Anda di halaman 1dari 12

DESAIN & STRATEGI PEMBELJARAN

MODEL PEMBELAJARAN PROBLES BASED LEARNING

Disusun Oleh Kelompok 4 :


1. Faisal Muhaidin 2181000220056
2. Maria Angreni Bria 2181000220065

Dosen Pengampu :
Dwi Candra Setiawan, S.Si., S.Pd., M.Pd.

PRODI PENDIDIKAN BIOLOGI


INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU KEPENDIDIKAN
TAHUN AJARAN 2019/2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan
rahmat, hidayah, serta inayah-Nya kepada penulis sehingga makalah yang
berjudul “Model Pembelajaran Problem Based Learning” ini dapat
diselesaikan.

Adapun maksud dan tujuan dalam penyusunan makalah ini selain


untuk menyelesaikan tugas yang diberikan dosen pengajar, yaitu untuk
memperluas pengetahuan para mahasiswa.

Penulis menyadari keterbatasan dalam penulisan makalah ini. Untuk


itu, kritik dan saran dari pembaca sangat diharapkan untuk menyempurnakan
makalah ini. Semoga makalah ini dapat menjadi referensi yang bermanfaat
untuk perkembangan ilmu pengetahuan di masa yang akan datang.

Malang, 24 Maret 2020

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR....................................................................................ii

DAFTAR ISI.................................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN

1.1.............................................................................. Latar Belakang.......1


1.2......................................................................... Rumusan Masalah.......1
1.3.......................................................................... Tujuan Penulisan.......2

BAB II PEMBAHASAN

2.1. Pengertian dari Problem Based Learning.................................3


2.2. Tahapan Sistem Pembelajaran Problem Based Learning.........4
2.3. Kelebihan dan Kekurangan Problem Based Learning.............5

BAB III PENUTUP

3.1.................................................................................. Kesimpulan.......7
3.2............................................................................................ Saran.......7

DAFTAR PUSTAKA.....................................................................................9

iii
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Pendidikan merupakan aspek penting dalam kehidupan setiap
individu.Semua orang berhak untuk mendapatkan pendidikan untuk
kepentingan masa depannya. Dalam penyelenggaraannya, di sekolah pasti
melibatkan pendidik dan peserta didik yang diterapkan dengan adanya
interaksi belajar mengajar sebagai proses pembelajaran. Dalam dunia
pendidikan guru dituntut merencanakan pembelajaran yang sistematis.

Pada proses pembelajaran di kelas hingga saat ini masih juga


ditemukan pengajar yang memposisikan peserta didik sebagai objek belajar,
bukan sebagai individu yang harus dikembangkan potensi yang dimilikinya.
Hal ini dapat mematikan potensi peserta didik. Dan dalam keadaan tersebut
peserta didik hanya mendengarkan pidato guru di depan kelas, sehingga
mudah sekali peserta didik merasa bosan dengan materi yang diberikan.
Akibatnya, peserta didik tidak paham dengan apa yang baru saja disampaikan
oleh guru.

Pada model pembelajaran berbasis masalah berbeda dengan model


pembelajaran yang lainnya, dalam model pembelajaran ini, peranan guru
adalah menyodorkan berbagai masalah, memberikan pertanyaan, dan
memfasilitasi investigasi dan dialog. Guru memberikan kesempatan kepada
peserta didik untuk menetapkan topik masalah yang akan dibahas, walaupun
sebenarnya guru telah menetapkan topik masalah apa yang harus dibahas. Hal
yang paling utama adalah guru menyediakan perancah atau kerangka
pendukung yang dapat meningkatkan kemampuan penyelidikan dan
intelegensi peserta didik dalam berpikir. Proses pembelajaran diarahkan agar
peserta didik mampu menyelesaikan masalah secara sistematis dan logis.
Model pembelajaran ini dapat terjadi jika guru dapat menciptakan lingkungan
kelas yang terbuka dan jujur, karena kelas itu sendiri merupakan tempat
pertukaran ide-ide peserta didik dalam menanggapi berbagai masalah.

1
Pada kenyataannya, tidak semua guru memahami konsep PBL
tersebut, baik disebabkan oleh kurangnya keinginan dan motivasi untuk
meningkatkan kualitas keilmuan maupun karena kurangnya dukungan sistem
untuk meningkatkan kualitas keilmuan tenaga pendidik.

Berdasarkan hal tersebut, maka perlu kiranya ada sebuah bahan kajian
yang mendalam tentang apa dan bagaiamana Pembelajaran Berbasis Masalah
(Problem Based Learning) ini untuk selanjutnya diterapkan dalam sebuah
proses pembelajaran, sehingga dapat memberi masukan, khususnya kepada
para guru tentang Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning)
dan kepada para ahli dan praktisi pendidikan yang memusatkan perhatiannya
pada pengembangan dan invovasi dalam sistem pembelajaran.

1.2. Rumusan Masalah


1. Apa pengertian dari problem based learning ?
2. Bagaiamana tahapan sistem pembelajaran problem based learning ?
3. Apa kelebihan dan kekurangan pada problem based learning ?

1.3. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian dari problem based learning.
2. Untuk mengetahui tahapan sistem pembelajaran problem based learning.
3. Untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan problem based learning.

2
BAB 2

PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Dari Problem Based Learning.


Pembelajaran Berbasis Masalah yang berasal dari bahasa Inggris
Problem Based Learning adalah suatu pendekatan pembelajaran yang
dimulai dengan menyelesaikan suatu masalah, tetapi untuk menyelesaikan
masalah itu peserta didik memerlukan pengetahuan baru untuk dapat
menyelesaikannya (Novit dan Endah, 2104). Pendekatan pembelajaran
berbasis masalah (problem-based learning / PBL) adalah konsep
pembelajaran yang membantu guru menciptakan lingkungan pembelajaran
yang dimulai dengan masalah yang penting dan relevan (bersangkut-paut)
bagi peserta didik, dan memungkinkan peserta didik memperoleh
pengalaman belajar yang lebih realistik (nyata) (Dita & Ricka, 2014).
Problem Based Learning merupakan salah satu cara yang harus
banyak digunakan dalam pembelajaran karena metode pemecahan masalah
merupakan metode mengajar yang banyakmengembangkan kemampuan
berpikir tingkat tinggi. Metode pemecahan masalah sering juga digunakan
dalam implementasi pembelajaran terpadu maupun kontekstual karena
pebelajaran ini dikembangkan secara integritas antara kemampuan siswa
dengan topik bahasan maupun lingkungan (Sri Anitah, 2008).
Oleh karena itu, pengajaran berdasarkan masalah merupakan
pendekatan yang efektif untuk pengajaran proses berfikir tingkat tinggi.
Pembelajaran ini membantu peserta didik untuk memproses informasi
yang sudah jadi dalam benaknya dan menyusun pengetahuan mereka
sendiri tentang dunia sosial dan sekitarnya. Pembelajaran ini cocok untuk
mengembangkan pengetahuan dasar maupun kompleks

3
2.2. Tahapan Sistem Pembelajaran Problem Based Learning.
Banyak ahli yang menjelaskan bentuk penerapan SPBM. John
Dewey seorang 6 langkah SPBM yang kemudian dia namakan metode
pemecahan masalah (problem solving), yaitu :
a. Merumuskan masalah yaitu langkah siswa menentukan masalah
yang akan dipecahkan.
b. Menganalisis masalah, yaitu langkah siswa meninjau masalah secar
kritis dari berbagai sudut pandang.
c. Merumuskan hipotesis yaitu langkah siswa merumuskan berbagai
kemungkinan pemecahan sesuai dengan pengetahuan yang
dimilikinya.
d. Mengumpulkan data, yaitu langkah siswa mencari dan
menggambarkan informasi yang diperlukan untuk pemecahan
masalah.
e. Pengujian hipotesis, yaitu langkah siswa mengambil atau
merumuskan kesimpulan sesuai dengan penerimaan dan penolakan
hipotesis yang diajukan.
f. Merumuskan rekomendasi pemecahan masalah yang dapat dilakukan
sesuia rumusan hasil pengujian hipotesis dan rumusan kesimpulan
(Hamdayana, 2014).

David johnson dan jihnson mengemukakan ada 5 langkah model


pembelajaran berbasis masalah melalui kegiatan kelompok, sebagai
berikut :
a. Mengidentifikasi masalah, yaitu merumuskan masalah dari peristiwa
tertentu yang mengandung isu koflik. Hingga siswa menjadi jelas
masalah apa yang akan dikaji. Dala kegiatan ini guru bsa meminta
pendapat dan penjelasan siswa tentang isu-isu hangat yang menarik
untuk dipecahkan.
b. Mendiagnosis masalah, yaitu menentukan sebab-sebab terjadi nya
masalah serta menganalisis berbagai faktor baik faktor yang bisa
menghambat maupun faktor yang dapat mendukung dalam

4
penyelesaian masalah. Kegiatan ini bisa dilakukan dalam diskusi
kelompok kecil hingga pada akhirnya siswa dapat mengurutkan
tindakan-tindakan prioritas yang dilakukan sesuai dengan janis
penghambat yang diperkirakan.
c. Merumuskan alternatif strategi, yaitu menguji setiap tindakan yang
telah dirumuskan melalui diskusi kelas. Pada tahapan ini setiap siswa
didorong untuk berpikir mengemukakan pendapat dan argumentasi
tentang kemungkinan setiap tindakan yang dapat dilakukan.
d. Menentukan dan menerapkan strategi piliham, yaitu pengambilan
keputusan tentang strategi mana yang dapat dilakukan.
e. Melakukan evaluasi, baik evaluasi proses maupun evaluasi hasil.
Evaluasi proses adalah evaluasi terhadap seluruh kegiatn
pelaksanaan kegiatan sedangkan evaluasi hasil adalah evaluasi
terhadap akibat dari penerapan strategi yang diterapkan (Sanjaya,
2014).

3.3. Kelebihan dan Kekurangan Problem Based Learning.


a. Kelebihan Problem Based Learning.
1. Pemecahan masalah (problem solving) merupakan teknik yang
cukup bagus untuk lebih memahami isi pelajaran.
2. Pemecahan masalah (problem solving) dapat menantang
kemampuan siswa serta memberikan kepuasan untuk
menemukan pengetahuan baru bagi siswa.
3. Pemecahan masalah (problem solving) dapat meningkatkan
aktivitas pembelajaran siswa.
4. Pemecahan masalah (problem solving) dapat membantu siswa
bagaimana mentransfer pengetahuan mereka untuk memahami
masalah dalam kehidupan yata.
5. Pemecahan masalah (problem solving) dapat membantu siswa
untuk mengembangkan pengetahuan barunya dan bertanggung
jawab dalam pembelajaran yang mereka lakukan. Disamping itu,

5
pemecahan masalah itu juga dapat mendorong untuk melakukan
evaluasi sendiri baik terhadap hasil maupun proses belajarnya.
6. Melalui pemecahan masalah (problem solving) bisa
memperlihatkan kepada siswa bahwa setiap mata pelajaran
(matematika, IPA, sejarah, dan lain sebagainya), pada dasarnya
merupakan cara berpikir, dan sesuatu yang harus dimengerti
oleh siswa, bukan hanya sekedar belajar dari guru atau dari
buku-buku saja.
7. Pemecahan masalah (problem solving) dianggap lebih
menyenangkan dan diskusi siwa.
8. Pemecahan masalah (problem solving) dapat mengembangkan
kemampuan siswa untuk berpikir kritis dan mengembangkan
kemampuan mereka untuk menyesuaikan dengan pengetahuan
baru.
9. Pemecahan masalah (problem solving) dapat memberikan
kesempatan pada siswa untuk mengaplikasikan pengetahuan
yang mereka miliki dalam dunia nyata.
10. Pemecahan masalah (problem solving) dapat mengembangkan
minat siswa untuk secara terus-menerus belajar sekalipun belajar
pada pendidikan formal telah berakhir (Warsono, 2013).

b. Kekurangan Problem Based Learning.


1. Manakala siswa tidak memiliki minat atau tidak memiliki
kepercayaan bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk
dipecahkan, maka mereka akan merasa enggan untuk mencoba.
2. Keberhasilan strategi pembelajaran melalui problem solving
membutuhkan cukup waktu untuk persiapan.
3. Tanpa pemahaman mengapa mereka berusaha untuk
memecahkan masalah yang sedang dipelajari, maka mereka
tidak akan belajara apa yang mereka ingin pelajari (Warsono,
2013).

6
BAB 3
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Dari penjabaran materi yang telah dibahas dapat diketahui bahwa
Problem Based Learning adalah suatu pendekatan pembelajaran yang
dimulai dengan menyelesaikan suatu masalah, tetapi untuk menyelesaikan
masalah itu peserta didik memerlukan pengetahuan baru untuk dapat
menyelesaikannya. Selain itu terdapat tahapan dalam pembelajaran
problem based learning, yaitu :
a. Merumuskan masalah yaitu langkah siswa menentukan masalah
yang akan dipecahkan.
b. Menganalisis masalah, yaitu langkah siswa meninjau masalah secar
kritis dari berbagai sudut pandang.
c. Merumuskan hipotesis yaitu langkah siswa merumuskan berbagai
kemungkinan pemecahan sesuai dengan pengetahuan yang
dimilikinya.
d. Mengumpulkan data, yaitu langkah siswa mencari dan
menggambarkan informasi yang diperlukan untuk pemecahan
masalah.
e. Pengujian hipotesis, yaitu langkah siswa mengambil atau
merumuskan kesimpulan sesuai dengan penerimaan dan penolakan
hipotesis yang diajukan.
f. Merumuskan rekomendasi pemecahan masalah yang dapat dilakukan
sesuia rumusan hasil pengujian hipotesis dan rumusan kesimpulan.
Dan pada model pembelajaran ini terdapat banyak kelebihan
dibandingkan kekurangannya.

3.2. Saran
Sebaiknya dalam proses pembelajaran kita sebagai calon pendidik
harus lebih peka terhadap anak didik, kita juga harus memberikan

7
pengarahan agar peserta didik mampu mengembangkan pemikirannya agar
peserta didik bisa memahami dan mengerti materi pembelajaran
berdasarkan bentukan pemikiran mereka sendiri sesuai dengan kenyataan.

8
DAFTAR PUSTAKA

Anita, Sri dkk. 2008. Strategi Pembelajaran di SD. Jakarta : Universitas Terbuka.
Hamdayana, Jumanta. 2014. Model dan Metode Pembelajaran Kreatiif dan
Berkarakter. Bogor : Ghalia Indonesia.
P, Novit Karunia dan Nur Endah Permata S. 2014. Metode Pembelajaran
“Problem Based Learning”. Makalah.
Sanjaya, H. Wina. 2014. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses
Pendidikan. Jakarta : Kencana.
Vitara, Dita dan Ricka Sita Saraswati Pratami. 2014. Model Pembelajaran PBL
(Problem Based Learning). Makalah.
Warsono. 2013. Pembelajaran Aktif Teori dan Asesmen. Bandung : PT. Remaja
Rosdakarya.