Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH EPIDEMIOLOGI PENYAKIT MENULAR

“Penyakit Menular Tuberculosis”

OLEH :
KELOMPOK 4

NAMA NIM

NUR FATHINAH NASRI JIA118165

AGUSTANG J1A118090

MUHAMMAD RAWALDIN. S J1A118247

MUHAMMAD AAN WAHYU SAPUTRA J1A118237

URFANUR ARBAENI DJUDDAWI J1A118222

KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA


FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2020

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur marilah kita panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa,
yang telah memberikan kita kesehatan lahir dan batin sehingga kami dapat
menyelesaikan laporan kelompok kami tentang Penyakit Menular Tuberculosis
hingga selesai,meskipun dalam penyusunan makalah ini kami banyak mendapat
hambatan, namun banyak pula kami mendapat bantuan dari beberapa pihak baik
secara moril maupun spiritual. Oleh karena itu kami mengucapkan banyak terima
kasih kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan berupa saran maupun
materi untuk kelengkapan makalah kami.

Dalam penyusunan makalah ini kami menyadari bahwa masih banyak


kesalahan dan kekurangan mengingat keterbatasan pengetahuan dan pengalaman
kami. Oleh sebab itu kami sangat mengharapkan kritikan dan saran dari semua
pihak yang membaca makalah ini yang sifatnya membangun , dan agar yang
membuat laporan selanjutnya bisa melihat kekurangan dan kesalahan dari
makalah yang kami susun dan demi kelengkapan penyusunan makalah kami.

Kendari, 28 Februari 2020

Kelompok 4

ii
iii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..............................................................................................................ii
DAFTAR ISI.........................................................................................................................iii
BAB I...................................................................................................................................1
PENDAHULUAN..................................................................................................................1
1.1 Latar Belakang....................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah..............................................................................................2
1.3 Tujuan................................................................................................................2
BAB II..................................................................................................................................3
TINJAUAN PUSTAKA...........................................................................................................3
2.1 Prevalensi Kasus Tuberkulosis..................................................................................3
2.2 Frekuensi Kasus Tuberkulosis..................................................................................4
2.2 Distribusi Kasus Tuberkulosis..................................................................................5
2.3 Determinan Kasus Tuberkulosis...............................................................................5
BAB III.................................................................................................................................6
PEMBAHASAN....................................................................................................................6
3.1 Pengertian Tuberkulosis...........................................................................................6
3.2 Gejala Penyakit Tuberkulosis....................................................................................6
3.3 Cara Penularan Tuberkulosis....................................................................................7
3.4 Faktor Penyebab Tuberkulosis................................................................................8
3.5 Kondisi Penyakit Tuberkulosis..................................................................................8
BAB IV..............................................................................................................................10
PENUTUP..........................................................................................................................10
5.3 Kesimpulan.......................................................................................................10
4.4 Saran......................................................................................................................11
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................................13

iv
v
vi
BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penyakit tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh
bakteri Mycobacterium tuberculosis yang menyerang berbagai organ atau jaringan
tubuh khususnya paru paru. Penyakit ini ialah penyebab utama kecacatan dan
kematian hampir di sebagian besar negara diseluruh dunia Tuberculosis
merupakan salah satu penyakit yang mematikan di Indonesia. Penyakit TBC paru
yang disebabkan terjadi ketika daya tahan tubuh menurun. Dalam perspektif
epidemiologi yang melihat kejadian penyakit sebagai hasil interaksi antar tiga
komponen pejamu (host), penyebab (agent), dan lingkungan (environment) dapat
ditelaah faktor risiko dari simpul-simpul tersebut. Pada sisi pejamu, kerentanan
terhadap infeksi Mycobacterium tuberculosis sangat dipengaruhi oleh daya tahan
tubuh seseorang pada saat itu. Pengidap HIV AIDS atau orang dengan status gizi
yang buruk lebih mudah untuk terinfeksi dan terjangkit TBC.
Gejala utama pasien TBC paru yaitu batuk berdahak selama 2 minggu atau
lebih. Batuk dapat diikuti dengan gejala tambahan yaitu dahak bercampur darah,
batuk darah, sesak nafas, badan lemas, nafsu makan menurun, berat badan
menurun, malaise, berkeringat malam hari tanpa kegiatan fisik, demam meriang
lebih dari satu bulan. Pada pasien dengan HIV positif, batuk sering kali bukan
merupakan gejala TBC yang khas, sehingga gejala batuk tidak harus selalu selama
2 minggu atau lebih. Pada 2017, sebanyak 116 ribu jiwa meninggal akibat
penyakit TBC di Indonesia, termasuk 9.400 jiwa pengidap HIV yang terjangkit
TBC. Tidak kurang, 10 juta jiwa meninggal akibat TBC di seluruh dunia.
Berdasarkan data organisasi kesehatan dunia (World Health
Organization/WHO) kasus TBC di Indonesia mencapai 842 ribu. Sebanyak 442
ribu pengidap TBC melapor dan sekitar 400 ribu lainnya tidak melapor atau tidak
terdiagnosa. Penderita TBC tersebut terdiri atas 492 ribu laki-laki, 349 ribu
perempuan, dan 49 ribu anak-anak. Jumlah kasus TBC Indonesia berada di urutan
ketiga terbesar dunia setelah India yang mencapai 2,4 juta kasus dan Tiongkok

1
889 ribu kasus. Badan kesehatan dunia mendefinisikan negara dengan beban
tinggi/high burden countries (HBC) untuk TBC berdasarkan 3 indikator yaitu
TBC, TBC/HIV, dan MDR-TBC. Terdapat 48 negara yang masuk dalam daftar
tersebut. Satu negara dapat masuk dalam salah satu daftar tersebut, atau keduanya,
bahkan bisa masuk dalam ketiganya. Indonesia bersama 13 negara lain, masuk
dalam daftar HBC untuk ke 3 indikator tersebut. Artinya Indonesia memiliki
permasalahan besar dalam menghadapi penyakit TBC

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa pengertian penyakit tuberkulosis ?


2. Apa saja gejala penyakit tuberkulosis?
3. Bagaimana cara penularan penyakit tuberkulosis?
4. Apa saja faktor penyebab tuberkulosis?
5. Bagaimana kondisi penyakit tuborkulosis?

1.3 Tujuan

1. Untuk mengetahui pengertian penyakit tuberkulosis


2. Untuk mengetahui gejala penyakit tu tuberkulosis
3. Untuk mengetahui cara penularan penyakit tuberkulosis
4. Untuk mengetahui faktor penyebab tuberkulosis
5. Untuk mengetahui kondisi penyakit tuborkulosis

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Prevalensi Kasus Tuberkulosis

Prevalensi adalah gambaran frekuensi penderita lama dan penderita baru


suatu penyakit tertentu pada wilayah tertentu dan pada waktu tertentu. (Azwar,
2001). Prevalensi adalah Kejadian penyakit pada satu saat atau satu periode
waktu, baik yang baru saja memasuki fase klinik maupun yang telah beberapa
waktu lamanya berkembang sepanjang fase klinik (Murti, 1997). Ukuran
prevalensi penyakit dapat dimanfaatkan untuk menilai kualitas dan kuantitas
pelayanan kesehatan. (Murti,1997).

Berdasarkan data sekunder yang diperoleh dari Puskesmas Jatibarang,


Puskesmas Kertasemaya, dan Puskesmas Jatibarang, diketahui prevalensi penyakit
TB paru pada tahun 2016 adalah sebanyak 141 penderita penyakit TB paru.
penderita TB paru 85,5% berumur antara 15-64 tahun, dan secara rata-rata umur
penderita penyakit TB paru adalah 44 tahun dengan umur termuda 16 tahun dan
umur tertua 77 tahun, 66,1% berjenis kelamin laki-laki, 32,3% belum/tidak
bekerja, 29,0% belum/tidak sekolah, 29,0% berpendidikan SMA/sederajat, 61,3%
berpendapatan kurang dari Rp 1.650.000,- atau status sosial ekonominya rendah,
67,7% status perkawinannya kawin (Widyastuti dkk.,2018).

Faktor-faktor yang meningkatkan prevalensi penyakit, antara lain: durasi


penyakit yang lama, pemanjangan usia penderita tanpa pengobatan, peningkatan
kasus-kasus baru (peningkatan insidensi), kasus-kasus migrasi ke dalam populasi,
migrasi keluar dari orang-orang yang sehat, migrasi ke dalam orang-orang yang
rentan, dan peningkatan sarana diagnostik (Widyastuti dkk.,2018).

3
2.2 Frekuensi Kasus Tuberkulosis
Penyakit tuberkulosis disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Tuberculosis
yang pada umumnya menyerang paru-paru.Tuberkulosis menjadi isu kesehatan
global disemua negara dengan kematian 3 juta orang pertahun, satu orang dapat
terinfeksi tuberkulosis setiap detiknya (Syakur dkk.,2019).

Berikut ini data frekuensi penderita TB di kabupaten Indramayu tahun 2018


(Widyastuti dkk.,2018).

4
2.2 Distribusi Kasus Tuberkulosis
Penyakit TB Paru di Kabupaten Indramayu masih menjadi masalah kesehatan
masyarakat. Dengan epidemiologi deskriptif dapat dimanfaatkan lebih lanjut
untuk mengetahui factor-faktor yang mempengaruhi tingginya frekuensi penyakit
TB paru di Kabupaten Indramayu.

Penyakit TB paru di Kabupaten Indramayu berdasarkan data dalam profil


kesehatan Propinsi Jawa Barat, pada tahun 2012, prevalensi penyakit TB paru
192/100.000 penduduk, dengan distribusi 112/100.000 penduduk laki-laki dan
80/100.000 penduduk perempuan, sedangkan insidensi penyakit TB paru 1.602
penduduk, dengan distribusi 960 penduduk laki-laki dan 642 penduduk
perempuan. (Profil Kesehatan Propinsi Jawa Barat, 2012)

2.3 Determinan Kasus Tuberkulosis


Negara Indonesia sekarang menurut WHO berada pada ranking keempat
Negara dengan beban TB tertinggi di dunia setelah India, Cina, dan Afrika
Selatan. Dari semua kasus TB pada tahun 2010, 13% diantarannya disertai dengan
infeksi HIV (WHO, 2011). Jumlah kematian akibat TB diperkirakan 61.000
kematian per tahunnya (Kemenkes, 2010)

5
BAB III

PEMBAHASAN
3.1 Pengertian Tuberkulosis

Tuberkulosis paru merupakan suatu penyakit menular yang disebabkan


oleh basil mikrobacterium tuberkolusis yang merupakan salah satu penyakit
saluran pernafasan bagian bawah yang sebagian besar basil tuberkolusis masuk ke
dalam jaringan paru melalui airbone infection dan selanjutnya mengalami proses
yang dikenal sebagai fokus primer dari ghon.

Sebagian besar kuman TB menyerang paru, tetapi dapat juga mengeai


organ tubuh lainnya. Penyakit ini apabila tidak di obati atau pengobatan tidak
tuntas dapat menimbulkan komplikasi berbahaya hingga kematian. Bakteri
penyebab penyakit tuberkulosis ini pertama kali ditemukan oleh Robert Roch
pada tanggal 24 Maret 1886.

3.2 Gejala Penyakit Tuberkulosis

Gejala penyakit TBC dapat dibagi menjadi gejala umum dan gejala khusus
yang timbul sesuai dengan organ yang terlibat. Gambaran secara klinis tidak
terlalu khas terutama pada kasus baru, sehingga cukup sulit untuk menegakkan
diagnosa secara klinik.

Gejala sistemik/umum:

a. Nyeri di bagian dada


b. hilangnya selera makan, dan perasaan tidak enak (malaise), letih
c. Batuk-batuk selama lebih dari 3 minggu (dapat disertai dengan darah)
d. Demam tidak terlalu tinggi yang berlangsung lama, biasanya dirasakan
malam hari disertai keringat malam. Kadang-kadang serangan demam
seperti influenza dan bersifat hilang timbul
e. Penurunan nafsu makan dan berat badan
f. Perasaan tidak enak (malaise),lemah,letih

6
Gejala khusus:

a. Tergantung dari organ tubuh mana yang terkena, bila terjadi sumbatan
sebagian bronkus (saluran yang menuju ke paru-paru) akibat penekanan
kelenjar getah bening yang membesar, akan menimbulkan suara “mengi”,
suara nafas melemah yang disertai sesak.
b. Kalau ada cairan dirongga pleura (pembungkus paru-paru), dapat disertai
dengan keluhan sakit dada.
c. Bila mengenai tulang, maka akan terjadi gejala seperti infeksi tulang yang
pada suatu saat dapat membentuk saluran dan bermuara pada kulit di
atasnya, pada muara ini akan keluar cairan nanah.
d. Pada anak-anak dapat mengenai otak (lapisan pembungkus otak) dan
disebut sebagai meningitis (radang selaput otak), gejalanya adalah demam
tinggi, adanya penurunan kesadaran dan kejang-kejang.

3.3 Cara Penularan Tuberkulosis

Saat batuk atau bersin, penderita TBC dapat menyebarkan kuman yang
terdapat dalam dahak ke udara. Dalam sekali batuk, penderita TBC dapat
mengeluarkan sekitar 3000 percikan dahak. Selain itu juga, pengunaan barang
pribadi secara bergantian dengan penderita TBC aktif, seperti gelas, sendok dapat
menjadi jembatan penularan TBC. Bakteri TB yang berada di udara bisa bertahan
berjam-jam, terutama jika ruangan gelap dan lembab, sebelum akhirnya terhirup
oleh orang lain. Umumnya penularan terjadi dalam ruangan di mana percikan
dahak berada dalam waktu yang lama.

Orang-orang yang berisiko tinggi terkena penularan TBC adalah mereka


yang sering bertemu atau berdiam di tempat yang sama dengan penderita TBC,
seperti keluarga, teman sekantor, atau teman sekelas. Pada dasarnya penularan
TBC tidak semudah yang dibayangkan. Tidak semua orang yang menghirup udara
yang mengandung bakteri TB akan langsung menderita TBC. Pada kebanyakan
kasus, bakteri yang terhirup ini akan berdiam di paru-paru tanpa menimbulkan

7
penyakit atau menginfeksi orang lain. Bakteri tetap ada di dalam tubuh sambil
menunggu saat yang tepat untuk menginfeksi, yaitu ketika daya tahan tubuh
sedang lemah.

3.4 Faktor Penyebab Tuberkulosis


Penyakit TBC pada seorang di pengaruhi oleh beberapa faktor seperti status
sosial ekonomi ,status gizi,umur, jenis kelamin dan faktor sosial lainnya .

a. Faktor sosial ekonomi sangat erat kaitannya dengan kepadatan rumah


dengan adanya rumah yang padat sangat sulit untuk mendapatkan udara
yang baik dan ventilasi yang baik serta pencahayaan yang baik pula ,serta
sanitasi kerja yang buruk dapat memudahkan penularan virus dengan cepat
,pendapatan juga sangat mempengaruhi dengan tidak layaknya pendapatan
jasa kesehatan .

b. Status gizi keadaan malnutrisi atau kekurangan kalori atau


,protein,vitamin,zat besi dll,akan mempengaruhi daya tahan tubuh dan
jikalau terjadi kekurangan nutrisi dan tidak ditanganin dengan baik akan
dapat secara mudah terjangkit virus TBC

c. Umur sangat mempengaruhi dan paling sering penyakit TB paru di


temukan pada usia produktif 15-50 tahun dengan terjadi transisi demografi
saat ini menyebabkan umur lansia lebih tinggi . pada usia lanjut lebih dari
55 tahun system imunologis seseorang menurun ,sehingga sangat rentan
terhadap berbagai penyakit, termasuk penyakit TB-paru

d. Jenis kelamin : penderita TB paru cenderung lebih ,tinggi terjadi pada laik-
laki dibandingkan perempuan .

3.5 Kondisi Penyakit Tuberkulosis

a. Situasi di dunia

Secara global pada tahun 2016 terdapat 10,4 juta kasus insiden TBC (CI 8,8
juta – 12, juta) yang setara dengan 120 kasus per 100.000 penduduk. Lima negara
dengan insiden kasus tertinggi yaitu India, Indonesia, China, Philipina, dan

8
Pakistan. Sebagian besar estimasi insiden TBC pada tahun 2016 terjadi di
Kawasan Asia Tenggara (45%)—dimana Indonesia merupakan salah satu di
dalamnya—dan 25% nya terjadi di kawasan Afrika seperti pada

Badan kesehatan dunia mendefinisikan negara dengan beban tinggi/high


burden countries (HBC) untuk TBC berdasarkan 3 indikator yaitu TBC,
TBC/HIV, dan MDR-TBC. Terdapat 48 negara yang masuk dalam daftar tersebut.
Satu negara dapat masuk dalam salah satu daftar tersebut, ataukeduanya, bahkan
bisa masuk dalam ketiganya. Indonesia bersama 13 negara lain, masuk dalam
daftar HBC untuk ke 3 indikator tersebut. Artinya Indonesia memiliki
permasalahan besar dalam menghadapi penyakit TBC.

b. Situasi di Indonesia
Jumlah kasus baru TB di Indonesia sebanyak 420.994 kasus pada tahun 2017
(data per 17 Mei 2018). Berdasarkan jenis kelamin, jumlah kasus baru TBC tahun
2017 pada laki-laki 1,4 kali lebih besar dibandingkan pada perempuan.
Bahkan berdasarkan Survei Prevalensi Tuberkulosis prevalensi pada laki-laki 3
kali lebih tinggi dibandingkan pada perempuan. Begitu juga yang terjadi di
negara-negara lain. Hal ini terjadi kemungkinan karena laki-laki lebih
terpapar pada fakto risiko TBC misalnya merokok dan kurangnya ketidakpatuhan
minum obat. Survei ini menemukan bahwa dari seluruh laki-laki yang merokok
sebanyak 68,5% dan hanya 3,7% partisipan perempuan yang merokok.
Berdasarkan Survei Prevalensi Tuberkulosis tahun 2013-2014, prevalensi TBC
dengan konfirmasi bakteriologis di Indonesia sebesar 759 per 100.000 penduduk
berumur 15 tahun ke atas dan prevalensi TBC BTA positif sebesar 257 per
100.000 penduduk berumur 15 tahun ke atas. Berdasarkan survey Riskesdas 2013,
semakin bertambah usia, prevalensinya semakin tinggi. Kemungkinan terjadi re-
aktivasi TBC dan durasi paparan TBC lebih lama dibandingkan kelompok umur
di bawahnya.

9
BAB IV

PENUTUP
5.3 Kesimpulan

1. Tuberkulosis paru merupakan suatu penyakit menular yang disebabkan


oleh basil mikrobacterium tuberkolusis yang merupakan salah satu
penyakit saluran pernafasan bagian bawah yang sebagian besar basil
tuberkolusis masuk ke dalam jaringan paru melalui airbone infection dan
selanjutnya mengalami proses yang dikenal sebagai fokus primer dari
ghon.
2. Gejala penyakit TBC terbagi menjadi dua yaitu:
 Gejala umum dari penyakit TBC : 1) nyeri di bagian dada. 2)
hilangnya selera makan, perasaan tidak enak dan letih. 3) batuk-batuk
selama lebih dari 3 minggu (dapat di sertai dengan darah). 4) demam
tidak terlalu tinggi yang berlangsung lama, disertai dngan keringat
malam, dan serangan demam seperti influenza dan bersifat hilang
timbul. 5) penurunan nafsu makan dan berat badan. 6) perasaan tidak
enak, lemah dan letih.
 Gejala khusus dari penyakit TBC : 1) Tergantung dari organ tubuh
mana yang terkena, bila terjadi sumbatan sebagian bronkus (saluran
yang menuju ke paru-paru) akibat penekanan kelenjar getah bening
yang membesar, akan menimbulkan suara “mengi”, suara nafas
melemah yang disertai sesak. 2) Kalau ada cairan dirongga pleura
(pembungkus paru-paru), dapat disertai dengan keluhan sakit dada. 3)
Bila mengenai tulang, maka akan terjadi gejala seperti infeksi tulang
yang pada suatu saat dapat membentuk saluran dan bermuara pada
kulit di atasnya, pada muara ini akan keluar cairan nanah. 4) Pada
anak-anak dapat mengenai otak (lapisan pembungkus otak) dan
disebut sebagai meningitis (radang selaput otak), gejalanya adalah
demam tinggi, adanya penurunan kesadaran dan kejang-kejang.

10
3. Cara penularan tuberkulosis Saat batuk atau bersin, penderita TBC dapat
menyebarkan kuman yang terdapat dalam dahak ke udara. Dalam sekali
batuk, penderita TBC dapat mengeluarkan sekitar 3000 percikan dahak.
Bakteri TB yang berada di udara bisa bertahan berjam-jam, terutama jika
ruangan gelap dan lembab, sebelum akhirnya terhirup oleh orang lain,
orang-orang yang berisiko tinggi terkena penularan TBC adalah mereka
yang sering bertemu atau berdiam di tempat yang sama dengan penderita
TBC, seperti keluarga, teman sekantor, atau teman sekelas.
6. Faktor penyebab TBC : 1) Faktor sosial ekonomi sangat erat kaitannya
dengan kepadatan untuk mendapatkan udara yang baik dan ventilasi yang
baik serta pencahayaan yang baik pula ,serta sanitasi kerja yang buruk
dapat memudahkan penularan virus dengan cepat ,pendapatan juga sangat
mempengaruhi dengan tidak layaknya pendapatan jasa kesehatan .2) Status
gizi keadaan malnutrisi atau kekurangan kalori atau ,protein,vitamin,zat
besi dll,akan mempengaruhi daya tahan tubuh dan jikalau terjadi
kekurangan nutrisi dan tidak ditanganin dengan baik akan dapat secara
mudah terjangkit virus TBC.3) Umur sangat mempengaruhi dan paling
sering penyakit TB paru di temukan pada usia produktif 15-50 tahun
dengan terjadi transisi demografi saat ini menyebabkan umur lansia lebih
tinggi . pada usia lanjut lebih dari 55 tahun system imunologis seseorang
menurun ,sehingga sangat rentan terhadap berbagai penyakit, termasuk
penyakit TB-paru.4) Jenis kelamin : penderita TB paru cenderung lebih
,tinggi terjadi pada laik-laki dibandingkan perempuan .
7. Secara global pada tahun 2016 terdapat 10,4 juta kasus insiden TBC (CI
8,8 juta – 12, juta) yang setara dengan 120 kasus per 100.000 penduduk.
Lima negara dengan insiden kasus tertinggi yaitu India, Indonesia, China,
Philipina, dan Pakistan.

4.4 Saran

Sebaiknya dalam menerapkan upaya pencegahan TB harus memperhatikan


bibit penyakit (agent), penjemu (host), dan lingkungan (envirotment)serta riwayat

11
alamiah penyakitnya (natural history of disease) sehingga dapat mengetahui dan
merencanakan upaya pencegahan TB yang efektif dan efisien.

Kepada para pembaca kami ucapkan selamat belajar dan manfaatkanlah


makalah ini dengan sebaik-baiknya. Kami menyadari behwa makalah ini masih
perlu ditingkatkan mutunya. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun
sangat kami harapkan.

12
DAFTAR PUSTAKA

https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20180323184938-255-
285465/membedakan-batuk-biasa-dengan-batuk-tbc. Di Akses 28 Februari 2020.

https://www.alodokter.com/proses-terjadinya-penularan-tbc. Di Akses 28
Februari 2020.

I, D., Besar Kesehatan, Rosdiana Syakur, Jusman Usman, and Hasmiwati Asying.
n.d. “Factors Associated With The Incidence of Pulmonary Tuberculosis In
Great Hall Of Community Lung Of Health Makassar.” 1:17–24.

Indah, Marlina.2018.Info Datin Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan


RI. Jakarta Selatan : Kementrian Kesehatan RI.

Setyo dwi widyastuti, riyanto, muhammad fauzi. 2018. “Gambaran Epidemologi


Penyakit Tuberkolusis Paru ( TB PARU ) Kabupaten Indramayu.” (2):102–
15.

Guo, Yan-Rong dkk.2020. The origin, transmission and clinical therapies on coronavirus
Disiase 2019 (COVID-19) outbreak – an update on the status.Guo et al. Military
Medical Research.

13
14
15