Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PRAKTIKUM

FISIKA TERAPAN

ACARA I

PENGUKURAN PANJANG

Rombongan 2

Kelompok

Penanggung jawab:

Annisa Putri Utami A1F015004

Hilwa Kamilah A1F0150

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
PURWOKERTO
2016
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
      Dalam ilmu fisika, pengukuran dan besaran merupakan hal yang bersifat dasar, dan
pengukuran merupakan salah satu syarat yang tidak boleh ditinggalkan. Aktivitas mengukur
menjadi sesuatu yang sangat penting untuk selalu dilakukan dalam mempelajari berbagai
fenomena yang sedang dipelajari.
         Sebelumnya ada baiknya jika mengingat definisi pengukuran atau mengukur itu sendiri.
Mengukur adalah kegiatan membandingkan suatu besaran dengan besaran lain yang telah
disepakati. Misalnya menghitung volume balok, maka harus mengukur untuk dapat
mengetahui panjang, lebar dan tinggi balok, setelah itu baru menghitung volume.
      Mengukur dapat dikatakan sebagai usaha untuk mendefinisikan karakteristik suatu
fenomena atau permasalahan secara kualintatik. Jika dikaitkan dengan proses penelitian atau
sekedar pembuktian suatu hipotesis maka pengukuran menjadi jalan untuk mencari data-data 
yang mendukung. Dengan pengukuran ini kemudian akan diperoleh data-data numerik yang
menunjukan pola-pola tertentu sebagai bentuk karakteristik dari permasalahan tersebut.
      Pengukuran suatu besaran Fisika, dibutuhkan alat ukur untuk membantu mendapatkan
hasil pengukuran. Alat ukur terdiri atas mistar, jangka sorong, dan mikrometer sekrup. Alat
ukur tersebut masing-masing mempunyai fungsi. Pada mistar mempunyai fungsi untuk
mengukur panjang suatu benda sedangkan jangka sorong fungsinya digunakan untuk
mengukur diameter dalam dan diameter luar suatu benda. Jangka sorong merupakan salah
satu alat yang cukup teliti untuk pengukuran panjang.
Oleh karena praktikum ini akan ditujukan untuk membandingkan tingkat ketelitian
beberapa alat ukur panjang.

B. Tujuan

Praktikum ini bertujuan untuk membandingkan tingkat ketelitian beberapa alat ukur
panjang.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Pengukuran (measurement) adalah penetapan angka bagi individu dengan cara


sistematis yang mencerminkan sifat (karakteristik) dari individu. pengukuran adalah
suatu prosedur pemberian angka terhadap atribut atau variabel suatu kontinum (Azwar,
2010).
Sementara itu, pengukuran dapat diartikan sebagai kegiatan untuk mengukur
sesuatu. Pada hakekatnya, kegiatan ini adalah membandingkan sesuatu dengan atau atas
dasar ukuran tertentu. (Sudijono 2011). Karekteristik dari pengukuran, yaitu: 1)
perbandingan antara atribut yang di ukur dengan alat ukurnya, maksudnya apa yang di
ukur adalah atribut atau dimensi dari sesuatu, bukan sesuatu itu sendiri; 2) hasilnya
dinyatakan secara kuantitatif artinya, hasil pengukuran berwujud angka; 3) hasilnya
bersifat deskriptif, maksudnya hanya sebatas memberikan angka yang tidak
diinterpretasikan lebih jauh. Dari ketiga karakteristik yang disebutkan tersebut maka
dapat dikemukakan bahwa pengukuran merupakan pengambilan keputusan yang
menghasilkan sebuah angka tetapi angka yang diberikan tidak memberikan interpretasi
lebih jauh (Azwar, 2010).

A. Mistar ukur
Pada umumya mistar sebagai alat ukur panjang memiliki dua skala ukuran, yaitu
skala utama dan skala terkecil. Satuan untuk skala utama adalah sentimeter (cm) dan
satuan untuk skala terkecil adalah milimeter (mm). skala terkecil pada mistar memiliki
nilai 1 milimeter. Jarak antara skala skala utama adalah I cm. Diantara skala utama
terdapat 10 bagian skala terkecil memiliki nilai 0,1 cm atau 1 m. Mistar memiliki
ketelitian atau ketidakpastian pengukuran sebesar 0,5 mm atau 0,05 cm, yakni setengah
dari nilai skala terkecil yang dimiliki oleh mistar tersebut. Selain skala sentimeter (cm),
terdapat juga skala lainnya pada mistar ukur.

B. Jangka Sorong
Pengukuran besaran panjang yang kurang dari 1 mm dapat dilakukan dengan
menggunakan jangka sorong. Jangka sorong sanggup mengukur panjang hingga keteitian
0,1 mm. Jangka sorong terbaru bahkan mampu mengukur dengan ketelitian kurang dari
0,1 mm.
Secara umum, jangka sorong memiliki dua jenis skala. Skala pertama tertera pada
rahang utama jangka sorong. Skala ini disebut skala tetap. Skala kedua tertera pada
rahang yang bergerak. Skala pada rahang yang bergerak disebut skala nonius atau skala
Vernier.
Jangka sorong merupakan salah satu alat ukur panjang. Pada umumnya  jangka
sorong digunakan untuk mengukur diameter dalam dan diameter luar suatu benda. Jangka
sorong terdiri atas dua bagian utama yaitu bagian yang tetap (rahang tetap) dan bagian
yang dapat digeser-geser (rahang dorong) ( Serway, 2009).
Jangka sorong mempunyai dua fungsi pengukuran, yaitu :
 Mengukur panjang sisi luar suatu benda, seperti diameter kawat atau tebal pelat
logam.
 Mengukur panjang sisi dalam suatu benda: seperti diameter rongga pipa atau
diameter suatu lubang.
Pengukuran panjang sisi luar suatu benda dapat dilakukan dengan menjepit benda
yang ingin diukur dengan menggunakan rahang jangka sorong yang besar. Sebaliknya,
pengukuran panjang sisi dalam suatu benda dapat dilakukan dengan menarik benda yang
ingin diukur dengan menggunakan rahang jangka sorong yang kecil.
Hasil pengukuran dapat diketahui dengan menggabungkan pembacaan skala tetap dan
skala nonius. Caranya adalah sebagai berikut:
1. Tentukan pembacaan skala tetap yang sejajar dengan angka nol pada skala nonius.
Jika tidak tepat sejajar, gunakan pembacaan skala terdekat yang lebih kecil.
Misalkan, skala pembacaan skala tetap yang sejajar dengan angka nol pada skala
nonius berada diantara 2,4 dan 2,5. Besarnya pengukuran yang digunakan adalah
2,4 cm.
2. Cari garis pada skala nonius yang tepat berimpit dengan salah satu garis pada
skala tetap. Garis lima pada skala nonius tepat berhimpit dengan salah satu garis
untuk 2,9 pada skala tetap. Besranya pengukuran yang diperoleh adalah lima kali
nonius.
(5x 0,1 mm = 0,5 mm)
3. Jumlahkan kedua hasil pengukuran. Kita peroleh panjang benda yang dimaksud
adalah
2,4 cm + 0,5 mm = 2,45 cm (Mikrajuddin, 2006).
BAB III

METODE PENELITIAN

A. Alat dan Bahan


a. Alat

Alat yang digunakan adalah mistar dan jangka sorong.

b. Bahan

Bahan yang digunakan adalah tempe.

B. Prosedur Kerja

Diukur panjang produk dengan mistar

Dilakukan dengan 5 kali pengukuran

Data dituliskan yang didapatkan ke


dalam table pengamatan

Kemudian mistar diganti dengan jangka


sorong, lalu ulangi langkah a sampai c.

Lakukan cara yang sama untuk lebar


dan tinggi produk.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan

1. Hasil Pengukuran Panjang

Pengukuran
Mistar (cm) Jangka sorong (cm)
ke-
1 4,9 4,91
2 4,7 4,67

3 5 4,91

4 5 5,00

5 5 5,12

Rata-rata 4,92 4,922


Ketidakpastian
0,096 0,1104
Pengukuran
Error 1,95% 2,24%

2. Hasil Pengukuran Lebar

Pengukuran
Mistar (cm) Jangka sorong (cm)
ke-
1 5,5 4,55

2 5,3 4,72

3 5,5 4,65

4 5,4 4,52
5 5,5 4,68

Rata-rata 5,44 4,624


Ketidakpastian
0,072 0,072
Pengukuran
Error 1,32% 1,5%

3. Hasil Pengukuran Tinggi

Pengukuran
Mistar (cm) Jangka sorong (cm)
ke-
1 2,1 2,12
2 1,8 2,04
3 2,4 2,01

4 2 2,28

5 2,3 2,16

Rata-rata 2,12 2,122


Ketidakpastian
0,184 0,0784
Pengukuran
Error 8,68% 3,69%

Perhitungan

1. Hasil Pengukuran panjang


a. Mistar

xi
1. Rata-rata x́ = ∑n

4,5+ 4,7+5+5+5
=
5

24,6
=
5
= 4,92 cm

2. Ketdakpastian Pengukuran

|xi− x́|
∆x = ∑
n
|( 4,9−4,92 )+ ( 4,7−4,92 ) + ( 5−4,92 ) +( 5−4,92 ) +(5−4,92)|
= ∑ 5

( 0,02 ) + ( 0,22 ) + ( 0,08 ) + ( 0,08 )+(0,08)


=∑
5

0,48
¿
5

= 0,096

∆x
3. %Error = x 100%
x

0,096
= x 100%
4,92

= 1,95 %

b. Jangka Sorong

xi
1. Rata-rata x́ = ∑n

4,91+4,67 +4,91+5,00+5,12
= 5

24,61
= 5
= 4,922 cm

2. Ketdakpastian Pengukuran

|xi− x́|
∆x = ∑
n

=
|( 4,91−4,922 ) + ( 4,67−4,922 ) + ( 4,91−4,922 ) + ( 5,00−4,922 ) +(5,12−4,922)|
∑ 5

( 0,012 ) + ( 0,252 ) + ( 0,012 ) + ( 0,078 ) +(0,198)


=∑
5
0,552
¿
5

= 0,1104

∆x
3. % Error = x 100%
x

0,1104
= x 100%
4,922

= 2,24 %

2. Hasli Pengukuran Lebar


a. Mistar

xi
1. Rata-rata x́ = ∑n

5,5+5,5+5,5+5,4+5,5
= 5

27,4
= 5
= 5,44 cm

2. Ketdakpastian Pengukuran

|xi− x́|
∆x = ∑
n

|( 5,5−5,44 ) + ( 5,5−5,44 ) +( 5,5−5,44 ) + ( 5,4−5,44 ) +(5,5−5,44)|


= ∑ 5

( 0,06 )+ ( 0,14 ) + ( 0,06 ) + ( 0,04 ) +(0,06)


=∑
5

0,36
¿
5

= 0,072
∆x
3. % Error = x 100%
x

0,072
= x 100%
5,44

= 1,32 %

b. Jangka Sorong

xi
1. Rata-rata x́ = ∑n

4,55+ 4,72+ 4,65+ 4,52+ 4,68


= 5

23,12
= 5
= 4,624 cm

2. Ketdakpastian Pengukuran

|xi− x́|
∆x = ∑
n

=
|( 4,55−4,624 ) + ( 4,72−4,624 ) + ( 4,65−4,624 )+ ( 4,52−4,624 ) +(4,68−4,624)|
∑ 5

( 0,07 )+ ( 0,1 )+ ( 0,03 )+ ( 0,01 )+(0,05)


=∑
5

0,36
¿
5

= 0,072

∆x
3. % Error = x 100%
x

0,072
= x 100%
4,624
= 1,5 %

c. Hasil Pengukuran Tinggi


a. Mistar
xi
1. Rata-rata x́ = ∑
n

2,1+ 1,8+2,4+2+2,3
= 5
10,6
= 5
= 2,12 cm

2. Ketdakpastian Pengukuran

|xi− x́|
∆x = ∑
n

|( 2,1−2,12 )+ (1,8−2,12 ) + ( 2,4−2,12 ) + ( 2−2,12 ) +(2,3−2,12)|


= ∑ 5

( 0,02 ) + ( 0,32 ) + ( 0,28 ) + ( 0,12 ) +(0,18)


=∑
5

0,92
¿
5

= 0,184

∆x
3. % Error = x 100%
x

0,184
= x 100%
2,12

= 8,68 %

b. Jangka Sorong

xi
1. Rata-rata x́ = ∑n
2,12+ 2,04+2,01+2,28+2,16
= 5

10,61
= 5
= 2,122 cm

2. Ketdakpastian Pengukuran

|xi− x́|
∆x = ∑
n

=
|( 2,21−2,122 )+ ( 2,04−2,122 ) + ( 2,01−2,122 )+ ( 2,28−2,122 ) +( 2,16−2,122)|
∑ 5

( 0,002 ) + ( 0,082 ) + ( 0,112 )+ ( 0,158 )+(0,038)


=∑
5

0,392
¿
5

= 0,0784

∆x
3. % Error = x 100%
x

0,0784
= x 100%
2,122

= 3,69 %

B. Pembahasan

Pada praktikum pengukuran kali ini digunakan mistar dan jangka sorong untuk
mengukur tempe yang berbentuk balok. Mengukur adalah membandingkan sesuatu yang
sedang diukur dengan besaran sejenis yang ditetapkan sebagai satuan. Untuk menentukan
nilai suatu besaran digunakan alat ukut, contohnya mistar, neraca, stopwatch, multimeter,
dsb. (Sutrisno,2004)
Pada hasil pengamatan dari kelima tempe yang berbentuk balok dan berbeda
ukuran diukur panjang, lebar dan tingginya menggunakan mistar dan jangka sorong pada
setiap tempe. Setelah diukur didapat hasil perbedaan pengukuran antara pengukuran
menggunakan mistar dan jangka sorong. Pengukuran tersebut dihitung juga angka
ketidakpastian pengukurannya dan persentase error.

Beberapa istilah yang digunakan untuk menyatakan keandalan pengukuran adalah


presisi (precision) dan akurasi (accuracy).
a. Presisi (Ketelitian)
Presisi adalah derajat kedekatan kesamaan pengukuran antara satu dengan
lainnya. Jika hasil pengukuran saling berdekatan (mengumpul) maka dikatakan
mempunyai presisi tinggi dan sebaliknya jika hasil pengukuran menyebar maka dikatakan
mempunyai presisi rendah. Presisi diindikasikan dengan penyebaran distribusi
probabilitas. Distribusi yang sempit mempunyai presisi tinggi dan sebaliknya. Ukuran
presisi yang sering digunakan adalah standar deviasi (σ). Presisi tinggi nilai standar
deviasinya kecil dan sebaliknya. Jadi, presisi berhubungan dengan metode pengukuran
dan bagaimana hasil ukur tersebut dituliskan.

a. Akurasi (Ketepatan)
Akurasi adalah derajat kedekatan pengukuran terhadap nilai sebenarnya. Akurasi
mencakup tidak hanya kesalahan acak, tetapi juga bias yang disebabkan oleh kesalahan
sistematik yang tidak terkoreksi. Jika tidak ada bias kesalahan sistematik maka standar
deviasi dapat dipakai untuk menyatakan akurasi. Alat ukur yang mempunyai presisi
tinggi belum tentu alat ukur tersebut mempunyai akurasi tinggi. Akurasi rendah dari alat
ukur yang mempunyai presisi tinggi. Jika sebuah pengukuran dilakukan dengan metode
yang sangat teliti dengan alat ukur yang canggih dan dilakukan berulang-ulang akan
menghasilkan pengukuran yang memiliki presisi tinggi. Namun, jika teryata salah satu
bagian dari alat ukur tersebut cacat atau tidak berfungsi dengan sempurna, misalnya
jarum penunjuk skala bengkok, maka pengukuran tersebut menjadi tidak akurat.
Hasil pengukuran selalu mengandung ketidakpastian. Apakah penyebab
ketidakpastian pada hasil pengukuran? Pertama, karena pengukuran adalah tindakan
manusia dan seperti diketahui bahwa manusia adalah tidak sempurna, sehingga hasil
pengukurannya juga tidak sempurna. Kedua, alat yang digunakan untuk pengukuran juga
buatan manusia sehingga tidak sempurna. Selain kedua factor ini, ada banyak factor lain
yang berpengaruh pada hasil pengukuran yang tidak dapat diketahui semuanya. Akan
tetapi, kita perlu mengetahui sumber-sumber kesalahan dan berusaha menghilangkannya.
Berikut ini macam-macam sumber kesalahan sebagai berikut:
1. Kesalahan alami
Biasanya, suatu pengukuran dilakukan di lingkungan yang tidak dapat dikontrol.
Efek suhu, tekanan atmosfer, angin, gravitasi bumi pada alat ukur akan menimbulkan
kesalahan-kesalahan pada hasil pengukuran.
2. Kesalahan alat
Pengukuran, baik yang dilakukan dengan alat ukur yang sederhana maupun alat
ukur yang canggih, tetap saja memungkinkan terjadinya kesalahan, misalnya karena
ketidaksempurnaan pembuatan alat ukurnya di pabrik atau kesalahan kalibrasi.
3. Kesalahan manusia
Karena manusia secara langsung terlibat dalam pengukuran, dan cukup banyak
unsur subjektif dalam diri manusia, maka kesalahan yang diakibatkan oleh manusia
sangat mungkin terjadi dalam pengukuran. System otomatisasi dan digitalisasi telah
mengurangi sumber kesalahan yang berasal dari manusia ini. Contoh kesalahan yang
ditimbulkan oleh manusia adalah kesalahan paralaks.
4. Kesalahan hitung
Kesalahan hitung meliputi cukup banyak hal, misalnya tentang jumlah angka
penting yang berbeda-beda dari beberapa hasil pengukuran, kesalahan pembulatan hasil
pengukuran, dan penggunaan factor konversi satuan.

Kesalahan terletak pada perbedaan simpangan atau nilai pada alat ukur terhadap
nilai besaran sebenarnya. Hasil pengukuran selalu mengandung ketidakpastian dan perlu
untuk mengetahuinya dan berusaha untuk menghilangkannya. Menurut Sutrisno, (2004)
ketidakpastian tersebut bersumber dari:

A. Kesalahan-kesalahan sistematis (systematic errors)


Ketidakpastian bersistem dapat disebut sebagai sumber kesalahan karena
bersumber pada kesalahan alat. Ketidakpastian ini meliputi hal-hal berikut ini.

1. Kesalahan Alat Ukur


2. Kesalahan kalibrasi, kesalahan yang terjadi pada waktu pembuatan alat
3. Kesalahan titik nol, kesalahan karena titik nol skala alat ukur tidak berhimpit dengan
titik nol jarum penunjuk alat ukur
4. Kesalahan komponen alat, kesalahan ini dapat terjadi karena alat ukur sering dipakai,
yang mungkin karena alat ukur tersebut melebihi batas maksimal
5. Gesekan, kesalahan ini timbul karena gesekan pada bagian-bagian alat yang bergerak
6. Paralaks, kesalahan yang terjadi ketika membaca hasil pengukuran tidak tepat tegak
lurus dengan benda yang diukur dengan skala alat ukur
7. Keadaan saat bekerja, kesalahan yang mungkin terjadi saat bekerja karena pengaruh
suhu, tekanan, kelembaban, dsb.

Ketidakpastian ini bersumber pada keadaan atau gangguan yang sifatnya acak,
sehingga menghasilkan ketidakpastian yang bersifat acak pula. Berbeda dengan
ketidakpastian bersistem, ketidakpastian ini tidak mempunyai kecenderungan tertentu
sehingga sukar diatasi. Pada pengukuran yang sudah direncanakan kesalahan-kesalahan
ini biasanya hanya kecil. Tetapi untuk pekerjaan-pekerjaan yang memerlukan ketelitian
tinggi akan berpengaruh.

Menurut Ruwanto, (2004) untuk menghindari kesalahan-kesalahan tersebut


dengan cara :
 Memilih instrumen yang tepat untuk pemakaian tertentu.
 Menggunakan faktor-faktor koreksi setelah mengetahui banyaknya kesalahan.
 Mengkalibrasi instrumen tersebut terhadap instrumen standar. Pada kesalahan-
kesalahan yang disebabkan lingkungan, seperti : efek perubahan temperatur,
kelembaban, tahanan udara luar, medan-medan maknetik, dan sebagainya dapat
dihindari dengan membuat pengkondisian udara (AC), penyegelan
komponenkomponen instrumen tertentu dengan rapat, pemakaian pelindung maknetik
dan sebagainya.
Setiap alat ukur mempunyai skala terkecil dalam berbagai ukuran. Pada mistar
ada yang mempunyai skala terkecil 1 mm. Demikian pula pada jangka sorong yang
dilengkapi dengan skala nonius sehingga memungkinkan kita mampu membaca hingga
0,1 mm. Meskipun demikian, karena keterbatasan penglihatan pembacaan skala terkecil
ini juga merupakan sumber kesalahan.
Sumber ketidakpastian ini adalah keterbatasan pengamat sendiri. Misalnya
pengamat kurang terampil dalam menggunakan alat, utamanya alat-alat canggih yang
melibatkan banyak komponen yang harus diatur.
Ketelitian alat ukur terkadang menyebabkan hasil pengukuran mengalami
penyimpangan dari yang sebenarnya. Batas-batas dari penyimpangan ini disebut dengan
kesalahan batas.
Apabila suatu pengukur dilakukan secara berulang, maka hasil dari setiap
pengukuran tersebut tidak selalu tepat sama. Hasil pengukuran tersebut akan terpencar di
sekitar harga rata-ratannya.

a. Penyimpangan yang Bersumber Dari Alat Ukur


Untuk menghindari kesalahan yang bersumber dari alat ukur, maka alat ukur yang
akan digunakan harus dikalibrasi. Di samping kesalahan yang diakibatkan oleh keausan
bidang kontak (sensor) yang menyebabkan terjadinya kesalahan sistematik, maka
kesalahan lain yang mungkin terjadi adalah histeris, kepasifan, pergeseran dan kestabilan
nol. Sedangkan kesalahan rambang dapat diketahui dengan melakukan pengukuran yang
berulang dan identik (paling sedikit 20 kali).

b. Penyimpangan yang Bersumber Dari Benda Ukur


Tekanan kontak dari sensor alat ukur atau berat benda ukur sendiri akan
mengakibatkan beban yang pada akhirnya menyebabkan benda ukur yang elasitis akan
terdeformasi (berubah bentukny). Adanya deformasi ini yang mengakibatkan kesalahan
pembacaan sensor alat ukur yang mempengaruhi hasil pengukuran secara langsung.
Suatu pengukuran dengan menggunakan alat ukur sensor mekanis akan
memberikan suatu tekanana tertentu pada permukaan obyek ukur. Beberapa alat ukur
misalnya mikrometer dapat menyebabkan suatu deformasi pada permukaan obyek ukur
yang relatif luank (aluminium) ataupun lenturan pada diameter silinder dengan dinding
yang relatif tipis. Oleh karena itu pada mikrometer selalu diperlengkapi suatu alat yang
disebut dengan pembatas momen putar yang berfungsi untuk menjaga tekanan
pengukuran sekecil mungkin dan konstan. Jika kondisi benda ukur ini sedemikian
kritisnya, maka gunakan alat ukur dengan sensor optis ataupun pneumatis.

c. Penyimpangan Yang Bersumber Dari Pengukur


Dua orang yang melakukan pengukuran secara bergantian dengan menggunakan
alat ukur dan benda ukur kondisi lingkungan yang dianggap sama (tak berubah) akan
menghasilkan data yang berbeda. Sumber dari perbedaan ini dapat berasal dari cara
mengukur, pengalaman data yang berbeda. Sumber dari perbedaan ini dapat berasal dari
cara mengukur, pengalaman dan keahlian serta kemampuan masing-masing pengukur.
Mengukur adalah suatu pekerjaan yang memerlukan kecermatan, dengan demikian orang
yang melakukan pengukuran harus:

 Memiliki pengalaman praktek yang didasari penguasaan pengetahuan tentang


pengukuran
 Mengetahui sumber-sumber penyimpangan yang mungkin terjadi dan tahu
bagaimana cara mengeliminir (mengurangi pengaruhnya sampai sekecil mungkin)
sehingga pengaruhnya terhadap hasil pengukuran dapat diabaikan.
 Memiliki dasar-dasar pengetahuan alat ukur, cara kerja alat ukur, cara pengukuran,
cara mengkalibrasi dan memelihara alat ukur.
 Sadar bahwa hasil pengukur adalah sepenuhnya merupakan tanggung jawab.

d. Penyimpangan yang Bersumber Dari Posisi Pengukuran


Prinsip ABBE menyatakan bahwa garis pengukur harus berimpit dengan garis
dimensi. Kesalahan posisi pengukur dapat mengakibatkan garis pengukuran membentuk
sudut sebesar  dengan garis dimensi sehingga terjadi kesalahan yang disebut  dengan
kesalahan kosinus (cosine error). Penggunaan mikrometer dengan posisi pengukuran
yang salah dapat mengakibatkan kombinasi kesalahan kosinus dan kesalahan sinus (sine
error).

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Mikrajuddin. 2006. Fisika . Jakarta: Erlangga.

Antika , E. Julianty, Miroah, A. Nurul, F. Hapsari. 2012 Pengukuran (Kalibrasi) Volume Dan
Massa Jenis Alumunium. Jurnal Fisika dan Aplikasinya, Vol. 13 Edisi 1 Mei 2012.
Prodi Pendidikan Fisika Pasca Sarjana Universitas Negeri Jakarta.

Ruwanto, Bambang. 2006. Asas- asas Fisika. Yogyakarta: Yudhistira

Serway dan Jewett. 2009. Fisika Untuk Sains dan Teknik. Jakarta; Salemba Teknika.

Sutrisno. 2004. Elektronika: Teori dan Penerapannya jilid 1. Bandung: Penerbit ITB.
LAMPIRAN

Tempe berbentuk balok Ukuran tiap tempe


Jangka sorong Tempe diukur menggunakan Jangka Sorong