Anda di halaman 1dari 4

PPh Pasal 24

Perpajakan II

OLEH :

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2020
Pajak Penghasilan Pasal 24 merupakan pajak yang terutang atau dibayarkan
di luar negeri atas penghasilan yang diterima atau diperoleh dari luar negeri yang
dapat dikreditkan terhadap pajak penghasilan yang terutang atas seluruh
penghasilan wajib pajak dalam negeri. Pengkreditan pajak luar negeri tersebut
dilakukan dalam tahun pajak digabungkannya penghasilan dari luar negeri dengan
penghasilan di dalam negeri.

Daftar Hukum PPh Pasal 24


Dasar hukum PPh Pasal 24 adalah Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983
tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan
Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 (UU PPh).

Subjek & Objek PPh Pasal 24


Yang menjadi subjek PPh Pasal 24 yaitu wajib Pajak dalam negeri yang
terutang pajak atas seluruh penghasilan, termasuk penghasilan yang diterima atau
diperoleh dari luar negeri. Sementara, yang menjadi objek PPh Pasal 24 adalah
penghasilan yang berasal dari luar negeri.

Diatur dalam Pasal 24 ayat 3 UU PPh, dalam menghitung batas jumlah pajak
atas penghasilan yang dibayar atau terutang di luar negeri yang boleh dikreditkan,
perlu diperhatikan penentuan sumber penghasilan sebagai berikut:
 Penghasilan dari saham dan sekuritas lainnya serta keuntungan dari
pengalihan saham dan sekuritas lainnya adalah negara tempat badan
yang menerbitkan saham atau sekuritas tersebut didirikan atau
bertempat kedudukan.
 Penghasilan berupa bunga, royalti dan sewa sehubungan dengan
penggunaan harta bergerak adalah negara tempat pihak yang
membayar atau dibebani bunga, royalti atau sewa tersebut bertempat
kedudukan atau berada.
 Penghasilan berupa sewa sehubungan dengan penggunaan harta tak
gerak adalah negara tempat harta tersebut terletak.
 Penghasilan berupa imbalan sehubungan dengan jasa, pekerjaan, dan
kegiatan adalah negara tempat pihak yang membayar atau dibebani
imbalan tersebut bertempat kedudukan atau berada.
 Penghasilan bentuk usaha tetap adalah negara tempat bentuk usaha
tetap tersebut menjalankan usaha atau melakukan kegiatan.
 Penghasilan dan pengalihan sebagian atau seluruh hak penambangan
atau tanda turut serta dalam pembiayaan atau permodalan dalam
perusahaan pertambangan adalah negara tempat lokasi penambangan
berada.Keuntungan karena pengalihan harta tetap adalah negara
tempat harta tetap itu berada.
 Keuntungan karena pengalihan harta yang menjadi bagian dari suatu
bentuk usaha tetap adalah negara tempat bentuk usaha tetap itu
berada.
Pada pembahasan berikutnya, akan dijelaskan lebih lanjut mengenai
penggabungan penghasilan yang berasal dari luar negeri, mekanisme pengkreditan
PPh pasal 24 yang dibayar di luar negeri dan batas maksimum kredit pajak.*

Penghitungan Kredit Pajak Luar Negeri


Prinsip dasarnya, Pajak Penghasilan dikenakan atas penghasilan kena pajak
yang dihitung atas dasar seluruh penghasilan yang diterima atau diperoleh Wajib
Pajak baik penghasilan yang berasal dari dalam negeri maupun luar negeri. Pasal
18 ayat(2) Undang-Undang Pajak Penghasilan menetapkan saat diperoleh deviden
atas pernyataan modal usaha luar negeri selain badan usaha yang manual
sahamnya di bursa efek dengan ketentuan:
1. Penyertaan modal Wajib Pajak Dalam Negeri sekuran-kurangnya
50% dari jumlah saham yang disetor.
2. Secara bersama-sama dengan Wajib Pajak Dalam Negeri lainnya
memiliki penyertaan modal sebesar 50% atau lebih dari jumlah saham
yang disetor.
Apabila dalam Penghasilan Kena Pajak ternyata terjadi penghasilan yang
berasal dari luar negeri, maka penghasilan yang dibayar atau terutang di luar negeri
atas penghasilan tersebut dapat dikreditkan terhadap Pajak Penghasilan yang
teruang di Indonesia.
Pengkreditan Pajak tersebut dilakukan dalam Tahun Pajak
digabungkannya penghasilan dari luar negeri dengan penghasilan di Indonesia.
Besarnya PPh Pasal 24 menurut metode kredit terbatas bisa dihitung dengan
perhitungan:
Penghasilan Neto Negara A
-------------------------------------- X PPh Terutang
Penghasilan Kena Pajak

Pelaporan
Wajib pajak yang telah membayarkan pajaknya di luar negeri dan akan
mengkreditkannya di Indonesia harus menyampaikan permohonannya terlebih
dahulu ke kepala KPP (Kantor Pelayanan Pajak) dan dilaporkan bersamaan dengan
pada saat pelaporan SPT Tahunan dengan melampirkan laporan keuangan yang
berasal dari luar negeri, fotokopi SPT (Tax Return) yang dilaporkan di luar negeri,
serta dokumen pembayaran pajak di luar negeri.