Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kesetimbangan kimia adalah reaksi kimia yang berlangsung dua arah, yaitu
hasil reaksi dapat berubah kembali menjadi pereaksinya hingga konsentrasi
reaktan dan produk konstan. Reaksi kimia mencapai kesetimbangan jika laju
reaksi ke kanan sama dengan laju reaksi kekiri sehingga tidak terjadi lagi
perubahan dalam sistem kesetimbangan. Persamaan reaksi kesetimbangan kimia
dapat dituliskan dengan mencantumkan panah bolak-balik. Panah tersebut
menyatakan bahwa reaksi berlangsung dua arah.
Faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi adalah suhu, tekanan, volume,
dan konsentrasi. Pengaruh faktor dari luar yang mempengaruhi kesetimbangan
dijelaskan oleh asas Le Chatalier. Jenis kesetimbangan kimia dibagi menjadi dua
yaitu kesetimbangan homogen dan heterogen. Kesetimbangan homogen umumnya
terjadi pada sistem gas-cair, sedangkan kesetimbangan heterogen terjadi pada
sistem padat-gas atau cair-gas. Laju rekasi mempengaruhi cepat lambatnya reaksi
yang terjadi.
Suhu dan kalor merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Suhu adalah
suatu besaran yang menyatakan ukuran derajat panas atau dinginnya suatu benda.
Energy kalor adalah sesuatu yang mengalir dari benda yang satu ke benda yang
bersuhu lebih rendah, dan sesuatu itu menyebabkan benda yang bersuhu rendah
tadi meningkat atay suhu benda tetap tetapi mengalami perubahan wujud (Ansar,
2011).

1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari diadakannya praktikum pengaruh perubahan konsentrasi
pada sistem kesetimbangan yaitu:
1. Untuk mengetahui pengaruh perubahan konsentrasi terhadap sisitem
kesetimbangan,
2. Untuk mengetahui pengaruh pengenceran terhadap konsentrasi larutan.

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kesetimbangan Kimia


Kesetimbangan kimia adalah keadaan dimana 2 reaksi yang tepat berlawanan
terjadi pada laju reaksi yang sama. Ketika produk terbentuk, produk ini akan
kembali bereaksi membentuk reaktan awalnya. Jika kondisi pada sistem
kesetimbangan diubah, akan terjadi beberapa reaksi berikutnya. Meskipun
demikian, sistem tersebut akan segera mencapai kesetimbangan baru pada
sejumlah kondisi yang baru. Prinsip Le Chatilier menyatakan bahwa jika sebuah
aksi diterapkan pada suatu sitem yang berada dalam kesetimbangan,
kesetimbangan itu akan ergeser untuk mengurangi aksi yang terjadi. Aksi adalah
suatu yang dikerjakan terhadap sistem. Misalnya peningkatan reaksi suatu reaktan
atau produk akan menyebabkan kesetimbangan itu bergeser dan berusaha untuk
mengurangi konsentrasi zat yang meningkat itu (Goldberg, 2004).
Tercapainya kesetimbangan kimia bila kecepatan reaksi ke kanan kearah
pembentukan molekul produk telah sama dengan kecepatan reaksi ke kiri kearah
pembentukan molekul reaktan dan konsentrasi reaktan maupun konsentrasi
produk tidak berubah-ubah lagi. Kesetimbangan kimia merupakan proses yang
dinamis. Untuk raksi reversible seperti berikut ini :
aA + bB cC + dD
jika a, b, c, dan d adalah angka koefisien zat-zat yang bereaksi A, B, C, dan D
maka secara umum kesetimbangan dinyatakan sebagai :
K = [C]c [D]d / [A]a [B]b
Persamaan tersebut adalah rumus rumusan matematik dari hukum aksi massa
yang pembilangnya diperoleh dengan mengalikan konsentrasi produk pada
kesetimbangan, masing-masing dipangkatkan dengan angka koefisiennya,
sedangkan penyebut diperoleh dengan cara yang sama dari reaktan (Purwoko,
2006).
Reaksi kesetimbangan kimia melibatkan zat-zat yang berbeda untuk reaktan
dan produknya. Kesetimbangan dari 2 fase dari zat yang sama dinamakan
kesetimbangan fisis karena perubahan yang terjadi hanyalah prosen fisis.

2
Penguapan air didalam wadah tertutup merupakan contoh kesetimbangan fisis.
Persamaan yang menghubungkan konsentrasi reaktan dan produk pada
kesetimbangan yang dinyatakan dalam suatu kuantitas yang disebut konstanta
kesetimbangan. Kesetimbangan dinyatakan sebagai hasil bagi dengan
pembilangnya adalah hasil kali antara konsentrasi-konsentrasikesetimbangan
produk, masing-masing dipangkatka dengan koefisien stoikiometrinya dalam
persamaan setara. Kesetimbangan homogen berlaku untuk reaksi yang semua
spesi ebreaksinya berada sefase. Kesetimbangan heterogen adalah reaksi
reversibel yang melibatkan reaktan dan produknya yang berbeda. Ada satu aturan
umum yang membantu kita memprediksi kearah mana reaksi kesetimbangan
bergerak bila terjadi perubahan konsentrasi, tekanan, volume, dan suhu. Aturan ini
di kenal sebagai asas Le Chatalier (Chang, 2005).

2.2 Suhu
Suhu dan kalor merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Suhu adalah
suatu besaran yang menyatakan ukuran derajat panas atau dinginnya suatu benda.
Energy kalor adalah sesuatu yang mengalir dari benda yang satu ke benda yang
bersuhu lebih rendah, dan sesuatu itu menyebabkan benda yang bersuhu rendah
tadi meningkat atay suhu benda tetap tetapi mengalami perubahan wujud (Ansar,
2011).

2.3 Konsentrasi Larutan


Konsentrasi merupakan cara untuk menyatakan hubungan kuantitatif antara
zat terlarut dan pelarut. Larutan terbentuk melalui pencampuran dua atau lebih zat
murni yang molekulnya berinteraksi langsung dalam keadaan tercampur.
Perubahan gaya antarmolekul yang dialami oleh molekul dalam bergerak dari zat
terlarut murni atau pelarut ke keadaan tercampur mempengaruhi baik kemudahan
pembentukan maupun kestabilan larutan (Kuswanto, 2010).
Pembuatan larutan dengan konsentrasi tertentu sering dihasilkan
konsentrasi yang tidak kita inginkan. Untuk mengetahui konsentrasi yang
sebenarnya perlu dilakukan standarisasi. Standarisasi biasanya dilakukan dengan
titrasi. Zat-zat yang didalam jumlah relative besar disebut pelarut. Zat yang

3
jumlahnya lebih sedikit di dalam larutan disebut zat terlarut atau solut, sedangkan
zat yang jumlahnya lebih banyak daripada zat-zat lain dalam larutan disebut
pelarut atau solven (Kevin, 2010).
Pengaruh konsentrasi terhadap kesetimbangan digambarkan dengan
pernyataan berikut. Jika konsentrasi salah satu zat ditambah, maka sistem akan
bergeser dari arah zat tersebut. Namun apabila konsentrasi salah satu zat
dikurangi, maka sistem akan bergeser ke arah zat tersebut (Purwoko, 2006).
Pada kesetimbangan kimia ditemukan kesalahan konsep yang sama, yaitu
penambahan konsentrasi akan mengakibatkan kenaikan luas permukaan zat
hingga tumbukan efektif yang terjadi makin besar. Untuk memahami konsep
kesetimbangan dibutuhkan pemahaman yang benar tentang konsep laju reaksi.
Dengan demikian, pemahaman yang benar tentang konsep laju reaksi akan
mengurangi kesalhan konsep pada kesetimbangan kimia (Ihdal, 2015).

2.4 Laju Reaksi


Laju reaksi adalah perbandingan peruahan konsentrasi pereaksi atau hasil
reaksi terhadap perubahan waktu. Laju reaksi terukur, seringkali sebanding
dengan konsentrasi reaktan suatu perangkat. Cotohnya, mungkin saja laju reaksi
itu sebanding dengan konsentrasi dua reaktan A dan B, sehingga dapat
dirumuskan sebagai berikut :
V = K [ A ] X . [ B ]Y
Koefisien K disebut konstanta laju, yang tidak bergantung pada konsentrasi tetapi
bergantung pada temperatur. Persamaan sejenis ini ditentukan secara eksperimen
disebut hukum laju reaksi. Secara formal hukum laju adalah persamaan yang
menyatakan laju reaksi dan sebagai fungsi dari semua spesies yang ada termasuk
produknya (Charles, 1992).
Hukum laju reaksi mempunyai dua penerapan yang utama. Penerapan
pratisnya setelah kita mengetahui hukum laju reaksi dan konstanta laju reaksi, kita
dapat meramalkan laju reaksi dari komposisi campuran. Penerapan teoritis laju
pada laju ini adalah : hukum laju merupakan pemandu untuk mekanisme yang
diajukan harus konsisten dengan hukum laju yang diamati (Keenan, 1989).

4
Pada kelajuan reaksi ternyata suhu juga mempengaruhi, suhu juga hampir
menaikkan kelajuan dari setiap reaksi. Sebaliknya penurunan dalam suhu akan
menurunkan kelajuan, dan ini tidak bergantung apakah reaksi eksotermis dan
endotermis. Perubahan kelajuan terhadap suhu dinyatakan oleh suatu perubahan
dalam tetapan kelajuan yang spesifik (Moore, 2005).
Untuk setiap reaksi, K naik dengan kenaikkan suhu, besarnya kenaikkan
berbeda-beda dari suatu reaksi dengan reaksi yang lain. Bila suatu reaksi terjadi
dalam beberapa langkah reaksi kemungkinan spesien perantara dibentuk, dan
mereka mungkin tidak dapat dideteksi karena mereka akan segera digunakan
dalam langkah reaksi berikutnya. Meskipun demikian dengan mengetahui faktor –
faktor yang mempengaruhi kadang-kadanf dapat diketahui seberapa jauh faktor-
faktor tersebut berperan dalam mekanisme reaksi (Keenan, 1989).

2.5 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kesetimbangan Kimia


Sistem reaksi yang berada dalam kesetimbangan dapat diganggu dari luar
dengan cara mengubah konsentrasi, tekanan, atau temperatur sistem. Suatu reaksi
yang berada dalam suatu kesetimbangan dapat diganggu apabila terhadap sistem
itu dilakukan penambahan atau pengurangan salah satu pereaksi atau produk
reaksi. Jika suhu dari sistem reksi kesetimbangan diubah, maka sistem akan
berusaha mereduksi pengaruh perubahan suhu. Dampak dari perubahan suhu tidak
seperti pada perubahan konsentrasi zat, tetapi akan berdampak pada tetapan
kesetimbangan tersebut. Pada sistem yang melibatkan gas perubahan volume
sisitem pada suhu tetap menyebabkan tekanan sistem berubah. Besarnya tekanan
berbanding langsung dengan jumlah molekul. Makin banyak jumlah molekul
semakin besar pula tekanan yang terjadi. Peningkatan tekanan menyebabkan gas-
gas erusaha memperkekcil jumlah molekul dengan cara menggeser molekul ke
arah yang memiliki koefisien reaksi paling kecil (Sunarya, 2010).
Secara kualitatif pengaruh suhu dalam kesetimbangan kimia terkait langsung
dengan jenis reaksi eksoterm atau reaksi endoterm. Reaksi eksotermis adalah
reaksi bersifat spontan, tidak memerlukan energi melainkan justru menghasilkan
energi. Sistem kesetimbangan yang bersifat eksotermis kearah kanan dan
endotermis kearah kiri. Jika suhu dinaikkan, maka reaksi yang bergeser akan

5
bergeser ke kiri yaitu reaksi yang bersifat endotermis. Sebaliknya bila suhu reaksi
diturunkan maka reaksi akan bergeser ke kanan yaitu reaksi yang bersifat
eksotermis. Menaikkan suhu, sama artinya kita meningkatkan kalor atu
menambah energi ke dalam sistem, kondisi ini memaksa kalor yang diterima
sistem akan dipergunakan, oleh sebab itu reaksi semakin bergerak menuju arah
reaksi endotermis. Begitu juga sebaliknya (Keenan, 1984).
Henri Louis Le Chatalier (1884) berhasil menyimpulkan pengaruh faktor luar
terhadap kesetimbangan dalam suatu azas yang dikenal dengan azas Le Chatalier
dapat dinyatakan sebagai
Reaksi = - Aksi
Artinya: bila pada sistem kesetimbangan dinamik terdapat gangguan dari luar
sehingga kesetimbangan dalam keadaan terganggu atau rusak maka sistem akan
berubah sedemikian rupa sehingga gangguan itu berkurang dan bila mungkin akan
kembali ke keadaan setimbang lagi. Cara sistem bereaksi adalah dengan
melakukan pergeseran ke kiri atau ke kanan. (Joni, 2009).
Menurut Joni (2009), faktor-faktor yang mempengaruhi kesetimbangan
adalah:
1. Pengaruh suhu atau temperatur
Jika suhu atau temperatur kesetimbangan dinaikkan, maka reaksi
menurunkan temperatur dan kesetimbangan akan bergeser ke pihak reaksi
yang menyerap kalor (ke pihak reaksi endoterm), begitu juga sebaliknya.
2. Pengaruh konsentrasi
Jika konsentrasi salah satu komponen tersebut diperbesar, maka reaksi
sitem akan mengurangi komponen tersebut, begitu juga sebaliknya.
3. Pengaruh tekanan dan volume
Penambahan tekanan dengan cara memperkecil volume akan memperbesar
konsentrasi semua komponen. Untuk mengurangi tekanan maka reaksi
kesetimbangan akan bergeser ke arah yang jumlah koefisiennya lebih kecil
dan sebaliknya.

6
BAB III
METODE PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat


Praktikum pengaruh perubahan suhu pada sistem kesetimbangan yang
dilaksanakan pada hari kamis tanggal 8 November 2018, pukul 13.00 sampai
15.00 di Laboratorium Bioteknologi agroekoteknologi Fakultas Pertanian
Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.

3.2 Alat dan Bahan


Adapun alat-alat yang dibutuhkan untuk praktikum pengaruh perubahan suhu
pada sistem kesetimbangan yaitu Tabung reaksi (3 buah), Sumbat karet (3 buah),
Gelas kimia 100 ml (3 buah), Rak tabung (1 buah), dan Penjepit tabung (1 buah).
Adapun bahan-bahan yang dibutuhkan dalam praktikum yaitu Larutan HNO3 (10
tetes x 3 tabung), Lempeng tembaga 0,5 cm x 0,5 m (3 buah), Air panas
secukupnya, dan Es secukupnya.

3.3 Cara Kerja


Adapun cara kerja praktikum pengaruh perubahan suhu pada sistem
kesetimbangan adalah sebagai berikut :
1. Disiapkan alat dan bahan
2. Dimasukkan ke dalam masing-masing tabung reaksi 10 tetes HNO 3 pekat dan
satu lempeng tembaga, lalu segera tutup dengan sumbat karet
3. Pada masing-masing tabung dilakukan hal sebagai berikut:
1. Tabung 1 dimasukkan ke dalam air es
2. Tabung 2 dimasukkan ke dalam air panas
3. Tabung 3 sebagai pembanding
4. Dibandingkan warna dan gas yang terbentuk dalam ketiga tabung tersebut.

7
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

1.1 Hasil
Tabel 4.1 Hasil Pengamatan Perubahan Suhu Suatu Komponen.
No Perlakuan yang Warna dibandingkan dengan tabung
Tabung dilakukan ketiga (lebih tua / sama / lebih muda)
1 Dimasukkan ke dalam Lebih muda
Air Es
2 Dimasukkan ke dalam Lebih tua
Air Panas

1.2 Pembahasan
Berdasarkan hasil praktikum perubahan suhu pada sisitem kesetimbangan
yang telah dilakukan diketahui reaksi :
Cu + 4 HNO3 Cu (NO3)2 + 2 NO3 + 2 H2O
Reaktan Produk
Pada tabel nomor 1 larutan HNO3 pekat yang ditambah lempeng tembaga yang
kemudian dimasukkan ke dalam Air Es mengalami perubahan warna menjadi
lebih muda dibandingkan dengan tabung nomor 3 yang tidak dimasukkan ke
dalam Air Es hal itu menyebabkan kesetimbangannya akan bergeser kearah
reaktan, karena reaktan mengalami reaksi eksoterm yang artinya melepaskan kalor
dan produknya mengalami reaksi endoterm yang artinya menyerap kalor yang
mengakibatkan produknya lebih banyak dan menyerap panas. Sehingga ∆H pada
larutan yang dimasukkan ke dalam Air Es adalah ∆H = (-). Sedangkan pada tabel
nomor 2 larutan HNO3 pekat yang ditambah lempeng tembaga yang kemudian
dimasukkan ke dalam Air Panas mengalami perubahan warna menjadi lebih tua
dibandingkan dengan tabung nomor 3 yang tidak dimasukkan ke dalam Air Panas
hal itu menyebabkan kesetimbanannya bergeser ke arah produk karena pada saat
dimasukkan ke dalam air panas produk mengalami reaksi endoterm yang artinya
menyerap kalor, sedangkan reaktannya mengalami reaksi eksoterm. Sehingga ∆H
pada larutan yang dimasukkan ke dalam Air Panas menjadi ∆H = (+).

8
Perubahan suhu mempengaruhi kesetimbangan larutan apabila pada suhu
rendah maka kesetimbangannya bergeser kearah yang lebih sedikit reaksinya ,
reaksi tersebut dinamakan reaksi eksoterm yang artinya mengeluarkan atau
melepaskan kalor. Sedangkan pada suhu tinggi kesetimbangannya akan bergeser
kearah yang lebih banyak reaksinya, reaksi tersebut dinamakan reaksi endoterm
yang artinya menyerap kalor. Hal ini sesuai dengan Joni (2009), bahwa Pengaruh
suhu atau temperatur. Jika suhu atau temperatur kesetimbangan dinaikkan, maka
reaksi menurunkan temperatur dan kesetimbangan akan bergeser ke pihak reaksi
yang menyerap kalor (ke pihak reaksi endoterm), begitu juga sebaliknya. Dan
sesuai juga dengan Keenan (1984), yang menyatakan Secara kualitatif pengaruh
suhu dalam kesetimbangan kimia terkait langsung dengan jenis reaksi eksoterm
atau reaksi endoterm. Reaksi eksotermis adalah reaksi bersifat spontan, tidak
memerlukan energi melainkan justru menghasilkan energi. Sistem kesetimbangan
yang bersifat eksotermis kearah kanan dan endotermis kearah kiri. Jika suhu
dinaikkan, maka reaksi yang bergeser akan bergeser ke kiri yaitu reaksi yang
bersifat endotermis. Sebaliknya bila suhu reaksi diturunkan maka reaksi akan
bergeser ke kanan yaitu reaksi yang bersifat eksotermis. Menaikkan suhu, sama
artinya kita meningkatkan kalor atu menambah energi ke dalam sistem, kondisi ini
memaksa kalor yang diterima sistem akan dipergunakan, oleh sebab itu reaksi
semakin bergerak menuju arah reaksi endotermis. Begitu juga sebaliknya.
Perubahan suhu berbeda dengan perubahan konsentrasi atau perubahan
tekanan kaena perubahan suhu juga dapat mengubah konstanta atau mengubah
tetapan kesetimbangan. Hal ini sesuai dengan Sunarya (2010), bahwa Sistem
reaksi yang berada dalam kesetimbangan dapat diganggu dari luar dengan cara
mengubah konsentrasi, tekanan, atau temperatur sistem. Suatu reaksi yang berada
dalam suatu kesetimbangan dapat diganggu apabila terhadap sistem itu dilakukan
penambahan atau pengurangan salah satu pereaksi atau produk reaksi. Jika suhu
dari sistem reksi kesetimbangan diubah, maka sistem akan berusaha mereduksi
pengaruh perubahan suhu. Dampak dari perubahan suhu tidak seperti pada
perubahan konsentrasi zat, tetapi akan berdampak pada tetapan kesetimbangan
tersebut. Pada sistem yang melibatkan gas perubahan volume sisitem pada suhu
tetap menyebabkan tekanan sistem berubah. Besarnya tekanan berbanding

9
langsung dengan jumlah molekul. Makin banyak jumlah molekul semakin besar
pula tekanan yang terjadi. Peningkatan tekanan menyebabkan gas-gas erusaha
memperkekcil jumlah molekul dengan cara menggeser molekul ke arah yang
memiliki koefisien reaksi paling kecil.

10
BAB V
PENUTUP

5.1 Simpulan
Kesetimbangan kimia adalah keadaan dimana 2 reaksi yang tepat berlawanan
terjadi pada laju reaksi yang sama. Ketika produk terbentuk, produk ini akan
kembali bereaksi membentuk reaktan awalnya. Jika kondisi pada sistem
kesetimbangan diubah, akan terjadi beberapa reaksi berikutnya. Meskipun
demikian, sistem tersebut akan segera mencapai kesetimbangan baru pada
sejumlah kondisi yang baru. Prinsip Le Chatilier menyatakan bahwa jika sebuah
aksi diterapkan pada suatu sitem yang berada dalam kesetimbangan,
kesetimbangan itu akan bergeser untuk mengurangi aksi yang terjadi. Faktor-
faktor yang mempengaruhi kesetimbangan adalah suhu, tekanan dan volume, dan
konsentrasi. Pengaruh suhu mengakibatkan terajadinya reaksi endoterm yang
artinya menyerap kalor dan reaksi eksoterm yang artinya melepas kalor. Apabila
suhu rendah maka kesetimbangan bergeser ke arah reaksi yang mengalami reaksi
eksoterm, sedangkan ketika suhu naik atau tinggi maka kesetimbangan bergeser
kearah reaksi yang mengalami reaksi endoterm. Perubahan suhu juga dapat
mengubah konstanta atau mengubah tetapan kesetimbangan.

5.2 Saran
Praktikum kemarin dilakukan dengan cara masing-masing kelompok memilih
perwakilan kelompoknya untuk melakukan praktikum, seharusnya pada saat
praktikum semua peserta dapat mempraktikannya agar semua peserta memahami.

11
DAFTAR PUSTAKA

Ansar. 2011. Pengaruh Suhu dan Kelembaban Udara Terhadap Perubahan Mutu
Tablet Effervescen Sari Buah Selam Penyimpanan. Jurnal Teknologi dan
Industri Pangan vol 22 (1) hal 73-77.
Chang, Raymond. 2005. Kimia Dasar Jilid 2. Jakarta : Erlangga.
Chares, W. 1992. Kimia Untuk Universitas. Jakarta : Gramedia.
Goldberg, David E. 2004. Kimia Untuk Pemula. Jakarta : Erlangga.
Ihdal, Yeyek Umam., dkk. 2015. Analisis Dampak Kesalahan Konsep Laju
Reaksi Terhadap Kesalahan Konsep Kesetimbangan Pada Siswa SMA
Jurnal Pendidikan Sains vol 3 (2) hal 72.
Joni, Luh. E. D. 2009. Pengembangan Media Pembelajaran Reaksi
Kesetimbangan Kimia JPTK UNDIKSHA vol 6 (2) hal. 73-5.
Keenan, Charles W. 1984. Kimia Untuk Universitas, Edisi Keenam. Jakarta :
Erlangga.
Keenan, Dkk. 1989. Kimia Untuk Universitas. Bandung : Elangga.
Kevin, Bagaskara. 2010. Jurnal Pengenceran Larutan dengan Standarisasi Zat
Pelarut. Universitas Hassanudin : Makasar.
Kuswanto, Ari. 2010. Jurnal Penentuan Koefisien Difusi Larutan Hcl
Menggunakan Interferometer Michelson Berbasis Borland Delphi
7.0. Jurusan Fisika Universitas Negeri Malang : Malang.
Moore, John. 2005. Chermistry The Molecular Science. United States : Thomson
Learning.
Purwoko, Agus A. 2006. Kimia Dasar 1. Mataram : University Press.
Sunarya, Yayan. 2010. Kimia Dasar 1. Bandung : Yrama Widya.

12
KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirabbil’alamin puji syukur dipanjatkan kepada kehadirat


Allah SWT karena telah memberikan nikmat, berkat, dan hidayah-Nya. Shalawat
serta salam tercurah kepada Nabi Muhammad SAW yang telah membawa umat-
Nya dari jaman kegalapan menuju jaman yang penuh nikmat seperti saat ini.
Penulis mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada pihak yang
membantu ataupun memberikan ide-ide pada peyusunan laporan ini dan
banyaknya dukungan yang diberikan sehingga penulis dapat menyelesaikan
laporan dengan judul “Pengaruh Perubahan Suhu Pada Sistem Kesetimbangan”.
Meskipun penulis berharap tidak adanya kekurangan dan kesalahan dalam
penulisan laporan ini namun selalu ada kesalahan dan kekurangan. Oleh karena itu
penulis mengharapkan kritik dan saran yang membantu dan membangun agar
lebih baik lagi kedepannya.

Serang, November 2018

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.................................................................................... i
DAFTAR ISI................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN............................................................................... 1
1.1. Latar Belakang...................................................................... 1
1.2. Tujuan............................................................................................... 1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA.................................................................... 2
2.1. Kesetimbangan Kimia...................................................................... 2
2.2. Suhu.................................................................................................. 3
2.3. Konsentrasi Larutan......................................................................... 3
2.4. Laju Reaksi....................................................................................... 4
2.5. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kesetimbangan……………... 5
BAB III METODE PRAKTIKUM............................................................... 6
3.1. Waktu dan Tempat........................................................................... 6
3.2. Alat dan Bahan................................................................................. 6
3.3. Cara Kerja........................................................................................ 6
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN........................................................ 7
4.1. Hasil................................................................................................. 7
4.2. Pembahasan...................................................................................... 7
BAB V PENUTUP.......................................................................................... 11
5.1. Simpulan.......................................................................................... 11
5.2. Saran................................................................................................. 11
DAFTAR PUSTAKA...................................................................................... 12
LAMPIRAN

ii
LAPORAN PRAKTIKUM
KIMIA DASAR
“PENGARUH PERUBAHAN SUHU PADA SISTEM
KESETIMBANGAN”
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mata Kuliah Kimia Dasar

Disusun oleh :

Nama : Anisa Tiara Wahyuni


NIM : 4442180058
Kelas : 1B
Kelompok : 5 ( Lima )

JURUSAN AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
2018

iii