Anda di halaman 1dari 46

LAPORAN PENDAHULUAN DAN

ASKEP PPOM PADA GERONTIK

OLEH :
KELOMPOK 1

1. DESAK NYOMAN RISKA KRISMAYANTI 193223110


2. GABRIELA ANGELINA PALABI 193223115
3. I GEDE PUTRA SAINAN JAYA 193223116
4. I GUSTI AYU TRISNADEWI 193223117
5. I KOMANG PRAYOGA 193223118
6. IKE SRI WULANDARI 193223124
7. MERLINA SOFIANI 193223130
8. NANIK EKA PURNAWATI 193223131
9. NI KADEK SUKRAENI PEBREYANTI 193223135
10. NI WAYAN SUKRIMI 193223154

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN


WIRA MEDIKA PPNI BALI
2020

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur hanyalah bagi Tuhan Yang Maha Esa, karena atas limpahan rahmat-Nya
kepada penyusun sehingga mampu menyelesaikan salah satu tugas mata kuliah gerontik yang
berjudul “Penyakit Paru Obstruksi Menahun (PPOM)” ini dengan baik.

Ucapan terima kasih penyusun sampaikan kepada seluruh pihak yang telah membantu
sehingga makalah ini dapat terselesaikan.

Penyusun menyadari sepenuhnya atas keterbatasan ilmu maupun dari segi penyampaian yang
menjadikan makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang
membangun sangat diperlukan dari semua pihak untuk sempurnanya makalah ini, sehingga
dapat melengkapi khasanah ilmu pengetahuan yang senantiasa berkembang dengan cepat.

Denpasar, 08 Maret 2020

Kelompok 1

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..............................................................................................i
DAFTAR ISI.............................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang........................................................................................1
1.2 Tujuan.....................................................................................................2
1.3 Manfaat...................................................................................................2
BAB II TINJAUN PUSTAKA
2.1 Definisi.................................................................................................3
2.2 Klasifikasi PPOM.................................................................................4
2.3 Faktor Resiko…………………………………………….......………..4
2.4 Manifestasi Klinis ................................................................................5
2.5 Komplikasi ...........................................................................................5
2.6 Patofisiologi ………………………………………………….…….…6
2.7 Patway ……………………………………………………….…….…8
2.8 Penatalaksanaan …………………………………………….…….....9
2.9 Pemeriksaan Penunjang ………………………………….……….…10
2.10 Konsep Dasar Asuhan Keperawatan …………………………..…..11
2.11 Diagnosa Keperawatan ……………………………………….……13
2.12 Intervensi Keperawatan…………………………………….………14
2.13 Implementasi Keperawatan ………………………………………..17
2.14 Evaluasi Keperawatan …………………………………………….17
BAB III ASUHAN KEPERAWATAN
3.1 Pengkajian.........................................................................................18
3.2 Analisa Data.......................................................................................26
3.3 Diagnosa Keperawatan.......................................................................28
3.4 Intervensi Keperawatan .....................................................................29
3.5 Implementasi .....................................................................................32
3.6 Evaluasi .............................................................................................40
BAB IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan........................................................................................42
4.2 Saran...................................................................................................42
DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Penyakit paru obstruksi menahun (PPOM) adalah suatu penyakit yang ditandai
dengan adanya obstruksi aliran udara yang disebabkan oleh bronchitis kronis
atau empisema. Obstruksi aliran udara pada umumnya progresif kadang diikuti
oleh hiperaktivitas jalan napas dan kadangkala parsial reversible, sekalipun
empisema dan bronchitis kronis harus didiagnosa dan dirawat sebagai penyakit
khusus, sebagian besar pasien PPOM mempunyai tanda dan gejala kedua
penyakit tersebut sekitar 14 juta orang Amerika terserang PPOM dan Asma
sekarang menjadi penyebab kematian keempat di Amerika Serikat lebih dari
90.000 kematian dilaporkan setiap tahunnya.

Rata-rata kematian akibat PPOM meningkat cepat, terutama pada laki-laki usia
lanjut. Angka penderita PPOM diIndonesia sangat tinggi.

Banyak penderita PPOM dating kedokter saat penyakit itu sudah lanjut. Padahal
sampai saat ini belum ditemukan cara yang efisien dan efektif untuk menentukan
PPOM. Menurut Dr. Suradi penyakit PPOM diIndonesia menepati urutan ke 5
sebagai penyakit yang menyebabkan kematian. Sementara data dari organisasai
Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan, pada tahun 2010 diperkirakan penyakit
ini akan menempati urutan ke-4 sebagai penyebab kematian “pada dekade
mendatang akan meningkat ke peringkat ketiga, dan kondisi ini tanpa disadari
angka kematian akibat PPOM ini semakin meningkat.

Oleh karena itu penyakit PPOM haruslah mendapat pengobatan yang baik dan
terutama perawatan yang komprehensif semenjak serangan sampai dengan
perawatan dirumah sakit. Dan yang lebih penting adalah perawatan untuk
memberikan pengetahuan dan Pendidikan pada pasien dan keluarga tentang
perawatan dan pencegahan serangan berulang pada pasien PPOM dirumah. Hal
ini diperlukan perawat yang komprehensif dan paripurna saat di Rumah Sakit.

1
1.2 Tujuan

1. Mengetahui pengertian PPOM

2. Mengetahui etiologic dan manifestasi klinis PPOM

3. Memahami klasifikasi PPOM

4. Mengetahui komplikasi dan penatalaksanaan PPOM

1.3 Manfaat

Manfaat yang diperoleh dari penulisan makalah ini adalah agar mahasiswa
khusunya mahasiswa keperawatan mengetahui dan memahami tentang Penyakit
Paru Obtruksi Menahun.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 PENGERTIAN
PPOM adalah penyakit paru obstruksi menahun /PPOK (Penyakit paru
obstruksi kronik) yang ditandai dengan hambatan aliran udara di saluran napas
yang tidak sepenuhnya reversible. Hambatan udara ini bersifat progresif dan
berhubungan dengan respon inflamasi paru terhadap partikel atau gas racun yang
berbahaya (Robbins,2010).

Menurut Anthonisen (2004) istilah PPOK mencakup tiga patologi spesifik yaitu
bronkhitis kronik, penyakit saluran napas perifer dan emfisema. Definisi PPOM
menurut American Thoracic Society (ATS) adalah suatu gangguan dengan
karakteristik adanya obstruksi dari jalan napas karena bronkitis kronik atau
emfisema; obstruksi jalan napas umumnya progresif dan dapat disertai hiper-
reaksi dan mungkin kembali normal sebagian.

2.2 KLASIFIKASI PPOM

Penyakit yang termasuk dalam kelompok penyakit paru obstruksi kronikadalah


sebagai beriksut:

1. Bronkitis kronik
Bronkitis merupakan definisi klinis batuk-batuk hampir setiap hari
disertai pengeluaran dahak, sekurangnya 3
bulan dalam satu tahun dan terjadi  paling sedikit selama 2 tahun
berturut-turut.
2. Emfisema paru
Emfisema paru merupakan suatu distensi abnormal ruang udara di
luar bronkiolus terminal dengan kerusakan dinding alveoli. (Bruner &
Suddart, 2002)
a) Emfisema Centriolobular merupakan tipe yang sering muncul,
menghasilkan kerusakan bronkiolus, biasanya pada region paru

3
atas. Inflamasi berkembang pada bronchiolus tetapi biasanya
kantung alveolar tetap bersisa.

b) Emfisema Panlobular merusak ruang udara pada paru bagian


bawah. Hal ini disebut centriacinar emfisema, timbul sangat
sering pada seorang perokok.

c) Emfisema Paraseptal merusak alveoli pada lobus bagian bawah


yang mengakibatkan isloasi dari blebs sepanjang perifer paru.
Paraseptal emfisema dipercaya sebagai sebab dari pneumothorax
spontan. Pada keadaan lanjut, terjadi peningkatan dyspnea dan
infeksi pulmoner.

3. Asma

Asma merupakan suatu penyakit yang dicirikan oleh hipersensivitas


cabang-cabang bronkial terhadap berbagai jenis rangsangan. Keadaan ini
bermanifestasi sebagai penyempitan saluran napas secara periodic akibat
bronkopasme.

2.3 FAKTOR RESIKO


Secara umum resiko terjadinya PPOM terkait dengan jumlah partikel gas
yang dihirup oleh seorang individu selama hidupnya serta berbagai faktor dalam
individu itu sendiri :
1. Asap Rokok
Asap rokok merupakan salah satu penyebab utama, kebiasaan merokok
merupakan faktor resiko utama dalam terjadinya PPOM. Asap
mengiritasi jalan nafas mengakibatkan hipersekresi lendir daninflamasi.
Karena iritasi yang konstan ini, kelenjar-kelenjar yang mensekresi
lendirdan sel-sel goblet meningkat jumlahnya, fungsi silia menurun dan
lebih banyaklendir yang dihasilkan. Sebagai akibat bronkiolus dapat
menjadi menyempit dan tersumbat.
2. Paparan Pekerjaan
Meningkatnya gejala-gejala respirasi dan obstruksi aliran udara dapat
diakibatkan oleh paparan debu di tempat kerja. Beberapa paparan

4
pekerjaan yang khas termasuk penambangan batu bara, panambangan
emas, dan debu kapas tekstil telah diketahui sebagai faktor risiko
obstruksi aliran udara kronis.

3. Polusi Udara
Beberapa peneliti melaporkan meningkatnya gejala respirasi pada orang-
orang yang tinggal di daerah padat perkotaan dibandingkan dengan
mereka yang 5 tinggal di daerah pedesaan, yang berhubungan dengan
meningkatnya polusi di daerah padat perkotaan. Pada wanita bukan
perokok di banyak negara berkembang, adanya polusi udara di dalam
ruangan yang biasanya dihubungkan dengan memasak, telah dikatakan
sebagai kontributor yang potensial.
4. Usia
Semakin bertambah usia, semakian besar risiko menderita PPOM.
Padapasien yang didiagnosa PPOM sebelum usia 40 tahun, kemungkinan
besar diamenderita gangguan genetik berupa defisiensi-antitripsin.
5. Jenis Kelamin
Laki-laki lebih berisiko terkena PPOM daripada wanita, mungkin
initerkait dengan kebiasaan merokok pada pria. Namun ada
kecendrunganpeningkatan prevalensi PPOM pada wanita karena
meningkatnya jumlah wanitayang merokok.

2.4 MANIFESTASI KLINIS

a. Batuk yang sangat produktif


b. Sesak napas
c. Ekspirasi yang memanjang
d. Penggunaan otot bantu pernapasan
e. Suara napas melemah

2.5 KOMPLIKASI

1) Acute Respiratory failure (ARF)

5
Terjadi ketika ventilasi dan oksigenasi tidak cukup untuk memenuhi
kebutuhan tubuh saat tidur.
2) Cor Pulmonal/ dekompensasi ventrikel kanan
Merupakan pembesaran vertikel kanan yang disebabkan oleh over
loading akibat dari penyakit pulmo. Terjadi mekanisme kompensasi
sekunder bagi paru-paru yang rusak bagi penderita PPOM.
3) Pneumothoraks
Merupakan akumulasi udara rongga pleura.
4) Giant Bullae
Kelainan yang timbul karena udara terperangkap di parenkim paru-paru
sehingga alveoli menjadi tempat menangkapnya udara untuk pertukaran
gas menjadi benar-benar efektif.

2.6 PATOFIOLOGI

Patofisiologi penyebab PPOK menurut Price et al, (2003) dan Stanley


et al., 2007). Adanya proses penuaan menyebabkan penurunan fungsi
paru-paru. Keadaan ini juga menyebabkan berkurangnya elastisitas
jaringan paru dan dinding dada sehingga terjadi penurunan kekuatan
kontraksi otot pernafasan dan menyebabkan sulit bernafas. Kandungan
asap rokok dapat merangsang terjadinya peradangan kronik paru paru.
Mediator peradangan dapat merusak struktur penunjang di paru-paru.
Akibat hilangnya elastisitas saluran udara dan kolapsnya alveolus, maka
ventilasi berkurang. Saluran udara kolaps terutama pada ekspirasi
karena ekspirasi normal terjadi akibat pengempisan (recoil) paru secara
pasif setelah inspirasi. Apabila tidak terjadi recoil pasif, maka udara
akan terperangkap di dalam paru dan saluran udara kolaps. (Grece et al,
2011).
Fungsi paru-paru menentukan konsumsi oksigen seseorang, yaitu
jumlah oksigen yang diikat oleh darah dalam paru-paru untuk
digunakan tubuh. Konsumsi oksigen sangat erat hubungannya dengan
aliran darah ke paru-paru. Berkurangnya fungsi paru-paru juga

6
disebabkan oleh berkurangnya fungsi sistem respirasi seperti fungsi
ventilasi paru. Faktor risiko merokok dan polusi udara menyebabkan
proses inflamasi bronkus dan juga menimbulkan kerusakan pada
dinding bronkiolus terminalis.
Akibat dari kerusakan pada dinding bronkiolus terminalis akan terjadi
obstruksi pada bronkiolus terminalis yang mengalami obstruksi pada
awal fase ekspirasi. Udara yang mudah masuk ke alveoli pada saat
inspirasi akan banyak terjebak dalam alveolus pada saat ekspirasi
sehingga terjadi penumpukan udara (air trapping). Kondisi inilah yang
menyebabkan adanya keluhan sesak nafas dengan segala akibatnya.
Adanya obstruksi pada awal ekspirasi akan menimbulkan kesulitan
ekspirasi dan menimbulkan pemanjangan fase ekspirasi (Price et al,
2003).

7
1. PATWAY

Faktor
predisposisi

Edema, spasme bronkus,


peningkatan secret
bronkiolus

Obstruksi bronkiolus awal


fase ekspirasi
Bersihan
jalan napas
tidak efektif
Udara terperangkap
dalam alveolus

Suplai O2 jaringan PaO2 rendah Sesak napas,


rendah PaCO2 tinggi napas pendek

Gangguan
metabolisme Gangguan
jaringan pertukaran
Hipoksemia
gas
Metabolisme
anaerob
Insufisiensi/ga Pola
Produksi ATP gal napas napas
Gagal menurun tidak
jantung
efektif
kanan
Defisit energi

Lelah, lemah Risiko


perubahan
nutrisi
Intoleransi kurang
aktivitas Kurang dari
Gangguan perawatan kebutuhan
pola tidur diri tubuh

8
2.8 PENATALAKSANAAN
Tujuan penatalaksanaan PPOM adalah:
1. Memeperbaiki kemampuan penderita mengatasi gejala tidak hanya pada faseakut,
tetapi juga fase kronik.
2. Memperbaiki kemampuan penderita dalam melaksanakan aktivitas harian.
3. Mengurangi laju progresivitas penyakit apabila penyakitnya dapat dideteksilebih
awal.
Penatalaksanaan PPOM pada usia lanjut adalah sebagai berikut :
1. Meniadakan faktor etiologi/presipitasi, misalnya segera menghentikanmerokok,
menghindari polusi udara.
2. Memberantas infeksi dengan antimikroba. Apabila tidak ada infeksiantimikroba
tidak perlu diberikan. Pemberian antimikroba harus tepat sesuaidengan kuman
penyebab infeksi yaitu sesuai hasil uji sensitivitas atau pengobatan empirik.
3. Pengobatan oksigen, bagi yang memerlukan. Oksigen harus diberikan
denganaliran lambat 1-2 liter/menit.
4. Mengatasi bronkospasme dengan obat-obat bronkodilator.
Penggunaankortikosteroid untuk mengatasi proses inflamasi (bronkospasme)
masih controversial.
5. Tindakan rehabilitasi yang meliputi :
a) Fisioterapi, terutama bertujuan untuk membantu pengeluaran secret bronkus.
b) Latihan pernapasan, untuk melatih penderita agar bisa melakukan pernapasan
yang paling efektif
c) Latihan dengan beban oalh raga tertentu, dengan tujuan untuk
memulihkankesegaran jasmani.
d) Pengelolaan psikosial, terutama ditujukan untuk penyesuaian diri
penderitadengan penyakit yang dideritanya.

9
2.9 PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan penunjang yang diperlukan adalah sebagai berikut:
1. Pemeriksaan radiologis
Pada bronchitis kronik secara radiologis ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:
a. Tubular Shadows atau farm lines terlihat bayangan garis-garis yang parallel,
keluar dari hilus menuju apeks paru. Bayangan tersebut adalah bayangan
bronkus yang menebal.
b. Corak paru yang bertambah

2. Pemeriksaan faal paru


Pada bronchitis kronik terdapat VEP1 dan KV yang menurun, VR yang
bertambah dan KTP yang normal. Pada emfisema paru terdapat penurunan VEP1,
KV, dan KAEM (kecepatan arum ekspirasi maksimal) atau MEFR(maximal
expiratory flow rate), kenaikan KRF dan VR, sedangkan KTP bertambah atau
normal. Keadaan diatas lebih jelas pada stadium lanjut, sedang pada stadium dini 
perubahan hanya pada saluran napas kecil (small airways).Pada emfisema
kapasitas difusi menurun karena permukaan alveoli untuk difusi berkurang.

3. Analisa Gas Darah


Pada bronchitis PaCO2 naik, saturasi haemoglobin menurun, timbul sianosis,
terjadi vasokonstriksi vaskuler paru dan penambahan eritropoesis . Hipoksia yang
kronik merangsang pembentukan eritropoetin sehingga menimbulkan polisitemia.
Pada kondisi umur 55-60 tahun polisitemia menyebabkan jantung kanan harus
bekerja lebih berat dan merupakan salah satu penyebab payah jantung kanan.

4. Pemeriksaan EKG
Kelainan yang paling dini adalah rotasi clock wise jantung. Bila sudah terdapatkor
pulmonal terdapat deviasi aksis kekanan dan P pulmonal pada hantaran II,III, dan
aVF. Voltase QRS rendah Di V1 rasio R/S lebih dari 1 dan V6 rasio R/Skurang
dari 1. Sering terdapat RBBB inkomplet.
5. Kultur sputum, untuk mengetahui petogen penyebab infeksi.
6. Laboratorium darah lengkap.

10
2.10 Konsep Dasar Asuhan Keperawatan PPOM Pada Lansia
1. Pengkajian
a. Identitas klien
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, alamat, pekerjaan, suku/bangsa, agama, status
perkawinan, tanggal masuk rumah sakit, nomor register dan diagnosa medik. 
b. Keluhan utama
Keluhan utama klien adalah sesak nafas, setelah terpapar oleh allergen atau factor
lain yang mencetuskan serangan PPOM.
1) Penyakit sekarang
Klien biasanya mempunyai riwayat merokok dan riwayat batuk kronis,
bertempat tinggal atau bekerjadi area dengan polusi udara berat.
2) Riwayat penyakit dahulu
Adanya riwayat alergi pada keluarga dan riwayat asma pada anak-anak. 
Riwayat obat-obatan yang pernah dikonsumsi klien.
c. Data Bio-Psiko-Sosial-Spriritual
1) Pola pernapasan
Pernapasan : Biasanya cepat, dapat lambat; fase ekspirasi memanjang dengan
mendengkur, napas bibir (emfisema). Penggunaan otot bantu pernapasan, mis.,
meningkatkan bahu, retraksi fosa suprsklafikula, melebarkan hidung. 
Bunyi napas : redup dengan ekspirasi mengi (emfisema); menyebar, lembut,
atau krekels lembab kasar (bronchitis); ronki, mengi, sepanjang area paru pada
ekspirasi dan kemungkinan selama inspirasi berlanjut sampai penurunan atau
tak adanya bunyi napas (asma).   Warna : Pucat dengan sianosis bibir dan dasar
kuku; abu-abu keseluruhan; warna merah (bronchitis konis,”biru
menggembung”).  Pasien dengan emfisema sedang sering disebut “pink puffer”
karena warna kulit normal meskipun petukaran gas tak normal dan frekuensi
pernapasan cepat.  Tabuh pada jari-jari (emfisema).
2) Pola nutrisi dan metabolisme

Klien akan mengalami penurunan nafsu makan karena distress pernapasan


bahkan tidak makan  sama sekali.

11
3) Pola aktivitas dan latihan
Aktivitas klien akan terganggu karena sesak nafas yang dirasakan.
4) Pola tidur dan istirahat
Pola tidur dan istirahat terganggu sehubungan sulitnya bernafas yang
dirasakan lansia.
5) Pola persepsi dan konsep diri
Biasanya terjadi kecemasan pada lansia dan anggota keluarga.
6) Pola sensori dan kognitif
Pada penciuman, perabaan, perasaan, pendengaran dan penglihatan umumnya
tidak mengalami kelainan serta tidak terdapat suatu waham paad lansia.

7) Pola hubungan dan peran


Hubungan dengan orang lain terganggu sehubungan klien di rawat di rumah
sakit.
8) Pola penanggulangan stress
Biasanya lansia akan nampak cemas.
Pemeriksaan Fisik :
1) Sistem pernafasan
Peningkatan frekuensi pernafasan, susah bernafas, perpendekan periode inspirasi,
penggunaan otot-otot aksesori pernafasan (retraksi sternum, pengangkatan bahu
waktu bernafas), Pernafasan cuping hidung, adanya mengi yang terdengar tanpa
stetosko, bunyi nafas : wheezing, pemanjangan ekspirasi, batuk keras, kering, dan
akhirnya batuk produktif.
2) Sistem kardiovaskuler
Takhikardi, tensi meningkat, pulsus paradoksus (penurunan tekanan darah > 10
mmHg pada waktu inspirasi), sianosis dehidrasi diaforesis
3) Psikososial
Peningkatan ansietas : takut mati, takut menderita, panic, gelisah.
Inspeksi
Pada klien dengan PPOM, terlihat adanya peningkatan usaha dan frekuensi
pernapasan serta penggunaan otot napas bantu.  Pada inspeksi biasanya dapat
terlihat klien mempunyai bentuk dada barrel chest akibat udara yang terperangkap,
penipisan masa otot, bernapas dengan bibir yang dirapatkan, pernapasan abnormal
12
yang tidak efektif.  Pada tahap lanjut, biasa pada PPOM terjadi dipsnu, batuk
produktif dengan sputum purulen disertai dengan demam yang mengidentifikasikan
adanya tanda pertama infeksi pernapasan.
Palpasi
Pada palpasi, ekspansi meningkat dan taktil premitus menurun.
perkusi
Pada perkusi terdapat suara normal sampai hipersonor. Sedangkan diagrafma
menurun.
Auskultasi
Sering didapat ada bunyi nafas ronchi dan weezing sesuai tingkat keparahan
obsruksi pada bronchiolus.

2.11 DIAGNOSA KEPERAWATAN


1. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan
bronkokontriksi, peningkatan produksi sputum, batuk tidak efektif, kelelahan/
Berkurangnya tenaga dan infeksi bronkopulmonal.
2. Pola napas tidak efektif berhubungan dengan napas pendek,
mucus, bronkokontriksi dan iritan jalan napas.
3. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan ketidaksamaan ventilasi perfusi.
4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dengan
kebutuhan oksigen.
5. Risiko perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
anoreksia.
6. Kurang perawatan diri berhubungan dengan keletihan sekunder
akibat peningkatan upaya pernapasan dan insufisiensi ventilasi dan oksigenasi.
7. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi, tidak mengetahui
sumber informasi.

13
2.12 INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan bronkokontriksi, peningkatan
produksi sputum, batuk tidak efektif, kelelahan/berkurangnyatenaga dan infeksi
bronkopulmonal.
Tujuan : Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan
bersihan jalan napas dapat teratasi.
Intervensi :
1. Monitor respirasi dan status O2
2. Auskultasi suara nafas dan catat bila ada suara tambahan
3. Atur intake cairan mengoptimalkan keseimbangan cairan
4. Instruksikan pasien untuk menghindari iritan seperti asap rokok,
aerosol,suhu yang ekstrim, dan asap
5. Berikan antibiotic sesuai saran dokter
6. Kolaborasi dengan dokter bila ada suara tambahan.

2. Pola napas tidak efektif berhubungan dengan pertukaran udara inspirasi dan atau
ekspirasi tidak adekuat

Tujuan : Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan pola
napas kembali normal.

Intervensi :

1. Posisikan pasien untuk memaksimalkan & ventilasi


2. Ajarkan klien latihan bernapas diafragmatik
3. Berikan dorongan untuk menyelingi aktivitas dengan periode istirahat.
4. Lakukan fisioterapi dada jika perlu
5. Identifikasi pasien perlunya pemasangan alat jalan nafas buatan.

3. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membrane kapiler dan


alveolar.
Tujuan : Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan masalah
teratasi.
Intervensi :
14
1. Pantau klien terhadap dispnea dan hipoksia.
2. Pantau pemberian oksigen
3. Beriakn obat-obatan bronkodialtor dan kortikosteroid dengan tepat
danwaspada kemungkinan efek sampingnya.
4. Berikan terapi aerosol sebelum waktu makan, untuk membantu
mengencerkan sekresi sehingga ventilasi paru mengalami perbaikan.
4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dengan
kebutuhan oksigen.
Tujuan : Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan
masalah teratasi.
Intervensi :
1. Kaji tand-tanda vital
2. Kaji respon individu terhadap aktivitas
3. Monitor respon fisik emosi, social dan spiritual.
4. Bantu klien untuk mengidentifikasi kekurangan dalam beraktivitas
5. Bantu pasien untuk mengembangkan motivasi diri dan penguatan.
6. Kolaborasi dengan ahli terapi fisik untuk menentukan programlatihan
spesifik terhadap kemampuan pasien

5. Risiko perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan


anoreksia.

Tujuan : Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan


kebutuhan nutrisi klien terpenuhi.
Intervensi :
1. Kaji intake dan output
2. Anjurkan pasien untuk meningkatkan intake Fe
3. Berikan makanan yang terpilih ( sudah di konsultasikan dengan ahli
gizi )
4. Berikan diet yang dimakan mengandung tinggi serat untuk mencegah
konstipasi
5. Makan dalam porsi sedikit tapi sering

15
6. Timbang BB tiap hari sesuai indikasi
7. Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi

6. Kurang perawatan diri berhubungan dengan keletihan sekunder akibat peningkatan


upaya pernapasan dan insufisiensi ventilasi dan oksigenasi.

Tujuan : Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan


kebutuhan tidur terpenuhi.

Intervensi :

1. Atur posisi yang nyaman menjelang tidur, biasanya posisi high fowler.
2. Anjurkan keluarga untuk melakukan pengusapan punggung saat klien
tidur

3. Lakukan penjadwalan waktu tidur yang sesuai dengan kebiasaan pasien.

4. Berikan makanan ringan menjelang tidur jika klien bersedia.

7. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi, tidakmengetahui


sumber informasi.

Tujuan : Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan


pengetahuan klien meningkat.

Intervensi :

1. Sediakan informasi pada pasien tentang kondisi, dengan cara yang


tepat.
2. Berikan penilaian tentang tingkat pengetahuan pasien tentang proses
penyakit yang spesifik
3. Jelaskan proses penyakut dengan cara yang dapat di mengerti klien.

4. Jelaskan tanda dan gejala yang biasa muncul pada penyakit dengan cara
yang tepat
5. Instruksikan klien mengenai tanda dan gejalan dan memberi perawatan
kesehatan dengan cara yang tepat.
16
2.13 Implementasi Keperawatan
Menurut Kozier et al., (2010) implementasi keperawatan merupakan sebuah fase
dimana perawat melaksanakan rencana atau intervensi yang sudah dilaksanakan
sebelumnya. Berdasarkan terminology NIC, implementasi terdiri atas melakukan dan
mendokumentasikan yang merupakan tindakan khusus yang digunakan untuk
melaksanakan intervensi. Implementasi keperawatan membutuhkan fleksibilitas dan
kreativitas perawat. Sebelum melakukan suatu tindakan, perawat harus mengetahui
alasan mengapa tindakan tersebut dilakukan.
Beberapa hal yang harus diperhatikan diantaranya tindakan keperawatan yang dilakukan
harus sesuai dengan tindakan yang sudah direncanakan, dilakukan dengan cara yang
tepat, aman, serta sesuai dengan kondisi klien, selalui dievaluasi mengenai keefektifan
dan selalu mendokumentasikan menurut urutan waktu. Aktivitas yang dilakukan pada
tahap implementasi dimulai dari pengkajian lanjutan, membuat prioritas, menghitung
alokasi tenaga, memulai intervensi keperawatan, dan mendokumentasikan tindakan dan
respon klien terhadap tindakan yang telah dilakukan (Debora, 2013)

2.14 Evaluasi
Menurut Deswani (2011) evaluasi dapat berupa evaluasi struktur, proses dan hasil.
Evaluasi terdiri dari evaluasi formatif yaitu menghasilkan umpan balik selama program
berlangsung. Sedangkan evaluasi sumatif dilakukan setelah program selesai dan
mendapatkan informasi efektivitas pengambilan keputusan. Menurut Dinarti dkk (2013)
evaluasi asuhan keperawatan didokumentasikan dalam bentuk SOAP (subyektif, obyektif,
assessment, planing).

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

KASUS

17
Seorang pasien bernama Tn.S usia 65 tahun datang ke RS di antar oleh keluarganya dengan
keluhan sesak nafas sejak 1 minggu yang lalu padahal tidak melakukan aktivitas yang berat,
pasien mengeluh batuk namun dahak tidak bisa keluar dan merasa lemas, pasien mengatakan
selama sakit gerakannya terbatas hanya berada di tempat tidur dan beraktivitas di bantu oleh
keluarga, pasien mengatakan tidur tidak nyenyak. Hasil pemeriksaan fisik pasien tampak sulit
bernafas dan memegangi dada saat bernafas, pasien tampak batuk, klien sering memainkan
kakinya ketika sulit bernafas, pasien tampak gelisah,. TTV, TD : 130/80mmHg, RR:26x/mnt,
Nadi : 104x/mnt, S : 36oS. Suara pernafasan klien wheezing, pernafasan klien dalam dan cepat,
ronchi (+) Pasien terpasang infus Asering 15 Tpm, Pasien terpasang nasal kanul O2 3L/ menit.

3.1 PENGKAJIAN
Tanggal Masuk Rumah Sakit : 7 Februari 2019
Tanggal pengkajian : 7 Februari 2019
Diagnosa Medis : PPOM

1. Identitas Klien
Nama : Tn. S
Umur : 65 tahun
Jenis kelamin : laki-laki
Agama : Islam
Pekerjaan : Petani
Alamat : Sendang kulon
Suku : Jawa
Status Perkawinan : Sudah Menikah

2. Identitas Penanggung Jawab

Nama : Ny. A
Umur : 58 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga

18
Alamat : Sendang kulon
Suku : Jawa
Status Perkawinan : Sudah Menikah

3. Riwayat Kesehatan

a. Keluhan Utama
Klien mengatakan sesak nafas dan batuk

b. Riwayat penyakit sekarang


Pasien mengatakan sesek nafas sejak 1 minggu yang lalu, pasien mengeluh
batuk namun dahak tidak bisa keluar dan merasa lemas, pasien mengatakan
tidur tidak tidak nyenyak, pasien mengatakan selama sakit gerakannya
terbatas hanya berada di tempat tidur dan beraktivitas di bantu oleh keluarga.

c. Riwayat kesehatan masa lalu


Pasien dan keluarga mengatakan 2 tahun yang lalu pernah masuk RS. Dengan
diagnose asma dan keluhan yang sama. Pasien dirawat selama ± 7 hari diRS.
Hermina.

d. Riwayat penyakit keluarga


Pasien mengatakan keluarganya tidak ada riwayat penyakit keturunan.

e. Riwayat alergi
Pasien tidak memiliki riwayat alergi.

4. Genogram

19
65
th

Keterangan :

: Laki-laki

: Perempuan

: Meninggal

: Tinggal serumah

: Pasien
Penjelasan :
Tn. S merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Tn S menikah dengan istrinya yang
merupakan anak pertama dari lima bersaudara dan mereka dikaruniai empat orang anak.
Dua orang anak laki-laki dan dua orang anak perempuan ketiga anaknya sudah menikah
tetapi anak yang keempat tinggal bersama Tn. S dan istrinya.
5. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan Umum : Composmentis, TD : 130/80mmHg, RR : 26x/mnt, Suhu : 36oC
Nadi : 104x/mnt.
b. Kepala
1) Kepala : mesosephal.
2) Rambut : hitam, tidak mudah dicabut.
3) Mata : Sklera : tidak ikterik, Konjungtiva : tidak anemis.
4) Hidung : tampak terpasang nasal kanul O2 (3L/mnt)
20
5) Telinga : Bersih, tidak ada serumen, reflek suara baik.
6) Mulut : Gigi kekuningan, lengkap, tidak ada stomatitis.
7) Leher : Nadi karotis teraba, tidak ada pembesaran kelenjar tiroid
8) Ekremitas : Tidak ada oedema pada kedua eksremitas atas dan bawah.
Ekremitas tangan kiri terpasang infus Asering 15 Tpm.
c. Dada
a. Paru
1) Inspeksi : Bentuk dada simetris
RR : 26x/mnt
2) Palpasi : Tidak ada pembengkakan
Tidak ada nyeri tekan.
3) Perksusi : Hipersonor
4) Auskultasi : Suara nafas wheezing dan kadang terdengar ronchi.

6. Pengkajian pola fungsional menurut Virginia Hendarson


a) Pola Pernafasan
Sebelum Sakit : Pasien dapat bernafas dengan normal dan tidak menggunakan
alat bantu pernafasan
Saat dikaji : Pasien mengeluh sesak nafas dan tampak terpasang O2 kanul
( 3 liter/ menit )
b) Pola Nutrisi
Sebelum sakit : Pasien makan 3x sehari dengan menu nasi, sayur dan lauk.
Saat di kaji : Makan di RS setengah porsi tiap kali jadwal makan.

c) Kebutuhan Eliminasi

Sebelum Sakit : BAB 1x sehari, fesesnya lunak, warna : kuning


BAK lancer, warna : kuning jernih.

Saat di kaji : BAB 1x sehari, feses : lunak , warna : kuning


BAK lancer, warna : Kuning Jernih.

d) Gerak dan Keseimbangan

21
Sebelum Sakit : Pasien dapat melakukan aktivitas tanpa gangguan.
Saat dikaji : Pasien tampak terganggu keseimbangannya karena tidak bisa
Bernafas.

e) Kebutuhan Istirahat dan tidur

Sebelum Sakit : Pasien biasa tidur 8 jam sehari dan bangun pada pukul 05.00.
Saat di kaji : Pasien tidur kuranglebih 6 jam sehari dan sering
terbangun.

f) Personal Hygiene
Sebelum Sakit : Mandi 2x sehari dan gosok gigi mandiri.
Saat di kaji : Pasien tampak di bantu oleh istri.

g) Kebutuhan rasa aman dan nyaman

Sebelum Sakit : Pasien merasa aman dan nyaman jika bersama keluarga dan
istrinya.
Saat di kaji : Pasien mengeluh tidak nyaman karena sering seak nafas
dan
batuk.

h) Kebutuhan Berpakaian
Sebelum Sakit : Pasien ganti baju 2x sehari dan dapat berpakaian sendiri.
Saat di kaji : Memakai pakaian di bantu oleh anaknya.

i) Kebutuhan Spritual
Sebelum Sakit : Pasien dapat melakukan sholat 5 waktu.
Saat di kaji : Pasien tidak bisa sholat dan berkeyakinan bahwa penyakitnya
dapat sembuh karena pertolongan Tuhan.

j) Temperatur Tubuh
Sebelum Sakit : Pasien biasa memakai pakaian tipis jika begitu panas.
Saat di kaji : Suhu : 36oC.

22
7. ADL (Activity Daily Living)

Aktifitas (ADL) 0 1 2 3 4
Makan √
Mandi √
Toileting √
Berpakaian √
Mobilisasi ditempat tidur √
Mobilisasi berpindah √
Berias √
ROM √

Keterangan :
0 : Mandiri
1 : Membutuhkan alat bantu
2 : Membutuhkan pengawas orang
3 : Membutuhkan bantuan orang lain
4 : Ketergantungan total

8. Indeks KATZ

Indek Keterangan
Mandiri dalam makan, kontinensia (BAB,BAK), menggunakan
A
pakaian, pergi ke toilet, berpindah, dan mandi
B Mandiri, semuanya kecuali salah satu dari fungsi diatas
C Mandiri, kecuali mandi dan satu lagi fungsi yang lain
Mandiri, kecuali mandi, berpakaian dan satu lagi fungsi yang
D
lain
Mandiri, kecuali mandi, berpakaian, ke toilet, dan satu lagi
E
fungsi yang lain
F Mandiri, kecuali mandi, berpakaian, ke toilet, berpindah dan satu
23
lagi fungsi yang lain
G Ketergantungan untuk enam fungsi tersebut
Lain- Ketergantungan pada sedikitnya dua fungsi, tetapi tidak dapat
lain diklasifikasi sebagai C, D, E, F dan G

Kesimpulan :

Berdasarkan penilaian indeks KATZ, pasien termasuk kedalam indeks kategori F.


Dimana pasien mampu makan secara mandiri dan perlu bantuan saat menggunakan
pakaian, ke toilet dan berpindah.

9. Mental (SPMSQ/MMSE)
Short potable mental status questionnaire (SPMSQ)
Skor
No Pertanyaan
+ -
0 √ 1 Tanggal berapa hari ini?
0√ 2 Hari apa sekarang ini?
√ 3 Apa nama tempat ini?
√1 4 Berapa nomer telepon anda?
0√ 5 Dimana alamat anda? Tanyakan untuk klien tidak punya telepon.
√0 6 Berapa umur anda?
√0 7 Kapan anda lahir?
√0 8 Siapa presiden Indonesia sekarang?
0 √ 9 Siapa nama kecil ibu anda?

24
1√ Kurangi 3 dari 20 dan tetap pengurangan 3 dari setiap angka baru,
10
semua secara menurun
Jumlah kesalahan total : 4

Penilaian SPMSQ :

 Kesalahan 8-10 fungsi intelektual berat


 Kesalahan 5-7 fungsi intelektual sedang
 Kesalahan 3-4 fungsi intelektual ringan
 Kesalahan 0-2 fungsi intelektual utuh
Kesimpulan :
Berdasarkan penilaian SPMSQ, fungsi intelektual pasien ringan

10. Pemeriksaan Penunjang


a. Pemeriksaan thorak
Hasil :
1) Cordis : Cardiomegali
2) Pulmo : Bronchitis dengan gambaran emifisematis long.
b. Terapi Oral :
Cefotaxime : 2x1gr ambroxol : 3x1
Ranitidine : 2x5gr KSR 3x1
Furosemid : 4x40gr
Flexotid : 1/ 8jam.
3.2 Analisa Data

NO DATA FOKUS ETIOLOGI PROBLEM

1. DS : Peningkatan produksi Bersihan Jalann


-Pasien megeluh sesak nafas sejak 1 sputum. nafas tidak efektif.
minggu yang lalu.
-Pasien mengeluh batuk namun dahak
tidak bisa keluar.
25
DO :
-Ps. tampak sesak nafas/dispneu.
-Ps. tampak memegang dada saat
bernafas.
-Hidung terpasang nasal kanul
3L/mnt
-RR : 26x/menit , Nadi : 104x/mnt
-pemeriksaan fisik terdengar
auskultasi ronchi
-pemeriksaan thoraks:
a. Pulmo : Brochitis dengan
gambaran emfisematis long.

2. DS : ketidakseimbagan Intoleransi Aktivitas


-Pasien mengatakan selama sakit antara suplai dan
gerakannya terbatas dan hanya di kebutuhan oksigen
tempat tidur.
-Pasien mengatakan aktivitas di bantu
oleh keluarga.

DO :
-TTV
TD : 130/80 mmHg
RR : 26x/mnt
Nadi : 104x/mnt
-Ps. Tampak lemah
-Tangan kiri terpasang Asering 15
Tpm
-Indeks KATZ : Kategori F

26
-ADL : 3 ( membutuhkan bantuan
orang lain )

3. DS : Psikologis : Gangguan Pola Tidur


-pasien mengatakan tidur tidak kecemasan
nyenyak dan sering terbangun.
-pasien mengatakan tidur kurang
lebih 6 jam/hari.
DO :
-TTV
TD : 130/80 mmHg
RR : 26x/mnt
Nadi : 104x/mnt
-ps. Tampak gelisah

C. Diagnosa Keperawatan

1. Bersihan jalan nafas tidak efektif beruhubungan dengan peningkatan produksi sputum
yang ditandai dengan Pasien megeluh sesak nafas sejak 1 minggu yang lalu, Pasien
mengeluh batuk namun dahak tidak bisa keluar.Pasien tampak sesak nafas/dispneu,
Pasien. tampak memegang dada saat bernafas, hidung terpasang nasal kanul 3L/mnt, RR :
26x/menit , Nadi : 104x/mnt, pemeriksaan fisik terdengar auskultasi ronchi, pemeriksaan
thoraks:Pulmo : Brochitis dengan gambaran emfisematis long.

2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan


oksigen yang ditandai dengan Pasien mengatakan selama sakit gerakannya terbatas dan
27
hanya di tempat tidur, pasien mengatakan aktivitas di bantu oleh keluarga TTV; TD :
130/80 mmHg, RR : 26x/mnt, Nadi : 104x/mnt. Pasien tampak lemah, tangan kiri
terpasang Asering 15 Tpm, indeks KATZ : Kategori F, ADL : 3 ( membutuhkan bantuan
orang lain )

3. Gangguan pola tidur berhubungan dengan psikologis : kecemasan pasien mengatakan


tidur tidak nyenyak dan sering terbangun.yang ditandai dengan pasien mengatakan tidur
kurang lebih 6 jam/hari.TTV ; TD : 130/80 mmHg, RR : 26x/mnt, Nadi : 104x/mnt,
pasien tampak gelisah.

3.3 Intervensi Keperawatan

NO DIAGNOSA TUJUAN DAN INTERVENSI RASIONAL


KRITERIA
HASIL
1. Bersihan jalan Setelah 1. Kaji TTV 1. Mengetahui
nafas tidak efektif dilakukan keadaan umum dan
2. Auskultasi suara nafas.
beruhubungan tindakan mengetahui adanya
3. Berikan posisi semi
dengan keperawatan 3 x abnormalitas pada
fowler
peningkatan 24 jam pernafasan pasien
produksi sputum. diharapkan 4. Berikan O2 sesuai 2. Beberapa
28
masalah kebutuhan derajat spasme
bersihan jalan bronkus terjadi
5. Ajarkan teknik
nafas tidak dengan obstruksi
distraksi relaksasi.
efektif dapat jalan nafas dengan
teratasi dengan 6. Kolaborasi dengan adanya bunyi nafas
krtiteria hasil : tim medis adventitis atau
1. RR tidak ada bunyi
dalam nafas
batas
3. Memberi posisi
normal
nyaman dan
2. Tidak
memaksimalkan
ada
ekspansi paru pada
kecemas
saat pernafasan
an
3. Mampu 4. Memberi

members oksigen sesuai

ihkan kebutuhan pasien

secret. 5. Memberi rasa


4. Tidak nyaman dan rileks
ada
6. Memberi terapi
hambata
sesuai kebutuhan
n dalam
pasien
jalan
nafas
5. Tidak
ada
batuk.
2. Intoleransi aktivitas Setelah 1. Kaji TTV 1.Mengetahui
berhubungan dilakukan 2. Kaji tingkat keadaan umum
dengan tindakan ketergantungan pasien pasien
ketidakseimbangan keperawatan 3.Bantu pasien dalam 2. Sebagai dasar

29
antara suplai dan selama 3x24 jam pemenuhan kebutuhan untuk memberikan
kebutuhan oksigen. diharapkan ADL latihan gerak pasien
masalah 4.Bantu pasien memilih 3. Membantu
intoleransi aktifitas sesuai memenuhi
aktifitas dapat kemampuan kebutuhan ADL
teratasi dengan 5. Kolaborasi dengan pasien
kriteria hasil : keluarga 4. Membantu
1. Pasien dapat 6. Kolaborasi dengan memilih latihan
melakukan tim medis gerak sesuai
aktifitas secara kemampuan pasien
bertahap 5. Mendukung
2. Pasien dapat pasien untuk
beraktifitas memenuhi
tanpa bantuan kebutuhan ADL
orang lain 6. Memberikan
terapi sesuai
kebutuhan pasien
3. Gangguan pola Setelah 1. Kaji faktor yang 1. Mengetahui
tidur berhubungan dilakukan menyebabkan gangguan penyebab gangguan
dengan psikologis : tindakan tidur istirahat tidur
kecemasan keperawatan 2. Ciptakan suasana 2. Memberi rasa
selama 3x4 jam nyaman nyaman
diharapkan 3. Ajarkan distraksi 3. Memberi rasa
gangguan pola relaksasi nyaman dan rileks
tidur dapat 4. Batasi pengunjung 4. Mencegah
teratasi dengan selama periode istirahat terjadinya
kriteria hasil : 5. Kolaborasi dengan ketidaknyamanan
1. Pasien tidak tim medis pada pasien
tidur terjaga 5. Memberi terapi
2.Pasien sesuai kebutuhan
mendapatkan pasien.

30
jam istirahat
tidur yang
berkualitas

3.4 Implementasi

No Hari/Tanggal/ No. Implementasi Evaluasi Paraf


Waktu Dx
1. Selasa, 7 1,2,3 - Mengkaji TTV, DS :
februari 2019 - mengkaji faktor - Ps.mengatakan
07.00
penyebab sesak nafas,
gangguan batuk,
istirahat tidur - Ps. mengatakan
- mengkaji tingkat jika malam tidur
ketergantungan masih terjaga
pasien. - Ps. mengatakan
- Mengauskultasi semua aktifitas
suara nafas pasien dibantu
oleh keluarga

31
DO :
- TTV :
- TD : 120/90
mmHg
- N : 100 x/menit
- RR : 28 x/menit
- S : 36°C
- Suara nafas
wheezing

Memposisikan semi DS :
07.15 1
fowler - Pasien
mengatakan
merasa nyaman
dengan posisi
tersebut

DO :
- Pasien tampak
berposisi semi
fowler

07.30 1 Memasang oksigen DS


dengan nasal canul 3 - Pasien
Lpm mengatakan bisa
bernafas dengan
baik setelah
memakai
oksigen

32
DO
- Pasien tampak
terpasang
oksigen dengan
nasal canul 3
Lpm

Melakukan injeksi DS
08.00 1,2,3
cefotaxime 1gr, - pasien
ranitidine 50 mg mengatakan
sedikit perih saat
di suntik

DO
- Injeksi tampak
masuk lewat IV

Mengajarkan teknik
distraksi relaksasi. DS
08.30 1,3
- Pasien
mengatakan
terasa legah.
DO
- pasien tampak
kooperatif

09.00 1 Memberi terapi DS

33
nebulizer Ventolin : - Pasien
Flexotid 1 : 1 mengatakan
batuk berkurang
DO
- Obat tampak
masuk lewat
nasal kanu.

Memberi obat oral DS


12.00 1,2,3
ambroxol 1 tab, KSR 1 - Pasien
tab, furosemid 1 tab mengatakan mau
minum obat
- Pasien tampak
meminum
obatnya.

Menciptakan suasana DS
13.00 2
yang nyaman. - Pasien dan
keluarga pasien
mengatakan
sedikit nyaman
DO :
- Suasana tampak
nyaman

Membantu pasien DS :
13.30 2
memenuhi kebutuhan - Pasien
ADL mengatakan
merasa terbantu
DO :

34
- Pasien tampak
terbantu
2 Rabu, 08 1,2,3 - Mengkaji TTV, DS
februari 2019 - mengkaji faktor - Pasien
07.00
penyebab mengatakan

gangguan masih sedikit

istirahat tidur sesak.

- mengkaji tingkat - Pasien

ketergantungan mengatakan

pasien. batuk berkurang.


- Pasien
mengatakan tidur
masih terjaga.
- Pasien
mengatakan
aktifitas masih
dibantu keluarga
DO
- TTV
- TD : 130/80
mmHg
- N : 80 x/menit
- R : 24 x/menit
- S : 36ºC

07.30 1,2 DS
Mengajarkan teknik
- Pasien
distraksi relaksasi
mengatakan
terasa lebih baik
dari sebelumnya.
DO

35
- pasien tampak
kooperatif

08.00 1,2,3
Melakukan injeksi DS
cefotaxime 1 g, - pasien
ranitidine 50 mg, mengatakan
furosemid 20 mg sedikit perih saat
di suntik.
DO
Injeksi tampak masuk
lewat IV

09.00 2 DS
Memotivasi dan - pasien
mendorong pasien untuk mengatakan
beraktifitas. bersedia untuk
melakukan
aktifitas sedikit
demi sedkit.
DO
- Pasien tampak
paham dan
mencoba
melakukan
aktifitas.

10.00 3 Memberi arahan kepada


keluarga untuk DS : -

36
membatasi jumlah DO :
pengunjung - Keluarga pasien
tampak paham

12.00 1,2,3
Memberi obat oral KSR DS :
1 tab, ambroxol 1 tab - Pasien
mengatakan mau
minum obat
DO :
- Pasien tampak
meminum
obatnya.
12.30 3
Menciptakan suasana DS : -
nyaman DO :
- Suasana tampak
nyaman.

3 Rabu, 09 1,2,3 - Mengkaji TTV DS


februari 2019 - mengkaji faktor - Pasien
15.00 penyebab mengatakan
gangguan sesak nafas
istirahat tidur berkurang.
- mengkaji tingkat - Pasien
ketergantungan mengatakan
pasien. batuk berkurang.
- Pasien
mengatakan
sudah bisa tidur
DO :

37
- TTV
- TD :120/80
mmHg
- N : 80 x/menit
- RR : 20 x/menit
- S : 36,5ºC

17.00 1,2,3 DS :
Memberikan obat oral - Pasien
ambroxol 1 tab, KSR 1 mengatakan mau
tab minum obat
DO :
- Pasien tampak
meminum
obatnya.

1,2,3
20.00
DS : -
Memberi injeksi DO
ranitidine 50 mg Injeksi tampak masuk
lewat IV

38
3.5 Evaluasi

Hari/ tanggal/ No.Dx Evaluasi Paraf


waktu

Kamis, 10 1 S : - Pasien mengatakan sesak nafas


februari 2019 berkurang
12.00
- Pasien mengatakan batuk
berkurang

O : - Pasien tampak lebih segar.

- Pasien tidak memakai alat


.bantu pernafasan.

A : tujuan tercapai sebagian , masalah


belum teratasi.

P : intervensi dilanjutkan dengan

Dengan posisikan semi fowler,


kolaborasi dengan dokter.

39
2 S : - Pasien mengatakan sudah bisa
melakukan aktifitas secara
mandiri.

O : Pasien tampak lebih rileks.

A : tujuan tercapai, masalah teratasi.

P : Pertahanlan kondisi pasien.

3 S : Pasien mengatakan sudah bisa


tidur dengan nyenyak dan tidak
terbangun lagi saat tidur. Pasien
mengatakan tidur lebih dari 8 jam
dalam sehari.

O : pasien tampak segar dan tidur


lebih nyenyak.

A : tujuan tercapai, masalah teratasi.

P : pertahankan kondisi klien

40
BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

1. PPOM adalah kelainan paru yang ditandai dengan gangguan fungsi paru berupa
memanjangnya periode ekspirasi yang disebabkan oleh adanya penyempitan saluran
nafas dan tidak banyak mengalami perubahan dalam masa observasi beberapa
waktu. PPOM terdiri dari kumpulan tiga penyakit yaitu Bronkitis kronik, Emfisema
paru dan Asma.
2. Faktor resiko dari PPOM adalah : Merokok sigaret yang berlangsung lama, Polusi
udara, Infeksi paru berulang, Umur, Jenis kelamin, Ras, Defisiensi alfa-1 antitripsin,
Defisiensi anti oksidan
3. Manifestasi klinik PPOM adalah pada Lansia, antara lain :
Batuk yang sangat produktif, purulent, dan mudah memburuk oleh iritan-iritan
inhalen, Sesak nafas, Hipoksia dan hiperkapnea, Takipnea, Dispnea yang menetap
4. Penatalaksanaan pada penderita PPOM : Meniadakan faktor etiologi dan presipitasi,
Membersihkan sekresi Sputum, Memberantas infeksi, Mengatasi Bronkospasme,
Pengobatan Simtomatik, Penanganan terhadap komplikasi yang timbul, Pengobatan
oksigen, Tindakan ”Rehabilitasi”.

41
A. Saran
1. Untuk Lansia
Menghindari faktor resiko :
- Anjurkan klien untuk tidak merokok
- Anjurkan klien untuk cukup istirahat
- Anjurkan klien untuk menghindari alergen
- Anjurkan klien untuk mengurangi aktifitas
- Anjurkan klien untuk mendapatkan asupan gizi yang cukup
2. Untuk keluarga
Memberikan dukungan :
- Anjurkan keluarga untuk memberi perhatian pada klien
- Anjurkan keluarga untuk memantau kondisi klien

- Anjurkan keluarga untuk menciptakan lingkungan yang kondusif.

Setelah memahami mengenai PPOK yang sering terjadi di kalangan pria dan usia lanjut.
Diharapkan dari makalah ini dapat membangkitkan pengetahuan mahasiswa. Untuk
pembaca dan perawat dapat mengambil inti dari makalah ini sehingga dapat menerapkan
dalam dunia Pendidikan ataupun dalam dunia kerja.

42
DAFTAR PUSTAKA

Somantri, Irman. 2008. Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan Sistem
Pernapasan. Jakarta : Salemba Medika
Esther, John D. 2010. Patofisiologi Aplikasi pada Praktik Keperawatan. Dialih bahasakan oleh
Andry Hartono. Jakarta : EGC
Francis, Caia, 2012. Perawatan Respirasi. Dialih bahasakan oleh Stella Tiana Hasianna. Jakarta
: Erlangga
Indriani, Wijaya, 2010. Buku Pintar Atasi Asma. Yogyakarta
Murwani, Arita, 2011. Perawatan Pasien Penyakit Dalam. Jilid I. Edisi I. Yogyakarta
https://www.academia.edu/34981928/Askep_PPOK_Penyakit_Paru_Obstruktif_Kronik

43