Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH 1

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN COLITIS

Ns. WILDA FAUZIA, M. Kep

Disusun oleh:
AGUSTIN RAHAYU (12171001)
ANUGRAH PUTRI SYAFIRA (12171018)
DINDA DEFARA SYAHPUTRI (12171012)
MIDADUL ALIM (12171024)
NADYA AZZHARA SUHARDJO PUTRI (12171026)
NAFA NURANNISA (12171027)
NANDA DEDY NURRAHMA (12171029)
PERDANA RIZKY ILAHI (12171034)
RAHMA WINNE ENGGARTIASTY A (12171036)
RIRIN ASKURI (12171039)
SHELLA SELVILIA (12171044)
YANI EGA SARI (12171052)
YUSMANETTI ROSYA (12171053)

DIII KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN PERTAMEDIKA
JL.Bintaro Raya No 10, Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, 12240
Tahun Ajaran 2018-2019
Lembar Pengesahan

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN COLITIS

AGUSTIN RAHAYU PERDANA RIZKY ILAHI


ANUGRAH PUTRI SYAFIRA RAHMA WINNIE ENGGARTIASTY A
DINDA DEFARA SYAHPUTRI RIRIN ASKURI
MIDADUL ALIM SHELLA SELVILIA
NADYA AZZAHRA SUHARDJO PUTRI YANI EGA SARI
NAFA NURANNISA YUSMANETTI ROSYA
NANDA DEDY NURRAHMA

Mengetahui

Ns. WILDA FAUZIA, M. Kep

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat,
karunia, dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah
KeperawatanMedikalBedahColitis.
Dan juga kami berterima kasih pada Ibu Ns. WildaFauzia, M.
Kepselakudosenmata kuliah Keperawatan Medikal Bedah1. Kami berharap makalah ini
dapat berguna untukmenambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai
AsuhanKeperawatanColitis.Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih
banyak kekurangan, baik dari segi isi, penulisan maupun kata-kata yang digunakan. Oleh
karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi
kesempurnaan makalah ini.

Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para mahasiswa khususnya dan
masyarakat pada umumnya. Dan semoga makalah ini dapat dijadikan sebagai bahan untuk
menambah pengetahuan para mahasiswa dan masyarakat dan pembaca.

Jakarta, 13 September 2018

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

Halaman Pengesahan Fasilitator............................................................................................................i


KATA PENGANTAR.................................................................................................................................ii
DAFTAR ISI............................................................................................................................................iii
BAB 1PENDAHULUAN............................................................................................................................1
1.1 Latar Belakang.......................................................................................................................1
1.2 Tujuan Umum Dan Khusus.....................................................................................................1
BAB IIPEMBAHASAN..............................................................................................................................2
2.1 Konsep Dasar.........................................................................................................................2
a. Definisi...................................................................................................................................2
b. Etiologi...................................................................................................................................3
c. Manifestasi Klinis...................................................................................................................4
d. Patofisiologi...........................................................................................................................6
e. Komplikasi..............................................................................................................................6
f. Penatalaksanaan....................................................................................................................8
Penatalaksanaan Keperawatan......................................................................................................8
2.2 Proses Keperawatan..............................................................................................................9
a. Pengkajian.............................................................................................................................9
b. Diagnosa..............................................................................................................................11
c. Intervensi.............................................................................................................................11
BAB IIIPENUTUP...................................................................................................................................15
3.1 Kesimpulan..........................................................................................................................15
3.2 Saran....................................................................................................................................15
DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Gangguan sistem pencernaan tidak secara langsung menyebabkan kematian bagi


penderita. Namun hal ini menyebabkan beberapa penderita mencari pertolongan medis. Salah
satu gangguan sistem pencernaan yaitu kolitis ulseratif.
Kolitis ulseratif merupakan penyakit radang kolon nonspesifik yang umumnya
berlangsung lama disertai masa remisi dan eksaserbasi yang berganti-ganti. Nyeri abdomen,
diare, perdarahan rektum merupakan gejala dan tanda yang terpenting. Lesi utamanya adalah
reaksi peradangan daerah subepitel yang timbul pada basis kripte lieberkhun, yang akhirnya
menimbulkan ulserasi mukosa. Puncak penyakit ini adalah antara usia 12 dan 49 tahun dan
menyerang jenis kelamin laki-laki maupun perempuan.
Insiden yang lebih tinggi dari kolitis ulseratif terlihat dalam orang kulit putih dan orang-
orang keturunan Yahudi.Kolitis ulseratif terjadi pada 35-100 orang untuk setiap 100.000 di
Amerika Serikat, atau kurang dari 0,1% dari populasi. Penyakit ini cenderung lebih umum di
daerah utara. Meskipun kolitis ulseratif tidak diketahui penyebabnya, diduga ada genetik
kerentanan komponen. Penyakit ini dapat dipicu pada orang yang rentan oleh faktor-faktor
lingkungan (Sylvia A. Price & Lorraine M. Wilson, 2006).

1.2 Tujuan Umum Dan Khusus

1.   Tujuan umum
Untuk mengurangi angka kesakitan dan meningkatkan derajat kesehatan.

2. Tujuan khusus
a. Memperoleh gambaran mengenai penyakit Kolitis
b. Mampu mengidentifikasi kasus gangguan sistem pencernaankhususnya kolitis  sehingga
dapat mengatasi masalah keperawatan yang terjadi
c. Mampu mengenali pengkajian sampai evaluasi yang sering terjadi pada  klien
dengangangguansistempencernaankhususnya colitis ulseratif 

1
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Konsep Dasar

a. Definisi
Kolitis Ulseratif adalah penyakit ulseratif dan inflamasi berulang dari lapisan mukosa
kolon dan rektum. (Brunner & Suddarth, 2002, hal 1106).

Kolitis Ulseratif adalah penyakit radang kolon nonspesifik yang umumnya berlangsung
lama disertai masa remisi dan eksaserbasi yang berganti-ganti. (Sylvia A. Price & Lorraine
M. Wilson, 2006, hal, 461)

Kolitis Ulseratif adalah penyakit inflamasi primer dari membran mukosa kolon (Monica
Ester,2002,hal,56).

Kolitis Ulseratif adalah penyakit peradangan yang ditandai oleh reaksi jaringan di dalam
usus yang menyerupai reaksi yang disebabkan oleh patogen mikrobiologi yang dikenal
seperti Shigella. ( Sylvia A. Price & Lorraine M. Wilson, 2006 )

Radang ini disebabkan akumulasi cytokine yang mengganggu ikatan antar sel epitel
sehingga menstimulasi sekresi kolon, stimulasi sel goblet untuk mensekresi mucus dan
mengganggu motilitas kolon. Mekanisme ini menurunkan kemampuan kolon untuk
mengabsorbsi air dan menahan feses ( Tilley et al, 1997).

Dari beberapa definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa Kolitis Ulseratif adalah suatu
penyakit inflamasi pada lapisan mukosa kolon dan rektum yang menyebabkan luka atau lesi
dan berlangsung lama yang menghasilkan keadaan diare berdarah, nyeri perut, dan demam.
Serangan pertama dari penyakit ini masih mempunyai diagnosis banding yang luas sehingga
untuk menegakkan diagnosisnya dilakukan dengan penapisan berbagai penyebab lain
(terutama penyebab infeksi) dan dengan pemeriksaan sigmoidoskopi atau kolonoskopi
dengan biopsi. Serangan pertama kolitis ulseratif mempunyai gejala prodromal yang lebih
lama daripada penyakit infeksi akut. Bukti pendukung diagnosis kolitis ulseratif adalah
ketidak terlibatan usus kecil.

2
3

Berdasarkan lokasi kolon yag terkena penyakit ini diklasifikasikan sebagai:


Proktitis dan proktosigmoiditis (50%), mengenai lokasi rectum dan sigmoid
left-sided colitis (30%), mengenai lokasi kolon desenden (fleksura splenika)
extensive colitis (20%), mengenai lokasi kolon keseluruhan.

Berdasarkan derajat keparahannya penyakit ini diklasifikasikan sebagai colitis ulseratif


ringan, sedang, dan berat (table 2), dengan menggunakan parameter frekuensi defekasi (per
hari), pulsus (denyut/menit), hematokrit (%), penurunan berat badan (%), temperature
(°C/°F), LED (mm/h), dan albumin (g/dl).

Berdasarkan penyebabnya, colitis dapat diklasifikasikan sebagai berikut :


a.    Kolitis infeksi, misalnya : shigelosis, kolitis tuberkulosa, kolitisamebik,
kolitis pseudomembran, kolitis karena virus/bakteri/parasit.
b.    Kolitis non-infeksi, misalnya : kolitis ulseratif, penyakit  Crohn’s kolitis radiasi,
kolitis iskemik, kolitis mikroskopik, kolitis non-spesifik (simple colitis).
Hal ini difokuskan pada kolitis infeksi yang sering ditemukan di Indonesia sebagai daerah
tropik, yaitu kolitisamebik, shigellosis, dan kolitis tuberkulosa serta infeksi E.colipatogen
yang dilaporkan sebagai salah satu penyebab utama diare kronik di Indonesia.

b. Etiologi
Penyebab pasti dari penyakit ini masih belum juga diketahui. Teori tentang apa penyebab
kolitis ulseratif sangat banyak, tetapi tidak satupun dapat membuktikan secara pas.
Penelitian-penelitian telah dilakukan dan membuktikan adanya kemungkinan lebih dari satu
penyebab dan efek akumulasi dari penyebab tersebut adalah akar dari keadaan patologis.
Penyebabnya meliputi herediter, faktor genetik, faktor lingkungan, atau gangguan sistem
imun.
Adapun faktor resiko yang memicu timbulnya penyakit colitis ulseratif adalah sebagai
berikut:
1. Faktor Biologi
 Jenis kelamin : Wanita beresiko lebih besar dibanding laki-laki. Usia: 15-25
tahun, dan lebih dari 50 tahun.
 Herediter : adanya anggota keluarga yang menderita kolitis ulseratif akan
meningkatkan resiko anggota keluarga lain untuk menderita penyakit serupa.
4

 Alergi : beberapa penelitian menunjukan bahwa kolitis ulseratif adalah bentuk


respon alergi terhadap makanan atau adanya mikroorganisme di usus.
 Autoimun/genetik : penelitian terbaru menunjukkan bahwa kolitis ulseatif
dapat merupakan suatu bentuk penyakit kelainan genetik autoimun dimana
sistem pertahanan tubuh menyerang organ dan jaringan tubuh sendiri.
Diantaranya adalah usus besar.

2. Faktor Lingkungan
Beberapa peneliti menyatakan bahwa kolitis ulseratif dapat berhubungan dengan
beberapa infeksi saluran cerna yang disebabkan oleh mikroorganisme E. Coli. Satu teori
menjelaskan bahwa virus measles yang belum dibersihkan dari tubuh dengan tuntas dapat
menyebabkan inflamasi kronik ringan dari mukosa usus, hal ini juga disebabkan oleh
Lingkungan dengan sanitasi dan higienitas yang kurang baik

3. Faktor Perilaku
Kegemukan (obesitas), merokok, (psikosomatik) stress / emosi, pemakaian laksatif yang
berlebihan, kebiasaan makan makanan tinggi serat, tinggi gula, alkohol, kafein, kacang,
popcorn, makanan pedas, kurang kesadaran untuk berobat dini, keterlambatan dalam mencari
pengobatan, tidak melakukan pemeriksaan rutin kesehatan merupakan faktor perilaku yang
dapat memicu timbulnya penyakit colitis ulseratif.

4. Faktor Pelayanan Kesehatan


Minimnya pengetahuan petugas kesehatan, kurangnya sarana dan prasarana yang
memadai, keterlambatan dalam diagnosis dan terap, kekeliruan dalam diagnosis dan terapi,
tidak adanya program yang adekuat dalam proses skrining awal penyakit juga dapat
meningkatkan dan memperparah penyakit colitis ulseratif.

c. Manifestasi Klinis

Kebanyakan gejala kolitis ulseratif pada awalnya adalah  berupa buang air besar yang
lebih sering. Gejala yang paling umum dari kolitis ulseratif adalah sakit perut dan diare
berdarah. Pasien juga dapat mengalami :
1. Anemia
2. Fatigue/ kelelahan
5

3. Berat badan menurun


4. Hilangnya nafsu makan
5. Hilangnya cairan tubuh dan nutrisi
6. Lesi kulit ( eritoma nodusum )
7. Lesi mata ( uveitis )
8. Buang air besar beberapa kali dalam sehari ( 10-20 kali sehari )
9. Terdapat darah dan nanah dalam kotoran
10. Perdarahan rektum
11. Kram perut
12. Sakit pada persendian
13. Anoreksia
14. Dorongan untuk defekasi
15. Hipokalsemia (Brunner & Suddarth, 2002, hal 1106).

       Terdapat 3 jenis klinis kolitis ulseratif yang sering terjadi, dikaitkan dengan frekuensi
timbulnya gejala. kolitis ulseratif fulminan akut ditandai oleh awitan yang mendadak disertai
diare parah (10 sampai 20kali/hari), berdarah, nausea, muntah, dan demam yang
menyebabkan berkurangnya cairan dan elektrolit dengan cepat. Seluruh kolon dapat terserang
disertai dengan pembentukan trowongan dan pengelupasan mukosa, yang menyebabkan
hilangnya darah dan mukus dalam jumlah banyak. Jenis kolitis ini terjadi pada sekitar10%
penderita.
       Sebagian besar penderita kolitis ulseratif mengalami type kolitis kronis intermiten.
Awitan cenderung perlahan selama berbulan-bulan dan biasanya berlangsung 1-3 bulan
bahkan hingga bertahun-tahun. Mungkin terjadi sedikit atau tidak terjadi demam. Demam
dapat timbul pada bentuk penyakit yg lebih berat dan serangan dapat berlangsung 3-4 bulan,
kadang digolongkan sebagai type kronis continue. Pada type kolitis ulseratif kronis
continue pasien terus-menerus mengalami diare. Dibandingkan dengan type intermiten kolon
yang terserang lebih sering terjadi komplikasi.
Pada kolitis ulseratif bentuk ringan, terjadi diare ringan dengan perdarahan ringan dan
intermiten. Pada penyakit yang berat, defekasi terjadi lebih dari 6 kali sehari disertai banyak
darah dan mukus. Kehilangan darah dan mukus yang berlangsung kronis dapat
mengakibatkan anemia dan hypoproteinemia. Nyeri kolik hebat ditemukan pada abdomen
bagian bawah dan sedikit mereda bila defekasi.  ( Silvya A. Price & Lorraine M. Wibson,
2006 )
6

d. Patofisiologi

Kolitis ulseratif adalah penyakit ulseratif dan inflamasi berulang dari lapisan mukosa
kolon dan rektum. Puncak insiden kolitis ulseratif adalah pada usia 30 sampai 50 tahun.
Perdarahan terjadi sebagai akibat dari ulserasi. Lesi berlanjut, yang terjadi satu secara
bergiliran, satu lesi diikuti oleh lesi yang lainnya. Proses penyakit mulai pada rektum dan
akhirnya dapat mengenai seluruh kolon. Akhirnya usus menyempit, memendek, dan menebal
akibat hipertrofi muskuler dan deposit lemak. (Brunner & Suddarth, 2002, hal 1106).
Kolitis ulseratif merupakan penyakit primer yang didapatkan pada kolon, yang
merupakan perluasan dari rektum. Kelainan pada rektum yang menyebar kebagian kolon
yang lain dengan gambaran mukosa yang normal tidak dijumpai. Kelainan ini akan behenti
pada daerah ileosekal, namun pada keadaan yang berat kelainan dapat terjadi pada ileum
terminalis dan appendiks. Pada daerah ileosekal akan terjadi kerusakan sfingter dan terjadi
inkompetensi. Panjang kolon akan menjadi 2/3 normal, pemendekan ini disebakan terjadinya
kelainan muskuler terutama pada kolon distal dan rektum. Terjadinya striktur tidak selalu
didapatkan pada penyakit ini, melainkan dapat terjadi hipertrofi lokal lapisan muskularis yang
akan berakibat stenosis yang reversibel
Lesi patologik awal hanya terbatas pada lapisan mukosa, berupa pembentukan abses
pada kriptus, yang jelas berbeda dengan lesi pada penyakit crohn yang menyerang seluruh
tebal dinding usus. Pada permulaan penyakit, timbul edema dan kongesti mukosa. Edema
dapat menyebabkan kerapuhan hebat sehingga terjadi perdarahan pada trauma yang hanya
ringan, seperti gesekan ringan pada permukaan.
Pada stadium penyakit yang lebih lanjut, abses kriptus pecah menembus dinding kriptus
dan menyebar dalam lapisan submukosa, menimbulkan terowongan dalam mukosa. Mukosa
kemudian terlepas menyisakan daerah yang tidak bermukosa (tukak). Tukak mula- mula
tersebar dan dangkal, tetapi pada stadium yang lebih lanjut, permukaan mukosa yang hilang
menjadi lebih luas sekali sehingga menyebabkan banyak kehilangan jaringan, protein dan
darah. (Harrison, 2000, hal 161)

e. Komplikasi

1. Hemorragic / Perdarahan, merupakan komplikasi yang sering


menyebabkan anemiakarena kekurangan zat besi. Pada 10% penderita, serangan pertama
sering menjadi berat, dengan perdarahan yang hebat, perforasi atau penyebaran infeksi.
7

2. Kolitis Toksik, terjadi kerusakan pada seluruh ketebalan dinding usus.


Kerusakan ini menyebabkan terjadinya ileus, dimana pergerakan dinding usus terhenti,
sehingga isi usus tidak terdorong di dalam salurannnya. Perut tampak menggelembung.
Usus besar kehilangan ketegangan ototnya dan akhirnya mengalami pelebaran.
3. Kanker Kolon (Kanker Usus Besar). Resiko kanker usus besar meningkat pada orang
yang menderita kolitis ulserativa yang lama dan berat.
4. Fistula dan fisura abses rectal
5. Dilatasi toksik atau megakolon toksik
6. Perforasi usus
7. Karsinoma kolon
8. Neoplasma malignan
9.  Pielonefritis
10. Nefrolitiasis
11. Kalanglokarsinoma
12. Artritis
13. Retinitis, iritis
14. Eritema nodusum (Brunner & Suddarth, 2002)

Komplikasi kolitis ulseratif dapat bersifat lokal ataupun sistemik. Fistula, fisura dan
abses rektal tidak sering seperti pada colitis granulomaltosa. Kadang- kadang terbentuk
fistula rektovagina, dan beberapa penderita dapat mengalami penyempitan lumen usus akibat
fibrosis yang umumnya lebih ringan.
Salah satu komplikasi yang lebih berat adalah dilatasi toksik atau megakolon, dimana
terjadi paralisis fungsi motorik kolon tranversum disertai dilatasi cepat segmen usus tersebut.
Megakolon toksik paling sering menyertai pankolitis, mortalitas sekitar 30% dan perforasi
usus sering terjadi. Pengobatan untuk komplikasi ini adalah kolektomi darurat.
Komplikasi lain yang cukup bermakna adalah karsinoma kolon, dimana frekuensinya
semakin meningkat pada penderita yang telah menderita lebih dari 10 tahun pertama
penyakit, mungkin hal ini mencerminkan tingginya angka pankolitik pada
anak.Perkembangan karsinoma kolon yang terdapat dala pola penyakit radang usus
menunjukkan perbedaan penting jika dibandinkan dengan karsinoma yang berkembang pada
populasi nonkolitik. Secara klinis banyak tanda peringatan dini dari neoplasma yaitu
perdarahan rektum, perubahan pola buang air besar) akan menyulitkan interpretasi pola
kolitis. Pada pasien kolitis distribusi pada kolon lebih besar dari pada pasien nonkolitis. Pada
pasien non kolitis sebagian besar karsinoma pada bagian rekosigmoid, yang dapat dicapai
dengan sigmoidoskopi. Pada pasien kolitis, tumor seringkali multiple, datar dan
menginfiltrasi dan tampaknya memilki tingkat keganasan yang lebih tinggi.
8

Komplikasi sistemik yang terjadi sangat beragam, dan sukar dihubungkan secara kausal
terhadap penyakit kolon. Komplikasi ini berupa pioderma gangrenosa, episkleritis, uveitis,
skleritis, dan spondilitis anilosa. Gangguan fungsi hati sering terjadi pada kolitis ulseratif dan
sirosis hati merupakan komplikasi yang sudah dapat diterima. Adanya komplikasi sistemik
berat dapat menjadi indikasi pembedahan pada kolitis ulseratif, bahkan bila gejala- gejala
kolon adalah ringan sekalipun.

f. Penatalaksanaan

Penatalaksanaan Keperawatan
1. Masukan diet dan cairan
Cairan oral, diet rendah residu-tinggi protein-tinggi kalori, dan terapi suplemem vitamin
dan pengganti besi diberikan untuk memenuhui kebutuhan nutrisi. Ketidak- seimbangan
cairan dan elektrolit yang dihubungkan dengan dehidrasi akibat diare, diatasi dengan terapi
intravena sesuai dengan kebutuhan. Adanya makanan yang mengeksaserbasi diare harus
dihindari. Susu dapat menimbulkan diare pada individu intoleran terhadap lactose.Selain itu
makanan dingin dan merokok juga dapat dihindari, karena keduanya dapat meningkatkan
morbilitas usus. Nutrisi parenteral total dapat diberikan. (Brunner & Suddarth, 2002, hal
1106-1107).
2. Psikoterapi
Ditunjukkan untuk menentukan faktor yang menyebabkan stres pada pasien,
kemampuan menghadapi faktor-faktor ini, dan upaya untuk mengatasi konflik sehingga
mereka tidak berkabung karena kondisi mereka. (Brunner & Suddarth, 2002, hal 1108).

Penatalaksanaan Medis
1. Terapi Obat - obatan
Terapi obat-obatan. Obat-obatan sedatif dan antidiare/antiperistaltik digunakan untuk
mengurangi peristaltik sampai minimum untuk mengistirahatkan usus yang terinflamasi.
Terapi ini dilanjutkan sampai frekuensi defekasi dan kosistensi feses pasien mendekati
normal.
Sulfonamida seperti sulfasalazin (azulfidine) atau sulfisoxazol (gantrisin) biasanya efektif
untuk menangani inflamasi ringan dan sedang. Antibiotik digunakan untuk infeksi sekunder,
9

terutama untuk komplikasi purulen seperti abses, perforasi, dan peritonitis. Azulfidin
membantu dalam mencegah kekambuhan. (Brunner & Suddarth, 2002, hal 1107-1108).
2.   Pembedahan
Pembedahan umunya digunakan untuk mengatasi kolitis ulseratif bila penatalaksaan
medikal gagal dan kondisi sulit diatasi, intervensi bedah biasanya diindikasi untuk kolitis
ulseratif. Pembedahan dapat diindikasikan pada kedua kondisi untuk komplikasi seperti
perforasi, hemoragi, obstruksi megakolon, abses, fistula, dan kondisi sulit sembuh.(Cecily
Lynn betz & Linda sowden. 2007, hal 323-324)

Pemeriksaan Penunjang
1. Gambaran Radiologi
2. Foto polos abdomen
3. Barium enema
4. Ultrasonografi ( USG )
5. CT-scan dan MRI
6. Pemeriksaan Endoskopi ( Pierce A.Grace & Neil.R.Borley, 2006, hal 110 )

2.2 Proses Keperawatan

a. Pengkajian

1. Identitas
1)   Identitas pasien
Meliputi : Nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, agama, pekerjaan, alamat, tanggal masuk
rumah sakit, tanggal pemeriksaan, diagnosa medis.
2)   Identitas penanggung jawab
Meliputi : Nama, umur, pendidikan, pekerjaan, alamat, dan hubungan dengan klien.

2. Keluhan utama
Biasanya pada klien yang terkena kolitis ulseratif mengeluh nyeri perut, diare,
demam,anoreksia.
10

3. Riwayat kesehatan

-  Riwayat kesehatan sekarang


Perdarahan anus, diare dan sakit perut, peningkatan suhu tubuh, mual, muntah,
anoreksia, perasaan lemah, dan penurunan nafsu makan.

-  Riwayat kesehatan dahulu


Untuk menentukan penyakit dasar kolitis ulseratif. Pengkajian predisposisi seperti
genetik, lingkungan, infeksi, imunitas, makanan dan merokok perlu di dokumentasikan.
Anamnesis penyakit sistemik, seperti DM, hipertensi, dan tuberculosis dipertimbangkan
sebagai sarana pengkajian proferatif.

4. Pemeriksaan Fisik

a) Keadaan umum : compos mentis


b) Vital sign, meliputi
 Tekanan darah: Dalam batas normal (120/80 mmHg)
 Nadi : Takikardia atau diatas normal (> 100 x/menit)
 Suhu : Klien mengalami demam (> 37,5o C )
 Respirasi : Dalam batas normal (16- 20 x/menit)

c) Pemeriksaan sistem tubuh


1. Sistem pencernaan : 
- Terjadi pembengkakan pada abdomen
- Nyeri tekan pada abdomen,
- Bising usus lebih dari normal (normalnya 5-35x/menit) 
- Anoreksia
2. Sistem pernafasan :  Respirasi normal (16-20 x/menit).
3. Sistem kardiovaskuler :  Peningkatan nadi (takikardi)
4. Sistem neurologi :
- Peningkatan suhu tubuh (demam)
- Kelemahan pada anggota gerak 
5. Sistem integumen                    :  Kulit dan membran mukosa kering
danturgortidakelastis.  
11

6. Sistem musculoskeletal :  Kelemahan otot dan tonus otot buruk


7. Sistem eliminasi :
- Pada saat buang air besar mengalami diare
- Feses mengandung darah 

d) Pola aktivitas sehari-hari berhubungan dengan :

-  Aspek biologi     : Keletihan, kelemahan, anoreksia, penurunan berat badan.


-  Aspek psiko       : Perilaku berhati-hati, gelisah.
-  Aspek sosio        : Ketidakmampuan aktif dalam sosial.

5.     Pemeriksaan Diagnostik
- Kolonoskopi, ulserasi panjang terbagi oleh mukosa normal yang timbul di kolon kanan.
- Enema barium disertai pemeriksaan sinar X dan sigmoidoskopi akan memperlihatkan
perdarahan mukosa disertai ulkus
- Analisis darah akan memperlihatkan anemia dan penurunan kadar kalium

b. Diagnosa

1. Diare ( 00013 ) b/d proses inflamasi, iritasi, ansietas, dan malabsorpsi


2. Kekurangan volume cairan ( 00027 ) b/d anoreksia, mual dan kehiangan cairan aktif
3. Ketidakseimbangan nutrisi, kurang dari kebutuhan tubuh ( 00002 ) b/d
ketidakmampuan mengabsorpsi nutrient, dan ketidakmampuan untuk mencerna
makanan

c. Intervensi

No Diagnosa Tujuan&Kriteria hasil Intervensi


1. Diare ( 00013 ) Setelah dilakukan asuhan 1. Kaji dan
Definisi : fasase feses yang keperawatan selama dokumentasikan,
lunak dan tidak berbentuk 3x24 jam diharapkan frekuensi, warna,
Factor berhubungan : masalah klien dapat konsisten, jumlah
 Proses inflamasi teratasi ( ukuran ) feses
 Iritas Kriteria hasil : nyeri
 Ansietas abdomen pada klien 2. Bantu klien untuk
12

 Malabsorpsi berkurang mengidentifikasi


Batasan karakteristik : stressor yang berperan
 Nyeri abdomen terhadap terjadinya diare
 Sedikitnya tiga kali
defekasi per hari 3. Informasikan klien
tentang kemungkinan
obat yang
mengakibatkan diare

4. Konsultasikan dengan
dokter jika tanda dan
gejala diare tetap
2. Kekurangan volume cairan Setelah dilakukan asuhan 1. Pantau warna, jumlah,
( 00027) keperawatan selama dan frekuensi
Definisi : penurunan cairan 3x24 jam diharapkan kehilangan cairan
intravaskuler, interstisial, kekurangan volume
dan.atau intraseluler. Ini cairan klien dapat 2. Pantau status hidrasi (
mengacu pada dehidrasi, terpenuhi mis: kelembapan
kehilangan cairan saja tanpa Kriteria hasil : membrane mukosa,
perubahan pada natrium  Membrane keadekuatan nadi, dan
Factor berhubungan : mukosa kembali tekanan darah
 Anoreksia normal ortostastik )
 Mual
 Kehilangan cairan aktif 3. Tentukan jumlah

Batasan karakteristik : cairan masuk dalam 24

 Penurunan berat badan jam, hiyunh asupan


yang di inginkan,
 Penurunan tugor kulit
sepanjang sip siang, sore
 Kelemahan kulit kering
dan malam

4. Berikan terapi IV

4. Anjurkan pasien
untuk
13

menginformasik
an perawat bila
haus

3. Nyeri akut Setelah dilakukan asuhan 1. Monitor TTV


Definisi : pengalaman sensori keperawatan selama 3 x 2. Atur posisi klien
dan emosional yang tidak 24 jam, diharapkan 3. Berikan kompres
menyenangkan yang muncul masalah klien dapat hangat lokal
akibat kerusakan jaringan yang teratasi dengan kriteria 4. Kurangi aktivitas
aktual atau potensial atau hasil: 5. Ajarkan teknik
digambarkan dalam hal 1. Rasa nyeri relaksasi
kerusakan sedemikian rupa berkurang 6. Kolaborasi
awitan yang tiba – tiba atau 2. Bising usus pemberian
lambat dari intensitas ringan normal analgesik
hingga berat dengan akhir yang 3. Frekuensi BAB
dapat diantisispasi berlangsung berkurang
kurang dari 6 bulan
Berhubungan dengan:
1. Agen cidera ( mis,
biologis, zat kimia, fisik,
dan psikologis)
4. Ketidakseimbangan nutrisi, Setelah dilakukan asuhan 1. Pantau perilaku
kurang dari kebutuhan tubuh keperawatan selama pasien yang
( 00002) 3x24 jam diharapkan berhubungan dengan
Definisi : asupan nutrisi tidak masalah klien dapat penurunan berat badan
cukup untuk memenuhi teratasi dengan
kebutuhan metabolic Kriteria hasil : 2. Komunikasikan
Factor berhubungan : Massa tubuh dan berat harapan terhadap
 Ketidakmampuan badan dalam batas kesesuaian asupan
mengabsorpsi nutrient normal makanan dan cairan
 Ketidakmampuan untuk serta jumlah latihan fisik
mencerna makanan
Batasan karakteristik : 3. Instruksikan pasien
 Ketidakmampuan untuk untuk menarik nafas
14

mempertahankan dalam secara perlahan


mengisap yang efektif dan menelan secara
sadar untuk mengurangi
terjadinya mual dan
muntah

4. Berikan obat
antiemetic dan analgesic
sebelum makan dan
sesuai dengan jadwal
yang dianjurkan
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Kolitis ulseratif adalah penyakit radang usus besar pada kolon dan rektum yang
berlangsung lama yang menyebabkan luka atau lesi. Penyebab kolitis ulseratif belum
diketahui. Faktor yang berperan dalam penyakit kolitis ulseratif adalah faktor genetik karena
sistem imun dalam tubuh terhadap virus atau bakteri yang menyebabkan terus
berlangsungnya peradangan dalam dinding usus. Faktor lingkungan juga berpengaruh
misalnya diet, diet rendah serat makanan dan menyusui. Gejala utama kolitis ulseratif adalah
diare, nyeri abdomen, tanesmus, dan perdarahan rektal. Tindakan medis yang dilakukan
dengan cara memberi terapi obat-obatan dan dilakukan pebedahan. Sedangkan tindakan
keperawatannya masukan diet dan cairan dan psikoterapi.

3.2 Saran

Sebagai perawat kita harus mengerahui gejala-gejala yang ditimbulkan dari kolitis ulseratif.
Sehingga perawat tepat dalam membuat asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan
kolitis ulseratif.

15
DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddart. 2002. Keperawatan Medikal Bedah edisi 8. Jakarta : EGC.


Harrison. 2000. Prinsip-Prinsip Ilmu Penyakit Dalam, Volume 4. Cetakan pertama, Jakarta :
EGC
Nancy. R. Ahern, Judith M. Wilkinson. Buku Saku Diagnosis Keperawatan. Edisi 9. Jakarta :
EGC
Silvya A. Price , lorraine M. Wilson. Patofisiologi konsep klinis proses – proses penyakit ,
vol 1 edisi 6, jakarta: EGC