Anda di halaman 1dari 13

ANALISIS KESALAHAN DIKSI PADA SURAT KABAR TRIBUN JOGJA

EDISI APRIL-MEI 2019

Akhmad Rifqi Ramadhani, Nurlita Safitri, Annisa Athea Putri

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Ahmad Dahlan

Rifqidani01@gmail.com
Nurlitasafitri62@gmail.com
Icaanisa1@gmail.com

Abstrak

Kemampuan berbahasa merupakan kemampuan seseorang dalam menggunakan bahasa


secara lisan maupun tertulis dengan baik dan benar sesuai dengan kaidah berlaku. Salah
satu media cetak yang digunakan dalam bahasa tulis adalah surat kabar. Tribun Jogja
merupakan salah satu surat kabar local yang berada di Jogja. Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui bentuk kesalahan diksi dalam surat kabar Tribun Jogja edisi April-Mei
2019. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, analisis data dilakukan
membaca teks berita Tribun Jogja, mencatat data, mengelompokkan, menganalisis data
dan menyimpulkan hasil pengamatan. Objek penelitian dalam penelitian ini yaitu berita
utama Tribun Jogja yang terdapat dalam surat kabar Tribun Jogja edisi April-Mei 2019.
Subjek penelitiannya adalah kesalahan diksi pada surat kabar Tribun Jogja edisi April-
Mei 2019. Dari hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa terdapat kesalahan-kesalahan
dalam penggunaan diksi di surat kabar Tribun Jogja ada tiga yakni kesalahan dari segi
tata baku, gramatikal, dan makna yang tidak tepat

Kata Kunci: Kesalahan Diksi, Tribun Jogja.

Abstract

Language ability is a person's ability to use language verbally or in writing properly and
correctly in accordance with applicable rules. One of the printed media used in written
language is newspapers. Tribun Jogja is one of the local newspapers in Jogja. This study
aims to determine the form of errors in diction in the Tribun Jogja newspaper, the April-
May 2019 edition. This study uses descriptive qualitative methods, data analysis is
carried out by reading Tribune Jogja news texts, recording data, grouping, analyzing
data and concluding observations. The object of the research in this research is the
Tribune Jogja headline found in the Tribun Jogja newspaper edition April-May 2019.
The subject of his research is the mistake of diction in the Tribun Jogja newspaper
edition April-May 2019. From the research results, it can be concluded that there are
errors in the use of diction in the Tribun Jogja newspaper there are three, namely errors
in terms of standard, grammatical, and meaning

Keywords: diction mistake, Tribune Jogja

1
A. PENDAHULUAN

Kemampuan berbahasa merupakan kemampuan seseorang dalam menggunakan


bahasa secara lisan maupun tertulis dengan baik dan benar sesuai dengan kaidah berlaku.
Dengan bahasa, manusia dapat menyatakan sikap, menyampaikan ide, pikiran, perasaan,
dan pandangannya kepada orang lain yang dapat dilakukan secara lisan maupun tertulis.
Berbicara tentang bahasa, manusia memang memerlukan bahasa dalam berkomunikasi.
Menurut Gorys Keraf (1990:27) Bahasa berfungsi sebagai alat komunikasi baik lisan
maupun tulis. Artinya bahwa bahasa adalah suatu alat untuk mengungkapkan pikiran,
perasaan, dan kemauan yang murni manusiawi, dengan pertolongan sistem lambang-
lambang yang diciptakan dengan sengaja. Penyampaian informasi atau pesan tersebut
tentunya dengan menggunakan kata. Maka, agar pesan yang disampaikan oleh penutur
dapat diterima oleh penerima hendaknya perlu memerhatikan penyusunan kata dengan
baik.

Salah satu cabang linguistik yang dipilih untuk artikel ini adalah analisis kesalahan
berbahasa dalam tataran semantik. Dalam linguistik, semantik adalah sub bidang yang
dikhususkan untuk studi tentang makna, seperti yang melekat di tingkat kata, frasa,
kalimat, dan unit yang lebih besar dari wacana (disebut teks). Daerah dasar studi ini
adalah arti dari tanda-tanda, dan studi tentang hubungan antara unit linguistik yang
berbeda dan senyawa: homonim, polisemi, sinonim, antonim, hipernim, hiponim,
meronim, metonimia, holonim, paronim. Perhatian utama adalah bagaimana makna
menempel pada potongan yang lebih besar dari teks, mungkin sebagai akibat dari
komposisi dari unit yang lebih kecil dari makna. Secara tradisional, semantik sudah
termasuk studi tentang arti dan referensi denotatif, kondisi kebenaran, struktur argumen,
peran tematik, analisis wacana, dan hubungan semua ini untuk sintaksis.

Kesalahan berbahasa dalam tataran semantik dapat berkaitan dengan bahasa tulis
maupun bahasa lisan. Kesalahan berbahasa ini dapat terjadi pada tataran fonolgi,
morfologi, dan sintaksis. Kesalahan berbahasa dalam tataran semantik ini penekanannya
pada penyimpangan makna, baik yang terjadi pada penyimpangan makna, baik yang
berkaitan dengan fonologi, morfologi, maupun sintaksis. Jadi, jika ada sebuah bunyi,
bentuk kata, ataupun kalimat yang maknanya menyimpang dari makna yang seharusnya,
maka tergolong ke dalam kesalahan berbahasa ini. Banyak penyimpangan terjadi dalam
penggunaan bahasa sehari-hari yang berkaitan dengan makna yang tidak tepat. Makna

2
yang tidak tepat tersebut dapat berupa kesalahan penggunaan kata-kata yang mirip dan
kesalahan pilihan kata atau diksi.

Diksi adalah pilihan kata, maksudnya kita memilih kata yang tepat untuk
mengungkapkan sesuatu (Keraf, 1994: 22). Kata yang tepat dapat membantu seseorang
mengungkapkan dengan tepat apa yang ingin disampaikannya, baik secara lisan maupun
tulisan. Selain itu, pemilihan kata harus pula sesuai dengan situasi dan tempat
penggunaan kata-kata tersebut. Menurut Keraf (1994: 24), ada tiga kesimpulan utama
dalam diksi, yaitu, pertama, pilihan kata atau diksi mencakup pengertian kata-kata mana
yang dipakai untuk menyampaikan suatu gagasan, bagaimana pengelompokkan kata-kata
yang tepat atau menggunakan ungkapan-ungkapan yang tepat, dan gaya mana yang
paling baik digunakan dalam suatu situasi. Kedua, pilihan kata atau diksi adalah
kemampuan membedakan secara tepat nuansa-nuansa makna dari gagasan yang ingin
disampaikan, dan kemampuan untuk menemukan bentuk yang sesuai (cocok) dengan
situasi dan nilai rasa yang dimiliki kelompok masyarakat pendengar.

Ketiga, pilihan kata yang tepat dan yang sesuai hanya dimungkinkan oleh penguasaan
sejumlah besar kosakata atau perbendaharaan kata bahasa itu. Pilihan kata ini sangat
penting dalam penulisan surat. Jika terjadi kesalahan dalam pemilihan kata ini, akan
berakibat pada pemahaman yang berbeda dengan penerima surat. Artinya, informasi yang
ingin disampaikan tidak dapat diterima dengan baik oleh si penerima surat. Oleh karena
itu, alangkah indahnya apabila para pelaku surat menyurat itu memiliki wawasan yang
memadai perihal kosa kata dan perbendaharaan kata.

Kesalahan diksi yaitu penggunaan kata-kata yang saling menggantikan yang


dipaksakan akan menimbulkan perubahan makna kalimat bahkan merusak struktur
kalimat, jika tidak disesuaikan dengan makna atau maksud kalimat yang sebenarnya.
Pilihan kata yang tidak tepat sering penggunaannya divariasikan secara bebas, sehingga
menimbulkan kesalahan. Kesalahan diksi diklasifikasikan menjadi tiga bagian yakni,
kesalahan tata baku, kesalahan gramtikal, dan kesalahan makna yang tidak tepat.
Kesalahan tata baku adalah kesalahan kalimat dalam kaidah tata bahasa Indonesia yang
tidak sesuai dengan aturan berbahasa yang ditetapkan oleh Pusat Bahasa Indonesia.
Kesalahan gramatikal adalah penyimpangan terhadap aturan baku dalam bahasa tulis
maupun lisan yang terjadi secara sistematis. Dalam proses mempelajari suatu bahasa
kesalahan gramatikal adalah sesuatu yang wajar dan sering kali tidak terhindari.

3
Kesalahan makna yang tidak tepat adalah penyimpangan terhadap makna kata yang tidak
seharusnya ditulis pada suatu kalimat sehingga kalimat tersebut bermakna ganda
berbahasa yang ditetapkan oleh Pusat Bahasa Indonesia

Salah satu media cetak yang digunakan dalam bahasa tulis adalah surat kabar. Fungsi
surat kabar adalah untuk menyampaikan informasi secara faktual dan dapat dipahami oleh
semua lapisan masyarakat. Artinya, semua berita yang ada pada surat kabar bisa dibaca
oleh siapapun yang membutuhkannya tanpa memandang status masyarakat, mulai dari
masyarakat awam sampai masyarakat intelektual. Surat kabar memiliki peran penting
dalam pertumbuhan dan perkembangan bahasa Indonesia. Perannya dapat bersifat positif
dan negatif. Surat kabar yang berperan positif apabila b`ahasa yang digunakan dalam
surat kabar adalah bahasa yang baik dan terpelihara, sedangkan surat kabar yang berperan
negatif apabila bahasa yang digunakan cenderung merugikan pihak lain. Tulisan dalam
surat kabar (koran) tidak terlepas dari kesalahan, kesalahan yang ditemukan tentu sangat
beragam baik itu dari ejaan, diksi, ataupun tataran morfologinya.

Tribun Jogja adalah sebuah surat kabar harian yang terbit di Yogyakarta, Indonesia.
Surat kabar ini termasuk dalam grup Kompas Gramedia. Kantor pusatnya terletak di kota
Yogyakarta. Surat kabar ini sangat rutin menerbitkan beritanya. Berita-berita dalam surat
kabar ini bisa diperoleh baik itu melalui cetak atau online. Tulisan dalam surat kabar
Tribun Jogja terkadang ditemukan kesalahan dalam penulisannya khususnya mengenai
diksi (pilihan kata). Oleh karena itu dalam penelitian kali ini, peneliti tertarik untuk
meneliti Kesalahan Diksi pada surat kabar Tribun Jogja edisi April-Mei 2019.

Penelitian yang relevan dengan penelitian ini yaitu penelitian yang dilaksanakan
oleh Dona Efrilla, Asri Wahyuni Sari, dan Afrini Rahmi yang berasal dari program Studi
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP PGRI Sumatera Barat. Hasil penelitian
yang didapatkan yaitu dapat disimpulkan bahwa pengggunaan ejaan dan diksi dalam
berita surat kabar Posmetro Padang dilihat dari (1) pemakaian huruf mencakupi huruf
kapital dan huruf miring, (2) penulisan kata mencakupi kata depan dan partikel, (3)
pemakaian tanda baca yaitu tanda titik, (4) persyaratan ketepatan diksi mencakupi: a.
membedakan secara cermat kata-kata yang hampir bersinonim, b. membedakan katakata
mirip ejaanya, c. memperhatikan kelangsungan pilihan kata. Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa analisis kesalahan penggunaan ejaan dan diksi dalam berita surat
kabar Posmetro Padang. Dilihat dari unsur PUEBI meliputi: Kesalahan penggunaan

4
huruf, diantaranya huruf kapital dan huruf miring. Penulisan kata, diantaranya penulisan
kata depan dan partikel. Pemakaian tanda baca yaitu tanda titik. Sedangkan berdasarkan
ketepatan diksi diantaranya membedakan secara cermat kata-kata yang hampir
bersinonim, berdasarkan membedakan kata-kata yang mirip ejaannya, berdasarkan
memperhatikan kelangsungan pilihan kata. Kesalahan penggunaan ejaan dan diksi
terbanyak dari aspek diksi. Hal ini tentu relevan dengan penelitian yang kami lakukan
yang mana terdapat pengklasifikasian jenis-jenis kesalahan diksi yang berbeda yaitu dari
segi tata baku, gramatikal dan makna.

Rumusan masalah dalam penelitian ini yakni bagaimana bentuk kesalahan diksi pada
surat kabar Tribun Jogja edisi April-Mei 2019?. Sedangkan tujuan dari penelitian ini
adalah mendeskripsikan kesalahan diksi pada pada surat kabar Tribun jogja edisi April-
Mei 2019. Manfaat teoritis, (1) hasil dari penelitian ini diharapkan dapat digunakan
sebagai tinjauan untuk memahami struktur kesalahan diksi yang sesuai dengan kaidah
bahasa Indonesia, (2) penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber pembelajaran
dalam struktur kesalahan diksi pada pembelajaran bahasa Indonesia. Manfaat praktis,
hasil penelitian ini diharapkan dapat menjdi acuan peneliti lain dalam mengembangkan
penelitiannya serta menjadi sumber belajar untuk mengembangkan penelitian yang
sedang dikerjakan.

B. METODE PENELITIAN

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif.
Penelitian deskriptif kualitatif adalah bentuk penelitian yang bertujuan untuk
mendekskripsikan atau menggambarkan secara kualitatif fenomena yang diamati oleh
peneliti yang ada di lapangan. Jenis penelitian kualitatif melibatkan kegiatan otologis,
data yang dikumpulkan berupa kata-kata, kalimat ataua gambar yang memiliki arti lebih
daripada sekedar angka atau frekuensi (sutopo, 2001).

Subjek penelitian ini adalah surat kabar Tribun Jogja edisi April-Mei 2019. Objek
dalam penelitian ini adalah kesalahan pada berita utama di surat kabar Tribun Jogja edisi
April-Mei 2019. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah menggunakan
metode simak. Disebut metode simak karena memang berupa penyimakan: dilakukan
dengan menyimak yaitu menyimak penggunaan bahasa (Sudaryanto, 2005:203). Pada
tahap ini, peneliti menyimak data untuk mengetahui subjek yang dicari, yaitu berupa

5
kesalahan diksi pada surat kabar Tribun Jogja edisi April-Mei 2019. Teknik dasar yang
digunakan adalah teknik sadap. Pada praktiknya, penyimakan atau metode simak itu
diwujudkan dengan penyadapan. Setelah membaca dan menyimak kesalahan diksi pada
surat kabar Tribun Jogja edisi April-Mei 2019 kemudian dilanjutkan dengan melakukan
penyadapan. Teknik lanjutan yang digunakan adalah teknik catat. Setelah melakukan
penyadapan dan akhirnya menemukan data sesuai untuk diteliti, lalu peneliti melakukan
pencatatan pada kartu data yang segera dilanjutkan dengan

C. HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil penelitian ini mendeskripsikan kesalahan diksi yang diklasifikasikan menjadi


tiga bagian yakni dari segia gramatikal, tata baku dan makna yang tidak tepat melalui dari
tulisan surat kabar Tribun Jogja edisi April-Mei 2019. Tribun Jogja adalah sebuah surat
kabar harian yang terbit di Yogyakarta, Indonesia. Surat kabar ini termasuk dalam grup
Kompas Gramedia. Tujuan disusunnya jurnal ini adalah sebagai referensi belajar dalam
bidang pendidikan, selain itu jurnal ini memberikan manfaat untuk siswa, guru, dan
masyarakat.

Data yang diteliti adalah kalimat-kalimat yang diperoleh dari kesalahan diksi pada
surat kabar Tribun Jogja edisi April-Mei 2019. Berdasarkan hasil penelitian dapat
ditemukan kesalahan diksi yang tidak sesuai dengan kaidah kebahasaan semantic dengan
indicator. (a) kesalahan dari segi gramatikal, (b) kesalahan dari segi tata baku, (c)
kesalahan dari segi makna yang tidak tepat

1. Kesalahan dari Segi Kata Baku

Berdasarkan analisis data, ditemukan kesalahan diksi dari segi kata baku. Bentuk
penjelasan data yang ditemukan dalam penulisan berita surat kabar Tribun Jogja. Syarat
suatu kalimat yang baik adalah penulisannya harus disesuaikan dengan kaidah kebahsaan.
Kesalahan tata baku adalah kesalahan kalimat dalam kaidah tata bahasa Indonesia yang
tidak sesuai dengan aturan berbahasa yang ditetapkan oleh Pusat Bahasa Indonesia, hal
ini dapat ditemukan dalam data berikut

(1) Berdasarkan hasil pendataan, sebanyak 168 warga binaan terpaksa golput
karena tak masuk dalam DPT asal mereka. (Halaman 2).

6
(2) Teroris Berencana Ngebom di Yogya. (Halaman 1).
(3) Tingkat kelulusan UN sangat jeblok dibandingkan dengan daerah-daerah
lainnya.
(4) Ratusan korban luka serius, kebanyakan harus rela kehilangan sebagian
anggota tubuhnya, karena mesti diamputasi.
(5) Pengamanan super ketat di Amerika Serikat ,pasca terjadinya teror bom di
menara kembar WTC 2001 lalu,ternyata harus terulang kembali dengan ‘bom
Boston’.
(6) Bahkan dengan capaian nilai yang maksimal.

Pada data (1) terdapat salah satu kata tidak dituliskan secara baku sesuai kaidah
kebahasaan sehingga menjadikan kalimat tersebut tidak tepat, karena surat kabar pada
dasarnya adalah media yang mana beritanya ditulis dengan bahasa yang baku dan formal
adapun kesalahan pada kalimat tersebut yakni ditandai dengan penulisan kata tak,
seharusnya menggunakan kata tidak yang merupakan kata baku.

Pada data (2) dengan kata ngebom, kata ngebom merupakan kata tidak baku dan
tidak terdapat dalam kaidah kebahasasaan sehingga diganti menjadi mengebom.

Pada data (3) kata jeblok pada kalimat tersebut ketika dibaca menjadi tidak
efektif, karena konteks kalimat tersebut menjelaskan menurunnya nilai UN, ketika kata
jeblok digunakan menjadikan kalimat tersebut seolah-olah menunjukkan bahasa yang non
formal sehingga penggunaannya diganti menjadi kata menurun yang lebih sesuai
konteksnya dan lebih efektif

Pada data (4) kata mesti merupakan sinonim dari kata harus, penggunaan kata
mesti pada kalimat tersebut tidak efektif digunakan karena diksinya kurang tepat dan
tidak baku ketika dibaca dan karena data yang ditemukan berasal dari surat kabar, maka
bahasa yang digunakan adalah bahasa yang formal, kata mesti penggunaannya diganti
menjadi harus, tetapi tidak merubah makna dalam kalimat tersebut, harus berarti wajib
(tidak boleh tidak)

Pada data (5) penggunaan kata super ketat pada kalimat tersebut terlalu dilebih-
lebihkan sehingga menjadikan kalimat tersebut tidak baku, super ketat merupakan kata
tidak baku pada kalimat tersebut, pennggunaan katanya diganti menjadi ekstra, ekstra
berarti tambahan lebih, kata ekstra lebih tepat digunakan dalam kalimat teserbuat seusai
konteks makna dan kaidah kebahasaannya.

7
Pada kalimat (6) Penggunaan diksi dalam kalimat tersebut tidak tepat, kata
capaian tidak baku pada konteks kalimat tersebut, sehingga menjadikan kalimat tidak
efektif. Seharusnya kata yang digunakan adalah mencapai. Perbaikan kalimat-kalimat di
atas dapat dilakukan dengan mengubah kata tersebut berdasarkan kaidah kebahasaan
secara baik dan benar. Dengan demikian perbaikannya adalah sebagai berikut.

(1a) Berdasarkan hasil pendataan, sebanyak 168 warga binaan terpaksa golput
karena tidak masuk dalam DPT asal mereka. (Halaman 2).

(2a) Teroris Berencana Mengebom di Yogya. (Halaman 1)

(3a)Tingkat kelulusan UN sangat menurun dibandingkan dengan daerah-daerah


lainnya.

(4a) Ratusan korban luka serius, kebanyakan harus rela kehilangan sebagian
anggota tubuhnya, karena harus diamputasi.

(5a) Pengamanan ekstra di Amerika Serikat, pasca terjadinya teror bom di


menara kembar WTC 2001 lalu,ternyata harus terulang kembali dengan ‘bom
Boston’..

(6a) Bahkan dengan mencapai nilai yang maksimal.

2. Kesalahan dari Segi Gramatikal

Kesalahan gramatikal adalah penyimpangan terhadap aturan baku dalam bahasa tulis
maupun lisan yang terjadi secara sistematis. Dalam proses mempelajari suatu bahasa
kesalahan gramatikal adalah sesuatu yang wajar dan sering kali tidak terhindari.
Perhatikan contoh berikut.

(7) Nikah di bawah usia masih banyak terjadi di Kabupaten Gunung Kidul.
Hingga awal April 2019 tercatat ada 16 kasus pengajuan dispensasi nikah
dini. (Halaman 7).
(8) Pihaknya sudah sosialisasi tahap pertama kepada mahasiswa, residen,
maupun staf medis di RSUP dr Sardjito, yang ingin mencoblos di sekitar
RSUP dr Sardjito. (Halaman (11)
(9) Perempuan sudah bisa masuk jalur politik, bisnis bahkan pekerjaan di jajaran
pertahanan-keamanan sudah banyak yang dipegang

8
Pada data (7) kata nikah pada kalimat pertama kurang efektif karena kata nikah
menyatakan suatu perbuatan yang dilakukan dalam hal ini kata tesebut merupakan kata
kerja, sehingga jika penulisannya di awal kalimat makan perlu penambahan imbuhan me-
pada kalimatnya yakni menikah.

Pada data (8) penulisan kata sosialisasi pada kalimat tersebut juga tidak tepat,
karena konteks kalimatnya menyatakan sebuah perbuatan yang dilakukan. Sehingga
penggunaanya diganti kata turunan yakni penambahan imbuhan me-Kan pada pada dari
sosialisasi menjadi menyosialisaikan

Pada data (9) kata masuk pada kalimat tersebut tidak efektif, pada dasarnya diksi
yang dipilih tepat, akan tetapi unsur gramatikal atau pembentukan kata pada kalimat
tersebut tidak diperhatikan. Jika dilihat pada konteks kalimatnya, kata masuk menyatakan
suatu perbuatan yang dilakukan sehingga perlunya penambahan afiks me-I pada kata
masuk menjadi memasuki. Dengan demikian perbaikannya adalah sebagai berikut.

(7a) Menikah di bawah usia masih banyak terjadi di Kabupaten Gunung Kidul.
Hingga awal April 2019 tercatat ada 16 kasus pengajuan dispensasi nikah dini.
(Halaman 7)

(8a) Pihaknya sudah menyosialisaikan tahap pertama kepada mahasiswa, residen,


maupun staf medis di RSUP dr Sardjito, yang ingin mencoblos di sekitar RSUP
dr Sardjito. (Halaman 11).

(9a) Perempuan sudah bisa memasuki jalur politik, bisnis bahkan pekerjaan di
jajaran pertahanan-keamanan sudah banyak yang dipegang

3. Kesalahan dari Segi Makna yang Tidak Tepat

Kesalahan makna yang tidak tepat adalah penyimpangan terhadap makna kata
yang tidak seharusnya ditulis pada suatu kalimat sehingga kalimat tersebut bermakna
ganda. Perhatikan data berikut.

(10) Sementara Calon Presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto menyapa
pendukungnya yang menyesaki Stadion Utama Gelora Bung Karno dalam
gelaran Kampanye Akbar kemarin. (Halaman 3).

9
(11) Liga Primer Inggris musim ini bisa dibilang sebagai tahun paling
mencekam dalam perebutan gelar juara. Kompetisi musim ini juga layak
disebut yang paling gila. (Halaman 8).
(12) Puluhan nelayan di Pantai Depok Kabupaten Bantul memilih libur
melaut. Pasalnya, angin kencang dan ombak besar tengah melanda kawasan
pantai selatan Jawa itu. (Halaman 10)
(13) Bahkan di Kota Tanjungpinang yang tidak lain adalah ibukota Provinsi
Kepri,
(14) Jika ditilik ke dalam, managemen yang ada di Kemendikbud dinilai
sangat lemah.
(15) Terkuaknya dugaan pelecehan seksual yang dilakukan oknum Kepala
Sekolah SMPN 28 Batam, terhadap 14 orang siswi di SMP tersebut,
membuat publik kaget dan prihatin.

Pada data (11) kalimat tersebut dapat diklasifikasikan diksi dari segi makna tidak
tepat, hal tersebut dapat dilihat dari penggunaan kata menyesaki, kata menyesaki lebih
efektif tidak digunakan dan diganti kata memadati. Kata menyesaki pada kalimat tesebut
kurang efektif digunakan, karena jika dilihat dari konteks kalimatnya memiliki makna
berdesakan, penuh sesak, dan lain-lain. Jika dilihat dari pemberitaan serta tayang televisi
yang terkait Kampanye Akbar Calon Presiden nomor urut 02 Prabowo subianto
kampanye tersebut cenderung damai dan tertib.

Pada data (12) penulisan kata primer pada kalimat tersebut tidak tepat. Kata primer
pada kalimat tersebut jika ditinjau dari konteks kalimatnya maka penulisan yang tepat
yaitu Liga Premiere Inggris. Liga Premiere Inggris adalah sebuah kompetisi liga sepak
bola profesional di Inggris yang merupakan kompetisi antar klub kasta tertinggi di negara
Inggris. kedua dan kata tengah pada kalimat ketiga. Kata primer berarti yang pertama,
yang poko, kebutuhan. Sehingga jika dipakai untuk menyebut nama suatu pertandingan
sangat tidak tepat karena karena kata primer sendiri memiliki makna lain.

Pada data (13) penulisan kata tengah pada kalimat tersebut tidak tepat. Kata tengah
memiliki arti yaitu tempat (arah, titik) di antara dua tepi batas, sela-sela, antara. Jika
dilihat dari konteks kalimatnya kata tengah ini dipakai sebagai konjungsi atau kata
penghubung. Sehingga lebih tepat diganti kata sedang.

10
Pada data (14) pemilihan diksi tidak lain pada kalimat tersebut tidak tepat, tidak lain
memiliki arti yang sebenarnya. Jika dilihat dari konteksnya , pada kalimat tersebut ingin
menjelaskan bahwa Kota Tanjungpinang adalah ibukota Provinsi Kepri, pemilihan diksi
tidak lain bisa menimbulkan tafsir lain bagi pembaca bisa saja bukan, sehingga
penggunaanya lebih efektif jika diganti merupakan.

Pada data (15) kata ditilik juga tidak efektif digunakan,, ketika dibaca diksinya
seolah-olah tidak efektif, ditilik artinya penglihatan yang teliti (terutama penglihatan
dengan mata batin). Jika dilihat dari arti kalimatnya kata tersebut tidak tepat digunakan,
kata ditilik akan akan rancu ketika digunakan, kata yang tepat menggantikannya yakni
kata diteliti, diteliti artinya cermat dan seksama

Pada data (16) kata terkuaknya pada kalimat tersebut kurang tepat, karena menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) arti dari kata tersebut adalah terbuka menjadi
lebar, sehingga kurang tepat jika dipadukan dengan kalimat di atas. Kata yang seharusnya
digunakan adalah terungkapnya. Dengan demikian perbaikannya adalah sebagai berikut.

(10a) Sementara Calon Presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto menyapa
pendukungnya yang memadati Stadion Utama Gelora Bung Karno dalam
gelaran Kampanye Akbar kemarin. (Halaman 3)

(11a) Liga Premiere Inggris musim ini bisa dibilang sebagai tahun paling
mencekam dalam perebutan gelar juara. Kompetisi musim ini juga layak disebut
yang paling gila. (Halaman 8).

(12a) Puluhan nelayan di Pantai Depok Kabupaten Bantul memilih libur


melaut. Pasalnya, angin kencang dan ombak besar sedang melanda kawasan
pantai selatan Jawa itu. (Halaman 10).

(13a) Bahkan di Kota Tanjungpinang yang merupakan adalah ibukota Provinsi


Kepri,

(14a) Jika diteliti ke dalam managemen yang ada di Kemendikbud dinilai


sangat lemah.

(15a) Terungkapnya dugaan pelecehan seksual yang dilakukan oknum Kepala


Sekolah SMPN 28 Batam, terhadap 14 orang siswi di SMP tersebut, membuat
publik kaget dan prihatin.

11
D. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa bentuk-bentuk


kesalahan diksi pada berita Tribun Jogja yaitu : 1. Kesalahan dari segi tata baku,
2)Kesalahan dari segi gramatik,3) Kesalahan dari segi makna yang tidak tepat. Penelitian
ini diharapkan dapat bermanfaat baik secara teoritis maupun praktis. Manfaat teoritis,
1)Menambah kajian teori tentang analisisn kesalahan semantik dalam kalimat, 2. Menjadi
referensi untuk memperluas wawasan tentang teori kesalahan semantik. Manfaat
praktis,1) Sebagai bahan ajar pembelajaran bahasa Indonesia,2) Acuan untuk melakukan
penelitian yang relevan.

DAFTAR PUSTAKA

Dona Efrilla, Asri Wahyuni Sari, Afrini Rahmi. 2011Analisis Kesalahan Penggunaan
Ejaan dan Diksi dalam Berita Surat Kabar Posmetro Padang. Jurnal STKIP
Sumatera Barat, 23, 4-5.

Keraf, Gorys. 2007. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Moelong, Lexy.2010. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja


Rosdakarya.

Sudaryanto.2015.Metode dan Teknik Analisis Bahasa.Yogyakarta: Sanata Dharma Unity


Press

Sugiyono.2015.Metode Penelitian Kualitatif dan R & D. Bandung:Alfabeta.

Tarigan, Henry Guntur. 1990. Pengajaran Analisis Kesalahan Berbahasa. Bandung:


Angkasa.

Sutopo, HB. 2002. Metodologi Penelitan Kualitatif. Surakarta: UNS Press

Setyawati, Nanik. 2013. Analisis Kesalahan Berbahasa Indonesia . Surakarta : Yuma


Pustaka

12
13