Anda di halaman 1dari 18

A.

Pengertian Kepribadian

Kepribadian adalah dinamika organisasi psikofisik fungsional manusia yang menjelma dalam pola-
pola tingkah laku spesifik dalam menghadapi medan hidupnya.Jadi manifestasi kepribadian adalah
seluruh tingkah laku masusia itu sendiri.Setiap orang (individu) mempunyi keunikan fungsional
sistem organisasi psikofisisnya dalam lingkungan hidup, dalam arti berinteraksi dengan dan dalam
lingkungannya, maka tiap individu mempunyai kepribadian sendiri-sendiri dalam menyesuaikan diri,
mengatasi, mengubah, ataupun menyerah dalam lingkungan tadi.

Faktor-faktor pendukung terbentuknya kepribadian dan watak ialah unsur-unsur badan dan jiwa
manusia dan lingkungan,yang kedua ini bisa di sebut sebagai faktor endogen dan eksogen. Faktor
endogen dan eksogen menjadi determinan kepribadian manusia, karena pertumbuhan dan
perkembangan manusia, berarti perkembangan kepribadian dan wataknya ditentukan dan
dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan kedua fakor tersebut

1. Kepribadian secara umum

Personality atau kepribadian berasal dari kata persona, kata persona merujuk pada topeng atau
kedok, yaitu tutup muka yang sering dipakai oleh pemain-pemain panggung, yang maksudnya
untuk menggambarkan perilaku, watak, atau pribadi seseorang. yang biasa digunakan para
pemain sandiwara di Zaman Romawi. Bagi bangsa Roma, “persona” berarti bagaimana
seseorang tampak pada orang lain.

Secara umum kepribadian menunjuk pada bagaimana individu tampil dan menimbulkan kesan
bagi individu-individu lainnya. Pada dasarnya definisi dari kepribadian secara umum ini adalah
lemah karena hanya menilai perilaku yang dapat diamati saja dan tidak mengabaikan
kemungkinan bahwa ciri-ciri ini bisa berubah tergantung pada situasi sekitarnya selain itu
definisi ini disebut lemah karena sifatnya yang bersifat evaluatif (menilai), bagaimanapun pada
dasarnya kepribadian itu tidak dapat dinilai “baik” atau “buruk” karena bersifat netral.

Menurut Agus Sujanto dkk (2004), menyatakan bahwa kepribadian adalah suatu totalitas
psikofisis yang kompleks dari individu, sehingga nampak dalam tingkah lakunya yang unik.)

Sedangkan personality menurut Kartini Kartono dan Dali Gulo dalam Sjarkawim (2006) adalah
sifat dan tingkah laku khas seseorang yang membedakannya dengan orang lain; integrasi
karakteristik dari struktur-struktur, pola tingkah laku, minat, pendiriran, kemampuan dan
potensi yang dimiliki seseorang; segala sesuatu mengenai diri seseorang sebagaimana diketahui
oleh orang lain.

Allport juga mendefinisikan personality sebagai susunan sistem-sistem psikofisik yang dinamis
dalam diri individu, yang menentukan penyesuaian yang unik terhadap lingkungan. Sistem
psikofisik yang dimaksud Allport meliputi kebiasaan, sikap, nilai, keyakinan, keadaan emosional,
perasaan dan motif yang bersifat psikologis tetapi mempunyai dasar fisik dalam kelenjar, saraf,
dan keadaan fisik anak secara umum.

2. Kepribadian menurut Psikologi

Untuk menjelaskan kepribadian menurut psikologi saya akan menggunakan teori dari George
Kelly yang memandang bahwa kepribadian sebagai cara yang unik dari individu dalam
mengartikan pengalaman-pengalaman hidupnya. Sementara Gordon Allport merumuskan
kepribadian sebagai “sesuatu” yang terdapat dalam diri individu yang membimbing dan
memberi arah kepada seluruh tingkah laku individu yang bersangkutan.

Lebih detail tentang definisi kepribadian menurut Allport yaitu kepribadian adalah suatu
organisasi yang dinamis dari sistem psikofisik individu yang menentukan tingkah laku dan pikiran
individu secara khas.

Allport menggunakan istilah sistem psikofisik dengan maksud menunjukkan bahwa jiwa dan raga
manusia adalah suatu sistem yang terpadu dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain, serta
diantara keduanya selalu terjadi interaksi dalam mengarahkan tingkah laku. Sedangkan istilah
khas dalam batasan kepribadian Allport itu memiliki arti bahwa setiap individu memiliki
kepribadiannya sendiri. Tidak ada dua orang yang berkepribadian sama, karena itu tidak ada dua
orang yang berperilaku sama.

Sigmund Freud memandang kepribadian sebagai suatu struktur yang terdiri dari tiga sistem
yaitu Id, Ego dan Superego. Dan tingkah laku, menurut Freud, tidak lain merupakan hasil dari
konflik dan rekonsiliasi ketiga sistem kerpibadian tersebut.

B. Tipe-tipe Kepribadian

Masing-masing manusia memiliki tipe kepribadian yang berbeda-beda. Ada yang berkarakter
lembut,ramah, periang, dan ada pula yang berbanding terbalik dengan karakter itu seperti
berkarakter keras kepala, pemalu dan lain sebagainya. Ada banyak tipe kepribadian, seperti
diungkapkan oleh parah ahli, diantaranya adalah Hiprocates dan Gelanus, C.G. Jung, Gerart
Heymans, dan Eduard Spranger. Masing masing ahli ini memandang dan memberikan pendapat
tentang tipe kepribadian dari sudut pandang yang berbeda.

1. Tipe-Tipe Kepribadian Menurut Hiprocates dan Gelanus

Hiprocates dan Gelanus membagi tipe-tipe kepribadian menjadi empat bagian, yaitu:

a. Sanguinis

Tipe kepribadian sanguinis ditandai dengan sifat hangat, lincah, bersemangat, meluap-luap, dan
pribadi yang menyenangkan. Pengaruh/kejadian luar dengan gampang masuk ke pikiran dan
perasaan yang meledak-ledak. Orang sanguinis sangat ramah kepada orang lain, sehingga dia
biasanya dianggap seorang yang sangat eksrovert.

Kekuatan:

• Suka bicara

• Secara fisik memegang pendengar, emosional dan demonstratif

• Antusias dan ekspresif

• Ceria dan penuh rasa ingin tahu


• Hidup di masa sekarang

• Mudah berubah (banyak kegiatan / keinginan)

• Berhati tulus dan kekanak-kanakan

• Senang kumpul dan berkumpul (untuk bertemu dan bicara)

• Umumnya hebat di permukaan

• Mudah berteman dan menyukai orang lain

• Senang dengan pujian dan ingin menjadi perhatian

• Menyenangkan dan dicemburui orang lain

• Mudah memaafkan (dan tidak menyimpan dendam)

• Mengambil inisiatif/ menghindar dari hal-hal atau keadaan yang membosankan

• Menyukai hal-hal yang spontan

Kelemahan:

• Suara dan tertawa yang keras (terlalu keras)

• Membesar-besarkan suatu hal / kejadian

• Susah untuk diam

• Mudah ikut-ikutan atau dikendalikan oleh keadaan atau orang lain (suka nge-Gank)

• Sering minta persetujuan, termasuk hal-hal yang sepele

• RKP (Rentang Konsentrasi Pendek)

• Dalam bekerja lebih suka bicara dan melupakan kewajiban (awalnya saja antusias)

• Mudah berubah-ubah

• Susah datang tepat waktu jam kantor

• Prioritas kegiatan kacau

• Mendominasi percakapan, suka menyela dan susah mendengarkan dengan tuntas

• Sering mengambil permasalahan orang lain, menjadi seolah-olah masalahnya

• Egoistis

• Sering berdalih dan mengulangi cerita-cerita yg sama

• Konsentrasi ke “How to spend money” daripada “How to earn/save money”.


b. Koleris

Tipe kepribadian koleris tampil hangat, serba cepat, aktif, pasif, berkemauan keras, dan sangat
independen. Dia cenderung tegas dan berpendirian keras, dengan gampang dapat membuat
keputusan bagi dirinya dan bagi orang lain. dia tidak butuh digerakan dari luar, malah
mempengaruhi lingkungannya dengan gagasan-gagasannya, rencana, tujuan, dan ambisinya
yang tak pernah surut.

Kekuatan:

• Senang memimpin, membuat keputusan, dinamis dan aktif

• Sangat memerlukan perubahan dan harus mengoreksi kesalahan

• Berkemauan keras dan pasti untuk mencapai sasaran/ target

• Bebas dan mandiri

• Berani menghadapi tantangan dan masalah

• “Hari ini harus lebih baik dari kemarin, hari esok harus lebih baik dari hari ini”

• Mencari pemecahan praktis dan bergerak cepat

• Mendelegasikan pekerjaan dan Orientasi berfokus pada produktivitas

• Membuat dan menentukan tujuan

• Terdorong oleh tantangan dan tantangan

• Tidak begitu perlu teman

• Mau memimpin dan mengorganisasi

• Biasanya benar dan punya visi ke depan

• Unggul dalam keadaan darurat

Kelemahan:

• Tidak sabar dan cepat marah (kasar dan tidak taktis)

• Senang memerintah

• Terlalu bergairah dan tidak/susah untuk santai

• Menyukai kontroversi dan pertengkaran

• Terlalu kaku dan kuat/ keras

• Tidak menyukai air mata dan emosi tidak simpatik

• Tidak suka yang sepele dan bertele-tele / terlalu rinci

• Sering membuat keputusan tergesa-gesa


• Memanipulasi dan menuntut orang lain, cenderung memperalat orang lain

• Menghalalkan segala cara demi tercapainya tujuan

• Workaholics (kerja adalah “tuhan”-nya)

• Amat sulit mengaku salah dan meminta maaf

• Mungkin selalu benar tetapi tidak populer

c. Melankolis

Tipe kepribadian melankolis adalah suka berkorban, analisis, betipe perfektionis dengan sifat
emosi yang sangat sensitif. Tidak seorang pun yang dapat menikmati keindahan karya seni
melebihi seorang melankolis. Apabila sedang bergembira maka sifatnya lebih ekstrovert.
Namun, apabila sedang murung, maka ia bisa menjadi seorang yang begitu antagonis.

Kekuatan:

• Analitis, mendalam, dan penuh pikiran

• Serius dan bertujuan, serta berorientasi jadwal

• Artistik, musikal dan kreatif (filsafat & puitis)

• Sensitif

• Mau mengorbankan diri dan idealis

• Standar tinggi dan perfeksionis

• Senang perincian/memerinci, tekun, serba tertib dan teratur (rapi)

• Hemat

• Melihat masalah dan mencari solusi pemecahan kreatif (sering terlalu kreatif)

• Kalau sudah mulai, dituntaskan.

• Berteman dengan hati-hati.

• Puas di belakang layar, menghindari perhatian.

• Mau mendengar keluhan, setia dan mengabdi

• Sangat memperhatikan orang lain

Kelemahan:

• Cenderung melihat masalah dari sisi negatif (murung dan tertekan)

• Mengingat yang negatif & pendendam

• Mudah merasa bersalah dan memiliki citra diri rendah

• Lebih menekankan pada cara daripada tercapainya tujuan


• Tertekan pada situasi yg tidak sempurna dan berubah-ubah

• Melewatkan banyak waktu untuk menganalisa dan merencanakan

• Standar yang terlalu tinggi sehingga sulit disenangkan

• Hidup berdasarkan definisi

• Sulit bersosialisasi

• Tukang kritik, tetapi sensitif terhadap kritik/ yg menentang dirinya

• Sulit mengungkapkan perasaan (cenderung menahan kasih sayang)

• Rasa curiga yg besar (skeptis terhadap pujian)

• Memerlukan persetujuan

d. Phlegmatis

Seseorang yang memiliki tipe kepribadian phlegmatis adalah seorang yang hidupnya tenang,
gampangan, tak pernah merasa terganggu sehingga dia hampir tak pernah marah. Dia adalah
seorang dengan tipe yang mudah bergaul , dan paling menyenangkan diantara semua
temperamen. Baginya hidup adalah suatu kegembiraan, dan kadang menjauh dari hal-hal yang
tidak menyenangkan. Dia begitu tenang dan agak diam, sehingga tak pernah kelihatan terhasut,
bagaimanapun keadaan sekitarnya.

Kekuatan:

• Mudah bergaul, santai, tenang dan teguh

• Sabar, seimbang, dan pendengar yang baik

• Tidak banyak bicara, tetapi cenderung bijaksana

• Simpatik dan baik hati (sering menyembunyikan emosi)

• Kuat di bidang administrasi, dan cenderung ingin segalanya terorganisasi

• Penengah masalah yg baik

• Cenderung berusaha menemukan cara termudah

• Baik di bawah tekanan

• Menyenangkan dan tidak suka menyinggung perasaan

• Rasa humor yg tajam

• Senang melihat dan mengawasi

• Berbelaskasihan dan peduli

• Mudah diajak rukun dan damai


Kelemahan:

• Kurang antusias, terutama terhadap perubahan/ kegiatan baru

• Takut dan khawatir

• Menghindari konflik dan tanggung jawab

• Keras kepala, sulit kompromi (karena merasa benar)

• Terlalu pemalu dan pendiam

• Humor kering dan mengejek (Sarkatis)

• Kurang berorientasi pada tujuan

• Sulit bergerak dan kurang memotivasi diri

• Lebih suka sebagai penonton daripada terlibat

• Tidak senang didesak-desak

• Menunda-nunda / menggantungkan masalah.

2. Tipe-Tipe Kepribadian Menurut C.G. Jung

C.G Jung membagi kepribadian ke dalam dua tipe, yaitu:

a. Ekstrovert

Orang yang memiliki Kepribadian Ekstrovert adalah orang yang perhatiannya diarahkan ke luar
dari dirinya. Ciri ciri atau sifat yang dimiliki oleh orang ekstrovert adalah ia lancar dalam
berbicara, mudah bergaul, tidak malau mudah menyesuaikan diri, ramah dan suka berteman.

b. Introvert

Orang yang memiliki kepribadiannya Introvert merupakan kebalikan dari kepribadian ekstrovert.
Perhatiannya lebih mengarah pada dirinya. Sifat yang dimiliki oleh orang yang berkpribasian
seperti ini adalah cendrung diliputi kekhawatiran, mudah malu dan canggung, lebih senang
bekerja sendiri, sulit menyesuiakan diri dan jiwanya agak tertutup.

3. Tipe-Tipe Kepribadian Menurut Gerart Haymens

Gerart Haymens menggolongkan kepribadian ke dalam tujuh tipe yaitu:

a. Gapasioneerden

Ciri orang yang memiliki kepribadian seperti ini akan terlihat sifat antara lain selalu bersikap
keras, ambisius, egois, dan emosional. Selain itu sifat yang terlihat dari orang yang mempunyai
kepribadian ini antara lain memiliki rasa kekeluargaan yang baik, dan suka menolong yang
lemah.
b. Cholerici

Sifat yang terlihat dari orang yang memiliki kepribadian seperti ini antara lain orangnya agresif,
giat bekerja, pemberani, optimistis, dan suka pada hal hal yang bersifat nyata. Selain itu ciri
lainnya adalah bahwa orang ini mempunyai sifat boros dan suka bertindak ceroboh.

c. Sentimentil

Ciri-cirinya adalah emosional, pintar berbicara, senang dengan kehidupan alam, dan tidak suka
keramaian.

d. Nerveuzen

Sifat yang terlihat dari kepribadian semacam ini adalah mudah naik darah, suka memprotes,
tidak mau berfikir panjang, dan tidak pendendam.

e. Flegmaciti

Sifat yang terlihat pada orang yang memiliki kepribadian ini adalah antara lain selalu bersikap
tenang dan sabar, tekun bekerja, memiliki pemikiran yang luas, rajin dan cekatan.

f. Sanguinici

Orang yang memiliki kepribadian sanginici memiliki sifat seperti anak-anak. Sifat yang terlihat
antara lain sukar atau plinlan dalam mengambil keputusan, ragu ragu dalam bertindak dan suka
menyendiri.

g. Amorfem

Sifat yang terlihat dari tipe kepribadian ini adalah intelektualnya kurang, picik, tidak praktis,
tidak punya jati diri dan terombang ambing.

4. Tipe-Tipe Kepribadian Menurut Eduard Spranger

Eduard menggolongkan tipe-tipe kepribadian seseorang berdasarkan sikap manusia yang hidup di
dalam masyarakat. Tipe-tipe kepribadian tersebut antara lain :

a. Manusia Politik

Seseorang yang memiliki kepribadian seperti ini cendrung mempunyai sifat ingin menguasai
orang lain, dan setiap langkanya selalu berbau hal politik.

b. Manusia Ekonomi

Orang yang memiliki tipe kepribadian seperti ini segala sesuatunya dipertimbangkan dengan
hitung-hitungan bisnis. Kalau kita ingin mengetahui orang orang bertipe kepribaidan ekonomi
kita bisa melihat pada ras china yang hidup di negara kita ini. Kebanyakan para etnik china ini
selalu mencari hal hal baik dan berpotensi bisnis.
c. Manusia Sosial

Orang yang memiliki kepribadian ini biasanya mudah dan suka bergaul (supel), suka menolong,
dan rela berkorban untuk orang lain.

d. Manusia Seni

Orang yang memiliki kepribadian seni adalah orang yang jiwanya dipengaruhi oleh nilai-nilai
keindahan. Untuk melihat orang yang memiliki kepribadian seni bagi kita tidak sulit. Kita bisa
melihat para musisi, penyanyi, pelukis dan lain sebagainya, atau kita bisa melihat orang orang
yang dalam kesehariannya menghabiskan waktunya untuk keindahan.

e. Manusia Agama

Orang yang memiliki kepribadian agama, yang terpenting bagi mereka adalah menghambakan
diri dan menghabiskan hidupnya demi Tuhan Yang Maha Kuasa. Orang yang memiliki
kepribadian seperti ini antara lain para ulama, pastur, pendeta dan pemuka atau tokoh tokoh
agama lainnya.

f. Manusia Teori

Ciri-ciri dari orang yang memili kepribadian teori antara lain ia adalah seorang pemikir, suka
membaca, dan mengabdi pada ilmu.

C. Konsep berhubungan dengan Kepribadian

Ada beberapa konsep yang berhubungan erat dengan kepribadian bahkan kadang-kadang
disamakan dengan kepribadian. Konsep-konse yang berhubungan dengan kepribadian adalah
(Alwisol, 2005 : 8-9) :1

1. Character (karakter), yaitu penggambaran tingkah laku dengan menonjolkan nilai (banar-salah,
baik-buruk) baik secara eksplisit maupun implisit.
2. Temperament (temperamen), yaitu kepribadian yang berkaitan erat dengan determinan biologis
atau fisiologis.
3. Traits (sifat-sifat), yaitu respon yang senada atau sama terhadap sekolopok stimuli yang mirip,
berlangsung dalam kurun waktu (relatif) lama.
4. Type attribute (ciri), mirip dengan sifat, namun dalam kelompok stimuli yang lebih terbatas.
5. Habit (kebiasaan), merupakan respon yang sama dan cenderung berulang untuk stimulus yang
sama pula

D. Fungsi Teori Kepribadian

Sama seperti teori ilmiah pada umumnya yang memiliki fungsi deskriptifdan prediktif, begitu juga teori
kepribdian. Berikut penjelaskan fungsi deskriptif dan prediktif dari teori kepribadian.

1. Fungsi Deskriptif : Fungsi deskriptif (menjelaskan atau menggambarkan) merupakanfungsi teori


kepribadian dalam menjelaskan atau menggambarkan perilaku atau kepribadian manusia secara
rinci, lengkap, dansistematis. Pertanyaan-pertanyaan apa, mengapa, dan bagaimanaseputar
perilaku manusia dijawab melalui fungsi deskriptif.

2. Fungsi Prediktif : Teori kepribadian selain harus bisa menjelaskan tentang apa,mengapa, dan
bagaimana tingkah laku manusia sekarang, juga harusbisa memperkirakan apa, mengapa, dan
bagaimana tingkah lakumanusia di kemudian hari. Dengan demikian teori kepribadian
harusmemiliki fungsi prediktif.

E. Dimensi Teori Kepribadian

Setiap teori kepribadian diharapkan mampu memberikan jawab ataspertanyaan sekitar apa,
mengapa, dan bagaimana tentang perilaku manusia. Untuk itu setiap teori kepribadian yang
lengkap, menurut Pervin (Supratiknya, 1995 : 5-6), biasanya memiliki dimensi-dimensi sebagai
berikut :

1. Pembahasan tentang struktur, yaitu aspek-aspek kepribadian yang bersifat relatif stabil dan
menetap, serta yang merupakan unsur-unsur pembentuk sosok kepribadian.
2. Pembahasan tentang proses, yaitu konsep-konsep tentang motivasi untuk menjelaskan
dinamika tingkah laku atau kepribadian.
3. Pembahasan tentang pertumbuhan dan perkembangan, yaitu aneka perubahan pada struktur
sejak masa bayi sampai mencapai kemasakan, perubahan-perubahan pada proses yang
menyertainya, serta berbagai faktor yang menentukannya.
4. Pembahasan tentang psikopatologi, yaitu hakikat gangguan kepribadian atau tingkah laku
beserta asal-usul atau proses perkembangannya.
5. Pembahasan tentang perubahan tingkah laku, yaitu konsepsi tentang bagaimana tingkah laku
bisa dimodifikasi atau diubah.

F. Perkembangan Kepribadian

1. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan kepribadian

Perkembangan kepribadian individu menurut Freud, dipengauhioleh kematangan dan cara-cara


individu mengatasi ketegangan. Menurut Freud, kematangan adalah pengaruh asli dari dalam diri
manusia. Ketegangan dapat timbul karena adanya frustrasi, konflik, dan ancaman. Upaya mengatasi
ketegangan ini dilakukan individu dengan : identifikasi, sublimasi, dan mekanisme pertahanan ego.

2. Tahap-tahap perkembangan kepribadian

Menurut Freud, kepribadian individu telah terbentuk pada akhirtahun ke lima, dan perkembangan
selanjutnya sebagian besar hanya merupakan penghalusan struktur dasar itu. Selanjutnya Freud
menyatakan bahwa perkembangan kepribadian berlangsung melalui 6 fase, yang berhubungan
dengan kepekaan pada daerah-daerah erogen atau bagian tubuh tertentu yang sensitif terhadap
rangsangan. Ke enam fase perkembangan kepribadian adalah sebagai berikut (Sumadi Suryabrata,
2005 : 172-173).
a. Fase oral (oral stage): 0 sampai kira-kira 18 bulan. Bagian tubuh yang sensitif terhadap
rangsangan adalah mulut.
b. Fase anal (anal stage) : kira-kira usia 18 bulan sampai 3 tahun. Pada fase ini bagian tubuh yang
sensitif adalah anus.
c. Fase falis (phallic stage) : kira-kira usia 3 sampai 6 tahun. Bagian tubuh yang sensitif pada fase
falis adalah alat kelamin.
d. Fase laten (latency stage) : kira-kira usia 6 sampai pubertas. Pada fase ini dorongan seks
cenderung bersifat laten atau tertekan.
e. Fase genital (genital stage) : terjadi sejak individu, memasuki pubertas dan selanjutnya. Pada
masa ini individu telah mengalami kematangan pada organ reproduksi.

G. Ciri-Ciri Kepribadian

Hingga saat ini, para ahli tampaknya masih sangat beragam dalam memberikan rumusan tentang
kepribadian. Dalam suatu penelitian kepustakaan yang dilakukan oleh Gordon W. Allport (Calvin S.
Hall dan Gardner Lindzey, 2005) menemukan hampir 50 definisi tentang kepribadian yang berbeda-
beda. Berangkat dari studi yang dilakukannya, akhirnya dia menemukan satu rumusan tentang
kepribadian yang dianggap lebih lengkap. Menurut pendapat dia bahwa kepribadian adalah
organisasi dinamis dalam diri individu sebagai sistem psiko-fisik yang menentukan caranya yang unik
dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungannya. Kata kunci dari pengertian kepribadian adalah
penyesuaian diri. Scheneider (1964) mengartikan penyesuaian diri sebagai “suatu proses respons
individu baik yang bersifat behavioral maupun mental dalam upaya mengatasi kebutuhan-
kebutuhan dari dalam diri, ketegangan emosional, frustrasi dan konflik, serta memelihara
keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan tersebut dengan tuntutan (norma) lingkungan.

Sedangkan yang dimaksud dengan unik bahwa kualitas perilaku itu khas sehingga dapat dibedakan
antara individu satu dengan individu lainnya. Keunikannya itu didukung oleh keadaan struktur psiko-
fisiknya, misalnya konstitusi dan kondisi fisik, tampang, hormon, segi kognitif dan afektifnya yang
saling berhubungan dan berpengaruh, sehingga menentukan kualitas tindakan atau perilaku individu
yang bersangkutan dalam berinteraksi dengan lingkungannya.

Untuk menjelaskan tentang kepribadian individu, terdapat beberapa teori kepribadian yang sudah
banyak dikenal, diantaranya : teori Psikoanalisa dari Sigmund Freud, teori Analitik dari Carl Gustav
Jung, teori Sosial Psikologis dari Adler, Fromm, Horney dan Sullivan, teori Personologi dari Murray,
teori Medan dari Kurt Lewin, teori Psikologi Individual dari Allport, teori Stimulus-Respons dari
Throndike, Hull, Watson, teori The Self dari Carl Rogers dan sebagainya. Sementara itu, Abin
Syamsuddin (2003) mengemukakan tentang aspek-aspek kepribadian, yang di dalamnya mencakup :

1. Karakter; yaitu konsekuen tidaknya dalam mematuhi etika perilaku, konsiten tidaknya dalam
memegang pendirian atau pendapat.
2. Temperamen; yaitu disposisi reaktif seorang, atau cepat lambatnya mereaksi terhadap
rangsangan-rangsangan yang datang dari lingkungan.
3. Sikap; sambutan terhadap objek yang bersifat positif, negatif atau ambivalen
4. Stabilitas emosi; yaitu kadar kestabilan reaksi emosional terhadap rangsangan dari lingkungan.
Seperti mudah tidaknya tersinggung, marah, sedih, atau putus asa
5. Responsibilitas (tanggung jawab), kesiapan untuk menerima resiko dari tindakan atau perbuatan
yang dilakukan. Seperti mau menerima resiko secara wajar, cuci tangan, atau melarikan diri dari
resiko yang dihadapi.
6. Sosiabilitas; yaitu disposisi pribadi yang berkaitan dengan hubungan interpersonal. Seperti : sifat
pribadi yang terbuka atau tertutup dan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain.

Setiap individu memiliki ciri-ciri kepribadian tersendiri, mulai dari yang menunjukkan kepribadian
yang sehat atau justru yang tidak sehat. Dalam hal ini, Elizabeth (Syamsu Yusuf, 2003)
mengemukakan ciri-ciri kepribadian yang sehat dan tidak sehat, sebagai berikut :

1. Mampu menilai diri sendiri secara realisitik; mampu menilai diri apa adanya tentang kelebihan
dan kekurangannya, secara fisik, pengetahuan, keterampilan dan sebagainya.
2. Mampu menilai situasi secara realistik; dapat menghadapi situasi atau kondisi kehidupan yang
dialaminya secara realistik dan mau menerima secara wajar, tidak mengharapkan kondisi
kehidupan itu sebagai sesuatu yang sempurna.
3. Mampu menilai prestasi yang diperoleh secara realistik; dapat menilai keberhasilan yang
diperolehnya dan meraksinya secara rasional, tidak menjadi sombong, angkuh atau mengalami
superiority complex, apabila memperoleh prestasi yang tinggi atau kesuksesan hidup. Jika
mengalami kegagalan, dia tidak mereaksinya dengan frustrasi, tetapi dengan sikap optimistik.
4. Menerima tanggung jawab; dia mempunyai keyakinan terhadap kemampuannya untuk
mengatasi masalah-masalah kehidupan yang dihadapinya.
5. Kemandirian; memiliki sifat mandiri dalam cara berfikir, dan bertindak, mampu mengambil
keputusan, mengarahkan dan mengembangkan diri serta menyesuaikan diri dengan norma yang
berlaku di lingkungannya.
6. Dapat mengontrol emosi; merasa nyaman dengan emosinya, dapat menghadapi situasi frustrasi,
depresi, atau stress secara positif atau konstruktif , tidak destruktif (merusak)
7. Berorientasi tujuan; dapat merumuskan tujuan-tujuan dalam setiap aktivitas dan kehidupannya
berdasarkan pertimbangan secara matang (rasional), tidak atas dasar paksaan dari luar, dan
berupaya mencapai tujuan dengan cara mengembangkan kepribadian (wawasan), pengetahuan
dan keterampilan.
8. Berorientasi keluar (ekstrovert); bersifat respek, empati terhadap orang lain, memiliki
kepedulian terhadap situasi atau masalah-masalah lingkungannya dan bersifat fleksibel dalam
berfikir, menghargai dan menilai orang lain seperti dirinya, merasa nyaman dan terbuka
terhadap orang lain, tidak membiarkan dirinya dimanfaatkan untuk menjadi korban orang lain
dan mengorbankan orang lain, karena kekecewaan dirinya.
9. Penerimaan sosial; mau berpartsipasi aktif dalam kegiatan sosial dan memiliki sikap bersahabat
dalam berhubungan dengan orang lain.
10. Memiliki filsafat hidup; mengarahkan hidupnya berdasarkan filsafat hidup yang berakar dari
keyakinan agama yang dianutnya.
11. Berbahagia; situasi kehidupannya diwarnai kebahagiaan, yang didukung oleh faktor-faktor
achievement (prestasi) acceptance (penerimaan), dan affection (kasih sayang)

Kepribadian yang tidak sehat :

1. Mudah marah (tersinggung)


2. Menunjukkan kekhawatiran dan kecemasan
3. Sering merasa tertekan (stress atau depresi)
4. Bersikap kejam atau senang mengganggu orang lain yang usianya lebih muda atau terhadap
binatang
5. Ketidakmampuan untuk menghindar dari perilaku menyimpang meskipun sudah diperingati atau
dihukum
6. Kebiasaan berbohong
7. Hiperaktif
8. Bersikap memusuhi semua bentuk otoritas
9. Senang mengkritik/ mencemooh orang lain
10. Sulit tidur
11. Kurang memiliki rasa tanggung jawab
12. Sering mengalami pusing kepala (meskipun penyebabnya bukan faktor yang bersifat organis)
13. Kurang memiliki kesadaran untuk mentaati ajaran agama
14. Pesimis dalam menghadapi kehidupan
15. Kurang bergairah (bermuram durja) dalam menjalani kehidupan

H. Faktor Yang Mempengaruhi Kepribadian

Secara garis besar ada dua faktor utama yang mempengaruhi perkembangan kepribadian, yaitu
faktor hereditas (genetika) dan faktor lingkungan (environment).

1. Faktor Genetika (Pembawaan)

Pada masa konsepsi, seluruh bawaan hereditas individu dibentuk dari 23 kromosom dari ibu, dan 23
kromosom dari ayah. Dalam 46 kromosom tersebut terdapat beribu-ribu gen yang mengandung
sifat fisik dan psikis individu atau yang menentukan potensi-potensi hereditasnya. Dalam hal ini,
tidak ada seorang pun yang mampu menambah atau mengurangi potensi hereditas tersebut.

Pengaruh gen terhadap kepribadian, sebenarnya tidak secara langsung, karena yang dipengaruhi
gen secara tidak secara langsung adalah (1) kualitas sistem syaraf, (2) keseimbangan biokoimia
tubuh, dan (3) struktur tubuh.

Lebih lanjut dapat dikemukakan, bahwa fungsi hereditas dalam kaitannya dengan perkembangan
kepribadian adalah (1) sebagai sumber bahan mentah kepribadian seperti fisik, intelegensi, dan
temperamen (2) membatasi perkembangan kepribadian dan mempengaruhi keunikan kepribadian.

Dalam kaitan ini Cattel dkk., mengemukakan bahwa “kemampuan belajar dan penyesuaian diri
individu dibatasi oleh sifat-sifat yang inheren dalam organisme individu itu sendiri”. Misalnya
kapasitas fisik (perawakan, energy, kekuatan, dan kemenarikannya), dan kapasitas intelegtual
(cerdas, normal, atau terbelakang). Meskipun begitu batas-batas perkembangan kepribadian,
bagaimanapun lebih besar dipengaruhi oleh faktor lingkungan.

Contohnya: seorang anak laki-laki yang tubuhnya kurus, mungkin akan mengembangkan “self
concept” yang tidak nyaman, jika dia berkembang dalam kehidupan sosial yang sangat menghargai
nilai-nilai keberhasilan atletik, dan merendahkan keberhasilan dalam bidang lain yang diperolehnya.
Sama halnya dengan wanita yang wajahnya kurang, dia akan merasa rendah diri apabila berada
dalam lingkungan yang sangat menghargai wanita dari segi kecantikan fisiknya.

Ilustrasi diatas menunjukkan, bahwa hereditas sangat mempengaruhi “konsep diri” individu sebagai
dasar sebagai individualitasnya, sehingga tidak ada orang yang mempunyai pola-pola kepribadian
yang sama, meskipun kembar identik.

Menurut C.S. Hall, dimensi-dimensi temperamen : emosionalitas, aktivitas, agresivitas, dan


reaktivitas bersumber dari plasma benih (gen) demikian halnya dengan intelegensi. Untuk
mengetahui bagaimana pengaruh hereditas terhadap kepribadian, telah banyak para ahli yang
melakukan penelitian dengan menggunakan metode-metode tertentu. Dalam kaitan ini, Pervin
(1970) mengemukakan penelitian-penelitian tersebut.

a. Metode Sejarah (Riwayat) Keluarga

Galton (1870) telah mencoba meneliti kegeniusan yang dikaitkan dengan sejarah keluarga. Temuan
penelitiannya manunjukkan bahwa kegeniusan itu berkaitan erat dengan keluarga. Temuan ini bukti
yang mendukung teori hereditas tentang kegeniusan individu.

b. Metode Selektivitas Keturunan

Tryon (1940) menggunakan pendekatan ini dengan memilih tikus-tikus yang pintar, cerdas “bright”,
dengan yang bodoh “dull”. Ketika tikus-tikus dari kedua kelompok tersebut dikawinkan, ternyata
keturunannya mempunyai tingkat kecerdasan yang berdistribusi normal.

c. Penelitian terhadap Anak Kembar

Newman, Freeman, dan Halzinger (1937) telah meneliti kontribusi hereditas yang sama terhadap
tinggi dan berat badan, kecerdasan dan kepribadian. Mereka menempatkan 19 pasangan kembar
identik dalam pemeliharaan yang terpisah, 50 pasangan kembar identik dalam pemeliharaan yang
sama, dan 50 pasangan kembar “fraternal” dalam pemeliharaan yang sama juga. Hasilnya
menunjukkan bahwa kembar identik yang dipelihara terpisah memiliki kesamaan satu sama lainnya
dalam tinggi dan berat badan, serta kecerdasannya. Demikian juga kembar identik yang dipelihara
bersama-sama, ternyata lebih mempunyai kesamaan dari pada kembar “faternal”

d. Keragaman Konstitusi (Postur) Tubuh

Hippocrates menyakini bahwa temperamen manusia dapat dijelaskan bardasarkan cairan-cairan


tubuhnya. Kretsvhmer telah mengklasifikasikan postur tubuh individu pada tiga tipe utama, dan satu
tipe campuran. Pengklasifikasian ini didasarkan pada penelitiannya terhadap 260 orang yang
dirawatnya. Berikut ini adalah tipe pengklasifian tubuh menurut Kretschmer.

1) Tipe Piknis (Stenis): pendek, gemuk, perut besar, dada dan bahunya bulat.
2) Tipe Asthenis (Leptoshom): tinggi dan ramping, perut kecil, dan bahu sempit.
3) Tipe Atletis: postur tubuhnya harmonis (tegap, bahu lebar, perut kuat, otot kuat).
4) Tipe Displastis: tipe penyimpangan dari tiga bentuk di atas.

Tipe-tipe ini berkaitan dengan: (1) gangguan mental, seperti tipe piknis berhubungan dengan manik
depresif, dan asthenis. (2) karaktritis individu yang normal, seperti tipe piknis mempunyai sifat-sifat
bersahabat dan tenang, sedangkan asthenis bersifat serius, tenang dan senang menyendiri.
2. Faktor Lingkungan

Faktor lingkungan yang mempengaruhi kepribadian diantaranya keluarga, kebudayaan, dan sekolah.

a. Keluarga.
Keluarga dipandang sebagai penentu utama dalam pembentukan kepribadian anak. Alasannya
adalah (1) keluarga merupakan kelompok sosial pertama yang menjadi pusat identifikasi anak,
(2) anak banyak menghabiskan waktunya di lingkungan keluarga, dan (3) para anggota keluarga
merupakan “significant people” bagi pembentukan kepribadian anak. Baldwin dkk. (1945), telah
melakukan penelitian tentang pengaruh pola asuh orang tua terhadap kepribadian anak. Pola
asuh orang tua itu ternyata ada yang demokratis dan juga authoritarian. Orang tua yang
demokratis ditandai dengan prilaku (1) menciptakan iklim kebebasan, (2) bersikap respek
terhadap anak, (3) objektif, dan (4) mengambil keputusan secara rasional. Anak yang
dikembangkan dalam iklim demokratis cenderung memiliki cirri-ciri kepribadian: labih aktif,
lebih bersikap sosial, lebih memiliki harga diri, dan lebih konstruktif dibandingkan dengan anak
yang dikembangkan dalam iklim authoritarian.
b. Kebudayaan

Kluckhohn berpendapat bahwa kebudayaan meregulasi (mengatur) kehidupan kita dari mulai
lahir sampai mati, baik disadari maupun tidak disadari. Kebudayaan mempengaruhi kita untuk
mengikuti pola-pola perilaku tertentu yang telah dibuat orang lain untuk kita.

Sehubungan dengan pentingnya kebudayaan sebagai faktor penentu kepribadian, muncul


pertanyaan: Bagaimana tipe dasar kepribadian masyarakat itu terjadi? Dalam hal ini Linton
(1945) mengemukakan tiga prinsip untuk menjawab pertanyaan tersebut. Tiga prinsip tersebut
adalah (1) pengalaman kehidupan dalam awal keluarga, (2) pola asuh orang tua terhadap anak,
dan (3) pengalaman awal kehidupan anak dalam masyarakat.

c. Sekolah

Lingkungan sekolah dapat mempengaruhi kepribadian anak. Faktor-faktor yang dapat


mempengaruhi di antaranya sebagai berikut:

1) Iklim emosional kelas.


2) Sikap dan prilaku guru.
3) Disiplin.
4) Prestasi belajar.
5) Penerimaan teman sebaya.

Dari penjelasan di atas, ada juga faktor-faktor yang mempengaruhi kepribadian seseorang, yaitu
faktor internal dan eksternal.

a. Faktor Internal

Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri orang itu sendiri. Faktor internal ini
biasanya merupakan faktor genetis atau bawaan. Faktor genetis maksudnya adalah faktor yang
berupa bawaan sejak lahir dan merupakan pengaruh keturunan dari salah satu sifat yang dimiliki
oleh salah satu dari kedua orang tuanya atau bisa jadi gabungan atau kombinasi dari sifat kedua
orang tuanya. Oleh karena itu, sering kita mendengar istilah “ buah jatuh tidak akan jauh dari
pohonnya”. Misalnya, sifat mudah marah yang dimiliki oleh sang ayah bukan tidak mungkin akan
menurun pula pada anaknya.

b. Faktor Eksternal

Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar orang tersebut. Faktor eksternal ini
biasanya merupakan pengaruh yang berasal dari lingkungan seseorang mulai dari lingkungan
terkecilnya, yakni keluarga, teman tetangga, sampai dengan pengaruh dari barbagai madia
audiovisual seperti TV, VCD dan internet, atau media cetak seperti koran, majalah dan lain
sebagainya.

Lingkungan keluarga, tempat seorang anak tumbuh dan berkembang akan sangat berpengaruh
terhadap kepribadian seorang anak. Terutama dari cara orang tua mendidik dan membesarkan
anaknya. Sejak lama peran sebagai orang tua sering kali tidak dibarengi oleh pemahaman
mendalam tentang kepribadian. Akibatnya, mayoritas orang tua hanya bisa mencari kambing
hitam –bahwa si anaklah yang tidak beres- ketika terjadi hal-hal negatif mengenai prilaku
keseharian anaknya.seorang anak yang memiliki prilaku demikian sesungguhnya meniru cara
berpikir dan perbuatan yang sengaja atau tidak sengaja yang dilakukan oleh orang tua mereka.

Contoh orang tua sering memerintahkan anaknya, “ tolong nanti kalau ada telepon, bilang ayah
dan ibu sedang tidak ada dirumah, karena ayah dan ibu akan tidur “. Peristiwa ini adalah suatu
pendidikan kepada anak bahwa berbohong boleh atau halal dilakukan. Akibatnya anak juga
melakukan prilaku bohong kepada orang lain termasuk pada orang tua yang mencontohinya.
Jika perbuatan bohong yang dilakukan anak memperoleh kepuasan atau kenikmatan, minimal
tidak memperoleh hukuman, maka perbuatan bohong itu akan dikembangkan lebih lanjut oleh
anak tersebut. Bahkan mungkin saja daya bohong itu akan menjadi suatu kesenangan dan dapat
juga menjadi suatu keahlian yang lama-kelamaan menjadi kepribadiannya. Demikian juga prilaku
positif dan negatif lain yang terperaktikkan di lingkungan rumah.

Menurut Levine (2005) menjadi orang tua sesungguhnya merupakan proses yang dinamis.
Situasi keluarga acap kali berubah. Tidak ada yang bersifat mekanis dalam proses tersebut. Akan
tetapi, dengan memahami bahwa kepribadian mengaktifkan energy, mengembangkan langkah
demi langkah, serta menyadari semua implikasi setiap langkah terhadap diri anak, para orang
tua secara perlahan akan mampu menumpuk rasa percaya diri pada diri anak.

Selanjutnya, Levine (2005) menegaskan bahwa kepribadian orang tua akan berpengaruh
terhadap caraorang tua tersebut dalam mendidik dan membesarkan anaknya yang pada
gilirannya juga berpengaruh pada kepribadian si anak tersebut. Ada Sembilan tipe kepribadian
orang tua dalam membesarkan anaknya yang juga dapat berpengaruh pada kepribadian si anak,
yaitu sebagai berikut :

1) Penasihat moral, terlalu menekankan pada perincian, analisis dan moral.


2) Penolong, terlalu mengutamakan kebutuhan anak dengan mengabaikan akibat dari tindakan
si anak.
3) Pengatur, selalu ingin bekerja sama dengan si anak dan menciptakan tugas-tugas yang akan
membantu memperbaiki keaadan.
4) Pemimipin, selalu berupaya untuk selalu berhubungan secara emosional dengan anak-anak
dalam setiap keadaan dan mencari solusi kreatif bersama-sama.
5) Pengamat, selalu mencari sudut pandang yang menyeluruh, berupaya mengutamakan
objektifitas dan perspektif.
6) Pencemas, selalu melakukan tanya jawab mental dan terus bertanya-tanya , ragu-ragu dan
memiliki gambaran terburuk bahkan meraka sampai yakin bahwa anak merka benar-benar
memahami situasi.
7) Penghibur, selalu menerapakan gaya yang selalu santai.
8) Pelindung, cenderung untuk mengambil alih tanggung jwab dan bersikap melindungi,
berteriak pada si anak akan tetapi kemudian melindunginnya dari ancaman yang datang.
9) Pendamai, dipengaruhi kepribadian mereka yanag selalu menghindar dari konflik.

Berdasarkan Sembilan kepribadian orang tua dalam mendidik anakanya secara moralitas, maka
tampaknya tiga tipe yang sejalan dalam pembentukan kepribadian melalui peningkatan
pertimbangan moral, yaitu tipe pengatur, pengamat dan pencemas. Pembentukan kepribadian
melalui peningkatan pertimbangan moral menghendaki orang tua di lingkungan rumah tangga
bertindak sebagai teman yang dapat bakerja sama dengan anak-anak mereka dalam
menyelesaikan segala tugas guna memperbaiki keadaan sosial maupun fisik. Kepribadian orang
tua sebagai pengamat yang menggunakan sudut pandang menyeluruh dan objektif akan
membantu cara berpikir moral anak kearah yang luas, objektif, dan menyeluruh.

Demikian juga, kepribadian orang tua tipe pencemas yang selalu membawa anak untuk
berdiskusi, bertanya jawab, dan mengajak berpikir dalam menghadapi tantangandan konflik
adalah sejalan dengan teori perkembangan moral kognitif dalam peningkatan perkembangan
moral guna pembentukan kepribadian yang baik bagi anak-anak.

Dari beberapa uraian di atas muncul tiga aliran utama yang saling bertentangan mengenai
fenomena tentang faktor kepribadian , yaitu :

1) Aliran Nativisme

Aliran ini dipelopori oleh Schoupenhouer yang berpendapat bahwa faktor pembawaan itu lebih
kuat dari pada faktor yang datang dari luar. Aliran ini didukung oleh aliran Naturalisme yang
ditokohi oleh J.J. Rousseau yang berpendapat bahwa: segala yang suci dari tangan tuhan, rusak
di tangan manusia. Anak manusia itu sejak lahir, ada di dalam keadaan yang suci, tetapi karena
dididik oleh manusia, malah menjadi rusak. Ia bahkan kenal dengan segala macam kejahatan,
penyelewengan, korupsi, mencuri, dan sebagainya.

2) Aliran Empirisme

Aliran ini dipelopori oleh jhon locke, dengan tabula rasanya. Aliran Empieisme berpendapat
bahwa anak sejak lahir, masih bersih seperti tabula rasa, dan baru akan berisi bila ia menerima
sesuatu dari luar, lewat alat inderanya. Karena itu pengaruh dari luarlah yang lebih kuat
daripada pembawaan manusia.

Aliran ini diperkuat oleh J.F. Herbart dengan teori psikologi asosiasinya, yang berpendapat
bahwa jiwa manusia sejak dilahirkan itu masih kosong. Baru akan berisi apabila alat indranya
telah dapat menangkap sesuatu, yaitu jiwa. Di dalam kesadaran ini, hasil tangkapan itu tadi
meninggalkan bekas. Bekas ini disebut tanggapan. Makin lama alat indera yang dapat
menangkap rangsangan dari luar ini makin banyak dan semuanya itu meninggalkan tanggapan.
Di dalam tanggapan ini saling tarik menarik dan tolak menolak. Yang bertarik menarik adalah
tanggapan yang sejenis, sedangakan tolak menolak adalah tanggapan yang tidak sejenis.

3) Aliran Convergensi

Aliran ini dipelopori oleh itu W. Stern, mengajukan teorinya, yang terkenal dengan teori
perpaduan, atau teori convergensi, yang berpendapat bahwa kekuatan itu sebenarnya berpadu
menjadi satu. Keduanya saling memberikan pengaruh. Bakat yang ada pada anak, ada
kemungkinan tidak akan berkembang kalau tidak dipengaruhi oleh segala sesuatu yang ada
disekitar lingkunganya. Demikian pula pengaruh dari lingkungan juga tidak akan berfaedah
apabila tidak ada yang menanggapi di dalam jiwa manusia.