Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PRAKTIKUM

FISIOLOGI TERNAK
“Anatomi dan Fisiologi Pencernaan”

Disusun oleh:
Kelompok : 3
Kelas : F

Noni Anjarwati 200110170119


Mega Febria 200110170172
Muhammad Rezeki Gantana 200110170187
Rizkan Primadia Nugraha 200110170300

FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
SUMEDANG
2018
KATA PENGHANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan rahmat serta karunia-Nya, sehingga kami berhasil menyelesaikan
laporan praktikum fisiologi ternak yang berjudul Pencernaan ini tepat pada
waktunya. Diharapkan laporan ini dapat memberikan informasi yang diperlukan.

kami mengucapankan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah


membantu dalam penyusunan laporan ini, kami menyadari sepenuhnya bahwa
selesainya laporan ini tidak terlepas dari dukungan, semangat, serta bimbingan
dari berbagai pihak, baik bersifat moril maupun materil.

Kami menyadari dalam penyusunan laporan ini masih belum sempurna.


Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Semoga
laporan ini dapat menjadi sumber informasi serta suatu ilmu pengetahuan bagi
pembaca.

Sumedang, Desember 2018

Penyusun.

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR................................................................................... i

DAFTAR ISI................................................................................................ ii

BAB I

1.1 Latar Belakang.................................................................................. 1


1.2 Identifikasi Masalah.......................................................................... 1
1.3 Maksud dan Tujuan........................................................................... 1
1.4 Waktu dan Tempat............................................................................ 2

BAB II

2.1 Alat dan Bahan.................................................................................. 3

2.2 Prosedur Kerja................................................................................... 3

BAB III

3.1 Pencernaan pada ............................................................................... 6

3.2 Pencernaan pada............................................................................... 9

3.3 Pencernaan pada domba...................................................................11

ii
BAB IV

4.1 Kesimpulan ......................................................................................14

Daftar Pustaka...............................................................................................15

Lampiran.......................................................................................................16

iii
I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pencernaan makanan merupakan proses mengubah makanan dari ukuran

besar menjadi lebih kecil dan halus, serta memecah molekul makanan yang

kompleks menjadi molekul yang sederhana. Ukuran molekul yang kecil ini

memungkinkan darah dan cairan getah bening mengangkut menuju sel-sel yang

memerlukan.

Ada beberapa perbedaan saluran pencernaan antara ayam,kelinci dan

domba.Perbedaan itu dilihat dari jumlah lambung,yaitu ayam yang merupakan

salah satu hewan monogastrik (memilki satu lambung),sedangkan kelinci

digolongkan pada kelompok hewan monogastrik herbivor (memiliki satu

lambung yang dapat mencerna serat kasar),serta domba yang termasuk kedalam

hewan poligastrik (memiliki banyak lambung).

1.2 Maksud dan Tujuan

Adapun maksud dan tujuan dari praktikum pencernaan :

 Agar dapat mengetahui secara visual berbagai saluran pencernaan ternak

serta gambaran umum dari proses fisiologisnya.

 Mengamati perbedaan saluran pencernaan pada monogastrik, monogastrik

herbivor dan poligastrik

1.3 Waktu dan Tempat

Praktikum Fisiologi Ternak tentang darah ini diadakan pada :

Hari/Tanggal : Rabu, 06 Desember 2018

1
Pukul : 15.15 – 17.15 WIB

Tempat : Laboratorium fisiologi ternak dan biokimia, Fakultas

Peternakan Universitas Padjadjaran.

2
II

ALAT, BAHAN DAN PROSEDUR KERJA

2.1 Alat dan Bahan

1. Alat – alat operasi

2. Kloroform, kapas, nampan operasi

3. Saluran pencernaan ternak Poligastrik ( domba / sapi ), Monogastrik

( ayam ), Monogastrik Herbivore ( kelinci )

2.2 Prosedur Kerja

1. Pencernaan ayam

a. Ayam dibius dengan kapas berkloroform, hati – hati karena berbahaya

b. Setelah pingsan, terlentangkanlah, cabuti bulu daerah perut hingga

dada dan tulang punggung.

c. Pisahkan kulit daerah perut dari otot bawahnya.

d. Bukalah selaput perut didekat tulang costae (tulang rusuk) terakhir

mengikuti arah tulang tersebut hingga tulang punggung.

e. Potonglah bagian dada persendian scapulanya, sehingga bagian

tersebut terpisah dari tubuh ayam.

f. Prepasi secara utuh mulai dari kepala sampai ke anus. Perlu di

perhatikan bahwa organ pancreas dan hati harus tetap menempel pada

alat pencernaan tersebut.

g. Perhatikan dan pelajari alat – alat pencernaan tersebut.

h. Gambarlah alat pencernaan tersebut secara utuh mulai kepala hingga

anus.

i. Buatlah sayatan mulai dari ruang mulut hingga anus.

3
j. Perhatiakn bagian – bagian isi saluran pencernaan tersebut

yangmerupakan gambaran proses fisiologik yang terjadi

k. Gambarlah bagian – baguan dalam tersebut.

2. Pencernaan domba

a. Perhatikan dalam keadaan utuh, saluran pencernaan ruminansia yang

tersedia mulai dari mulut sampai anus beserta organ – organ

pelengkap.

b. Gambarlah saluran pencernaan tersebut secara lengkap dan utuh.

c. Buatlah sayatan mulai dari mulut sampai anus.

d. Perhatikanlah bahan – bahan makanan yang ada didalam bagian –

bagian saluran pencernaan tersebut.

e. Perhatikan anatomi permukaan bagian dalam dan luar saluran

pencernaan.

3. Pencernaan kelinci

a. Kelinci dibius dengan kapas berkloroform, hati – hati karena

berbahaya

b. Setelah pingsan, terlentangkanlah, cabuti bulu daerah perut hingga

dada dan tulang punggung.

c. Pisahkan kulit daerah perut dari otot bawahnya.

d. Bukalah selaput perut didekat tulang costae (tulang rusuk) terakhir

mengikuti arah tulang tersebut hingga tulang punggung.

e. Potonglah bagian dada persendian scapulanya, sehingga bagian

tersebut terpisah dari tubuh ayam.

f. Prepasi secara utuh mulai dari kepala sampai ke anus. Perlu di

perhatikan bahwa organ pancreas dan hati harus tetap menempel

pada alat pencernaan tersebut.

4
g. Perhatikan dan pelajari alat – alat pencernaan tersebut.

h. Gambarlah alat pencernaan tersebut secara utuh mulai kepala

hingga anus.

i. Buatlah sayatan mulai dari ruang mulut hingga anus.

j. Perhatiakn bagian – bagian isi saluran pencernaan tersebut

yangmerupakan gambaran proses fisiologik yang terjadi

k. Gambarlah bagian – baguan dalam tersebut.

5
III

PEMBAHASAN

3.1 Organ Pencernaan Ayam

Pada praktikum ini dilakukan pengamatan sistem organ pencernaan pada

hewan monogastrik yaitu ayam. Organ pencernaan ayam terdiri dari mulut

(paruh), esofagus, tembolok (crop), proventrikulus, gizzard, usus halus

(duodenum, jejenum, ileum), sekum, usus besar, dan kloaka.

Mulut atau paruh pada ayam berfungsi untuk mengambil makanan dan

menghancurkan atau mengunyah makanan. Hal ini sesuai menurut Yuwanta

(2004), yang mengatakan bahwa pengganti fungsi gigi pada mulut unggas

terdapat pada lidah dan juga paruh. Menurut Amrullah (2004) bentuk paruh

pada unggas disuaikan dengan bentuk makananya paruh runcing jika makanan

utamanya adalah bijian kecil, dan berbentuk runcing bengkok dapat digunakan

untuk menyobek mangsanya dan memecah bijian yang besar yang keras serta

berbentuk seperti sendok sehingga mudah digunakan untuk menyaring dan

menangkap makanan yang bercampur air.

Esofagus berfungsi untuk menghubungkan atau menyalurkan makanan

dari mulut ke tembolok (crop). Hal ini sesuai menurut North (1998), yang

mengatakan bahwa fungsi esophagus adalah menyalurkan makanan ke

tembolok. Esophagus memanjang dari pharynk hingga proventrikulus melewati

tembolok (crop). Setiap kali ayam menelan secara otomatis esophagus

menutup dengan adanya otot. Organ ini menghasilkan mukosa yang

berfungsi membantu melicinkan pakan menuju tembolok (Yuwanta, 2004).

Tembolok atau crop berfungsi sebagai tempat penyimpanan makanan

sementara. Hal ini sesuai menurut Yuwanta (2004), yang mengatakan bahwa

6
Tembolok merupakan modifikasi dari esophagus yang berperan sebagai tempat

penyimpanan pakan, pakan disimpan dalam tembolok hanya sementara. Dalam

tembolok sedikit bahkan tidak terjadi proses pencernaan, kecuali pencampuran

sekresi saliva dari mulut yang dilanjutkan aktifitasnya di tembolok. Pada

tembolok terdapat saraf yang berhubungan dengan pusat kenyang-lapar di

Hipotalamus sehingga banyak sedikitnya pakan yang terdapat dalam tembolok

akan memberikan respon dalam saraf untuk makan atau menghentikan makan

(Fadillah et al., 2007).

Pada proventriculus terjadi pencernaan secara enzimatis, dimana

disekresikan pepsin dan asam klorida pada organ ini untuk mencerna protein.

Hal ini sesuai menurut Nesheim dkk (1997), yang mengatakan bahwa

merupakan kelenjar, tempat terjadinya pencernaan secara enzimatis, karena

dindingnya disekresikan asam klorida, pepsin dan getah lambung yang berguna

mencerna protein. Sel kelenjar secara otomatis akan mengeluarkan cairan

kelenjar perut begitu makanan melewatinya dengan cara berkerut secara

mekanis (Akoso, 1993).

Gizzard berfungsi untuk mencerna makanan secara mekanik dengan

bantuan batu-batu yang ditelan oleh ayam. Hal ini sesuai menurut Kartadisastra

(2002), yang mengatakan bahwa pakan dalam gizzard mengalami proses

pencernaan secara mekanik dengan bantuan grit yang berupa batuan kecil,

selain itu pakan juga akan dipecah dan dicampur dengan air sehingga menjadi

seperti pasta atau yang biasa disebut dengan chymne. Besar kecilnya empedal

dipengaruhi oleh aktivitasnya, apabila ayam dibiasakan diberi pakan yang

sudah digiling maka empedal akan lisut. Perototan empedal dapat melakukan

gerakan meremas kurang lebih empat kali dalam satu menit (Akoso, 1993).

7
Usus halus pada ayam terdiri dari duodenum, jejenum, dan ileum.

Duodenum berfungsi untuk mensekresikan enzim untuk menghidrolisis

makanan. Hal ini sesuai menurut North (1998), yang mengatakan bahwa pada

bagian duodenum disekresikan enzim pankreatik yang berupa enzim amilase,

lipase dan tripsin yang dapat mencerna protein dan karbohidrat. Protein oleh

pepsin dan khemotripsin akan diubah menjadi asam amino. Lemak oleh lipase

akan diubah menjadi asam lemak dan gliserol. Karbohidrat oleh amilase akan

diubah menjadi disakarida dan kemudian menjadi monosakarida. Jejenum

berfungsi untuk menghidrolisis makanan dan menyerap zat-zat makanan. Hal

ini sesuai menurut Yuwanta (2004), yang mengatakan bahwa dalam jejunum

terjadi proses penyerapan zat makanan yang belum diselesaikan di duodenum

sampai tinggal bahan yang tidak dapat dicerna. Ileum berfungsi untuk

mencerna zat-zat makanan dan absorpsi. Hal ini sesuai menurut Suprijatna dkk

(2005), yang mengatakan bahwa pada permukaan vili pada ileum terdapat

mikrovili yang berfungsi untuk mengabsorbsi hasil pencernaan, pembatas

antara Jejunum dan ileum disebut micele divertikum yang ditandai dengan

adanya bintil pada permukaan.

Sekum masih memiliki fungsi yang belum jelas. Hal ini sesuai menurut

North (1978), yang mengatakan bahwa fungsi utama ceca (sekum) secara jelas

belum diketahui tetapi di dalamnya terdapat sedikit pencernaan karbohidrat

dan protein dan absorbsi air. Di dalamnya juga terjadi digesti serat oleh

aktivitas mikroorganisma (Nesheim et al., 1997). Menurut Yuwanta (2004),

sekum terdiri atas dua seka atau saluran buntu yang berukuran panjang 20 cm.

Usus besar berfungsi dalam reabsorpsi air. Hal ini sesuai menurut

Frandson (2009), yang mengatakan bahwa usus besar berfungsi sebagai tempat

absorbsi air dari sisa-sisa makanan atau sebagai tempat menyerap air dan

8
pembentukan feses. Large intestine (usus besar) berupa saluran yang

mempunyai diameter dua kali dari diameter small intentine dan berakhir pada

kloaka. Pada large intestine terjadi reabsorbsi air untuk meningkatkan

kandungan air pada sel tubuh dan mengatur keseimbangan air pada unggas

(North, 1998).

Kloaka merupakan lubang pelepasan sisa-sisa digesti, urin dan

merupakan muara saluran reproduksi (North, 1998). Air kencing yang sebagian

berupa endapan asam urat dikeluarkan melalui kloaka bersama tinja dengan

bentuk seperti pasta putih (Akoso, 1993). Pada kloaka terdapat tiga muara

saluran pelepasan yaitu urodeum sebagai muara saluran kencing dan kelamin,

coprodeum sebagai muara saluran makanan dan proctodeum sebagai lubang

keluar dan bagian luar yang berhubungan dengan udara luar disebut vent

(Nesheim et al., 1997). Kloaka pada bagian terluar mempunyai lubang

pelepasan yang disebut vent, yang pada betina lebih lebar dibanding jantan,

karena merupakan tempat keluarnya telur (North, 1998).

3.2 Organ Pencernaan Kelinci

Pada praktikum ini dilakukan pengamatan sistem organ pencernaan pada

hewan monogastrik herbivora yaitu kelinci. Organ pencernaan kelinci terdiri

dari mulut, esofagus, lambung, usus halus (duodenum, jejenum, ileum), sekum,

usus besar, rektum dan anus.

Mulut berfungsi untuk mengunyah makanan agar menjadi halus. Hal ini

sesuai menurut Kamal (1982), yang mengatakan bahwa dalam mulut terjadi

pencernaan secara mekanik yaitu dengan jalan mastikasi bertujuan untuk

memecah pakan agar menjadi bagian-bagian yang lebih kecil dan

9
mencampurnya dengan saliva yang mengandung enzim amilase yang

mengubah pati menjadi maltosa agar mudah ditelan.

Esofagus berfungsi untuk menghubungkan atau menyalurkan makanan

dari mulut ke lambung. Hal ini sesuai menurut Anonim (2013), yang

mengatakan bahwa esofagus merupakan lanjutan dari pharing dan masuk ke

dalam cavum abdominale dan bermuara pada bagian ventriculus.

Lambung berfungsi untuk mencerna makanan secara enzimatik. Hal ini

sesuai menurut Hatulhasanah (2013), yang mengatakan bahwa ventrikulus

(lambung) berfungsi sebagai tempat penyimpanan pakan dan tempat terjadinya

proses pencernaan dimana dinding lambung mensekresikan getah lambung

yang terdiri dari air, garam anorganik, mucus, HCl, pepsinogen dan faktor

intrinsik yang penting untuk efisiensi absorbsi vitamin B12. Keasaman getah

lambung bervariasi sesuai dengan macam makanannya. Pada umumnya sekitar

0,1N atau pH lebih kurang dari dua. Lambung kelinci terdiri dari tiga bagian

yaitu bagian awal (kardia), bagian tengah (fundus) dan bagian akhir (pilorus).

Usus halus pada kelinci terdiri dari duodenum, jejenum, dan ileum.

Kelenjar branner menghasilkan getah duodenum dan disekresikan ke dalam

duodenum melalui vili-vili dan getah ini bersifat basa. Getah pankreas yang

dihasilkan disekresikan ke dalam duodenum melalui ductus

pancreaticus.Jejenum merupakan kelanjutan dari duodenum dan illeum di

sebelah caudal ventriculus dan berfungsi sebagai tempat absorbsi makanan

(Happyfapet, 2013).

Di dalam sekum terdapat proses fermentasi makanan. Hal ini sesuai

menurut Frandson (1992), yang mengatakan bahwa kelinci memfermentasikan

pakan di sekum kurang lebih 50% dari seluruh kapasitas saluran

pencernaannya. Sekum pada kelinci berbentuk seperti kantung berwarna hijau

10
tua keabu-abuan. Dalam sekum makanan disimpan dalam waktu sementara.

Pencernaan selulosa dilakukan oleh bakteri yang menghasilkan asam asetat,

propionat dan butirat. Di dalam sekum terjadi pencernaan mirobiologi, karena

pencernaan serat kasar dilakukan oleh bakteri pencernaan serat kasar

(Yuwanta, 2004).

Kolon atau usus besar berjalan ke arah caudal diagonal menyilang sekum

di sini terdapat ascenden dan colon transverasum, colon descenden dan colon

sigmoideum yang belum jelas. Fungsi usus besar yaitu untuk perombakan

partikel pakan yang tidak tercerna oleh mikroorganisme menjadi feses yang

kemudian juga tercampur dengan urine membentuk ekskreta.

Rektum merupakan kelanjutan dari kolon dan membentuk feces dan

rektum berakhir sebagai anus (Frandson, 1992).

Feses yang keluar lewat anus mengandung air. Feses merupakan sisa

makanan yang tidak tercerna. Cairan dari tractus digestivus, sel-sel epitel usus,

mikroorganisme, garam organik, stearol dan hasil dekomposisi dari bakteri

keluar melalui anus.

3.3 Pencernaan pada Domba

Saluran pencernaan pada domba tersusun atas membrana mukosa yang

berhubungan dengan kulit luar, pada mulut dan anus. Menurut Frandson

(1996), empat lapisan yang menyusun dinding saluran pencernaan, dari luar ke

dalam, adalah epithel (Squamous terstrata ke bagian glandular dari perut serta

kolom sederhana), lamina propria (termasuk mukosa dan sub mukosa

muskularis), otot-otot (seran lintang esophagus; halus, pada bagian selainnya

esophagus, yang umumnya bagian dalam sirkuler juga bagian luar

longitudinal), dan arah kaudal terhadap diagfragma serta menutupi sebagian

11
besar saluran pencernaan, suatu penutup serosa bagian luar, yang disebut

peritonium viseral. Proses pencernaan makanan pada hewan poligastrik

meliputi proses pengambilan pakan, pencernaan yang berlangsung di dalam

mulut, lambung, penyerapan dan pembuangan sisa-sisa yang tidak terpakai

oleh tubuh. Pencernaan di dalam mulut dilakukan dengan pengunyahan,

pemberian air liur dan penelanan. Proses pencernaan pada domba lebih bersifat

kompleks dari pada pencernaan pada pada unggas dan kelinci. Pencernaan

makanan pada domba harus mengalami proses memamah biak (ruminansia),

yang meliputi serangkaian proses di dalam mulut, penelanan, pencernaan di

permukaan lambung setalah itu harus mengalami proses regurgitasi ingesta

yang berbentuk bolus (bola) ke dalam mulut.

Ternak domba berbeda dengan ternak mamalia lainnya karena

mempunyai lambung sajati yaitu abomasums dan lambung depan yang

membesar yang mempunyai tiga ruangan yaitu reticulum, rumen, omasum

(Blakely, 1991).

Rumen dan reticulum sering dipandang sebagai organ tunggal disebut

sebagai retikulo-rumen yang merupakan tempat terjadiny apencernaan

fermentative. Reticulum ini mendorong pakan pada dan ingesta ke dalam

rumen dan mengalirkan ingesta ke dalam omasum. Reticulum membantu

ruminasi dimana bolus diregurgitasikan ke dalam mulut. Ingesta yang telah

halus didorong ke dalam rumen untuk dicerna lebih lanjut oleh mkroba.

Mikroorganisme yang terdapat dalam rumen adalah bakteri, protozoa dan

fungi.

Omasum merupakan bagian ketiga lambung ternak domba yang

menghubungkan retikulo-rumen dan abomasums. Abomasums merupakan

bagian keempat yang disebut sebagai perut sejati. Dengan demikian ternak

12
ruminansia dapat memanfaatkan pakan berserat kasar tinggi serta mampu

mengolahnya menjadi produk dengan biologis tinggi (Blakely, 1991).

Pencernaan adalah proses perubahan senyawa-senyawa tertentu menjadi

senyawa lain yang sama sekali berbeda dengan molekul zat makanannya.

Proses pencernaan berupa fermentasi yang terjadi sebelum usus halus pada

ternak ruminansia mendatangkan keuntungan dan kerugian Keuntungan yang

diperoleh dengan terjadinya fermentasi sebelum usus halus antara lain produk

fermentasi mudah diserap usus, dapat mencerna selulosa dan dapat

menggunakan non–protein nitrogen seperti urea. Kerugian yang dialami antara

lain banyak energi yang terbuang sebagai gas methan dan panas, protein

bernilai hayati tinggi mengalami degradasi menjadi NH3 (amonia) sehingga

terjadi penurunan nilai protein, ternak ruminansia peka terhadap ketosis atau

keracunan asam (Frandson, 1996).

Proses pencernaan fermentative ini tidak lepas dari peranan mikroba

rumen. Mikroba rumen akan mencerna karbohidrat, protein, dan lemak menjadi

asam lemak atsiri VFA (Volaltyl Fatty Acid), NH3 (amonia), gas

karbondioksida (CO2) dan gas methan (CH4). Amonia digunakan untuk

membangun sel mikroba, VFA (Volatyl Fatty Acid) akan diserap langsung

dalam rumen dan retrikulum untuk dimanfaatkan oleh ternak sebagai sumber

energy, gas methan dan oksigen dikeluarkan melalui proses eruktasi (Blakely,

1991).

13
IV

KESIMPULAN

Organ pencernaan ayam terdiri dari mulut (paruh), esofagus, tembolok

(crop), proventrikulus, gizzard, usus halus (duodenum, jejenum, ileum), sekum,

usus besar, dan kloaka.

Organ pencernaan kelinci terdiri dari mulut, esofagus, lambung, usus halus

(duodenum, jejenum, ileum), sekum, usus besar, rektum dan anus.

Organ pencernaan domba terdiri dari mulut, esofagus, rumen (perut

handuk), retikulum (perut jala), omasum (perut buku), abomasum (perut sejati),

usus halus (duodenum, jejenum, ileum), dan anus.

14
DAFTAR PUSTAKA

Anonim.Sistem Pencernaan Ruminansia. http://www.Sistem-Pencernaan-


Ruminansia.com. 2013. (Diakses 11 Desember 2018).
Akoso, dan Nuggroho. 1993. Keanekaragaman Ternak Unggas. Dian Rakyat:
Jakarta
Amrullah, I. K. 2004. Nutrisi Ayam Broiler.Lembaga Satu Gunungbudi. IPB.
Bogor.
Blakely, James and David H. Bade. 1991. Ilmu Peternakan edisi IV. Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press.
Frandson. domba. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Edisi Keempat. Diterjemahkan
Oleh : B. Srigandono dan Koen Praseno. Yogyakarta : UGM Press. Hal :
528, 542-552.Fadillah, R., P. Agustin, A. Syamsirul, P. Eko. 2007. Sukses
Beternak Ayam Broiler. Agro Media Pustaka. Jakarta.
Frandson, R.D. 2009. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Gadjah Mada University
Press. Yogyakarta.
Frandson. 1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak.Yogyakart: Gadjah Mada
University Press.
Happy.Dasar Nutrisi Dan Sistem Pencernaan. http://happyfapet. blogspot.
com/2011/12/dasar-nutris-dan-sistem-pencernaan.html.2013.(Diakses pada
tanggal 11 Desember 2018).
Hatulhasanah, Melly. 2013. Perbedaan Hewan Ruminansia dan Non Rumenansia.
http://mellyhatulhasanah.blogspot.com/2011/11/perbedaan-hewan-ruminansia-
dan-non.html. (Diakses pada tanggal 11 Desember 2018).
Kamal.Anatomi Hewan. Yogyakarta: Laboratorium Anatomi Hewan Fakultas
Biologi UGM. (1982).
Kartadisastra, H.K. 2002. Pengolahan Pakan Ayam. Kanisius. Yogyakarta.
Nesheim et al., 1997. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Edisi Keempat.
Diterjemahkan Oleh : B. Srigandono dan Koen Praseno. Yogyakarta :
UGM Press. Hal : 528, 542-552
North, 1998. Nutrisi Aneka Ternak Unggas. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta
Suprijatna. 2005. Ilmu Dasar Ternak Unggas. Penebar Swadaya. Jakarta.
Yuwanta, Tri. 2004. Dasar Ternak Unggas. Kanisius.Yogyakarta.

15
LAMPIRAN

Nama NPM Pembagian Tugas


Noni Anjarwati 200110170119 Pembahasan 3.3
Mega Febria 200110170172 Pembahasan 3.1 dan 3.2
Muhammad Rezeki Gantana 200110170187 Bab I, Bab IV dan
editor
Rizkan Primadia Nugraha 200110170300 Bab II

16