Anda di halaman 1dari 100

Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas

Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

E Pendekatan dan Metodologi

E.1. Pendekatan Perencanaan

Pendekatan rasional menyeluruh atau Rational Comprehensive Approach, yang secara konseptual
dan analitis mencakup pertimbangan perencanaan yang luas, dimana dalam pertimbangan luas
tersebut tercakup berbagai unsur atau subsistem yang membentuk sistem secara menyeluruh.
Meyerson Banfield mengidentifikasi terdapat 4 (empat) ciri utama pendekatan perencanaan
rasional menyeluruh, yaitu:
 Dilandasi oleh suatu kebijakan umum yang merumuskan tujuan yang ingin dicapai sebagai
suatu kesatuan yang utuh.
 Didasari oleh seperangkat spesifikasi tujuan yang lengkap, menyeluruh, dan terpadu.
 Peramalan yang tepat serta ditunjang oleh sistem informasi (masukan data) yang lengkap,
andal, dan rinci.
 Peramalan yang diarahkan pada tujuan jangka panjang.

Namun demikian, pendekatan ini ternyata banyak dikritik karena dianggap memiliki kelemahan-
kelemahan seperti produk yang dihasilkan dirasakan kurang memberikan informasi dan arahan
yang relevan bagi stakeholders, cakupan seluruh unsur dirasakan sukar direalisasikan, dukungan
sistem informasi yang lengkap dan andal biasanya membutuhkan dana dan waktu yang cukup
besar, serta umumnya sistem koordinasi kelembagaan belum mapan dalam rangka pelaksanaan
pembangunan dengan pendekatan yang rasional menyeluruh.

E.1.1. Pendekatan Konsep Pengembangan Wilayah

Konsep pengembangan wilayah di Indonesia lahir dari suatu proses iteratif yang menggabungkan
dasar-dasar pemahaman teoritis dengan pengalaman- pengalaman praktis sebagai bentuk
penerapannya yang bersifat dinamis. Dengan kata lain, konsep pengembangan wilayah di
Indonesia merupakan penggabungan dari berbagai teori dan model yang senantiasa berkembang

Usulan Teknis E-1 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

yang telah di uji terapkan dan kemudian dirumuskan kembali menjadi suatu pendekatan yang
disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan pembangunan di Indonesia.

Dalam sejarah perkembangan konsep pengembangan wilayah di Indonesia, terdapat beberapa


landasan teori yang turut mewarnai keberadaannya. Pertama adalah Walter Isard sebagai
pelopor Ilmu Wilayah yang mengkaji terjadinya hubungan sebab-akibat dari faktor-faktor utama
pembentuk ruang wilayah, yakni faktor fisik, sosial-ekonomi, dan budaya. Kedua adalah
Hirschmann (era 1950-an) yang memunculkan teori polarization effect dan trickling-down effect
dengan argumen bahwa perkembangan suatu wilayah tidak terjadi secara bersamaan
(unbalanced development). Ketiga adalah Myrdal (era 1950-an) dengan teori yang menjelaskan
hubungan antara wilayah maju dan wilayah belakangnya dengan menggunakan istilah backwash
and spread effect. Keempat adalah Friedmann (era 1960-an) yang lebih menekankan pada
pembentukan hirarki guna mempermudah pengembangan sistem pembangunan yang kemudian
dikenal dengan teori pusat pertumbuhan. Terakhir adalah Douglass (era 70-an) yang
memperkenalkan lahirnya model keterkaitan desa – kota (rural – urban linkages) dalam
pengembangan wilayah.

Keberadaan landasan teori dan konsep pengembangan wilayah diatas kemudian diperkaya
dengan gagasan-gagasan yang lahir dari pemikiran cemerlang putra- putra bangsa. Diantaranya
adalah Sutami (era 1970-an) dengan gagasan bahwa pembangunan infrastruktur yang intensif
untuk mendukung pemanfaatan potensi sumberdaya alam akan mampu mempercepat
pengembangan wilayah. Poernomosidhi (era transisi) memberikan kontribusi lahirnya konsep
hirarki kota- kota dan hirarki prasarana jalan melalui Orde Kota. Selanjutnya adalah Ruslan
Diwiryo (era 1980-an) yang memperkenalkan konsep Pola dan Struktur ruang yang bahkan
menjadi inspirasi utama bagi lahirnya UU No.24/1992 tentang Penataan Ruang. Pada periode
1980-an ini pula, lahir Strategi Nasional Pembangunan Perkotaan (SNPP) sebagai upaya untuk
mewujudkan sistem kota-kota nasional yang efisien dalam konteks pengembangan wilayah
nasional. Dalam perjalanannya SNPP ini pula menjadi cikal-bakal lahirnya konsep Program
Pembangunan Prasarana Kota Terpadu (P3KT) sebagai upaya sistematis dan menyeluruh untuk
mewujudkan fungsi dan peran kota yang diarahkan dalam SNPP. Pada era 90-an, konsep
pengembangan wilayah mulai diarahkan untuk mengatasi kesenjangan wilayah, misalnya antara
KTI dan KBI, antar kawasan dalam wilayah pulau, maupun antara kawasan perkotaan dan
perdesaan. Perkembangan terakhir pada awal abad millennium, bahkan, mengarahkan konsep
pengembangan wilayah sebagai alat untuk mewujudkan integrasi Negara Kesatuan Republik
Indonesia.

Kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah yang dilaksanakan pada awal tahun 2000
memberikan kewenangan yang lebih besar kepada Pemerintah Provinsi, Kabupaten/Kota dalam
mengelola pembangunan wilayahnya. Peran pemerintah pusat lebih kepada menciptakan
kebijakan yang memampukan dan kondusif bagi pemangku kepentingan dalam
menyelenggarakan pembangunan daerah. Sejalan dengan pelaksanaan otonomi daerah, hampir
semua peraturan perundang- undangan mengalami perubahan disesuaikan dengan konteks

Usulan Teknis E-2 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

otonomi dan desentralisasi daerah. Dalam hal penataan ruang ditetapkan Undang-Undang
Nomor 26 Tahun 2007 sebagai pengganti undang-undang sebelumnya.

Berdasarkan pemahaman teoritis dan pengalaman empiris diatas, maka secara konseptual
pengertian pengembangan wilayah dapat dirumuskan sebagai rangkaian upaya untuk
mewujudkan keterpaduan dalam penggunaan berbagai sumber daya, merekatkan dan
menyeimbangkan pembangunan nasional dan kesatuan wilayah nasional, meningkatkan
keserasian antar kawasan, keterpaduan antar sektor pembangunan melalui proses penataan
ruang dalam rangka pencapaian tujuan pembangunan yang berkelanjutan dalam wadah NKRI.

E.1.2. Pendekatan Konsep Penataan Ruang

Dalam rangka mewujudkan konsep pengembangan wilayah yang didalamnya memuat tujuan dan
sasaran yang bersifat kewilayahan di Indonesia, maka ditempuh melalui penyelenggaraan
penataan ruang yang terdiri dari 4 (empat) proses utama, yakni :

a. Pengaturan, upaya pembentukan landasan hukum bagi Pemerintah, pemerintah daerah


dan masyarakat dalam penataan ruang.
b. Pembinaan, upaya untuk meningkatkan kinerja penataan ruang yang diselenggarakan
oeh Pemerintah, pemerintah daerah dan masyarakat.
c. Pelaksanaan, upaya pencapaian tujuan penataan ruang melalui pelaksanaan perencanaan
tata ruang, pemenfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang.
d. Pengawasan, upaya agar penyelenggaraan penataan ruang dapat diwujudkan sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Dengan demikian, selain merupakan proses untuk mewujudkan tujuan-tujuan pembangunan,


penataan ruang sekaligus juga merupakan produk yang memiliki landasan hukum (legal
instrument) untuk mewujudkan tujuan pengembangan wilayah.

Di Indonesia, penataan ruang telah ditetapkan melalui Undang-Undang Nomor 26 tahun 2007
yang kemudian diikuti dengan penetapan berbagai Peraturan Pemerintah (PP) untuk
operasionalisasinya. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 26 tahun 2007, khususnya pasal 3,
termuat tujuan penataan ruang, yakni mewujudkan ruang wilayah nasional yang aman, nyaman,
produktif, dan berkelanjutan berlandaskan Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional.
Sedangkan sasaran penataan ruang adalah :

a. Terwujudnya keharmonisan antara lingkungan alam dan lingkungan buatan


b. Terwujudnya keterpaduan dalam penggunaan sumber daya alam dan sumber daya
buatan dengan memperhatikan sumber daya manusia
c. Terwujudnya perlindungan fungsi ruang dan pencegahan dampak negative terhadap
ingkungan akibat pemanfaatan ruang.

Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 26 tahun 2007 tentang penataan ruang, perencanaan tata
ruang sebagai bagian pelaksanaan penataan ruang dilakukan untuk menghasilkan: a) rencana

Usulan Teknis E-3 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

umum tata ruang, secara berhierarki terdiri dari RTRW Nasional, RTRW Provinsi dan RTRW
Kabupaten/Kota, dan b) rencana rinci tata ruang, yang terdiri atas: RTR Pulau/Kepulauan dan RTR
Kawasan Strategis Nasional, RTR Kawasan Strategis Provinsi dan RDTR Kabupaten/Kota dan RTR
Kawasan Strategis Kabupaten/Kota. Rencana umum tata ruang belum dapat dijadikan dasar
dalam pelaksanaan pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang karena mencakup
wilayah perencanaan yang luas dan skala peta dalam rencana memerlukan perincian sebelum
dioperasionalkan. Rencana detail tata ruang dapat dijadikan dasar penyusunan peraturan zonasi.

E.1.3. Konsep Pembangunan Kota Berkelanjutan

Konsep pembangunan berkelanjutan diperkenalkan sebagai hasil dari debat antara pendukung
pembangunan dan pendukung pengelolaan lingkungan. Pembangunan berkelanjutan harus
dilihat sebagai interaksi antara tiga sistem: sistem biologi dan sumberdaya, sistem ekonomi dan
sistem sosial. Pembahasan mengenai konsep dan pendekatan, kesepakatan dan agenda
pembangunan berkelanjutan, baik pada tingkat global, regional, negara, provinsi dan
kota/kabupaten terus berlangsung sejak pencanangan awal dalam Konferensi PBB tentang
Manusia dan Lingkungan di Stockholm pada tahun 1972. Di Indonesia, kesepakatan dan agenda
pembangunan berkelanjutan yang dibahas dalam berbagai pertemuan internasional telah
mewarnai proses penyusunan kebijakan, rencana dan program yang dilakukan Pemerintah dalam
empat dekade terakhir. Konsep pembangunan berkelanjutan menjadi rujukan dalam
perencanaan pembangunan mulai tingkat nasional sampai tingkat daerah.

Pembangunan berkelanjutan adalah suatu cara pandang mengenai kegiatan yang dilakukan
secara sistematis dan terencana dalam kerangka peningkatan kesejahteraan, kualitas kehidupan
dan lingkungan umat manusia tanpa mengurangi akses dan kesempatan kepada generasi yang
akan datang untuk menikmati dan memanfaatkannya (Budimanta, 2005) Aspek sosial,
maksudnya pembangunan yang berdimensi pada manusia dalam hal interaksi, interelasi dan
interpendensi. Faktor lingkungan (ekologi) yang diperlukan untuk mendukung pembangunan
yang berkelanjutan ialah terpeliharanya proses ekologi yang esensial, tersedianya sumber daya
yang cukup, dan lingkungan sosial-budaya dan ekonomi yang sesuai (Otto, 2006).

Pembangunan berkelanjutan terdiri dari tiga tiang utama yakni ekonomi, sosial, dan lingkungan
yang saling bergantung dan memperkuat. Ketiga aspek tersebut tidak bisa dipisahkan satu sama
lain, karena ketiganya menimbulkan hubungan sebab – akibat. Hubungan ekonomi dan sosial
diharapkan dapat menciptakan hubungan yang adil (equitable). Hubungan antara ekonomi dan
lingkungan diharapkan dapat terus berjalan (viable). Sedangkan hubungan antara sosial dan
lingkungan bertujuan agar dapat terus bertahan (bearable). Ketiga aspek yaitu aspek ekonomi,
sosial, dan lingkungan akan menciptakan kondisi berkelanjutan (sustainable).

Berdasarkan Undang Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, kawasan
perkotaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan pernatian dengan susunan
fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan istribusi pelayanan jasa
pemerintahan, pelayanan sosla dan kegiatan ekonomi. Hal ini menunjukan bahwa kota

Usulan Teknis E-4 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

dibandingkan desa memiliki kelebihan dalam hal kemampuan finansial dan ekonomi, kualitas
manusia dan modal sosial. Kota sebagai pusat kegiatan perekonomian memiliki sumber
pendapatan yang lebih dan dapat disalurkan untuk investasi di bidang pengelolaan lingkungan.

Kota memiliki karakter yang berbeda dengan desa dan masing-masing kota memiliki ciri
lingkungan yang spesifik sesuai fungsi dan perannya dalam sistem perkotaan yang tercermin
pada kegiatan yang berlangsung di kota tersebut. Kegiatan yang berlangsung kota akan
mempengaruhi kebutuhan sumberdaya alam seperti air, lahan, makanan dan lainnya. Sumber
alam lain yaitu ruang, waktu, keanekaragaman hayati. Ruang memisahkan makhluk hidup dengan
sumber bahan makanan yang dibutuhkan, jauh dekatnya jarak sumber makanan akan
berpengaruh terhadap perkembangan populasi. Waktu sebagai sumber alam tidak merupakan
besaran yang berdiri sendiri. Hewan mamalia di padang pasir, pada musim kering apabila
persediaan air habis dilingkungannya, maka harus berpindah ke lokasi yang ada sumber airnya.
Keanekaragaman juga merupakan sumberdaya alam. Semakin beragam jenis makanan suatu
spesies semakin kurang bahayanya apabila menghadapi perubahan lingkungan yang dapat
memusnahkan sumber makanannya. Sebaliknya suatu spesies yang hanya tergantung satu jenis
makanan akan mudah terancam bahaya kelaparan.

Pembangunan kota yang berkelanjutan menurut Salim [1997] adalah suatu proses dinamis yang
berlangsung secara terus–menerus, merupakan respon terhadap tekanan peruahan ekonomi,
lingkungan, dan sosial. Proses dan kebijakannya tidak sama pada setiap kota, tergantung pada
kota–kotanya. Salah satu tantangan terbesar konsep tersebut saat ini adalah menciptakan
keberlanjutan, termasuk didalamnya keberlanjutan sistem politik dan kelembagaan sampai pada
strategi, program, dan kebijakan sehingga pembangunan kota yang berkelanjutan dapat
terwujud.

Menurut Budihardjo, E dan Sudjarto, DJ [2009], kota berkelanjutan didefinisikan sebagai kota
yang dalam pengembangannya mampu memenuhi kebutuhan masyarakatnya masa kini, mampu
berkompetisi dalam ekonomi global dengan mempertahankan keserasian lingkungan vitalitas
sosial, budaya, politik, dan pertahanan keamanannya tanpa mengabaikan atau mengurangi
kemampuan generasi mendatang dalam pemenuhan kebutuhan mereka. Menurut Research
Triangle Institute, 1996 dalam Budihardjo, 2009 dalam mewujudkan kota berkelanjutan
diperlukan beberapa prinsip dasar yang dikenal dengan Panca E yaitu Environment (Ecology),
Economy (Employment), Equity, Engagement dan Energy.

Seiring berkembangnya konsep kota berkelanjutan, berkembang pula konsep- konsep yang
mendukung implementasi konsep keberlanjutan itu sendiri diantaranya adalah Green City, Self-
Sufficient City, Zero-Waste City, Green Transportation, Eco 2 City dan Resilient City. Pada dasarnya
keenam konsep tersebut memiliki keterkaitan satu sama lain dan saling melengkapi.

a. Green City

Saat ini, lebih dari setengah populasi dunia tinggal dan berkegiatan di kawasan perkotaan.
Pertumbuhan sebuah kota merupakan hal yang tidak terelakkan. Pertumbuhan kota akan

Usulan Teknis E-5 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

menumbuhkan perekonomian masyarakat dan meningkatkan standar kehidupan


masyarakat kota, namun di sisi lain, pertumbuhan ini juga akan menyebabkan dampak
lingkungan yang signifikan. Dalam sebuah publikasi Asian Development Bank bertajuk
Green Cities (S. Chander, 2012), menyatakan bahwa kota-kota dunia menyumbang 70%
emisi karbondioksida dari keseluruhan emisi dunia yang menyebabkan perubahan iklim.
Oleh karena itu, muncul konsep Green City, dimana terdapat keseimbangan antara
pertumbuhan ekonomi, konservasi lingkungan dan kesetaraan sosial.

Green City mewujudkan suatu kondisi kota yang aman, nyaman, bersih, dan sehat untuk
dihuni penduduknya dengan mengoptimalkan potensi sosial ekonomi masyarakat melalui
pemberdayaan forum masyarakat, didukung oleh sektor terkait dan selaras dengan
perencanaan kota. Jika konsep Green City dapat dijalankan, maka di masa depan
lingkungan kota yang sehat akan tercapai namun produktivitas dan lingkungan kompetitif
dalam kota tetap terjaga. Dengan kata lain, kota hijau harus menyeimbangkan
pertumbuhan dan pengembangan aspek lingkungan, sosial, budaya, ekonomi dan politik
yang ada di dalam kota.

Pada tahun 2009, The Economist Intelligence Unit mengadakan riset mengenai Indeks
Kota Hijau Eropa (European Green City Index). Indeks ini mengukur kelangsungan
lingkungan kota kota Eropa saat ini serta melakukan penilaian terhadap komitmen kota-
kota tersebut dalam mengurangi dampak lingkungan dari visi dan tujuan kota. Indeks ini
menilai kota dalam delapan kategori yaitu emisi CO2, energi, bangunan, transportasi,
penyediaan air, pengolahan sampah dan penggunaan lahan, kualitas udara dan
pemerintahan yang sadar lingkungan. Dalam riset tersebut ditemukan bahwa ada tiga hal
yang harus diterapkan untuk melaksanakan konsep Green City yaitu:

Meningkatkan pemerintahan yang peka terhadap lingkungan (environmental


governance) untuk memastikan perkembangan yang terjadi sesuai dengan standar
minimal yang ditetapkan Menggunakan teknologi tinggi yang dapat menurunkan
kerusakan lingkungan Memotivasi masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam
pembangunan kota yang berkelanjutan (Economist Intelligence Unit, 2009).

Green World City, salah satu organisasi yang bergerak dalam pengembangan kota
berkelanjutan khususnya dalam pengembangan kebijakan kota, menyatakan terdapat 10
(sepuluh) komponen yang harus terintegrasi untuk membangun kota hijau yaitu
pemanfaatan lahan yang berkelanjutan, bangunan ramah lingkungan, energi terbarukan
dan efisiensi energi, udara bersih, pengelolaan air bersih, pengelolaan sampah, sanitasi
dan kesehatan, kebijakan terkait lingkungan, transportasi ramah lingkungan dan
pengembangan ekonomi berbasis lingkungan (Green World Cities, 2015).

Pengembangan konsep kota hijau memerlukan perencanaan yang matang dari segala
aspek. Aspek lingkungan mendapatkan perhatian yang sama dengan aspek- aspek
lainnya. Dalam pengembangan konsep Green City, semua aktifitas perkotaan diharapkan

Usulan Teknis E-6 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

dapat meminimalisasikan pengeluaran emisi karbon ke udara dan mempertimbangkan


keberlangsungan lingkungan hidup. Sejalan dengan publikasi Green World City, Asian
Development Bank mengeluarkan sebuah publikasi bertajuk Green City. Dalam publikasi
tersebut dijelaskan bahwa Green City ada 6 tipe investasi yang harus disediakan untuk
mencapai tujuan kota hijau dan memastikan kelangsungan lingkungan kota dalam jangka
panjang yaitu, sistem transportasi rendah karbon, sektor industri ramah lingkungan,
bangunan dengan pemakaian energi yang efisien, penghijauan dalam kota, infrastuktur
yang ramah lingkungan dan tahan lama serta sistem intelijen yang berteknologi tinggi
(Michael Lindfield and Florian Steinberg, 2012).

b. Self-sufficient City

Self-sufficient city merupakan sebuah konsep dimana sebuah kota dapat memenuhi
kebutuhan masyarakatnya dengan menggunakan sumber daya yang dimilikinya sendiri.
Prinsip ini sangat terkai dengan ketahanan pangan dan penyediaan kebutuhan energi
baik yang digunakan langsung di permukiman masyarakat maupun yang digunakan oleh
perkantoran maupun alat transportasi umum (www.dac.dk diambil pada tanggal 30
Maret 2015). Pengembangan self-sufficient city akan sangat bergantung dengan teknologi
yang tinggi dan relatif mahal. Dengan prinsip ini, kegiatan kota diharapkan dapat
mengurangi emisi karbon dengan mengurangi jarak tempuh yang digunakan pengiriman
bahan makanan atau kebutuhan sehari-hari lainnya serta dengan teknologi energi yang
lebih ramah lingkungan.

Prinsip ini dimulai dari unit terkecil sebuah kota yaitu Green building yang didefinisikan
oleh GGGC (Governor’s Green Governor Council) sebagai bangunan yang konstruksi dan
masa operasinya menjamin kelestarian lingkungan dengan tetap merepresentasikan
penggunaan paling efisien dari tanah, air, energi, dan sumber daya. Sedangkan oleh
Karolides didefinisikan sebagai pendekatan yang memiliki pendekatan holistik, mulai dari
memprogram, merencanakan, mendesain, dan merekonstruksi bangunan dan tapak.
Termasuk didalamnya adalah menghubungkan isu seperti perubahan iklim, atau
penggunaan material, dan mengoptimalkan aspek-aspek tersebut supaya tidak
merugikan lingkungan. Solusi optimumnya adalah meniru secara efektif sistem dan
kondisi alam mulai dari tahap pra-pembangunan hingga pembangunan selesai. Kunci
untuk mencapai tujuan dari desain green building meliputi :

 Mengurangi demand akan energi dan penggunaannya.


 Mengimprove kualitas udara dan lingkungan.
 Mengoptimalkan biaya operasi dan pemeliharaan dan memperpanjang masa kerja
bangunan.
 Meminimalkan konsumsi air.
 Menggunakan sumber daya dan bahan baku secara efisien.
 Meminimalkan dampak pembangunan terhadap ekologi.
 Mengelola dan meminimalkan sampah dan limbah selama masa konstruksi.

Usulan Teknis E-7 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

c. Zero-Waste City

Konsep Zero-Waste City merupakan konsep dimana setiap sampah dan sisa yang
dikeluarkan atas aktivitas manusia dapat diolah kembali untuk menjadi sesuatu hal yang
berguna. Penerapan konsep ini memerlukan teknologi tinggi yang dapat mengubah
sampah menjadi suatu hal yang sangat berguna seperti energi kelistrikan tanpa
menghasilkan sampah atau limbah lainnya. Secara singkat, zero waste city merupakan
suatu kota yang melakukan 100% recycle and recovery dari seluruh sumber daya material
sampah dan limbah (Zaman, 2011). Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Zaman (2011),
terdapat 5 aspek utama yang paling penting dalam mentransformasi suatu kota menjadi
zero waste city, yaitu terjangkau dari konteks ekonomi-sosial, dapat di-manage dari
konteks sosio-politik, dapat diterapkan dari konteks politik-teknologi, efektif dan efisien
dari konteks ekonomi- teknologi, dan keseluruhannya harus memberikan dampak baik
untuk kelestarian lingkungan.

d. Green Transportation

Sistem transportasi yang ada saat ini bertumpu pada keberadaan bahan bakar fosil
dengan tingkat emisi yang cukup tinggi. Sistem transportasi yang ramah lingkungan
dapat menjadi satu alat untuk membangun kota yang berkelanjutan dengan
pengintegrasian infrastruktur transportasi kota dan parameter tata guna lahan seperti
skala kegiatan, intensitas pemanfaatan lahan, tipe pengembangan lahan sehingga dapat
mengurangi emisi karbon yang dihasilkan sektor transportasi. (Michael Lindfield and
Florian Steinberg, 2012).

Dalam penerapan green transportation, pembuat kebijakan harus memperhatikan 4


langkah yaitu menghubungkan dan mengintegrasikan perencanaan dan implementasi,
pembangunan jalan arteri dan kolektor dikembangkan pada area pembangunan.
menyusun desain dan panduan yang konsisten dengan kebutuhan dan tujuan penduduk,
temasuk penduduk berpendapatan rendah serta menyediakan angkutan umum massal
yang efisien dan ramah lingkungan. Alternatif lain adalah memberdayakan bersepeda dan
berjalan kaki sebagai moda utama dalam berpindah. Contoh eksisting dapat dilihat di
Kopenhagen, bahwa dengan moda berjalan kaki dan bersepeda dan mengurangi
ketergantungan pada mobil pribadi telah membuat perbedaan besar dalam membuat
Kopenhagen menjadi kota yang jauh lebih berkelanjutan daripada 20 tahun yang lalu.

Pengembangan konsep Green Transportation sangat berkaitan dengan tata guna lahan
yang berkelanjutan (sustainable land use) dapat dicapai dengan didukung oleh
penyusunan kebijakan tata guna lahan yang baik, penyusunan dokumen rencana yang
ramah lingkungan, penyediaan ruang terbuka hijau dan konservasi keanekaragaman
hayati.

e. Eco 2 City

Usulan Teknis E-8 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

Konsep Eco 2 City merupakan konsep yang mensinergiskan hubungan antara ecological
city dan economic city. Eco 2 city telah terbukti di beberapa negara baik maju maupun
berkembang dapat meningkatkan keefisiensian sumber daya untuk kepentingan ekonomi
sekaligus mengurangi tingkat polusi dan limbah. Dengan menerapkan konsep eco2 city,
mereka telah mengimprove kualitas hidup masyarakatnya, meningkatkan daya saing dan
daya tahan ekonomi, memperkuat kapasitas fiskal, dan memberikan manfaat bagi kaum
miskin perkotaan (World Bank, 2012). Kota-kota dengan konsep tersebut lebih tahan
terhadap ketidakstabilan ekonomi dan lebih menarik untuk investasi dan bisnis.

Eco 2 city merupakan pendekatan untuk pembangunan kota yang berkelanjutan, dengan
berlandaskan terhadap 4 prinsip, yaitu :

 A city based approach, yang memungkinkan pemerintah lokal untuk memimpin


proses pembangunan dengan memperhatikan kapasitas ekologi daerah mereka.
 An expanded platform for collaborative design and decision making, yang
berfungsi untuk mengkoordinasikan dan mensinergiskan tindakan para
stakeholder kunci dalam kegiatan pembangunan.
 A one-system approach, yang mengintegrasikan dan menselaraskan kegiatan
perencanaan, desain, dan manajemen sistem perkotaan.
 An investment framework that values sustainibility and resiliency, dengan
mempertimbangkan analisis siklus hidup dan nilai dari semua aset modal
(manufaktur, alam, manusia, sosial) dan melakukan penilaian resiko dalam setiap
pengambilan keputusan.

f. Resilient City

Konsep resilient city muncul dalam menghadapi isu perubahan iklim dimana sebuah kota
mampu menghindari atau bangkit kembali dari kejadian yang merugikan atau bencana
besar yang terbentuk dari interaksi antara kerentanan dengan kapasitas adaptif
(Grosvenor, tanpa tahun). Kemampuan suatu kota untuk mendukung kegiatan manusia
dengan menghadapi berbagai ancaman seperti perubahan iklim, pertumbuhan populasi,
dan globalisasi sangat ditentukan oleh ketahanan (resilience) kota tersebut. Ketahanan
suatu kota akan meningkat saat mereka memiliki kapasitas adaptif yang meningkat, dan
menurun saat mereka semakin rentan. Menurut ICLEI (International Council for Local
Environmental Initiatives), resilient city adalah suatu kota yang mendukung
pembangunan sistem ketahanan yang lebih besar untuk suatu kota, baik dalam
kelembagaan, infrastruktur, ekonomi, dan sosial.

Terdapat beberapa jenis kerentanan yang disebutkan oleh Grovernor, yaitu rentan
terhadap iklim, lingkungan, sumber daya, infrastruktur, dan komunitas. Resilient city
harus mampu untuk mengurangi tingkat kerentanan terhadap 5 hal tersebut, dan
merespon secara dinamis terhadap perubahan sosial, ekonomi, dan lingkungan untuk
meningkatkan keberlanjutan jangka panjang. Sedangkan kapasitas adaktif memiliki lima

Usulan Teknis E-9 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

kunci utama, yaitu pemerintahan, institusi, teknologi, sistem perencanaan, dan struktur
perekonomian. Kelima hal tersebut merupakan kunci yang harus di-improve untuk
meningkatkan performa dari resilient city.

Berdasarkan sustainability.about.com, terdapat 11 prinsip dari desain resilient city, yaitu


sebagai berikut.
 Lingkungan resilient city perlu untuk meningkatkan kepadatan dan keragaman dari
penggunaan lahan, pengguna, jenis bangunan, dan ruang terbuka.
 Lingkungan resilient city harus memprioritaskan berjalan kaki sebagai moda utama
perjalanan, yang juga dapat menciptakan kualitas hidup individu yang baik.
 Lingkungan resilient city membangun jalan yang berorientasi pada sistem transit.
 Lingkungan resilient city memfokuskan konservasi energi dan sumber daya,
meningkatkan dan menciptakan ruang yang kuat dan bersemangat, yang merupakan
komponen signifikan dari struktur lingkungan dan identitas komunitas.
 Lingkungan yang diciptakan harus menyediakan kebutuhan sehari-hari dengan jarak
maksimal 500 meter.
 Lingkungan resilient city mengkonservasi dan meningkatkan kelestarian alam dan me-
manage dampak dari perubahan iklim.
 Lingkungan resilient city harus meningkatkan keefektifan dan keefisienan serta
keamanan dari sistem dan proses industri, yang mencakup manufaktur, transportasi,
komunikasi, dan konstruksi infrastruktur, serta mengurangi dampaknya terhadap
lingkungan.
 Resilient city memiliki sumber daya dan bahan baku yang mereka butuhkan dalam
radius yang dekat, yaitu 200 kilometer.
 Pembangunan resilient city membutuhkan partisipasi aktif dari seluruh anggota
komunitas.
 Resilient city merencanakan dan mendesain suatu kota yang daya tahannya sepadan
dengan tekanan lingkungan, sosial, dan ekonomi yang meningkat terkait dengan
dampak perubahan iklim dan kelangkaan minyak.
 Resilient city membangun tipe bangunan dan bentuk kota yang merudiksi biaya
pelayanan dan dampak terhadap lingkungan.

E.1.4. Pendekataqn Perlindungan Fungsi SDEW dalam rangka pengawasan dan


pengendalian pemanfaatan ruang kawasan DAS

Wilayah Sungai (WS) Kesatuan wilayah pengelolaan sumber dayaair dalam satu atau lebih daerah
aliransungai dan/atau pulau-pulau kecil yang luasnya kurang dari atau sama dengan 2.000 km2.
Sedangkan Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah suatu wilayah daratan yang merupakan satu
kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungainya, yang berfungsi menampung, menyimpan dan
mengalirkan air yang berasal dari curah hujan kedanau atau kelaut secara alami, yang batas di
darat merupakan pemisah topografis dan batas di laut sampai dengan daerah perairan yang
masih terpengaruh aktivitas daratan.

Usulan Teknis E-10 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

Sungai (S) adalah alur atau wadah air alami dan/atau buatan berupa jaringan pengaliran air
beserta air di dalamnya, mulai dari hulu sampai muara, dengan dibatasi kanan dan kiri oleh garis
sempadan. (Peraturan MenteriPU No. 28/2015 Penetapan Garis Sempadan Sungai dan Garis
Sempadan Danau). Situ merupakan suatu wadah genangan air di atas permukaan tanah yang
terbentuk secara alami maupun buatan dan merupakan sumber air baku. Air yang berasal dari air
tanah/sumber air lain atau air hujan. (Depdagri dan BPN). Danau (D) adalah bagian dari sungai
yang lebar dan kedalamannya secara alamiah jauh melebihi ruasruas lain dari sungai yang
bersangkutan. (Permen PUPR No. 28/2015 tentang penetapan garis sempadan sungai dan garis
sempadan danau). Waduk (W) adalah wadah air yang terbentuk sebagai akibat dibangunnya
bangunan sungai dalam hal ini bangunan bendungan, dan berbentuk pelebaran
alur/badan/palung sungai. (Peraturan Pemerintah No. 35/1991 Tentang Sungai). Embung (E) adalah
kolam penampung kelebihan air hujan pada musim hujan dan digunakan pada saat musim
kemarau. (Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Karang ploso Instalasi Penelitian Dan Pengkajian
Teknologi Pertanian).

Perlindungan dan optimalisasi fungsi Sungai Danau Embung dan Waduk (SDEW) dalam rangka
pengawasan dan pengendalian pemanfaatan ruang kawasan DAS. Peran SDEW

a. Peran dan Fungsi SDEW

b. Posisi SDEW

Usulan Teknis E-11 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

c. Kedudukan SDEW Dalam Fungsi Hidrologi Dan Kewilayahan

d. SDEW sebagai sistem fungsi pelayanan kota dan daya dukung Lingkungan

Usulan Teknis E-12 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

Terkait dengan Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas


Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, WS Musi-Sugihan-Banyuasin-Lemah maka
perlu adanya urgensi pengendalian kawasan SDEW hal ini disebabkan:

 Eksistensi situ, danau, embung, dan waduk (SDEW) yang ada mengalami penurunan, baik
secara jumlah akibat berubahnya alih fungsi lahan menjadi kawasan terbangun maupun
secara luasan SDEW berkurang dari luas semula.

 Berkurangnya SDEW dipengaruhi oleh lemahnya pengendalian pemanfaatan ruang dan


kurangnya pemahaman masyarakat terhadap rencana tata ruang.
 Dalam rangka perlindungan dan optimalisasi fungsi SDEW, maka perlu disusun strategi
pengendalian pemanfaatan ruang dan perlu adanya proses pendaftaran tanah kawasan
SDEW agar jelas kepemilikannya dan memiliki kekuatan hukum atas deliniasi kawasan
SDEW.

E.1.5. Pendekatan Penyusunan Rencana Pola Ruang

Pendekatan penyusunan pola ruang menggunakan empat konsep dasar, yaitu konsep
neighborhood unit, transit-oriented development (TOD), urban sustainability, dan sense of place.

a. Neighborhood Unit

Konsep pengembangan pola ruang neighborhood unit, merupakan konsep di mana


semua pergerakan aktivitas penduduknya diharapkan dapat dilakukan dalam skala
lingkungan yang kecil sehingga dapat mengurangi pergerakan yang masif. Konsep ini
tepat untuk diterapkan pada zona perumahan. Ciri-ciri dari neighborhood unit ini antara
lain:

 Social integrity, yaitu terbentuknya integritas sosial antar penduduk, yaitu adanya
kebersamaan, rasa tempat, identity, unity, sense of belonging.

Usulan Teknis E-13 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

 Sharing system, merupakan dasar dari kesatuan (unity):


 Tempat tinggal bersama (common residences)
 Penggunaan pelayanan bersama
 Perhatian terhadap kejadian di lingkungan dan mau membela kepentingan bersama
 Pelayanan lingkungan yang dioperasikan sendiri (self operated neighborhood
services), misalnya sampah, siskamling, dll. Catatan: (NU untuk desentralisasi
pelayanan + pengurangan transport)
 Bertetangga, berkembang dalam waktu yang lama dengan bersosialisasi melalui tukar,
pinjam, bantu, tukar info, persahabatan.
 Pemerintahan, skala lingkungan RT/RW.
 Swasembada (self-containment), minimum pelayanan sehari-hari dalam jarak dekat.

Pada konsep ini, pengembangan jaringan jalan mengikuti fungsi kegiatan, contohnya
kegiatan primer akan dilayani oleh jalan primer baik arteri maupun kolektor, begitu pula
dengan kegiatan sekunder akan dilayani oleh jalan sekunder, dan seterusnya.

b. Urban Sustainability

Konteks sustainability atau berkelanjutan pada suatu kota merupakan arah yang
diupayakan untuk menyokong kebutuhan manusia dan mendorong pemenuhan
kebutuhan secara kontinu pada level yang lebih baik, dimana lingkungan binaan
mendukung pengembangan personal dan lingkungan (Hill, 1992). Selain itu, pemahaman
lain akan keberlanjutan adalah sebuah evolusi lingkungan, ekonomi dan sosial yang
kontinu. Perkotaan dalam pembangunan yang berkelanjutan merupakan hal yang
signifikan karena kota merupakan satu-satunya tempat dimana penduduk, modal, dan
sumber daya berada dalam sinergi yang dinamis. Terkait dengannya, integrasi dan
keseimbangan kebijakan merupakan hal krusial yang membutuhkan dukungan dari
penduduknya (Mega, 2008)

Konsep kota berkelanjutan memiliki prinsip-prinsip tertentu yang dapat digunakan untuk
melihat pembangunan kota yang menunjukkan ciri-ciri keberlanjutan. Terkait dengan
bentuk kota, kota yang kompak (compact city) di negara-negara maju dianggap sebagai
suatu ciri kota yang berkelanjutan yang ditunjukkan dengan intensifikasi aktivitas di pusat
kota, pembangunan dengan penambahan pada struktur yang telah ada, kombinasi fungsi-
fungsi setiap bagian wilayah kota, penyediaan dan penyebaran fasilitas, dan
pembangunan dengan kepadatan tinggi. Oleh sebab itu, urban compactness dapat
dijadikan salah satu indikator keberlanjutan kota. Selain itu, urban compactness ini tidak
lepas dari hubungannya terhadap transportasi. Konsep compact city yang menuju kota
berkelanjutan juga akan menuju ke transportasi yang berkelanjutan

Menurut Mountain Association for Community Economic Development (MACED), isu


sustainabilitas terbatas pada tiga aspek, yaitu:

Usulan Teknis E-14 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

 Ekonomi - ketahanan ekonomi suatu kota dalam menghadapi permasalahan


ekonomi masa kini dan masa depan, dimana manajemen kota harus menyediakan
lapangan kerja bagi masyarakat dan melakukan pembiayaan keberlangsungan
kotanya menggunakan pendapatan dari kotanya sendiri.
 Ekologi - perlunya melestarikan aset-aset alam untuk dapat dirasakan manfaatnya
secara menerus.
 Ekuitas - perlunya ketersediaan kesempatan yang memadai bagi berbagai elemen
masyarakat untuk berpartisipasi mengembangkan kotanya, baik dari kesempatan
berekonomi, ataupun membuat kebijakan sosial.

Dari aspek tersebut maka dapat disimpulkan bahwa untuk mencapai pengembangan
kawasan yang berkelanjutan, maka sebuah kawasan harus meminimalisasi penggunaan
sumber daya tak terbarukan, pengarahan penggunaan pada sumber daya yang dapat
diperbaharui dan sumber daya buatan manusia dan memperhatikan keberlanjutan
kualitas lingkungan dengan memperhatikan penyerapan limbah lokal dan global.

Prinsip berkelanjutan adalah upaya untuk memenuhi kebutuhan masa kini tanpa
mengorbankan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka
sendiri (United Nations World Commission on Environment and Development, 1987)
terutama relasi antara aspek lingkungan, aspek sosial dan aspek ekonomi dalam kerangka
pembangunan perkotaan. Ditambahkan oleh Hallmarks of a Sustainable City (CABE 2009)
kota yang merespon perubahan iklim dapat membantu menyelesaikan permasalahan
sosial dan ekonomi, seperti kelangkaan bahan bakar, kepadatan lalu lintas, dan membawa
kualitas hidup yang lebih baik. Secara lebih detail, manfaat perkotaan yang berkelanjutan
dapat dilihat dari berbagai macam aspek, namun 3 (tiga) aspek utama meliputi :

Segi Lingkungan Perkotaan yang berkelanjutan dapat memfasilitasi kehidupan


masyarakatnya dengan lingkungan yang sehat, sehingga tingkat kematian dapat
dikurangi, dan produktivitas penduduk meningkat, menjaga ketersediaannya ruang
terbuka publik, mengurangi pemanasan global, memudahkan akses penduduk kota,
mampu mendaur ulang energi kota dan memfasilitasi dengan baik penduduknya.

Segi ekonomi perkotaan yang berkelanjutan mampu menyediakan berbagai kesempatan


bagi para pencari kerja, serta mampu menjadi landmark sebuah negara, sehingga menarik
wisatawan asing untuk berinvestasi di kota ini.

Sisi sosial perkotaan yang berkelanjutan mampu mewadahi masyarakat merumuskan


kebijakan baru dengan pemerintah untuk memajukan kotanya, sehingga dapat menjaga
stabilitas sosial, selain itu mampu memenuhi kebutuhan dasar masyarakatnya, sehingga
memperkecil kesenjangan sosial.

c. Sense of Place

Place (tempat) adalah Space (ruang) yang memiliki ciri khas tersendiri. Perbedaan antara
keduanya menurut Roger Trancik (1986) adalah, keberadaan space muncul dari adanya

Usulan Teknis E-15 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

determinasi fisik, dan sebuah space menjadi sebuah place jika terdapat makna dari
lingkungan yang berasal dari budaya daerahnya. Makna tempat tersebut muncul dari
benda konkret (bahan, rupa, tekstur, warna) maupun benda abstrak, yaitu asosiasi
kultural dan regional yang dilakukan oleh manusia di tempatnya. Place mengandung
lokalitas kawasan tersebut. Faktor pembentuk place terbagi menjadi dua, yakni man-
made (buatan) dan natural (alami), atau bisa juga disebut lansekap dan pemukiman.

Makna tempat (sense of place) merupakan kekuatan non fisik yang mampu membentuk
kesan dalam sebuah tempat (Garnham,1985). Makna tempat tersebut dapat timbul oleh
atribut-atribut sebagai berikut:

 Aspek lingkungan alamiah dan buatan seperti bentuk lahan dan topografi,
vegetasi, iklim dan air.
 Ekspresi budaya (misal benteng, istana, masjid), wujud-wujud akibat sejarah sosial
dan tempat sebagai artefak budaya; dan
 Pengalaman sensoris, utamanya visual yang dihasilkan oleh interaksi budaya
dengan bentang alam eksisting.

Aspek lokal menjadi sesuatu yang sangat menonjol, apalagi jika mengandung keunikan
yang tidak ada duanya di tempat lain. Place dapat berbentuk apa saja, antara lain berupa
jalan (street), plaza (square), taman (park), pinggiran sungai (riverfront), jalan setapak
(foothpath), trotoar (pedestrian). Karena ruang-ruang ini dimiliki oleh komunitas yang
lebih luas, maka dinamakan Public Place atau ruang publik. Konsep place memberikan
penekanan pada pentingnya sense of belonging atau rasa kepemilikan yang
memunculkan ikatan emosional antara manusia terhadap tempat tersebut. Inilah
kemudian yang memunculkan adanya sense of identity atau sense of belonging terhadap
kawasan. Menurut Crang, (1998) place menghadirkan pengalaman orang-orang pada
masa lalu yang berlangsung terus- menerus sepanjang waktu. Rasa kepemilikan terhadap
suatu tempat kemudian diekspresikan dalam bentuk perbedaan fisik atau keunikan yang
hadir saat memasuki area tertentu.

Sense of place yang diimplementasikan pada sebuah tempat akan menghadirkan


kenyamanan, menjawab kebutuhan sosial serta terdapatnya arsitektur yang menarik.
Menghadirkan sense of place pada suatu kawasan tidak cukup dengan menghadirkan
karakter fisik pada kawasan tersebut, namun juga memperhatikan apakah lingkungan
sekitar memiliki keunikan dan identitas yang khas, sesuatu yang merekatkan kita
(manusia) dengan tempat sehingga muncul perasaan seolah kita sedang berada di rumah.
Berikut adalah faktor yang turut berperan dalam menciptakan sense of place, antara lain:

 Keistimewaan fisik dan tampilan, seperti struktur dan keindahan penampilan


bangunan serta lingkungan.
 Aktifitas dan fungsi lokal yang unik, menyangkut pula bagaimana interaksi antara
manusia dan tempat, bangunan dan lingkungan, juga budaya masyarakat.

Usulan Teknis E-16 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

 Makna atau simbolisme, yang menyangkut banyak aspek dan sangat kompleks,
seperti wujud bangunan atau lingkungan yang muncul karena interaksinya
dengan masyarakat atau karena aspek fungsional.

Sedangkan komponen yang bersifat fisik yang harus diperhatikan untuk membentuk
sebuah place menurut Davies (2000), adalah:

 Context, posisi dalam hirarki pergerakan akan menentukan seberapa intensif


ruang akan digunakan.
 Kegiatan yang membatasi ruang, tata guna lahan di sekitarnya, luas tiap plotnya
dan tanda-tanda kehidupan diantara batas-batas bangunan akan mempengaruhi
bagaimana daya tarik ruang tersebut. Batasan di tepi seringkali merupakan
tempat yang paling populer di dalam ruang publik.
 Kegiatan di dalam ruang yang dapat ditampung oleh suatu ruang sepanjang
waktu di sepanjang tahun.
 Iklim mikro, orang menginginkan tempat yang nyaman dari aliran angin dan
memiliki prospek kenyamanan dari sinar matahari dengan perlindungan untuk
cuaca terpanas.
 Skala yang disesuaikan dengan fungsi ruang tersebut.
 Proporsi, tingkat ketahanan ruang tersebut akan menentukan seberapa baik
ruang bisa didefinisikan. Sense of place akan hilang jika tingkat ketahanan ruang
berkurang.
 Objek dalam ruang, pohon, perubahan ketinggian, dan public art menghadirkan
 Place di sekitar tempat-tempat berkumpul bagi orang banyak.

Pada implementasi perancangan, pada dasarnya prinsip perancangan kawasan yang


berbasis pada sense of place adalah bagaimana mengelola potensi kawasan, baik fisik,
sosial, kesejarahan, hingga kultural, menjadi padu dengan karakter dan identitas kawasan
tersebut. Prinsip perancangan kawasan berbasis pada sense of place akan menggiring
terbentuknya kawasan yang unik dan menarik untuk menjadi destinasi. Secara umum,
prinsip perancangan kawasan berdasarkan konsep place seperti yang ditunjukkan oleh
gambar berikut:

Usulan Teknis E-17 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

Gambar E.1 Prinsip Perancangan berdasarkan Konsep Place

Sumber: Project for Public Places, 2003

Prinsip perancangan dapat diuraikan sebagai berikut:

 Menemukan karakter utama yang menjadi inti kawasan. Karakter dapat dibentuk
dari kehidupan sosial, ekonomi, potensi alam hingga artefak-artefak fisik yang dimiliki oleh
kawasan tersebut. Karakter hendaknya merupakan sesuatu yang khusus dan benar-benar
menjadi pembeda antara kawasan tersebut dengan tempat lainnya. Hal ini tidak hanya
berlaku pada kawasan lama/bersejarah, tetapi juga kawasan dengan pengembangan baru.
Dalam tahap ini, tim perencana/perancang menggali sedalam-dalamnya potensi lokal yang
dimiliki oleh suatu tempat melalui kegiatan observasi.
 Memikirkan bagaimana ruang-ruang urban yang diinginkan atau yang akan terbentuk
nantinya. Ruang-ruang urban yang ada pada suatu tempat menjelaskan bagaimana
karakter dari tempat tersebut, yaitu apakah ruang tersebut lebih berorientasi komersial
ataukah privat, ataukah ditujukan khusus untuk golongan tersebut. Orientasi ruang-ruang
urban muncul dari visi yang dirumuskan oleh tim perencana. Dengan menemukan orientasi
tersebut, akan dapat direncanakan kemudian jenis dan tingkat aktifitas serta hal-hal lain
yang dapat menunjang tumbuhnya aktifitas tersebut.
 Mendefinisikan ruang urban melalui rancangan blok dan sempadan bangunan. Tujuan
dari mendefinisikan ruang ini adalah untuk membentuk visual enclosure yang baik pada
ruang urban.
 Menciptakankan kekontrasan dan keberagaman fungsi maupun visual. Kekontrasan pada
suatu lingkungan membuat suatu tempat menjadi lebih dikenali. Keberagaman dan
kekontrasan suatu tempat yang ditata dengan baik akan memperjelas “titik awal”, “titik
akhir”, di mana kekontrasan tersebut akan menjadi penekanan (emphasis) pada titik-titik
yang dianggap khusus.
 Pemandangan (view) dan vista. View dan vista berperan dalam menciptakan kesan bagi
pengguna (manusia) melalui pengalaman visual. Contohnya adalah, koridor yang sempit

Usulan Teknis E-18 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

dan tinggi akan mengundang rasa penasaran atau bahkan rasa enggan untuk masuk karena
takut.
 Jalan dan parkir. Struktur jalan sangat menentukan bagaimana aktifitas kawasan akan
berlangsung. Pemilahan sirkulasi kendaraan dengan manusia serta penempatan lokasi
parkir yang tepat akan membantu terciptanya jalur pejalan kaki yang nyaman, aman serta
kondusif.
 Menciptakan lansekap baru yang menarik. Lansekap merupakan elemen penting untuk
menciptakan lingkungan yang menarik. Elemen lunak dari tanaman akan membantu dalam
menciptakan visual enclosure, kontinuitas dan berperan dalam menjaga iklim mikro
lingkungan. Sedangkan hardscape berupa perkerasan jalan maupun pejalan kaki akan
berperan dalam membentuk karakter lingkungan serta kaitan suatu tempat dengan tempat
lain di kawasan tersebut secara visual. Aspek – aspek utama dalam menciptakan sebuah
place dalam perancangan dijelaskan dalam tabel berikut.

Tabel E-1 Aspek Perancangan Konsep Sense of Place


No. Aspek Perancangan Indikator
Orientasi Kegiatan
1. Fungsi dan Aktivitas Kegiatan yang menarik dan menciptakan area destinasi
Keberagaman fungsi dan aktifitas (mixed use development)
Aksesibilitas yang baik dan terhubung dengan lingkungan sekitar,
misal: walkways, bicycleways, riverwalk, dll
Mudah dan menyenangkan untuk berjalan
Terhubung dengan transit moda
2. Aksesibilitas dan tautan
Kawasan terbuka secara visual
Ruang terbuka dalam kawasan terintegrasi satu sama lain, sehingga
muncul kontinuitas yang baik
Memiliki sistem tata informasi yang efektif
Jalur pedestrian ternaungi oleh vegetasi maupun naungan buatan
sebagai peneduh dan penurun suhu mikro di kawasan
Jalur pedestrian yang menerus tidak terpotong oleh kendaraan
Tersedia fasilitas penerang yang memadai
Tersedia perabot jalan dan tata informasi yang tertata baik dan
3. Kenyamanan fungsional
Area parkir yang tersembunyi dari pandangan public dan tidak
menempati area yang bernilai tinggi
Jalur sirkulasi jelas dan tidak membingungkan pengunjung
Memiliki ruang terbuka publik (misal: taman, plaza, kebun bunga, dll)
Memiliki beragam elemen bentang alam (landscape)
Mengundang, interaktif, keramahtamahan, membanggakan, dan
keberagaman
4. Sociability
Ruang terbuka dapat digunakan sebagai sarana untuk bertemu,
berinteraksi dan bersosialisasi dengan orang lain
Menggunakan potensi lokal sebagai penguat identitas kawasan
Adanya aktivitas komersil yang partisipatif
5. Karakter, Identitas dan Citra
Memiliki identitas arsitektur
Ruang publik dan ruang privat terdefinisi dengan jelas
6. Adaptibility Ruang terbuka publik dapat berubah fungsi dengan mudah
Tersedia ruang parkir yang memadai sehingga tidak terbentuk
kantong – kantong parkir illegal
7. Pelayanan (servis) Tersedia fasilitas kendaraan umum dan fasilitas transportasi lainnya,
seperti halte, jaringan jalan yang baik dan sebagainya
Sarana infrastruktur tersedia dengan memadai
Adanya manajemen acara – acara festival, special event, dan street
entertainment, untuk menghibur pengunjung.
8. Daya tarik
Adanya landmark, public art maupun magnet kawasan berupa anchor
tenant

Usulan Teknis E-19 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

Sumber : Analisis, 2019

E.1.6. Pendekatan Pengendalian Pemanfaatan Ruang


Prosedur dan Manual Pengendalian pemanfaatan ruang yang meliputi peraturan zonasi, perizinan,
insentif dan disinsentif dan pengaturan sanksi. Pengendalian pemanfaatan ruang merupakan bagian
dari kegiatan penataan ruang yang dipersiapkan sejak awal proses perencanaan tata ruang.
Pengendalian dilakukan secara rutin, baik oleh perangkat Pemerintah Daerah; masyarakat; atau
keduanya. Dalam proses dan prosedur penataan ruang perlu dilibatkan peran serta masyarakat.
Peran serta masyarakat dalam penataan ruang diatur dalam peraturan perundangan, meliputi
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah, PP Nomor 69 Tahun 1996
tentang Peran Serta Masyararakat Dalam Penataan Ruang, serta Permendagri Nomor 9 Tahun 1998
tentang Tata Cara Peran Serta Masyarakat dalam Proses Perencanaan Tata Ruang di Daerah. Dalam
peraturan-perundangan tersebut, masyarakat berhak dan wajib berperan serta dalam penyusunan
rencana tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang. Sebagai wujud
pelayanan pemerintah kepada masyarakat di bidang tata ruang diantaranya adalah Standar
Pelayanan Minimal (SPM), bidang Penataan Ruang. Standar Pelayanan Minimal disusun berdasarkan
kepada kewenangan wajib pemerintah Kabupaten/Kota yang harus diberikan kepada masyarakat,
harus memenuhi kriteria sebagai berikut : 1). Melindungi hak-hak konstitusional perorangan
maupun mayarakat secara umum; 2). Melindungi kepentingan Nasional yang ditetapkan
berdasarkan konsensus Nasional; 3). Memenuhi komitmen Nasional yang berkaitan dengan
perjanjian dan konvensi Internasional.

Pengaduan merupakan salah satu alat pengendalian pemanfaatan ruang, dengan adanya pengaduan
masyarakat menunjukkan adanya kepedulian masyarakat dalam pemanfaatan ruang. Mengingat
pengaduan merupakan umpan balik dari masyarakat, dimana pelayanan kepada masyarakat perlu
disusun Juklak SPM Bidang Penataan Ruang Aspek Pengaduan Masyarakat mengembangkan iklim
keterbukaan didalam penyelesaian pengaduan maka setiap pengaduan yang masuk harus ditanggapi
dan ditangani dengan serius. Dalam rangka menumbuhkan iklim keterbukaan dimaksud, maka perlu
disusun petunjuk pelaksanaan pengaduan masyarakat agar pelayanan bidang penataan ruang
kepada masyarakat dapat dipenuhi. Untuk lebih jelasnya menganai aspek-aspek pengendalian
pemanfaatan ruang yang telah diatur pada Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 dapat dilihat
pada gambar di bawah ini.

Usulan Teknis E-20 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

Gambar E.2 Alur Pengendalian Pemanfaatan Ruang

1) Landasan Hukum
 UU No. 23 tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah;
 UU No. 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang;
 PP Nomor 69 Tahun 1996 tentang Peran Serta Masyararakat Dalam Penataan Ruang;
 Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah
Nasional
 Peraturan Pemerintah RI Nomor 69 Tahun 1996 tentang Pelaksanaan Hak dan Kewajiban
serta Bentuk dan Tata Cara Peran Serta Masyarakat Dalam Penataan Ruang.
 Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan
 Kepmendagri Nomor 147 Tahun 2004 tentang Pedoman Koordinasi Penataan Ruang
Daerah

2) Penyelenggaraan Penataan Ruang

Rencana tata ruang yang berkualitas merupakan prasyarat dalam penyelenggaraan penataan
ruang. Namun demikian rencana tata ruang tersebut harus dibarengi dengan pengendalian
pemanfaatan ruang yang tegas dan konsisten untuk menjamin agar pemanfaatan ruang
dapat tetap sesuai dengan rencana tata ruang yang telah ditetapkan. Terkait pengendalian,
terdapat 3 (tiga) perangkat utama yang harus disiapkan yakni:

1. Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)

Fungsi utama dari RDTR adalah sebagai dokumen operasionalisasi rencana tata ruang
wilayah. Dengan kedalaman pengaturan yang rinci dan skala peta yang besar, rencana

Usulan Teknis E-21 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

detail dapat dijadikan dasar dalam pemberian ijin dan mengevaluasi kesesuaian
pemanfaatan lahan dengan rencana tata ruang yang telah ditetapkan.

2. Peraturan Zonasi (Zoning Regulation)

Peraturan zonasi merupakan dokumen turunan dari RDTR yang berisi ketentuan yang
harus diterapkan pada setiap zona peruntukan. Dalam peraturan zonasi dimuat hal-hal
yang harus dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan oleh pihak yang memanfaatkan
ruang, termasuk pengaturan koefisien dasar bangunan, koefisien lantai bangunan,
penyediaan ruang terbuka hijau publik, dan hal-hal lain yang dipandang perlu untuk
mewujudkan ruang yang nyaman, produktif, dan berkelanjutan. Peraturan zonasi
tersebut bersama dengan RDTR menjadi bagian ketentuan perizinan pemanfaatan ruang
yang harus dipatuhi oleh pemanfaat ruang.

3. Mekanisme Insentif-Disinsentif

Pemberian insentif kepada pemanfaat ruang dimaksudkan untuk mendorong


pemanfaatan ruang yang sesuai dengan rencana tata ruang. Sebaliknya, penerapan
perangkat disinsentif dimaksudkan untuk mencegah pemanfaatan ruang yang
menyimpang dari ketentuan rencana tata ruang. Contoh bentuk insentif adalah
penyediaan prasarana dan sarana lingkungan yang sesuai dengan karakteristik kegiatan
yang diarahkan untuk berkembang di suatu lokasi. Sedangkan disinsentif untuk
mengurangi pertumbuhan kegiatan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang.

3) Peran Masyarakat dalam Pengendalian Pemanfaatan Ruang

Pengendalian pemanfaatan ruang bukan hanya kewajiban pemerintah, tetapi juga


merupakan hak dan kewajiban masyarakat. Ketentuan mengenai bentuk dan tata cara
pelaksanaan peran masyarakat dalam pengendalian pemanfaatan ruang telah diatur dalam
Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 1996. Hal ini dipertegas dalam rumusan naskah RUU
Penataan Ruang yang disusun untuk menggantikan UU No. 24 Tahun 1992 Tentang Penataan
Ruang. Beberapa pokok pengaturan terkait peran masyarakat dalam pengendalian
pemanfaatan ruang adalah sebagai berikut:

 Menyampaikan laporan kepada pemerintah tentang adanya pelanggaran terhadap


rencana tata ruang.

 Mengajukan keberatan kepada pejabat yang berwenang atas pembangunan di


wilayahnya yang bertentangan dengan rencana tata ruang.

 Mengajukan tuntutan pembatalan izin dan penghentian pembangunan yang tidak


sesuai dengan rencana tata ruang.

Peran aktif masyarakat dalam pengendalian pemanfaatan ruang/lahan saat ini dirasakan
sebagai suatu kebutuhan untuk mengefektifkan upaya pencapaian tujuan penataan ruang
untuk mewujudkan ruang yang nyaman, produktif, dan berkelanjutan.

Adanya berbagai permasalahan dalam bidang penataan ruang mencerminkan


penyelenggaraan penataan ruang sejauh ini belum mampu sepenuhnya memenuhi harapan

Usulan Teknis E-22 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

terwujudnya ruang wilayah yang nyaman, produktif, dan berkelanjutan. Untuk itu diperlukan
langkah-langkah yang sistematis yang diharapkan mampu mengefektifkan penyelenggaraan
penataan ruang, termasuk dalam pengaturan pemanfaatan lahan agar sesuai dengan
rencana tata ruang.

Beberapa langkah penting yang saat ini tengah dilaksanakan antara lain adalah:

a. Revisi Undang-undang Tentang Penataan Ruang

Upaya ini dimaksudkan untuk memberikan payung hukum yang lebih jelas bagi
penyelenggaraan penataan ruang. Ketentuan-ketentuan yang ada di dalam UU No. 24
Tahun 1992 Tentang Penataan Ruang yang dirasakan tidak tegas dalam memberikan
arahan bagi penyelenggaraan direvisi sedemikian rupa sehingga dapat dijadikan pedoman
oleh para pemangku kepentingan dalam proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan
ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang. Beberapa ketentuan yang mengalami
perubahan signifikan antara lain adalah (i) pengaturan sanksi, (ii) peraturan zonasi
sebagai piranti izin, (iii) mekanisme insentif-disinsentif, (iv) ruang terbuka hijau publik, (v)
standar pelayanan minimal bidang penataan ruang, (vi) pengawasan penyelenggaraan
penataan ruang oleh pemerintah maupun masyarakat, (vii) kejelasan hirarki fungsional
antar rencana tata ruang, dan (viii) kejelasan struktur ruang seperti pada kawasan
metropolitan dan agropolitan.

b. Penyiapan Norma, Standar, Pedoman, dan Manual (NSPM) bidang penataan ruang

Pelaksanaan ketentuan undang-undang membutuhkan berbagai peraturan pelaksanaan,


standar, pedoman, dan manual yang bersifat operasional. Kurangnya NSPM bidang
penataan ruang selama ini telah disadari sebagai satu kelemahan dalam penyelenggaraan
penataan ruang. Untuk itu pemerintah berkomitmen untuk terus menerus memperluas
dan mempertajam penyiapan NSPM yang dibutuhkan dalam pelaksanaan perencanaan
tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang. NSPM
perencanaan tata ruang ditujukan untuk menjamin produk rencana tata ruang yang
berkualitas, yang disusun dengan berdasarkan pada daya dukung lingkungan, kebutuhan
pelayanan prasarana dan sarana, dan kebutuhan pengembangan kegiatan masyarakat
yang terus berkembang, serta melalui proses partisipatif memperhatikan kepentingan
seluruh pemangku kepentingan.

c. Pengawasan penyelenggaraan penataan ruang

Dengan adanya undang-undang penataan ruang dan NSPM bidang penataan ruang maka
penyusunan rencana tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan
ruang merupakan proses yang memiliki landasan hukum. Berbagai ketentuan dalam
undang-undang dan NSPM diharapkan dapat memberikan kepastian bahwa
penyelenggaraan proses-proses tersebut akan mendorong terwujudnya ruang yang
nyaman, produktif, dan berkelanjutan.

Agar penyelenggaraan penataan ruang tidak melenceng dari tujuan terwujudnya ruang
yang nyaman, produktif, dan berkelanjutan, maka proses-proses yang ada di dalamnya

Usulan Teknis E-23 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

perlu diawasi kesesuaiannya dengan ketentuan yang ada di dalam undang-undang dan
NSPM bidang penataan ruang. Perspektif ini merupakan pola pikir yang menegaskan
bahwa penataan ruang bukan sekedar proses untuk mengontrol perilaku masyarakat
dalam memanfaatkan ruang, tetapi juga merupakan sebuah proses yang harus diawasi
masyarakat agar tetap sesuai dengan kaidah hukum yang berlaku.

d. Penegakan hukum

Hal lain yang dirasakan perlu untuk dipertegas dalam penyelenggaraan penataan ruang
adalah penegakan hukum. Dalam konteks ini, terhadap semua tindakan yang tidak sesuai
dengan kaidah yang berlaku harus dilakukan upaya penegakan hokum yang tegas dan
konsisten. Berbagai pelanggaran dalam penyelenggaraan penataan ruang selama ini tidak
mendapatkan tindakan yang proporsional, sehingga terus berlangsung dan cenderung
meningkat. Disamping itu, untuk mengefektifkan proses penegakan hukum dirumuskan
pula ketentuan mengenai Pejabat Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) yang memiliki
kewenangan khusus untuk melakukan penyelidikan dan penyidikan terhadap indikasi
pelanggaran di bidang penataan ruang.

Efektivitas langkah-langkah “reformasi” tersebut di atas memerlukan dukungan dari


seluruh pemangku kepentingan baik pemerintah, masyarakat, maupun dunia usaha. Hal
ini mengingat bahwa langkah-langkah tersebut dirasakan sebagai kebutuhan dalam
mengefektifkan penyelenggaraan penataan ruang yang bertujuan untuk mewujudkan
ruang yang nyaman, produktif, dan berkelanjutan.

e. Kewajiban dan Kewenangan Pengendalian Pemanfaatan Ruang

Pemerintah bertanggung jawab untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,


mewujudkan keadilan, mengurangi konflik, dan dampak negatif pemanfaatan ruang serta
menjamin berlangsungnya pembangunan kota yang efisien, efektif, serta sesuai dengan
fungsi dan konsisten dengan rencana tata ruang. Oleh karenanya, pemerintah wajib
menjalankan fungsi pengendalian pemanfaatan ruang. Kewenangan pengendalian
pemanfaatan tata ruang berdasarkan UU Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang
berada di pemerintah sebagai pelaksana pembangunan. Dalam proses dan
pelaksanaannya, pemerintah menjalankan peran masyarakat dalam pengendalian
pemanfaatan ruang ini. Dalam menjalankan kewajiban ini, pemerintah mempunyai
beberapa kewenangan dengan azas-azas sebagai berikut :

 Hak atas lahan (Bundles of Right) Kewenangan untuk mengatur hak atas lahan,
hubungan hukum antara orang/badan dengan lahan dan perbuatan hukum mengenai
lahan
 Kewenangan pengaturan dan pengendalian (Policy Power) merupakan kewenangan
dalam menerapkanperaturan hukum untuk meningkatkan kesehatan
umum,keselamatan moral, dan kesejahteraan. Kewenangan inijuga meliputi
kewenangan untuk melakukan pengaturan,pengawasan, dan pengendalian
pembangunan di atas lahan maupun kegiatan-kegiatan manusia yang menghuninya.

Usulan Teknis E-24 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

 Penguasaan tertinggi atas lahan (Eminent Domain) Penguasaan tertinggi atas lahan
dimungkinkan untukdiberlakukan apabila masyarakat menghendaki dan denganalasan
untuk kepentingan umum, pemanfaatan lahan yangtelah ada dapat dilakukan
tindakan pengambil alihan ataupencabutan hak atas tanah.
 Pajak dan Retribusi (Taxation) Pajak merupakan beban/pungutan /pengenaan yang
dilandasi kewajiban hukum terhadap perorangan/ kelompok, namun pengenaan
tersebut hanya untuk masyarakat dandigunakan untuk kepentingan umum, tidak
dinikmati langsung, bersifat paksaan, dan tidak diskriminasi.

Kewenangan Belanja/investasi publik (Spending Power) Berdasarkan hal tersebut di atas,


maka dapat diidentifikasi bahwa wewenang pemerintah terkait dengan peraturan zonasi
yakni:

 Pemerintah Pusat : menyebarluaskan informasi yangberkaitan dengan arahan


peraturan zonasi untuk sistem nasionalyang disusun dalam rangka pengendalian
pemanfaatan ruangwilayah nasional; dan
 Pemerintah Daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota : menyebarluaskan infomasi yang
berkaitan dengan arahan peraturan zonasi untuk sistem provinsi dan kabupaten/kota
yang disusun dalam rangka pengendalian pemanfaatan ruang wilayah provinsi dan
kabupaten/kota.

f. Pengenaan Sanksi

Pengenaan sanksi menurut Pasal 39 UU Nomor 26 tahun 2007 adalah tindakan


penertiban yang dilakukan terhadap pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan
rencana tata ruang dan peraturan zonasi. UU No. 26 tahun 2007 mengenal adanya sanksi
administrasi, sanksi pidana dan tuntutan ganti kerugian secara perdata.

Sanksi administrasi terutama mempunyai fungsi instrumental, yaitu pengendalian


perbuatan terlarang. Disamping itu, sanksi administrasi terutama ditujukan kepada
perlindungan kepentingan yang dijaga oleh ketentuan yang dilanggar tersebut. Sanksi
administrasi menurut Pasal 63 UU No. 26 tahun 2007 dapat berupa: a). peringatan
tertulis; b). penghentian sementara kegiatan; c). penghentian sementara pelayanan
umum; d). penutupan lokasi; e).pencabutan izin; f). pembatalan izin; g).pembongkaran
bangunan; h). pemulihan fungsi ruang; dan/atau, i). denda administratif,

Sanksi administratif dapat dikenakan pada setiap orang yang tidak mematuhi ketentuan
Pasal 61 UU No. 26 tahun 2007 yang menyatakan bahwa dalam pemanfaatan ruang,
setiap orang wajib: a. menaati rencana tata ruang yang telah ditetapkan; b.
memanfaatkan ruang sesuai dengan izin pemanfaatan ruang dari pejabat yang
berwenang; c. mematuhi ketentuan yang ditetapkan dalam persyaratan izin pemanfaatan
ruang; dan memberikan akses terhadap kawasan yang oleh ketentuan peraturan
perundang-undangan dinyatakan sebagai milik umum. Selain pengenaan sanksi
administrasi, pelanggaran atas Pasal 61 UU No. 26 tahun 2007 tersebut juga dikenakan
sanksi pidana yang bersifat komulatif (penjara dan denda) apabila mengakibatkan
perubahan fungsi ruang, kerugian atas harta benda atau kerusakan barang dan

Usulan Teknis E-25 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

mengakibatkan kematian sesuai dengan Pasal 69-72 UU No. 26 tahun 2007. sanksi pidana
berupa pidana pokok (penjara dan denda) dan pidana tambahan (pemberhentian tidak
terhormat dari jabatan, pencabutan izin usaha, pencabutan status badan hukum), sanksi
yang terakhir adalah sanksi perdata yaitu tindakan pidana yang menimbulkan kerugian
secara perdata.

Ketentuan hukum progresif dalam Pasal 73 UU No. 26 tahun 2007 menetapkan sanksi
pidana bagi pejabat yang berwenang yang menerbitkan izin tidak sesuai dengan rencana
tata ruang, berupa pidana pokok yaitu penjara dan denda dan pidana tambahan yaitu
pemberhentian secara tidak hormat dari jabatannya. Demikian pula terhadap korporasi
sebagaimana diatur dalam Pasal 74 UU No. 26 tahun 2007, juga dapat dijatuhi sanksi
pidana berupa pidana penjara dan denda terhadap pengurusnya dan terhadap
korporasinya berupa pidana denda yang diperberat tiga kali dari pidana denda atas orang
pribadi. Disamping itu korporasi dapat dijatuhi pidana tambahan berupa pencabutan izin
usaha dan/atau pencabutan status badan hukum. Pasal 75 UU No. 26 tahun 2007 juga
memberi peluang kepada pihak-pihak untuk melakukan tuntutan ganti kerugian secara
perdata kepada pelaku tindak pidana penataan ruang.

Ketentuan lebih lanjut mengenai pengendalian pemanfaatan ruang diatur dalam


Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan
Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah
Kabupaten/Kota. Dalam lampiran PP ini khusus pada bidang penataan ruang disebutkan
kewenangan Pemerintahan Daerah Kota antara lain: 1) menetapkan peraturan daerah
bidang penataan ruang; 2) pengendalian pemanfaatan ruang; 3) penyusunan peraturan
zonasi sebagai pedoman pengendalian pemanfaatan ruang; 4) pembentukan lembanga
yang bertugas melaksanakan pengendalian ruang; dan 5) pemberian izin pemanfaatan
ruang yang sesuai dengan RTRWK.

Berdasarkan mandat otonomi daerah tersebut, Pemerintahan Daerah Kota berwenang


membuat suatu Peraturan Daerah yang mengatur pemberian insentif dan sanksi dalam
rangka pengendalian pemanfaatan ruang wilayah Kota. Dengan diberlakukannya insentif
dan sanksi dalam rangka pengelolaan dan pengendalian ruang, diharapkan pembangunan
yang dilakukan sesuai dengan rencana tata ruang yang telah ditetapkan dalam Perda
RDTR Kota, sehingga pembangunan berkelanjutan yang ramah lingkungan dapat
terwujud.

Sanksi tersebut selain bagi pejabat pemberi izin juga berlaku untuk pemohon izin yang
membangun menyalahi peraturan perundang-undangan, jadi dua-duanya akan kena
pidana. Sanksi pidana cukup berat yaitu maksimal kurungan 15 tahun penjara dengan
denda hingga 15 miliar.

Dengan dimuatnya sanksi pidana, penyelenggaraan penataan ruang (aparat pemerintah)


harus berhati-hati dalam membuat kebijakan terkait dengan bidang penataan ruang. Kini
masyarakat juga diberikan kewenangan untuk melaporkan pejabat negara dan pelaku
lainnya ke pihak kepolisian dan kejaksaan jika menemukan penataan ruang yang

Usulan Teknis E-26 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

menyalahi aturan, hal ini dilakukan sebagai bentuk upaya pemerintah untuk mendorong
peran aktif masyarakat dalam merealisasikan aturan yang telah diatur undang-undang.
Untuk lebih jelasnya mengenai sanksi pidana dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

Sudah saatnya Pemerintahan Daerah Kota menggunakan momentum otonomi daerah


berdasarkan Undang- Undang Nomor 23 tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah
dalam mendorong pembangunan daerah yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan
melalui instrumen pengendalian pemanfaatan ruang Kota (Perda RDTR Kota) dengan
memberikan insentif dan menerapkan sanksi sebagaimana dimaksud dalam UU No. 26
tahun 2007. Hal tersebut sesuai dengan Pasal 13 ayat (4) UU No. 23 tahun 2014 yang
menyatakan bahwa salah satu yang menjadi urusan pemerintahan yang merupakan
kewenangan wajib Kabupaten/Kota adalah urusan pemerintah yang lokasinya dalam
Daerah kabupaten/kota; urusan pemerintah yang penggunanya dalam Daerah
kabupaten/kota; urusan pemerintah yang manfaat atau dampak negatifnya hanya dalam
Daerah kabupaten/kota; dan/atau urusan pemerintah yang pengunaan sumber dayanya
lebih efisien apabila dilakukan oleh Daerah kabupaten/kota.

Ketentuan lebih lanjut mengenai pengendalian pemanfaatan ruang diatur dalam


Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan
Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah
Kabupaten/Kota. Dalam lampiran PP ini khusus pada bidang penataan ruang disebutkan
kewenangan Pemerintahan Daerah Kota antara lain:

 Menetapkan peraturan daerah bidang penataan ruang;


 pengendalian pemanfaatan ruang;
 Penyusunan peraturan zonasi sebagai pedoman pengendalian pemanfaatan ruang;
 pembentukan lembanga yang bertugas melaksanakan pengendalian ruang; dan
 pemberian izin pemanfaatan ruang yang sesuai dengan RTRWK.

Berdasarkan mandat otonomi daerah tersebut, Pemerintahan Daerah Kota berwenang membuat
suatu Peraturan Daerah yang mengatur pemberian insentif dan sanksi dalam rangka
pengendalian pemanfaatan ruang wilayah Kota. Dengan diberlakukannya insentif dan sanksi
dalam rangka pengelolaan dan pengendalian ruang, diharapkan pembangunan yang dilakukan
sesuai dengan rencana tata ruang yang telah ditetapkan dalam Perda RDTR Kota, sehingga
pembangunan berkelanjutan yang ramah lingkungan dapat terwujud.

E.2. METODOLOGI PEKERJAAN

E.2.1 Kerangka Berpikir

Secara umum kerangka berpikir dari pekerjaan ini dimulai dari tinjauan pengembangan wilayah Das
Musi, WS Musi-Sugihan-Banyuasin-Lemau maupun lokasi Kawasan Lumbak Semidung (Danau Ranau)
yang akan didetailkan rencana tata ruangnya dengan memperhatikan aspek keberlanjutan dan
lingkungan hidup, penyusunan profil kawasan, penggalian terhadap rencana tata ruang yang relevan

Usulan Teknis E-27 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

dengan lokasi, penentuan deliniasi kawasan, analisis kawasan serta penyusunan rencana detail
kawasan tersebut. Selengkapnya mengenai kerangka berpikir serta metodologi pelaksanaan
pekerjaan sesuai dengan lingkup kegiatan yang diatur dalam Kerangka Acuan Kerja dapat dilihat
pada Gambar E.3 dan Gambar E.4.

Gambar E.3 Kerangka Berpikir Penyusunan Materi Teknis Penyusunan


Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) DAS Musi

Gambar E.1 Diagram Alir Penyusunan Materi Teknis Penyusunan Instrumen


Pengendalian Pemanfaatan Ruang Kawasan Prioritas Lumbak
Seminung (Danau Ranau) DAS Musi

Usulan Teknis E-28 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

E.2.2 Metode Yang Digunakan Dalam Pelaksanaan Pekerjaan


Adapun metode-metode yang digunakan dalam pelaksanaan pekerjaan adalah
sebagai berikut.
E.2.2.1 Metode Pengumpulan Data
Sumber data terbagi menjadi dua yaitu data primer dan data sekunder. Data
primer adalah data yang diperoleh peneliti secara langsung (dari tangan
pertama), sementara data sekunder adalah data yang diperoleh peneliti dari
sumber yang sudah ada. Contoh data primer adalah data yang diperoleh dari
responden melalui kuesioner, kelompok fokus, dan panel, atau juga data hasil
wawancara peneliti dengan nara sumber. Sedangkan contoh data sekunder
misalnya Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005-2025,
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019,
Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN), data-data pengembangan
infrastruktur fisik dan non fisik yang sudah dilakukan baik di pusat dan daerah,
dll. Dalam penelitian, teknik pengumpulan data merupakan faktor penting demi
keberhasilan penelitian. Hal ini berkaitan dengan bagaimana cara
mengumpulkan data, siapa sumbernya, dan apa alat yang digunakan. Jenis
sumber data adalah mengenai dari mana data diperoleh. Apakah data diperoleh
dari sumber langsung (data primer) atau data diperoleh dari sumber tidak
langsung (data sekunder).

Usulan Teknis E-29 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

Metode Pengumpulan Data merupakan teknik atau cara yang dilakukan untuk
mengumpulkan data. Metode menunjuk suatu cara sehingga dapat diperlihatkan
penggunaannya melalui angket, wawancara, pengamatan, tes, dkoumentasi dan
sebagainya. Sedangkan Instrumen Pengumpul Data merupakan alat yang
digunakan untuk mengumpulkan data. Karena berupa alat, maka instrumen
dapat berupa lembar cek list, kuesioner (angket terbuka / tertutup), pedoman
wawancara, camera photo dan lainnya. Adapun tiga teknik pengumpulan data
yang biasa digunakan adalah angket, observasi dan wawancara.
a. Angket
Angket / kuesioner adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan
cara memberikan seperangkat pertanyaan atau pernyataan kepada orang
lain yang dijadikan responden untuk dijawabnya. Meskipun terlihat mudah,
teknik pengumpulan data melalui angket cukup sulit dilakukan jika
respondennya cukup besar dan tersebar di berbagai wilayah. Beberapa hal
yang perlu diperhatikan dalam penyusunan angket menurut Uma Sekaran
(dalam Sugiyono, 2007:163) terkait dengan prinsip penulisan angket, prinsip
pengukuran dan penampilan fisik. Prinsip Penulisan angket menyangkut
beberapa faktor antara lain :
 Isi dan tujuan pertanyaan artinya jika isi pertanyaan ditujukan untuk
mengukur maka harus ada skala yang jelas dalam pilihan jawaban.
 Bahasa yang digunakan harus disesuaikan dengan kemampuan
responden. Tidak mungkin menggunakan bahasa yang penuh istilah-
istilah bahasa Inggris pada responden yang tidak mengerti bahasa
Inggris, dsb.
 Tipe dan bentuk pertanyaan apakah terbuka atau terturup. Jika
terbuka artinya jawaban yang diberikan adalah bebas, sedangkan jika
pernyataan tertutup maka responden hanya diminta untuk memilih
jawaban yang disediakan.
b. Observasi
Obrservasi merupakan salah satu teknik pengumpulan data yang tidak hanya
mengukur sikap dari responden (wawancara dan angket) namun juga dapat
digunakan untuk merekam berbagai fenomena yang terjadi (situasi, kondisi).
Teknik ini digunakan bila penelitian ditujukan untuk mempelajari perilaku
manusia, proses kerja, gejala-gejala alam dan dilakukan pada responden
yang tidak terlalu besar.
Participant Observation
Dalam observasi ini, peneliti secara langsung terlibat dalam kegiatam sehari-
hari orang atau situasi yang diamati sebagai sumber data.

Usulan Teknis E-30 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

Non participant Observation


Berlawanan dengan participant Observation, Non Participant merupakan
observasi yang penelitinya tidak ikut secara langsung dalam kegiatan atau
proses yang sedang diamati. Kelemahan dari metode ini adalah peneliti tidak
akan memperoleh data yang mendalam karena hanya bertindak sebagai
pengamat dari luar tanpa mengetahui makna yang terkandung di dalam
peristiwa. Alat yang digunakan dalam teknik observasi ini antara lain : lembar
cek list, buku catatan, kamera photo, dll.
c. Wawancara
Wawancara merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui
tatap muka dan tanya jawab langsung antara pengumpul data maupun
peneliti terhadap nara sumber atau sumber data. Wawancara pada
penelitian sampel besar biasanya hanya dilakukan sebagai studi
pendahuluan karena tidak mungkin menggunakan wawancara pada 1000
responden, sedangkan pada sampel kecil teknik wawancara dapat
diterapkan sebagai teknik pengumpul data (umumnya penelitian kualitatif).
Wawancara terbagi atas wawancara terstruktur dan tidak terstruktur.
1) Wawancara terstruktur artinya peneliti telah mengetahui dengan pasti
apa informasi yang ingin digali dari responden sehingga daftar
pertanyaannya sudah dibuat secara sistematis. Peneliti juga dapat
menggunakan alat bantu tape recorder, kamera photo, dan material lain
yang dapat membantu kelancaran wawancara.
2) Wawancara tidak terstruktur adalah wawancara bebas, yaitu peneliti
tidak menggunakan pedoman wawancara yang berisi pertanyaan yang
akan diajukan secara spesifik, dan hanya memuat poin-poin penting
masalah yang ingin digali dari responden.
Untuk keperluan pengenalan karakteristik lokasi perencanaan dan
penyusunan rencana pola ruang dan rencana jaringan prasarana, dilakukan
pengumpulan data primer dan data sekunder. Pengumpulan data primer
setingkat kelurahan dan desa dilakukan melalui:
1. Penjaringan aspirasi masyarakat yang dapat dilaksanakan melalui
penyebaran angket, temu wicara, wawancara orang perorang, dan lain
sebagainya; dan/atau
2. Pengenalan kondisi fisik dan sosial ekonomi lokasi perencanaan secara
langsung melalui kunjungan ke semua bagian dari lokasi perencanaan.
Pendekatan pengambilan data yang digunakan dalam kegiatan Penyusunan
Materi Teknis Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang
Kawasan Prioritas Lumbak Seminung adalah sebagai berikut:

Usulan Teknis E-31 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

1) Melakukan pengumpulan data dan informasi yang dilakukan melalui desk


study, survei lapangan dan instansional dengan data yang dikumpulkan
berupa:
a. Data sebaran objek vital di wilayah perencanaan;
b. Data hasil identifikasi SWOT spasial di wilayah perencanaan;
c. Data fisik kawasan seperti topografi, kelerengan, kerawanan bencana,
ketersediaan air tanah, jaringan sungai dan sumber daya air,
penggunaan lahan, jaringan jalan, jenis tanah, geologi, kondisi bangunan
dan sebagainya;
d. Data sosial-budaya, ekonomi, dan lingkungan seperti proyeksi jumlah
penduduk, PDRB, indeks pembangunan manusia, jumlah penduduk
miskin, ketenagakerjaan, mata pencaharian penduduk, potensi ekonomi
lokal, jangkauan layanan sarana prasarana dasar, kerawanan bencana,
dan sebagainya;
e. Data kebijakan pembangunan dan tata ruang seperti RPJMN, RPJMD,
RKP, RKPD, RTRWN, RTR Pulau, RTRW Provinsi, RTRW Kabupaten/Kota
dan sebagainya; serta
f. Data toponimi dan ketinggian bangunan.
2) Melakukan pengumpulan data melalui pendekatan analisis isi (content
analysis) untuk mengkaji berbagai perkembangan terhadap peraturan
perundang-undangan, kebijakan-kebijakan sektor terkait pengembangan
kawasan yang telah dan pernah dilakukan sebelumnya.
3) Melakukan pengumpulan data melalui pendekatan secara teknis
berdasarkan kaidah keilmuan, maupun teori dan best practices yang sudah
pernah dillakukan baik di dalam negara atau luar negara dengan melibatkan
para ahli yang memiliki kompentesi sesuai latar belakang keilmuan yang
dibutuhkan dan berpengalaman di bidangnya.
4) Melakukan pengumpulan data melalui pendekatan perencanaan partisipatif
(participatory planning) yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan
yang terkait dalam pengembangan kawasan dengan setidaknya melibatkan
unsur:
a. K/L meliputi Kementerian PPN/Bappenas, Kementerian Koordinasi
Bidang Perekonomian, Kementerian Koordinasi Bidang Kemaritiman,
Kementerian Perindustrian, Kementerian Pariwisata, Kementerian
PUPR, Kementerian Dalam Negeri, Badan Koordinasi Penanaman Modal,
dan K/L lain yang terkait;

Usulan Teknis E-32 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

b. Pemerintah daerah meliputi Pemerintah Provinsi Lampung dan


Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara beserta SKPD terkaitnya seperti
Bappeda, Dinas PUPR, Dinas Pariwisata, BPMPTSP, dan sebagainya;
c. Kelompok masyarakat/swasta yang terkait, seperti unsur tokoh
masyarakat, Lembaga Swadaya Masyarakat, KADIN, REI, dan
sebagainya;
d. Perguruan Tinggi yang berada di lingkup wilayah perencanaan,
khususnya di Provinsi Lampung.

Data dalam bentuk data statistik dan peta, serta informasi yang dikumpulkan
berupa data tahunan (time series) minimal 5 (lima) tahun terakhir dengan
kedalaman data setingkat kelurahan/desa. Data berdasarkan kurun waktu
tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran perubahan apa yang terjadi
pada bagian dari wilayah kabupaten/kota. Secara lebih lengkap kebutuhan data
yang dibutuhkan dalam proses Materi Teknis Penyusunan Instrumen
Pengendalian Pemanfaatan Ruang Kawasan Prioritas Lumbak Seminung ini
dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel E.1 Kebutuhan Data Penyusunan Materi Teknis Penyusunan


Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung

JENIS SURVEY SKALA DATA


KLASIFIKASI DATA YANG PRIMER
NO
DATA DIBUTUHKAN PENGAMATAN WAWANCARA SEK. KAB. KEC.
LAPANGAN /KUESIONER
1 Fisik Dasar, Topografi   
Sumber daya Geologi   
alam dan Jenis tanah   
Lingkungan Kemiringan lahan   
Hidrogeologi   
Hidrologi   
Klimatologi   
Potensi Bencana
  
Alamiah/buatan
2 Kependudukan Jumlah penduduk   
(trend Sebaran penduduk   
perkembangan & Komposisi penduduk   
proyeksi Mata pencaharian   
penduduk) Pendapatan   
Pertumbuhan
  
penduduk
Kepadatan   
Pola pergerakan    
3 Sosial budaya Kondisi sosial dan  

Usulan Teknis E-33 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

JENIS SURVEY SKALA DATA


KLASIFIKASI DATA YANG PRIMER
NO
DATA DIBUTUHKAN PENGAMATAN WAWANCARA SEK. KAB. KEC.
LAPANGAN /KUESIONER
budaya
Pola Partisipasi   
4 Kemampuan Kecenderungan 
  
tumbuh & perkembangan kota
berkembang Kebijaksanaan 
  
dalam skala terkait
regional Fungsi dan peran 
  
kota
Sektor unggulan 
 
wilayah sekitar
Sistem regional   
5 Struktur dan pola Guna lahan / land use     
pemanfaatan Kecenderungan
ruang perkembangan guna    
lahan
6 Kegiatan Jenis aktivitas
   
perekonomian perekonomian
kabupaten Lokasi kegiatan
    
ekonomi
Sektor unggulan    
Sektor prioritas    
PDRB  
Kecenderungan pola 
  
aktivitas
Kondisi pasar    
Skala pelayanan
   
ekonomi yang ada
7 Transportasi Data Jaringan jalan   
Titik konflik     
Jumlah & sebaran
   
Terminal
Data angkutan
  
umum
Data Kereta Api/ 
 
Stasiun
Volume kendaraan    
Permasalahan 
   
transportasi
8 Sarana Umum & Sarana peribadatan    
sosial Sarana pendidikan    
Sarana kesehatan    
Sarana
   
perekonomian
Sarana OR & taman    
Sarana pos &
   
telekomunikasi
9 Utilitas Data Air bersih    
Data Air Limbah    
Data Persampahan    
Data Drainase    
Data jaringan listrik    
Data jaringan
   
telepon
10 Pertanahan Status tanah    
Kepemilikan tanah    
Data izin lokasi   

Usulan Teknis E-34 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

JENIS SURVEY SKALA DATA


KLASIFIKASI DATA YANG PRIMER
NO
DATA DIBUTUHKAN PENGAMATAN WAWANCARA SEK. KAB. KEC.
LAPANGAN /KUESIONER
11 Kelembaagan Stakeholder terkait   
Pola kelembagaan   
Permasalahan   
12 Hukum dan Peraturan terkait
peraturan 
Pembangunan
13 Mekanisme Sistem perizinan
administrasi
 
management
pembangunan
14 Pembiayaan Pola pembiayaan  
pembangunan Sumber pembiayaan  
15 Kebijaksanaan Rencana tata ruang

terkait kota yang telah ada
Kebijaksanaan

regional terkait
16 Data kepustakaan Pembiayaan
pembangunan dan

anggaran
pembangunan
Standar kebutuhan

ruang
Kemitraan &
kerjasama 
pembangunan
Manajemen

pertanahan
Paket-paket insentif

dan disinsentif
17 Kepemilikan Lahan   
Sumber : Analisis Konsultan 2019

E.2.2.2 Metode Deliniasi Kawasan


Pendelineasian kawasan perencanaan didasarkan pada prinsip:
a) Fokus;
Prinsip fokus adalah mengutamakan lokasi yang menjadi prioritas
penanganan untuk mencapai tujuan kawasan perencanaan.
b) Efisiensi;
Prinsip efisiensi adalah sedapat mungkin menghasilkan delineasi yang tepat,
sehingga dapat menghemat waktu, tenaga dan biaya dalam proses
penyusunan.
c) Interpretabilitas
Prinsip interpretabilitas adalah hasil delineasi harus dapat diinterpretasi dan
dikenali secara mudah oleh pengguna dan pengambil keputusan.
Deliniasi kawasan perencanaan ditetapkan dengan mempertimbangkan:
a) Arahan pengembangan pada kawasan perencanaan;
b) Perlindungan terhadap fungsi utama objek strategis beserta sarana
penunjangnya;
c) Morfologi kawasan perencanaan;

Usulan Teknis E-35 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

d) Keserasian dan keterpaduan fungsi kawasan perencanaan;


e) Jangkauan dan batasan pelayanan untuk keseluruhan kawasan dengan
memperhatikan rencana struktur ruang dalam RTRW Kabupaten/Kota yang
terkait;
f) Permasalahan aktual dilapangan yang membutuhkan prioritas penanganan;
dan/atau
g) Titik-titik prioritas kawasan yang ditentukan berdasarkan tujuan penyusunan
RTA di kawasan perencanaan.

Kawasan perencanaan Materi Teknis Penyusunan Instrumen Pengendalian


Pemanfaatan Ruang Kawasan Prioritas Lumbak Seminung dapat berupa:
a) Wilayah administrasi;
b) Kawasan fungsional;
Kawasan fungsional yang dimaksud adalah kawasan dengan ciri tertentu
yang ditandai dengan adanya interaksi keruangan. Interaksi keruangan
adalah wujud saling hubungan antara satu fakta dengan fakta yang lain
dalam satu ruang. Kawasan fungsional yang dimaksud juga merupakan
kawasan yang berada di sekitar objek strategis beserta sarana prasarana
penunjangnya yang saling mendukung serta memiliki pengaruh sebab-
akibat.
Batas delineasi dapat berupa:
a) Batas administrasi;
Batas administrasi dapat berupa batas wilayah desa/kelurahan atau batas
wilayah kecamatan
b) Batas bentang alam;
Batas bentang alam dapat berupa batas sungai, danau, dan/atau batas
lainnya yang merupakan bentang alam.
c) Batas buatan.
Batas buatan dapat berupa batas jalan dan/atau batas lainnya yang
merupakan batas buatan.

Deliniasi kawasan perencanaan terdiri dari:


a) Kawasan Utama Objek Pariwisata (Strategis)
Kawasan utama objek pariwisata (strategis) ditetapkan dengan kriteria:
 Merupakan lokasi utama objek strategis; dan/atau
 Dapat berada pada wilayah daratan dan/atau wilayah perairan;
b) Kawasan pengaruh objek strategis ditetapkan dengan kriteria:
 Kawasan sekitar kawasan objek strategis yang mempengaruhi atau
dipengaruhi oleh fungsi kawasan objek strategis, baik secara langsung
maupun tidak langsung;
 Memiliki radius tertentu dari batas terluas kawasan kawasan objek
strategis;

Usulan Teknis E-36 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

 Berada di wilayah daratan dan/atau wilayah perairan; dan/atau


 Merupakan kawasan yang diproritaskan pengendalian pemanfaatan
ruangnya karena memiliki laju pertumbuhan dan trend perubahan guna
lahan yang cepat akibat dari kegiatan utama di kawasan objek strategis.

Delineasi dapat dilakukan melalui mekanisme sebagai berikut:


a) Melihat tujuan penataan kawasan perencanaan sebagai dasar melakukan
delineasi;
b) Menerapkan kriteria-kriteria delineasi kawasan perencanaan pada lokasi;
c) Melakukan segmentasi ruang dengan menggunakan metode overlay
terhadap kriteria-kriteria delinasi kawasan perencanaan; dan
d) Melakukan analisis/penyaringan berdasarkan prioritas delineasi yang akan
disusun RTA-nya.
Pembahasan penyusunan delineasi melibatkan perwakilan dari Tim Koordinasi
Penataan Ruang Daerah (TKPRD). Deliniasi kawasan perencanaan ditetapkan
dengan Berita Acara kesepakatan dengan Pemerintah Daerah. Berita Acara
kesepakatan ditandatangani oleh perwakilan dari TKPRD.

E.2.2.3 Metode Survey Toponimi


Toponim yang dalam bahasa Inggris disebut toponym berasal dari “topos” dan
“nym”. Topos berarti “tempat” atau “permukaan” seperti “topografi” adalah
gambaran tentang permukaan atau tempat-tempat di bumi. “Nym” berasal dari
“onyma” yang berarti “nama”. Secara harfiah, toponim diartikan nama tempat
di muka bumi. Dalam bahasa Inggris toponym terkadang disebut “geographical
names” (nama geografis) atau “place names” (nama tempat). Sementara itu,
dalam bahasa Indonesia digunakan istilah “nama unsur geografi” atau “nama
geografis” atau “nama rupabumi” (Rais et al., 2008, pp. 4-5). Toponim menurut
Raper dalam Rais et al. (2008) memiliki dua pengertian. Pengertian pertama,
toponim adalah ilmu yang mempunyai objek studi tentang toponim pada
umumnya dan tentang nama geografis khususnya. Pengertian kedua, toponim
adalah totalitas dari toponim dalam suatu region (p. 5).

Definisi unsur rupabumi adalah bagian permukaan bumi yang berada di atas
daratan dan permukaan laut serta di bawah permukaan laut yang dapat dikenali
identitasnya sebagai unsur alamat dan/atau unsur buatan manusia (Rais et al.,
2008, p. 87). Unsur rupabumi terdiri dari enam kategori, yaitu:
1. Unsur bentang alami (natural landscape features), seperti gunung, bukit,
sungai, danau, laut, selat, pulau, termasuk unsur-unsur bawah laut seperti
palung, cekungan, gunung bawah laut, dan sebagainya.
2. Tempat-tempat berpenduduk dan unsur lokalitas (populated places and
localities). Sebagai contoh unsur-unsur lokal misalnya bangunan

Usulan Teknis E-37 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

bersejarah, makam pahlawan, mesjid, gereja, stasiun bis, kereta api, dan
sebagainya.
3. Pembagian administratif/politis dari negara (civil/political subdivisions of a
country) seperti Provinsi, Kabupaten, Kota, Kecamatan, distrik pemilu,
dan sebagainya.
4. Kawasan administrasi (administrative area) seperti taman nasional, hutan
lindung, daerah konservasi, cagar alam, kawasan margasatwa, lahan
basah, dan sebagainya.
5. Rute transportasi (transportation route) seperti jalan, jalan tol, jalan
setapak, dan sebagainya.
6. Unsur-unsur yang dibangun/dikonstruksi lainnya (other constructed
features) seperti bandara, dam, monumen, kanal, pelabuhan, mercusuar,
dan sebagainya.

Kajian toponimi dengan melakukan penelusuran nama-nama unsur geografis


yang diberikan oleh manusia yang bermukim di suatu wilayah dapat dipakai
untuk menelusuri suatu bangsa/kelompok etnik yang mendiami suatu wilayah di
masa lalu (Rais et al., 2008, p. 7). Selain itu, penelusuran tersebut juga terkait
dengan sejarah permukiman manusia (Rais et al., 2008, p. 9). Sejarah ini dapat
dilacak melalui penemuan peta-peta di masa silam di atas daun papyrus (di
zaman peradaban Mesir kuno) atau peta tablet tanah liat di lembah sungai Eufrat
dan Tigris (Moore (1983) dalam (Rais et al., 2008, p. 7)). Selain sejarah manusia,
kajian ini juga berguna untuk melacak sejarah geografi (Rais et al., 2008, p. 55).
Di samping itu, pemertahanan nama-nama unsur rupa bumi dapat melestarikan
bahasa dan budaya setempat (Rais et al., 2008, p. 85).

Dalam penyusunan peta dasar dibutuhkan beberapa unsur / layer peta.


Setidaknya sesuai produk peta rupabumi Indonesia yang dikeluarkan oleh Badan
Informasi Geospasial hingga saat ini ada tujuh bagian.
1. Layer Batas Administrasi
Layer batas administrasi memiliki dua tipe atau jenis data spasial, yaitu
data area dalam bentuk wilayah administrasi dan data garis batas
administrasi
2. Layer Transportasi
Layer transportasi, khususnya skala besar (misalnya lebih besar sama
dengan 1:5.000) memiliki dua tipe atau jenis data spasial, yaitu data area
dalam bentuk area jalan, jembatan, rel kereta api dan data garis berupa
garis as jalan, jembatan, rel kereta api.
3. Layer Perairan/Hidrografi
Layer perairan/hidrografi, khususnya skala besar (misalnya lebih besar
sama dengan 1:5.000) memiliki dua tipe atau jenis data spasial, yaitu data
area dalam bentuk area sungai, waduk, situ, danau, bendungan, embung,

Usulan Teknis E-38 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

kolam, dan data garis berupa garis tengah sungai, tepi waduk, situ,
danau, bendungan, embung, kolam.
4. Layer Bangunan
Layer bangunan khusus muncul pada peta / data spasial skala besar
(misalnya lebih besar sama dengan 1:5.000) hanya terdiri dari satu tipe
atau jenis data spasial, yaitu data area dalam bentuk polygon bangunan.
5. Layer Kontur/Hipsografi
Layer kontur/hipsografi pada umumnya hampir terdapat pada berbagai
macam skala peta / data spasial. Layer ini biasanya terdiri dari dua tipe /
jenis data yaitu data garis berupa penghubung ketinggian suatu wilayah
dengan interval tertentu, dan data titik berupa informasi titik yang
tersebar di wilayah yang dipetakan di mana di dalamnya terdapat
informasi ketinggian titik tersebut dengan unit meter di atas permukaan
laut (mdpl).
6. Layer Penutup Lahan
Layer penutup lahan tidak secara spesifik hanya ada pada peta / data
spasial dasar skala besar saja, tapi juga terdapat pada skala menengah
maupun kecil. Layer ini hanya terdiri dari satu tipe atau jenis data spasial,
yaitu data area dalam bentuk wilayah dengan penutup / guna lahan
tertentu.
7. Layer Toponimi
Layer toponim juga tidak secara spesifik hanya ada pada peta / data
spasial dasar skala besar saja, tapi juga terdapat pada skala menengah
maupun kecil. Layer ini hanya terdiri dari satu tipe atau jenis data spasial,
yaitu data titik yang memberikan informasi jenis dan nama obyek
tertentu.
Pada penyusunan data spasial toponimi, khususnya peta skala besar erat
kaitannya dengan survei data primer dengan bantuan perangkat perekam
koordinat atau biasa dikenal dengan GPS. Khusus pada kebutuhan peta skala
1:5.000 ini, umumnya toponim sudah diklasifikasikan ke dalam beberapa
kategori.
1. Tema Transportasi
 Jalan
 Sempadan Kereta Api
 Jembatan
 Terowongan
 Pematang
2. Tema Perairan
 Sungai
 Kolam
 Waduk
 Danau

Usulan Teknis E-39 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

 Gosong Sungai
 Embung
 Saluran Irigasi dan Drainase
 Terumbu Karang
 Padang Lamun
 Rawa
3. Tema Persampahan
 Tempat Pembuangan Sementara
 Tempat Pembuangan Akhir
 IPAL
4. Tema Perkebunan
 Perkebunan Karet
 Perkebunan Kopi
 Perkebunan Kakao
 Perkebunan Teh
 Perkebunan Kelapa
 Perkebunan Kelapa Sawit
 Perkebunan Tebu
 Perkebunan Tembakau
 Perkebunan Salak
 Perkebunan Campuran
 Perkebunan Lain
5. Tema Pertambangan
 Pertambangan Galian A
 Pertambangan Galian B
 Pertambangan Galian C
6. Tema Perkantoran dan Perekonomian
 Pertokoan dan Jasa
 Kantor Pemerintahan
 Kantor Swasta
 Pasar
 Mall
 Warung
7. Tema Industri
 Industri Kimia Dasar
 Industri Mesin dan Logam Dasar
 Industri Aneka
 Pergudangan
8. Tema Fasilitas Pendidikan
 Pendidikan Dasar
 Pendidikan Menengah Pertama
 Pendidikan Menengah Atas

Usulan Teknis E-40 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

 Pendidikan Tinggi
 Pesantren
 Pendidikan Lainnya
9. Tema Fasilitas Transportasi
 Terminal
 Stasiun
 Halte
 Pelabuhan
 Dermaga
 Bandara
 SPBU

10. Tema Fasilitas Kesehatan


 Rumah Sakit
 Puskesmas
 Posyandu
 Klinik
11. Tema Fasilitas Olahraga
 Lapangan Olahraga
 Sirkuit
 Padang Golf
 Stadion
 Fasilitas Olahraga Lainnya
12. Tema Fasilitas Sosial
 Balai Warga
 Gedung Serbaguna
 Panti Sosial
 Gedung Pertemuan
 Fasilitas Sosial Lain
13. Tema Fasilitas Peribadatan
 Masjid
 Mushola
 Gereja
 Vihara
 Pura
 Klenteng
14. Tema Pariwisata
 Hotel dan Penginapan
 Objek Wisata
 Restoran
 Bioskop
 Museum

Usulan Teknis E-41 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

15. Tema Hankam


 Kantor Polisi
 Rutan
 KODIM
 KORAMIL
 Pangkalan Militer
 Fasilitas Hankam Lainnya
 Perkantoran Hankam Lainnya
16. Tema Permukiman
 Rumah Tinggal
 Apartemen
 Rusun
 Asrama
 Rumah dinas
 Rumah adat

Rangkaian kerja dalam metodologi untuk melancarkan proses pengambilan data


primer dari informasi toponim terangkum pada bagan alir berikut ini.

Gambar E.2 Metodologi Survey Toponimi Penyusunan Materi Teknis


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang
Kawasan Prioritas Lumbak Seminung

Usulan Teknis E-42 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

Perlengkapan yang dibutuhkan untuk melakukan survei toponim diantaranya;


1. GPS tipe handheld
2. Form survey

Usulan Teknis E-43 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

3. Kamera digital
4. ATK
5. Peta kerja cetak
6. Peta kerja digital
7. Smartphone

Survei toponim sebagai sumber data primer yang diambil langsung dari lapangan
memiliki waktu yang ketat sehingga di jembatani dengan jadwal kerja yang ketat.
Berikut jadwal pelaksanaan survei toponim pada lokasi yang dipetakan.

Tabel E.2 Jadwal Kerja Pelaksanaan Survey Toponimi


Tabel E.3

Sumber : Analisis Konsultan, 2019

E.2.2.4 Metode Focus Group Discussion


Dalam rencana proses penyelesaian pekerjaan ini salah satu tahapan yang akan
dilakukan adalah melakukan Focus Group Discussion (FGD). Focus Group
Discussion (FGD) adalah bentuk diskusi yang didesain untuk memunculkan
informasi mengenai keinginan, kebutuhan, sudut pandang, kepercayaan dan
pengalaman yang dikehendaki peserta). Definisi lain, FGD adalah salah satu
teknik dalam mengumpulkan data kualitatif; di mana sekelompok orang
berdiskusi dengan pengarahan dari seorang fasilitator atau moderator mengenai
suatu topik (http://www.enolsatoe.org/content/view/15/33/). Dengan demikian
dapat disimpulkan bahwa FGD adalah salah satu teknik pengumpulan data
kualitatif yang didesain untuk memperoleh informasi keinginan,
kebutuhan,sudut pandang, kepercayaan dan pengalaman peserta tentang suatu
topik, dengan pengarahan dari seorang fasilitator atau moderator. Berikut

Usulan Teknis E-44 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

beberapa hal yang berkaitan dengan teknik pengumpulan data kualitatif melalui
FGD.
a. Tujuan FGD
Tujuan FGD adalah untuk mengeksplorasi masalah yang spesifik, yang
berkaitan dengan topik yang dibahas. Teknik ini digunakan dengan tujuan
untuk menghindari pemaknaan yang salah dari peneliti terhadap masalah
yang diteliti. FGD digunakan untuk menarik kesimpulan terhadap makna-
makna intersubjektif yang sulit diberi makna sendiri oleh peneliti karena
dihalangi oleh dorongan subjektivitas peneliti (Kresno S. dkk., 1999).
b. Karakteristik FGD
Jumlah peserta dalam kelompok cukup 7–10 orang, namun dapat diperbanyak
hingga 12 orang, sehingga memungkinkan setiap individu untuk mendapat
kesempatan mengeluarkan pendapatnya serta cukup memperoleh
pandangan anggota kelompok yang bervariasi (Krueger, 1988). Jumlah
peserta yang lebih besar, sebenarnya juga bisa memberi keuntungan lain,
yaitu memperluas sudut pandang dan pengalaman peserta yang mungkin
muncul. Namun walaupun jumlah peserta tidak banyak dan waktu untuk
mengemukakan pendapat tidak dibatasi, peserta mempunyai batasan waktu
tertentu dalam berbicara karena fokus perhatian tidak hanya pada satu
responden melainkan seluruh peserta. Inilah yang membedakan teknik
pengumpulan data kualitatif FGD dengan teknik wawancara one by one.
Peserta harus mempunyai ciri-ciri yang sama atau homogen. Ciri-ciri yang
sama ini ditentukan oleh tujuan atau topik diskusi dengan tetap menghormati
dan memperhatikan perbedaan ras, etnik, bahasa, kemampuan baca-tulis,
penghasilan dan gender (Krueger, 1988). FGD bertujuan untuk
mengumpulkan data mengenai persepsi dan pandangan peserta terhadap
sesuatu, tidak berusaha mencari konsensus atau mengambil keputusan
mengenai tindakan apa yang akan diambil. Oleh karena itu dalam FGD
digunakan pertanyaan terbuka (open ended), yang memungkinkan peserta
untuk memberikan jawaban yang disertai dengan penjelasan-penjelasan
(Krueger, 1988). Teknik ini berbeda dengan teknik diskusi kelompok lainnya,
misalnya Delphi process, Brainstorming, Nominal Group yang bisanya
bertujuan untuk membuat suatu konsensus dan memecahkan masalah sesuai
persetujuan semua pihak (Krueger, 1988).
c. Menggunakan Topik Terfokus
Topik diskusi ditentukan terlebih dahulu dan diatur secara berurutan.
Pertanyaan diatur sedemikian rupa sehingga dimengerti oleh peserta diskusi
(Krueger, 1988). Topik penelitian yang tidak dapat dilakukan yaitu topik
penelitian yang mempelajari preferensi manusia (seperti bahasa, sarana
diseminasi, pesan kunci, dan sebagainya), topik yang menjelaskan bagaimana

Usulan Teknis E-45 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

pengertian dan penerimaan kelompok masyarakat terhadap suatu hal, serta


topik penelitian yang bertujuan untuk menggali respons individu (untuk
informasi kuantitatif). Sebaliknya wawancara one by one lebih tepat untuk hal
ini
d. Pelaksanaan FGD
Biasanya FGD dilangsungkan selama 60–120 menit dan dapat dilakukan
beberapa kali (Krueger, 1988). Frekuensi tergantung pada kebutuhan
penelitian, sumber dana, kebutuhan pembaharuan informasi, serta seberapa
mampu dan cepat pola peserta terbaca. Jika respons yang terjadi telah jenuh,
artinya tidak ada yang terbarukan, maka jumlah sesi bisa diakhiri. Sesi yang
pertama kali biasanya lebih lama jika dibandingkan sesi berikutnya karena
semua informasi masih baru. Disarankan paling tidak harus ada dua sesi dalam
satu babak FGD Tempat pelaksanaan FGD harus netral, maksudnya suatu
tempat yang memungkinkan partisipan dapat mengeluarkan pendapatnya
secara bebas.
e. Langkah-langkah
Langkah langkah yang akan digunakan dalam antara lain sebagai berikut :
1) Persiapan FGD
Fasilitator dan pencatat harus datang tepat waktu sebelum peserta
datang. Fasilitator dan pencatat (notulen) sebaiknya bercakap-cakap
secara informal dengan peserta, sekaligus mengenal nama peserta dan
yang menjadi perhatian fasilitator maupun pencatat. Sebelum FGD
dilaksanakan perlu ada persiapan-persiapan sebagai berikut (Krueger,
1988):
2) Menentukan jumlah kelompok FGD
Untuk menentukan jumlah kelompok yang dibutuhkan perlu ditetapkan
terlebih dahulu hipotesa topik yang akan diteliti. Misalnya apakah jenis
kelamin, umur, pendidikan, status sosial ekonomi penting bagi topik
penelitian. Pedoman dalam menentukan jumlah kelompok:
 Minimal 2 kelompok pada tiap kategori
 Bahasan kelompok bervariasi
 Sampai tidak ada informasi baru
 Ada makna dalam letak geografis.
3) Menentukan komposisi kelompok FGD
Hal-hal yang menentukan komposisi kelompok FGD antara lain :
 Kelas sosial;

Usulan Teknis E-46 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

 Status hidup;
 Status spesifik tertentu;
 Tingkat keahlian;
 Perbedaan budaya;
 Jenis kelamin.
4) Menentukan tempat diskusi FGD
Faktor yang harus diperhatikan dalam menentukan tempat FGD yaitu:
 Mendatangkan rasa aman;
 Nyaman;
 Lingkungan yang netral;
 Mudah dicapai peserta;
 One way mirror screen;
5) Pengaturan tempat duduk
Tempat duduk diatur sedemikian rupa sehingga peserta terdorong mau
berbicara. Sebaiknya peserta duduk dalam satu lingkaran bersama sama
fasilitator. Pencatat biasanya duduk di luar lingkaran. Hal-hal yang harus
diperhatikan dalam mengatur tempat duduk adalah:
 Hindari pengurutan status;
 Memungkinkan fasilitator bertatap mata dengan peserta;
 Jarak yang sama antara fasilitator dengan tiap peserta;
6) Menyiapkan undangan
Agar FGD memperoleh hasil yang baik, peserta FGD harus homogen yaitu
mempunyai persamaan jenis kelamin, tingkat pendidikan, pekerjaan, dan
lain-lain. Pada waktu mengundang peserta, ada beberapa yang perlu
diperhatikan yaitu:
 Menjelaskan kepada calon peserta mengenai lembaga yang
mengadakan penelitian dan tujuannya
 Menjelaskan rencana dan meminta calon peserta untuk
berpartisipasi.
 Memberitahukan tanggal, waktu, tempat dan lamanya pertemuan.
 Apabila seseorang tidak mau atau tidak dapat datang, maka tekankan
pentingnya kontribusi orang tersebut. Dan jika tetap menolak maka
ucapkan terima kasih.

Usulan Teknis E-47 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

 Jika orang tersebut mau datang maka beritahukan kembali tentang


hari, jam, tempat dan pentingnya berpartisipasi.
7) Menyiapkan fasilitator
Fasilitator haruslah seorang yang peka, serta perhatian terhadap adanya
perbedaan peserta dalam sebuah kelompok. Jika memungkinkan,
fasilitator dipilih seorang yang secara demografi mempunyai kesamaan
dengan peserta. Standar minimal yang perlu dikuasai oleh fasilitator
adalah tujuan dan topik sehingga mampu memahami diskusi yang
berlangsung dan mengembangkan pertanyaan-pertanyaan lanjutan.
Kemampuan fasilitator dalam membaca bermacam-macam respons
peserta, dengan tetap menjaga agar diskusi tetap pada jalurnya, juga
sangat penting.Fasilitator bisa berasal dari tenaga professional (dengan
menggaji seorang fasilitator yang sudah terlatih), atau salah seorang tim
peneliti yang dianggap mampu. Fasilitator profesional adalah fasilitator
yang telah dilatih untuk mampu menjaga netralitas, tidak menghakimi,
dan memimpin diskusi serta memberi pertanyaan secara jelas tapi
ringkas. Langkah-langkah yang perlu diperhatikan jika memakai fasilitator
professional adalah sebagai berikut:
 Temui calon fasilitator untuk mengetahui kemampuan interpersonal
dan tingkah lakunya. Kepribadian fasilitator dapat memengaruhi
respons peserta. Apakah calon fasilitator bijaksana dan ramah,
apakah orang ini pendengar dan penanya yang baik?
 Sedapat mungkin dengarkan hasil rekaman baik audio atau video sesi
FGD yang pernah dipimpin oleh calon fasilitator tersebut.
 Lihatlah salinan laporan singkat maupun tuntunan wawancara yang
telah dibuat oleh fasilitator dalam FGD terdahulu. Jika tidak ada dana
untuk menggaji seorang profesional, fasilitator dapat direkrut dari
tim peneliti yang telah mempunyai pengalaman sebagai fasilitator.
Kuncinya adalah: pilih seorang yang mampu bersikap objektif dan
tidak defensif saat berbicara dengan orang lain.

Peranan fasilitator adalah sebagai berikut :


 Menjelaskan tentang topik diskusi.
 Memahami topik diskusi sehingga dapat menguasai pertanyaan.
Seorang fasilitator tidak perlu seorang ahli yang berkaitan dengan
topik diskusi.

Usulan Teknis E-48 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

 Melakukan pendekatan kepada peserta sehingga peserta terdorong


untuk mengeluarkan pendapatnya. Fasilitator yang mempunyai rasa
humor menjadi nilai plus dalam memimpin sebuah FGD.
 Mampu mengarahkan kelompok, bukan sebaliknya.
 Bertugas mengajukan pertanyaan dan tetap netral terhadap jawaban
peserta. Memastikan kepada peserta bahwa tidak ada jawaban
mereka yang benar atau salah. Tidak boleh memberikan persetujuan
atau ketidaksetujuan terhadap jawaban yang akan memengaruhi
pendapat peserta.
 Mengamati peserta dan tanggap terhadap reaksi para peserta.
Mendorong semua peserta untuk berpartisipasi dan tidak
membiarkan sejumlah individu memonopoli diskusi. Perlu disadari
bahwa dinamisitas sebuah kelompok bisa menimbulkan dampak tak
terprediksi bagi peserta. Sebagai contoh, seorang peserta yang
dominan, bisa menjadikan peserta lain malas berbicara. Contoh lain
adalah sebuah komentar jujur peserta, ternyata dapat memancing
peserta lain untuk memberikan respons yang lebih
jujurlagi(http://www.talkingquality.gov/docs/section5/5_3.htm#Fokus
%20Group%20different).
 Menciptakan hubungan baik dengan peserta sehingga dapat
menggali jawaban dan komentar yang lebih dalam.
 Fleksibel dan terbuka terhadap saran, perubahan mendadak dan lain-
lain.
 Mengamati komunikasi non verbal (gerakan tangan, perubahan raut
wajah) antar peserta dan tanggap terhadap hal tersebut.
 Hati-hati terhadap nada suara dalam mengajukan pertanyaan. Peserta
akan merasa tidak senang apabila nada suara fasilitator
memperlihatkan ketidaksabaran, dan tidak bersahabat.
 Mengusahakan tidak ada interupsi dari luar pada waktu FGD berjalan.
 Menganalisa data dengan menggunakan proses induktif.

Fasilitator juga bertugas memberikan laporan tertulis yang secara singkat


berisi temuan temuan meliputi pengertian, tren, pola dan tema yang
muncul selama diskusi. Potongan-potongan komentar peserta dapat
digunakan untuk menggambarkan ide-ide yang muncul selama FGD. Jadi
tugas fasilitator bukan sekedar menghubungkan pendapat/opini peserta
melainkan menyampaikan isu yang muncul dari kelompok
diskusi(http://www.talkingquality.gov/docs/section5/5_3.htm#Fokus

Usulan Teknis E-49 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

%20Group%20different). Fasilitator perlu mempersiapkan petunjuk diskusi


agar diskusi dapat terfokus. Petunjuk diskusi ini berupa daftar pertanyaan
terbuka (open ended) (http://www.enolsatoe.org/content/view/15/33/).
Sekalipun menggunakan semacam tuntunan diskusi, seorang fasilitator
wajib mendorong peserta untuk berbicara secara bebas dan spontan
(http://www.talkingquality.gov/docs/section5/5_3.htm#Fokus%20Group
%20different).
8) Menyiapkan pencatat (notulen) FGD
Pencatat berlaku sebagai observer selama FGD berlangsung dan bertugas
mencatat hasil diskusi. Catatan hasil FGD harus ditulis lengkap, yang
meliputi:
 Tanggal pertemuan, waktu mulai dan waktu selesai.
 Nama lingkungan dan catatan singkat mengenai lingkungan tersebut
serta informasi lain yang mungkin dapat memengaruhi aktivitas
peserta, misalnya jarak yang harus ditempuh peserta ke tempat FGD.
 Tempat pertemuan dan catatan ringkas mengenai tempat serta
sejauh mana tempat tersebut memengaruhi peserta. Misalnya
apakah tempat tersebut cukup luas, menyenangkan peserta dan lain-
lain.
 Jumlah peserta dan beberapa uraiannya yang meliputi jenis kelamin,
umur, pendidikan dan lain-lain.
 Deskripsi umum mengenai dinamika kelompok. Contoh gambaran
partisipasi peserta, apakah ada peserta dominan, peserta yang
menunjukkan kebosanan, peserta yang selalu diam dan lain-lain.
 Pencatat harus menuliskan kata-kata yang diucapkan dalam bahasa
lokal oleh peserta.
 Pencatat memperingatkan kepada fasilitator kalau ada pertanyaan
yang terlupakan atau juga mengusulkan pertanyaan yang baru.
 Pencatat dapat meminta peserta untuk mengulangi komentarnya
apabila fasilitator tidak dapat mendengarkan komentar peserta
tersebut karena sedang mendengarkan komentar peserta lain.

9) Menyiapkan perlengkapan FGD


Agar pelaksanaan berjalan dengan baik maka perlu dipersiapkan terlebih
dahulu peralatan maupun perlengkapan yang dibutuhkan dalam FGD.
Misalnya: alat untuk mencatat hasil (notes atau notebook/laptop), tape
atau video recorder, kaset, baterai, petunjuk diskusi, serta gambar atau

Usulan Teknis E-50 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

fotofoto apabila dibutuhkan. Dengan adanya media rekaman maka sikap


verbal dan non verbal dapat dilihat kembali setelah FGD selesai dilakukan.
10) Pembukaan FGD
Pada waktu membuka diskusi, fasilitator perlu memperhatikan hal-hal
sebagai berikut (http://www.enolsatoe.org/content/view/15/33/):
 Memperkenalkan diri serta nama pencatat dan peranan masing-
masing.
 Memberi penjelasan tujuan diadakan FGD.
 Meminta peserta memperkenalkan diri dan dengan cepat
mengingat nama peserta dan menggunakannya pada waktu
berbicara dengan peserta.
 Menjelaskan bahwa pertemuan tersebut tidak bertujuan untuk
memberikan ceramah tetapi untuk mengumpulkan pendapat dari
peserta. Tekankan bahwa fasilitator ingin belajar dari para peserta.
 Menekankan bahwa fasilitator membutuhkan pendapat dari semua
peserta dan sangat penting, sehingga diharapkan semua peserta
bebas mengeluarkan pendapat.
 Menjelaskan bahwa pada waktu fasilitator mengajukan pertanyaan,
jangan berebutan menjawab pada waktu yang bersamaan.
 Memulai pertemuan dengan mengajukan pertanyaan yang sifatnya
umum, yang tidak berkaitan dengan topik diskusi.
11) Pelaksanaan atau Teknik Pengelolaan FGD
Usahakan agar orang yang dianggap ahli tidak hadir. Tetapi apabila tidak
dapat dihindari maka mohon kepada mereka untuk diam dan
mendengarkan diskusi dan apabila ada ide atau saran-saran bisa
dikemukakan kepada fasilitator sesudah diskusi selesai. Beberapa teknik
yang dapat dilakukan pada waktu melaksanakan FGD yaitu (http://www.
enolsatoe.org/content/view/15/33/):
 Klarifikasi. Sesudah peserta menjawab pertanyaan, fasilitator dapat
mengulangi jawaban peserta dalam bentuk pertanyaan untuk
meminta penjelasan yang lebih lanjut. Misalnya, apakah saudara
dapat menjelaskan lebih lanjut tentang hal tersebut.
 Reorientasi. Agar diskusi hidup dan menarik, teknik reorientasi harus
efektif. Fasilitator dapat menggunakan jawaban seorang peserta
untuk ditanyakan kepada peserta lainnya.
 Peserta yang dominan. Apabila ada peserta yang dominan, maka
fasilitator harus lebih banyak memperhatikan peserta lain agar

Usulan Teknis E-51 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

supaya mereka lebih berpartisipasi. Dapat juga dilakukan dengan


tidak memperhatikan orang yang dominan tersebut sehingga tidak
mendorongnya untuk mengeluarkan pendapat atau jawaban. Apabila
tidak berhasil maka secara sopan fasilitator dapat menyatakan
kepadanya untuk memberi kesempatan pada peserta yang lain untuk
berbicara.
 Peserta yang diam. Agar peserta yang diam mau berpartisipasi, maka
sebaiknya memberikan perhatian yang banyak kepadanya dengan
selalu menyebutkan namanya dan mengajukan pertanyaan.
 Penggunaan gambar atau foto. Dalam melakukan FGD, fasilitator
dapat menggunakan foto atau gambar.

Dalam proses penyelesaian pekerjaan, direncanakan akan menyelenggarakan


FGD kali bersama Pemerintah Pusat dan Daerah baik di Jakarta maupun di
Tarutung untuk membahas:
1. Penetapan delineasi kawasan perencanaan;
2. Perumusan struktur dan pola ruang serta rencana pengembangan jaringan
sarana dan prasarana;
3. Penyepakatan materi RTA;
4. Konsultasi Publik KLHS.

E.2.2.5 Metode Proyeksi Penduduk


Analisis dilakukan dengan mempertimbangkan proyeksi demografi terhadap
batasan daya dukung dan daya tampung kawasan dalam jangka waktu rencana.
Analisis ini digunakan sebagai pertimbangan dalam penyusunan rencana
pengembangan BWP Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang
Kawasan Prioritas Lumbak Seminung. Ada 5 (lima) alternatif model analisis
penduduk yang mungkin akan digunakan dan akan disesuaikan dengan
karakteristik wilayahnya, yaitu :
a. Model Analisis Regresi Linier
Model analisis ini digunakan apabila perkembangan penduduk di suatu
wilayah konstan. Rumusnya adalah sebagai berikut :

P t + x=a+b( x )

Keterangan :
Pt = Jumlah Penduduk tahun dasar

Usulan Teknis E-52 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

a+b = Konstanta yang diperoleh dari rumus

∑ P ∑ X 2− ∑ X ∑ PX N ∑ PX−∑ X ∑ P
a= b=
N ∑ X 2 −( ∑ X )2 N ∑ X 2−( ∑ X )2

b. Model Analisis Bunga Berganda


Model analisis ini menganggap bahwa perkembangan jumlah penduduk
akan berganda dengan sendirinya. Formula dari analisis bunga berganda
yaitu :

Pt+φ =Pt (1+r)φ


Dimana :
r = Rata-rata prosentse pertambahan  penduduk
 = Selisih tahun (dari tahun dasar t ke tahun t+

c. Model Analisis Eksponensial Sederhana


Model analisis ini mengasumsikan bahwa perubahan penduduk per unit
waktu proporsional terhadap jumlah penduduk yang ada.

n
Pn =(1+r ) Po
Dimana :
r = faktor proporsional
N = selisih tahun

d. Model Analisis Cohort


Pada penelitian ini model pertumbuhan penduduk yang digunakan adalah
sebagai berikut :

Jumlah Penduduk
Pt=Po−(1+a)t

Usulan Teknis E-53 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

∑ P
Kp=
Kepadatan Penduduk A
Dimana :
Kp = Kepadatan penduduk (jiwa/Ha)
P = Jumlah penduduk awal atau tahun ke-0 (jiwa)
A = Luas daerah permukiman (Ha)

Analisis daya tampung ruang adalah analisis untuk menentukan daya


tampung pada satu kawasan, rumus yang digunakan adalah :

LahanPotensial−LahanUntukFasilitas
DTR=
StndarBesaranKapling

Dari hasil analisis ini juga pada akhirnya dapat ditentukan limit (batas) jumlah
penduduk yang ditampung.

E.2.2.6 Metode Analisa untuk Pengukuran Tingkat Kemudahan Pencapaian


Untuk mencapai seberapa mudahnya suatu tempat (lokasi) dicapai dari lokasi
yang lain, perlu dilakukan pengukuran tingkat kemudahan. Metode yang bisa
digunakan untuk itu antara lain ialah:
a) Nilai Aksesibilitas, dengan rumus matematis :

Dimana:
A = Nilai Akesesibilitas
F = Fungsi jalan : arteri, kolektor, dan lokal
K = Konstruksi jalan : aspal, perkerasan & tanah
T = Kondisi jalan : baik, sedang dan buruk
d = jarak
Nilai-nilai F, K, dan T diberi bobot.
b) Indeks aksesibilitas; dengan rumus matematis :

Usulan Teknis E-54 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

Dimana:
Ej = ukuran aktivitas (dapat digunakan antara lain jumlah penduduk usia
kerja)
dij = jarak tempuh (waktu atau uang)
b = parameter

Perhitungan parameter b, dengan menggunakan grafik regresi linier, yang


diperoleh berdasarkan perhitungan :

Dimana:
T= total individual trip
P= jumlah penduduk seluruh daerah

Dimana:
Tij = hipotheticaltrip volume
PiPj = jumlah penduduk di daerah i dan j
P = jumlah penduduk di seluruh daerah.

E.2.2.7 Metode Analisis Ekonomi


Pola dasar pembangunan di suatu wilayah menggariskan bahwa pembangunan
wilayah tersebut akan diarahkan untuk memacu pemerataan pembangunan dan
hasil-hasilnya dalam rangka meningkatkan kesejahteraan rakyat, menggalakkan
prasaraan dan peran aktif masyarakat serta meningkatkan pendayagunaan
potensi daerah secara optimal dan terpadu dalam mengisi otonomi daerah yang
nyata, dinamis, serasi dan bertanggung jawab. Agar pembangunan memberikan
hasil yang sebesar-besarnya, maka seluruh potensi dan sumber daya serta
kesempatan yang tersedia perlu dimanfaatkan secara tepat waktu, bijaksana dan
rasional melalui perencanaan yang matang. Keberhasilan pembangunan suatu
daerah sangat tergantung kepada kemampuan daerah memobilisasi sumber-
sumber yang terbatas adanya sedemikian rupa sehingga akan mampu
menimbulkan perubahan struktural yang dapat mendorong perkembangan dan
pertumbuhan ekonomi secara komprehensif dan struktur ekonomi yang

Usulan Teknis E-55 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

seimbang. Karena itu perlu ditentukan terlebih dahulu sektor-sektor potensil


yang dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi serta kemampuan
berkompetisi dalam cakupan ekonomi yang lebih luas. Dalam pekerjaan ini,
adapun analisis yang akan dilakukan untuk melihat kemampuan ekonomi
kawasan perencanaan adalah sebagai berikut :
a. Struktur Ekonomi dan Pergeseran Ekonomi
Melakukan analisis untuk menemukenali struktur ekonomi di dalam wilayah
dan/atau kawasan perencanaan saat ini. Langkah-langkah:
1. Menjumlahkan besaran PDRB yang dirinci tiap sektor dari tiap wilayah
administrasi yang termasuk dalam wilayah perencanaan untuk
mendapatkan PDRB wilayah perencanaan yang dirinci tiap sektor.
2. Menghitung Persentase (%) PDRB masing-masing sektor terhadap
PDRB total wilayah perencanaan untuk mengetahui kontribusi masing-
masing sektor terhadap PDRB wilayah dan/atau kawasan.
3. Menentukan struktur ekonomi wilayah dan/atau kawasan dengan
mengurutkan sektor-sektor dari yang terbesar kontribusinya terhadap
PDRB wilayah dan/atau kawasan.
4. Melakukan analisis pergeseran struktur ekonomi wilayah dan/atau
kawasan dengan menggunakan metode analisis yang sesuai.

b. Sektor Basis
Melakukan analisis untuk menemukenali sektor basis wilayah dan/atau
kawasan saat ini. Metode analisis yang akan digunakan adalah : Metode
Location Quotient (LQ). Location quotient dapat dipergunakan sebagai alat
ukur untuk mengukur spesialisasi relatif suatu daerah/kabupaten pada
sektor-sektor tertentu. LQ ini mempunyai penggunaan yang luas sehingga
satuan pengukuran apa saja dapat dipergunakan untuk menghitungnya.
Rumus umum yang biasa dipakai adalah sebagai berikut:
LQ = Si * N/Ni * S
Dimana:
Si = jumlah komoditas wilayah perencanaan;
Ni = jumlah komoditas di wilayah yang lebih luas;
S = jumlah komoditas total di wilayah dan/atau kawasan;
N= jumlah komoditas total di wilayah yang lebih luas.

Besarnya nilai LQ dapat diinterpretasikan sebagai berikut:

Usulan Teknis E-56 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

LQ > 1 : wilayah perencanaan mempunyai spesialisasi dalam sektor


tertentu dibandingkan wilayah yang lebih luas.
LQ = 1 : tingkat spesialisasi wilayah perencanaan dalam sektor
tertentu sama dengan wilayah yang lebih luas.
LQ < 1 : dalam sektor tertentu, tingkat spesialisasi wilayah berada di
bawah wilayah yang lebih luas.

c. Komoditi Sektor Basis yang memiliki keunggulan dan komparatif


berpotensi ekspor
Melakukan analisis untuk menemukenali sektor basis wilayah dan/atau
kawasan yang memiliki keunggulan komparatif dan berpotensi ekspor.
Keluaran:
 Perbandingan volume ekspor komoditi yang sama dengan wilayah lain.
 Keunggulan komparatif dan potensi ekspor komoditi.
Langkah-langkah :
1. Mengidentifikasi komoditi dari sektor-sektor basis.
2. Menganalisis volume ekspor dari tiap komoditi di tiap sektor di wilayah
dan/atau kawasan perencanaan.
3. Membandingkan volume ekspor tersebut dengan volume ekspor
komoditi yang sama di wilayah lain sebagai pembanding, sehingga
dapat diketahui keunggulan komparatif dan potensi ekspor komoditi
tersebut.
d. Analisis Shift-Share
Secara ringkas, dengan analisis Shift-share dapat dijelaskan bahwa
perubahan suatu variabel regional suatu sektor di suatu wilayah dalam kurun
waktu tertentu dipengaruhi oleh pertumbuhan nasional, bauran industri,
dan keunggulan kompetitif (Bendavid-Val, 1983;Hoover, 1984).
Dij = Nij + Mij + Ci
Keterangan:
Dij : perubahan suatu variabel regional sektor i di wilayah j dalam kurun
waktu tertentu
Nij : komponen pertumbuhan nasional sektor i di wilayah j
Mij : bauran industri sektor i di wilayah j
Cij : keunggulan kompetitif sektor i di wilayah j

Usulan Teknis E-57 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

Bila analisis itu diterapkan pada variabel regional, misalnya kesempatan


kerja, maka tiap komponen dapat didefinisikan sebagai berikut.
 Perubahan suatu variabel regional suatu sektor sektor di suatu wilayah
tertentu juga merupakan perubahan antara kesempatan kerja pada
tahun akhir analisis dengan kesempatan kerja pada tahun dasar.
Dij = E*ij – Eij

Keterangan:
E*ij = kesempatan kerja sektor i di wilayah j pada tahun akhir
analisis
Eij = kesempatan kerja sektor i di wilayah j pada tahun dasar.
 Komponen pertumbuhan nasional suatu sektor di suatu wilayah
menunjukkan bahwa kesempatan kerja tumbuh sesuai dengan laju
pertumbuhan nasional.
Nij = Eij.rn
Keterangan:
rn = laju pertumbuhan propinsi
 Komponen bauran industri suatu sektor di suatu wilayah menunjukkan
bahwa kesempatan kerja tumbuh sesuai laju selisih antara laju
pertumbuhan sektor tersebut di tingkat propinsi dengan laju
pertumbuhan propinsi. Sementara itu, komponen keunggulan
kompetitif suatu sektor di suatu wilayah merupakan kesempatan kerja
yang tumbuh sesuai laju selisih antara laju pertumbuhan sektor tersbut
di wilayah tersebut dengan laju pertumbuhan sektor tersebut secara
propinsi.
Mij = Eij (rin &ndash; rn)
Cij = Eij (rij &ndash; rin)
Keterangan:
rn : laju pertumbuhan propinsi
rin : laju pertumbuhan sektor i wilayah j
 Masing-masing laju pertumbuhan didefinisikan sebagai berikut.
1. Mengukur laju pertumbuhan sektor i di wilayah j
rij = (E*ij &ndash; Eij)/Eij
2. Mengukur laju pertumbuhan sektor i perekonomian nasional

Usulan Teknis E-58 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

rin = (E*in &ndash; Ein)/Ein


3. Mengukur laju pertumbuhan propinsi
rn = (E*n &ndash; En)/En
Keterangan:
E*in = kesempatan kerja sektor i di tingkat propinsi pada tahun
terakhir analisis
Ein = kesempatan kerja sektor i di tingkat propinsi pada suatu
tahun dasar tertentu
E*n = kesempatan kerja propinsi pada tahun terakhir analisis
En = kesempatan kerja propinsi pada suatu tahun dasar tertentu
 Untuk suatu wilayah, pertumbuhan propinsi, bauran industri, dan
keunggulan kompetitif dapat ditentukan bagi suatu sektor (i) atau
dijumlahkan untuk semua sektor sebagai keseluruhan wilayah.
Persamaan Shift-share untuk sektor i di wilayah j adalah :
Dij = Eij.rn + Eij (rin - rn) + Eij (rij - rin)
Persamaan ini membebankan tiap sektor wilayah dengan laju pertumbuhan
yang setara dengan laju yang dicapai oleh perekonomian nasional selama
kurun waktu analisis. Persamaan diatas menunjukkan bahwa semua wilayah
dan sektorsektor sebaiknya memiliki tingkat pertumbuhan yang paling kecil
sama dengan laju pertumbuhan propinsi (rn). Perbedaan antara
pertumbuhan suatu variabel wilayah dengan pertumbuhan propinsi
merupakan net gain atau net loss (atau shift) wilayah bersangkutan
(Supomo, 1993).
Bila tiap komponen (pengaruh) Shift-share dijumlahkan untuk semua sektor,
maka tanda hasil penjumlahan itu akan menunjukkan arah perubahan dalam
pangsa wilayah kesempatan kerja tingkat propinsi. Pengaruh bauran industri
total akan positif/negatif/nol di semua wilayah bila kesempatan kerja suatu
sektor tumbuh di atas/di bawah/sama dengan kesempatan kerja tingkat
propinsi. Demikian pula, pengaruh keunggulan kompetitif total akan
positif/negatif/nol di wilayah-wilayah, dimana kesempatan kerja berkembang
lebih cepat/lebih lambat atau sama dengan pertumbuhan kesempatan kerja
sektor yang bersangkutan di tingkat propinsi.
Setelah melakukan analisis kemampuan wilayah perencanaan dari segi
ekonomi, analisis berikutnya adalah melihat bagaimana hubungan dan
ketergantungan wilayah perencanaan dengan wilayah sekitarnya khususnya
di sektor perekonomi, baik dalam lingkup wilayah yang ada di Kabupaten
Tapanuli Utara untuk mengidentifikasi keterkaitan atau ketergantungan
ekonomi tersebut digunakan analisis Moran. Analisa Moran’I merupakan

Usulan Teknis E-59 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

salah satu metode analisa yang digunakan untuk mendeteksi autokorelasi


spasial. Autokorelasi spasial adalah suatu kondisi dimana sebuah variabel
mempengaruhi variabel yang sama pada wilayah terdekat. Analisis Moran’I
akan menampilkan penyebaran data secara spasial, mengidentifikasi
ketidakteraturan lokasi, mendeteksi pola hubungan spasial dan menyajikan
kelompok spasial yang berbeda. Adapun rumus Moran’I adalah sebagai
berikut :

Dimana :
= angka Indeks Moran’I
= jumlah kecamatan yang diteliti;
= sumb of weights atau total nilai posisi relatif tertimbang suatu wilayah
terhadap wilayah lainnya
= matriks spasial tertimbang suatu wilayah terhadap wilayah lain di
sekitarnya dimana daerah yang secara geografis berdekatan diberi
nilai 1 sementara daerah yang secara geografis tidak berdekatan
diberi nilai 0.
Xj = nilai pendapatan per kapita wilayah sekitar.
Analisis Moran’I dalam pekerjaan ini digunakan untuk mengukur tingkat
pengaruh perekonomian wilayah perencanaan pada wilayah lain yang
berdekatan. Jika nilai Moran’I adalah positif dan signifikan, maka
bertumbuhnya perekonomian wilayah perencanaan cenderung mendorong
pertumbuhan pendapatan daerah sekitarnya untuk tumbuh tinggi atau
positive spasial autocorrelation. Dan sebaliknya jika nilai Moran’I bernilai
negatif dan signifikan maka perekonomian wilayah perencanaan cenderung
menurunkan perekonomian di wilayah terdekat atau sering disebut negative
spatial autororrelation. Namun jika nilai Moran’I tidak signifikan maka
distribusi perekonomian di wilayah perencanaan adalah tersebar. Hal ini
menunjukkan tidak ada hubungan autokorelasi spasial yang artinya
perekonomian wilayah perencanaan tidak tergantung pada wilayah
sekitarnya.
Indeks Moran hanya mendeteksi pola hubungan kegiatan ekonomi secara
umum (Global Spatial Autocorrelation), tanpa secara spesifik menunjukkan
pola hubungan antar wilayah secara spesifik. Untuk itu, digunakan metode
lag regression spasial. Metode ini dapat secara spesifik mengidentifikasi pola
hubungan antar wilayah. Hal ini dilakukan dengan melakukan regresi tingkat
pertumbuhan ekonomi wilayah perencanaan (X1) terhadap rata-rata
tertimbang pertumbuhan ekonomi daerah tetangga (LXi) atau lag spatial

Usulan Teknis E-60 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

Pertumbuhan Ekonomi Spasial (LXi). Metode Lag Spatial Regression dapat


digunakan untuk menghitung kuatnya pengaruh pertumbuhan ekonomi
suatu wilayah terhadap wilayah lain di sekitarnya. Adapun rumus Lag Spatial
Regression adalah sebagai berikut :

Dimana:
Lx = rata-rata tertimbang pertumbuhan ekonomi daerah-daerah yang
berdekatan secara geografis (wilayah perencanaan) terhadap suatu
wilayah yang diukur dalam satuan persen.
xi = pertumbuhan ekonomi suatu wilayah yang diukur dalam satuan
persen;
a1 = koefisien Moran’I yang menunjukkan besarnya pengaruh
pertumbuhan ekonomi suatu wilayah dalam mendorong
pertumbuhan ekonomi wilayah sekitarnya;
a0 = konstanta.
E.2.2.8 Metode Analisis Kemampuan Lahan
Daya dukung lingkungan pada hakekatnya adalah daya dukung lingkungan
alamiah, yaitu berdasarkan biomas tumbuhan dan hewan yang dapat
dikumpulkan dan ditangkap per satuan luas dan waktu di daerah itu
(Soemarwoto (2001). Daya dukung lingkungan adalah batas teratas dari
pertumbuhan suatu populasi dimana jumlah populasi tidak dapat didukung
lagi oleh sarana, sumber daya dan lingkungan yang ada. Sedangkan daya
tampung lingkungan adalah kemampuan lingkungan untuk menyerap zat,
energi, dan / atau komponen lain yang masuk atau dimasukkan kedalamnya
(Soerjani,dkk (1987).
Daya dukung lingkungan adalah: kebutuhan hidup manusia dari lingkungan
dapat dinyatakan dalam luas area yang dibutuhkan untuk mendukung
kehidupan manusia (Lenzen (2003). Daya dukung lingkungan adalah
kemampuan lingkungan untuk mendukung peri kehidupan manusia dan
makhluk hidup lainnya (Dalam Undang- Undang No.32 Tahun 2009 tentang
Pengelolaan Lingkungan Hidup). Daya dukung lingkungan hidup adalah
kemampuan lingkungan hidup untuk mendukung peri kehidupan manusia
dan makhluk hidup lain (peraturan menteri negara lingkungan hidup nomor
17 tahun 2009 tentang pedoman penentuan daya dukung lingkungan hidup
dalam penataan ruang wilayah).
Analisis daya dukung (carrying capacity ratio) merupakan suatu alat
perencanaan pembangunan yang memberikan gambaran hubungan antara

Usulan Teknis E-61 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

penduduk, penggunaan lahan dan lingkungan. Dari semua hal tersebut,


analisis daya dukung dapat memberikan informasi yang diperlukan dalam
menilai tingkat kemampuan lahan dalam mendukung segala aktifitas manusia
yang ada di wilayah yang bersangkutan.
Informasi yang diperoleh dari hasil analisis daya dukung secara umum akan
menyangkut masalah kemampuan (daya dukung) yang dimiliki oleh suatu
daerah dalam mendukung proses pembangunan dan pengembangan daerah
itu, dengan melihat perbandingan antara jumlah lahan yang dimiliki dan
jumlah penduduk yang ada. Produktivitas lahan, komposisi penggunaan
lahan, permintaan per kapita, dan harga produk agrikultur, semua
dipertimbangkan untuk mempengaruhi daya dukung dan digunakan sebagai
parameter masukan model tersebut. Konsep yang digunakan untuk
memahami ambang batas kritis daya- dukung ini adalah adanya asumsi bahwa
ada suatu jumlah populasi yang terbatas yang dapat didukung tanpa
menurunkan derajat lingkungan yang alami sehingga ekosistem dapat
terpelihara. Secara khusus, kemampuan daya dukung pada sektor pertanian
diperoleh dari perbandingan antara lahan yang tersedia dan jumlah petani.
Sehingga data yang perlu diketahui adalah data luas lahan rata-rata yang
dibutuhkan per keluarga, potensi lahan yang tersedia dan penggunaan lahan
untuk kegiatan non pertanian.
Dalam kehidupan dan aktivitas manusia sehari-hari, lahan merupakan bagian
dari lingkungan sebagai sumber daya alam yang mempunyai peranan sangat
penting untuk berbagai kepentingan bagi manusia. Lahan dimanfaatkan
antara lain untuk pemukiman, pertanian, peternakan, pertambangan, jalan
dan tempat bangunan fasilitas sosial, ekonomi dan sebagainya.
a. Prakiraan Daya Dukung Lingkungan
Daya dukung wilayah (carrying capacity) adalah daya tampung
maksimum lingkungan untuk diberdayakan oleh manusia. Dengan kata
lain populasi yang dapat didukung dengan tak terbatas oleh suatu
ekosistem tanpa merusak ekosistem itu. Daya dukung juga dapat
didefinisikan sebagai tingkat maksimal hasil sumber daya terhadap
beban maksimum yang dapat didukung dengan tak terbatas tanpa
semakin merusak produktivitas wilayah tersebut sebagai bagian integritas
fungsional ekosistem yang relevan. Fungsi beban manusia tidak hanya
pada jumlah populasi akan tetapi juga konsumsi perkapita serta lebih
jauh lagi adalah faktor berkembangnya perdagangan dan industri secara
cepat. Satu hal yang perlu dicatat, bahwa adanya inovasi teknologi
tidak meningkatkan daya dukung wilayah akan tetapi berperan dalam
meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya alam.
Analisis daya dukung (carrying capacity ratio) merupakan suatu alat
perencanaan pembangunan yang memberikan gambaran hubungan
antara penduduk, penggunaan lahan dan lingkungan. Dari semua hal

Usulan Teknis E-62 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

tersebut, analisis daya dukung dapat memberikan informasi yang


diperlukan dalam menilai tingkat kemampuan lahan dalam mendukung
segala aktifitas manusia yang ada di wilayah yang bersangkutan. Informasi
yang diperoleh dari hasil analisis daya dukung secara umum akan
menyangkut masalah kemampuan (daya dukung) yang dimiliki oleh suatu
daerah dalam mendukung proses pembangunan dan pengembangan
daerah itu, dengan melihat perbandingan antara jumlah lahan yang
dimiliki dan jumlah penduduk yang ada. Produktivitas lahan, komposisi
penggunaan lahan, permintaan per kapita, dan harga produk agrikultur,
semua dipertimbangkan untuk mempengaruhi daya dukung dan
digunakan sebagai parameter masukan model tersebut.
Konsep yang digunakan untuk memahami ambang batas kritis daya-
dukung ini adalah adanya asumsi bahwa pada suatu jumlah populasi yang
terbatas yang dapat didukung tanpa menurunkan derajat lingkungan yang
alami sehingga ekosistem dapat terpelihara. Secara khusus, kemampuan
daya dukung pada sektor pertanian diperoleh dari perbandingan antara
lahan yang tersedia dan jumlah petani. Sehingga data yang perlu
diketahui adalah data luas lahan rata-rata yang dibutuhkan per keluarga,
potensi lahan yang tersedia dan penggunaan lahan untuk kegiatan non
pertanian.
b. Dasar Penentuan Daya Dukung Lingkungan Hidup
Penentuan daya dukung lingkungan hidup dilakukan dengan cara
mengetahui kapasitas lingkungan alam dan sumber daya untuk
mendukung kegiatan manusia/penduduk yang menggunakan ruang bagi
kelangsungan hidup. Besarnya kapasitas tersebut di suatu tempat
dipengaruhi oleh keadaan dan karakteristik sumber daya yang ada di
hamparan ruang yang bersangkutan. Kapasitas lingkungan hidup dan
sumber daya akan menjadi faktor pembatas dalam penentuan
pemanfaatan ruang yang sesuai. Menurut Peraturan Menteri Negara
Lingkungan Hidup Nomor 17 tahun 2009. Pedoman Penentuan Daya
Dukung Lingkungan Hidup dalam Penataan Ruang Wilayah Menteri
Negara Lingkungan Hidup, daya dukung lingkungan hidup terbagi
menjadi 2 (dua) komponen, yaitu kapasitas penyediaan (supportive
capacity) dan kapasitas tampung limbah (assimilative capacity). Dalam
pedoman ini, telaah daya dukung lingkungan hidup terbatas pada
kapasitas penyediaan sumber daya alam, terutama berkaitan dengan
kemampuan lahan serta ketersediaan dan kebutuhan akan lahan dan air
dalam suatu ruang/wilayah. Oleh karena kapasitas sumber daya alam
tergantung pada kemampuan, ketersediaan, dan kebutuhan akan lahan
dan air, penentuan daya dukung lingkungan hidup sesuai dengan
Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 17 tahun 2009.
Pedoman Penentuan Daya Dukung Lingkungan Hidup dalam Penataan

Usulan Teknis E-63 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

Ruang Wilayah Menteri Negara Lingkungan Hidup dilakukan berdasarkan


3 (tiga) pendekatan, yaitu: kemampuan lahan untuk alokasi pemanfaatan
ruang, perbandingan antara ketersediaan dan kebutuhan lahan, dan
perbandingan antara ketersediaan dan kebutuhan air.
c. Metode Penentuan Kemampuan Lahan Untuk Alokasi Pemanfaatan Ruang
Metode ini menjelaskan cara mengetahui alokasi pemanfaatan ruang yang
tepat berdasarkan kemampuan lahan untuk pertanian yang
dikategorikan dalam bentuk kelas dan sub kelas. Dengan metode ini dapat
diketahui lahan yang sesuai untuk pertanian, lahan yang harus dilindungi
dan lahan yang dapat digunakan untuk pemanfaatan lainnya. Pedoman
ini mengatur alokasi pemanfaatan ruang dari aspek fisik lahan.
Sedangkan aspek lainnya seperti keanekaragaman hayati,
dipertimbangkan dengan memperhatikan kriteria kawasan lindung
sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
(1) Klasifikasi Kemampuan Lahan
Kemampuan lahan merupakan karakteristik lahan yang mencakup
sifat tanah (fisik dan kimia), topografi, drainase, dan kondisi
lingkungan hidup lain. Berdasarkan karakteristik lahan tersebut,
dapat dilakukan klasifikasi kemampuan lahan ke dalam tingkat kelas,
sub kelas, dan unit pengelolaan. Pengelompokan kemampuan lahan
dilakukan untuk membantu dalam penggunaan dan interpretasi peta
tanah. Kemampuan lahan sangat berkaitan dengan tingkat bahaya
kerusakan dan hambatan dalam mengelola lahan.
(2) Kemampuan Lahan dalam Tingkat Kelas
Lahan diklasifikasikan ke dalam 8 (delapan) kelas yang ditandai
dengan huruf romawi I sampai dengan VIII di bawah ini;

Tabel E.4 Kriteria Kelas Lahan

KELAS KRITERIA PENGGUNAAN


I 1. Tidak mempunyai atau hanya sedikit Pertanian :
hambatan yang membatasi 1. Tanaman pertanian semusim;
penggunaannya 2. Tanaman rumput;
2. Sesuai untuk berbagai penggunaan, 3. Hutan dan cagar alam.
terutama pertanian;
3. Karakteristik lahannya antara lain :
topografi hampir datar, ancaman erosi
kecil, kedalaman ekfektif dalam,
drainase baik, mudah diolah, kapasitas
menahan air baik, subur, tidak
terancam banjir.
II 1. Mempunyai beberapa hambatan atau Pertanian :
ancaman kerusakan yang mengurangi 1. Tanaman semusim;
pilihan penggunaannya atau 2. Tanaman rumput;
memerlukan tindakan konservasi yang 3. Padang penggembalaan;
sedang; 4. Hutan produksi;
2. Pengelolaan perlu dihati-hati termasuk 5. Hutan lindung;
tindakan konservasi untuk mencegah 6. Cagar alam.

Usulan Teknis E-64 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

KELAS KRITERIA PENGGUNAAN


kerusakan.
III 1. Mempunyai beberapa hambatan yang a. Pertanian :
berat yang mengurangi pilihan 1. Tanaman semusim dan
penggunaan lahan yang memerlukan tanaman pertanian pada
tindakan konservasi khusus dan umumnya;
keduanya. 2. Tanaman rumput;
2. Mempunyai pembatas lebih berat dari 3. Hutan produksi;
kelas II, dan jika dipergunakan untuk 4. Padang penggembalaan;
tanaman perlu pengelolaan tanah dan 5. Hutan lindung dan suaka alam
tindakan konservasi lebih sulit b. Non-pertanian
diterapkan.
3. Hambatan pada angka I membatasi
lama penggunaan bagi tanaman
semusim, waktu pengolahan, pilihan
tanaman atau kombinasi dari pembatas
tersebut.
V 1. Tidak terancam erosi tetapi mempunyai a. Pertanian :
hambatan lain yang tidak mudah untuk 1. Tanaman semusim dan
dihilangkan, sehingga membatasi tanaman pertanian pada
pilihan penggunaanya; umumnya;
2. Mempunyai hambatan yang membatasi 2. Tanaman rumput;
pilihan macam penggunaan dan 3. Hutan produksi;
tanaman; 4. Padang penggembalaan;
3. Terletak pada topografi datar-hampir 5. Hutan lindung dan suaka alam
datar tetapi sering terlanda banjir, b. Non-pertanian
berbatu atau iklim yang kurang sesuai
VI 1. Mempunyai faktor penghambat berat a. Pertanian :
yang menyebabkan penggunaan tanah 1. Tanaman rumput;
sangat terbatas karena mempunyai 2. Hutan produksi;
ancaman kerusakan yang tidak dapat 3. Padang penggembalaan;
dihilangkan; 4. Hutan lindung dan cagar alam
2. Umumnya terletak pada lereng curam,
sehingga jika dipergunakan untuk b. Non-pertanian
penggembalaan dan hutan produksi
harus dikelola dengan baik untuk
menghindari erosi
VII Mempunyai faktor penghambat dan a. Padang rumput;
ancaman berat yang tidak dapat b. Hutan produksi
dihilangkan, karena itu pemanfaatannya
harus bersifat konservasi. Jika digunakan
untuk padang rumput atau hutan produksi
harus dilakukan pencegahan erosi yang
berat.
VIII 1. Sebaiknya dibiarkan secara alami; a. Hutan lindung;
2. Pembatas dan ancaman sangat berat b. Rekreasi alam;
dan tidak mungkin dilakukan tindakan c. Cagar alam
konservasi, sehingga perlu dilindungi
Sumber : Dahuri, Rokhim dkk.2011

(3) Kemampuan Lahan Pada Tingkat Unit Pengelolaan


Kategori sub kelas dibagi ke dalam kategori unit pengelolaan
yang didasarkan pada intensitas faktor penghambat dalam
kategori sub kelas. Dengan demikian, dalam kategori unit
pengelolaan telah di indikasikan kesamaan potensi dan
hambatan/risiko sehingga dapat dipakai untuk menentukan tipe
pengelolaan atau teknik konservasi yang dibutuhkan. Kemampuan

Usulan Teknis E-65 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

lahan pada tingkat unit pengelolaan memberikan keterangan yang


lebih spesifik dan detail dari sub kelas. Tingkat unit pengelolaan lahan
diberi simbol dengan menambahkan angka di belakang simbol
sub kelas. Angka ini menunjukkan besarnya tingkat faktor
penghambat yang ditunjukkan dalam sub kelas.
Evaluasi kecocokan penggunaan lahan diperlukan sebagai
masukan bagi revisi rencana tata ruang atau penggunaan lahan yang
sudah ada. Klasifikasi pada kategori unit pengelolaan
memperhitungkan faktor-faktor penghambat yang bersifat
permanen atau sulit diubah seperti tekstur tanah, lereng
permukaan, drainase, kedalaman efektif tanah, tingkat erosi yang
telah terjadi, liat masam (cat clay, batuan di atas permukaan tanah,
ancaman banjir atau genangan air yang tetap. Dalam metode ini
hanya cocok untuk lahan yang datar sampai tingkat kemiringan
tertentu. Metode kemampuan lahan untuk lokasi ruang ini cocok
untuk perencanaan wilayah, permukinan, pertanian, dan kawasan
lindung.

d. Metode Perbandingan Ketersediaan Lahan dan Kebutuhan Lahan


Cara mengetahui daya dukung lahan berdasarkan perbandingan antara
ketersediaan dan kebutuhan lahan bagi penduduk yang hidup di suatu
wilayah. Dengan metode ini dapat diketahui gambaran umum apakah
daya dukung lahan suatu wilayah dalam keadaan surplus atau defisit.
Keadaan surplus menunjukkan bahwa ketersediaan lahan setempat di
suatu wilayah masih dapat mencukupi kebutuhan akan produksi hayati
di wilayah tersebut, sedangkan keadaan defisit menunjukkan bahwa
ketersediaan lahan setempat sudah tidak dapat memenuhi kebutuhan
akan produksi hayati di wilayah tersebut.
(1) Pendekatan Perhitungan
Penentuan daya dukung lahan dilakukan dengan membandingkan
ketesediaan dan kebutuhan lahan seperti digambarkan dalam
diagram berikut ini.

Gambar E.3 Diagram Penentuan Daya Dukung Lahan (Sumber


:Danuri, Rokhim dkk, 2001)

Usulan Teknis E-66 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

Ketersediaan lahan ditentukan berdasarkan data total produksi


aktual setempat dari setiap komoditas di suatu wilayah, dengan
menjumlahkan produk dari semua komoditas yang ada di wilayah
tersebut. Untuk penjumlahan ini digunakan harga sebagai faktor
konversi karena setiap komoditas memiliki satuan yang beragam.
Sementara itu, kebutuhan lahan dihitung berdasarkan kebutuhan
hidup layak.
(2) Cara Penghitungan
Penghitungan dilakukan dengan tahapan sebagai berikut :
(a) Penghitungan Ketersediaan (Supply) Lahan
Rumus :

Dimana :
SL = Ketersediaan Lahan (ha)
Pi = Produksi aktual tiap jenis komoditi (satuan tergantung
kepada jenis komoditas). Komoditas yang
diperhitungkan meliputi pertanian, perkebunan,
kehutanan, peternakan dan perikanan.
Hi = Harga satuan tiap jenis komoditas (Rp/satuan) ditingkat
produsen
Hb = Harga satuan beras (Rp/kg) di tingkat pembeli
Ptvb = produktivitas beras (kg/ha).
Dalam penghitungan ini, faktor konversi yang digunakan untuk
menyetarakan produk non beras dengan beras adalah harga.
(b) Penghitungan Kebutuhan (Demand) Lahan
Rumus :

Usulan Teknis E-67 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

Dimana :
DL = Total kebutuhan lahan setara beras (ha)
N = Jumlah penduduk (orang)
KHLL = Luas lahan yang dibutuhkan untuk kebutuhan hidup
layak per penduduk.
 Luas lahan yang dibutuhkan untuk kebutuhan hidup layak
per penduduk merupakan kebutuhan hidup layak per
penduduk dibagi produktivitas beras lokal;
 Kebutuhan hidup layak per penduduk diasumsikan sebesar 1
ton setara beras/kapita/tahun.
 Daerah yang tidak memiliki data produktivitas beras lokal,
dapat menggunakan data rata-rata produktivitas beras
nasional sebesar 2.400 kg/ha/tahun.

Penentuan status daya dukung lahan status daya dukung lahan


diperoleh dari pembandingan antara ketersediaan lahan (SL) dan
kebutuhan lahan (DL). Bila SL > DL, daya dukung lahan dinyatakan
surplus. Bila SL < DL, daya dukung lahan dinyatakan defisit atau
terlampaui.

e. Metode Perbandingan Ketersediaan dan Kebutuhan Air


Metode ini menunjukkan cara penghitungan daya dukung air di suatu
wilayah dengan mempertimbangkan ketersediaan dan kebutuhan akan
sumber daya air bagi penduduk yang hidup di wilayah.
(1) Pendekatan Perhitungan
Penentuan daya dukung air dilakukan dengan membandingkan
ketersediaan dan kebutuhan air seperti pada gambar di bawah ini.

Gambar E.4 Diagram Penentuan Daya Dukung Air (Sumber


:Danuri, Rokhim dkk, 2001)

Usulan Teknis E-68 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

Ketersediaan air ditentukan dengan menggunakan metode kofisien


limpasan berdasarkan informasi penggunaan lahan serta data curah
hujan tahunan. Sementara itu, kebutuhan air dihitung dari hasil
konversi terhadap kebutuhan hidup layak.

(2) Cara Penghitungan


Perhitungan dilakukan dengan tahapan sebagai berikut :
 Penghitungan ketersediaan (supply) air perhitungan dengan
menggunakan metode koefisien limpasan yang dimodifikasi dari
metode rasional.
Rumus :

Keterangan :
SA = ketersediaan air (m³/tahun)
C = koefisien limpasan tertimbang
Ci = koefisien limpasan penggunaan lahan
Ai = luas penggunaan lahan i (ha) dari data BPS atau Daerah
Dalam Angka, atau dari data Badan Pertanahan Nasional
(BPN)
R = rata-rata aljabar curah hujan tahunan wilayah
(mm/tahunan) dari data BPS atau BMG atau dinas terkait
setempat;
Ri = curah hujan tahunan pada stasiun-i
m = jumlah stasiun pengamatan curah hujan
A = luas wilayah (ha)
10 = faktor konversi dari mm.ha menjadi m³

 Penghitungan Kebutuhan (Demand) Air


Rumus :

Keterangan :
DA = total kebutuhan air (m³/tahun)
N = jumlah penduduk (orang)
KHLA= kebutuhan air untuk hidup layak
= 1.600 m³ air/kapita/tahuan

Usulan Teknis E-69 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

= 2 x 800 m³ air/kapita/tahun, dimana 800 m³


air/kapita/tahun merupakan kebutuhan air untuk
keperluan domestik dan untuk menghasilkan pangan. 2.0
merupakan faktor koreksi untuk memperhitungkan
kebutuhan hidup layak yang mencakup kebutuhan
pangan, domestik dan lainnya. (Catatan: Kriteria WHO
untuk kebutuhan air total sebesar 1.000-2.000
m³/orang/tahun.
Dengan metode ini, dapat diketahui secara umum apakah sumber daya air
di wilayah perencanaan BWP dalam keadaan surplus atau defisit. Keadaan
surplus menunjukkan bahwa ketersediaan air mencukupi, sedangkan
keadaan defisit menunjukkan bahwa wilayah tersebut tidak dapat
memenuhi kebutuhan akan air. Guna memenuhi kebutuhan air, fungsi
lingkungan yang terkait dengan sistem tata air harus dilestarikan. Hasil
penghitungan dengan metode ini dapat dijadikan bahan
masukan/pertimbangan dalam penyusunan Penyusunan Instrumen
Pengendalian Pemanfaatan Ruang Kawasan Prioritas Lumbak Seminung.

E.2.2.9 Metode Analisis Transportasi


Analisis ini digunakan untuk mengidentifikasi dan mengatasi permasalahan
transportasi di sekitar wilayah perencanaan. Metode pendekatan yang
digunakan adalah :
1. Metode Sistem Transportasi
Makro
Dengan melihat interaksi antara sistem kegiatan, sistem jaringan dan sistem
pergerakan, dengan pengendalian oleh sistem kelembagaan.

Gambar E.5 Sistem Transportasi Makro (Sumber : Tamin (1992b,1993a,


1994b, 1995 hjk)

Usulan Teknis E-70 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

SISTEM JARINGAN SISTEM KEGIATAN

SISTEM PERGERAKAN

SISTEM KELEMBAGAAN

2. Tingkat Pelayanan Jalan


Analisa ini digunakan untuk mengetahui tingkat pelayanan jalan/level of
service (LOS), yang meliputi volume pergerakan dan kapasitas jalan utama
yang diperoleh dari data primer maupun sekunder. Tingkat pelayanan jalan
didefinisikan sejauh mana kemampuan jalan menjalankan fungsinya. Atas
dasar itu pendekatan tingkat pelayanan dipakai sebagai indikator tingkat
kinerja jalan (level of service). Level of service merupakan suatu ukuran
kualitatif yang menggunakan kondisi operasi lalu-lintas pada suatu potongan
jalan. Dengan kata lain tingkat pelayanan jalan adalah ukuran yang
menyatakan kualitas pelayanan yang disediakan oleh suatu jalan dalam
kondisi tertentu. Nilai tingkat pelayanan jalan (level of service) dapat dilihat
pada tabel di bawah ini.

Tabel E.5 Standar Klasifikasi Tingkat Pelayanan Jalan


Tabel E.6
KECEPATAN
TINGKAT
NO D=V/C IDEAL KONDISI/KEADAAN LALU LINTAS
PELAYANAN
(KM/JAM)

1 A <0.6 >60 Lalu lintas lengang, kecepatan bebas

2 B 0.6-0.7 50-60 Lalu lintas agak ramai, kecepatan menurun

3 C 0.7-0.8 40-50 Lalu lintas ramai, kecepatan terbatas

4 D 0.55-0.80 35-40 Lalu lintas jenuh, kecepatan mulai rendah


5 E 0.9-1.00 30-35 Lalu lintas mulai macet, kecepatan rendah

6 F >1.00 <30 Lalu lintas macet, kecepatan rendah sekali


Sumber: MKJI, 1997

Usulan Teknis E-71 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

Adapun rumus untuk mengetahui tingkat pelayanan jalan (LoS) adalah


sebagai berikut:
LOS = V / C

Nilai Q dan C didapat berdasarkan:


C = Co x FCw x FCsp x FCsf x FCcs

Dimana :
C = kapasitas smp per jam (smp/jam)
Co = kapasitas dasar (smp/jam)
FCw = faktor koreksi kapasitas untuk lebar jalan
FCsp = faktor koreksi kapasitas akibat pembagian arah
FCsf = faktor koreksi kapasitas akibat gangguan samping
FCsf = faktor koreksi kapasitas akibat ukuran kota (jumlah
penduduk)

V=n/t
Dimana :
Q = Volume lalu lintas
n = Jumlah Kendaraan
t = waktu
3. Analisis Hierarki dan Kondisi
jalan
Analisa ini digunakan untuk mengetahui perubahan kondisi dan hierarki
jalan-jalan utama di lokasi perencanaan. Metode Pendekatan yang
digunakan, yaitu standar hierarki jalan menurut SNI 03-6967-2003.

Tabel E.7 Hierarki Jalan dan Persyaratannya

PERSYARATAN
TINGGI
HIRARKI LEBAR
KECEPATAN RUANG KEDALAMAN BATAS LUAR
JALAN
BEBAS

Jalan arteri primer 60 km/ jam +8m +5m ±1½m Dari as + 20 m

Jalan kolektor primer 40 km/ jam +7m +5m ±1½m Dari as +15m

Jalan lokal primer 20 km/ jam +6m - - Dari as + 10 m

Usulan Teknis E-72 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

PERSYARATAN
TINGGI
HIRARKI LEBAR
KECEPATAN RUANG KEDALAMAN BATAS LUAR
JALAN
BEBAS

Jalan arteri sekunder 30 km/ jam +8m - - Dari as + 20 m

Jalan kolektor
20 km/ jam +7m - - Dari as + 7 m
sekunder

Roda tiga atau lebih


Jalan lokal sekunder 5 km/ jam +5m Tidak kurang 3 ½ m Dari as + 4 m
(ambulan/ lainnya)
Sumber : SNI 03-6967-2003

4. Terminal
Terminal yang dimaksud dalam hal ini merupakan terminal wilayah dimana
kendaraan umum dari wilayah lain berhenti di terminal tersebut dan tidak
meneruskan perjalanan melainkan kembali ke wilayahnya semula. Untuk
kota dimana jarak antar terminal wilayahnya tidak terlalu jauh, maka tidak
perlu dibuat terminal, cukup dengan pengadaan pangkalan sementara
sebelum melanjutkan perjalanan ke tempat tujuan.

Analisis-analisis tersebut nantinya akan menjadi bahan dalam penyusunan


rencana jaringan pergerakan. Rencana pengembangan jaringan pergerakan
merupakan seluruh jaringan primer dan jaringan sekunder pada kawasan
yang menjadi lokasi perencanaan Penyusunan Instrumen Pengendalian
Pemanfaatan Ruang Kawasan Prioritas Lumbak Seminung yang meliputi
jalan arteri, jalan kolektor, jalan lokal, jalan lingkungan, dan jaringan jalan
lainnya yang belum termuat dalam RTRW Kabupaten Tapanuli Utara, yang
terdiri dari:
a. Jaringan jalan arteri primer dan arteri sekunder;
b. Jaringan jalan kolektor primer dan kolektor sekunder;
c. Jaringan jalan lokal primer dan lokal sekunder;
d. Jaringan jalan lingkungan primer dan lingkungan sekunder;
e. Jaringan jalan lainnya yang meliputi :
 Jalan masuk dan keluar terminal barang serta terminal
orang/penumpang sesuai ketentuan yang berlaku (terminal tipe A,
B, C hingga pangkalan angkutan umum)
 Jaringan jalan moda transportasi umum (jalan masuk dan
keluarnya terimanl barang/orang hingga pangkalan angkutan
umum dan halte);
 Jalan masuk dan keluar parkir.

Usulan Teknis E-73 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

Dalam hal rencana pengembangan jalur pejalan kaki, bagian-bagian


pengembangan jalur pejalan kaki dilakukan dengan merancang tipologi-
tipologi ruang yang meliputi :

1. Ruang Pejalan Kaki di Sisi Jalan (Sidewalk), merupakan bagian dari


sistem jalur pejalan kaki dari tepi jalan raya hingga tepi terluar lahan
milik bangunan seperti contoh gambar berikut ini.

2. Ruang Pejalan Kaki di Sisi Air (Promenade), merupakan ruang pejalan


kaki yang pada salah satu sisinya berbatasan dengan badan air seperti
contoh gambar berikut :

3. Ruang Pejalan Kaki di Kawasan Komersial/Perkantoran (Arcade),


merupakan ruang pejalan kaki yang berdampingan dengan bangunan

Usulan Teknis E-74 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

pada salah satu atau kedua sisinya. Ruang pejalan kaki di pusat
kawasan bisnis dan pusat kota ini adalah area yang harus dirancang
untuk mengakomodir volume lebih besar dari pejalan kaki dibanding di
area-area di kawasan permukiman seperti pada contoh gambar berikut
ini.

4. Ruang Pejalan Kaki di RTH (Green Pathway), merupakan ruang pejalan


kaki yang terletak diantara ruang terbuka hijau. Ruang ini merupakan
pembatas diantara ruang hijau dan ruang sirkulasi pejalan kaki. Area ini
menyediakan satu penyangga dari sirkulasi kendaraan di jalan dan
memungkinkan untuk dilengkapi dengan berbagai elemen ruang
seperti hidran air, kios telepon umum, dan perabot jalan (bangku,
marka dan lain-lain), seperti terlihat pada contoh gambar berikut ini.

5. Ruang Pejalan Kaki di Bawah Tanah (Underground), merupakan ruang


pejalan kaki yang merupakan bagian dari bangunan di atasnya maupun

Usulan Teknis E-75 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

jalur khusus pejalan kaki yang berada di bawah permukaan tanah,


seperti pada contoh gambar berikut ini :

6. Ruang Pejalan Kaki di Atas Tanah (Elevated), seperti terlihat pada


contoh gambar berikut ini.

Usulan Teknis E-76 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

E.2.2.10 Metode Analisis Sarana dan Prasarana


Analisis jaringan utilitas yang akan dilakukan antara lain terhadap :
A. Pelayanan Air Bersih
Beberapa persyaratan, kriteria dan kebutuhan yang harus dipenuhi adalah:
1. Penyediaan kebutuhan air bersih
a. Lingkungan perumahan harus mendapat air bersih yang cukup dari
perusahaan air minum atau sumber lain sesuai dengan ketentuan
yang berlaku; dan
b. Apabila telah tersedia sistem penyediaan air bersih kota atau sistem
penyediaan air bersih lingkungan, maka tiap rumah berhak
mendapat sambungan rumah atau sambungan halaman.
2. Penyediaan jaringan air bersih
a. Harus tersedia jaringan kota atau lingkungan sampai dengan
sambungan rumah;
b. Pipa yang ditanam dalam tanah menggunakan pipa PVC, GIP atau
fiber glass; dan
c. Pipa yang dipasang di atas tanah tanpa perlindungan menggunakan
GIP.
3. Penyediaan kran umum
a. Satu kran umum disediakan untuk jumlah pemakai 250 jiwa;
b. Radius pelayanan maksimum 100 meter; dan
c. Kapasitas minimum untuk kran umum adalah 30 liter/orang/hari.
4. Penyediaan hidran kebakaran

Usulan Teknis E-77 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

a. Untuk daerah komersial jarak antara kran kebakaran 100 meter;


b. Untuk daerah perumahan jarak antara kran maksimum 200 meter;
c. Jarak dengan tepi jalan minimum 3.00 meter;
d. Apabila tidak dimungkinkan membuat kran diharuskan membuat
sumur-sumur kebakaran.

B. Drainase
Untuk menentukan saluran primer, sekunder dan primer dikeluarkan
pedoman Program Pembangunan Prasarana Kota Terpadu, yaitu :
1. Saluran Primer : lebar alas 2 m
2. Saluran Sekunder : lebar 0,5-2m
3. Saluran Tersier : lebar kurang dari 0,5m
4. Sumber Buangan
Sumber-sumber penghasil limbah cair dapat diidentifikasikan sebagai
berikut :
a Pemukiman, besarnya air limbah yang akan dihasilkan diperkirakan
sebesar 70% dari kebutuhan air bersihnya, sedangkan
perkembangan/peningkatan volume limbahnya adalah berbanding
lurus dengan peningkatan jumlah penduduknya.
b Kegiatan komersial dan industri, besarnya air limbah yang
dihasilkan diperkirakan sebesar 60% dari kebutuhan air bersihnya,
sedangkan perkembangan/peningkatan volume limbahnya
berbanding lurus dengan peningkatan skala industri dan luas
tanahnya/lahannya.
c Kegiatan pendidikan, peribadatan, perkantoran, pelayanan umum
dan sebagainya diperkirakan sebesar 50% dari kebutuhan air
bersihnya.
d Air hujan (air limpasan)

Untuk memperhitungkan volume air limpasan yang dihasilkan oleh kota


sebagai dasar penentuan tipe saluran dan penempatannya digunakan rumus
sebagai berikut :

V =c.A.R
Keterangan :
V = Volume air limpasan, m3
c = Koefisien dasar bangunan
A = Luas daerah/area, m2
R = Curah hujan rata-rata, mm/hari

Sehingga :
Volume Air Buangan = Volume Air Limpasan + Volume
Air Limbah
Usulan Teknis E-78 | P a g e
Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

Tabel E.8 Bagian Jaringan Drainase


SARANA PRASARANA
Badan penerima air Sumber air di permukaan tanah (laut, sungai, danau)
Sumber air di bawah permukaan tanah (air tanah akifer)
Bangunan pelengkap Gorong-gorong
Pertemuan saluran
Bangunan terjunan
Jembatan
Street inlet
Pompa
Pintu air
CATATAN : Acuan diambil dari SNI 02-2406-1991, Tata Cara Perencanaan Umum Drainase Perkotaan

C. Saluran Pembuangan
Untuk selanjutnya dapat ditentukan saluran-saluran pembuangannya, yang
kriterianya disesuaikan dengan volume air buangan dan keadaan topografi.
Sistem saluran drainase ada 2 macam yaitu :
1. Sistem Saluran Terpisah: Saluran antara air hujan dan air buangan
terpisah
2. Sistem Saluran Tercampur: Saluran antara air buangan dan air hujan
menjadi satu.

Sedangkan jenis saluran pematusannya ada 2 macam :


1. Saluran Primer : Biasanya berupa sungai. Saluran ini merupakan
penampungan air buangan dari saluran-saluran sekunder.
2. Saluran Sekunder : Merupakan saluran untuk mengalirkan air buangan
dari rumah tangga, biasanya berupa got.

Sedangkan metode yang digunakan untuk memperkirakan air larian adalah :

Q=C.I.
Dimana :
Q = Volume air maksimum
C = KDB/Koefisien Air Limpasan
I = Intensitas hujan rata-rata pada suatu periode (mm/hari)
A = Luas permukaan yang dapat menampung saluran air hujan.

D. Sistem Pembuangan Air Kotor dan Limbah

Usulan Teknis E-79 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

Untuk menciptakan lingkungan yang sehat, maka sistem pembuangan air


kotor dan limbah rumah tangga dilakukan melalui pengumpulan pada satu
wilayah dan kemudian secara keseluruhan dibuang ke tempat tertentu.
Adapun mekanisme pembuangannya adalah sebagai berikut :
1. Untuk permukiman padat, sistem septic tank dilakukan secara kolektif
pada beberapa lokasi (misalnya 1 unit septic tank untuk setiap 10
rumah).
2. Pada permukiman dengan kepadatan sedang dan rendah, mekanisme
pembuangannya dapat dilakukan secara kolektif dalam satu ruang
tertentu.
3. Untuk fasilitas umum yang mengelompok, umumnya jumlah air kotor
dan limbah ini relatif sedikit, oleh karena itu mekanisme
pembuangannya dapat dilakukan secara individual.
4. Sistem pembuangan secara keseluruhan dilakukan dengan pengolahan
limbah dan resapan ke dalam tanah dimana lokasinya yang sudah
terencana.

E. Pelayanan Listrik
Beberapa persyaratan, kriteria dan kebutuhan yang harus dipenuhi di
kawasan perumahan adalah:

1. Penyediaan kebutuhan daya listrik


a. Setiap lingkungan perumahan harus mendapatkan daya listrik dari
PLN atau dari sumber lain; dan
b. Setiap unit rumah tangga harus dapat dilayani daya listrik minimum
450 VA per jiwa dan untuk sarana lingkungan sebesar 40% dari total
kebutuhan rumah tangga.
2. Penyediaan jaringan listrik
a. Disediakan jaringan listrik lingkungan dengan mengikuti hirarki
pelayanan, dimana besar pasokannya telah diprediksikan
berdasarkan jumlah unit hunian yang mengisi blok siap bangun;
b. Disediakan tiang listrik sebagai penerangan jalan yang ditempatkan
pada area damija (daerah milik jalan) pada sisi jalur hijau yang tidak
menghalangi sirkulasi pejalan kaki di trotoar (lihat Gambar 1
mengenai bagian-bagian pada jalan);
c. Disediakan gardu listrik untuk setiap 200 KVA daya listrik yang
ditempatkan pada lahan yang bebas dari kegiatan umum;
d. Adapun penerangan jalan dengan memiliki kuat penerangan 500 lux
dengan tinggi > 5 meter dari muka tanah;
e. Sedangkan untuk daerah di bawah tegangan tinggi sebaiknya tidak
dimanfaatkan untuk tempat tinggal atau kegiatan lain yang bersifat
permanen karena akan membahayakan keselamatan.

Usulan Teknis E-80 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

F. Pelayanan Telekomunikasi
Beberapa persyaratan, kriteria dan kebutuhan yang harus dipenuhi adalah:
1. Penyediaan kebutuhan sambungan telepon
a. Tiap lingkungan rumah perlu dilayani sambungan telepon rumah
dan telepon umum sejumlah 0,13 sambungan telepon rumah per
jiwa atau dengan menggunakan asumsi berdasarkan tipe rumah
sebagai berikut:
 R-1, rumah tangga berpenghasilan tinggi : 2-3
sambungan/rumah
 R-2, rumah tangga berpenghasilan menengah : 1-2
sambungan/rumah
 R-3, rumah tangga berpenghasilan rendah : 0-1
sambungan/rumah
b. Dibutuhkan sekurang-kurangnya 1 sambungan telepon umum untuk
setiap 250 jiwa penduduk (unit RT) yang ditempatkan pada pusat-
pusat kegiatan lingkungan RT tersebut;
c. Ketersediaan antar sambungan telepon umum ini harus memiliki
jarak radius bagi pejalan kaki yaitu 200 - 400 m;
d. Penempatan pesawat telepon umum diutamakan di area-area
publik seperti ruang terbuka umum, pusat lingkungan, ataupun
berdekatan dengan bangunan sarana lingkungan; dan
e. Penempatan pesawat telepon harus terlindungi terhadap cuaca
(hujan dan panas matahari) yang dapat diintegrasikan dengan
kebutuhan kenyamanan pemakai telepon umum tersebut.
2. Penyediaan jaringan telepon
a. Tiap lingkungan rumah perlu dilayani jaringan telepon lingkungan
dan jaringan telepon ke hunian;
b. Jaringan telepon ini dapat diintegrasikan dengan jaringan
pergerakan (jaringan jalan) dan jaringan prasarana / utilitas lain;
c. Tiang listrik yang ditempatkan pada area Damija (≈daerah milik
jalan, lihat Gambar 1 mengenai bagian-bagian pada jalan) pada sisi
jalur hijau yang tidak menghalangi sirkulasi pejalan kaki di trotoar;
dan
d. Stasiun telepon otomat (STO) untuk setiap 3.000 – 10.000
sambungan dengan radius pelayanan 3 – 5 km dihitung dari copper
center, yang berfungsi sebagai pusat pengendali jaringan dan
tempat pengaduan pelanggan.

Adapun data dan informasi yang diperlukan untuk merencanakan


penyediaan sambungan telepon rumah tangga adalah:

Usulan Teknis E-81 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

1. Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) kabupaten dan perkembangan


lokasi yang direncanakan, berkaitan dengan kebutuhan sambungan
telepon;
2. Tingkat pendapatan keluarga dan kegiatan rumah tangga untuk
mengasumsikan kebutuhan sambungan telepon pada kawasan yang
direncanakan;
3. Jarak terjauh rumah yang direncanakan terhadap Stasiun Telepon
Otomat (STO), berkaitan dengan kebutuhan STO pada kawasan yang
direncanakan;
4. Kapasitas terpasang STO yang ada; dan
5. Teknologi jaringan telepon yang diterapkan, berkaitan radius
pelayanan.

G. Sanitasi dan Sampah


Untuk menghitung volume sampah kota pertahun yang digunakan sebagai
standar bagi perhitungan kebutuhan Transfer depo/TPS, Tempat
pembuangan akhir (TPA) dan kebutuhan prasarana penunjang lainnya
digunakan rumus-rumus berikut ini :

Volume sampah kawasan pertahun (Qk)

Qk = q . P
Dimana :
P = Jumlah penduduk
q = Standar kuantitas timbunan sampah, l/org/hari

Berdasarkan tingkat ekonomi dengan patokan :


 Ekonomi rendah, q = 1,686 l/org/hari
 Ekonomi sedang, q = 1,803 l/org/hari
 Ekonomi tinggi, q = 1,873 l/org/hari

Tabel E.9 Kebutuhan Prasarana Persampahan

Usulan Teknis E-82 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

CATATAN : Acuan tabel diambil dari SNI 19-2454-2002 mengenai Tata cara teknik operasional
pengolahan sampah perkotaan

E.2.2.11 Metode Identifikasi dan Tahapan Pelaksanaan Pembangunan


Penyusunan tahapan pelaksanaan program merupakan tahap akhir dari proses
penyusunan rencana tata ruang kawasan/daerah. Untuk maksud tersebut
diperlukan beberapa langkah, meliputi: (a) Menemukenali potensi dan masalah
yang ada di kawasan terencanakan, (b) Menerjemahkan potensi dan masalah
tersebut menjadi programprogram indikatif, dan (c) Menyusun program indikatif
yang berhasil ditemukenali manjadi suatu daftar urutan prioritas yang akan
menjadi dasar bagi penyusunan tahapan pelaksanaan program. Metode yang
digunakan pada masing-masing tahapan tersebut adalah sebagai berikut.
1. Metode identifikasi potensi dan masalah
Cukup sulit untuk memilih metode identifikasi potensi dan masalah yang
handal dan sesuai, dikarenakan masing-masing metode punya keunggulan
dan kelemahan. Kevalitan hasil identifikasi lebih banyak dipengaruhi oleh
keahlian dan pengalaman dari seorang perencana (planner) sendiri. Salah
satu metode identifikasi yang sering dipilih dalam kegiatan ini adalah
analisis pohon masalah (tree problem analysis). Untuk memudahkan
proses identifikasi, potensi kawasan terencanakan dapat dikelompokkan
menjadi: potensi sumberdaya alam, potensi sumberdaya manusia, dan
potensi ruang. Sedangkan masalah yang dihadapi kawasan terencanakan
dapat dibedakan ke dalam topik bahasan seperti: kemiskinan,
penggangguran, keterisolasian, lingkungan permukiman, kebodohan dan
kesehatan dasar, atau disesuaikan dengan isu-isu pokok pengembangan
kawasan tersebut.
2. Metode identifikasi program
Berlandaskan pada strategi pembangunan yang berupa upaya pendaya-
gunaan dan pengelolaan potensi sumberdaya alam dan sumberdaya
manusia seoptimal mungkin, maka hasil identifikasi masalah dan potensi
yang telah dilakukan sebelumnya dapat digunakan sebagai acuan untuk
menentukan program-program indikatif, untuk pendayagunaan potensi
tersebut serta untuk penanggulangan masalah-masalah yang ditemui pada
kawasan terencanakan.
Pendekatan yang dapat dipakai adalah bahwa potensi kawasan bisa
melahirkan kesempatan, dan sebaliknya masalah yang ditemui dapat dilihat
pula sebagai ancaman. Oleh karena itu dengan menganalogikan potensi
dan masalah yang ditemukenali pada tahap analisis sebelumnya sebagai
kesempatan dan ancaman, maka metode SWOTH dapat digunakan untuk

Usulan Teknis E-83 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

mengidentifikasi program-program indikatif. Metode SWOTH bertumpu


pada evaluasi faktor-faktor Strength kekuatan), Weakness (kelemahan),
Oportunities (kesempatan), dan Threathening(ancaman) yang dimiliki oleh
kawasan terencanakan. Dengan mengetahui kesempatan dan ancaman
yang potensial terjadi, maka dihubungkan dengan arah pengembangan
yang telah ditetapkan sebelumnya, dapat ditemukenali programprogram
indikatif dimaksud, yaitu berupa upaya-upaya untuk mendayagunakan
kesempatan (= potensi sumberdaya) dan/ atau menanggulangi ancaman (=
masalah-masalah) yang ditemui, dengan tetap memperhatikan kekuatan
dan kelemahan yang ada pada wilayah terencanakan.
3. Metode penentuan urutan prioritas pelaksanaan program
Program-program yang sudah berhasil ditemukenali diurutkan berdasarkan
peran program terhadap tujuan pembangunan kawasan ke depan, dengan
mempertimbangkan pula: kemampuan daerah untuk membiayai,
kemampuan/daya serap daerah untuk melaksanakan pekerjaan/program
tersebut, serta karakteristik program itu sendiri yang biasanya bersifat
sekuensial (suatu program biasanya harus didahului atau diikuti oleh
program lainnya). Metode yang dapat diterapkan untuk maksud tersebut
adalah Goals Objectives Achievment Matrices (GOAM). Metode GOAM
merupakan kelanjutan metode pembobotan klasik. Metode ini cocok
diterapkan pada perencanaan pembangunan wilayah yang bersifat multi
objectives planning dan terkadang tidak sejalan. Dengan penerapan
metode analisa ini, benturan antar tujuan pembangunan dapat dikawinkan
sedemikian rupa sehingga tidak mengorbankan salah satu diantara tujuan-
tujuan pembangunan yang tidak sejalan tersebut.
E.2.2.12 Metode Penyusunan KLHS
Saat ini pencemaran dan kerusakan lingkungan terus berlangsung karena
instrumen lingkungan yang ada saat ini belum memadai. AMDAL saat ini
merupakan salah satu instrumen yang dikenal untuk mengintegrasikan
lingkungan hidup di dalam proses pembangunan. Namun AMDAL memiliki
keterbatasan di dalam mengupayakan keberlanjutan pembangunan, karena
banyak permasalahan lingkungan yang timbul diluar cakupan yang ada di dalam
studi AMDAL. Hal ini terjadi karena dalam penyusunan Kebijakan, Rencana dan
Program (KRP) belum berwawasan pembangunan berkelanjutan. Untuk itu,
lahirlah aplikasi Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) atau Strategis
Environmental Assessment (SEA). KLHS merupakan instrumen untuk
pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan melalui intervensi terhadap
kebijakan/rencana/program.
Landasan hukum pelaksanaan KLHS tercantum dalam Undang-Undang No. 32
Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Menurut

Usulan Teknis E-84 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

undang-undang tersebut, Kajian Lingkungan Hidup Strategis adalah rangkaian


analisis yang sistematis, menyeluruh, dan partisipatif untuk memastikan bahwa
prinsip pembangunan berkelanjutan telah menjadi dasar dan terintegrasi dalam
pembangunan suatu wilayah dan/atau kebijakan, rencana, dan/atau program.
Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib membuat KLHS untuk memastikan
pembangunan berkelanjutan telah menjadi dasar dan terintegrasi dalam
pembangunan wilayah dan/atau KRP (UU PPLH Pasal 15 ayat 1). Adapun tujuan
KLHS adalah :
 Mengintegrasikan pertimbangan lingkungan hidup dan keberlanjutan
melalui penyusunan
 Memperkuat proses pengambilan keputusan atas KRP
 Mengarahkan, mempertajam fokus, dan membatasi lingkup penyusunan
dokumen lingkungan yang dilakukan pada tingkat rencana dan
pelaksanaan usaha/kegiatan
Mekanisme dari KLHS meliputi : pengkajian pengaruh kebijakan, rencana,
dan/atau program terhadap kondisi lingkungan hidup di suatu wilayah,
perumusan alternatif penyempurnaan kebijakan, rencana dan/atau program
serta rekomendasi perbaikan untuk pengambilan keputusan kebijakan, rencana
dan/atau program yang mengintegrasikan prinsip pembangunan berkelanjutan.
KRP yang perlu dilakukan KLHS antara lain :
1. KRP yang menimbulkan konsekuensi adanya rencana usaha dan/atau
kegiatan yang wajib dilengkapi dengan dokumen Amdal
2. KRP yang berpotensi:
 Meningkatkan resiko perub.iklim
 Meningkatkan kerusakan, kemerosotan, atau kepunahan
keanekaragaman hayati
 Meningkatkan intensitas bencana banjir, longsor, kekeringan, dan
atau kebakaran hutan dan lahan khususnya di lahan kritis
 Menurunkan mutu dan kelimpahan SDA terutama pada daerah yang
telah tergolong kritis
 Mendorong perubahan penggunaan dan atau alih fungsi kawasan
hutan terutama pada daerah yang kondisinya telah tergolong kritis
 Meningkatkan jumlah penduduk miskin atau terancamnya
keberlanjutan penghidupan sekelompok masyarakat
 Meningkatkan risiko terhadap kesehatan dan keselamatan manusia.

Gambar E.6 Aplikasi Model dan Teknik KLHS (Sumber: Internet, 2019)

Usulan Teknis E-85 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

E.2.2.13 Metode Menghitung Intensitas Pemanfaatan Ruang


Metode menghitung intensitas pemanfaatan ruang di Kawasan Perencanaan
adalah sebagai berikut.
1. KWT [Koefisien Wilayah Terbangun] dan KDB [Koefisien Dasar Bangunan]
• Kofisien Wilayah Terbangun (KWT) maupun Koefisien Dasar Bangunan
(KDB) dirumuskan berdasarkan analisis neraca air untuk meningkatkan
imbuhan air tanah, mencegah erosi dan longsoran, serta mengurangi
run off/genangan/banjir.
• Perhitungan didasarkan pada: Karakteristik geologi, Kemiringan lereng
dan Curah hujan
• KWT diterapkan pada jika penerapan KDB sudah tidak memungkinkan
lagi. Misalnya suatu area sudah terbangun sebagian dengan KDB yang
melampaui kemampuan tanah meresapkan air, namun dibagian lain
wilayah, masih terdapat area yang belum terbangun.
• Alasan pengendalian: dari pada menyebarkan area tidak terbangun
pada setiap kapling, lebih baik mengalokasikan lahan tidak terbangun
tersebut dalam satu kesatuan yang mudah diawasi/dikendalikan
(misalnya dalam bentuk taman/hutan).

Usulan Teknis E-86 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

• Dalam kondisi pengendalian tertentu seperti pada kasus pengembang


yang suka menjual RTH, KWT kurang cocok.
• Kepentingan nasional/provinsi di kota/kabupaten, untuk menghindari
tumpang tindih aturan (Misalnya nasional dan provinsi menetapak
KWT, Kabupaten/kota menetapkan KDB persil).

2. Analisis Neraca Air

3. Garis Sempadan Danau


Tujuan Penetapan Sempadan Danau, Sungai dan Pantai adalah fungsi
sungai, danau dan pantai tidak terganggu oleh aktifitas yang berkembang
di sekitarnya, meningkatkan nilai manfaat sumber daya yang ada di sungai
dan menjaga kelestarian fungsi sungai, membatasi daya rusak air sungai,
kelestarian fungsi ekosistem, dan segenap sumber daya di wilayah pesisir
dan pulau-pulau kecil; menjaga kehidupan masyarakat di wilayah pesisir
dan pulau-pulau kecil dari ancaman bencana alam, alokasi ruang untuk
akses publik melewati pantai; dan alokasi ruang untuk saluran air dan
limbah.
Garis sempadan danau ditentukan mengelilingi danau paling sedikit
berjarak 50 (lima puluh) meter dari tepi muka air tertinggi yang pernah
terjadi.

Usulan Teknis E-87 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

4. Koesfisien Dasar Bangunan


• Luas area.
• Intensitas infiltrasi.
• Koefisien infiltrasi.
• Koefisien penyimpanan air (berdasarkan data iklim dan pemboran
setempat).

Contoh perhitungan KDB


 Luas area: 3.2975 ha = 32975 m2, Intensitas infiltrasi (I): 1101 mm/166
hari, Koefisien infiltrasi (C): 1.8 (pada kemiringan 0-5%, Lihat Tabel),
Koefisien penyimpanan air (S): 0.0018 berdasarkan hasil pemboran
setempat (Setiap pengambilan 0.18 m3 terjadi penurunan sebanyak 1 m
pada luas 100 m2

Usulan Teknis E-88 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

 Maka untuk 3.2975 ha dapat diambil air tanahnya sebanyak: 0.0018 x


32975 l/menit = 59,35 l/menit = 0.98 l/detik

5. Tingkat Pelayanan Jalan Dan Intensitas Pemanfaatan Ruang

• Street capacity restricts development intensity

Usulan Teknis E-89 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

• Better mass public transit allows more trip in similar street capacity, thus
allows higher intensity
• Higher through traffic reduces on-site traffic, thus reduces development
intensity
• Different land uses have different trip attractions/ generations
• High intensity requires more infrastructure (incl. wider street).

6. Tata Massa Bangunan


• Elemen Pembentuk Tata Massa Bangunan

• Penentuan Tinggi Bangunan

Usulan Teknis E-90 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

7. Pertimbangan terhadap Bahaya Kebakaran

Usulan Teknis E-91 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

Usulan Teknis E-92 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

Usulan Teknis E-93 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

8. GARIS SEMPADAN BANGUNAN (GSB)


Ada rumus umum untuk menentukan GSB sbb:
 Jalan dengan Rumija > 8 m, GSB= 0.5 Rumija +1.
 Jalan dengan Rumuja ≤ 8 m, GSB = 0.5 Rumija.
 Hitung dengan db  polusi udara.

Pertimbangan Transportasi

Usulan Teknis E-94 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

9. Cara Menggunakan Peraturan Zonasi


• Teknik pengaturan zonasi harus ditetapkan di awal, tidak mengikuti
perkembangan pasar/kebutuhan.
• Tidak semua teknik pengaturan zonasi perlu dan tidak semua area
perkotaan diberikan teknik pengaturan zonasi.

Usulan Teknis E-95 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

10. Perizinan
Ketentuan Perizinan pemanfaatan ruang dan bangunan diberikan oleh
pejabat yang berwenang sesuai dengan kewenangannya dan ketentuan
peraturan perundang-undangan. Ketentuan mengenai Perizinan
pemanfaatan ruang dan bangunan sendiri telah diatur dalam Peraturan
Daerah tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten meliputi Izin
Lokasi, Izin Peruntukan Penggunaan Tanah (IPPT) dan Izin Penggunaan
Bangunan (IPB). Izin

Penggunaan Bangunan (IPB) wajib dimiliki oleh kegiatan investasi dan


usaha yang membangunan bangunan untuk usaha dan akan menggunakan
bangunan tersebut. IPB diurus seteah bangunan jadi dan akan digunakan.
Izin pemanfaatan ruang yang memiliki dampak skala kabupaten diberikan
atau mendapat persetujuan dari Bupati, setelah mendapat
masukan/rekomendasi dari Tim Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah
(BKPRD) Kabupaten, selanjutnya pemberian izin pemanfaatan ruang
dilakukan menurut prosedur atau mekanisme sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.

Prosedur perizinan merupakan langkah awal dalam pengendalian dalam


pengendalian pemanfaatan ruang, selain itu kinerja perizinan pada suatu
daerah mempunyai peran yang sangat penting dalam menarik dan
menghambat investasi. Penyelenggaraan perizinan yang efektif akan
mempermudah pengendalian dan pembinaan pelangggaran rencana tata

Usulan Teknis E-96 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

ruang. Bila mekanisme perizinan tidak diselenggarakan dengan baik, maka


timbullah penyimpangan pemanfaatan ruang secara legal.

11. Pemberian Insentif dan Disinsentif


Ketentuan insentif dan disinsentif merupakan acuan bagi Pemerintah
Daerah dalam pemberian insentif dan pengenaan disinsentif. Insentif
diberikan apabila pemanfaatan ruang sesuai dengan rencana struktur
ruang, rencana pola ruang, dan ketentuan umum peraturan zonasi.
Pemberian insentif dimaksudkan sebagai upaya untuk memberikan imbalan
terhadap pelaksanaan kegiatan yang sejalan dengan rencana tata ruang,
baik yang dilakukakn oleh masyarakat maupun pemerintah. Bentuk insentif
tersebut antara lain dapat berupa keringanan pajak, pembangunan
prasarana dan sarana (infrastruktur), pemberian kompensasi, kemudahan
prosedur perizinan dan pemberian penghargaan.

Disinsentif dikenakan terhadap pemanfaatan ruang yang perlu dicegah,


dibatasi, atau dikurangi keberadaannya, atau mengurangi kegiatan yang
tidak sejalan dengan tata ruang, yang antara lain dapat berupa pengenaan
pajak yang tinggi, pembatasan penyediaan prasarana dan sarana, serta
pengenaan kompensasi dan penalti. Pemberian insentif dan pengenaan
disinsentif dalam pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten dilakukan oleh
Pemerintah Daerah kepada masyarakat.

Pemberian insentif dan pengenaan disinsentif dilakukan oleh instansi


berwenang sesuai dengan kewenangannya. Penyebab belum

Usulan Teknis E-97 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

terlaksananya Insentif dan Disinsentif di biasanya pada dasarnya


pemanfaatan ruang yan tidak sesuai dengan peruntukannya, seperti
kawasan pendidikan jaraknya sangat dekat dengan kawasan industri yang
ada dikecamatan lokasi. Hal inilah sebagian contoh kecil mengapa Insentif
dan Disinsentif belum terlaksana. Beberapa hal lain penyebab pemerintah
daerah belum melaksanakan insentif dan disinsentif dikarenakan tidak
mempunyai akses terhadap rencana-rencana pembangunan sektoral yang
dibuat dan ditentukan oleh pemerintah pusat. Sehingga sanksi yang tegas
belum dapat terlaksana di Kabupaten daerah kajian.

12. Pengenaan Sanksi


Pengenaan sanksi tidak hanya diberikan kepada pemanfaat ruang yang
tidak sesuai dengan ketentuan perizinan pemanfaatan ruang, tetapi
dikenakan pula kepada pejabat pemerintah yang berwenang menerbitkan
izin pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang.
Pengenaan sanksi dilakukan terhadap:
a. Pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana struktur ruang
dan pola ruang;
b. Pelanggaran ketentuan umum peraturan zonasi;
c. Pemanfaatan ruang tanpa izin pemanfaatan ruang yang diterbitkan
berdasarkan RTRW Kabupaten;
d. Pemanfaatan ruang tidak sesuai dengan izin pemanfaatan ruang yang
diterbitkan berdasarkan RTRW Kabupaten;
e. Pelanggaran ketentuan yang ditetapkan dalam persyaratan izin
pemanfaatan ruang yang diterbitkan berdasarkan RTRW Kabupaten;

Usulan Teknis E-98 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

f. Pemanfaatan ruang yang menghalangi akses terhadap kawasan yang


oleh peraturan perundang-undangan dinyatakan sebagai milik umum;
dan/atau
g. Pemanfaatan ruang dengan izin yang diperoleh dengan prosedur yang
tidak benar.
 Pengawasan
 Penertiban
 Perjinan Pemanfaatan Ruang.

E.2.2.14 Penyusunan Ranperda RDTR Kawasan Prioritas Lumbak Seminung


Penyusunan dan pembahasan raperda tentang RDTR dan PZ, terdiri atas:
a. penyusunan naskah akademik raperda tentang RDTR dan PZ;
b. penyusunan raperda tentang RDTR dan PZ yang merupakan proses
penuangan materi teknis RDTR dan PZ ke dalam pasal-pasal dengan
mengikuti kaidah penyusunan peraturan perundang-undangan; dan
c. pembahasan raperda tentang RDTR dan PZ yang melibatkan pemerintah
kabupaten/kota yang berbatasan dan masyarakat.
Rekomendasi perbaikan hasil pelaksanaan KLHS harus tetap dipertimbangkan
dalam muatan raperda tentang RDTR dan PZ dalam setiap pembahasannya.
Hasil pelaksanaan penyusunan dan pembahasan raperda tentang RDTR dan PZ,
terdiri atas:
a. naskah akademik raperda tentang RDTR dan PZ;
b. naskah raperda tentang RDTR dan PZ; dan
c. berita acara pembahasan terutama berita acara dengan kabupaten/kota
yang berbatasan.

Usulan Teknis E-99 | P a g e


Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Prioritas
Lumbak Seminung (Danau Ranau) pada DAS Musi, Ws Musl-Sugihan-Banyuasin-Lemau

Kegiatan penyusunan dan pembahasan raperda tentang RDTR dan PZ


melibatkan Masyarakat dalam bentuk pengajuan usulan, keberatan, dan
sanggahan terhadap naskah Raperda RDTR dan PZ Kawasan Prioritas Lumbak
Seminung (Danau Ranau) DAS Musi, melalui:
a. media massa (televisi, radio, surat kabar, majalah);
b. website resmi lembaga pemerintah yang berkewenangan menyusun RTRW
kota;
c. surat terbuka di media massa;
d. kelompok kerja (working group/public advisory group); dan/atau
e. diskusi/temu warga (public hearings/meetings), konsultasi publik minimal 1
(satu) kali, workshops, FGD, seminar, konferensi, dan panel.
Konsultasi publik dalam penyusunan dan pembahasan Ranperda tentang RDTR dan PZ ini
dilakukan minimal 1 (satu) kali dituangkan dalam berita acara dengan melibatkan
perguruan tinggi, pemerintah, swasta, dan masyarakat.

Usulan Teknis E-100 | P a g e