Anda di halaman 1dari 15

FAUNA INDONESIA

Oleh:
Muhammad Arya Azzumardi (20)
Rumusan Masalah : 1. Apa manfaat mempelajari sumber daya alam hayati?
2. Fauna di Indonesia sesuai bagiannya
3. Hewan Endemik Indonesia
4. Perilaku manusia yang menyebabkan penurunan
keanekaragaman fauna
S
BAB I. Manfaat Mempelajari Sumber Daya Alam Hayati
Sumber daya alam hayati memiliki manfaat yang penting bagi kehidupan manusia, antara
lain dalam bidang ekonomi, biologi, dan bagi lingkungan, Semua itu  sangat membantu
manusia karena sumber daya alam hayati karna meliputi ragam hewan, tumbuhan, dan
mikroorganisme.

a. Manfaat dalam Bidang Ekonomi


Berbagai enis ikan (ikan tuna dan ikan cakalang) serta jenis udang (udang
windu) mempunyai nilai ekonomi tinggi karena dapat diekspor untuk
menghasilkan devisa bagi negara. Nilai ekonomi hutan dapat berupa hasil
kayu dan rotan yang dapat diekspor ke mancanegara atau digunakan di
dalam negeri.

b. Manfaat dalam Bidang Biologi


Manfaat sumber alam hayati dan segi biologi, yaitu sebagai penunjang kehidupan makhluk
hidup. Tumbuhan menghasilkan oksigen yang diperlukan untuk pernapasan makhluk hidup.
Tumbuhan juga menghasilkan makanan bagi makhluk hidup yang lain. Tumbuhan di hutan
melindungi tanah dari erosi dan longsor serta dapat menyimpan air untuk kehidupan makhluk
hidup yang lain.

Peternakan dan pertanian telah banyak memanfaatkan sumber daya alam hayati. Berbagai jenis
bahan pangan dan sandang diperoleh dan hasil budi daya tumbuhan dan hewan. Tumbuhan dan
hewan yang dibudi dayakan sebenamya berasal dari hutan yang hingga saat ini masih terdapat
berbagai jenis yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan manusia.

c. Manfaat bagi Lingkungan


Sumber daya alam hayati merupakan komponen biotik dalam ekosistem. Tumbuhan hijau
berperan sebagai produsen karena mampu menghasilkan makanan bagi dirinya sendiri dan
makhluk hidup lain. 

Proses pembuatan makanan oleh tumbuhan hijau disebut fotosintesis. Kegiatan fotosintesis


dapat menurunkan kadar CO2 dan meningkatkan kadar 02 di udara. Hewan berperan sebagai
konsumen dan melepaskan CO2 ke udara ketika bernapas. Mikroorganisme berperan sebagai
pengurai yang mengubah zat-zat organik menjadi zat anorganik terlarut yang dapat diserap oleh
akar tanaman
BAB II. Fauna di Indonesia
Fauna di Indonesia beranekaragam dan tersebar luas di seluruh wilayah kepulauan
Indonesia. Menurut catatan para ahli zoologi, kawasan Indonesia ditempati hampir sekitar
2.827 jenis fauna vertebrata non ikan. Dari jumlah tersebut 848 jenis merupakan jenis fauna
endemik (jenis fauna yang hanya terdapat di Indonesia). Bahkan, Indonesia meruapakan
negara kedua di dunia setelah Brasil yang memiliki keanekaragaman hayati.
Berdasarkan tinjauan zoologi (ilmu tentang hewan), tipe fauna di Indonesia dibedakan
menjadi tiga, yaitu:

1.Fauna Tipe Indonesai Barat


Fauna tipe Indonesia barat ini juga disebut fauna tipe Asiatis, karena tipe fauna disini
mempunyai kesamaan dengan fauna Asia. Daerah-daerah persebaran fauna Indonesia bagian
barat ini sama dengan daerah persebaran flora Indonesia barat, wilayahnya meliputi pulau-
pulau Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, dan pulau-pulau kecil di sekitarnya. Batas
persebaran fauna Asiatis bagian timur juga sama dengan batas persebaran flora Asiatis, yaitu
garis Wallace.
Fauna tipe Indonesia barat atau Asiatis ini memiliki ciri-ciri tertentu yang membedakan
dengan fauna tipe lainnya.
Ciri-ciri fauna tipe Indonesia barat
- Adanya binatang menyusui berbadan besar, seperti gajah, kerbau, sapi, dan lain-lain.
- Banyak dijumpai berbagai jenis kera
- Banyak terdapat ikan air tawar
- Jenis-jenis burung tidak banyak macamnya
- Banyak ikan berbetuk lebar dan warnanya sesuai dengan warna airnya.

Contoh fauna tipe Indonesia barat


Beberapa contoh jenis fauna Indonesia bagian barat yaitu: gajah, harimau Sumatera, badak
bercula satu, badak Sumatera, tapir, anjing hutan, musang, banteng, orang utan, aneka
monyet, aneka burung dengan ukuran tubuh relatif kecil, burung hantu, ikan lemuyu, ikan
bawal, selar, ikan kembung, ikan layang, ikan ekor kuning, dan lain-lain.

2.Fauna Tipe Indonesia Tengah


Tipe fauna Indonesia bagian tengah ini disebut juga fauna peralihan atau fauna
Australis-Asiatis. Daerah persebarannya di antara garis Wallace dan garis Webber. Pulau
dan kepulauan yang termasuk daerah persebaran fauna Indonesia tengah ini sama dengan
daerah persebaran flora Indonesia tengah.
Jenis fauna atau hewan pada daerah ini ada yang bersifat endemis (hanya dijumpai di daerah
itu saja), ada juga yang berasal dari daerah lain.

Contoh fauna tipe Indonesia tengah


Fauna atau hewan-hewan yang termasuk dalam fauna Indonesia tengah antara lain: babi rusa,
anoa, burung maleo, komodo, dan lain-lain.

3.Fauna Tipe Indonesia Timur


Fauna Indonesia Timur disebut juga sebagai fauna tipe Australis, sebab
banyakmempunyai kesamaan dengan fauna di Australia. Daerah penyebaran fauna tipe
Indonesia Timur ini berada mulai dari garis Webber ke timur sampai batas Provinsi Papua
dengan negara Papua Nugini.

Ciri-ciri fauna tipe Indonesia timur


- Banyak binatang menyusui berukuran kecil
- Banyak dijumpai binatang berkantung
- Jenis burung memiliki bulu berwarna-warni
- Terdapat sedikit jenis kera
- Ikan air tawar jenisnya sangat sedikit
- Ikan laut kebanyakan memiliki bentuk bulat memanjang.

Contoh fauna tipe Indonesia timur


Burung cendrawasih, burung merak, burung kasuari, burung nuri, burung kakaktua, kanguru,
Anseranas semi palmata (sejenis angsa yang hanya terdapat di Merauke saja), kanguru pohon
(Dendralogus ursinus), Gouravictor (sejenis merak dengan mahkota), babi duri moncong
panjang, dan lain sebagainya.

BAB 3. Hewan Endemik Indonesia


Daftar Hewan Endemik Indonesia

Burung Anis Sulawesi (Catanopera turdoides)

Hewan Endemik Indonesia adalah hewan yang hanya ditemukan


di Indonesia dan tidak ditemukan di tempat lain. Bahkan tidak sedikit hewan
endemik ini hanya ditemukan di satu pulau / wilayah tertentu di Indonesia saja.
Endemisme merupakan gejala yang dialami oleh organisme untuk menjadi unik
pada suatu lokasi geografi tertentu, seperti pulau, lungkang (nihce), negara,
atau zona ekologi tertentu. Untuk dapat dikatakan endemik, spesies hewan
harus ditemukan hanya di suatu tempat tertentu dan tidak ditemukan di tempat
lain. Sehingga hewan yang masuk daftar endemik ini hanya
dipunyai Indonesia saja.

Kadal Cokelat Kalimatan (Lanthanotus borneensis)

Indonesia adalah negara dengan endemisme (tingkat endemik) yang tinggi.


Diperkirakan terdapat lebih dari 165 jenismamalia, 397 jenis aves, lebih dari
150 reptilia, dan lebih dari 100 spesies amfibi yang tercatat endemik
Indonesia.
Daftar Hewan Endemik Indonesia. Berikut hewan endemik tersebut :

 Anoa Dataran Rendah (Bubalus depressicornis) Di Sulawesi.*


 Anoa Pegunungan (Bubalus quarlesi) Di Sulawesi.
 Babi Rusa (Babyrous babyrussa) Di Sulawesi.
 Badak Bercula Satu / Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) Di Jawa.

 Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) Di Sumatera.*

 Bajing Palawan (Sundasciurus juvencus) Di Bali & Sumatera.*


 Bajing Tanah (Lariscus hosei) Di Kalimantan.
 Bajing Telinga Botol (Callosciurrus adamsi) Di Kalimantan.
 Banteng (Bos javanicus) Di Jawa.
 Bekantan / Kera Hidung Panjang (Nasalis larvatus) Di
Kalimantan.*
 Beruk Mentawai (Macaca pagensis) Di Kepulauan Mentawai.
 Burung Anis Sulawesi (Cataponera turdoides) Di Sulawesi.
 Burung Beo Nias (Gracula religiosa robusta) Di Pulau Nias,
Sumatera.*
 Burung Elang Flores (Spizaetus floris) Di Flores.
 Burung Bidadari Halmahera (Semioptera walacii) Di Halmahera,
Maluku Utara.*
 Burung Elang Jawa (Spizaetus bartelsi) Di Jawa
 Burung Cenderawasih (Paradise sp.) Di Papua.*
 Burung Celepuk Siau (Otus siaoensis) Di Pulau Siau, Sulaesi Utara.

 Burung Cerek Jawa (Charadrius javanicus) Di Jawa.*


 Burung Kakatua Putih (Cacatua Alba) Di Maluku Utara.
 Burung Madu Sangihe (Aethopyga duyvenbodei) Di Sangihe,
Sulawesi Utara.
 Burung Maleo (Macrocephalon maleo) Di Sulawesi*.
 Burung Rangkong (Buceros rhinoceros) Di Kalimantan.
 Burung Sempidan Kalimantan (Lophura bulweri) Di Kalimantan.*
 Burung Trulek Jawa (Vanellus macropterus) Di Jawa.

 Burung Tokhtor Kalimantan (Carpococcyx radiceus) Di


Kalimantan.*
 Burung Tokhtor Sumatera (Carpococcyx viridis) Di Sulawesi.
 Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) Di Sumatera.*
 Jalak Bali (Leucopsar rothschildi) Di Bali.
 Kadal Cokelat Kalimantan (Lanthanotus borneensis) Di
Kalimantan.
 Kambing Hutan Sumatera (Capricornis sumatraensis) Di
Sumatera.
 Kancil Jawa (Tragulus javanicus) Di Jawa.
 Kanguru Pohon Mantel Emas (Dendrolagus pulcherrimus) Di
Papua.*
 Kasuari Gelambir Tunggal (Casuarius unappendiculatus) Di Papua.
 Kasuari Kerdil (Cuasuarius benentti) Di Papua.
 Katak Tanpa Paru-Paru (Barourula kalimantanensis) Di
Kalimantan.*
 Kelelawar Berjenggot Cokelat / Ekor Selubung (Taphozous
achates) Di Nusa Penida, Bali.

 Kelinci Belang Sumatera (Nesolagus netscheri) Di Sumatera.*


 Kera Blanda (Nasalis larvatus) Di Kalimantan

 Kera Hitam Sulawesi (Macaca nigra) Di Sulawesi Utara.*


 Kodok Darah (Leptophryme cruentata) Di Jawa Barat.
 Kodok Pohon Ungaran (Phlaiutus jacobsoni) Di Jawa Tengah.
 Komodo (Varanus komodoensis) Di P. Komodo, Nusa Tenggara
Timur.*
 Kucing Bakau (Prionailurus bengalensis javanensis) Di Jawa.*

 Kucing Merah (Felis badia) Di Kalimantan.*


 Kukang Jawa (Nycticebus javanicus) Di Jawa.
 Kura-Kura Berleher Ular (Chelodina mccordi) Di P. Rote, Nusa
Tenggara Timur.*
 Kuskus Beruang (Ailurops ursinus) Di Sulawesi.
 Kuskus Gede (Phalanger alexandrae) Di P. Gede, Maluku Utara.
 Kuskus Mata Biru (Phalanger matabiru) Di P. Ternate & Tidore,
Maluku.
 Kuskus Kerdil (Strigocuscus celebensis) Di Sulawesi.*
 Kuskus Obi (Phalanger rothschildi) Di P. Obi, Maluku.
 Landak Jawa (Hystrix javanica) Di Jawa.*
 Landak Sumatra (Hystrix sumatrae) Di Sumatera.
 Owa Jawa (Hylobats moloch) Di Jawa.

 Owa-Owa (Hylobates muelleri) Di Kalimantan.*


 Rusa Bawean (Axis kuhlii) Di P. Bawean.*
 Rusa Timor (Cervus timorensis) Di Bali & Irian Jaya.
 Siamang (Hylobates syndactylus) Di Sumatera.

 Surili (Presbytis comata) Di Jawa.*


 Tarsius Bangka / Mentilin (Tarsisus bancanus) Di Sulawesi Utara.
 Tarsius Peleg (Tarsius pelengensis) Di P. Peleng, Sulawesi.*

BAB III. Flora di Indonesia

Menurut sejarah dahulu kala dunia ini hanya terdapat satu benua yaitu pengea.
Kemudian karena adanya proses tektonik dari dalam perut bumi yang
menyebabkan pergerakan lempeng bumi di bagian lapisan atmosfer dan
kemudian berdampak pada pergesera daratan yang ada di atasnya. Benua yang
tadinya satu kemudian bergeser dan menjadi bentuk benua seperti keadaan yang
bisa dilihat saat ini. daerah Indonesia bagian barat dulunya menyatu dengan
daratan asia dan wilayah Indonesia bagian timur berada satu dengan benua
Australia. Oleh karena itu flora dan fauna yang ada di wilayah Indonesia bagian
barat hampir sama dengan yang ada di benua asia dan flora fauna yang ada di
wilayah Indonesia bagian timur hampir sama dengan yang ada di benua Australia.

Persebaran flora
Persebaran flora (dunia tumbuhan) di Indonesia juga terbagi menjadi tiga wilayah
yaitu bagian barat, timur dan tengah atau peralihan. Setiap wilayah memiliki
karakterisktik masing-masing yang khas dan berbeda satu sama lainnya.
Keadaan flora dan fauna yang di lindungi di Indonesia saat ini jumlahnya sudah
semakin menyusut karena adanya eksploitasi hutan yang dilakukan oleh manusia.
Menurut ahli biologi dari belanda Van Steenis di Indonesia setidaknya terdapat
kurang lebih 4000 jenis pohon, 1500 jenis tumbuhan pakis-pakisan dan terdapat
5000 jenis bunga anggrek. Bukan itu saja bahkan van steenis mengelompokan
terdapat kurang lebih 25.000 jenis tanaman yang memiliki bunga dan kurang lebih
1,700 tumbuhan yang tidak memiliki bunga.

Flora di Indonesia mencapai 10% dari yang ada di dunia, lumut dan ganggang
yang ada di Indonesia mencapai 35.000 jenis. 40% dari flora di Indonesia
merupakan flora endemik yang hanya bisa ditemukan di Indonesia saja dengan
total jenisnya sebanyak 202 dan 59 diantaranya berada di pulau Kalimantan.
Vegetasi anggrek merupakan vegetasi yang terbesar di dalam flora ini. Dengan
fakta ini menjadikan Indonesia merupakan negara yang memiliki jenis Flora di
Indonesia bagian Barat, Timur dan Tengah :

1. Flora di wilayah bagian Barat (Paparan Sunda)


Jika di Kalimantan terdapat 59 jenis flora endemik maka di paparan sahul ini
terdapat 10 jenis tumbuhan endemik yang hanya bisa tumbuh di daerah paparan
sahul saja. wilayah paparan sahul meliputi pulau Kalimantan, sumatera dan jawa
yang memiliki hutan hujan tropis terbesar dan terluas di dunia. flora di paparan
sunda terbagi menjadi tiga macam yaitu flora endemik seperti bunga bangkai atau
raflesia arnoldi yang hanya terdapat di wilayah Bengkulu, jambi, dan sumatera
selatan serta bunga anggrek tien Suharto yang hanya ada di wilayah sumatera
utara. Selanjutnya flora khas paparan sunda adalah pada bagian pantai timur di
dominasi hutan mangrove dan rawa gambut. Kemudian flora di bagian pantai
barat didominasi oleh meranti-merantian, rawa gambut, kemuning, rotan dan
hutan rawa air tawar. (baca : ciri ciri hutan hujan tropis)
2. Flora di wilayah bagian Timur (Paparan Sahul)
Flora atau tumbuhan sahul yang ada di wilayah Indonesia bagian timur atau bisa
juga disebut dengan flora australis. Mengapa disebut dengan flora australis? Hal
ini dikarenakan seperti yang sudah dibicarakan sebelumnya bahwa wilayah
Indonesia bagian timur dahulu menyatu dengan benua australia sehingga jenis
floranya juga hampir sama. Wilayah flora sahul meliputi daerah pulau papua dan
beberapa pulau-pulau kecil disekitarnya.

Hutan sahul memiliki ciri-ciri seperti sama dengan hutan Australia wilayah utara
dengan beribu-ribu jenis tumbuhan dengan daunnya yang lebat dan hijau,
ketinggian pohon di wilayah ini bisa mencapai 50 meter tingginya.Karena
lebatnya daun pohon di hutan sahul membuat sinar matahari tidak menembus
tanah sehingga kelembapan dan memiliki ciri ciri air tanah yang baik dan
membuat tanah subur dengan organisme yang ada di dalamnya. Karena hal ini
pula terdapat banyak tumbuhan merambat atau epifit.

Pohon-pohon yang menghasilkan kualitas kayu yang sangat berkualitas tumbuh di


hutan ini seperti :

 Pohon besi, cemara, merbau, jati dan eben hitam.


 Di daerah pesisir pantai terdapat hutan mangrove yang sangat lebat dan
sangat bagus untuk keamanan pantai. Sedangkan di daerah rawa terdapat pohon
sagu yang merupakan makanan pokok daerah papua.
 Tumbuhan endemik di daerah tersebut diantaranya adalah pohon
Rhododendron. Secara garis umum jenis flora yang ada di parapan sahul meliputi
pohon sagu, hutan hujan tropic dan jenis pemetia pinnata.

3. Flora daerah tengah atau peralihan


Seperti dengan namanya flora ini terletak di wilayah tengah atau peralihan dari
wilayah timur dan barat. Wilayah yang termasuk di dalamnya adalah wilayah
pulau Sulawesi, Maluku dan nusa tenggara. Di pulau Sulawesi setidaknya terdapat
4.222 jenis flora yang memiliki karakteristik yang hampir mirip dengan yang ada
di Flipina, Maluku, nusa tenggara, dan jawa. Flora di bagian peralihan ini jika
terdapat di pantai akan mirip dengan yang ada di papua namun untuk flora yang
berada di gurun sangat mirip dengan yang ada di Kalimantan.

Jenis flora endemik di wilayah ini adalah kayu ebonu atau yang biasa dikenal
dengan kayu besi di pulau Sulawesi. Saat ini kayu eboni atau kayu besi masuk
dalam jajaran flora yang dilindungi karena sudah terancam punah keberadaannya.
Kualitas kayu yang kuat dan awet membuatnya memiliki harga mahal.

Perbedaan Flora Wilayah Paparan Sahul dan Paparan Sunda


Berikut perbedaan flora yang tumbuh di daerah Paparan Sahul dan Paparan sunda
yang memiliki berbagai macam perbedaan yang tidak di miliki di masing-masing
wilayah tersebut.

Berikut adalah penjelasannya :

 Sedikit jenis tumbuhan matoa (Pometia Pinnata)


 Terdapat berbagai jenis tumbuhan yang sejenis dengan nangka (Arcotapus
ssp)
 Tidak ada hutan kayu putih atau eucalyptus
 Tidak ada tumbuhan jenis sagu
 Terdapat berbagai jenis rotan
 Sangat banyak tumbuhan jenis meranti-merantian

Setelah kita mengetahui mengenai perbedaan Paparan Sunda dan Paparan Sahul,
kita akan menjelaskan beberapa faktor yang mempengaruhi persebaran flora di
Indonesia, yaitu faktor fisik atau biotic.

Berikut adalah penjelasan mengenai faktor fisik dan faktor abiotik :

1. Faktor fisik
Ada faktor fisik yang mempengaruhi flora yang hidup di bumi, beberapa faktor
fisik yang memerlukan adaptasi dengan lingkungan dimana flora tersebut hidup
dan berkembang biak.

Berikut adalah penjelasan dari faktor fisik yang mempengaruhi flora :

Sponsors Link

 Iklim – Faktor iklim sangat erat kaitannya dengan suhu udara dan jumlah
curah hujan yang ada di daerah tersebut. Daerah yang memiliki curah hujan tinggi
biasanya akan memiliki hutan yang lebat dengan pohon menjulang tinggi dan
berdaun hijau. Karena lebatnya daun ini, sinar matahari sukar menembus tanah
mengakibatakan kelembapan tanah yang baik untuk pertumbuhan tumbuhan kecil
seperti jamur dan bunga-bunga. Untuk daerah yang memiliki tingkat curah hujan
rendah tidak memiliki hutan yang lebat melainkan tanahnya akan kering sehingga
tumbuhan yang dapat hidup hanya sedikit saja. contohnya di daerah nusa
tenggara yang curah hujan rendah tidak terdapat hutan lebat. (baca : manfaat
curah hujan yang tinggi)
 Suhu udara – Suhu udara sangat berpengaruh pada tumbuh kembang
tumbuh-tumbuhan itu sendiri. Semakin tinggi suatu tempat maka akan semakin
rendah suhu udaranya begitu pula sebaliknya. jadi, tanaman akan tumbuh saat
suhu udaranya sesuai dengan perkembangannya. Misalnya pohon teh akan
tumbuh subur pada suhu udara dingin sedangkan semangka akan tumbuh subur
pada tempat yang suhu udaranya tinggi.
 Tanah dan relief – Jenis jenis tanah dan relief ini sangat berpengaruh pada
pertumbuhan flora itu sendiri. Misalnya tekstur tanah yang kasar dan merupakan
tanah kapur hanya bisa ditumbuhi tumbuhan tertentu yang kuat sepert pohon jati,
pinus dan lainnya.
 Air – Air merupakan faktor yang sangat penting untuk pertumbuhan flora
karena merupakan jenis jenis sumber daya alamutama makanan flora selain sinar
matahari. Berdasarkan kebutuhan air yang dibutuhkan oleh tanaman akan
dibedakan menjadi 3 golongan yaitu:
 Xerofita – Merupakan tumbuh-tumbuhan yang bisa tumbuh di daerah yang
panas dan kering atau kandungan air di dalam tanahnya sedikit. Contoh, kaktus
yang hidup di gurun.
 Hidrofita –  Merupakan tumbuhan yang dapat hidup di daerah yang banyak
air atau basah bahkan hidup diatas air. Contohnya saja teratai dan enceng
gondok.
 Mesofita – Adalah tumbuhan yang dapat hidup di daerah yang sedang tidak
terlalu banyak airnya namun juga tidak sedikit seperti di hutan tropis.
 Geologi – Faktor yang satu ini berkaitan dengan pembentukan bumi karena
adanya pergeseran lempeng atau paparan. Seperti misalnya paparan sahul dan
pulau Australia masih memiliki jenis flora yang hampir sama dan flora bagian
sumatera dengan Kalimantan memiliki kemiripan 50%. (baca : manfaat letak
geologis)

2. Faktor biotik
Persebaran flora dan fauna di Indonesia maupun di dunia juga sangat dipengaruhi
oleh faktor biotik. Faktor biotik di sini adalah hewan dan manusia, hewan mampu
berperan dalam persebaran flora karena membawa biji flora dan membawanya ke
tempat lain sehingga biji tumbuhan tersebut bisa tumbuh di tempat lain.
Sedangkan untuk manusia perannya sangat besar karena manusia mampu
memindahkan tumbuhan dengan cepat dan dengan jumlah yang besar. Misalnya
saja di daerah perkotaan tidak ada tumbuhan tertentu kemudian manusia
membawa bibitnya dan kemudian menanamnya di kota sehingga tumbuhan
tersebut dapat tumbuh. Manusia juga bisa mengubah ruang publik untuk
kehidupan lingkungan dengan mengubahnya menjadi lebih Baik atau justru
merusaknya.

BAB IV
Perilaku manusia yang menyebabkan penurunan
keanekaragaman fauna

Manusia adalah makhluk hidup, sama dengan makhluk hidup yang lain. Oleh karena itu,
manusia juga berinteraksi dengan alam sekitarnya. Manusia mempunyai kemampuan untuk
mempengaruhi alam sekitarnya karena manusia merupakan makhluk yang memiliki
kelebihan akal dibandingkan dengan makhluk lainnya.

Di dalam ekosistem, manusia merupakan bagian yang paling dominan, karena dapat berbuat
apa saja terhadap ekosistem. Akan tetapi, perlu diingat bahwa kelangsungan hidup manusia
juga bergantung dari kelestarian ekosistem tempat manusia hidup. Kelestarian berarti juga
terjaganya keanekaragaman hayati (biodiversitas). Pemanfataan sumber daya alam secara
berlebihan dapat mengakibatkan berkurangnya keanekaragaman hayati atau bahkan terjadi
kepunahan jenis tersebut. Pengaruh manusia terhadap lingkungan dapat mengakibatkan dua
kemungkinan, yaitu alam menjadi rusak (deteriorasi) atau sebaliknya, yaitu alam tetap lestari.

1. Kegiatan Manusia yang Dapat Menurunkan Keanekaragaman Hayati

Penebangan hutan, hutan dijadikan lahan pertanian atau pemukiman dan akhirnya tumbuh
menjadi perkotaan. Hal ini menyebabkan kerusakan habitat yang mengakibatkan menurunnya
keanekaragaman ekosistem, jenis, dan gen.
Polusi, bahan pencemar dapat membunuh mikroba, jamur, hewan, dan tumbuhan.
Penggunaan spesies yang berlebihan untuk kepentingan manusia. Meningkatnya jumlah
penduduk, sehingga keperluannya pun meningkat pula. Hal ini didukung dengan
pengembangan teknologi pemanfaatan sehingga mengonsumsi keanekaragaman dengan
cepat.
Seleksi, adalah memilih sesuatu yang disukai menurut penilaian individu. Secara tidak
sengaja perilaku seleksi akan mempercepat kepunahan makhluk hidup. Misalnya, kita sering
hanya menanam tanaman yang kita anggap unggul, seperti jambu bangkok, jeruk mandarin,
dan mangga gedong. Sebaliknya, kita menghilangkan tanaman yang kita anggap kurang
unggul, contohnya, jeruk pacitan dan mangga curut.

2. Kegiatan Manusia yang Dapat Meningkatkankan Keanekaragaman Hayati

Pemuliaan, yaitu usaha membuat varietas unggul dengan cara melakukan perkawinan silang
menghasilkan variasi baru (meningkatkan keanekaragaman gen).
Reboisasi (penghijauan), dapat meningkatkan keanekaragaman hayati. Adanya tumbuhan
berarti memberikan lingkungan yang lebih baik bagi organisme lain.
Pembuatan taman-taman kota, yaitu memberikan keindahan dan lingkungan lebih nyaman,
serta dapat meningkatkan keanekaragaman hayati.
Usaha manusia untuk mempertahankan keberadaan plasma nutfah yang dikenal sebagai usaha
pelestarian atau konservasi. Dilakukan melalui dua cara, yaitu: secara in-situ (dilaksanakan di
habitat aslinya) dan pelestarian secara ex-situ (dilaksanakan dengan memindahkan individu
yang dilestarikan dari tempat tumbuh aslinya dan dipelihara di tempat lain).