Anda di halaman 1dari 2

Praktikum kali ini yaitu mengenai penentuan indeks bias dan rotasi optik.

Pada
percobaan indeks bias, alat yang digunakan yaitu refraktometer. Refraktometer adalah alat
yang digunakan untuk mengukur kadar atau konsentrasi bahan terlarut berdasarkan indeks
biasnya. Misalnya gula, garam, protein, dan sebagainya. Prinsip kerja dari refraktometer
sesuai dengan namanya adalah memanfaatkan refraksi cahaya.

Pada percobaan kali ini, larutan yang digunakan yaitu larutan sukrosa. Pengukuran ini
didasarkan pada prinsip bahwa cahaya yang masuk melalui prisma cahaya bisa melewati
bidang batas antara cairan dan prisma kerja dengan suatu sudut yang terletak dalam batas-
batas tertentuyang ditentukan oleh sudut batas antara cairan dan gelas. Larutan sukrosa yang
digunakan memiliki konsentrasi yang berbeda-beda yaitu 5%,10%,15%,20%,dan 25%
dengan masing masing aquadest 10 ml. Hasil yang diperoleh dalam praktikum kali ini yaitu
didapatkan rata-rata nilai indeks bias larutan sukrosa 5% yaitu 3,67 pada suhu 28,6°. Rata-
rata nilai indeks bias larutan sukrosa 10% yaitu 7,0 pada suhu 28,6°. Rata-rata nilai indeks
bias larutan sukrosa 15% yaitu 10,87 pada suhu 28,5°. Rata-rata nilai indeks bias larutan
sukrosa 20% yaitu 13,6 pada suhu 28,6°. Rata-rata nilai indeks bias larutan sukrosa 25%
yaitu 16,43 pada suhu 28,5°.
Perbedaan nilai rata-rata indeks bias disebabkan karena adanya perbedaan konsentrasi
dari masing-masing larutan sukrosa. Indeks bias bertambah besar seiring dengan
bertambahnya konsentrasi larutan sukrosa. Sesuai dengan hasil yang didapat dari
percobaan kali ini, besarnya indeks bias sebanding dengan konsentrasinya. Artinya besarnya
indeks bias bergantung dengan besarnya konsentrasi, semakin besar konsentrasi semakin
besar pula indeks biasnya. Dengan menggunakan hubungan tersebut besarnya indeks bias
dapat diperkirakan dengan mengetahui konsentrasi larutannya terlebih dahulu.
Pada percobaan rotasi optik, alat yang digunakan yaitu polarimeter. Polarimeter
adalah alat yang digunakan untuk mengukur besarnya putaran optik yang dihasilkan oleh
suatu zat yang bersifat optis aktif yang terdapat dalam larutan. Polarimeter berfungsi untuk
menentukan pengaruh konsentrasi suatu zat terhadap nilai rotasi optik.
Percobaan rotasi optik dilakukan dengan menggunakan larutan dekstrosa 10% dan
20%, perbedaan antara kedua konsentrasi akan menghasilkan nilai rotasi optik yang berbeda.
Pada larutan dekstrosa 10%, didapatkan nilai rotasi optik 30,505. Pada larutan dekstrosa 20%
didapatkan nilai rotasi optik 41,300. Perbedaan nilai rotasi optik disebabkan oleh perbedaan
konsentrasi. Semakin tinggi konsentrasi suatu zat, maka akan semakin tinggi nilai rotasi optik
yang didapat. Namun, setelah dibandingkan dengan pustaka, nilai rotasi optik dari dekstrosa
adalah +53,6 dan +53,2 (Farmakope Indonesia Edisi V). Nilai tersebut tidak sesuai dengan
hasil pada saat percobaan dilakukan, hal tersebut dapat dipengaruhi oleh molekul zat,
konsentrasi zat yang diginakan, dan ketidaktelitian praktikan saat menggunakan alat
polarimeter.