Anda di halaman 1dari 36

Tugas E-Learning 1

Selasa / 31-03-2020

MAKALAH
PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN FISIKA
“Model Pembelajaran Penemuan (Model Discovery Learning)”

OLEH :
LAURA ALIYAH AGNEZI (19175006)

DOSEN PEMBIMBING :
Dr. Asrizal, M.Si.
Dr. Fatni Mufit, S.Pd, M.Si

PROGRAM STUDI MAGISTER PENDIDIKAN FISIKA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan segala rahmat
dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah pribadi
pada mata kuliah Pengembangan model pembelajaran fisika mengenai “Model
pembelajaran Penemuan”. Dalam menyelesaikan makalah ini, penulis banyak
dibantu oleh berbagai pihak terutama penulis mengucapkan terima kasih kepada
Dosen Pembimbing Dr. H. Asrizal, M.Si dan Dr. Fatni Mufit, S.Pd, M.Si
Penulis menyadari masih banyak kekurangan dan kesalahan, baik dari segi
materi maupun penulisan. Oleh karena itu, penulis mohon maaf atas kekurangan
tersebut dan mengharapkan masukan untuk kesempurnaan makalah ini. Semoga
makalah ini bermanfaat bagi para pembaca.

Padang, 31 Maret 2020

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..............................................................................................i
DAFTAR ISI............................................................................................................ii
DAFTAR TABEL...................................................................................................iv
DAFTAR GAMBAR...............................................................................................v
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................1
A. Latar Belakang..........................................................................................1
B. Rumusan Masalah.....................................................................................2
C. Tujuan Penulisan.......................................................................................2
D. Kegunaan Penulisan..................................................................................3
BAB II LANDASAN TEORI.................................................................................4
A. Pengertian Model Pembelajaran Penemuan..............................................4
B. Tujuan Model Pembelajaran Penemuan....................................................6
C. Ciri-Ciri Model Pembelajaran Penemuan.................................................7
D. Landasan Filosofis dan Teori Belajar........................................................8
E. Prinsip Dasar.............................................................................................9
F. Konsep untuk Mendeskripsikan Model Pembelajaran Penemuan..........10
1. Sintaks..................................................................................................10
2. Sistem Sosial........................................................................................13
3. Prinsip Reaksi......................................................................................14
4. Sistem Pendukung...............................................................................14
5. Efek Instruksional dan Efek Penyerta..................................................15
G. Kelebihan dan Kekurangna Model Pembelajaran Penemuan.................16
BAB III PEMBAHASAN.....................................................................................19
A. Pentingnya Penelitian..............................................................................19
B. Permasalahan dan Solusi.........................................................................20
C. Kebaharuan Penelitian.............................................................................20
D. Metode Penelitian....................................................................................20
E. Hasil Penelitian........................................................................................22
F. Pembahasan.............................................................................................25
G. Kesimpulan Penelitian.............................................................................26

ii
BAB IV PENUTUP..............................................................................................27
A. Kesimpulan..............................................................................................27
B. Ide yang Diperoleh dan Rencana Tindak Lanjut.....................................28
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................29

iii
DAFTAR TABEL

Tabel 1 Sintaks Model Pembelajaran Penemuan...................................................12


Tabel 2 Desain Penelitian (The Matching-Only Pretest-Posttest Control Group
Design).....................................................................................................20
Tabel 3 Hasil Uji Normalitas KPS Peserta didik Pada Kelas Webbed dan
Shared.......................................................................................................24
Tabel 4 Hasil Uji Homogenitas Varians KPS Pada Kelas Webbed dan Shared....24

iv
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Dampak Instruksional dan Pengiringodel Pembelajaran Penemuan.....15


Gambar 2 Perbandingan Rerata Skor Pretest, Skor Posttest dan N-Gain KPS
pada Kelas Webbed dan Shared...........................................................22
Gambar 3 Perbandingan N-Gain Setiap Indikator KPS Pada Kelas Webbed dan
Kelas Shared.........................................................................................23
Gambar 4 Perbandingan Rerata N-Gain pada Setiap Indikator KPS pada Kelas
Shared dan Webbed...............................................................................23

v
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pembelajaran merupakan suatu kegiatan yang dirancang oleh pendidik agar
peserta didik melakukan kegiatan belajar, untuk mencapai tujuan atau kompetensi
yang diharapkan. Dalam merancang kegiatan pembeajaran ini, seorang pendidik
semestinya memahami karakteristik peserta didik, tujuan pembelajaran yang ingin
dicapai atau kompetensi yang harus dikuasai oleh peserta didik, materi ajar yang
akan disajikan, dan cara yang digunakan dalam mengemas penyajian materi
tersebut. Selain itu, pendidik juga harus memperhatikan penggunaan bentuk dan
jenis penilaian yang akan dipiih untuk melakukan pengukuran terhadap
ketercapaian tujuan pembelajaran ataupun kompetensi yang harus dimiliki oleh
peserta didik.
Berkaitan dengan cara atau metode apa yang akan dipilih dan digunakan
dalam kegiatan pembelajaran, seorang pendidik harus terlebih dahulu memahami
berbagai pendakatan, strategi, dan model pembelajaran. Pemahaman tentang hal
ini akan memberikan tuntutan kepada pendidik untuk dapat memilah, memilih,
dan menetapkan dengan tepat metode dan model pembelajaran yang akan
digunakan dalam pembelajaran. Model pembelajaran itu sendiri merupakan suatu
perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam
merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial. Model
pembelajaran mengacu pada pendekatan pembelajaran yang akan digunakan,
termasuk di dalamnya tujuanpengajaran, tahap-tahap dalam kegiatan
pembelajaran, lingkungan pembelajaran dan pengelolaan kelas (Trianto, 2014).
Model pembelajaran terus berkembang sebagai usaha untuk meningkatkan
kualitas pendidikan dan kualitas pembelajaran. Kemampuan pendidik dalam
merancang pembelajaran yang mampu mengoptimalkan hasil belajar peserta didik
merupakan kunci tercapainya tujuan pembelajaran.Pembelajaran harus lebih
menekankan pada aktivitas penalarankarena penalaran sangat erat kaitannya
dengan pencapaian prestasi belajar siswa. Oleh karena itu, jika siswa diberikan
kesempatan untuk menggunakan keterampilan bernalarnyadalam melakukan

1
dugaan-dugaan berdasarkan pengalamannya sendiri, maka siswa akan
lebihmemahami konsep.
Kenyataan yang terjadi, siswa belum mampu mengembangkan
kemampuan penalaran dengan baik. Hal ini menjadi permasalahan besar karena
siswa yang mengalami kesulitan dalam mengembangkan kemampuan
penalarannya akan mempengaruhi prestasi belajarnya. Rendahnya kemampuan
penalaran matematis juga didukung hasil yang diperoleh TIMSS 2007 dimana
hanya 5% siswa yang mampu mengerjakan soal dalam kategori tinggiyang
memerlukan reasoning (penalaran), selebihnya siswa hanya mampu menjawab
soal-soaldalam kategori rendah yang hanya memerlukan knowing (hafalan).
Berdasarkan pandangan di atas, model pembelajaran penemuan diyakini
dapat meningkatkan kemampuan penalaran siswa. Model pembelajaran penemuan
merupakan salah satu model pembelajaran yang mengajak siswa untuk terlibat
aktif dalam membangun pengetahuannya. Model pembelajaran penemuan dapat
mengarah pada terbentuknya kemampuan untuk melakukan penemuan bebas di
kemudian hari. Dalam pembelajaran ini guru menyajikan bahan pelajaran tidak
dalam bentuk akhir, seperti rumus yang instan tetapi siswa berpeluang
untukmencari dan menemukan sendiri inti dari pembelajaran yang ingin dicapai.
Guru hanya memfasilitasi, membantu dan mengarahkan sehingga proses dan
tujuan pembelajaran dapat tercapai.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan, maka rumusan
masalahnya adalah:
1. Apa pengertian model pembelajaran penemuan?
2. Bagaimana karakteristik dalam model pembelajaran penemuan?
3. Bagaimana konsep untuk mendeskripsikan model pembelajaran penemuan?
4. Apa kelebihan dan kekurangan model pembelajaran penemuan?

C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah:
1. Mengetahui pengertian model pembelajaran penemuan?

2
2. Mengetahui karakteristik dalam model pembelajaran penemuan?
3. Mengetahui konsep untuk mendeskripsikan model pembelajaran penemuan?
4. Mengetahui kelebihan dan kekurangan model pembelajaran penemuan?

D. Kegunaan Penulisan
Adapun manfaat penulisan dari makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Penulis, sebagai wadah untuk mengembangkan dan memperdalam
pengetahuan mengenai materi model pembelajaran penemuan sekaligus
memenuhi tugas pada mata kuliah “Pengembangan Model Pembelajaran
Fisika”.
2. Tenaga pendidik, untuk menambah wawasan mengenai materi model
pembelajaran penemuan.
3. Pembaca, sebagai wadah untuk menambah pengetahuan mengenai materi
model pembelajaran penemuan.

3
BAB II
LANDASAN TEORI

A. Pengertian Model Pembelajaran Penemuan


Model pembelajaran penemuan sering juga disebut sebagai model
pembelajaran discovery atau discovery learning model. Ide pembelajaran
penemuan (Discovery Learning) muncul dari keinginan untuk memberi rasa
senang kepada anak dalam menemukan sesuatu oleh mereka sendiri dengan
mengikuti jejak para ilmuwan (Nur, 2000). Pembelajaran dengan penemuan,
siswa didorong untuk belajar sebagian besar melalui keterlibatan aktif mereka
sendiri dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip. Selain itu, dalam pembelajaran
penemuan siswa juga belajar pemecahan masalah secara mandiri dan
keterampilan-keterampilan berfikir, karena mereka harus menganalisis dan
memanipulasi informasi (Slavin, 1994).
Model pembelajaran Discovery adalah cara untuk mengembangkan siswa
aktif belajar dengan menemukan konsep mereka sendiri, menyelidiki masalah
mereka sendiri, maka hasil yang akan diperoleh selalu dalam ingatan siswa
(Shadiq, 2009). Model pembelajaran Discovery mendorong siswa untuk
berkomunikasi matematika dengan menemukan konsep dalam matematika yang
belum pernah mereka pelajari sebelumnya (Dina, et. al., 2019).
Dalam lampiran Permendikbud Nomor 103 Tahun 2014 tentang
Pembelajaran pada Pendidikan Dasar dan Menengah disebutkan bahwa, model
pembelajaran merupakan suatu bentuk pembelajaran yang memiliki nama, ciri,
sintak, pengaturan, dan budaya misalnya discovery learning, project-based
learning, problem-based learning, inquiry learning. Model discovery learning
merupakan model pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa
untuk mencari tahu tentang suatu permasalahan dan menemukan solusinya
berdasarkan kepada hasil pengolahan informasi yang dicari dan dikumpulkannya
sendiri (Salpan, 2017).
Pembelajaran penemuan dibedakan menjadi dua, yaitu pembelajaran
penemuan bebas (Free Discovery Learning) atau sering disebut open
endeddiscovery dan pembelajaran penemuan terbimbing (Guided Discovery
Learning). Dalam pelaksanaannya, pembelajaran penernuan terbimbing (Guided

4
Discovery Learning) lebih banyak diterapkan, karena dengan petunjuk guru siswa
akan bekerja lebih terarah dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Namun bimbingan guru bukanlah semacam resep yang harus dikuti tetapi hanya
merupakan arahan tentang prosedur kerja yang diperlukan. Berdasarkan fakta dan
hasil pengamatan, penerapan pembelajaran penemuan memiliki kelebihan-
kelebihan membantu siswa untuk memperbaiki dan meningkatkan keterampilan
dan proses kognitif. (Widiadnyana, 2014). Terdapat perbedaan pemahaman
konsep dan sikap ilmiah antara siswa pada model Discovery Learning dengan
model pembelajaran langsung (Rosdiana, et. al., 2017).
Guided discovery learning mengombinasikan dua cara pengajaran, yaitu
teacher-centered dan student-centered. Dalam guided discovery, guru bertindak
sebagai fasilitator dan aktif dalam membimbing peserta didik memperoleh
pengetahuan dan menempatkan peserta didik bersikap aktif. Sehingga, guided
discovery umumnya lebih efektif daripada free discovery (Astra & Wahidah,
2017).
1. Menurut Wilcox (Slavin, 1994), dalam pembelajaran dengan penemuan siswa
didorong untuk belajar sebagian besar melalui keterlibatan aktif mereka
sendiri dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip, dan guru mendorong siswa
untuk memiliki pengalaman dan melakukan percobaan yang memungkinkan
mereka menemukan prinsip-prinsip untuk diri mereka sendiri.
2. Pengertian discovery learning menurut J. Bruner adalah metode belajar yang
mendorong siswa untuk mengajukan pertanyaan dan menarik kesimpulan dari
prinsip-prinsip umum praktis contoh pengalaman. Dan yang menjadi dasar ide
J. Bruner ialah pendapat dari piaget yang menyatakan bahwa anak harus
berperan secara aktif didalam belajar di kelas. Untuk itu Bruner memakai cara
dengan apa yang disebutnya discovery learning, yaitu dimana murid
mengorganisasikan bahan yang dipelajari dengan suatu bentuk akhir.
3. Menurut Bell (1978) belajar penemuan adalah belajar yang terjadi sebagia
hasil dari siswa memanipulasi, membuat struktur dan mentransformasikan
informasi sedemikian sehingga ia menemukan informasi baru. Dalam belajar
penemuan, siswa dapat membuat perkiraan (conjucture), merumuskan suatu

5
hipotesis dan menemukan kebenaran dengan menggunakan prose induktif atau
proses dedukatif, melakukan observasi dan membuat ekstrapolasi.

B. Tujuan Model Pembelajaran Penemuan


1. Memperkuat informasi pengetahuan yang sudah dikenal siswa, terutama jika
bahan mata pelajaran dapat disampaikan dengan cara berbeda.
2. Mengembalikan konsep-konsep yang sulit, dan perlu didiskusikan lagi dengan
siswa secara terperinci.
3. Berpikir kembali tentang masalah-masalah yang sulit, karena siswa
menyelesaikan masalah sebelumnya yang tidak nampak.
4. Menyampaikan bahan dari beberapa masalah yang belum terselesaikan untuk
membantu siswa memperbaiki keterampilan intelektual mereka sehingga
secara perlahan memberi mereka kesempatan untuk belajar sendiri.
Salah satu metode belajar yang akhir-akhir ini banyak digunakan di sekolah-
sekolah yang sudah maju adalah metode discovery. Hal ini disebabkan karena
metode ini (1) merupakan suatu cara untuk mengembangkan cara belajar siswa
aktif; (2) dengan menemukan dan menyelidiki sendiri konsep yang dipelajari,
maka hasil yang diperoleh akan tahan lama dalam ingatan dan tidak mudah
dilupakan siswa;(3) pengertian yang ditemukan sendiri merupakan pengertian
yang betul-betul dikuasai dan mudah digunakan atau ditransfer dalam situasi lain;
(4) dengan menggunakan strategi discovery anak belajar menguasai salah satu
metode ilmiah yang akan dapat dikembangkan sendiri; (5) siswa belajar berpikir
analisis dan mencoba memecahkan problema yang dihadapi sendiri, kebiasaan ini
akan ditransfer dalam kehidupan nyata.
Bell (1978) mengemukakan beberapa tujuan spesifik dari pembelajaran
dengan penemuan, yakni sebagai berikut:
a) Dalam penemuan siswa memiliki kesempatan untuk terlibat secara aktif
dalam pembelajaran. Kenyataan menunjukan bahwa partisipasi banyak siswa
dalam pembelajaran meningkat ketika penemuan digunakan.
b) Melalui pembelajaran dengan penemuan, siswa belajar menemukan pola
dalam situasi konkrit maupun abstrak, juga siswa banyak meramalkan
(extrapolate) informasi tambahan yang diberikan

6
c) Siswa juga belajar merumuskan strategi tanya jawab yang tidak rancu dan
menggunakan tanya jawab untuk memperoleh informasi yang bermanfaat
dalam menemukan.
d) Pembelajaran dengan penemuan membantu siswa membentuk cara kerja
bersama yang efektif, saling membagi informasi, serta mendengar dan
mneggunakan ide-ide orang lain.
e) Terdapat beberapa fakta yang menunjukan bahwa keterampilan-
keterampilan, konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang dipelajari melalui
penemuan lebih bermakna.
f) Keterampilan yang dipelajari dalam situasi belajar penemuan dalam
beberapa kasus, lebih mudah ditransfer untuk aktifitas baru dan diaplikasikan
dalam situasi belajar yang baru.
Dahar (1989) mengemukakan beberapa peranan guru dalam pembelajaran
dengan penemuan, yakni sebagai berikut:
a) Merencanakan pelajaran sedemikian rupa sehingga pelajaran itu terpusat
pada masalah-masalah yang tepat untuk diselidiki para siswa.
b) Menyajikan materi pelajaran yang  diperlukan sebagai dasar bagi para
siswa untuk memecahkan masalah. Sudah seharusnya materi pelajaran itu
dapat mengarah pada pemecahan masalah yang aktif dan belajar penemuan,
misalnya dengan menggunakan fakta-fakta yang berlawanan.
c) Guru juga harus memperhatikan cara penyajian yang enaktif, ikonik, dan
simbolik.
d) Bila siswa memecahkan masalah di laboratorium atau secara teoritis, guru
hendaknya berperan sebagai seorang pembimbing atau tutor. Guru hendaknya
jangan mengungkapkan terlebuh dahulu prinsip atau aturan yang akan
dipelajari, tetapi ia hendaknya memberikan saran-saran bilamana diperlukan.
Sebagai tutor, guru sebaiknya memberikan umpan balik pada waktu yang
tepat.

C. Ciri-Ciri Model Pembelajaran Penemuan


Ciri utama belajar menemukan yaitu: (1) mengeksplorasi dan memecahkan
masalah untuk menciptakan, menggabungkan dan menggeneralisasi pengetahuan;

7
(2) berpusat pada siswa; (3) kegiatan untuk menggabungkan pengetahuan baru
dan pengetahuan yang sudah ada. Model pembelajaran Discovery Learning
berpengaruh signifikan terhadap kemampuan berpikir kritis mahasiswa. Hal ini
dikarenakan dosen meletakkan pijakan kognitif berpikir kritis pada sintaks
pembelajaran Discovery Learning yang pertama yaitu stimulasi. Stimulasi pada
tahap ini berfungsi untuk menyediakan kondisi interaksi belajar yang dapat
mengembangkan dan membantu peserta didik dalam mengeksplorasi bahan.

D. Landasan Filosofis dan Teori Belajar


Pembelajaran penemuan mempunyai prinsip yang sama dengan inkuiri dan
problem solving. Tidak ada perbedaan yang prinsipal pada ketiga istilah ini, pada
pembelajaran penemuan lebih menekankan pada ditemukanya konsep atau prinsip
yang sebelumnya tidak diketahui. Perbedaannya dengan discovery ialah bahwa
pada discovery masalah yang dihadapkan kepada siswa semacam masalah yang
direkayasa oleh guru.
Belajar penemuan (Discovery learning) adalah model pengajaran yang
dikembangkan berdasarkan kepada pandangan kognitif tentang pembelajaran dan
konstruktivisme. Siswa belajar melalui keterlibatan aktif dengan konsep-konsep
dan prinsip-prinsip, dan guru mendorong siswa untuk mendapatkan pengalaman
dengan melakukan kegiatan yang memungkinkan mereka menemukan konsep dan
prinsip untuk diri mereka sendiri.
Discovery Learning adalah salah satu model dalam pengajaran teori kognitif
dengan mengutamakan peran guru dalam menciptakan situasi belajar yang
melibatkan siswa belajar secara aktif dan mandiri. Metode pembelajaran
discovery (penemuan) adalah metode mengajar yang mengatur pengajaran
sedemikian rupa sehingga anak memperoleh pengetahuan yang sebelumnya belum
diketahuinya itu tidak melalui pemberitahuan, sebagian atau seluruhnya
ditemukan sendiri. Dalam pembelajaran discovery (penemuan) kegiatan atau
pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa sehingga siswa dapat menemukan
konsep-konsep dan prinsip-prinsip melalui proses mentalnya sendiri. Dalam
menemukan konsep, siswa melakukan pengamatan, menggolongkan, membuat

8
dugaan, menjelaskan, menarik kesimpulan dan sebagainya untuk menemukan
beberapa konsep atau prinsip.
Banyak penjelasan tentang apa yang dimaksud dengan pembelajaran
Discovery Learning, menurut Seel (2012), belajar penemuan yaitu belajar dari
studi kontemporer dalam psikologi kognitif untuk mendorong pengembangan
metode yang lebih spesifik, yang didefinisikan karakteristiknya adalah bahwa
peserta didik harus menghasilkan unit dan struktur pengetahuan abstrak seperti
konsep dan alur oleh penalaran induktif mereka sendiri tentang hal yang bukan
abstrak dalam materi pembelajaran.

E. Prinsip Dasar
Konsep dasar dari discovery learning adalah bahwa guru harus
memfasilitasi pembelajaran yang memungkinkan peserta didik untuk menemukan
hasil yang telah ditentukan sesuai dengan tingkat pembelajaran yang sesuai
dengan standar kurikulum (Champine, Duffy, & Perkins, 2009). Sejalan dengan
pendapat Shalin (2012) yang menyatakan bahwa dalam kegitan pembelajaran
menggunakan Discovery learning siswa secara aktif mencari/menemukan sendiri,
yang dapat dilakukan dalam pedoman/rangka tugas pendidikan serta interaksi
pendidikan dengan lingkungan online akademik.
Ada sejumlah ciri-ciri proses pembelajaran yang sangat ditekankan oleh
teori konstruktivisme, yaitu :
a) Menekankan pada proses belajar, bukan proses mengajar
b) Mendorong terjadinya kemandirian dan inisiatif belajar pada siswa.
c) Memandang siswa sebagai pencipta kemauan dan tujuan yang ingin
dicapai.
d) Berpandangan bahwa belajar merupakan suatu proses, bukan menekan
pada hasil.
e) Mendorong siswa untuk mampu melakukan penyelidikan.
f) Menghargai peranan pengalaman kritis dalam belajar.
g) Mendorong berkembangnya rasa ingin tahu secara alami pada siswa.
h) Penilaian belajar lebih menekankan pada kinerja dan pemahaman siswa.
i) Mendasarkan proses belajarnya pada prinsip-prinsip kognitif.

9
j) Banyak menggunakan terminilogi kognitif untuk menjelaskan proses
pembelajaran; seperti predeksi, inferensi, kreasi dan analisis.
k) Menekankan pentingnya “bagaimana” siswa belajar.
l) Mendorong siswa untuk berpartisipasi aktif dalam dialog atau diskusi
dengan siswa lain dan guru.
m) Sangat mendukung terjadinya belajar kooperatif.
n) Menekankan pentingnya konteks dalam belajar.
o) Memperhatikan keyakinan dan sikap siswa dalam belajar.
p) Memberikan kesempatan kepada siswa untuk membangun pengetahuan
dan pemahaman baru yang didasari pada pengalaman nyata.
Berdasarkan ciri-ciri pembelajaran kontruktivisme tersebut diatas, maka
dalam penerapannya didalam kelas sebagai berikut :
a) Mendorong kemandirian dan inisiatif siswa dalam belajar
b) Guru mengajukan pertanyaan terbuka dan memberikan kesempatan
beberapa waktu kepada siswa untuk merespon.
c) Mendorong siswa berpikir tingkat tinggi.
d) Siswa terlibat secara aktif dalam dialog atau diskusi dengan guru atau
siswa lainnya.
e) Siswa terlibat dalam pengetahuan yang mendorong dan menantang
terjadinya diskusi.
f) Guru menggunakan data mentah, sumber-sumber utama dan materi-materi
interaktif.
g) Dari teori belajar kognitif serta ciri dan penerapan teori kontruktivisme
tersebut dapat melahirkan strategi discovery learning

F. Konsep untuk Mendeskripsikan Model Pembelajaran Penemuan


1. Sintaks
Pelaksanaan starategi Discovery Learning di kelas, Syah (2004) berpendapat
ada beberapa prosedur yang harus dilakukan dalam kegiatan belajar mengajar
secara umum.
a. Stimulation (Stimulasi/pemberian rangsangan). Pertama-tama pada tahap ini
pelajar dihadapkan pada sesuatu yang menimbulkan kebingungannya,

10
kemudian dilanjutkan untuk tidak memberigeneralisasi, agar timbul keinginan
untuk menyelidiki sendiri.
b. Problem statement (pernyataan/identifikasi masalah). Setelah dilakukan
stimulisasi , langkah selanjutnya adalah guru memberi kesempatan kepada
peserta didik untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin agenda-agenda
masalah yang relevan dengan bahan pelajaran, kemudian salah satunya dipilih
dan dirumuskan dalam bentuk hipotesis (jawaban sementara atas pertanyaan
masalah).
c. Data collection (pengumpulan data). Ketika eksplorasi berlangsung, guru juga
memberi kesempatan kepada para peserta didik untuk mengumpulkan
informasi sebanyak-banyaknya yang relevan untuk membuktikan benar atau
tidaknya hipotesis. Pada tahap ini berfungsi untuk menjawab pertanyaan atau
mebuktikan benar tidaknya hipotesis, dengan demikian peserta didikdiberi
kesempatan untuk mengumpulkan (collection) berbagai informasi yang
relevan, membaca literatur, mengamati objek, wawancara dengan nara
sumber, melakukan uji coba sendiri, dan sebagainya. Konsekuensi dari tahap
ini adalah peserta didik belajar secara aktif untuk menemukan sesuatu yang
berhubungan dengan permasalahan yang dihadapi, demikian dengan secara
dengan tidak disengaja peserta didik menghubungkan masalah dengan
pengetahuan yang telah dimilikinya.
d. Data processing (pengolahan data). Pengolahan data merupakan kegiatan
mengolah data dan informasi yang telah diperoleh para peserta didik baik
melalui wawancara, observasi, dan sebagainya. Selanjutnya ditafsirkan, dan
semuanya diolah, diacak, diklasifikasikan, ditabulasi, bahkan bila perlu
dihitung dengan cara tertentu serta ditafsirkan pada tingkat kepercayaan
tertentu. Data processing disebut juga dengan pengkodean
(coding)/kategorisasi yang berfungsi sebagai pembentukan konsep dan
generalisasi. Dari generalisasi tersebut peserta didik akan mendapatkan
pengetahuan baru tentang alternatif jawaban/penyelesaian yang perlu
mendapat pembuktian secara logis.
e. Verivication (pembuktian). Pada tahap ini peserta didik melakukan
pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis

11
yang ditetapkan dengan temuan alternatif, dihubungkan dengan hasil data
processing. Berdasarkan hasil pengolahan dan tafsiran atau informasi yang
ada, pernyataan atau hipotesisyang telah dirumuskan terdahulu itu kemudian
dicek, apakah terjawab atau tidak, apakah terbukti atau tidak.
f. Generalization (menarik kesimpulan atau generalisasi). Tahap generalisasi
atau menarik kesimpulan adalah proses menarik sebuah kesimpulan yang
dapat dijadikan prinsip umum dan berlaku untuk semua kejadian atau masalah
yang sama, dengan memperhatikan hasil verifikasi Syah (2004). Berdasarkan
hasil verifikasi, maka dirumuskan prinsip-prinsip yang mendasari generalisasi.
Setelah menarik kesimpulan peserta didik harus memperhatikan proses
generalisasi yang menekankan pentingnya penguasaan pelajaran atas makna
dan kaedah atau prinsip-prinsip yang luas yang mendasari pengalaman
seseorang, serta pentingnya proses pengaturan dan generalisasi dari
pengalaman-pengalaman.
Dari langkah-langkah pembelajaran Discovery Learning menurut Syah
(2004), dapat di perjelas dengan tabel berikut:
Tabel 1 Sintaks Model Pembelajaran Penemuan
Tahap Aktifitas Guru Aktifitas Peserta Didik

Tahap 1 Guru menghadapkan Peserta didik mendengar-


Stimulation peserta didik kepada kan penjelasan dari guru
(Stimulasi/pemberian suatu masalah yang mengenai permasalahan
rangsangan) membuat siswa merasa yang akan mereka pelajari
tertarik dan perlu untuk dalam pelajaran
mempelajarinya

Tahap 2 Guru memberi Peserta didik mengidentifi-


Problem statement kesempatan kepada kasi sebanyak mungkin
(pernyataan/identifikasi peserta didik untuk agenda-agenda masalah
masalah) mengidentifikasi yang relevan dengan bahan
sebanyak mungkin pelajaran, kemudiah
agenda-agenda masalah memilih salah satunya dan
yang relevan dengan merumuskan dalam bentuk
bahan pelajaran, hipotesis (jawaban
kemudian salah satunya sementara atas pertanyaan
dipilih dan dirumuskan masalah).
dalam bentuk hipotesis
(jawaban sementara atas
pertanyaan masalah).

12
Tahap Aktifitas Guru Aktifitas Peserta Didik

Tahap 3 Guru mengarahkan Peserta didik mengumpul-


Data collection peserta didik untuk kan data yang sesuai
(pengumpulan data) mengumpulkan data dengan masalah yang
yang sesuai dengan sedang peserta didik
masalah yang sedang pelajari
peserta didik pelajari
Tahap 4 Guru membimbing Peserta didik mengacak,
Data processing peserta didik untuk mengklasifikasikan,
(pengolahan data) mengacak, mentabulasi, mentabulasi, dan mengukur
dan mengukur kesesuaian data terhadap
kesesuaian data terhadap masalah yang dipelajari
masalah yang dipelajari
Tahap 5 Guru mengarahkan peser- Peserta didik melakukan
Verivication ta didik untuk melakukan pemeriksaan secara cermat
(pembuktian) pemeriksaan secara untuk membuktikan benar
cermat untuk membukti- atau tidaknya hipotesis
kan benar atau tidaknya yang ditetapkan dengan
hipotesis yang ditetapkan temuan alternatif, dihu-
dengan temuan alternatif, bungkan dengan hasil data
dihubungkan dengan
processing.
hasil data processing.

Tahap 6 Guru membantu siswa Peserta didik memperhati-


Generalization (menarik Dalam melaksanakan kan proses generalisasi yang
kesimpulan/generalisasi) proses generalisasi masa- menekankan pentingnya
lah dengan data-data yang penguasaan pelajaran atas
telah diperoleh dan makna dan kaedah atau
diverifikasi oleh peserta prinsip-prinsip yang luas
didik sebelumnya yang mendasari pengalam-
an seseorang, serta penting-
nya proses pengaturan dan
generalisasi dari pengalam-
an-pengalaman.

2. Sistem Sosial
Sistem sosial adalah situasi atau suasana dan norma yang berlaku dalam
model tersebut (Winataputra 2001:8). Sistem sosial menggambarkan bentuk kerja
sama guru dengan peserta didik dalam pembelajaran atau peran-peran guru dan
peserta didik. Selain guru dengan peserta didik, peserta didik dengan peserta didik
dapat bekerja sama pada saat berkelompok. Sistem sosial Model discovery
learning disajikan dalam bentuk cukup sederhana, fleksibel, dan tidak hanya

13
bergantung pada arahan guru. Struktur peristiwa belajar bersifat terbuka.
Kemungkinan lain pembelajar “dilepas” atau diberi kesempatan bebas untuk
mencari sesuatu sampai menemukan hasil belajar melalui proses-proses, dan
disini guru hanya bertugas memberikan arahan dan bimbingan guna memecahkan
persoalan yang dihadapi para anak didik.
Semua peserta didik dalam satu kelompok harus berperan aktif dalam
menentukan langkah-langkah yang dilakukan, melakukan pembuktian hipotesis
sesuai langkah-langkah, dan pada saat mengolah informasi yang sudah didapat.
Dalam beberapa model pembelajaran, guru bertindak sebagai pusat kegiatan dan
sumber belajar, namun ada pula peran guru dan peserta didik seimbang, setiap
model memberikan peran yang berbeda pada guru dan peserta didik.

3. Prinsip Reaksi
Principles of reaction merupakan suatu reaksi menggambarkan bagaimana
seharusnya guru memandang, memperlakukan, dan merespon siswa di dalam
sistem pembelajaran. Prinsip reaksi adalah pola kegiatan yang menggambarkan
bagaimana seharusnya guru melihat dan memperlakukan para pelajar, termasuk
bagaimana seharusnya pengajar memberikan respons terhadap mereka. Prinsip ini
memberikan petunjuk bagaimana seharusnya para pendidik menggunakan aturan
atau kaidah yang berlaku pada setiap model (Winataputra, 2001:8).
Prinsip reaksi terhadap pendidik yaitu 1. Memberikan stimulus; 2.
Memberikan dukungan atau motivasi; 3. Fleksibilitas (memberikan siswa
kesempatan, keluwesan, kebersamaan berpendapat, berinisiatif atau berprakarsa
dan bertindak); 4. Mampu mendiagnosis kesulitan-kesulitan siswa dan membantu
mengatasinya; 5. Mampu mengidentifikasi dan menggunakan kemampuan
mengajar serta waktu mengajar dengan sebaik-baiknya. Sedangkan prinsip reaksi
terhadap peserta didik yaitu terlibat aktif dalam pembelajaran baik itu berupa
mengamati, mengerti, menggolong-golongkan, membuat dugaan, menjelaskan,
mengukur, membuat kesimpulan dan sebagainya.

14
4. Sistem Pendukung
Sistem pendukung adalah segala sarana, bahan dan alat yang diperlukan
untuk melaksanakan suatu model (Winataputra 2001). Sistem pendukung dapat
juga berupa pribadi guru yang hangat dan terampil dalam mengelola hubungan
interpersonal dan diskusi kelompok serta mampu menciptakan iklim kelas yang
terbuka dan tidak defensif. Selain itu segala sarana yang digunakan dalam
melaksanakan pembelajaran baik itu lembar kerja siswa, sumber belajar yang
relevan, ataupun benda-benda yang diperlukan untuk eksperimen atau percobaan
untuk materi pembelajaran tersebut.

5. Efek Instruksional dan Efek Penyerta


Dampak instruksional atau efek langsung adalah hasil belajar yang dicapai
langsung dengancara mengarahkan peserta didik pada tujuan yang diharapkan.
Dampak pengiring atau efek penyerta adalah hasil belajar lainnya yang dihasilkan
oleh suatu proses, sebagai akibatterciptanya suasana belajar yang dialami
langsung oleh para peserta didik tanpa pengarahan langsung dari pendidik
(Winataputra 2001).

Kemampuan mengidentifikasi
masalah
Percaya Diri

Model Kemampuan menyusun


Bertanggung Pembelajaran hipotesis
Jawab Penemuan
Kemampuan penyelidikan
Jujur
Keterampilan berbicara

Dampak Instruksional
Dampak Pengiring

Gambar 1 Dampak Instruksional dan Pengiringodel Pembelajaran Penemuan


Gambar 1. Dampak Instruksional dan Pengiring model Discoveri Learning

15
Dampak instruksional peserta didik dapat meningkatkan kemampuan
mengidentifikasi masalah, kemampuan menyusun hipotesis, keterampilan
penyelidikan, dan keterampilan berbicara. Dampak pengiringnya adalah
tertanamnya rasa jujur, tanggung jawab dan percaya diri.Penugasan kelompok
melatih peserta didik agar mempunyai tanggung jawab dengan apa yang menjadi
wewenangnya. Proses pengolahan informasi yang benar-benar sesuai dengan yang
diperoleh melatih peserta didik bersikap jujur. Presentasi dan menanggapi peserta
didik yang presentasi melatih peserta didik menjadi percaya diri.

G. Kelebihan dan Kekurangna Model Pembelajaran Penemuan


Kelebihan model pembelajaran Discovery Learning adalah pengetahuan
yang diperoleh melalui metode ini sangat pribadi dan ampuh karena menguatkan
pengertian, ingatan dan transfer (Kementerian, 2013). Penguatan pengertian,
ingatan (dalam memori jangka panjang) dan transfer yang dimaksudkan adalah
mengenai materi pembelajaran yang dipelajari. Kemampuan ini menjadikan
mahasiswa menjadi lebih mudah menguasai materi pembelajaran yang sedang
dipelajarinya. Daya ingat mahasiswa terhadap materi pembelajaran khususnya
geografi menjadi lebih meningkat dan hal ini searah dengan peningkatan
kemampuan berpikir kritisnya. Salah satu tolok ukur keberhasilan model
pembelajaran Discovery Learning adalah internalisasi peristiwa menjadi 'sistem
penyimpanan' yang sesuai dengan lingkungan (Bruner, 1966). Hal ini
menyebabkan pelaksanaan model pembelajaran Discovery Learning ada yang
dilakukan di luar kelas atau lingkungan. Mahasiswa secara langsung melakukan
kegiatan pengamatan di lingkungan untuk memperoleh data pengamatan secara
langsung. Pengamatan yang dilakukan secara langsung di lingkungan diharapkan
mampu mengombinasikan pengetahuan peserta didik berdasarkan yang diperoleh
di kelas atau sumber lain dengan yang ada sebenarnya terjadi di lingkungan.
Harapannya adalah pembelajaran menjadi lebih bermakna (Nurrohmi, et. al.,
2017).
Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Penemuan (Discovery
Learning) menurut Afandi et. al. (2013) antara lain sebagai berikut:
1. Kelebihan

16
a) Dianggap membantu siswa mangembangkan atau memperbanyak
persediaan dan penguasaan ketrampilan dan proses kognitif siswa.
Kekuatan dari proses penemuan datang dari usaha untuk menemukan.
b) Pengetahuan yang diperoleh dari strategi ini sifatnya sangat pribadi dan
mungkin merupakan suatu pengetahuan yang sangat kukuh; dalam arti
pendalaman dari pengertian.
c) Membangkitkan gairah pada siswa, misalnya siswa merasakan jerih
payah penyelidikannya, menemukan keberhasillan dan kadang-kadang
gagal.
d) Model pembelajaran ini memberikan kesempatan pada siswa untuk
bergerak maju sesuai dengan kemampuannya sendiri.
e) Model pembelajaran ini menyebabkan siswa mengarahkan sendiri cara
belajarnya, sehingga ia lebih merasa terlibat dan bermotivasi sendiri
untuk belajar, paling sedikit dapat suatu proyek penemuan khusus.
f) Model pembelajaran ini dapat membantu memperkuat pribadi siswa
dengan bertambahnya kepercayaan pada diri sendiri melalui proses
penemuan. Dapat memungkinkan siswa sanggup mengatasi kondisi
yang mengecewakan.
g) Berpusat pada siswa, misalnya member kesempatan pada mereka dan
guru berpartisipasi sebagai sesame dalam mengecek ide. Guru menjadi
teman belajar, terutama dalam situasi penemuan yang jawabannya
belum diketahui sebelumnya.
h) Membantu perkembangan siswa menuju skeptisisme yang sehat untuk
menemukan kebenaran akhir dan mutlak.

2. Kekurangan
a) Dipesyaratkan keharusan adanya persiapan mental untuk cara belajar
ini. Misalnya siswa yang lamban mungkin bingung dalam usahanya
mengembangkan pikirannya jika berhadapan dengan hal-hal yang
abstrak, atau menemukan saling ketergantungan antara pengertian
dalam suatu subjek, atau dalam usahanya menyusun suatu hasil
penemuan dalam bentuk tertulis. Siswa yang lebih pandai mungkin

17
akan memonopoli penemuan dan akan menimbulkan frustasi pada
siswa yang lain.
b) Model pembelajaran ini kurang berhasil untuk mengajar kelas besar.
Misalnya sebagian besar waktu dapat hilang karena membantu siswa
menemukan teori- teori, atau menemukan bagaimana ejaan dari bentuk
kata-kata tertentu.
c) Mengajar dengan penemuan mungkin akan dipandang terlalu
mementingkan memperoleh pengertian dan kurang memperhatikan
diperolehnya sikap dan ketrampilan.
d) Guru merasa gagal mendeteksi masalah dan adanya kesalahfahaman
antara guru dengan siswa.
e) Menyita waktu banyak. Guru dituntut mengubah kebiasaan mengajar
yang umumnya sebagai pemberi informasi menjadi fasilitator,
motivator, dan pembimbing siswa dalam belajar. Untuk seorang guru
ini bukan pekerjaan yang mudah karena itu guru memerlukan waktu
yang banyak. Dan sering kali guru merasa belum puas kalau tidak
banyak memberi motivasi dan membimbing siswa belajar dengan baik.
f) Tidak berlaku untuk semua topik. Kekurangan-kekurangan ini
hendaknya menjadi pertimbangan untuk dapat menyikapi secara lebih
bijaksana, dan mengembangkan model pembelajaran penemuan ini
menjadi lebih baik lagi.

18
BAB III
PEMBAHASAN

Analisis penerapan model pembelajaran yang dilakukan oleh Muhammad


Yusuf dan Ana Ratna Wulan. Pada penelitiannya yang berjudul “penerapan model
pembelajaran discovery learning menggunakan pembelajaran tipe shared and
webbed untuk meningkatkan keterampilan proses sains”. Penelitian ini diterbitkan
dalam bentuk jurnal (jurnal penelitian pengembangan pendidikan fisika (JPPPF))
dan dipublish pada tahun 2015.
A. Pentingnya Penelitian
Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dewasa ini menyebabkan konsep
yang harus dipelajari peserta didik semakin banyak. Sementara itu, batasan
kurikulum menyebabkan guru tidak mampu mengajarakan semua konsep tersebut
kepada peserta didik. Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan ilmu yang
berkaitan erat dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis sehingga
IPA tidak hanya diartikan sebagai penguasaan kumpulan pengetahuan berupa
fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip, tetapi juga merupakan suatu
proses penemuan.
Observasi pembelajaran IPA SMP di lapangan menunjukkan bahwa
pembelajaran IPA yang dilakukan guru belum sesuai dengan kurikulum 2013 dan
diperoleh keterangan bahwa pembelajaran IPA belum diajarkan secara terpadu.
Proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru dalam mengajarkan IPA masih
terpisah-pisah, misalnya guru fisika hanya mengajar fisika, guru biologi hanya
mengajar biologi dan kimia. Selain itu, guru juga kesulitan dalam menyusun
perangkat pembelajaran yang dikemas secara terpadu. Di sisi lain, jika IPA di
SMP/MTs tidak diberikan secara utuh dan terpadu, konsep-konsep IPA yang
dipelajari peserta didik hanya menjadi kumpulan konsep-konsep Biologi ditambah
dengan Fisika tanpa memberi makna kepada peserta didik dalam memahami alam
di sekitarnya.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penerapan model
pembelajaran discovery learning menggunakan pembelajaran tipe shared dan

19
webbed pada materi pemanasan global untuk meningkatkan keterampilan proses
sains (KPS) peserta didik sekolah menengah pertama (SMP).

B. Permasalahan dan Solusi


Pembelajaran IPA SMP di lapangan menunjukkan bahwa pembelajaran IPA
yang dilakukan guru belum sesuai dengan kurikulum 2013 dan diperoleh
keterangan bahwa pembelajaran IPA belum diajarkan secara terpadu. Proses
pembelajaran yang dilakukan oleh guru dalam mengajarkan IPA masih terpisah-
pisah, misalnya guru fisika hanya mengajar fisika, guru biologi hanya mengajar
biologi dan kimia. Selain itu, guru juga kesulitan dalam menyusun perangkat
pembelajaran yang dikemas secara terpadu. Di sisi lain, jika IPA di SMP/MTs
tidak diberikan secara utuh dan terpadu, konsep-konsep IPA yang dipelajari
peserta didik hanya menjadi kumpulan konsep-konsep Biologi ditambah dengan
Fisika tanpa memberi makna kepada peserta didik dalam memahami alam di
sekitarnya.
Solusi dari permasalahan diatas yaitu dengan menerapkan model
pembelajaran discovery learning menggunakan pembelajaran tipe shared dan
webbed pada materi pemanasan global untuk meningkatkan keterampilan proses
sains (KPS) peserta didik sekolah menengah pertama (SMP).

C. Kebaharuan Penelitian
Kebaharuan dari penelitian ini yaitu dengan menerapkan model
pembelajaran discovery learning menggunakan pembelajaran tipe shared dan
webbed. Penggabungan kedua tipe pembelajaran diharapkan dapat meningkatkan
keterampilan proses sains (KPS) peserta didik sekolah menengah pertama (SMP).

D. Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan yaitu eksperimen semu (quasi
experiment) di mana sampel yang digunakan tidak dipilih secara acak murni,
tetapi secara acak kelas (random class). Penelitian ini menggunakan The
Matching-Only Pretest-Posttest Control Group Design.

20
Tabel 2 Desain Penelitian (The Matching-Only Pretest-Posttest Control Group
Design)
Kelas Pretest Perlakuan posttest
M1 O1 X1 O2
M2 O1 X2 O2
Keterangan:
M1, M2 = kelas ke-1 dan ke-2
O1 = pretest kelas ke-1 dan ke-2
O2 = posttest kelas ke-1 dan ke-2
X1 = Discovery Learning tipe Shared
X2 = Discovery Learning tipe Webbed

Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 3 Bunyu di Kabupaten Bulungan,


Kalimantan Utara, pada semester genap tahun pelajaran 2014/2015. Sampel dalam
penelitian ini adalah peserta didik kelas VII sebanyak 2 kelas, yaitu VII-A dan
VII-B. Jumlah peserta didik yang terdapat pada masing-masing kelas adalah 24
orang. Satu kelas diberikan model discovery learning dengan keterpaduan bahan
ajar tipe shared, sedangkan yang lainnya menggunakan model discovery learning
dengan keterpaduan bahan ajar tipe webbed.
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini dirancang untuk
menganalisis pembelajaran discovery learning dengan keterpaduan bahan ajar tipe
shared dan webbed agar berpengaruh terhadap peningkatan keterampilan proses
sains peserta didik. Adapun instrumen yang digunakan adalah tes keterampilan
proses sains berupa soal pretest dan posttest pilihan ganda.
Uji statistik untuk mengetahui signifikansi dua kelas perlakuan dilakukan
dengan tahap-tahap berikut.
1) Perhitungan N-Gain, dihitung untuk melihat perbedaan antara skor pretest
dan posttest atau melihat perubahan yang terjadi sebelum dan sesudah
pembelajaran. N-gain dihitung dengan persamaan yang dikembangkan oleh
Hake (2009), yaitu:
skor posttest −skor pretest
g=
skor maksimum−skor p
2) Uji Normalitas, dilakukan dengan menggunakan uji Test of Normality
Shapiro-Wilk.

21
3) Uji Homogenitas (F), dilakukan dengan menggunakan uji Levene.
4) Uji dilanjutkan menggunakan Independent Sample t-Test

E. Hasil Penelitian
1) Perhitungan N-Gain
Hasil rerata skor tes awal (pretest), tes akhir (posttest), dan N-Gain peserta
didik pada kelas yang menggunakan tipe pembelajaran Webbed dan Shared
disajikan pada gambar di bawah ini.

Gambar 2 Perbandingan Rerata Skor Pretest, Skor Posttest dan N-Gain KPS
pada Kelas Webbed dan Shared
Dari hasil perhitungan, kelas yang menggunakan tipe pembelajaran webbed
mengalami peningkatan yaitu rerata pretest 37,5 menjadi 67.1 pada rerata
posttest dan rerata gain sebesar 0,48 atau 48 % dengan kategori sedang. Hasil
lainnya, kelas yang menggunakan tipe pembelajaran shared mengalami
peningkatan yaitu rerata pretest 40,5 menjadi 73,3 pada rerata posttest dan
rerata gain sebesar 0,55 atau 55 % dengan kategori sedang.
Perhitungan peningkatan juga dilakukan pada setiap indikator keterampilan.
Perbandingan N-Gain peningkatan KPS setiap indikator keterampilan dapat
dilihat pada gambar berikut.

22
Gambar 3 Perbandingan N-Gain Setiap Indikator KPS Pada Kelas Webbed dan
Kelas Shared
Selanjutnya, persentase peningkatan KPS setiap indikator pada kedua kelas
ditunjukkan oleh gambar berikut.

Gambar 4 Perbandingan Rerata N-Gain pada Setiap Indikator KPS pada Kelas
Shared dan Webbed

23
2) Uji Normalitas
Uji normalitas keterampilan proses sains peserta didik dilakukan dengan
menggunakan uji statistik Test of Normality Shapiro-Wilk pada program SPSS
versi 22.0 for Windows.
Tabel 3 Hasil Uji Normalitas KPS Peserta didik Pada Kelas Webbed dan
Shared
Kelas Webbed Kelas Shared
N 24 24
Shapiro – Wilk 0,948 0,966
Asymp.Sig (2-tailed) 0,249 0,563

Berdasarkan di atas, diperoleh nilai signifikansi (sig.) sebesar 0,249 pada kelas
webbed dan 0,563 pada kelas shared. Nilai signifikansi tersebut lebih besar
daripada nilai α(0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa kedua kelompok
data skor tes berdistribusi normal.
3) Uji homogenitas
Uji homogenitas varians keterampilan proses sains antara kelas webbed dan
shared dilakukan dengan menggunakan uji Homogenity of Variances (Levene
Statistic).
Tabel 4 Hasil Uji Homogenitas Varians KPS Pada Kelas Webbed dan Shared
F Sig. Keputusan
0,031 0,862 Homogen

Berdasarkan diatas, nilai Levene Statistic (F) adalah sebesar 0,031 dengan
nilai signifikansi sebesar 0,862 yang lebih besar dari taraf signifikansi α (0,05)
sehingga dapat disimpulkan bahwa kedua kelompok data skor tes memiliki
varians yang homogen.

4) Uji hipotesis peningkatan keterampilan proses sains


Mengingat data keterampilan proses sains kedua kelompok berdistribusi
normal dan homogen, dilakukan uji hipotesis dengan teknik statistik
parametrik (uji-t dengan α = 0,05). Penelitian ini menghipotesiskan bahwa
terdapat perbedaan yang signifikan dalam kemampuan proses sains antara
peserta didik yang diberikan model pembelajaran discovery learning tipe
shared dengan tipe webbed dimana, Ha : µx ˂ µy.

24
Dengan menggunakan Independent Sample t- Test, diperoleh hasil bahwa
tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara penggunaan model
pembelajaran discovery learning tipe keterpaduan shared dengan penggunaan
model pembelajaran discovery learning tipe keterpaduan webbed berdasarkan
nilai thitung = -1,537 yang berada di daerah penerimaan t tabel= ±2,014. Analisis
lain, nilai signifikansi (0,131) lebih besar dari nilai α (0,05).

F. Pembahasan
Pembelajaran discovery learning dalam pembelajaran ini terdiri atas
kegiatan praktikum gejala-gejala pemanasan global yang dilengkapi dengan
lembar kerja sebagai pemandu langkah-langkah inkuiri sehingga diharapkan
mereka belajar dalam suasana dan lingkungan yang menyenangkan. Visualisasi
alat dan gejala yang berhubungan dengan konsep yang diajarkan memungkinkan
peserta didik untuk melakukan dan meningkatkan kemampuan observasi, prediksi,
interpretasi dan berkomunikasi dengan menghubungkan pancaindra mereka
dengan antusias sehingga informasi yang masuk ke dalam memorinya lebih tahan
lama dan mudah untuk dipanggil kembali. Pemrosesan informasi dalam
pembentukan konsep lebih mudah untuk dipanggil (recall/recognition) apabila
tersimpan dalam memori jangka panjang terutama dalam bentuk gambar.
Sebagai langkah awal untuk membantu peserta didik menemukan hubungan
di antara disiplin-disiplin ilmu yang ada, guru dapat merancang sebuah
pembelajaran yang di dalamnya terdapat materi-materi yang terintegrasi.
Keterpaduan yang tampak pada masing-masing bidang ilmu pengetahuan akan
mengarahkan peserta didik untuk dapat melihat permasalahan secara lebih luas
dengan mengembangkan kemampuannya dalam memecahkan masalah yang ada.
Pada penelitian ini, dilakukan pembelajaran dengan pengembangan keterpaduan
dua tipe yaitu dengan tipe shared dan tipe webbed. Dua tipe pembelajaran ini
merupakan tipe keterpaduan dalam lintas disiplin mata pelajaran (dua mata
pelajaran atau lebih) yang sama-sama diajarkan dengan menggunakan konsep-
konsep atau keterampilan yang tumpang tindih.

25
G. Kesimpulan Penelitian
1) Penerapan model pembelajaran discovery learning tipe keterpaduan shared
dan webbed dapat meningkatkan keterampilan proses sains peserta didik;
2) Tidak terdapat perbedaan yang signifikan terhadap peningkatan keterampilan
proses sains peserta didik pada kedua tipe keterpaduan, artinya pembelajaran
IPA Terpadu yang dikembangkan dengan keterpaduan shared dan keterpaduan
webbed sama baiknya dalam meningkatkan keterampilan proses. Profil tiap
aspek indikator keterampilan proses sains diperoleh rerata N-Gain peserta
didik pada kelas shared 0,55 sedangkan pada kelas webbed sebesar 0,48.
Peningkatan indikator tertinggi pada kedua kelas relatif sama yang
ditunjukkan pada indikator merencanakan percobaan dan terendah pada
indikator berhipotesis.

26
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan pemaparan bab sebelumnya, maka dapat disimpulkan bahwa:

1. Discovery Learning adalah salah satu model dalam pengajaran


teori kognitif dengan mengutamakan peran guru dalam menciptakan situasi
belajar yang melibatkan siswa belajar secara aktif dan mandiri
2. Metode pembelajaran discovery (penemuan) adalah metode
mengajar yang mengatur pengajaran sedemikian rupa sehingga anak
memperoleh pengetahuan yang sebelumnya belum diketahuinya itu tidak
melalui pemberitahuan, sebagian atau seluruhnya ditemukan sendiri
3. Penerapan Discovery Learning Dalam Pembelajaran : a)
Membiarkan siswa mengikuti minat mereka sendiri untuk mencapai
kompeten dan kepuasan dari keingintahuan mereka, b)Mendorong siswa
menyelesaikan masalah mereka sendiri daripada mengajar siswa dengan
jawaban-jawaban guru. c). Membantu siswa mengerti konsep-konsep yang
sulit dengan menggunakan peragaan atau gambar. d) Memberikan waktu
kepada siswa untuk mencoba menyelesaikan masalah mereka sendiri
sebelum guru memberikan penyelesaian
4. Karakteristik Discovery Learning yaitu: (1) mengeksplorasi dan
memecahkan masalah untuk menciptakan, menggabungkan dan
menggeneralisasi pengetahuan; (2) berpusat pada siswa; (3) kegiatan untuk
menggabungkan pengetahuan baru dan pengetahuan yang sudah ada.
5. Macam-Macam Discovery Learning
Menurut Jerome Bruner Model penemuan atau pengajaran penemuan dibagi
tiga jenis : Penemuan Murni, penemuan Terbimbing, penemuan Laboratory
6. Sintaks/fase Model Pembelajaran Discovery Learning
Pelaksanaan starategi Discovery Learning di kelas, Syah (2004) (dalam
Nasution, 2016) berpendapat ada beberapa prosedur yang harus dilakukan
dalam kegiatan belajar mengajar secara umum.
a) Stimulation (Stimulasi/pemberian rangsangan), b) Problem statement
(pernyataan/identifikasi masalah, c) collection (pengumpulan data). d)

27
Data processing (pengolahan data). e) Verivication (pembuktian), f)
Generalization (menarik kesimpulan atau generalisasi
7. Sistem Sosial Model Pembelajaran Discovery Learning.
Sistem sosial menggambarkan bentuk kerja sama guru dengan pendidik
dalam pembelajaran atau peran peran-peran guru dan peserta didik dan
hubungannya dengan satu sama lain serta jenis-jenis aturan yang diterapkan
8. Sistem Pendukung Model Pembelajaran Discovery Learning.
Sistem pendukung adalah segala sarana, bahan dan alat yang diperlukan
untuk melaksanakan suatu model.
9. Prinsip Reaksi Model Pembelajaran Discovery Learning.
Principles of reaction merupakan suatu reaksi menggambarkan bagaimana
seharusnya guru memandang, memperlakukan, dan merespon siswa di
dalam sistem pembelajaran. Prinsip reaksi adalah pola kegiatan yang
menggambarkan bagaimana seharusnya guru melihat dan memperlakukan
para pelajar, termasuk bagaimana seharusnya pengajar memberikan respons
terhadap mereka.
10. Efek Langsung dan Penyerta Model Pembelajaran Discovery
Learning.
Dampak instruksional atau efek langsung adalah hasil belajar yang dicapai
langsung dengan cara mengarahkan peserta didik pada tujuan yang
diharapkan. Dampak pengiring atau efek penyerta adalah hasil belajar
lainnya yang dihasilkan oleh suatu proses, sebagai akibat terciptanya
suasana belajar yang dialami langsung oleh para peserta didik tanpa
pengarahan langsung dari pendidik.

B. Ide yang Diperoleh dan Rencana Tindak Lanjut


Berdasarkan penelitian di atas maka rencana tindak lanjut yang akan
dilakukan adalah dengan menerapkan model lainnya dengan pembelajaran IPA
terpadu tipe webbed dan shared. Selain itu perubahan tipe pembelajaran IPA
yang digunakan juga dapat diganti. Tipe pembelajaran IPA yang dapat menjadi
pilihan yaitu tipe integreted, tipe connected, atau tipe threaded.

28
DAFTAR PUSTAKA

Afandi, dkk. (2013). Model-model Pembelajaran. Semarang: Sultan Agung Press.

Astra, I. M., & Wahidah, R. S. (2017). Peningkatan Keterampilan Proses Sains


Siswa Melalui Model Guided Discovery Learning Kelas XI MIPA pada
Materi Suhu dan Kalor. Jurnal Penelitian & Pengembangan Pendidikan
Fisika, 3(2), 181-190.

Bell, F.H. (1978). Teaching and Learning Mathematics in Scondary School. New
York: Wm C Brown Company Publiser.

Bruner, J. S. (1966). Toward a Theory of Instruction. Cambridge. MA: Harvard


University Press.

Champine, S. L., Duffy, S.M.,& Perkins, J.R. (2009). Jerome S. Bruner‟s


discovery learning model. .Light Bounces Lesson, 1, 1-28.

Dahar, R. W. (1989). Teori Belajar. Jakarta: Erlangga Press

Dina, Z. H., Ikhsan, M., & Hajidin, H. (2019). The Improvement of


Communication and Mathematical Disposition Abilities through Discovery
Learning Model in Junior High School. JRAMathEdu (Journal of Research
and Advances in Mathematics Education), 1(1), 11-22.

Nur, dkk. (2000). Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: Unesa University Press.

Nurrohmi, Y., Utaya, S., & Utomo, D. H. (2017). Pengaruh Model Pembelajaran
Discovery Learning Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis
Mahasiswa. Jurnal Pendidikan: Teori, Penelitian, Dan
Pengembangan, 2(10), 1308-1314.

Rosdiana, R., Boleng, D. T., & Susilo, S. (2017). PENGARUH PENGGUNAAN


MODEL DISCOVERY LEARNING TERHADAP EFEKTIVITAS DAN
HASIL BELAJAR SISWA. Jurnal Pendidikan: Teori, Penelitian, Dan
Pengembangan, 2(8), 1060-1064.

Salpan, S. (2017). Peningkatan Prestasi Belajar dan Keaktifan Siswa Kelas XI


MIPA-3 SMA Negeri 3 Cilacap melalui Model Discovery Learning
Berbantuan Media Inovatif dan Software Pesona Fisika Materi Teori Kinetik
Gas Tahun 2015/2016. Jurnal Penelitian & Pengembangan Pendidikan
Fisika, 3(1), 97-102.

Seel, Norbert M. (2012). Encyclopedia of The Sciences of Learning. New York:


Springer science buisness meda llc.

Shadiq, F. (2009). Model-model PembelajaranMatematika SMP. Sleman:


Depdiknas

29
Shalin, H. (2012). Construction self-discovery learning spaces online: scaffolding
and decicion making technologies. USA: IGI Global

Slavin, R.E. (1994). Cooperative Learning : Theory, Research ang Practice.


Englewood Cliff, NJ: Prentice Hall.

Syah, M. (2004). Psikologi Belajar dengan pendekatan baru. Jakarta: PT Remaja


Rosdakarya.

Trianto. (2014). Model Pembelajaran Terpadu; Konsep, Strtegi dan


Implementasinya dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).
Jakarta: PT. Bumi Aksara.

Widiadnyana, I. W., Sadia, I. W., & Suastra, I. W. (2014). Pengaruh Model


Discovery Learning terhadap Pemahaman Konsep IPA dan Sikap Ilmiah
Siswa SMP. Jurnal Pendidikan IPA, 4(1). Universitas Terbuka.

Winataputra, U. S. (2011). Model-Model Pembelajaran Inovatif. Jakarta:

Yusuf, M., & Wulan, A. R. (2015). Penerapan Model Pembelajaran Discovery


Learning Menggunakan Pembelajaran Tipe Shared dan Webbed untuk
Meningkatkan Keterampilan Proses Sains. Jurnal Penelitian &
Pengembangan Pendidikan Fisika, 1(2), 19-26.

30