Anda di halaman 1dari 19

TUGAS MANAJEMEN LINGKUNGAN

Degradasi Lingkungan Sumberdaya Lahan

Program Studi Ilmu Lingkungan

Program Magister Pengelolaan Lingkungan

Kelompok 3:
A
B
C
D
E

Dosen Pengampu:
Prof. Dr. Totok Gunawan, MS.

SEKOLAH PASCASARJANA

UNIVERSITAS GADJAH MADA

YOGYAKARTA

2020
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Menurut Undang-Undang Pemanfaatan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Nomor
32 Tahun 2009 BAB I Ayat 1, lingkungan hidup merupakan kesatuan ruang dengan semua
benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakuknya, yang
mempengaruhi alam itu sendiri, kelangsungan perikehidupan, dan kesejahteraan manusia
serta makhluk hidup lain. Lingkungan hidup merupakan kesatuan ruang dan didalamnya
terdapat interaksi makhluk hidup dengan lingkungannya. Lingkungan hidup Indonesia secara
jelas merupakan wilayah yang menempati posisi silang antar benua dengan iklim dan
cuacanya, dan mempunyai peran strategis, nilai untuk menyelenggarakan kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara dalam segala asepknya.

Lingkungan hidup Indonesia sebagai suatu ekosistem terdiri atas berbagai subsistem,
yang mempunyai aspek sosial, budaya, ekonomi, dan geografi dengan corak ragam yang
berbeda mengakibatkan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup yang berlainan
(Gunawan dan Susanto 2006). Keadaan demikian memerlukan pembinaan dan
pengembangan lingkungan hidup yang didasarkan pada keadaan daya dukung dan daya
tampung lingkungan hidup. Pembinaan dan pengembangan lingkungan diharapkan
membentuk keselarasan, keserasian, dan keseimbangan subsistem dalam pembangunan yang
berlangsung.

Semakin meningkatnya upaya pembangunan menyebabkan semakin meningkatnya


dampak terhadap lingkungan hidup. Keadaan ini mendorong semakin diperlukannya upaya
pengendalian dampak lingkungan hidup sehingga resiko terhadap lingkungan hidup dapat
ditekan sekecil mungkin. Kegiatan pembangunan yang makin meningkat mengandung resiko
pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup sehingga struktur dan fungsi dasar ekosistem
yang menjadi penunjang kehidupan dapat rusak. Pembangunan yang memadukan lingkungan
hidup termasuk sumberdaya alam, menjadi sarana untuk mencapai keberlanjutan
pembanguanan dan menjadi jaminan bagi kesejahteraan dan mutu hidup (Gunawan dan
Susanto 2006). Oleh karena itu lingkungan hidup di Indonesia harus dikelola dengan prinsip
melestarikan fungsi lingkungan hidup agar menunjang pembangunan berkelanjutan yang
berwawasan lingkungan.

2
Kegiatan pembangunan pada umumnya menyangkut pendayagunaan sumberdaya-
sumberdaya alam. Sumberdaya alam merupakan semua bahan yang ditemukan manusia di
alam yang dapat di dayagunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia (UU KSDA
Nomer 55 tahun 1990). Menurut UUPPLH No 32 tahun 2009, sumberdaya alam merupakan
unsur lingkungan hidup yang terdiri atas sumber daya hayati dan nonhayati yang secara
keseluruhan membentuk kesatuan ekosistem. Perubahan dan gangguan terhadap sumberdaya
alam dan lingkungannya dapat menimbulkan masalah lingkungan hidup.

Masalah banjir, erosi, , pencemaran, dan polusi, merupakan masalah lingkungan


hidup yang disebabkan oleh pemanfaatan sumberdaya alam untuk memnuhi kebutuhan hidup
manusia. Selain itu terdapat dampak tak langsung akibat menurunya kualitas lingkungan
hidup seperti kerusakan alam, merosotnya produktivitas dan diversitas, dan percepatan erosi
yang disebabkan oleh eksploitasi sumberdaya alam yang berlebihan. Pencemaran dan
sedimentasi merupakan produk yang langsung dari dampak pengelolaan sumberdaya alam di
bagian hulu (on-site) yang terjadi karena penggunaan dan pemanfaatan lahan yang dapat
mendorong terjadinya dampak negatif dan menimbulkan permasalahan lingkungan hidup di
bagian hilir (off-site), sehingga terjadi penurunan kualitas lingkungan hidup.

Penurunan kualitas lingkungan merupakan kejadian degradasi lahan yang disebabkan


oleh berbagai macam aktivitas manusia maupun aktivitas non manusia seperti erupsi gunung
api. Degradasi lahan telah terjadi ketika lahan dalam suatu ekosistem tidak lagi dapat
melakukan fungsi pengaturan lingkungannya untuk menerima, menyimpan, dan mendaur
ulang air, energi, dan nutrisi dan ketika potensi produktivitas dikaitkan dengan suatu lahan
-menggunakan sistem menjadi tidak berkelanjutan (Osman, 2014).

Akibat degradasi lahan menyebabkan efek bagian atas (on-site effect) seperti
penurunan kapasitas produktif lahan, yang dapat menyebabkan berkurangnya output (hasil
panen, hasil ternak) dan kebutuhan akan input menjadi meningkat. Degradasi lahan juga
menyebabkan efek bagian bawah (off-site effect) seperti penurunan kualitas air sungai, dan
sedimentasi dasar sungai dan waduk akibat erosi yang terjadi dibagian atas. Khusunya di
Indonesia degradasi lahan terjadi karena upaya manusia untuk meningkatkan produktivitas
pertanian seperti yang terjadi di beberapa wilayah baik di pulau jawa maupun di luar pulau
jawa. Bahkan permasalahan dan sumber permasalahan degradasi lahan pada setiap wilayah di
Indonesia berbeda-beda.

3
1.2. Perumusan Masalah

Degradasi lahan yang terjadi di Indonesia disebabkan oleh aktivitas manusia seperti
industri, aktivitas kendaraan, punurapan airtanah, rumah tangga, dan pembukaan lahan.
Aktivitas tersebut dapat menyebabkan kerusakan ekosistem yang dapat mengganggu aktivitas
manusia. Degradasi lahan yang terjadi di Indonesia kususnya pulau jawa tampak jelas terjadi
di hulu DAS Serayu. Tidak hanya pulau jawa, degradasi lahan juga tampak jelas terjadi di
luar pulau Jawa seperti di Bangka dan di Enrekang.

Degradasi lahan yang terjadi di Indonesia meliputi penutupan lahan (soil sealing),
erosi tanah (soil erosion), penggaraman (salinization), pencemaran tanah (soil
contamination), dan pemadatan tanah (soil compaction) yang dapat menurunkan nilai
sumberdaya lahan (Hadmoko, 2020). Kasus degradasi lahan yang terjadi di DAS Serayu telah
mengakibatkan permasalahan, seperi sedimentasi di daerah hilir. Kawasan Dieng mengalami
kerusakan yang parah dimana telah terjadi degradasi lahan dan meningkatnya erosi sekitar
161 ton/ha/tahun, yang menyebabkan sedimentasi di Waduk Jenderal Sudirman (Pusat Listrik
Tenaga Air Mrica) yang dikhawatirkan menyebabkan krisis energi (Ainun, 2013).

Hulu DAS Serayu yang merupakan daerah pensuplai air bagi Waduk Jendral
Sudirman dan air tanah bagi masyarakat yang bermukim di wilayah cekungan air tanah
Wonosobo-Banjarnegara, dimana mayoritas masyarakatnya bekerja sebagai petani.
Masyarakat di hulu DAS Serayu memanfaatkan lahan-lahan lereng untuk aktivitas pertanian.
Kondisi tersebut menyebabkan terganggunya siklus hidrologi, menurunya produktivitas lahan
dan menurunya kualitas perairan sehingga dapat menyebabkan diversitas biota perairan
berkurang.

Tidak hanya pulau Jawa di Hulu DAS Serayu, degradasi lahan akibat aktivitas
pertanian juga terjadi di luar Pulau Jawa yaitu di Bangka. Degradasi lahan yang terjadi di
Bangka di sebabkan cara bertani berpindah-pindah lahan. Masyarakat melakukan pembukaan
lahan pertanian dengan cara membakar kawasan hutan. Cara pembukaan lahan dengan cara
pembakaran secara ekologis tidak baik. Pembukaan lahan dengan cara di bakar dapat
menyebabkan turunnya diversitas biota yang ada karena mati terbakar, dan simpanan bahan
organik tanah dapat menurun.

4
Di wilayah ujung utara Indonesia tepatnya di Pulau Sulawesi juga terjadi degradasi
lahan yang disebabkan oleh aktivitas pertanian di lahan yang memiliki kelerengan curam.
Masyarakat memanfaatkan lahan kering di dengan kelerengan curam untuk bertani jagung
khusunya di Kecamatan Maiwa Enrekang (Haerul, dkk., 2017). Lebih lanjut Haerul, dkk.,
(2017) petani di Enrekang melakukan sistem pertanian berpindah-pindah karena menurunya
hasil produktivitas jagung yang mereka tanam..

Aktivitas pertanian di berbagai wilayah di Indonesia tidak hanya memiliki manfaat


positif seperti dapat memenuhi kebutuhan pangan dan mengatur kesetabilan harga bahan
pangan. Aktivitas pertanian yang terjadi di Indonesia justru menimbulkan degradasi lahan
yang dapat merugikan banyak masyarakat. Kondisi tersebut apabila tidak segera di di kelola
dengan pendekatan manajemen lingkunagan dikhawatirkan dapat menimbulkan kerugian
yang lebih besar. Sehingga perlu dilakukan kajian mengenai manajemen lingkungan dalam
konteks degradasi lahan akibat aktivitas pertanian di beberapa wilayah di Indonesia.
Berdasarkan uraian tersebut maka perlu diketahui sebagai berikut ini :

1. Jenis kerusakan lingkungan apa sajakah yang mengakibatkan degradasi lahan di


Hulu DAS Serayu, Kabupaten Enrekang dan Provinsi Bangka dari komponen
biotik, abiotik, dan kulural?
2. Seberapa jauh tingkat keruskan komponen lingkungan abiotik, biotik, dan kultural
di Hulu DAS Serayu, Kabupaten Enrekang dan Provinsi Bangka?
1.3. Tujuan

1. Mengidentifikasi jenis-jenis kerusakan lingkungan yang mengakibatkan degradasi


lahan di Hulu DAS Serayu, Kabupaten Enrekang dan Provinsi Bangka dari segi
komponen biotik, abiotik, dan kulural?
2. Mengkaji tingkat kerusakan komponen lingkungan abiotik, biotik, dan kultural di
Hulu DAS Serayu, Kabupaten Enrekang dan Provinsi Bangka?

5
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Lingkungan Hidup

Menurut Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Pengelolaan Lingkungan


Hidup, Bab I Pasal 1 ayat (1) Lingkungan hidup merupakan kesatuan ruang dengan semua
benda, daya, keadaan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya dan mempengaruhi
kelangsungan kehidupan dan kesjahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya. Manusia
hidup bersama dengan hewan, tumbuhan dan jasad renik bukan hanya sekedar kawan hidup
yang hidup bersama secara netral atau pasif terhadap manusia, melainkan hidup manusia itu
berhubungan erat pada mereka. Hal ini dapat dibuktikan bahwa manusia tidak mendapatkan
oksigen dan makanan apabila tanpa tumbuhan dan hewan. Tanpa oksigen dan makanan
dimungkinkan manusia tidak dapat hidup. Begitupun sebaliknya, apabila tidak ada manusia,
hewan, tumbuhan dan jasad renik tidak dapat melangkungkan kehidupannya seperti terlihat
dari sejarah bumi sebelum ada manusia

Lingkungan hidup menurut Siahaan (2004) dapat dirangkum kedalam beberapa unsur-
unsur:

a) semua benda, berupa manusia, hewan, tumbuhan, organisme, tanah, air, udara, rumah,
sampah, mobil, angin, dan lain-lain. Keseluruhan yang disebutkan ini digolongkan
sebagai materi;
b) daya, disebut juga energy. Sesuatu yang memberi kemampuan untuk melakukan
kerja;
c) keadaan, disebut juga kondisi atau situasi;
d) perilaku atau tabiat;
e) ruang, yaitu tempat berbagai komponen benda, adalah suatu bagian dimana berbagai
komponen-komponen lingkungan hidup bisa menempati dan melakukan proses
lingkungan hidupnya; dan

6
f) proses interaksi, disebut juga saling mempengaruhi, atau biasa pula disebut dengan
jaringan kehidupan

Adapun komponen lingkungan hidup menurut Tandjung dan Gunawan (2006),


sebagaimana diuraikan berikut ini.

(a) Lingkungan Abiotik (abiotic environment)

Lingkungan ini adalah segala benda mati dan keadaan fisik yang ada di sekitar
kita, misalnya air, udara, lahan, dan energi serta bahan mineral terkandung di
dalamnya. Komponen atau kelompok lingkungan ini saling berinteraksi satu dan
lainnya sebagai contoh: apabila di suatu wilayah kekurangan suplai energi sinar
matahari, maka di daerah tersebut menjadi sangat lembab karena tidak
mendapatkan sinar matahari yang dibutuhkan sehingga suhu di wilayah tersebut
menjadi rendah atau dingin.

(b) Lingkungan Biotik (biotic environment)


Lingkungan biotik merupakan lingkungan hayati yang terdiri dari unsur-unsur
hewan, tumbuhan, dan margasatwa lainnya serta bahan baku hayati untuk industri.
Setiap unsur ini saling berhubungan satu sama lainnya. Contoh: sapi memakan
rumput untuk mempertahankan hidupnya, kemudian sapi tersebut dimakan oleh
manusia sebagai konsumsi protein hewani. Lalu manusia mengeluarkan sisa
pencernaan berupa kotoran yang menyuburkan rerumputan tersebut. Hal semacam
itu disebut dengan kata lain sebagai rantai makanan antar makhluk hidup.
(c) Lingkungan Kultural (cultural environment)
Lingkungan manusia dimana manusia berada dan kepada siapa mengadakan
hubungan pergaulan. Lingkungan kulturan terdiri dari unsur-unsur sistem-sistem
sosial, ekonomi, dan budaya serta kesejahteraan.

7
Gambar 2.1. Komponen lingkungan abiotik, biotik, dan kultural

2.2. Manajemen Lingkungan


Menurut Undang-Undang No. 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup
dijelaskan bahwa Pengelolaan lingkungan hidup adalah upaya terpadu untuk melestarikan
fungsi lingkungan hidup yang meliputi kebijaksanaan penataan, pemanfaatan,
pengembangan, pemeliharaan, pemulihan, pengawasan, dan pengendalian lingkungan hidup.
Pengelolaan lingkungan hidup yang diselenggarakan dengan asas tanggung jawab Negara,
asas berkelanjutan dan asas manfaat bertujuan untuk mewujudkan pembangunan
berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup dalam rangka pembangunan manusia
Indonesia seutuhnya dan pembangunan masyarakat Indonesia seluruhnya yang beriman dan
bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa.

Pengelolaan lingkungan hidup bukan semata-mata menjadi tanggung jawab


pemerintah. Swasta dan masyarakat juga sangat penting peran sertanya dalam melaksanakan
kebijaksanaan pengelolaan lingkungan hidup. Setiap orang mempunyai hak dan kewajiban
berperan serta dalam rangka pengelolaan lingkungan hidup, sehingga dapat tercapai
kelestarian fungsi lingkungan hidup (Suhartini, 2008).

2.3. Kerusakan Lingkungan


Kerusakan lingkungan hidup menurut Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009, Bab I
Pasal 1 ayat (17) menyatakan bahwa kerusakan lingkungan hidup merupakan perubahan

8
langsung dan/atau tidak langsung terhadap sifat fisik, kimia, dan/atau hayati lingkungan
hidup yang melampaui kriteria baku kerusakan lingkungan hidup. Pembangunan selama ini
terus memperbesar eksploitasi sumberdaya alam, sementara itu kebutuhan untuk melakukan
konservasi dan perlindungan sumberdaya alam tidak dapat dijalankan sebagaimana mestinya.
Akibatnya adalah semakin banyaknya kerusakan lingkungan, banjir, longsor, pencemaran air,
dan lain-lain. Menurut Christie, Sina dan Erawaty (2013) faktor penyebab kerusakan
lingkungan hidup dibedakan menjadi 2 jenis yaitu faktor alam dan faktor manusia.

(a) Kerusakan lingkungan hidup akibat faktor alam

Bentuk bencana alam yang akhir-akhir ini banyak melanda Indonesia telah
menimbulkan dampak rusaknya lingkungan hidup. Yaitu peristiwa alam seperti
letusan gunung berapi, gempa bumi, angin topan, dan lain sebagainya,
peristiwaperistiwa alam tersebut yang menimbulkan kerusakan pada lingkungan
hidup.

(b) Kerusakan lingkungan hidup akibat faktor manusia

Manusia sebagai penguasa lingkungan hidup di bumi berperan besar dalam


menentukan kelestarian lingkungan hidup, yang dilakukan manusia tidak diimbangi
dengan pemikiran akan masa depan kehidupan generasi berikutnya. Manusia
merupakan salah satu kategori faktor yang menimbulkan kerusakan lingkungan.

Penjelasan diatas sejalan dengan pendapat Pranadji (2005) yang menyatakan bahwa
ada 3 penyebab kerusakan lingkungan yaitu: pertama, tidak terkendalinya nilai-nilai
keserakahan yang mengiringi kegiatan pembangunan ekonomi yang berwatak kapitalistik.
Kedua, tidak mampunya kalangan berpengetahuan meyakinkan penyelenggara negara untuk
membangun masyarakat mandiri yang cerdas yang menempatkan aspek pengelolaan
lingkungan secara kolektif pada posisi yang strategis. Ketiga, relatif besarnya kelompok
lapisan masyarakat miskin yang kehidupannya sangat tergantung pada sumberdaya alam dan
lingkungan. Alam memiliki sumberdaya yang berpotensi dalam memenuhi kebutuhan hidup
manusia walaupun potensi alam ini cukup besar untuk dimanfaatkan, namun haruslah
dipertahankan keberlangsungan dan kelestariannya.

Berdasarkan penjelasan dapat disimpulkan bahwa suatu pemahaman keterkaitan


lingkungan, sumberdaya dan kerusakan yang dihasilkan karena potensi dari lingkungan
tersebut yang dimanfaatkan oleh masyarkat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Keadaan

9
lingkungan yang baik dan berdaya dukung tinggi akan sangat mempengaruhi tingkat
kesejahteraan dan kesehatan masyarakat. Untuk mencapai hal tersebut maka diperlukan
pemeliharaan lingkungan yang baik dan disertai dengan pemahaman yang benar tentang
lingkungan hidup, sehingga manusia dapat memperlakukan lingkungan dengan arif dan
bijaksana sehingga dapat meminimalisir tingkat kerusakan dengan pengelolaan yang benar
dan bertanggung jawab. Daya dukung yang dimaksud kan dalam Undang-Undang Nomor 32
Tahun 2009, Bab I Pasal 1 ayat (7) adalah kemampuan lingkungan hidup untuk mendukung
peri kehidupan manusia, makhluk hidup lain dan keseimbangan antar keduanya.

2.4. Degradasi Lahan

Degradasi secara fisik di antaranya terjadi dalam bentuk pemadatan, pergerakan,


ketidakseimbangan air, terhalangnya aerasi dan drainase, dan kerusakan struktur tanah.
Degradasi kimiawi terdiri dari asidifikasi, pengurasan dan pencucian hara,
ketidakseimbangan unsur hara dan keracunan, salinization (salinisasi), acidification
(pemasaman) dan alkalinization (alkanisasi), serta polusi (pencemaran). Degradasi biologis
meliputi penurunan karbon organik tanah, penurunan keanekaragaman hayati tanah dan
vegetasi, serta penurunan karbon biomas (Wahyunto dan Dariah, 2014).

Pengertian degradasi lahan dari beberapa sektor yang bidang tugasnya berkaitan
dengan lahan adalah seperti berikut ini:

Sektor pertanian mendefinisikan degradasi lahan sebagai proses penurunan


produktivitas lahan yang sifatnya sementara maupun tetap, dicirikan dengan penurunan sifat
fisik, kimia dan biologi (Shresta, 1995; Singer, 2006; Sitorus, 2011). Akibat lanjut dari proses
degradasi lahan adalah timbulnya areal-areal yg tidak produktif yang disebut lahan kritis
(Dariah et al. 2004; Kurnia 2010). Direktorat Bina Rehabilitasi dan Pengembangan Lahan,
Departemen Pertanian (1993) mendefinisikan lahan kritis sebagai: kondisi lahan yang terjadi
akibat penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan kemampuannya, sehingga mengakibatkan
terjadinya kerusakan lahan secara fisik, kimia maupun biologis. Dalam usaha inventarisasi
lahan terdegradasi/ lahan kritis, Puslitbang Tanah dan Agroklimat (2004) mengartikan lahan
kritis sebagai lahan yang telah mengalami kerusakan fisik tanah karena berkurangnya
penutupan vegetasi dan adanya gejala erosi (ditandai oleh adanya alur-alur drainase/torehan),
sehingga pada akhirnya mempengaruhi/mengganggu fungsi hidrologi daerah sekitarnya.

Sektor kehutanan mendefinisikan lahan terdegradasi atau lahan kritis sebagai lahan
yang keadaan fisiknya sedemikian rupa sehingga lahan tersebut tidak berfungsi sesuai dengan

10
peruntukannya sebagai media produksi maupun sebagai media tata air (Kemenhut 52/Kpts-
II/2011). World Resources Institute-WRI, Amerika Serikat (2012), mendefinisikan lahan
terdegradasi sebagai lahan dimana dulu merupakan hutan dan telah mengalami proses
degradasi akibat ditebang dan memiliki kandungan karbon dan biodiversitas yang rendah dan
tidak digunakan untuk aktivitas pertanian atau kegiatan manusia.

Sektor lingkungan hidup dan pertambangan mengartikan: degradasi lahan sebagai


kerusakan lahan sehingga kehilangan satu atau lebih fungsinya yang mengakibatkan daya
dukung lahan tersebut bagi kehidupan diatasnya berkurang atau bahkan hilang. Penyebabnya
adalah erosi, kehilangan unsur hara dan bahan organik, terkumpulnya garam di daerah
perakaran (salinisasi), terkumpulnya/terungkapnya senyawa bersifat racun/limbah dan
aktivitas pertambangan (Wardana 2013).

BAB III

PEMBAHASAN

3.1. Degradasi Lingkungan Sumberdaya Lahan Hulu DAS Serayu

DAS Serayu terletak di Provinsi Jawa Tengah membentang dari Kabupaten


Banjarnegara, Wonosobo, Banyumas, Cilacap dan Purbalingga. Luas wilayah DAS Serayu
disajikan pada tabel 1.1.

Tabel 1.1 Luas Wilayah DAS Serayu


Luas
Bagian Banjarnegara Banyuma Cilacap Purbalingg Wonosob
Total
DAS (ha) s (ha) (ha) a (ha) o (ha)
(ha)
Hulu 12183 - - - 53.393,5 65.576,6
195.144,
Tengah 95.525,2 19.321,5 - 80.298 -
9
17.159, 115.969,
Hilir - 98.809,6 - -
5 2
Luas 17.159, 376.690,
107.708,3 118.131,2 80.298 53.393,5
Total 5 7
Sumber : Badan Informasi Geospasial, 2017

Wilayah DAS Serayu yang menjadi perhatian serius bagi ahli lingkungan yaitu daerah
hulu. Hulu DAS Serayu terletak di Kabupaten Banjarnegara dan Wonosobo, masuk kedalam
Sub DAS Merawu. Wilayah hulu di Sub DAS Merawu menjadi perhatian serius dikarenakan

11
merupakan pemasok air bagi waduk Mrica. Waduk Mrica merupakan sumber energi
pembangkit listrik Indonesia Power (Pusat Listrik Tenaga Air Mrica) dan sumber air bagi
masyarakat sekitar. Apabila hulu sub DAS Merawu terganggu maka akan menyebabkan
krisis air dan energi yang ada di sekitarnya.

Masyarkat yang bermukim di Hulu DAS Serayu memiliki ketergantungan yang kuat
terhdap sumberdaya lahan yang ada. Mayoritas masyarakat bekerja sebagai petani sayuran,
khususnya jenis kentang dan wortel sebagai komoditi andalan petani. Sumberdaya lahan yang
cukup menjanjikan untuk produktivitas pertanian kentang dan wortel membuat para petani
berani membuka lahan-lahan baru yang semula berupa kawasan hutan. Akibatnya banyak
kawasan hutan sekarang menjadi lahan pertanian intensif di hulu DAS Serayu. Pembukaan
kawasan hutan tersebut bahkan terus meningkat dan tidak terkendali sampai di daerah yang
memiliki kelerangan curam.

Pemanfaatan sumberdaya lahan di Hulu DAS Serayu bahkan terkesan dipaksakan.


Masyarakat melakukan pendayagunaan lahan secara terus menerus tanpa jeda istirahat bagi
tanah untuk melakukan pemulihan (recovery). Selain itu pengolahan tanah sangatlah intensif.
Petani melakukan pengolahan tanah dengan cara di cangukul secara intensif meskipun berada
di lahan yang memiliki kelerengan curam. Kondisi tersebut dapat meningkatkan erosi tanah
karena tanah akan lebih mudah tererosi akibat adanya daya kinetik hujan. Hasil erosi tersebut
masuk kedalam sungai melalui aliran permukaan (overlandflow) dan menjadi sedimen di
waduk Jendral Sudirman (Waduk Mrica).

a b

Gambar 3.1. (a) Pengolahan lahan pertanian intensif, (b) Pertanian intensif di lahan curam

Aliran permukaan dari lahan di hulu DAS Serayu membawa material tanah dan unsur
hara terlarut dalam air. Unsur hara tersebut di hasilkan dari sisa pemupukan dan pestisida
yang dilakukan oleh petani di Hulu DAS Serayu. Pupuk dan pestisida tersebut menyebabkan

12
pencemaran perairan. Pencemaran perairan menyebabkan menurunya biodiversitas perairan
dan berdampak pada kesehatan masyarakat apabila mengkonsumsi air yang tercemar.
Menurunya kuantitas dan kualitas air, hilangnya lapisan atas tanah (top soil), biodiversitas
perairan berkurang, sedimentasi di hilir, terbentuknya hasil proses erosi, dan pencemaran
tanah merupakan contoh degradasi lahan yang terjadi akibat aktivitas pertanian.

3.2. Degradasi Lingkungan Sumberdaya Lahan Kabupaten Enrekang

Kabupaten Enrekang merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan.


Pendayagunaan lahan di Kabupaten Enrekang pada sektor pertanian begitu intensif dilakukan
oleh masyarakat. Mayoritas masyarakat di Kabupaten Enrekang bekerja sebagai petani
terutama komoditi jagung. Masyarakat melakukan aktivitas pertanian di lahan-lahan dengan
kelerengan curam hingga sangat curam. Masyarakat yang mayoritas sebagai petani sangat
mengandalkan sumberdaya lahan yang ada dan cenderung melakukan pengolahan tanah
secara intensif.

Untuk meningkatkan produktivitas jagung, petani melakukan pembasmian gulma


dengan cara pemberian herbisida. Pemberian herbisida menyebabkan penurunan diversitas
tumbuhan bawah, meskipun secara pertanian akan meningkatkan produktivitas jagung yang
dihasilkan. Peningkatan produktivitas pertanian jagung juga mengaplikasikan pemberian
pupuk kimia yang cukup tinggi. Rata-rata, jumlah pupuk yang digunakan di pertanian jagung
Enrekang mencapai 500 Kg urea, 300 Kg SP-36 dan 100 Kg KCl (Haerul, 2017). Pemberian
pupuk kimia yang berlebihan tersebut dapat menyebabkan pencemaran tanah maupun
dampak terhadap agregat tanah.

Adanya aktivitas pertanian intensif di Kabupaten Enrekang berdampak pada kualitas


udara. Kondisi tersebut disebabkan adanya pembakaran jerami jagung seteah dilakukan
panen. meskipun dampak yang dihasilkan tidak bernagsung secara terus menuerus namun
tetap mengganggu kesehatan masyarakat sekitar. Kerusakan lingkungan akibat aktivitas
pertanian sangat dirasakan oleh masyarakat yang memiliki ternak sapi. Produktivitas rumput
yang menurun karena adanya pemberian herbisida menjadi ancaman serius bagi peternak sapi
yang mengandalkan hidupnya dari kegiatan beternak.

Kerusakan lingkungan yang terjadi akibat aktivitas pertanian berdampak pada


degradasi lahan yang membutuhkan penanganan tepat. Degradasi lahan seperti terjadinya
pengurasan bahan organik dan lapisan top soil tanah akibat degradasi lahan dengan pola
pertanaman monokultur, dan kelangkaan pakan ternak sapi. Penanaman secara monokultur

13
juga berdampak pada berkurangnya keanekaragaman hayati, dimana keanekaragaman hayati
sangat mempabtu dalam berbagai macam siklus, seperti siklus karbon, siklus nitrogen, dan
siklus yang berkaitan dengan lingkungan hidup.

3.3. Degradasi Lingkungan Sumberdaya Lahan Provinsi Bangka

(.......)

3.4. Tingkat Kerusakan Lingkungan Akibat Aktivitas Pertanian Intensif Di Hulu DAS
Serayu

DAS Serayu merupakan kesatuan dari sistem yang saling berkaitan, dimana terdapat
input, proses, dan output dari aktivitas manusia yang berada di dalamnya. DAS Serayu
merupakan lingkungan yang kompleks tersusun dari komponen abiotik, biotik, dan kultural.
Masing-masing komponen tersebut saling berinteraksi dan membangun fungsi serta sistem
kehidupannya. Terganggunya fungsi dari salah satu komponen lingkungan tentu akan
memberikan dampak kepada keseluruhan fungsi dari seluruh komponen lingkungan yang
menyusunnya. Hasil studi literatur dari telaah pustaka dan materi yang ada, terdapat
komponen tanah, air, sosial, dan kerapatan vegetasi yang mengalami degradasi.

Komponen tanah di hulu DAS Serayu memiliki kepekaan tanah terhadap proses erosi
(erodibilitas) kriteria peka. Kondisi tersebut didukung dengan jenis tanah berupa andosol
yang berada di wilayah hulu DAS Serayu. Tanah andosol memiliki sifat fisik tanah berupa
tektur geluh hingga lempungan. Dimana fraksi debu dan lempung mudah tererosi oleh tenaga
kinetik hujan. Selain itu pemberian pupuk yang berlebihan mengakibatkan tanah menjadi
tercemar dan masuk dalam kriteria sedang bagi tanaman herba maupun pohon yang hidup.

Komponen air di Hulu DAS Serayu juga mengalami penurunan kualitas dan kuantitas
akibat adanya degradasi lahan dari aktivitas pertanian intensif. Nilai koefisien runoff yang
dihasilkan bahakan mencapai sangat cepat. Koefisien runoff dengan kriteria sangat cepat
dapat mengakibatkan puncak aliran (crest) semakin cepat. Sehingga akan berbahaya bagi
masyarakat di sekitar aliran sungai Serayu karena rawan terjadinya luapan air. Kualitas air di
Hulu DAS serayu juga mengalami penurunan kualitas karena tingginya material tanah
terlarut (suspended load), bahkan pada beberapa periode hujan debit suspensi yang dihasilkan
dalam 1 kejadian hujan mencapai 20 kg/detik.

Komponen sosial seperti tersedianya air berish dan kenyamanan udara di Hulu DAS
Serayu merupakan faktor yang penting bagi kehidupan manusia. Air berish dan kualitas udara

14
akibat pertanian intensif begitu memprihatinkan. Karena adanya penyemprotan pestisida
mengakibatkan udara bersih sulit didapatkan. Udara yang tercemar berdampak pada
kesehatan masyarakat. Mesikupn tingkat kualitas udara di Hulu DAS Serayu masih lebih baik
daripada di bagian hilir, namun termasuk kategori yang perlu di lakukan perbaikan.

Komponen biotik seperti biodiversitas yang ada di Hulu DAS Serayu ikut terganggu
karena adanya aktivitas pertanian intensif. Diversitas herba dan pohon semakin berkurang.
Padahal sejatinya daerah hulu harus memiliki diversitas yang tinggi, karena daerah hulu
merupakan pensuplai jasa lingkungan bagi wilayah dibawahnya. Kerapatan vegetasi dan
keanekaragaman hayati tiap tahun berkurang. Kawasan yang semula merupakan kawasan
hutan berubah menjadi lahan pertanian dengan tanaman monokultur. Diversitas vegetasi yang
rendah tidak hanya mengganggu dalam lingkup regional DAS Serayu, namun juga
berdampak bagi wilayah diluar DAS Serayu. Kondisi tersebut dikarenakan diversitas vegetasi
dapat menyerap karbon dalam jumlah yang cukup tinggi sebagai carbon sink dan carbon
stok.

3.5. Tingkat Kerusakan Lingkungan Akibat Aktivitas Pertanian Intensif Di Kabupaten


Enrekang

Degradasi lahan yang terjadi di Kabupaten Enrekang akibat dari aktivitas pertanian.
Komoditi pertanian jagung merupakan faktor yang mengakibatkan menurunnya daya guna
lahan. Lahan yang sejatinya dapat mensuplai kebutuhan ternak sapi menjadi tidak dapat
memasok kecukupan pakan yang dibutuhkan oleh sapi. Kondisi tersebut disebabkan tingkat
diversitas tumbuhan bawah menurun, dikarenakan adanya pembasmian gulma menggunakan
herbisida yang berlebihan.

Permasalahan lingkungan khususnya ketersediaan air menjadi beban tersendiri bagi


masyarakat sekitar. Sifat tanaman jagung yang membutuhkan cahaya banyak mengakibatkan
petani jagung melakukan penanaman monokultur tanpa adanya tanaman pengisi berupa
pohon. Padahal sejatinya dengan adanya pohon dapat membantu air meresap kedalam tanah
karena adanya proses intersepsi dan aktivitas perakaran untuk meningkatkan laju infiltrasi.
Tinkat kerusakan terhadap ketersediaan air sudah mencapai kritis, karena di kabupaten
Enrekang sering terjadi defisit air tanah.

Limbah yang dihasilkan dari pertanian jagung juga berdampak pada kondisi kultural
masyarakat. Limbah jagung dibakar begitu saja tanpa melalui pengolahan yang dapat
mengurangi pencemaran udara. Kondisi tersebut berdampak pada kesehatan pernafasan

15
masyarakat apabila musim panen jagung datang. Tingkat kerusakan tersebut tergolong
sedang karena keluhan akan pernafasan masyarakat tidak banyak. Selain itu pembakaran
limbah jagung hanya dilakukan pada saat musim panen datang. Apabila tidak dalam musim
panen maka tidak dilakukan pembakaran yang dapat mengganggu pernafasan masyarakat
sekitar.

3.6. Tingkat Kerusakan Lingkungan Akibat Kegiatan Lahan Berpindah Di Provinsi


Bangka

(....)

BAB IV

PENUTUP

4.1. Kesimpulan

1. Jenis-jenis kerusakan lingkungan akibat degradasi lahan di hulu DAS Serayu yaitu
abiotik berupa tanah, air, biotik berupa biodiversitas, dan kultural berupa kualitas
udara bersih untuk kesehatan. Untuk kabupaten Enrekang yaitu abiotik berupa defisit
air, biotik berupa menurunya biodiversitas tumbuhan bawah, dan kulturan berupa
kualitas udara bersih untuk kesehatan.
2. Tingkat kerusakan lingkungan di DAS Serayu perlu penanganan serius untuk
komponen abiotik, biotik, dan kultural. Untuk Kabupaten Enrekang tingkat kerusakan
lingkungan akibat degradasi lahan masih dalam kondisi normal namun tetap perlu
penanganan yang lebih baik utnuk komponen abiotik, biotik, dan kultural.

16
Daftar Pustaka

Ainun, N.J., dkk. 2013. KERENTANAN SOSIAL EKONOMI DAN BIOFISIK DI DAS
SERAYU: Collaborative Management (Susceptibility of Socio Economic and
Biophysical in Serayu Watershed). JURNAL Penelitian Sosial dan Ekonomi
Kehutanan Vol. 10 No. 3 September 2013, Hal. 141 – 156. Balai Penelitian
Teknologi Kehutanan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Jl. A. Yani PO Box 295
Pabelan.

Anonim1. 2017. Peta Spasial Inodenesia. Badan Informasi Geospasial Indonesia. Didownload dari
www.big.go.id

Christie, Yosef Ananta, Sina, dan Ernawaty, Rika. 2013. Dampak Kerusakan Lingkungan
Akibat Aktifitas Pembangunan Perumahan (Studi Kasus di Perumahan Palaran
City Oleh PT. Kusuma Hady Property). Jurnal Beraja NITI Volume 2 Nomor 11
(2013).

17
Dariah A., A. Rachman dan U. Kurnia. 2004. Erosi dan degradasi lahan kering di Indonesia.
Dalam: Teknologi Konservasi Tanah Pada Lahan Kering Berlereng halaman:1-9.
Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat. Bogor.
Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat. 2004. Teknologi
konservasi tanah pada lahan kering berlereng. Puslitbang Tanah dan Agroklimat.
Bogor.

Gunawan dan Susanto. 2006. Hangout Strategi Pengelolaan Lingkungan. Universitas Gadjah
Mada Sekolah Pascasarjana Program Studi Ilmu Lingkungan Minat Magister
Pengelolaan Lingkungan. Yogyakarta

Haerul, dkk., 2017. PENERAPAN MODEL PERTANAMAN ALLEY CROPPING PADA


LAHAN KRITIS DI KECAMATAN MAIWA ENREKANG. Jurnal
Agrominansia, 2 (1) Juni 2017

Kementerian Kehutanan. 2011. Penutupan Lahan di Indonesia. Kementerian Kehutanan.


Jakarta.

Osman, T.K. 2014. Soil Degradation, Conservation and Remediation. Springer Dordrecht
Heidelberg New York London.

Pranadji, Tri. 2005. Kerusakan, Kemiskinan dan Kerusakan Lingkungan. Analisis Kebijakan
Pertanian. Volume 3 No. 4, Desember 2005 : 313-325. Jakarta.

Republik Indonesia. 1990. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi


Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Sekertariat Negara. Jakarta.

Republik Indonesia. 1997. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1997


tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, Sekretariat Kabinet RI, Jakarta.

Republik Indonesia. 2009. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan. Sekertariat Negara. Jakarta.

Shrestha, D.P. 1995. Land degradation assessment in a GIS and evaluation of remote sensing
data integration. International Institute For Aerospace Suvey and Earth Science
(ITC), Enschede, The Netherlands

Siahaan, N.H.T. 2004. Hukum Lingkungan dan Ekologi Pembangunan. Penerbit Erlangga.
Jakarta.

18
Singer, M.J. and D.N. Munns. 2006. Soil Degradation. Sixth Edition. Pp 354-384. In D.
Yarnell, M.Rego,A.B. Wolf (Eds.) Soils an Introduction. Pearson Prentice Hall.

Sitorus, S.R.P. 2009. Kualitas degradasi dan Rehabilitasi Lahan. Edisi Ketiga. Sekolah Pasca
Sarjana. IPB. Bogor. Hlm 42.
Kurnia, U., N. Sutrisno, dan I. Sungkawa. 2010. Perkembangan lahan kritis. Dalam
Membalik Kecenderungan Degradasi Sumbnerdaya Lahan dan Air. IPB PRESS.
Bogor

Suhartini. 2008. Pengelolaan Lingkungan. Jurusan Pendidikan Biologi Fakultas Matematika


Dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Yogyakarta. Yogyakarta.

Tandjung, S.Dj dan Gunawan, T. 2006. Ekologi dan Ilmu Lingkungan. Handout Program
Studi Ilmu Lingkungan. Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada.
Yogyakarta.

Wahyunto dan Dariah. 2014. Degradasi Lahan di Indonesia: Kondisi Existing, Karakteristik,
dan Penyeragaman Definisi Mendukung Gerakan Menuju Satu Peta. Jurnal
Sumberdaya Lahan Vol 8, No 2 (2004)

Wardana, W. 2013. Technical Document on Degraded/ Abandoned Land in Indonesia.


UNDP-REDD. 023/2013.

19