Anda di halaman 1dari 20

A.

Anatomi Sistem SarafPusat

Otak terdiri dari serebrum, serebelum, dan batang otak yang dibentuk

oleh mesensefalon, pons, dan medulla oblongata. Bila kalvaria dan dura mater

disingkirkan, di bawah lapisan arachnoid mater kranialis dan pia mater

kranialis terlihat gyrus, sulkus, dan fisura korteks serebri. Sulkus dan fisura

korteks serebri membagi hemisfer serebri menjadi daerah lebih kecil yang

disebut lobus (Moore & Argur,2014).

Gambar 3. Bagian-bagian Otak (Sumber: Centers for Disease Control and


Prevention (CDC),2004.)

Seperti terlihat pada gambar di atas, otak terdiri dari tiga bagian, yaitu:
1. Serebrum (Otak Besar)

Serebrum adalah bagian terbesar dari otak yang terdiri dari dua

hemisfer. Hemisfer kanan berfungsi untuk mengontrol bagian tubuh sebelah

kiri dan hemisfer kiri berfungsi untuk mengontrol bagian tubuh sebelah

kanan. Masing-masing hemisfer terdiri dari empat lobus. Bagian lobus yang

menonjol disebut gyrus dan bagian lekukan yang menyerupai parit disebut

sulkus. Keempat lobus tersebut masing-masing adalah lobus frontal, lobus

parietal, lobus oksipital dan lobus temporal (CDC, 2014).

a. Lobus parietal merupakan lobus yang berada di bagian tengahserebrum.

Lobus parietal bagian depan dibatasi oleh sulkus sentralis dan bagian

belakang oleh garis yang ditarik dari sulkus parieto-oksipital ke ujung

posterior sulkus lateralis (Sylvian). Daerah ini berfungsi untuk menerima

impuls dari serabut saraf sensorik thalamus yang berkaitan dengan

segala bentuk sensasi dan mengenali segala jenis rangsangan somatik

(Ellis,2013).

b. Lobus frontal merupakan bagian lobus yang ada di bagian paling depan

dari serebrum. Lobus ini mencakup semua korteks anterior sulkus sentral

dari Rolando. Pada daerah ini terdapat area motorik untuk mengontrol

gerakan otot-otot, gerakan bola mata; area broca sebagai pusat bicara;

dan area prefrontal (area asosiasi) yang mengontrol aktivitas intelektual

(Ellis,2013).

c. Lobus temporal berada di bagian bawah dan dipisahkan dari lobus

oksipital oleh garis yang ditarik secara vertikal ke bawah dari ujung atas

sulkus lateral. Lobus temporal berperan penting dalamkemampuan


pendengaran, pemaknaan informasi dan bahasa dalam bentuk suara

(Ellis, 2013).

d. Lobusoksipitalberadadibelakanglobusparietaldanlobustemporal.

Lobus ini berhubungan dengan rangsangan visual yang memungkinkan

manusia mampu melakukan interpretasi terhadap objek yang ditangkap

oleh retina mata (Ellis, 2013).

Apabila diuraikan lebih detail, setiap lobus masih bisa dibagi menjadi

beberapa area yang punya fungsi masing-masing, seperti terlihat pada

gambar di bawah ini.

Gambar 4. Area Otak (http://apbrwww5.apsu.edu)

2. Serebelum (OtakKecil)

Serebelum atau otak kecil adalah komponen terbesar kedua otak.

Serebelum terletak di bagian bawah belakang kepala, berada dibelakang


batang otak dan di bawah lobus oksipital, dekat dengan ujung leher bagian

atas. Serebelum adalah pusat tubuh dalam mengontrol kualitas gerakan.

Serebelum juga mengontrol banyak fungsi otomatis otak, diantaranya:

mengatur sikap atau posisi tubuh, mengontrol keseimbangan, koordinasi

otot dan gerakan tubuh. Selain itu, serebelum berfungsi menyimpan dan

melaksanakan serangkaian gerakan otomatis yang dipelajari seperti gerakan

mengendarai mobil, gerakan tangan saat menulis, gerakan mengunci pintu

dan sebagainya (Clark, 2015).

3. BatangOtak

Batang otak berada di dalam tulang tengkorak atau rongga kepala

bagian dasar dan memanjang sampai medulla spinalis. Batang otak bertugas

untuk mengontrol tekanan darah, denyut jantung, pernafasan, kesadaran,

serta pola makan dan tidur. Bila terdapat massa pada batang otak maka

gejala yang sering timbul berupa muntah, kelemahan otat wajah baik satu

maupun dua sisi, kesulitan menelan, diplopia, dan sakit kepala ketika

bangun (CDC, 2015).

Batang otak terdiri dari tiga bagian, yaitu:

a. Mesensefalon atau otak tengah (disebut juga mid brain) adalah bagian

teratas dari batang otak yang menghubungkan serebrum dan serebelum.

Saraf kranial III dan IV diasosiasikan dengan otak tengah. Otak tengah

berfungsi dalam hal mengontrol respon penglihatan, gerakanmata,


pembesaran pupil mata, mengatur gerakan tubuh dan pendengaran

(Moore & Argur,2013).

b. Pons merupakan bagian dari batang otak yang berada diantara

midbrain dan medulla oblongata. Pons terletak di fossa kranial

posterior. Saraf Kranial (CN) V diasosiasikan dengan pons (Moore

& Argur,2013).

c. Medulla oblongata adalah bagian paling bawah belakang dari batang

otak yang akan berlanjut menjadi medulla spinalis. Medulla

oblongata terletak juga di fossa kranial posterior. CN IX, X, dan XII

disosiasikan dengan medulla, sedangkan CN VI dan VIII berada

pada perhubungan dari pons dan medulla (Moore & Argur,2013).

B. Pengertian SOL

SOL (Space Occupying Lesion) merupakan generalisasi masalah tentang


adanya lesi pada ruang intracranial khususnya yang mengenai otak. Banyak penyebab
yang dapat menimbulkan lesi pada otak seperti kuntusio serebri, hematoma, infark,
abses otak dan tumor intra kranial. ( Long, C 2015 ; 130 ).

Pada laporan pendahuluan ini penulis hanya membatasi pada salah satu
penyebab yaitu tumor otak.Tumor Otak adalah proses pertumbuhan termasuk benigna
dan maligna yang mengenai otak dan sumsum tulang belakang ( Bullock, 2015 ).

C. Etiologi
Faktor Resiko, tumor otak dapat terjadi pada setiap kelompok Ras, insiden
meningkat seiring dengan pertambahan usia terutama pada dekade kelima, keenam
dan ketujuh .faktor resiko akan meningkat pada orang yang terpajan zat kimia tertentu
( Okrionitil, tinta, pelarut, minyak pelumas ), namun hal tersebut belum bisa
dipastikan. Pengaruh genetik berperan serta dalam tibulnya tumor, penyakit sklerosis
TB dan penyakit neurofibomatosis.
Adapun faktor - faktor yang perlu ditinjau adalah sebagai berikut :
1. Herediter
Riwayat tumor otak dalam satu anggota keluarga jarang ditemukan kecuali
pada meningioma, astrositoma dan neurofibroma dapat dijumpai pada
anggotaanggota sekeluarga. Sklerosis tuberose atau penyakit Sturge-Weber yang
dapat dianggap sebagai manifestasi pertumbuhan baru, memperlihatkan faktor
familial yang jelas.
2. Sisa-sisa Sel Embrional (Embryonic Cell Rest).
Bangunan-bangunan embrional berkembang menjadi bangunan-bangunan
yang mempunyai morfologi dan fungsi yang terintegrasi dalam tubuh. Tetapi ada
kalanya sebagian dari bangunan embrional tertinggal dalam tubuh, menjadi ganas dan
merusak bangunan di sekitarnya.

3. Radiasi
Jaringan dalam sistem saraf pusat peka terhadap radiasi dan dapat mengalami
perubahan degenerasi, namun belum ada bukti radiasi dapat memicu terjadinya suatu
glioma.
4. Virus
Banyak penelitian tentang inokulasi virus pada binatang kecil dan besar yang
dilakukan dengan maksud untuk mengetahui peran infeksi virus dalam proses
terjadinya neoplasma, tetapi hingga saat ini belum ditemukan hubungan antara infeksi
virus dengan perkembangan tumor pada sistem saraf pusat.
5. Substansi-substansi Karsinogenik
Penyelidikan tentang substansi karsinogen sudah lama dan luas dilakukan.
Kini telah diakui bahwa ada substansi yang karsinogenik seperti methylcholanthrone,
nitroso-ethyl-urea. Ini berdasarkan percobaan yang dilakukan pada hewan.
D. Tanda dan gejala
Adapun tanda dan gejala SOL adalah sebagai berikut :
1. Tanda dan gejala peningkatan TIK :

 Sakit kepala
 Muntah
 Papiledema

2. Gejala terlokalisasi ( spesifik sesuai dengan dareh otak yang terkena ) :

 Tumor korteks motorik ; gerakan seperti kejang kejang yang terletak pada satu
sisi tubuh (kejang jacksonian).
 Tumor lobus oksipital ; hemianopsia homonimus kontralateral (hilang
Penglihatan pada setengah lapang pandang , pada sisi yang berlawanan
dengan tumor) dan halusinasi penglihatan
 Tumor serebelum ; pusing, ataksia, gaya berjalan sempoyongan dengan
kecenderungan jatuh kesisi yang lesi, otot otot tidak terkoordinasi dan
nistagmus (gerakan mata berirama dan tidak disengaja).
 Tumor lobus frontal ; gangguan kepribadia, perubahan status emosional dan
tingkah laku, disintegrasi perilaku mental., pasien sering menjadi ekstrim
yang tidak teratur dan kurang merawat diri.
 Tumor sudut serebelopontin ; tinitus dan kelihatan vertigo, tuli (gangguan
saraf kedelapan), kesemutan dan rasa gatal pada wajah dan lidah (saraf
kelima), kelemahan atau paralisis (saraf kranial keketujuh), abnormalitas
fungsi motorik.
 Tumor intrakranial bisa menimbulkan gangguan kepribadian, konfusi,
gangguan bicara dan gangguan gaya berjalan terutam pada lansia. ( Brunner &
Sudarth, 2003 ; 2170 )  
E. Patofisologi
Tumor otak menyebabkan timbulnya ganguan neurologik progresif, gangguan
neurologik pada tumor otak biasanya disebabkan oleh dua factor-faktor gangguan
fokal akibat tumor dan peningkataan TIK.
Gangguan fokal terjadi apabila terdapat penekanan pada jaringan otak, dari
infiltrasi atau invasi langsung pada parenkim otak dengan kerusakan jaringan neural.
Perubahan suplai darah akibat tekanan tumor yang bertumbuh menyebabkan nekrosis
jaringan otak.
Peningkatan TIK dapat disebabkan oleh beberapa factor : bertambahnya
massa dalam tengkorak, terbentuknya edema sekitar tumor, dan perubahan sirkulasi
cairan serebrospinal. Beberepa tumor dapat menyebabkan pendarahan. Obstruksi
vena dan edema akibat kerusakan sawar darah otak, semuanya menimbulkan volume
intracranial dan TIK.
Mekanisme kompensasi akan bekerja menurunkan volume darah ntrakranial,
volume CSF< kandunan cairan intra sel dan mengurangi sel-sel parenkim.
Peningkatan tekanan yang tidak diobati mengakibatkan terjadinya herniasi unkus atau
serebelum. Herniasi menekan mensefalon menyebabkan hilangnya kesadaran. Pada
herniasi serebelum, tonsil bergeser ke bawah melalui foramen magnum oleh suatu
massa posterior. Kompresi medulla oblongata dan henti nafas terjadi dengan cepat,
perubahan fisiologis lain yang terjadi akibat peningkatan TIK adalah bradikardia
progresif, hipertensi sistemik ( pelebaran nadi) dan gagal nafas. (price Sylvia A.2005:
1187).
Fathway SOL

Fathway SOL

F. Pemeriksaan Diagnostik
1. CT Scan ; memberi informasi spesifik mengenai jumlah, ukuran, kepadatan,
jejas tumor dan meluasnya odema cerebral serta memberi informasi tentang
sistem vaskuler
2. MRI ; membantu dalam mendeteksi tumor didalam batang otakdan daerah
hiposisis, dimana tulang menggangu dalam gambaran yang menggunakan CT
Scan
3. Biopsi Stereotaktik ; dapat mendiagnosa kedudukan tumor yang dalam dan
untuk memberi dasar pengobatan serta informasi prognosis.
4. Angiografi ; memberi gambaran pembuluh darahserebral dan letak tumor
5. Elektro ensefalografi ; mendeteksi gelombang otak abnormal pada daerah
yang ditempati tumor dan dapat memungkinkan untuk mengevaluasi lobus
temporal pada waktu kejang. ( Doenges, 2014 )

G. Komplikasi
1. Gangguan fungsi neurologis.
Jika tumor otak menyebabkan fungsi otak mengalami gangguan pada
serebelum maka akan menyebabkan pusing, ataksia ( kehilangan keseimbangan ) atau
gaya berjalan yang sempoyongan dan kecenderunan jatuh ke sisi yang lesu, otot-otot
tidak terkoordinasi dan ristagmus ( gerakan mata berirama tidak disengaja ) biasanya
menunjukkan gerakan horizontal
2. Gangguan kognitif.
Pada tumor otak akan menyebabkan fungsi otak mengalami gangguan
sehingga dampaknya kemampuan berfikir, memberikan rasional, termasuk proses
mengingat, menilai, orientasi, persepsi dan memerhatikan juga akan menurun.
3. Gangguan tidur & mood
Tumor otak bisa menyebabkan gangguan pada kelenjar pireal, sehingga
hormone melatonin menurun akibatnya akan terjadi resiko sulit tidur, badan malas,
depresi, dan penyakit melemahkan system lain dalam tubuh.

4. Disfungsi seksual
 Pada wanita mempunyai kelenjar hipofisis yang mensekresi kuantitas
prolaktin yang berlebihan dengan menimbulkan amenurrea atau galaktorea
(kelebihan atau aliran spontan susu).
 Pada pria dengan prolaktinoma dapat muncul dengan impoteni dan
hipogonadisme. Gejala pada seksualitas biasanya berdampak pada hubungan
dan perubahan tingkat kepuasan.

H. Penatalaksanaan
Metode umum untuk penatalaksanaan tumor otak meliputi :
1. Pembedahan
Pembedahan intracranial biasanya dilakukan untuk seluruh tipe kondisi
patologi dari otak untuk mengurangi TIK dan mengangkat tumor. Pembedahan ini
dilakukan melalui pembukaan tengkorak, yang disebut dengan Craniotomy.

Perawatan pre operasi pada pasien yang dilakukan pembedahan intracranial adalah :

 Mengkaji keadaan neurologi dan psikologi pasien


 Memberi dukungan pasien dan keluarga untuk mengurangi perasaanperasaan
takut yang dialami.
 Memberitahu prosedur tindakan yang akan dilakukan untuk meyakinkan
pasien dan mengurangi perasaan takut.
 Menyiapkan lokasi pembedahan, yaitu: kepala dengan menggunakan shampo
antiseptik dan mencukur daerah kepala.

Menyiapkan keluarga untuk penampilan pasien yang dilakukan pembedahan, meliput:

 Balutan kepala.
 Edema dan ecchymosis yang biasanya terjadi dimuka.
 Menurunnya status mental sementara.

Perawatan post operasi, meliputi :


 Mengkaji status neurologi dan tanda-tanda vital setiap 30 menit untuk 4 - 6
jam pertama setelah pembedahan dan kemudian setiap jam. Jika kondisi stabil
pada 24 jam frekuensi pemeriksaan dapat diturunkan setiap 2 samapai 4 jam
sekali.
 Monitor adanya cardiac aritmia pada pembedahan fossa posterior akibat
ketidakseimbangan cairan dan elektrolit
 Monitor intake dan output cairan pasien. Batasi intake cairan sekitar 1.500 cc /
hari.
 Lakukan latihan ROM untuk semua ekstremitas setiap pergantian dinas.
 Pasien dapat dibantu untuk alih posisi, batuk dan napas dalam setiap 2 jam.
 Cek sesering mungkin balutan kepala dan drainage cairan yang keluar.
 Lakukan pemeriksaan laboratorium secara rutin, seperti : pemeriksaan darah
lengkap, serum elektroit dan osmolaritas, PT, PTT, analisa gas darah.
 Memberikan obat-obatan sebagaimana program, misalnya :
antikonvulsi,antasida, atau antihistamin reseptor, kortikosteroid.
 Melakukan tindakan pencegahan terhadap komplikasi post operasi.

2. Radioterapi
Biasanya merupakan kombinasi dari terapi lainnya tapi tidak jarang pula
merupakan therapi tunggal. Adapun efek samping : kerusakan kulit di sekitarnya,
kelelahan, nyeri karena inflamasi pada nervus atau otot pectoralis, radang tenggorkan.

3. Kemoterapi
Kemoterapi dilakukan dalam berbagai cara, termasuk secara sistemik,
intracranial atau dengan memasukkan polimer yang membawa agen kemoterapi
secara langsung ke jaringan tumor. Masalah utama dengan komplikasi depresi sum-
sum tulang, paru, dan hepar tetap merupakan factor penyulit utama dalam
kemoterapi. Sawar darah otak juga mempersulit pemberian agen kemoterapi.
Penelitian sawar darah otak dengan manitol hiperosmotik member hasil yang
mengecewakan, penelitian mengenai penggunaan dexametason untuk menutup sawar
darah otak dan efek obat antiepilepsi pada metabolism obat kemoterapi masih terus
dilakukan dan mulai memberikan hasil.

4. Manipulasi hormonal.
Biasanya dengan obat golongan tamoxifen untuk tumor yang sudah
bermetastase.
5. Terapi Steroid
Steroid secara dramatis mengurangi edema sekeliling tumor intrakranial,
namun tidak berefek langsung terhada tumor.Pemilihan terapi ditentukan dengan tipe
dan letak dari tumor. Suatu kombinasi metode sering dilakukan.
6. Terapi Antibiotik, kombinasi dengan antibiotik spectrum luas, antibiotic yang
dipakai :
penicillin, chloramphenicol dan nafacillen. bila telah diketahui bakteri aneorob,
metrodiazelo juga dipakai.

I. ASKEP SOL
a. Pengkajian
1. Data dasar ; nama, umur, jenis kelamin, status perkawinan, alamat, golongan
darah, penghasilan
2. Riwayat kesehatan ; apakah klien pernah terpajan zat zat kimia tertentu,
riwayat tumor pada keluarga, penyakit yang mendahului seperti sklerosis TB
dan penyakit neurofibromatosis, kapan gejala mulai timbul
3. Aktivitas / istirahat, Gejala : kelemahan / keletihan, kaku, hilang
keseimbangan. Tanda : perubahan kesadaran, letargi, hemiparese, quadriplegi,
ataksia, masalah dalam keseimbangan, perubaan pola istirahat, adanya faktor
faktor yang mempengaruhi tidur seperti nyeri, cemas, keterbatasan dalam hobi
dan dan latihan
4. Sirkulasi, gejala : nyeri kepala pada saat beraktivitas. Kebiasaan : perubahan
pada tekanan darah atau normal, perubahan frekuensi jantung.
5. Integritas Ego, Gejal : faktor stres, perubahan tingkah laku atau kepribadian,
Tanda : cemas, mudah tersinggung, delirium, agitasi, bingung, depresi dan
impulsif.
6. Eliminasi : Inkontinensia kandung kemih/ usus mengalami gangguan fungsi.
7. makanan / cairan , Gejala : mual, muntah proyektil dan mengalami perubahan
selera. Tanda : muntah (mungkin proyektil), gangguan menelan (batuk, air liur
keluar, disfagia)
8. Neurosensori, Gejala : Amnesia, vertigo, synkop, tinitus, kehilangan
pendengaran, tingling dan baal pad aekstremitas, gangguan pengecapan dan
penghidu. Tanda : perubahan kesadaran sampai koma, perubahan status
mental, perubahan pupil, deviasi pada mata ketidakmampuan mengikuti,
kehilangan penginderaan, wajah tidak simetris, genggaman lemah tidak
seimbang, reflek tendon dalam lemah, apraxia, hemiparese, quadriplegi,
kejang, sensitiv terhadap gerakan
9. Nyeri / Kenyamanan, Gejala : nyeri kepala dengan intensitas yang berbeda
dan biasanya lama. Tanda : wajah menyeringai, respon menarik dri
rangsangan nyeri yang hebat, gelisah, tidak bisa istirahat / tidur.
10. Pernapasan, Tanda : perubahan pola napas, irama napas meningkat, dispnea,
potensial obstruksi.
11. Hormonal : Amenorhea, rambut rontok, dabetes insipidus.
12. Sistem Motorik : scaning speech, hiperekstensi sendi, kelemahan
13. keamanan , Gejala : pemajanan bahan kimia toksisk, karsinogen, pemajanan
sinar matahari berlebihan. Tanda : demam, ruam kulit, ulserasi
14. seksualitas, gejala: masalah pada seksual (dampak pada hubungan, perubahan
tingkat kepuasan)
15. Interaksi sosial : ketidakadekuatan sitem pendukung, riwayat perkawinan
(kepuasan rumah tangga, dudkungan), fungsi peran. (Doenges, 2000).
b. Diagnosa Keperawatan

1. Gangguan perfusi jaringan serebral b.d penghentian aliran darah oleh SOL
dibuktikan dengan perubahan tingkat kesadaran, kehilangan memori,
perubaan respon motorik / sensori, gelisah dan perubahan tanda vital.
2. Resiko tinggi terhadap ketidakefektifan pola napas b.d kerusakan
neurovaskuler, kerusakan kognitif.
3. Nyeri akut / kronis b.d agen pencedera fisik, kompresi saraf oleh SOL,
peningkatan TIK.
4. Perubahan persepsi sensori b.d perubahan resepsi sensoris, transmisi dan atau
integrasi (trauma atau defisit neurologis).
5. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan b.d peningkatan TIK, konsekuensi
kemoterapi, radiasi, pembedahan, (anoreksia, iritasi, penyimpangan rasa
mual).

c. Intervensi Keperawatan.
Diagnosa. 1
Gangguan perfusi jaringan serebral b.d penghentian aliran darah oleh SOL dibuktikan
dengan perubahan tingkat kesadaran, kehilangan memori, perubaan respon motorik /
sensori, gelisah dan perubahan tanda vital.

Kriteria evaluasi : Pasien akan dipertahankan tingkat kesadaran , perbaiakan kognisi,


fungsi motorik / sensorik, TTV stabil, tidak ada tanda peningkatan TIK
Intervensi :

 Tentukan penyebab penurunan perfusi jaringan


 Pantau status neurologis secara teratur dan bandingkan dengan nila standar
( GCS )
 Pantau TTV
 Kaji perubahan penglihatan dan keadan pupil
 Kaji adanya reflek ( menelan, batuk, babinski )
 Pantau pemasukan dan pengeluaran cairan
 Auskultasi suara napas, perhatikan adananya hipoventilasi, dan suara
tambahan yang abnormal

Kolaborasi :

 Pantau analisa gas darah


 Berikan obat sesuai indikasi : deuretik, steroid, antikonvulsan
 Berikan oksigenasi

Diagnosa. 2
Resiko tinggi terhadap ketidakefektifan pola napas b.d kerusakan neurovaskuler,
kerusakan kognitif.

Kriteria evaluasi : pasien dapat, dipertahanakan pola nafas efektif, bebas sianosis,
dengan GDA dalam batas normal
Intervensi :

 Kaji dan catat perubahan frekuensi, irama, dan kedalaman pernapasan


 Angkat kepala tempat tidur sesuai atuiran / posisi miringsesuai indikasi
 Anjurkan utuk bernapas dalam, jika pasien sadar
 Lakukan penghisapan lendir dengan hati hati jangan lebih dari 10 – 15 detik,
catat karakter warna, kekentalan dan kekeruhan sekret
 Pantau pengguanaan obat obatan depresan seperti sedatif 

Kolaborasi:

 Berikan O2 sesuai indikasi


 Lakaukan fisioterapi dada jika ada indikasi
Diagnosa. 3
Nyeri ( akut ) / kronis b.d agen pencedera fisik, kompresi saraf oleh SOL,
peningkatan TIK, ditandai dengan : menyetakan nyeri oleh karena perubahan posisi,
nyeri, pucat sekitar wajah, perilaku berhati hati, gelisah condong keposisi sakit,
penurunan terhadap toleransi aktivitas, penyempitan fokus pad dirisendiri, wajah
menahan nyeri, perubahna pla tidur, menarik diri secara fisik
Kriteria evalusi : pasien melaporkannyeri berkurang, menunjukan perilaku untuk
mengurangi kekambuhan atau nyeri .
Intervensi :

 kaji keluhan nyeri


 Observasi keadaan nyeri nonverbal ( misal ; ekspresi wajah, gelisah,
menangis, menarik diri, diaforesis, perubaan frekuensi jantung, pernapasan
dan tekanan darah.
 Anjurkan untuk istirahat denn tenang
 Berikan kompres panas lembab pada kepala, leher, lengan sesuai kebutuhan
 Lakukan pemijatan pada daerah kepala / leher / lengan jika pasien dapat
toleransi terhadap sentuhan
 Sarankan pasien untuk menggnakan persyaratan positif “ saya sembuh “ atau “
saya suka hidup ini “

Kolaborasi :

 Berikan analgetik / narkotik sesuai indikasi


 Berikan antiemetiksesuai indikasi

Diagnosa. 4
Perubahan persepsi sensori b.d perubahan resepsi sensoris, transmisi dan atau
integrasi ( trauma atau defisit neurologis ), ditandai denagg disorientasi, perubaan
respon terhadap rangsang, inkoordinasi motorik, perubahan pola komunikasi, distorsi
auditorius dan visual, penghidu, konsentrasi buruk, perubahan proses pikir, respon
emosiaonal berlebihan, perubahan pola perilaku
Kriteria evaluasi : pasien dapat dipertahanakan tingkat kesadaran dan fuingsi
persepsinya, mengakui perubahan dalam kemampuan dan adanya keterlibatan residu,
mendemonstrasikan perubahan gaya hidup.
Intervensi :

 Kaji secar teratur perubahan orientasi, kemampuan bicara, afektif, sensoris


dan proses pikir
 Kaji kesadaran sensoris seperti respon sentuan , panas / dingin, benda tajam
atau tumpul, keadaran terhadap gerakan dan letak tubuh, perhatkian adanya
masalah penglihatan
 Observasi repon perilaku
 Hilangkan suara bising / stimulus ang berlebihan
 Berikan stimulus yang berlebihan seperti verbal, penghidu, taktil,
pendengaran, hindari isolasi secara fisik dan psikologis 

Kolaborasi :

 pemberian obat supositoria gna mempermudah proses BAB


 konsultasi dengan ahli fisioterapi / okupasi

Diagnosa. 5
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan b.d peningkatan TIK, konsekuensi
kemoterapi, radiasi, pembedahan, ( anoreksia, iritasi, penyimpangan rasa mual )
dibuktikan oleh : keluhan masukan makan tidak adekuat, kehilangan sensai
pengecapan, kehilangan minat makan, ketidakmampuan untk mencerna yang
dirasakan / aktual, berat badan 20 % atau lebih dibawah badan ideal untuk tinggi dan
bentuk tubuh, penurunan penumpukn lemak / masa otot, sariawab, rongga mulut
terinflamasi, diare,konstipasi, kram abdomen.
Krieteria evaluasi :pasien dapat mendemonstrasikan berat badan stabil,
mengungkapkan pemasukan adekuat, berpartisipasi dalam intervensi spesifik untuk
merangsang nafsu makan

Intervensi :

 Pantau masukan makanan setiap hari


 Ukur BB setiap hari sesui indikasi
 Dorong pasien untuk makandiit tinggi kalori kaya nutrien sesui program
 Kontrol faktor lingkungan ( bau, bising ) hindari makanan terlalu manis,
berlemak dan pedas
 Ciptakan suasana makan yang menyenangkan
 Identifikasipasien yang mengalami mual / muntah

Kolaborasi :

 Pemberian anti emetik dengan jadwal reguiler


 Vitamin A, D, E dan B6
 Rujuk kepada ahli diet
 Pasang / pertahankan slang NGT untuk pemberian makanan enteral( Doenges,
2013 dan L.J Carpenito, 2015).
Daftar Pustaka

 Barbara C. Long, alih bahasa R.Karnaen dkk, 2015, Perawatan Medikal


Bedah. EGC, Jakarta
 Barbara L. Bullock 2014, Patofisiology, Adaptasi and alterations infeksius
function, Fourth edition, Lipincott, Philadelpia
 Brunner & Sudarth, 2003, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Ed 8 Vol 3
, EGC, jakarta
 Lynda Juall Carpenito, Alih bahasa Yasmin Asih, 2013, Diagnosa
Keperawatan , ed 6, EGC, Jakarta
 Marilyn E. Doenges, et al, 2014, Rencana Asuhan Keperawatan, EGC, jakarta
 Sylvia A. Price, Alih bahasa Adji Dharma, 2014 Patofisiologi, konsep klinik
proses- proses penyakit ed. 4, EGC, Jakarta