Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

World Health Organization (WHO) memperkirakan angka kematian

ibu di selirih dunia 216/100.000 KH, diantaranya Negara Eropa

16/100.000 KH, Argenia 542/100.000 KH juta jiwa setiap tahun.

Sedangkan di Asia memperkirakan angka kematian ibu 164/100.0000 KH,

diantaranya Negara Indonesia 126/100.000 KH. Kejadian kematian ibu

sebagian besar terdapat di Negara berkembang yaitu sebesar 98-99%

dimana kematian ibu di Negara berkembang 100% lebih tinggi

dibandingkan dengan Negara maju. Angka kematian ibu (AKI) di

Indonesia masih tinggi, bahkan jumlah perempuan Indonesia yang

meninggal saat melahirkan mencapai rekor tertinggi di Asia (WHO,

2015).

Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI)

penurunan AKI di Indonesia terjadi sejak tahun 1991 sampai denga 2007,

yaitu mencapai 390 menjadi 228. Namun demikian, SDKI 2012

menunjukkan peningkatan AKI yang signifikan yaitu 359 kematian ibu per

100.000 kelahiran hidup, AKI kembali menunjukkan penurunan menjadi

305 kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup berdasarkan survey

penduduk antar sensus(SDKI, 2015).

Ditinjau berdasarkan laporan profil kesehatan kab/kota, Jumlah

kematian ibu di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2015 sebanyak 619
kematian (AKI sebesar 111,16 per 100.000 kelahiran hidup), angka

kematian ini mengalami penurunan cukup signifikan dibandingkan jumlah

kasus kematian ibu pada tahun 2014 yang mencapai 711 kasus (111,16 per

100.000 kelahiran hidup). Sedangkan pada tahun 2016 terjadi penurunan

jumlah kematian pada ibu yaitu 602 kematian (AKI sebesar 109,65 per

100.000 kelahiran hidup) (DKK Provinsi Jawa Tengah, 2015).

Menutut Depkes tahun 2014, kementrian kesehatan telah melakukan

berbagai upaya percepatan penurunan AKI dan AKB antara lain mulai

tahun 2015 meluncurkan bantuan operasional kesehatan (BOK) ke

puskesmas di kabupaten/kota yang difokuskan pada kegiatan preventif dan

promotif dalam program kesehatan ibu dan anak. Penyebab kemaitian ibu

di Indonesia meliputi penyebab obstetric langsung yaitu perdarahan

(28%), preeklamsi/eklamsi (24%), infeksi (11%), sedangkan penyebab

tidak langsung adalah trauma obstetric (5%) dan lain-lain. Perdarahan

yang menyebabkan kematian ibu diantaranya adalah perdarahan nifas

sekitar 26,9% (Depkes,2014).

Berdasarkan hasil penelitian terdahulu pada tahun 2017 di RSU PKU

Muhammadiyah Bantul yang dilakukan oleh Wulandari dan Sholaikah

yang berjudul “Hubungan Umur Ibu Dan Inisiasi Menyusui Dini Dengan

Involusi Uteri’’ didapatkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap 52

responden menunjukkan bahwa ibu yang melakukan IMD mengalami

involusi uterus normal yaitu sebanyak 19 responden (36,5%), dan 16

(30,8%) responden dengan ibu yang melakukan IMD dengan involusi


tidak noemal, dan dari hasil ibu yang tidak melakukan IMD dan

mengalami involusi normal sebanyak 3 responden (5,8%) sedangkan yang

tidak melakukan IMD dan mengalami involusi tidak normal sebanyak 14

responden (26,9%) responden.

Hasil penelitian Sendra dan Dewi (2017) dengan judul hubungan

antara menyusui dengan involusi uterus pada ibu nifas fisiologis di RSIA

Aura Syifa Kabupaten Kediri 2017 dari 21 responden terdapat 14 orang

(66,67%) yang involusi uterus normal menyusui dengan benar, yang

menyusui dengan benar terdapat 16 orang (76,19%) Dan 5 orang (23,81%)

menyusui salah, hal ini bisa disebabkan karena saat persalinan di RSIA

Aura Syifa Kabupaten Kediri dilakukan IMD (Inisiasi Menyusui Dini)

yang merupakan salah satu metode memberikan ASI secara dini pada bayi

yang baru melahirkan dan dari 21 responden terdapat 15 orang (71,43%)

yang mengalami involusi uterus cepat (normal) dan 6 orang (28,57%)

yang mengalami involusi uterus lambat (Tidak normal). Involusi uterus

yang cepat bisa disebabkan karena rumah sakit menganjurkan mobulisasi

dini dan mengajari cara menyusui yang benar sebagai bemtuk asuhan

keperawatan pada ibu nifas.

Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis menyimpulkan bahwa

inisiasi menyusui dini (IMD) sangat penting karena adanya hubungan

hisapan bayi pada payudara ibu yang dapat mengakibatkan pengeluaran

hormone oksitosin yang dapat mengurangi perdarahan setelah nifas dan

membantu percepatan pemulihan otot rahim ibu. Dari kesimpulan diatas


maka penulis mengadakan studi literature yang berjudul “Pengaruh

Inisiasi Menyusui Dini (IMD) terhadap penurunan tinggi fundus uteri pada

ibu Postpartum”

B. Pembatasan dan Rumusan Masalah

Ketersediaan subyek penelitian sudah banyak tersedia yaitu sample

(proposive sampling) sebanyak 30 responden dengan kriteria inklusi pada

ibu postpartum hari ke-0 dan ibu yang melakukan inisiasi menyusui dini

(IMD). Untuk masalah ketersediaan dana tidak terdapat kendala.sedangkan

untuk masalah ketersediaan waktu sudah cukup yaitu dua bulan, alat yang

digunakan yaitu observasi, serta keahlian peneliti sudah cukup memadai

dalam menjalankan penelitian dan menggunakan alat-alat penelitian.

Masalah ini menarik bagi peneliti karena hingga saat ini, inisiasi

menyusui dini telah menjadi masalah. Masalah inisiasi menyusui dini

meningkat lebih tinggi karena rumah sakit ada yang tidak menerapkan

inisiasi menyusui dini (IMD) pada postpartum sehingga dapat

meningkatkan Angka Kematian Ibu.

Penelitian ini mengembangkan hasil penelitian terdahulu yaitu

menjelaskan bahwa inisiasi menyusui dini pada ibu postpartum dapat

menurunan tinggi fundus uteri. Dalam mengembangkan hasil penelitian

terdahulu menurut peneliti insisasi menyusui dini tersebut sangat

mempengaruhi penurunan tinggi fundus uteri. hal ini disebabkan karena

inisiasi menyusui dini dapat mendorong keluarnya hormon oksitoksin

sehingga menyebabkan kontraksi pada uterus, selain itu inisiasi menyusui


dini dapat mencegah perdarahan. Upaya untuk mengatasi perdarahan yaitu

adanya isapan bayi pada putting susu ibu sehingga hormone oksitoksin

akan keluar lebih banyak dan rahim akan berkontraksi lebih kuat sehingga

perdarahan pasca persalinan dapat dicegah.

Penelitian ini tidak bertentangan dengan etika karena sudah sesuai

dengan aturan yaitu menggunakan instrumen-instrumen yang

mendapatkan ijin dari responden.

Penelitian ini berguna untuk pengembangan ilmu pengetahuan

karena dapat mengetahui pengaruh inisiasi menyusui dini terhadap

penurunan tinggi fundus uteri yang bermakna.

C. Tujuan Penelitian

Mengidentifikasi pengaruh inisiasi menyusui dini (IMD) terhadap

penurunan tinggi fundus uteri pada ibu postpartum.

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Peneliti

Penelitian ini dapat dijadikan sebagai ilmu dasar pengetahuan dan

pengalaman bagi peneliti tentang ada tidaknya pengaruh Menyusui

terhadap penurunan tinggi fundus uteri.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi bidang akademi/ilmiah

Sebagai bacaan menambah wawasan peserta didik mengenai

pengaruh inisiasi menyusui dini terhadap penurunan tinggi fundus

uteri
b. Bagi masyarakat

Sebagai bahan masukan pentingnya inisiasi menyusui dini terhadap

penurunan tinggi fundus uteri

3. Manfaat teoritis

Hasil penelitian ini dapat dapat bermanfaat sebagai tambahan

informasi bagi menunjang keilmuan ilmiah dan sebagai acuan

menyusu penelitian selanjutnya