Anda di halaman 1dari 15

PERKEMBANGAN DAN KEMATANGAN KARIR REMAJA

Disusun Untuk Memenuhi Tugas


Mata Kuliah : BKP KARIR
Kelas : A
Dosen : Dewi Rostiana, M. Pd

Disusun Oleh:
1. Gus Khori Amri (3517084)
2. Dewi Fatikhanah (3517098)
3. Rossa Citra Afiatun Putri (3517104)
4. Larasati (3517107)

PRODI BIMBINGAN PENYULUHAN ISLAM


FAKULTAS USHULUDDIN, ADAB, DAN DAKWAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) PEKALONGAN
TAHUN AKADEMIK 2020
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Karir diartikan sebagai perjalanan hidup seseorang. Perjalanan ini
dimaksudkan bahwa seseorang mampu melakukan pemilihan serta pembuatan
keputusan dalam hidupnya. Dengan berjalannnya waktu munculah istilah
bimbingan karir. Bimbingan karir ini lah yang pada akhirnya mampu
menolong sesorang untuk menentukan minat dan bakatnya. Bimbingan karir
terdapat di berbagai jenjang kehidupan, mulai dari SD, SMP, dan SMA/
SMK. Pada tingkat SD biasanya bimbingan karir diperlukan untuk siswa siswi
kelas 6 dengan memberikan semangat dan motivasi belajar serta mendorong
agar mau untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya, pada tingkat SMP
mulailah di gali sedikit demi sedikit mengenai minat dan bakat yang biasanya
dilakukan oleh pihak sekolah dengan mengadakan tes IQ, kemudian ditingkat
SMA yaitu dengan memantapkan minat bakat serta menuntun siswa siswi
akan melanjutkan ke perguruan tinggi atau bekerja. Dalam karir tentu terdapat
masalah masalah yang akan di hadapi oleh siswa siswi diantaranya adalah
kematangan karir remaja. Dimana pada usia remajalah muncul berbagai
keinginan-keinginan yang terkadang membuat bingung untuk memilih minat
yang sesuai dengan kepribadian. Terkadang banyaknya pilihan minat juga
menjadikan siswa siswi tersebut mengukur-ulur waktu untuk menentukan
pilihan yang di inginkan. Tentu saja hal ini tidak boeh terjadi, oleh karena itu
perlulah mengetahui bagaimana perkembangan kematangan karir remaja agar
mereka dapat menentukan minat dan mengembangkan bakat secara maksimal.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana mengenai perkembangan dan kematangan karir remaja?
2. Bagaimana karakteristik perkembangan karir remaja?
3. Bagaimana indicator-indikator kematangan karir remaja?
4. Apa saja masalah-masalah dalam karir remaja?
PEMBAHASAN

A. Perkembangan dan Kematangan Karir Remaja


Istilah remaja (adqlecense) diartikan sebagai sesuatu yang “tumbuh”
atau “tumbuh menjadi dewasa, secara luas mecakup proses kematangan
mental, emosional, social dan fisik, ini berarti pada usia remaja (12-20 tahun,
WHO) Seseorang mulai menjalani suatu proses pendewasaan diri.
Komunitas e-psikologi (2007) memandang masa remaja sebagai
sebuah periode dalam kehidupan manusia yang batasannya usia maupun
perannya seringkali tidak terlalu jelas. Pubertas yang dahulu dianggap sebagai
tanda awal keremajaan ternyata tidak terlalu jelas, pubertas yang dhaulu
dianggap sebagai tanda awal keremajaan ternyata tidak lagi valid sebagai
patokan atau Batasan untuk pengkatogarian remaja sebab usia pubertas yang
dahulu terjadi pada akhir usia belasan (15-18) kini terjadi pada awal belasan
bahkan sebelum usia 11 tahun. Seorang anak berusia 10 tahun mungkin saja
sudah (atau sedang) mengalami pubertas namun tidak berarti ia sudah bisa
dikatakan sebagai remaja dan sudah siap menghadapi dunia nyata orang
dewasa, meski disaat yang sama ia juga bukan anak-anak lagi.
Bagi sebagian besar orang yang baru berangkat dewasa bahkan yang
sudah melewati usia remaja, remaja adalah waktu yang paling berkesan dalam
melewati usia dewasa, remaja dalah waktu yang paling berkesan dalam hidup
mereka. Kenangan terhadap masa remaja merupakan kenangan yang tidak
mudah dilupakan, sebaik atau seburuk apapun apapun saat itu.
Berdasarkan perspektif biososial masa remaja adalah masa “strom and
drang”, yaitu sebagai periode yang berada pada dalam situasi: antara
kegoncangan, penderitaan, asmara, pemberontakan dengan otoritas orang
dewasa (Hall dalam Yusuf, 2000).
Ditinaju dari perspektif relasi interperpersoanl masa remaja adalah
masa mulai mengenal minat terhadap lawan jenis mulai dari kesadaran untuk
berhubungan (unilaterally aware).
Perspektif Sosiologis dan Antropologis memandang masa remaja
sebagai masa terjadinya konflik dengan orang tua karena terjadi perbedaan
pengalaman budaya.
Perspektif psikologis memandang jika masa remaja tidak mempunyai
sense of identity yang sehat maka remaja akan mengalami role confusion
yyang pada akhirnya akan mudah terpengaruh oleh pengaru luar.
Perspektif belajar social memandang masa remaja seabgai masa
senang bergaul dengan teman sebaya karena dipandang menawarkan social
reward dan peer status needs yang lebih menarik daripada keluarga.
Ahli psikologis perkembangan, Hurlock (1980) mengemukakan
beberapa karateristik yang menggambarkan kekhasan kehidupan remaja,
antara lain sebagai berikut:
1. Masa remaja sebagai periode yang dinilai penting, artinya adalah masa
dimana seseorang dapat menentukan bagaimana kehidupan dewasa kelak.
2. Masa remaja merupakan periode peralihan, yang dimkasud piliham disini
adalah transini antara masa anak menuju dewasa.
3. Masa remaja juga merupakan periode perubahan, perubahan yang
dimaksud adalah perubahan dalam sikap, perilaku maupun secara fisik.
4. Masa remaja pun digambarkan sebagai periode pencurian identitas diri
(Erikson, 1968) proses ini sangat mempengaruhi perilaku reamaja, karena
dalam prosesnya seorang remaja berusaha untuk memunculkan diri lewat
usaha – usahanya berperilaku agar dapat diterima oleh lingkungannya.
5. Masa remaja juga merupakan periode yang tidak realistik, remaja
cenderung memandang kehidupan melalui kacamata berwarna” merah
jambu”
6. Masa remaja sebagai ambang deawasa, dengan semakin dekatnya usia
kematangan yang sebenarnya, para remaja mulai gelisah untuk
mmeninggalkan sterevtype belasan tahun dan untuk memberikan kesan
bahwa mereka memang sudah dewasa.

Untuk memahami remaja, maka perlu dilihat berdasarkan perubahan


pada dimensi-dimensi berikut:

1. Perkembangan Fisik Biologis


Pada masa pubertas, hormone seseorang menjadi aktif dalam
memproduksi dua jenis hormone (gonadotrophins atau gonadothopiv
hormones) yang berhubungan dengan pertumbuhan. Yaitu pertama follicle
stimulating hormone dan kedua luteinzing hormone. Hormon - hormon
tersebut diatas mengubah system biologis seorang anak, anak perempuan
akan mengalami peristiwa menstruasi pertama sebagai pertanda bahwa
system reproduksinya sudah aktif selain itu, terjadi juga perubahan fisik
seperti payudara payudara mulai berkembang, pinggul bertambah besar,
serta tumbuh rambut pubik atau bulu kapok diseikitar kemaluan dan
ketiak. Sedangkan anak laki – laki mengalami mimpi basah (mimpi
berhubungan seksual) tumbuh rambut diseikitar kemaluan atau ketiak dan
mulai memperlihatkan perubahan dalam suara, otot, tumbuh kumis serta
jakun.
2. Perkembangan Kognitif
Menurut Piaget perkembangan kognitif remaja merupakan periode
terakhirdan tertinggi dalam tahap pertumbuhan operasi formal. Pada
periode ini, idealnya pare remaja sudah memiliki pola piker sendiri dalam
memecahkan masalah – masalah yang kompleks dan abstrak.
3. Perkembangan Moral
Perspektif perkembangan moral yang dikemukankan oleh Lawrence
Kohlberg pada umumnya remaja berada dalam tingkatan konvensional
atau berada dalam tahap ketiga (berperilaku sesuai dengan tuntutan dan
harapan kelompok). Dan keempat (loyalitas terhadap norma atau peraturan
yang berlaku dan diyakininya.
4. Perkembangan Psikologis
Hurlock mengemukakan bahwa remaja empat belas tahun seringkali
mudah marah, mudah terangsang dan emosinya cenderung meledak, tidak
berusaha mengendalikan perasaannya. Sebaliknya remaja enam belas
tahun mengatakan bahwa mereka tidakmmempunyai keprihatinan, jadi
adanya badai dan tekanan dalam periode ini berkurang menjelang
berakhirnya awal masa remaja.
5. Perkembangan Sosial
Pada masa remaja berkembang “social cognition”, yaitu kemampuan
untuk memahami orang lain. Remaja memahami orang lain sebagai
individu yang unik, baik menyangkut sifat – sifatb pribadi maupun, minat,
nilai-nilai maupun perasaaannya. Pemahaman ini mendorong remaja
untuk menjalin hubungan social yang lebih akrab dengann teman
sebayanya, baik melalui jalinan persahbatan maupun percintaan.
6. Perkembangan religius
Seiring dengan perkembangan kognitif, kemampuan berfikir abstrak
remaja memungkinannya untuk dapat mentranformasikan keyakinan
beragamanya. Dia dapat mengapresiasi kualitas keabstrakan Tuhan
sebagai yang maha kuasa. Berkembangnya kesadaran beragama seiring
dengan mulainya remaja menanyakan atau mempermasalahkan sumber -
sumber otoritas dalam kehidupan. Pada masa remaja awal sekotar (sekitar
13-16 tahun) terjadi goncangan keyakinan akan adanya Tuhan, kadang –
kadang sangat kuat, akan tetapi kadang – kadang menjadi berkurang yang
terlihat pada cara ibadahnya yang kadang – kadang rajin kadang – kadang
malas. Sebaliknya pada remaja akhir (usia 17-21 tahun) kehidupan
beragama remaja sudah mulai stabil dan mulai melibatkan diri ke dalam
kegiatan – kegiatan keagamaaan.1
B. Karakteristik Perkembangan Karir Remaja
Grand theory perkembangan karir remaja adalah yang dikemukakan oleh
Super dalam konsep life-stages. Super meringkas konsep life-stages kedalam
12 proposisi perkembangan karir berikut:
1. Individu berbeda dalam kemampuan-kemampuan, minat-minat dan
kepribadian-kepribadiannya.
2. Dengan sifat-sifat yang berbeda, individu mempunyai kewenangan untuk
melakukan sejumlah pekerjaan. Masing-masing pekerjaan menuntut pola
3. Khas kemampuan, minat dan sifat kepribadian.
4. Preferensi dan kompetensi vokasional dapat berubah sesuai dengan situasi
kehidupan.
5. Proses perubahan dapat dirangkum dalam suatu rangkaian tahap
kehidupan.
6. Sifat dan pola karir ditentukan oleh taraf sosioekonomik, kemampuan
mental dan kesempatan yang terbuka dan karakteristik kepribadian
individu.
7. Perkembangan karir adalah fungsi dari kematangan biologis dan realitas
dalam perkembangan konsep diri.
8. Faktor yang banyak menentukan dalam perkembangan karir adalah
perkembangan dan implementasi konsep diri.
9. Proses pemilihan karir merupakan hasil perpaduan antara faktor
individual dan faktor sosial, serta antara konsep diri dan kenyataan.
10. Keputusan karir tergantung pada dimana individu menemukan jalan
keluar yang memadai bagi kemampuan, minat, sifat kepribadin dan nilai.

1
Uman Suherman, Bimbingan Dan Konseling Karir, (Bandung: RIZQI PRESS, 2002), hlm 76-81
11. Taraf kepuasan yang individudi peroleh dari pekerjaan sebanding dengan
tingkat dimana mereka telah sanggup mengimplementasikan konsep
dirinya.
12. Pekerjaan dan okupasi menyediakan suatu fokus untuk organisasi
kepribadian baik pria maupun wanita.2
C. Indikator-Indikator Kematangan Karir Remaja
Kematangan karir (career maturitu) didefinisikan sebagai kesesuaian
antara perilaku karir individu dengan perilaku yang diharapkan pada usia
tertentu disetiap tahap. Criter (Herr & Cramer, 1979:174) berpendapat bahwa
kematangan karir lebih menekankan pada kematangan karir sebagai tahapan
hidup. Sementara itu, Super (Sharf, 1992:155) menyatakan bahwa
kematangan karir sebagai kesiapan individu untuk membuat pilihan karir yang
tepat.
Indikator- indikator kematangan karir sebagai berikut:
1. Aspek perencanaa karir. Aspek ini meliputi indikator-indikator berikut:
a. Mempelajari informasi karir.
b. Membicarakan karir dengan orang dewasa.
c. Mengikuti pendidikan tambahan (kursus) untuk menambah
pengetahuan tentang keputusan karir.
d. Berpartisipasi dalam kegiatan ekstrakurikuler.
e. Mengikuti pelatihan-pelatihan berkaitan dengan pekerjaan yang
diinginkan.
f. Mengetahui kondisi pekerjaan yang diinginkan.
g. Mengetahui persyaratan pendidikan untuk pekerjaan.
h. Dapat merencanakan apa yang harus dilakukan setelah tamat sekolah.
i. Mengetahui cara dan kesempatan memasuki dunia kerja yang
diinginksan.
j. Mampu mengatur waktu luang secara efektif.
2
Prof. Dr. Uman Suherman AS., M. Pd, Ibid, hlm 82-84
2. Aspek eksplorasi karir. Eksplorasi karir didefinisikan sebagai keinginan
individu untuk mengeksplorasi atau melakukan pencarian informasi
terhadap sumber-sumber informasi karir. Aspek ini mencakup indicator-
indikator sebagai berikut:
a. Berusaha menggali dan mencari informasi karir dari berbagai sumber
(guru bk, orang tua, orang yang sukses dan sebagainya.
b. Memiliki pengetahuan tentang potensi diri, diantaranya bakat, minat,
intelegensi, kepribadian, nilai-nilai, dan prestasi.
c. Memiliki cukup banyak informasi karir.
3. Pengetahuan tentang membuat keputusan karir. Aspek ini terdiri dari
indikator-indikator berikut:
a. Mengetahui cara-cara membuat keputusan karir.
b. Mengetahui langkah-langkah dalam membuat keputusan karir,
terutama penyusunan rencana karir.
c. Mempelajari cara orang lain membuat keputusan karir.
d. Menggunakan pengetahuan dan pemikiran dalam membuat keputusan
karir.
4. Pengetahuan (informasi) tentang dunia kerja. Menurut Super konsep ini
memiliki dua komponen dasar, yaitu:
a. Berhubungan dengan tugas perkembangan ketika individu harus
mengetahui minat dan kemampuan dirinya, mengetahui cara orang lain
mempelajari hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaannya, dan
mengetahui alasan orang lain berganti pekerjaan.
b. Konsep yang berkaitan dengan pengetahuan tentang tugas-tugas
pekerjaan dalam satu vokasional dan perilaku-perilaku dalam bekerja.
5. Aspek pengetahuan tentang kelompok pekerjaan yang lebih disukai.
Aspek ini terdiri dari indikator-indikator berikut:
a. Memahami tugas dari pekerjaan yang diinginkan.
b. Mengetahui sarana yang dibutuhkan dari pekerjaan yang diinginkan.
c. Mengetahui persyaratan fisik dan psikologis dari pekerjaan yang
diinginkan.
d. Mengetahui minat-minat dan alasan-alasan yang tepat dalam memilih
pekerjaan.
6. Aspek realisme keputusan karir. Realisme keputusan karir adalah
perbandingan antara kemampuan individu dengan pilihan pekerjaan secara
realistis. Aspek ini terdiri dari indikator-indikator berikut:
a. Memiliki pemahaman yang baik tentang kekuatan dan kelemahan diri
berhubungan dengan pilihan karir yang diinginkan.
b. Mampu melihat faktor-faktor yang akan mendukung atau menghambat
karir yang diinginkan.
c. Mampu melihat kesempatan yang ada berkaitan dengan pilihan karir
yang diinginkan.
d. Mampu memilih salah satu alternatif pekerjaan dari berbagai
pekerjaan yang beragam.
e. Dapat mengembangkan kebiasaan belajar dan bekerja secara efektif.
7. Orientasi karir. Orientasi karir didefiniskan sebagai skor total dari:
a. Sikap terhadap karir.
b. Keterampilan membuat keputusan karir
c. Informasi dunia kerja.3
D. Masalah dalam Karir Remaja
Masalah karir adalah masalah yang dialami oleh individu dalam
merencanakan, mengarahkan, dan mengambil keputusan mengenai masa
depannya. Masalah karir timbul dari terhambatnya berbagai faktor-faktor yang
mempengaruhi pemilihan karir. Secara umum ada dua faktor, faktor yang
berasal dari dalam yaitu berupa tidak adanya dorongan atau keinginan
individu dalam meraih cita-cita dan minat terhadap suatu pekerjaan, dan
faktor dari luar yaitu pengetahuan individu mengenai pekerjaan.
3
Prof. Dr. Uman Suherman AS., M. Pd, Ibid., hlm 85-87
Individu dikatakan bermasalah dalam karirnya jika tidak mencapai
kematangan karir sesuai dengan tahap dan perkembangan karir sebagai
berikut:4

1. Tidak mampu merencanakan karir dengan baik


Hal ini ditandai dengan:
a. Tidak adanya kesediaan untuk mempelajari informasi karir secara
memadai
b. Malas atau tidak membicarakan karir dengan orang dewasa, malas
atau tidak mengikuti pendidikan tambahan (kursus) untuk menambah
pengetahuan tentang keputusan karir
c. Malas atau tidak berpartisipasi dalam kegiatan ekstrakurikuler,
d. Malas atau tidak mengikuti pelatihan-pelatihan yang berkaitan dengan
pekerjaan yang diinginkan
e. Kurang memiliki pengetahuan tentang kondisi pekerjaan yang
diinginkan
f. Kurang memadainya pengetahuan tentang persyaratan pendidikan
untuk pekerjaan yang diinginkan
g. Kurang atau tidak mampu merencanakan apa yang dilakukan setelah
tamat sekolah
h. Kurang atau tidak memadainya pengetahuan tentang cara dan
kesempatan memasuki dunia kerja yang diinginkan
i. Kurang atau tidak mampu mengatur waktu luang secara efektif.
2. Malas melakukan eksplorasi karir
Yang dikarakteristikkan dengan:
a. Kurang atau tidak berusaha menggali dan mencari informasi karir dari
berbagai sumber

4
Prof. Dr. Uman Suherman AS., M. Pd, Opcit., hlm 87-89
b. Kurang atau tidak memadainya pengetahuan tentang potensi diri,
diantaranya bakat, minat intelegensi, kepribadian, nilai-nilai, dan
prestasi
c. Tidak memiliki cukup banyak informasi karir.
3. Kurang atau tidak memadainya pengetahuan tentang membuat keputusan
karir
Yang ditandai dengan:
a. Tidak mengetahui cara-cara membuat keputusan karir
b. Tidak mengetahui langkah-langkah dalam membuat keputusan karir
terutama penyusunan rencana karir
c. Malas atau tidak mau mempelajari cara orang lain membuat keputusan
karir
d. Tidak mampu menggunakan pengetahuan dan pemikiran dalam
membuat keputusan karir.
4. Kurang atau tidak memiliki pengetahuan tentang dunia kerja
Yang ditandai dengan:
a. Kurang pengetahuan mengenai minat dan kemampuan diri, tidak
mengetahui cara orang lain mempelajari hal-hal yang berhubungan
dengan pekerjaannya
b. Tidak mengetahui alasan mengapa orang lain berganti pekerjaan,
c. Tidak memiliki pengetahuan tentang tugas-tugas pekerjaan dalam satu
vokasional dan perilaku-perilaku dalam bekerja.
5. Kurang memadainya pengetahuan tentang kelompok pekerjaan yang lebih
disukai
Yang ditandai dengan:
a. Tidak memahami tugas dari pekerjaan yang diinginkan
b. Tidak mengetahui sarana yang dibutuhkan dari pekerjaan yang
diinginkan
c. Tidak mengetahui persyaratan fisik dan psikologis dari pekerjaan yang
diinginkan
d. Tidak mengetahui minat-minat dan alasan-alasan yang tepat dalam
memilih pekerjaan.
6. Tidak mencapai realisme keputusan karir (adanya kesenjangan antara
kemampuan individu dengan pilihan pekerjaan secara realistis)
Yang ditandai dengan:
a. Tidak memiliki pemahaman yang baik tentang kekuatan dan
kelemahan diri berhubungan dengan pilihan karir yang diinginkan,
b. Tidak mampu melihat faktor-faktor yang akan mendukung atau
menghambat karir yang diinginkan
c. Tidak mampu melihat kesempatan yang ada dengan pilihan karir yang
diinginkan
d. Tidak mampu memilih salah satu alternatif pekerjaan dari berbagai
pekerjaan yang beragam
e. Tidak dapat mengembangkan kebiasaan belajar dan bekerja secara
efektif.
7. Tidak memadainya orientasi karir sehingga tidak mampu membuat
perencanaan dan keputusan karir yang tepat.
8. Adanya stereotip gender, yaitu munculnya persepsi atau pandangan yang
membatasi ruang gerak pemilihan karir karena gender yang dimiliki.

PENUTUP
Kesimpulan

Remaja merupakan proses seseorang untuk tumbuh menjadi dewasa. Pada


usia remaja biasanya mereka akan merasakan kegoncangan, penderitaan, asmara, dan
pemberontakan. Perkembangan remaja terbagi menjadi 6 fase yaitu perkembangan
fisik biologis, perkembangan kognitif, perkembangan, perkembangan moral,
perkembangan sosial, Perkembangan psikologis, dan perkembangan religius. Di
masing masing fase tersebut memiliki ciri yang berbeda-beda. Contohnya di
perkembangan fisik biologis remaja perempuan akan mengalami menstruasi dan
remaja laki-laki akan mengalami mimpi basah.

Remaja memiliki karakteristik dalam perkembangan karirnya, salah satunya


adalah antara remaja satu dan lainnya itu mengalami perbedaan baik itu minat,
bakat,maupun kepribadian. Peran konselor di sekolah salah satunya adalah dengan
mendorong siswanya untuk mengetahui potensi yang ada dalam dirinya, selain itu
juga membantu dalam pembentukan kepribadian yang positif dalam diri remaja.

Kematangan karir adalah kesesuaian antara perilaku karir individu dengan


perilaku yang diharapkan pada usia tertentu disetiap tahap. Dalam halini terdapat
beberapa indicator yaitu aspek perencanaan karir, eksplorasi karir, pengetahuan
tentang membuat keputusan karir, pengetahuan (informasi) tentang dunia kerja,
pengetahuan tentang kelompok pekerjaan yang lebih disukai, realisme keputusan
karir, dan orientasi karir.

Masalah karir adalah masalah yang dialami oleh individu dalam


merencanakan, mengarahkan, dan mengambil keputusan mengenai masa depannya.
Masalah karir timbul dari terhambatnya berbagai faktor-faktor yang mempengaruhi
pemilihan karir. Individu dikatakan bermasalah dalam karirnya jika tidak mencapai
kematangan karir sesuai dengan tahap dan perkembangan karir.

DAFTAR PUSTAKA
Suherman, Uman. 2002. Bimbingan Dan Konseling Karir. Bandung: RIZQI PRESS