Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN KASUS GERIATRI

BLOK ELEKTIF

PENGARUH AKTIVITAS FISIK DENGAN KUALITAS HIDUP PADA

LANSIA PANTI SOSIAL TRESNA WERDHA BUDI MULIA 3 CIRACAS 2019

Disusun Oleh :
LENNY GUSNIATI
1102016103

Kelompok 4 Bidang Kepeminatan Geriatri

Dosen Pembimbing :
dr. Eri Dian Maharsi, M.Kes
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI
JAKARTA
2019 – 2020

ABSTRAK

Latar Belakang : Dari perubahan yang di alami lansia akan meyebabkan gangguan yang akan
berdampak pada kualitas hidup seorang lansia. Penulisan laporan kasus ini bertujuan untuk membahas
pengaruh aktivitas fisik dengan kualitas hidup pada lansia Panti Sosial Tresna Werdha Budi Mulia 3
Ciracas.
Deskripsi Kasus : Ny.K berusia 76 sudah berada di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Mulia 3 Ciracas
sejak tahun 2014. Beliau sering mengeluh nyeri sendi pada kaki dan tangan dan terdapat riwayat
hipertensi, hiperglikemi dan hiper kolesterol. Kegiatan yang biasa Ny.K lakukan selama di panti
tersebut yaitu senam, belajar bermain angklung, keterampilan menjahit dan pengajian yang diadakan di
masjid panti.
Diskusi : Seseorang dikatakan lanjut usia yaitu berusia 60 tahun atau lebih. Pada lansia ditandai
dengan penurunan kemampuan berbagai organ, fungsi dan sistem tubuh secara alamiah atau fisiologis,
yang dapat menyebabkan aktivitas fisik lansia berkurang. Lansia kurang memiliki pengetahuan tentang
manfaat aktivitas fisik. Seseorang yang memiliki level aktivitas fisik yang tinggi terbukti berhubungan
dengan kesehatan dan kualitas hidup yang lebih baik. Kualitas hidup saat ini merupakan sebuah konsep
penting yang dijadikan sebagai salah satu kriteria untuk mengevaluasi intervensi pelayanan kesehatan
Kesimpulan : Seseorang yang memiliki level aktivitas fisik yang tinggi terbukti berhubungan dengan
kesehatan dan kualitas hidup yang lebih baik. Diharapkan dapat memberikan saran kepada pihak panti
mengenai aktivitas fisik yang sesuai bagi lansia dengan mendukung optimalisasi lansia. fisik yang
banyak dan dapat meningkatkan kualitas hidupnya.

Kata Kunci : lansia, aktivitas fisik, kualitas hidup

ABSTRACT
Background : From the changes experienced by the elderly will cause disruption that will affect the
quality of life an elderly person. The writing of this case report aims to discuss the effect of physical
activity with quality of life on elderly Tresna Werdha Budi Mulia 3 Ciracas Social House
Case Report : Ny.K 76 years old , has been at the Tresna Werdha Budi Mulia Social Home 3 Ciracas
since 2014. She often complains of joint pain in the feet and hands and there is a history of
hypertension, hyperglycemia and hyper cholesterol . The activities that Mrs. Ny usually does while at
the orphanage are gymnastics, learning to play angklung, sewing skills and recitation at the orphanage
mosque. After there was no activity, Mrs. K was just in the room and sitting around the guesthouse
while chatting with friends around her.
Discussion: A person is said to be elderly, aged 60 years or more. In the elderly is characterized by
decreased ability of various organs, functions and body systems naturally or physiologically, which can
cause physical activity of the elderly is reduced. Elderly lacks knowledge about the benefits of
physical activity. Someone who has a high level of physical activity is proven to be associated with
better health and quality of life. Current quality of life is an important concept that is used as one of
the criteria for evaluating health service interventions

Keyword : elderly, physical activity, quality of life


PENDAHULUAN
Lansia bukan merupakan suatu penyakit melainkan suatu proses kehidupan
yang ditandai dengan penurunan kemampuan tubuh untuk beradaptasi dengan
lingkungan sekitarnya. Lansia adalah seseorang yang berusia lebih dari 60 tahun.
(Effendi, 2009). Semakin tahun jumlah lansia di Indonesia semakin meningkat. Sejak
tahun 2000, persentase penduduk lansia melebihi 7% yang berarti Indonesia mulai
masuk ke dalam kelompok negara berstruktur tua (ageing population). Adanya
struktur ageing population merupakan cerminanan dari semakin tingginya rata-rata
usia harapan hidup (UHH). Tingginya UUH merupakan salah satu indikator
keberhasilan pencapaian dalam bidang kesehatan (Pusat Data dan Informasi
Kemenkes RI, 2014). Berdasarkan data proyeksi penduduk, diperkirakan tahun 2017
terdapat 23,66 juta jiwa penduduk lansia di Indonesia 9,03% (Pusat Data dan
Informasi Kemenkes RI, 2017).

Secara garis besar perubahan pada lansia terbagi menjadi tiga yaitu perubahan
fisik, perubahan psikologis dan perubahan kognitif. Dari perubahan yang di alami
lansia akan meyebabkan gangguan yang akan berdampak pada kualitas hidup seorang
lansia (Alfi, 2017). Kualitas hidup yang rendah dapat terjadi akibat adanya gangguan
yang timbul pada lansia, mengakibatkan penurunan produktifitas lansia dalam
menjalankan aktivitas sehari-hari seperti biasanya. Karena aktivitas fisik seorang
sangat bergantung dengan Kualitas hidup yang dilakukan dalam kehidupan.

Penulisan laporan kasus ini bertujuan untuk membahas pengaruh aktivitas


fisik dengan kualitas hidup pada lansia dengan mengambil data salah seorang lansia
yang berada dalam Panti Sosial Tresna Werdha Budi Mulia 3 Ciracas. Diharapkan
dengan adanya laporan ini dapat memberikan saran kepada pihak panti mengenai
aktivitas fisik yang sesuai bagi lansia dengan mendukung optimalisasi lansia.

PRESENTASI KASUS
Salah seorang anggota wisma Anggrek beragama Islam, suku bangsa Betawi
yaitu Ny.K berusia 76 tahun sudah berada di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Mulia
1 Ciracas sejak tahun 2014. Ny.K ditinggal oleh suami meninggal dunia sejak tahun
2003. Ny.K hanya memiliki seorang anak, tetapi hingga saat ini anak nya tidak tahu
akan keberadaan orang tuanya.
Setelah dilakukan wawancara dengan Ny.K, beliau sering mengeluh nyeri
sendi pada kaki dan tangan sehingga disaat keluhan tersebut timbul beliau tidak
melakukan banyak aktivitas hanya bisa duduk di kasur sambil mengurutnya dengan
botol yang berisi air hangat. Selain itu Ny.K memberitahu ada riwayat hipertensi,
hiperglikemi dan hiper kolesterol. Pada keluarga nya tidak terdapat riwayat pennyakit
yang di alami Ny.K. Dari data rekam medis yang di dapatkan, pada September 2019
setelah dilakukan pemeriksaan kadar asam urat 10.5 , Tekanan Darah 129/61 mmHg,
GDS 137. Keluhan yang dialami Ny.K biasanya langsung disampaikan pada perawat
yang berada di wisma tersebut, kemudian perawat akan memberikan obatnya
Kegiatan yang biasa Ny.K lakukan selama di panti tersebut yaitu senam,
belajar bermain angklung, keterampilan menjahit dan pengajian yang diadakan di
masjid panti. Senam hanya dilakukan dua kali dalam seminggu yaitu pada hari Selasa
dan Jum’at. Saat ini Ny.K sudah jarang mengikuti keterampilan menjahit karena
beliau merasa mata nya sudah agak kabur. Setelah tidak ada kegiatan apapun Ny.K
hanya di kamar dan duduk di sekitar wisma sambil mengobrol dengan teman di
sekitarnya.
DISKUSI
Seseorang dikatakan lanjut usia (lansia) yaitu berusia 60 tahun atau lebih,
karena faktor tertentu tidak dapat memenuhi kebutuhan dasar nya secara jasmani,
rohani maupun sosial (Nugroho, 2012). Klasifikasi LansiaMenurut Depkes RI (2013)
terdiri dari:

1. Pra lansia yaitu seseorang yang berusia antara 45-59 tahun


2. Lansia ialah seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih.
3.  Lansia resiko tinggi ialah seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih dengan
masalah kesehatan.
4.  Lansia potensial ialah lansia yang masih mampu melakukan pekerjaan dan
kegiatan yang dapat menghasilkan barang atau jasa.
5. Lansia tidak potensial ialah lansia yang tidak berdaya mencari nafkah,
sehingga hidupnya bergantung pada bantuan orang lain.

Pada lansia ditandai dengan penurunan kemampuan berbagai organ, fungsi


dan sistem tubuh secara alamiah atau fisiologis. Seiring bertambahnya umur lansia
mengalami perubahan fungsi tubuh seperti penurunan fungsi sel, penurunan fungsi
musculoskeletal (menyebabkan kehilangan densitas tulang dan terbatasnya
pergerakan), kemunduran fisik, dan penyakit yang sering terjadi pada lansia
(hipertensi, diabetes mellitus, stroke, dan gout artritis) yang dapat menyebabkan
aktivitas fisik lansia berkurang (Nugroho, 2008). Lansia juga kurang memiliki
pengetahuan tentang manfaat aktivitas fisik, seberapa banyak dan jenis aktivitas fisik
yang harus dilakukan (Aisyah, 2017). Risiko perilaku atau gaya hidup seperti pola
kebiasaan kurangnya aktivitas fisik dan konsumsi makanan yang tidak sehat dapat
memicu terjadinya penyakit dan kematian (Stefanus, 2018).
Seseorang yang memiliki level aktivitas fisik yang tinggi terbukti
berhubungan dengan kesehatan dan kualitas hidup yang lebih baik. Kualitas hidup
saat ini merupakan sebuah konsep penting yang dijadikan sebagai salah satu kriteria
untuk mengevaluasi intervensi pelayanan kesehatan dalam pencegahan maupun
pengobatan (Syamsumin, 2018).

Kualitas hidup yang rendah pada lansia merupakan akibat dari berbagai
penyakit yang berdampak dengan menurunnya produktifitas lansia, lansia tidak dapat
menjalankan aktivitas hidup sehari-hari secara normal baik dari segi fisik, kejiwaan
atau mental, sosial maupun spiritual (Alfi, 2017). Aktivitas fisik yang tinggi
berhubungan juga dengan waktu yang dihabiskan untuk duduk yang lebih rendah,
rendahnya disabilitas dalam aktivitas sehari-hari, Indeks Massa Tubuh (IMT) yang
lebih rendah, kecemasan yang lebih rendah, kekuatan cengkeraman yang lebih tinggi,
dan kemampuan kognitif yang lebih tinggi (Syamsumin 2018).

Departemen of Health 2012 mengatakan aktivitas fisik yang bermanfaat untuk


kesehatan lansia sebaiknya memenuhi kriteria FITT (frequency, intensity, time, type).
Frekuensi adalah seberapa sering aktivitas yang dilakukan selama seminggu. Intesitas
adalah seberapa konsisten kegiatan itu dilakukan dan biasanya diklasifikasi menjadi
intensitas ringan, sedang dan berat. Waktu mengacu pada durasi selama aktivitas
tersebut dilakukan. sedangkan jenis adalah jenis-jenis aktivitas fisik yang akan
dilakukan pada lansia aerobik atau anaerobik. Untuk meningkatkan daya tahan
jantung paru pada lansia dilakukan latihan 3-5 kali/ minggu dengan intensitas latihan
ringan dan sedang (intensitas ringan: 50-60% Denyut Nadi Maksimal (DNM),
intensitas sedang 60-75% (DNM). Waktu yang diperlukan setiap melaksanakan
latihan selama 20-60 menit/latihan dengan tipe latihan aerobik. Hasil latihan akan
bermanfaat setelah 8-12 minggu dan stabil setelah 20 minggu (Nita et all, 2019).

Bentuk-bentuk latihan olahraga yang baik bagi lansia adalah berjalan, senam,
berenang, bersepeda, joging. Dari masing-masing bentuk olahraga tersebut terdapat
manfaatnya, berjalan bermanfaat agar lansia memperoleh kebugaran kardiovaskuler.
Berjalan setiap tingkat kecepatan, 2 atau 3 kali dalam seminggu selam 20 menit akan
meningkatkan ketahanan pembuluh jantung. Senam dapat berguna untuk peregangan
dan kelenturan otot juga pernafasan. Berenang bermanfaat untuk persendian terutama
bagi kaum lansia yang menderita penyakit osteoarthritis. Bersepeda dapat
meningkatkan sirkulasi darah dan menguatkan otot-otot jantung. Joging dapat
meningkatkan kekuatan otot tungkai, menguatkan otot jantung, memperlancar
perdaran darah, menurunkan berat badan. Namun demikian joging hanya dapat
dilakukan lansia yang tidak memiliki keluhan kesehatan (Junaidi, 2011).

Mereka yang nantinya akan menjadi lansia tersebut harus diantisipasi mulai
dari sekaran. Antisipasi tersebut salah satunya dengan membuat para lanjut usia tetap
sehat, mandiri serta produktif dalam melakukan kegiatan sehari-hari.

Aspek Agama

Tidak dapat disangkal lagi bahwa kegiatan olahraga sangat memegang


peranan penting bagi seseorang yang menginginkan agar tubuhnya tetap terjaga, sehat
dan bugar, seiring dengan harapan Allah dan RasulNya. Itulah sebabnya, Islam sangat
menganjurkan umatnya untuk lebih memperhatikan kesehatan karena kesehatan diri
merupakan prasarat meraih kebahagiaan hidup di dunia maupun dan akhirat nantinya
(Zaenal, 2012). Seperti dalam firman Allah SWT:

Artinya :

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi
dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu)
kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka
yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu
nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu
tidak akan dianiaya (dirugikan).” (Qs. Al-Anfal [8:60] )

Seseorang yang sehat insyaAllah dapat melakukan aktivitas kesehariannya.


Sehat dalam hal ini adalah dalam berbagai aspek yaitu fisik, mental, sosial dan aqidah.
Lansia merupakan masa akhir dalam kehidupan untuk lebih mengevaluasi diri dengan
lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT dalam beribadah melalui kegiatan
keagamaan seperti mengikuti pengajian dan melakukan ibadah dalam kesehariannya.
Diperintahkanlah kepada semua makhluk untuk beribadah kepada Nya yang terdapat
dalam firman Allah SWT yaitu :

Artinya :

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi
kepada-Ku.” (Qs. Adz-Dzariat [51:56] ).

Maksud ayat tersebut adalah Allah menciptakan manusia dengan tujuan untuk
menyuruh mereka beribadah kepada-Nya, bukan karena Allah butuh kepada mereka.
Ayat tersebut dengan gamblang telah menjelaskan bahwa Allah Swt dengan
menghidupkan manusia di dunia ini agar mengabdi atau beribadah kepada-Nya.
Berdasarkan penjelasan tersebut terkandung makna bahwa manusia membutuhkan
“ibadah” untuk eksistensi dirinya.

Apabila seseorang muslim tekun mendirikan sholat dengan benar, maka ia


selalu diingat oleh Allah. Dengan sholat, seorang akan mendapatkan ketenangan hati
dan jiwa, karena merasa terlindungi dari segala macam cobaan. Seseorang merasa
terjaga meski tak ada seorang pun yang menjaganya. Bukan hanya itu, sholat yang
dilakukan dengan sepenuh hati akan mencegah seseorang dari perbuatan jahat. Seperti
dalam firman Allah :

Artinya:

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al Qur’an) dan
dirikanlah sholat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan-perbuatan keji
dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar
keutamaannya dari ibadah yang lain. Dan Allah mengetahui apa yang kamu
kerjakan” (QS. Al-Ankabut [29: 45] ).

KESIMPULAN

Seiring bertambahnya umur, lansia mengalami perubahan fungsi tubuh seperti


penurunan fungsi sel, penurunan fungsi musculoskeletal, kemunduran fisik, dan
penyakit yang sering terjadi pada lansia yang dapat menyebabkan aktivitas fisik
lansia berkurang. Bahwa panti telah memfasilitasi untuk melakukan aktivitas fisik
bagi lansia, tetapi sebaiknya aktivitas tersebut lebih ditingkatkan lagi agar para lansia
dapat melakukan berbagai macam aktivitas fisik dengan intensitas ringan, sedang
maupun berat sehingga dapat meningkatkan kualitas hidupnya dan tetap menjalankan
kegiatan ibadahnya untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT. Seseorang yang
memiliki level aktivitas fisik yang tinggi terbukti berhubungan dengan kesehatan dan
kualitas hidup yang lebih baik.
UCAPAN TERIMA KASIH

Puji syukur kepada Allah SWT karena tugas laporan kasus blok elektif ini
dapat selesai tepat pada waktunya. Saya mengucapkan terima kasih kepada dr. Eri
Dian Maharsi, M.Kes sebagai dosen tutor kelompok 4 bidang kepeminatan geriatri
yang telah meluangkan waktu untuk membimbing dan memberi semangat kepada
kami sehingga dapat terselesaikannya laporan kasus ini, juga kepada dr. Hj. RW.
Susilowati sebagai koordinator pelaksana blok elektif serta mengantar kami ke Panti
Sosial Tresna Werdha Budi Mulia 3 Ciracas dan kepada dr. Faisal Drissa Hasibuan
Sp.PD sebagai dosen pengampu bidang bidang kepeminatan geriatri. Selain itu, tidak
lupa saya ucapkan terima kasih kepada pengurus Panti Sosial Tresna Werdha Budi
Mulia 3 Ciracas yang telah memberikan kesempatan untuk berkunjung dan kepada
Ny.K yang telah bersedia untuk di wawancarai dalam mengumpulkan data. Juga
untuk teman-teman kelompok 4 bidang kepeminatan geriatri terima kasih untuk
kerjasama nya semoga sukses dalam meraih apa yang dicita-citakan.
DAFTAR PUSTAKA

Kiik, Stefanus et al. 2018 Peningkatan Kualitas Hidup Lanjut Usia (Lansia) di Kota
Depok Dengan Latihan Keseimbangan. Jurnal Keperawatan Indonesia. Vol 21
(2): 109-116. Fakultas Keperawatan Universitas Indonesia.

Dewi, Syamsumin. 2018. Level Aktivitas Fisik dan Kualitas Hidup Warga Lanjut
Usia. Jurnal MKMI. Vol 14 (3). Akademi Fisioterapi. Yogyakarta.

Munawwaroh, Aisyah. 2017. Hubungan Antara Aktivitas Fisik Dengan Kualitas


Hidup Pada Lansia Penderita Hipertensi di Kelurahan Joyosuran Kecamatan
Pasar Kliwon Surakarta. Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas
Muhammadiyah Surakarta.

Adina, Alfi. 2017. Hubungan Tingkat Kemandirian Dengan Kualitas Hidup Lansia
Di Padukuhan Karang Tengah Nogotirto Gamping Sleman Yogyakarta.
Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas ‘Aisyiyah. Yogyakarta.

Fitria, Nita. 2019. The Influence Of Indonesian Cardio Gymnastic Series-I To Plasma
Protein Expression Of BDNF In The Elderly. NurseLine Journal. Vol 4(1): 69-
75. Fakultas Keperawatan Universitas Padjajaran.

Junaidi, Said. 2011. Pembinaan Fisik Lansia melalui Aktivitas Olahraga Jalan Kaki.
Jurnal Media Ilmu Keolahragaan Indonesia. Vol 1 edisi 1: 17-21. Universitas
Negeri Semarang.