Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN

I. LATAR BELAKANG

Prolapsus uteri merupakan suatu keadaan dimana turunnya uterus melalui

hiatus genitalis yang disebabkan kelemahan ligamen-ligamen (penggantung), fasia

(sarung) dan otot dasar panggul yang menyokong uterus. Sehingga dinding vagina

depan jadi tipis dan disertai penonjolan kedalam lumen vagina. Sistokel yang besar

akan menarik utero vesical junction dan ujung ureter kebawah dan keluar vagina,

sehingga kadang-kadang dapat menyebabkan penyumbatan dan kerusakan ureter.

Normalnya uterus tertahan pada tempatnya oleh ikatan sendi dan otot yang

membentuk dasar panggul. Faktor penyebab lain yang sering adalah melahirkan dan

menopause, persalinan lama dan sulit, meneran sebelum pembukaan lengkap, laserasi

dinding vagina bawah pada kala II, penatalaksanaan pengeluaran plasenta, reparasi

otot-otot dasar panggul menjadi atrofi dan melemah. Oleh karena itu prolapsus uteri

tersebut akan terjadi bertingkat-tingkat (Winkjosastro, 2010).

Menurut penelitian yang dilakukan WHO tentang pola formasi keluarga dan

kesehatan, ditemukan kejadian prolapsus uteri lebih tinggi pada wanita 2 yang

mempunyai anak lebih dari tujuh daripada wanita yang mempunyai satu atau dua

anak. Prolapsus uteri lebih berpengaruh pada perempuan di negaranegara berkembang

yang perkawinan dan kelahiran anaknya dimulai pada usia muda dan saat fertilitasnya

masih tinggi. Peneliti WHO menemukan bahwa laporan kasus prolapsus uteri

jumlahnya jauh lebih rendah daripada kasus-kasus yang dapat dideteksi dalam

pemeriksaan medik (Koblinsky M, 2001).

Frekuensi prolapsus genitalia di beberapa negara berlainan, seperti dilaporkan

di klinik d’Gynecologie et Obstetrique Geneva insidensinya 5,7%, dan pada periode

1
yang sama di Hamburg 5,4%, Roma 6,7%. Dilaporkan di Mesir, India, dan Jepang

kejadiannya tinggi, sedangkan pada orang Negro Amerika dan Indonesia kurang.

Frekuensi prolapsus uteri di Indonesia hanya 1,5% dan lebih sering dijumpai pada

wanita yang telah melahirkan, wanita tua dan wanita dengan pekerja berat. Dari 5.372

kasus ginekologik di Rumah Sakit Dr. Pirngadi di Medan diperoleh 63 kasus

prolapsus uteri terbanyak pada grande multipara dalam masa menopause dan pada

wanita petani, dari 63 kasus tersebut 69% berumur diatas 40 tahun. Jarang sekali

prolapsus uteri dapat ditemukan pada seorang nullipara (Winkjosastro, 2010).

II. MANFAAT PENULISAN

A. Instalasi Rumah sakit

Agar dapat digunakan sebagai masukan dalam melaksanakan asuhan keperawatan

pada pasien dengan Prolaps Uteri, serta dapat meningkatkan mutu atau kualitas

pelayanan kesehatan pada pasien.

B. Instalasi pendidikan

Agar dapat digunakan sebagai wacana dan pengetahuan tentang perkembangan

ilmu keperawatan, terutama kajian pada pasien dengan Prolaps Uteri.

C. Penulis

Untuk menambah pengetahuan, pemahaman, dan pendalaman tentang perawatan

pada pasien dengan Prolaps Uteri.

D. Pasien dan keluarga

Pasien dan keluarga dapat mengetahui cara pencegahan, perawatan, penyebab,

tanda dan gejala, serta pertolongan pertama yang dilakukan jika mengalami

Prolaps Uteri.

2
III. BATASAN MASALAH

Penulis hanya melakukan anamnesa dan asuhan keperawatan kepada pasien

dengan masalah Prolaps Uteri di Poli Kandungan RSUD H. Moch Anshari Saleh

Banjarmasin pada tanggal 22 Januari 2019.

IV. TUJUAN

A. Tujuan Umum

Tujuan umum dari penulisan laporan ini adalah untuk mengetahui Asuhan

keperawatan yang benar pada pasien Prolaps Uteri.

B. Tujuan Khusus

Adapun tujuan khusus penulisan laporan ini adalah agar penulis mampu :

1. Melaksanakan pengkajian pada pasien dengan Prolaps Uteri

2. Menegakkan Diagnose keperawatan pada pasien dengan Prolaps Uteri

3. Melakukan perencanaan asuhan keperawatan pada pasien dengan Prolaps

Uteri

4. Melaksanakan intervensi keperawatan pada pasien dengan Prolaps Uteri

5. Melakukan evaluasi tindakan keperawatan yang telah di lakukan pada pasien

dengan Prolaps Uteri

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
I. KONSEP TEORI
A. Definisi

Prolaps uteri adalah keadaaan yang terjadi ketika ligamen kardinal

yang mendukung rahim dan vagina tidak kembali normal setelah melahirkan.

Prolapsus uteri adalah keadaan dimana turunnya uterus melalui hiatus

genitalis yang disebabkan kelemahan ligamen-ligamen (penggantung), fasia

(sarung) dan otot dasar panggul yang menyokong uterus.

Prolaps uteri merupakan turun atau keluarnya sebagian atau seluruh

uterus dari tempat asalnya melalui vagina sampai mencapai atau melewati

introitus vagina.

B. Klasifikasi

Turunnya uterus dari tempat yang biasa disebut desensus uteri dan ini

dibagi dalam 3 tingkat yaitu :

1. Tingkat I apabila serviks belum keluar dari vulva atau bagian prolapsus

masih di atas introitus vagina.

2. Tingkat II apabila serviks sudah keluar dari vulva, akan tetapi korpus uteri

belum

3. Tingkat III apabila korpus uteri atau bagian prolapsus sudah berada diluar

vulva atau introitus vagina

C. Etiologi

4
1. Dasar panggul yang lemah, karena kerusakan dasar panggul pada

persalinan yang terlampau sering dengan penyulit seperti ruptura perineum

atau karena usia lanjut.

2. Tarikan pada janin pada pembukaan yang belum lengkap.

3. Ekspresi yang berlebihan pada saat mengeluarkan plasenta.

4. Asites, tumor-tumor di daerah pelvis, batuk yang kronis dan pengejan

(obslipasi atau striktura pada traktus urinarius).

5. Relinakulum uteri yang lemah (asteni atau kelainan congenital berupa

kelemahan jaringan penyokong uterus yang sering pada nullipara.

6. Lanjut usia dan menopause

7. Riwayat persalinan tinggi

D. Manifestasi Klinis

Gejala dan tanda-tanda sangat berbeda dan bersifat individual.

Kadangkala penderita yang satu dengan prolaps uteri yang cukup berat tidak

mempunyai keluhan apapun, sebaliknya penderita lain dengan prolaps ringan

mempunyai banyak keluhan.

Keluhan-keluhan yang hampir selalu dijumpai:

1. Perasaan adanya suatu benda yang mengganjal atau menonjol di genetalia

eksterna.

2. Rasa sakit di pinggul dan pinggang (Backache). Biasanya jika penderita

berbaring, keluhan menghilang atau menjadi kurang.

3. Sistokel dapat menyebabkan gejala-gejala:

a. Miksi sering dan sedikit-sedikit. Mula –mula pada siang hari,

kemudian lebih berat juga pada malam hari

5
b. Perasaan seperti kandung kencing tidak dapat dikosongkan

seluruhnya.

c. Stress incontinence yaitu tidak dapat menahan kencing jika

batuk,mengejan. Kadang-kadang dapat terjadi retensio urine pada

sistokel yang besar sekali.

4. Retokel dapat menjadi gangguan pada defekasi:

a. Obstipasi karena feces berkumpul dalam rongga retrokel.

b. Baru dapat defekasi setelah diadakan tekanan pada retrokel dan

vagina.

5. Prolapsus uteri dapat menyebabkan gejala sebagai berikut:

a. Pengeluaran serviks uteri dari vulva menggangu penderita waktu

berjalan dan bekerja. Gesekan portio uteri oleh celana menimbulkan

lecet sampai luka dan dekubitus pada portio uteri.

b. Lekores karena kongesti pembuluh darah di daerah serviks dan karena

infeksi serta luka pada portio uteri.

6. Enterokel dapat menyebabkan perasaan berat di rongga panggul dan rasa

penuh di vagina.

E. Patofisiologi

Prolapsus uteri terdapat dalam berbagai tingkat, dari yang paling

ringan sampai prolapsus uteri totalis. Terutama akibat persalinan, khususnya

persalinan pervagina yang susah dan terdapatnya kelemahan-kelemahan

ligament yang tergolong dalam fasia endopelviks dan otot-otot serta fasia-fasia

dasar panggul. Juga dalam keadaan tekanan intra abdominal yang meningkat

6
dan kronik akan memudahkan penurunan uterus, terutama apabila tonus otot-

otot mengurang seperti pada penderita dalam menopause.

Serviks uteri terletak diluar vagina, akan tergeser oleh pakaian wanita

dan lambat laun menimbulkan ulkus yang dinamakan ulkus dekubitus. Jika

fasia di bagian depan dinding vagina kendor biasanya trauma obstetric, ia akan

terdorong oleh kandung kencing sehingga menyebabkan penonjolan dinding

depan vagina kebelakang yang dinamakan sistokel. Sistokel yang pada

mulanya hanya ringan saja, dapat menjadi besar karena persalinan berikutnya

yang kurang lancar, atau yang diselesaikan dalam penurunan dan

menyebabkan urethrokel. Urethrokel harus dibedakan dari divertikulum

urethra. Pada divertikulum keadaan urethra dan kandung kencing normal

hanya dibelakang urethra ada lubang yang membuat kantong antara urethra

dan vagina. kekendoran fasia dibagian belakang dinding vagina oleh trauma

obstetric atau sebab-sebab lain dapat menyebabkan turunnya rectum kedepan

dan menyebabkan dinding belakang vagina menonjol kelumen vagina yang

dinamakan retrokel. Enterokel adalah hernia dari kavum Douglasi. Dinding

vagina bagian belakang turun dan menonjol ke depan. Kantong hernia ini

dapat berisi usus atau omentum.

7
8
F. Pemeriksaan diagnostic

1. Penderita pada posisi jongkok diminta untuk mengejan dan ditemukan

dengan pemeriksaan jari, apakah portio pada normal atau portio sampai

introitus vagina atau apakah serviks uteri sudah keluar dari vagina.

2. Penderita berbaring pada posisi litotomi, ditentukan pula panjangnya

serviks uteri. Serviks uteri yang lebih panjang dari biasanya dinamakan

Elongasio kolli.

3. Pada sistokel dijumpai di dinding vagina depan benjolan kistik lembek dan

tidak nyeri tekan. Benjolan ini bertambah besar jika penderita mengejan.

Jika dimasukkan kedalam kandung kencing kateter logam, kateter itu

diarahkan kedalam sitokel, dapat diraba kateter tersebut dekat sekali pada

dinding vagina. Uretrokel letaknya lebih kebawah dari sistokel.

Menegakkan diagnosis retrokel dapat dilihat dari menonjolnya rectum

kelumen vagina 1/3 bagian bawah. Penonjolan ini berbentuk lonjong,

memanjang dari proksimal kedistal, kistik dan tidak nyeri.

Untuk memastikan diagnosis, jari dimasukkan kedalam rectum, dan

selanjutnya dapat diraba dinding retrokel yang menonjol kelumen vagina.

Enterokel menonjol kelumen vagina lebih keatas dari retrokel. Pada

pemeriksaan rectal, dinding rectum lurus, ada benjolan ke vagina terdapat di

atas rectum.

9
G. Penatalaksanaan

Faktor-faktor yang harus diperhatikan: keadaan umum pasien, umur,

masih bersuami atau tidak, tingkat prolapsus, beratnya keluhan, keinginan

memiliki anak lagi dan ingin mempertahankan haid.

Penanganan dibagi atas:

1. Pencegahan

Faktor-faktor yang mempermudah prolapsus uteri dan dengan anjuran:

a. Istirahat yang cukup, hindari kerja yang berat dan melelahkan gizi

cukup

b. Pimpin yang benar waktu persalinan, seperti: Tidak mengedan sebelum

waktunya, kala II jangan terlalu lama, kandung kemih kosongkan,

episiotomi agar dijahit dengan baik, episiotomi jika ada indikasi, bantu

kala II dengan FE atau VE.

2. Pengobatan

a. Pengobatan Tanpa Operasi

1) Caranya: latihan otot dasar panggul, stimulasi otot dasar panggul

dengan alat listrik, pemasangan pesarium, hanya bersifat paliatif,

pesarium dari cincin plastik.

2) Prinsipnya: alat ini mengadakan tekanan pada dinding atas vagina

sehingga uterus tak dapat turun melewati vagina bagian bawah.

biasanya dipakai pada keadaan: prolapsus uteri dengan kehamilan,

prolapsus uteri dalam masa nifas, prolapsus uteri dengan

dekubitus/ulkus, prolapsus uteri yang tak mungkin dioperasi:

keadaan umum yang jelek

10
b. Pengobatan dengan Operasi

1) Prolapsus uteri biasanya disertai dengan prolapsus vagina. Maka,

jika dilakukan pembedahan untuk prolapsus uteri, prolapsus vagina

perlu ditangani juga. ada kemungkinan terjadi prolapsus vagina

yang membutuhkan pembedahan,padahal tidak ada prolapsus uteri,

atau prolapsus uteri yang tidak ada belum perlu dioperasi.Indikasi

untuk melakukan operasi pada prolapsus vagina adalah adanya

keluhan.

Indikasi untuk melakukan operasi pada prolapsus uteri

tergantung dari beberapa factor,seperi umur penderita,keinginanya

untuk mendapat anak atau untuk mempertahankan uterus,tingkat

prolapsus dan adanya keluhan. Beberapa pembedahan yang

dilakukan antara lain:

1) Operasi Manchester/Manchester-Fothergill

2) Histeraktomi vaginal

3) Kolpoklelsis (operasi Neugebauer-La fort)

4) Operasi-operasi lainnya: ventrofiksasi/histeropeksi, Interposisi

II. Konsep Asuhan Keperawatan

A. Anamnesa

Data Subyektif

1. Sebelum Operasi

a. Adanya benjolan diselangkangan/kemaluan

b. Nyeri di daerah benjolan

c. Nyeri pinggang dan punggung

11
d. Konstipasi

e. Tidak nafsu makan

2. Sesudah Operasi

a. Nyeri di daerah operasi

b. Lemas

c. Pusing

d. Mual

Data Obyektif

1. Sebelum Operasi

a. Nyeri bila benjolan tersentuh

b. Pucat, gelisah

c. Spasme otot

d. Demam

e. Dehidrasi

2. Sesudah Operasi

a. Terdapat luka pada selangkangan

b. Puasa

c. Selaput mukosa mulut kering

B. Pemeriksaan fisik

1. Pasien dalam posisi telentang pada meja ginekologi dengan posisi litotomi.

2. Pemeriksaan ginekologi umum untuk menilai kondisi patologis lain.

3. Inspeksi vulva dan vagina, untuk menilai:

a. Erosi atau ulserasi pada epitel vagina.

b. Ulkus yang dicurigai sebagai kanker harus dibiopsi segera, ulkus yang

bukan kanker diobservasi dan dibiopsi bila tidak ada reaksi pada terapi.

12
c. Perlu diperiksa ada tidaknya prolapsus uteri dan penting untuk

mengetahui derajat prolapsus uteri dengan inspeksi terlebih dahulu

sebelum dimasukkan inspekulum.

4. Manuver Valsava

a. Derajat maksimum penurunan organ panggul dapat dilihat dengan

melakukan pemeriksaan fisik sambil meminta pasien melakukan

manuver Valsava.

b. Setiap kompartemen termasuk uretra proksimal, dinding anterior

vagina, serviks, apeks, cul-de-sac, dinding posterior vagina, dan

perineum perlu dievaluasi secara sistematis dan terpisah.

c. Apabila tidak terlihat, pasien dapat diminta untuk mengejan pada

posisi berdiri di atas meja periksa.

d. Tes valsava dan cough stress testing (uji stres) dapat dilakukan untuk

menentukan risiko inkontinensia tipe stres pasca operasi prolapsus.

5. Pemeriksaan vagina dengan jari untuk mengetahui kontraksi dan kekuatan

otot levator ani.

6. Pemeriksaan rektovaginal, untuk memastikan adanya rektokel yang

menyertai prolapsus uteri.

C. Pemeriksaan penunjang

1. Urin residu pasca berkemih

Kemampuan pengosongan kandung kemih perlu dinilai dengan

mengukur volume berkemih pada saat pasien merasakan kandung kemih

yang penuh, kemudian diikuti dengan pengukuran volume residu urin

pasca berkemih dengan kateterisasi atau ultrasonografi.

2. Skrining infeksi saluran kemih.

13
3. Pemeriksaan urodinamik apabila dianggap perlu.

4. Pemeriksaan Ultrasonografi

5. Ultrasonografi dasar panggul dinilai sebagai modalitas yang relatif mudah

dikerjakan, cost-effective, banyak tersedia dan memberikan informasi real

time.

6. Pencitraan dapat mempermudah memeriksa pasien secara klinis. Namun

belum ditemukan manfaat secara klinis penggunaan pencitraan dasar

panggul pada kasus POP

D. Diagnosa keperawatan

1. Nyeri berhubungan dengan peningkatan tekanan intra abdominal

Tujuan: Nyeri hilang setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x

24 jam.

Hasil yang diharapkan:

a. Nyeri berkurang sampai hilang secara bertahap.

b. Pasien dapat beradaptasi dengan nyerinya

c. Pasien dan keluarga dapat melakukan tekhnik distraksi-relaksasi

Rencana tindakan:

a. Observasi tanda-tanda vital

b. Observasi keluhan nyeri, lokasi, jenis dan intensitas nyeri

c. Jelaskan penyebab rasa sakit, cara menguranginya.

d. Beri posisi senyaman mungkin untuk pasien.

e. Ajarkan tehnik-tehnik relaksasi/ nafas dalam.

f. Beri obat-obat analgetik sesuai pesanan dokter.

g. Ciptakan lingkungan yang tenang.

14
2. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan luka akibat pergeseran massa

uterus

Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam

diharapkan infeksi tidak terjadi

Hasil yang diharapkan:

a. Tidak terdapat tanda-tanda infeksi (kalor, rubor, tumor, dolor,

fungsiolesa)

b. Luka tampak bersih

Rencana tindakan:

c. Kaji TTV, perhatikan peningkatan suhu.

d. Kaji tanda-tanda infeksi (tumor kalor rubor, dolor, fungsileisa).

e. Lakukan tehnik perawatan luka secara steril 1x/hari

f. Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan perawatan luka.

g. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian antibiotic.

h. Lakukan Health Education kepada keluarga tentang pentingnya

mencuci tangan sebelum dan sesudah bersentuhan dengan pasien.

3. Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan kognitif dan

kurangnya keinginan mencari sumber informasi

Tujuan: Setelah dilakukan Asuhan keperawatan selama 2 x pertemuan

tingkat pengetahuan pasien dan keluarga bertambah.

Kriteria hasil:

a. Pasien dan keluarga dapat mengetahui pengertian prolaps uteri

b. Pasien dan keluarga dapat mengetahui faktor penyebab prolaps uteri

c. Pasien dapat mengetahui cara perawatan sakitnya setelah pasien

operasi

15
Rencana tindakan:

a. Kaji tingkat pemahaman pasien dan keluarga

b. Jelaskan pengertian, factor penyebab dan cara perawatan pasien

dengan prolaps uteri

c. Jelaskan pentingnya kebersihan

d. Anjurkan pasien untuk tidak mengangkat beban berat.

e. Ajarkan perawatan pada pasien post op

16
BAB III
PEMBAHASAN

I. PENGKAJIAN KLIEN PADA MASA KEHAMILAN

A. BIODATA
Nama Klien : Ny S Nama Suami : Tn. M
Umur : 30 Tahun Umur : 32 Tahun
Agama : Islam Agama : Islam
Pendidikan : SMP Pendidikan : SMA
Suku/Bangsa : Banjar / Indonesia Suku Bangsa : Banjar /Indonesia
Alamat : Komp. Abdi persada Block Scorpio IV, No. XX Banjarmasin
Tgl Masuk : 22 Januari 2019 (09.00 Wita)
Tgl Pengkajian : 22 Januari 2019 (09.00 Wita)

B. RIWAYAT KESEHATAN
1. Latar Belakang Kunjungan
Pasien mengatakan datang ke poli kandungan untuk melakukan kontrol
kehamilan.
2. Riwayat Kesehatan Keluarga
Pasien mengatakan ayah pasien menderita penyakit stroke sejak 4
tahun yang lalu. Kakek pasien menerita riwayat penyakit kencing manis.
3. Riwayat Kesehatan Masa Lalu
Pasien mengatakan pada umur 13 tahun menderita penyakit hipertiroid,
sudah berobat dan sekarang sudah kempes. Pada umur 18 tahun belum datang
bulan maka diurut oleh tukang urut. Beberapa minggu setelah diurut pinggang
sampai pinggang sampai pinggul terasa sakit, kalau kencing sedikit-sedikit dan
tidak tuntas. Setalah diperiksakan kedokter didiagnosa prolabs uteri.
Pada kehamilan pertama pasien dapat melahirkan secara normal,
namun setelah melahirkan pasien mengatakan ada daging keluar dari vagina
sebesar telur secara tiba –tiba apalagi jika mengejan, batuk dan mengangkat
beban berat. Pada tahun 2015 pasien melakukan operasi prolabs uteri
sebanyak 2 kali di RSUD Ulin Banjarmasin, dan disarankan oleh dokter untuk
tidak mengejan dan mengangkat beban berat. Pada Juli 2018 pasien

17
melakukan pemasangan ring uteri di klinik dr. pribakti saat usia kehamilan 2
bulan. Penggantian ring dilakukan setiap 6 bulan sekali.
4. Riwayat Kesehatan Sekarang
Pasien mengatakan saat ini sedang hamil anak ke 2, G2 P1 A0, HPHT
5-5-2018 dan HPL 12-1-2019. Dokter Pribakti yang melakukan pemasangan
ring uteri mengatakan bahwa pasien dapat melakukan persalinan secara
normal. Namun dr. Bill di poli kandungan menganjurkan untuk melakukan
operasi ceasar karena persalinan beresiko tinggi tinggi. Pasien seharusnya
dijadwalkan untuk kontrol pada tanggal 2 januari 2019, tetapi karena takut
untuk operasi maka pasien menunda kunjungannya dan baru datang lagi hari
ini tanggal 22 januari 2019.
Karena sudah cukup bulan dan melewati tanggal HPL maka pasien
dirujuk ke ruang VK Bersalin yang kemudian akan dijadwalkan untuk operasi.
Pada saat pengkajian pasien tampak gelisah, gugup, takut, dan wajah tampak
tegang.
5. Riwayat Haid :
 Menarche : 18 Tahun
 Siklus : 29 Hari
 Lamanya : 3 – 5 hari
 Banyaknya : ± 150 cc
 Masalah : Dismenore
 HPHT : 05 – 05 – 2018
6. Riwayat Kontrasepsi
 Jenis Kontrasepsi : Pil
 Waktu Menggunakan : 2008 - 2016
 Masalah :-
 Alasan Berhenti : Program Kehamilan
 Rencana KB yang akan digunakan : Tubektomi jenis ikat
7. Riwayat Pengobatan/Rokok/Alcohol Selama Kehamilan
 Obat yang pernah/sedang digunakan : Vit. C, B12, SF, Kalk
 Cara pemberian : Oral
 Tujuan pemberian : Memberi nutrisi pada ibu dan
janin
 Ketergantungan dengan rokok : Tidak ada
Jumlah dalam sehari :-

18
 Ketergantungan dengan alcohol : Tidak ada
 Jumlah Minuman :-
 Jumlah Imunisasi yang pernah didapat dan waktunya :
TT 1 : Trimester 2
TT 2 : Trimester 3
8. Riwayat Obstetric

Keadaan
Jenis Kelahiran Lk Komplikasi
No Tahun Penolong Anak Saat
(Ab,P,M,Mati) /Pr (Hamil.Lahir,Nifas)
ini
Normal
1 2008 Lk Bidan Tidak ada Sehat
BB : 2300 gr

9. Riwayat Kehamilan Sekarang


G2 P1 A0
HPHT : 05-05-2018 TP : 12-01-2019
 Mual, muntah : Ya, trimester 1
 Gangguan BAK : Tidak ada
 Sakit Ulu Hati : Tidak ada
 Perdarahan : Tidak ada
 Gangguan Tidur dan Istirahat: Kadang terbangun pada malam hari
karena posisi tidur yang salah
menyebabkan sesak nafas
 Kram ekstremitas : Kram pada tangan kanan, memberat
pada malam hari dan cuaca dingin
 Pusing : Tidak ada
 Sakit Kepala : Tidak ada
 Nyeri pada Abdomen : Tidak ada
 Lelah : Jika beraktivitas berat atau berjalan
jauh
 Obstipasi : Tidak ada
 Sakit Pinggang : Jika mengangkat beban berat dan
berjalan jauh
 Lain-lain : Tidak ada

19
C. POLA KEGIATAN SEHARI-HARI
1. Tidur dan Istirahat
Lamanya : Tidur malam ± 7 jam
Ada Gangguan/tidak : Ya
Bentuk Gangguan : Kadang terbangun pada malam hari
karena posisi tidur yang salah
menyebabkan sesak nafas
Istirahat di siang hari : Tidur siang ± 1 jam
2. Personal Hygiene
Cara Mandi : Mandi dengan menggunakan sabun,
dan
air PDAM
Frekuensi mandi/hari : 2 kali sehari
Kebersihan pakaian/pakaian dalam : Mengganti baju setiap selesai mandi
dan
mengganti pakaian dalam jika dirasa
sudah lembab
3. Aktivitas
Ada gangguan pergerakan/tidak : Ya
Jenis Gangguan : Kram pada tangan kanan
Cara mengatasi : Mengoles minyak GPU sambil dipijat
lembut
Kegiatan Sehari-hari yg dilakukan : Mengurus rumah
4. Makanan dan Minuman
Ada perubahan pola/tidak : Tidak ada
Jenis Perubahan : Tidak ada
Makanan/Minuman yang disukai : Sate dan Soto
Diet Khusus : Membatasi makanan yang manis-manis
Kesulitan dalam melaksanakan diet : Tidak ada
5. Eliminasi
Ada perubahan pola/tidak : Tidak ada
Jenis Perubahan : Tidak ada

20
Cara mengatasi masalah : Tidak ada
6. Seksual
Ada perubahan pola/tidak : Ya
Jenis Perubahan : Nyeri pada vagina
Alasan : Prolabs Uteri
Cara mengatasi masalah : Mengurangi frekuensi berhubungan
suami istri

D. DATA PSIKOSOSIAL
1. Status Perkawinan
 Kawin/tidak : Kawin
 Perkawinan ke :1
 Usia Kawin Pertama :-
 Lama Perkawinan sekarang : 11 Tahun
2. Respon Klien Terhadap Kehamilan : Senang dan menerima kehamilan
3. Hubungan Social dengan suami : Suami selalu mendukung
1. Reaksi dan persepsi terhadap kehamilan
 Direncanakan/tidak
Ya, alasan ingin menambah keturunan
 Diharapkan/tidak
Ya, alasan ingin menambah keturunan
 Dilanjutkan/tidak
Tidak, alasan 2 anak cukup
 Menerima/senang atau tidak
Sangat senang, alasan hasil USG menunjukan jenis kelamin janin
perempuan
2. Jenis Kelamin anak yang diinginkan
Perempuan, alasan karena anak pertama sudah berjenis kelamin laki-
laki
3. Bantuan Pelayanan yg diharapkan
Melahirkan secara normal yang didukung oleh bidan dan dokter
4. Orang yang penting bagi klien
Suami, anak dan orang tua
5. Rencana tempat melahirkan

21
Rumah sakit
6. Rencana mengikuti kelompok senam hamil
Tidak

7. Rencana menyusui sendiri


Ya, alasan ingin memberikan ASI secara ekslusif dan meminimalkan
biaya untuk pembelian susu formula
4. Kebutuhan pendidikan kesehatan:
1. Perubahan fisik : Ya
2. Informasi Persalinan : Ya
3. Personal Hygiene : Ya
4. Nutrisi Dalam Kehamilan : Ya
5. Perawatan Bayi : Ya
6. Latihan Aktivitas : Ya
7. Kegiatan Seksual : Ya
8. Keluhan ringan dan cara mengatasinya : Ya
9. Keluarga Berencana : Ya
10. Jadwal Pemeriksaan : Ya
11. Respon Psikologis : Ya

E. PEMERIKSAAN FISIK
1. Tanda-Tanda Vital :
a) Kesadaran : Compos Mentis
b) TD : 110/70 mmHg
c) Nadi : 80 x/menit
d) Pernafasan : 21x/menit
e) Suhu : 36,6 0C
2. Berat Badan : 58 Kg
Tinggi Badan : 155 cm
3. Kulit
Warna : Kuning Langsat Turgor : Lembab
Kekenyalan : Elastis Perlukaan : Tidak ada
Hyperpigmentasi : Tidak
4. Rambut
Warna : Hitam .Distribusi : Merata
5. Kepala
Ukuran kepala dengan badan seimbang
Pergerakan Kepala : Bebas
6. Mata
Konjungtiva : Anemis

22
Sklera : Tidak Ikterik
Palpebra : Tidak ada luka/lesi
7. Hidung
Selaput Mukosa : Lembab Sumbatan : Tidak ada
8. Gigi dan Mulut
Oral Hygiene : 2 kali sehari Epulis : Tidak ada
Karies : Tidak ada Gigi tanggal : Tidak ada
9. Leher
Kelenjar Thyroid : Tidak ada pembesaran
Vena Jugularis : Tidak teraba
10. Dada
Bentuk dada simetris
11. Buah Dada
a) Bentuk (kiri/kanan) : Tampak besar pada payudara
sebelah kiri
b) Konsistensi : Teraba kencang
c) Simetris(kiri/kanan) : Simetris kiri dan kanan
d) Pembesaran: ada/tidak : Tidak ada
e) Hyperpigmentasi areola : Ya
f) Penonjolan putting susu : Menonjol
g) Pelebaran pembulu darah vena : Tidak ada
h) Colostrum : Tidak ada
i) Hygiene payudara : Bersih
12. Abdomen
a) Pembesaran : TFU : 36 cm
b) Bentuk perut : Bulat dan membesar
c) Linea Nigra : Ada
d) Striac : Albieans
e) Palpasi (Leopold)
I : TFU : 36 cm
II : Pu-ki
III : Pres.kep
IV : Konvergen
f) Mc. Donald Rule: T.Fut 36 cm
g) Auskultasi BJA/DJJ
Lokasi : Pu-ki
Frekuensi : 151 x/menit
Regularity : Teratur
h) Pergerakan anak : Aktif
13. Extremitas
a) Bentuk dan ukuran kaki/tangan : Normal
b) Warna kuku kaki/tangan : Merah muda
c) Oedema : Tidak ada
d) Varises : Tidak ada

23
e) Refleks : Patella (+) , Sikut (+)
14. Vulva
a) Oedema : Tidak ada
b) Varises : Tidak ada
c) Perlukaan : Tidak ada
d) Pengeluaran Cairan : Tidak ada
e) Lain-lain :-
15. Rektum : Riwayat Hemoroid ±
16. Perineum
a) Elastisitas : Elastis
b) Bekas Luka : Tidak ada

F. ANALISA DATA

Data Etiologi Masalah


Data Subjektif :

Pasien mengatakan seharusnya

dijadwalkan untuk kontrol pada tanggal 2

januari 2019, tetapi karena takut untuk

operasi maka pasien menunda

kunjungannya.

Data Objektif : Stessor Ansietas

- Pasien tampak gelisah, gugup, takut,

dan wajah tampak tegang.

- TTV : TD : 110/70 mmHg

N : 80x/menit

R : 21 x/menit

T : 36,2oC

24
G. ASUHAN KEPERAWATAN
Diagnosa : Ansietas berhubungan dengan krisis situasi (Proses persalinan)

KRITERIA
INTERVENSI RASIONAL IMPLEMENTASI
HASIL EVALUASI
Setelah 1. Periksa tanda-tanda 1. Untuk mengetahui 1. Memeriksa tanda-tanda vital, S : Pasien mengatakan masih
dilakukan merasa cemas jika
vital keadaan umum pasien didapatkan hasil :
tindakan dilakukan operasi tetapi
0
2. Kaji tingkat dan 2. Mengetahui penyebab T : 36,2 C
keperawatan jika memang tidak bisa
selama 1 x 30 penyebab ansietas ansietas. P : 80x/menit melahirkan normal maka
menit pasien akan tetap
3. Berikan informasi 3. Pasien memahami dan R : 21x/menit
diharapkan mengikuti anjuran dokter.
tentang perubahan mengerti perubahan BP : 110/70 mmHg
cemas O:
berkurang psikologis dan psikologis dan fisiologis 2. Mengkaji tingkat dan 1. Pasien tampak gelisah,
dengan kriteria gugup, takut, dan wajah
fisiologis pada pada persalinan. penyebab ansietas,
hasil : tampak tegang .
persalinan. didapatkan hasil : pasien
- TTV dalam 2. Tanda-Tanda Vital :
4. Anjurkan klien 4. Pasien akan merasa mengatakan seharusnya T : 36,6 0 C
batas normal
P : 80x/menit
mengungkapkan tenang setelah dijadwalkan untuk kontrol
- Pasien dapat
R : 21x/menit
perasaannya. mengungkapkannya. pada tanggal 2 januari 2019,
mengungkapk BP : 110/70 mmHg
5. Berikan informasi 5. Mengurangi Ansietas tetapi karena takut untuk A : Ansietas belum teratasi
an perasaan

25
cemasnya tentang tindakan pada pasien. operasi maka pasien P :Hentikan Intervensi
(pasien dipindahkan ke
- Lingkungan yang dilakukan menunda kunjungannya.
ruang VK bersalin)
sekitar pasien (Operasi Caesar) 3. Menganjurkan pasien

tenang dan mengungkapkan

kondusif perasaannya.

4. Memberikan informasi

tentang tindakan yang

dilakukan (Operasi Caesar).

26
BAB IV
PENUTUP
I. Kesimpulan

Prolaps uteri adalah keadaaan yang terjadi ketika ligamen kardinal yang

mendukung rahim dan vagina tidak kembali normal setelah melahirkan. Turunnya uterus

dari tempat yang biasa disebut desensus uteri dan ini dibagi dalam 3 tingkat yaitu :

1. Tingkat I apabila serviks belum keluar dari vulva atau bagian prolapsus masih di atas

introitus vagina.

2. Tingkat II apabila serviks sudah keluar dari vulva, akan tetapi korpus uteri belum

3. Tingkat III apabila korpus uteri atau bagian prolapsus sudah berada diluar vulva atau

introitus vagina

Gejala dan tanda-tanda sangat berbeda dan bersifat individual. Kadangkala

penderita yang satu dengan prolaps uteri yang cukup berat tidak mempunyai keluhan

apapun, sebaliknya penderita lain dengan prolaps ringan mempunyai banyak keluhan.

Pengkajian dilakukan pada tanggal 22 Januari 2019 pada pasien Ny. S dengan

diagnosa medis Prolaps uteri. Pasien datang dalam keadaan hamil 9 bulan dan

mengatakan ingin kontrol kehamilannya karena sudah melewati waktu tafsiran partus.

Dokter di poli kandungan menyarankan pasien untuk operasi caesar dengan indikasi

Prolaps uteri, pasien mengatakan merasa cemas dan takut jika harus melakukan operasi.

Namun, saat diberikan penjelasan akhirnya pasien menerima dan memutuskan untuk

menjalankan operasi caesar. Pasien di pindahkan ke ruang VK bersalin untuk dilakukan

perawatan selanjutnya. Sebelum dipindahkan ke ruang VK bersalin pasien diberikan

penjelasan tentang proses persiapan sebelum dan sesudah operasi.

27
Setelah data dikumpulkan dan di analisa, maka didapat diagnosa keperawatan

yang muncul berdasarkan data yang ditemukan pada Ny.S yaitu : Ansietas

berhubungan dengan krisis situasi (Proses persalinan).

Penulis membuat rencana keperawatan berdasarkan prioritas maupun resiko

yang muncul dari masalah sesuai dengan diagnosa keperawatan yang dibuat. Untuk

mengatasi ansietas pada pasien yang akan melakukan operasi caesar dengan indikasi

Prolaps uteri intervensi yang diharapkan adalah pasien tidak cemas, pasien dapat

mengungkapkan perasaan cemasnya, tanda-tanda vital dalam batas nornal. Untuk

mengatasi cemas pada pasien dapat dilakukan dengan mengkaji penyebab cemas dan

menjelasan tentang bagaimana persiapan sebelum dan sesudah operasi.

Tahap akhir dari asuhan keperawatan yang penulis lakukan adalah evaluasi

yang berfungsi untuk mendokumentasi keadaan pasien baik berupa kemajuan maupun

kemunduran kesehatan pasien

Selama penulis melakukan evaluasi selama 15 menit, serta

mendokumentasikan asuhan keperawatan yang telah diberikan kepada klien Ny.S, hasil

evaluasi yang penulis peroleh adalah ansietas belum teratasi dan pasien dipindahkan ke

ruang VK bersalin.

II. Saran

a. Bagi Klien Dan Keluarga

Diharapkan kepada pasien dan keluarga dapat berpartisipasi dalam perawatan

klien, keluarga juga biasa melihat sendiri cara-cara perawatan klien dan bisa

melakukan sendiri bila pulang kerumah karena untuk melakukan perawatan

memerlukan keterampilan dan kesabaran.

28
b. Bagi Pihak Rumah Sakit Suaka Insan

Diharapkan mampu memberikan mutu pelayanan yang optimal dan

meningkatkan sumber daya manusia serta mengembangkan ilmu, wawasan dan

pengetahuan seperti seminar tentang asuhan keperawatan pada pasien dengan

prolaps urteri dan pendidikan berkelanjutan bagi perawat agar lebih memahami

tentang asuhan keperawatan klien dengan prolaps urteri.

c. Bagi Pihak Institusi STIKES Suaka Insan

Diharapkan bagi pihak institusi STIKES Suaka Insan menambah buku-buku

di perpustakaan tentang asuhan keperawatan dengan kasus prolaps urteri yang

terbaru.

d. Bagi Mahasiswa

Bagi mahasiswa diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan tentang

asuhan keperawan pada klien prolaps urteri sehingga siap ketika menemukan

masalah yang bersangkutan dengan klien prolaps urteri. Mahasiswa tidak selalu

harus belajar dari teori akan tetapi pengalaman adalah guru yang sangat berharga

ketika mahasiswa berada pada lahan praktik klinis karena dengan hal itu mahasiswa

mampu meningkatkan pelayanan secara holistic dan komperhensif.

29
DAFTAR PUSTAKA

https://id.scribd.com/doc/178631273/Prolaps-Uteri-pdf di akses pada tanggal 22 januari

2018(19:20 WITA)

https://www.academia.edu/13613931/prolaps_uteri di akses pada tanggal 22 januari

2018 (20:13 WITA)

https://www.academia.edu/22085665/LAPORAN_PENDAHULUAN_Prolaps_Uteri di

akses pada tanggal 22 januari 2018 (19:17 WITA)

30