Anda di halaman 1dari 46

TEKNOLOGI SEDIAAN SOLID PEMBUATAN TABLET CTM

DENGAN METODE GRANUL BASAH

Disusun oleh:
1. Ahmad Irwan PO.71.39.1.19.081 RPL
2. Daisy Nuryati PO.71.39.1.19.086 RPL
3. Karmilah PO.71.39.1.19.103 RPL
4. Karnezi PO.71.39.1.19.104 RPL
5. Karyana PO.71.39.1.19.105 RPL
6. Rohilah PO.71.39.1.19.122 RPL
7. Yulia PO.71.39.1.19.131 RPL

Kelas : RPL

Dosen Pembimbing :
Dra. Ratnaningsih Dewi Astuti,Apt. M.Kes

Nilai Paraf

JURUSAN FARMASI
POLTEKKES KEMENKES PALEMBANG
TAHUN AKADEMIK 2019/2020
PEMBUATAN TABLET CTM DENGAN METODE
GRANULASI BASAH

I. TUJUAN
Membuat sediaan CTM dalam bentuk tablet dengan metode granulasi basah.
II. PRINSIP
1. Metode Granulasi Basah
2. Evaluasi tablet berdasarkan standar quality control (QC)
 Kekerasan tablet
 Waktu hancur
 Keseragaman bobot dan bentuk
 Keseragaman ukuran
 Friabilitas
 Sifat aliran
 Kadar air
III. TEORI
A. Teori Tablet
1. Pengertian
Tablet adalah sediaan padat mengandung bahan obat dengan atau tanpa bahan
pengisi. Berdasarkan metode pembuatan dapat digolongkan sebagai tablet cetak
dan tablet kempa. (FI IV, Hal 4).
2. Bentuk dan Penggolongan
1) Tablet Oral untuk Dimakan
 Tablet Kempa atau Tablet Kempa Standar
Kebanyakan tablet jenis ini mengandung obat yang diharapkan berefek lokal
dalam saluran cerna. Obat itu merupakan bentuk obat yang tidak larut dalam air
dan obat yang termasuk dalam kategori terapi seperti itu adalah antasida.
 Tablet Kempa Ganda
Ada dua kelompok tablet yang dikempa beberapa kali yaitu tablet berlapis dan
tablet yang disalut dengan pengempaan. Dalam pembuatannya memerlukan lebih
dari satu kali tekanan, dan hasilnya menjadi tablet dengan beberapa lapisan atau
tablet di dalam tablet. Tablet dalam kategori ini biasanya dibuat untuk salah satu
dari kedua alasan, yaitu untuk memisahkan secara fisika atau kimia bahan-bahan
yang tidak dapat bercampur, atau untuk menghasilkan produk dengan kerja ulang
atau produk dengan kerja yang diperpanjang.
 Tablet Aksi Diperlama dan Tablet Salut Enterik
Bentuk sediaan tablet aksi diperlama dimaksudkan untuk melepas obat sesudah
penundaan beberapa lama, atau setelah tablet melalui satu bagian saluran cerna ke
bagian lainnya. Tablet salut enterik merupakan contoh produk tablet aksi
diperlama yang paling umum. Tablet salut enterik merupakan tablet yang disalut
dengan lapisan yang tidak melarut atau hancur dilambung tapi di usus. Penyalutan
enterik digunakan untuk sejumlah terapi, keamanan, dan alasan medis.
 Tablet Salut Gula dan Tablet Salut Cokelat
Peranan utama kedua tablet salut ini untuk mendapatkan bentuk obat yang
menarik, mengkilap, serta mudah untuk menelannya. Selain itu lapisan ini larut
dalam air dan cepat terurai begitu ditelan dan dapat melindungi obat dari udara
dan kelembapan, memberi rasa atau untuk menghindarkan gangguan dalam
pemakaiannya akibat rasa atau bahan obat, dan juga dapat memisahkan bahan-
bahan yang tidak bercampur diantara penyalut dan inti tablet, kenyataan ini sudah
dipergunakan secara luas dalam membuat multivitamin dan multivitamin yang
dikombinasi dengan mineral.
 Tablet Kunyah
Tablet kunyah dimaksudkan untuk dikunyah di mulut sebelum ditelan dan bukan
untuk ditelan utuh. Tujuan dari tablet kunyah adalah untuk memberikan suatu
bentuk pengobatan yang dapat diberikan dengan mudah kepada anak-anak atau
orang tua, yang mungkin sukar menelan obat utuh. Biasanya digunakan dalam
sediaan dari tablet multivitamin, tablet kunyah aspirin, dan antasida.
2) Tablet yang Digunakan dalam Rongga Mulut
 Tablet Buccal dan Sublingual
Kedua jenis tablet ini dimaksudkan untuk diletakkan di dalam mulut, agar dapat
melepaskan obatnya sehingga diserap langsung oleh selaput lendir mulut. Kedua
jenis tablet ini biasanya kecil dan rata, diletakkan di antara pipi dalam dengan gigi
(tablet buccal), atau dibawah lidah (tablet sublingual). Obat-obat yang diberikan
dengan cara ini dimaksudkan agar memberikan efek sistemik, dan karena itu harus
dapat diserap dengan baik oleh selaput lendir mulut. Tablet ini dirancang larut
secara lambat, biasanya dalam jangka waktu 15-30 menit, agar penyerapan
berlangsung dengan baik.

 Troches dan Lozenges (Tablet Isap)


Penggunaan kedua jenis tablet ini dimaksudkan untuk memberi efek lokal pada
mulut atau kerongkongan. Bentuk tablet ini umumnya digunakan untuk mengobati
sakit tenggorokan atau untuk mengurangi batuk pada influenza. Troches dan
lozenges biasanya dibuat dengan menggabungkan obat dalam suatu bahan dasar
kembang gula yang keras dan beraroma yang menarik.
 Dental Cones
Dental cones merupakan suatu bentuk tablet yang cukup kecil, dirancang untuk
ditempatkan di dalam akar gigi yang kosong setelah pencabutan gigi. Tujuannya
biasanya untuk mencegah berkembangbiaknya bakteri di tempat yang kosong tadi
dengan menggunakan suatu senyawa antibakteri yang dilepaskan secara perlahan-
lahan, atau untuk mengurangi perdarahan dengan melepaskan suatu astringen atau
koagulan.
3) Tablet yang Diberikan dengan Cara Lain
 Tablet Implantasi (Tablet Depo)
Tablet ini dimaksudkan untuk ditanam di bawah kulit manusia atau hewan.
Tujuannya adalah untuk mendapatkan efek obat dalam jangka waktu yang lama,
berkisar dari satu bulan sampai satu tahun. Biasanya dibuat sedemikian rupa,
sehingga obat yang terkandung dilepaskan dengan kecepatan yang konstan.
 Tablet Vaginal
Tablet ini dimaksudkan agar dapat larut secara perlahan-lahan, dan melepaskan
obat yang terkandung di dalamnya ke rongga vagina.
4) Tablet yang Digunakan untuk Membuat Larutan
 Tablet Effervescent
Tablet effervescent dimaksudkan untuk menghasilkan larutan secara cepat dengan
menghasilkan CO2 secara serentak. Keuntungan tablet effervescent sebagai bentuk
obat adalah kemungkinan penyiapan larutan dalam waktu seketika, yang
mengandung dosis obat yang tepat. Kerugiannya ialah kesukaran untuk
menghasilkan produk yang stabil secara kimia.
 Tablet Dispensing
Tablet ini dimaksudkan untuk ditambahkan ke dalam air dengan volume tertentu,
oleh ahli farmasi atau konsumen, untuk mendapatkan suatu larutan obat dengan
konsentrasi tertentu.

 Tablet Hipodermik
Tablet hipodermik terdiri dari satu obat atau lebih, dengan bahan-bahan lain yang
dapat segera larut dalam air, dan dimaksudkan untuk ditambahkan ke dalam air
yang steril atau air untuk injeksi.
5) Tablet Triturasi
Tablet ini bentuknya kecil dan biasanya silinder, dibuat dengan cetakan atau
dibuat dengan kompresi, dan biasanya mengandung sejumlah kecil obat keras.
Tablet triturat ini digunakan untuk memberikan jumlah terukur yang tepat untuk
peracikan obat.      
3. Kriteria Tablet
Suatu tablet harus memenuhi kriteria sebagai berikut :
1) Harus mengandung zat aktif dan non aktif yang memenuhi
persyaratan.
2) Harus mengandung zat aktif yang homogen dan stabil.
3) Keadaan fisik harus cukup kuat terhadap gangguan fisik/mekanik.
4) Keseragaman bobot dan penampilan harus memenuhi persyaratan.
5) Waktu hancur dan laju disolusi harus memenuhi persyaratan.
6) Harus stabil terhadap udara dan suhu lingkungan.
7) Bebas dari kerusakan fisik.
8) Stabilitas kimiawi dan fisik cukup lama selama penyimpanan.
9) Zat aktif harus dapat dilepaskan secara homogen dalam waktu
tertentu.
10) Tablet memenuhi persayaratan Farmakope yang berlaku.
4. Keuntungan dan Kerugian
1) Keuntungan
Sediaan tablet banyak digunakan karena memiliki beberapa keuntungan, yaitu:
 Tablet dapat bekerja pada rute oral yang paling banyak dipilih.
 Tablet memberikan ketepatan yang tinggi dalam dosis.
 Tablet dapat mengandung dosis zat aktif dengan volume yang
kecil sehingga memudahkan proses pembuatan, pengemasan,
pengangkutan, dan penyimpanan.
 Bebas dari air, sehingga potensi adanya hidrolisis dapat
dicegah/diperkecil.
Dibandingkan dengan bentuk sediaan lain, sediaan tablet mempunyai keuntungan,
antara lain :
 Volume sediaan cukup kecil dan wujudnya padat (merupakan
bentuk sediaan oral yang paling ringan dan paling kompak),
memudahkan pengemasan, penyimpanan, dan pengangkutan.
 Tablet merupakan bentuk sediaan yang utuh (mengandung
dosis zat aktif yang tepat/teliti) dan menawarkan kemampuan
terbaik dari semua bentuk sediaan oral untuk ketepatan ukuran
serta variabilitas kandungan yang paling rendah.
 Dapat mengandung zat aktif dalam jumlah besar dengan
volume yang kecil.
 Tablet merupakan sediaan yang kering sehingga zat aktif lebih
stabil.
 Tablet sangat cocok untuk zat aktif yang sulit larut dalam air.
 Zat aktif yang rasanya tidak enak akan berkurang rasanya
dalam tablet.
 Pemberian tanda pengenal produk pada tablet paling mudah
dan murah; tidak memerlukan langkah pekerjaan tambahan
bila menggunakan permukaan pencetak yang bermonogram
atau berhiasan timbul.
 Tablet paling mudah ditelan serta paling kecil kemungkinan
tertinggal di tenggorokan, terutama bila bersalut yang
memungkinkan pecah/hancurnya tablet tidak segera terjadi.
 Dapat diproduksi besar-besaran, sederhana, cepat, sehingga
biaya produksinya lebih rendah.
 Tablet merupakan bentuk sediaan oral yang memiliki sifat
pencampuran kimia, mekanik, dan stabilitas mikrobiologi yang
paling baik.
2) Kerugian
Di samping keuntungan di atas, sediaan tablet juga mempunya beberapa kerugian,
antara lain :
 Ada orang tertentu yang tidak dapat menelan tablet (dalam
keadaan tidak sadar/pingsan).
 Formulasi tablet cukup rumit, antara lain :
 Beberapa zat aktif sulit dikempa menjadi kompak padat,
karena sifat amorfnya, flokulasi, atau rendahnya berat jenis.
 Zat aktif yang sulit terbasahi (hidrofob), lambat melarut,
dosisnya cukup besar atau tinggi, absorbsi optimumnya tinggi
melalui saluran cerna, atau kombinasi dari sifat tersebut, akan
sulit untuk diformulasi (harus diformulasi sedemikian rupa).
 Zat aktif yang rasanya pahit, tidak enak, atau bau yang tidak
disenangi, atau zat aktif yang peka terhadap oksigen,
atmosfer, dan kelembaban udara, memerlukan enkapsulasi
sebelum dikempa. Dalam hal ini sediaan kapsul menjadi lebih
baik daripada tablet.
Tetapi jika dibandingkan dengan keuntungannya, kerugian sediaan tablet jauh
lebih sedikit sehingga sediaan tablet merupakan sediaan yang paling banyak
dijumpai di perdagangan.
5. Metode Pembuatan Tablet
Sediaan tablet ini dapat dibuat melalui tiga macam metode, yaitu granulasi basah,
granulasi kering, dan kempa langsung. Pemilihan metode pembuatan sediaan
tablet ini biasanya disesuaikan dengan karakteristik zat aktif yang akan dibuat
tablet, apakah zat tersebut tahan terhadap panas atau lembab, kestabilannya, besar
kecilnya dosis, dan lain sebagainya.
Berikut merupakan penjelasan singkat dari ketiga macam metode tersebut :
a. Granulasi Basah
yaitu memproses campuran partikel zat aktif dan eksipien menjadi partikel yang
lebih besar dengan menambahkan cairan pengikat dalam jumlah yang tepat
sehingga terjadi massa lembab yang dapat digranulasi.Metode ini biasanya
digunakan apabila zat aktif tahan terhadap lembab dan panas.Umumnya untuk zat
aktif yang sulit dicetak langsung karena sifat aliran dan kompresibilitasnya tidak
baik. Prinsipdari metode granulasi basah adalah membasahi masa tablet dengan
larutan pengikat teretentu sampai mendapat tingkat kebasahan tertentu pula,
kemudian masa basah tersebut digranulasi.
Metode ini membentuk granul dengan cara mengikat serbuk dengan suatu perekat
sebagai pengganti pengompakan, tehnik ini membutuhkan larutan, suspensi atau
bubur yang mengandung pengikat yang biasanya ditambahkan ke campuran
serbuk atau dapat juga bahan tersebut dimasukan kering ke dalam campuran
serbuk dan cairan dimasukan terpisah. Cairan yang ditambahkan memiliki
peranan yang cukup penting dimana jembatan cair yang terbentuk di antara
partikel dan kekuatan ikatannya akan meningkat bila jumlah cairan yang
ditambahkan meningkat, gaya tegangan permukaan dan tekanan kapiler paling
penting pada awal pembentukan granul, bila cairan sudah ditambahkan
pencampuran dilanjutkan sampai tercapai dispersi yang merata dan semua bahan
pengikat sudah bekerja, jika sudah diperoleh massa basah atau lembab maka
massa dilewatkan pada ayakan dan diberi tekanan dengan alat penggiling atau
oscillating granulator tujuannya agar terbentuk granul sehingga luas permukaan
meningkat dan proses pengeringan menjadi lebih cepat, setelah pengeringan
granul diayak kembali ukuran ayakan tergantung pada alat penghancur yang
dugunakan dan ukuran tablet yang akan dibuat.
 Keuntungan metode granulasi basah :
 Memperoleh aliran yang baik.
 Meningkatkan kompresibilitas.
 Untuk mendapatkan berat jenis yang sesuai.
 Mengontrol pelepasan.
 Mencegah pemisahan komponen campuran selama proses.
 Distribusi keseragaman kandungan.
 Meningkatkan kecepatan disolusi.
 Kekurangan metode granulasi basah:
 Banyak tahap dalam proses produksi yang harus divalidasi.
 Biaya cukup tinggi.
 Zat aktif yang sensitif terhadap lembab dan panas tidak dapat
dikerjakan dengan cara ini. Untuk zat termolabil dilakukan
dengan pelarut non air.
b. Granulasi Kering
disebut juga slugging, yaitu memproses partikel zat aktif dan eksipien dengan
mengempa campuran bahan kering menjadi massa padat yang selanjutnya dipecah
lagi untuk menghasilkan partikel yang berukuran lebih besar dari serbuk semula
(granul). Prinsip dari metode ini adalah membuat granul secara mekanis, tanpa
bantuan bahan pengikat dan pelarut, ikatannya didapat melalui gaya. Teknik ini
yang cukup baik, digunakan untuk zat aktif yang memiliki dosis efektif yang
terlalu tinggi untuk dikempa langsung atau zat aktif yang sensitif terhadap
pemanasan dan kelembaban. Pada proses ini komponen–komponen tablet
dikompakan dengan mesin cetak tablet lalu ditekan ke dalam die dan dikompakan
dengan punch sehingga diperoleh massa yang disebut slug, prosesnya disebut
slugging, pada proses selanjutnya slug kemudian diayak dan diaduk untuk
mendapatkan granul yang daya mengalirnya lebih baik dari campuran awal bila
slug yang didapat belum memuaskan maka proses diatas dapat diulang. Dalam
jumlah besar granulasi kering dapat juga dilakukan pada mesin khusus yang
disebut roller compactor yang memiliki kemampuan memuat bahan sekitar 500
kg, roller compactor memakai dua penggiling yang putarannya saling berlawanan
satu dengan yang lainnya, dan dengan bantuan tehnik hidrolik pada salah satu
penggiling mesin ini mampu menghasilkan tekanan tertentu pada bahan serbuk
yang mengalir dintara penggiling.
 Metode ini digunakan dalam kondisi-kondisi sebagai berikut :
 Kandungan zat aktif dalam tablet tinggi.
 Zat aktif susah mengalir.
 Zat aktif sensitif terhadap panas dan lembab.
 Keuntungan cara granulasi kering adalah:
 Peralatan lebih sedikit karena tidak menggunakan larutan
pengikat, mesin pengaduk berat dan pengeringan yang
memakan waktu.
 Baik untuk zat aktif yang sensitif terhadap panas dan lembab.
 Mempercepat waktu hancur karena tidak terikat oleh
pengikat.
 Kekurangan cara granulasi kering adalah:
 Memerlukan mesin tablet khusus untuk membuat slug.
 Tidak dapat mendistribusikan zat warna seragam.
 Proses banyak menghasilkan debu sehingga memungkinkan
terjadinya kontaminasi silang.

c. Metode Kempa Langsung


yaitu pembuatan tablet dengan mengempa langsung campuran zat aktif dan eksipien
kering.tanpa melalui perlakuan awal terlebih dahulu.
Metode ini merupakan metode yang paling mudah, praktis, dan cepat pengerjaannya,
namun hanya dapat digunakan pada kondisi zat aktif yang kecil dosisnya, serta zat aktif
tersebut tidak tahan terhadap panas dan lembab. Ada beberapa zat berbentuk kristal
seperti NaCl, NaBr dan KCl yang mungkin langsung dikempa, tetapi sebagian besar zat
aktik tidak mudah untuk langsung dikempa, selain itu zat aktif tunggal yang langsung
dikempa untuk dijadikan tablet kebanyakan sulit untuk pecah jika terkena air (cairan
tubuh). secara umum sifat zat aktif yang cocok untuk metode kempa langsung adalah;
alirannya baik, kompresibilitasnya baik, bentuknya kristal, dan mampu menciptakan
adhesifitas dan kohesifitas dalam massa tablet.
 Keuntungan metode kempa langsung yaitu :
 Lebih ekonomis karena validasi proses lebih sedikit.
 Lebih singkat prosesnya. Karena proses yang dilakukan lebih
sedikit, maka waktu yang diperlukan untuk menggunakan metode
ini lebih singkat, tenaga dan mesin yang dipergunakan juga lebih
sedikit.
 Dapat digunakan untuk zat aktif yang tidak tahan panas dan tidak
tahan lembab
Waktu hancur dan disolusinya lebih baik karena tidak melewati
proses granul, tetapi langsung menjadi partikel. tablet kempa
langsung berisi partikel halus, sehingga tidak melalui proses dari
granul ke partikel halus terlebih dahulu.
 Kerugian metode kempa langsung :
 Perbedaan ukuran partikel dan kerapatan bulk antara zat aktif dengan
pengisi dapat menimbulkan stratifikasi di antara granul yang
selanjutnya dapat menyebabkan kurang seragamnya kandungan zat
aktif di dalam tablet.
 Zat aktif dengan dosis yang besar tidak mudah untuk dikempa
langsung karena itu biasanya digunakan 30% dari formula agar
memudahkan proses pengempaan sehingga pengisi yang
dibutuhkanpun makin banyak dan mahal. Dalam beberapa kondisi
pengisi dapat berinteraksi dengan obat seperti senyawa amin dan
laktosa spray dried dan menghasilkan warna kuning. Pada kempa
langsung mungkin terjadi aliran statik yang terjadi selama
pencampuran dan pemeriksaan rutin sehingga keseragaman zat aktif
dalam granul terganggu.
 Sulit dalam pemilihan eksipien karena eksipien yang digunakan
harus bersifat; mudah mengalir; kompresibilitas yang baik;
kohesifitas dan adhesifitas yang baik.

6. Masalah dalam Pembuatan Tablet


Beberapa permasalahan dalam pembuatan tablet adalah sebagai berikut : (Lachman
1994 : 673-680) :
1. Capping
adalah pemisahan sebagian atau keseluruhan bagian atas atau bagian bawah tablet dari
badan tablet. Umumnya disebabkan oleh adanya udara yang terjadi dalam ruang die dan
penyebab lain yaitu kelebihan granul, over lubrikasi atau kurang rubrikan.
2. Laminasi
adalah pemisahan tablet menjadi 2 bagian atau lebih. Umumnya keretakan atau pecahnya
tablet terjadi segera setelah kompresi atau beberapa jam atau hari kemudian.
3. Chipping
adalah keadaan pada bagian bawah tablet terpotong yang disebabkan oleh ujung punch
bawah tidak rata dengan permukaan atas die.
4. Cracking
adalah keadaan tablet pecah, lebih sering di bagian atas tengah. Cracking merupakan
akibat lanjut dari permukaan atas die.
5. Picking
adalah perpindahan bahan dari permukaan tablet dan menempel pada permukaan punch
yang disebabkan pengeringan granul belum cukup, jumlah glidan kurang atau yang
dikompresi adalah bahan berminyak/lengket.
6. Sticking
adalah keadaan granul menempel pada dinding die. Penyebabanya yaitu punch kurang
bersih, tablet dikompresi pada kelembapan tinggi.
7. Mottling
adalah keadaan distribusi zat warna pada permukaan tablet tidak merata.
8. Binding
adalah lubrikasi yang tidak memadai.
7. Bahan – Bahan Tambahan Tablet
A. Bahan Pengisi
adalah zat inert yang ditambahkan dalam formula tablet yang ditujukan untuk membuat
bobot tablet sesuai dengan yang diharapkan
Biasanya tablet yang mengandung zat aktif dengan dosis kecil memerlukan zat pengisi
yang banyak. Jika dosis besar maka pengisi sedikit atau tidak sama sekali.
1. Avicel (mikrokristalin selulosa)
 Bentuk 103 memiliki keunggulan dibandingkan dengan 101, 102
karena volume spesifiknya kecil, aliran lebih baik dan waktu hancur
lebih singkat.
 Insoluble, non-reaktif, aliran kurang baik, kapasitas pegang 50%.
 Menghasilkan tablet yang keras dengan tekanan kecil
(kompresibilitas baik) dan friabilitas tablet rendah, waktu stabilitas
panjang.
 Menghasilkan pembasahan yang cepat dan rata sehingga
mendistribusikan cairan penggranul ke seluruh massa serbuk;
menghasilkan distribusi warna dan obat yang merata.
 Bertindak sebagai pembantu mengikat, menghasilkan granul yang
keras dengan sedikit fines.
 Bisa bersifat pengikat kering, disintegran, lubrikan dan glidan.
 Penggunaannya membutuhkan lubrikan; penggunaannya dapat
dikombinasi dengan laktosa, manitol, starch, kalsium sulfat.
 Membantu mengatasi zat-zat yang jika overwetting (terlalu basah)
menjadi seperti “clay” yang sukar digranulasi dan ketika kering
granulnya menjadi keras dan resisten terhadap disintegrasi. Contoh:
kaolin, kalsium karbonat.
 Avicel dalam GB memperbaiki ikatan pada pengempaan,
mengurangi capping dan friabilitas tablet.
 Avicel membantu obat larut dengan air agar homogen, mencegah
migrasi pewarna larut air dan membantu agar evaporasi cepat dan
seragam.
 Untuk obat dengan dosis kecil, Avicel digunakan sebagai pengisi
dan pengikat tambahan.
 60% avicel PH 101 dan 40% amilum sebagai pasta 10% membuat
massa lembab mudah digranulasi, membentuk granul yang kuat pada
pengeringan dengan sedikit fine daripada pasta yang hanya terbuat
dari amilum.
 Bentuk PH 101: serbuk, PH 102: granul, PH 103: serbuk.
 Merupakan disintegran yang sangat baik terutama pada konsentrasi
10% atau lebih tinggi.
 Pada GB Avicel tidak bersifat disintegran.
 Perhatian: pada konsentrasi tinggi, Avicel dapat menyebabkan tablet
lengket pada lidah saat akan digunakan.
2. Kalsium sulfat trihidrat
 Digunakan sebagai pengisi untuk granulasi dengan jumlah zat aktif
20-30%.
 Sinonim: terra alba, snow white filler.
 Insoluble, non-higroskopis.
 Semakin tinggi grade-nya semakin putih, pengisi paling murah, bisa
dipakai untuk zat aktif asam, netral, basa; punya kapasitas
abisaorbisai yang tinggi untuk minyak.
 Pengikat yang disarankan: PVP, MC, starch paste.
3. Kalsium fosfat dibasic
 Digunakan sebagai pengisi dan pengikat untuk kempa langsung
dengan memiliki ukuran paling kecil, tidak mahal, tidak dapat
digunakan bersama senyawa asam atau garam asam.
 Jika digunakan cairan pengikat yang terlalu banyak maka jadi
lengket dan keras, tidak dapat digranul sehingga solusinya
dikombinasi dengan starch/Avicel.
4. Laktosa (Lachman Tablet)
 Inkompatibel dengan: senyawa yang sangat basa, asam askorbat,
salisilamid, pyrilamine maleat, phenilephrine HCl.
 Granul laktosa hidrat mengandung kadar lembab 4-5%.
 Laktosa adalah gula peredukasi bereaksi dengan amin menghasilkan
reaksi Maillard.
 Isomer: α dan β (dalam campuran berada dalam kesetimbangan
kedua bentuk)
(Lachman Industri)
 Pengisi yang paling umum, ada 2 bentuk: hidrat dan anhidrat.
 Jarang bereaksi dengan obat (hidrat dan anhidrat).
 Untuk GB pakai laktosa HIDRAT; laktosa anhidrat tidak mengalami
reaksi Maillard (dengan zat aktif mengandung amina dengan adanya
logam stearat), tetapi menyerap lembab.
 Secara umum tablet menunjukkan release rate yang baik, granulnya
cepat kering, disintegrasi tablet tidak banyak dipengaruhi oleh
kekerasan
(Handbook of Pharm Excipient).
 Keburukan: laktosa dpr berubah warna dengan adanya basa amin
dan Mg-stearat.
 Dikenal 4 macam bentuk: granul kasar (60-80 mesh), granul halus
(80-100 mesh), granul spray dried (100-200 mesh), dan laktosa
anhidrat
 Dikenal sebagai gula susu.
Spray-dried Lactose
(Lachman Industri)
 Untuk pengisi kempa langsung, umumnya digabung dengan Avicel.
Jika tunggal digunakan dalam konsentrasi 40-50% sebagai
pembawa.
 Sifat direct compression-nya berkurang jika kadar air < 3%; dapat
dicampur dengan 20-25% zat aktif tanpa kehilangan sifat direct
compression-nya.
 Kapasitas pegang 20-25% terhadap zat aktif; punya aliran baik dan
karakteristik pengikatan yang lebih baik dibandingkan laktosa biasa.
 Kelemahan: dapat menghitam dengan adanya lembab, amin, atau
senyawa lain yang mengandung furaldehid.
 Gunakan lubrikan netral atau asam
5. Sukrosa
 Bisa berfungsi sebagai pengisi/pengikat.
 Jika digunakan sebagai pengikat tunggal, sukrosa membentuk granul
yang keras dan tablet lebih cenderung terdisolusi daripada
terdisintegrasi. Oleh karena itu banyak dikombinasi dengan pengisi
insoluble lain.
 Jika digunakan sebagai pengisi kering, biasanya digranulasi dengan
pengikat larut air atau hidroalkohol. Kekerasan granul tergantung
jumlah pengikat yang digunakan. Campuran air dan alkohol akan
menghasilkan granul yang lebih lunak..
 Memiliki banyak bentuk, paling sering digunakan bentuk
“confectioner” untuk GB yang mengandung 3% pati jagung untuk
mencegah caking.
 Sukrosa digunakan sebagai pemanis dalam tablet kunyah dan
digunakan sebagai pengikat untuk memperbaiki kekerasan tablet.
 Kelemahan: tablet yang dibuat dengan komposisi sebagian besar
sukrosa akan mengeras pada penyimpanan. Sukrosa bukan gula
pereduksi tetapi menjadi coklat pada penyimpanan dan higroskopis.
 Turunan sukrosa yang dapat digunakan untuk kempa langsung:
a. Sugartab : 90-93% sukrosa, 7-10% invert sugar.
b. Di Pac : 97% sukrosa, 3% modified dekstrin.
c. Nu Tab : 95% sukrosa, 4% gula invert, 1% corn starch, Mg
stearat.
6. Dekstrosa
 Penggunannya terbatas pada GB sebagai pengisi dan pengikat.
 Digunakan mirip dengan sukrosa, cenderung menghasilkan tablet
yang keras terutama jika menggunakan dekstrosa anhidrat.
 Menjadi coklat pada penyimpanan.
7. Manitol
 Pengisi yang baik untuk tablet kunyah karena rasanya enak, sedikit
manis, halus, dingin (negatif heat solution).
 Non-higroskopis, aliran jelek, membutuhkan lebih banyak cairan
pengikat.
 Dapat digunakan untuk formulasi vitamin, menghasilkan granul
yang lebih halus dari sukrosa atau dekstrosa.
 Kadar lembab granul yang dibuat dari sukrosa, dekstrosa, dan
manitol setelah pengeringan semalam pada 140-150 °F adalah 0,2%.
 Hanya sedikit yang terabisaorbisai di saluran cerna, jika digunakan
banyak dapat bersifat laksatif.

8. Emdex dan Celutab


(Lachman Industri)
 Dapat bereaksi dengan amin pada suhu dan kelembaban tinggi.
 Bebas mengalir dan dapat dikempa langsung, mengandung 8-10%
lembab, kekerasan tablet dapat meningkat setelah pengempaan.
 Starch terhidrolisa mengandung 90-92% dekstrosa dan 3-5%
maltosa.
 Dapat digunakan sebagai pengganti manitol pada talbet kunyah
karena manis dan berasa halus.
9. Starch 1500 (penjelasan ada di bagian Pengikat)

B. Adsorben

 Adsorben harus memiliki titik leleh yang tinggi. Dengan titik leleh
tinggi setelah terjadi lelehan pertama akan terbentuk massa yang bertitik
leleh lebih tinggi.
 Manfaat adsorben: mencegah tablet basah oleh lelehan zat aktif, jika
tablet basah maka tablet akan lengket dalam cetakan. Bekerja menyerap
lelehan zat aktif.
Contoh: Avicel, Bolus alba, Kaolin, bentonit, Mg silikat, MgO,
trikalsium fosfat, Aerosil.
C. Pengikat
 Pengikat bisa berupa gula dan polimer.
 Pengikat yang berupa polimer alam: starch, gum (acacia, tragacanth,
gelatin).
 Pengikat yang berupa polimer sintetik: PVP, metilselulosa, etilselulosa,
hidroksipropilselulosa.
 Bisa dengan cara kering/basah. Cara basah lebih sedikit membutuhkan
bahan.
 Jumlah larutan pengikat yang dibutuhkan untuk 3 kg pengisi tercantum
pada tabel.
(Lachman Tablet halaman 161)
1. Starch (amylum)
(Lachman Tablet)
 Dapat digunakan sebagai pengisi, pengikat, dan penghancur.
 Dalam bentuk musilago amili 5-10%.
 Cara: suspensikan starch 1:1/2-1 dalam air dingin, tambahkan 2-4
kali air mendidih dengan pengadukan konstan sampai starch
mengembang menjadi transparan yang dapat diencerkan.
 Cara lain: suspensi starch dalam air dipanaskan.
 Mengandung kadar air 11-14%; akan menyebabkan tablet
terdisintegrasi dengan cepat (hal 161).
 Pembuatannya harus hati-hati agar diperoleh musilago yang baik,
tidak terhidrolisis, dan tidak mengarang.
 Pemakaian terbaik maksimal 30%. Jika dosis zat aktif besar, starch
diganti dengan penghacur yang lebih baik, yaitu avicel.
 Tablet yang mengandung amilum dengan konsentrasi tinggi
menunjukkan tablet yang rapuh dan sukar dikeringkan.
 Amilum yang tidak dimodifikasi tidak mempunyai sifat
kompresibilitas yang baik dan mempunyai friabilitas yang besar, dan
akan terjadinya capping pada tablet jika digunakan dalam jumlah
besar
 Sebagai disintegran:
 Pemakaian: 1-20%, merupakan disintegran yang paling umum
digunakan.
 Mekanisme kerja dengan membentuk ikatan hidrogen saat
pengempaan dan pecah atau mengembang saat air masuk mell pori
(kapiler).
 Pemakaiannya disesuaikan dengan jenis starch, tekanan
pengempaan, dan kandungan air massa cetak.
 Perhatian: sebelum digunakan, starch harus dikeringkan pada suhu
80-90 °C untuk menghilangkan air yang terabisaorpsi.
2. Starch 1500
(Lachman Tablet)
 Dapat digunakan sebagai pengikat basah, kering, dan disintegran.
 Starch 1500 maksimal mengandung 20% fraksi larut air yang
berfungsi sebagai pengikat sedangkan sisanya bersifat sebagai
disintegran.
 Starch 1500 dibutuhkan ± 3-4 kali lebih banyak daripada musilago
amili untuk menghasilkan tablet dengan kekerasan yang sama.
 Sebaiknya tidak digunakan sebagai pengisi pada GB karena akan
menghasilkan gel yang berfungsi sebagai pengikat yang sangat kuat.
 Sebagai disintegran dapat ditambahkan kering, pada fasa luar.
 (Lachman Industri)
 Aliran bagus, merupakan directly compressible starch.
 Dapat dikempa sendiri, tetapi jika dicampur dengan 5-10% obat
membutuhkan lubrikan tambahan (misalnya 0,25% colloidal silicon
dioxide).
 Mengandung 10% lembab dan menyebabkan tablet menjadi lunak
jika dikombinasi dengan Mg stearat > 0,5%, sebagai pengganti
digunakan asam stearat.
 Sebagai disintegran:
 Merupakan disintegran yang baik dan ditambahkan dalam campuran
kering (dalam fasa dalam dan atau fasa luar pada metoda granulasi
kering atau kempa langsung, atau dalam fasa luar pada metoda
granulasi basah).
 Perhatian: tidak boleh diberikan pada massa basah.
3. Amilum pragelatinasi
 Merupakan pati yang sudah dimasak dan dikeringkan lagi. Dapat
digunakan sebagai pengganti starch paste karena lebih mudah larut
dalam air hangat tanpa pemanasan.
 Dapat ditambahkan kering ke dalam serbuk kemudian dibasahkan
dengan air membentuk massa lembab.
4. Gelatin
 Digunakan pada konsentrasi 5-10% sebanyak 1-5% dari formula.
 Sudah jarang digunakan, digantikan PVP, MC. Cenderung
menghasilkan tablet yang keras dan memerlukan disintegran yang
aktif.
 Dapat digunakan untuk senyawa yang sulit diikat.
 Kelemahan: rentan bakteri dan jamur.
 Jika masih diperlukan pengikat yang lebih kuat, dapat digunakan
larutan gelatin dalam air 2-10%, yang dibuat dengan menghidrasi
gelatin dalam air dingin selama beberapa jam/semalam kemudian
dipanaskan sampai mendidih, larutan gelatin harus dipertahankan
hangat sampai digunakan karena akan menjadi gel pada
pendinginan.
5. Larutan sukrosa
 Membentuk granul keras, kekerasan diatur dari konsentrasi sukrosa
20-85%.
 Sangat baik sebagai pembawa soluble dyes dan menghasilkan warna
beragam.
 Digunakan untuk menggranulasi tribasic fosfat yang umumnya
memerlukan pengikat yang lebih kohesif dari musilago amili; pada
tablet ferro sulfat, bertindak sebagai pengikat dan pelindung
ferrosulfat dr oksidasi.
 Senyawa lain yang pengikatnya bisa berupa gula: aminofilin,
asetopheretidin, asetaminofen, meprobamate,
6. Larutan akasia
 Digunakan pada konsentrasi 10-25%; untuk mengurangi mephenesin
(dosis besar dan sukar digranulasi).
 Menghasilkan granul yang keras tetapi tidak mengeras pada
penyimpanan.
 Kelemahan: dapat terkontaminasi mikroba.
 Kadang ditambah lubrikan cair PEG 6000 untuk membantu
pencetakan tablet dan disintegrasi tablet.
7. PVP
 Nama dagang: Kollidon atau Plasdon.
 Inert, larut air dan alkohol, digunakan dalam konsentrasi 3-15%,
sedikit higroskopis, tidak mengeras selama penyimpanan (baik untuk
tablet kunyah).
 Tablet efervesen bisa dibuat menggunakan PVP dalam etanol
anhidrat. Jangan menggunakan isopropanol anhidrat karena
meninggalkan bau pada granul.
 Konsentrasi 5% menghasilkan kompresibilitas yang baik dari serbuk
Natrium bikarbonat dan asam sitrat sehingga tablet bereaksi cepat
dan disolusi cepat.
 PVP baik untuk tablet kunyah terutama untuk alumunium
hidroksida, Mg(OH)2.
8. Selulosa
a. Metil selulosa
 1-5% larutan air; larutan 5% menghasilkan kekerasan yang sama
dengan musilago amilum.
 Dapat digunakan untuk menggranulasi soluble/insoluble powder;
pengikat yang baik untuk eksipien laktosa, manitol, dan gula.
 Keuntungan: dapat dikompres cepat, tidak mengeras pada
penyimpanan.
b. CMC Na
 5-15%.
 Inkompatibel dengan Mg, Ca, Al, dan garamnya.
 Menghasilkan granul yang lebih rapuh dari PVP kecenderungan
untuk mengeras, umumnya tablet mempunyai waktu disintegrasi
yang lebih lama.
c. Etil selulosa
 Larutan dalam alkohol. Low grades digunakan sebagai pengikat
2-10% dalam etanol.
 Dapat digunakan untuk menggranulasi serbuk yang sukar
digranulasi: asetaminofen, kafein, meprobamat, ferofu, arat, dan
dapat digunakan sebagai pengikat non air untuk serbuk yang
tidak tahan air seperti asam askorbat.
 Dapat memperlambat disintegrasi.
9. Polivinil alkohol
 Larut air, mirip akasia tapi tidak terlalu rentan dengan bakteri.
 Membentuk granul yang lebih lunak dari acacia, menghasilkan tablet
yang disintegrasi lebih cepat dan tidak mengeras pada penyimpanan.

10. PEG 6000


 Sebagai pengikat anhidrat, dimana air dan alkohol tidak dapat
digunakan.
 PEG 6000 merupakan padatan putih yang meleleh pada 70-750C dan
mengeras pada 56-630C.
11.N-HPC (Nisso-HPC)
 Larut dalam air dan pelarut organik alkohol, propilen glikol, metilen
klorida, aseton dan kloroform. Jika digunakan sebagai pelarut pada
granulasi basah N-HPC dilaruntukan dalam air atau alkohol.
 Cara:
 Melarutkan dalam air.
 N-HPC ditambahkan sedikit demi sedikit ke dalam air sambil diaduk
kuat.
 20-30% air dipanaskan sampai 600C dan N-HPC ditambahkan
perlahan-lahan sambil diaduk. Setelah itu ditambahkan sisa air.
Dengan cara ini pelarutan lebih cepat.

D. Flavour
(Lachman Industri)
 Digunakan untuk tablet kunyah.
 Penambahan pewangi dapat dilakukan dalam keadaan kering, biasanya
sebagai fasa luar, sedangkan yang cair ditambahkan dengan
menyemprotkan ke dalam massa cetak.
 Flavour yang digunakan adalah bentuk flavour oil yang diabsorbsikan
ke adsorben.
 Jumlah yang digunakan maksimal 0,5-0,75%.
E. Disintegran
Fungsi : untuk memecah tablet
Cara pakai:
 saat granulasi.
 sebelum dicetak (paling baik).
1. Starch (amylum)
2. Starch 1500
3. Sodium starch glycolate (primogel, explotab)
 Pemakaian: 1-20% dengan konsentrasi optimum 4%.
 Explotab tidak dapat sebagai penghancur dalam.
 Mekanisme sama dengan starch secara umum, merupakan starch
termodifikasi sehingga mampu menyerap air 200-300%.
 Waktu disintegrasi ditentukan pula oleh besarnya tekanan
pengempaan.
 Perhatian: pada suhu dan kelembaban yang tinggi dapat
memperlama waktu disintegrasi sehingga memperlambat waktu
disolusi.
4. Selulosa (selulosa, metilselulosa, CMC, CMC-Na, Avicel, Acdisol)
 Acdisol merupakan ikatan silang dari CMC-Na dan sangat baik
untuk digunakan sebagai disintegran karena larut air dan memiliki
afinitas yang besar pada air..
 Acdisol ini digolongkan pada super disintegran. Penggunaan 2-5%.
5. Gums (agar, pectin, tragacant, guar gum)
 Pemakaian: 1-10%.
 Bukan merupakan disintegran yang baik, karena kapasitas
pengembangannya yang relatif rendah
6. Clays
 Pemakaian: 2-10%, sifat hilang jika digranulasi.
 Bukan merupakan disintegran yang baik, karena dapat menyebabkan
perubahan warna secara keseluruhan.
7. Alginat (asam alginat dan Na-alginat)
 Pemakaian: 1-5% (asam alginat) atau 2,5-10% (Na-alginat).
 Memiliki afinitas yang besar terhadap air.
F. Lubrikan
Konsentrasi optimum: 1%
 Fungsi: sebagai eksipien untuk menghilangkan gesekan/friksi saat
pengempaan dan penarikan tablet ke luar cetakan.
 Jenis:
Water soluble: banyak digunakan untuk tablet larut air seperti
tablet/serbuk effervescent
Water insoluble: paling banyak dan digunakan konsentrasi rendah.
 Mekanisme:
Fluid type lubricant
Membentuk lapisan cair antara massa cetak dengan logam cetakan. Dapat meninggalkan
noda pada tablet.
Dengan berinteraksi antara gugus polar lubrikan dengan molekul pada permukaan
logam. Tipe ini memiliki adheren terhadap cetakan lebih baik.
 Lubrikan dapat menyebarkan tekanan saat pengempaan dan
meningkatkan bobot jenis partikel secara keseluruhan.
 Semakin kecil ukuran granul, dibutuhkan lubrikan yang semakin
banyak.
 Secara umum lubrikan dapat memperlama waktu hancur tablet dan
menurunkan kecepatan disolusi karena sifatnya yang hidrofob.
 Perhatian: aspirin tidak stabil dengan adanya senyawa alkaline,
misalnya lubrikan alkalin stearat. Penggantinya dapat digunakan
talk..
 Lubrikan carbowax seringkali diberikan dalam bentuk larutan
alkohol.
 Ketika lubrikan ditambahkan saat granulasi, mereka akan
membentuk lapisan di sekitar granul sehingga dapat mengurangi
kerusakan tablet setelah dikempa. Pembentukan lapisan ini juga akan
menyebabkan tablet menjadi labih berpori, elastik, mudah melar, dan
memberikan hasil tablet yang lebih besar sehingga tablet mudah
pecah.
 Lubrikan seringkali ditambahkan secara kering ketika semuanya
telah homogen, dan dicampur pada 2-5 menit akhir dari total waktu
pencampuran 10-30 menit.
 Metode penambahan lubrikan di akhir (sebagai fasa luar-setelah
granul dibentuk) memberikan hasil yang lebih baik terhadap
kekerasan tablet dan kemudahannya untuk dikeluarkan dibandingkan
dengan metode penambahan lubrikan saat dilakukan granulasi.
 Sebagai lubrikan tunggal, Mg-lauril sulfiat pada konsentrasi yang
lebih rendah dapat dikombinasi dengan Mg-stearat.
Water soluble lubricant Water insoluble lubricant
Asam borat : 1% Logam (Mg, Ca, Na) stearat : ¼-2%
Sodium chloride : 5% Asam stearat : ¼-2%
DL-Leusine :1-5% Sterofex : ¼-2%
Carbowax 4000/6000 : 1-5% Talk : 1-5%
Sodium oleat : 5% Waxes : 1-5%
Sodium benzoat:5% Stearowet: 1 %
Sodium asetat : 5% Gliseril behapte (Compritol 888):
Sodium lauril sulfat : 1-5% dapat pula sebagai pengikat, dapat
Mg-lauril sulfat : 1-2% dikombinasi dengan Mg-stearat
Sodium benzoat + sodium asetat: 1-5%
G. Glidan
 Secara umum, fine silica > Mg stearat > talk murni.
 Talk mengandung sejumlah kecil Al silikat dan Fe. Harus hati-hati
untuk zat aktif yang penguraiannya dikatalisis oleh Fe.
1. Cab-O-Sil : 5-10%
2. Corn starch : 5-10%
3. Aerosil : 1-3%
4. Talk : 5%
5. Syloid : 0,1-0,5%
H. Anti Adheren
 Yang paling baik adalah yang larut air, dan yang paling efisien adalah
DL-Leusine.
 Biasa digunakan pada produk yang mengandung vitamin E dosis tinggi
karena cenderung terjadi picking.
1. Talk : 1-5%
2. Logam stearat : <1%
3. Cab-O-Sil : 0,1-0,5%
4. Syloid : 0,1-0,5%
5. Corn starch : 3-10%
6. DL-Leusine : 3-10%
7. Na-lauril sulfat: <1%
8. Kontrol Kualitas
a. Pemeriksaan Sebelum tabletting
Merupakan pemeriksaan pada masa granul basah dan kering.
b. Pemeriksaan Selama dan setelah Tabletting
1) Penampilan Umum (organoleptis)
2) Keseragaman kadar zat aktif
3) Keragaman Bobot
4) Kekerasan tablet (Hardness)
5) Kerapuhan Tablet (friability)
6) Waktu Hancur (disintegration time)
7) Kecepatan Kelarutan (dissolution)
B. Pre – formulasi
 Farmakologi Zat Aktif
Klorfeniramin maleat adalah turunan alkilamin yang merupakan antihistamin dengan
indeks terapetik (batas keamanan) cukup besar dengan efek samping dan toksisitas yang
relatif rendah. Klorfeniramin maleat merupakan obat golongan antihistamin penghambat
reseptor H1 (AH1).
Mekanisme Kerja Obat
CTM merupakan salah satu antihistaminika H 1 (AH1) yang mampu mengusir histamin
secara kompetitif dari reseptornya (reseptor H 1) dan dengan demikian mampu
meniadakan kerja histamin. CTM sebagai AH1 menghambat efek histamin pada
pembuluh darah, bronkus dan bermacam-macam otot polos. AH 1 juga bermanfaat untuk
mengobati reaksi hipersensitivitas dan keadaan lain yang disertai pelepasan histamin
endogen berlebih.
Indikasi
Pengobatan pada gejala-gejala alergis, seperti: bersin, rinorrhea, urticaria, pruritis, dll.
Kontraindikasi
Dapat memperburuk asma bronkial, retensi urin, glaukoma.
Efek Samping
Efek samping yang sering terjadi adalah sedatif ( rasa ngantuk), gangguan saluran cerna,
mulut kering, dan kesukaran miksi.
Dosis
Dewasa: 3 - 4 kali sehari 0.5 - 1 tablet.
Anak-anak 6 - 12 tahun: 0.5 dosis dewasa.
Anak-anak 1 - 6 tahun: 0.25 dosis dewasa
Perhatian
Selama minum obat ini, jangan mengendarai kendaraan bermotor atau menjalankan
mesin. obat ini memiliki interaksi dengan alkohol, depresan syaraf pusat, anti kolinergik.
 Monografi Zat Tambahan
1. CTM ( Chlorpheniramin Maleat )

Struktur kimia
Rumus molekul C16H19ClN2.C4H4O4
Nama kimia 2-Pyridinepropanamine, b-(4-chlorophenyl)-N,N-
dimethyl.
Berat molekul 390,87
Pemerian serbuk Hablur putih, tidak berbau. Larutan mempunyai ph
antara 4 dan 5.
Kelarutan Mudah larut dalam air, larut dalam etanol dan kloroform;
sukar larut dalam eter dan dalam benzena..
Stabilitas Mengalami peruraian pada suasana asam.
Inkompatibilitas Inkompatibel dengan kalsium klorida, kanamisin sulfat,
noradrenalin acid tartrat, pentobarbital sodium, dan
meglumine adipiodone
Penyimpanan Wadah tertutup rapat tidak tembus cahaya.
Kegunaan Antihistamin dan sedativ

2. Sukrosa

Struktur kimia
Rumus molekul C12H22O11
Nama kimia b-D-fructofuranosyl-a-D-glucopyranoside
Berat molekul 342.30
Pemerian Serbuk hablur bentuk kubus, putih, tidak berbau, berasa
manis
Kelarutan Sangat mudah larut dalam air, lebih mudah larut dalam air
mendidih, sukar larut dalam etanol, tidak larut dalam
kloroform dan eter
Stabilitas -          panas : suhu > 1600 C dapat teroksidasi
-          udara : lebih mudah terurai dengan adanya udara
dari luar
Inkompatibilitas logam berat, dapat mendegradasi zat
Penyimpanan Dalam tempat sejuk dan kering
Kegunaan Pengisi 50 – 67 %

3. Amylum

Struktur kimia

Rumus molekul [C16H10O5]n . dimana n= 300 – 1000


Nama kimia Starch [9005 – 25 -8]
Berat molekul 300 – 1000 tergantung jenis amylum
Pemerian Amylum tidak berbau tidak berasa ,warna putih sampai
putih tua ,serbuk halus
Kelarutan Praktis tidak larut dalam etanol 96%dan dalam air
dingin.pati mengembang seketika dalam air sekitar 5 – 10
% pada 378C .pati menjadi larut dalam air panas pada
suhu diatas suhu gelatinasi.
Stabilitas Pati kering stabil jika dilindungi dari kelembaban
tinggi.pati dianggap sebagai bahan kimia dan
mikrobiologi pada kondisi penyimpanan dibawah
normal .larutan amilum atau atau pasta amylum tidak
stabil dan mudah dimetabolisme oleh
microorganisme,karena itu untuk granulasi basah harus
selalu dibuat baru. Pati harus disimpan dalam wadah
kedap udara di tempat sejuk dan kering
Inkompatibilitas Pati tidak kompatibel dengan zat pengoksidasi kuat.
Berwarna
senyawa inklusi terbentuk dengan yodium
Penyimpanan Dalam tempat sejuk dan kering
Kegunaan penghancur 1 – 20 %, pengikat 5 – 10 %

4. Asam Borat

Struktur kimia
Rumus molekul H3BO3
Nama kimia Trihidrooksidoboron
Berat molekul 61,83
Pemerian Serbuk kristal putih, rasa agak pahit dan lama kelamaan
rasa manis, berbau lemah.
Kelarutan 1 bagian larut dalam 20 bagian air, 16 bagian alkohol, 4
bagian gliserol, sedikit larutan dalam minyak, praktis tidak
larut dalam eter.
Inkompatibilitas Polivinil alkohol dan tanin.
Penyimpanan Dalam tempat sejuk dan kering
Kegunaan Lubrican 1 %

5. Talcum Venetum

Struktur kimia
Rumus molekul Mg6(S12O5)4(OH)4
Nama kimia Talk(14807-96-6)
Berat molekul -
Pemerian Sangat halus,warna putih sampai putih ke abu-an,tidak
berbau ,berkilat mudah melekat pada kulit dan bebas dr
butiran
Kelarutan Tidak larut dalam hampir semua pelarut
Stabilitas Talk merupakan bahan yang stabil,dapat di sterilisasi
dengan pemanasan sampai 1600 C tidak kurang dari 1 jam
.dapat juga disterilkan dengan gas etilen oxide atau gama
radiasi
Inkompatibilitas Inkompatibilitas dengan kandungan ammonium kwartener
Penyimpanan Talk harus disimpan dalam wadah tertutup rapat dan
tempat kering
Kegunaan Glidan (1 – 5 %), anti adheran ( 1 – 5 % )

 Alasan Pemilihan Bahan Eksipien


1. Sukrosa
Digunakan sebagai pengisi juga pengikat pada sediaan tablet CTM, batas kadar yang
dianjurkan pada penggunaan sukrosa sebagai pengisi adalah 50 % - 67 %. Pada sediaan
ini digunakan sukrosa dengan kadar 60 %. Sukrosa memiliki tingkat kemanisan 100, jadi
pemilihan sukrosa sebagai pengisi dapat menutupi rasa CTM yang pahit. Sukrosa
membentuk granul yang keras dan tablet yang cenderung terdisolusi dari pada
terdisintegrasi. Oleh karena itu dikombinasikan dengan pengisi yang tidak larut lain
seperti amilum.
2. Amylum oryzae
Pada sediaan ini amilum berfungsi sebagai pengikat dan penghancur, pemilihan ini untuk
menghemat jenis bahan yang digunakan serta amilum memiliki harga yang ekonomis dan
mudah didapat. Karena menggunakan teknik granulasi basah, sebagai pengikat amilum
digunakan dalam bentuk musilago amilum 5 – 10 %. Pada formulasi ini menggunakan
kadar 5 % saja, hal ini dikarenakan tablet yang mengandung amilum dengan konsentrasi
tinggi menunjukkan tablet yang rapuh dan suka dikeringkan.
Amylum ( Strach ) merupakan penghancur yang paling umum digunakan dengan
pemakaian 1 – 20 %. Pada formulasi ini digunakan amylum dengan kadar 20 %.
3. Asam Borat
Asam borat digunakan sebagai lubrican, untuk menghilangkan gesekan/friksi saat
pengempaan dan penarikan tablet ke luar. Pada formulasi ini asam borat yang digunakan
sebanyak 1 %.
4. Talcum Venetum
Talc berfungsi sebagai glidan yang memperbaiki masa granul dan sebagai anti adheran
untuk mencegah melekatnya masa tablet pada cetakan. Sebagai glidan digunakan talc
dengan kadar 3 % dan sebagai anti adheran dengan kadar 5 %. Talc merupakan material
yang memiliki sifat antiadherent yang sangat baik.

C. Usulan Formula
R/ CTM 4 mg ( zat aktif )
Sukrosa 60 % ( pengisi )
Amylum Oryzae 5 % ( pengikat ) + 20 % ( penghancur )
As. Borat 1 % ( lubrican )
Talc. 3 % ( glidan ) + 5 % ( anti adheran )

D. Perhitungan dan Penimbangan


1. Perhitungan
Bobot 1 tablet = 200 mg
Dibuat sebanyak = 100 tab + 20 tab = 120 tablet
Bobot seluruh = 200 mg x 120 tab = 24000 mg
a. Zat aktif = 4 mg x 120 tab = 480 mg
b. Eksipien = 24000 mg – 480 mg = 23520 mg
 Sukrosa = 60/100 x 23520 mg = 14112 mg
 Musilago = 5/100 x 23520 mg = 1176 mg
- Amilum = ½ x 1176 mg = 588 mg
- Air dingin = ½ x 1176 mg = 588 mg/50 mg = 11,76 tetes
- Air panas = 2 x 588 mg = 1176 mg/50 mg = 23,52 tetes
 Amilum = 20/100 x 23520 mg = 4704 mg
 Pelincir
- Asam borat= 1/100 x 23520 mg = 235,2 mg
- Talc = 3/100 x 23520 mg = 705,6 mg
- Talc = 5/100 x 23520 mg = 1176 mg
2. Penimbangan
a. Sukrosa = 14112 mg ≈ 14100 mg
b. Amilum Mucilago = 588 mg ≈ 600 mg
Penghancur = 4704 mg ≈ 4700 mg
c. Asam borat = 235,2 mg ≈ 230 mg
d. Talc
Glidan = 705,6 mg ≈ 700 mg
Anti adheran = 1176 mg ≈ 1200 mg
e. Air dingin = 11,76 tetes ≈ 12 tetes
f. Air panas = 23,52 tetes ≈ 1 ml + 4 tetes

IV. ALAT & BAHAN


A. Alat
1. Stamper 9. botol tablet
2. Mortir 10. Neraca gram
3. Ayakan 11. Anak timbangan
4. Beker glass 12. Sendok plastik
5. Batang pengaduk 13. Kertas Perkamen
6. Sudip 14. Penutup botol
7. Gelas ukur 15. Kotak Kemasan
8. Erlenmeyer 16. Etiket putih

B. Bahan
1. CTM 6. Air dingin
2. Sukrosa 7. Air panas
3. Amylum Oryzae 8. Glidan
4. As. Borat 9. Anti adheran
5. Talkum

V. PROSEDUR

A. Pembuatan larutan pengikat


 Timbang amilum sebanyak 600 mg, suspensikan dalam air dingin sebanyak 12
tetes aduk ad homogen.
 Tambahkan air mendidih sebanyak 2 kalinya, lakukan pengadukan konstan
sampai amilum mengembang menjadi transparan yang dapat diencerkan.
B. Pencampuran dan peracikan
 Timbang fase dalam ( CTM, sukrosa, amilum ( penghancur ), gerus hingga
homogen. ( massa 1 ).
C. Granulasi basah / Pembuatan Granul
 Tambahkan sedikit demi sedikit musilago amilum ke massa 1 hingga
terbentuk massa yang kenyal dan dapat dikepal.
 Tekan masa granul melalui ayakan no.6 atau no.8.
 Timbang granul yang sudah jadi.
 Setelah semua masa berubah menjadi granul, tebar diatas selembar kertas
yang lebar.
D. Pengeringan
 Keringkan granul pada rak kabinet dengan suhu diusahakan sekitar 60 0 C,
sampai kandungan airnya 5 % selama 24 jam.
 Timbang kembali granul yang sudah dikeringkan.
E. Penyaringan atau pengayakan kering
 Setelah dikeringkan, granul diayak dengan ayakan yang mempunyai lubang
yang lebih kecil yaitu nomor 12 – 20.
 Lakukan evaluasi granul.
F. Granulasi kering
 Timbang pelincir ( asam borat & talc ) yang diperlukan ( jumlah pelincir
berkisar 0,1 – 5 % dari berat granul ).
 Campurkan dengan masa granul kering menggunakan pengocokan dalam
botol bermulut lebar.
G. Pencetakkan dengan mesin tablet
 Masukkan granul ke dalam ruang cetakan melalui corong ( hopper ).
 Gerakkan mesin cetakan dengan tangan.
 Ketikan cetakan bagian bawah ( die ) diturunkan ke bawah, maka akan terisi
granul yang berada pada hopper.
 Cetakan ditarik menggeser kelebihan granul dan diratakan.
 Cetakan bagian atas ( punch ) akan turun dan mengempa bahan dalam cetakan
membentuk tablet.

VI. Hasil Evaluasi dan Pembahasan


1. Evaluasi Granul
a. Granulometri
Granulometri adalah analis ukuran dan repartisi granul
(penyebaran ukuran-ukuran granul). Dalam melalukan analisis
granulometri disunakan susunan pengayak dengan berbagai
ukuran mesh terbesar dileetakan paling atas dan di bawahnya
disusun pengayak dengan mesh yang makin kecil
Caranya:
1. Timbang 100 gr granul
2. Letakan granul pada pengayak paling atas
3. Geratkan mesin 5-30 ment, tergantung dari ketahan granul
pada getaran
4. Timbang granul yang tertahan pada tiap-tiap pengayak
5. Hitung persentase granul pada tiap-tiap pengayak
Tujuan granulometri adalah untuk melihat keseragaman dari
ukuran granul. Diharapkan ukuran granul tidak terlalu berbeda.
Granulometri berhubungan dengann sifat aliran granul. Jika
ukuran granul berdekatan. Aliran akan lebih baik. Diharapkan
ukuran granul mengkuti kurva distribusi normal.

Hasil :

b. Kecepatan Alir
Waktu aliran adalah waktu yang diperlukan untuk
mengalirkan sejumlah granul melalui bang corong yang diukur
dalam sejumlah zat yang mengalir dalam sewaktu-waktu tertentu.
Untuk 10 gram granul waktu alirnya tidak boleh lebih dari 1 detik.
Waktu alir berpengaruh terhadap keseragaman bobot tablet.
Parameter yang digunakan untuk mengevaluasi massa tablet
adalah pemeriksaan laju alirnya.
Rumus :
Kecepatan alir = w/t
Dimana w = massa granul (g)
t =waktu (detik)
Untuk mengukur laju alir adalah dengan menghitung waktu yang
dibutuhkan sejumlah granul untuk dapat bebas melewati corong
(Voight, 1994)
Tabel Laju Alir Terhadap Sifat Alir
Laju Alir (gr/detik) Sifat Aliran

>10 Bebas mengalir


4-10 Mudah mengalir
1,6-4 Kohesif
<1,6 Sangat kohesif

(Aulton, 2001)
Cara pengukuran :
Alat yang digunakan : Stopwatch,corong
Syarat : Tidak boleh >10 detik untuk granul
sejumlah 10 gram
Prosedur :
1. Granul ditimbang 10 gram
2. Granul dimasukkan kedalam corong yang bagian bawahnya
ditutup lebih dahulu.
3. Setelah seluruh granul masuk, siapkan stopwatch lalu buka
tutup bagian bawah corong lalu biarkan granul mengalir. Hitung
kecepatan alir menggunkan stopwatch . Waktu alir tidak boleh
lebih dari 1 detik

Hasil :
W (massa granul) t (waktu)
Kecepatan
1 2 3 1 2 3
Alir

Rata-rata

Kecepatan Alir =

Pembahasan :

c. Sudut Diam
Sudut diam adalah sudut tepat yang terjadi antara timbunan
partikel berbentuk kerucut dengan bidang horizontal. Jika sejumlah
granul atau serbuk dituang kedalam alat pengukur, besar kecilnya
sudut diam dipengaruhi oleh bentuk ukuran dan kelembaban serbuk.
Bila sudut diam lebih kecil atau sama dengan 300 menunjukkan
bahwa serbuk dapat mengalir dengan bebas, bila sudut lebih besar
dari 400 biasanya daya mengalirnya kurang baik.
Tabel .Hubungan antara Nilai Sudut Henti Terhadap Sifat Alir
Sudut Henti Sifat Aliran

<25 Sangat baik

25-30 Baik

30-40 Cukup

>40 Buruk

Sumber : United State Pharmacopoeial 32th,2009


Rumus : Tan α = h/r
Dimanah : h : tinggi kerucut
r :jari-jaribidangdasarkerucut
Cara pengukuran :
Alat : Kertasmillimeter,penggaris
Syarat : sesuaidengan table
Prosedur :
1. Sesaat setelah granul di alir kan dari corong, granul akan
membentuk gundukan berbentuk kerucut pada kertas milimeter
2. Ukur diameter dan tinggi kerucut tersebut dan masukkan kedalam
rumus

Hasil :
r (jari-jari bidang dasar
h (tinggi kerucut)
Sudut kerucut)

Diam 1 2 3 1 2 3

Rata-rata

Tan α =

Pembahasan :

d. Kompresibilitas (Voight 1994)


Kompresibilitas adalah kemampuan granul untuk tetap kompak
dengan adanya tekanan. Uji kompresibilitya dilakukan dengan alat
yang disebut bulk density.
Rumus :
Persen kompresibility dapat dihitung dengan menggunakan rumus:
%kompresibilitas = (BJ Mampat – BJ Bulk) x 100 %
BJ Mampat
Syarat % kompresibilitas yang baik adalah 5-15% menurut table
berikut :
Tabel . Presentase Komprebilitas Terhadap Sifat Alir Granul
%kompresibilitas Sifat Alir

5-15 Sangat baik

12-16 Baik

18-21 Cukup baik

23-35 Buuruk

35-38 Sangat buruk

>40 Sangat buruk sekali

Hasil :
Massa Volume sebelum pemampatan Volume setelah pemampatan
25 gram 51 41

BJ Bulk : BJ Mampat :

%kompresibilitas = – x 100%
BJ Mampat ( )

Pembahasan:

2. Evaluasi tablet
a. Pemeriksaan Organoleptik (Ansel, 1989)
Pemeriksaan organeleptik meliputi warna, rasa, bau,
penampilan (mengkilap atau kusam), tekstur permukaan (halus atau
kasar), derajat kecacatan seperti serpihan, dan kontaminasi benda
asing (rambut, tetesan minyak, kotoran). Warna yang tidak seragam
dan adanya kecacatan pada tablet selain dapat menurunkan nilai
estetikanya juga dapat menimbulkan persepsi adanya ketidak
seragaman kandungan dan kualitas produk yang buruk.

Hasil :

No Pemeriksaan Organoleptik Hasil

1 Warna

2 Rasa

3 Bau

4 Penampilan

5 Tekstur Permukaan

6 Kerusakan Beberapa Tablet

7 Kontaminasi Benda Asing

b. Keseragaman ukuran (Ansel, 1989)


Ukuran tablet meliputi diameter dan ketebalan. Ketebalan inilah
yang berhubungan dengan proses pembuatan tablet, karena harus
terkontrol sampai perbedaan 5 % dari nilai rata-rata. Pengontrolan
ketebalan tablet diperlukan agar dapat diterima oleh konsumen dan
dapat mempermudah pengemasan.

Hasil :

Tablet Ke- Diameter Ketebalan

3
4

Jumlah ( )

Rata-rata ( )

Diameter yang baik :

Diperoleh Range Diameter :

Pembahasan :

c. Keseragaman kesediaan
1. Keseragaman bobot (Depkes RI, 1979)
Bobot tablet yang dibuat harus diperiksa secara acak untuk
memastikan bahwa setiap tablet mengandung obat dengan
jumlah yang tepat. Syarat keseragam bobot menurut
Farmakope Indonesia Edisi III adalah bila bobot rata-rata lebih
kurang 300 mg, jika ditimbang satu persatu tidak lebih dari 2
buah tablet yang masing-masing bobotnya menyimpang 5%
dari bobot rata-ratanya, dan tidak ada satupun tablet yang
bobotnya menyimpang lebih dari 10% dari bobot rata-ratanya.
Alat yang digunakan : Timbangan

Cara pengukuran : Timbang 20 tablet, hitung bobot rata-rata


tiap tablet . Jika ditimbang satu persatu, tidak boleh lebih dari 2
tablet yang masing-masing bobotnya menyimpang dari bobot
rata-ratanya lebih besar dari harga yang ditetapkan kolom A,
dan tidak satupun yang bobotnya menyimpan g dari bobot rata-
rata lebih dari yang ditetapkan kolom B.
BOBOT PENYIMPANGAN BOBOT
RATA-RATA RATA-RATA DALAM %

A B
25 mg 15 % 30 %
ataukurang
26 mg - 150 10 % 20 %
mg
151 mg - 300 7,5 % 15 %
mg
Lebihdari 300 5% 10%
mg

Rumus :

Bobot rata-rata =

Penyimpangan =

Hasil :

Tablet Ke- Bobot (gram) %Penyimpangan

10

11
12

13

14

15

16

17

18

19

20

Jumlah ( )

Rata-rata ( )

Pembahasan :

d. Kekerasan
Tablet harus mempunyai kekuatan dan kekerasan tertentu
serta dapat bertahan dari berbagai goncangan mekanik pada saat
pembuatan, pengepakan dan transportasi. Alat yang biasa
digunakan adalah hardness tester (Banker and Anderson, 1984).
Kekerasan adalah parameter yang menggambarkan ketahanan
tablet dalam melawan tekanan mekanik seperti goncangan, kikisan
dan terjadi keretakan talet selama pembungkusan, pengangkutan
dan pemakaian. Kekerasan ini dipakai sebagai ukuran dari tekanan
pengempaan (Parrott, 1971).Keseragaman minimum 4 kg diukur
dengan alat Hardness tester.
Caranya :
Ambil masing-masing 6 tablet dari tiap batch , yang kemudian
diukur kekerasanya dengan alat pengukur kekerasan tablet.
Letakkan sebuah tablet dengan posisi tegak diantara anvit dan
punch, lalu tablet dijepit dengan cara memutar sampai tablet pecah
dan retak. Pada saat tersebut angka yang ditunjukkan oleh jarum
adalah kekerasan tablet tersebut.

Hasil:

Uji Kekerasan Tablet Menggunakan


Tablet Ke-
Hardness Tester
1
2
3
4
5
Rata-rata ( )

.
Pembahasan :

e. Friabilitas atau kerapuhan tablet (Lachman,1994)


Friabilitas dinyatakan dengan presentase selisih bobot sebelum
dan sesudah pengujian dibagi dengan bobot mula-mula .
Alat yang digunakan : Friabilator
Cara pengukuran :
Tablet yang akan diuji sebanyak 20 tablet, terlebih dahulu
dibersihkan dari sebunya dan ditimbang dengan seksama. Tablet
tersebut selanjutnya dimasukkan kedalam friabilator dan diputar
sebanyak 100 kali putaran selama 4 menit , jadi kecepatan
putaranya 25 putaran per menit. Setelah selesai, keluarkan tablet
dari alat, bersihkan dari debu dan timbang kembali seluruh tablet
dengan seksama. Kemudian hitung persentase kehilangan bobot
sebelum dan sesudah perlakuan.
Tablet yang baik memiliki keregasan kurang dari 1 %

Hasil :
Berat 20 tablet sebelum diuji (W1) =
Berat 20 tablet setelah diuji (W2) =
Friabilitas =

Pembahasan :

f. Waktu Hancur
Tidak lebih dari 15 menit untuk tablet biasa dan 60 menit untuk
tablet bersalut gula dan selaput.
Nama alat : Disintegration Tester tipe ZT 2-Erweka
Cara kerja :

1. Pengujian waktu menggunakan 6 buah tablet


2. Masukkan tablet pada masing-masing tabung kecil dari
keranjang.
3. Masukkan 1 cakram pada tiap-tiap tabung.
4. Gunakan air bersuhu 37 +/_ 2 c sebagai media yang ada di
penangas air yang ditermostatisasi.
5. Setelah alat dioperasikan ,keranjang akan bergerak keatas dan
kebawah sebanyak 30 kali dalam semenit.
6. Tablet hancur sempurna bila sisa sediaan yang tertinggal pada
kasa alat uji merupakan masa lunak yang tidak mempunyai inti
yang jelas. Bila 1 tablet atau 2 tablet tidak hancur sempurna,
ulangi pengujian dengan waktu yang ditambah sebanyak 15
menit. Semua tablet harus hancur tidak lebih dari 15 menit untuk
tablet tidak bersalut dan untuk tablet bersalut waktunya 60 menit.

Hasil :
Diperoleh waktu hancur untuk 6 tablet =

Pembahasan :
VII. ETIKET DAN BROSUR
Etiket
DAFTAR PUSTAKA

Anief, Moh. 2004. Ilmu Meracik Obat. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.

Ansel, Howard C. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, edisi keempat. Jakarta : UI-
Press.

Depkes RI. 1979. Farmakope Indonesia Ed III.Jakarta: Depkes RI.

Martindale The Extra Pharmacopoeia, twenty-eight edition. 1982. London : The


Pharmaceutical Press.

Wade, Ainley and Paul J Weller. 1994. Handbook of Pharmaceutical excipients, Ed


II. London: The Pharmaceutical Press Department of Pharmaceutical Sciences.