Anda di halaman 1dari 7

Journal of Aquaculture and Fish Health Vol. 8 No.

2 (2019)

UJI PATOGENITAS BAKTERI Pseudomonas sp. PADA UDANG


VANAME (Litopanaeus vannamei) SEBAGAI KANDIDAT PROBIOTIK

Pathogenicity Test of Pseudomonas sp. in White Shrimp (Litopanaeus vannamei) as A


Probioitic Candidate

Ismi M. Habib Pahlawi1*, Woro Hastuti Satyantini2 dan Sudarno2


1
Program Studi Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga, Surabaya
2
Departemen Manajemen Kesehatan Ikan dan Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas
Airlangga, Surabaya
*habib.pahlawi21@gmail.com
Abstrak

Penelitian ini bertujuan mengetahui tingkat kematian udang vaname yang diinfeksi bakteri Pseudomonas
sp. Bakteri Pseudomonas sp. diisolasi dari sedimen tambak udang. Uji patogenitas menggunakan udang vaname
(7-9 gram) yang diinfeksi bakteri Pseudomonas sp. dengan kepadatan 102, 104, 106, 108 sel/ml secara intramuscular
sebanyak 0,1 ml/ekor. Perlakuan kontrol diinfeksi menggunakan NaCl fisiologis sebanyak 0,1 ml/ekor. Tingkat
mortalitas dan gejala klinis diamati setap 6 jam pada 24 jam pertama dan selanjutnya selama 24 jam hingga 10
hari. Hasil yang diperoleh dari uji patogenitas bakteri Pseudomonas sp. pada udang vaname menunjukkan tingkat
kematian sebesar 0% pasca infeksi. Hal ini menunjukkan bahwa bakteri Pseudomonas sp. tidak menyebabkan
kematian pada udang vaname. Gambaran gejala klinis yang ditunjukkan berupa hepatopankreas berwarna hijau
kehitaman dengan tekstur yang padat dan menunjukkan kenampakan yang sama dengan perlakuan kontrol. Warna
tubuh udang vaname setelah diinfeksi bakteri Pseudomonas sp. menunjukkan gambaran yang sama dengan kontrol
yaitu berwarna putih transparan. Karapas dan ekor udang vaname setelah diinfeksi menunjukkan tidak adanya
kerusakan yang disebabkan oleh infeksi bakteri Pseudomonas sp., gambaran tersebut menunjukkan kenampakan
yang sama dengan perlakuan kontrol. Hal ini menunjukkan bahwa bakteri Pseudomonas sp. tidak patogen terhadap
udang vaname dan infeksi bakteri Pseudomonas sp. tidak berpengaruh terhadap perubahan morfologi makroskopis
dan tingkah laku.

Kata kunci: Patogenitas, Gejala klinis, Pseudomonas sp., Udang vaname, Kematian

Abstract

This research aims to determine the mortality of vannamei shrimp infected by Pseudomonas sp. bacteria
isolated from sediment of shrimp pond. Pathogenicity test was by using vannamei shrimp (7-9 grams) with a
density of 102, 104, 106, 108 cells/ml intramuscularly. The control treatment was infected by using a physiological
NaCl of 0.1 ml. The rate of mortality and clinical symptoms were observed for the first of 6 hours for 10 days. The
results from the pathogenic test of Pseudomonas sp. in vannamei showed that 0% post infection of mortality rate.
This was indicating that the Pseudomonas sp. bacteria did not cause death in vannamei shrimp. The clinical
symptoms showed in the form of blackish-green hepatopancreas with a dense texture. That clinical symptom had
the same appearance as the control treatment. The color of vannamei body showed a white color and so with the
control treatment. Carapace and tail showed no damage to treatment and control treatment. This indicated that the
bacteria Pseudomonas sp. did not cause death to vannamei shrimp and bacterial infections. Pseudomonas sp. did
not affect morphological changes in macroscopic and behavior.

Keywords : Pathogenicity, Clinical symptoms , Pseudomonas sp., White shrimp, Mortality

PENDAHULUAN untuk mengatasi serangan penyakit pada


Budidaya udang merupakan sektor budidaya udang vaname. Alternatif yang
perikanan yang berperan sebagai penyum- yang dapat dilakukan dengan menggunakan
bang devisa non-migas yang besar bagi bakteri agen biokontrol. Bakteri ini bisa
negara (Budiardi et al., 2013). Pada didapat dari lingkungan budidaya udang
budidaya udang vaname, lingkungan yang memiliki kesesuaian habitat dengan
merupakan faktor yang mempengaruhi udang vaname. Pseudomonas sp.,
kelangsungan hidup udang. Pengelolaan Pseudomonas fluoresens, dan Pseudo-
lingkungan merupakan salah satu upaya alteromonas haloplanktis merupakan

92 Diterima/submitted:23 Mei 2019


Disetujui/accepted:11 Juni 2019
Journal of Aquaculture and Fish Health Vol. 8 No.2 (2019)

mikroorganisme yang diketahui dapat Materi Penelitian


mencegah penyakit pada ikan dan udang Peralatan yang digunakan pada pene-
(Kamei dan Isnansetyo, 2003; Verschuere litian ini antara lain 20 akuarium berukuran
et al., 2000). 50x35x40 cm3, aerator, 20 batu aerasi, 20
Bakteri Pseudomonas sp. merupakan buah selang aerator, dua bak tandon, cawan
bakteri Gram negatif yang mampu petri, tabung reaksi, microtube, micropipet,
menghasilkan senyawa bakteriosin dan rak tabung reaksi, erlenmeyer, rak micro-
senyawa antibiotik untuk menghambat dan tube, jarum ose, bunsen, spuit ukuran 1 ml,
menekan bakteri patogen (Spanggaard et hand glove, masker, kertas label, pH meter,
al., 2001; Kamei dan Isnansetyo, 2003). wadah pakan, baskom, timbangan analitik,
Pseudomonas sp. juga mampu mengha- refraktometer, termometer, DO meter,
silkan enzim kitinase. Enzim kitinase inkubator, spektrofotometer, vortex, auto-
bekerja sebagai katalisator pada proses clave, kulkas steril, kapas, aluminium foil
penguraian polimer kitin pada lapisan dan plastik wrap.
pelindung tubuh ikan menjadi unit mono- Bahan yang digunakan pada peneli-
mer yang lebih sederhana (Mangunwardoyo tian ini yaitu 200 ekor udang vaname
et al., 2009). Selain itu bakteri dengan berat 7 – 9 gram, isolat murni bak-
Pseudomonas sp. mampu mempro-duksi teri Pseudomonas sp. koleksi FPK Unair,
beberapa enzim seperti protease, amilase, TSA (Tryptone Soy Agar), TSB (Tryptone
lipase dan selulase yang dapat mengurai Soy Broth), larutan NaCl Fisiologis, NaCL,
protein, karbohidrat dan lemak menjadi standar Mc Farland, akuades, air laut steril,
senyawa yang lebih sederhana, sehingga alkohol, klorin, Natrium Thiosulfat, pelet
diharapkan bakteri Pseudomonas sp. dapat udang, dan es batu.
dikembangkan sebagai bakteri kandidat
probiotik. Rancangan Penelitian
Menurut penelitian Patria (2015) dan Isolat bakteri Pseudomonas sp.
Saputra (2015), bakteri Pseudomonas sp. dengan kepadatan 102, 104, 106, dan 108
memiliki kemampuan dalam memproduksi sel/ml serta larutan NaCl fisiologis diin-
enzim ekstraselular maupun kemampuan jeksikan sebanyak 0,1 ml pada udang
antagonis terhadap bakteri Vibrio harveyi. vaname.
Sebelum bakteri Pseudomonas sp. ini
dikembangkan sebagai bakteri kandidat Prosedur Kerja
probiotik, perlu dilakukan pengujian lan- Kultur Isolat Bakteri Pseudomonas sp.
jutan untuk mengetahui apakah bakteri Media yang digunakan untuk kultur
Pseudomonas sp. dapat menyebabkan bakteri Pseudomonas sp. adalah TSA.
kematian tinggi atau tidak bila diaplikasi- Pembuatan media dilakukan dengan mela-
kan pada udang vaname melalui uji rutkan media TSA pada erlenmeyer se-
patogenitas. banyak 40 g/L akuades sesuai petunjuk dan
ditambahkan NaCl 15 g/l. Setelah itu media
METODOLOGI TSA disterilisasi dengan menggunakan
Waktu dan Tempat autoclave. Media TSA yang sudah disterili-
Penelitian ini dilakukan di Tropical sasi dituangkan pada cawan petri dan
Disease Center (TDC) Unversitas ditunggu hingga dingin dan mengeras.
Airlangga. Pemeriksaan patogenitas bakteri Isolat Pseudomonas sp. kemudian
Pseudomonas sp. dilakukan di Laborato- diinokulasikan di media. Inokulasi bakteri
rium Fakultas Perikanan dan Kelautan menggunakan metode gores atau streak.
(FPK), Universitas Airlangga Surabaya Selanjutnya inokulum bakteri disimpan di
pada bulan April-Juni 2017. inkubator pada suhu 30o C selama 24 jam.
Bakteri yang tumbuh selanjutnya diinoku-
lasikan pada media TSB sebanyak satu ose.

93 Diterima/submitted:23 Mei 2019


Disetujui/accepted:11 Juni 2019
Journal of Aquaculture and Fish Health Vol. 8 No.2 (2019)

Bakteri yang tumbuh ditandai dengan Mt


𝑍= 𝑥 100%
perubahan media TSB menjadi lebih keruh, Mo
kemudian di panen dengan cara di Keterangan :
centrifuge pada kecepatan 5.400 rpm Z : Tingkat Mortalitas (%)
Mt : Jumlah udang vaname yang mati (ekor)
selama 5 menit. Mo : Jumlah udang vaname yang hidup (ekor)
Selanjutnya supernatan dibuang dan
ditambahkan larutan NaCl fisiologis kemu- Nilai LD50 didapat menggunakan me-
dian diukur menggunakan spektrofoto- tode aritmatik Reed dan Muench (1938).
meter pada panjang gelombang 550 nm Metode ini menggunakan nilai-nilai kumu-
untuk mengetahui pertumbuhan atau kepa- latif sebagai dasar perhitungan. Nilai
datan sel bakteri. Kepadatan bakteri yang kumulatif diperoleh dari kematian udang
diperlukan sesuai dengan perlakuan diper- vaname selama rentan waktu pemeliharaan.
oleh dengan cara pengenceran (Chau et al., Penentuan LD50 didapat berdasarkan
2011) dari jumlah kepadatan bakteri yang persamaan berikut :
terukur sebelumnya pada spektrofotometer.
Selang Proporsi
Persiapan Udang Uji kematian diatas 50% − 50
=
Udang vaname didatangkan dari kematian diatas 50% − kematian dibawah 50%
tambak semi intensif di Instalasi Budidaya
Air Payau Lamongan, Lamongan yang Sehingga LD50 didapat dari
berukuran rata-rata 7-9 gram, diaklimatisasi persamaan berikut:
selama 5-7 hari. Udang vaname dipelihara
di dalam akuarium (50x35x40 cm3) dengan LD50 = Log Konsentrasi dibawah 50% +
kepadatan 10 ekor/akuarium dengan volu- Selang Proporsi
me 35 liter dan setara sekitar 300 ekor/m3
(Wasielesky et al., 2006). Selama budidaya, Analisis Data
udang diberi pakan berupa pakan udang Data hasil uji patogenitas bakteri
komersial. Pseudomonas sp. pada udang vaname
(Litopanaeus vannamei) yang diperoleh
Uji Patogenitas Pada Udang Vaname pada penelitian ini berupa data kuantitatif
Udang vaname terlebih dahulu dibius dan kualitatif. Data tersebut dianalisis
menggunakan suhu rendah. Teknik injeksi secara deskriptif dan disajikan secara
bakteri pada udang vaname secara naratif dengan tabel dan gambar.
intramuscular pada abdomen segmen ketiga
(Chau et al., 2011). HASIL DAN PEMBAHASAN
Volume injeksi yang digunakan ada- Dari hasil penelitian uji patogenitas
lah 0,1 ml/ekor menggunakan spuit beru- didapatkan data kematian udang vaname
kuran 1 ml. Pemeliharaan udang vaname yang diinfeksi bakteri Pseudomonas sp. 102
dilakukan selama 10 hari dan diberi pakan – 108 sel/ml sebesar 0%. Data kematian
pelet komersial. Penga-matan kematian dan dapat dilihat pada Tabel 1. Pada penelitian
gejala klinis dicatat setiap enam jam sekali ini udang yang diinfeksi bakteri
pada 24 jam pertama, selanjutnya setiap 24 Pseudomonas sp. tidak menunjukkan ada-
jam sekali hingga hari ke-10 (akhir nya kematian di semua perlakuan hingga
penelitian). akhir pemeliharaan. Kondisi tersebut didu-
Perhitungan Tingkat Mortalitas dan ga karena produk ekstraseluler yang dike-
LD50 udang vaname dihitung pada akhir luarkan oleh bakteri Pseudomonas sp. tidak
pemeliharaan. Menurut Effendie (1997) sampai menyebabkan kematian.
tingkat mortalitas udang vaname dapat Menurut Mangunwardoyo et al.
dihitung dengan persamaan berikut : (2009), bakteri Pseudomonas sp. mampu
menghasilkan enzim kitinase yang merupa-

94 Diterima/submitted:23 Mei 2019


Disetujui/accepted:11 Juni 2019
Journal of Aquaculture and Fish Health Vol. 8 No.2 (2019)

kan katalisator pada proses penguraian


polimer kitin pada lapisan pelindung tubuh
ikan nila.

Tabel 1. Data kematian udang vadame (Litopenaeus vannamei).


Hari ke- Kematian
Perlakuan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 (%)
P0 (kontrol Nacl 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
fisiologis)
P1 (102 sel/ml bakteri 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Pseudomonas sp.)
P2 (104 sel/ml bakteri 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Pseudomonas sp.)
P3 (106 sel/ml bakteri 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Pseudomonas sp.)
P4 (108 sel/ml bakteri 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Pseudomonas sp.)

Infeksi bakteri Pseudomonas sp. 104, 106, dan 108 sel/ml maupun kontrol
dengan kepadatan mencapai 108 sel/ml (NaCl fisiologis) menunjukkan respon
masih mendukung kelangsungan hidup makan pasif pada pengamatan enam jam
udang vaname. Hal ini menunjukkan bahwa pertama. Udang vaname yang telah diin-
bakteri Pseudomonas sp. tidak termasuk feksi bakteri Pseudomonas sp. dengan dosis
bakteri patogen. Menurut Todar (2002), 102-108 sel/ml maupun kontrol mengalami
bakteri patogen adalah bakteri yang mampu peningkatan respon makan selama
menyebabkan sakit hingga kematian pada pemeliharaan pada hari ke dua hingga hari
hewan uji. ke-10.
Hasil pengamatan gejala klinis udang Gambaran morfologi makroskopis
vaname yang diinfeksi bakteri diamati melalui gambaran dari hepato-
Pseudomonas sp. dengan dosis 102, 104, pankreas, warna tubuh, kerusakan karapas
106, dan 108 sel/ml dan perlakuan kontrol dan ekor. Udang vaname setelah diinfeksi
menunjukkan bahwa pengamatan dari enam bakteri Pseudomonas sp. tidak menun-
jam pertama sampai hari ke 10 jukkan adanya perubahan pada hepato-
pemeliharaan yaitu kenampakan tingkah pankreas. Menurut Soto-Rodriguez et al.
laku dan gambaran morfologi makroskopis (2015), udang vaname yang terinfeksi
yang diinfeksi bakteri Pseudomonas sp. bakteri patogen akan mengalami gejala
dengan dosis 102, 104, 106, 108 sel/ml klinis berupa hepatopankreas akan berubah
maupun kontrol (NaCl fisiologis) pada warna pada bagian pangkal menjadi kuning
enam jam pertama sampai jam ke 24 hingga keputihan.
menunjukkan pergerakan udang berenang Pada penelitian ini udang vaname
pasif di dasar. yang diinfeksi bakteri Pseudomonas sp.
Pengamatan aktifitas berenang udang dengan kepadatan 102-108 sel/ml menun-
vaname Pada pengamatan hari ke dua jukkan gambaran hepatopankreas berben-
sampai hari ke 10 udang vaname yang tuk utuh dan berwarna hijau kehitaman.
diinfeksi bakteri Pseudomonas sp. dengan Perlakuan infeksi infeksi bakteri
dosis 102-108 sel/ml memperlihatkan 2 8
Pseudomonas sp. kepadatan 10 -10 sel/ml
keaktifan berenang di kolom air maupun menunjukkan gambaran yang sama dengan
permukaan air. Respon makan udang perlakuan kontrol. Pada bagian tubuh udang
vaname setelah diinfeksi bakteri vaname tidak menunjukkan adanya
Pseudomonas sp. dengan konsentrasi 102, perubahan warna tubuh maupun rusaknya

95 Diterima/submitted:23 Mei 2019


Disetujui/accepted:11 Juni 2019
Journal of Aquaculture and Fish Health Vol. 8 No.2 (2019)

karapas. Menurut Raja et al. (2015), udang sampai kemerahan dan rusaknya karapas
vaname yang terindikasi serangan patogen yang berfungsi sebagai pelindung tubuh
akan berubah warna antara putih pucat udang vaname.

Tabel 2. Gambaran morfologi makroskopis udang vaname (Litopanaeus vannamei) setelah


diinfeksi bakteri Pseudomonas sp.

Perlakuan Hepatopankreas Warna Tubuh dan Karapas Ekor

P0 (Kontrol
Nacl fisiologis)

P1 (102 sel/ml
Bakteri
Pseudomonas
sp.)

P2 (104 sel/ml
Bakteri
Pseudomonas
sp.)

P3 (106 sel/ml
Bakteri
Pseudomonas
sp.)

P4 (108 sel/ml
Bakteri
Pseudomonas
sp.)

Udang vaname yang diinfeksi bakteri Pada pengamatan perubahan warna


Pseudomonas sp. 102-108 sel/ml tidak ekor dan kenampakan ekor udang vaname
mengalami perubahan warna tubuh dan setelah diinfeksi bakteri Pseudomonas sp.
menjukkan gambaran yang sama dengan dengan dosis 102-108 sel/ml tidak
udang vaname pada perlakuan kontrol yaitu menunjukkan adanya gejala kerontokan
tubuh berwarna putih transparan. Udang maupun perubahan warna pada ekor udang
vaname yang terinfeksi bakteri patogen vaname. Pada perlakuan kontrol menun-
akan mengalami perubahan warna dan jukkan gambaran yang sama dengan
kerontokan pada bagian ekor (Pratama et perlakuan udang vaname yang diinfeksi
al., 2014). bakteri Pseudomonas sp. menunjukkan
ekor berwarna putih transparan dan tidak

96 Diterima/submitted:23 Mei 2019


Disetujui/accepted:11 Juni 2019
Journal of Aquaculture and Fish Health Vol. 8 No.2 (2019)

adanya kerusakan pada ekor. Sama dengan yang diinfeksi bakteri Pseudomonas sp.
gambaran udang pada perlakuan kontrol. tidak menyebabkan kematian tinggi.
Bakteri Pseudomonas sp. memiliki kemam-
puan menghasilkan enzim kitinase yang KESIMPULAN DAN SARAN
dapat mendegradasi zat kitin. Kesimpulan
Kemampuan mendegradasi kitin dari Kesimpulan dari penelitian ini adalah
bakteri Pseudomonas sp. diduga dapat bakteri Pseudomonas sp. tidak menga-
menyebabkan rusaknya karapas pada tubuh kibatkan kematian pada udang vaname
dan kerusakan pada ekor udang vaname. (Liptopenaeus vannamei). Infeksi bakteri
Pada penelitian ini pasca infeksi bakteri Pseudomonas sp. melalui penyuntikan
Pseudomonas sp. tidak mengakibatkan secara intraperitoneal hingga dosis 108
lepasnya karapas dan kerusakan pada ekor. sel/ml tidak berpengaruh terhadap tingkah
Gejala klinis yang diamati pada oleh laku dan perubahan morfologi udang
udang vaname yang diinfeksi bakteri vaname (Liptopenaeus vannamei), sehing-
Pseudomonas sp. selama pemeliharaan ga dapat dikatakan bakteri Pseudomonas sp.
tidak menunjukkan gejala seperti yang tidak patogen.
disampaikan oleh Lavilla-Pitogo et al.
(2000), bahwa Pseudomonas sp. merupa- Saran
kan jenis bakteri penyebab karapas, kaki Saran yang dapat diberikan pada
jalan, kaki renang dan ekor udang windu penelitian ini diharapkan adanya penelitian
mengalami kerontokan. Udang yang terse- lanjutan mengenai pengembangan bakteri
rang bakteri ini mengalami kerusakan Pseudomonas sp. sebagai agen probiotik.
terutama pada bagian sirip ekor (uropoda)
yang mengakibatkan udang kesulitan DAFTAR PUSTAKA
berenang. Selain itu bakteri ini juga dapat Budiardi, T., Muzaki A. dan Utomo,
menyebabkan aktivitas udang lemah, nafsu N.B.P., 2013. Produksi Udang
makan hilang dan rentan stres. Vaname (Litopenaeus vannamei) Di
Bakteri Pseudomonas sp. mampu Tambak Biocrete Dengan Padat
memproduksi enzim bakteriolitik yang Penebaran Berbeda. Jurnal
dapat menguraikan suatu senyawa menjadi Akuakultur Indonesia, 4 (2) :109 –
lebih sederhana. Mekanisme yang mampu 113.
menyebabkan kematian pada hewan uji dari Chau, N.T.T., Hieu, N.X., Thuan, L.T.N.,
bakteri Pseudomonas sp. dengan mengha- Matsumoto, M. and Miyajima, 2011.
silkan ekstraselullar produk yaitu enzim Identification and characterization of
kitinase. Enzim kitinase adalah enzim yang Pseudomonas sp. P9 antagonistic to
mampu menghidrolisis kitin menjadi mo- pathogenic Vibrio spp. isolated from
nomer N-asetil-glukosamin (Herdyastuti et shrimp culture pond in Thua Thien
al., 2009). Enzim ini yang diduga akan Hue-Viet Nam, J. Fac. Agr., Kyushu
mendegradasi zat kitin yang ada pada Univ, 56 (1) :23-31.
karapas maupun ekor udang. Menurut Hardi Effendie, M.I., 1997. Biologi Perikanan.
et al. (2014), bakteri Pseudomonas sp. Yayasan Pustaka Nusatama.
mampu memproduksi ekstraselullar produk Yogyakarta. hal. 130.
dengan menunjukkan gejala seperti sirip Hardi, E. H., Catur, A.P. dan Gina, S., 2014.
gripis, pendarahan kulit dan luka pada Toksisitas Produk Ekstraseluler dan
permukaan tubuh dan sisik lepas pada ikan. Intraseluler Bakteri Pseudomonas sp.
Hal ini menunjukkan bahwa sistem pada Ikan Nila (Oreochromis
petahanan tubuh udang vaname masih niloticus). Jurnal Veteriner, 15 (3) :
mampu melawan zat asing yang masuk 312-322.
kedalam tubuh. Sehingga udang vaname Herdyastuti, N., Raharjo, J.T., Mudasir dan
Matsjeh, S., 2009. Kitinase dan

97 Diterima/submitted:23 Mei 2019


Disetujui/accepted:11 Juni 2019
Journal of Aquaculture and Fish Health Vol. 8 No.2 (2019)

Mikroorganisme Kitinolitik: Isolasi, Saputra, S.D., 2015. Uji Antagonis Isolat


Karakterisasi dan Manfaatnya. Indo J Bakteri Asal Sedimen Tambak
Chem 9 (1):37-38,40. Intensif dan Tradisional Udang
Kamei, Y. and Isnansetyo, A., 2003. Lysis Vaname (Litopenaeus vannamei)
of methicillin resistant Terhadap Vibrio harveyi Penyebab
Staphylococcus aureus by 2,4- Penyakit Vibriosis. Skripsi.
diacetylphloroglucinol produced by Universitas Airlangga. Surabaya. hal.
Pseudomonas sp. AMSN isolated 40.
from a marine alga. Int. J. Antimicrob. Spanggaard, B., Huber, I., Nielsen, J., Sick,
Agents. 21: 71-74. E., Pipper, C., Martinussen, T.,
Lavilla-Pitogo, C.R., Lio Po, G.D., Cruz- Slierendrecht, W. and Gram, L., 2001.
Lacierda, E.R., Alapide-Tendencia, Potential against vibriosis of the
E.V. and De la Peña, L.D., 2000. indigenous microflora of rainbow
Diseases of penaeid shrimps in the trout. Environ. Microbiol. 3, 755–
Philippines. Aquaculture Extension 765.
Manual, 16 (2) :19-21. Soto-Rodriguez, S.A., Gomez-Gil, B.,
Mangunwardoyo, W., Ratih, I. dan Etty, R., Lozano-Olivera, R., Betancourt-
2009. Aktivitas Kitinase, Lesitinase Lozana, M. and Morales-
dan Hemolisin Isolat dari Bakteri Ikan Covarrubias, M.S., 2015. Field and
Nila (Oreochromis niloticus Lin.) Experimental Evidence of Vibrio
Yang Dikultur Dalam Keramba parahaemolyticus as The Causative
Jaring Apung Waduk Jatiluhur, Agent of Acute Hepatopancreatic
Purwakarta. J. Ris. Akuakutur, 4 (2) Necrosis Disease of Culture Shrimp
:257-265. (Litopenaeus vannamei) in
Patria, M.W., 2015. Isolasi, Seleksi dan Northwestern Mexico. Appl. Environ.
Identifikasi Bakteri Penghasil Enzim Microbiol. 81. pp. 1-11.
Protease, Lipase dan Amilase Dari Todar, K., 2002. Mechanisms of Bacterial
Saluran Pencernaan Udang Vaname Pathogenicity Endotoxins. Todar
(Litopenaeus vannamei) Asal Online Textbook of Bacteriology.
Tambak Tradisional. Skripsi. University of Wisconsin-Madison
Universitas Airlangga. Surabaya. hal. Departement of Bacteriology.
36. Verschuere, L., Rombout, G., Sorgeloos, P.
Pratama, N.P. Slamet, B.P. dan Sarjito, and Verstraete, W., 2000. Probiotics
2014. Pemanfaatan Ekstrak Daun Bacteria As Biocontrol Agents in
Binahong (Anredera cordifolia) Aquaculture. App. Environ.
Untuk Penanggulangan Penyakit Microbiol. 64 (3) :655-671.
Bakteri (Vibrio harveyi) Pada Udang Wasielesky, W. Jr., Atwood, H., Stokes, A.
Windu. Journal of Aquaculture and Browdy, C.L., 2006. Effect of
Management and Technology, 3 (4) Natural Production in A Zero
:281-288. Exchange Suspended Microbial Floc
Raja, K., Gopalakrishnan, A., Singh, R. and Based Super-Intensive Culture
Vijayakumar, R., 2015. Loose Shell System for White Shrimp
Syndrome (LSS) in Litopenaeus Litopenaeus vannamei. Aquaculture.
vannamei grow-out Ponds and its 258 (4) :396–403.
Effect on Growth and Production.
Fish Aquac J. 6 (1):151.
Reed, L.J. and Muench, H., 1938. A simple
method of estimating fifty percent
endpotants. The American Journal Of
Hygiene, 27: 493-497.

98 Diterima/submitted:23 Mei 2019


Disetujui/accepted:11 Juni 2019