Anda di halaman 1dari 136

ASUHAN KEPERAWATAN LANSIA DENGAN DEPRESI

OLEH:
B12 - B

I GEDE PUTRA SAINAN JAYA 193223116

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN WIRA MEDIKA PPNI BALI


PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
2020
KATA PENGANTAR
Marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena atas izinnya
kami dapat menyusun dan menyelesaikan Makalah dengan judul “Asuhan Keperawatan
Lansia dengan Depresi” dengan tepat pada waktunya.

Kami sudah berusaha menyusun makalah ini sebaik mungkin, akan tetapi kami
menyadari bahwa makalah  ini masih jauh dari kata sempurna. Namun berkat arahan,
bimbingan, dan bantuan dari berbagai pihak termasuk dosen dan teman-teman, makalah ini
dapat kami selesaikan tepat pada waktunya. Oleh karena itu, pada kesempatan ini kami
menyampaikan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu serta memberikan
arahan dan bimbingan kepada kami.

Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya, dan bagi pembaca
umumnya. Kami sebagai penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun
demi kesempurnaan tugas ini.

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR........................................................................................................i
DAFTAR ISI.....................................................................................................................ii
BAB I.................................................................................................................................1
PENDAHULUAN.............................................................................................................1
A. Latar Belakang........................................................................................................1
B. Rumusan Masalah..................................................................................................1
C. Tujuan.....................................................................................................................2
D. Manfaat...................................................................................................................2
BAB II...............................................................................................................................3
TINJAUAN PUSTAKA....................................................................................................3
A. Pengertian Lansia...................................................................................................3
B. Batasan umur lanjut usia........................................................................................3
C. Pengertian Depresi..................................................................................................3
D. Penyebab.................................................................................................................4
E. Tanda dan Gejala....................................................................................................6
F. Tingkat Depresi......................................................................................................6
G. Gambaran klinis depresi pada usia lanjut...............................................................7
H. Pemeriksaan Diagnostic.........................................................................................8
I. Penatalaksanaan Depresi pada Lanjut Usia............................................................8
BAB III............................................................................................................................38
PENUTUP.......................................................................................................................38
A. Simpulan...............................................................................................................38
B. Saran.....................................................................................................................38
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................39
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Setiap manusia pasti mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan dari
bayi sampai menjadi tua. Lansia atau lanjut usia adalah periode dimana manusia
telah mencapai kemasakan dalam ukuran dan fungsi. Selain itu, lansia juga masa
dimana seseorang akan mengalami kemunduran dengan sejalannya waktu. Ada
beberapa pendapat mengenai usia seorang dianggap memasuki masa lansia, yaitu
ada yang menetapkan pada umur 60 tahun, 65 tahun, dan ada juga yang 70 tahun.
Tetapi Badan Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan bahwa umur 65 tahun, sebagai
usia yang menunjukkan seseorang telah mengalami proses menua yang berlangsung
secara nyata dan seseorang itu telah disebut lansia.
Masa tua merupakan masa hidup manusia yang terakhir, dimana pada manusia
seseorang mengalami kemunduruan fisik, mental dan social sedikit demi sedikit
sehingga tidak dapat melakukan tugasnya sehari-hari lagi. Lansia banyak
menghadapi berbagai masalah kesehatan seperti penyakit degeneratif yang perlu
penangan segera dan terintegrasi. Selain masalah fisik tersebut, lansia juga sering
mengalami masalah psikologis, salah satunya adalah depresi. Jumlah penduduk
lanjut usia mengalami peningkatan hampir mencapai 50% dari penduduk lanjut usia
yang mengalami depresi (Kantor Menteri Kependudukan/BKKBN, 1999).
Kalangan ilmuwan di National Institute of Aging dalam sebuah artikel yang dimuat
dalam jurnal Gerontologi (dalam Peplau, 1990) mengatakan bahwa berdasarkan
penelitian yang telah dilakukan, separuh dari jumlah orang tua berusia lanjut
meninggal dalam perasaan hampa, terasing, tidak berdaya serta depresi.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan lansia?
2. Bagaimana batasan umur orang dikatakan lansia?
3. Apa yang dimaksud dengan depresi?
4. Apa penyebab depresi pada lansia?
5. Apa tanda dan gejala depresi pada lansia?
6. Bagaimana tingkat depresi pada lansia?
7. Bagaimana gambaran klinis depresi pada lansia?
8. Bagaimana pemeriksaan diagnostic depresi pada lansia
9. Bagaimana penatalaksanaan depresi pada lansia?
10. Bagaimana contoh kasus asuhan keperawatan lansia dengan depresi?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian lansia
2. Untuk mengetahui batasan umur pada lansia
3. Untuk mengetahui pengertian depresi
4. Untuk mengetahui penyebab depresi pada lansia
5. Untuk mengetahui tanda dan gejala depresi pada lansia
6. Untuk mengetahui tingkat depresi pada lansia
7. Untuk mengetahui gambaran klinis depresi pada lansia
8. Untuk mengetahui pemeriksaan diagnostic depresi pada lansia
9. Untuk mengetahui penatalaksanaan depresi pada lansia
10. Untuk mengetahui contoh kasus asuhan keperawatan lansia dengan depresi

D. Manfaat
Dengan mempelajari asuhan keperawatan lansia dengan depresi diharapkan
mahasiswa mampu memahami tentang hal tersebut dan dapat memberikan
pelayanan terbaik bagi lansia.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

I. Konsep Dasar Penyakit

A. Pengertian Lansia
Menurut UU No.13 tahun 1998 tentang kesejahteraan lanjut usia
menyatakan bahwa lanjut usia (lansia) adalah seseorang yang telah mencapai
usia 60 tahun ke atas. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1995 dalam
Sunaryo, 2016), lanjut usia (lansia) adalah tahap masa tua dalam perkembangan
individu dengan batas usia 60 tahun ke atas. Berdasarkan pengertian tersebut
dapat disimpulkan bahwa lansia adalah seseorang yang telah berumur diatas 60
tahun.

B. Batasan umur lanjut usia


Batasan umur lansia menurut WHO (dalam Sunaryo,2016) dibagi menjadi
empat bagian yaitu :
1. Usia pertengahan : 45-59 tahun
2. Lanjut usia : 60 – 74 tahun
3. Lanjut usia tua : 75- 90 tahun
4. Usia sangat tua : diatas 90 tahun

C. Pengertian Depresi
1. Depresi menurut WHO (2010) merupakan suatu gangguan mental umum
yang ditandai dengan mood tertekan, kehilangan kesenangan atau minat,
perasaan bersalah atau harga diri rendah, gangguan makan atau tidur, kurang
energi,dan konsentrasi yang rendah.
2. Depresi adalah perasaan sedih, ketidakberdayaan dan pesimis yang
berhubungan dengan suatu penderitaan. Dapat berupa serangan yang
ditujukan kepada diri sendiri atau perasaan marah yang dalam (Nugroho,
2012)
3. Depresi merupakan kondisi emosional yang biasanya ditandai dengan
kesedihan yang amat sangat mendalam, perasaan tidak berarti dan bersalah,
menarik diri dari orang lain dan tidak dapat tidur, kehilangan selera makan,
hasrat seksual dan minat serta kesenangan dalam aktivitas yang biasa
dilakukan (Davison dkk, 2006).

D. Penyebab
Dalam Kaplan & Sadock, 2010 penyebab terjadinya depresi adalah :
1. Faktor Biologis
Banyak penelitian melaporkan abnormalitas metabolit amin biogenic- seperti
asam 5-hidroksiindolasetat (5-HIAA), asam homovanilat (HVA) dan 3
metoksi-4-hidroksifenilglikol (MHPG)- di dalam darah, urine dan cairan
serebrospinalis pasien dengan gangguan mood. Laporan data ini paling
konsisten dengan hipotesisi bahwa gangguan mood disebabkan oleh
disregulasi heterogen amin biogenic.
2. Faktor Genetik
Data genetik dengan kuat menunjukkan bahwa faktor genetik yang
signifikan terlibat dalam timbulnya gangguan mood tetapi pola pewarisan
genetik terjadi melalui mekanisme yang kompleks. Tidak hanya
menyingkirkan pengaruh psikososial tetapi faktor nongenetik mungkin
memiliki peranan kausatif didalam timbulnya gangguan mood pada beberapa
orang. Komponen genetik memiliki peranan yang bermakna didalam
gangguan bipolar I daripada gangguan depresi berat.
3. Faktor Psikososial
Peristiwa hidup dan penuh tekanan lebih sering timbul mendahului episode
gangguan mood yang mengikuti. Hubungan ini telah dilaporkan untuk
pasien gangguan depresif berat dan gangguan depresif I. sebuah teori yang
diajukan untuk menerangkan pengamatan ini adalah bahwa stress yang
menyertai episode pertama mengakibatkan perubahan yang bertahan lama
didalam biologi otak.Perubahan yang bertahan lama ini, dapat menghasilkan
perubahan keadaan fungsional berbagai neurotransmitter dan system
pemberian sinyal interaneuron, perubahan yang bahkan mencakup hilangnya
neuron dan berkurangnya kontak sinaps yang berlebihan. Akibatnya
seseorang memiliki resiko tinggi mengalami episode gangguan mood
berikutnya, bahkan tanpa stressor eksternal.
Sejumlah klinis bahwa peristiwa hidup memegang peranan utama dalam
depresi. Klinisi lain menunjukkan bahwa peristiwa hidup hanya memegang
peranan terbatas dalam awitan dan waktu depresi. Data yang paling
meyakinkan menunjukkan bahwa peristiwa hidup yang paling sering
menyebabkan timbulnya depresi dikemudian hari pada seseorang adalah
kehilangan orang tua sebelum usia 11 tahun. Stresor lingkungan yang paling
sering menyebabkan timbulnya awitan depresi adalah kematian pasangan.
Factor resiko lain adalah PHK.Seseorang yang keluar dari pekerjaan
sebanyak tiga kali lebih cenderung memberikan laporan gejala episode
depresif berat daripada orang yang bekerja.
4. Faktor Kepribadian
Tidak ada satupun ciri bawaan atau jenis kepribadian yang secara khas
merupakan predisposisi seseorang mengalami depresi dibawah situasi yang
sesuai. Orang dengan gangguan kepribadian tertentu seperti objektif
kompulsif, histrionic dan borderline mungkin memiliki resiko yang lebih
besar untuk mengalami depresi daripada orang dengan gangguan kepribadian
antisocial atau paranoid. Gangguan kepribadian paranoid dapat
menggunakan mekanisme defense proyeksi dan mekanisme eksternalisasi
lainnya untuk melindungi diri mereka dari kemarahan didalam dirinya.
Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa gangguan kepribadian tertentu
terkait dengan timbulnya gangguan bipolar I dikemudian hari. Meskipun
demikian, orang dengan gangguan distemik dan siklotimik memiliki resiko
gangguan depresi berat atau gangguan bipolar I kemudian hari.
5. Faktor Psikodinamik Depresi
Pemahaman psikodinamik depresi yang dijelaskan oleh Sigmund freud dan
dikembangkan Karl Abraham dikenal dengan pandangan klasik mengenai
depresi. Teori ini memiliki 4 poin penting :
a. Gangguan hubungan ibu-bayi selama fase oral (10-18 bulanpertama
kehidupan) menjadi predisposisi kerentanan selanjutnya terhadap
depresi
b. Depresi dapat terkait dengan kehilangan objek yang nyata atau
khayalan
c. Introyeksi objek yang meninggal adalah mekanisme pertahanan yang
dilakukan untuk menghadapi penderitaan akibat kehilangan objek
d. Kehilangan objek dianggap sebagai campuran cinta dan benci sehingga
rasa marah diarahkan kedalam diri sendiri.

E. Tanda dan Gejala


PPDGJ-III (Pedoman Penggolongan Diagnostik Gangguan Jiwa III) dalam
penelitian Ani (2012) yang menyebutkan depresi gejala menjadi utama dan
lainnya seperti dibawah ini :
Gejala utama meliputi :
1. Perasaan depresif atau perasaan tertekan
2. Kehilangan minat dan semangat
3. Berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah.
Gejala lain meliputi :
1. Konsentrasi dan perhatian berkurang
2. Perasaan bersalah dan tidak berguna
3. Tidur terganggu
4. Harga diri dan kepercayaan diri berkurang
5. Perbuatan yang membahayakan diri atau bunuh diri
6. Pesimistik
7. Nafsu makan berkurang

F. Tingkat Depresi
Berpedoman pada PPDGJ III dalam penelitian Ani (2012) dijelaskan bahwa,
depresi digolongkan ke dalam depresi berat, sedang dan ringan sesuai dengan
banyk dan beratnya gejala serta dampaknya terhadap fungsi kehidupan
seseorang. Gejala tersebut terdiri atas gejala utama dan gejala lainnya yaitu :
1. Ringan, sekurang-kurangnya harus ada dua dari tiga gejala depresi utama
ditambah dua dari gejala lainnya namun tidak boleh ada gejala berat
diantaranya. Lama periode depresi sekurang- kurangnya selama dua minggu.
Hanya sedikit kesulitan kegiatan sosial yang umum dilakukan.
2. Sedang, sekurang-kurangnya harus ada dua dari tiga gejala utama depresi
seperti pada episode depresi ringan ditambah tiga atau empat dari gejala
lainnya. Lama episode depresi minimum dua minggu serta menghadaapi
kesulitan nyata untuk meneruskan kegiatan sosial.
3. Berat, tanpa gejala psikotik yaitu semua tiga gejala utama harus ada
ditambah sekurang-kurangnya empat dari gejala lainnya. Lama episode
sekurang-kurangnya dua minggu akan tetapi apabila gejala sangat berat dan
onset sangat cepat maka dibenarkan untuk menegakkan diagnosa dalam
kurun waktu dalam dua minggu. Orang sangat tidak mungkin akan mampu
meneruska kegiatan sosialnya.

G. Gambaran klinis depresi pada usia lanjut


Mengenali depresi pada usia lanjut memerlukan suatu keterampilan dan
pengalaman, karena manifestasi gejala-gejala depresi klasik (perasaan sedih,
kurang semangat, hilangnya minat/hobi atau menurunya aktivitas) sering tidak
muncul. Sangat tidak mudah untuk membedakan sekuele gejala psikologik
akibat penyakit fisik dari gangguan depresi atau gejala somatik depresi dari efek
sistemik penyakit fisik. Keduanya bisa saja terjadi pada seorang individu usia
lanjut pada saat yang sama. Usia lanjut yang mengalami depresi bisa saja
mengeluhkan mood yang menurun, namun kebanyakan menyangkal adanya
mood depresi, yang sering terlihat adalah gejala hilangnya tenaga/energi,
hilangnya rasa senang, tidak bisa tidur, atau kehilangan rasa sakit/nyeri (Depkes
RI, 2001).
Menurut Brodaty, 1991 dalam Depkes RI (2001), gejala yang sering muncul
adalah anxietas atau kecemasan, preokupasi gejala fisik, perlambatan motorik,
kelelahan, mencela diri sendiri, pikiran bunuh diri, dan insomnia. Sedangkan
gejala depersonalisasi, rasa bersalah, minat seksual menurun agak jarang.
Sebagai petunjuk kearah depresi perlu diperhatikan tanda-tanda berikut (Depkes
RI, 2001) :
a. Rasa lelah yang terus menerus bahkan juga sewaktu beristirahat
b. Kehilangan kesenangan yang biasanya dapat ia nikmati (tidak merasa
senang lagi jika dikunjungi oleh cucu-cucunya),
c. Mulai menarik diri dari kegiatan dan interaksi sosial.
Gambaran klinis depresi pada usia lanjut dibandingkan dengan pasien yang
lebih muda berbeda, usia lanjut cenderung meminimalkan atau menyangkal
mood depresinya dan lebih banyak menonjolkan gejala biologisnya, disamping
mengeluh tentang gangguan memori, juga pada umumnya kurang mau mencari
bantuan psikiater karena kurang dapat menerima penjelasan yang bersifat
psikologis untuk gangguan depresi yang mereka alami.

H. Pemeriksaan Diagnostic
Beck Depression Inventory dibuat oleh dr.Aaron T. Beck, BDI merupakan
salah satu instrumen yang paling sering digunakan untuk mengukur derajat
keparahan depresi.
Para responden akan mengisi 21 pertanyaan, setiap pertanyaan memiliki
skor 1 s/d 3, setelah responden menjawab semua pertanyaan kita dapat
menjumlahkan skor tersebut, Skor tertinggi adalah 63 jika responden mengisi 3
poin keseluruhan pertanyaan. Skor terendah adalah 0 jika responden mengisi
poin 0 pada keseluruhan pertanyaan. Total dari keseluruhan akan menjelaskan
derajat keparahan yang akan dijelaskan di bawah ini.
1-10 = normal
11-16 = gangguan mood ringan
17-20 = batas depresi borderline
21-30 = depresi sedang
31-40 = depresi berat
>40 = depresi ekstrim
(Lumongga Namora. 2009)

I. Penatalaksanaan Depresi pada Lanjut Usia


1. Terapi fisik
a. Obat
Secara umum, semua obat antidepresan sama efektivitasnya. Pemilihan
jenis antidepresan ditentukan oleh pengalaman klinikus dan pengenalan
terhadap berbagai jenis antidepresan. Biasanya pengobatan dimulai
dengan dosis separuh dosis dewasa, lalu dinaikkan perlahan-lahan
sampai ada perbaikan gejala.
b. Terapi Elektrokonvulsif (ECT)
Untuk pasien depresi yang tidak bisa makan dan minum, berniat bunuh
diri atau retardasi hebat maka ECT merupakan pilihan terapi yang efektif
dan aman. ECT diberikan 1- 2 kali seminggu pada pasien rawat nginap,
unilateral untuk mengurangi confusion/memory problem. Terapi ECT
diberikan sampai ada perbaikan mood (sekitar 5 - 10 kali), dilanjutkan
dengan anti depresan untuk mencegah kekambuhan.
2. Terapi Psikologi
a. Psikoterapi
Psikoterapi individual maupun kelompok paling efektif jika
dilakukan bersama-sama dengan pemberian antidepresan. Baik
pendekatan psikodinamik maupun kognitif behaviour sama
keberhasilannya. Meskipun mekanisme psikoterapi tidak sepenuhnya
dimengerti, namun kecocokan antara pasien dan terapis dalam proses
terapeutik akan meredakan gejala dan membuat pasien lebih nyaman,
lebih mampu mengatasi persoalannya serta lebih percaya diri.
b. Terapi kognitif
Terapi kognitif - perilaku bertujuan mengubah pola pikir pasien yang
selalu negatif (persepsi diri, masa depan, dunia, diri tak berguna, tak
mampu dan sebagainya) ke arah pola pikir yang netral atau positif.
Ternyata pasien usia lanjut dengan depresi dapat menerima metode
ini meskipun penjelasan harus diberikan secara singkat dan terfokus.
Melalui latihan-latihan, tugas-tugas dan aktivitas tertentu terapi
kognitif bertujuan mengubah perilaku dan pola pikir.
c. Terapi keluarga
Problem keluarga dapat berperan dalam perkembangan penyakit
depresi, sehingga dukungan terhadap keluarga pasien sangat penting.
Proses penuaan mengubah dinamika keluarga, ada perubahan posisi
dari dominan menjadi dependen pada orang usia lanjut. Tujuan terapi
terhadap keluarga pasien yang depresi adalah untuk meredakan
perasaan frustasi dan putus asa, mengubah dan memperbaiki sikap /
struktur dalam keluarga yang menghambat proses penyembuhan
pasien.
d. Penanganan Ansietas (Relaksasi)
Teknik yang umum dipergunakan adalah program relaksasi progresif
baik secara langsung dengan instruktur (psikolog atau terapis
okupasional) atau melalui tape recorder. Teknik ini dapat dilakukan
dalam praktek umum sehari-hari. Untuk menguasai teknik ini
diperlukan kursus singkat terapi relaksasi.
e. Dukungan Keluarga dalam Kaitannya dengan Depresi Pada Lansia
Keluarga memainkan suatu peranan yang signifikan dalam kehidupan
pada hampir semua orang lanjut usia (lansia). Ketika keluarga tidak
menjadi bagian kehidupan seseorang yang telah lansia, umumnya
menyebabkan orang tersebut tidak mempunyai tempat tinggal, atau
ada masalah-masalah yang telah berlangsung lama dan keterasingan.
Sebaliknya, kepercayaan yang umum, ketika orang lansia akan
membutuhkan bantuan keluarga menyediakan sekurang-kurangnya
80% dukungan / bantuan. Dibandingkan dengan "kenyamanan di hari
tua", keluarga saat ini menyediakan kepedulian yang lebih luas
selama periode waktu yang lama (Schmall, Pratt, 1993).
Walaupun anak yang telah dewasa adalah suatu sumber utama
yang memberi bantuan terhadap orangtua yang lansia, beberapa trend
demografi dan sosial mempunyai akibat / impak yang signifikan pada
kemampuan anggota keluarga dalam menyediakan dukungan. Hal ini
tidak berarti bahwa keluarga bertanggung jawab atas timbulnya
depresi pada seseorang namun sudah jelas bahwa banyak masalah
depresi berkisar di seputar kesulitan dalam cara anggota keluarga
saling berkomunikasi dan saling berhubungan.
II. Contoh Kasus Asuhan Keperawatan Lansia dengan Depresi
ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIK Tn. “WD” DENGAN DEPRESI
DI PANTI WREDHA WANA SERAYA DENPASAR
TANGGAL 2-4 MARET 2018

I. PENGKAJIAN
Pengkajian dilaksanakan pada tanggal pukul 08.00 WITA di panti wredha wana seraya
Denpasar.Data diperoleh dengan menggunakan teknik wawancara, observasi,
pemeriksaan fisik dan dokumentasi.

A. DATA BIOGRAFI
Nama Pasien : Tn. WD
Jenis kelamin : Laki-laki
Golongan darah :-
Tempat & tanggal lahir : Ketewel, 1 Juli 1952
Pendidikan terakhir : SMA
Agama : Hindu
Status perkawinan : Menikah
Tinggi badan/berat badan : 162 cm / 52 kg
Penampilan : Bersih
Alamat : Br. Tengah, Desa Ketewel, Kec. Sukawati, Kab. Gianyar

Orang yang mudah dihubungi : Ni Wayan Suniarni


Hubungannya dengan klien : Anak
Alamat : Br. Tengah, Desa Ketewel, Kec. Sukawati, Kab.
Gianyar
B. Riwayat Keluarga
Genogram :

Keterangan :
= meninggal
= laki-laki masih hidup
= perempuan masih hidup
= hubungan perkawinan
= lansia
= tinggal serumah

C. Riwayat Pekerjaan
Pekerjaan saat ini : Tidak Bekerja
Alamat pekerjaan :-
Berapa jarak dari rumah :-
Alat transportasi :-
Pekerjaan sebelumnya : Pemborong
Alat tranportasi : Mobil
Sumber-sumber pendapatan dan kecukupan terhadap kebutuhan :
Tn.WD mengatakan sumber pendapatannya dari anaknya yang terkadang datang ke
panti memberikan uang

D. Riwayat Lingkungan Hidup


Tipe tempat tinggal : Permanen
Kamar : Di panti klien terdapat 2 bangunan permanen yang
mana Tn. WD menempati salah satu bangunan yang
berisikan 5 kamar. Tn. WD menggunakan kamar
sebelah kanan.
Kondisi tempat tinggal : Bersih
Jumlah orang yang tinggal dalam satu rumah : 8 orang yang terdiri dari Tn. WD, dan
beberapa lansia lainnya
Derajat privasi : Klien berbagi kamar dengn lansia lainnya.
E. Riwayat Rekreasi
Hobi/minat : Membaca buku
Keanggotaan dalam organisasi :-
Liburan/perjalanan : - Dulu klien sering liburan keliling bali sambil
mencari barang dagangannya
- Sekarang klien mengatakan belum pernah
berekreasi ke tempat yang jauh

F. Sistem Pendukung
Perawat/bidan/dokter/fisiotherapi : Klien mengatakan apabila sakit langsung
dicarikan dokter oleh pengurus panti
Jarak dari rumah :-
Pelayanan kesehatan di rumah : Pengurus Panti
Makanan yang dihantarkan : Klien mengatakan sehari-hari makan nasi dengan
lauk pauk yang tidak menentu tiap harinya,
terkadang dengan lauk tahu tempe dengan sayur
maupun ikan dan kacang-kacangan.
Perawatan sehari-hari yang dilakukan keluarga : Klien mengatakan anaknya jarang
datang ke panti dikarenakan
kesibukan anaknya bila merasakan
sakit langsung dibantu oleh
pengurus panti
Kondisi lingkungan rumah : Lingkungan panti terlihat bersih dan rapi,
rumah klien terdiri dari 2 bangunan permanen.
Tn.WD berada pada bangunan dengan 5 kamar.
Satu kamar digunakan oleh Tn. WD dengan lansia
lainnya. Terdapat 10 buah kamar mandi dan
sebuah dapur serta.Sumber air pasien diperoleh
dari air PDAM.
G. Status Kesehatan
Status kesehatan umum selama lima tahun yang lalu :
- Hipertensi
Tn. WD mengatakan sudah menderita penyakit hipertensi selama 2 Tahun.
Keluhan utama :
Klien mengatakan tidak berguna dan merasa bersalah kepada anaknya karena
semenjak ia bangkrut anaknya yang menanggung semua kebutuhannya selain itu ia
juga merasa bersalah kepada almarhum istrinya karena dulu sering menghamburkan
uang untuk kepentingan pribadinya. Hal tersebut telah dirasakan klien dari 5 tahun yang
lalu
Obat-obatan
NO NAMA OBAT DOSIS KET
1 Amlodipine Besylate Diminum saat sakit Obat penurun tekanan
kepala. darah

Status imunisasi : Pasien mengatakan tidak mengingat mengenai status


imunisasi
Alergi :
0* Obat-obatan : Tidak memiliki alergi terhadap obat
1* Makanan : Pasien memiliki alergi terhadap telur
2* Faktor lingkungan : tidak memiliki alergi terhadap factor lingkungan
Penyakit yang diderita : Hipertensi

H. Aktivitas Hidup Sehari-hari


Indeks Katz :
AKTIVITAS SENDIRI DENGAN BANTUAN
Tanpa supervisi, Dengan supervisi, petunjuk
petunjuk atau bantuan dan bantuan
Mandi √
Berpakaian √
Toileting √
Berpindah √
Buang air besar/ √
buang air kecil
Makan √
POINT TOTAL 6 = A (Mandiri pada keenam item)

BB : 52 kg
TL : 50 cm
TB : (2,02 x TL) – (0,04 x umur) + 64,19
(2,02 x 50) – (0,04 x 65) + 64,19
101-2,6 + 64,19
= 162,39 cm
= 162 cm

IMT :BB/(TB)2
52/(1,62)2 = = 19,85 kg/m2 (Normal)
Klasifikasi nilai IMT :

IMT Status Gizi Kategori

< 17.0 Gizi Kurang Sangat Kurus

17.0 - 18.5 Gizi Kurang Kurus

18.5 - 25.0 Gizi Baik Normal

25.0 - 27.0 Gizi Lebih Gemuk

> 27.0 Gizi Lebih Sangat Gemuk


Vital Sign :
Suhu : 36,2°C
Nadi : 82 x/ menit
Respirasi : 20 x/ menit
TD tidur : 160/ 80 mmHg
TD duduk : 160/ 90 mmHg
TD berdiri : 160/ 90 mmHg

I. Pemenuhan Kebutuhan Sehari-hari


a. Oksigenasi
Saat pengkajian klien mengatakan tidak memiliki kesulitan dalam bernafas s
b. Cairan dan Elektrolit
Saat pengkajian klien mengatakan setiap hari minum dapat minum sebanyak
±1500 ml
c. Nutrisi
Saat pengkajian klien mengatakan setiap hari makan 3 kali sehari dengan porsi 1
piring. Klien makan nasi dengan lauk pauk yang tidak menentu tiap harinya,
terkadang dengan lauk tahu tempe dengan sayur, maupun ikan dan kacang-
kacangan.
d. Eleminasi
1. Buang air besar : Pasien mampu BAB mandiri. Sebelum maupun setelah
pengkajian pasien mengatakan BAB 1x sehari. Waktu di pagi hari dengan
konsistensi lembek.
2. Buang air kecil : Pasien mampu BAK mandiri. Sebelum maupun setelah
pengkajian pasien BAK ± 7x sehari dengan warna kuning jernih, dan bau khas
urin.
e. Aktivitas
Saat pengkajian klien mengatakan masih bisa melakukan akitivitas seperti biasa
seperti membaca buku dan berdiam diri di kamar dan terkadang berbincang
dengan lansia lainnya
f. Istirahat dan Tidur
Saat pengkajian klien mengatakan tidur sekitar 3-4 jam saja karena susah
memejamkan mata dan terkadang teringat dengan anaknya yang menderita
akibat dirinya.
g. Personal Hygiene
Saat pengkajian klien mengatakan dapat mandi sendiri dan pasien biasanya
mandi 1 kali sehari sore hari, dan klien keramas 2 kali dalam seminggu.
h. Seksual
Saat pengkajian klien mengatakan tidak memiliki masalah dengan seksualitas.
i. Rekreasi
Saat pengkajian klien mengatakan biasanya berada dipanti sambil menonton
televisi atau membaca buku maupun koran di kamar
j. Psikologis
 Persepsi klien
Lansia mengatakan bahwa dia memilih tinggal di Panti karena
merasa bersalah pada anaknya dan menjadi beban bagi anaknya, lansia tidak
mampu bekerja lagi dan tidak memiliki dana yang cukup untuk menghidupi
dirinya dan keluarga. Lansia mengatakan telah gagal dalam hidupnya. Tetapi
lansia menyadari bahwa semua ini merupakan nasib dan garis hidup yang
harus dijalani.
 Konsep diri
Konsep diri klien kurang baik, klien mengatakan menyesal dan merasa tidak
berguna. Klien juga mengatakan sangat kasihan pada istri dan anaknya dulu
karena klien sering menghamburkan uang dan sekarang klien merasa
menjadi beban anaknya.
 Emosi
Lansia menangis setiap menceritakan keadaan dirinya dan riwayat
kehidupannya.
 Adaptasi
Kemampuan beradaptasi klien cukup baik meskipun terkadang klien lebih
memilih membaca buku di kamar daripada bergabung dengan yang lainnya.
Klien mampu beradaptasi dengan orang lain.
 Mekanisme pertahanan diri
Rasionalisasi

J. Tinjauan Sistem
Keadaan umum : Baik
Tingkat kesadaran : Compos Metis
GCS : E4V5M6
Tanda-tanda vital : S: 36,20C, N: 82x/mnt, R: 20x/mnt, TD: 160/90 mmHg
1. Kepala :
Bentuk kepala simetris, rambut berwarna hitam sedikit beruban, hematoma tidak
ada, kebersihan rambut cukup.
2. Mata-Telinga-Hidung :
a) Penglihatan :
Mata pasien simetris, persebaran alis merata, konjungtiva berwarna merah,
pupil isokor, visus 6/7,5.
b) Pendengaran :
Telinga pasien simetris, tidak ada nyeri tekan.Pendengaran pasien tidak ada
masalah dan masih berfungsi normal.
a) Hidung,Pembau :
Bentuk simetris, sekret (-), nyeri tekan (-), lesi (-), penciuman baik.
3. Leher :
Bentuk simetris, tidak tampak pembesaran kelenjar tiroid, tidak teraba bendungan
vena jugularis, tidak ada pembengkakan kelenjar limfa, nyeri tekan (-), lesi (-)
4. Dada dan punggung :
a. Paru – paru : Bentuk simetris, vesikuler +/+, wheezing -/-, Ronchi -/-
b. Jantung : S1 dan S2 tunggal regular, suhu akral hangat

5. Abdomen dan pinggang :


a) Sistem Pencernaan : Tidak mengalami asites, tidak terdapat nyeri
tekan, bising usus 8 x/mnt.
b) Sistem Genetaurinariue : saat pengkajian pasien mengatakan tidak
memiliki keluhan dalam berkemih. Sebelum maupun setelah pengkajian
pasien BAK ± 7x sehari dengan warna kuning jernih, dan bau khas urine.
6. Ektremitas atas dan bawah,
Kekuatan otot : 555 555
555 555
ROM : 1. penuh 2. terbatas
Hemiplegi/parese : 1. tidak 2. ya, kanan
Akral : 1. hangat 2. dingin
Capillary refill time : 1. < 2 detik 2. > 2 detik
Edema : 1. tidak ada 2. ada di daerah………….
Lain-lain :
7. Sistem immune : pasien mengatakan sakit yang biasa dirasa hanya lemah,
Dan sakit kepala
8. Genetalia : tidak terkaji
9. Reproduksi : tidak terkaji
10. Persarafan : respon klien tampak baik
11. Pengecapan : pasien mengatakan tidak memiliki masalah dalam
pengecapannya. Pasien mampu merasakan rasa makanan
secara normal

K. Hasil pengkajian kognitif dan mental


1. Short Porteble Mental Status Questionaire ( SPMSQ ) =
Short Portable Mental Status Questionnaire (SPMSQ)
Skor
No Pertanyaan Jawaban
+ -
- 1. Tanggal berapa hari ini? Tidak tahu
+ 2. Hari apa sekarang? Jumat
+ 3. Bulan apa sekarang? Maret
+ 4. Tahun berapa sekarang? 2018
+ 5. Apa nama tempat ini? Di panti wredha
+ 6. Berapa usia Anda? Sekitar 65 tahun
- 7. Kapan Anda lahir? Lupa
+ 8. Siapa nama presiden Indonesia Jokowi
sekarang?
+ 9. Siapa presiden Indonesia sebelum SBY
jokowi?
- 10. Siapa nama kecil ibu Anda? Tidak tahu

Jumlah kesalahan total 3


Keterangan :
Kesalahan 0-2 : Fungsi intelektual utuh
Kesalahan 3-4 : Kerusakan intelektual ringan
Kesalahan 5-7 : Kerusakan intelektual sedang
Kesalahan 8-10 : Kerusakan intelektual berat
Jumlah kesalahan total pasien yaitu 3, maka pasien termasuk dalam
kategori kerusakan intelektual ringan.
2. Mini - Mental State Exam ( MMSE )
Skor Skor Pasien Pertanyaan
Maksimum
5 3 Tanggal, bulan, tahun, hari apakah sekarang?
5 5 Dimanakah kita sekarang? Banjar? Desa?
Kota? Provinsi? Letak puskesmas?
3 3 Sebutkan 3 benda yang berbeda secara
perlahan lalu instruksikan pasien menirukan
5 2 Minta pasien menghitung mundur, dimulai
dari angka 100
3 3 Mengingat 3 kata yang disebutkan
sebelumnya.
2 2 Sebutkan 2 kata objek dan instruksikan pasien
untuk mengulanginya.
1 1 Sebutkan kata “tidak, jika, dan, atau, tetapi”
3 3 Lipat sehelai kertas menjadi dua bagian dan
letakkan di meja, instruksikan pasien untuk
menirukannya.
1 1 Tuliskan instruksi “Tutup mata ”, instruksikan
pasien untuk membacanya dan melakukannya.
1 0 Buat 1 kalimat terdiri dari subjek dan
predikat.
1 1 Istruksikan pasien meniru gambar.
30 24
Keterangan :
Skor 24-30 : Status kognitif normal
Skor 17-23 : Kemungkinan gangguan kognitif
Skor 0-16 : Gangguan kognitif
Jumlah skor yang diperoleh pasien yaitu 24, maka pasien termasuk
dalam kategori status kognitif normal
3. Status emosional
Identifikasi Masalah Emosional :

No Pertanyaan YA TIDAK
No Pertanyaan Ya Tidak
1 Apakah klien mengalami kesulitan tidur?  
1 Keluhan
2 lebih klien
Apakah dari 3sering
bulanmerasa
atau lebih dari 1 kali dalam
gelisah?  
3
sebulanApakah klien sering murung dan menangis sendiri? 
2 4 Apakah klien
Ada/banyak pikiran sering was-was atau kuatir?  
3 Ada gangguan atau masalah dengan keluarga lain 
4 Menggunakan obat tidur/penenang atas anjuran dokter 

5 Cenderung mengurung diri 


 Lanjutk

Berlanjut ke pertanyaan tahap 2 jika ≥ 1 jawaban “ya


MASALAH EMOSIONAL POSITIF  (+)

4. Pengkajian Spiritual
Klien beragama Hindu. Klien sembahyang 2 kali sehari di kamar . Klien juga
sering berdoa terutama mendoakan anaknya.
5. Pengkajian Depresi
No PERTANYAAN Ya Tdk
1 Apakah pada dasarnya anda puas dengan kehidupan anda ? 1
2 Sudahkah anda meninggalkan aktivitas dan minat anda ? 0
3 Apakah anda merasa bahwa hidup anda kosong ? 0
4 Apakah anda sering bosan ? 1
5 Apakah anda harapan tentang masa depan ? 1
6 Apakah anda merasa terganggu dengan pikiran yang anda 1

pendam ?
7 Apakah anda merasa bersemangat disetiap waktu ? 1
8 Apakah anda takut akan sesuatu yang buruk menimpa anda? 0
9 Apakah anda merasa bahagia sepanjang waktu ? 1
10 Apakah anda sering merasa tidak ada yang menolong ? 0
11 Apakah anda sering merasa kurang istirahat dan lemah ? 1
12 Apakah anda lebih menyukai berada dirumah, daripada pergi 1

keluar untuk melakukan hal-hal baru ?


13 Apakah anda sering khawatir dengan masa depan ? 0
14 Apakah anda merasa lebih banyak memiliki masalah mengenai 0

daya ingat dibandingkan sebelumnya ?


15 Menurut anda apakah hidup anda saat ini menyenangkan ? 1
16 Apakah anda sering merasa bersedih ? 1
17 Apakah anda merasa tidak berharga dengan cara anda sekarang ? 1
18 Apakah anda merasa khawatir dengan masa lalu ? 1
19 Apakah anda merasa hidup ini sangat menarik ? 1
20 Apakah berat untuk anda memulai hal yang baru ? 0
21 Apakah anda merasa penuh dengan energy ? 1
22 Apakah anda merasa situasi sekarang tidak ada harapan ? 1
23 Apakah anda merasa semua orang lebih beruntung daripada 1

anda?
24 Apakah anda merasa sering kecewa berlebihan karena hal kecil ? 0
25 Apakah anda sering merasa ingin menangis ? 1
26 Apakah anda memiliki masalah dalam hal berkonsentrasi ? 0
27 Apakah anda menikmati bangun pada pagi hari ? 1
28 Apakah anda lebih suka menghindari pergaulan social ? 0
29 Apakah anda mudah dalam membuat keputusan ? 1
30 Apakah pikiran anda sejelas dan sejernih dahulu ? 1
 Keterangan :
- Setiap jawaban mempunyai skor 1 :
Skor 0-9 : tidak depresi/normal
Skor 10-19 : depresi ringan
Skor 20-30 : depresi berat
Klien mendapat nilai 20 (Depresi Berat)
6. Risiko jatuh (skala morse dan TUG (The Time Up and Go))
1) Skala morse
No. Pengkajian Jawaban Nilai
1 Riwayat jatuh: apakah lansia pernah - TIDAK - 0
jatuh dalam 3 bulan terakhir? - 25
2 Diagnosa sekunder: apakah lansia - TIDAK - 0
memiliki lebih dari satu penyakit? - 15
3 Alat Bantu jalan:
- Bed rest/ dibantu perawat - 0
- Kruk/ tongkat/ walker - 15
- Berpegangan pada benda-benda - 30
di sekitar
4 Terapi Intravena: apakah saat ini TIDAK - 0
lansia terpasang infus? - 20
5 Gaya berjalan/ cara berpindah: Normal
- Normal/ bed rest/ immobile - 0
(tidak dapat bergerak sendiri) - 10
- Lemah (tidak bertenaga) - 20
- Gangguan/ tidak normal
(pincang/ diseret)
6 Status Mental
- Lansia menyadari kondisi Ya - 0
dirinya - 15
- Lansia mengalami keterbatasan Tidak
daya ingat
NILAI TOTAL :

Klien tidak memiliki resiko jatuh sehingga klien hanya perlu perawatan dasar

2) Skala TUG
THE TIMED UP AND GO (TUG) TEST
No. Langkah
1 Posisi pasien duduk di kursi
2 Minta pasien berdiri dari kursi, berjalan 10 langkah (3meter),
kembali ke kursi, ukur waktu dalam detik
 Keterangan :
- ≤ 10 detik : low risk of falling
- 11 - 19 detik : low to moderate risk for falling
- 20 – 29 detik : moderate to high risk for falling
- ≥ 30 detik : impaired mobility and is at high risk of falling
Klien memiliki resiko jatuh yang rendah klien dapat kembali duduk dalam waktu 10
detik.

7. APGAR Keluarga
Instrument Penilaian APGAR Keluarga
No Items Penilaian Selalu Kadang-Kadang Tidak Pernah
. (2) (1) (0)
1 A : Adaptasi Saya puas 
bahwa saya dapat
kembali pada
keluarga ( teman-
teman ) saya untuk
membantu pada
waktu sesuatu
menyusahkan saya
2 P : Partnership Saya 
puas dengan cara
keluarga ( teman
teman ) saya
membicarakan
sesuatu dengan
saya dan
mengungkapkan
masalah saya.

3 G : Growth Saya puas 


bahwa keluarga
( teman-teman )
saya menerima &
mendukung
keinginan saya
untuk melakukan
aktifitas atau arah
baru.

4 A : Afek Saya puas 


dengan cara
keluarga
( temanteman )
saya
mengekspresikan
afek dan berespon
terhadap emosi-
emosi saya, seperti
marah, sedih atau
mencintai.
5 R : Resolve Saya puas 
dengan cara teman-
teman saya dan
saya menyediakan
waktu
bersamasama
mengekspresikan
afek dan berespon

Jumlah 6

Klien mengalami disfungsi keluarga sedang

L. Data Penunjang
i. Laboratorim : -
ii. Radiologi :-
iii. EKG :-
iv. USG :-
v. CT- Scan :-
vi. Obat - obatan : Amlodipine Besylate

II. DIAGNOSA KEPERAWATAN


A. Analisa Data
NO ANALISA DATA ETIOLOGI MASALAH
KEPERAWATAN
1 DS: Klien mengatakan tidak berguna Koping Individu Harga Diri Rendah
dan merasa bersalah kepada tidak efektif Kronis
anaknya karena semenjak ia
bangkrut anaknya yang
menanggung semua kebutuhannya
selain itu ia juga merasa bersalah
kepada almarhum istrinya karena
dulu sering menghamburkan uang
untuk kepentingan pribadinya. Hal
tersebut telah dirasakan klien dari
5 tahun yang lalu
DO: Skala Depresi pasien 20 (Depresi
Berat)

2. DS: Klien hanya dapat tidur 3-4 jam Faktor Psikologis Gangguan Pola Tidur
karena susah memejamkan mata (Depresi)
dan terkadang teringat dengan
anaknya yang menderita akibat
dirinya.
DO: Klien tampak lesu dan tampak
adanya kantung mata
B. Prioritas Masalah Keperawatan
1. Gangguan Konsep Diri: Harga Diri Rendah Kronis berhubungan dengan
ketidakefektifan koping individu ditandai dengan Klien mengatakan tidak berguna
dan merasa bersalah kepada anaknya karena semenjak ia bangkrut anaknya yang
menanggung semua kebutuhannya selain itu ia juga merasa bersalah kepada
almarhum istrinya karena dulu sering menghamburkan uang untuk kepentingan
pribadinya. Hal tersebut telah dirasakan klien dari 5 tahun yang lalu dan skala
depresi klien : 20 (Depresi Berat)
2. Gangguan Pola Tidur berhubungan dengan factor psikologis (Depresi) ditandai
dengan Klien hanya dapat tidur 3-4 jam karena susah memejamkan mata dan
terkadang teringat dengan anaknya yang menderita akibat dirinya, klien tampak lesu
dan tampak adanya kantung mata.
III. RENCANA KEPERAWATAN
Perencanaan
No. Dx Keperawatan
Tujuan Kriteria Evaluasi Intervensi
1 Harga Diri Tujuan: a. Pasien dapat membina a. Bina hubungan saling percaya
Rendah Kronis Setelah diberi hubungan saling percaya dengan pasien
asuhan keperawatan b. Pasien dapat b. Dorong pasien untuk
selama 3x 45 menit mengidentifikasi aspek mengungkapkan perasaan
jam diharapkan , positif yang dimilikinya c. Diskusikan kemampuan dan
harga diri pasien c. Pasien mengungkapkan aspek positif yang dimiliki
meningkat dengan perasaan yang berkaitan pasien, bantu pasien menilai
dengan harga diri kemampuan yang masih dapat
d. Pasien mengungkapkan digunakan, bantu pasien memilih
perasaan aman di atau menetapkan kemampuan
lingkungan yang akan dilatih, latih
e. Pasien bekerja sama dalam kemampuan yang sudah dipilih
perawatan diri dan proses dan susun jadwal pelaksanaan
pengambilan keputusan kemampuan yang telah dilatih
secara bertahap dalam rencana harian.
f. Pasien meningkatkan d. Dengarkan pasien, berikan
interaksi sosial dengan respon dengan penerimaan yang
orang lain tidak menghakimi, perhatian
g. Pasien menunjukkan yang sungguh-sungguh dan
penurunan perasaan ketulusan
negatif tentang dirinya e. Kaji status mental pasien melalui
observasi dan wawancara
minimal sekali sehari
f. Kaji risiko bunuh diri dan
kemungkinan perilaku
mematikan pada pasien
g. Libatkan pasien secara bertahap
dalam pengambilan keputusan
h. Atur situasi untuk mendorong
interaksi sosial atau profesional
antara pasien dan orang lain
i. Berikan umpan balik positif
kepada pasien ketika pasien
menunjukkan peningkatan harga
diri
2 Gangguan Pola NOC:  Jumlah jam tidur Sleep Enhancement
Tidur dalam batas normal
 Anxiety Control a. Kaji pola tidur pasien
 Pola tidur,kualitas b.  Jelaskan pentingnya tidur yang
 Comfort Level
dalam batas normal adekuat
 Pain Level
 Perasaan fresh sesudah c. Fasilitasi untuk
 Rest : Extent and
tidur/istirahat mempertahankan aktivitas
Pattern
 Mampu
 Sleep : Extent mengidentifikasi hal- sebelum tidur (membaca)
ang Pattern hal yang meningkatkan d. Ciptakan lingkungan yang
tidur nyaman
Setelah dilakukan
tindakan
keperawatan selama
3x 45 menit
gangguan pola tidur
pasien teratasi
IV. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
Hari/tgl/ jam No.
Tindakan Keperawatan Evaluasi Paraf
Dx
Jumat,2 Maret 1,2 Membina hubungan saling Tn. WD tampak sedikit membuka diri dan menunduk saat
2018 percaya melihat perawat baru
Pukul 09.00 Wita
Pukul 09.05 Wita 1 Mendorong pasien untuk Tn WD mulai menceritakan perasaannya dan rasa tidak
mengungkapkan perasaan berguna serta merasa jadi beban bagi anaknya
Pukul 09.10 Wita 1 Mengkaji status mental Tn. WD masuk dalam kategori kerusakan intelektual ringan
pasien melalui observasi dan system kognitifnya normal
dan wawancara minimal
sekali sehari
Pukul 09.15 wita Mendengarkan pasien, Tn WD tampak serius bercerita dan sesekali menangis
berikan respon dengan
penerimaan yang tidak
menghakimi, perhatian
yang sungguh-sungguh dan
ketulusan

Pukul 09.20 wita 2 Mengkaji pola tidur klien Tn WD mengatakan hanya bisa tidur 3-4 jam karena tidak
bisa memejamkan mata akibat teringat akan penderitaan
anaknya
Pukul 09.25 wita 2  Jelaskan pentingnya tidur Tn. WD mengatakan mengerti dengan penjelasan yang
yang adekuat diberikan

Pukul 09.35 wita 1 Mengkaji risiko bunuh diri Tn. WD mengatakan belum pernah berfikir sampai kesitu
dan kemungkinan perilaku
mematikan pada pasien

Pukul 09.45 wita 1 - Mendiskusikan - Tn. WD mengatakan sangat menyukai membaca


kemampuan dan aspek terutama membaca koran dan juga sebenarnya klien
positif yang dimiliki juga menyukai melukis
pasien - Tn. WD ingin mencoba untuk kembali melukis lagi
- Membantu pasien
memilih atau
menetapkan
kemampuan yang akan
dilatih
-
Sabtu,3 Maret 1 Bina hubungan saling Tn. WD sudah mampu tersenyum dengan perawat
2018 percaya
Pukul 09.00
Pukul 09.05 Wita 2 Mengkaji pola tidur pasien Tn. WD mengatakan tidurnya masih sekitar 3-4 jam di
malam hari
Pukul 09.10 wita 1 - Melatih kemampuan - Tn. WD mencoba melukis pemandangan dengan alat-
yang sudah dipilih dan alat yang telah dibawa perawat
susun jadwal - Tn. WD ingin melukis saat memiliki waktu senggang
pelaksanaan
kemampuan yang telah
dilatih dalam rencana
harian.
- Melibatkan pasien
secara bertahap dalam
pengambilan keputusan
Pukul 09.30 wita 1 Atur situasi untuk - Tn. WD mengatakan dekat dengan lansia yang satu
mendorong interaksi sosial kamar dengannya.
atau profesional antara - Tn WD tampak berkenalan dengan lansia yang baru
pasien dan orang lain datang ke panti wredha

Pukul 09.45 wita 2 - Memfasilitasi untuk - Tn. WD tampak senang diberikan buku
mempertahankan - Klien mengatakan akan membaca saat klien akan tidur
aktivitas sebelum tidur - Tn. WD tampak senang karena spraynya diganti dengan
(membaca) yang baru dan perawat memberikan aroma terapi
- Ciptakan suasana lavender yang nanti akan dinyalakan saat tidur
nyaman untuk tidur

Minggu, 4 Maret 1 Mendorong pasien untuk Tn. WD tampak terbuka dengan kehadiran perawat kembali.
2018 mengungkapkan
Pukul 09.00 Wita perasaannya.
Pukul 09.15 wita 2 Mengkaji pola tidur klien - Tn. WD mengatakan tidur 4-5 jam.
- Tn. WD mengatakan lebih tenang saat mencium bau
lavender yang diberikan perawat

Pukul 09.20 wita 1 Mengkaji status mental Klien mengatakan tidurnya sudah sampai 4-5 jam
pasien melalui observasi Klien masih merasa tidak berguna dan merasa jadi beban
dan wawancara minimal anaknya
sekali sehari

Pukul 09.30 Wita 1 Melatih kemampuan yang Tn. WD melukis barong


sudah dipilih dan susun
jadwal pelaksanaan
kemampuan yang telah
dilatih dalam rencana
harian.

Pukul 09.45 Wita 1 Memberikan umpan balik Tn. WD tampak malu saat dipuji perawat
positif kepada pasien
ketika pasien menunjukkan
peningkatan harga diri.
V. EVALUASI KEPERAWATAN
Hari/tanggal/ja No. Evaluasi Paraf
m Dx
Minggu, 4 Maret 1 S : “Tn. WD mengatakan masih merasa bersalah
2018 kepada anaknya karena menjadi beban untuk
Pukul 09.45 wita anaknya”.
O : Ny. NS tampak kooperatif dan mau terbuka serta
menerima kehadiran perawat.
A : Tujuan teratasi sebagian
P : Lanjutkan intervensi keperawatan (membina
hubungan saling percaya, menggali aspek positif
yang dimiliki).
Minggu, 4 Maret 2 S : “Tn. WD mengatakan sudah dapat tidur 4-5 jam
2018 berkat terapi lavender serta membaca buku di
Pukul 09.45 wita malam hari”.
O : Kantung mata Tn. WD tampak berkurang
A : Tujuan tercapai sebagian
P : Lanjutkan intervensi keperawatan (Memberiakn
terapi lavender setiap pasien tidur)
BAB III
PENUTUP

A. Simpulan
Depresi menurut WHO (2010) merupakan suatu gangguan mental umum yang
ditandai dengan mood tertekan, kehilangan kesenangan atau minat, perasaan bersalah atau
harga diri rendah, gangguan makan atau tidur, kurang energi,dan konsentrasi yang rendah
Dalam Kaplan & Sadock, 2010 penyebab terjadinya depresi adalah : Faktor Biologis ,
Faktor Genetik , Faktor Psikososial , Faktor Kepribadian, Faktor Psikodinamik Depresi
Gejala utama meliputi :
1. Perasaan depresif atau perasaan tertekan
2. Kehilangan minat dan semangat
3. Berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah.
Penatalaksanaan Depresi pada Lanjut Usia yaitu ada Terapi fisik maupun psikologi

B. Saran
- Pelayanan lanjut usia diselenggarakan dalam bentuk pelayanan kepererawatan secara
komprehensif dengan melibatkan beberapa disiplin ilmu meliputi bidang kesehatan,
rehabilitasi dan sosial.
- Peningkatan pendidikan kesehatan dilaksanakan secara terpadu sesuai dengan media yang
sehingga dapat mengoptimalkan lansia dalam memenuhi kehiudpan sendiri secara mandiri
sehingga siap diresosialisasikan.
- Bagi mahasiswa perawat seharusnya dapat lebih memahami masalah psikologis lansia
terutama depresi karena perawatan yang paling diinginkan seseorang yang telah lanjut usia
adalah perawatan psikologis.
DAFTAR PUSTAKA

Ani. 2012. Depresi pada Lansia. http://digilib.unila.ac.id/6562/16/BAB%20I.pdf . Diakses


tanggal 30 September 2016
Depkes RI. 2001. Profil Kesehatan Indonesia 2001 menuju Indonesia Sehat 2010. Jakarta:
Kementrian Kesehatan RI
J Gallo WilliamReichel,Joseph.1998. Buku Saku Gerontologi. Jakarta: EGC
Kaplan and Sadock. 2010. Buku Ajar Psikiatri Klinis. Jakarta : EGC
Nurarif dan Kusuma. 2015. Aplikasi NANDA NIC NOC. Jogjakarta: MediAction
Sunaryo. 2016. Asuhan Keperawatan Gerontik. Yogyakarta: ANDI
WHO (2010).Depression Worksheet.http://ebookbrowse.com/search/depression-worksheet-pdf.
MAKALAH
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN
GANGGUAN PEMENUHAN ISTIRAHAT TIDUR (LANSIA)

OLEH :

B12 - B
I GEDE PUTRA SAINAN JAYA 193223116

PROGRAM STUDI ALIH JENJANG S1 ILMU KEPERAWATAN


STIKES WIRA MEDIKA PPNI BALI
2020
KATA PENGANTAR
Marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena atas
izinnya kami dapat menyusun dan menyelesaikan Makalah dengan judul “Asuhan
Keperawatan Lansia dengan Gangguan Tidur” dengan tepat pada waktunya.

Kami sudah berusaha menyusun makalah ini sebaik mungkin, akan tetapi kami
menyadari bahwa makalah  ini masih jauh dari kata sempurna. Namun berkat arahan,
bimbingan, dan bantuan dari berbagai pihak termasuk dosen dan teman-teman, makalah ini
dapat kami selesaikan tepat pada waktunya. Oleh karena itu, pada kesempatan ini kami
menyampaikan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu serta memberikan
arahan dan bimbingan kepada kami.

Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya, dan bagi pembaca
umumnya. Kami sebagai penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun
demi kesempurnaan tugas ini.

Penulis

ii
DAFTAR ISI

Halaman Depan ................................................................................................................. i


Kata Pengantar .................................................................................................................. ii
Daftar Isi ........................................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................................ 1
1.1. Latar Belakang ............................................................................................... 1
1.2. Rumusan Masalah ......................................................................................... 2
1.3. Tujuan ............................................................................................................ 2
BAB II PEMBAHASAN .................................................................................................. 3
2.1. Definisi Istirahat dan Tidur ............................................................................ 3
2.2. Pola Tidur pada Usia Lansia .......................................................................... 5
2.3. Gangguan Pola Tidur pada Usia Lansia ......................................................... 6
2.4. Asuhan Keperawatan pada Klien Usia Lansia dengan Gangguan Pemenuhan
Istirahat Tidur ................................................................................................ 13
BAB III PENUTUP .......................................................................................................... 29
3.1. Kesimpulan .................................................................................................... 29
3.2. Saran .............................................................................................................. 29
Daftar Pustaka ................................................................................................................... 30

iii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang

Istirahat dan tidur merupakan kebutuhan dasar yang mutlak harus dipenuhi
oleh semua orang. Dengan istirahat dan tidur yang cukup, tubuh baru dapat berfungsi
secara optimal. Istirahat dan tidur sendiri memiliki makna yang berbeda pada setiap
individu. Secara umum, istirahat berarti suatu keadaan tenang, rileks, santai, tanpa
tekanan emosional, dan bebas dari perasaan gelisah. Jadi, beristirahat bukan berarti
tidak melakukan aktivitas sama sekali. Terkadang, berjalan - jalan di taman juga bisa
dikatakan sebagai suatu bentuk istirahat.
Sedangkan tidur adalah status perubahan kesadaran ketika persepsi dan reaksi
individu terhadap lingkungan menurun. Tidur dikarakteristikan dengan aktivitas fisik
yang minimal, tingkat kesaran yang bervariasi, perubahan proses fisiologis tubuh,
penurunan respons terhadap stimulus eksternal. Tidur dapat memulihkan atau
mengistirahatkan fisik setelah seharian beraktivitas, mengurangi stress dan
kecemasan, serta dapat meningkatkan kemampuan dan konsentrasi saat hendak
melakukan aktivitas sehari - hari. Kesempatan untuk istirahat dan tidur sama
pentingnya dengan kebutuhan makan, aktivitas maupun kebutuhan dasar lainnya.
Pola tidur pada manusia normal berbeda di tiap - tiap usia. Pada usia lansia
Jumlah tidur total tidak berubah sesuai dengan pertambahan usia. Akan tetapi,
kualitas tidur kelihatan menjadi berubah pada kebanyakan lansia. Keragaman dalam
perilaku tidur lansia adalah umum. Keluhan tentang kesulitan tidur waktu malam
seringkali terjadi diantara lansia, seringkali akibat keberadaan penyakit kronik lain.
sebagai contoh, seorang lansia yang mengalami artritis mempunyai kesulitan tidur
akibat nyeri sendi. Kecenderungan untuk tidur siang keihatannya meningkat secara
progresif dengan bertambahnya usia. Peningkatan waktu siang hari yang dipakai
untuk tidur dapat terjadi karena seringnya terbangun pada malam hari.
Dibandinngkan dengan jumlah waktu yang dihabiskan di tempat tidur, waktu yang
dipakai tidur menurun sejam atau lebih.
Pada makalah ini penulis akan membahas tentang asuhan keperawatan pada
klien usia lansia dengan gangguan pemenuhan istirahat tidur. Sebelumnya makalah
ini juga membahas terlebih dahulu definisi istirahat dan tidur, pola tidur pada lansia,
1
dan gangguan pola tidur pada usia lansia.
1.2. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dari makalah ini adalah :


1. Apa yang dimaksud dengan istihat dan tidur ?
2. Bagaimana pola tidur pada usia lansia ?
3. Bagaimana gangguan pola tidur pada usia lansia ?
4. Bagaimana asuhan keperawatan pada klien usia lansia dengan gangguan
pemenuhan istirahat tidur ?

1.3. Tujuan

Tujuan dari pembuatan makalah ini yaitu sebagai berikut :


1. Untuk mengetahui definisi istirahat dan tidur.
2. Untuk menjelaskan pola tidur pada usia lansia.
3. Untuk menjelaskan gangguan pola tidur pada usia lansia.
4. Untuk menjelaskan asuhan keperawatan pada klien usia lansia dengan gangguan
pemenuhan istirahat tidur.

2
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Definisi Istirahat dan Tidur

Kebutuhan akan istirahat dan tidur sama pentingnya dengan kebutuhan


makan, aktivitas, maupun kebutuhan dasar lainnya. Setiap individu membutuhkan
istirahat dan tidur untuk memulihkan kembali kesehatannya. Istirahat dan tidur
memiliki pengertian yang berbeda. Istirahat yaitu keadaan tenang, rileks, tanpa
tekanan emosional dan bebas dari perasaan gelisah, istirahat bukan berarti tidak
melakukan aktivitas sama sekali. Misalnya seperti jalan - jalan di taman, nonton
televisi, dan lain sebagainya dikatakan sebagai bentuk istirahat.
Menurut Narrow (1967) terdapat enam kondisi seseorang dapat beristirahat,
diantaranya yaitu :
a. Merasa segala sesuatu berjalan normal.
b. Merasa diterima.
c. Merasa diri mengerti apa yang sedang berlangsung.
d. Bebas dari perlukaan dan ketidak nyamanan.
e. Merasa puas telah melakukan aktifitas-aktifitas yang berguna.
f. Mengetahui bahwa mereka akan mendapat pertolongan bila
membutuhkannya.

Sedangkan tidur yaitu status perubahan kesadaran ketika persepsi dan reaksi
individu terhadap lingkungan menurun. Tidur merupakan suatu keadaan relatif tanpa
sadar yang penuh ketenangan tanpa kegiatan yang merupakan urutan siklus yang
berulang - ulang dan masing - masing menyatakan fase kegiatan otak dan badan
yang berbeda. Pendapat para ahli lain menyebutkan bahwa tidur merupakan kondisi
tidak sadar dimana individu dapat dibangunkanoleh stimulus atau sensoris yang
sesuai (Guyton, 1986). Tidur dipicu oleh sekelompok kompleks hormon yang aktif
dalam utama, dan yang merespon isyarat dari tubuh sendiri dan lingkungan. Sekitar
80 persen dari tidur tanpa mimpi, dan dikenal sebagai gerakan mata non-cepat
(NREM) tidur. Adapun fungsi dari istirahat dan tidur yaitu :
1. Memperbaiki keadaan fisiologis dan psikologis.
2. Melepaskan stress dan ketegangan.
3. Memulihkan keseimbangan alami di antara pusat-pusat neuron.
3
4. Secara tradisional, dipandang sebagai waktu untuk memperbaiki dan
menyiapkan diri pada waktu periode bangun.
5. Memperbaiki proses biologis dan memelihara fungsi jantung.
6. Berperan dalam belajar, memori dan adaptasi.
7. Mengembalikan konsentrasi dan aktivitas sehari-hari.
8. Menghasilkn hormon pertumbuhan utk memperbaiki serta memperbaharui
epitel dan sel otak.
9. Menghemat dan menyediakan energi bagi tubuh.
10. Memelihara kesehatan optimal dan mengembalikan kondisi fisik.

Tidur oleh Jhon Son dianggap sebagai salah satu kebutuhan fisiolosis dasar
manusia, dan merupakan proses perbaikan tubuh. Secara fisiologis jika sesorang
tidak mendapatkan tidur yang cukup maka akan terjadi efek-efek seperti berupa,
konfusi, dan disorientasi, terutama jika deprivasi tidur terjadi untuk waktu yang
lama. Efek merugikan dari deprivasi tidur pada klien yang sudah mengalami konfusi
terutama penyakit alzheimer, meliputi peningkatan agitasi, perilaku mengeluyur,
gelisah, dan sindrom matahari terbenam.
Syndr mengemukakan bahwa lamanya periode tidur dapat mempengaruhi
tingkat mortalitas. Tidur adalah keadaan perilaku ritmik dan siklik yang terjadi pada
lima tahap (empat non – rapd eye movement ) [ NREM] dan satu rapid eye
movement [REM] seperti yang diindikasikan dengan pemeriksaan
Electroensefalogram (EEG), gerakan mata , dan gerakan otot. Pada tahap terjaga,
rekaman EEG menunjukkan voltase rendah, dengan gelombang acak dan cepat.
Setelah pergi tidur, seseorang terlebih dahulu melewati tahap terjaga rileks
yang dicirikan oleh gelombang alfa. Orang tersebut kemudian melewati tahap tidur
denagn urutan: 1, 2, 3, 4, 3, 2, REM. Kemudian tahap 2 dimulai kembali kecuali jika
orang tersebut terbangun. Jika orang itu terbangun, dan kembali tidur, yang
merupakan hal yang sering terjadi pada lansia, maka tahap 1 akan dimulai kembali.
Dalam pola tidur normal, sekitar 70 – 90 menit setelah awitan tidur, dimulailah
periode REM pertama bergantian dengan tidur NREM pada siklus 90 menit selama
periode tidur nokturnal. Konsekuensi dari terbangun, seperti yang terjadi untuk ke
toilet di malam hari atau proses tidur keperawatan, dapat menimbulkan efek buruk
pada fisiologis dan fungsi mental lansia.
4
.2. Pola Tidur pada Usia Lansia

Jumlah tidur total tidak berubah sesuai dengan pertambahan usia. Akan
tetapi, kualitas tidur kelihatan menjadi berubah pada kebanyakan lansia
(Bliwise,1993). Episode tidur REM cenderung memendek. Terdapat penurunan yang
progresif pada tahap tidur NREM 3 dan 4; beberapa lansia hampir tidak memiliki
tahap 4, atau tidur yang dalam. Seorang lansia yang terbangun lebih sering di malam
hari, dan membutuhkan banyak waktu untuk jatuh tertidur. Akan tetapi, pada lansia
yang berhasil beradaptasi terhadap perubahan fisiologis dan psikologis dalam
penuaan lebih mudah memelihara tidur REM dan keberlangsungan dalam siklus
tidur yang mirip dengan dewasa muda (Reynolds dkk,1993).
Keragaman dalam perilaku tidur lansia adalah umum. Keluhan tentang
kesulitan tidur waktu malam seringkali terjadi diantara lansia, seringkali akibat
keberadaan penyakit kronik lain. sebagai contoh, seorang lansia yang mengalami
artritis mempunyai kesulitan tidur akibat nyeri sendi. Kecenderungan untuk tidur
siang keihatannya meningkat secara progresif dengan bertambahnya usia.
Peningkatan waktu siang hari yang dipakai untuk tidur dapat terjadi karena seringnya
terbangun pada malam hari. Dibandinngkan dengan jumlah waktu yang dihabiskan
di tempat tidur, waktu yang dipakai tidur menurun sejam atau lebih (Evans dan
Rogers,1994).
Perubahan pola tidur pada lansia disebabkan perubahan SSP yang
mempengaruhi pengaturan tidur. Kerusakan sensorik, umum dengan penuaan, dapat
mengurangi sensivitas terhadap waktu yang mempertahankan irama sirkadian.
Sebagian besar lansia berisiko tinggi mengalami gangguan tidur akibat
berbagai faktor. Proses patologis terkait usia dapat menyebabkan perubahan pola
tidur. Gangguan tidur menyerang 50% orang yang berusia 65 tahun atau lebih yang
tinggal dirumah dan 66% orang yang tinggal di fasilitas perawatan jangka panjang.
Gangguan tidur mempengaruhi kulaitas hidup dan berhubungan dengan angka
mortalitas yang lebih tinggi.
Selama penuaan, pola tidur mengalami perubahan – perubahan yang khas
5
yang membedakannya dari orang –orang yang lebih muda. Perubahan tersebut
mencakup kelatenan tidur, terbangun pada dini hari, dan peningkayan jumlah tidur
siang. Jumlah waktu yang dihabiskan untuk tidur yang lebih dalam juga menurun.
Terdapat suatu hubungan antara peningkatan terbangun selama tidur dengan jumlah
total waktu yang dihabiskan untuk terjaga di malam hari. Hal tersebut tampak
sebagai pengaturan tidur sirkadian yang efektif.
Diantara lansia yang sehat, beberapa diantaranya mengalami gejala – gejala
yang terkait dengan perubahan tidur dan distribusi tidur serta perilaku terjaga.
Namun banyak juga lansia yang mengalami berbagai masalah medis dan psikososial
yang mengalami gangguan tidur. Kondisi tersebut antara lain :
- Penyakit psikiatrik, terutama depresi
- Penyakit Alzheimer dan penyakit degeneratif neuro lainnya
- Penyakit kardiovaskular dan perawatan pasca operasi bedah jantung
- Inkompetensi jalan napas atas
- Penyakit paru
- Sindrom nyeri
- Penyakit prostatik
- Endokrinopati
Tiga keluhan atau gangguan utama dalam memulai dan memepertahankan
tidur banyak terjadi di kalangan lansia. Faktor yang mempengaruhi tidur antara lain
adalah ketidakmampuan untuk melakukan rutinitas yang biasa mereka lakukan
sebelum tidur, ketidakmampuan untuk merasa nyaman, kebisingan, perawatan
prosedural, nyeri dan tempat tidur yang asing .

2.1.3. Gangguan Pola Tidur pada Usia Lansia

A. Beberapa gangguan pola tidur pada usia lansia adalah sebagai berikut :
1. Insomnia
Insomnia adalah ketidakmampuan untuk tidur walaupun ada keinginan untuk
melakukannya. Lansia rentan terhadap insomnia karena adanya perubahan
pola tidur, biasanya menyerang tahap 4 (tidur dalam). Keluhan insomnia
mencakup ketidakmampuan untuk tertidur, sering
terbangun,
6
ketidakmampuan untuk kembali tidur, dan terbangun pada dini hari. Karena
insomnia merupakan gejala, maka perhatian harus diberikan pada faktor –
faktor biologis, emosional, dan medis yang berperan, juga pada kebiasaan
tidur yang buruk. Insomnia terdiri dari 3 jenis :
- Jangka pendek : berakhir pada beberapa minggu dan muncul akibat
pengalaman stres yang bersifat sementara seperti kehilangan orang yang
dicintai, tekanan di tempat kerja, atau takut kehilangan pekerjaan.
Biasanya kondisi ini dapat hilang tanpa adanya interfensi medis setelah
orang tersebut beradaptasi terhadap stresor.
- Sementara : episode malam gelisah yang tidak sering terjadi yang
disebabkan oleh perubahan - perubahan lingkungan seperti jet lag,
kontruksi bangunan yang bising, atau pegalaman yang menimbulkan
ansietas.
- Kronis : berlangsung selama tiga minggu atau seumur hidup. Kondisi ini
dapat disebabkan oleh kebiasaan tidur yang buruk, masalah psikologis,
penggunaan obat tidur berlebih, gangguan jadual tidur – bangun, dan
masalah kesehatan lainnya. 40% insomnia kronis disebabkan oleh
masalah fisik sepertia apnea tidur, syndrom kaki gelisah, atau nyeri
kronis karena artritis. Insomnia kronis biasanya memerlukan intervensi
psikiatrik atau medis.

2. Hipersomnia
Hipersomnia dicirikan dengan gangguan tidur lebih dari 8 atau 9 jam per
periode 24 jam, dengan keluhan tidur berlebihan. Penyebab hipersomnia
masih bersifat spekulatif tetapi dapat berhubungan ketidakaktifan, gaya
hidup yang membosankan, atau depresi. Orang tersebut dapat menunjukkan
mengantuk di siang hari yang persisten, mengalami “serangan tidur”, tampak
mabuk atau komatose, atau mengalami mengantuk pascensefalitik. Keluhan
keletihan , kelemahan, dan kesulitan mengingat atau belajar merupakan hal
yang sering terjadi.
3. Apnea tidur
Apnea tidur adalah berhentinya pernapasan selama tidur. Gangguan ini
diidentifikasi dengan gejala mendengkur, berhentinya pernapasan minimal
10 detik, dan rasa kantuk di siang hari yang luar biasa. Selama tidur,
7
pernapasan dapat berhenti paling bayak 300 kali, dan episode apnea dapat
berakhir dari 10 sampai 90 detik. Pria dewasa dengan riwayat mendengkur
yang keras dan intermiten, yang juga obesitas dengan leher yang pendek dan
besar biasanya berisiko mengalami apnea tidur. Gejala apnea tidur antara
lain adalah:
- Dengkuran yang keras dan periodik
- Aktivitas malam hari yang tidak biasa, seperti duduk tegak, berjalan
dalam tidur, terjatuh dari tempat tidur
- Gangguan tidur dengan seringnya terbangun di malam hari (nocturnal
waking)
- Perubahan memori
- Depresi
- Rasa kantuk yang berlebihan di siang hari
- Nokturia
- Sakit kepala di pagi hari
- Ortopnea akibat apnea tidur
Pengobatan yang spesifik untuk apnea tidur melibatkan penurunan berat
badan, dengan penatalaksanaan medis atu pembedahan untuk membuang
penumpukan jaringan di area faring. Pasien dapat dianjurkan untuk
menghindari alkohol dan obat – obatan yang dapat mempengaruhi respon
terbangun dan untuk menggunakan bantal tambahan atau tidur di kursi.
Semua tindakan tersebut dapat membantu mengurangi kemungkinan
komplikasi yang disebabkan oleh apnea tidur.
B. Penatalaksanaan gangguan tidur pada lansia

a) Pencegahan primer
Sebelas peraturan untuk mendapatkan hygiene tidur yang baik telah berhasil
diidentifikasi untuk pencegahan primer gangguan tidur.
1. Tidur seperlunya, tetapi tidak berlebihan, agar merasa segar dan sehat
dihari berikutnya. Pembatasan waktu tidur dapat memperkuat tidur,
berlebihnya waktu yang dihabiskan di tempat tidur tampaknya berkaitan
dengan tidur yang terputus – putus dan dangkal.
2. Waktu bangun yang teratur di pagi hari memperkuat siklus sirkadian dan
menyebabkan awitan tidur yang teratur. 8
3. Jumlah latihan yang stabil setiap harinya dapat memperdalam tidur;
namun, latihan yang hanya dilakukan kadang - kadang tidak dapat
memperbaiki tidur pada malam berikutnya.
4. Bunyi bising yang bersifat kadang – kadang (misal bunyi pesawat terbang
melintas) dapat mengganggu tidur sekalipun orang tersebut tidak
terbangun oleh bunyinya dan tidak dapat mengingatnya di pagi hari.
Kamar tidur kedap suara dapat membantu bagi orang – orang yang harus
tidur di dekat kebisingan.
5. Meskipun ruangan yang terlalu hangat dapat mengganggu tidur, namun
tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa kamar yang terlalu dingin dapat
membantu tidur.
6. Rasa lapar mengganggu tidur; kudapan ringan dapat membantu tidur.
7. Pil tidur yang hanya kadang – kadang saja digunakan dapat bersifat
menguntungkan, namun penggunaannya yang kronis tidak efektif pada
kebanyakan penderita insomnia.
8. Kafein pada malam hari dapat mengganggu tidur, meskipun pada orang –
orang yang tidak berpikir demikian.
9. Alkohol membantu orang – orang yang tegang untuk tertidur lebih
mudah, tetapi tidur tersebut kemudian akan terputus – putus.
10. Orang – orang ynag merasa marah dan frustasi karena tidak dapat tidur
tidak boleh berusaha terlalu keras untuk tertidur tetapi harus menyalakan
lampu dan melakukan hal lain yang berbeda.
11. Penggunaan tembakau secara kronis dapat mengganggu tidur.

Tindakan pencegahan primer lainnya antara lain adalah :


 Kasur yang baik memungkinkan kesejajaran tubuh yang tepat.
 Suhu kamar harus cukup dingin (kurang dari 24 0 C) sehingga cukup
nyaman.
 Asupan kalori harus minimal pada saat menjelang tidur.
 Latihan sedang di siang hari atau sore hari merupakan hal yang
dianjurkan

b) Pencegahan Sekunder
9
Pengkajian oleh perawat harus mencakup faktor-faktor berikut ini :
 Seberapa baik lansia tersebut tidur di rumah?
 Berapa kali lansia tersebut terbangun di malam hari?
 Kapan lansia tersebut pergi ke tempat tidur dan terbangun?
 Ritual apa saja yang terjadi menjelang tidur (mis., kudapan menjelang
tidur, menonton televisi, mendengarkan musik, membaca)?
 Berapa jumlah dan jenis latihan yang dilakukan setiap hari?
 Apakah posisi yang paling disukai ketika berada di tempat tidur?
 Apa jenis lingkungan kamar yang disukai (Tenang, musik lembut, lampu
remang – remang, gelap total, kamar tertutup)?
 Berapa suhu yang disukainya?
 Berapa banyak ventilasi yang diinginkan?
 Aktifitas apa yang biasa dilakukan beberapa jam menjelang tidur?
 Apa saja obat tidur atau obat lain yang diingesti sebelum tidur secara
rutin?
 Berapa banyak waktu yang dihabiskan orang tersebut dalam hobinya?
 Persepsi orang tersebut tentang kepuasan hidup dan status kesehatannya.

Seperti biasa, memvalidasi riwayat pengkajian dengan anggota keluarga atau


pemberi perawatan merupakan hal yang penting untuk memastikan
keakuratan data pengkajian jika pasien dianggap tidak kompeten untuk
memberi laporan sendiri. Catatan harian tentang tidur merupakan cara
pengkajian yang sangat bagus bagi lansia di rumahnya sendiri. Informaasi ini
memberikan catatan yang akurat tentang masalah tidur. Untuk mendapatkan
gambaean sejati tentang gangguan tidur yang dialami lansia di rumah, atau di
fasilitas kesehatan, catatan harian tersebut harus dibuat selama 3 sampai 4
minggu. Catatan tersebut harus mencakup faktor – faktor berikut ini :
 Seberapa sering bantuan diperlukan untuk memberikan obat nyeri, tidak
dapat tidur, atau menggunakan kamar mandi
 Kapan orang tersebut turun dari kamar tidur
 Berapa kali orang tersebut terbangun atau tertidur pada saat diobservasi
oleh perawat atau pemberi perawatan
 Terjadinya konfusi atau disorientasi
 Penggunaan obat tidur 10

 Perkiraan orang tersebut terbangun di pagi hari

c) Pencegahan tersier
Jika pasien terdapat gangguan tidur seperti apnea tidur yang dapat
mengancam kehidupan, kondisi pasien memerlukan rehabilitasi melaui
tindakan –tindakan seperti pengangkatan jaringan yang menyumbat di mulut
dan memengaruhi jalan napas. Saat ini sudah banyak pusat – pusat gangguan
tidur yang tersedia di seluruh negara utnuk membantu mengevaluasi
gangguan tidur. Tempat – tempat tersebut, yang biasanya berkaitan dengan
lembaga penelitian dan kedokteran klinis atau universitas, dilengkapi dengan
peralatan medis yang canggih untuk mendeteksi rekaman listrik di otak dan
obstruksi pernapasan. Data –data tersebut membantu menentukan pengobatan
yang terbaik untuk mengatasi keuslitan dan merehabilitasi lansia sehingga ia
dapat menikmati tidur yang berkuaitas baik sampai akhir hidupnya.
d) Penatalaksanaan terapeutik
Bootzin dan Nicassio menganjurkan aturan-aturan berikut untuk
mempertahankan kenormalan pola tidur :
 Pergi tidur hanya jika mengantuk.
 Gunakan tempa tidur hanya untuk tidur; jangan membaca, menonton
televisi, atau makan di tempat tidur
 Jika tidak dapat tidur, bangun dan pindah ke ruangan lain. Bangun
sampai anda benar – brnar mrngantuk, kemudian baru kembali ke tempat
tidur. Jika tidur masih tidak bisa dilakukan dengan mudah, bangun lagi
dari tempat tidur. Tujuannya adalah menghubungkan antara tempat tidur
dengn tidur cepat. Ulangi langkah ini sesering yang diperlukan sepanjang
malam.
 Siapkan alarm dan bangun di waktu yang sama setiap pagi tanpa
memperdulikan berapa banyak anda tidur di malam hari. Hal ini
membantu tubuh menetapkan irama tidur bangun yang konstan.
 Jangan tidur di siang hari.

C. Intervensi Keperawatan
Berikut ini adalah intervensi keperawatan yang dianjurkan :
- Pertahankan kondisi yang kondusif untuk tidur, yang mencakup perhatian
11
pada faktor – faktor lingkungan dan kegiatan ritual menjelang tidur.
- Bantu orang tersebut untuk rileks pada saat menjelang tidur dengan
memberikan usapan punggung, masase kaki, atau kudapan tidur bila
diinginkan. Latihan pasif dan gerakan menguap memberikan efek yang
menidurkan.
- Memberikan posisi yang tepat, menghilangkan nyeri, dan memberi
kehangatan dengan selimut – selimut konvensional atau selimut listrik juga
membantu.
- Jangan membiarkan pasien meminum kafein (kopi, teh dan cokelat) di sore
hari dan malam hari.
- Lakukan tindakan – tindakan yang masuk akal seperti memutar musik lembut
di radio dan menawarkan susu hangat dan minuman hangat lainnya atau
kudapan yang lebih berat untuk meningkatkan tidur pada lansia tanpa
menggunakan hipnotik. Pada waktu malam, secangkir anggur, sherry, brandi
atau bir memberikan kehangatan internal dan relaksasi pada lansia yang perlu
tidur. Namun, efek dari satu minuman hanya berlangsung dua pertiga siklus
tidur. Sedasi juga bersifat sama, yang menyebabkan tidur terputus – putus.
- Tidur siang merupakan hal yang tepat; namun, jumlah tidur siang tidak boleh
dari 2 jam.
- Latihan setiap hati juga harus dianjurkan. Hal ini merupakan cara yang
terbaik untuk meningkatkan tidur. Latihan harus dilakukan di pagi hari
daripada menjelang tidur karena pada jam – jam tersebut latihan hanya akan
menimbulkan efek menyegarkan daripada menidurkan.
- Mandi air hangat terkadang dapat merilekskan lansia tetapi beberapa
diantaranaya tidak menyukai intervensi ini, mengeluh pusing pada saat
mereka bangun dari tub.

Jika tindakan seperti yang disebutkan di atas gagal memperbaiki kualitas tidur,
obat – obatan dapat bermanfaat untuk sementara waktu, tetapi hanya boleh
menjadi upaya terakhir. Perawat yang terampil harus memiliki kewaspadaan
yang tinggi berkaitan dengan penggunaan obat – obatan tersebut dan harus
mengkaji lansia dengan sering untuk memastikan bahwa rasa kantuk yang
berlebihan di siang hari, konfusi dan disorientasi tidak terjadi. Jika terdapat bukti
– bukti adanya kondisi ini, obat – obatan tersebut harus dihentikan secara
12
bertahap dan dilakukan tindakan nonfarmakologis.

.4. Asuhan Keperawatan pada Klien Usia Lansia dengan Gangguan Pemenuhan
Istirahat Tidur
A. Pengkajian

Untuk meningkatkan tidur nyenyak yang normal bagi klien, perawat


mengkaji pola tidur mereka dengan menggunakan riwayat keperawatan untuk
mengumpulkan informasi tentang faktor-faktor yang biasanya mempengaruhi
tidur. Apabila klien menganggap bahwa tidur sudah adekuat, maka riwayat
keperawatan tersebut dapat dipersingkat. Tidur adalah pengalaman subjektif.
Hanya klien yang dapat melaporkan apakah tidurnya cukup dan nyenyak atau
tidak. Apabila klien merasa puas dengan kuantitas dan kualitas tidur yang
dialaminya, hal tersebut dapat dianggap normal (Closs, 1988). Apabila klien
mengaku, atau perawat mencurigai adanya masalah tidur, diperlukan riwayat
yang lebih rinci.
1. Pengkajian Tidur
Kebanyakan individu dapat memberi perkiraan yang akurat dan
beralasan tentang pola tidur mereka, terutama jika terjadi suatu perubahan.
Salah satu metode yang singkat dan efektif untuk mengkaji kualitas tidur
adalah dengan menggunakan skala analog visual (Closs,1988). Perawat
membuat sebuah garis horisontal sepanjang kira-kira 10cm. Tulis
pernyataan-pernyataan yang berlawanan seperti “tidur malam terbaik” dan
“tidur malam terburuk” pada setiap ujung garis. Klien diminta untuk
memberi tanda titik pada garis yang menandakan presepsi mereka terhadap
tidur malam. Jarak tanda tersebut dapat diukur dengan milimeter dan diberi
nilai angka untuk kepuasan terhadap tidur. Skala ini dapat diberikan
berulang-ulang untuk menunjukan adanya perubahan dari waktu ke waktu.
Perngkajian ditujukan pada pemahaman karakteristik suatu masalah
tidur dan kebiasaan tidur klien yang biasa sehingga cara untuk
meningkatkan tidur dapat diintegrasikan kedalam asuhan keperawatan.
Misalnya, jika riwayat keperawatan menunjukan bahwa klien selalu
13
membaca sebelum tidur maka akan sangat masuk akal jika perawat
menawarkan bahan bacaan sebelum tidur.
2. Sumber untuk Pengkajian Tidur
Biasanya klien merupakan sumber terbaik untuk menggambarkan
masalah tidur dan sampai sejauh mana masalah tersebut mengubah pola
tidur dan bangun mereka yang biasa. Seringkali klien mengetahui penyebab
masalah tidur tersebut, seperti kebisingan lingkungan atau kekhawatiran
akan suatu hubungan. Selain itu, pasangan tidur juga dapat memberi
informasi tentang pola tidur klien yang dapat mengungkapkan sifat
gangguan tidur tertentu. Misalnya, pasangan klien yang mengalami apnea
tidur sering mengeluh bahwa tidur mereka terganggu oleh dengkuran klien.
Seringkali pasangan harus tidur di tempat tidur atau ruang yang berbeda
supaya mendapatkan tidur yang adekuat. Perawat harus menanyakan pada
pasangan tidur klien apakah klien pernah mengalami henti napas ketika
tidur dan seberapa sering serangan apnea ini terjadi. Beberapa pasangan
mengatakan bahwa mereka menjadi sangat ketakutan ketika klien tampak
berhenti bernapas selama beberapa periode disaat tidur.
Pada saat merawat anak-anak, perawat perlu mencari informasi
tentang pola tidur dari orang tua karena biasanya mereka adalah sumber
informasi yang baik tentang mengapa anak mereka mengalami masalah
tidur. Beberapa orang tua mungkin tidak menyadari bahwa terdapat
berbagai pola tidur bayi dan mungkin perlu ditenangkan jika bayi mereka
tampaknya kurang tidur dibandingkan bayi yang lain dan sebaliknya jika
bayi mereka sehat dan tumbuh dengan baik (Parkinson, 1994). Rasa lapar,
rasa hangat yang berlebihan, dan kecemasan akibat perpisahan adalah
faktor-faktor yang dapat menyebabkan bayi sulit tertidur atau sering
terbangun di malam hari. Anak-anak yang lebih besar seringkali mampu
menghubungkan ketakutan atau kekhawatiran yang menghalangi
kemampuan mereka untuk tidur. Apabila anak sering terbangun di tengah-
tengah mimpi buruk, orang tua dapat mengidentifikasi masalah tetapi
mungkin tidak memahami makna dari mimpi tersebut. Orang tua juga dapat
menggambarkan pola perilaku khas yang membantu atau mengganggu
tidur. Misalnya, stimulasi berlebihan dari bermain aktif atau mengunjungi
14
teman kemungkinan dapat mengganggu tidur. Pada masalah tidur kronik,
orang tua dapat menghubungkan durasi masalah, perkambangannya, dan
respons anak. orang tua bayi mungkin perlu mencatat perilaku bayi selama
24 jam jika disaat tidur dan terjaga selama beberapa hari untuk menentukan
apa yang mungkin menyababkan masalah tidur. Pola makan dan lingkungan
tidur bayi juga perlu digambarkan karena dapat mempengaruhi perilaku
tidur.
3. Riwayat Tidur
Klien dapat melaporkan bahwa mereka menikmati tidur yang adekuat.
Pada situasi ini riwayat tidur dapat dipersingkat dengan menganalisis
komponen riwayat tidur yang berupa:
1. Deskripsi masalah tidur klien
2. Pola tidur biasa
3. Perubahan pola tidur terakhir
4. Rutinitas menjelang tidur dan lingkungan tidur
5. Penggunaan obat tidur dan obat-obatan yang telah diresepkan lainnya
serta obat-obatan bebas
6. Pola asupan diet dan jumlah zat (misalnya: alkohol) yang
mempengaruhi tidur
7. Gejala yang dialami selama terbangun
8. Penyakit fisik yang terjadi secara bersamaan
9. Peristiwa dalam kehidupan yang terjadi saat ini
10. Status emosional dan mental saat ini

4. Deskripsi Masalah Tidur


Pada saat klien mengakui atau perawat mencurigai adanya masalah
tidur, riwayat keperawatan harus dibuat terperinci agar asuhan yang
terapeutik dapat diberikan. Pertanyaan terbuka membantu klien
menggambarkan masalah tersebut dengan lebih lengkap. Deskripsi umum
tentang masalah yang diikuti dengan pertanyaan-pertanyaan yang lebih
fokus biasanya mengungkapkan karakteristik spesifik yang dapat digunakan
dalam merencakan terapi. Pertanyaan-pertanyaan pengkajian antara lain
mencakup:
15
1. Sifat dari masalah: beritahu saya jenis masalah tidur apa yang anda
alami. Beritahu saya mengapa anda beranggapan bahwa tidur anda tidak
adekuat. Jelaskan pada saya tentang karakteristik tidur malam anda.
Seberapa jauh perbedaan tidur anda saat ini dari tidur anda yang dulu?
2. Tanda dan gejala: apakah anda mengalami kesulitan untuk tidur, tetap
tidur, atau untuk bangun? Pernahkan anda diberitahu bahwa anda
mendengkur dengan keras? Apakah anda mengalami sakit kepala ketika
bangun? Apakah anda terbangun karena mimpi buruk?
3. Awitan dan durasi: kapan pertama kali anda menyadari masalah ini?
Sudah berapa lama masalah ini terjadi?
4. Keparahan: berapa lama waktu yang anda butuhkan untuk tertidur?
Seberapa sering dalam seminggu anda mengalami kesulitan untuk tidur?
Beritahu saya berapa jam tidur malam yang anda lakukan minggu ini;
bandingkan dengan tidur malam anda yang biasa. Apa yang anda
lakukan disaat terbangun di malam hari atau terbangun terlalu dini di
pagi hari?
5. Faktor pencetus: beritahu saya apa yang anda lakukan sesaat sebelum
tidur. Apakah baru-baru ini anda mengalami perubahan di tempat kerja
atau di rumah? Bagaimana alam perasaan anda dan apakah anda
menyadari adanya perubahan baru-baru ini? Obat apa atau obat
reaksional (obat yang kadang dikonsumsi untuk kesenangan) apa yang
anda gunakan secara teratur? Apakah anda meminum obat dari resep
yang baru atau obat bebas? Sudah berapa lama anda menggunakan obat
tersebut? Apakah anda memakan makanan (misalnya: minuman
beralkohol atau berkafein) yang dapat mengganggu tidur anda? Apakah
anda menderita penyakit fisik yang dapat mengganggu tidur anda?
6. Efek pada klien: bagaimana pengaruh tidur ini bagi anda? (tanyakan
pada pasangan atau teman: apakah anda merasa ada perubahan pada
perilaku klien sejak masalah tidur ini terjadi?) apakah anda merasa
kantuk yang berlebihan, sensitif, atau kesulitan berkonsentrasi selama
terjaga? Apakah anda mengalami kesulitan untuk tetap terjaga atau
pernahkah anda tertidur disaat yang tidak tepat, misalnya, ketika
mengemudi, duduk tenang disebuah pertemuan, atau menonton tv?
16
Selain tentang riwayat tidur, klien dan pasangan tidur dapat diminta
untuk mencatat aktivitas tidur bangun selama satu minggu (Douglas,
Carskadon, dan Houser, 1990). Catatan ini tidak digunakan untuk klien
yang menderita penyakit akut yang hanya dirawat sebentar dirumah sakit.
5. Pola Tidur Biasa
Tidur normal sulit untuk didefinisikan karena sangat bervariasi dalam
hal kuantitas dan kualitas yang dirasakan adekuat pada setiap orang.
Namun, meminta klien untuk menjelaskna pola tidur mereka yang biasa
merupakan hal yang sangat penting, karena berguna untuk menentukan
signifikasi perubahan yang ditimbulkan oleh gangguan tidur. Mengetahui
pola tidur klien yang biasa dan disukai memungkinkan perawat untuk
mencoba menyesuaikan kondisi tidur di lingkungan layanan kesehatan
dengan kondisi tidur di rumah. Untuk menentukan pola tidur klien, perawat
mengajukan pertanyaan – pertanyaan berikut :
1. Pukul berapa anda biasanya naik ke tempat tidur setiap malam?
2. Pukul berapa anda biasanya tertidur? Apakan anda melakukan sesuatu
yang khusus untuk membantu anda tertidur?
3. Berapa kali anda terbangun di malam hari? Mengapa anda beranggapan
bahwa anda terbangun? Apa yang anda lakukan terhadap hal yang
membuat anda terbangun tersebut?
4. Pukul berapa anda biasanya terbangun di pagi hari?
5. Pukul berapa anda turun dari tempat tidur setelah anda terbangun?
6. Berapa jam rata – rata anda tidur setiap malam?

Klien yang mengalami masalah tidur dapat menunjukkan pola yang


sangat berbeda dengan yang biasa atau perubahanya relatif kecil. Klien
yang dirawat di rumah sakit biasanya ingin lebih banyak tidur sebagai
akibat penyakit.
6. Penyakit Fisik
Perawat menentukan apakah klien menderita masalah kesehatan
yang sudah ada sebelumnya, yang mungkin saja dapat menggangu tidur.
Riwayat masalah psikiatrik juga dapat menimbulkan perbedaan. Klien 17
manik depresif tidur lebih banyak pada saat depresi dibandingkan pada saat
manik. Klien depresi sering kali mengalami jumlah tidur yang tidak
adekuat, yang terputus-putus. Penyakit kronik seperti penyakit paru
obstruksi menahun dan gangguan nyeri seperti artritis juga menggangu
tidur.
Jika klien baru saja mengalami pembedahan, perawat dapat
memperkirakan bahwa klien akan mengalami gangguan tidur. Efek tidur
bergantung pada keparahan nyeri yang dialami setelah pembedahan
( Closs,1992). Klien dapat sering terbangun selama malam pertama setelah
pembedahan dan hanya mendapat sedikit tidur dalam atau tidur REM.
Bergantung pada jenis pembedahan, mungkin diperlukan waktu beberapa
hari sampai siklus tidur kembali normal.
7. Peristiwa Hidup yang Baru Terjadi
Perawat mempelajari apakah klien mengalami suatu perubahan gaya
hidup yang menggangu tidur. Pekerjaan seseorang dapat memberikan
petunjuk tentang sifat masalah tidur. Pertanggung jawaban pekerjaan, rotasi
jam dinas, atau kerja dalam waktu yang lama dapat menibulkan gangguan
tidur.
8. Status Emosional dan Mental
Apabila klien merasa cemas, sensitif, atau marah, yang menarik
perhatian mental dapat menggangu tidur secara serius. Klien dapat
mengalami stres emosional yang berhubungan dengan penyakit atau krisis
situasional seperti kehilangan pekerjaan atau orang yag dicintai. Oleh
karena itu emosi klien dapat mempengaruhi kemampuan untuk tidur.
9. Rutinitas Menjelang Tidur
Perawat menanyakan tentang apa yang klien lakukan untuk bersiap-
siap tidur. Misalnya, klien meminum segelas susu, mengkonsumsi pil tidur,
memakan makanan ringan, atau menonton televisi. Perawat mengkaji
kebiasaan yang menguntungkan dibandingkan dengan kebiasaan yang
menggang tidur.
10. Lingkungan Tidur
Perawat meminta klien untuk menjelaskan kondisi kamar tidur yang18
diinginkan. Klien dapat mendengarkan radio atau menonton televisi, atau
memilih lingkungan yang tenang karena lingkungan yang bising dapat
mencegah klien untuk tertidur. Di lingkungan pelayanan kesehatan
mungkin terdapat distraksi lingkungan yang dapat menggangu tidur seperti
televisi dikamar, monitor elektronik di koridor, pos perawat yang berisik,
atau klien lain yang menangis di malam hari. Perawat mengidentifikasi
faktor-faktor yang dapat dikurangi atau dikendalikan.
11. Perilaku Deprivasi Tidur
Beberapa klien mungkin tidak menyadari bagaiamana masalah tidur
mempengaruhi prilaku mereka. Perawat mengobservasi prilaku seperti
mudah marah ( iritabilitas), disorientasi ( serupa dengan perilaku mabuk ),
dan bicara tidak jelas. Apabila deprivasi tidak berlangsung lama, dapat
terjadi perilaku psikotik seperti delusi dan paranoia. Misalnya, klien dapat
melaporkan melihat benda-benda aneh atau warna-warna di dalam ruangan.
Klien dapat bersikap ketakutan pada saat perawat memasuki ruangan.
Stimlus lingkungan yang berulang dan status fisik klien yang buruk dapat
menyebabkan deprivasi tidur (Richards dan Barnsfather, 1988). Berikut ini
adalah contoh pengkajian asuhan keperawatannya :

B. Diagnosa Keperawatan

19
Pengkajian mengungkapkan sekumpulan data yang mencakup karakteristik
penentu pada masalah tidur yang terjadi akibat gangguan tidur (Cohen dan
Merritt, 1992). Apabila gangguan pola tidur teridentifikasi, perawat menjelaskan
tentang kondisinya yang spesifik. Contoh diagnosa keperawatan NANDA untuk
gangguan tidur adalah sebagai berikut:
Gangguan pola tidur (sulit tertidur) yang berhubungan dengan :
 Kebisingan lingkungan
 Nyeri artritis
Gangguan pola tidur (sering terbangun) yang berhubungan dengan :
 Kekhawatiran kehilangan pekerjaan
 Ketergantungan terhadap obat – obatan barbiturat
Resiko cedera yang berhubungan dengan :
 Serangan berjalan dalam tidur
Koping keluarga tidak efektif : ketidakmampuan yang berhubungan
dengan :
 Pemahaman pasangan tentang narkolepsi
Gangguan harga diri yang berhubungan dengan :
 Terjadinya mengompol
Perubahan proses berpikir yang berhubungan dengan :
 Deprivasi tidur
Gangguan pertukaran gas selama tidur yang berhubungan dengan :
 Perubahan suplai oksigen
Pola napas tidak efektif yang berhubungan dengan :
 Obstruksi trakeobronkial.
Dengan menjelaskan sifat dari gangguan tidur, perawat dapat merancang
intervensi yang lebih efektif. Misalnya, perawat menggunakan terapi yang
spesifik untuk membantu klien yang tidak dapat tertidur dan klien yang
mengalami apnea tidur. Contoh diagnosa keperawatan menunjukkan tentang
bagaimana identifikasi karakteristik penentu dapat memastikan diagnosa
keperawatan yang akurat.
Pengkajian juga harus mengidentifikasi kemungkinan penyebab gangguan
tidur, seperti lingkungan yang bising, asupan tinggi minuman berkafein dimalam
20
hari, atau stress yang melibatkan hubungan perkawinan. Penyebab – penyebab
ini menjadi fokus intervensi untuk meminimalkan atau menghilangkan masalah
tersebut. Misalnya, jika klien mengalami insomnia akibat lingkungan layanan
kesehatan yang bising, perawat dapat menawarkan beberapa rekomendasi dasar
untuk membantu tidur seperti mengendalikan kebisingan peralatan rumah sakit,
mengurangi gangguan, atau menjaga agar pintu tetap tertutup.
Masalah tidur dapat mempengaruhi klien dengan cara lain. misalnya,
perawat dapat menemukan klien dengan apnea tidur memiliki masalah dengan
pasangannya yang kelelahan dan frustasi karena dengkuran klien. Selain itu,
pasangan mengkhawatirkan bahwa klien tidak bernapas dengan semestinya dan
dengan demikian klien berada dalam bahaya. Diagnosa keperawatan dari koping
keluarga yang tidak efektif mengindikasikan bahwa perawat harus memberi
dukungan pada klien dan pasangan sehingga mereka dapat memahami tentang
apnea tidur dan mendapatkan pengobatan medis yang diperlukan. Berikut adalah
contoh diagnosa keperawatannya :

C. Perencanaan
21

Setelah mengidentifikasi setiap diagnosa keperawatan, perawat membuat


rencana asuhan. Rencana asuhan individual hanya dapat dibuat setelah perawat
memahami pola tidur klien yang terakhir (berdasarkan data objektif), persepsi
klien tentang pola tersebut, dan faktor – faktor yang mengganggu tidur. Perawat
dan klien bersama – sama membuat intervensi yang realistik untuk meningkatkan
istirahat dan tidur yang baik di rumah maupun di lingkungan pelayanan
kesehatan. Pasanag tidur klien juga dapat memberikan saran yang beramanfaat.
Penting bagi rencana asuhan untuk memasukkan strategi – strategi yang
tepat untuk lingkungan dan gaya hidup klien. Rencana yang efektif mencakup
hasil yang akan dicapai dalam waktu yang realistik yang berfokus pada tujuan
kebaikan kualitas tidur di rumah. Jenis perencanaan ini memerlukan waktu
beberapa minggu untuk selesai. Perawat bermitra erat dengan klien dan orang
dekat lainnya untuk memastikan bahwa terapi, seperti perubahan jadwal tidur
atau perubahan lingkungan kamar tidur, merupakan hal yang realistik dan dapat
dicapai
Di lingkungan layanan kesehatan perawata merencanakan tindakan atau
rutinitas sedemikian rupa agar klien dapat beristirahat. Misalnya, di unit
perawatan intensif, perawat memeriksa monitor elektronik yang ada untuk
mengikuti kecenderungan tanda-tanda vital tanpa membangunkan klien setiap
jam. Anggota staf yang lain harus diberitahu tentang rencana asuhan tersebut
sehingga mereka dapat mengumpulkan aktivitas-aktivitas pada waktu-waktu
tertentu untuk mengurangi membangunkan klien.
Sifat dari gangguan tidur menentukan apakah rujukan ke pemberi layanan
kesehatan tambahan perlu dilakukan atau tidak. Misalnya, jika pola tidur
berhubungan dengan krisis situasional atau masalah emosional, perawat dapat
merujuk klien ke perawat spesialis klinis psikiatris, atau psikologi klinis untuk
konseling. Apabila yang menjadi masalah adalah insomnia kronik, rujukan medis
atau rujukan ke pusat tidur dapat dilakukan.
Keberhasilan terapi tidur tergantung dari pendekatan-pendekatan yang
sesuai dengan gaya hidup klien dan sifat dari gangguan tidur. Tujuan dari
rencana asuhan bagi klien yang memerlukan tidur atau istirahat adalah sebagai
22
berikut:
1. Klien mendapatkan perasaan segar setelah tidur
2. Klien mendapatkan pola tidur yang sehat
3. Klien memahami faktor-faktor yang meningkatkan atau mengganggu tidur
4. Klien melakukan perilaku perawatan diri untuk menghilangkan faktor-faktor
yang menyebabkan gangguan tidur.
Berikut adalah contoh perencanaan dalam asuhan keperawatan untuk gangguan
tidur :
D. Implementasi

Intervensi keperawatan yang dirancang untuk memperbaiki kualitas tidur


individu sangat berfokus pada promosi kesehatan. Klien memerlukan tidur dan
istirahat yang adekuat untuk mempertahankan gaya hidup yang aktif dan
produktif. Disaat sakit, peningkatan tidur merupakan hal yang penting untuk
pemulihan dari penyakit fisik. Asuhan keperawatan di lingkungan perawatan
akut berbeda dari yang diberikan di rumah klien. Perbedaan utama adalah pada
lingkungan dan kemampuan perawat untuk mendukung kebiasaan tidur yang
normal. Usia klien juga mempengaruhi jenis terapi yang paling efektif. Selain
penyebab atau faktor-faktor yang terkait dengan masalah tidur, perawat
melakukan intervensi spesifik yang meningkatkan pola tidur normal.
KONTROL LINGKUNGAN 23

Semua klien memerlukan lingkungan tidur dengan temperatur lingkungan


yang nyaman dan ventilasi yang baik, sumber bising yang minimal, tempat tidur
yang nyaman dan pencahayaan yang tepat. Anak-anak dan orang dewasa
bervariasi dalam hal temperatur ruangan yang nyaman. Beberapa diantaranya
memilih tidur tanpa selimut. Lansia sering memerlukan selimut atau penutup
tambahan. Banyak lansia yang menggunakan kaus kaki.
Suara yang mendistraksi perlu dihilangkan sedemikian rupa agar kamar
tidur setenang mungkin. Di rumah diperlukan kerjasama dari beberapa anggota
keluarga yang tinggal bersama klien untuk mengurangi kebisingan. Penting juga
untuk mengingat bahwa beberapa klien terbiasa tidur dengan kebisingan di
dalam, seperti dengungan kipas angin. Di rumah sakit perawat dapat
mengendalikan kebisingan dengan beberapa cara yakni sebagai berikut:
1. Tutup pintu kamar klien jika mungkin
2. Jaga agar pintu area kerja di unit tersebut ditutup ketika sedang
digunakan
3. Kurangi volume telepon yang terdekat dan peralatan yang berbunyi
4. Gunakan sepatu beralas karet. Hindari pemakaian sepatu beralas kayu
5. Matikan oksigen disamping tempat tidur dan peralatan lain yang tidak
digunakan
6. Matikan alarm dan bunyi pada alat monitor di samping tempat tidur
7. Matikan tv dan radio dalam kamar kecuali jika klien menyukai musik
yang lembut
8. Hindari bunyi keras yang tiba-tiba seperti menyiram toilet atau
menggeser tempat tidur
9. Lakukan percakapan yang diperlukan dengan suara rendah, terutama
dimalam hari
10. Lakukan percakapan dan pelaporan diruang khusus yang jauh dari kamar
klien.

Untuk klien yang cenderung mengalami konfusi atau jatuh, keselamatan


merupakan hal yang sangat penting. Tempat tidur yang diatur dalam posisi yang
24
lebih rendah ke lantai dapat mengurangi kesempatan jatuh pada saat orang
tersebut berdiri. Apabila klien memerlukan bantuan dalam berambulasi dari
tempat tidur ke kamar mandi, bel kecil yang diletakkan di samping tempat tidur
dapat di gunakan untuk memanggil anggota keluarga. Di lingkungan layanan
kesehatan, lampu panggil harus selalu diletakkan ditempat yang mudah
dijangkau klien. Perawat harus memastikan bahwa klien mengetahui bagaimana
caranya menyalakan lampu tersebut dengan benar.
MENINGKATKAN RUTINITAS MENJELANG TIDUR
Rutinitas menjelang tidur merilekskan klien dalam persiapan untuk tidur.
Penting bagi seseorang untuk pergi tidur pada saat mereka merasa letih atau
mengantuk. Pergi tidur pada saat terjaga penuh dan berfikir tentang hal lain dapat
menyebabkan insomnia dan terganggu dengan tempat tidur sebagai stimulus
untuk tidur.
Di rumah, klien tidak boleh mencoba menyelesaikan pekerjaan kantor atau
menyelesaikan masalah sebelum tidur. Kamar tidur tidak boleh digunakan
sebagai tempat kerja dan harus selalu berhubungan tidur. Bekerja dengan waktu
yang konsisten untuk tidur membantu klien mendapatkan pola tidur sehat dan
memperkuat irama siklus tidur – bangun.
MENINGKATKAN KENYAMANAN
Seseorang akan tertidur hanya jika ia merasa nyaman dan rileks. Perawat
dapat menganjurkan dan menggunakan beberapa tindakan untuk meningkatkan
rasa nyaman yakni sebagai berikut :
 Lakukan tindakan higiene bagi klien yang tirah baring.
 Anjurkan klien untuk memakai pakaian malam yang longgar.
 Singkirkan atau ganti adanya iritan pada kulit klien seperti balutan yang
lembab atau selang drainase.
 Posisikan dan topang bagian tubuh yang menggantung untuk melindungi
titik tekan dan membantu relaksasi otot.
 Berikan topi dan kaos kaki untuk klien lansia dan klien yang cenderung
kedinginan.
 Anjurkan klien untuk berkemih sebelum tidur.
25
 Berikan analgesik atau sedatif sekitar 30 menit sebelum tidur.
 Berikan masase tepat sesaat sebelum klien pergi tidur
 Berikan matras yang nyaman dan jaga agar tempat tidur tetap bersih dan
kering.

MENETAPKAN PERIODE ISTIRAHAT DAN TIDUR


Di rumah hal ini dapat membantu klien untuk tetap aktif secara fisik di
siang hari sehingga mereka cenderung tidur di malam hari. Meningkatkan
aktifitas di siang hari mengurangi masalah tidur. Latihan keras harus selalu
direncanakan sedikitnya selama beberapa jam menjelang tidur.
Lansia sering mengalami kurang tidur di malam hari, karena beberapa
diantaranya tidur di siang hari (Bliwise, 1993). Perubahan pola yang berkaitan
dengan penuaan ini bukan berartti terjadi penurunan kebutuhan tidur tetapi adaya
redistribusi perilaku tidur selama periode 24 jam. Tidur siang harus selalu
dilakukan pada waktu yang sama setiap hari untuk mempertahankan jadwal yang
konsisten.
Di rumah sakit atau lingkungan perawatan menyediakan waktu istirahat dan
tidur untuk klien merupakan hal yang sulit dilakukan. Tapi perawat membuat
rencana asuhan agar tidak membangunkan klien untuk tugas – tugas yang tidak
penting. Perawat dapat membantu dengan membuat jadwal pengkajian,
pengobatan, prosedur dan rutinitas di saat klien terjadga. Sebagai contoh, jika
kondisi fisik klien sudah stabil, perawat tidak boleh membangunkan klien untuk
memeriksa tanda – tanda vital. Darah harus diambil pada saat klien terjaga.
Kecuali jika mempertahankan kadar terapeutik suatu obat merupakan hal sangat
penting, obat harus diberikan selama jam - jam terjaga. Perawat harus
bekerjasama dengan bagian radiologi dan layanan pendukung lainnya untuk
menjadwalkan terapi pada interval yang memungkinkan klien untuk beristirahat.
Jika kondisi klien membutuhkan pemantauan yang lebih sering, perawat
dapat merencanakan aktifitas yang memungkinkan periode istirahat yang lebih
lama. Hal ini berarti merencanakan aktifitas – aktifitas sedemikian rupa agar
perawat tidak bolak – balik masuk ke kamar klien setiap menit. 26
PENGENDALIAN GANGGUAN FISIOLOGIS
Untuk klien dengan penyakit fisik, perawat dapat membantu mengendalikan
gejala – gejala yang mengganggu tidur. Sebagai contoh, klien dengan
abnormalitas pernapasan harus tidur dengan 2 bantal atau dengan posisi semi
duduk untuk mempermudah pernapasan. Untuk mencegah gangguan tidur, klien
harus memakan makanan kecil beberapa jam sebelum tidur dan tidur dengan
posisi semi – duduk. Klien dengan nyeri, mual, atau gejala kambuhan lainnya
harus mendapatkan obat pengurang gejala sehingga obat tersebut dapat efektif
pada waktu tidur.
PENGURANGAN STRES
Stres emosional dapat mengganggu tidur. Ketidakmampuan untuk tidur
juga dapat membuat seseorang peka dan tegang. Apabila seseorang mengalami
kekacauan emosional, maka harus dianjurkan agar tidak memaksakan tidur.
Klien yang mengalami kesulitan tidur dapat dibantu dengan bangun dan
melakukan aktifitas yang merilekskan, seperti menjahit atau membaca, bukan
tetap berada di tempat tidur dan berfikir tentang tidur. Di lingkungan pelayanan
kesehatan perawat dinas malam harus meluangkan waktu untuk duduk dan
berbicara dengan klien yang tidak dapat tidur. Hal ini membantu perawat
menentukan faktor – faktor yang membuat klien tetap terjaga.
KUDAPAN MENJELANG TIDUR
Beberapa orang menyukai kudapan menjelang tidur, sedangkan yang lain
tidak bisa tidur setelah makan. Kudapan produk susu seperti susu atau coklat
hangat yang mengandung L-triptofan dapat meningkatkan tidur. Makan besar
sebelum tidur sering menyebabkan gangguan gastrointestinal dan mengganggu
kemampuan untuk tidur.
PENDEKATAN FARMAKOLOGIS UNTUK MENINGKATKAN TIDUR
Penggunaan obat – obatan untuk menatalaksanakan gejala merupakan hal
yang banyak dilakukan di Amerika. Ada obat – obatan yang banyak digunakan
yang berhubungan dengan insomnia. Stimulan sistem saraf pusat seperti
amfetamin, nikotin, terbutalin, teofilin, dan pemolin (Cylert), harus digunakan
secara terpisah dan di bawa penatalaksanaan medis (McKEnry dan Salerno,
27
1995). Selain itu, penghentian depresan SSP, seperti alkohol, barbiturat,
antidepresan trisiklik (amitriptilin, imipramin, dan doksepin, serta triazolam
(halcon)), dapat menyebabkan insomnia dan harus diatur dengan cermat.
PROMOSI KESEHATAN MELALUI PENYULUHAN KLIEN
Untuk membentuk kebiasaan tidur yang baik dirumah, klien dan pasangan
tidurnya harus mempelajari teknik - teknik yang meningkatkan tidur dan kondisi
- kondisi yang mengganggu tidur. Orangtua juga harus mempelajari bagaimana
meningkatkan kebiasaan tidur yang baik pada anak - anak mereka.

E. Evaluasi

Setiap klien memiliki kebutuhan tidur dan istirahat yang unik. Oleh karena
itu, evaluasi terapi yang dirancang untuk meningkatkan tidur dan istirahat harus
bersifat individual. Klien yang relatif sehat tidak memerlukan penyesuaian pola
tidur sebanyak klien yang kondisi fisiknya buruk.
Perawat menentukan apakah hasil yang diharapkan telah terpenuhi atau
tidak. Selain itu, perawat juga mengkaji tingkat pemahaman yang diperoleh klien
atau anggota keluarga setelah menerima instruksi tentang kebiasaan tidur.
Jika hasil evaluasi tidak terpenuhi, perawat merevisi tindakan keperawatan
berdasarkan kebutuhan dan pilihan klien. Menemukan terapi yang efektif
bergantung pada gangguan tidur klien, usia dan pola tidur normal. Perawat
mendokumentasikan respons klien terhadap terapi tidur sehingga asuhan yang
kontinu dapat dipertahankan. Perawat disebut efektif dalam meningkatkan tidur
dan istirahat jika tujuan asuhan tercapai. Berikut adalah contoh evaluasi dalam
asuhan keperawatan untuk gangguan pola tidur.
:

28
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan

Istirahat dan tidur memiliki pengertian yang berbeda. Istirahat yaitu


keadaan tenang, rileks, tanpa tekanan emosional dan bebas dari perasaan gelisah,
istirahat bukan berarti tidak melakukan aktivitas sama sekali. Sedangkan tidur adalah
status perubahan kesadaran ketika persepsi dan reaksi individu terhadap lingkungan
menurun. Jumlah tidur total tidak berubah sesuai dengan pertambahan usia. Akan
tetapi, kualitas tidur kelihatan menjadi berubah pada kebanyakan lansia. Perubahan
pola tidur pada lansia disebabkan perubahan SSP yang mempengaruhi pengaturan
tidur. Kerusakan sensorik, umum dengan penuaan, dapat mengurangi sensivitas
terhadap waktu yang mempertahankan irama sirkadian. Sebagian besar lansia
berisiko tinggi mengalami gangguan tidur akibat berbagai faktor. Adapun gangguan
tidur tersebut seperti insomnia, hipersomnia, dan apnea tidur.
Asuan keperawatan yang dapat dilakukan oleh perawat dalam mengatasi
masalah gangguan tidur pada lansia yaitu dengan pengkajian, diagnosa keperawatan,
perencanaan, implementasi dan terakhir evaluasi. Perawat disebut efektif dalam
meningkatkan tidur dan istirahat jika tujuan asuhan tercapai.
3.2 Saran

Sebagai seorang perawat harus terampil dalam melaksanakan asuhan


keperawatan pada klien usia lansia dengan gangguan pemenuhan istirahat tidur
dengan baik dan benar. Karena kebutuhan akan istirahat dan tidur sama pentingnya
dengan kebutuhan makan, aktivitas, maupun kebutuhan dasar lainnya. Selain itu
setiap individu membutuhkan istirahat dan tidur untuk memulihkan kembali
kesehatannya.

29
DAFTAR PUSTAKA

Kozier, Barbara, Erb, Glenora Lea, dan Berman, Audrey. 2012. Kozier and
Erb's Fundamental of Nursing, 8th edition. Pearson Australia
Potter, Patricia A. 2011. Basic Nursing, 7th edition. St. Louis, Misosouri :
Mosby Elsevier
Stanley, Mickey, dan Gauntlett, Patricia. 2007. Buku Ajar Keperawatan
Gerontik Ed. 2. Jakarta : ECG
Tarwoto, Wartonah. 2010. Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses Keperawatan.
Jakarta : Salemba Medika

30
ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA DENGAN GANGGUAN
KOGNITIF
( DEMENSIA )

OLEH
B12 – B
I GEDE PUTRA SAINAN JAYA 193223116

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN WIRA MEDIKA PPNI BALI
2020
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Demensia adalah sebuah sindrom karena penyakit otak, bersifat kronis atau progresif
di mana ada banyak gangguan fungsi kortikal yang lebih tinggi,termasuk memori, berpikir,
orientasi, pemahaman, perhitungan, belajar,kemampuan, bahasa, dan penilaian kesadaran
tidak terganggu. Gangguan fungsi kognitif yang biasanya disertai, kadang-kadang didahului,
oleh kemerosotandalam pengendalian emosi, perilaku sosial, atau motivasi. Sindrom terjadi
pada penyakit Alzheimer, di penyakit serebrovaskular, dan dalam kondisi lain terutama atau
sekunder yang mempengaruhi otak (Durand dan Barlow, 2006).
Menurut data Asia Pasifik tahun 2006, jumlah orang yang menderita demensia di
wilayah Asia Pasifik pada 2025 diperkirakan meningkat lebih daridua kali lipat dan
peningkatan ini akan lebih cepat dibandingkan dengan yangterjadi di negara-negara barat.
Sementara di dunia, pada tahun 2040 jumlahpenderita demensia diperkirakan menjadi
sekitar 80 juta orang. (Demensia dikawasan asia pasifik, 2006).
Gejala awal gangguan ini adalah lupa akan peristiwa yang baru saja terjadi, tetapi
bisa juga bermula sebagai depresi, ketakutan, kecemasan,penurunan emosi atau
perubahan kepribadian lainnya. Terjadi perubahan ringandalam pola berbicara, penderita
menggunakan kata-kata yang lebih sederhana,menggunakan kata-kata yang tidak tepat atau
tidak mampu menemukan kata-katayang tepat. Ketidakmampuan mengartikan tanda-tanda
bisa menimbulkankesulitan dalam mengemudikan kendaraan. Pada akhirnya penderita tidak
dapatmenjalankan fungsi sosialnya.
Demensia banyak menyerang mereka yang telah memasuki usia lanjut.Bahkan,
penurunan fungsi kognitif ini bisa dialami pada usia kurang dari 501tahun. Sebagian besar
orang mengira bahwa demensia adalah penyakit yang hanya diderita oleh para Lansia,
kenyataannya demensia dapat diderita oleh siapasaja dari semua tingkat usia dan jenis
kelamin (Harvey, R. J. et al. 2003). Untuk mengurangi risiko, otak perlu dilatih sejak dini
disertai penerapan gaya hidupsehat. (Harvey, R. J., Robinson, M. S. & Rossor, M. N, 2003)
B . RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan pada uraian latar belakang di atas, adapun permasalahan yang hendak
kelompok kemukakan dalam penulisan makalah ini, yaitu mengenai bagaimana gambaran
klinis dari polisitemia serta bagaimana proses asuhan keperawatan pada klien dengan
demensia ?

C . TUJUAN DAN MANFAAT


Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini antara lain :
1. Melakukan pengkajian keperawatan pasien lansia dengan demensia
2. Mengidentifikasi diagnosa keperawatan pasien lansia dengan demensia
3. Melakukan tindakan keperawatan dalam berbagai pendekatan tindakan keperawatan
pasien lansia dengan demensia
4. Melakukan evaluasi asuhan keperawatan pasien lansia dengan demensia
BAB II
PEMBAHASAN

A. KONSEP DEMENSIA
1. Pengertian Demensia
Demensia dapat diartikan sebagai gangguan kognitif dan memori yang dapat
mempengaruhi aktifitas sehari-hari. Penderita demensia seringkali menunjukkan
beberapa gangguan dan perubahan pada tingkah laku harian (behavioral symptom) yang
mengganggu (disruptive) ataupun tidak menganggu (non-disruptive) (Volicer, L., Hurley,
A.C., Mahoney, E. 1998). Grayson (2004) menyebutkan bahwa demensia bukanlah
sekedar penyakit biasa, melainkan kumpulan gejala yang disebabkan beberapa penyakit
atau kondisi tertentu sehingga terjadi perubahan kepribadian dan tingkah laku.
Demensia adalah istilah umum yang digunakan untuk menggambarkan kerusakan
fungsi kognitif global yang biasanya bersifat progresif dan mempengaruhi aktivitas social
dan okupasi yang normal juga aktivitas kehidupan sehari-hari (AKS). (Mickey Stanley,
2006)
Demensia tipe alzhimer adalah proses degenerative yang terjadi pertama-tama
pada sel yang terletak pada dasar otak depan yang mengirim informasi ke korteks serebral
dan hipokampus. Sel yang terpengaruh pertama kali kehilangan kemampuannya untuk
mengeluarkan asetilkolin lalu terjadi degenerasi. Jika degenerasi ini mulai berlangsung,
dewasa ini tidak ada tindakan yang dapat dilakukan untuk menghidupkan kembali sel-sel
atau menggantikannya.(Kushariyadi, 2010)
Demensia adalah satu penyakit yang melibatkan sel-sel otak yang mati secara
abnormal.Hanya satu terminologi yang digunakan untuk menerangkan penyakit otak
degeneratif yang progresif. Daya ingatan, pemikiran, tingkah laku dan emosi terjejas bila
mengalami demensia. Penyakit ini boleh dialami oleh semua orang dari berbagai
latarbelakang pendidikan mahupun kebudayaan. Walaupun tidak terdapat sebarang
rawatan untuk demensia, namun rawatan untuk menangani gejala-gejala boleh diperolehi.
Demensia adalah penurunan kemampuan mental yang biasanya berkembang
secara perlahan, dimana terjadi gangguan ingatan, fikiran, penilaian dan kemampuan
untuk memusatkan perhatian, dan bisa terjadi kemunduran kepribadian.
Pada usia muda, demensia bisa terjadi secara mendadak jika cedera hebat,
penyakit atau zat-zat racun (misalnya karbon monoksida) menyebabkan hancurnya sel-sel
otak. Tetapi demensia biasanya timbul secara perlahan dan menyerang usia diatas 60
tahun. Namun demensia bukan merupakan bagian dari proses penuaan yang normal.
Sejalan dengan bertambahnya umur, maka perubahan di dalam otak bisa menyebabkan
hilangnya beberapa ingatan (terutama ingatan jangka pendek) dan penurunan beberapa
kemampuan belajar. Perubahan normal ini tidak mempengaruhi fungsi. Lupa pada usia
lanjut bukan merupakan pertanda dari demensia maupun penyakit Alzheimer stadium
awal. Demensia merupakan penurunan kemampuan mental yang lebih serius, yang makin
lama makin parah. Pada penuaan normal, seseorang bisa lupa akan hal-hal yang detil;
tetapi penderita demensia bisa lupa akan keseluruhan peristiwa yang baru saja terjadi.

2. Epidemiologi

Laporan Departemen Kesehatan tahun 1998, populasi usia lanjut diatas 60 tahun
adalah 7,2 % (populasi usia lanjut kurang lebih 15 juta). peningkatan angka kejadian
kasus demensia berbanding lurus dengan meningkatnya harapan hidup suatu populasi .
Kira-kira 5 % usia lanjut 65 – 70 tahun menderita demensia dan meningkat dua kali lipat
setiap 5 tahun mencapai lebih 45 % pada usia diatas 85 tahun. Pada negara industri kasus
demensia 0.5 –1.0 % dan di Amerika jumlah demensia pada usia lanjut 10 – 15% atau
sekitar 3 – 4 juta orang.
Masalah demensia sering terjadi pada pasien lansia yang berumur diatas 60 tahun
dan sampai saat ini diperkirakan kurang lebih 500.000 penduduk indonesia mengalami
demensia dengan berbagai penyebab, yang salah satu diantaranya adalah alzeimer.
Demensia terbagi menjadi dua yakni Demensia Alzheimer dan Demensia
Vaskuler. Demensia Alzheimer merupakan kasus demensia terbanyak di negara maju
Amerika dan Eropa sekitar 50-70%. Demensia vaskuler penyebab kedua sekitar 15-20%
sisanya 15- 35% disebabkan demensia lainnya. Di Jepang dan Cina demensia vaskuler 50
– 60 % dan 30 – 40 % demensia akibat penyakit Alzheimer.
3. Etiologi Demensia
Disebutkan dalam sebuah literatur bahwa penyakit yang dapat menyebabkan
timbulnya gejala demensia ada sejumlah tujuh puluh lima. Beberapa penyakit dapat
disembuhkan sementara sebagian besar tidak dapat disembuhkan (Mace, N.L. & Rabins,
P.V. 2006). Sebagian besar peneliti dalam risetnya sepakat bahwa penyebab utama dari
gejala demensia adalah penyakit Alzheimer, penyakit vascular (pembuluh darah),
demensia Lewy body, demensia frontotemporal dan sepuluh persen diantaranya
disebabkan oleh penyakit lain.
Lima puluh sampai enam puluh persen penyebab demensia adalah penyakit
Alzheimer. Alzhaimer adalah kondisi dimana sel syaraf pada otak mati sehingga
membuat signal dari otak tidak dapat di transmisikan sebagaimana mestinya (Grayson, C.
2004). Penderita Alzheimer mengalami gangguan memori, kemampuan membuat
keputusan dan juga penurunan proses berpikir
Untuk demensia tipe Alzheimer ada beberapa penyebab yang telah dihipotesa
adalah intoksikasi logam, gangguan fungsi imunitas, infeksi virus, polusi udara/industri,
trauma, neurotransmiter, defisit formasi sel-sel filament predisposisi heriditer. Dasar
kelainan patologi penyakit Alzheimer terdiri dari degenerasi neuronal, kematian daerah
spesifik jaringan otak yang mengakibatkan gangguan fungsi kongnitif dengan penurunan
daya ingat secara progresif. Adanya defisiensi faktor pertumbuhan atau asam amino dapat
berperan dalam kematian selektif neuron. Kemungkinan sel-sel tersebut mengalami
degenerasi yang diakibatkan oleh adanya peningkatan kalsium intraseluler, kegagalan
metabolisme energi, adanya formasi radikal bebas atau terdapat produksi protein
abnormal yang non spesifik. Penyakit Alzheimer adalah penyakit genetika, tetapi
beberapa penelitian telah membuktikan bahwa peran faktor non-genetika (lingkungan)
juga ikut terlibat, dimana faktor lingkungan hanya sebagai pencetus faktor genetika.
Adanya defisiensi faktor pertumbuhan atau asam amino dapat berperan dalam
kematian selektif neuron. Kemungkinan sel-sel tersebut mengalami degenerasi yang
diakibatkan oleh adanya peningkatan calcium intraseluler, kegagalan metabolisme energi,
adanya formasi radikal bebas atau terdapatnya produksi protein abnormal yang non
spesifik. Penyakit alzheimer adalah penyakit genetika, tetapi beberapa penelitian telah
membuktikan bahwa peran faktor genetika, tetapi beberapa penelitian telah membuktikan
bahwa peran faktor non-genetika (lingkungan) juga ikut terlibat, dimana faktor
lingkungan hanya sebagai pencetus factor genetika.
Beberapa factor lain yang menyebabkan alzeimer :
 Faktor genetic
 Faktor infeksi
 Faktor lingkungan
 Faktor imunologis
 Faktor trauma
 Faktor neurotransmitter

4. Klasifikasi

a. Demensia Tipe Alzheimer

Dari semua pasien dengan demensia, 50 – 60 % memiliki demensia tipe ini.


Orang yang pertama kali mendefinisikan penyakit ini adalah Alois Alzheimer sekitar
tahun 1910. Demensia ini ditandai dengan gejala :

 Penurunan fungsi kognitif dengan onset bertahap dan progresif,


 Daya ingat terganggu, ditemukan adanya : afasia, apraksia, agnosia, gangguan
fungsi eksekutif,
 Tidak mampu mempelajari / mengingat informasi baru,
 Perubahan kepribadian (depresi, obsesitive, kecurigaan),
 Kehilangan inisiatif.

Demensia pada penyakit Alzheimer belum diketahui secara pasti penyebabnya,


walaupun pemeriksaan neuropatologi dan biokimiawi post mortem telah ditemukan
lose selective neuron kolinergik yang strukturnya dan bentuk fungsinya juga terjadi
perubahan.
b. Demensia Vaskuler

Penyakit ini disebabkan adanya defisit kognitif yang sama dengan Alzheimer 
tetapi  terdapat gejala-gejala / tanda-tanda neurologis fokal seperti :

 Peningkatan reflek tendon dalam,


 Respontar eksensor,
 Palsi pseudobulbar,
 Kelainan gaya berjalan,
 Kelemahan anggota gerak.

Demensia vaskuler merupakan demensia kedua yang paling sering pada lansia,
sehingga perlu dibedakan dengan demensi Alzheimer.

Pencegahan pada demensia ini dapat dilakukan dengan menurunkan faktor resiko
misalnya ; hipertensi, DM, merokok, aritmia. Demensia dapat ditegakkan juga dengan
MRI dan aliran darah sentral.

Pedoman diagnostik penyakit demensia vaskuler :

 Terdapat gejala demensia


 Hendaya fungsi kognitif biasanya tidak merata
 Onset mendadak dengan adanya gejala neurologis fokal

 Menurut Umur:

1. Demensia senilis (>65th)


2. Demensia prasenilis (<65th)

 Menurut perjalanan penyakit:

1. Reversibel
2. Ireversibel (Normal pressure hydrocephalus, subdural hematoma, vit B Defisiensi,
Hipotiroidisma, intoxikasi Pb.
 Menurut kerusakan struktur otak

1. Tipe Alzheimer
2. Tipe non-Alzheimer
3. Demensia vaskular
4. Demensia Jisim Lewy (Lewy Body dementia)
5. Demensia Lobus frontal-temporal
6. Demensia terkait dengan SIDA(HIV-AIDS)
7. Morbus Parkinson
8. Morbus Huntington
9. Morbus Pick
10.Morbus Jakob-Creutzfeldt
11.Sindrom Gerstmann-Sträussler-Scheinker
12.Prion disease
13.Palsi Supranuklear progresif
14.Multiple sklerosis
15.Neurosifilis
16. Menurut sifat klinis:

17.Demensia proprius
18.Pseudo-demensia

5. Patofisiologi
Terdapat beberapa perubahan khas biokimia dan neuropatologi yang dijumpai pada
penyakit Alzheimer, antara lain: serabut neuron yang kusut (masa kusut neuron yang
tidak berfungsi) dan plak seni atau neuritis (deposit protein beta-amiloid, bagian dari
suatu protein besar, protein prukesor amiloid (APP). Kerusakan neuron tersebut terjadi
secara primer pada korteks serebri dan mengakibatkan rusaknya ukuran otak.
Secara maskroskopik, perubahan otak pada Alzheimer melibatkan kerusakan berat
neuron korteks dan hippocampus, serta penimbunan amiloid dalam pembuluh darah
intracranial. Secara mikroskopik, terdapat perubahan morfologik (structural) dan
biokimia pada neuron – neuron. Perubahan morfologis terdiri dari 2 ciri khas lesi yang
pada akhirnya berkembang menjadi degenarasi soma dan atau akson dan atau dendrit.
Satu tanda lesi pada AD adalah kekusutan neurofibrilaris yaitu struktur intraselular yang
berisi serat kusut dan sebagian besar terdiri dari protein “tau”. Dalam SSP, protein tau
sebagian besar sebagai penghambat pembentuk structural yang terikat dan menstabilkan
mikrotubulus dan merupakan komponen penting dari sitokleton sel neuron. Pada neuron
AD terjadi fosforilasi abnormal dari protein tau, secara kimia menyebabkan perubahan
pada tau sehingga tidak dapat terikat pada mikrotubulus secara bersama – sama. Tau yang
abnormal terpuntir masuk ke filament heliks ganda yang sekelilingnya masing – masing
terluka. Dengan kolapsnya system transport internal, hubungan interseluler adalah yang
pertama kali tidak berfungsi dan akhirnya diikuti kematian sel. Pembentukan neuron
yang kusut dan berkembangnya neuron yang rusak menyebabkan Alzheimer.
Lesi khas lain adalah plak senilis, terutama terdiri dari beta amiloid (A-beta)
yang terbentuk dalam cairan jaringan di sekeliling neuron bukan dalam sel neuronal. A-
beta adalah fragmen protein prekusor amiloid (APP) yang pada keadaan normal melekat
pada membrane neuronal yang berperan dalam pertumbuhan dan pertahanan neuron. APP
terbagi menjadi fragmen – fragmen oleh protease, salah satunya A-beta, fragmen lengket
yang berkembang menjadi gumpalan yang bisa larut. Gumpalan tersebut akhirnya
bercampur dengan sel – sel glia yang akhirnya membentuk fibril – fibril plak yang
membeku, padat, matang, tidak dapat larut, dan diyakini beracun bagi neuron yang utuh.
Kemungkinan lain adalah A-beta menghasilkan radikal bebas sehingga menggagu
hubungan intraseluler dan menurunkan respon pembuluh darah sehingga mengakibatkan
makin rentannya neuron terhadap stressor.
Selain karena lesi, perubahan biokimia dalam SSP juga berpengaruh pada AD. Secara
neurokimia kelainan pada otak
Pathway (terlampir)
6. Gejala Klinis
Demensia yang paling banyak ditemukan yaitu tipe Alzheimer
Demensia Alzheimer
Gejala klinis demensia Alzheimer merupakan kumpulan gejala demensia akibat
gangguan neuro degenaratif (penuaan saraf) yang berlangsung progresif lambat, dimana
akibat proses degenaratif menyebabkan kematian sel-sel otak yang massif. Kematian sel-
sel otak ini baru menimbulkan gejala klinis dalam kurun waktu 30 tahun. Awalnya
ditemukan gejala mudah lupa (forgetfulness) yang menyebabkan penderita tidak mampu
menyebut kata yang benar, berlanjut dengan kesulitan mengenal benda dan akhirnya tidak
mampu menggunakan barang-barang sekalipun yang termudah. Hal ini disebabkan
adanya gangguan kognitif sehingga timbul gejala neuropsikiatrik seperti, Wahan (curiga,
sampai menuduh ada yang mencuri barangnya), halusinasi pendengaran atau penglihatan,
agitasi (gelisah, mengacau), depresi, gangguan tidur, nafsu makan dan gangguan aktifitas
psikomotor, berkelana.

 Stadium demensia Alzheimer terbagi atas 3 stadium, yaitu :


Stadium I
Berlangsung 2-4 tahun disebut stadium amnestik dengan gejala gangguan memori,
berhitung dan aktifitas spontan menurun. “Fungsi memori yang terganggu adalah memori
baru atau lupa hal baru yang dialami

Stadium II
Berlangsung selama 2-10 tahun, dan disebutr stadium demensia. Gejalanya antara
lain: Disorientasi, gangguan bahasa (afasia), Penderita mudah bingung, penurunan fungsi
memori lebih berat sehingga penderita tak dapat melakukan kegiatan sampai selesai, tidak
mengenal anggota keluarganya tidak ingat sudah melakukan suatu tindakan sehingga
mengulanginya lagi, dan ada gangguan visuospasial, menyebabkan penderita mudah
tersesat di lingkungannya, depresi berat prevalensinya 15-20%,”

Stadium III
Stadium ini dicapai setelah penyakit berlangsung 6-12 tahun.Gejala klinisnya antara
lain: Penderita menjadi vegetatif, tidak bergerak dan membisu, daya intelektual serta
memori memburuk sehingga tidak mengenal keluarganya sendiri, tidak bisa
mengendalikan buang air besar/ kecil, kegiatan sehari-hari membutuhkan bantuan ornag
lain, kematian terjadi akibat infeksi atau trauma.
Hal yang menarik dari gejala penderita demensia adalah adanya perubahan
kepribadian dan tingkah laku sehingga mempengaruhi aktivitas sehari-hari.. Penderita
yang dimaksudkan dalam tulisan ini adalah Lansia dengan usia enam puluh lima tahun
keatas. Lansia penderita demensia tidak memperlihatkan gejala yang menonjol pada
tahap awal, mereka sebagaimana Lansia pada umumnya mengalami proses penuaan dan
degeneratif. Kejanggalan awal dirasakan oleh penderita itu sendiri, mereka sulit
mengingat nama cucu mereka atau lupa meletakkan suatu barang.
Mereka sering kali menutup-nutupi hal tersebut dan meyakinkan diri sendiri bahwa
itu adalah hal yang biasa pada usia mereka. Kejanggalan berikutnya mulai dirasakan oleh
orang-orang terdekat yang tinggal bersama, mereka merasa khawatir terhadap penurunan
daya ingat yang semakin menjadi, namun sekali lagi keluarga merasa bahwa mungkin
Lansia kelelahan dan perlu lebih banyak istirahat. Mereka belum mencurigai adanya
sebuah masalah besar di balik penurunan daya ingat yang dialami oleh orang tua mereka.
Gejala demensia berikutnya yang muncul biasanya berupa depresi pada Lansia,
mereka menjaga jarak dengan lingkungan dan lebih sensitif. Kondisi seperti ini dapat saja
diikuti oleh munculnya penyakit lain dan biasanya akan memperparah kondisi Lansia.
Pada saat ini mungkin saja Lansia menjadi sangat ketakutan bahkan sampai berhalusinasi.
Di sinilah keluarga membawa Lansia penderita demensia ke rumah sakit di mana
demensia bukanlah menjadi hal utama fokus pemeriksaan.
Seringkali demensia luput dari pemeriksaan dan tidak terkaji oleh tim kesehatan. Tidak
semua tenaga kesehatan memiliki kemampuan untuk dapat mengkaji dan mengenali
gejala demensia. Mengkaji dan mendiagnosa demensia bukanlah hal yang mudah dan
cepat, perlu waktu yang panjang sebelum memastikan seseorang positif menderita
demensia. Setidaknya ada lima jenis pemeriksaan penting yang harus dilakukan, mulai
dari pengkajian latar belakang individu, pemeriksaan fisik, pengkajian syaraf, pengkajian
status mental dan sebagai penunjang perlu dilakukan juga tes laboratorium.
Pada tahap lanjut demensia memunculkan perubahan tingkah laku yang semakin
mengkhawatirkan, sehingga perlu sekali bagi keluarga memahami dengan baik perubahan
tingkah laku yang dialami oleh Lansia penderita demensia. Pemahaman perubahan
tingkah laku pada demensia dapat memunculkan sikap empati yang sangat dibutuhkan
oleh para anggota keluarga yang harus dengan sabar merawat mereka. Perubahan tingkah
laku (Behavioral symptom) yang dapat terjadi pada Lansia penderita demensia di
antaranya adalah delusi, halusinasi, depresi, kerusakan fungsi tubuh, cemas, disorientasi
spasial, ketidakmampuan melakukan tindakan yang berarti, tidak dapat melakukan
aktivitas sehari-hari secara mandiri, melawan, marah, agitasi, apatis, dan kabur dari
tempat tinggal (Volicer, L., Hurley, A.C., Mahoney, E. 1998).

Secara umum tanda dan gejala demensia adalah sbb:


 Menurunnya daya ingat yang terus terjadi. Pada penderita demensia, “lupa” menjadi
bagian keseharian yang tidak bisa lepas.
 Gangguan orientasi waktu dan tempat, misalnya: lupa hari, minggu, bulan, tahun,
tempat penderita demensia berada
 Penurunan dan ketidakmampuan menyusun kata menjadi kalimat yang benar,
menggunakan kata yang tidak tepat untuk sebuah kondisi, mengulang kata atau cerita
yang sama berkali-kali
 Ekspresi yang berlebihan, misalnya menangis berlebihan saat melihat sebuah drama
televisi, marah besar pada kesalahan kecil yang dilakukan orang lain, rasa takut dan
gugup yang tak beralasan. Penderita demensia kadang tidak mengerti mengapa
perasaan-perasaan tersebut muncul.
 Adanya perubahan perilaku, seperti : acuh tak acuh, menarik diri dan gelisah

7. Diagnosis
Diagnosis difokuskan pada hal-hal berikut ini:
 Pembedaan antara delirium dan demensia
 Bagian otak yang terkena
 Penyebab yang potensial reversibel
 Perlu pembedaan dan depresi (ini bisa diobati relatif mudah)
 Pemeriksaan untuk mengingat 3 benda yg disebut
 Mengelompokkan benda, hewan dan alat dengan susah payah
 Pemeriksaan laboratonium, pemeriksaan EEC
 Pencitraan otak amat penting CT atau MRI
 Peran Keluarga
Keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam perawatan lansia penderita
demensia yang tinggal di rumah. Hidup bersama dengan penderita demensia bukan
hal yang mudah, tapi perlu kesiapan khusus baik secara mental maupun lingkungan
sekitar. Pada tahap awal demensia penderita dapat secara aktif dilibatkan dalam
proses perawatan dirinya. Membuat catatan kegiatan sehari-hari dan minum obat
secara teratur. Ini sangat membantu dalam menekan laju kemunduran kognitif yang
akan dialami penderita demensia.
Keluarga tidak berarti harus membantu semua kebutuhan harian Lansia,
sehingga Lansia cenderung diam dan bergantung pada lingkungan. Seluruh anggota
keluargapun diharapkan aktif dalam membantu Lansia agar dapat seoptimal mungkin
melakukan aktifitas sehari-harinya secara mandiri dengan aman. Melakukan aktivitas
sehari-hari secara rutin sebagaimana pada umumnya Lansia tanpa demensia dapat
mengurangi depresi yang dialami Lansia penderita demensia.
Merawat penderita dengan demensia memang penuh dengan dilema, walaupun
setiap hari selama hampir 24 jam kita mengurus mereka, mungkin mereka tidak akan
pernah mengenal dan mengingat siapa kita, bahkan tidak ada ucapan terima kasih
setelah apa yang kita lakukan untuk mereka. Kesabaran adalah sebuah tuntutan dalam
merawat anggota keluarga yang menderita demensia. Tanamkanlah dalam hati bahwa
penderita demensia tidak mengetahui apa yang terjadi pada dirinya. Merekapun
berusaha dengan keras untuk melawan gejala yang muncul akibat demensia.
Saling menguatkan sesama anggota keluarga dan selalu meluangkan waktu
untuk diri sendiri beristirahat dan bersosialisasi dengan teman-teman lain dapat
menghindarkan stress yang dapat dialami oleh anggota keluarga yang merawat Lansia
dengan demensia.
8. Penatalaksanaan
Beberapa kasus demensia dianggap dapat diobati karena jaringan otak yang
disfungsional dapat menahan kemampuan untuk pemulihan jika pengobatan dilakukan
tepat pada waktunya. Riwayat medis yang lengkap, pemeriksaan fisik, dan tes
laboratorium, termasuk pencitraan otak yang tepat, harus dilakukan segera setelah
diagnosis dicurigai. Jika pasien menderita akibat suatu penyebab demensia yang dapat
diobati, terapi diarahkan untuk mengobati gangguan dasar.
Pendekatan pengobatan umum pada pasien demensia adalah untuk memberikan
perawatan medis suportif, bantuan emosional untuk pasien dan keluarganya, dan
pengobatan farmakologis untuk gejala spesifik, termasuk gejala perilaku yang
mengganggu. Pemeliharaan kesehatan fisik pasien, lingkungan yang mendukung, dan
pengobatan farmakologis simptomatik diindikasikan dalam pengobatan sebagian besar
jenis demensia. Pengobatan simptomatik termasuk pemeliharaan diet gizi, latihan yang
tepat, terapi rekreasi dan aktivitas, perhatian terhadap masalah visual dan audiotoris,
dan pengobatan masalah medis yang menyertai, seperti infeksi saluran kemih, ulkus
dekubitus, dan disfungsi kardiopulmonal. Perhatian khusus karena diberikan pada
pengasuh atau anggota keluarga yang menghadapi frustasi, kesedihan, dan masalah
psikologis saat mereka merawat pasien selama periode waktu yang lama.
Jika diagnosis demensia vaskular dibuat, faktor risiko yang berperan pada
penyakit kardiovaskular harus diidentifikasi dan ditanggulangi secara terapetik.
Faktor-faktor tersebut adalah hipertensi, hiperlipidemia, obesitas, penyakit jantung,
diabetes dan ketergantungan alkohol. Pasien dengan merokok harus diminta untuk
berhenti, karena penghentian merokok disertai dengan perbaikan perfusi serebral dan
fungsi kognitif.

 Obat untuk demensia


a. Cholinergic-enhancing agents
Untuk terapi demensia jenis Alzheimer, telah banyak dilakukan penelitian.
Pemberian cholinergic-enhancing agents menunjukkan hasil yang lumayan pada
beberapa penderita; namun demikian secara keseluruhan tidak menunjukkan
keberhasilan sama sekali. Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa demensia
alzheimerntidak semata-mata disebabkan oleh defisiensi kolinergik; demensia ini juga
disebabkan oleh defisiensi neurotransmitter lainnya. Sementara itu, kombinasi
kolinergik dan noradrenergic ternyata bersifat kompleks; pemberian obat kombinasi
ini harus hati-hati karena dapat terjadi interaksi yang mengganggu sistem
kardiovaskular.
b. Cholinedan lecithin
Defisit asetilkolin di korteks dan hipokampus pada demensia Alzheimer dan
hipotesis tentang sebab dan hubungannya dengan memori mendorong peneliti untuk
mengarahkan perhatiannya pada neurotransmitter. Pemberian prekursor, cholinedan
lecithin merupakan salah satu pilihan dan memberi hasil lumayan, namun demikian
tidak memperlihatkan hal yang istimewa. Dengancholine ada sedikit perbaikan
terutama dalam fungsi verbal dan visual. Denganlecith in hasilnya cenderung negatif,
walaupun dengan dosis yang berlebih sehingga kadar dalam serum mencapai 120
persen dan dalam cairan serebrospinal naik sampai 58 persen.
c. Neuropeptide, vasopressin dan ACTH
Pemberian neuropetida, vasopressin dan ACTH perlu memperoleh perhatian.
Neuropeptida dapat memperbaiki daya ingat semantik yang berkaitan dengan
informasi dan kata-kata. Pada lansia tanpa gangguan psiko-organik, pemberian ACTH
dapat memperbaiki daya konsentrasi dan memperbaiki keadaan umum.
d. Nootropic agents
Dari golongan nootropic substances ada dua jenis obat yang sering digunakan
dalam terapi demensia, ialahnicer goline dan co-dergocrine mesylate. Keduanya
berpengaruh terhadap katekolamin. Co-dergocrine mesylate memperbaiki perfusi
serebral dengan cara mengurangi tahanan vaskular dan meningkatkan konsumsi
oksigen otak. Obat ini memperbaiki perilaku, aktivitas, dan mengurangi bingung, serta
memperbaiki kognisi. Disisi lain,nicergoline tampak bermanfaat untuk memperbaiki
perasaan hati dan perilaku.
e. Dihydropyridine
Pada lansia dengan perubahan mikrovaskular dan neuronal, L-type calcium
channels menunjukkan pengaruh yang kuat. Lipophilic dihydropyridine bermanfaat
untuk mengatasi kerusakan susunan saraf pusat pada lansia. Nimodipin bermanfaat
untuk mengembalikan fungsi kognitif yang menurun pada lansia dan demensia jenis
Alzheimer. Nimodipin memelihara sel-sel endothelial/kondisi mikrovaskular tanpa
dampak hipotensif; dengan demikian sangat dianjurkan sebagai terapi alternatif untuk
lansia terutama yang mengidap hipertensi esensial

9. Pencegahan demensia
Hal yang dapat kita lakukan untuk menurunkan resiko terjadinya demensia
ataupun menunda terjadinya demensia diantaranya adalah menjaga ketajaman daya
ingat dan senantiasa mengoptimalkan fungsi otak, seperti :
1. Mencegah masuknya zat-zat yang dapat merusak sel-sel otak seperti
alkohol dan zat adiktif yang berlebihan
2. Membaca buku yang merangsang otak untuk berpikir hendaknya
dilakukan setiap hari.
3. Melakukan kegiatan yang dapat membuat mental kita sehat dan aktif
 Kegiatan rohani & memperdalam ilmu agama.
 Tetap berinteraksi dengan lingkungan, berkumpul dengan teman
yang memiliki persamaan minat atau hobi

4. Mengurangi stress dalam pekerjaan dan berusaha untuk tetap relaks


dalam kehidupan sehari-hari dapat membuat otak kita tetap sehat.
5. Jagalah pikiran anda agar tetap aktif. Kegiatan merangsang mental dapat
meningkatkan kemampuan anda untuk menangani dan mengkompensasi
perubahan yang berhubungan dengan demensia. Ini mencakup teka teki
dan permainan kata,belajar bahasa,bermain alat
music,membaca,menulis,atau menggambar. Tidak hanya kegiatan ini
yang membantu menunda terjadinya demensia,tetapi juga membantu
menurunkan efek. Semakin sering melakukan aktivitas maka semakin
menguntungkan.
6. Turunkan kadar homosistein. Penelitian awal menunjukkan bahwa tiga
dosis tinggi vitamin B-asam folat-B6 dan B12 membantu menurunkan
kadar homosistein dan berguna untuk memperlambat perkembangan
penyakit Alzheimer.
7. Turunkan kadar kolesterol. Endapan yang terjadi dalam otak orang-orang
dengan kolesterol tinggi merupakan salah satu penyebab demesia
vaskuler.
8. Pertahankan pola makan sehat. Diet yang sehat adalah penting karena
menurut penelitian bahwa makanan seperti buah-buahan,sayuran dan
omega 3 dan asam lemak. Biasanya ditemukan pada ikan dan kacang-
kacangan tertentu dapat memiliki efek perlindungan dan menurunkan
resiko terkena demensia.
9. Dapatkan vaksinasi. Mereka yang menerima vaksinasi untuk
influenza,tetanus,difteri dan polio tampaknya secara signifikan
mengurangi resiko demensia karena memiliki efek perlindungan terhadap
berkembangnya demensia.

10. Prognosis
Pada sebagian besar demensia stadium lanjut terjadi penurunan fungsi otak yang hampir
menyeluruh. Penderita lebih menarik dirinya dan tidak mampu mengendalikan
perilakunya. Suasana hatinya sering berubah-ubah dan senang berjalan-jalan (berkelana).
Pada akhirnya penderita tidak mampu mengikuti suatu percakapan dan bisa kehilangan
kemampuan berbicara.

B. ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN LANSIA DENGAN DEMENSIA


1. Pengkajian
1. Pengkajian
Pengkajian yang dilakukan secara umum pada penyakit demensia antara lain:
a. Aktifitas istirahat
Gejala: Merasa lelah
Tanda: Siang/malam gelisah, tidak berdaya, gangguan pola tidur
Letargi: penurunan minat atau perhatian pada aktivitas yang biasa, hobi, ketidakmampuan
untuk menyebutkan kembali apa yang dibaca/ mengikuti acara program televisi.
Gangguan keterampilan motorik, ketidakmampuan untuk melakukan hal yang telah biasa
yang dilakukannya, gerakan yang sangat bermanfaat.

b. Sirkulasi
Gejala: Riwayat penyakit vaskuler serebral/sistemik. hipertensi, episode emboli
(merupakan factor predisposisi).

c. Integritas ego
Gejala : Curiga atau takut terhadap situasi/orang khayalan, kesalahan persepsi terhadap
lingkungan, kesalahan identifikasi terhadap objek dan orang, penimbunan objek :
meyakini bahwa objek yang salah penempatannya telah dicuri. kehilangan multiple,
perubahan citra tubuh dan harga diri yang dirasakan.
Tanda : Menyembunyikan ketidakmampuan ( banyak alasan tidak mampu untuk
melakukan kewajiban, mungkin juga tangan membuka buku namun tanpa membacanya) ,
duduk dan menonton yang lain, aktivitas pertama mungkin menumpuk benda tidak
bergerak dan emosi stabil, gerakan berulang ( melipat membuka lipatan melipat kembali
kain ), menyembunyikan barang, atau berjalan-jalan.

d. Eliminasi
Gejala: Dorongan berkemih
Tanda: Inkontinensia urine/feaces, cenderung konstipasi/ imfaksi dengan diare.
e. Makanan/cairan
Gejala: Riwayat episode hipoglikemia (merupakan factor predisposisi) perubahan dalam
pengecapan, nafsu makan, kehilangan berat badan, mengingkari terhadap rasa lapar/
kebutuhan untuk makan.
Tanda: Kehilangan kemampuan untuk mengunyah, menghindari/menolak makan
(mungkin mencoba untuk menyembunyikan keterampilan). dan tampak semakin kurus
(tahap lanjut).

f. Hiygene
Gejala : Perlu bantuan /tergantung orang lain
Tanda : tidak mampu mempertahankan penampilan, kebiasaan personal yang kurang,
kebiasaan pembersihan buruk, lupa untuk pergi kekamar mandi, lupa langkah-langkah
untuk buang air, tidak dapat menemukan kamar mandi dan kurang berminat pada atau
lupa pada waktu makan: tergantung pada orang lain untuk memasak makanan dan
menyiapkannya dimeja, makan, menggunakan alat makan.

g. Neurosensori
Gejala : Pengingkaran terhadap gejala yang ada terutama perubahan kognitif,
dan atau gambaran yang kabur, keluhan hipokondria tentang kelelahan, pusing atau
kadang-kadang sakit kepala. adanya keluhan dalam kemampuan kognitif, mengambil
keputusan, mengingat yang berlalu, penurunan tingkah laku ( diobservasi oleh orang
terdekat). Kehilangan sensasi propriosepsi ( posisi tubuh atau bagian tubuh dalam ruang
tertentu ). dan adanya riwayat penyakit serebral vaskuler/sistemik, emboli atau hipoksia
yang berlangsung secara periodic ( sebagai factor predisposisi ) serta aktifitas kejang
( merupakan akibat sekunder pada kerusakan otak ).
Tanda : Kerusakan komunikasi : afasia dan disfasia; kesulitan dalam menemukan kata-
kata yang benar ( terutama kata benda ); bertanya berulang-ulang atau percakapan dengan
substansi kata yang tidak memiliki arti; terpenggal-penggal, atau bicaranya tidak
terdengar. Kehilangan kemampuan untuk membaca dan menulis bertahap ( kehilangan
keterampilan motorik halus ).
h. Kenyamanan
Gejala : Adanya riwayat trauma kepala yang serius ( mungkin menjadi factor
predisposisi atau factor akselerasinya), trauma kecelakaan ( jatuh, luka bakar dan
sebagainya).
Tanda : Ekimosis, laserasi dan rasa bermusuhan/menyerang orang lain

i. Interaksi social
Gejala : Merasa kehilangan kekuatan. factor psikososial sebelumnya; pengaruh personal
dan individu yang muncul mengubah pola tingkah laku yang muncul.
Tanda : Kehilangan control social,perilaku tidak tepat.

 Demensia terjadi akibat kerusakan yang terjadi di dalam susunan saraf pusat terkait
dengan proses penuaan. Pada pengkajian Lansia dengan masalah demensia bisa
digolongkan dalam pengkajian sistem saraf secara umum.

Perubahan umum dari sistem saraf yang terkait dengan Proses Menua adalah sebagai
berikut:
Struktur Otak:
 Kehilangan berat otak karena penuaan menyebabkan pengurangan jumlah dari neuron
dengan kehilangan area yang besar dari cortex dan cerebellum.
 Atrofi dari tegangan dengan perluasan sulci dan gyri paling banyak di daerah frontal.
 Dilatasi dari ventrikel karena proses menua.
 Peningkatan akumulasi intrasel dari pigmen lipofuscin menyebabkan intisel
mengasumsikan posisi yang abnormal.
 Perkembangan dari senile plaques atau lesi yang anatomik terkait dengan penuaan.
Fungsi Metabolik dan Fisiologik
 Menurunnya konsumsi oksigen menyebabkan penurunan energi intraseluler, penggunaan
glukosa, aliran darah.
 Perubahan metabolik dari kompleks sinaptik menyebabkan efek neurotransmiter
berhubungan dengan fungsi otak dengan tidur, kontrol temperatur, mood mengakibatkan
gangguan tidur, intoleransi terhadap dingin dan depresi.
 Penurunan kadar norepinephrine, peningkatan kadar serotonin dan monoamin oksidase
menyebabkan perubahan dalam fungsi neurotransmiter dan depresi, penurunan kadar
dopamin menyebabkan penyakit parkinson’s.
 Perubahan umum dalam sirkulasi otak menyebabkan kekacauan mental (association
retrieval, recall, memory dan kemampuan kognitif), dalam pergerakan (kekuatan motorik,
kelincahan dan ketangkasan), pada interpretasi sensory (penglihatan, pendengaran,
penciuman, peraba dan perasa), kemampuan dalam koping dengan kejadian multipel
(depresi, afek, komunikasi).
 Penurunan jumlah neuron menyebabkan penurunan dalam kekuatan transmisi dari otak
ke anggota badan dan mengakibatkan perubahan ambang bekerja dari organ dan sistem.
 Peningkatan recovery time dari susunan saraf otonom menyebabkan pemanjangan waktu
untuk kembali ke fungsi organ awal setelah stimulasi mengakibatkan kecemasan dan
ketegangan akibat stimulasi yang berlebihan.
 Penurunan dendrites pada saraf, sinap, lesi pada akson menyebabkan penurunan pada
hantaran saraf tepi dan memperlambat waktu reaksi.
 Perubahan ekstra piramidal menyebabkan perubahan affect, mengurangi pergerakan dan
berkedip.
Perubahan Electroencephalographic (EEG)
 Pada pembacaan menampakkan satu siklus yang lebih rendah daripada tahap lain yang
matang.
Fungsi dan Struktur Sensori
 Penurunan ukuran pupil dan perubahan respon cahaya yang minimal menyebabkan
kesulitan melihat dalam gelap, pada malam hari atau adaptasi yang lambat untuk melihat
dalam gelap.
 Penurunan dalam sensitivitas dari cones di retina terhadap warna menyebabkan kesulitan
dalam membedakan warna (merah dan hijau menjadi hitam).

Perubahan Pola Tidur


 Tetap pada tahap I dan II untuk jangka waktu yang lama dan mungkin membutuhkan
waktu yang lama untuk tertidur.
 Tahap III tetap sama, waktu tahap IV sangat berkurang atau terlewati semua dengan
penuaan, menyebabkan frekuensi bangun saat malam hari dan penurunan intensitas dari
tidur membuat lebih mudah untuk bangun dan tidak mendapatkan tidur yang cukup.
 Waktu tidur REM sebanding dengan tahap lain dari masa dewasa tetapi penuaan
mengakibatkan mimpi kurang dan pengurangan pada REM mengakibatkan mudah
terangsang, letargi dan depresi.
 Pengurangan pada tahap IV menyebabkan rasa lemas, capek, cemas dan tegang.
 Insomnia, sleep apnea dan tidur sebentar, meningkat dengan usia menyebabkan gangguan
pola tidur dan penyimpangan.

2. Diagnosa Keperawatan
1) Perubahan proses pikir berhubungan dengan perubahan fisiologis (degenerasi neuron
ireversibel) ditandai dengan hilang ingatan atau memori, hilang konsentrsi, tidak
mampu menginterpretasikan stimulasi dan menilai realitas dengan akurat.
2) Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan perubahan persepsi, transmisi atau
integrasi sensori (penyakit neurologis, tidak mampu berkomunikasi, gangguan tidur,
nyeri) ditandai dengan cemas, apatis, gelisah, halusinasi.
3) Sindrom stress relokasi berhubungan dengan perubahan dalam aktivitas kehidupan
sehari-hari ditandai dengan kebingungan, keprihatinan, gelisah, tampak cemas, mudah
tersinggung, tingkah laku defensive, kekacauan mental, tingkah laku curiga, dan
tingkah laku agresif.
4) Perubahan pola tidur berhubungan dengan perubahan pada sensori ditandai dengan
keluhan verbal tentang kesulitan tidur, terus-menerus terjaga, tidak mampu menentukan
kebutuhan/ waktu tidur.
5) Kurang perawatan diri berhubungan dengan penurunan kognitif, frustasi atas
kehilangan kemandiriannya ditandai dengan penurunan kemampuan melakukan
perawatan diri.
6) Koping individu tidak efektif berhubungan dengan pemecahan masalah tidak adekuat
ditandai dengan cepat marah, curiga, mudah tersinggung.
7) Hambatan komunikasi verbal berhubungan dengan perubahan persepsi ditandai dengan
disorientasi tempat, orang dan waktu.
8) Risiko terhadap perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
mudah lupa, kemunduran hobi, perubahan sensori.
9) Risiko terhadap cedera berhubungan dengan kesulitan keseimbangan, kelemahan, otot
tidak terkoordinasi, aktivitas kejang.
3. Intervensi

N Diagnosa Tujuan dan Intervensi Rasional


o keperawata kriteria
n hasil
1 Perubahan Setelah Mandiri Mandiri
proses pikir diberikan a. Kembangkan a. Mengurangi
berhubungan tindakan lingkungan yang kecemasan dan
dengan keperawatan mendukung dan emosional, seperti
perubahan diharapkan hubungan klien- kemarahan,
fisiologis klien mampu perawat yang meningkatkan
(degenerasi mengenali terapeutik pengembangan
neuron perubahan evaluasi diri yang
ireversibel) dalam positif dan
ditandai berpikir mengurangi
dengan dengan KH: konflik psikologis
b. Kaji derajat
hilang - Mampu b. Memberikan dasar
gangguan
ingatan atau memperlihatkan perbandingan yang
kognitif, seperti
memori, kemampuan akan datang dan
perubahan
hilang kognitifuntuk memengaruhi
orientasi, rentang
konsentrsi, perhatian, rencan intervensi.
menjalani
tidak mampu kemampuan Catatan: evaluasi
konsekuensi
menginterpre berpikir. orientasi secara
kejadian yang
tasikan Bicarakan dengan berulang dapat
menegangkan
stimulasi dan keluarga meningkatkan
terhadap emosi
menilai mengenai respon yang
dan pikiran
realitas perubahan negative/tingkat
tentang diri
dengan perilaku frustasi
- Mampu
akurat. c. Kebisingan
mengembangka
merupakan sensori
n strategi untuk c. Pertahankan
berlebihan yang
mengatasi lingkungan yang
meningkatkan
anggapan diri menyenangkan
gangguan neuron
yang negative dan tenang
d. Pendekatan
- Mampu
terburu-buru
mengenali d. Lakukan menyebabkan
perubahan pendekatan klien bingung,
dalam berpikir dengan cara kesalahan
atau tingkah perlahan dan persepsi/perasaan,
laku dan factor tenang terancam
penyebab
e. Menimbulkan
- Mampu
e. Tatap wajah perhatian, terutama
memperlihatkan
penurunan ketika berbicara pada klien dengan
tingkah laku dengan klien gangguan
yang tidak perceptual
diinginkan, f. Nama adalah
ancaman, dan bentuk identitas
f. Panggil klien
kebingungan diri dan
dengan namanya
menimbulkan
pengenalan
terhadap realita
dan klien
g. Meningkatkan
pemahaman.
g. Gunakan suara Ucapan tinggi
yang agak rendah dank eras
dan berbicara menimbulkan
dengan perlahan stress/marah yang
pada klien mencetuskan
konfrontasi dan
respons marah
h. Seiring
h. Gunakan kata-
perkembangan
kata pendek,
penyakit, pusat
kalimat dan
Ulangi instruksi komunikasi dalam
tersebut sesuai otak terganggu
kebutuhan sehingga
menghilangkan
kemampuan klien
dalam respons
penerimaan pesan
dan percakapan
secara keseluruhan
i. Berhenti sejenak
i. Menimbulkan
di antara
respons verbal,
kalimat/pertanyaa
meningkatkan
n. Beri isyarat
pemahaman.
tertentu, gunakan
Isyarat
kalimat terbuka
menstimulasi
komunikasi,
j. Dengarkan memberi
dengan penuh pengalaman positif
perhatian j. Mengarahkan
pembicaraan perhatian dan
klien. penghargaan.
Interpretasikan Membantu klien
pertanyaan, arti, dengan alat bantu
dan kata. Beri proses kata dalam
kata yang benar menurunkan
k. Hindari kritikan, frustasi
argumentasi, dan k. Provokasi
konfrontasi menurunkan harga
negative diri dan merupakan
ancaman yang
mencetuskan
l. Gunakan
agitasi yang tidak
distraksi.
sesuai
Bicarakan
l. Lamunan
tentang kejadian
membantu dalam
yang sebenarnya
meningkatkan
saat klien
disorientasi.
mengungkapkan
Orientasi pada
ide yang salah,
realita
jika tidak
meningkatkan
meningkatkan
perasaan realita
kecemasan
klien, penghargaan
m. Hindari klien dari
diri dan kemuliaan
aktivitas dan
(kebahagiaan)
komunikasi yang
dipaksakan personal
m. Keterpaksaan
menurunkan
n. Gunakan hal
keikutsertaan dan
yang humoris
meningkatkan
saat berinteraksi
kecurigaan, delusi
pada klien
n. Tertawa membantu
dalam komunikasi
dan meningkatkan
kestabilan emosi

Kolaborasi
a. Antisiklotik,
seperti
haloperidol
Kolaborasi
(haldol);
a. Dapat digunakan
tioridazin
untuk
(Mallril) mengontrol
agitasi,
halusinasi.
Mallril jarang
digunakan
karena adanya
beberapa efek
samping yang
bersifat
ekstrapiramidal
, meningkatkan
kekacauan
mental;
b. Vasodilator,
masalah
seperti
penglihatan dan
siklandelat
terutama
(Cyclospasmo
gangguan
l)
berdiri dan
berjalan.
c. Titamin
b. Dapat
meningkatkan
kesadaran
mental tetapi
memerlukan
penelitian lebih
lanjut.
c. Dalam penelitian
merupakan cara
yang dilakukan
terus menerus
untuk
menyelidiki
kemanfaatan
dari tiamin
dosis tinggi
selama fase
awal penyakit
untuk
memperlambat
berkembangnya
gangguan/meni
ngkatan
keadaan
kognisi secara
sederhana

2 Perubahan Setelah Mandiri Mandiri


persepsi diberikan a. kembangkan a. Meningkatkan
sensori tindakan lingkungan yang kenyamanan dan
berhubungan keperawatan suportif dan menurunkan
dengan diharapkan hubungan perawat kecemasan pada
perubahan perubahan –klien terapeutik klien
persepsi, persepsi b. Bantu klien untuk b. Meningkatkan
transmisi sensori klien memahami koping dan
atau integrasi dapat halusinasi menurunkan
sensori berkurang c. beri informasi halusinasi
(penyakit atau tentang sifat c. Untuk membantu
neurologis, terkontrol halusinasi klien dalam
tidak mampu dengan KH: ,hubungannya memahami
berkomunika - Mengalami dengan halusinasi
si, gangguan penurunan stresor/pengalama
tidur, nyeri) halusinasi n emosional yang
ditandai - Mengembangka traumatic,pengoba
dengan n strategi tan dan cara
cemas, psikososial mengatasi
d. Keterlibatan otak
apatis, untuk d. kaji derajat
gelisah, mengurangi sensori atau memperlihatkan
halusinasi. stress atau gangguan persepsi masalah yang
mengatur dan bagaimana bersifat asimetris
prilaku. hal tersebut menyebabkan klien
- Mendemonstrasi mempengaruhi kehilangan
kan respon yang klien termasuk kemampuan pada
sesuai stimulasi penurunan salah satu sisi tubuh
- Perawat mampu penglihatan atau (gangguan
mengidentifikasi pendengaran unilateral). Klien
factor eksternal tidak dapat
yang berperan mengenali rasa
terhadap lapar .
perubahan
- kemampuan
persepsi sensori
e. ajarkan strategi
untuk mengurangi e. Untuk menurunkan
stress kebutuahan akan
halusinasi
f. anjurkan untuk
f. Meningkatkan
menggunakan
masukan
kaca mata atau
sensori,membatasi /
alat bantu
pendengaran menurunkan
sesuai keperluan kesalahan
interpretasi
stimulasi
3 Sindrom Setelah Mandiri Mandiri
stress diberikan a. Jalin hubungan a. Untuk
relokasi tindakan saling membangun
berhubungan keperawatan mendukung kepercayaan dan
dengan diharapkan dengan klien rasa aman
perubahan klien dapat b. Orientasikan b. Menurunkan
dalam beradaptasi pada lingkungan kecemasan dan
aktivitas dengan dan rutinitas baru perasaan
kehidupan perubahan terganggu
sehari-hari aktivitas
c. Kaji tingkat
ditandai sehari- hari c. Untuk
stressor (seperti
dengan dan menentukan
penyesuaian diri,
kebingungan, lingkungan persepsi klien
krisis
keprihatinan, dengan KH : tentang kejadian
perkembangan,
gelisah, - Mengidentifikas dan tingkat
peran keluarga,
tampak i perubahan serangan.
akibat perubahan
cemas, - Mampu
status kesehatan)
mudah beradaptasi pada
d. Tempatkan pada
tersinggung, perubahan d. Perawatan di
tingkah laku lingkungan dan ruangan pribadi rumah sakit
defensive, aktivitas jika mungkin dan mengubah
kekacauan kehidupan bergabung aktivitas klien dan
mental, sehari- hari dengan orang meningkatkan
tingkah laku - Mempertahanka terdekat dalam masalah tingkah
curiga, dan n rasa berharga aktivitas laku. Memberi
tingkah laku pada diri dan perawatan, waktu kesempatan
agresif. identitas pribadi makan, dan mengontrol
yang positif sebaginya lingkungan dan
- Membuat melindungi dari
pernyataan kelainan tingkah
positif tentang laku
lingkungan yang
e. Tentukan jadwal
baru e. Konsistensi
aktivitas yang
- Memperlihatkan mengurangi
wajar dan
penerimaan kebingungan dan
masukkan dalam
terhadap meningkatkan rasa
kegiatan rutin
perubahan kebersamaan
lingkungan dan f. Memfasilitasi
penyesuaian f. Identifikasi bantuan dengan
kehidupan kekuatan klien komunikasi dan
- Mampu yang dimiliki manajemen dari
menunjukan sebelumnya kekurangan
tentang perasaan sekarang serta
yang selanjutnya
sesuai/tidak
cemas dan rasa g. Menurunkan
g. Berikan
takut berkurang ketegangan,
penjelasan dan
- Tidak mempertahankan
informasi yang
menyimpan rasa saling
menyenangkan
pengalaman percaya dan
mengenai
menyakitkan orientasi. Saat
kegiatan/peristiw
- Menggunakan klien mengetahui
a
bantuan dari secara perlahan
sumber yang tentang apa yang
tepat selama terjadi, koping
waktu klien akan
pengaturan pada meningkat
lingkungan baru h. Catat tingkah
laku, munculnya
perasaan
h. Stress meningkat,
curiga/paranoid,
rasa tidak
mudah
nyaman/nyeri fisik
tersinggung,
dan kelelahan
defensive mencetuskan
penurunan tingkah
laku dan gangguan
komunikasi.
Perilaku
katastropik ini
menimbulkan
panic dan rasa
i. Pertahankan
bermusuhan
keadaan tenang.
Tempatkan dalam
i. Menenangkan
lingkungan
situasi dan
tenang yang
member klien
memberikan
waktu untuk
kesempatan
memperoleh
untuk
kendali terhadap
“beristirahat”
perilaku dan
emosinya
j. Atasi tingkah
laku agresif j. Rasa diterima
dengan menurunkan rasa
pendekatan yang takut, dan respons
tenang agresif
k. Gunakan k. Memberikan
sentuhan jika keyakinan,
tidak mengalami menuunkan stress,
paranoid/sedang dan meningkatkan
mengalami kualitas hidup
agitasi sesaat

4 Perubahan Setelah Mandiri Mandiri


pola tidur dilakukan a. Jangan a. Irama sirkadian
berhubungan tindakan menganjurkan (siklus tidur-
dengan keperawatan klien tidur siang bangun)yang
perubahan diharapkan apabila berakibat tersinkronisasi
lingkungan tidak terjadi efek negative disebabkan oleh
ditandai gangguan terhadap tidur tidur siang yang
dengan pola tidur pada malam hari singkat
keluhan pada klien b. Evaluasi efek obat b. Derangement psikis
verbal dengan KH : klien (steroid terjadi bila terdapat
tentang - Memahami ,diuretik) yang penggunaan
kesulitan factor penyebab mengganggu tidur kortikosteroid,
tidur, terus- gangguan pola termasuk perubahan
menerus tidur mood, insomnia
terjaga, tidak - Mampu
mampu menentukan c. Tentukan c. Mengubah pola
menentukan penyebab tidur kebiasaan dan yang sudah terbiasa
kebutuhan/ inadekuat rutinitas waktu dari asupan makan
waktu tidur. - Mampu tidur malam klien pada malam
memahami dengan kebiasaan hari terbukti
rencana khusus klien (memberi mengganggu tidur
untuk susu hangat)
menangani/men d. Hambatan kortikal
goreksi pada formasi
d. Memberika
penyebab tidur reticular akan
lingkungan yang
tidak adekuat berkurang selama
nyaman untuk
- Mampu tidur, emningkatkan
meningkatkan
menciptakan respons otomatik,
tidur (mematikan
pola tidur yang karenanya respons
lampu, ventilasi
adekuat dengan kardiovaskular
ruang adekuat,
penurunan terhadap suara
suhu yang sesuai,
terhadap pikiran meningkat selama
menghindari
yang melayang- tidur
kebisingan)
layang
(melamun) e. Gangguan tidur
- Tampak atau terjadi dengan
melaporkan e. Buat jadwal seringnya tidur dan
dapat intervensi untuk mengganggu
beristirahat yang memungkinkan pemulihan
cukup waktu tidur lebih sehubungan dengan
lama(memeriksa gangguan
tanda vital, psikologis dan
mengubah posisi) fisiologis, sehingga
irama sirkadian
terganggu

f. Aktivitas fisik dan


mental yang lama
f. Berikan
mengakibatkan
kesempatan untuk
kelelahan yang
tidur sejenak,
dapat meningkatkan
anjurkan latihan
kebingungan,
saat siang hari,
aktivitas yang
turunkan aktivitas
terprogram tanpa
mental/fisik pada
stimulasi berlebihan
sore hari
meningkatkan
waktu tidur
g. Hindari g. Risiko gangguan
penggunaan sensori,
“pengikatan” meningkatkan
secara terus agitasi dan
menerus menghambat waktu
istirahat
h. Peningkatan
h. Evaluasi tingkat
kebingungan,
stress/orientasi
disorientasi, tingkah
sesuai
laku tidak
perkembangan
kooperatif (sindrom
hari demi hari
sundower) dapat
mengurangi tidur
i. Buat jadwal tidur i. Penguatan bahwa
secara teratur. saatnya tidur dan
Katakan pada mempertahankan
klien bahwa saat kestabilan
ini adalah waktu lingkungan. Catatan
untuk tidur : penundaan waktu
tidur diindikasikan
agar klien
membuang
kelebihan energy
dan memfasilitasi
j. Berikan makanan tidur
kecil sore hari, j. Meningkatkan
susu hangat, relaksasi dengan
mandi, dan perasaan
masase punggung mengantuk
k. Turunkan jumlah k. Menurunkan
minuman sore. kebutuhan akan
Lakukan bangun untuk
berkemih sebelum berkemih selama
tidur malam hari
l. Putarkan musik l. Menurunkan
yang lembut atau stimulasi sensori
“suara yang dengan
jernih” menghambat suara
lain dari lingkungan
sekitar yang akan
menghambat tidur

5 Kurang Setelah Mandiri Mandiri


perawatan diberikan a. Identifikasi a.Memahami penyebab
diri tindakan kesulitan dalam yang mempengaruhi
berhubungan keperawatan berpakaian/ intervensi. Masalah
dengan diharapkan perawatan diri, dapat diminimalkan
intoleransi klien dapat seperti: dengan
aktivitas, merawat keterbatasan gerak menyesuaikan atau
menurunnya dirinya fisik, apatis/ memerlukan
daya tahan sesuai depresi, konsultasi dari ahli
dan kekuatan dengan penurunan lain.
ditandai kemampuan kognitif seperti
dengan nya dengan apraksia.
penurunan KH : b. Seiring
kemampuan  Mampu perkembangan
melakukan melakukan b. Identifikasi penyakit, kebutuhan
aktivitas aktivitas kebutuhan kebersihan dasar
sehari-hari. perawatan diri kebersihan diri mungkin dilupakan.
sesuai dengan dan berikan
tingkat bantuan sesuai
kemampuan. kebutuhan dengan
 Mampu perawatan c.Kehilangan sensori
mengidentifikasi rambut/kuku/ dan penurunan fungsi
dan menggunakan kulit, bersihkan bahasa menyebabkan
sumber pribadi/ kaca mata, dan klien
komunitas yang gosok gigi. mengungkapkan
dapat memberikan c. Perhatikan adanya kebutuhan perawatan
bantuan. tanda-tanda diri dengan cara
nonverbal yang nonverbal, seperti
fisiologis. terengah-engah,
ingin berkemih
dengan memegang
dirinya.

d. Pekerjaan yang
tadinya mudah
d. Beri banyak waktu sekarang menjadi
untuk melakukan terhambat karena
tugas. penurunan motorik
dan perubahan
kognitif.
e.Meningkatkan
e. Bantu mengenakan kepercayaan untuk
pakaian yang rapi hidup.
dan indah.
6 Koping Setelah diberikan Mandiri Mandiri
. individu asuhan keperawatan a. Kaji perubahan a. Menentukan bantuan
tidak efektif diharapkan koping dari gangguan individual dalam
berhubungan individu menjadi persepsi dan menyusun rencana
dengan efektif dengan hubungan dengan perawatan atau
pemecahan kriteria hasil : derajat pemilihan intervensi.
masalah tidak - Mampu ketidakmampuan
adekuat menyatakan atau b.Kepatuhan terhadap
ditandai mengkomunikasi b. Dukung program latihan dan
dengan cepat kan dengan kemampuan berjalan membantu
marah, orang terdekat koping memperlambat
curiga, tentang situasi kemajuan penyakit.
mudah dan perubahan Dukungan dan
tersinggung. yang sedang sumber bantuan
terjadi dapat diberikan
- Mampu melalui ketekunan
menyatakan berdoa dan
penerimaan diri penekanan keluar
terhadap situasi terhadap aktivitas
- Mengakui dan dengan
menggabungkan mepertahankan
perubahan ke c. Pernyataan patisipasi aktif
dalam konsep pengakuan c. Membantu klien
diri dengan cara terhadap penolakan untuk melihat bahwa
yang akurat tubuh, perawat menerima
tanpa haraga diri mengingatkan kedua bagian sebagai
yang negatif kembali fakta bagian dari seluruh
kejadian tentang tubuh. Mengizinkan
realitas bahwa klien untuk
masih dapat merasakan adanya
menggunakan sisi harapan dan mulai
yang sakit dan menerima situasi
belajar mengontrol baru.
sisi yang sehat
d. Beri dukungan
psikologis secara d.Klien Demensia
menyeluruh sering merasa malu,
apatis, tidak adekuat,
bosan dan merasa
sendiri. Perasaan ini
dapat disebabkan
akibat keadaan fisik
yang lambat dan
upaya yang besar
dibutuhkan terhadap
tugas-tugas kecil.
Klien dibantu dan
didukung untuk
e. Bentuk program mencapai tujuan
aktivitas pada yang ditetapkan
keseluruhan hari (seperti
meningkatnya
mobilitas)
e. Bentuk program
aktivitas pada
keseluruhan hari
untuk mencegha
waktu tidur yang
terlalu banyak yang
dapat mengarah
padda tidak adanya
keinginan dari apatis.
Setiap upaya dibuat
untuk mendukung
klien keluar darii
tugas-tugas yang
f. Anjurkan orang termasuk koping
yang terdekat dengan kebutuhan
untuk mengizinkan mereka setiap hari
klien melakukan dan untuk
hal-hal untuk membentuk klien
dirinya semaksimal mandiri. Apapun
mungkin yang dilakukan
hanya untuk
keamanan sewaktu
g. Dukung perilaku mencapai tujuan
atau usaha seperti dengan
peningkatan minat meningkatnya
atau partisipasi kemampuan koping.
dalam aktivitas f. Menghidupkan
rehabilitasi kembali perasaan
kemandirian dan
h. Monitor gangguan membantu
tidur peningkatan perkembangan harga
konsentrasi, diri serta
letargi, dan mempengaruhi
withdrawal proses rehabilitasi.

Kolaborasi g.Klien dapat


a. Rujuk pada ahli beradaptasi terhadap
neuropsikolog perubahan dan
i dan pengertian tentang
konseling bila peran individu masa
ada indikasi mendatang.

h.Dapat
mengindikasikan
terjadinya depresi
dimana memerlukan
intervensi dan
evaluasi lebih lanjut

Kolaborasi
a. Dapat
memfasilitasi
perubahan
peran yang
penting untuk
perkembangan
perasaan.
Kerjasama
fisioterapi,
psikoterapi,
terapi obat-
obatan, dan
dukungan
partisipasi
kelompok dapat
menolong
mengurangi
depresi yang
juga sering
muncul pada
kejadian ini.

7 Hambatan Setelah diberikan Mandiri Mandiri


. komunikasi asuhan a. Kaji kemampuan a. Untuk menentukan
verbal keperawatan, klien untuk tingkat
berhubungan diharapkan klien berkomunikasi. kemampuan klien
dengan tidak mengalami dalam
perubahan hambatan berkomunikasi.
persepsi komunikasi verbal b. Menentukan
ditandai dengan kriteria cara-cara b. Untuk membantu
dengan hasil : berkomunikasi proses
disorientasi  Membuat seperti berkomunikasi
tempat, orang teknik/metode mempertahankan dengan klien, dan
dan waktu. komunikasi kontak mata, agar tidak terjadi
yang dapat pertanyaan miskomunikasi.
dimengerti dengan jawaban
sesuai ya atau tidak,
kebutuhan dan menggunakan
meningkatkan kertas dan
kemampuan pensil/bolpoint,
berkomunikasi gambar, atau
papan tulis;
bahasa isyarat,
penjelas arti dari c. Untuk
komunikasi yang memudahkan klien
disampaikan. dalam memanggil
c. Letakkan perawat saat
bel/lampu membutuhkan
panggilan di bantuan.
tempat mudah
dijangkau dan
berikan penjelasan
cara
menggunakannya.
Jawab panggilan
tersebut dengan
segera. Penuhi
kebutuhan klien. Kolaborasi
Katakan kepada a. Memberikan
klien bahwa terapi bicara
perawat siap pada klien.
membantu jika
dibutuhkan.

Kolaborasi
a. Kolaborasi
dengan ahli
wicara
bahasa.

8 Risiko Setelah Mandiri Mandiri


. terhadap dilakukan a. Kaji pengetahuan a. Identifikasi
perubahan tindakan klien/keluarga kebutuhan untuk
nutrisi keperawatan mengenai membantu
kurang dari diharapkan kebutuhan makan perencanaan
kebutuhan klien pendidikan
tubuh mendapat b. Usahakan/ berikan
berhubungan nutrisi yang bantuan dalam b. Klien tidak mampu
dengan seimbang memilih menu menentukan pilihan
mudah lupa, dengan KH: c. Berikan makanan kebutuhan nutrisi
kemunduran  Mengubah pola kecil setiap jam c. Makan makanan
hobi, asupan yang sesuai kebutuhan kecil meningkatkan
perubahn benar. masukan yang
sensori.  Mendapat diet d. Hindari makanan sesuai
nutrisi yang yang terlalu panas
seimbang. d. Makan panas
 Mempertahanka mengakibatkan
n/ mendapat mulut terbakar atau
kembali berat Kolaborasi : menolak untuk
badan yang a. Rujuk atau makan
sesuai. konsultasikan

 Ikut serta dalam dengan ahli Kolaborasi:

aktifitas yang gizi a. Bantuan

mempermudah diperlukan

koping adaptif. untuk


mengembangka
n
b. Pemberian
keseimbangan
suppositoria
diet dan
dan pelumas
menemukan
faeces /
kebutuhan /
pencahar.
makan yang
disukai
b. Pertolongan
utama terhadap
fungsi bowell
atau BAB

9 Risiko Setelah Mandiri Mandiri


. terhadap dilakukan a. Kaji derajat a. Mengidentifikasi
cedera tindakan gngguan risiko di
berhubungan keperawatan kemampuan,tingk lingkungan dan
dengan diharapkan ah laku impulsive mempertinggi
kesulitan Risiko dan penurunan kesadaran perawat
keseimbanga cedera tidak persepsi visual. akan bahaya. Klien
n, terjadi Bantu keluarga dengan tingkah
kelemahan, dengan KH : mengidentifikasi laku impulsif
otot tidak - Meningkatkan risiko terjadinya berisiko trauma
terkoordinasi, tingkat aktivitas bahaya yang karena kurang
aktivitas - Dapat mungkin timbul mampu
kejang. beradaptasi memgendalikan
dengan perilaku.
lingkungan Penurunan
untuk persepsi visual
mengurangi b. Hilangkan sumber berisiko terjatuh
risiko bahaya b. Klien dengan
trauma/cedera lingkungan gangguan kognitif,
- Tidak gangguan persepsi
mengalami adalah awal terjadi
trauma/cedera trauma akibat tidak
- Keluarga bertanggung jawab
mengenali terhadap
potensial di kebutuhan
c. Alihkan perhatian
lingkungan dan keamanan dasar
saat perilaku
mengidentifikasi c. Mempertahankan
teragitasi
tahap-tahap keamanan dengan
untuk menghindari
memperbaikinya konfrontasi yang
meningkatkan
d. Gunakan pakaian risiko terjadinya
sesuai dengan trauma
lingkungan d. Perlambatan
fisik/kebutuhan proses
klien metabolisme
mengakibatkan
hipotermia.
Hipotalamus
dipengaruhi proses
penyakit yang
e. Kaji efek samping menyebabkan rasa
obat, tanda kedinginan
keracunan (tanda e. Klien yang tidak
ekstrapiramidal,hi dapat melaporkan
potensi tanda/gejala obat
ortostatik,ganggua dapat
n penglihatan, menimbulkan
gangguan kadar toksisitas
gastrointestinal) pada lansia.
Ukuran
dosis/penggantian
f. Hindari obat diperlukan
penggunaan untuk mengurangi
restrain terus- gangguan
menerus. Berikan
kesempatan
f. Membahayakan
keluarga tinggal
klien,
bersama klien
meningkatkan
selama periode
agitasi dan timbul
agitasi akut risiko fraktur pada
klien lansia
(berhubungan
dengan penurunan
kalsium tulang)
4. Implementasi
(implementasi sesuai dengan intervensi)
5. Evaluasi

No.
Diagnosa Keperawatan Evaluasi
Dx
1. Perubahan proses pikir  Mampu memperlihatkan kemampuan
berhubungan dengan kognitifuntuk menjalani konsekuensi
perubahan fisiologis kejadian yang menegangkan terhadap
(degenerasi neuron emosi dan pikiran tentang diri
ireversibel) ditandai dengan  Mampu mengembangkan strategi untuk
hilang ingatan atau memori, mengatasi anggapan diri yang negative
hilang konsentrsi, tidak  Mampu mengenali perubahan dalam
mampu menginterpretasikan berpikir atau tingkah laku dan factor
stimulasi dan menilai realitas penyebab
dengan akurat.  Mampu memperlihatkan penurunan
tingkah laku yang tidak diinginkan,
ancaman, dan kebingungan

2. Perubahan persepsi sensori  Mengalami penurunan halusinasi


berhubungan dengan
 Mengembangkan strategi psikososial
perubahan persepsi, transmisi
untuk mengurangi stress atau mengatur
atau integrasi sensori
prilaku.
(penyakit neurologis, tidak
mampu berkomunikasi,  Mendemonstrasikan respon yang sesuai
gangguan tidur, nyeri) stimulasi
ditandai dengan cemas, apatis,
 Perawat mampu mengidentifikasi
gelisah, halusinasi.
factor eksternal yang berperan terhadap
perubahan

 kemampuan persepsi sensori


3. Sindrom stress relokasi  Mengidentifikasi perubahan
berhubungan dengan  Mampu beradaptasi pada perubahan
perubahan dalam aktivitas lingkungan dan aktivitas kehidupan
kehidupan sehari-hari ditandai sehari- hari
dengan kebingungan,  Mempertahankan rasa berharga pada
keprihatinan, gelisah, tampak diri dan identitas pribadi yang positif
cemas, mudah tersinggung,  Membuat pernyataan positif tentang
tingkah laku defensive, lingkungan yang baru
kekacauan mental, tingkah  Memperlihatkan penerimaan terhadap
laku curiga, dan tingkah laku perubahan lingkungan dan penyesuaian
agresif. kehidupan
 Mampu menunjukan tentang perasaan
yang sesuai/tidak cemas dan rasa takut
berkurang
 Tidak menyimpan pengalaman
menyakitkan
 Menggunakan bantuan dari sumber
yang tepat selama waktu pengaturan
pada lingkungan baru

4. Perubahan pola tidur  Memahami factor penyebab gangguan


berhubungan dengan pola tidur
perubahan lingkungan  Mampu menentukan penyebab tidur
ditandai dengan keluhan inadekuat
verbal tentang kesulitan tidur,  Mampu memahami rencana khusus
terus-menerus terjaga, tidak untuk menangani/mengoreksi penyebab
mampu menentukan tidur tidak adekuat
kebutuhan/ waktu tidur.  Mampu menciptakan pola tidur yang
adekuat dengan penurunan terhadap
pikiran yang melayang-layang
(melamun)
 Tampak atau melaporkan dapat
beristirahat yang cukup

5. Kurang perawatan diri  Mampu melakukan aktivitas perawatan


berhubungan dengan diri sesuai dengan tingkat kemampuan.
intoleransi aktivitas,  Mampu mengidentifikasi dan
menurunnya daya tahan dan menggunakan sumber pribadi/
kekuatan ditandai dengan komunitas yang dapat memberikan
penurunan kemampuan bantuan.
melakukan aktivitas sehari-
hari.

6. Koping individu tidak efektif  Mampu menyatakan atau


berhubungan dengan mengkomunikasikan dengan orang
pemecahan masalah tidak terdekat tentang situasi dan perubahan
adekuat ditandai dengan cepat yang sedang terjadi
marah, curiga, mudah  Mampu menyatakan penerimaan diri
tersinggung. terhadap situasi
 Mengakui dan menggabungkan
perubahan ke dalam konsep diri dengan
cara yang akurat tanpa haraga diri yang
negative

7. Hambatan komunikasi verbal  Membuat teknik/metode komunikasi


berhubungan dengan yang dapat dimengerti sesuai
perubahan persepsi ditandai kebutuhan dan meningkatkan
dengan disorientasi tempat, kemampuan berkomunikasi
orang dan waktu.
8. Risiko terhadap perubahan  Mengubah pola asupan yang benar.
nutrisi kurang dari kebutuhan  Mendapat diet nutrisi yang seimbang.
tubuh berhubungan dengan  Mempertahankan/ mendapat kembali
mudah lupa, kemunduran berat badan yang sesuai.
hobi, perubahn sensori.  Ikut serta dalam aktifitas yang
mempermudah koping adaptif.

9. Risiko terhadap cedera  Meningkatkan tingkat aktivitas


berhubungan dengan kesulitan  Dapat beradaptasi dengan lingkungan
keseimbangan, kelemahan, untuk mengurangi risiko trauma/cedera
otot tidak terkoordinasi,  Tidak mengalami trauma/cedera
aktivitas kejang.  Keluarga mengenali potensial di
lingkungan dan mengidentifikasi tahap-
tahap untuk memperbaikinya

DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth. 1997. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC.

Carpenito, L.J. 2003. Buku Saku Diagnosis Keperawatan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
EGC.
Kushariyadi.2010. Askep pada Klien Lanjut Usia. Jakarta: Salemba Medika
Lumbantobing. 2006. Kecerdasan Pada Usia Lanjut dan Demensia. Jakarta: FKUI

Muttaqin, Arif. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem
Persarafan. Salemba Medika: Jakarta

Nugroho,Wahjudi. Keperawatan Gerontik.Edisi2.Buku Kedokteran EGC.Jakarta;1999

Stanley,Mickey. Buku Ajar Keperawatan Gerontik.Edisi2. EGC. Jakarta;2002