Anda di halaman 1dari 38

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Dasar Fraktur
1. Definisi
Fraktur adalah putusnya hubungan normal suatu tulang atau tulang
rawan yang disebabkan oleh kekerasan (E. Oerswari, 1989, dalam
Jitowiyono dan Krisitiyanti, 2010)
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringfan tulang yang
umumnya di sebabkan oleh rudapaksa (Mansjoer et al, 2000).
Sedangkan menurut Linda Juall C. Dalam buku Nursing Care Plans
and Documentation menyebutkan bahwa fraktur adalah rusaknya
kontinuitas tulang yang disebabkan tekanan dari luar yang datang lebih
besar dari yang diserap oleh tulang.
Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan
tulang atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa
(Mansjoer, 2000 dalam Jitowiyono dan Kristiyanasari, 2010)
2. Klasifikasi Fraktur
Berdasarkan sifat fraktur (luka yang di timbulkan)
a. Fraktur tertutup (closed), bila tidak terdapat hubungan antara
fragmen tulang dengan dunia luar. Klasifikasi pada fraktur tertutup
berdasarkan jaringan lunak sekitar trauma, yaitu :
1) Tingkat 0 : fraktur biasa dengan sedikit atau tanpa cedera
jaringan lunak sekitarnnya.
2) Tingkat 1 : fraktur dengan abrasi dangkal atau memar kulit dan
jaringan subkutan.
3) Tingkat 2 : fraktur yang lebih berat dengan kontunsio jaringan
lunak bagian dalam dan pembengkakan.
4) Tingkat 3 : cedera berat dengan krusakan jaringan lunak yang
nyata dan ancaman sindroma kompartement. [ CITATION Kho13 \l
1057 ]

5
6

b. Fraktur terbuka (open/ compound), bila terdapat hubungan antara


fragmen tulang dengan dunia luar karena adanya perlukaan kulit.
Menurut R. Gustino fraktur terbuka dibagi atas 3 derajat :
1) Derajat I
a) Luka kurang dari 1cm
b) Kerusakanjaringan lunak sedikit, tidak ada luka remuk
c) Fraktur sederhana, tranversal, atau kominutif ringan
d) Kontaminasi minimal
2) Derajat II
a) Laserasi lebih dari 1 cm
b) Kerusakan jaringan lunak, tidak luas, flap/ avulsi
c) Fraktur kominutif sedang
d) Kontaminasi sedang
3) Derajat III
Terjadi kerusakan jaringan lunak yang luas meliputi struktur
kulit, otot, dan neurovaskuler serta kontaminasi derajat tinggi.
(Hardi A, 2015).
Tipe III dibagi lagi dalam tiga subtipe :
a) Tipe III a
Jaringan lunak cukup menutup tulang yang patah walaupun
terdapat laserasi yang hebat ataupun adanya flap. Fraktur
bersifat segmental atau kominutif yang hebat.
b) Tipe III b
Fraktur disertai dengan trauma hebat dengan kerusakan dan
kehilangan jaringan, terdapat pendorongan (stripping)
periost, tulang terbuka, kontaminasi yang hebat serta
fraktur komunitif yang hebat.
c) Tipe III c
Fraktur terbuka yang disertai dengan kerusakan arteri yang
memerlukan perbaikan tanpa memperhatikan tingkat
kerusakan jaringan lunak. [ CITATION Cha12 \l 1057 ]
7

Berdasarkan komplit atau ketidakkomplitan fraktur :


a. Fraktur komplit
Bila garis patah melalui seluruh penampang tulang atau melalui
kedua korteks tulang.
b. Fraktur inkomplit
Bila garis patah tidak melalui seluruh penampang tulang seperti :
1) Hair line fraktur (patah retak rambut)
2) Bruckle atau torus fraktur, bila terjadi lipatan dari satu korteks
dengan kompensasi tulang spongiosa di bawahnya.
3) Green stick, mengenai satu korteks dengan angulasi korteks
lainnya yang terjadi pada tulang panjang.
Berdasarkan bentuk garis patah dan hubungannya dengan mekanisme
trauma.
a. Fraktur transfersal
Fraktur yang arahnya melintang pada tulang dan merupakan akibat
trauma angulasi atau langsung.
b. Fraktur oblik
Fraktur yang arah garis patahnya membentuk sudut terhadap
sumbu tulang dan merupakan akibat trauma angulasi juga.
c. Fraktur spiral
Fraktur yang arah garis patahnya berbentuk spiral yang disebabkan
taruma rotasi.
d. Fraktur kompresi
Fraktur yang terjadi karena trauma aksial fleksi yang mendorong
tulang ke arah permukaan lain.
e. Fraktur avulsi
Fraktur yang diakibatkan karena trauma tarikan atau traksi otot
pada insersinya pada tulang.
Berdasarkan jumlah garis patah :
a. Fraktur komunitif
Fraktur dimana garis patah lebih dari satu dan saling berhubungan.
8

b. Fraktur segmental
Fraktur dimana garis patahnya lebih dari satu tetapi tidak
berhubungan.
c. Fraktur mulitiple
Fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak pada tulang
yang sama.
Berdasarkan pergeseran fragmen tulang :
a. Fraktur undisplcaed (tidak bergeser)
Garis patah lengkap tetapi kedua fragmen tidak bergeser dan
periosteum masih utuh.
b. Fraktur displaced (bergeser)
Terjadi pergeseran fragmen tulang yang juga disebut lokasi
fragmen, terbagi atas :
1) Disokasi ad lungotudinam cum contractionum (pergeseran
searah sumbu).
2) Dislokasi ad axim (pergeseran yang membentuk sudut).
3) Dislokasi ad latus (pergeseran dimana kedua fragmen saling
menjauh). [ CITATION Kho13 \l 1057 ]
3. Etiologi
a. Kekerasan langsung
Kekerasan langsung menyebabkan patah tulang pada titik
terjadinya kekerasan. Fraktur sering bersifat terbuka dengan garis
patah melintang atau miring
b. Kekerasan tidak langsung
Kekerasan tidak langsung menyebabkan patah tulang di tempat
yang jauh dari tempat terjadinya kekerasan.yang patah biasanya
adalah bagian yang paling lemah dalam jalur hantaman vektor
kekerasan.
c. Kekerasan akibat tarikan otot
9

Patah tulang akibat tarikan otot sangat jarang terjadi. Kekuatan


dapat berupa pemuntiran, penekukan, dan penekanan, kombinasi
dari ketiganya, daan penarikan.

4. Faktor Yang Mempengaruhi Fraktur


a. Faktor Ekstrinsik
Adanya tekanan dari luar yang bereaksi pada tulang yang
tergantung teradap besar, waktu, dan arah tekanan yang dapat
menyebabkan fraktur.
b. Faktor Intrinsik
Beberapa sifat yang terpenting dari tulang yang menentukan daya
tahan untuk timbulnya fraktur seperti kapasitas absorbsi dari
tekanan, elastis, kelelahan, dan kepadatan atau kekerasa tulang.
c. Faktor Penyembuhan
1) Faktor pengobatan
2) Usia penderita
3) Beratnya fraktur
4) Vaskularisasi di sekitar tulang yang fraktur
5) Gizi penderita (Nasar, 2010)
5. Manifestasi Klinik
a. Deformitas
b. Bengkak/ edema
c. Echimosis (memar)
d. Spasme otot
e. Nyeri
f. Kurang/ hilang sensasi
g. Krepitasi
h. Pergerakan abnormal
i. Rontgen abnormal [ CITATION Cha12 \l 1057 ]
10

6. Patofisiologi
Fraktur gangguan pada tulang biasanya disebabkan oleh trauma
gangguan adanya gaya dalam tubuh, yaitu stress, gangguan fisik,
gangguan metabolik, patologik. Kemampuan otot mendukung tulang
turun, baik yang terbukan maupun yang tertutup. Kerusakan pembuluh
darah akan mengakibatkan perdarahan, maka volume darah menurun.
COP menurun maka terjadi perubahan perfusi jaringan. Hematoma
akan mengksudasi plasma dan poliferasi menjadi edem lokal maka
penumpukan dalam tubuh. Fraktur terbuka atau tertutup mengenai
serabut saraf yang dapat menimbulkan gangguan rasa nyaman nyeri.
Selain itu dapat mengenai tulang dan dapat terjadi neurovaskuler yang
menimbulkan nyeri gerak sehingga mobilitas fisiknya terganggu.
Disamping itu fraktur terbuka dapat mengenai jaringan lunak yang
kemungkinan dapat terjadi infeksi terkontaminasi dengan udara luar
dan kerusakan jaringan lunak akan mengakibatkan gangguan
kerusakan intregitas kulit. Fraktur adalah patah tulang, biasanya
disebabkan oleh trauma gangguan metabolik, patologik yang terjadi
terbuka atau tertutup. Pada umumnya pada pasien fraktur terbuka
maupun tertutup akan dilakukan imobilitas yang bertujuan untuk
mempertahankan fragmen yang telah dihubungkan tepat pada
tempatnya sampai sembuh. [ CITATION and13 \l 1057 ]
Jejas yang ditimbulkan karena adanya fraktur menyebabkan rupturnya
pembuluh darah sekitar yang dapat menyebabkan terjadinya
perdarahan. Respon dini terhadap kehilangan darah adalah kompenasi
tubuh, sebgai contoh vasokontriksi progresif dari kulit, otot dan
sirkulasi viseral. Karen adanya cedera, rspon terhadap berkurangnya
volume darah yang akut adalah peningkatan detak jantung sebagai
usaha untuk menjaga output jantung, pelepasan katekolamin-
katekolamin endogen meningkatkan tahanan pembuluh perifer. Hal ini
akan meningkatkan tekanan darah diastolik dan mengurangi tekanan
nadi, tetpai hanya sedikit membantu meningkatkan perfusi organ.
11

Hormon- hormon lain yang bersifat vasoaktif juga dilepaskan kedalam


sirkulasi sewaktu terjadinya shock, termasuk histamin, bradikinin
betaendorphin dan jumlah besar prostanoid dan sitokin- sitokin lain.
Subtansi ini berdampak besar pada mikrosirkulasi dan permeabilitas
pembuluh darah. Pada shock perdarahan yang masih dini, mekanisme
kompensasi sedikit mengatur pengembalian darah (venous return)
dengan cara kontraksi volume darah didalam sistem venasistemik.
Cara yang paling efektif untuk memulihkan kardiak pada tingkat
seluler, sel dengan perfusi dan oksigenasi tidak adekuat tidak
mendapat substrat esensial yang sangat diperlukan untuk metabolisme
aerobik normal dan produksi energi. Pada keadaan awal terjadi
kompensasi dengan berpindah ke metabolisme anaerobik, hal mana
mengakibatkan pembentukan asam laktat dan berkembangnya asidosis
metabolik. Bila shocknya berkepanjangan dan penyampaian substrat
untuk pembentukan ATP tidak memadai, maka membran sel tidak
dapat lagi mempertahankan intregitasnya dan gradientnya elektrik
normal hilang. Pembengkakan retikulum endoplasmik merupakan
tanda ultrastruktural pertama dari hipoksia seluler setelah itu tidak
lama lagi akan diikuti cedera mitrokondria. Lisosom pecah dan
melepaskan enzim yang mencernakan struktural intraseluler. Bila
proses ini berjalan terus terjadilah pembengkakan sel. Juga terjadi
penumpukan kalsium intra seluler. Bila proses ini berjalan terus,
terjadilah pembengkakan sel. Juga terjadi penumpukan kalsium intra
seluler. Bila proses ini berjalan terus terjadilah cidera seluler yang
progresif, penambahan edema jaringan dan kematian sel. Proses ini
memperberat dampak kehilangan darah dan hipoperkusi.
( Purwadinata, 2000 dalam Wijaya dan Putri, 2013)
Suatu tulang patah perdarahan biasanya terjadi disekitar tempat
patah dan kedalam jaringan lunak sekitar tulang tersebut. Jaringan
lunak biasanya mengalami kerusakan. Reaksi peradangan biasanya
timbul hebat setelah fraktur. Sel – sel darah putih dan sel mast
12

berakumulasi sehingga menyebabkan penigkatan aliran darah ketempat


tersebut. Fagositosis dan pembersihan sisa – sisa sel mati dimulai.
Ditempat patah terbentuk fibrin atau hematoma fraktur yang berfungsi
sebagai jala – jala untuk melakukan aktivitas osteoblast terangsang dan
terbentuk tulang baru di imatur yang disebut callus bekuan fibrin
direabsorsi dan sel – sel tulang baru mengalami remodeling untuk
membentuk tulang sejati (Corwin, 2000 dalam Wijaya dan Putri 2013)
Insufisiensi pembuluh darah atau penekanan serabut saraf yang
berkaitan dengan pembekakan yang tidak ditangani dapat menurunkan
asupan darah ekstremitas dan mengakibatkan kerusakan perifer. Bila
tidak terkontrol pembekakan dapat mengakibatkan peningkatan
tekanan jaringan, oklusi darah total dapat berakibat anoksia jaringan
yang mengakibatkan rusaknya serabut saraf maupun jaringan otot.
Komplikasi ini dinamakan sindrom kompartemen.( Brunner &
Suddarth, 2005 dalam Wijaya dan Putri 2013)
13

7. Pathways
14
15

8. Pemeriksaan Diagnostik
a. Pemeriksaan rontgen
Menentukan lokasi/ luasnya fraktur/ lusnya trauma, scan tulang,
temogram,
b. Scan tulang, scan CT/ MRI
Memperlihatkan fraktur juga dapat di gunakan untuk
mengidentifikasi kerusakan jaringan lunak.
c. Hitung darah lengkap
Hemokonsentrasi mungkin meningkat, menurun pada perdarahan,
peningkatan leukosit sebagai respon terhadap peradangan.
d. Kreatinin trauma otot meningkat meningkatkan beban kreatinin
untuk klirens ginjal
e. Profil koagulasi
Perubahan dapat terjadi pada kehilangan darah, transfusi atau
cedera hati
f. Arteriogram
Dilakukan untuk memastikan ada tidaknya kerusakan vaskuler.
9. Penatalaksanaan
a. Penatalaksanaan Medik
1) Fraktur Terbuka
Patah tulang terbuka memrlukan pertolongan segera.
Penundaan waktu dalam memberikan pertolongan akan
mengakibatkan komplikasi infeksi karena adanya pemaparan
dari lingkungan luar. Waktu yang optimal untuk melaksanakan
tindakan sebelum 6- 7 jam sejak kecelakaan, disebut golden
period.
Tahap- tahap pengobatan fraktur terbuka :
a) Pembersihan luka
b) Eksisi jaringan yang mati dan tersangka mati (debridemen)
16

c) Pengobatan fraktur dengan fiksasi eksterna atau fiksasi


interna
d) Penutupan kulit
e) Pemberian antibiotik
f) Pencegahan tetanus. (Lukman Nurna, 2012)
2) Seluruh Fraktur
a) Rekognisi; diagnosis dan penilaian fraktur
Prinsip pertama adalah mengetahui dan menilai keadaan
fraktur dengan anamnesis, pemeriksaan klinik dan
radiologis. Pada awal pengobatan perlu diperhatikan :
lokasi fraktur, bentuk fraktur, menentukan teknik yang
sesuai untuk pengobatan, komplikasi yang mungkin terjadi
selama dan sesudah pengobatan.
b) Reduction; reduksi fraktur apabila perlu
Restorasi fragmen fraktur dilakukan untuk mendapatkan
posisi yang dpat diterima. Pada fraktur intra- artikuler
diperlukan reduksi anatomis dan sedapat mungkin
mengembalikan fungsi normal dan mencegah komplikasi
seperti kekauan, deformitas serta perubahan osteoartritis di
kemudian hari.
Posisi yang baik adalah alignment yang sempurna dan
aposisi yang sempurna.
Fraktur seperti fraktur klavikula, iga dan fraktur impaksi
dari humerus tidak memerlukan reduksi. Angulasi < 5°
pada tulang panjang anggota gerak bawah dan lengan atas
dan angulasi sampai 10° pada humerus dapat diterima.
Terdapat kontak sekurang- kurangnya 50% dan over-
riding tidak melebihi 0,5 inchi pada fraktur femur. Adanya
rotasi tidak dapat diterima dimanapun lokalisasi fraktur.
c) Retention; imobilisasi fraktur
17

Upaya yang dilakukan untuk menahan fragmen tulang


sehingga kembali seperti semula secara optimum.
Imobilisasi fraktur. Setelah fraktur direduksi, fragmen
tulang harus di imobilisasi, atau di pertahankan dalam
posisi kesejajaran yang sampai terjadi penyatuan.
Imobilisasi dapat dilakukan dengan fiksasi interna maupun
eksterna. Metode fiksasi eksterna meliputi pembalutan,
gips, bidai, traksi kontinyu, atau fiksator eksterna. Implan
logam dapat digunakan untuk fiksasi interna yang berperan
sebagai bidai interna untuk mengimobiliasi fraktur
d) Rehabilitation; mengembalikan aktivitas fungsional
semaksimal mungkin.
b. Penatalakanaan Keperawatan
1) Terlebih dahulu perhatikan adanya perdarahan, shock, dan
penurunan kesadaran, baru periksa patah tulang.
2) Atur posisi, tujuannya untuk menimbulkan rasa nyaman,
mencegah komplikasi
3) Pemantauan neurocirculatory pada daerah yang cidera adalah :
a) Meraba lokasi apakah masih hangat
b) Observasi warna
c) Menekan pada akar kuku dan perhatikan pengisian kembali
kapiler
d) Tanyakan pada pasien mengenai rasa nyeri atau hilang
sensasi pada lokasi cedera
e) Meraba lokasi cedera apakah pasien bisa membedakan rasa
sensasi nyeri
f) Observasi apakah daerah fraktur bia digerakkan
4) Pertahankan kekuatan dan pergerakan
5) Mempertahankan gizi, makan- makanan yang tinggi serat.
Anjurkan intake protein 150- 300gr/ hari
18

6) Memperhatikan imobilisasi fraktur yang telah direduksi dengan


tujuan untuk mempertahankan fragmen yang telah
dihubungkan tetap pada tempatnya sampai sembuh. (Wijaya &
Putri, 2013)
10. Komplikasi
Komplikasi fraktur dibagi menjadi 2 :
a. Komplikasi awal
1) Kerusakan arteri
Pecahnya arteri karena trauma bisa ditandai dengan tidak
adanya nadi, CRT menurun, sianosis bagian distal, hematoma
yang lebar, dan dingin pada ekstremitas yang disebabkan oleh
tindakan emergensi splinting, perubahan posisi pada yang sakit,
tindakan reduksi, dan pembedahan.
2) Sindrom kompartemen
Kompartemen sindrom merupakan komplikasi serius yang
terjadi karena terjebaknya otot, tulang, saraf dan pembuluh
darah dalam jaringan parut. Ini disebabkan karena oedema atau
perdarahan yang menekan otot, sarat dan pembuluh darah.
Selain itu karena tekanan dari luar seperti gips dan pemebdahan
yang terlalu kuat.
3) Fat Embolism Syndrom
Fat Embolism Syndrom (FES) adalah komplikasi serius yang
sering terjadi pada kasus fraktur tulang panjang. FES terjadi
karena sel- sel lemak yang dihasilkan bone marrow kuning
masuk ke aliran darah dan menyebabkan tingkat oksigen dalam
darah rendah yang ditandai dengan gangguan pernafasan,
takikardi, hipertensi, takipneu, demam.
4) Infeksi
Sistem pertahanan tubuh rusak bila ada trauma pada jaringan.
Pada trauma orthopedic infeksi dimulai pada kulit (superfisial)
dan masuk ke dalam. Ini biasanya terjadi pada kasus fraktur
19

terbuka, tapi bisa juga karena penggunaan bahan lain dalam


pembedahan seperti pin dan plat.
5) Avaskuler Nekrosis
Avaskuler Nekrosis (AVN) terjadi karena aliran darah ke tulang
rusak atau terganggu yang bisa menyebabkan nekrosis tulang
dan diawali dengan adanya Volkman’s Ischemia.
6) Shock
Shock terjadi karena kehilangan banyak darah dan
meningkatnya permeabilitas kapiler yang bisa menyebabkan
menurunnya oksigenasi. Ini biasanya terjadi pada fraktur.
b. Komolikasi Dalam Waktu Lama
1) Delayed Union
Delayed Union merupakan kegalalan fraktur berkonsolidasi
bergabung sesuai dengan waktu yang dibutuhkan tulang untuk
menyambung. Ini disebabkan karena penurunan supai darah ke
tulang.
2) Non- union
Non- union merupakan kegagalan fraktur berkonsolidadi dan
memproduksi sambungan yang lengkap, kuat dan stabil setelah
6- 9 bulan. Nomunion ditandai dengan adanya pergerakan yang
berlebih pada sisi fraktur yang membentuk sendi palsu. Ini juga
disebabkan karen aliran darah yang kurang.
3) Mal- union
Mal- union merupakan penyembuhan tulang di tandai dengan
meningkatnya tingkat kekuatan dan perubahan bentuk
(deformitasi). Malunion dilakukan dengan pembedahan dan
reimobilisasi yang baik. (Rosyid K, 2013)
B. Konsep Dasar ORIF ( Open Reduction with Internal Fixation)
1. Definisi ORIF
Cara berupa reduksi fraktur melalui bedah disertai dengan fiksasi
interna ini disebut dengan reduksi terbuka fiksasi interna atau disebut
20

juga dengan Open Reduction with Internal Fixation (ORIF).


(Sjamsuhidayat, 2010)
ORIF (Open Reduction with Internal Fixation) merupakan sutau
metode untuk menangani fraktur dengan cara melakukan pemasanagn
suatu benda untuk mempertahankan posisi fraktur, sehingga dapat
membantu proses penyembuhan tulang dengan cara mempertahankan
fragmen tulang pada posisinya (Putri, 2017).
2. Indikasi ORIF
Indikasi tindakan ORIF diantaranya adalah :
a. Fraktur intra- artikuler misalnya fraktur maleous, kondilus,
olekranon, patela
b. Reduksi tertutup yang mengalami kegagalan misalnya fraktur
radius dan ulna disertai malposisi yang hebat atau fraktur yang
tidak stabil.
c. Bila terdapat interosisi jaringan diantara kedua fragmen
d. Bila diperlukan fikasi rigid misalnya paa fraktur leher femur
e. Bila terjadi fraktur dislokasi yang tidak dapat direduksi secara
baiik dengan reduksi tertutup misalnya fraktur Monteggia dan
fraktur Bennet
f. Farktur terbuka
g. Bila terdapat kontra indikasi pada imobilisasi eksterna sedangkan
diperlukan mobilisasi yang cepat, misalnya fraktur pada orang tua.
h. Eksisi fragmen yang kecil
i. Eksisi fragmen tulang yang kemungkinan mengalami nekrosis
avaskuler mislnya fraktur leher femur pada orang tua.
j. Fraktur avulsi misalnya pada kondilus humeri
k. Fraktur epifisis tertentu pada grade III dan IV (Salter- Harris) pada
anak- anak
l. Frakutr multiple misalnya fraktur pada tungkai atas dan bawah
m. Untuk mempermudah perawatan penderita misalnya fraktur
vertebra tulang belakang yang disertai parapelgia.
21

C. Konsep Pertumbuhan Dan Perkembangan Anak


1. Teori pertumbuhan dan perkembangan anak
Pertumbuhan ialah bertambahnya ukuran dan jumlah sel secara
interseluler. Dengan ungkapan lain, pertumbuhan adalah bertambahnya
ukuran fisik dan struktur sebagian atau keseluruhan tubuh, sehingga
dapat diukur dengan satuan panjang dan berat.
Perkembangan adalah bertambahnya struktur dan fungsi tubuh
yang lebih kompleks dalam kemampuan gerak kasar, gerak halus,
bicara dan bahasa, serta sosialisasi dan kemandirian.
2. Ciri- ciri dan Prinsip- Prinsip Tumbuh Kembang Anak
a. Terdapat ciri- ciri yang saling berkaitan dalam proses tumbuh
kembang anak, diantaranya ialah sebagai berikut :
1) Perkembangan anak menyebabkan terjadinya perubahan, yaitu
perkembangan terjadi bersamaan dengan pertumbuhan
2) Pertumbuhan dan perkembangan pada tahapan awal
menentukan perkembangan selanjutnya.
3) Proses pertumbuhan dan perkembangan anak memiliki
kecapatan yang berbeda.
4) Perkembangan selalu berkorelasi dengan pertumbuhan.
5) Perkembangan mempunyai pola yang tetap. Dalam hal ini
perkembangan fungsi organ tubuh terjadi menurut dua hukum
tetap :
a) Perkembangan terjadi lebih dulu di daerah kepala menuju
kearah kaudall/ anggota tubuh (pola sefalokaudal).
b) Perkembangan terjadi dulu di daerah proksimal (gerak
kasar), lalu berkembang ke bagian distal, seperti jari- jari
yang mempunyai kemmapuan gerak halus (pola
proksimaldistal).
22

6) Dalam prosesnya, perkembangan melalui tahapan yang


berurutan.
b. Prinsip- Prinsip Tumbuh Kembang
1) Perkembangan anak merupakan hasil proses kematangan dan
belajar. Sedangkan kematangan adalah proses intrinsik yang
terjadi dengan sendirinya sesuai potensi yang ada pada anak.
Sementara belajar adalah perkembangan yang berasal dari
usaha dan latihan.
2) Menurut Depkes dan IDAI, pola perkembangan dapat
diramalkan, yaitu adanya persamaan pola perkembangan bagi
semua anak, sehingga dapat diramalkan.
3. Pola Pertumbuhan dan Perkembangan
Pola pertumbuhan dan perkembangan anak merupakan suatu proes
yang terjadi selama proses pertumbuhan dan perkembangan. Ada
bebrapa pola yang terjadi, diantaranya sebagai berikut :
a. Pola Perkembangan Fisik Yang Terarah
Menurut Wong, pola perkembangan fisik terarah terdiri dari dari :
1) Chepalocaudal
Merupakan pertumbuhan dan perkembangan yang dimulai dari
kepala, yang ditandai oleh perubahan ukuran kepala menjadi
lebih besar. Kemudian perubahan ini berkembang menjadi
kemampuan menggerakkan lebih cepat dengan menggelengkan
kepala, lalu dilanjutkan ke bagian ekstremitas bawah lengan,
tangan, dan kaki.
2) Proximal distal
Merupakan pola pertumbuhan dan perkembangan yang dimulai
dengan menggerakkan anggota gerak paling dekat dengan
pusat atau sumbu tengah, misalnya menggerakkan bahu, lalu
jari- jari.
b. Pola perkembangan dari umum ke khusus
23

Dalam pola perkembangan ini, pola pertumbuhan dan


perkembangan dimulai dengan menggerakkan daerah yang lebih
umum (sederhana), lalu berkembang ke daerah yang lebih
kompleks. Misalnya, anak melambaikan tangan, kemudian
memainkan jari.
c. Pola perkembangan berlangsung dalam tahapan perkembangan
Pola ini mencerminkan ciri khusus dalam setiap tahapan
perkembangan yang dapat digunakan untuk mendeteksi dini
perkembangan selanjutnya. Pada masa ini, ada beberapa tahapan
yang dilalui :
1) Masa Prenatal
Masa prenatal terdiri atas embrio dan fetus. Pertmbuhan fase
embrio dimulai dari 8 minggu pertama yang ditandai oleh
defensiasi yang cepat dari ovum menjadi orgnisme hingga
terbnetuk manusia. Dalam perkembangannya, minggu kedua
terjadi derm dan eksoderm, lalu pada minggu ketiga terbentuk
paisan mesoderm, pada masa ini hingga embrio berumur 7
minggu, belum tampak gerakan yang menonjol. Adapun tanda
yang terlihat hanyalah dneyut jantung janin sejak 4 minggu.
Sementara itu fetus terjadi pada minggu ke 12 – minggu ke 40.
Dalam masa ini, terjadi peningkatan badan, terutama
bertambahnya panjang dan berat jaringan subkutan dan
jaringan otot.
2) Masa Neonatus
Masa neonatus merupakan awal pertumbuhan dan
perkembangan setelah bayi dilahirkan. Masa ini sebagai masa
terjadinya kehidupan yang baru dalam eksrtra uteri, dengan
terjadinya proses adaptasi semua sistem organ tubuh.
3) Masa Bayi (28 hari sampai 1 tahun)
Pada masa ini, terjadi perkembangan bayi sesuai dengan
lingkungan yang mempengaruhnya. Selain itu, pada masa
24

tersebut bayi mempunyai kemampuan melindungi dan


menghindarkan diri dari hal yang mengancam dirinya.
4) Masa Anak (1-3 tahun)
a) Masa anak 1- 3 tahun
Pada masa ini terjadi perkembangan yang cepat dalam
aspek sifat, sikap, minat dan cara penyesuaian dengan
lingkungan.
b) Setelah itu, diikuti dengan masa prasekolah (3-5 tahun)
c) Masa sekolah (5- 12 tahun).
Pada usia 6 tahun perkembangan fisik sudah relatif
berkembang dengan baik. Dibuktikan dengan penambahan
panjang tangan dan kaki, juga dada dan badan yan terlihat
semakin besar dan badan menjadi bertambah kuat. Dari
penambahan tersebut, anak pada usia ini sudah dapat
melakukan aktifitas yang berhubungan dengan gerak
seperti berjalan, berlari, melompat, bahkan jauh lebih cepat
dari usia sebelumnya.
Setiap anak memiliki perbedaan pada fisiknya. Perbedaan
pada fisik anak ini tidak hanya pada fisik yang terlihat saja
seperti warna kulit, warna mata, jenis suara dan lainnya.
Tetapi juga mencakup aspek yang tidak dapat dilihat seperti
usia, pendengaran, penglihatan, dan sebagainya. Perbedaan
aspek fisik pada anak juga dapat dilihat dari kesehatan
anak. Anak yang kesehatannya kurang akan mempengaruhi
pertumbuhan dan perkembangan motoriknya, seperti badan
yang kurus ketika sakit, badan lemah, dan lain sebagainya.
5) Masa remaja (12- 18 tahun atau 20 tahun)
Pada masa ini terjadi perubahan ke arah dewasa, sehingga
mengarah ke kematangan tanda- tanda pubertas.
d. Faktor- Faktor yang mempengaruhi Tumbuh Kembang Anak
25

Pada umumnya, anak yang mempunyai pola pertumbuhan dan


perkembangan normal merupaka hasil interaksi banyak faktor yang
mempengaruhi tumbuh kembang. Adapun faktor- faktor tersebut :
1) Faktor Dalam
Marlow dan Supartini menejelaskan bahwa faktor dalam
merupakan faktor pertumbuhan yang dpat diturunkan, yaitu
suku, ras, dan jenis kelamin.
a) Ras, Etnis, atau Bangsa
Anakyang dilahirkan dari ras/ banga Amerika, maka ia
tidak akan memiliki faktor herediter ras/ bangsa Indonesia
b) Keluarga
Seorang anak memiliki postur tubuh sesuai dengan kondisi
orang tua atau keluarganya.
c) Umur
Pada masa prenatal, yak nji tahun pertama kehidupan dan
masa remajanya, anak mengalami oertumbuhan yang
sangat pesat.
d) Jenis kelamin
Pada umumnya, fungsri reproduksi pada anak perempuan
berkembangnya lebih depat dari pada anak laki- lak. Akan
tetapi, setlah melewati maa pubertas, pertumbuhan anak lai-
laki lebih cepat dari pada perempuan.
e) Genetik
Merupakan faktor bawaan anak, yaitu potensi anak yang
menjadi ciri khasnya. Ada ebberapa kelainan genetik yang
berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak, diantaranya
kerdil.
f) Kelainan kromososm
Kelainan kromosom disertai dengan kegagalan
pertumbuhan, seperti anak down sydrom dan turner’s
syndrom.
26

2) Faktor Luar
Faktor luar terdiri atas dua bagian:
a) Faktor Pranatal
Faktor praatal yang mempengaruhi pertumbuhan dan
perkembangan anak yang baru lahir terdiri atas beberapa
hal :
(1) Gizi
Nutrisi ibu hamil, terutama trimester akhir kehamilan,
sangat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembnagan
janin
(2) Mekanis
Posisi fetus yang abnormal dapat menyebabkan
kongenital, seperti club foot.
(3) Toksi atau Zat Kimia
Beberapa obat- obatan juga dapat menyebabkan
kelainan kongenital
(4) Radiasi
Radiasi paparan radium dan sinar rontgen dapat
menimbulkan kelainan pada janin, misalnya deformitas
anggota gerak.
(5) Infeksi
Infeksi pada trimester pertama dan ekdua oleh virus
torch menyebabkan kelainan pada janin, seperti katarak,
bisu, tuli, retardasi mental, dan kelainan jantung.
(6) Kelainan imunologi
Adanya perbedaan golongan darah antara janin dan inu
dapat menyebabkan sang ibu membentuk antibodi
terhadap sel darah merah janin, kemudian melalui
plasenta masuk ke peredaran darah janin. Hal itu bisa
menimbulkan kerusakan jaringan otak.
(7) Kondisi Psikologi Ibu
27

Kondisi psikologi ibu juga memntukan proses


pertumbuhan dan perkembangan anak. Misalnya,
kehamilan yang tidak diinginkan, perlakuan keliru,
kekerasan mental pada ibu hamil, dll.
b) Faktor Postnatal
(1) Nutrisi
(2) Budaya keluarga dan masyarakat
(3) Status sosial dan ekonomi keluarga
(4) Iklim atau cuaca
(5) Olahraga atau latihan fisik
(6) Posisi anak dalam keluarga
(7) Status kesehatan
(8) Faktor hormonal
(9) Faktor persalinan
(10) Faktor pascapersalinan
4. Cara Pengukuran Tumbuh Kembang Anak
a. Pemantauan Pertumbuhan Fisik Pada Anak
Penilaian terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak
secara medis atau statistik sangat penting dilakukan. Hal ini
bertujuan untuk mengetahui proses pertumbuhan dan
perkembangan anak itu berlangsung normal atau tidak.
Parameter ukuran antropometri yang dipakai dalam
penilaian pertumbuhan fisik antara lain tinggi badan, berat badan,
lingkar kepala, lingkar dada, lipatan kulit, lingkar lengan atas,
panjang lengan, proporsi tubuh/ perawakan, dan panjang tungkai.
1) Pengukuran Antropometri
Secara umum, ukuran antropometri dikelompokkan menjadi
dua :
a) Tergantung umur
Yaitu hasil pengukuran dibandingkan dengan umur.
(1) Berat Badan Terhadap Umur
28

Anak sehat, kenaikan berat badan normal pada trimester


pertama sekitar 700- 1000g/ bulan, trimester kedua
sekita 500- 600 g/ bulan, trimester ketiga sekitar 250-
350 g/ bulan. Drai perkiraan kenaikan berat badan
tersebut, dapat diketahui bahwa pada usia 0- 6 bulan
pertama berat badan bisa bertambah sekitar 1 kg/ bulan,
6 bulan berikutnya 0,5 kg/ bulan, tahun kedua 0,25 kg/
kg,setelah usia 2 tahun kenaikan berat badan tidak
menentu yaitu 2,3 kg/ tahun, pada tahapan adolensia
(remaja) bisa jadi bertumbuh dengan sangat pesat.
Selain perkiraan tersebut, berat badan juga dapat
diperkirakan menggunakan rumus atau pedoman rumus
dari Behrman (1992), yaitu :
(1.1) Berat badan lahir rata- rata : 3,25 kg
(1.2) Berat badan anak pada usia 3- 12 bulan bisa
diukur menggunakan rumus :
umur ( bulan ) + 9 n+ 9
=
2 2
(1.3) Berat badan anak usia 1- 6 tahun dapat diukur
dengan menggunakan rumus :
[umur (tahun)x 2]+ 8= 2n + 8
Keterangan : n adalah usia anak
(1.4) Berat badan anak pada usia 6- 12 tahun bisa
diukur dengan menggunakan rumus :
umur ( tahun ) x 7−5
2
(2) Tinggi badan (panjang badan )
Pada anak yang baru lahir, panjang badan sekitar 50 cm.
Tinggi badan juga dapat diperkirakan menggunakan
rumus Behrman (1992) :
(1.1) Usia 1 tahun : 1,5 x tinggi badan
29

(1.2) Usia 4 tahun : 2 x tinggi badan lahir


(1.3) Usia 6 tahun : 1,5 x tinggi badan setahun
(1.4) Usia 13 tahun : 3 x tinggi badan lahir
(1.5) Dewasa : 3,5 x tinggi badan lahir (2 x
panjang 2 tahun )
Atau
(1.1) Lahir : 50 cm
(1.2) Umur 1 tahun : 75 cm
(1.3) Umur 2 – 12 tahun : umur (tahun) x 6 + 77
(3) Lingkar kepala
Saat baru lahir ukuran kepala normal adalah 34- 35 cm.
Pertambahan pertumbuhan kepala sekitar 0,5 cm/ bulan.
Kemudia pada tahun pertama lingkar kepala tidak
bertambah lebih dari 5 cm. Pertumbuhan kepala (lingkar
kepala) sampai usia 18 tahun hanya bertambah sekitar
10 cm.
(4) Lingkar Lengan Atas
Saat lahir, lingkar lengan atas sekitar 11 cm. Lalu pada
tahun pertama menjadi sekitar 16 cm, kemudian ukuran
tersebut tidak banyak berubah hingga anak mencapai
umu 3 tahun.
(5) Lingkar Dada
Biasanya pengukuran hanya dilakukan saat bernapas
biasa (mid respirasi) pada tulang xifoidius (insicura
Substernalis).
b) Tidak tergantung umur
Yaitu hasil pengukuran dibandingkan dengan pengukuran
lainnya tanpa memperhatikan umur anak yang diukur.
Misalnya berat badan terhadap umur.
b. Pemantaun Perkembangan Pada Anak
30

Penilaian perkembangan anak pada fase awal umumnya dibagi


menjadi 4 aspek kemampuan fungsional, yaitu motorik kasar,
berbicara, bahasa dan pendengaran serta sosial emosi dan perilaku.
Salah satu pemeriksaan perkembangan anak dengan KPSP
(Kuisioner Pra Skrinning Perkembangan).
1) Pengukuran perkembangan dengan metode KPSP
a) Definisi
KPSP (kuisioner Pra Skrining Perkembangan) adalah
kuisioner yang berisi 9- 20 pertanyaan tentang kemampuan
perkembangan yang telah dicapai anak dengan sasaran
berbagai umur mulai 0- 72 bulan dengan tujuan untuk
mengetahui perkembangan anak apakah normal atau ada
penyimpangan.
b) Alat KPP
(1) Formulir KPSP menurut umur
(2) Alat bantu pemeriksaan berupa : pensil, kertas,
c) Prosedur KPSP
Jadwal skrining atau pemeriksaan KPSP rutin adalah pada
umur 3, 6, 9, 12, 15, 18, 21, 24, 30, 36, 42, 48, 54, 60, 66,
dan 72 bulan. Apabila anak belum mencapai umur skrining
tersebut, mintalah kepada ibu agar datang kembali pada
umur skrining yang terdekat untuk pemeriksaan rutin.
Misalnya umur bayi adalah 7 bulan, menggunakan skrining
KPSP pada umur 9 bulan.
Cara menggunakan KPSP :
(1) Waktu pemeriksaan skrining anak harus ada
(2) Tentukan waktu pemeriksaan atau skrining tanggal,
bulan, dan tahun anak lahir. Bila umur anak lebih 16
hari, maka dibulatkan menjadi 16 bulan
(3) Setelah menentukan umur anak, pilih KPSP yang sesuai
dengan umur anak.
31

(4) KPSP terdiri dari dua macam pertanyaan, yaitu


pertanyaan yang dijawab oleh ibu dan perintah pada ibu
atau petugas untuk melaksanakan tugas yang tertulis
pada KPSP
(5) Jelaskan kepada orang tua agar tidak ragu- ragu atau
takut untuk menjawab
(6) Tanyakan pertanyaan tersebut secara berurutan satu
persatu, setiap pertanyaan hanya ada satu jawaban,
“Ya” atau “Tidak”. Catat jawaban tersebut dengan
formatif
(7) Ajukan pertanyaan yang berikutnya setelah ibu
menjawab pertanyaan terdahulu
(8) Teliti kembali apakah semuanya sudah terjawab
d) Interpretasi KPSP
(1) Hitunglah jumlah jawaban “Ya”
(2) jumlah jawaban “Ya” = 9 sampai 10 perkembangan
anak sesuai dengan perkembangan (S)
(3) jumlah jawaban “Ya” = 7 sampai 8, perkembangan
anak meragukan (M)
(4) jumlah jawaban “Ya” = 6 atau kurang, kemungkinan
ada penyimpangan (P)
(5) apabila terjadi jawaban “Tidak” perlu dirinci jumlah
jawaban “tidak” menurut jenis keterlambatan (gerak
kasar, gerak halur, bicara dan bahasa, sosialiasi, serta
kemandirian)
e) Tindak Lanjut KPSP
setelah mendapatkan hasil skrining maka intervensi yang
bisa diberikan adalah :
(1) Apabila perkembangan anak sesuai (S), lakukan
tindakan berikut :
32

(1.1) Beri reinforcement/ pujian pada ibu karena telah


mengasuh anaknya dengan baik
(1.2) Teruskan pola asuh anak sesuai dengan tahap
perkembangan anak
(1.3) Beri stimulasi perkembangan anak, setiap saat
sesering mungkin, sesuai dengan umur dan
kesiapan anak
(1.4) Libatkan anak pada kegiatan penimbangan dan
pelayanan kesehatan di Posyandu secara teratur
sebulan sekali
(1.5) Lakukan pemeriksaan skrining rutin
menggunakan KPSP setiap 3 bulan pada anak
berumur kurang dari 24 bulan dan setiap 6 bulan
pada anak bemur 24 sampai 72 bulan.
(2) Apabila perkembangan anak meragukan (M), lakukan
tindakan berikut :
(1.1) Beri petunjuk pada ibu agar melakukan
stimulasi perkembangan pada anak lebih sering
lagi
(1.2) Ajarkan ibu cara melakukan intervensi stimulasi
perkembangan anak untuk mengatasi
penyimpangan atau engejar ketertinggalan
(1.3) Lakukan pemeriksaan kesehatan untuk mencari
kemungkinan adanya penyakit yang
menyebabkan penyimpangan perkembangan
(1.4) Lakukan penilaian ulang KPSP 2 minggu
kemudian dengan menggunakan daftar KPSP
yang sesuai dengan umur anak.
(1.5) Jika hasil KPSP ulang jawaban “Ya” tetap 7
atau 8, maka kemungkinan ada penyimpangan
(P)
33

(3) Bila tahapan perkembangan terjadi penyimpangan (P)


Lakukan rujukan ke rumah sakit dengan menuliskan
jenis dan jumlah penyimpangan perkembangan anak
(gerak motorik, gerak halus, bicara dan bahasa,
sosialiasi, serta perkembangan). (Dewi Meira, 2016)

D. Konsep Asuhan Keperawatan Gangguan Mobilitas Fisik


1. Pengkajian
a. Fokus pengkajian pada fraktur
1) Identitas pasien
Meliputi nama, jenis kelamin, umur, alamat, agama, bahasa,
status perkawinan, pendidikan, pekerjaan, golongan darah, no.
Register, tanggal masuk rumah sakit, diagnosa medis.
2) Keluhan utama
Pada umumnya keluhan utama pada kasus fraktur adalah rasa
nyeri. Dengan penilaian berdasarkan PQRST, P: Provokatif
yaitu apa penyebab timbulnya rasa nyeri, Q: Quality yaitu
seberapa berat keluhan nyeri yang terasa, R : Region yaitu
lokasi dimana keluhan nyeri, S : Skala yaitu skala kegawatan
dan T: Timing yaitu kapan dan seberapa nyeri dirasakan. Dari
nyeri tersebut dapat mengakibatkan gangguan mobilitas fisik.
3) Riwayat penyakit sekarang
Pada pasien fraktur/ patah tulang dapat disebabkan oleh
trauma/ kecelakaan, degenratif dan patologis yang didahului
dengan perdarahan, kerusakan jaringan sekitar yang
mengakibatkan nyeri, bengkak, kebiruan, pucat/ perubahan
warna kulit, kesemutan, gangguan dalam mobilitas, kelemahan
otot dan imobilitas.
4) Riwayat penyakit dahulu
Apakah pasien pernah mengalami fraktur atau pernah
mempunyai penyakit menular/ menurun sebelumnya.
34

Pengkajian riwayat penyakit yang berhubungan dengan


pemenuhan kebutuhan mobilitas, misalnya adanya riwayat
penyakit sistem neurologis, riwayat penyakit sistem
kardiovaskuler, riwayat penyakit muskoloskeletal, riwayat
penyakit pernapasan dan riwayat pemakaian obat.
5) Riwayat penyakit keluarga
Pada keluarga pasien ada/ tidaknya yang menderita
osteoporosis, arthritis dan tuberkolosis atau penyakit lain yang
bersifat menular/ menurun.
6) Pola- Pola Fungsi Kesehatan
a) Pola Persepsi dan tata Laksana Hidup Sehat
Pada fraktur akan mengalami perubahan/ gangguan pada
peronal hiegine, misalnya kebiasaan mandi, mengganti
pakaian, BAB dan BAK
b) Pola Nutrisi dan Metabolik
Pada fraktur tidak akan mengalami penurunan nafsu makan,
meskipun menu berubah
c) Pola Eleminasi
Kebiasaan miksi/ defekasi sehari- hari, kesulitan waktu
defekasi dikarenakan imobilisasi, feses berwarna kuning
dan konsistensi defekasi padat, miksi pasien tidak
mengalami gangguan
d) Pola Tidur dan Istirahat
Kebiasaan pola tidur dan istirahat mengalami gangguan
yang disebabkan oleh nyeri, misalnya nyeri akibat fraktur
e) Pola Aktivitas dan Latihan
Kemampuan perawatan diri, kemampuan otot, kemampuan
Range Of Motion (ROM), keluhan saat beraktivitas karena
nyeri setelah operasi. Latihan rentang gerak (ROM)
menurut Potter & Perry ROM merupakan sejumlah
pergerakan maksimum yang dapat dilakukan sendi.
35

a. Aktif
Pasien dianjurkan untuk menggerakkan sendi yang
mengalami penurunan fungsi, pasien mampu
melakukan ROM sendiri
b. Aktif- assitif
Pasien melakukan ROM bersama perawat, dorong
pasien melakukan ROM sendiri seuai dengan
ketrampilan pasien, perawat membantu melengkapi
bagian yang belum dilaksanakan oleh pasien.
c. Pasif
Latihan ROM dilakukan oleh perawat dan pasien yang
mengalami imobilitas pada sendi pengkajian rentang
gerak (ROM) dilakukan didaerah seperti bahu, siku,
lengan, panggul dan kaki.
Tabel 2.1 Derajat Normal Rentang Gerak Sendi

Derajat
Gerak sendi Rentang
Normal

Bahu
Adduksi: gerakan lengan ke lateral dan
posisi samping ke atas kepala, telapak 180
tangan menghadap posisi yang paling jauh.
Siku
Fleksi : angkat lengan bawah kearah depan
dan kearah atas menuju bahu 150
Pergelangan tangan
Fleksi : tekuk jari- jari tangan kearah
bagian dalam lengan bawah 80- 90
Ekstensi : luruskan pergelangan tangan
dari posisi fleksi
36

Hiperekstensi : tekuk jari tangan kearah 80-90


belakang sejauh mungkin
Abduksi : tekuk pergelangan tangan ke sisi 70-90
ibu jari ketika telapak tangan menghadap
ke atas 0-20
Adduksi : tekuk pergelangan tangan ke
arah kelingking, telapak tangan 30-50
menghadap keatas
Tangan dan jari
Fleksi : buat kepalan tangan 90
Ekstensi : luruskan jari 90
Hiperekstensi : tekuk jari- jari tangan ke 30
belakang sejauh mungkin
Abduksi: kembangkan jari tangan 20
Adduksi : rapatkan jari tangan dari posisi 20
abduksi

Tabel 2.2 Kategori Tingkat Kemampuan Aktivitas

Tingkat
aktivitas / Kategori
mobilitas

Tingkat 0 Mampu merawat diri sendiri

Tingkat 1 Memerlukan penggunaan alat

Memerlukan bantuan atau pengawasan


Tingkat 2
orang lain

Tingkat 3 Memerlukan bantuan, pengawasan orang


37

lain dan peralatan

Sangat tergantung dan tidak dapat


Tingkat 4 melakukan atau berpartisipasi dalam
perawatan

f) Pola persepsi dan konsep diri


Pada fraktur akan mengalami gangguan citra diri karena
terjadi perubahan pada dirinya, pasien takut cacat seumur
hidup
g) Pola sensori dan Kognitif
Pada pasien fraktur rabanya kurang terutama pada bagian
distal fraktur, sedangkan pada indera lain tidak timbul
gangguan
h) Pola hubungan peran
Terjadinya perubahan peran yang dapat menganggu
hubungan interpersonal yaitu pasien merasa tidak berguna
dan menarik diri
i) Pola reproduksi seksual
Bila sudah berkeluarga dan mempunyai anak, maka akan
mengalami gangguan pola seksual dan reproduksi
j) Pola penanggulangan stres
Apa saja yang membuat psien menjadi stres, dan
bagaimana cara penyelesaiannya
k) Pola tata nilai dan keyakinan
Adanya rasa sakit dan stres sebagai pertahanan dan pasien
meminta meminta perlindungan/ mendekatkan diri kepada
Allah SWT.
b. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan head to toe yang dapat dilakukan menurut Robert
Periharjo (2012) :
38

1. Kesadaran umum : lemah, tampak pucat, GCS : komposmentis,


apati, somnolen, delirium, sopor, koma.
2. Tanda- tanda vital
Pemeriksaan tekanan darah biasanya mengalami peningkatan,
frekuensi pernafasan, nadi meningkat, dan suhu tubuh
3. Kulit
Warna kulit kelembapan, turgor kulit, luka pasca bedah, ada
tidaknya edema
4. Kepala dan rambut
Inspeksi : lesi kulit kepala, palpasi teraba halus, tidak ada
massa, tidak bengkak, tidak ada nyeri tekan
5. Mata
Fungsi penglihatan, palebral, konjungtiva dan sklera
6. Telinga
Fungsi pendengaran, fungsi keseimbangn, secret telinga
7. Hidung dan sinus
Inspeksi : pembengkakan dan kebersihan, keejajaran, fungsi
penciuman
8. Mulut dan tenggorokan
Membran mukosa, keadaan gigi, tanda rahang dan kesulitan
menelan
9. Leher
Trakea, jugularis, vena pleasure JVP, kelenjar limfe
10. Thorak atau paru
Inspeksi : kesimetrisan bentuk dada, warna kulit
Palpasi : tidak teraba massa
Perkusi : bunyi pekak
Auskultasi : vesikuler, suara tambahan (rales, ronchi, friction
rub, whezzing)
11. Jantung
Inspeksi : terdapat benjilan atau tidak
39

Palpasi : teraba atau tidak ctus cordis


Perkusi : normalnya berbunyi dullness
Auskultasi : terdapat bunyi lupdup atau murmur
12. Abdomen
Inspeksi : bentuk kesimetrisan
Palpasi : adanya benjolan atau massa
Perkusi : timpani, dullness, hipsonan, flat
Auskultasi : peristaltic menurun
13. Genetalia
Inspeksi : adanya lesi, nodul, bengkak
14. Rectal
Inspeksi : pada bagian aerianal pada luka insisi adanya
perubahan warna dan inflamasi
15. Ekstremitas
a. Kemampuan fungsi motorik
Pengkajian fungsi motorik antara lain tangan kanan atas
dan kiri, kaki kanan dan kiri untuk menilai ada atau
tidaknya kelemahan, kekuatan, atau spastis
b. Kekuatan otot dan gangguan koordinasi
Pengkajian kekuatan otot dapat ditentukan kekuatan secara
bilateral atau tidak. Derajat kekuatan otot dapat ditentukan
dengan sebagai berikut :
Tabel 2.3 Derajat kekuatan otot

Skala Karakteristik

Otot sama sekali tidak mampu bergerak,


berkontraksi pun tidak, bila dilepaskan
0
lengan dan tungkai akan jatuh, 100%
pasif

1 Tampak kontraksi atau ada sedikit


40

gerakan dan ada tahanan sewaktu jatuh

Mampu menahan gravitasi saja, tapi


2
dengan sentuhan akan jatuh

Dapat menahan tegak, tetapi tidak


3 mampu melawan tekanan/ dorongan dari
pemeriksa

Gerakan normal penuh, menentang


4 gravitasi dengan sedikit penahan
(kekuatan kurang)

5 kekuatan otot penuh

(Tambunan dan Kasim, 2012).

2. Diagnosa Keperawatan
Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan integritas
struktur tulang
3. Perencanaan Keperawatan
Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan integritas
struktur tulang :
NOC :
a. Joint movement : Active (pergerakan sendi : aktif)
b. Mobility level (tingkat mobilitas )
c. Self care : Adls (aktivitas sehari- hari )
d. Transfer performance

Kriteria Hasil :

a. Klien meningkat dalam aktivitas fisik


41

b. Mengerti tujuan dari peningkatan mobilitas


c. Memverbalisasikan perasaan dalam meningkatkan kekuatan dan
kemampuan berpindah dari posisi supinasi ke semi fowler, duduk,
berdiri dan berjalan
d. Memperagakan penggunaan alat bantu untuk mobilisasi
NIC:
a. Ajarkan pasien bagaimana merubah posisi dan berikan bantuan
jika diperlukan
b. Monitoring vital sign sebelum/ sesudah latihan dan lihat respon
klien saat latihan
c. Kaji kemampuan klien dalam mobilisasi
d. Latih pasien dalam Adls secara mandiri sesuai kemampuan
e. Dampingi dan bantu pasien saat mobilisasi dan bantu penuhi
kebutuhan ADls klien
f. Konsultasikan dengan terapi fisik tentang rencana ambulasi sesuai
dengan kebutuhan (Carpenito, L.J. 2013)
g. Bantu klien untuk menggunakan alat untuk mobilisasi dan cegah
terhadap cedera

4. Implementasi
Implementasi keperawatan adalah pengelolaan dan perwujudan dari
rencana keperawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan
(Setiadi, 2012). Implementasi keperawatan adalah pelaksanaan rencana
keperawatan oleh perawat dan pasien (Riyadi, 2010).
Menurut Asmadi (2008), dalam melaksanakan asuhan keperawatan
dapat dilakukan secara mandiri misalnya Adls, dengan kolaborasi
misalnya dalam pemberian obat dan pelaksanaan rencana tindakan
medis/ atau intruksi dari tenaga medis misalnya ahli gizi, psikolog, dan
lain- lain. Pelaksanaan rencana keperawatan memerlukan ketrampilan
untuk membantu memenuhi kebutuhan pasien seperti pasien dengan
masalah hambatan mobilitas fisik.
42

5. Evaluasi
Evaluasi keperawatan merupakan kegiatan yang terus menerus
dilakukan untuk menentukan apakah rencana keperawatan efektif dan
bagaimana rencana keperawatan selanjutnya, merevisi rencana atau
menghentikan rencana keperawatan (Manurung, 2011). Evaluasi
keperawatan adalah mengkaji respon pasien setelah dilakukan
intervensi keperawatan dan mengkaji ulang asuhan keperawatan yang
telah diberikan (Deswani, 2009). Evaluasi hasil berfokus pada respon
dan fungsi pasien. Respon perilaku pasien merupakan pengaruh dari
intervensi keperawatan dan akan terlihat pada pencapaian tujuan dan
kriteria hasil. Keberhasilan perawat salah satunya dapat menangani
masalah keperawatan hambatan mobilitas fisik sesuai dengan kriteria
hasil yang diharapkan.