Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH FISIKA RADIASI

Menerangkan tentang Detektor Radiasi

Disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Fisika Radiasi Radiologi

Dosen Pembimbing : Imam suyudi S,Si

Disusun oleh :

I KOMANG PANDE ARIEF WIRANATA


NIM : 45010619A016

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN CIREBON

PROGAM STUDI DIII RADIODIAGNOSTIK

TAHUN 2020

1
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang maha Pengasih lagi Maha Penyayang, saya
panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat Nya, yang telah melimpahkan rahmat
dan hidayat-Nya kepada saya, sehingga saya bisa menyelesaikan makalah mengenai
Menerangkan tentang Detektor Radiasi

Makalah ini sudah selesai saya susun dengan maksimal dengan bantuan pertolongan dari
bebagai pihak sehingga bisa memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu, saya
menyampaikan banyak terimakasih kepada semua pihak yang sudah ikut dalam
pembuatan makalah ini. Terlepas dari semua itu, saya menyadari seutuhnya bahwa
masih jauh dari kata sempurna baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya.
Oleh karena itu, saya terbuka untuk menerima segala masukan dan kritik yang bersifat
membangun dari pembaca sehingga saya bisa melakukan perbaikan makalah sehingga
menjadi makalah yang baik dan benar.

Akhir kata saya meminta semoga makalah tentang ini bisa memberi manfaat ataupun
inspirasi kepada pembaca.

Cirebon, 25 Maret 2020

Ikomang

Penyusun

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................... 2


DAFTAR ISI .................................................................................................. 3

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ..................................................................... 4
1.2 Rumusan Masalah ................................................................. 4
1.3 Tujuan ................................................................................... 4

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Detektor Isian Gas .................................................................. 5
2.2 Detektor Sintilasi.................................................................... 8
2.3 Detektor Zat Padat ................................................................. 10

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan ........................................................................... 14

DAFTAR PUSTAKA

3
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Radiasi adalah suatu berkas zarah atau foton yang dipancarkan dari suatu sumber yang
mengalami proses perubahan inti atom dari keadaan tidak stabil menjadi stabil. Hal yang paling
mendasar untuk mengendalikan bahaya radiasi adalah mengetahui besarnya radiasi yang
dipancarkan oleh suatu sumber radiasi baik melalui pengukuran maupun perhitungan.
Besarnya radiasi dapat diukur dengan menggunakan alat ukur radiasi berupa detektor. Detektor
nuklir mempunyai jenis serta bentuk yang cukup banyak. Seiring dengan perkembangan
zaman, berbagai penemuan dan pengembangan telah dilakukan terhadap sistem pencacah
radiasi untuk meningkatkan aplikasi dan kemudahan penggunaannya. Terdapat beberapa jenis
detektor sebagai alat ukur radiasi, yaitu detektor isian gas, detektor sintilasi dan detektor
semikonduktor. Oleh karena itu, untuk memahami jenis dan kegunaan detektor tersebut,
pemakalah akan membahasanya dalam makalah yang berjudul “Detektor Radiasi”.

B. Tujuan

Makalah yang berjudul “Deteksi Radiasi Inti” bertujuan untuk :

1. Mengetahui jenis-jenis detektor radiasi.

2. Mengetahui mekanisme kerja detektor radiasi.

4
BAB II

PEMBAHASAN

Partikel alfa, beta, gamma, neutron atau proton yang dilepas dari bahan radioaktif
ataupun radiasi oleh alam, dapat diukur nilai parameter fisisnya hanya bila terdapat instrumen
yang dapat mendeteksi atau mengukur parameter radiasi itu. Instrumen itu disebut detektor
radiasi. Bentuk, bahan dan kepekaan dari setiap detektor disesuaikan dengan kebutuhan
pengguna. Telah dikenal beberapa jenis detektor, yaitu detektor isian gas, detektor sintilasi,
dan detektor semikonduktor (Jati dan Priyambodo, 2010: 307).

2.1 Detektor Isian Gas

Detektor isian gas adalah detektor yang paling banyak digunakan untuk mengukur
radiasi (Safitri, dkk, 2011). Detektor isian gas merupakan tabung tertutup yang berisi gas dan
terdiri dari 2 buah elektrode. Dinding tabung sebagai elektrode negatif (katode) dan kawat yang
terbentang di dalam tabung pada poros sebagai elektrode positif (anode). Skema detektor isian
gas disajikan pada gambar berikut (Surakhman dan Sayono, 2009).

Gambar 1. Detektor isian gas

Radiasi yang memasuki detektor akan mengionisasi gas dan menghasilkan ion-ion
positif dan ion-ion negatif (elektron). Jumlah ion yang akan dihasilkan tersebut sebanding
dengan energi radiasi dan berbanding terbalik dengan daya ionisasi gas. Daya ionisasi gas
berkisar dari 25 eV s.d. 40 eV. Ion-ion yang dihasilkan di dalam detektor tersebut akan
memberikan kontribusi terbentuknya pulsa listrik ataupun arus listrik. Adapun skema dari
proses ionisasi disajikan pada gambar berikut

5
Gambar 2. Proses ionisasi

Ion-ion primer yang dihasilkan oleh radiasi akan bergerak menuju elektroda yang
sesuai. Pergerakan ion-ion tersebut akan menimbulkan pulsa atau arus listrik. Pergerakan ion
tersebut di atas dapat berlangsung bila di antara dua elektroda terdapat cukup medan listrik.
Bila medan listriknya semakin tinggi maka energi kinetik ion-ion tersebut akan semakin besar
sehingga mampu untuk mengadakan ionisasi lain. Ion-ion yang dihasilkan oleh ion primer
disebut sebagai ion sekunder. Bila medan listrik di antara dua elektroda semakin tinggi maka
jumlah ion yang dihasilkan oleh sebuah radiasi akan sangat banyak dan disebut proses
avalanche.

Jumlah pasangan ion yang terbentuk bergantung pada jenis dan energi radiasinya.

• Radiasi alfa dengan energi 3 MeV misalnya, mempunyai jangkauan (pada tekanan dan
suhu standar) sejauh 2,8 cm dapat menghasilkan 4.000 pasangan ion per mm
lintasannya.
• Radiasi beta dengan energi kinetik 3 MeV mempunyai jangkauan dalam udara (pada
tekanan dan suhu standar) sejauh 1.000 cm dan menghasilkan pasangan ion sebanyak
4 pasang tiap mm lntasannya.

Terdapat tiga jenis detektor isian gas yang bekerja pada daerah yang berbeda yaitu
detektor kamar ionisasi, detektor proporsional, dan detektor Geiger Mueller (GM).

1. Detektor Kamar Ionisasi

Detektor kamar ionisasi beroperasi pada tegangan paling rendah. Jumlah elektron yang
terkumpul di anoda sama dengan jumlah yang dihasilkan oleh ionisasi primer. Dalam kamar
ionisasi ini tidak terjadi pelipat-gandaan (multiplikasi) jumlah ion oleh ionisasi sekunder.
Dalam daerah ini dimungkinkan untuk membedakan antara radiasi yang berbeda ionisasi
spesifikasinya, misalnya antara partikel alfa, beta dan gamma. Namun, arus yang timbul sangat
kecil, kira-kira 10-12 A sehingga memerlukan penguat arus sangat besar dan sensitivitas alat
baca yang tinggi (Hidayanto, 2009).

2. Detektor Proporsional

Salah satu kelemahan dalam mengoperasikan detektor pada daerah kamar ionisasi
adalah out put yang dihasilkan sangat lemah sehingga memerlukan penguat arus sangat besar

6
dan sensitivitas alat baca yang tinggi. Untuk mengatasi kelemahan tersebut, tetapi masih tetap
dapat memanfaatkan kemampuan detektor dalam membedakan berbagai jenis radiasi, maka
detektor dapat dioperasikan pada daerah proporsional (Hidayanto, 2009).

Alat pantau proporsional beroperasi pada tegangan yang lebih tinggi daripada kamar
ionisasi. Daerah ini ditandai dengan mulai terjadinya multiplikasi gas yang besarnya
bergantung pada jumlah elektron mula-mula dan tegangan yang digunakan. Karena terjadi
multiplikasi maka ukuran pulsa yang dihasilkan sangat besar (Hidayanto, 2009).

Multiplikasi terjadi karena elektron-elektron yang dihasilkan oleh ionisasi primer


dipercepat oleh tegangan yang digunakan sehingga elektron tersebut memiliki energi yang
cukup untuk melakukan ionisasi berikutnya (ionisasi sekunder). Meskipun terjadi multiplikasi,
namun jumlah elektron yang dihasilkan tetap sebanding (proporsional) dengan ionisasi mula-
mula. Karena itu dinamakan alat pantau proporsional (Hidayanto, 2009).

Keuntungan dari alat pantau proporsional adalah bahwa alat ini mampu mendeteksi
radiasi dengan intensitas cukup rendah. Namun, memerlukan sumber tegangan yang super
stabil, karena pengaruh tegangan pada daerah ini sangat besar terhadap tingkat multiplikasi gas
dan juga terhadap tinggi pulsa out put (Hidayanto, 2009).

3. Detektor Geiger Mueller

Sejak ditemukan detektor radiasi pengion oleh Hans Geiger pada tahun 1908, kemudian
tahun 1928 disempurnakan oleh Walther Mueller menjadi tabung detektor Geiger-Mueller
yang konstruksinya sederhana dibandingkan dengan jenis detektor yang lain. Detektor Geiger-
Mueller terdiri dari suatu tabung logam atau gelas dilapisi logam yang biasanya diisi gas seperti

7
argon, neon, helium atau lainnya (gas mulia dan gas poliatomik) dengan perbandingan tertentu
(Safitri, dkk, 2011).

Detektor Geiger (Geiger Counter) merupakan alat ukur cacah radiasi yang berdasarkan
pada prinsip ionisasi atom-atom gas. Detektor ini berisi gas pada tekanan rendah, kawat halus
yang berfungsi sebagai anode, dan selubung silinder sebagai katode. Jika terdapat partikel dari
radiasi bahan radioaktif yang masuk melalui jendela (window) detektor, maka partikel itu
dipercepat oleh anode, sehingga dapat mengionisasi gas disekitar anode, dan akibatnya
diperoleh pulsa listrik. Cacah pulsa listrik itu sebanding dengan jumlah partikel dari bahan
radioaktif yang masuk detektor (Jati dan Priyambodo, 2010: 308).

2.2 Detektor Sintilasi

Detektor jenis ini merupakan alat ukur cacah radiasi oleh bahan radioaktif, atau radiasi
oleh alam pada berbagai nilai tenaga dari partikel atau foton yang dideteksi. Jika sinar jatuh
pada kristal scintilator (NaI) maka kristal berpendar. Hal ini disebabkan oleh elektron atau atom
dari kristal yang tereksitasi, dan kemudian kembali ke arah bawah dengan mengemisi foton.
Radiasi foton itu mengenai katode, dan selanjutnya katode melepas elektron yang disebut
radiasi fotokatode. Selanjutnya, kelajuan elektron diperbesar dengan melewatkannya pada
beda potensial bertingkat sehingga potensialnya naik secara bertahap, serta diperkuat oleh
tabung fotomultiplier. Detektor ini juga mampu memberi informasi tenaga dari partikel atau
foton yang ditangkap oleh detektor itu (Jati dan Priyambodo, 2010: 308).

Detektor sintilasi terdiri dari dua bagian, yaitu bahan sintilator dan photomultiplier.
Bahan sintilator merupakan suatu bahan padat, cair maupun gas, yang akan menghasilkan
percikan cahaya bila dikenai radiasi pengion. Photomultiplier digunakan untuk mengubah
percikan cahaya yang dihasilkan bahan sintilator menjadi pulsa listrik.

a. Sintilator Cair (Liquid Scintillation)

Detektor ini sangat spesial dibandingkan dengan jenis detektor yang lain karena
berwujud cair. Sampel radioaktif yang akan diukur dilarutkan dahulu ke dalam sintilator cair
ini sehingga sampel dan detektor menjadi satu kesatuan larutan yang homogen. Secara
geometri pengukuran ini dapat mencapai efisiensi 100 % karena semua radiasi yang
dipancarkan sumber akan “ditangkap” oleh detektor. Metode ini sangat diperlukan untuk
mengukur sampel yang memancarkan radiasi b berenergi rendah seperti tritium dan C14.

8
Gambar 3. Sintilator Cair

Masalah yang harus diperhatikan pada metode ini adalah quenching yaitu berkurangnya
sifat transparan dari larutan (sintilator cair) karena mendapat campuran sampel. Semakin pekat
konsentrasi sampel maka akan semakin buruk tingkat transparansinya sehingga percikan
cahaya yang dihasilkan tidak dapat mencapai photomultiplier.

Proses sintilasi pada bahan ini dapat dijelaskan dengan gambar di bawah. Di dalam
kristal bahan sintilator terdapat pita-pita atau daerah yang dinamakan sebagai pita valensi dan
pita konduksi yang dipisahkan dengan tingkat energi tertentu. Pada keadaan dasar, ground
state, seluruh elektron berada di pita valensi sedangkan di pita konduksi kosong. Ketika
terdapat radiasi yang memasuki kristal, terdapat kemungkinan bahwa energinya akan terserap
oleh beberapa elektron di pita valensi, sehingga dapat meloncat ke pita konduksi. Beberapa
saat kemudian elektron-elektron tersebut akan kembali ke pita valensi melalui pita energi bahan
aktivator sambil memancarkan percikan cahaya.

Gambar 4. Proses Sintilasi

Jumlah percikan cahaya sebanding dengan energi radiasi diserap dan dipengaruhi oleh
jenis bahan sintilatornya. Semakin besar energinya semakin banyak percikan cahayanya.
Percikan-percikan cahaya ini kemudian ‘ditangkap’ oleh photomultiplier.

Berikut ini adalah beberapa contoh bahan sintilator yang sering digunakan sebagai detektor
radiasi.

1) Kristal NaI(Tl)
Detektor NaI(Tl) merupakan detektor jenis sintilasi.

9
Bahan sintilator berupa kristal tunggal Natrium Iodida yang didopping dengan sedikit
Tallium.
Sinar gamma yang terdeteksi berinteraksi dengan atom-atom bahan sintilator berupa
interaksi efek fotolistrik, hamburan Compton, dan efek pembentukan pasangan.
Elektron bebas hasil interaksi selanjutnya akan mengalami proses ionisasi dan
penetralan (excitasi).

2) Kristal ZnS(Ag)

3) Kristal LiI(Eu)

4) Sintilator Organik

b. Tabung Photomultiplier

Sebagaimana telah dibahas sebelumnya, setiap detektor sintilasi terdiri atas dua bagian
yaitu bahan sintilator dan tabung photomultiplier. Bila bahan sintilator berfungsi untuk
mengubah energi radiasi menjadi percikan cahaya maka tabung photomultiplier ini berfungsi
untuk mengubah percikan cahaya tersebut menjadi berkas elektron, sehingga dapat diolah lebih
lanjut sebagai pulsa / arus listrik.

Tabung photomultiplier terbuat dari tabung hampa yang kedap cahaya dengan
photokatoda yang berfungsi sebagai masukan pada salah satu ujungnya dan terdapat beberapa
dinode untuk menggandakan elektron seperti terdapat pada gambar 4. Photokatoda yang
ditempelkan pada bahan sintilator, akan memancarkan elektron bila dikenai cahaya dengan
panjang gelombang yang sesuai. Elektron yang dihasilkannya akan diarahkan, dengan
perbedaan potensial, menuju dinode pertama. Dinode tersebut akan memancarkan beberapa
elektron sekunder bila dikenai oleh elektron.

Gambar 5. Tabung Photomultiplier

Elektron-elektron sekunder yang dihasilkan dinode pertama akan menuju dinode kedua
dan dilipatgandakan kemudian ke dinode ketiga dan seterusnya sehingga elektron yang
terkumpul pada dinode terakhir berjumlah sangat banyak. Dengan sebuah kapasitor kumpulan
elektron tersebut akan diubah menjadi pulsa listrik.

10
c. Kelebihan Detektor Sintilasi

1. Bekerja sangat cepat; yaitu dapat memberikan pulsa listrik dan kembali ke tahanan
semula, kemudian siap digunakan lagi dalam waktu yang sangat pendek (10-8 s).
2. Dapat dirancang untuk memberikan ukuran pulsa yang berbanding lurus dengan
kehilangan energy radiasi di dalam sintilator.
3. Mempunyai efisiensi pendeteksian terhadap sinar gamma lebih tinggi dibandingkan
pencacah isi gas.

2.3 Detektor Zat Padat

Berdasarkan daya hantarnya, bahan dibagi menjadi: konduktor, semikonduktor, dan isolator.

Pada kristal, elektron berada pada tingkat-tingkat energi yang sangat berdekatan hingga
menyerupai pita energi.

Detektor ini menggunakan bahan utama semikonduktor yang merupakan gandengan


positif (P) dan negatif (N). Jika detektor tidak teradiasi, maka tidak mengalirkan arus listrik,
sedangkan apabila ada radiasi dapat memberikan lubang (hole) pada bahan gabungan, sehingga
muncul arus listrik. Alat ini cukup sederhana, hanya saja volume aktif bahan yang dimiliki
sangat kecil (Jati dan Priyambodo, 2010: 309).

Bahan semikonduktor, yang diketemukan relatif lebih baru daripada dua jenis detektor
di atas, terbuat dari unsur golongan IV pada tabel periodik yaitu silikon atau germanium.
Detektor ini mempunyai beberapa keunggulan yaitu lebih effisien dibandingkan dengan
detektor isian gas, karena terbuat dari zat padat, serta mempunyai resolusi yang lebih baik
daripada detektor sintilasi.

Gambar 6. Bahan semikonduktor

Pada dasarnya, bahan isolator dan bahan semikonduktor tidak dapat meneruskan arus
listrik. Hal ini disebabkan semua elektronnya berada di pita valensi sedangkan di pita konduksi
kosong. Perbedaan tingkat energi antara pita valensi dan pita konduksi di bahan isolator sangat
besar sehingga tidak memungkinkan elektron untuk berpindah ke pita konduksi ( > 5 eV )
seperti terlihat di atas. Sebaliknya, perbedaan tersebut relatif kecil pada bahan semikonduktor

11
( < 3 eV ) sehingga memungkinkan elektron untuk meloncat ke pita konduksi bila mendapat
tambahan energi.

Energi radiasi yang memasuki bahan semikonduktor akan diserap oleh bahan sehingga
beberapa elektronnya dapat berpindah dari pita valensi ke pita konduksi. Bila di antara kedua
ujung bahan semikonduktor tersebut terdapat beda potensial maka akan terjadi aliran arus
listrik. Jadi pada detektor ini, energi radiasi diubah menjadi energi listrik.

Gambar 7. Proses perubahan energi radiasi menjadi energi listrik

Sambungan semikonduktor dibuat dengan menyambungkan semikonduktor tipe N


dengan tipe P (PN junction). Kutub positif dari tegangan listrik eksternal dihubungkan ke tipe
N sedangkan kutub negatifnya ke tipe P seperti terlihat pada Gambar 7. Hal ini menyebabkan
pembawa muatan positif akan tertarik ke atas (kutub negatif) sedangkan pembawa muatan
negatif akan tertarik ke bawah (kutub positif), sehingga terbentuk (depletion layer) lapisan
kosong muatan pada sambungan PN. Dengan adanya lapisan kosong muatan ini maka tidak
akan terjadi arus listrik. Bila ada radiasi pengion yang memasuki lapisan kosong muatan ini
maka akan terbentuk ion-ion baru, elektron dan hole, yang akan bergerak ke kutub-kutub positif
dan negatif. Tambahan elektron dan hole inilah yang akan menyebabkan terbentuknya pulsa
atau arus listrik.

Oleh karena daya atau energi yang dibutuhkan untuk menghasilkan ion-ion ini lebih
rendah dibandingkan dengan proses ionisasi di gas, maka jumlah ion yang dihasilkan oleh
energi yang sama akan lebih banyak. Hal inilah yang menyebabkan detektor semikonduktor
sangat teliti dalam membedakan energi radiasi yang mengenainya atau disebut mempunyai
resolusi tinggi. Sebagai gambaran, detektor sintilasi untuk radiasi gamma biasanya mempunyai
resolusi sebesar 50 keV, artinya, detektor ini dapat membedakan energi dari dua buah radiasi
yang memasukinya bila kedua radiasi tersebut mempunyai perbedaan energi lebih besar
daripada 50 keV. Sedang detektor semikonduktor untuk radiasi gamma biasanya mempunyai
resolusi 2 keV. Jadi terlihat bahwa detektor semikonduktor jauh lebih teliti untuk membedakan
energi radiasi.

Sebenarnya, kemampuan untuk membedakan energi tidak terlalu diperlukan dalam


pemakaian di lapangan, misalnya untuk melakukan survai radiasi. Akan tetapi untuk keperluan
lain, misalnya untuk menentukan jenis radionuklida atau untuk menentukan jenis dan kadar
bahan, kemampuan ini mutlak diperlukan.

Kelemahan dari detektor semikonduktor adalah harganya lebih mahal, pemakaiannya


harus sangat hati-hati karena mudah rusak dan beberapa jenis detektor semikonduktor harus

12
didinginkan pada temperatur Nitrogen cair sehingga memerlukan dewar yang berukuran cukup
besar.

Keunggulan - Kelemahan Detektor

Dari pembahasan di atas terlihat bahwa setiap radiasi akan diubah menjadi sebuah pulsa
listrik dengan ketinggian yang sebanding dengan energi radiasinya. Hal tersebut merupakan
fenomena yang sangat ideal karena pada kenyataannya tidaklah demikian. Terdapat beberapa
karakteristik detektor yang membedakan satu jenis detektor dengan lainnya yaitu efisiensi,
kecepatan dan resolusi.

Efisiensi detektor adalah suatu nilai yang menunjukkan perbandingan antara jumlah
pulsa listrik yang dihasilkan detektor terhadap jumlah radiasi yang diterimanya. Nilai efisiensi
detektor sangat ditentukan oleh bentuk geometri dan densitas bahan detektor. Bentuk geometri
sangat menentukan jumlah radiasi yang dapat 'ditangkap' sehingga semakin luas permukaan
detektor, efisiensinya semakin tinggi. Sedangkan densitas bahan detektor mempengaruhi
jumlah radiasi yang dapat berinteraksi sehingga menghasilkan sinyal listrik. Bahan detektor
yang mempunyai densitas lebih rapat akan mempunyai efisiensi yang lebih tinggi karena
semakin banyak radiasi yang berinteraksi dengan bahan.

Kecepatan detektor menunjukkan selang waktu antara datangnya radiasi dan


terbentuknya pulsa listrik. Kecepatan detektor berinteraksi dengan radiasi juga sangat
mempengaruhi pengukuran karena bila respon detektor tidak cukup cepat sedangkan intensitas
radiasinya sangat tinggi maka akan banyak radiasi yang tidak terukur meskipun sudah
mengenai detektor.

Resolusi detektor adalah kemampuan detektor untuk membedakan energi radiasi yang
berdekatan. Suatu detektor diharapkan mempunyai resolusi yang sangat kecil (high resolution)
sehingga dapat membedakan energi radiasi secara teliti. Resolusi detektor disebabkan oleh
peristiwa statistik yang terjadi dalam proses pengubahan energi radiasi, noise dari rangkaian
elektronik, serta ketidak-stabilan kondisi pengukuran.

Aspek lain yang juga menjadi pertimbangan adalah konstruksi detektor karena semakin
rumit konstruksi atau desainnya maka detektor tersebut akan semakin mudah rusak dan
biasanya juga semakin mahal.

Tabel berikut menunjukkan karakteristik beberapa jenis detektor secara umum


berdasarkan beberapa pertimbangan di atas.

13
Pemilihan detektor harus mempertimbangkan spesifikasi keunggulan dan kelemahan
sebagaimana tabel di atas. Sebagai contoh, detektor yang digunakan pada alat ukur portabel
(mudah dibawa) sebaiknya adalah detektor isian gas, detektor yang digunakan pada alat ukur
untuk radiasi alam (intensitas sangat rendah) sebaiknya adalah detektor sintilasi, sedangkan
detektor pada sistem spektroskopi untuk menganalisis bahan sebaiknya detektor
semikonduktor.

BAB III

KESIMPULAN

Berdasarkan makalah yang berjudul “Detektor Radiasi”, dapat disimpulkan:

1. Terdapat tiga jenis detektor radiasi, yaitu detektor isian gas, detektor sintilasi, dan detektor
semikonduktor.

2. Setiap detektor radiasi memiliki mekanisme kerja yang berbeda-beda, seperti:

a. Detektor isian gas, yaitu dengan cara mengionisasi gas sehingga dihasilkan ion-ion positif
dan ion-ion negatif (elektron). Ion-ion primer yang dihasilkan oleh radiasi akan bergerak
menuju elektroda yang sesuai. Pergerakan ion-ion tersebut akan menimbulkan pulsa atau arus
listrik.

b. Detektor sintilasi, yaitu dengan cara memendarkan sinar yang jatuh pada kristal scintilator
(NaI) yang disebabkan oleh elektron atau atom dari kristal yang tereksitasi, dan kemudian

14
kembali ke arah bawah dengan mengemisi foton. Radiasi foton tersebut mengenai katode,
sehingga katode melepaskan elektron.

c. Detektor semikonduktor, yaitu dengan cara menyerap radiasi yang memasuki bahan
semikonduktor oleh bahan semikonduktor, sehingga beberapa elektronnya dapat berpindah
dari pita valensi ke pita konduksi. Apabila diantara kedua ujung bahan semikonduktor tersebut
terdapat beda potensial, maka akan terjadi aliran arus listrik.

DAFTAR PUSTAKA

Hidayanto, Eko. 2009. Detektor Radiasi. Diakses pada tanggal 15 April 2015

Http://www.batan.go.id/pusdiklat/elearning/Pengukuran_Radiasi/Dasar_04.htm. Diakses pada


tanggal 15 April 2015

Jati B. Murdaka Eka dan Priyambodo T. Kuntoro. 2010. Fisika Dasar untuk Mahasiswa Ilmu-
ilmu Eksakta dan Teknik. Yogyakarta: Andi Yogyakarta.

Safitri Irma, dkk. 2011. Jurnal Perbandingan Karakteristik Detektor Geiger-Mueller Self
Quenching dengan External Quenching. Diakses pada tanggal 15 April 2015.

Surakhman dan Sayono. 2009. Jurnal Pembuatan Detektor Geiger-Mueller Tipe Jendela
Samping dengan Gas Isian Argon –Etanol. Diakses pada tanggal 15 April 2015.

http://www.batan.go.id/pusdiklat/elearning/Pengukuran_Radiasi/Dasar_04.htm

http://henker17.blogspot.com/2014/07/detektor-radiasi.html

15