulama itu seperti kekuatan yang tersebar dalam tubuh
negaramu. Maka muliakanlah kehormatan mereka dan motivasilah mereka
(dengan yang kau miliki).

Jika engkau mendengar seorang ulama di negeri yang jauh, maka undanglah
ia datang dan muliakanlah ia.

Wasapada dan hati-hatilah, jangan sampai engkau terlena dengan harta dan
pasukan yang banyak.

Jangan sampai engkau menjauhi ulama syari’at.

11
Jangan sampai engkau cenderung melakukan amalan yang menyelisihi
syari’at.

Agama adalah tujuan kita, hidayah adalah jalan hidup kita, dan dengan itulah
kita akan menang.

Ambillah pelajaran ini dariku.

Aku datang ke negeri ini seperti seekor semut kecil. Lalu Allah memberiku
semua nikmat yang besar ini.

Karenanya ikutilah jalan dan jejakku. Bekerjalah untuk meneguhkan agama ini
dan muliakanlah para pengikutnya. Jangan menggunakan uang negara untuk
kemewahan dan kesia-siaan atau menggunakan lebih dari yang seharusnya,
karena itu adalah penyebab terbesar kebinasaan”

Setelah Muhammad Al-Fatih wafat, tercatat ada lima khalifah yang


melanjutkan kepemimpinannya. Satu dari lima itu adalah Sultan Sulaiman I
orang barat memberinya gelar “Solomon the Great”.

Kabar wafatnya Sultan Muhammad al Fatih kemudian tersebar. Duta


besar negara eropa pertama yang mengetahui kabar ini berasal dari Venesia,
Nicollo Cocco. Kemudian dia mengirim kabar kepada Diego Giovanni
Mocenigo, Doge (istilah untuk pemimpin) Venesia,  yang tiba tanggal tanggal
29 Mei 1488. Saat akan mengantarkan surat itu, sang kapten bersorak di
hadapan Doge, “La grande aquila e’morta!” (elang yang perkasa itu sudah
mati). Setelah membaca kabar lengkapnya dari surat yang dikirim Cocco, Doge
langsung memerintahkan untuk membunyikan lonceng Marangona, lonceng
besar yang ada puncak menara San Marco. Lonceng spesial itu hanya
dibunyikan ketika ada momen-momen spesial, seperti matinya seorang doge,
menangnya armada Venesia melawan musuh, dll. Dan wafatnya Sultan

12
Muhammad al Fatih dijadikan sebagai salah satu momen khusus yang layak
diapresiasi dengan membunyikan Marangona. Tak lama kemudian seluruh
lonceng gereja berdentang bersama Marangona untuk memperingati wafatnya
sang Grande Turco (orang Turki yang agung).

Berita wafatnya Sultan Muhammad al Fatih pun sampai juga ke telinga


Paus Sixtus. Dia segera kembali ke Roma dan menembakkan meriam dari
Castel Sant’Angelo, sebuah benteng besar di Tiberius di dekat Basilika Santo
Petrus dan Vatikan. Seluruh lonceng dibunyikan dan Paus memimpin prosesi
panjang yang melibat seluruh kolose kardinal dan seluruh duta besar dari
Basilika Santo Petrus menuju gereja Santa Maria del Popoli. Perayaan meriah
digelar selama tiga hari. Ketika berita itu sampai di belahan Eropa yang lain,
perayaan-perayaan itu diulangi lagi di sana. Eropa gemetar dan tenggelam
dalam euforia, ketika mendengar kabar bahwa Sultan Muhammad al Fatih
wafat.

Dihari itulah, Eropa beserta sekutunya juga katholik beserta para


pasukannya berpesta pora semalaman suntuk untuk merayakan kematian
seorang yang benar-benar menjadi mimpi buruk mereka yaitu Muhammad Al-
Fatih. Bagaimana tidak? Al-Fatih lah yang mengubur dalam-dalam mimpi Eropa
untuk menguasai Barat ketika itu guna menyebarkan agamanya ditanah biru
itu. Terlebih ketika pasukan Utsmani yang disebut dengan Yeniseri yang
dipimpin langsung oleh sang Sultan berhasil menaklukan Konstatinopel.
Bahkan bukan hanya itu, pasukannya terus bergeliriya didaratan Eropa
sehingga sampai hari wafatnya, sang Sultan telah meng-Islamkan lebih dari
setengah daratan Eropa.

13
Selain dikenal sebagai pemimpin perang yang handal juga garang didepan para
musuh. Sultan Mehmet II juga dikenal oleh sejarah sebagai pemimpin yang
sholeh dan taat beragama. Bayangkan sejak masa balighnya sang sultan sama
sekali tidak pernah meninggalkan sholat malam. Dan selalu mengikuti takbir
Imam yang pertama ketika sholat berjamaah yang fardhu. Maklum saja, sejak
kecil sang sultan memang dipersiapkan oleh sang ayah Sultan Murod II untuk
menjadi pemimpin Ustmani. Dengan itu pendidikan yang diberiakan pun tidak
sembarangan. Sheikh Aaq Syamsuddin lah yang menjadi mentor spritual sang
sultan sejak kecil, beliaulah dengan izin Allah membuat kepribadian apik sang
sultan sehingga tumbuh besar menjadi pemimpin sholeh.

Bukan hanya itu, sang sultanpun membuat qualifikasi ketat bagi siapa
yang ingin menjadi anggota pasukan Yeniseri. Disebutkan bahwa syarat utama
ialah mahir membaca Al-Quran dan juga tidak pernah meninggalkan sholat
fardhu sejak umur baligh. Bayangkam seperti apa pasukan Yeniseri ini?

Selain dikenal sebagai pemimpin handal nan sholeh, sejarah juga


mencatat bahwa sang sultan adalah pemimpin yang berwawasan luas. Terbukti
selama hidupnya, beliau menguasai 7 bahasa dunia yang berbeda-beda secara
fasih. Beliau juga mengusai beberapa bidang ilmu, salah satu yang ia gemari
ialah philosofi dan science.

14