Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

A. Lantar Belakang
Pendidikan adalah sebagai usaha sadar yang sistematik selalu
bertolak dari sejumlah landasan serta mengindahkan sejumlah asas-asas
tertentu. Landasan dan Asas tersebut sangat penting, karena pendidikan
merupakan pilar utama terhadap perkembangan manusia suatu bangsa.
Asas pendidikan merupakan suatu kebenaran yang menjadi dasar atau
tumpuan berfikir, baik pada tahap perancangan maupun pelaksanaan
pendidikan.
Di dalam pembahasan ini secara tersirat akan dijelaskan macam-
macam asas dengan pengkajian dimensi hakikat manusia (keindividuan,
kesosialan, kesusilaan, dan keberagaman). Pandangan tentang hakikat
manusia merupakan tumpuan berpikir utama yang sangat penting dalam
pendidikan.
Ketika kita dihadapkan pada suatu tata kelola pendidikan, maka di
titik itu pulalah kita akan sering bersinggungan dengan apa yang disebut
asas-asas dalam hal ini asas-asas pendidikan. Hal ini karena asas-asas
pendidikan telah disepakati sebagai ‘suatu kebenaran yang menjadi dasar
atau tumpuan berpikir, baik pada tahap perancangan maupun pelaksanaan
pendidikan (Tirtarahardja, 1994).
Khusus di Indonesia terdapat sejumlah asas yang memberi arah
dalam merancang dan melaksanakan pendidikan itu. Asas-asas tersebut
bersumber dari kecenderungan umum pendidikan di dunia maupun yang
bersumber dari pemikiran dan pengalaman sepanjang sejarah upaya
pendidikan di Indonesia.
Sistem pendidikan Indonesia mengenal adanya tiga asas-asas
pendidikan. Asas yang pertama adalah asas Tut Wuri Handayani (berasal
dari Bahasa Sansekerta yang berarti ‘Jika di belakang mengawasi dengan
awas’). Asas pendidikan yang kedua adalah asas ‘Belajar Sepanjang
Hayat;’ sedang asas yang terakhir adalah asas ‘Kemandirian dalam
Belajar.’

1
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana penjelasan dan pengertian asas pendidikan?
2. Apa yang dimaksud asas Tut Wuri Handayani?
3. Apa yang dimaksud asas pendidikan seumur hidup?
4. Apa yang dimaksud dengan asas kemandirian dalam belajar?
5. Bagaimanakah penerapan dan pengembangan asas-asas pendidikan?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui apa itu asas pendidikan
2. Untuk mengetahui asas Tut Wuri Handayani
3. Untuk mengetahui asas pendidikan seumur hidup
4. Untuk mengetahui asas kemandirian dalam belajar
5. Untuk mengetahui pengembangan dan penerapan asas-asas pendidikan

2
3
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Asas Pendidikan


Asas – asas pendidikan merupakan ketentuan yg harus dipedomani
atau menjadi pegangan dalam melaksanakan pendidikan agar tercapai
tujuannya dan asas pendidikan merupakan sesuatu kebenaran yang
menjadi dasar atau tumpuan berpikir, baik pada tahap perancangan
maupun pelaksanaan pendidikan (Hartoto. 2008). Khusus di Indonesia,
terdapat beberapa asas pendidikan yang memberi arah dalam merancang
dan melaksanakan pendidikan nasional. Asas-asas tersebut bersumber dari
pemikiran dan pengalaman sepanjang sejarah perkembangan pendidikan di
Indonesia (Tirtarahardja, Umar dan La Sulo. 1994).

Diantara asas tersebut, ada tiga asas yang diuraikan secara


mendetail, yaitu; Asas Tut Wuri Handayani, Asas Belajar Sepanjang
Hayat, dan Asas Kemandirian dalam Belajar. Ketiga asas itu dianggap
sangat relevan dengan upaya pembinaan dan pengembangan pendidikan
nasional, baik masa kini maupun masa datang. Oleh karena itu, setiap
tenaga kependidikan harus memahami dengan tepat ketiga asas tersebut
agar dapat menerapkannya dengan semestinya dalam penyeleenggaraan
pendidikan sehari-hari.

B. Macam – Macam Asas Pendidikan


1. Asas Tut Wuri Handayani
Masyarakat Indonesia tentunya tidak asing lagi dengan semboyan
Tut Wuri Handayani. Semboyan ini sering kita jumpai pada seragam
siswa Sekolah Dasar. Semboyan ini juga merupakan semboyan
Depdiknas. Semboyan Tut Wuri Handayani pertama kali
dikumandangkan pada tahun 1922 tercantum pada asas 1922 yang
dikumandangkan oleh Ki Hajar Dewantara. Asas 1922 ini merupakan

4
asas dari Perguruan Nasional Taman Siswa yang didirikan pada
tanggal 3 Juli 1922.
Menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan adalah tuntunan di dalam
hidup tumbuhnya anak- anak. Adapun tujuannya adalah menuntun
segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu agar mereka
sebagai manusia dan anggota masyarakat dapatlah mencapai
keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.
Asas tutwuri handayani sendiri bermakna bahwa setiap orang
berhak mengatur dirinya sendiri dengan berpedoman kepada tata tertib
kehidupan yang umum. . Tut Wuri Handayani mengandung arti
pendidik dengan kewibawaan yang dimiliki mengikuti dari belakang
dan memberi pengaruh, tidak menarik-narik dari depan, membiarkan
anak mencari jalan sendiri, dan bila anak melakukan kesalahan baru
pendidik membantunya. (Anshory, Ichsan. 2018. Pengantar
pendidikan).. Dapat dikatakan bahwa asas tutwuri handayani ini
merupakan cikal bakal dari pendekatan atau cara belajar siswa aktif.

Makna Tut wuri Handayani adalah :

(*) Tut wuri : mengikuti perkembangan sang anak dengan penuh


perhatian yang berdasarkan cinta kasih tanpa pamrih.

(*) Handayani : mempengaruhi dalam arti, merangsang, memupuk,


membimbing, dan menggairahkan anak agar sang anak
mengembangkan pribadi masing – masing melalui disiplin pribadi
(Arga, 2011).

Asas Tut Wuri Handayani ini kemudian dikembangkan oleh Drs.


R.M.P. Sostrokartono (filusof dan ahli bahasa) dengan menambahkan
dua semboyan lagi, yaitu Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo
Mangun Karso. Kini ketiga semboyan tersebut telah menyatu menjadi
satu kesatuan asas, masing-masing sebagai berikut;

Ing Ngarso Sung Tulodo ( jika di depan memberi contoh) 

5
Adalah hal yang baik mengingat kebutuhan anak maupun
pertimbangan guru. Di bagian depan, seorang guru akan membawa
buah pikiran para muridnya itu ke dalam sistem ilmu pengetahuan
yang lebih luas. Ia menempatkan pikiran / gagasan / pendapat para
muridnya dalam cakrawala yang baru, yang lebih luas. 

Ing Madya Mangu Karsa (di tengah membangkitkan kehendak) 

Adalah diterapkan dalam situasi ketika anak didik kurang bergairah


atau ragu-ragu untuk mengambil keputusan atau tindakan, sehingga
perlu diupayakan untuk memperkuat motivasi. Dan, guru maju ke
tengah-tengah (pemikiran) para muridnya. Dalam posisi ini ia
menciptakan situasi yang memungkinkan para muridnya
mengembangkan, memperbaiki, mempertajam, atau bahkan mungkin
mengganti pengetahuan yang telah dimilikinya itu sehingga diperoleh
pengetahuan baru yang lebih masuk akal, lebih jelas, dan lebih banyak
manfaatnya. 

Tut Wuri Handayani (jika di belakang memberi dorongan). 

Asas ini memberi kesempatan anak didik untuk melakukan usaha


sendiri, dan ada kemungkinan melakukan kesalahan, tanpa ada
tindakan (hukuman) pendidik. Hal itu tidak menjadikan masalah,
karena menurut Ki Hajar Dewantara, setiap kesalahan yang dilakukan
anak didik akan membawa pidananya sendiri, karena tidak ada
pendidik sebagai pemimpin yang mendorong datangnya hukuman
tersebut. Dengan demikian, setiap kesalahan yang dialami peserta
didik bersifat mendidik. Maksud tut wuri handayani adalah sebagai
pendidik hendaknya mampu menyalurkan dan mengarahkan perilaku
dan segala tindakan sisiwa untuk mencapai tujuan pendidikan yang
telah dirancang. (Umar Tirtarahardja dan La Sulo, 1994: 123).

Tujuan dari Asas Tut Wuri Handayani adalah

1. Pendidikan dilaksanakan tidak menggunakan syarat paksaan,


2.  Pendidikan adalah penggulowenthah yang mengandung makna:
momong, among, ngemong.  Among mengandung arti

6
mengembangkan kodrat alam anak dengan tuntutan agar anak didik
dapat mengembangkan hidup batin menjadi subur dan selamat.
Momong mempunyai arti mengamat-amati anak agar dapat tumbuh
menurut kodratnya. Ngemong berarti kita harus mengikuti apa
yang ingin diusahakan anak sendiri dan memberi bantuan pada saat
anak membutuhkan,
3. Pendidikan menciptakan tertib dan damai (orde en vrede),
4. Pendidikan tidak ngujo (memanjakan anak), dan
5. Pendidikan menciptakan iklim, tidak terperintah, memerintah diri
sendiri dan berdiri di atas kaki sendiri (mandiri dalam diri anak
didik). Metode ini secara teknik pengajaran meliputi : kepala, hati,
dan panca indera (educate the head, the heart, and the hand).
Ketiga asas tersebut sebagai semboyang dalam pendidikan
merupakan satu kesatuan asas yang telah menjadi asas penting dalam
pendidikan di Indonesia. Pendidikan juga mengandung makna
mengembangkan kodrat alam anak dengan tuntutan agar anak didik
dapat mengembangkan kehidupan lahir dan bathin menjadi subur dan
selamat, dan perkembangan peserta didik harus senantiasa diikuti
dengan memberi bantuan pada saat anak membutuhkan

2. Asas Pendidikan Seumur Hidup

Asas belajar sepanjang hayat merupakan sudut pandang dari sisi


lain terhadap pendidikan seumur hidup. Ini sesuai dengan hadist
Nabi Muhammad SAW yang sudah tidak asing lagi ditelinga, beliau
bersabda yang artinya: ”Tuntutlah ilmu dari buaian sampai meninggal
dunia”. Jadi, Islam telah lama mengenal konsep belajar sepanjang
ayat ini jauh sebelum orang-orang Barat mengangkatnya (Rangga.
2011).
Selanjutnya pendidikan sepanjang hayat didefinisikan sebagai
tujuan atau ide formal untuk pengorganisasian dan perstrukturan
pengalaman pendidikan. Pengorganisasian dan perstrukturan ini
diperluas mengikuti seluruh rentangan usia, dari usia yang paling muda

7
sampai yang paling tua. Pendidikan sepanjang hayat bukan merupakan
pendidikan yang berstruktur namun suatu prinsip yang menjadi dasar
dalam menjiwai seluruh organisasi system pendidikan yang ada.
Dengan kata lain pendidikan sepanjang hayat menembus batas-batas
kelembagaan, pengelolaan, dan program yang telah berabad-abad
mendesakkan diri pada system pendidikan.
Penekanan istilah “belajar” adalah perubahan perilaku
(kognitif/afektif/psikomotor) yang relatif tetap karena pengaruh
pengalaman, sedang istilah “pendidikan” menekankan pada usaha
sadar dan sistematis untuk penciptaan suatu lingkungan yang
memungkinkan pengaruh pengalaman tersebut lebih efisien efektif,
dengan kata lain, lingkungan yang membelajarkan subjek didik
(Tirtarahardja, Umar dan La Sulo. 1994)
Pendidikan seumur hidup adalah pendidikan yang harus:
a. Meliputi seluruh hidup setiap individu
b. Mengarahkan kepada pembentukan, pembaharuan, peningkatan
dan penyempurnaan secara sistematis pengetahuan, keterampilan
dan sikap yang dapat meningkatkan kondisi hidupnya
c. Tujuan akhirnya adalah mengembangkan penyadaran diri setiap
individu
d. Meningkatkan kemampuan dan motivasi untuk belajar mandiri
e. Mengakui kontribusi dari semua pengaruh pendidikan yang
mungkin terjadi, termasik yang formal, non formal dan
informal (La Sulo. 1990).
Dalam latar pendidikan seumur hidup, proses belajar-mengajar di
sekolah seharusnya mengemban sekurang-kurangnya dua misi, yaitu:
1)      Memberikan pembelajaran kepada peserta didik dengan efesien
dan efektif
2)      Meningkatkan kemauan dan kemampuan belajar mandiri
sebagai dasar dari belajar sepanjang hayat

8
Kurikulum yang dapat dirancang dan diimplementasikan yaitu
kurikulum yang memperhatikan dua dimensi, yaitu sebagai berikut:
1)      Dimensi vertikal dari kurikulum sekolah, meliputi keterkaitan
dan kesinambungan antar tingkatan persekolahan dan
keterkaitan dengan kehidupan peserta didik di masa depan
2)      Dimensi horisontal dari kurikulum sekolah yaitu katerkaitan
antara pengalaman belajar di sekolah dengan pengalaman di luar
sekolah.

Perancangan dan implementasi kurikulum yang memperhatikan


kedua dimensi itu akan mengakrabkan peserta didik dengan berbagai
sumber belajar yang ada di sekitarnya. Kemampuan dan kemauan
menggunakan sumber belajar yang tersedia itu akan memberi peluang
terwujudnya belajar sepanjang hayat. Masyarakat yang mempunyai
warga yang belajar sepanjang hayat akan menjadi suatu masyarakat
yang gemar belajar (learning society). Dengan kata lain, akan
terwujudlah gagasan pendidikan seumur hidup seperti yang tercermin
di dalam sistem pendidikan nasional Indonesia (Tirtarahardja, Umar
dan La Sulo. 1994).
Pendidikan sepanjang hayat memungkinkan tiap warga negara
Indonesia. 
a.  mendapat kesempatan untuk meningkatkan kualitas diri dan
kemandirian sepanjang hidupnya .
b. mendapat kesempatan untuk memanfaatkan layanan lembaga-
lembaga pendidikan yang ada di masyarakat. Lembaga pendidikan
yang ditawarkan dapat bersifat formal, informal, non formal.
(Anshory, Ichsan. 2018. Pengantar pendidikan).

3. Asas Kemandirian dalam Belajar


Kemandirian dalam belajar dapat diartikan sebagai aktifitas belajar
yang berlangsung lebih didorong oleh kemauan sendiri, pilihan sendiri,
dan tanggung jawab sendiri dari pembelajaran. Belajar Mandiri dapat

9
diartikan sebagai usaha individu untuk melakukan kegiatan belajar
secara sendirian maupun dengan bantuan orang lain berdasarkan
motivasinya sendiri untuk menguasai suatu materi dan atau kompetensi
tertentu sehingga dapat digunakannya untuk memecahkan masalah
yang dijumpainya di dunia nyata.
Sehingga perwujudan asas kemandirian dalam belajar akan
menempatkan guru dalam peran utama sebagai fasilitator dan
motivator, disamping peran-peran lain: Informator, organisator, dan
sebagainya. Sebagai fasilitator guru diharapkan menyediakan dan
mengatur berbagai sumber belajar sedemikian sehingga memudahkan
peserta didik berinteraksi dengan sumber-sumber tersebut. Sedang
sebagai motivator, guru mengupayakan timbulnya prakarsa peserta
didik untuk memanfaatkan sumber belajar itu. Pengembangan
kemandirian dalam belajar ini seyogyanya dimulai dengan kegiatan
intrakurikuler, yang dikembangkan dan dimantapkan selanjutnya
dalam kegiatan kurikuler dan ekstrakurikuler atau  untuk latar
perguruan tinggi: Dimulai dalam kegiatan tatap muka  dan
dikembangkan dan dimantapkan dalam kegiatan terstruktur dan
kegiatan mandiri. Kegiatan tatap muka atau intrakurikuler terutama
berfungsi membentuk konsep-konsep dasar dan cara-cara pemanfaatan
berbagai sumber belajar yang akan menjadi dasar pengembangan
kemandirian dalam belajar di dalam bentuk-bentuk kegiatan terstruktur
dan mandiri atau kegiatan kurikuler dan ekstrakurikuler itu.
Terdapat beberapa strategi belajar-mengajar yang dapat
mengembangkan kemandirian dalam belajar, yaitu:
a. Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA)
Salah satu pendekatan yang memberi peluang itu  karena siswa
dituntut mengambil prakarsa dan  memikul tanggung jawab
tertentu dalam belajar-mengajar di sekolah, umpamanya melalui
lembaga kerja
b. Belajar dari modul, paket belajar, dan sebagainya

10
c. Belajar dengan didukung oleh suatu pusat sumber belajar (PSB)
yang memadai. Seperti diketahui, PSB itu memberi peluang
tersedianya berbagai jenis sumber belajar, disamping bahan
pustaka di perpustakaan, seperti rekaman elektronik, ruang-ruang
belajar (tutorial) sebagi mitra kelas, dan sebaginya. Dengan
dukungan PSB itu asas kemandirian dalam belajar akan lebih
dimantapkan dan dikembangkan. PSB memberi peluang
tersedianya berbagai jenis sumber belajar, di samping bahan di
perpustakaan. Dengan dukungan PSB itu asas kemandirian dalam
belajar akan lebih dimantapkan dan dikembangkan. (Tirtarahardja,
Umar dan La Sulo. 1994).

Keberadaan Asas Kemandirian dalam Belajar memang satu jalur


dengan apa yang menjadi agenda besar dari Asas Tut Wuri Handayani,
yakni memberikan para peserta didik kesempatan untuk “berjalan
sendiri.” Inti dari istilah “berjalan sendiri” tentunya sama dengan
konsep dari “mandiri” yang dalam Asas Kemandirian dalam Belajar
bermakna “menghindari campur tangan guru namun (guru juga harus)
selalu siap untuk ulur tangan apabila diperlukan” (Tirtarahardja, Umar.
1994).
Lebih lanjut Johnson mengungkapkan bahwa kelak jika proses
belajar mandiri berjalan dengan baik, maka para peserta didik akan
mampu membuat pilihan-pilihan positif tentang bagaimana mereka
akan mengatasi kegelisahan dan kekacauan dalam kehidupan sehari-
hari (Johnson. 2009). Dengan kata lain, proses belajar mandiri atau
Asas Kemandirian dalam Belajar akan mampu menggiring manusia
untuk tetap “Belajar sepanjang Hayatnya.”

C. Penerapan dan Pengembangan Asas – Asas Pendidikan


a. Penerapan Asas Pendidikan
a. Tut Wuri Handayani

11
 Implikasi dari penerapan asas ini dalam pendidikan adalah sebagai
berikut
a. Seorang pendidik diharapkan memberikan kesempatan kepada
siswa untuk mengemukakan ide dan prakarsa yang berkaitan
dengan mata pelajaran yang diajarkan.
b. Seorang pendidik berusaha melibatkan mental siswa yang
maksimal didalam mengaktualisasikan pengalaman belajar, upaya
melibatkan siswa seperti ini yang sering dikenal dengan cara
belajar siswa aktif (CBSA).
c. Peranan pendidik hanyalah bertugas mengarahkan siswa, sebagai
fisilitator, moitivator dan pembimbing dalam rangka mencapai
tujuan belajar . Dalam proses belajar mengajar dilakukan secara
bebas tetapi terkendali, interaksi pendidik dan siswa mencerminkan
hubungan manusiawi serta merangsang berfikir siswa,
memanfaatkan bermacam-macam sumber, kegiatan belajar yang
dilakukan siswa bervariasi, tetapi tetap dibawah bimbingan guru.

b. Belajar Sepanjang Hidup


Pendidikan terdiri dari tiga sumber utama yaitu:
 1.      Pendidikan Persekolahan                                                     
Di negara kita dikenal adanya wajib belajar 12 tahun, dimana kita
mendapat pendidikan sampai tingkat sekolah menengah. Wajib
belajar ini termasuk peran dari pemerintah untuk
mengimplementasikan assa belajar sepanjang hayat.
2.      Pendidikan luar sekolah
Orang bijak mengatakan bahwa pengalaman merupakan
pembelajaran yang paling berharga dalam kehidupan, kita tidak
akan bisa mengaplikasikan ilmu yang kita dapatkan di dalam
pendidikan sekolah tanpa adanya pengalaman nyata yang kita
dapatkan di lingkungan sekitar. Setiap saat banyak pelajaran yang
kita dapatkan di lingkungan, baik lingkungan keluarga,
masyarakat maupun tempat bersosialisasi seperti tempat kerja.

12
Karena kita pasti sepanjang hidup kita akan bergaul dan berbaur
dengan lingkungan masyarakat, tentu juga kita pasti mendapatkan
pendidikan sepanjang hidup kita. Contoh lain tentang pendidikan
luar sekolah yaitu adanya organisasi sosial masyarakat dan
sebagainya.
3.      Sumber informasi lain seperti media social, internet, dan
sebagainya.
Zaman modern saat ini tekhnologi tidak akan bisa dipisahkan dari
kehidupan manusia, kepintaran manusia menyebabkan semakin
cepatnya pembaharuan-pembaharuan dalam bidang tekhnologi
yang mengakibatkan kita juga harus mampu bersaing untuk
mempelajari tekhnologi itu sendiri. Apalagi dengan mendekatnya
pasar bebas, juga akan berdampak besar bagi kita. Jika kita tidak
mampu menguasai tekhnologi maka beberapa tahun kedepan kita
akan menjadi tamu di rumah kita sendiri.
c. Kemandirian Dalam Belajar
Implementasi dari asas kemandirian dalam belajar
merupakan suatu wujud manifestasi Asas Kemandirian dalam
Belajar yang bukan hanya dalam berbentuk kurikulum KTSP,
namun juga dalam bentuk kurikuler dan ekstra kurikuler  sedang
dalam lingkup perguruan tinggi terwujud dalam kegiatan tatap
muka dan kegiatan terstruktur dan mandiri.
b. Pengembangan Asas – Asas Pendidikan
a. Mengembangkan komunikasi dua arah
Seorang guru harus mengembangkan komunikasi dua
arah untuk meningkatkan umpan balik dari siswa. Siswa tidak
hanya mendengarkan namun juga memberikan respon dalam setiap
permasalahan yang diberikan seorang pendidik. Dengan demikian,
peserta didik akan terdorong untuk belajar mandiri, tidak
tergantung kepada pendidik saja (Rangga. 2011).
b. Menggeser peranan pendidik menjadi fasilitator, informator,
motivator, dan organisator.

13
Fasilitator sebagai penyedia layanan misalnya memberikan
kasus yang harus dipecahkan atau didiskusikan. Informator sebagai
pemberi informasi terkini yang berkaitan dengan tujuan
pembelajaran. Motivator sebagai pemberi motivasi kepada peserta
didik. Sedangkan sebagai organisator, pendidik membimbing
peserta didik menyelesaikan tahap-tahap pembelajaran yang telah
ada (Rangga. 2011).
c. Mengembangkan tujuan belajar menjadi learning to know, learning
to do, learning to life together, dan learning to be.
Berbagai upaya pengembangan dalam penerapan asas-asas
pendidikan yang dilakukan oleh pemerintah, antara lain:
1.      Pembinaan guru dan tenaga pendidikan di semua jalur, jenis, dan
jenjang pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan
2.      Pengembangan sarana dan prasarana sesuai dengan perkembangan
ilmu dan teknologi
3.      Pengembangan kurikulum dan isi pendidikan sesuai dengan
perkembangan ilmu dan teknologi serta pengembangan nilai-nilai
budaya bangsa
4.      Pengembangan buku ajar sesuai dengan tuntutan perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi serta perkembangan budaya
bangsa (Qym. 2009)

14
15
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Berdasarkan pemaparan di atas dapat kami simpulkan sebagai berikut.
Asas pendidikan memiliki arti hukum atau kaidah yang menjadi
acuan kita dalam melaksanakan kegiatan pendidikan. Asas pendidikan
merupakan suatu kebenaran yang menjadi dasar atau tumpuan berpikir,
baik pada tahap perencanaan maupun pelaksanaan pendidikan. Beberapa
asas pendidikan yang memberi arah dalam merancang dan melaksanakan
pendidikan itu.
Asas-asas pokok dalam penyelenggaraan pendidikan ada tiga, yaitu:
1. Asas Tut Wuri Handayani, bermakna bahwa setiap anak didik berhak
mengatur dirinya sendiri dan guru tetap mempengaruhi dengan
memberi kesempatan kepada anak didik untuk berjalan sendiri dan
tidak terus-menerus dicampuri, diperintah atau dipaksa
2.  Asas belajar sepanjang hayat, hanya dapat diwujudkan apabila
didasarkan pada pendapat bahwa peserta didik mau dan mampu
mandiri dalam belajar.
3. Asas kemandirian dalam belajar, dapat dikembangkan dengan
menghindari campur tangan guru, namun guru selalu siap untuk
membantu apabila diperlukan.
Penerapan asas-asas pokok pendidikan, baik di sekolah maupun di
luar sekolah dengan berpedoman kepada kebebasan dalam belajar
sepanjang hayat yang bermuara kepada kemandirian dalam belajar. Oleh
karena itu, seorang pendidik perlu menyesuaikan pendekatan yang
digunakannya dalam kegiatan pembelajaran.

16
DAFTAR PUSTAKA

Anshory, Ichsan. (2018). Pengantar Pendidikan. Malang: Universitas


Muhammadiyah Malang Press.
Johnson, Elanie B. PH. D. (2009). Contextual Teaching and Learning. Bandung:
Mizan Media Utama.
Sulo, La. (1990). Penelaah Kurikulum Sekolah. Ujung Pandang: FIP IKIP
UjungPandang Press.

Tirtarahardja, Umar dan S.L. La Sulo.(2005). Pengantar Pendidikan. Jakarta:


Rineka Cipta.

17