Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Doktrin Tritunggal merupakan doktrin yang unuk yang hanya ada di dalam
Kekristenan. Pengenalan terhadap Allah melalui Firman (Teologi dari kata Yunani =
Allah dan Logos = Firman). Pengenalan akan Allah, yang pertama, menjadi titik tolak
atau pangkalan bijaksana yang sejati. Pengenalan akan Allah menjadi dasar dari segala
kepandaian didalam dunia ini ( bnd. Amsal 1:7, Mazmur 111:10). Dan pengenalan akan
Allah yang kedua, merupakan cetusan yang keluar dari jiwa manusia.

Berteologi berarti mengetahui dan mengenali Allah, mengalami, serta hidup didalam
dia. Teologi adalah pengenalan akan Allah yang di dalamnya kita menghayati atau
mengalami hidup yang sejati. Teologi tidak seharusnya hanya dimonopoli oleh seminari-
seminari, sekolah-sekolah Teologi atau sekolah-sekolah Alkitab, sekolah-sekolah yang
melatih calon-calon pendeta, dan sejenisnya. Tetapi Teologi hendaknya dimiliki oleh
setiap orang Kristen, karena berteologi merupakan hak setiap anak Tuhan atau setiap
orang yang mengenal Tuhan, agar mengetahui mengapa kita harus mengenal Tuhan dan
bagaimana mengenal Dia dengan cepat. Berteologi juga berarti memuliakan Allah. Jadi
berteologi bukan saja mengakibatkan pengenalan dan kasih kita kepada Allah, tetapi juga
bakti dan sembah sujud kita kepadanya. Alkitab mencatat pada waktu Allah menyatakan
diri-Nya, mereka merebahkan diri dan bersembah sujud dihadapan-Nya (Ayub 42:1-6;
Daniel 2:19-20, Yesaya 6, Matius 14:22-33, Wahyu 1:17 dll). Pengenalan dan
penyembahan terhadap Allah tidak dapat dipisahkan.

B. Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini untuk mengetahui doktrin-doktrin bahan masalah-
masalah yang terjadi pada masa gereja mua-mula. Dan untuk mengetahui doktrin-doktrin
atau ajaran-ajaran para bapak-bapak gereja sebelum abad pertengahan.

Pertama, karena Allah Tritunggal adalah Allah Tritunggal adalah Allah yang benar,
Allha yang terbesar, yang tidak terbatas, maka jika kita menemukan kesulitan besar dalam
mempelajari dan mengajarkan Doktrin ini, hal itu adalah wajar (normal). Namun, yang sulit
dimengerti bukan berarti tidak mungkin dimengerti.

Kedua, pada waktu kita mempelajari Tritunggal, kita bukan hanya menyelidiki
konklusi dogma yang sudah didiskusikan selama berabad-abad, melainkan kita juga sedang
belajar dari Dia yang mengawasi serta memimpin kita.(Allah bukan sekedar Obyek
penyelidikan kita , melainkan Subyek)

Ketiga, doktrin Tritunggal memang sulit dipelajari karena melampaui rasio manusia
(supra-rasional). Ini bukan berarti bertentangan dengan rasio (kontra-rasional).
Kontrarasional berarti tidak Logis, berlawanan dengan jalan pikiran dan segala prinsip untuk
mendatangkan Konklusi yang Logis1.

BAB II

DEFENISI TRITUNGGAL

1
PDT.DR.STEPHEN TONG, Allah Tritunggal (Jakarta: Lembaga Reformed Injili Indonesia, 1990),
hal.13-18
A. Pengertian Tritunggal

Tritunggal berarti tiga pribadi didalam keallahan yang esa, atau didalam satu esensi
diri Allah tiga pribadi.2
Dengan demikian, melalui Alkitab, Firman Tuhan, kita datang kedalam pekerjaan
Allah Tritunggal: Roh Kudus (Pribadi Ketiga) melalui kitab suci membawa kita kepada
Kristus (Pribadi Kedua); Kristus melalui karya penebusan-Nya membawa kita kepada Allah
Bapa (Pribadi Pertama), sehingga manusia yang dicipta oleh Allah kembali kepada
Penciptanya. Allah tritunggal berkarya; namun demikian apakah Artinya Allah Tritunggal?
Bagaimana penjelasannya. Kemudian saya akan mengajak saudara untuk mengenali apakah
sebenarnya Arti Tritunggal, Allah yang benar adalah Allah yang benar adalah Allah yang
tidak terbatas, yang melampaui segala sesuatu, Allah yang Esa, Allah yang tidak ada
bandingan-Nya, dan Allah yang menyatakan diri sebagai Allah Tritunggal. Dan faktanya
konsep atau doktrin Tritunggal ini terus menerus muncul di dalam Alkitab. Tritunggal
berarti tiga Pribadi di dalam satu Allah, atau didalam satu esensi diri Allah ada Tiga
Pribadi.3

B. Pernyataan tentang Tritunggal


Doktrin Allah Allah Tritunggal paling tepat dibicarakan secara ringkas dalam kaitan
dengan berbagai prosisi, yang akhirnya membentuk satu ringkasan iman Gereja tentang hal
ini.
a. Dalam keberadaan Ilahi hanya ada satu esensi yang tidak terbagi (ousia essentia).
b. Dalam keberadaan Illahi yang satu ini ada tiga pribadi atau subsisten –subsisten
individual, Allah Bapa, Allah Putra dan Allah Roh Kudus.
c. Keseluruhan Esensi yang tidak terbagidari Allah secara seimbang dimiliki oleh
ketiga pribadi.
d. Subsentasi dan tindakan dari ketiga pribadi ditandai oleh satu tingkatan yang jelas
dan tertentu.
e. Ada atribut-atribut personal tertentu yang dengannya tiga pribadi dibedakan.

2
PDT.DR.STEPHEN TONG,Allah Tritunggal (Surabaya: Lembaga Reformed Injil Indonesia, 2014),
hal 31
3
PDT.DR.STEPHEN TONG, Allah Tritunggal (Jakarta: Lembaga Reformed Injili Indonesia, 1990),
hal.11-12.
f. Gereja mengakui Tritunggal sebagai suatu misteri yang ada diluar jangkauan
pikiran manusia. 4

Ada beberapa analogi tentang Tritunggal, memang ini bisa dipakai untuk menjelaskan
Tritunggal, tetapi tetap akan mengalami kesulitan. Tidak mungkin kita mengertinya dengan
pendekatan Rasional atau analogis tertentu.

1. Pernyataan perjanjian lama

Perjanjian Lama dengan jelas menekankan kemurnian keesaan Allah, supaya bangasa
Israel sadar bahwa mereka menyembah hanya SATU Allah, -bukan berbagai ilah bangasa-
bangsa lain. Kendati demikian, PL juga memberi Isyarat bahwa Allah berkepribadian lebih
dari satu. Hal itu dinyatakan paling jelas dalam Kej p 1 sebagai,

Allah menciptakan –Kej 1:1

Roh Alllah melayang-layang-Kej 1:2

Ber-Firman-lah Allah – Kej 1:3 (bnd Yoh 1:3)5

a. Keesaan Allah

Keesaan Allah: Allah Tritunggal merupakan Doktrin, ajaran yang sedemikian unik di
dalam Kekristenan. Doktrin ini merupakan sutau konsep yang tidak ada pada agama-agama
lain, bukan suatu konsep yang ditarik sebagai kesimpulan dari hasil pikiran manusia melalui
kemampuan Manusia melalui kemampuan rasio yang diciptakan oleh Allah tetapi hal ini
adalah suatu konsep yang tidak dapat dihindari oleh manusia karena Allah telah demikian
menyatakan Diri, memperkenalkan Diri-Nya kepada manusia.

1. Pemakaian kata “Kita” dalam kitab kejadian


Pada waktu Tuhan Allah memberikan wahyu tentang diri-Nya didalam kejadian 1:26;
3:22; 11:7; yesaya 6:8, Allah memakai kata ganti kita untuk menyebut diri-Nya sendiri,
bukan saya. Berfirmanlah Allah, “Baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar dan
rupa kita...” (Kejadian 1:26). Dan siapakah yang dimaksud dengan kata kita di ayat ini? Kita
bukan menunjukkan pribadi tunggal melainkan jamak, lebih dari satu . Ada yang menafsirkan
Kitadisini menunjukkan perundingan antara Allah dan malaikat.
4
Louis Berkhof. Teologi Sistematika Doktin Allah ( Surabaya: Momentum, 2013), hal 150-156
5
R.J Porter MA, Katekisasi Masa Kini (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF), HAL 115
Dalam seluruh Alkitab tidak pernah dikatakan bahwa malaikat ada;ah pencipta; belum
pernah dikatakan bahwa malaikat mencipta atau mengambil bagian dari karya Allah yang
pertama yaitu mencipta. Karya atau pekerjaan Allah sangat banyak, dan yang pertama adalah
pencipta. Dia menciptakan segala sesuatu dari ketiadaan (creatio ex nihilo). Menciptakan dari
ketiadaan ini adalah tindakan atau pekerjaan yang hanya bisa dilakukan Allah sendiri. Kita di
dalam diri Allah yang Esa. Di sini Doktrin Tritunggal sudah dinyatakan walaupun dalam
bentuk Implisit (bukan penegasan langsung, melainkan tersembunyi)

1. Sebutan “Elohim” bagi Allah


Istilah atau sebutan yang dipakai untuk Allah selalu dalam bentuk jamak, yaitu
Elohim, bukan dalam bentuk Tunggal EL. Bukan saja sebutan Allah, selalu muncul dalam
bentuk jamak, namun juga sering kali sebutan TUHAN atau ucapan terhadap TUHAN
diulang tiga kali. Misalnya, setiap kali Musa dan Harun memberkati bangsa Israel, mereka
mengucapkan Doa berkat sebagaimana yang diperintahkan Tuhan Allah sendiri. Didalam
Alkitab pada waktu Allah menyebut diri-Nya sendiri dengan sebutan Kita, Dia menyatakan
diri-Nya sebagai: (1) penciptaan (creation), (2) Penebusan (Redemption), dan (3) penyatan
/pewahyuan (Revelation). Hanya Allah sendiri yang dapat melakukan pekerjaan itu dan
didalam ketiga karya itu tidak ada campur tangan dari sesuatu di luar Diri-Nya6

2. Malaikat Tuhan
Malaikat kata Yunani aggleos berarti “utusan”, demikian halnya para malaikat
dilukiskan sebagai pembawa-pembawa pesan dari Allah untuk *bapa-bapa leluhur (kej.
22:11,dst). Dalam literatur kemudian hari (setelah *pembuangan), para Malakat dianggap
sebagai Mahluk supranatural (mungkin dipengaruhi oleh hubungan dengan Zoroasterianisme)
yang diatur di hadapan Allah dalam suatu hierarkhi (mis. Dan 7:10; 9:21). Berlawanan
dengannya ada barisan malaikat-malaikat dibawah kuasa *iblis (Mat. 25:41).
Berbeda dengan orang-orang *saduki yang lebih konservatif, orang-orang *farisi
mendukung kepercayaan kepada malaikat yang telah berkembang ini (kis. 23:9), yang
dibutuhkan untuk melengkapi doktrin tentang transedensi Allah yang mutlak. Sejak zaman
kitab Daniel (abad kedua sM) malaikat-malaikat diberi nama (Dan. 8:16; 10:13)tugas-tugas
khusus. Dalam Injil-injil mereka siap-sedia untuk membantu Yesus (Mat. 4:11) dan menjadi

6
.Pdt. DR. STEPHEN TONG. ALLAH TRITUNGGAL (Surabaya: MOMENTUM ,2014) HAL 39-42
wakilwakil-wakil pribadi anak-anak dihadapan Bapa (Mat. 18:10). *Iblis juga memiliki bala
tentara malaikat sebagai pembantu-pembantunya (Mat. 25:41).
Dalam sementara Surat (mis. 1Ptr. 3:22) karya penebusan Kristus dipahami dalam
pengertian Kemenangan-Nya atas Makhluk supranatural surgawi, yang kemungkinan adalah
para Malaikat; demikian halnya Paulus dalam Kol. 2:8-15.7

3. Hikmat Allah
Hikmat Allah akan Nyata melalui bagaimana Karya-Karya Allah, kita bisa melihat
dari Defenisi pencitaan. Istilah “menciptakan” dipakai dalam dua arti didalamAlkitab: dalam
arti penciptaan langsung dan dalam arti penciptaan tidak lansung.
1. Penciptaan lansung Alam Semesta.
Jadi dikatakan dalam Alkitab bahwa Allah telah “menciptakan” dan “Menjadikan” bumi
(Kejadian 1:1; Nehemia 9:6; Kolose 1:16-17). Namun jelas bahwa kata menciptakan
dalam kejadian 1:1 dan 2:3-4, memang berarti menciptakan tanpa memakai bahan-bahan
yang sudah ada sebelumnya.

2. Penciptaan tidak langsung alam semesta masa kini.


Kita menemukan dalam kejadian 1:2 bahwa bumi “belum berbentuk dan kosong; gelap
gulita menutupi samudra raya. Kemudian terjadilah pembentukan tatanan semesta
sebagimana yang kita kenal selama ini.8

Karena kebenaran Tritunggal adalah wahyu Allah, dan wahyu Allah itu bersifat progresif,
maka haruslah disadari bahwa Perjanjian Lama tidak memberikan bukti-bukti secara eksplisit
tentang ketritunggalan Allah, melainkan hanya memberikan indikasi-indikasi ke arah
kenyataan ini. Berkhof berkata : “Alkitab tak pernah berhubungan dengan doktrin Tritunggal
sebagai suatu kebenaran yang abstrak, akan tetapi Alkitab mengungkapkan kehidupan
Tritunggal dalam berbagai hubungan sebagai suatu kenyataan yang hidup….” (Louis
Berkhof, 1993: 148). Oleh sebab itu maka konsep yang akan dipaparkan di dalamnya tentu
hanya bersifat indikatif saja.

7
W.R.F BROWING. A Dictonary Of The Bible ( Bpk Gunung Mulia,2008), hal 250
8
Henry C. Thiessen, Teologi Sistematika (Malang: Gandum Mas, 2010), hal 173
Satu ayat yang mengindikasikan adanya semacam kejamakan dalam diri Allah adalah Kej
1:26 : “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita” dan ayat-ayat
lainnya seperti Kejadian 3:22; 11:7; Yesaya 6:8, dan lain-lain. Harus diakui bahwa
sebenarnya bentuk jamak (plural) dalam ayat ini tidak secara langsung menunjuk kepada
Allah Tritunggal, sebab dalam corak Perjanjian Lama penggunaan bentuk jamak adalah untuk
menggambarkan atau merupakan suatu jamak kehormatan “plural maiestaticus” (Walter
Lempp: Tafsiran Kejadian; 1974: 36). Sekalipun demikian tak dapat disangkal bahwa ayat-
ayat itu mengandung petunjuk tentang adanya perbedaan pribadi dalam diri Allah dan juga
menunjuk kepada keadaan jamak dari pribadi-pribadi itu. (Louis Berkhof, Op.cit: 149).
 

Mungkin hal menarik yang dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam memikirkan
kebenaran Tritunggal adalah bahwa ada pribadi lain yang sangat jelas dibedakan dari Allah
(Bapa). Contoh dalam Alkitab yang memaparkan kebenaran ini adalah Kejadian 1:1-2 :
“Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi…dan Roh Allah melayang-layang di atas
permukaan air”.
 

Selain itu Alkitab juga mencatat adanya pribadi lain di samping Allah yang esa dan memiliki
kualitas yang sama dengan Allah dalam segala hal, tetapi sekali lagi semuanya ini masih
bersifat indikasi-indikasi ke arah doktrin Tritunggal.

a. Ada penyataan tentang pribadi lain di samping Allah (Bapa)


Yang dimaksud di sini adalah bahwa dalam Alkitab dibedakan juga tentang Tuhan yang
dibedakan dari Tuhan (Allah) (Thiessen; 1992, hal. 140). Contohnya seperti yang terdapat
dalam beberapa ayat di bawah ini :

“Kemudian TUHAN menurunkan hujan belerang dan api atas Sodom dan Gomora, berasal
dari Tuhan, dari langit.” (Kejadian 19:24)
“Tetapi Aku akan menyayangi kaum Yehuda dan menyelamatkan mereka demi TUHAN,
Allah mereka.” (Hosea 1:7)
“Lalu berkatalah malaikat TUHAN kepada iblis itu: ‘TUHAN kiranya menghardik engkau,
hai iblis!’” (Zakharia 3:2)
Jadi ayat-ayat di atas sungguh menunjukkan perbedaan yang jelas antara Tuhan (Allah)
dengan Tuhan.
b. Ada penyataan tentang pribadi kedua dari Allah Tritunggal
Selain mengungkapkan suatu perbedaan antara TUHAN dan TUHAN (Allah) secara umum,
Alkitab juga memberi penyataan tentang pribadi kedua dari Allah Tritunggal. Di dalam
Perjanjian Lama sering digunakan istilah atau sebutan “Malaikat Tuhan” yang sering
menampakkan diri kepada orang-orang tertentu seperti pada Hagar (Kejadian 16:7-14),
Abraham (Kejadian 22:11-18), Yakub (Kejadian 31:11-13), Musa (Keluaran 3:2-5), Israel
(Keluaran 14:19), Bileam (Bilangan 22:22-35), Gideon (Hakim-Hakim 6:11-23), Manoah
(Hakim-hakim 13:2-25), Elia (I Raja-raja 19:5-7), dan Daud (I Tawarikh 21:15-17). Menurut
R. Soedarmo istilah atau sebutan “Malaikat Tuhan” ini tidaklah menunjuk kepada malaikat
biasa (R. Soedarmo; 1985: 94-95) karena: (1) Ia berfirman atas nama-Nya sendiri (Kejadian
16:10), (2) Ia mau disembah oleh orang (Yosua 5, Hakim-hakim 2) padahal malaikat biasa
tidak boleh dan tidak mau disembah (Wahyu 19:10 ; 22:9), (3) Ia juga disebut Allah
(Kejadian 16:13) tetapi merupakan petunjuk khusus kepada pribadi kedua dari Allah
Tritunggal pada masa pra inkarnasi. Penampilan-Nya dalam Perjanjian Lama ini merupakan
pertanda dari kedatangan-Nya sebagai manusia di kemudian hari. (Thiessen, Op.cit:140)
c. Ada penyataan tentang pribadi ketiga dari Allah Tritunggal.
Dalam Perjanjian Lama, pribadi ketiga dari Allah Tritunggal yaitu Roh Kudus pun
dinyatakan dan dibedakan dari Allah (Bapa).

“Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi…dan Roh Allah melayang-layang di atas
permukaan air.” (Kejadian 1:1-2)
“Berfirmanlah Tuhan kepada Musa…dan telah Kupenuhi dia dengan Roh Allah.” (Keluaran
31:1-3)
Itulah beberapa indikasi yang mengarah kepada konsep Tritunggal yang nampak dalam
Perjanjian Lama.

2. Pernyataan perjanjian baru


a. Bukti Keesaan
Allah yang menyatakan diri-Nya Esa dengan pengertian bahwa Dia hendak direnungi
sebagai tiga pribadi yang berbeda-beda. Jika kita berpegang pada yang tiga itu, maka didalam
benak kita hanya akan mengambang nama Allah yang hampa tidak berisi. Tetapi , supaya
tidak ada yang membayangkan suatu Allah yang tiga serangkai, atau yang mengira bahwa
hakikat Allah yang tunggal itu dibagi-bagi dan disobek-sobek mejadi tiga oknum, maka kita
disini harus mencari suatu rumus yang p endek dan mudah, yang menghindarkan kita dari
kesalahan apapun juga.9

Keesaan Allah: Allah Tritunggal merupakan Doktrin, ajaran yang sedemikian unik di
dalam Kekristenan. Doktrin ini merupakan sutau konsep yang tidak ada pada agama-agama
lain, bukan suatu konsep yang ditarik sebagai kesimpulan dari hasil pikiran manusia melalui
kemampuan Manusia melalui kemampuan rasio yang diciptakan oleh Allah tetapi hal ini
adalah suatu konsep yang tidak dapat dihindari oleh manusia karena Allah telah demikian
menyatakan Diri, memperkenalkan Diri-Nya kepada manusia10

b. Bukti Allah Tritunggal

Bukti Alkitab Untuk Allah Tritunggal

a) Bukti-bukti perjanjian lama,

Sebagian dari Bapa-Bapa Gereja awal dan juga teolog-Teolog masa kini, dengan
tidak memperhatikan karakter progresif dari wahyu Allah, memberi kesan bahwa doktin
Allah Tritunggal telah secara lengkap dinyatakan dalam perjanjian lama. Bukti mengenai
Tritunggal kadang-kadang telah ditemukan dalam perbedaan antara nama Yehova dan
Elohim, dan juga dalam bentuk Jamak Elohim itu sendiri, tetapi bukti pertama itu belum
dapat dibenarkan, dan bukti kedua itu masih meragukan, walaupun Rottenberg masih
berpegang pada posisi atas bukti tersebut dalam bukunya De Triniteit in israels Godsbegrip.

b) Bukti-bukti Perjanjian Baru.

Perjanjian Baru membawa wahyu yang lebih jelas akan perbedaan-perbedaan dalam
diri Allah Tritunggal. Jika dalam perjanjian Lama Yehova dikatakan sebagai pembebas dan
penyelamat Umat-Nya, dalam perjanjian Baru Allah Putra benar-benar ada dalam keadaan
itu. Satu-satunya ayat yang membicarakan tentang tritunggal adalah 1 Yoh 5:7 (Authorized
Version), tetapi ada yang meragukan keakuratan penerjemahan Versi ini dan dengan
demikian tidak muncul lagi dalam edisi paling baru.11

C. Doktrin Allah Tritunggal Dalam Sejarah Gereja


1. Berbagai ajaran yang mempengaruhi Tritunggal

9
Yohanes Institutio,Pengajaran agama Kristen,(Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2015), hal 33
10
Pdt. DR. Stephen Tong, Allah Tritunggal EDISI REVISI,(Surabaya: LEMBAGA Reformed Injil
Indonesia , 2013), hal 2
11
Louis Berkhof. Teologi Sistematika Doktin Allah ( Surabaya: Momentum, 2013), hal 148-150
Roh Kudus Dianugrahkan kepada setiap orang yang percaya kepada Yesus

Roh Kudus adalah Oknum Allah Tritunggal. Ke-allah-an Roh kudus adalah sama dan setara
dengan Allah Bapa dan Allah Anak. Roh Kudus bukan hanya Kuasa pengaruh atau sifat dari
Allah Bapa dan Allah Anak. Roh Kudus bukan hanya kuasa pengaru atau sifat dari
Allah,tapi adalah juga kepribadian-Nya.

Pekerjaan Roh Kudus dijelaskan sebagai pekerjaan Pribadi:

Ia berkata-kata (Kis 13:2;1 1Tim 4:1; Why 2:7)

Ia bersaksi (Kis 5:32; Rm 8:16),

Ia mengambil Keputusan (Kis 15:28)

Ia bukan didudukkan (Ef 4:30)

Ia dapat menentang (Kis 7:51)

2. Ke-Allah-an Roh Kudus

Roh kudus adalah Roh Allah dan Roh Yesus kristus (Rm8:9). Ia yang menyelidiki dan
mengetahui Rahasia Allah (1 kor 2:10,11). Dusta terhadap Roh kudus adalah dusta terhadap
Allah (Kis5:3-4).12

D. Pokok-Pokok perdebatan Bapak-Bapak Gereja.


1) Pertobatan Gereja

Telah kita ketahui bahwa Ajaran Origenes tentang logos sebagai zat yang “Setengan
Allah” atau “Allah Kedua” merajalela dalam Gereja Lama.

2) Arius dan Alexander

Pada tahun 318 timbullah perselisihan di Alexandria antara seorang presbiter, Arius
namanya, dengan uskupnya Alexander. Kata Arius: Tak mungkin Yesus dapat disebut
“setengah Allah!” Apabila kita percaya kepada satu Allah saja, tentulah Yesus Allah juga
atau bukan Allah, melainkan mahluk saja, tentulah Yesus Allah juga atau bukan Allah,
melainkan mahluk saja. Demikianlah Arius mengajarkan bahwa Anak atau Logos itu adalah
mahluk Tuhan yang sulung dan yang tertinggi derajatnya.

12
R.J Porter MA, Katekisasi Masa Kini (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF), HAL 103-104
3) Konsili di Nicea

Oleh kaisar dengan penasehatnya dianjurkan suatu Rumus tentang wujud Logos, yang
dapat memuaskan hati kebanyakan anggota. Arius dengan pengikutnya kalah, karena
ajarannnya disalahkan dan ia sendiri dipecat dan dibuang. Bagaimanakah bunyi rumus yang
diterima oleh konsili itu? Mereka setuju bahwa Logos atau Anak,“ homo-usios” dengan
Bapa. Sebenarnya istilah itu berarti “sezat” atau “sehakekat”,tetapi menurut Constatinus
rumus itu hanya menyatakan, bahwa logos berhungan rapat dengan Allah Bapa.

4) Perjuangan Athanasius

Dengan konsili Nicea pertikaian tentang Relasi antara Logos dengan Allah belum
diselesaikan, karena Golongan-Golongan yang berlawanan itu bukan saja hendak
membenarkan Theologianya masing-masing, tetapi juga bersaingan untuk merebut kuasa
didalam Gereja.

Sekarang Athanasius kembali lagi mempergunakan Rumus “homo-usios”, yang sudah


diterima Nicea, tetapi belum diartikan menurut maknanya yang sejati. Kata Athanasius:
Logos sama sekali sehakekat dengan Allah Bapa; sungguh pun Logos dan Allah harus
dibedakan, tetapi pada Hakekatnya mereka satu saja.

Pada waktu itu juga setengah dari penganut Origenes merasa bahwa ajaran
golongannya terlalu radikal, sebab dengan demikian Anak diceraikan dari Bapa. Itu bukan
pandangan Mereka; sebab itu mereka mencari suatu Rumus baru yang mendekati Ajaran
Athanasius, yakni: Logos “homo- usios”dengan Allah; artinya: zat Logos menyerupai zat
Bapa.

5) Ajaran Gereja tentang Allah yang Tritunggal

Hasil perjuangan Athanasius ialah bahwa Gereja Kristen tetapi juga menyingkirkan
roh Yunani dari berita keselamatannya. Sekarang sudah pasti bahwa Kristus, Anak Allah
sekali-kali tidak berhubungan dengan Logos filsafat Yunani yang hanya atau setengah ilahi
diantara Allah dan dunia.

Sungguh pun demikian, masih terdapat perbedaan pikiran antara Gereja Katolik
dibarat dengan Gereja ditimur tentang masala “trnitas,” Allah tiga oknum yang Esa. Dengan
demkian Bapa, Anak dan Roh Kudus; lalu menyimpulkan bahwa ketiga Oknum itu adalah
Esa. Dengan demikaian Bapa dianggap sebagai Allah yang sebenarnya, yang tidak
diciptakan, sehingga zatnya lebih rendah, meskipun ilahi juga.

Sebab itu Gereja timur menyangkal bahwa Roh keluar dari Anak juga, karena pada
Hematnya, itu berarti Roh direndahkan lagi dibawah Anak. Gereja di barat tetap berpendirian
seperti Athansius, yang berdasarkan pada keesaan Allah, dan sesudah itu baru dimulai
memikirkan ketigaan Allah sehingga mengajarkan bahwa ketiga oknum itu tak ada yang
tinggi atau Rendah. Roh keluar dari Anak pula. Keyakinan itu nampak dengan terang dalam
“Pengakuan Athanasius” yang direncanakan dibarat pada abad ke IV. 13

13
Dr.H. Berkhof.SEJARAH GEREJA(Jakarta: PT BPK GUNUNG MULIA,2009), Hal 53-54
BAB III

KESIMPULAN

Allah Bapa yang merencanakan sendiri keselamatan kita. Dia memilih kita, Allah
anak (Yesus) yang mati dikayu salib menjadi penebus kita. Roh kudus yang memeteraikan
kita dan menjadi jaminan Keselamatan kita dan menjadi jaminan Keselamatan kita. Allah
Bapa tidak mati disitu. Hanya Yesus, Anak Allah, yang mati di Golgota. Namun keEsaan,
hakikat dan harkat Tritunggal seutuhnya terhisap dari diri Yesus pada Kematian-Nya di kayu
salib itu.

Sering kita melihat peranan setiap kepribadian Allah dalam penyelamatan. Mis Ef
2:18-22; 2 Tes 2:13-14. Dalam doa juga kita melihat bagian untuk setiap kepribadian itu. Kita
berdoa kepada Allah Bapa, melalui (dalam) Yesus Kristus, atau dorongan dan dengan Roh
Kudus. Tetapi tidak salah kalau kita berdoa kepada Yesus (bdn Kis 7:59). Hanya kepada
Allah Boleh kita berdoa (Why 22:8,9).

Yesus adalah Allah; Roh Kudus adalah Allah; tetapi Yesus dan Roh kudus bukan
Allah Bapa. Disorga pun Yesus bukan Allah Bapa. Ia yang sejak kekal bersama-sama dengan
Allah. Sekarang duduk disebelah kanan Allah (Yoh 1:1; Ibr 10:12).dalam Why 22 kita
melihat takhta Anak Domba (ay1). Roh Kudus juga ada disitu –Ia memanggil “Marilah” (ay
17). Dari kekal kepada Kekal Allah yang Esa adalah Allah Bapa, Allah Anak dan Alllah Roh
kudus. Sekarang kita mengenal Allah ini oleh Iman. Nanti kita akan melihat Allah Tritunggal
ini dan diam bersama dengan Dia. Terpujilah Nama-Nya, kekal sampai selama-lamanya.
DAFTAR PUSTAKA

1. STEPHEN TONG, Allah Tritunggal Jakarta: Lembaga Reformed Injili Indonesia,


1990
2. Thiessen, Henry C. Teologi Sistematika Malang: Gandum Mas, 2010
3. STEPHEN TONG, Allah Tritunggal Jakarta: Lembaga Reformed Injili Indonesia,
1990
4. STEPHEN TONG,Allah Tritunggal Surabaya: Lembaga Reformed Injil Indonesia,
2014
5. STEPHEN TONG, Allah Tritunggal Jakarta: Lembaga Reformed Injili Indonesia,
1990
6. Berkhof, Louis. Teologi Sistematika Doktin Allah Surabaya: Momentum, 2013
7. R.J Porter MA, Katekisasi Masa Kini Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina
Kasih/OMF,2014

Dr.H. Berkhof.SEJARAH GEREJA Jakarta: PT BPK GUN