Anda di halaman 1dari 26

MONEY LAUNDRY DALAM DUNIA PERBANKAN

MAKALAH HUKUM PERBANKAN

Dianjukan sebagai tugas mata kuliah Hukum Perbankan dibawah bimbingan Bapak

Purgito ,S.H.M.H.

Oleh kelompok 4 :
ACHMAD HUZEIN EDI SAPUTRA (2016021010)
HERIYANTO (2016020341)
IBNU TREATMOJO (2016021014)
RIKI SUWANDI (2016020352)
SARAH FITRAH RAMADHAN ( 2016020521)

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS PAMULANG
TANGERANG SELATAN
2019
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Lembaga perbankan merupakan salah satu lembaga lembaga keuangan

yang memiliki nilai teramat penting. Dalam berbagai kebijakan yag

dikeluarkan dapat mempengaruhi perekonomian suatu negara. Namun karena

pengaruhnya yang sangat besar maka tantangan terhadap dunia perbankan ini

sangat riskan. Termasuk berbagai kejahatan yang dilakukan oleh bank,

kemudian bank sebagai korban kejahatan, dan bank sebagai sarana antara

keduanya,Pada beberapa tahun terakhir ini, kejahatan-kejahatan yang

melibatkan uang mulai bermunculan. Salah satunya adalah Money laundry

yang jelas illegal karena memberi insentif dan perlindungan terhadap uang-

uang haram.

Telah kita ketahui bersama bahwa dampak yang ditimbulkan oleh

pencucian uang ini luar biasa, bahkan mengancam stabilitas ekonomi negara.

Hal ini dikarenakan pencucian uang ini sangat mempengaruhi perkembangan

berbagai kejahatan berat, seperti drugs trafficking, korupsi, illegal logging,

dan sebagainya.

Di bidang ekonomi pencucian uang dapat merongrong sektor swasta

yang sah karena biasanya pencucian uang dilakukan dengan menggunakan

perusahaan (front company) untuk mencampur uang haram dengan uang sah
sehingga bisnis yang sah kalah bersaing dengan perusahaan tersebut. Bagi

pemerintah sendiri dampak ikutan selanjutnya adalah meningkatnya

kejahatan-kejahatan di bidang keuangan dan menimbulkan biaya sosial yang

tinggi terutama untuk biaya dalam meningkatkan upaya penegakan

hukumnya.

Istilah pencucian uang atau money loundering telah dikenal sejak

tahun 1930 di Amerika Serikat, yaitu ketika mafia membeli perusahaan yang

sah dan resmi sebagai salah satu strateginya.1 Investasi terbesar adalah

perusahaan pencucian pakaian atau disebut Laundromats yang ketika itu

terkenal di Amerika Serikat. Usaha pencucian pakaian ini berkembang maju

dan berbagai perolehan uang hasil kejahatan seperti dari cabang usaha lainnya

ditanamkan ke perusahaan pencucian pakaian ini, seperti uang hasil minuman

keras illegal, hasil perjudian, dan hasil usaha pelacuran.2

Secara umum, money loundering merupakan metode untuk

menyembunyikan, memindahkan, dan menggunakan hasil dari suatu tindak

pidana, kegiatan organisasi tindak pidana, tindak pidana ekonomi, korupsi,

perdagangan narkotika dan kegiatan-kegiatan lainnya yang merupakan

aktivitas tindak pidana.3 Kegiatan pencucian uang melibatkan pencucian uang

yang sangat kompleks. Pada dasarnya kegiatan tersebut terdiri dari tiga

1
Sutedi,Adrian, “Tindak Pidana Pencucian Uang”, Citra Aditya Bakti. Bandung,2008,hlm
1.

2
Ibid, hlm 2A
3
Yunus Husein. Makalah: “Upaya Pemberantasan Pencucian Uang”, hlm 2.
langkah yang masing-masing berdiri sendiri tetapi seringkali dilakukan

bersama-sama yaitu placement, layering, dan integration.4

Pencucian uang dewasa ini sudah merambah berbagai aspek dan

berkembang sejalan dengan berkembangnya teknologi. Para pelaku pencucian

uang memanfaatkan teknologi sebagai alat dan penyedia jasa

keuangan/Perbangkan sebagai wadah untuk melakukan tindakan pencucian

uang. Kejahatan kerah putih dilakukan dengan memanfaatkan kecanggihan

teknologi mulai dari manual hingga extra sophisticated atau supercanggihyang

memasuki dunia maya (cyberspace) sehingga kejahatan kerah putih dalam

pencucian uang disebut dengan cyber loundering merupakan bagian dari

cybercrime yang didukung oleh pengetahuan tentang bank, bisnis, dan

electronic banking yang cukup.5

Karena perkembangan terhadap pencucian uang sangat pesat

khususnya dalam transaksi perbankan hingga merugikan perekonomian

negara, maka pemerintah bersama DPR membuat beberapa Undang-Undang

mengenai masalah pencucian uang dalam transaksi perbankkan dengan

harapan dapat meminimalisir dan/atau memberantas TPPU. Beberapa

Undang-Undang tersebut sebagai berikut: (1). UU Nomor 8 Tahun 2010

tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang; (2).

UU Nomor 23 tahun 2003 tentang Bank Indonesia.

4
Ibid, hlm 2.
5
Sutedi,Adrian. Op.cit, hlm 100
Tetapi tidak menutup kemungkinan terdapat beberapa aturan lain yang

dapat menunjang terhadap pemberantasan pencucian uang. Walaupun

Pemerintah bersama DPR telah membuat beberapa regulasi mengenai TPPU

tetapi Pelanggaran terhadap tindak pidana pencucian uang masih marak terjadi

terkhususnya pada transaksi perbankan. Maka dari itu penulis sangat tertarik

untuk mengkaji masalah ini. Untuk itu penulis mencoba menyajikanya dalam

makalah dengan judul money laudry dalam dunia perbankan. Sehingga

nantinya dapat dijadikan sebgai bahan untuk pembelajaran khusunya dalam

mata kuliah hukum perbankan.

B. Rumusan Masalah.

Untuk mengkaji mengenai money laundry atau pencucian uang dalam

dunia perbankan penulis mengambil rumusan masalah sebagai berikut :

1. Bagaimana definisi dari money laundry atau pencucian uang?

2. Bagaimana modus-modus yang digunakan pelaku money laundry dalam

dunia perbankan?
BAB II

PEMBAHASAN

A. Sejarah dan perkembangan money laundry

Problematik pencucian uang yang dalam bahasa Inggris

dikenal dengan sebutan money loundering sekarang mulai dibahas

dalam buku-buku teks, apakah itu buku teks hukum pidana atau

kriminologi.6 Ternyata problematika uang haram ini sudah meminta

perhatian dunia international karena dimensi dan implikasinya yang

melnggara batas-batas negara. Sebagai suatu fenomena kejahatan yang

menyangkut terutama dunia kejahatan yang dinamakan organized

crime, ternyata ada pihak-pihak tertentu yang ikut menikmati

keuntungan dari lalu lintas pencucian uang tanpa menyadari akan

dampak kerugian yang ditimbulkan. Erat bertalian dengan hal terakhir

ini adalah dunia perbankan yang pada satu sisi beroperasi atas dasar

kepercayaan para konsumen, namum pada sisi lain, apakah akan

membiarkan kejahatan pencucian uang ini terus merajalela.7

Al Capone, Penjahat terbesar di Amerika masa lalu, mencuci

uang hitam dari usaha kejahatannya dengan memakai si genius Mayer

Lansky, Orang Polandia. Lansky, seorang akuntan, mencuci uang

6
Sutedi,Adrian, “Hukum Perbankan suatu tinjauan pencucian uang, merger, likuidasi, dan
kepailitan”.Jakarta, 2007
7
Ibid.
kejahatan Al Capone melalui usaha binatu (Laundry). Demikian asal

muasal muncul nama money laundering.8

Istilah pencucian uang atau money laundering telah dikenal sejak

tahun 1930 di Amerika Serikat, yaitu ketika Mafia membeli

perusahaan yang sah dan resmi sebagai salah satu strateginya.

Investasi terbesar adalah perusahaan pencuci pakaian atau disebut

Laundromat yang ketika itu terkenal di Amerika Serikat. Usaha

pencucian pakaian ini berkembang maju, dan berbagai perolehan uang

hasil kejahatan seperti dari cabang usaha lainnya ditanamkan ke

perusahaan pencucian pakaian ini, seperti uang hasil minuman keras

ilegal, hasil perjudian, dan hasil usaha pelacuran. 9

Pada tahun 1980-an uang hasil kejahatan semakin berkembang,

dengan berkembangnya bisnis haram seperti perdagangan narkotik dan

obat bius yang mencapai miliaran rupiah sehingga kemudian muncul

istilah narco dollar, yang berasal dari uang haram hasil perdagangan

narkotika.10

B. Dasar hukum pencucian uang di indonesia.

Di Indonesia, hal ini diatur secara yuridis dalam Undang-Undang

Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan

8
Ibid.
9
Ibid.
10
Ibid.
Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang, di mana pencucian

uang dibedakan dalam tiga tindak pidana:

1. Tindak pidana pencucian uang aktif, yaitu Setiap Orang yang

menempatkan, mentransfer, mengalihkan, membelanjakan,

menbayarkan, menghibahkan, menitipkan, membawa ke luar

negeri, mengubah bentuk, menukarkan dengan uang uang atau

surat berharga atau perbuatan lain atas Harta Kekayaan yang

diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) dengan tujuan

menyembunyikan atau menyamarkan asal usul Harta Kekayaan.

(Pasal 3 UU RI No. 8 Tahun 2010).

2. Tindak pidana pencucian uang pasif yang dikenakan kepada setiap

Orang yang menerima atau menguasai penempatan, pentransferan,

pembayaran, hibah, sumbangan, penitipan, penukaran, atau

menggunakan Harta Kekayaan yang diketahuinya atau patut

diduganya merupakan hasil tindak pidana sebagaimana dimaksud

dalam Pasal 2 ayat (1). Hal tersebut dianggap juga sama dengan

melakukan pencucian uang. Namun, dikecualikan bagi Pihak

Pelapor yang melaksanakan kewajiban pelaporan sebagaimana

diatur dalam undang-undang ini. (Pasal 5 UU RI No. 8 Tahun

2010).
3. Dalam Pasal 4 UU RI No. 8/2010, dikenakan pula bagi mereka

yang menikmati hasil tindak pidana pencucian uang yang

dikenakan kepada setiap Orang yang menyembunyikan atau

menyamarkan asal usul, sumber lokasi, peruntukan, pengalihan

hak-hak, atau kepemilikan yang sebenarnya atas Harta Kekayaan

yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak

pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1). Hal ini pun

dianggap sama dengan melakukan pencucian uang.Sanksi bagi

pelaku tindak pidana pencucian uang adalah cukup berat, yakni

dimulai dari hukuman penjara paling lama maksimum 20 tahun,

dengan denda paling banyak 10 miliar rupiah.Hasil Tindak Pidana

Pencucian Uang (Pasal 2 UU RI No. 8 Tahun 2010)

Hasil tindak pidana adalah Harta Kekayaan yang diperoleh

dari tindak pidana: a. korupsi; b. penyuapan; c. narkotika; d.

psikotropika; e. penyelundupan tenaga kerja; f. penyelundupan

migran; g. di bidang perbankan; h. di bidang pasar modal; i. di

bidang perasuransian; j. kepabeanan; k. cukai; l. perdagangan

orang; m. perdagangan senjata gelap; n. terorisme; o. penculikan;

p. pencurian; q. penggelapan; r. penipuan; s. pemalsuan uang; t.

perjudian; u. prostitusi; v. di bidang perpajakan; w. di bidang

kehutanan; x. di bidang lingkungan hidup; y. di bidang kelautan

dan perikanan; atau z. tindak pidana lain yang diancam dengan


pidana penjara 4 (empat) tahun atau lebih, yang dilakukan di

wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia atau di luar wilayah

Negara Kesatuan Republik Indonesia dan tindak pidana tersebut

juga merupakan tindak pidana menurut hukum Indonesia.

Harta Kekayaan yang diketahui atau patut diduga akan

digunakan dan/atau digunakan secara langsung atau tidak langsung

untuk kegiatan terorisme, organisasi terorisme, atau teroris

perseorangan disamakan sebagai hasil tindak pidana sebagaimana

dimaksud pada ayat (1) huruf n

C. Pengertian money laundry

Tidak ada definisi yang seragam dan komperhensif mengenai

oencucian uang atau money loundering. Masing-masing negara

memiliki definisi mengenai pencucian uang sesuai dengan terminologi

kejahatan menurut hukum negara yang bersangkutan. Pihak penuntut

dan lembaga penyidikan kejahatan, kalangan pengusaha dan

perusahaan, negara-negara yang telah maju dan negara-negara dari

dunia ketiga, masing-masing mempunyai definisi sendiri berdasarkan

prioritas dan perspektif yang berbeda. Tetapi semua negara sepakat,

bahwa pemberantasan pencucian uang sangat penting untuk melawan

tindak pidana terorisme, bisnis narkoba, penipuan ataupun korupsi.11

11
Yustiavandana,Ivan(dkk),“Tindak Pidana Pencucian Uang di Pasar Modal”
Ghalia Indonesia. Bogor,2010 hlm 10.
Terdapat beberapa pengertian mengenai pencucian uang (money

loundering). Secara umum, pengertian atau definisi tersebut tidak jauh

berbeda satu sama lain. Black’s Law Dictionary memberikan

pengertian pencucian uang sebagai term used ti describe investment or

of other transfer of money flowing from rocketeeting, drug

transaction, and other illegal sources into legitimate channels so that

is original source cannot be traced. (Pencucian uang adalah istilah

untuk menggambarkan investasi dibidang-bidang yang legal melalui

jalur yang sah, sehingga uang tersebut tidak dapat diketahui lagi asal

usulnya). Pencucian uang adalah proses menghapus jejak asal uang

hasil kegiatan illegal atau kejahatan melalui serangkaian kegiatan

investasi atau transfer yang dilakukan berkali-kali dengan tujuan untuk

mendapatkan status legal untuk uang yang diinvestasikan atau

dimusnahkan ke dalam sistem keuangan.12

Pengertian pelaku tindak pidana pencucia uang menurut UU no 8

tahun 2010 tentang pencegahan dan pemberantasan tindak pidana

pencucian uang pada pasal (3) sebagai berikut: Setiap orang yang

menempatkan, mentransfer, mengalihkan, membelanjakan,

membayarkan,dan menghibahkan, menitipkan, membawa ke luar

negri, mengubah bentuk, menukarkan dengan mata uang atau surat

berharga atau perbuatan lain atas harta kekayaan yang diketahuinya


12
Ibid
atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana sebagaimana

dimaksud dalam pasal 2 ayat (1) dengan tujuan menyembunyikan atau

menyamarkan asal usul harta kekayaan dipidana karena tindak pidana

pencucian uang dengan pidana penjara paling lama 20 (dua puluh)

tahun dan denda paling banyak Rp 10.000.000.000,00 (sepuluh miliar

rupiah).13

D. Tahap tahan dan proses dalam money laundry

Untuk melaksanakan tindak pidana pencucian uang, para pelaku

memliki metode tersendiri dalam melakukan tindak pidana tersebut.

Walaupun setiap pelaku seringa melakukan dengan menggunakan

metode yang bervariasi tetapi secara garis besar metode pencucian

uang dapat dibagi menjadi tiga tahap yaitu Placement, Layering, dan

Integration. Walaupun ketiga metode tersebut dapat berdiri sendiri

atau mandiri terkadang dan tidak menutup kemungkinan ketiga

metode tersebut dilakukan secara bersamaan.

Berikut adalah penjelasan dari metode pencucian uang tersebut14:

1. Placement

Tahap ini merupakan tahap pertama, yaitu pemilik uang

tersebut mendepositkan uang haram tersebut ke dalam sistem

13
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan
Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

Sutedi,Adrian, “Tindak Pidana Pencucian Uang” ,Citra Aditya Bakti. Bandung,


14

2008,hlm 19
keuangan (financial system). Karena uang itu sudah masuk ke

dalam sistem kauangan perbankan, berarti uang itu juga telah

masuk ke dalam sistem keuangan negara yang bersangkutan.

Oleh karena uang yang telah ditempatkan pada suatu bank itu

selanjutnya dapat dipindahkan ke bank lain, baik dinegara

tersebut maupun di negara lain, uang tersebut bukan saja telah

masuk ke dalam sistem keuangan negara yang bersangkutan,

melainkan juga telah masuk kedalam sistem keuangan global

atau international.

2. Layering

Layering adalah memisahkan hasil tindak pidana dari

sumbernya, yaitu tindak pidananya melalui beberapa tahap

transaksi keuangan untuk menyembunyikan dan menyamarkan

asal usul dana. Dalam kegiatan ini terdapat proses perpindahan

dana dari beberapa rekening atau lokasi tertentu sebagai hasil

placement ke tempat lain melalui serangkaian transaksi yang

kompleks dan didesain untuk menyamarkan dan

menghilangkan jejak sumber dana tersebut.

3. Integration

Integration adalah upaya menggunakan harta kekayaan yang

telah tampak sah, baik untuk dinikmati langsung,

diinvestasikan ke dalam berbagai bentuk kekayaan materiil


atau keuangan, dipergunakan untuk membiayai kegiatan bisnis

yang sah, maupun untuk membiayai kembali kegiatan tindak

pidana. Dalam melakukan pencucian uang, pelaku tidak terlalu

mempertimbangkan hasil yang akan diperoleh dan besarnya

biaya yang harus dilakukan karena tujuan utamanya adalah

untuk menyamarkan dan menghilangkan asal usul uang

sehingga hasil akhir dapat dinikmati atau digunakan secara

aman.

E. Modus Modus Dalam Money Luandry

Berbagai cara dilakukan oleh para pelaku kejahatan money

laundry, seiring dengan perkembangan zaman yag kian modern

berkembang pula modus modus yang digunakan dalam tindakan

kejahatan mengenai modus modus yang digunakan dalam money

laundry diantaranya yaitu15 :

1. Pengalihan dana rekening

masyarakat harus sangat waspada jika terjadi pengalihan dana dari

rekening giro instansi pemerintah ke rekening tabungan atas nama

pribadi pejabat.

2. Identitas palsu

15
https://www.hukumonline.com/berita/baca/hol16002/hatihati-10-modusoperandi-
pencucian-uang/ diakses 20 november 2019.
pihak bank khususnya juga harus teliti karena maraknya

penggunaan identitas palsu untuk membuka rekening yang akan

digunakan sebagai sarana penipuan.

3. pengawasan bank juga harus ditingkatkan pada rekening pejabat

pemerintah berserta seluruh anggota keluarganya yang rentan

sebagai sasaran penyuapan.

4. uang suap juga sering diberikan dalam bentuk barang. Walaupun

barang tersebut dibeli atas nama si pejabat tapi sumber biayanya

mungkin datang dari pihak lain.

5. pembukaan beberapa rekening atas nama orang lain juga

merupakan modus operandi yang biasa dilakukan pelaku illegal

logging untuk menutupi identitasnya.

6. jasa asuransi pun mulai sering digunakan sebagai modus operandi

pencucian uang. Biasanya pelaku akan membeli polis asuransi jiwa

dengan premi tinggi yang langsung dibayarkan pada saat

penutupan polis tersebut. Selang beberapa waktu, polis akan

dibatalkan, dan premi yang dibayarkan akan dikembalikan

walaupun dikurangi denda.

7. perusahaan bermodal kecil juga dapat digunakan sebagai pemilik

polis asuransi yang berpremi besar untuk menutupi identitas asli

pelaku pencucian uang.


8. transfer uang dari luar negeri juga harus dicurigai karena besar

kemungkinan dana tersebut adalah hasil perbuatan melawan

hukum yang dikembalikan setelah diungsikan ke luar negeri.

9. restitusi pajak besar yang tidak sesuai dengan profil perusahaan

pembayar pajak juga da[at dicurigai sebagai upaya pencucian

uang. Terakhir.

10. populer disebut dengan istilah mark up, yaitu pencantuman

anggaran yang jauh lebih besar dari pada biaya yang sebenarnya

diperlukan.

Sedangkan modus lain yang digunakan adalah16 :

1. Loan Back, yakni dengan cara meminjam uangnya sendiri, Modus

ini terinci lagi dalam bentuk direct loan, dengan cara meminjam

uang dari perusahaan luar negeri, semacam perusahaan bayangan

(immobilen investment company) yang direksinya dan pemegang

sahamnya adalah dia sendiri, Dalam bentuk back to loan, dimana si

pelaku peminjam uang dari cabang bank asing secara stand by

letter of credit atau certificate of deposit bahwa uang didapat atas

dasar uang dari kejahatan, pinjaman itu kemudian tidak

dikembalikan sehingga jaminan bank dicairkan.

16
https://mediatorinvestor.wordpress.com/artikel/mengenal-money-laundering-dan-tahap-
tahap-proses-pencucian-uang/ diakses 20 november 2019.
2. Modus operasi C-Chase, metode ini cukup rumit karena memiliki

sifat liku-liku sebagai cara untuk menghapus jejak. Contoh dalam

kasus BCCI, dimana kurir-kurir datang ke bank Florida untuk

menyimpan dana sebesar US $ 10.000 supaya lolos dari kewajiban

lapor. Kemudian beberapa kali dilakukan transfer, yakni New

York ke Luxsemburg ke cabang bank Inggris, lalu disana

dikonfersi dalam bentuk certiface of deposit untuk menjamin loan

dalam jumlah yang sama yang diambil oleh orang Florida. Loan

buat negara karibia yang terkenal dengan tax Heavennya. Disini

Loan itu tidak pernah ditagih, namun hanya dengan mencairkan

sertifikat deposito itu saja. Dari Floria, uang terebut di transfer ke

Uruguay melalui rekening drug dealer dan disana uang itu

didistribusikan menurut keperluan dan bisnis yang serba gelap.

Hasil investasi ini dapat tercuci dan aman.

3. Modus transaksi transaksi dagang internasional, Modus ini

menggunakan sarana dokumen L/C. Karena menjadi fokus urusan

bank baik bank koresponden maupun opening bank adalah

dokumen bank itu sendiri dan tidak mengenal keadaan barang,

maka hal ini dapat menjadi sasaran money laundrying, berupa

membuat invoice yang besar terhadap barang yang kecil atau

malahan barang itu tidak ada.


4. Modus penyelundupan uang tunai atau sistem bank paralel ke

Negara lain. Modus ini menyelundupkan sejumah fisik uang itu ke

luar negeri. Berhubung dengan cara ini terdapat resiko seperti

dirampok, hilang atau tertangkap maka digunakan modus berupa

electronic transfer, yakni mentransfer dari satu Negara ke negara

lain tanpa perpindahan fisik uang itu.

5. Modus akuisisi, yang diakui sisi adalah perusahaanya

sendiri.Contoh seorang pemilik perusahaan di indonesia yang

memiliki perusahaan secara gelap pula di Cayman Island, negara

tax haven. Hasil usaha di cayman didepositokan atas nama

perusahaan yang ada di Indonesia. Kemudian perusahaan yang ada

di Cayman membeli saham-saham dari perusahaan yang ada di

Indonesia (secara akuisisi). Dengan cara ini pemilik perusahaan di

Indonesia memliki dana yang sah, karena telah tercuci melalui

hasil pejualan saham-sahamnya di perusahaan Indonesia.

6. Modus Real estate Carousel, yakni dengan menjual suatu property

berkai-kali kepada perusahaan di dalam kelompok yang sama.

Pelaku Money Laundrying memiliki sejumlah perusahaan

(pemegang saham mayoritas) dalam bentuk real estate. Dari satu

ke lain perusahaan.

7. Modus Investasi Tertentu, Investasi tertentu ini biasanya dalam

bisnis transaksi barang atau lukisan atau antik. Misalnya pelaku


membeli barang lukisa dan kemudian menjualnya kepada

seseorang yang sebenarnya adalah suruhan si pelaku itu sendiri

dengan harga mahal. Lukisan dengan harga tak terukur, dapat

ditetapkan harga setinggitingginya dan bersifat sah. Dana hasil

penjualan lukisan tersebut dapat dikategorikan sebagai dana yang

sudah sah.

8. Modus over invoices atau double invoice. Modus ini dilakukan

dengan mendirikan perusahaan ekspor-impor negara sendiri, lalu

diluar negeri (yang bersistem tax haven) mendirikan pula

perusahaan bayangan (shell company). Perusahaan di Negara tax

Haven ini mengekspor barang ke Indonesia dan perusahaan yang

ada d diluar negeri itu membuat invoice pembelian dengan harga

tingi inilah yang disebut over invoice dan bila dibuat 2 invoices,

maka disebut double invoices.

9. Modus Perdagangan Saham, Modus ini pernah terjadi di Belanda.

Dalam suatu kasus di Busra efek Amsterdam, dengan melibatkan

perusahaan efek Nusse Brink, dimana beberapa nasabah

perusahaan efek ini menjadi pelaku pencucian uang. Artinya dana

dari nasabahnya yang diinvestasi ini bersumber dari uang gelap.

Nussre brink membuat 2 (dua) buah rekening bagi nasabah-

nasabah tersebut, yang satu untuk nasabah yag rugi dan satu yang

memiliki keuntungan. Rekening di upayakan dibuka di tempat


yang sangat terjamin proteksi kerahasaannya, supaya sulit

ditelusuri siapa benefecial owner dari rekening tersebut.

10. Modus Pizza Cinnction. Modus ini dilakukan dengan

mnginvestasikan hasil perdagangan obat bius diinvestasikan untuk

mendapat konsesi pizza, sementara sisi lainnya diinvestasikan di

Karibia dan Swiss.

11. Modus la Mina, kasus yang dipandang sebagai modus dalam

money laundrying terjadi di Amerika Serikat tahun 1990. dana

yang diperoleh dari perdagangan obat bius diserahkan kepada

perdagangan grosiran emas dan permata sebagai suatu sindikat.

Kemudian emas, kemudian batangan diekspor dari Uruguay

dengan maksud supaya impornya bersifat legal. Uang disimpan

dalam desain kotak kemasan emas, kemudian dikirim kepada

pedagang perhiasan yang bersindikat mafia obat bius. Penjualan

dilakukan di Los Angeles, hasil uang tunai dibawa ke bank dengan

maksud supaya seakan-akan berasal dari kota ini dikirim ke bank

New York dan dari kota ini di kirim ke bank New York dan dari

kota ini dikirim ke bank Eropa melalui Negara Panama. Uang

tersebut akhirnya sampai di Kolombia guna didistribusi dalam

berupa membayar onkosongkos, untuk investasi perdagangan obat

bius, tetapi sebagian untuk unvestasi jangka panjang.


12. Modus Deposit taking, Mendirikan perusahaan keuangan seperti

Deposit taking Institution (DTI) Canada. DTI ini terkenal dengan

sarana pencucian uangnya seperti chartered bank, trust company

dan credit union. Kasus Money Laundrying ini melibatkan DTI

antara lain transfer melalui telex, surat berharga, penukaran valuta

asing, pembelian obligasi pemerintahan dan teasury bills.

13. Modus Identitas Palsu, Yakni memanfaatkan lembaga perbankan

sebagai mesin pemutih uang dengan cara mendepositokan dengan

nama palsu, menggunakan safe deposit box untuk

menyembunyikan hasil kejahatan, menyediakan fasilatas transfer

supaya dengan mudah ditransfer ke tempat yang dikehendaki atau

menggunakan elektronic fund transfer untuk melunasi kewajiban

transaksi gelap, menyimpan atau mendistribusikan hasil transaksi

gelap itu

F. METODE DALAM MOENY LAUNDRY

Perlu pula diketahui bagaimana para pelaku money laundering

melakukan money laundering, sehingga bisa dicapai hasil dari uang

ilegal menjadi uang legal. Secara metodik dapat dikenal tiga metode

dalam money laundering yaitu17:

(1) Metode buy and sell conversion

17
Siahaan, “Money laundering dan kejahatan perbankan “, Jala. Jakarta, 2008, hlm 26.
Metode ini dilakukan melalui transaksi barang-barang dan jasa.

Katakanlah suatu aset dapat dibeli dan dijual kepada konspirator

yang bersedia membeli atau menjual secara lebih mahal dari harga

normal dengan mendapatkan fee atau diskon. Selisih harga

dibayar dengan uang ilegal dan kemudian dicuci dengan cara

transaksi bisnis. Barang dan jasa itu dapat diubah seolah-olah

menjadi hasil yang legal melalui rekening pribadi atau perusahaan

yang ada di suatu bank.

(2) Metode offshore conversion

Dengan cara ini uang kotor di konversi ke suatu wilayah yang

merupakan tempat yang sangat menyenakan bagi penghindar

pajak (tax heaven money laundering centres) untuk kemudian

didepositkan di bank yang berada di wilayah tersebut. Di negara-

negara yang termasuk atau beciri tax heaven demikian memang

terdapat sistem hukum perpajakan yang tidak ketat, terdapat

sistem rahasia bank yang sangat ketat, birokrasi bisnis yang cukup

mudah untuk memungkinkan adanya rahasia bisnis yang ketat

serta pembentukan usaha trust fund. Untuk mendukung kegiatan

demikian, para pelakunya memakai jasa-jasa pengacara, akuntan,

dan konsultan keuangan dan para pengelola yang handal untuk

memanfaatkan segala celah yang ada di negara itu.

(3) Metode legitimate business conversions.


Metode ini dilakukan melalui kegiatan bisnis yang sah sebagai

cara pengalihan atau pemanfaatan dari suatu hasil uang kotor.

Hasil uang kotor ini kemudian dikonvensi dngan cara ditransfer,

cek atau cara pembayaran lain untuk disimpan direkening bank

atau ditransfer kemudian kerekening bank lainnya. Biasanya para

pelaku bekerja sama dengan suatu perusahaan yang rekeningnya

dapat dipergunakan untuk menampung uang kotor

tersebut.
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Berdasarkan latar belakang dan pembahasan tersebut, maka dapat di tarik

kesimulan bahwa money laundry atau pencucian uang adalah suatu upaya

untuk menyembunyikan atau menyamarkan asal usul uang agar uang tau

harta kekayaan tersebut tampak seolah olah berasal dari kegiatan yang sah

atau legal. Money laundry atau pencucian uag sendiri memiliki sejarah

yang panjang hingga n ini

2. Seiring dengan perkembangan zaman yang kian moderen dan

berkembang, dan kemudahan dalam mengakses teknologi informasi

makan semakin berkembang pula praktik cara yang dilakukan oleh pihak

pihak yang ingin mengambil keuntungan khusunya dalam praktik money

laundring atau pencucian uang sendiri, tentunya dilakukan dengan

berbagai cara dan modus diantaranya yaitu identitas palsu, pengalihan

rekening, modus investasi tertentu, perdagangan saham dan beberapa

lainya.

B. Saran

Kami kelompok 4 menyadari masih banyak kekurangan dalam

penyusunan makalah ini kami mengharapkan kedepannya dapat lebih baik

daam penyusunan makalah ini khusunya mengenai money laundry dalam


dunia perbankan dan kami berharap makalah ini dapat menjadi bahan

pembelajaran atau referensi lain mengenai money laundry dalam dunia

perbankan.
DAFTAR PUSTAKA

https://mediatorinvestor.wordpress.com/artikel/mengenal-money-laundering-dan-
tahap-tahap-proses-pencucian-uang/ diakses 20 november 2019.

https://www.hukumonline.com/berita/baca/hol16002/hatihati-10-
modusoperandi-pencucian-uang/ diakses 20 november 2019.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan


dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

Siahaan. “ Money laundering dan kejahatan perbanka”. Jala. Jakarta.2008

Sutedi,Adrian. 2008. Tindak Pidana Pencucian Uang. Citra Aditya Bakti.


Bandung.

Sutedi,Adrian, “Hukum Perbankan suatu tinjauan pencucian uang,


merger, likuidasi, dan kepailitan”.Jakarta, 2007.

Yunus Husein. Makalah: “Upaya Pemberantasan Pencucian Uang”.

Yustiavandana,Ivan(dkk). “Tindak Pidana Pencucian Uang di Pasar Modal”


Ghalia Indonesia. Bogor,2010