Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Secara umum, pada pengajaran matematika disemua jenjang pendidikan
dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi dihadapkan pada beberapa masalah
dan tantangan baik yang datang dari individu maupun yang datang dari
masyarakat.
Beberapa masalah dan tantangan pengajaran matematika berhubungan erat
dengan apa yang dinamakan masalah jastifikasi. Masalah ini merupakan
manifestasi masalah pada level masyarakat dan pada level individu. Pada level
yang pertama, masyarakat memerlukan orang-orang yang berpendidikan baik
agar mampu berkontribusi secara aktif untuk membentuk masyarakat yang
kritis dan bertindak secara sistematis, bersikap konsisten terhadap pendirian,
pekerja keras, mampu membuat berbagai macam prediksi dalam berbagai
macam konteks. Berkaitan dengan harapan level ini, perlu adanya peningkatan
jumlah generasi muda yang terdidik dengan kemampuan mengunakan
matematika yang diperoleh dari program pendidikan dengan memuat
komponen matematika yang kuat.
Pada level kedua, individu sendiri direfleksikan oleh apa yang dinamakan
paradoks relevansi. Meskipun pengetahuan matematika sangat relevan untuk
masyarakat, kebanyakan individu khususnya pelajar menghadapi kesulitan-
kesulitan untuk memahami bahwa matematika sangat relevan terhadap mereka
sebagai individu.
Pemahaman tentang matematika mempunyai korespondensi dengan proses
yang dilakukan oleh individu dalam pencapaian hasil dari proses itu.
Pencapaian hasil proses ini, akan bermakna jika telah dirumuskan tujuannya
untuk memenuhi kompetensi-kompetensi tertentu.
Sehubungan dengan tuntutan masyarakat dan individu, kompetensi-
kompotensi capaian dalam proses pembelajaran dalam setiap jenjang
pendidikan memerlukan pemahaman tenaga pendidik tentang relevansi
kompetensi itu dengan kebutuhan masyarakat dan individu. Capaian proses
pembelajaran pada umumnya ditentukan oleh masalah kemampuan pendidik
mengenal potensi awal perserta didik dalam matematika dan bentuk asesmen
yang cocok dengan kompetensi yang hendak dicapai.
Dalam aspek kemampuan mengenali potensi awal peserta didik tentang
matematika, sering luput dari pertimbangan khususnya dalam mengembangkan
metode pengajaran dan materi ajar. Sebagai contoh, anak-anak yang sering
bermain kelereng sangat pandai menentukan siapa pemenang dalam suatu
permainan dengan melihat jumlah kelereng yang ada saat terakhir mai
dibandingkan dengan jumlah kelereng sebelum main. Anak-anak itu juga
mengetahui bahwa kelerengnya berkurang jika beberapa kelerengnya dicuri
orang atau hilang, atau dia akan tahu bahwa kelerengnya bertambah saat
ibunya membelikannya lagi, bahkan mereka juga dapat membagi kelereng itu
kepada teman-teman dengan jumlah yang proporsional.
Sehubungan dengan masalah asismen, domain ini memuat dua hal, yaitu;
pertama, isu interpretasi dan yang kedua kecocokan antara mode dan bentuk
asismen yang digunakan serta tujuan khusus belajar-mengajar matematika saat
ini. Isu interpretasi mengacu pada masalah untuk mengetahui secara valid dan
reliabel apakah persepsi kita tentang penguasaan matematika menjadi
komponen utama. Domian ini merupakan aspek pendesainan dan pengadopsian
instrumen pengujian yang mampu menceritakan kepada kita apakah instrumen
itu betul-betul menjaring data pemahaman siswa, keterampilan, dan
pendalaman tentang matematika. Penggunaan instrumen ini tidak
mengkibatkan kekeliruan hasil, yaitu kekeliruan saat kita menggambarkan
capaian kompetensi matematika siswa.

B. Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dari penulisan
makalah ini adalah :
1. Kompetensi matematika
2. Langkah-langkah mendesain kompetensi dan karakter
3. Mendesain kompetensi berdasarkan kurikulum 2013

C. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini ialah mengetahui masalah masalah yang
terjadi pada rumusan masalah diatas.

D. Manfaat Penulisan
Adapun manfaat penulisan makalah ini adalah sebagai bahan pembelajaran
bagi penulis dan pembaca pada materi Pengembangan Kompetensi Matematika
dalam matakulian Perencanaa Pembelajaran Matematika.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Kompetensi matematika
Kompetensi disini maksudnya suatu kemampuan (siswa) dalam
melakukan sesuatu dengan baik sebagai hasil dari proses pembelajaran atau
pendidikan yang diikuti sebelumnya. Pengertian kompetensi berdasarkan
defenisi Mendiknas (SK.04/U/202), bahwa kompetensi merupakan seperangkat
tindakan cerdas, penuh tanggung jawab yang dimiliki oleh seseorang sebagai
syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas-
tugas di bidang tertentu.
Pengertian kompetensi yang diberikan Mendiknas ini, mengandung tiga
hal pokok yang menjadi potensi dalam kompetensi. Ketiga hal tersebut yaitu
akal pikiran (mental) yang berupa seperangkat tindakan cerdas, potensi pasaran
(emosi) berupa rasa penuh tanggung jawab, dan potensi untuk melaksanakan
tugas-tugas.
Kompetensi matematika diperoleh dari pembelajaran matematika.
Kompetensi pembelajaran matematika merupakan kompetensi yang harus
dimiliki oleh seorang peserta didi yang merupakan tujuan pembelajaran atau
hasil dari proses belajar, berupa pernyataan dan diharapkan dapat diketahui,
disikapi dan dilaksanakan oleh siswa/peserta didik yang menggambarkan
perkembangan kemajuan siswa/peserta didik secara bertahap sehingga pada
akhirnya menjadi seorang siswa/peserta didik yang berkompeten sesuai dengan
arah dari tujuan diadakannya pembelajaran tersebut.
Stephen P.Becker dan Jack Gordon mengemukakan beberapa unsur atau
elemen yang terkandung dalam konsep kompetensi yaitu :
1. Pengetahuan yaitu kesadaran dibidang kognitif
2. Pengertian yaitu kedalaman kognitif dan efektif yang dimiliki siswa
3. Keterampilan yaitu kemempuan individu untuk melakukan suatu tugas
atau pekerjaan dibebankan kepadanya
4. Nilai yaitu suatu norma yang telah diyakininya atau secara psikologis
telah menyatu dalam diri individu
5. Minat yaitu keadaan yang mendasari motivasi individu, keinginan yang
berkelanjutan, dan orientasi psikologis

B. Langkah-langkah mendesain kompetensi dan karakter


Pembentukan kompetensi dan karakter peserta didik perlu dilakukan
dengan tenang dan menyenangkan, hal ini tentu saja menuntut aktifitas dan
kreatifitas guru dalam menciptakan lingkugan yang kondusif. Pembentukan
kompetensi dan karakter dikatakan efektif apabila seluruh peserta didik terlihat
secara aktif, baik mental, fisik maupun sosialnya.
Pembentukan kompetensi dan karakter mencakup berbagai langkah yang
perlu ditempuh oleh peserta didik dan guru untuk mewujudkan kompetensi dan
karakter yang telah ditetapkan. Hal ini ditempuh melalui berbagai cara,
bergantug pada situasi, kondisi dan kebutuhan serta kemampuan peserta didik.
Pembelajaran dalam menyukseskan implementasi
kurikulum 2013 merupakan keseluruhan proses belajar,
pembentukan kompetensi, dan karakter peserta didik yang
direncakan. Untuk kepentingan tersebut kompetensi inti,
kompetensi dasar, materi standar, indicator hasil belajar, dan
waktu yang diperlukan harus ditetapkan sesuai dengan
kepentingan pembelajaran sehingga peserta didik diharapkan
memperoleh kesempatan dan pengelaman belajar yang
optimal. Dalam hal ini pemeblajaran pada hakikatnya adalah
proses interaksi antara peserta didik dan lingkungannya
sehingga terjadi perubahan prilaku kea rah lebih baik.
Pada umumnya kegiatan pembelajaran mencakup kegiatan
awal atau pembukaan, kegiatan inti, atau pembentukan
kompetensi dan karakter, serta kegiatan akhir atau penutup.
1. Kegiatan awal atau pembukaan
Kegiatan awal atau pembukaan pembelajaran berbasis
kompetensi dalam menyukseskan implementasi kurikulum
2013 mencakup pembinaan keakraban dan pre-test.
a. Pembinaan keakraban
Pembianaan keakraban perlu dilakukan untuk
menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif bagi
pembentukan kompetensi peserta didik, sehingga
tercipta hubungan yang harmonis antara guru sebagai
fasilitator dan peserta didik serta antara peserta didik
dengan peserta didik.
Tahap pembinaan keakraban ini bertujuan
untuk mengkondisikan para peserta didik agar mereka
siap melakukan kegiatan belajar. Para peserta didik
perlu mengenal terlebih dahulu antara yang satu
dengan yang lain. Saling mengenal merupakan
persyaratan tumbuhnya keakraban antara peserta didik
dan antara peserta didik dengan sumber belajar
( guru/belajar). Terbinanya suasana yang akrab amat
penting utnuk mengembangkan sikap terbuka dalam
kegiatan belajar, dan pembentukan kompetensi peserta
didik.
b. Pre-test atau tes awal
Setelah pembinaan keakraban, kegiatan
dilakukan dengan pre-test. Pre-test ini banyak
kegunaan dalam menjajagi proses pembelajaran yang
akan dilaksanakan. Fungsi pre-test ini antara lain dapat
dikemukakan sebagai berikut:
1) Untuk menyiapkan peserta didik dalam proses
belajar, karna dengan pre-test maka pikiran mereka
akan terfokus pada soal-soal yang harus mereka
jawab/kerjakan.
2) Untuk mengetahui tingkat kemajuan peserta didik
sehubungan dengan proses pembelajaran yang
dilakukan. Hal ini dapat dilakukan dengan
membandingkan hasil pre-test dengan posttes.
3) Untuk mengetahui kemampuan awal yang telah
dimiliki peserta didik mengenai bahan ajaran yang
akan dijadikan topik dalam proses pelajaran.
4) Untuk mengetahui dari mana seharusnya proses
pembelajaran dimulai, tujuan-tujuan mana yang telah
dikuasai peserta didik, dan tujuan-tujuan mana yang
perlu mendapat penekanan dan perhatian khusus.
2. Kegiatan inti atau pembentukan kompetensi dan karakter
Kegiatan inti pembelajaran antara lain mencakup
penyampaian informasi, membahas materi standar untuk
membentuk kompetensi dan karakter peserta didik, serta
melakukan tukar pengalaman dan pendapat dalam
membahas materi standar atau memecahkan masalah yang
dihadapi masalah. Dalam pembelajaran, peserta didik
dibantu oleh guru dalam melibatkan diri untuk membentuk
kopetensi dan karakter, serta mengembangkan dan
memodifikasi kegiatan pembelajaran.
Pembentukan kompetensi dan karakter pesrta didik
perlu dilakukan dengan tenang dan menyenangkan dan
pembentukan kompetensi dan karakter dikatakan efektif
apabila seluruh peserta didik terlibat secara aktif, baik
mental, fisik, maupun soaialnya. Pembentukan kompetensi
dan karakter mencakup berbagai langkah yang perlu
ditempuh oleh peserta didik dan guru untuk mewujudkan
kompetensi dan karakter yang telah ditetspksn. Hal ini
ditempuh melalui berbagai cara, bergantung pada situasi,
kondisi, dan kebutuhan serta kemampuan peserta didik.
prosedur yang ditempuh dalam pembentukan kompetensi
dan karakter adalah sebagai berikut:
a) Berdasarkan kompetensi dasar dan materi standar yang
telah dituangkan dalam rencana pelaksaan
pembelajaran (RPP), guru menjelaskan kompetensi
minimal yang harus dicapai peserta didik dan cara
belajar individual.
b) Guru menjelaskan materi standar secara logis dan
sistematis, pokok bahasan dikekmukakan dengan jelas
dan ditulis di papan tulis, memberi kesempatan peserta
didik untuk bertanya sampai materi standar tersebut
benar-benar dapat dikuasai.
c) Membagikan materi standar atau sumber belajar berupa
handout dan fotocopy beberapa bahan yang akan
dipelajari.
d) Membagikan lembaran kegiatan untuk setiap peserta
didik. lembaran kegiatan berisi tugas tentang materi
standar yang telah dijelaskan oleh guru dan dipelajari
peserta didik.
e) Guru memantau dan memriksa kegiatan peserta didik
dalam mengerjakan lembaran kegiatan, sekaligus
mebemrikan bantuan, arahan bagi mereka yang
memerlukan.
f) Setelah selesai diperiksa bersa-sama dengan cara
menukar pekerjaan dengan teman lain, lalu guru
menjelaskan setiap jawabannya.
g) Kekliruan dan kesalahan jawaban diperbaiki oleh peserta
didik, jika ada yang kurang jelas guru meberikan
kesempatan bertanya, tugas atau kegiatan mana yang
perlu penjelasan lebih lanjut.

Dalam pembentukan karakter dan kompetensi perlu


diusahakan untuk melibatkan peserta didik seoptimal
mungkin. Melibatkan peserta didik adalah meberikan
kesempatan dan mengikutsertakan mereka untuk turut
ambil bagian dalam proses pembelajaran.
3. Kegiatan akhir atau penutup
Kegiatan akhir pembelajaran atau penutup dapat
dilakukan dengan memberikan tugas dan post test. Tugas
yang diberikan merupakan tindak lanjut dari pembelajaran
ini atau pembentukan kompetensi, ysng berkenaan dengan
materi standar yang telah dipelajari maupun materi yang
akan dipelajari berikutnya. Tugas ini bisa merupakan
pengayaan dan remedial terhadap kegiatan inti
pembelajaran atau pembentukan kompentensi.

C. Mendesain kompetensi berdasarkan kurikulum 2013


Mendesain kompetensi berkarakter berdasarkan kurikulum
2013 ada tiga komponen yang harus dirumuskan yaitu :
kompetensi inti, kompetensi dasar dan indikator pencapaian
kompetensi
1. Kompetensi Inti
Merupakan terjemahan atau operasional standar
kompetensi lulusan dalam bentuk kualitas yang harus
dimiliki oleh peserta didik yang telah menyelesaikan
pendidikan pada satuan pendidikan tertentu atau
jenjang pendidikan tertentu, gambaran mengenai
kompetensi utama yang dikelompokan kedalam aspek
sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang harus
dipelajari peserta didik untuk suatu jenjang sekolah,
kelas dan mata pelajaran.
Kompetensi inti dibentuk dalam 4 kolompok yang
salin terkait yaitu berkenaan dengan sikap keagaamaan
(kompetensi inti 1), sikap sosila (kompetensi inti 2),
pengetahuan (kompetensi inti 3), dan penerapan
pengetahuan (kompetensi inti 4). Keempat kelompok
itu menjadi acuan dari kompetensi dasar dan harus
dikembangkan dalam setiap peristiwa pembelajaran
secara integratif.
2. Kompetensi Dasar
Penjabaran dari standar kompetensi yang menjadi
pendukung keberhasilan tercapainya standar
kompetensi. Sebisa mungkin kompetensi dasar dapat
diukur, dievaluasi, dicapai dan dibuktikan.
Langkah-langkah menyusun kompetensi dasar ialah
sebagai berikut :
a. Menjabarkan kompetensi dasar yang dimaksud
b. Tulislah rumusan kompetensi dasarnya
c. Mengkaji kompetensi dasar tersebut
mengindentifikasi indikatornya dan rumuskan
indikatornya yang dianggap relevan tanpa
memikirkan urutannya lebih dahulu juga
tentukan indikator-indikator yang relevan dan
tuliskan sesuai urutannya
d. Kajilah apakah semua indikator tersebut telah
mepresentasekan kompetensi dasarnya,
apabila belum lakukanlah analisis lanjutan
e. Tambahkan indikator lain sebelum dan sesudah
indikator yang terindentifikasi sebelumnya dan
rubahlah rumusan yang kurang tepat denga
lebih akurat dan pertimbangkan urutannya
Ada beberapa unsur dalam kompetensi dasar, yaitu :
a. Pengetahuan
b. Keterampilan
c. Sikap
3. Indikator
Berupa rumusan kompetensi yang lebih spesifik yang
menunjukan ciri-ciri peguasaan suatu kopetensi dasar.
Penulisan indikator ini mutlak harus dapat diukur,
dievaluasi, dicapai dan dibuktikan.
Adapun dalam mengembangkan indikator perlu
mempertimbangkan :
a. Tuntutan kompetensi yang dapat dilihat
melalui kata kerja yang digunkan dalam
kommpetensi dasar
b. Karakteristik mata pelajaran, peserta didik, dan
sekolah
c. Potensi dan kebutuhan peserta didik,
masyarakat dan lingkungan atau daerah
Dalam merumuskan indikator perlu diperhatikan
beberapa ketentuan sebagai berikut:
a. Setiap kompetensi dasar dikembangkan
sekurang-kurangnya menjadi tiga indikator
b. Keseluruhan indikator memenuhi tuntutan
kompetensi yang tertuang dalam kata kerja
yang digunakan KI dan KD. Indikator harus
mencapai tingkat kompetesi minimal KD dan
dapat dikembangkan melebihi kompetensi
minima sesuai denga potensi dan kebutuhan
peserta didik
c. Indikator yang dikembangkan harus
menggambarkan hirarki komptensi
d. Rumusan indikator sekurang-kurangnya
mencakup dua aspek, yaitu tingkatan
kompetensi dan materi pembelajaran
e. Indikator harus dapat mengakomodir
karakteristik mata pelajaran sehingga
menggunakan kata kerja operasional yang
sesuai
f. Rumusan indikator dapat dikembangkan
menjadi beberapa indikator penilaian yang
mencakup ranah kognitif, afektif, dan
psikomotik
Fungsi indikator ialah sebagai berikut :
a. Pedoman dalam mengembangkan
pembelajaran
b. Pedoman dalam mendesain kegiatan
pembelajaran
c. Pedoman dalam mengembangkan bahan ajar
d. Pedoman dalam merancang dan melaksanakan
penilaian hasil belajar
Jadi, dapat simpulkan bahwa indikator pencapaian
kompetensi merupakan :
a. Ciri prilaku yang dapat memberikan gambaran
bahwa peserta didik telah mencapai
kompetensi dasar
b. Penanda pencapaian kompetensi dasar yang
ditandai oleh perubahan prilaku yang dapat
diukur yang mencakup sikap, pengetahuan dan
keterampilan
c. Dikebangkan sesuai karakteristik peserta didik,
satuan pendidikan, dan potensi daerah
d. Rumusannya menggunakan katakerja
operasional yang terukur dan dapat diobservasi
e. Digunakan sebagai dasar menyusun alat
penilaian
Bahwa setiap item indikator pencapaian kompetensi
gurulah yang sangat berperan dalam mengembangkan
item indikator tersebut sesuai dengan keadaan peserta
didiknya.
4. Kata kerja operasinal dalam indikator
Dalam membuat rencana pelaksanaan pembelajaran, diperlukan
kata kerja opersional yang sesuai dengan tujuan pembelajaran yang kita
inginkan. beberapa kata kerja berikut dapat dijadikan referensi dalam
menyusun indikator pencapaian tujuan pembelajaran sesuai dengan tiga
ranah penilaian.
Kata Kerja Operasional untuk pengembangan Indikator Silabus
dan RPP berdasarkan taksonomi Bloom dibagi dalam beberapa
pencapaian kompetensi dasar, KD yang ditandai oleh perubahan
perilaku yang dapat diukur yang mencakup sikap, pengetahuan, dan
keterampilan. Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik
peserta didik, mata pelajaran, satuan pendidikan, potensi daerah dan
dirumuskan dalam kata kerja operasional yang terukur dan/atau dapat
diobservasi.
Taksonomi Bloom pertama kali disusun oleh Benjamin S.
Bloom pada tahun 1956. Dalam hal ini, tujuan pendidikan dibagi
menjadi beberapa domain (ranah, kawasan) dan setiap domain tersebut
dibagi kembali kedalam pembagian yang lebih rinci berdasarkan
hirarkinya.
Tujuan pendidikan dibagi kedalam tiga domain, yaitu:
1. Cognitive Domain (Ranah Kognitif), yang berisi perilaku-perilaku
yang menekankan aspek intelektual, seperti pengetahuan, pengertian, dan
keterampilan berpikir.
2. Affective Domain (Ranah Afektif) berisi perilaku-perilaku yang
menekankan aspek perasaan dan emosi, seperti minat, sikap, apresiasi, dan cara
penyesuaian diri.
3. Psychomotor Domain (Ranah Psikomotor) berisi perilaku-perilaku
yang menekankan aspek keterampilan motorik seperti tulisan tangan, mengetik,
berenang, dan mengoperasikan mesin.

a) Ranah Kognitif
1) Pengetahuan
Adapun beberapa hala yang terdapat dalam
pengetahuan yaitu : mengutip,
menyebutkan, menjelaskan, menggambar,
membilang, mengindentifikasi, mendaftar,
menunjukkan, memberi label, memberi
indeks, memasang, menamai, menandai,
membaca, menyadari, menghafal, meniru,
mencatat, mengulang, meninjau, memilih,
menyatakan, mempelajari, mentabulasi,
menelusuri dan menulis.
2) Pemahaman
Adapun hal-hal yang tercantum dalam
pemahaman yaitu : memperkirakan,
menjelaskan, mengkategorikan, mencirikan,
merinci, mengasosiasikan, membandingkan,
menghitung, mengkontraskan, mengubah,
mempertahankan, menguraikan, menjalin, membedakan,
mendiskusikan, menggali, mencontohkan, menerangkan,
mengemukakan, mempolakan, memperluas,
menyimpulkan, meramalkan, merangkum, menjabarkan.
3) Penerapan
Adapun hal-hal yang termasuk dalam penerapan yaitu :
menugaskan, mengurutkan, menentukan, menerapkan,
menyesuaikan, mengkalkulasi, memodifikasi,
mengklasifikasi, menghitung, membangun,
membiasakan, mencegah, menentukan, menggambarkan,
menggunakan, menilai, melatih, menggali,
mengemukakan, mengadaptasi, menyelidiki,
mengoperasikan, mempersoalkan, mengkonsepkan,
melaksanakan, meramalkan, memproduksi, memproses,
mengaitkan, menyusun, mensimulasikan, memecahkan,
melakukan, mentabulasi, memproses, meramalkan
4) Analisis
Adapun hal-hal yang termasuk dalam
analisis yaitu : menganalisis, mengaudit,
memecahkan, menegaskan, mendeteksi, mendiagnosis,
menyeleksi, merinci, menominasikan, mendiagramkan,
megkorelasikan, merasionalkan, mengji, mencerahkan,
menjelajahi, membagankan, menyimpulkan,
menemukan, menelaah, memaksimalkan,
memerintahkan, mengedit, mengaitkan, memilih,
mengukur, melatih, mentransfer
5) Sintetis
Adapun hal-hal yang termasuk dalam sintetis
yaitu : mengabstraksi, mengatur, menganimasi,
mengumpulkan, mengkategorikan, mengkode,
mengombinasikan, menyusun, mengarang, membangun,
menanggulangi, menghubungkan, menciptakan,
mengkreasikan, mengoreksi, merancang, merencanakan,
mendikte, meningkatkan, memperjelas, memfasilitasi,
membentuk, merumuskan, menggeneralisasi,
menggabungkan, memadukan, membatas, mereparasi,
menampilkan, menyiapkan, memproduksi, merangkum,
merekonstruksi
6) Penilaian
Adapun hal-hal yang termasuk kedalam penilaian yaitu :
membandingkan, menyimpulkan, menilai, mengarahkan,
mengkritik, menimbang, memutuskan, memisahkan,
memprediksi, memperjelas, menugaskan, menafsirkan,
mempertahankan, memerinci, mengukur, merangkum,
membuktikan, memvalidasi, mengetes, mendukung,
memilih, memproyeksikan
b) Ranah Afektif
1) Menerima
Memilih, mempertanyakan, mengikuti, memberi,
menganut, mematuhi, meminati
2) Menanggapi
Menjawab, membantu, mengajukan, mengompromikan,
menyenangi, menyambut, mendukung, menyetujui,
menampilkan, melaporkan, memilih, mengatakan,
memilah, menolak
3) Menilai
Mengasumsikan, meyakini, melengkapi, meyakinkan,
memperjelas, memprakarsai, mengimani, mengundang,
menggabungkan, mengusulkan, menekankan,
menyumbang
4) Mengelola
Menganut, mengubah, menata, mengklasifikasikan,
mengombinasikan, mempertahankan, membangun,
membentuk pendapat, memadukan, mengelola,
menegosiasi, merembuk
5) Menghayati
Mengubah perilaku, berakhlak mulia, mempengaruhi,
mendengarkan, mengkualifikasi, melayani,
menunjukkan, membuktikan, memecahkan
c) Ranah Psikomotorik
1) Menirukan
Mengaktifkan, menyesuaikan, menggabungkan,
melamar, mengatur, mengumpulkan, menimbang,
memperkecil, membangun, mengubah, membersihkan,
memposisikan, mengonstruksi
2) Memanipulasi
Mengoreksi, mendemonstrasikan, merancang, memilah,
melatih, memperbaiki, mengidentifikasikan, mengisi,
menempatkan, membuat, memanipulasi, mereparasi,
mencampur
3) Pengalamiahan
Mengalihkan, menggantikan, memutar, mengirim,
memindahkan, mendorong, menarik, memproduksi,
mencampur, mengoperasikan, mengemas, membungkus

4) Artikulasi
Mengalihkan, mempertajam, membentuk, memadankan,
menggunakan, memulai, menyetir, menjeniskan,
menempel, menseketsa, melonggarkan, menimbang
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Pengajaran matematika memiliki setidak-tidaknya dua kemampuan dasar
guru yaitu kemampuan memahami matematika sebagai ilmu dan kemampuan
mengemplementasikan pendekatan-pendekatan pengajaran.
Kemampuan pertama diperlukan untuk menyusun materi pembelajaran
dan evaluasi sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai dengan materi
tersebut. Kemampuan ini mencakup pemahaman konsep, pemahamani contoh,
dan pemahaan hasil. Kemampuan akan ditunjukkan oleh kesesuaian konteks
yang dipilih dengan sifat-sifat alami dari materi dan rumusan kompetensi yang
ingin dicapai.
Kemampuan kedua diperlukan untuk mendesain pengajaran yang akan
mengoptimalkan aktivitas sosial di dalam kelas untuk mengekplorasi potensi
siswa secara optimal. Kemampuan ini akan ditunjukkan oleh terjadi respon
positif siswa terhadap materi yang telah dirancang oleh guru, interaksi aktif
antara siswa.

B. Saran
Kami dari tim penulis mengharapkan kepada pembaca khusunya kepada
mereka yang berkecimpung dalam dunia pendidikan untuk melakukan tinjauan
ulang dan pemahaman secara mendalam tentang Pengembangan Kompetensi
Matematika. Hal ini dimaksud agar tidak adanya miskomunikasi antar oknum
dalam dunia pendidikan dan tujuan pendidikan dapat tercapai dengan baik.
DAFTAR PUSTAKA

Noviarni, 2014, Perencanaa Pembelajaran Matematika dan Aplikasinya


Menuju Guru yang Kreatif dan Inovatif, Pekanbaru;Benteng Media

Mulyasa, 2014, Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013,


Bandung;Remaja Rosdakarya

http://eprints.unsri.ac.id/787/1/2GANJIL_DARMAWIJOYO.pdf

http://berbagireferensi.blogspot.co.id/2010/05/kata-kerja-dalam-merumuskan-
indikator.html?m=1

http://achmadfauzi24.blogspot.co.id/2013/10/kata-kerja-operasional-untuk.html