Anda di halaman 1dari 16

EPIDEMIOLOGI KEPERAWATAN KOMUNITAS

PENGERTIAN EPIDEMIOLOGI

Epidemiologi adalah ilmu yang mempelajari pola kesehatan dan penyakit serta fakor yang
terkait di tingkat populasi. Ini adalah model corestone penelitian kesehatan masyarakat, dan
membantu menginformasikan kedokteran berbasis bukti (eveidence based medicine) untuk
mengidentifikasikan faktor risiko penyakit serta menentukan pendekatan penanganan yang
optimal untuk praktik klinik dan untuk kedokteran preventif. Menurut Dr. Anton Muhibuddin
(Universitas Brawijaya), saat ini epidemiologi telah berkembang pesat baik pendalaman
ilmunya maupun perluasan ilmunya. Perluasan ilmu epidemiologi saat ini juga mencakup
epidemiologi bidang pertanian agrokompleks (termasuk perikanan, perkebunan, prikanan)
dan mikrobiologi. Perluasan tersebut dirasa perlu karena manfaat epidemiolgi sangat nyata
dirasakan dalam bidang-bidang ilmu tersebut. Pendalaman epidemiologi di antaranya
meliputi peramalan berbasis komputer dan pengelolaan agroekosistem.
Epidemiologi menggunakan beragam alat-alat ilmiah, dari kedokteran dan statistik sampai
sosiologi dan antropologi. Banyak penyakit mengikuti arus migrasi penduduk, sehingga
pemahaman tentang bagaimana penduduk bergerak mengikuti musim sangat penting untuk
memahami penyebaran penyakit tertentu pada populasi tersebut. Epidemiologi tidak hanya
berkutat pada masalah penyebaran penyakit, tetapi juga dengan cara penanggulangannya.

KONSEP DASAR EPIDEMIOLOGI ( TRIADS EPIDEMIOLOGI)

Seperti pada ulasan sebelumnya yang sudah saya tuliskan disini, inti


dari Epidemiologi adalah studi yang mempelajari distribusi (penyebaran) dan faktor-faktor
yang mempengaruhi terjadinya suatu penyakit (menular/tidak menular) yang terjadi pada
individu, kelompok atau masyarakat.
Dalam prakteknya ada faktor yang dipelajari dari studi epidemiologi penyakit baik itu untuk
penyakit menular ataupun tidak menular. Ketiga faktor tersebut sering disebut Segitiga
Epidemiologi atau Epidemiological Triad, yaitu konsep dasar epidemiologi yang memberi
gambaran tentang hubungan antara tiga faktor yang berperan dalam terjadinya sebuah
penyakit.

Penyakit dari sudut epidemiologi digambarkan sebagai mal-adjusment atau ketidakmampuan


manusia untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungannya dan merupakan fenomena sosial
dimana penyakit dapat timbul setiap saat pada seluruh bagian masyarakat di atas permukaan
bumi ini tanpa ada pengecualian. 
Pengertian penyebab penyakit dalam epidemiologi berkembang dari rantai sebab akibat ke
suatu proses kejadian penyakit, yaitu proses interaksi manusia (host), penyebab (agent), serta
dengan lingkungan (environment).

            
 

1. Faktor Host (tuan rumah/pejamu)

Host adalah semua faktor yang terdapat pada diri manusia yang dapat mempengaruhi timbul
dan menyebarnya penyakit. faktor resiko penyebab sakit pada manusia bisa beragam entah itu
umur, jenis kelamin, ras, genetik, pekerjaan, nutrisi, status kekebalan, adat istiadat, gaya
hidup, psikis dan yang lainnya. Tetapi manusia juga mempunyai karakteristik tersendiri
dalam menghadapi ancaman penyakit, diantaranya berupa:

 Resistensi : kemampuan dari host      untuk bertahan terhadap suatu infeksi.
 Imunitas : kesanggupan host untuk      mengembangkan suatu respon imunologis,
dapat secara alamiah maupun      diperoleh sehingga kebal tetrhadap suatu penyakit.
 Infektiousness : potensi host yang      terinfeksi untuk menularkan kuman yang berada
dalam tubuh manusia yang      dapat berpindah kepada manusia dan sekitarnya.
2. Faktor Agent (pembawa penyakit)

Agent penyakit adalah suatu substansi atau elemen-elemen tertentu yang keberadaannya bisa
menimbulkan atau mempengaruhi perjalanan suatu penyakit. Substansi atau elemen yang
dimaksud banyak macamnya yang secara sederhana dibagi dalam 2 bagian yaitu:

1 Agent primer

 biologis: virus, bakteri, fungi,      ricketsia, protozoa, mikroba.


 butrient: protein, lemak,      karbohidrat.
 kimiawi: dapat bersifat endogenous      seperti asidosis, hiperglikemia, uremia dan
eksogenous seperti      zat kimia, allergen, gas, debu, dan lain-lain.
 fisika : panas, dingin,      kelembaban, radiasi, tekanan
 mekanis : Gesekan, benturan,      pukulan, dan lain-lain.
 psikis : faktor kehidupan sosial      yang bersifat nonkausal dalam hubungannya
dengan proses kejadian penyakit      maupun gangguan kejiwaan.
2. Agent sekunder
Ini merupakan unsur pembantu / penambah dalam proses terjadinya penyakit dan ikut dalam
hubungan sebab akibat terjadinya penyakit. Dengan demikian, studi epidemiologi penyakit
tidak bisa hanya berpusat pada penyebab primer saja tapi harus dilihat apakah agent sekunder
berpengaruh atau tidak terhadap terjadinya penyakit. Yang dipelajari dari agent sekunder ini
diantara sebagai berikut:

 Infektivitas: kesanggupan agent      untuk beradaptasi sendiri terhadap lingkungan


Host untuk mampu tinggal,      hidup dan berkembang biak dalam jaringan Host
 Patogenesitas: kesanggupan agent      untuk menimbulkan reaksi patologis (penyakit)
pada Host setelah infeksi
 Virulensi: kesanggupan agent untuk      menghasilkan reaksi patologis berat yang
menyebabkan kematian
 Toksisitas: kesanggupan agent      untuk memproduksi toksin yang merusak jaringan
Host
 Invasivitas: kesanggupan agent      untuk penetrasi dan menyebar kedalam jaringan
Host
 Antigenisitas: kesanggupan agent      merangsang reaksi imunologis Host (membentuk
antibodi)
3. Lingkungan (Environment)

Secara umum faktor lingkungan ini dibagi tiga:

 Lingkungan fisik : Bersifat      abiotik seperti air, udara, tanah, cuaca, makanan, panas,
radiasi, dan      lain-lain.
 Lingkungan biologis : Bersifat      biotik seperti tumbuh-tumbuhan, hewan,
mikroorganisme yang dapat berfungsi      sebagai agen penyakit dan hospes perantara
 Lingkungan sosial : Berupa kultur,      adat istiadat, kebiasaan, kepercayaan, agama,
sikap, standar dan gaya hidup,      pekerjaan, kehidupan kemasyarakatan, organisasi sosial
politik.Timbulnya      penyakit berkaitan dengan gangguan interaksi antara ketiga faktor ini.
Faktor lingkungan adalah titik tumpu dari konsep segita epidemiologi yang disebutkan di
atas. Konsep Epidemiological Triad sangat sederhana, yaitu diibaratkan sebuah timbangan
(equilibrium). Dikatakan normal (sehat) apabila timbangan itu ada dalam keadaan seimbang,
dan dikatakan tidak normal (sakit) jika salah satu faktor dari host, agent atau environment
lebih dominan.  Ada 4 kemungkinan gangguan keseimbangan, yakni:

1. Peningkatan kesanggupan agen      penyakit, misalnya virulensi kuman bertambah,


atau resistensi meningkat.
2. Peningkatan kepekaan pejamu      terhadap penyakit, misalnya karena gizi menurun.
3. Pergeseran lingkungan yang      memungkinkan penyebaran penyakit, misalnya
lingkungan yang kotor.
4. Perubahan lingkungan yang mengubah      meningkatkan kerentanan host, misalnya
kepadatan penduduk di daerah kumuh.
Konsep dasar dari epidemiologi penyakit baik penyakit menular atau tidak menular
semuanya berdasarkan pada hal-hal yang disebutkan di atas.
PROSES ALAMIAH PERJALANAN PENYAKIT

RIWAYAT ALAMIAH PERJALANAN PENYAKIT

 Jika ditinjau proses yang terjadi pada orang sehat, menderita penyakit dan terhentinya
penyakit tersebut dikenal dengan nama riwayat alamiah perjalanan penyakit (natural history
of disease) terutama untuk penyakit infeksi.
 Riwayat alamiah suatu penyakit adalah perkembangan penyakit tanpa campur tangan
medis atau bentuk intervensi lainnya sehingga suatu penyakit berlangsung secara natural.

MANFAAT

Manfaat riwayat mempelajari alamiah perjalanan penyakit :

 Untuk diagnostik : masa inkubasi dapat dipakai pedoman penentuan jenis penyakit,
misal dalam KLB (Kejadian Luar Biasa)
 Untuk Pencegahan : dengan mengetahui rantai perjalanan penyakit dapat dengan
mudah dicari titik potong yang penting dalam upaya pencegahan penyakit.
 Untuk terapi : terapi biasanya diarahkan ke fase paling awal. Pada tahap perjalanan
awal penyakit, adalah waktu yang tepat untuk pemberian terapi, lebih awal terapi akan lebih
baik hasil yang diharapkan.

TAHAPAN

Tahapan Riwayat alamiah perjalanan penyakit :

a. Tahap Pre-Patogenesa

 Pada tahap ini telah terjadi interaksi antara pejamu dengan bibit penyakit. Tetapi
interaksi ini masih diluar tubuh manusia, dalam arti bibit penyakit berada di luar tubuh
manusia dan belum masuk kedalam tubuh pejamu.
 Pada keadaan ini belum ditemukan adanya tanda – tanda penyakit dan daya tahan
tubuh pejamu masih kuat dan dapat menolak penyakit. Keadaan ini disebut sehat.

b. Tahap Patogenesa

1) Tahap Inkubasi

 Tahap inkubasi adalah masuknya bibit penyakit kedalam tubuh pejamu, tetapi gejala-
gejala penyakit belum nampak.
 Tiap-tiap penyakit mempunyai masa inkubasi yang berbeda, ada yang bersifat seperti
influenza, penyakit kolera masa inkubasinya hanya 1- 2 hari, penyakit Polio mempunyai
masa inkubasi 7 - 14 hari, tetapi ada juga yang bersifat menahun misalnya kanker paru-paru,
AIDS dan sebagainya.
 Jika daya tahan tubuh tidak kuat, tentu penyakit akan berjalan terus yang
mengakibatkan terjadinya gangguan pada bentuk dan fungsi tubuh.
 Pada suatu saat penyakit makin bertambah hebat, sehingga timbul gejalanya. Garis
yang membatasi antara tampak dan tidak tampaknya gejala penyakit disebut dengan horison
klinik.

2) Tahap Penyakit Dini

 Tahap penyakit dini dihitung mulai dari munculnya gejala-gejala penyakit, pada tahap
ini pejamu sudah jatuh sakit tetapi sifatnya masih ringan. Umumnya penderita masih dapat
melakukan pekerjaan sehari-hari dan karena itu sering tidak berobat. Selanjutnya, bagi yang
datang berobat umumnya tidak memerlukan perawatan, karena penyakit masih dapat diatasi
dengan berobat jalan.
 Tahap penyakit dini ini sering menjadi masalah besar dalam kesehatan masyarakat,
terutama jika tingkat pendidikan penduduk rendah, karena tubuh masih kuat mereka tidak
datang berobat, yang akan mendatangkan masalah lanjutan, yaitu telah parahnya penyakit
yang di derita, sehingga saat datang berobat sering talah terlambat.

3) Tahap Penyakit Lanjut

 Apabila penyakit makin bertambah hebat, penyakit masuk dalam tahap penyakit
lanjut. Pada tahap ini penderita telah tidak dapat lagi melakukan pekerjaan dan jika datang
berobat, umumnya telah memerlukan perawatan.

4) Tahap Akhir Penyakit

 Perjalanan penyakit pada suatu saat akan berakhir. Berakhirnya perjalanan penyakit
tersebut dapat berada dalam lima keadaan, yaitu :

1. Sembuh sempurna : penyakit berakhir karena pejamu sembuh secara sempurna,


artinya bentuk dan fungsi tubuh kembali kepada keadaan sebelum menderita penyakit.
2. Sembuh tetapi cacat : penyakit yang diderita berakhir dan penderita sembuh.
Sayangnya kesembuhan tersebut tidak sempurna, karena ditemukan cacat pada pejamu.
Adapun yang dimaksudkan dengan cacat, tidak hanya berupa cacat fisik yang dapat dilihat
oleh mata, tetapi juga cacat mikroskopik, cacat fungsional, cacat mental dan cacat sosial.
3. Karier : pada karier, perjalanan penyakit seolah-olah terhenti, karena gejala penyakit
memang tidak tampak lagi. Padahal dalam diri pejamu masih ditemukan bibit penyakit yang
pada suatu saat, misalnya jika daya tahan tubuh berkurang, penyakit akan timbul kembali.
Keadaan karier ini tidak hanya membahayakan diri pejamu sendiri, tetapi juga masyarakat
sekitarnya, karena dapat menjadi sumber penularan
4. Kronis : perjalanan penyakit tampak terhenti karena gejala penyakit tidak berubah,
dalam arti tidak bertambah berat dan ataupun tidak bertambah ringan. Keadaan yang seperti
tentu saja tidak menggembirakan, karena pada dasarnya pejamu tetap berada dalam keadaan
sakit.
5. Meninggal dunia : terhentinya perjalanan penyakit disini, bukan karena sembuh, tetapi
karena pejamu meninggal dunia. Keadaan seperti ini bukanlah tujuan dari setiap tindakan
kedokteran dan keperawatan.

METODE EPIDEMIOLOGI

Metode atau PendekatanEpidemiologi meliputi :


a. Epidemiologi Deskriptif (Descriptive Epidemiology)
Didalam epidemiologi deskriptif dipelajari bagaimana frekuensi penyakit berubah menurut
perubahan variabel-variabel epidemiologi yang terdiri dari orang (person), tempat (place) dan
waktu (time).
Orang (person) meliputi peranan umur, jenis kelamin, kelas sosial, jenis pekerjaan,
penghasilan, golongan etnik, status perkawinan, besarnya keluarga, struktur keluarga dan
paritas.
Tempat (place) adalah pengetahuan mengenai distribusi geografis (misal : kota dan
pedesaan, batas daerah dll) dari suatu penyakit berguna untuk perencanaan pelayanan
kesehatan dan dapat memberikan penjelasan mengenai etiologi penyakit.
Waktu (time) mempelajari hubungan antara waktu dan penyakit merupakan kebutuhan dasar
didalam analisis epidemiologis, oleh karena perubahan-perubahan penyakit menurut waktu
menunjukkan adanya perubahan faktor-faktor etiologis.
b. Epidemiologi Analitik (Analytic Epidemiologic)
Pendekatan atau studi ini dipergunakan untuk menguji data serta informasi-informasi yang
diperoleh studi epidemiologi deskriptif.
Ada 3 studi tentang epidemilogi ini yaitu :
1. Studi Riwayat Kasus (case history studies)
Dalam studi ini akan dibandingkan antara dua kelompok orang, yaitu kelompok yang terkena
penyebab penyakit dengan kelompok orang tidak terkena penyakit (kelompok kontrol).
2. Studi Kohort (kohort studies)
Dalam studi ini sekelompok orang dipaparkan (exposed) pada suatu penyebab penyakit
(agent). Kemudian diambil sekelompok orang lagi yang mempunyai ciri-ciri yang sama
dengan kelompok pertama. Kelompok kedua ini disebut kelompok kontrol. Setelah beberapa
saat yang telah ditentukan kedua kelompok tersebut dibandingkan, dicari perbedaan antara
kedua kelompok tersebut bermakna atau tidak.
3. Epidemiologi Eksperimen
Studi ini dilakukan dengan mengadakan eksperimen (percobaan) kepada kelompok subjek,
kemudian dibandingkan dengan kelompok kontrol (yang tidak dikenakan percobaan).

PENGUKURAN EPIDEMIOLOGI

2.1  ANGKA/RATE/PURATA
Rate (Angka) merupakan ukuran yang umum digunakan untuk peristiwa yang akan
diukur, biasanya untuk analisis statistik di bidang kesehatan, sebagai hasilnya akan
didapatkan ukuran yang objektif dengan mengetahui jumlah bilangan atau angka mutlak
suatu kasus atau kematian.peristiwa yang biasanya diukur dalam bentuk angka dianataranya
adalah kesakitan dimana yang digunakan untuk perhitungan kasus adalah insidence rate,
prevalence rate, periode prevalence rate, attack rate, dan dalam hubungan kematian akan
dibicarakan crude death rate, age specific death rate, cause disease spesific death rate.
Rate adalah suatu jumlah kejadian dihubungkan dengan populasi yang bersangkutan. Angka
yang dihitung dari total populasi didalam suatu area sebagai penyebutnya  disebut crude rate
atau angka kasar (purata kasar). Sedangkan rate yang dihitung dari kelompok tertentu disebut
specific rate atau angka spesifik (purata spesifik).
Faktor-faktor yang mempengaruhi penyusunan rate diantaranya adalah :
a.       Frekuensi orang yang menderita penyakit atau kasus dan orang yang meninggal (person)
b.      Frekuensi  penduduk darimana penderita berasal (place)
c.       Waktu atau periode kapan orang-orang terserang penyakit (time)
Angka yang dapat menggambarkan jumlah peristiwa statistik kesehatan perlu memperhatikan
karakteristik dari pembilang dan penyebutnya.pembilang terbatas pada umur, jenis kelamin,
atau golongan tertentu maka penyebut juga harus terbatas pada umur, jenis kelamin atau
golongan yang sama.
1.      Incidence Rate (Angka Insidensi)
Incidence rate (angka insidensi) adalah jumlah kasus baru penyakit tertentu yang
terjadi di kalangan penduduk pada suatu jangka waktu tertentu (umumnya satu tahun)
dibandingkan dengan jumlah penduduk yang mungkin terkena penyakit  baru tersebut pada
pertengahan tahun jangka waktu yang bersangkutan dalam persen atau permil.
Rumus:
                             jumlah kasus baru suatu penyakit
       Selama periode tertentu    
Insidence rate =
xK
Populasi yang mempunyai resiko

 Konstanta (k) adalah bilangan konstan yang biasanya bernilai 100.000, tetapi nilai 100
(persen) , 1000, 10.000, bahkan 1.000.000 sering digunakan. (pemilihan nilai K biasanya
dibuat sehingga angka terkecil diperoleh dalam seri yang hanya mempunyai  satu digit pada
sebelah  kiri titik desimal, dimana dihasilkan angka yang kecil, supaya dapat memudahkan
dalam membaca hasil).
                 Penentuan incidence rate ini tidak begitu sulit berhubung waktu terjadinya  dapat  
diketahui pasti atau mendekati pasti, tetapi jika penyakit timbulya tidak jelas, disini waktu
ditegakan diagnosis diartikan sebagai waktu mulai penyakit.
Kegunanaan incidence rate adalah dapat mempelajari faktor-faktor penyebab dari penyakit
yang akut maupun kronis.
Contoh :
Dikecamatan X dengan jumlah penduduk tanggal 1 juli 2009 sebanyak  500 orang balita,
dimana seluruh balita tersebut beresiko atau rentan terhadap penyakit campak. Di temukan
laporan penderita baru dari puskesmas kecamatan X sebagai berikut : bulan januari 10 orang,
maret 15 orang, juni 8 orang, september 12 orang, dan desember 20 orang. Maka
insidencenya adalah :
Insidence rate =  (10+15+8+12+20)
                                                            X 100%
                                    500                              
                       = 13 % atau 13 kasus per 100 penduduk balita
                        
2.      Attack Rate (Angka Serangan)
Insidence rate dalam hubungannya dengan waktu tertentu seperti bulan , tahun dan
seterusnya perlu diperhatikan. Angka serangan adalah jumlah penderita baru suatu penyakit
yang di temukan pada satu saat tertentu dibandingkan dengan jumlah penduduk yang terkena
penyakit pada saat yang sama dalam pesen atau permil. Angka serangan diterapkan pada
populasi yang sempit dan terbatas pada suaru periode, misalnya dalam suatu wabah. 
Insidence rate dihitung untuk periode waktu bertahun-tahun biasanya untuk penyakit yang
jarang.
Rumus :
Attack Rate =    jumlah kasus selama epidemi
                                                                                    x K
                    Populasi yang mempunyai resiko-resiko
Contoh :
Terdapat  100 orang siswa disekolah dasar Z, dimana secara tiba-tiba 20 orang diantaranya
menderita keracunan setelah jajan bakso di pinggir kali. Maka angka serangannya adalah :
Attack Rate  =    20
                                       x 100
                          100
                     = 20% atau 20 kasus per 100 siswa.
3.      Sekunder Attack Rate (Angka Serangan Sekunder)
Sekunder Attack Rate adalah jumlah penderita baru suaru penyakit yang mendapat
serangan kedua dibanding dengan jumlah penduduk dikurangi jumlah orang yang telah
pernah terkena pada serangan pertama dalam persen atau permil.
 Rumus:
Sekunder Attack Rate =   Jumlah penderita baru pd serangan kedua
                                                                                  
                              x K
      Jumlah pddk – Pddk yang terkena
                  serangan pertama

Contoh :
Terdapat 100 orang siswa di sekolah Z, dimana secara tiba – tiba 20 orang diantaranya
menderita keracunan setelah jajan bakso di pinggir kali. Jika 2 hari kemudian 30 orang siswa
lain terkena keracunan, maka angka serangan sekundernya adalah :

30
Angka serangan skunder =                               x 100
                                                     100 – 20
= 37,5 % atau 37,5 kasus per 100 siswa
4.      Point prevalence rate
Prevalensi adalah gambaran tentang frekuensi penderita lama dan baru yang
ditemukan pada waktu jangka tertentu disekelompok masyarakat tertentu.
Faktor – faktor yang mempengaruhi prevalence rate adalah :
1.      Frekuensi orang yang telah sakit pada waktu yang lalu
2.      Frekuensi orang yang sakit yang baru ditemukan
3.      Lamanya menderita sakit
Prevelance penting untuk perencanaan kebutuhan fasilitas, tenaga dan pemberantasan
penyakit.
Rumus :
                                        Jumlah kasus penyakit yang ada
                                                   pada satu titik waktu
Point prevalence rate
=                                                               x K
                                             Jumlah penduduk seluruhnya
Contoh :
Kasus penyakit demam berdarah di kecamatan x pada waktu dilakukan survei pada juli 2009
adalah 100 orang dari 4000 penduduk dikecamatan tersebut maka point prevalence rate
demam berdarah di kecamatan tersebut adalah :
                                              100
Point prevalence rate =                          x 1000
                                              4000
                                   = 25 kasus per 1000 orang

                        

5.      Periode prevalence rate


Periode prevalence rate adalah jumlah penderita lama dan baru suatu penyakit yang
ditemukan pada suatu waktu jangka tertentu dibagi dengan jumlah penduduk pada
pertengahan jangka waktu yang bersangkutan dalam persen atau permil.
Rumus :
                                                    Jumlah penderita lama dan baru
Periode prevalence rate =                                                                 
xK
                                                             Jumlah penduduk
Contoh :
Jumlah penduduk tanggal 1 juli 2008 di daerah margasari adalah 200.000 orang, menurut
laporan puskesmas kecamatan margasari jumlah penyakit penderita TBC adalah januari 40
kasus lama, 110 kasus baru, maret 65 kasus lama, 85 kasus baru, september 40 kasus lama,
60 kasus baru dan desember 190 kasus lama dan 210 kasus baru,maka angka prevalensi
periode adalah:
 = (40+110) + (65+85) + (15+85) + (40+60) + (190+210)
                                                           
                                             x 100 %
                                           200.000
=0,45 %

6.      Crude death rate ( Angka kematian kasar )


Crude death rate adalah jumlah semua kematian yang ditemukan pada jangka waktu
satu tahun dibanding dengan jumlah penduduk pada pertengahan waktu yang bersangkutan
dalam persen dan permil.
Crude death rate digunakan untuk perbandingan angka kematian antar berbagai penduduk
yang mempunyai susunan umur yang berbeda beda, tetapi tidak dapat secara langsung
melainkan harus melalui prosedur penyesuaian.crude death rate ini digunakan secara luas
karena sifatnya dapat dihitung dengan adanya informasi yang minimal.
Rumus :
                                     Jumlah kematian dikalangan penduduk
                                       Disuatu daerah dalam 1 tahun
Crute death rate
=                                                                            x K
                                          Jumlah penduduk rata – rata
                          ( pertengahan tahun , di daerah & tahun yang sama )

Contoh :
Di desa x dilaporkan 50 orang yang meninggal akibat menderita berbagai penyakit.sedang
jumlah penduduk desa tersebut pada tanggal 1 juli 2002 adalah 20.000 orang,maka angka
kematian kasarnya dalam persen adalah :
                                          50
Crude death rate =                             x 100 %
                                       20.000
                            =  0,25 %

7.      Cause disease spesific death rate ( angka kematian penyebab khusus )


Cause disease spesific death rate adalah jumlah keseluruhan kematian karena suatu
penyebb khusus dalam satu jangka waktu tertentu dibagi dengan jumlah penduduk pada
pertengahan waktu yang bersangkutan dalam persen atau permil.
Rumus :
                                                Jumlah kematian karena
                                                     penyebab khusus
Cause spesific death rate =                                                   x K
                                           Jumlah penduduk pertengahan
Contoh :
Pada pertengahan tahun 1998 di kecamatan x jumlah penduduknya 5000. Selama tahun 1998
tersebut terdapat 20 orang yang meninggal dunia karena DBD. maka kematian akibat DBD
adalah :
                                                             20
Cause (DBD) specific date rate =                      x 1000
                                                           5000
                                                   = 4 kematian per 1000 penduduk

8.      Age specific death rate ( Angka kematian pada umur tertentu )


Age specific death rate adalah jumlah keseluruhan kematian pada umur tertentu dalam
satu jangka waktu tertentu ( satu tahun ) dibagi dengan jumlah penduduk pada umur yang
bersangkutan pada daerah dan tahun yang bersangkutan dalam persen atau permil.
Rumus :
Misalnya age spesific death rate pada golongan 1-5 tahun

Jumlah kematian antara umur 1-5


                                                           tahun di suatu daerah
                                                           dalam waktu 1 tahun
Age specific death rate =                                                                
xK
                                                  Jumlah penduduk berumur antara
                                                            1-5 tahun pada daerah
                                                             dan tahun yang sama

Contoh :
Dikecamatan x jumlah penduduk yang berumur 1 – 5 tahun pada pertengahan tahun 1998
adalah 500 orang. Dari jumlah tersebut selama tahun 1998 meninggal 12 orang. Jadi Age
specific death rate adalah :
                                                 12
Age specific death rate =                          x 1000
                                                500
                                      = 24 kematian per 1000 penduduk

2.2  PROPORSI 
Proporsi merupakan hubungan antar jumlah kejadian dalam kelompok data yang
mengenai masing masing kategori dari kelompok itu atau hubungan antara bagian dari
kelompok dengan keseluruhan kelompok yang dinyatakan dalam persen.
Proporsi digunakan jika tidak mungkin menghitung angka insidensi, karena itu proporsi
tidak dapat menunjukan perkiraan peluang infeksi, kecuali jika banyaknya orang dimana
peristiwa dapat terjadi adalah sama pada setiap sub kelompok, tetapi biasanya hal ini tidak
terjadi.

Rumus :
         X
Proporsi =                                      x K
                            (X + Y )
Keterangan :
X = Banyaknya kejadian atau orang, dll yang terjadi dalam kategori tertentu atau sub kelompok
dari kelompok yang lebih besar.
Y = Banyaknya kejadian atau orang ,dll yang tidak terjadi atau tidak termasuk dalam kategori
yang dimaksud dari kelompok data tersebut.
K = 100 %

Contoh :
Pada kecamatan sukamaju terdapat 25 kasus penyakit x, terdiri dari 12 wanita dan 13 laki
laki. Jumlah orang – orang dari masing – masing jenis kelamin berada dalam kelompok yang
tidak diketahui. Berapa proporsi kasus menurut jenis kelamin :

proporsi wanita      = 12/25 x 100 = 26,9 %


proporsi laki – laki = 13/25 x 100 = 73,1 %

2.3  RASIO

Rasio adalah suatu pernyataan frekuensi perbandingan peristiwa atau orang yang
memiliki perbedaan antara suatu kejadian terhadap kejadian lainnya.misalnya rasio orang
sakit kanker dibandingkan dengan orang sehat.
Rumus :
                     X
Proporsi =             x K
                     Y
Diamana :
X = Banyaknya peristiwa atau orang yang mempunyai satu atau lebih atribut tertentu
Y = Banyaknya peristiwa atau orang yang mempunyai satu atau lebih atribut yang berbeda atribut
dengan ( x )
K=1
Contoh :Penyakit x mengenai 40 penduduk di kecamatan suria, masing – masing 15 wanita dan
25 laki – laki.jumlah orang – orang dari masing – masing jenis kelamin berada dalam
kelompok yang tidak di ketahui.Berapa rasio kasus laki – laki terhadap kasus wanita ?
Rasio kasus laki – laki : kasus wanita = 25 : 15
                                                             = 1,6 : 1

BAB III
PENUTUP
3.1  Kesimpulan
            Ukuran dasar yang digunakan dalam epidemiologi mencakup Rate (angka), rasio dan
proporsi. Ketiga bentuk perhitungan ini digunakan untuk mengukur dan menjelaskan
peristiwa kesakitan, kematian, dan nilai statistik vital lainnya.
A.  ANGKA/RATE/PURATA
Rate (Angka) merupakan ukuran yang umum digunakan untuk peristiwa yang akan diukur,
biasanya untuk analisis statistik di bidang kesehatan, sebagai hasilnya akan didapatkan
ukuran yang objektif dengan mengetahui jumlah bilangan atau angka mutlak suatu kasus atau
kematian.
       B. PROPORSI
     Proporsi digunakan jika tidak mungkin menghitung angka insidensi, karena itu proporsi tidak
dapat menunjukan perkiraan peluang infeksi, kecuali jika banyaknya orang dimana peristiwa
dapat terjadi adalah sama pada setiap sub kelompok, tetapi biasanya hal ini tidak terjadi. 
C. RASIO
Rasio adalah suatu pernyataan frekuensi perbandingan peristiwa atau orang yang memiliki
perbedaan antara suatu kejadian terhadap kejadian lainnya.misalnya rasio orang sakit kanker
dibandingkan dengan orang sehat.

3.2 Saran
Kami sangat mengharapkan agar makalah ini dapat menjadi acuan dalam
mempelajari  materi tentang epidemiologi.
Dan harapan kami makalah ini tidak hanya berguna bagi kami tetapi juga berguna
bagi semua pembaca. Terakhir dari kami walaupun makalah ini kurang
sempurna kami mengharapkan kritik dan saran untuk perbaikan di kemudian hari.

LAMPIRAN

1.      Contoh perhitungan Incidence Rate, Attack Rate dan Sekunder Attack Rate !
Jawab :
Contoh perhitungan Incidence Rate (Angka Insidensi)
Dikecamatan X dengan jumlah penduduk tanggal 1 juli 2009 sebanyak  500 orang balita,
dimana seluruh balita tersebut beresiko atau rentan terhadap penyakit campak. Di temukan
laporan penderita baru dari puskesmas kecamatan X sebagai berikut : bulan januari 10 orang,
maret 15 orang, juni 8 orang, september 12 orang, dan desember 20 orang. Maka
insidencenya adalah :
Insidence rate =  (10+15+8+12+20)
                                                            X 100%
                                       500                              
                       = 13 % atau 13 kasus per 100 penduduk balita
Contoh perhitungan Attack Rate (Angka Serangan)
Terdapat  100 orang siswa disekolah dasar Z, dimana secara tiba-tiba 20 orang diantaranya
menderita keracunan setelah jajan bakso di pinggir kali. Maka angka serangannya adalah :
Attack Rate  =    20
                                       x 100
                           100
                     = 20% atau 20 kasus per 100 siswa.
Contoh perhitungan Sekunder Attack Rate (Angka Serangan Sekunder)
Terdapat 100 orang siswa di sekolah Z, dimana secara tiba – tiba 20 orang diantaranya
menderita keracunan setelah jajan bakso di pinggir kali. Jika 2 hari kemudian 30 orang siswa
lain terkena keracunan, maka angka serangan sekundernya adalah :
    30
Angka serangan skunder =                               x 100
                                                        100 – 20
         = 37,5 % atau 37,5 kasus per 100 siswa

2.      Apa yang dimaksud dengan angka kematian kasar dan contoh perhitungannya !
Jawab :
Angka Kematian Kasar yaitu jumlah semua kematian yang ditemukan pada jangka waktu
satu tahun dibanding dengan jumlah penduduk pada pertengahan waktu yang bersangkutan
dalam persen dan permil. dan contoh perhitungannya :
Di desa x dilaporkan 50 orang yang meninggal akibat menderita berbagai penyakit.sedang
jumlah penduduk desa tersebut pada tanggal 1 juli 2002 adalah 20.000 orang,maka angka
kematian kasarnya dalam persen adalah :
                                                   50
Crude death rate =                             x 100 %
                                                20.000
                                        =  0,25 %
3.      Apa manfaat perhitungan angka kesakitan (Morbiditas) ?
Jawab : untuk mengetahui atau mengukur orang yang sakit dalam suatu daerah, member
ukuran yang lebih objektif terhadap peristiwa yang diukur, contohnya penyakit & kematian.
4.      Apa yang dimaksud angka kematian penyebab khusus dan pada umur tertentu ?
Jawab :
Angka kematian penyebab khusus yaitu jumlah keseluruhan kematian karena suatu penyebb
khusus dalam satu jangka waktu tertentu dibagi dengan jumlah penduduk pada pertengahan
waktu yang bersangkutan dalam persen atau permil.
Rumusnya:                                Jumlah kematian karena
                                                                 penyebab khusus
Cause spesific death rate =                                                   x K
                                                         Jumlah penduduk pertengahan
Contoh :
Dikecamatan x jumlah penduduk yang berumur 1 – 5 tahun pada pertengahan tahun 1998
adalah 500 orang. Dari jumlah tersebut selama tahun 1998 meninggal 12 orang. Jadi Age
specific death rate adalah :
                                                 12
Age specific death rate =                          x 1000
                                                             500
                                                  = 24 kematian per 1000 penduduk

Angka kematian pada umur tertentu yaitu jumlah keseluruhan kematian pada umur tertentu
dalam satu jangka waktu tertentu ( satu tahun ) dibagi dengan jumlah penduduk pada umur
yang bersangkutan pada daerah dan tahun yang bersangkutan dalam persen atau permil.
Rumus : Misalnya age spesific death rate pada golongan 1-5 tahun
Jumlah kematian antara umur 1-5
                                                           tahun di suatu daerah
                                                           dalam waktu 1 tahun
Age specific death rate
=                                                                                x K
                                                  Jumlah penduduk berumur antara
                                                            1-5 tahun pada daerah
                                                             dan tahun yang sama
Contoh :
Dikecamatan x jumlah penduduk yang berumur 1 – 5 tahun pada pertengahan tahun 1998
adalah 500 orang. Dari jumlah tersebut selama tahun 1998 meninggal 12 orang. Jadi Age
specific death rate adalah :
                                                 12
Age specific death rate =                          x 1000
                                                500

                                      = 24 kematian per 1000 penduduk


DAFTAR PUSTAKA

Soekidjo Notoatmodjo, 2003, Ilmu Kesehatan Masyarakat (Prinsip-Prinsip Dasar), Rineka Cipta,
Jakarta.

Ahblom, A & S Norel.Pengantar Epidemiologi Modern.editor : Suhardi, januar


Ahmad.yayasan essentia medika.1988
Bustan, M.N. Pengantar Epidemiologi. Penerbit Rinea Cipta. Jakarta.Cetakan kedua. Edisi
revisi, Agustus 2006.
Noor, N.N. Epidemiologi. Edisi revisi. Rineka Cipta. Jakarta. 2008

 Clayton, David and Michel Hills (1993) Statistical Models in Epidemiology Oxford


University Press. ISBN 0-19-852221-5
A thorough introduction to the statistical analysis of epidemiological data, focussing on
survival rates - their estimation, analysis and comparison.

 Last JM (2001). "A dictionary of epidemiosslogy", 4th edn, Oxford: Oxford University
Press.
 Morabia, Alfredo. ed. (2004) A History of Epidemiologic Methods and Concepts. Basel,
Birkhauser Verlag. Part I.
 Nutter FW Jr (1999) "Understanding the Interrelationships Between Botanical, Human,
and Veterinary Epidemiology: The Ys and Rs of It All. Ecosystem Health 5 (3): 131-140".
 Smetanin P., Kobak P., Moyer C., Maley O (2005) “The Risk Management of Tobacco
Control Research Policy Programs” The World Conference on Tobacco OR Health
Conference, July 12-15, 2006 in Washington DC.
 Szklo MM & Nieto FJ (2002). "Epidemiology: beyond the basics", Aspen Publishers, Inc.

http://prasko17.blogspot.co.id/2013/03/metode-metode-epidemiologi.html

http://artiputri8.blogspot.co.id/2015/07/makalah-pengukuran-epidemiologi-disusun.html

https://id.wikipedia.org/wiki/Epidemiologi

https://amrusada.wordpress.com/2013/10/25/konsep-dasar-epidemologi/

http://epidemiologidkn.blogspot.co.id/2008/01/riwayat-alamiah-penyakit.html