Anda di halaman 1dari 21

CRITICAL BOOK REPORT

MK. PROFESI PENDIDIKAN


PRODI BK
SKOR NILAI :
PROFESI PENDIDIKAN

Prof. Dr.H. Abuddin Nata, M.A, 2003

Nama : Ega Mawarniyati

NIM : 1191151010

Kelas : Reguler B

Dosen Pengampu : Dr. Nurmayani, M.Ag/ Rahmilawati Ritonga,


S.Pd,M.Pd

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN


PSIKOLOGI PENDIDIKAN DAN BIMBINGAN 2020

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kepada Tuhan yang Maha Esa, karena atas berkat dan
rahmatnya penulis dapat menyelesaikan Critical Book Report tepat pada waktunya. Tak lupa
penulis ucapkan terima kasih kepada Dosen yang sudah memberikan bimbinganya.sehingga
makalah dengan judul “Psikologi pendidikan”.

1
penulis harap dengan dibuatnya tugas ini dapat memberi ilmu tambahan kepada pembaca
dan juga kepada penulis pribadinya. Demikian dengan ini penulis buat Critical Book Report ini
untuk memenuhi tugas kuliah yang telah diberikan kepada penulis .

Medan, 24 Februari 2020

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................................ 2


DAFTAR ISI ....................................................................................................................... 3
BAB 1 PENDAHULUAN
A. Rasionalisasi pentingnya CBR ................................................................................ 4
B. Tujuan penulisan CBR ............................................................................................ 4
C. Manfaat CBR .......................................................................................................... 4

2
D. Identitas buku .......................................................................................................... 5
BAB II RINGKASAN ISI BUKU
A. Ringkasan buku utama ............................................................................................ 6
BAB III PEMBAHASAN
A. Pembahasan buku utama dan pembanding ............................................................. 18
B. kelebihan dan kekurangan buku .............................................................................. 19
BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan ............................................................................................................. 20
B. Rekomendasi ........................................................................................................... 20
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................................... 21

BAB I PENDAHULUAN

A. Rasionalisasi pentingnya CBR


Keterampilan membuat CBR pada penulis dapat menguji kemampuan dalam meringkas dan
menganalisis sebuah buku serta membandingkan buku yang dianalisis dengan buku yang lain.
Dapat member nilai serta mengkritik sebuah karya tulis yang dianalisis.
B. Tujuan

3
Tujuan penulisan laporan ini adalah untuk memenuhi tugas Critical Book Report mata kuliah
Profesi Pendidikan Dan untuk mengetahui di dalam sebuah buku yang dikutip kelemahan serta
kelebihannya Mengulas isi buku. Dan dapat mengkritisi atau membandingkan sebuah buku
profesi pendidikan dengan buku yang berbeda tetapi topic pembahasanya sama.
C. Manfaat CBR
1. Untuk memenuhi tugas mata kuliah profesi kependidikan
2. Untuk mengetahui banyak hal tentang buku dan melatih mahasiswa untuk gemar
membaca
3. Untuk menambah ilmu pengethuan tentang profesi kependidikan
4. Dan mengulas isi sebuah buku
5. Membandingkan isi buku utama dengan pembanding satu
1.1 Identitas Buku Identitas
buku utama
a. Judul : Manajemen Pendidikan
b. Edisi : kedua , cetakan ke-3
c. Pengarang : Prof. Dr. H. Abuddin Nata, M.A.
d. Penerbit : Prenada Media Group
e. Kota terbit : Jakarta
f. Tahun terbit : 2008
g. ISBN : 979-3465-02-6

1.5 Identitas buku pembanding


a. Judul : Landasan Kependidikan
b. Edisi : Kedua, cetakan ke-2
c. Pengarang : Prof. Dr. Made Pidarta
d. Penerbit : PT Rineka Cipta
e. Kota terbit : Jakarta
f. Tahun terbit : 2007
g. ISBN : 978-979-518-893-3

4
5
BAB II
RINGKASAN ISI BUKU

BAB I
BERBAGAI ISU KONTEMPORER TENTANG PENDIDIKAN ISLAM A. Politik
Pemerintah Terhadap Pendidikan Islam Di Indonesia
Pengertian Politik Pendidikan
Politik diartikan pengetahuan tentang ketatanegaraan atau kenegaraan, seperti tata cara
pemerintah, dasar-dasar pemerintahan dan sebagainya. Sedan (Pidarta, 2007)kan Politik
pendidikan adalah segala usaha, kebijakan dan siasat yang berkaitan dengan masalah pendidikan.
Dengan demikian politik pendidikan adalah segala kebijakan pemerintah suatu Negara dalam
bidang pendidikan yang berupa peraturan perundangan atau lainya untuk menyelenggarakan
pendidikan demi tercapainya tujuan Negara. Kebijakan Politik Pendidikan Pemerintahan
Indonesia
Kebijakan politik pemerintahan Indonesia secara umum dapat dibagi ke dalam empat periode
atau orde. Pertama, kebijakan politik pemerintahan pada masa pra-kemerdekaan; kedua,
kebijakan politik pemerintahan Indonesia pada masa orde lama; ketiga, kebijakan politik
pemerintahan Indonesia pada masa orde baru; dan keempat, pemerintahan pada orde reformasi.
B. Menyiasati Kekurangan Jam Pelajaran Agama Di Sekolah-Sekolah
Untuk mengatasi permasalahan kekurangan jam pelajaran agama di sekolah tersebut adalah
dengan menambah jumlah jam pelajaran agama di sekolah, mengubah orientasi dan focus
pengajaran agama yang berpusat pada pemberian pengetahuan agama dalam arti memahami,
menghafal ajaran agama sesuai kurikulum dan pembentukan sikap keagamaan melalui
pembiasaan hidup sesuaai dengan agama. Pengajaran agama, khususnya pengajaran agama
disekolah umum perlu diubah arahnya kepada pengalaman agama dalam kehidupan sehari-hari.
C. Quantum Teaching Dalam Perspektif Pendidikan Islam
Quantum Teaching dan Karakteristiknya. Quantum Teaching adalah badan ilmu pengetahuan
dan metodologi yang digunakan dalam rancangan, penyajian, dan fasilitas supercamp. Quantum
teaching merupakan metode pengajaran mutakhir adalah memadukan dan menyempurnakan
metode-metode pengajaran yang telah ada sebelumnya.
Dalam rangka menghasilkan lulusan pendidikan islam yang terbina seluruh potensinya serta
memiliki sikap percaya diri, kreatif, inovatif, kritis, dan demokratis. Kini sudah saatnya para guru

6
yang mengajar di Madrasah-madrasah atau para dosen yang mengajar di perguruan tinggi
menggunakan metode pengajaran Quantum Teaching, demi menyiapkan lulusan pendidikan yang
berwawasan luas dalam bidang ilmu pengetahuan, memiliki kecerdasan emosional, ketrampilan,
dan serta memiliki kepercayaan diri.
D. Peranan Pendidikan Islam Dalam Menumbuhkan Kecerdasan Emosional
Kecerdasan berasal dari kata cerdas yang berarti sempurna perkembangan akal budinya,
pandai dan tajam pikiranya. Sedangkan kata emosional berasal dari bahasa inggris, emotion, yang
berarti keibaan hati, suara yang mengandung emosi, pembelaan yang penuh perasaan. Dalam
pengertian umumnya emosi sering diartikan dorongan yang amat kuat dan cenderung mengarah
kepada hal-hal yang kurang terpuji.
Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa pembinaan kecerdasan emosional yang
merupakan bagian dari potensi yang dimiliki manusia harus dilakukan oleh dunia pendidikan,
sehingga para lulusan pendidikan dapat meraih kesuksesan dalam hidupnya. E. Pro-Kontra
Tentang Perlu Tidaknya Pendidikan Seks Bagi Para Remaja
Mengingat masalah pendidikan seks belum dimasukkan ke dalam kurikulum. Adapun sejalan
dengan permasalahan tersebut mengemukakan latar belakang pemikiran pro-kontra pendidikan
seks bagi remaja, dilanjutkan dengan member solusi untuk dilakukan dalam menghadapi para
remaja. Menghadapi pro-kontra maka perlu dicarikan jalan keluar (solusinya). Untuk ini dapat
merujuk kepada petunjuk Al-Qur’an dan AL-Sunnah.
F. Urgensi Konversi IAIN Menjadi UIN
Rencana perubahan IAIN menjadi universitas, bukanlah tanpa masalah. Di dalamnya terdapat
sejumlah permasalahan baik yang bersifat legalitas formal, kelembagaan, filosofis, historis,
psikologis, dan bahkan politis. Masalah selanjutnya berkaitan dengan soal kelembagaan. Yaitu,
apakah setelah IAIN berubah menjadi universitas nantinya tetap berada di bawah naungan
Departemen Agama RI, atau berada di bawah departemen pendidikan nasional. Menempatkan
IAIN pada salah satu dari dua dapartemen tersebut bukan merupakan solusi yang tepat.

G. Tantangan Dan Peluang Maahasiswa Pendidikan Agama Islam (PAI) Di Era


Globalisasi
Era globalisasi telah menimbulkan paling kurang lima kecenderungan, yaitu kecenderungan
integrasi ekonomi, fragmentasi politik, penggunaan politik, penggunaan teknologi canggih,
kesalingtergantungan dan penjajahan baru dalam bidang kebudayaan. Kelima macam

7
kecenderungan ini pada tahap selanjutnya telah menimbulkan tantangan berupa terjadinya
berbagai paradigma baru dalam dunia pendidikan lainya yang harus dipecahkan.

BAB II
TANTANGAN PENDIDIKAN ISLAM ABAD XXI A. Upaya Mengatasi Tantangan
Pendidikan Islam Abad XXI
Pada era globalisasi di abad ke-21 yang tahapanya sudah dimulai pada masa sekarang ini,
ternyata telah memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap dunia pendidikan. Maka dari
itulah kemajuan dalam bidang informasi tersebut pada akhirnya berpengaruh pada kejiwaan dan
kepribadian masyarakat. Pada era informasi yang sanggup bertahan hanyalah mereka yang
berorientasi ke masa depan, yang mampu mengubah pengetahuan menjadi kebijakan dan mereka
yang memiliki cirri-ciri sebagaimana yang dimiliki masyarakat modern.
Dalam era globalisasi dan industrialisasi, peran pendidikan tidak terfokus hanya pada
penyiapan sumber daya manusia yang siap pakai saja, mengingat kecenderungan yang terjadi
dalam dunia kerja sangat cepat berubah dalam era ini. Sebaliknya, pendidikan harus menyiapkan
sumber daya manusia yang mampu menerima serta menyesuaikan dan mengembangkan arus
perubahan yang terjadi dalam lingkunganya.
B. Islamisasi Ilmu Pengetahuan Dan Kontribusinya Dalam Mengatasi Krisis Masyarakat
Modren
Islamisasi ilmu pengetahuan pada dasarnya adalah suatu respons terhadap krisis masyarakat
modern yang disebabkan karena pendidikan barat yang bertumpu pada suatu pandangan dunia
yang lebih berdasar pada paham materialisme dan relativisme; yang menganggap bahwa
pendidikan bukan untuk manusia bijak, yakni mengenali dan mengakui posisi masing-masing
dalam tertib realitas.
Adapun cara penerapan macam strategi pengembangan ilmu pengetahuan tersebut, akan
mendapatkan keuntungan yang berguna untuk mengatasi problema kehidupan masyarakat
modern. Pertama, ilmu pengetahuan tersebut akan terus berkembang dinamis sesuai dengan
tuntutan zaman, karena hanya ajaran islamlah ajaran yang paling mementingkan pengembangan
ilmu pengetahuan. Kedua, masyarakat modern akan mendapatkan momentum kejayaan dan
kesejahteraannya yang seimbang, Dst.

8
C. Profesional Muslim Dan Peran Sertanya Dalam Pembangunan Peradaban Islam Abad
XXI
Profesional muslim dan peran sertanya dalam pembangunan peradaban islam abad XXI dapat
terwujud apabila umat islam dapat melakukan hal-hal sebagai berikut: (1) dapat menguasai
pendidikan yang bermutu secara lebih variatif. Yakni, tidak hanya menguasai bidang agama saja,
melainkan juga bidang pengetahuan umum. (2) perlu ada wadah yang dapat mempersatukan
seluruh potensi yang dimiliki oleh kaum professional muslim. (3) berbagai saluran komunikasi
dan pembentukan opini politik seperti peralatan komunikasi, Koran, dan sebagainya harus
dikuasai oleh umat islam.
D. Kontribusi Pendidikan Islam Dalam Membangun Masyarakat Madani
Secara sederhana pendidikan islam dapat diartikan sebagai usaha sadar yang dilakukan secara
sistematik untuk membentuk masyarakat didik sesuai dengan tuntutan islam. Secara teoritis
pendidikan islam sangat besar perananya dalam membentuk masyarakat. Pendidikan islam
memiliki tujuan yang berkaitan dengan pembinaan masyarakat yang beradab. Untuk
mewujudkan keadaan masyarakat yang demikian itu dapat dicapai melalui pendidikan islam,
karena pendidikan islam dengan berbagai aspeknya didasarkan nilai-nilai yang luhur dan
universal.
Oleh karena itu, maka sebagai salah satu langkah yang amat strategis dalam mewujudkan
masyarakat madani adalah dengan melaksanakan pendidikan islam sesuai dengan sifat dan
karakternya. Langkah-langkah strategis lainya adalah dengan mewujudkan keteladanan diri para
pendidik dan pemimpin masyarakat, menumbuh kembangkan kebersamaan dan melaksanakan
dakwah bilal.
E. Menyikapi Paradigma Baru Pendidikan Di Indonesia
Cara menyikapinya yaitu; pertama, perkembangan dunia pendidikan saat ini amat bergerak
cepat. Seluruh komponen pendidikan harus terus diinovasi dan dikembangkan sesuai dengan
paradigma baru yang terus berkembang. Kedua, lembaga pendidikan islam, memiliki potensi dan
peluang yang besar untuk berkembang , sepanjang lembaga tersebut mampu merespon secara
positif terhadap seluruh perkembangan paradigma baru tersebut. Ketiga, untuk melaksanakan
berbagai paradigma baru pendidikan tersebut pada akhirnya tergantung kepada kesiapan sumber
daya manusianya.

9
BAB III PROFESIONALISME GURU DAN MUBALIGH A. Kode Etik Profesi Guru
Dalam Konteks Peningkatan Mutu Pendidikan
Pendidik, peserta didik dan tujuan pendidikan merupakan komponen utama pendidikan.
Mendidik adalah pekerjaan professional, karena itu guru sebagai pelaku utama pendidikan
merupakan professional. Ada tiga macam tugas profesi guru yang tidak dielakkan, yaiitu tugas
profesional, tugas sosial, dan tugas personal.
• Tugas Professional
Tugas profesional guru meliputi mendidik, mengajar, dan melatih/membimbing, serta meneliti
(riset). Mendidik berarti meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup. Mengajar berarti
mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Melatih /membimbing berarti
mengembangkan ketrampilan-ketrampilan peserta didik. Dan meneliti untuk mengembangkan
kependidikan.
• Tugas Sosial
Misi yang diemban guru adalah misi kemanusiaan, yaitu “pemanusiaan manusia”. Guru harus
dapat menjadikan dirinya sebagai “orang tua kedua” bagi peserta didik”. Guru memiliki
kewajiban untuk mencerdaskan masyarakat dan bangsa menuju pembentukkan manusia
seutuhnya.
• Tugas Personal
Tugas personal menyangkut pribadi dan kepribadian guru. Itulah sebabnya setiap guru perlu
menatap dirinya dan memahami konsep dirinya.
1. Pengertian Kode Etik Profesi Guru
Kode etik secara kebahasaan berarti ketentuan atau aturan yang berkenan dengan tata susila
dan akhlak. Berdasarkan pengertian tersebut, maka kode etik guru atau akhlak adalah tingkah
laku yang memiliki 5 cirisebagai berikut; pertama, tingkah laku yang sudah mendarah daging.
Kedua, tingkah laku tersebut dapat dilakukan tanpa memerlukan pemikiran lagi. Ketiga,
perbuatan yang sudah dilakukan itu timbul. Keempat, perbuataan yang dilakukan itu berada
dalam keadaan sesungguhnya. Kelima, perbuatan tersebut dilakukan atas niat semata-mata
karena Allah.
2. Guru Sebagai Tenaga Profesional
Guru mampu menciptakan suasana pembelajaran inovatif, kreatif, dan menyenangkan. Guru
dalam melaksanakan tugas profesinya dihadapkan pada berbagai pilihan, seperti cara
bertindak bagaimana cara yang paling tepat, bahan belajar apa yang paling sesuai, metode
yang penyajian bagaimana yang paling efektif.

10
Apabila kinerja guru efektif maka tujuan pendidikan akan tercapai. Yang dimaksud
profesionalisme disini adalah kemampuan dan keterampilan guru dalam merencanakan,
melaksanakan pengajaran dan melaksanakan evaluasi belajar siswa.
3. Peranan Guru dalam Peningkatan Mutu Pendidikan
Disini guru dan sisiwa memainkan peranan serta ada dalam hubungan sosial tertentu, dalam
belajar mengajar yang tersedia. Jika seluruh komponen pendidikan dan pengajaran tersebut
di persiapkan dengan baik, maka mutu pendidikan dengan sendirinyya akan meningkat.

B. Peningkatan Kualitas Pendidikan Kader Mubaligh


Para mubaligh perlu ditingkatkan kualitasnya, karena peran dan fungsi mereka pada masa
sekarang ini semakin berat. Pertama, para mubaligh sebagai pengawal akhlak (moral) bangsa
yang bersangkutan. Kedua, para mubaligh pada dasarnya adalah pekerja-pekerja budaya yang
selalu berupaya agar suatu kebudayaan berkembang yang lebih beradab, sesuai dengan tuntutan
zaman. Ketiga, para mubaligh sebagai informator dan penerang masyarakat.
Cita-cita islam yang ideal itu harus diperjuangkan secara sungguh-sungguh dan konsisten oleh
para mubaligh. Cita-cita tersebut bukan dimaksudkan untuk mendirikan Negara islam, melainkan
semata-mata untuk mewujudkan rahmat dan kedamaian di muka bumi. Sebagaimana halnya itu
sudah menjadi tujuan diturunkan-nya agama islam ke muka bumi.
BAB IV
KUALITAS PENDIDIKAN YANG ISLAMI
A. Arah, Ciri, Dan Peluang Pengembangan Dan Peningkatan Kualitas Pendidikan Islam
Secara sederhana pendidikan islam dapat diartikan sebagai pendidikan yang didasarkan pada
nilai-nilai ajaran islamsebagaimana tercantum dalam AL-Qur’an dan al-Hadist serta dalam
pemikiran para ulama dan dalam sejarah islam. Berbagai komponen dalam pendidikan mulai dari
visi, misi, tujuan, kurikulum, guru, metode, pola hubungan guru murid, evaluasi, saranaprasarana
dan lingkungan.
a. Peluang Pendidikan Islam Untuk Persiapan Masa Depan
Masa depan membutuhkan manusia-manusia yang kreatif, inovatif, dinamis, terbuka,
bermoral baik, mandiri atau penuh percaya diri, menghargai waktu, mampu berkomunikasi dan
memanfaatkan peluang, serta menjadikan orang lain sebagai mitra. Selanjutnya sikap berpegang
teguh kepada nilai-nilai spiritual yang bersumberkan pada agama semakin dibutuhkan
masyarakat masa depan.

11
b. Strategi Peningkatan Kualitas Dan Cara Mengukurnya
Agar sekolah-sekolah unggulan yang bernuansa islam tetap tahan dan mampu merespons
kebutuhan masyarakat pada setiap zaman maka ia harus, memiliki strategi peningkatan kualitas
dan cara pengukuranya yang efektif. Untuk mengukur berhasil tidaknya strategi tersebut dapat
dilihat melalui berbagai indicator sebagai berikut; (1) secara akademik, lulusan pendidikan
tersebut dapat melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. (2) secara moral, lulusan pendidikan
tersebut dapat menunjukkan tanggung jawab. (3) secara individual, lulusan pendidikan tersebut
semakin meningkat ketakwaanya.
B. Mencari Rumusan Sistem Pendidikan Yang Islami
Pendidikan yang islami adalah pendidikan yang mendasarkan konsepsinya pada ajaran tauhid.
Dengan dasar ini, maka orientasi pendidikan islam diarahkan pada upaya mensucikan diri dan
memberikan penerangan jiwa, sehingga setiap diri manusia mampu meningkatkan dirinya dari
tingkatan iman ke tingkat ihsan yang melandasi seluruh bentuk kerja kemanusiaanya (amal
saleh). Dengan demikian, pendidikan yang islami tidak lain adalah upaya mengefektifkan
aplikasi nilai-nilai agama yang dapat menimbulkan transformasi nilai dan pengetahuan secara
utuh kepada manusia, masyarakat dan dunia pada umumnya.
BAB V PENDIDIKAN DAN MORAL BANGSA A. Pendidikan Agama dan Moral dalam
Perspektif Global
Pendidikan agama dan pendidikan moral mendapatkan tempat yang wajar dan leluasa dalam
sistem pendidikan nasional indoneisa. Adapun moral adalah kelakuan yang sesuai dengan
ukuran-ukuran (nilai-nilai) masyarakat, yang timbul dari hati dan bukan paksaan dari luar, yang
disertai oleh rasa tanggung jawab atas kelakuan (tindakan) tersebut.
Dari uraian tersebut bahwa pembinaan moral erat kaitanya dengan pendidikan agama. Oleh
karena itu, pendidikan agama perlu ditingkatkan kualitasnya dengan melibatkan unsure kedua
orang tua/rumah tangga, sekolah, dan masyarakat. Serta dengan menggunakan berbagai cara
yang efektif. Pembinaan moral bukan hanya menjadi tanggung jawab guru agama saja, tetapi
tanggung jawab seluruh guru.
B. Etika, Moral, Budaya, Dan Kaidah Agama Sebagai Perekat Persatuan Dan Kesatuan
Bangsa
Istilah etika mengacu kepada aturan normatif tentang baik dan buruk yang bersumber pada
pemikiran rasional yang jernih. Sedangkan moral terkait dengan upaya menjunjung tinggi
nilainilai ideal yang universal seperti kemanusiaan, kejujuran, keadilan, kesederajatan, dan lain
sebagainya. Selanjutnya budaya atau kebudayaan dapat diartikan sebagai hasil kegiatan dan

12
penciptaan batin (akal budi) manusia yang dapat mengambil bentuk kepercayaan, kesenian, adat
istiadat. Berdasarkan uraian tersebut bahwa etika, moral, budaya, dan kaidah-kaidah agama
berpotensi untuk digunakan sebagai perekat persatuan dan kesatuan bangsa. Namun hal ini baru
bisa terwujud apabila memiliki pandangan dan pemahaman yang utuh, komprehensif dan benar
terhadap ajaran islam.
C. Urgensi Pendidikan Akhlak Bagi Remaja
Sejalan dengan faktor pendidikan akhlak bagi remaja, maka pendidikan akhlak bagi para
remaja ini amat urgen untuk dilakukan dan tidak dapat dipandang ringan. Dengan terbinanya
akhlak para remaja ini berarti kita telah memberikan sumbangan yang besar bagi penyiapan masa
depan bangsa yang lebih baik. Pembinaan para remaja juga berguna baik bagi remaja
bersangkutan, karena dengan cara demikian masa depan kehidupan mereka akan penuh harapan
yang menjanjikan.

D. Peran Pendidikan Dalam Mengatasi Krisis Akhlak


Krisis akhlak pada kaum elit politik terlihat dengan adanya penyelewengan, penindasan,
saling menjegal, adu domba, fitnah, menjilat, dan sebagainya. Pernyataan ini member petunjuk
bahwa akhlak sebagian besar para elite politik yang pernah dan sedang berkuasa saat ini
benarbenar telah merosot dan berdampak pada hilangnya wibawa mereka. Sementara itu krisis
akhlak yang menimpa pada masyarakat umum terlihat pada sebagian sikap mereka yang dengan
mudah rampas hak orang lain (menjarah), dan main hakim sendiri.
Sedangkan krisis akhlak yang menimpa kalangan pelajar terlihat dari banyaknya keluhan
orang tua, dan orang-orang yang berkecimpung dalam bidang agama dan sosial berkenan dengan
ulah sebagian pelajar yang nakal, keras kepala, sering membuat keonaran, dan mabukmabukkan.
Bahkan sudah melakukan pemerkosaan dan pembunuhan.

E. Paradigma Baru Pendidikan Nasional Yang Berorientasi Kerakyatan (Telah Kritis


Terhadap Sistem Pendidikan Di Indonesia)
Dalam rangka membangun paradigma pendidikan nasional yang berorientasi kerakyatan mau
tidak mau harus meninjau kembali pelaksanaan pendidikan di Indonesia saat ini yang penuh
dengan berbagai pelaksanaan. Jika hal ini terus dibiarkan, maka upaya meningkatkan mutu dan
martabat bangsa Indonesia agar mampu bersaing dan mencapai taraf yang sama dengan
bangsabangsa lain yang telah maju akan sulit dicapai.

13
BAB VI PENDIDIKAN KEDEWASAAN BERBEDA PENDAPAT A. Etika Dalam
Mengelola Perbedaan Pendapat (Ikhtilafiyah)
Ajaran islam yang terdapat dalam Al-Qur’an dan Al-Sunnah diakui sebagai kebenaran mutlak
yang bersifat ideal dan tidak akan mengalami perubahan sepanjang zaman. Namun ajaran yang
terdapat dalam kedua sumber tersebut ”belum siap dipakai”, karena ketika ajaran-ajaran yang
terdapat dalam kedua sumber tersebut akan diaktualisasikan mau tidak mau melibatkan penalaran
melalui proses yang dinamai ijtihad.
B. Peta Keragaman Pemikiran Islam Di Indonesia (Studi Tentang Pendidikan Kedewasaan
Berbeda Pendapat)
Secara empiris kita melihat ahwa ajara islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.
Keragaman wajah islam ini disamping dapat menimbulkan keuntungan, yaitu di samping
semakin menambah kekayaan khanzanah intelektual islam, juga semakin membuka banyak
pilihan bagi umat islam.
Namun kenyataannya menunjukan bahwa upaya untuk mendekatkan pemahaman keislam
yang satu dengan pemahaman keislaman yang lainnya begitu sulit. Dan, sekali pun tidak terjadi
konflik ke permukaan antara berbagai keragaman pemahaman islam tersebut, namun hal ini
bersifat semu.
Di masa yng akan datang boleh jadi variasi dan nuansa paham keislaman ini akan semakin
berkembang, sejalan dengan semakin keislaman ini akan semakin berkembang, sejalan dengan
semakin beragamnya metode, pendekatan dan keahlian yang dimiliki para penganutnya serta
tuntutan perkembangan masyarakat yang terjadi. Selain itu, adanya keanekaragaman paham
keislaman tersebut diharapkan dapat memberikan suasana bagi pelaksanaan pendidikan
kedewasaan berpendapat, yaitu sikap yang melihat perbedaan pendapat sebagai karunia Tuhan.
Selain itu, pendidikan kedewasaan berpendapat ini dapat dibangun dari kesadaran untuk
melaksanakan suatu prinsip sepakat untuk berbeda pendapat. Jika kedewasaan berpendapat ini
dapat ditegakkan, maka strategi mengelola perbedaan pendapat menjadi rahmat dapat
diwujudkan.

BAB VII ORGANISASI DAN METODOLOGI PENGAJARAN A. Organisasi Pengelola


Sarana Keagamaan Yang Efektif 1. Pengertian Organisasi Pengelola Sarana Keagamaan
Kata organisasi berasal dari bahasa inggris, organization, yang berarti organisasi atau hal yang
mengatur. Dalam kamus umum bahasa Indonesia, W.J.S. Poerwadarminta mengartikan

14
organisasi sebagai susunan dan aturan dari berbagai bagian (orang dan sebagainya) sehingga
merupakan satu kesatuan yang teratur. Sedangkan kata sarana dapat berarti alat, yaitu barang apa
yang dipakai untuk mengerjakan sesuatu, atau sesuatu yang dipakai untuk mencapai suatu
maksud. Adapun agama adalah segenap kepercayaan (kepada Tuhan ) dengan segala kewajiban
yang berkaitan dengan kepercayaan tersebut.
Dengan mengemukakan definisi kata diatas, kiranya dapat diambil suatu pengertian bahwa
yang dimaksud dengan organisasi pengelola sarana keagamaan adalah suatu susunan atau aturan
yang sengaja dibuat dan ditujukan untuk mengelola berbagai peralatan yang biasa digunakan
dalam rangka melaksanakan kegiatan keagamaan.
Adapun upaya untuk mewujudkan organisasi pengelola sarana keagamaan yang efektif yaitu;
pertama, organisasi tersebut harus memiliki visi misi dan tujuan yang jelas yang diarahkan pada
upaya mewujudkan cita-cita islam. Kedua, organisasi tersebut harus dipimpin oleh orang yang
memiliki visi, capability, loby, dan morality.
B. Prinsip Dan Variasi Metodologi Pengajaran
1) Penguasaan terhadap prinsip dan variasi metodologi pengajaran merupakan bagian
keterampilan yang harus dikuasai oleh seorang guru atau dosen yang professional.
2) Pengesuaan terhadap ilmu secara prima mengharuskan seorang dosen secara terus-menerus
meningkatkan pengetahuanya, sedangkan penguasaan terhadap cara menyampaikan
pengetahuan mengharuskan dosen menguasai prinsip, tekhnik, dan variasi pengajaran.
3) Prinsip yang harus ditegakkan dalam bangunan metodologi pengajaran diantaranya yang
terpenting adalah; (1) prinsip kesesuaian dengan psikologi perkembangan jiwa anak, (2)
prinsip kesesuaian dengan bakat anak, (3) prinsip kesesuaian dengan bidang ilmu yang akan
diajarkan, (4) prinsip kesesuaian dengan tujuan cita-cita pendidikan yang akan dilaksanakan,
(5) prinsip kesesuaian dengan tingkat kecerdasan peserta didik.
4) ketetapan dan kesesuaian metode yang diterapkan atau digunakan dalam suatu pengajaran
amat bergantung pada kemampuan dosen dalam memilih metode tersebut yang disesuaikan
dengan pertimbangan prinsip-prinsip. Sebagaimana, telah disebutkan di atas.

BAB VIII MATERI POKOK PENDIDIKAN ISLAM A. Mengenal Allah


Mengenal allah adalah merupakan bagian essensial dari ajaran islam yang pertama kali harus
dilakukan sebelum seseorang mempelajari bagian ajaran islam lainya. Namum upaya mengenai

15
allah bukanlah termasuk masalah yang mudah. Dalam suatu riwayat di sebutkan, bahwa Nabi
Mumammad SAW.
Berdasarkan uraian tersebut, maka pengenalan terhadap Tuhan tidak dapat disamakan dengan
pengenalan terhadap sesuatu. Pengenalan terhadap Tuhan bersifat khas, unik, dan tidak terbatas
pada definisi yang dibuat manusia. Pengenalan tuhan tidak dapat digunakan melalui akal,
melainkan melalui kekuatan absolute yang ada dalam diri manusia.

Dari uraian tersebut dapat diketahui bahwa cara mengenal Allah dapat dilakukan dengan
menggunakan fitrah insting beragama yang ada dalam setiap diri manusia. Disana tertampung
berbagai emosi manusia seperti rasa takut, harap, cemas, cinta, kesetiaan, pengagungan,
penyucian, dan berbagai macam lainya yang menghiasi jiwa manusia.
Selanjutnya pengenalan terhadap tuhan dapat dilakukan dengan pendekatan sufistik, yaitu
pendekatan yang menggunakan kekuatan rohaniah yang ada dalam diri manusia. Pendekatan ini
diperkuat dengan munculnya para sufi sepanjang zaman yang memiliki kesamaan-kesamaan
pengalaman spiritual, yaitu pengalaman berkomunikasi secara batiniah dengan Tuhan.
B. Dasar-Dasar Memahami Al-quraan Dan Hadis
Al-Qur’an dan Hadis merupakan dasar utama ajaran Islam, karena dari kedua dasar tersebut
dapat dikembangkan berbagai disiplin studi Islam, seperti Tafsir, Hadis, Fikih, Ilmu Kalam,
Akhlak, dan lain sebagainya.

16
BAB III
PEMBAHASAN

A. Pembahasan Isi Buku


Di BAB I buku pembanding terdapat judul mengenai Pendidikan yang dibagi dalam
pengertian pendidikan, tujuan pendidikan, lembaga dan praktik pendidikan, pendidikan sebagai
sitem, dan implikasi konsep pendidikan.
Pendidikan pada umumnya, yaitu pendidikan yang dilakukan oleh masyarakat umum.
Pendidikan seperti ini sudah ada semenjak manusia ada di muka bumi. Sedangkan didalam buku
Utama di bagian BAB V terdapat judul pendidikan dan moral bangsa yang berkesinambungan
dalam pendidikan di buku pembanding. Disini menjelaskan tentang moral adalah kelakuan yang
sesuai dengan ukuran-ukuran (nilai-nilai) masyarakat, yang timbul dari hati dan bukan paksaan
dari luar, yang disertai pula oleh rasa tanggung jawab atas kelakuan (tindakan) tersebut.
Didalam buku utama di BAB IV terdapat judul yang membahas Profesionalisme Guru dan
Mubaligh
a. Kode Etik Profesi Guru Dalam Konteks Peningkatan Mutu Pendidikan
Buku manajemen pendidikan yang diriview adalah professionalism guru dan mubaligh.
Pendidikan merupakan proses interaksi antara guru (pendidik) dengan peserta didik (siswa) untuk
mencapai tujuan-tujuan pendidikan yang ditentukan. Pendidik, peserta didik dan tujuan
pendidikan merupakan komponen utama pendidikan. Ketiganya membentuk suatu triangle, yang
jika hilang salah satunya, maka hilang pulalah hakikat pendidikan.
Kode etik berasal dari dua kata, kode yang berarti tulisan (kata-kata, tanda) sedangkan etik
dapat berarti aturan susila, sikap, atau akhlak. Dengan demikian, kode etik secar kebahasaan
berarti ketentuan atau atuan yang berkenaan dengan tata susila dan akhlak. Akhllak itu sendiri
sebagai disebutkan oleh Ibn M Miskawaih dan Iman Algazali (w.11 11 M).

17
Sedangkan profesionalisasi pendidik di dalam BAB VIII yang ada dibuku pembanding
landasan pendidikan, pendidik mempunyai dua arti, ialah arti yang luas dan arti yang sempit.
Pendidik dalam arti luas adalah semua orang yang berkuajiban membina anak-anak. Sementara
itu peendidik dalaam arti sempit adalah orang-orag yang disiapkan dengan sengaja untuk
menjadi guru dan dosen.

B. Kelebihan dan Kekurangan Buku


Buku Utama
1. Dilihat dari aspek tampilan buku, buku yang diriview dan buku pembanding
Buku utama; dilihat dari tampilan cover buku utama lebih menarik karena memiliki warna
yang netral dan tidak norak. Akan tetapi sayang bahan isi bukunya sedikit kurang tebal
karena buku utama lebih sedikit isi halamanya dibandingkan buku pembanding.
2. Dilihat dari tata tulis, termasuk penggunaan font
Ukuran tulisan buku sudah pas, karena tidak terlalu kecil dan tidak terlalu besar. Ukuran
font mudah untuk dibaca oleh pembaca.
3. Dari aspek tata bahasa ; tata bahasa yang ada didalam buku utama sudah bagus, letak kanan
kirinya sudah sejajar. Pembahasan yang ada di dalam Bab tersebut mudah dipahami oleh
pembaca.

Buku Pembanding
1. Dilihat dari tampilan cover; buku pembanding juga bewarna, akan tetapi warnanya begitu
kurang bagus. Buku pembanding ini memiliki bahan buku yang tebal daripada buku utama.
Ia memiliki jumlah halaman yang begitu lebih banyak
2. Dilihat dari tata tulis. Tulisan yang ada dibuku pembanding ada yang kurang jelas
kemudian bahasa yang digunakan di dalam buku tersebut menggunakan bahasa yang tidak
baku sehingga, tidak mudah untuk dipahami oleh pembaca.
3. Penggunaan ukuran font sudah pas dan mudah untuk dibaca.

18
BAB IV
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Profesi umumnya berkembang dari pekerjaan (vocation) yang kemudian berkembang makin
matang. Selain itu, dalam bidang apapun profeionalisme seseorang ditunjang oleh tiga hal.
Ketiga hal itu ialah keahlian, komitmen dan ketermpilan yang relevan yang membentuk sebuah
segitiga sama sisi yang di tengahnya terletak profesionalisme. Suatu pekerjaan disebut suatu
profesi apabila mempunyai ciri: 1) pekerjaan itu mempunyai fungsi dan signifikansi sosial karena
diperlukan mengabdi kepada masyarakat atau pengakuan masyarakat, 2) profesi menuntut
keterampian tertentu yang diperoleh lewat pendidikan dan latihan yang lama, 3) profesi didukung
oleh suatu disiplin ilmu, 4) adanya kode etik, dan 5) anggota profesi secara perorangan dan
kelompok memperoleh imbalan finansial atau material.
Guru adalah suatu sebutan bagi jabatan, posisi, dan profesi bagi seseorang yang mengabdikan
dirinya dalam bidang pendidikan melalui interaksi edukatif secara terpola, formal, dan sistematis.
Dalam UU Nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen (pasal 1) dinyatakan bahwa: “Guru
adalah pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing,
mengarahkan, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada jalur pendidikan formal, pada
jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah.

B. REKOMENDASI
Guru professional akan tercermin dalam penampilan pelaksanaan tugas-tugas yang ditandai
dengan keahlian baik dalam materi maupun metode pembelajaran. Keahlian yang diperoleh
melalui suatu proses pendidikan dan pelatihan yang di programkan secara khusus.

19
DAFTAR PUSTAKA
Nata, A. (2008). Manajemen Pendidikan . Jakarta: Prenada Media Group.
Pidarta, M. (2007). Landasan Kependidikan . Jakarta : PT Rineka Cipta.

20
LAMPIRAN SAMPUL BUKU

21