Anda di halaman 1dari 4

TUANKU NAN CADIAK

Semenjak dahulu, Naras merupakan jalan niaga dan jalan agama tradisional
dalam pengembangan surau di Minangkabau.. Tuanku Nan Cadiak, Kampuang
Dalam, dikenal sebagai Bagindo Maganti. Tuanku Nan Cadiak sangat disenangi
karena selalu melindungi rakyat yang membuat garam di daerah pantai.
Di Kampung Dalam, di daerah Naras ia dikenal bergelar Bagindo Maganti.
Setelah memimpin surau di Kampung Dalam, ia dipanggil muridnya Tuanku Nan
Cadiak. Di kalangan rakyat Naras dan Tujuh Koto, ia seorang ulama yang disegani,
karena selalu menjadi pelindung rakyat yang membuat garam di daerah pantai di
daerahnya.. Berkali-kali Belanda menyerang rakyat Naras dan melarang membuat
garam, selalu dipertahankan Tuanku Nan Cadiak sebagai pelindung pedagang di
daerah pantai..
Pada tahun 1814, Raja Dihulu atau Rajo Nando, mamak Tuanku Nan Cadiak,
meninggal dunia. Rajo Nando tidak mempunyai anak laki-laki yang akan
menggantikannya. Tuanku Dihilir di Pariaman, Amar Bangso Dirajo, lebih senang
apabila Bagindo Molek diangkat menjadi Raja Manggung, daerah yang berbatasan
dengan Pariaman.
Tuanku nan Cadiak menjadi pelindung dan penduduk Agam yang membawa
barang melalui Malalak terus ke Agam dan Pandai Sikek dan Koto Laweh. Ia juga
menjadi pelindung fakih dan malin yang belajar di derah pantai, seperti Ampalu
Tinggi dan Ulakan. Naras semenjak dahulu merupakan jalan niaga dan jalan agama
tradisional dalam pengembangan surau di Minangkabau.. Tuanku Nan Cadiak adalah
orang yang cerdas dan berhasil mengembalikan daerah Manggung menjadi pusat
perdagangan dan pembaruan agama di daerah pantai, sekitar Pariaman..
Elout, Residen Belanda untuk Sumatra's Westkust, mengirim surat kepada
Tuanku Nan Cadiak, Tuanku Limo Koto Kampung Dalam dan Tuanku Tujuh Koto,
menganjurkan mereka menyerah kepada Belanda. dengan perantaraan In't Veld.,
seorang saudagar di Pariaman. Dikatakannya, segala 'kesalahan' yang dilakukan
selama ini, akan dimaafkan.
Tuanku Nan Cadiak membalas surat Elout itu yang bunyinya, dengan senang hati
ia membaca surat itu dan minta maaf ia tak bisa datang ke Pariaman, karena terlalu
sibuk mengerjakan benteng. .Tuanku Nan Cadiak mengundang In"t Velt dan akan
menerimanya i Naras sambil melihat-lihat pertahanan kampung yang telah diperkuat
parit dan pertahanan meriam..
Surat yang sama yang dikirim kepada Tuanku Limo Koto. Tuanku Limo Koto
menjawab, bahwa ia akan menyerah, seandainya Tuanku Nan Cadiak telah
menyerahkan diri.. Jawaban yang keras datang dari Tuanku Tujuh Koto menyatakan
tidak akan datang kepada Anda, tetapi apabila orang Eropah mau datang, akan kami
nanti karena kami merasa puas dengan pemerintah dan pemimpin kami. Sawah kami
subur dan hasilnya mencukupi untuk keperluan kami.
Sejak semula Belanda ingin menguasai komoditi perdagangan dari Minangkabau.
Untuk itu, Belanda berusaha menguasai pelabuhan-pelabuhan di pantai barat, seperti
Naras, Tiagan dan Air Bangis. Dengan menguasai ketiga pelabuhan itu, Belanda
beranggapan akan dapat menguasai komoditi Sumatera Barat yang sangat
menguntungkannya. Usaha itu terlihat dari beberapa kegiatan pasukan Belanda
untuk menguasai pelabuhan Naras, kunci jalan dagang dari Agam melalui Malalak.
Tiagan dan Sasak di utara Tiku, suatu pelabuhan yang dilindungi bukit-bukit sebagai
saluran komoditi dari daerah Kinali dan Bonjol. Demikian juga halnya dengan Air
Bangis, pintu perdagangan dari Rao dan sekitarnya yang kaya dengan komoditi
emas.
Pasukan Bonjol bergerak ke pantai untuk memutuskan hubungan antara
pedalaman dengan daerah pantai. Dua buah meriam yang direbut di Air Bangis
(1830), diserahkan kepada Tuanku Nan Cadiak. Bantuan itu menambah semangat
Tuanku Nan Cadiak menentang kekuasaan Belanda.
Pertarungan hebat terjadi antara pasukan Belanda yang menyerang kubu
pertahanan Tuanku Nan Cadiak yang terjadi selama bulan Desember 1830. Pasukan
Bonjol membantu Tuanku Nan Cadiak setelah mengundurkan diri ke Manggopoh.
Pada tahun 1831, pasukan Belanda mencoba menyerang Naras dan Tujuh Koto di
bawah pimpinan Jendral Michiels. Naras, sebuah kampung yang bagus terbakar oleh
serangan meriam Belanda. Tuanku Nan Cadiak dan pengikutnya ingin mengungsi ke
Bonjol melalui Danau Maninjau. Pada waktu pasukan Belanda mengejarnya
rombongan Tuanku Nan Cadiak. Ibu, isteri dan putri Tuanku Nan Cadiak mati
terbunuh. Kepala isterinya dipancung dan dipertontonkan kepada rakyat di Pariaman.
Belanda mengumumkan akan memberi hadiah kepada orang yang dapat menangkap
Tuanku Nan Cadiak. Dua orang putri Tuanku Nan Cadiak disandra Elout sehingga
memaksanya menyerah kepada Belanda. Setelah menyerah kepada Belanda, Tuanku
Nan Cadiak datang ke Bonjol sebagai juru bicara Belanda pada tahun 1832. Tuanku
Imam sangat kecewa ketika Tuanku Nan Cadiak datang sebagai juru bicara Belanda..
Beberapa bulan setelah Tuanku Imam Bonjol menyerah pada akhir tahun 1832,
Tuanku Imam Bonjol berhasil mengadakan Kesepakatan Tandikek, hanya beberapa
ratus meter dari pasukan Belanda di Bonjol. Pertemuan itu merundingan untuk
melakukan serangan serentak kepada setiap pos Belanda di seluruh Minangkabau.
Tuanku Rao, Tuanku Tambusai, Tuanku Pamansiangan dan penghulu Lawang Tanah
Duo Baleh (Palembayan), negeri Danau (Maninjau), Lubuk Sikaping dan Sipisang
sepakat dengan orang Alahan Panjang melancarkan serangan serentak terhadap setiap
pos Belanda pada tanggal 11 Januari 1833.
Tuanku Imam dapat pula mempertemukan kedua pemimpin, Bagagarsyah, raja
Pagaruyung dan Sentot Ali Basyah. Tuanku Imam mengharapkan Sentot bersedia
menjadi Sultan di Minangkabau. Pada saat lebaran Sentot bersama isterinya datang
ke Pagaruyung. Sebagai seorang Islam, dia ingin berlebaran dan membayarkan zakat
fitrahnya di Pagaruyung. Di saat lewat pada penjagaan pos Belanda di benteng Fot
van der Cappelen, Sentot Prawirodirjo yang dipanggil masyarakat Minangkabau
dengan Sentot Alibasya menegur mereka dengan sindiran, Bagagarsyah dan semua
penghulu di Pagaruyung berjanji di bawah sumpah setia (bai'at) pada Sentot bahwa
mereka akan mempertahankan agama dan negeri dari serangan Belanda.
Elout sebagai Residen Sumatra's West kust melapor kepada atasannya Gubernur
Jendral di Batavia, bahwa Minangkabau telah aman dan siap untuk melakukan
tanaman paksa kopi. Ternyata seluruh Minangkabau melakukan serangan serentak,
sehingga Elout, Residen Belanda, merasa dikhianati. Sentot menangkap para
penghulu dan pejuang di Guguk Sigandang. Kemudian menangkap Sentot Prawiro
Dirjo, yang dikenal orang Minangkabau dengan panggilan Ali Basyah, Bagagarsyah
Yang Dipertuan Kerajaan Pagaruyung dan Tuanku Nan Cadiak dari Naras. Tuanku
Nan Cadiak ditangkap dan dikirim ke Batavia kemudian disekap dalam penjara di
bawah tanah di Taman Fatahilah sekarang sampai ia meninggal dunia beberapa tahun
kemudian. Tak terbayang di muka Tuanku Nan Cadiak penyesalan sedikit pun.
-SAN-
Sumber: Sjafnir Aboe Nain, drs, Tuanku Imam Bonjol, Sejarah Intelektual Islam di Minangkabau, 1784-
1832, Penerbit ESA, Padang 1988
Boelhouwer, L.C.Henneringen van mijn verblijf of Sumtra's Westkust, Gedurende de Jaaren 1831-
1834, terjemahan Djafri Dt. Lubuk Sati, Pengalamanku Perang di Sumatera Barat 1831-1834,