Anda di halaman 1dari 20

BIODIVERSITAS

TUGAS KELOMPOK

KELOMPOK : 2

NAMA ANGGOTA KELOMPOK :

1. Dewi Putri Absiyati (182500005)

2. Nisa Novi Afina (182500022)

3. Putri Jauharo T.I (182500018)

4. Fikri Prianggono (182500010)

5. Vidia Kristanti (182500022)

6. Aisah Erviana (182500012)

7. Maya Wahyu I (182500014)

8. Yayu Julia Soarubun (182500011)

9. Antonius Buksal Wembun (162500017)

Sebutkan dan jelaskan macam-macam contoh kasus masuknya spesies introduksi ke


dalam suatu wilayah yang dapat menyebabkan terancamnya spesies endemik.

A. Kajian Risiko Keberadaan Ikan-Ikan Introduksi di Danau Beratan, Bali


Danau Beratan telah terindikasi introduksi ikan asing sebagaimanaWhitten et
al., (1999) menyatakan bahwa Danau Beratan memiliki lebih dari sembilan jenis ikan
yang baik secara sengaja maupun tidak sengaja telah diintroduksikan sejak tahun
1945. Keberadaan ikan introduksi di Danau Beratan diduga akan berdampak terhadap
komunitas ikan asli dan kegiatan perikanan setempat. Danau Beratan diketahui
terdapat spesies endemik Rasbora baliensis yang hanya ditemukan di danau tersebut
saja (Kottelat et al., 1993) sehingga keberadaan ikan-ikan introduksi tersebut sangat
mendesak terhadap spesies endemik di Danau Beratan (Whitten et al., 1999).
Keberadaan ikan asing zebra cichlid (Amatitlania nigrofasciata) yang cenderung
bersifat invasif juga telah merugikan kegiatan perikanan tangkap di Danau Beratan
(Rahman et al., 2012).
Hasil menunjukkan bahwa terdapat 17 spesies ikan di Danau Beratan dimana
70% merupakan jenis ikan introduksi. Beberapa jenis ikan introduksi tersebut telah
memiliki karakter sebagai ikan asing invasif seperti ikan zebra cichlid (A.
nigrofasciata).

Secara umum, ikan-ikan introduksi di Danau Beratan memiliki dampak risiko


ekologis yang cenderung tinggi, terutama untuk ikan zebra, nila, lele, betok, gurami,
karper, bawal, nilem, sapu-sapu, red devil dan mas. Ikan-ikan kecil seperti ikan
nyalian cendol/ platy, cendol, pudah, tawes, nyalian buluh dan rasbora cenderung
hanya memiliki risiko ekologis yang relatif kecil di Danau Beratan. Khusus di Danau
Beratan, ikan-ikan introduksi dapat dikatakan memiliki risiko ekologis yang berarti,
yang membedakan hanyalah tingkat risikonya saja. Diketahui bahwa ikan zebra (A.
nigrofasciata) merupakan ikan yang memiliki tingkat risiko yang tinggi di Danau
Beratan. Ikan zebra merupakan ikan invasif di Danau Beratan yang risiko ekologis
yang tinggi.
Perubahan ikan zebra yang awalnya hanya berupa ikan asing yang kini mulai
memperlihatkan karakter sebagai ikan invasif perlu diwaspadai. beberapa studi kasus
menunjukkan akibat suatu spesies eksotik yang berubah menjadi spesies invasif dapat
mengarahkan spesies asli, terutama yang endemik kepada kepunahan. Hasil kajian
menggunakan FRAM menunjukkan bahwa introduksi ikan di Danau Beratan
memiliki risiko ekologis sehingga perlu kehati-hatian dalam hal penebaran ikan.
potensi suatu ikan introduksi menjadi ikan asing yang bersifat invasif di Danau
Beratan juga lebih besar sebagaimana terjadi pada ikan zebra (Amatitlania
nigrofasciata) yang awalnya merupakan ikan hias yang terintroduksi secara tidak
sengaja namun kini telah menjadi ikan pengganggu dan invasif di Danau Beratan.
Salah satu dampak introduksi ikan antara lain adanya penurunan populasi ikan
asli merupakan proses awal menuju kepunahan spesies tertentu yang mengakibatkan
penurunan keanekaragaman hayati dan berakhir dengan terbentuknya komunitas ikan
yang homogen didominasi oleh ikan asing. Kondisi tersebut telah nampak di Danau
Beratan yang didominasi oleh ikan zebra yang merupakan ikan asing.
Introduksi ikan pada beberapa kasus bisa jadi tidak bersifat membahayakan
dan pengaruhnya hanya sedikit terhadap komunitas ikan asli, namun menurut
pengalaman yang terdapat di seluruh dunia, introduksi ikan sering bersifat sangat
merugikan. Risiko yang paling berat misalnya karena jenis yang diintroduksikan
dapat berkembang biak dengan sangat cepat dan bersaing dengan jenis yang sudah
ada apalagi jika bersifat predator. Oleh karena itu, introduksi jenis baru tidak boleh
dilakukan tanpa didahului oleh penelitian mendalam mengenai potensi dampaknya
(Welcomme, 1988).
Helfman (2007) menambahkan bahwa pengelolaan tersebut harus mencakup
pengurangan dampak ikan asing, meminimalisasi kemungkinan adanya introduksi
yang tidak disengaja, melakukan analisis biaya manfaat terhadap rencana introduksi
atau penebaran ikan yang disengaja dan juga melalui pemahaman terhadap risiko
introduksi ikan. Secara umum, upaya pencegahan terhadap dampak negatif introduksi
lebih mudah dan murah dibandingkan upaya pengendalian atau pemberantasan ikan
invasif yang menjadi spesies hama atau pengganggu.
B. Ikan Arapaima di Brantas
Gambar 1. Ikan Arapaima

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) akan berkoordinasi


dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk menindaklanjuti kasus
pelepasan ikan Arapaima gigas di Sungai Brantas, Jawa Timur. Hal ini karena pemilik
ikan HG diduga melanggar peraturan tentang perikanan. Kasus penyidikan pelepasan
ikan Arapaima itu akan dilakukan oleh Balai Karantina Ikan Tanjung Perak. Namun,
Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Timur tetap mendukung
proses penyelidikan. Untuk kepentingan lidik, PPNS telah menyita 1 ekor ikan yang
ada di kolam sebagai barang bukti
Arapaima gigas merupakan predator yang memangsa ikan-ikan kecil.
Sehingga, dikhawatirkan akan merusak ekosistem Sungai Brantas. BKSDA Jawa
Timur pun telah menyosialisasikan terkait ikan tersebut kepada masyarakat.
Diharapkan tak ada masyarakat yang melepaskan ikan Arapaima gigas ke sungai atau
waduk. Saat ini, sudah delapan ekor ikan predator Arapaima gigas ditangkap di
Sungai Brantas, Jawa Timur. Jumlah tersebut adalah total keseluruhan ikan yang
dibuang ke sungai itu.
Ikan Arapaima gigas adalah salah satu jenis ikan air tawar yang memiliki
bentuk unik. Hal ini membuat siapa saja akan tertarik dengan jenis ikan satu itu.
Namun ikan Arapaima gigas ternyata cukup berbahaya. Terutama untuk ikan asli
Indonesia karena bersifat karnivor/predator, makanannya berupa ikan jenis lain,
krustasea, katak, burung yang dijumpai di sekitar permukaan perairan.
Keberadaan Arapaima gigas apabila sampai masuk ke perairan umum
Indonesia akan sangat berbahaya bagi fauna akuatik asli Indonesia. Ikan tersebut
dapat menjadi kompetitor untuk ikan asli dalam mendapat makanan maupun
pemanfaatan ruang, bila ukurannya sama dengan ikan asli. Namun mengingat
ukurannya dapat mencapai 3-4 meter dengan berat ratusan kilogram, tentu bisa
menghabiskan fauna akuatik asli di perairan manapun.
Kemampuan bertahan ikan Arapaima gigas di perairan umum sangat baik,
meskipun kondisi perairan yang tidak bagus karena ikan ini dapat mengambil oksigen
langsung dari udara. Struktur insang hanya berfungsi saat masih juvenil (remaja).
Seiring dengan pertumbuhan ikan itu, insang tersebut mengalami transisi menjadi
paru-paru primitive yang memungkinkan ikan ini untuk beradaptasi di lingkungan
yang buruk dan rendah kadar oksigen sekalipun.
Hal lainnya adalah induk Arapaima gigas mempunyai pola pengasuhan, jantan
dan betina bekerja sama membuat lubang dengan lebar sekitar 50 cm dan kedalaman
20 cm. Betina akan meletakkan telurnya yang dapat mencapai 50.000 butir di lubang
tersebut. Lalu, jantan membuahi telur dan telur itu pun dijaga dengan baik oleh si
jantan. Selain itu, warna kepala ikan ini berubah menjadi lebih gelap untuk
melindungi keberadaan junvenilnya yang baru menetas. Setelah anak-anaknya cukup
besar, induk jantan warnanya kembali lebih cerah dan berenang meninggalkan
mereka.
Di negara asalnya, Brasil, ikan Arapaima gigas sudah mengalami overfishing.
Sehingga, pemerintah Brasil melarang untuk menangkapnya sejak tahun 2001, namun
illegal fishing masih terus berlanjut hingga diduga populasinya semakin menurun.
Menurut World Conservation Monitoring Centre, ikan ini telah masuk dalam Red List
of Threathened SpeciesIUCN 1996, walaupun IUCN belum menetapkan status karena
tidak adanya data mendetail tentang status populasinya. Arapaima gigas telah pula
masuk dalam list Convention International Trade in Endangered (CITES) dan
tergolong Appendix II, berarti ikan spesies ini belum mengalami kepunahan, namun
harus dikontrol perdagangannya untuk mencegah hal-hal yang berimbas pada
kelestarian, keberadaannya di alam.
Arapaima gigas dinamai pirarucu oleh masyarakat lokal di sepanjang Sungai
Amazon yang artinya ikan merah. Penamaan ini berdasarkan pancaran kemerahan
dari sisik-sisik ke arah ekor dan juga warna kemerahan-oranye dari filet dagingnya.
Ikan itu merupakan ikan air tawar endemik Sungai Amazon yang dideskripsi oleh
seorang dokter dan naturalis dari Swiss, Prof. Dr. Heinrich Rudolf Schinz. Ikan ini
telah dipublikasikan tahun 1822. Ikan Arapaima gigas berasal dari daerah aliran
sungai (DAS) Amazon, Brasil. Selain itu, ikan ini juga dijumpai di negara-negara lain
sepanjang Sungai Amazon lainnya, yaitu Kolombia, Equador, Guyana, dan Peru.
C. Dua Spesies Ikan Cichlid Invasif Beda Terdeteksi di Waduk Karangkates

Beberapa peristiwa penurunan populasi ikan endemik karena masuknya ikan


introduksi misalnya di Waduk Selorejo-Jawa Timur oleh ikan Mujair (Oreochromis
mossambicus) dan ikan Louhan (Amphilophus sp.), dominasi ikan Nila (Oreochromis
niloticus) yang menggeser ikan Depik (Rasbora tawarensis) yang merupakan ikan asli
danau Laut Tawar-Aceh. Peningkatan ikan Louhan disertai dengan merosotnya
populasi ikan Wader dan ikan Betik di waduk Sempor, Jawa Tengah. Ikan red devil
(Amphilophus sp.) yang banyak memangsa ikan Mas, Tawes, dan Nila di Waduk
Sermo, Yogyakarta, Cirata dan Kedung Ombo, serta beberapa peristiwa lainnya.

Beberapa peristiwa penurunan populasi ikan endemik karena masuknya ikan


introduksi. Ikan introduksi yang invasif pada umumnya merupakan kelompok
Cichlidae. Identifikasi kelompok Amphilophus spp. (Cichlidae) juga cukup sulit
karena kelompok ini merupakan kompleks spesies. Kompleks spesies adalah spesies
dengan status taksonomi yang bersifat problematik karena penentuan tingkatan
taksonomi berdasar morfologi dan harus memeperhatikan homologi dan konvergensi.

Kelompok spesies ini memiliki morfologi yang sangat mirip dalam


penampilan dan batas antara mereka seringkali tidak jelas. Peneltian ini dilakukan
untuk melakukan kajian genetik kelompok ikan Cichlid, terutama Amphilophus spp.
Di Bendungan Karangkates dan Bendungan Lahor Jawa Timur, menggunakan DNA
barcoding.

Gambar 2. Amphilophus citrinellus


Gambar 3. Cichlasoma trimaculatum

Hasil penelitian menunjukkan terdapat dua spesies yang berbeda, yaitu


Cichlasoma trimaculatum dan Amphilophus citrinellus. Dengan nilai identity di atas
98 persen dan E-value dengan nilai 0. Kedua kelompok ikan tersebut dipastikan
merupakan Cichlasoma trimaculatum (Amphilophus trimaculatum) dan Amphilophus
citrinellus.

Hasil konstruksi pohon filogenetik ikan Cichlidae di Bendungan Karangkates


dan Lahor dalam studi ini menunjukkan bahwa sebagian besar sampel termasuk
dalam spesies Amphilophus citrinellus (n=18), sedangkan sebagian kecil sampel,
termasuk Amphilophus trimaculatum (n=3). Hasil pemetaan haplotipe-fenotipe warna
tubuh menunjukkan bahwa Cichlasoma trimaculatum memiliki warna khas gelap atau
hitam, sedangkan Amphilophus citrinellus memiliki warna terang (merah) maupun
gelap (hitam). Hasil analisis rerata diversitas genetik keseluruhan populasi dan dalam
sub populasi adalah 0,001, sedangkan rerata diversitas genetik interpopulasi adalah 0.
Rerata jarak genetik antar subpopulasi adalah 0,001. Hal ini menunjukkan bahwa
komparasi habitat dua waduk tersebut tidak memiliki diferensiasi genetik yang
signifikan pada gen COI.

D. Invasi ikan Red devil di Waduk Sermo


Gambar 4. Ikan Red Devil

Ikan berwarna merah menyala dan kekuning-kuningan itu berasal dari Sungai
Amazon, Brasil. Ikan dengan nama ilmiah Amphilopus labiatus itu memiliki tubuh
pipih dan bentuk kepala menonjol. Tulang dan dirinya lebih banyak daripada
dagingnya. Red devil bisa sampai di Indonesia bukan karena berenang dari Amazon
melewati Lautan Atlantik, lalu Lautan Hindia. Ikan ini diimpor dari Malaysia ketika
ikan hias Lou Han atau Chenchu dengan nama latin Amphilopus tirmaculatus sedang
naik daun.
Ikan red devil adalah penumpang gelap ketika benih ikan lain ditebar di
Waduk Sermo, Yogyakarta. Beda dengan Red Devil, julukan klub Manchester United,
yang selalu dinantikan kehadirannya (di layar televisi), red devil yang satu ini jelas
berbahaya bagi petani tambak. Kepala Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan
Keamanan Hasil Perikanan R. Narmoko Prasmadji, S.H, MH, pada Seminar tentang
Strategi Nasional Pengelolaan Spesies Invasif di Jakarta (9/6), mengatakan, ikan red
devil kini benar-benar menjadi “setan” bagi jenis ikan lain.
Populasinya di Waduk Sermo semakin tidak terkendali, memangsa ikan lain
seperti ikan mas, tawes dan nila di waduk tersebut. Setelah 10 tahun sejak ikan itu
masuk ke waduk tersebut, hasil tangkapan semakin menurun dan sekitar 75% dari
hasil tangkapan adalah ikan red devil. Saat ini ikan tersebut juga semakin mengancam
populasi ikan lain di Waduk Cirata, dan Kedung Ombo. Masyarakat di seputar
Kedung Ombo setempat menyebutnya ikan nonong.
Ikan red devil hanyalah satu contoh species invasif. Masih banyak species
invasif lain yang menghancurkan keanekaragaman jenis ikan asli di Indonesia.
Narmoko menjelaskan, dampak negatif introduksi ikan asing, telah dirasakan di
Indonesia dan banyak Negara.
Introduksi atau invasi dari species invasif itu dilakukan melalui hampir di
semua titik-titik pelabuhan pemasukan di seluruh Indonesia. Karena itu, perlu ada
kerja sama Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Lingkungan Hidup
dan Kementerian Pertanian untuk mencegah invasi itu. Narmoko berpendapat,
perlunya mengintegrasikan perkarantinaan dan penilaian risiko lingkungan sebelum
dilakukan suatu introduksi species. Kita perlu belajar dari kasus red devil.
E. Invasif di Danau Ayamaru, Papua
Danau Ayamaru merupakan danau karst yang terletak di, Kabupaten Maybrat,
Propinsi Papua Barat (132 10 30 BT dan 01 1426 -01 1739 LS). Danau ini dihuni oleh
beberapa biota endemic yang saat ini mulai terancam kepunahan, khususnya ikan
pelangi (Melanotaenia ajamaruensis, M bosemani, dan M fasinensis). Survey tahun
2012 memperlhatkan kondisi perairan danau unik kawasan karst yang cenderung
alkalin (pH>7) serta tingkat kesadahan yang tinggi. Dilihat dari kandungan unsur hara
serta kondisi komunitas fitoplankton dan laju produktivitas primernya, perairan Danau
Ayamaru diperkirakan berada pada status kearah mesotrofik. Untuk mencegah agar
status perairan danau tidak menjadi eutrofik, perlu upaya pengendalian kesuburan air,
yaitu terutama melalui pengembangan sistem sanitasi yang baik di kawasan
pemukiman sekitar danau.
Permasalahan utama terkait pelestarian ikan pelangi adalah adanya invasif
spesies, yaitu gabus Toraja (Chana striata) dan ikan mas (Cyprinus carpio) yang
lebih mendominasi komunitas ikan di dalam perairan danau ini. Upaya pemulihan
populasi ikan pelangi perlu dilakukan dengan pengembangan reservat di Danau
Ayamaru untuk menjaga stok alami, serta pengembangan habitat eksitu yang
terkontrol dan domestikasi untuk restoking (penebaran ulang). Disamping itu juga
disarankan untuk membatasi perkembangan populasi ikan gabus, dengan cara
penangkapan jenis ini secara intensif untuk mengurangi ancaman terhadap keberadaan
ikan endemis di dalam danau.
F. kasus lain masuknya spesies introduksi
Wilayah perairan tawar di Indonesia juga sudah terinvasi oleh jenis asing yang
menekan pertumbuhan populasi ikan lokal. Sebagai contoh, waduk Jatiluhur diinvasi
oleh ikan aligator kecil (Lepisosteus oculatus) dan ikan aligator besar (Atractosteus
spatula), dan waduk Cirata dinvasi oleh ikan piranha (Serrasalmus serrulatus) yang
berasal dari Sungai Amazon, Brazil. Kedua waduk ini juga terinvasi oleh ikan
marinier (Parachromis maraguense), ikan golsom (Amphilophus alfari), ikan red
devil (Amphilophus citrinellus), dan ikan petek (Parambassis sp.).
Beberapa perairan tawar seperti Waduk Kedung Ombo di Jawa Tengah, dan
Waduk Sermo di Yogyakarta terinvasi ikan red devil, Danau Laut Tawar Aceh
terinvasi ikan Nila (Oreochromis niloticus), Danau Ayamaru Papua terinvasi ikan
Mas, dan Danau Lindu dan Danau Poso terinvasi ikan Mujair (Oreochromis
mossambicus). Lahan basah, danau, sungai dan daerah air tawar di berbagai daerah di
Indonesia juga diketahui sudah terinvasi oleh berbagai jenis asing, namun informasi
yang secara resmi tercatat dan dikeluarkan oleh instansi Pemerintah, perguruan tinggi,
serta lembaga penelitian masih sangat terbatas.
Apa saja Penyebab masuknya spesies introduksi tersebut.

Penyebaran jenis asing terjadi melalui berbagai cara, baik sengaja maupun tidak.
Secara sengaja, penyebaran dilakukan melalui perdagangan untuk berbagai kepentingan,
pertukaran jenis antar negara, introduksi untuk kepentingan tertentu, misalnya jenis cepat
tumbuh untuk reklamasi lahan, optimalisasi pemanfaatan makanan di suatu perairan, serta
untuk kepentingan kepariwisataan. Secara tidak sengaja, penyebaran dapat terjadi karena
adanya benih yang terbawa oleh manusia atau tumbuhan dan satwa melalui transportasi darat,
laut maupun udara. Beberapa penyebab terjadinya introduksi JAI (Jenis Asing Invasif), antara
lain:
1. Perdagangan Introduksi tumbuhan dan/atau satwa merupakan bisnis besar yang
memanfaatkan kecenderungan sifat manusia yang menyukai hal-hal yang baru dan
unik sehingga mereka mengintroduksi hewan, ikan atau tanaman yang belum pernah
dilihat atau dikenal sebelumnya (asing).
2. Pemenuhan Kebutuhan Pangan Introduksi dilakukan dari negara lain dengan memilih
jenis tumbuhan dan/atau hewan atau ikan yang dapat tumbuh dengan cepat, dapat
mengisi rantai makanan yang kosong dalam lingkungan yang baru, mudah di angkut
dan dipindahkan serta memiliki kandungan gizi/nutrisi yang tinggi.
3. Manipulasi Ekosistem Introduksi dilakukan ketika terjadi serangan organisme
pengganggu pada satu ekosistem tertentu sehingga diperlukan musuh alami (predator)
untuk menekan pertumbuhannya.
Secara umum, tingkatan proses invasi suatu jenis tumbuhan, hewan dan ikan dapat
dibagi mulai dari pengangkutan, yaitu pergerakan suatu jenis dari tempat asal ke lokasi baru,
sampai dengan penyebaran dan dampak yang ditimbulkan di lokasi baru. Catford (2009)
membagi tingkat invasi suatu jenis invasif ke dalam beberapa kategori tingkatan, yaitu: 1)
transport, 2) introduksi, 3) kolonisasi, 4) naturalisasi, 5) penyebaran dan 6) dampak.
Dijelaskan pula bahwa tingkatan invasi tersebut ditentukan oleh hasil interaksi dan besar
kecilnya ketiga faktor pendorong invasi, yang terdiri dari: 1) Propagule (P), yaitu bagian dari
tumbuhan seperti tunas atau anakan yang dapat hidup menjadi tumbuhan baru; 2) faktor
Abiotik (A), yaitu faktor kimia dan fisika dalam lingkungan, seperti cahaya, temperatur, air,
gas di udara/atmosfir dan angin serta tanah, edafik satwa dan fisiografi; 3) faktor Biotik (B),
yaitu hal yang berkaitan dengan, dihasilkan oleh atau disebabkan oleh mahluk hidup
(http://www.thefreedictionary.com/).
Masing-masing tingkat invasi pada setiap tahapan tersebut memiliki karakter, skala
spasial dan dinamika populasi yang berbeda sehingga membutuhkan pola penanganan atau
pengendalian yang berbeda pula.
Review Jurnal tentang Endemic Plants/endemic animals

Judul Pola tingakh laku harian burung kasuari


(Casuarius sp.) Di Taman Burung Biak
Jurnal Jurnal Ilmu Peternakan
Volume & halamn 8 & Hal 34-39
Tahun 2018
Penulis Hotlan manik, irban unggul warsono, dan
freddy pattiselanno
Reviewer Fikri Prianggono
Tanggal reviewer 4 April 2020
Tujuan penelitian Untuk mengetahui dan mempelajari tingkah
laku harian burung kasuari
Subjek penelitian Burung kasuari (Casuarius sp.)
Metode penelitian Deskriptif teknik observasi
Definisi operasional variable dependen Tingkah harian Burung Kasuari
Cara dan alat ukur untuk mengukur variable  Bahan yang menjadi objek utama
dependen penelitian adalah burung kasuari.
 Alat yang digunakan adalah :
thermometer; senter; caliper; kamera
digital; stopwatch, timbangan, binocular,
plastic sampel dan alat tulis
Devinisi operasional variable independent -
Langkah-langkah Survei awal (orientasi lapangan)
Pengamatan awal dilakukan selama
tujuh hari secara intensif, tiga hari
pengamatan pagi, siang, sore dan tiga hari ke
dua pada malam hari serta satu hari
pengamatan selama 24 jam. Dalam
pengambilan data, untuk masing-masing
pengamatan dibagi menjadi tiga bagian yaitu
:
Pengamatan I pada kasuari muda
(diluar sangkar), pengamatan II pada kasuari
pasangan (di luar sangkar) dan pengamatan
III pada kasuari pasangan (di dalam
sangkar).
Tiap pengamatan dilakukan selama
satu minggu dengan mengamati aktifitas
burung kasuari sehari-hari yaitu tingkah laku
makan, minum, istirahat, mandi, berlatih dan
jelajah.
Hasil penelitian Tingkah laku makan
Hasil pengamatan menunjukkan
bahwa burung kasuari yang berada baik di
dalam atau di luar sangkar melakukan
aktifitas makannya setelah keluar dari sarang
tempat tidurnya anatara pukul 5.40 sampai
06.00 pagi. Aktifitas makan tersebut
mencapai puncaknya stelah pakan yang
diberikan berupa pisang, papaya, keladi dan
ubi jalar ditempatkan pada wadah tempat
makannya sekitar pukul 06.00 pagi.
Rangkaian aktifitas makan berakhir
pada sore hingga malam hari yaitu jam
18.15 sampai 19.00. Aktifitas makan
biasanya tidak berlangsung terus menerus,
karena adanya kegiatan membersihkan
bulu, mandi, minum dengan beberapa
kegiatan lainnya, seperti berlatih dan
beristirahat. Jenis-jenis makanan Jenis
makanan yang diberikan kepada burung
kasuari yang berada di lokasi pengamatan
sama yaitu pisang, pepaya keladi dan ubi
jalar. Pemberian makanan dilakukan secara
ad libitum setelah dilakukan penimbangan
awal terhadap jumlah makanan yang
diberikan.
Cara makan Burung kasuari
melakukan aktivitas makan secara individu
ataupun berpasangan. Cara makan sendiri-
sendiri merupakan ciri tertentu burung
kasuari yang tergolong hewan soliter dan
memiliki daerah teritorial tertentu (Beehler
dkk, 1986). Burung kasuari memasukkan
makanan ke dalam mulutnya dengan dua
cara yaitu secara langsung bagi jenis
makanan yang berukuran kecil/pendek (≤ 10
cm). Hal ini, memudahkan paruh untuk
menjepit makanan secara horisontal. Cara
tidak langsung umumnya bagi bahan
makanan yang berukuran >10cm dan
hanya membutuhkan dua sampai empat kali
tarikan untuk memasukkan makanan
berukuran panjang atau diameter lebar
makanan tidak lebih besar dari
kerongkongan. Cara makan tidak langsung
dilakukan burung kasuari dengan menjepit
makanan secara vertikal sedangkan untuk
diameter makanan yang lebih besar dari
ukuran kerongkongan terlebih dahulu
dipecah menjadi kecil-kecil dengan
paruhnya sehingga memudahkan
untukmengkonsumsinya. Hal ini sesuai
dengan pengamatan Burton (1985),
menyatakan bahwa burung kasuari di alam
menghancurkan makanan berupa jenis buah-
buahan yang besar sebelum dimakan, bentuk
paruh ini beradaptasi dengan jenis makanan
sehingga memudahkan mengkonsumsinya
Tingkah laku minum
Waktu minum
Waktu minum dilakukan hampir sepanjang
hari dan mencapai puncaknya saat hari mulai
panas (siang hari).
Cara minum
Untuk memperoleh sumber air, burung
tersebut mencelupkan paruhnya ke sumber
air lalu mengangkatnya.
Tingkah laku mandi
Waktu mandi
Saat pengamatan waktu mandi
kasuari saat cuaca sedang panas atau kadang
saat hujan, hal ini dilakukan untuk
menghindari penguapan tubuh yang
berlebihan saat cuaca panas, kasuari mandi
sekita 5-10 menit namun bila turun hujan
kasuari mandi sekitar 30 - 60 menit.,
Tempat mandi
Di dalam sangkar burung kasuari
berendam pada wadah minumnya.
Tingkah laku istirahat
Waktu istirahat
Burung kasuari istirahat dengan cara berdiri /
berdiam sejenak
Tempat istirahat
Tempat burung kasuari istirahat biasanya
berupa tanah datar yg terlindung dari sinar
matahari.
Tingkah laku jelajah
Rute
Burung kasuari di luar sangkar dapat
berjrlajah di seluruh area penangkaran yang
banyak ditumbuhi pohon.
Aktifitas berlatih kasuari
Aktifitas kasuari berlatih dilakukan saat
menjelang atau setelah turunnya hujan,
berlatih burung bertujuan untuk melindungi
diri dari musuh.
Kelebihan penelitian Penelitian ini dapat dijadikan sebagai acuan
untuk penangkaran burung kasuari sehingga
bisa beradaptasi dengan baik dengan
lingkungan dan dapat mencapai produksi
yang optimal.
Kekurangan penelitian Menurut saya tidak ada kekurangan yang
berarti dala penelitian ini.
Judul Keanekaragaman Jenis Euphorbiaceae
(Jarak-Jarakan) Endemik di Sumatra
Jurnal Jurnal Biodjati,
Volume & halaman 2 & Hal 89-94
Tahun 2017
Penulis Tutie Djarwaningsih
Reviewer Putri Jauharo T.I
Tanggal reviewer 3 April 2020
Tujuan penelitian Tujuan penelitian ini untuk mengetahui
dengan pasti jenis-jenis endemik
Euphorbiaceae di Sumatra.
Subjek penelitian Jenis Euphorbiaceae (jarak-jarakan) endemik
di Sumatra
Metode penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini
adalah dengan pengamatan specimen
herbarium serta penelusuran pustaka.
Definisi Operasional Variabel Depeden Jenis Endemik suku Euphorbiaceae
Cara dan alat ukur mengukur variabel Bahan yang digunakan berupa semua
depeden spesimen herbarium dari suku Euphorbiaceae
yang berjumlah kira-kira 5000 lembar dan
disimpan di “Herbarium Bogoriense” Bidang
Botani, Pusat Penelitian Biologi – LIPI,
Cibinong Science Center (BO).
Definisi Operasional Variabel independent -
Langkah-langkah Metode yang digunakan adalah deskriptif

1. Mendata dan memilah-milah semua


spesimen herbarium dari suku
Euphorbiaceae tersebut serta ditunjang
dengan penelusuran pustaka.

2. Melakukan pengamatan terhadap jenis-


jenis Euphorbiaceae yang hanya berasal
dari Sumatra.

3. Jenis-jenis Euphorbiaceae dari Sumatra


yang ditemukan tersebut dicatat
informasi persebarannya, nama lokalnya
bila ada, jumlah spesimennya,
manfaatnya, dan dilakukan
pendokumentasian.

4. Selanjutnya persebaran jenis-jenis


Euphorbiaceae tersebut dibandingkan
dengan persebarannya di seluruh
Indonesia, apabila hanya ditemukan di
Sumatra saja, maka jenis-jenis tersebut
dapat dikatagorikan sebagai endemic,
biasanya hanya diwakili 1 atau 2
specimen saja. Untuk jenis-jenis yang
tidak ada spesimennya,
pendokumentasian dilakukan dengan
cara mengadopsi gambar dari pustaka
yang ada dengan mencantumkan
sumbernya.
Hasil Penelitian Bahwa ada beberapa jenis Euphorbiaceae
yang endemik di Sumatra, yaitu: Clonostylis
forbesii S. Moore,Gymnanthes remota
(Steenis) Esser, Mallotus sphaerocarpus
(Miq.) Mull. Arg., Sauropus asymmetricus
Welzen, dan Trigonostemon magnificum R.I.
Milne. S auropus asymmetricus Welzen dan
Trigonostemon magnificum R.I. Milne
merupakan jenis baru, sehingga spesimennya
masih sangat kurang.
Kelebihan Penelitian Tidak ada kelebihan yang berarti dari
penelitian tersebut. Namun penelitian tersebut
cukup baik dalam hal pendataan spesies
endemik.
Kekurangan Penelitian Penelitian dilakukan hanya dengan
menggunakan spesimen dan perlu adanya
kegiatan eksplorasi sehingga data yang
didapatkan lebih lengkap.