Anda di halaman 1dari 15

SISTEM PENDIDIKAN DI MESIR

DEDE RIKI
NIM: 2013920023

ABSTRAKSI
Mesir yang terkenal dengan sebutan ardhul anbiyâ (negeri para nabi), memang
telah menjadi kiblat keilmuan keislaman dunia. Di samping mempunyai
segudang peradaban, negeri seribu menara ini juga merupakan gudang segala
ilmu. Negara ini seakan memiliki magnet tersendiri. Terbukti, Mesir telah
memikat jutaan hati para pelajar dari berbagai penjuru dunia untuk menimba
ilmu di sana. Tentunya, semua ini tak lepas dari peran al-Azhar: pusat
pendidikan tertua yang telah melahirkan banyak ulama dunia. Di sini, pemakalah
akan memaparkan sedikit tentang potret pendidikan Mesir. Keberhasilan
pendidikan memiliki hubungan erat dengan kemajuan sebuah negara. Sumber
Daya Manusia (SDM) yang bermutu, tentunya akan memberikan kontribusi bagi
perkembangan sebuah negara, bahkan dunia. Dari sini, setidaknya kita perlu
memberikan perhatian yang lebih pada pendidikan.

Kata Kunci: Sistem Pendidikan, Mesir

A. PENDAHULUAN
Republik Arab Mesir, lebih dikenal sebagai Mesir, (bahasa Arab: ‫مصر‬, Maṣr) adalah
sebuah negara yang sebagian besar wilayahnya terletak di Afrika bagian timur laut. Dengan luas
wilayah sekitar 997.739 km² Mesir mencakup Semenanjung Sinai (dianggap sebagai bagian dari
Asia Barat Daya), sedangkan sebagian besar wilayahnya terletak di Afrika Utara. Mesir
berbatasan dengan Libya di sebelah barat, Sudan di selatan, jalur Gaza dan Israel di utara-timur.
Perbatasannya dengan perairan ialah melalui Laut Tengah di utara dan Laut Merah di
timur.Mayoritas penduduk Mesir menetap di pinggir Sungai Nil (sekitar 40.000 km²). Mesir
terkenal dengan peradaban kuno dan beberapa monumen kuno termegah di dunia, misalnya
Piramid Giza, Kuil Karnak dan Lembah Raja serta Kuil Ramses.
Mesir diakui secara luas sebagai pusat budaya dan politikal utama di wilayah Arab dan
Timur Tengah. Secara historis, modernisasi pendidikan di Mesir berawal dari pengenalan
kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi Napoleon Bonaparte pada saat penaklukan Mesir.
Kemajuan ilmu pengetahuan dan tehnologi yang dicapai Napoleon Bonaparte yang
berkebangsaan Perancis ini, memberikan inspirasi yang kuat bagi para pembaharu Mesir untuk
melakukan modernisasi pendidikan di Mesir yang dianggapnya stagnan. Diantara tokoh-tokoh
tersebut Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, dan Muhammad Ali Pasha. Dua yang
terakhir, secara historis, kiprahnya paling menonjol jika dibandingkan dengan tokoh-tokoh yang
lain.
Sistem Pendidikan di negara Mesir meliputi:
1. Sekolah Dasar (Ibtida’i).
2. Sekolah Menengah Pertama (I’dadi).
3. Sekolah Menengah Atas (Tsanawiyah ‘Ammah).
4. Pendidikan Tinggi1.
Pada kesempatan ini kami dari kelompok empat pada mata kuliah Perbandingan Pendidikan akan
mencoba membahas tentang Sistem Pendidikan di Negara Mesir. 

B. POTRET SISTEM PENDIDIKAN DI MESIR


1. Potret Sistem Pemerintahan
Mesir berbentuk Republik sejak 18 Juni 1953, Mesir adalah Negara pertama yang
mengakui kedaulatan Indonesia. Mohamed Hosni Mubarak telah menjabat menjadi presiden
Mesir selama lima periode, sejak 14 Oktober 1981 setelah pembunuhan Presiden Mohamed
Anwar el-Sadat, selain itu ia juga pemimpin partai Demokrat Nasional. Perdana Menteri
Mesir Dr. Ahmed Nazif dilantik pada 9 Juli 2004 untuk menggantikan Dr. Atef Ebeid.
Kekuasaan di Mesir diatur dengan sistem semipresidental multipartai. Secra teoritis
kekuasaan eksekutif dibagi antara presiden dan perdana menteri namun dalam prakteknya
kekuasaan terpusat pada presiden, yang selama ini dipilih dalam pemilu dalam kandidat
tunggal. Mesir juga mengadakan pemilu parlemen multipartai.
Pada akhir Februari 2005, Presiden Mubarak mengumumkan perubahan aturan
pemilihan presiden menuju ke pemilu multikandidat. Untuk pertama kalinya sejak 1952.
Rakyat Mesir mendapatkan kesempatan untuk memilih pemimpin dari daftar berbagai
kandidat. Namun aturan yang baru juga menerapkan berbagai batasan sehingga berbagai
tokoh seperti Ayman Nour, tidak bisa bersaing dalam pemilihan dan Mubarak pun kembali
menang dalam pemilu.Dan pada akhir Januari 2011 rakyat Mesir menuntut presiden Mubarak
untuk meletakkan jabatannya. Hingga 18 hari aksi demonstrasi besar-besaran menuntut
presiden Hosni Mubarak mundur, akhirnya pada tanggal 11 Februari 2011 Hosni Mubarak
resmi mengundurkan diri.2  Semenjak tahun 1979, sistem pemerintahan Mesir bersifat
desentralisasi yakni memperbesar kekuasaan gubernur sebagai wakil presiden di daerah,
dengan hal tersebut mendorong keterlibatan masyarakat lebih besar dalam membuat
keputusan yang berkaitan dengan prioritas sosio-ekonomi masyarakat lapisan bawah.

1
Drs. Abd. Rachman Ashegaf, M.Ag, Internasionalisasi Pendidikan (Sketsa Perbandingan Pendidikan di Negara-negara
Islam dan Barat) Hlm.61-62
2
http://madchan-islamiclibrary.blogspot.com/2011/11/sejarah-perkembangan-filsafat.html
Republik Arab Mesir mempunyai Dewan perwakilan Rakyat yang terdiri dari 458
anggota yang dipilih, 10 orang diantaranya ditunjuk oleh Presiden. Kira-kira 50% anggota
DPR Mesir yang dipilih berasal dari rakyat tani dan buruh. Mesir juga mempunyai Dewan
Konsultatif dan sebuah badan yang dikenal dengan “Dewan Khusus Nasional” yang
berfungsi membantu Presiden. Mesir dibagi dalam 26 “governorat (kegubernuran)” yang
masing-masingnya dikepalai oleh seorang gubernur yang diangkat oleh Presiden. Menurut
UU No. 43 tahun 1979, governorat mempunyai fungsi administrasi yang penting dalam
pendidikan, kesehatan, perumahan, pertanian, irigasi, transportasi dan lain-lain. Kementerian
pendidikan di pusat bertanggung jawab atas kebijakan-kebijakan dan perencanaan secara
keseluruhan dan kelanjutannya, sedangkan governorat bertanggung jawab atas
3
pengimplementasian dan pengadministrasian.  

2. Kondisi Demografi dan Potensi Income Negara


Republik Arab Mesir luasnya kurang lebih satu juta kilometer persegi dan terletak di
bagian timur laut benua Afrika dan Semenanjung Sinai di barat daya benua Asia. Mesir
berbatasan dengan Laut Mediterania di utara, Laut merah Merah, Terusan Suez, dan Teluk
Aqaba di sebelah timur. Daerah Semenanjung Sinai dipisahkan dari daerah Mesir Lainnya
oleh Terusan Suez. Di barat, Mesir berbatasan dengan Negara Libia, dan Sudan di selatan.
Mesir berpenduduk 67.273.906 jiwa pada tahun 1997 dengan komposisi 36% berusia di
bawah 15 tahun, dan 37% di atas 65 tahun. Dan di perkirakan mencapai 70 juta jiwa pada
tahun 2000 ini, sehingga menjadi salah satu Negara di dunia yang pertumbuhan penduduknya
paling tinggi. Secara etnis, Mesir terdiri dari suku Ejipsi, Badui, dan Barbar.
Topografi daerah Mesir berbentuk padang pasir di bagian barat dan timur serta lembah
sungai Nil dengan deltanya. Padang pasir barat yang mencakup 68% daratan Mesir
merupakan daerah tanah tandus kering, yang ditutupi oleh dataran pasir yang sangat luas,
bukit-bukit pasir yang berpindah-pindah karena angin, dan lembah-lembah dalam yang luas.
Sebagian lembah-lembah itu seperti lembah Qattara, siwa, dan Faium di bawah permukaan
laut.4
Mesir merupakan Negara terbesar di wilayah Afrika Utara, tepatnya diantara 22˚LU -
32˚LU dan 25˚BT - 36˚BT. Luas negara ini mencapai 997.739 km² dengan jumlah penduduk
sekitar 76.117.430 jiwa. Adanya penduduk asli yang tinggal secara nomaden di daerah gurun
menyebabkan Mesir mengalami ketimpangan dalam hal penyebaran penduduk dan

3
Prof. Drs. H. Agustiar Syah Nur, MA, Perbandingan Sistem Pendidikan 15 Negara, (Bandung: Tim Lubuk Agung,
2001) hlm. 225-227 

4
Prof. Drs. H. Agustiar Syah Nur, MA, Perbandingan Sistem Pendidikan 15 Negara hlm. 225
pendapatannnya. Meskipun memiliki banyak devisa, namun pendapatan perkapita
penduduknya hanya mencapai 1.350 US dollar. Pendapatan tersebut didukung oleh beberapa
kegiatan perekonomian diantaranya sebagi berikut: 
a. Pertanian
Sektor pertanian menyumbangkan 17% perekonomian negara Mesir. Meskipun didominasi
oleh wilayah gurun, namun Mesir mendapatkan berkah dari adanya aliran sungai Nil yang
menyuburkan kawasan lembah dan deltanya. Mesir terkenal sebagai penghasil kapas,
gandum, kurma, zaitun, dan serat papyrus (bahan baku kertas). Seiring dengan dibangunnya
bendungan Aswan, maka pertanian Mesir semakin maju. Saat ini produk pertaniannya
semakin berkembang dengan menghasilkan berbagai jenis buah-buahan, sayuran, padi, dan
rumput-rumputan untuk makan ternak.
b. Peternakan dan Perikanan
Selain sebagai petani, masyarakat Mesir juga banyak yang hidup beternak secara nomaden.
Jenis hewan ternak yang dikembangkan secara tradisional adalah domba, biri-biri, dan unta.
Adapun perikanan dibedakan atas perikanan laut dan perikanan darat. Perikanan laut banyak
diusahakan di perairan Laut Merah dan perairan Laut Tengah, sedangkan perairan darat
banyakdiusahakan di sungai Nil dan di kawasan bendungannya.
c. Pertambangan
Hasil tambang utama Mesir adalah minyak bumi dan gas alam yang terdapat di pantai dan
perairan laut Merah serta di kawasan gurun Libya dan semenannjung sinai. Selain hasil
tambang utama tersebut, dikembangkan juga pertambangan fosfat, bijih besi, dan garam5.

3. Filsafat Pendidikan yang Dijadikan Dasar Pengembangan Pendidikan


Secara historis, modernisasi pendidikan di Mesir berawal dari pengenalan kemajuan
ilmu pengetahuan dan teknologi Napoleon Bonaparte pada saat penaklukan Mesir. Kemajuan
ilmu pengetahuan dan teknologi yang dicapai Napoleon Bonaparte yang berkebangsaan
Perancis ini, memberikan inspirasi yang kuat bagi para pembaharu Mesir untuk melakukan
modernisasi pendidikan di Mesir yang dianggapnya stagnan. Di antara tokoh-tokoh tersebut
Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, dan Muhammad Ali Pasha. Dua yang terakhir,
secara historis, kiprahnya paling menonjol jika dibandingkan dengan tokoh-tokoh yang lain.
Berawal dari datangnya Napoleon Bonaparte di Alexandria, Mesir pada tanggal 2 Juli
1798 M. Tujuan utamanya adalah menguasai daerah Timur, terutama India. Napolen
Bonaparte menjadikan Mesir, hanya sebagai batu loncatan saja untuk menguasai India, yang

5
http://madchan-islamiclibrary.blogspot.com/2011/11/sejarah-perkembangan-filsafat.html
pada waktu itu dibawah pengaruh kekuasaan kolonial Inggris. Kedatangan Napolen ke
Negara Mesir tidak hanya dengan pasukan perang, tetapi juga dengan membawa seratus
enam puluh orang diantaranaya pakar ilmu pengetahuan, dua set percetakan dengan huruf
latin, Arab, Yunani, peralatan eksperimen, diantaranya membawa teleskop, mikroskop,
kamera, dan lain sebagainya, serta seribu orang sipil. Tidak hanya itu, ia pun mendirikan
lembaga riset bernama Institut d’Egypte, yang terdiri dari empat departemen, yaitu: ilmu
alam, ilmu pasti, ekonomi dan polititik, serta ilmu sastera dan kesenian. Lembaga ini bertugas
memberikan masukan bagi Napoleon dalam memerintah Mesir. Lembaga ini terbuka untuk
umum terutama ilmuwan (ulama’) Islam. Ini adalah moment kali pertama ilmuwan Islam
kontak langsung dengan peradaban Eropa, termasuk Abd al-Rahman al-Jabarti. Baginya
perpustakaan yang dibangun oleh Napoleon sangat menakjubkan karena Islam diungkapkan
dalam berbagai bahasa dunia.
Perjalanan Napoleon ke Mesir membawa sebuah harapan dan perubahan yang bagus
bagi sejarah perkembangan bangsa Mesir, terutama yang menyangkut pembaharuan dan
modernisasi pendidikan di sana. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi Perancis banyak
memberikan inspirasi bagi tokoh-tokoh Mesir untuk melakukan perubahan baik secara sistem
dan kurikulum pendidikan yang sebelunya dilakukan secara konvesional. Diantara tokoh
yang mendapatkan inspirasi tersebut adalah Muhammad Ali Pasa dan Muhammad Abduh.
Dua tokoh ini, kiprahnya paling menonjol jika dibandingkan dengan tokoh-tokoh yang
lainnya.6

4. Kebijakan Strategis di Bidang Pendidikan


Kebijakan pendidikan di Mesir memiliki kemiripan dengan pendidikan di Indonesia,
khususnya dalam menyiapkan lulusan pendidikan yang memiliki daya kompetitif global.
i. Sebagai negara yang padat penduduk dan memiliki banyak lembaga pendidikan guru, dan
siswa, Mesir telah mengembangkan suatu sistem pelatihan guru melalui pelatihan jarak
jauh (distance learning/training) dengan menggunakan keunggulan teknologi informasi.
Model ini juga penting untuk dikembangkan di Indonesia agar pelayanan pendidikan dan
pelatihan kepada guru dapat dilakukan lebih cepat dan efesien.
ii. Sistem penjenjangan karier guru secara fungsional yang diselenggarakan di Mesir
tampaknya lebih bergradasi dan dapat menciptakan profesionalisme pendidik. Sistem
yang diatur mulai dari status guru sebagai assistant teacher, teacher, senior teacher,
sampai master teacher. Jenjang status guru seperti itu dapat berpengaruh positif terhadap
jenjang karier guru dan pembinaan profesi guru yang lebih terstruktur.

6
http://id.wikipedia.org/wiki/Mesir
iii. Sebagai negara yang berpenduduk mayoritas Muslim dan tradisi agama yang kuat, Mesir
memiliki sistem pembelajaran agama Islam pendidikan Islam yang sangat kuat. Standar
untuk pendidikan Islam pun dilakukan dengan standar yang lebih menjamin lulusan
pendidikan keagamaan agar memiliki pengetahuan dan pemahaman agama yang kuat.
Karena itu, dalam pengembangan kurikulum dan evaluasi pendidikan agama, pendidikan
Islam di Mesir sering menjadi rujukan negara-negera Islam lainnya. Sebagai misal, sistem
pendidikan al-Azhar Cairo terbuka untuk menerima calon mahasiswa dari berbagai
lulusan sekolah menegah namun mereka harus lulus seleksi, memiliki ijazah yang diakui
setara, dan harus mengikuti matrikulasi bagi mereka yang dianggap belum cukup dapat
melanjutkan kuliah. Sistem ini sebenarnya belum dimiliki di Indonesia, karena akses
pendidikan untuk masuk di PTAI masih longgar dan standar kelulusan calon mahasiswa
variatif.7

5. Kebijakan negara terhadap pendidikan agama Islam


Agama Islam adalah agama negara di Mesir, dan bahasa Arab bahasa resmi Negara. Cita-cita
demokrasi terus dikembangkan dengan berbagai cara untuk menentang feodalisme,
monopoli, dan eksploitasi. Pendidikan wajib selama 5 tahun pada pendidikan dasar, dan dapat
ditambah ke tingkat pendidikan yang tinggi. Pendidikan adalah gratis pada sekolah-sekolah
negeri. Negara mengawasi seluruh kegiatan pendidikan dan menjamin otonomi universitas
dan pusat-pusat penelitian dengan cacatan bahwa semua kegiatan itu diarahkan pada usaha-
usaha keperluan masyarakat dan pada peningkatan produktivitas. Penghapusan buta huruf
(iliterasi) merupakan tugas nasioanal, dan Islam adalah pelajaran dasar dalam kurikulum.8

6. Pengembangan Kurikulum dan Pengembangan Tenaga Kependidikan


a. Pengembangan Kurikulum Dan Evaluasi Pendidikan.
Kementrian pendidikan Mesir telah mengembangkan suatu system pelatihan untuk
guru-guru pada semua jenjang pendidikan muali dari guru tamn kanak-kanak sampai
dengan guru sekolah menengah. Sistem yang dikembangkan berupa training jarak jauh
(distance training) melalui video coverensce yang sekali tayang dapat melibatkan lebih
dari 9000 guru diberbagai daerah yang sudah dibangun fasilitas training secara interaktif.
Training model ini diselenggarakan oleh pusat pengembangan teknologi untuk training
guru atau yang disebut tecnoloigy development centre (TDC) dengan melibatkan

7
http://kependidikanislamuinbandung.blogspot.com/2011/04/sistem-pendidikan-di-negara-mesir.html
8
Prof. Drs. H. Agustiar Syah Nur, MA, Perbandingan Sistem Pendidikan 15 Negara, (Bandung: Tim Lubuk Agung,
2001) hlm. 227
sejumlah nara sumber dari berbagai perguruan tinggi, TDC sangat berperan dalam
menyediakan layanan training untuk guru yang melalui perangkat teknologi yang
diciptakan dan mempercepat akses pelatihan dan kuliah bagi guru didaerah terhadpa
sistem pelatihan yang lebih bermutu dan terkontrol.
Kurikulum pendidikan dikembangkan dengan menggunakan standar pendidikan
nasional berdasasrkan kebutuhan pengembangan pendidikan di Mesir. Standar nasional
ini berlaku untuk semua jenjang dan jenis pendidikan. Namun demikian pada tingkat
implementasi kurikulum, kementrian pendidikan mesir lebih bertanggung jawab untuk
pengembangan pendidikan ditingkat secondary education dan tanggungjawab juga
sampai pada penyelenggaraan ujian nasional. Sementara itu untuk pengembangan dan
implementasi pendidikan pada jenjang pendidikan Pre-School dan Elementary Educatin
menjadi tanggungjawab tingakt distrik, dasn pada tingkat Preparatory Education pada
tigkat states atau tingkat propinsi.
Untuk pegembangan evaluasi pendidikan NCEEE (National Center For
Examinition and Education Evalution) atau pusat pengembangan Kurikulum dan
Evaluasi Pendidikan yang terletak di al-madina al-munawara sreet, Cairo juga memiliki
peranan penting. Lembaga ini merupakan lembaga inependen yang diberi kewenangan
yang bersifat otonomi oleh kementrian Pendidikan Mesir yang didirikan untuk
menyelenggarakan kebutuhan kajian saintifik untuk kebutuhan pengujian data, evaluasi
pendidikan agar kurikulum yang telah ditetapkan dapat dicapai sesuai dengan target,
membangun karakter siswa dan memproosikan kemampuan, kreativitas dan kecakapan
siswa dalam berbagai bidang budaya, ilmu dan teknologi. NCEEE dilengkapi dengan
fasilitas komunikasi informasi dengan internet yang konek ke semua departemen yang
dioperasikan dengan menggunakan satelit.
Pengembangan evaluasi dilakukan secara serempak pada siswa semua jenjang
pendidikan dan mata pelajaran yang menjadi fokus pengembangan mencakup semua
mata pelajaran. Sedangkan ntuk pengembangan kurikulum yang juga menjadi
tanggungjawab NCEEE, semua mata pelajaran sudah dikembangkan dalam bentuk buku
pelajaran, yang disebarkan kesetiap sekolahan. Untuk menunjang efektifiatas
penggunaan buku, NCEEE juga mengembangkan sejumlah CD interaktif yang dapat
digunakan pada proses pembelajaran siswa dan training guru.

b. Training Guru Inisiatif UNESCO Mesir


Sebagai lembaga internasional yang bergerak dalam bidang pendidikan, UNESCO Mesir
mengembangkan suatu sistem pelatihan guru untuk mendukung tercapainya sumber daya
manusia Mesir yang handal. Training ini diselenggarakan melalui kerjasama dengan
perusahan-perusahaan besar yang berperan dalam melakukan sertifikasi keahlian guru
selepas training.
i. Pengembangan sistem training guru yang terintegrasi dan terpadu yang dilakukan di
Mesir tampaknya dapat menjadi model yang dapat dikembangkan di Indonesia.
Keterpaduan yang menyangkut pemberian layanan training yang dikemas dalam
penyebaran informasi, penggunaan teknologi untuk training jarak jauh,
pengembangan muatan training, dan koordinasi antar instansi terkait telah
menyebabkan training guru yang dilakukan oleh Training Development Center
(TDC) maupun oleh UNESCO memiliki arah pengembangan kompetensi guru lebih
jelas dan biaya yang dibutuhkan lebih efesien.
ii. Pengembangan keterampilan dan pengetahuan guru yang dilakukan di Mesir lebih
mengarah pada pemenuhan standar kompetensi yang tidak hanya untuk memenuhi
standar nasional, tetapi juga untuk peningkatan kemampuan standar internasional.
Arah kebijakan ini memiliki nilai strategis dalam penyiapan SDM guru yang
mampu mengawal pendidikan yang berkualitas di masa mendatang. Peningkatan
kompetensi guru seperti ini sesungguhnya sangat relevan dengan kebijakan
pendidikan di Indonesia yang kini tengah dengan giat mewujudkan pendidikan yang
bermutu, yang tidak saja dapat memenuhi standar nasional pendidikan (SNP) tetapi
juga untuk meningkatkan kemampuan peserta didik dalam menguasai standar
internasional.

7. Sistem Penjenjangan Pendidikan yang Dikembangkan


Struktur dan Jenis Pendidikan
a. Sistem Sekolah Sekuler
Pendidikan wajib di Mesir berlaku sampai “grade” 8 dan ini dikenal sebagai
pendidikan dasar. Ada pendidikan Taman Kanak-kanak dan “play group” yang
mendahului pendidikan dasar, tetapi jumlahnya sangat kecil dan kebanyakan berada
dikota-kota. Pendidikan dasar ini dibagi menjadi dua jenjang. Jenjang pertama yang
dikenal dengan “Sekolah Dasar” mulai dari “Grade” 1 sampai “Grade” 5, dan jenjang
kedua, yang dikenal dengan “Sekolah Persiapan”, mulai dari “Grade” 6 sampai “Grade”
8. Sekolah persiapan ini baru menjadi pendidikan wajib dalam tahun 1984, sehingga
nama “Sekolah Persiapan” tidak tepat lagi.
Setelah mengikuti pendidikan dasar selama delapan tahun, murid-murid punya
empat pilihan; tidak bersekolah lagi, memasuki sekolah menengah umum, memasuki
sekolah tekhnik menengah tiga tahun, atau memasuki sekolah tekhnik lima tahun. Pada
sekolah menengah umum, tahun pertama (Grade 9) adalah kelas bersama. Pada Grade 10
murid harus memilih antara bidang sains dan non sains (IPA vs Non-IPA) untuk Grade 10
dan 11.
Pendidikan tinggi di universitas dan institusi spesialisasi lainnya mengikuti
pendidikan akademik umum. Pendidikan pada sebagian lembaga perguruan tinggi
berlangsung selama dua, empat atau lima tahun tergantung pada bidang dan program
yang dipilih. Semenjak tahun 1991, sebagian tamatan sekolah tekhnik dibolehkan
melanjutkan ke pendidikan tinggi.
Pertumbuhan penduduk yang begitu cepat di Republik Arab Mesir, berdampak
meningkatnya tuntutan atas pendidikan, dan seterusnya, meningkat pula jumlah murid.
Peningkatan jumlah murid ini sebagai pengaruh dari kenyataan bahwa semenjak Revolusi
tahun 1952, Mesir selalu berjuang memperluas pendidikan sebagai salah satu prasyarat
untuk pembangunan sosial dan ekonomi. Pada level pendidikan tinggi, struktur sekuler
mempunyai 220 fakultas dan institusi pendidikan tinggi lainnya dengan 16.000 staf
pengajar, dan 695,736 mahasiswa (628,820 pria dan 66,916 wanita).
b. Sistem Sekolah Al Azhar
Sitem sekolah Al Azhar hampir sama dengan sistem sekolah sekuler pada tingkat
pendidikan dasar. Perbedaannya ialah bahwa pendidikan agama islam lebih mendapat
tekanan. Tetapi, untuk mata pelajaran kurikulumnya seperti pada sekolah sistem sekuler.
Grade 10 dan 11 sama untuk semua murid. Pada akhir Grade 11, murid boleh memilih
apakah ingin masuk ke sekolah umum dua tahun lagi, atau masuk ke seekolah agama
selama dua tahun.
Pada level universitas, fakultas-fakultasnya sama dengan yang ada pada
pendidikan sekuler tetapi kurikulumnya lebih menekankan pada keagamaan. Selanjutnya,
seluruh pendidikan guru untuk pendidikan keagamaan hanya diselenggarakan dalam
lingkungan sistem Al Azhar.
Sekolah-sekolah Al Azhar lebih sedikit muridnya dibandingkan dengan jumlah
murid sekolah sistem sekuler. Dalam tahun 1988, presentase murid pada sekolah Al
Azhar hanya 3,6% dari seluruh murid dalam sistem sekuler. Pada tingkat pendidikan
tinggi, jumlah mahasiswa pada jalur Al Azhar adalah 14,3% dari jumlah mahasiswa pada
kedua jalur pada tahun 1988. Jumlah yang kecil pada sekolah-sekolah Al Azhar ini, yaitu
14,3% kelihatannya tinggi, tetapi ada catatan mengenai ini. Lebih besar jumlah tamatan
dari jalur Al Azhar yang masuk ke pendidikan tinggi dibandingkan dengan tamatan
sekolah sistem sekuler. Perlu dicatat bahwa tidak ada pendidikan tekhnik pada sitem Al
Azhar
c. Pendidikan Vokasional dan Tekhnik
Upaya untuk memperluas pendidikan kejuruan (vokasional) dan pendidikan
tekhnik dimulai tahun 1950-an. Jumlah sekolah vokasional dan tekhnik meningkat dari
134 (dengan 31.800 siswa) dalam tahun 1952 menjadi 460 buah (dengan siswa 115.600)
dalam tahun 19600. Abtara 1970 dan 1988 jumlah siswa pada kedua jenis sekolah ini naik
dari 275.300 orang menjadi 978.800. ini beearti kenaikan 19% dan 40,8% pada kedua
periode tersebut.
Dalam tahun 1988, Mesir memiliki 563 buah sekolah vokasional dan tekhnik yang
berarti 48,7% dari seluruh sekolah menengah yang ada. Jumlah murid pada sekolah-
sekolah ini melampaui jumlah murid sekolah menengah umum. Pada sekolah vokasional
dan tekhnik pada tahun 1988 jumlah murid adalah 759.700 orang. Sedangkan jumlah
murid sekolah menengah umum 564.668 orang. Jumlah murid wanita yang terdaftar pada
sekolah vokasional dan tekhnik meningkat cukup tinggi pada tahun 1970.
Pada tingkat pendidikan tingkat tinggi, dalam tahun 1988. Terdapat 34 institut
tekhnik dengan jumlah mahasiswa 59.400 berdasarkan catatan The National Center for
Education Research. Ini sama dengan 7,5% dari total mahasiswa tinggi. Jumlah guru
sekolah menengahvokasional dan tekhnik naik dari 13.700 orang (14% wanita) tahun
1970 menjadi 42.800 orang (26% wanita) tahun 1987 yang berarti 23,6% dan 28,7% dari
total guru-guru sekolah menengah. Walaupun jumlah siswa pada sekolah vokasional dan
tekhnik naik cukup besar, namun rasio murid-guru bertambah kecil dari 20:1 menjadi 8:1
pada periode 1970-1988. Pada level pendidikan tinggi, staf pengajar pada institut tekhnik
berjumlah 690 orang dalam tahun 1988, yaitu 4,3% dari seluruh staf pengajar pendidikan
tinggi9.

d. Kurikulum dan Metode Pengajaran


Di Mesir, kurikulum adalah hasil pekerjaan tim. Tim kurikulum ini terdiri dari
konsultan, supervisior, para ahli, para profesor pendidikan, dan huru-guru yang
berpengalaman. Biasanya ada sebuah panitia untuk setiap mata pelajaran atau kelompok
pelajaran, dan ketua-ketua panitia diundang rapat sehingga segala keputusan dapat
dikoordinasikan. Kurikulum yang sudah dihasilkan oleh panitia diserahkan kepada
Dewan Pendidikan Prauniversitas yang secara resmi mengesahkannya untuk
diimplementasikan. Berdasrkan peraturan, kurikulum dapat diubah dan di sesuaikan untk
mengakomodasikan kondisi setempatatau hal-hal khusus.
Pusat Penelitian Pendidikan Nasional bertanggung jawab mengumpulkan
informasi mengenai materi pengajaan berdasrkan kurikulum dan mengenai
implementasinya dilapangan. Hasil penelitian itu disalurkan ke dewan kesekretariatan,
9
Prof. Drs. H. Agustiar Syah Nur, MA, Perbandingan Sistem Pendidikan 15 Negara hlm. 229-232
dan apabila diperlukan perubahan, sebuah panitia di bentuk dan diserahi tugas untuk
mempelajarinya dan merumuskan perubahan-perubahan itu. Ada berbagai cara untuk
terjaminnya relevansi dan diseminasi program baru. Sejumlah besar`supervisior,
konsultan dari semua level bertemu secara reguler dengan guru-guru guna memberikan
bimbingan dan untuk mengumpulkan informasi. Ada berbagai pusat latihan, sekolah
percobaan, dan sekolah percontohan, yang bertujuan untuk pembaharuan kurikulum serta
perbaikan metode mengajar. Garis besar kurikulum ditentukan sebuah tim kecil mirip
dengan tim yang diterangkan di atas dibentuk untuk menulis buku teks. Buku teks
menurut kurikulum tidak persis sama dengan kurikulum yang dilaksanakan.
Perbedaannya disebabkan oleh berbagai faktor seperti kondisi kelas, kurangnya alat
peraga dan perlengkapan lainnya, dan kualitas guru. Bertentangan dengan apa yang
digariskan dalam kurikulum, kebanyakan pengajaran masih berorientasi variabel.
Pada level pendidikan tinggi lebih banyak kebebasan dalam menyusun kurikulum
dan dalam pemakaian buku teks. Faktor-faktor seperti kelas yang selalu menjadi
bertambah besar, dan kurangnya peralatan fasilitas lainnya cenderung menurukan standar
yang dicapai oleh mahasiswa. Mengandalkan buku dan kuliah kelihatannya semakin
dominan di perguruan tinggi.

8. Perbedaan antara lembaga pendidikan milik swasta dan negeri


a. Sistem Pendidikan Formal
Sistem pendidikan Mesir mempunyai dua struktur parallel: struktur sekuler dan
struktur keagamaan Al Azhar. Struktur sekuler diatur oleh Kementrian Urusan Al Azhar.
Ini sering juga disebut Kementrian Agama di negara-negara lain. Selain dari kedua
struktur ini, ada pula jenis sekolah yang diikuti oleh sejumlah kecil anak. Misalnya, anak-
anak cacat masuk ke sekolah-sekolah khusus; bagi yang ingin menjadi militer masuk ke
sekolah militer, dan ada pula generasi muda yang meningkatkan sekolahnya dan
mendafar pada program-program nonformal yang diselenggarakan oleh berbagai badan
atau lembaga.
b. Pendidikan Nonformal
Pendidikan nonformal didefinisikan sebagai serangkaian kegiatan pendidikan
terencana di luar sistem pendidikan formal. Pendidikan ini dimaksudkan untuk melayani
kebutuhan pendidikan bagi kelompok-kelompok orang tertentu, apakha itu anak-anak,
generasi muda, atau orang dewasa; apakah mereka laki-laki atau perempuan, petani,
pedegang, atau pengrajin; apakah mereka dari keluarga orang kaya atau keluarga miskin.
Di Mesir, pendidikan nonformal trutama dikaitkan dengan penghapusan iliterasi. Dengan
demikian, kebanyakan program lebih dikonsentrasikan pada pendidikan nonformal dalam
aspek itu. Berdasarkan hasil sensus tahun 1960 Mesir, 70% penduduk di ata usia 10 tahun
adalah buta huruf. Dalam tahun 1976, Mesir mencatat 13.3 juta orang dewasa (di atas 15)
yang buta huruf atau 61,8% dari total penduduk dewasa. Pada tahun 1986 jumlah itu
malah meningkat menjadi 17,2 juta orang tapi presentasinya menurun menjadi 49,4%,
Tingkat iliterasi wanita lebih tinggi dari tingkat iliterasi pria. Dalam tahun 1976, 77,6%
wanita dewasa Mesir tidak dapat menulis dan membaca, sedangkan pria dewasa hanya
46,4% tahun 1986. Presentase itu menurun menjadi 61,8 wanita, dan 37,8% pria.
Semenjak tahun 1967, Kementrian Perburuhan menyelenggarakan program-
program untuk mendidik orang-orang yang telah menamatkan pendidikan tingkat dasar,
dan orang-orang yang putus sekolah formal yang berusia di antara 12 dan 18 tahun.
Mereka dilatih dalam ketrampilan vokasional yang cocok untuk lingkungan dan
kemampuannya. Pendidikan ini biasanya diselenggarakan selama sembilan bulan, tujuh
bulan dipusat-pusat latihan vokasional, dan dua bulan di tempat-tempat unit produksi.
Para peserta latihan kemudian ditempatkan bekerja pada sektor pemerintah atau sektor
swasta.
Dalam tahun 1984, Kementrian Perburuhan melalui program-program pelatihan
jangka pendek dalam bidang vokasional untuk mempersiapkan pekerja-pekerja yang
ketrampilannya sangat kurang, dengan tujuan memenuhi kebutuhan pasar kerja dalam
bidang-bidang tertentu. Juga dilakukan platihan bagi buruh-buruh yang pekerjaanyya
tidak ada lagi atau diperkirakan akan habis. Pelatihan ini berlangsung selama empat
bulan. Peserta pelatihan, yang berusia antara 18 dan 45 tahun, diberi ilmu pengetahuan
dan ketrampilanyang diperkirakan cukup sebagai langkah pertama. Latihan praktek
dilakukan di pabrik-pabrik milik pemerintah dan swasta, sedangkan pelajaran teori
diberikan pada sekolah-sekolah perindustrian.
Di bawah pengawasan Kementrian Perindustrian, ada 33 buah pusat pelatihan di
berbagai governoart. Pusat-pusat pelatihan ini menyelenggarakan program-program kilat
bagi pekerja yang masih smishkilled melalui pemagangan di industri-industri, dan juga
meningkatkan ketrampilan para teknisi. Program bagi orang yang smiskilled ini diikuti
peserta yang berusia sekitar 17 tahun dengan lama program enam bulan. Program
pemagangan dapat pula diikuti oleh murid-murid yang telah tamat pendiddikan dasar,
atau mereka yang tdak akan melanjutkan pendidikan ke sekolah tekhnik. Program
pemagangan ini berlangsung selam tiga tahum. Untuk meningkatkan ketrampilan
karyawan, perusahaan memilih karyawan yang telah punya penglaman kerja minimal
lima tahun untuk mengikuti pelatihan tekhnis malam hari selama tiga bulan.10

10
Prof. Drs. H. Agustiar Syah Nur, MA, Perbandingan Sistem Pendidikan 15 Negara. Hlm 232-236
C. KESIMPULAN
Mesir dibagi dalam 26 “governorat (kegubernuran)” yang masing-masingnya dikepalai oleh
seorang gubernur yang diangkat oleh Presiden. Menurut UU No. 43 tahun 1979, governorat
mempunyai fungsi administrasi yang penting dalam pendidikan, kesehatan, perumahan,
pertanian, irigasi, transportasi dan lain-lain. Pendapatan yang ada di Mesir didukung oleh
beberapa kegiatan perekonomian diantaranya: Pertanian, Peternakan dan Perikanan,
Pertambangan.
Secara historis, modernisasi pendidikan di Mesir berawal dari pengenalan kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi Napoleon Bonaparte pada saat penaklukan Mesir. Mesir memiliki
sistem pembelajaran agama Islam pendidikan Islam yang sangat kuat. Standar untuk pendidikan
Islam pun dilakukan dengan standar yang lebih menjamin lulusan pendidikan keagamaan agar
memiliki pengetahuan dan pemahaman agama yang kuat. Negara mengawasi seluruh kegiatan
pendidikan dan menjamin otonomi universitas dan pusat-pusat penelitian dengan cacatan bahwa
semua kegiatan itu diarahkan pada usaha-usaha keperluan masyarakat dan pada peningkatan
produktivitas.
Kurikulum pendidikan dikembangkan dengan menggunakan standar pendidikan nasional
berdasasrkan kebutuhan pengembangan pendidikan di Mesir. Standar nasional ini berlaku untuk
semua jenjang dan jenis pendidikan. Sistem Penjenjangan Pendidikan yang Dikembangkan:
1. Sekolah Dasar (Ibtida’i).
2. Sekolah Menengah Pertama (I’dadi).
3. Sekolah Menengah Atas (Tsanawiyah ‘Ammah).
4. Pendidikan Tinggi:
Daftar Pustaka

Ashegaf, Abdul Rahman. Internasionalisasi Pendidikan (Sketsa Perbandingan Pendidikan di


Negara-negara Islam dan Barat) Hlm.61-62

http://madchan-islamiclibrary.blogspot.com/2011/11/sejarah-perkembangan-filsafat.html

Syah Nur, Agustiar, Perbandingan Sistem Pendidikan 15 Negara, (Bandung: Tim Lubuk Agung,
2001) hlm. 225-227 

http://id.wikipedia.org/wiki/Mesir

http://kependidikanislamuinbandung.blogspot.com/2011/04/sistem-pendidikan-di-negara-mesir.html
You are using a limited version of plagiarism checker.
Please Register to continue your free trial!
Results Query Domains (cached links)

SISTEM PENDIDIKAN DI MESIR


Unique
DEDE RIKI NIM

Di samping mempunyai segudang


peradaban, negeri seribu menara imamturyuti.blogspot.comimamturyuti.blogspot.co
Found m
ini juga merupakan gudang segala
ilmu

Negara ini seakan memiliki magnet


Unique
tersendiri

SISTEM PENDIDIKAN DI MESIR DEDE RIKI NIM: 2013920023 ABSTRAKSI Mesir yang terkenal
dengan sebutan ardhul anbiyâ (negeri para nabi), memang telah menjadi kiblat keilmuan
keislaman dunia. Di samping mempunyai segudang peradaban, negeri seribu menara ini juga
merupakan gudang segala ilmu. Negara ini seakan memiliki magnet tersendiri. Terbukti, Mesir
telah memikat jutaan hati para pelajar dari berbagai penjuru dunia untuk menimba ilmu di
sana. Tentunya, semua ini tak lepas dari peran al-Azhar: pusat pendidikan tertua yang telah
melahirkan banyak ulama dunia. Di sini, pemakalah akan memaparkan sedikit tentang potret
pendidikan Mesir. Keberhasilan pendidikan memiliki hubungan erat dengan kemajuan sebuah
negara. Sumber Daya Manusia (SDM) yang bermutu, tentunya akan memberikan kontribusi
bagi perkembangan sebuah negara, bahkan dunia. Dari sini, setidaknya kita perlu memberikan
perhatian yang lebih pada pendidikan. Kata Kunci: Sistem Pendidikan, Mesir A. PENDAHULUAN
Republik Arab Mesir, lebih dikenal sebagai Mesir, (bahasa Arab: ‫مصر‬, Maṣr) adalah sebuah
negara yang sebagian besar wilayahnya terletak di Afrika bagian timur laut. Dengan luas
wilayah sekitar 997.739 km² Mesir mencakup Semenanjung Sinai (dianggap sebagai bagian
dari Asia Barat Daya), sedangkan sebagian besar wilayahnya terletak di Afrika Utara. Mesir
berbatasan dengan Libya di sebelah barat, Sudan di selatan, jalur Gaza dan Israel di utara-
timur. Perbatasannya dengan perairan ialah melalui Laut Tengah di utara dan Laut Merah di
timur.Mayoritas penduduk Mesir menetap di pinggir Sungai Nil (sekitar 40.000 km²). Mesir
terkenal dengan peradaban kuno dan beberapa monumen kuno termegah di dunia, misalnya
Piramid Giza, Kuil Karnak dan Lembah Raja serta Kuil Ramses. Mesir diakui secara luas sebagai
pusat budaya dan politikal utama di wilayah Arab dan Timur Tengah. Secara historis,
modernisasi pendidikan di Mesir berawal dari pengenalan kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi Napoleon Bonaparte pada saat penaklukan

Total 31657 chars (2000 limit exeeded) , 286 words, 2 unique sentences, 85%
originality