Anda di halaman 1dari 10

BAB IV

PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum Tempat Kerja Penelitian

Penelitian tentang Gambaran Penderita Malaria Falciparum Di

Puskesmas Kenyam Kabupaten Nduga Tahun 2020 telah selesai dilaksanakan

pada ...... januari 2020 sampai ..... februari 2020, tempat penelitian dilakukan

di laboratorium puskesmas kenyam, yang terletak di Distrik ..... Kabupaten

Nduga. Secara geografik Distrik ..... berbatasan dengan Distrik ..... sebelah,

Distrik ..... sebelah timur, Distrik ..... sebelah selatan dan Distrik sebelah barat.

Luas wilayah puskesmas kenyam dan berada diketinggian ..... meter

diatas permukaan laut dengan intensitas curah hujan yang cukup tinggi.

4.2 Hasil Penelitian

Data hasil penelitian gambaran Penderita Malaria Falciparum Di

Puskesmas Kenyam Kabupaten Nduga Tahun 2020 sebagai berikut :

Tabel 4.1 Gambaran Penderita Malaria Falciparum Di Puskesmas Kenyam

Kabupaten Nduga Berdasarkan Umur Tahun 2020

Frekuensi Nilai P.
Malaria
(%) value
Umur
posisitf ++
Negatif positif + positif ++ positif +++
++
0-9 tahun 1 3 0 2 0 6
10-20 tahun 4 0 2 0 0 6
0,001
>20 tahun 18 9 0 0 2 29
Total 23 12 2 2 2 41
Hasil penelitian diatas menunjukan bahwa dari umur > 20 tahun

menunjukan positif terbanyak dengan 11 orang dari 29 responden.

dibandingkan dengan umur 10-20 tahun sebanyak 2 orang dari 6 responden,

Berdasarkan uji statistic person chi square menunjukan Nilai P = 0,001 < 0.05.

maka H0 ditolak dan H1 diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat

hubungan yang bermakna antara penderita malaria falciparun dengan umur di

puskemas kenya kabupaten nduga.

Tabel 4.2 Gambaran Penderita Malaria Falciparum Di Puskesmas Kenyam

Kabupaten Nduga Berdasarkan Jenis KelaminTahun 2020

Malaria
Jenis Frekuens Nilai P.
Kelamin posisitf ++ i (%) value
Negatif positif + positif ++ positif +++
++
Laki-laki 9 6 2 1 1 19
perempuan 14 6 0 1 1 22 0,578
Total 23 12 2 2 2 41

Dari tabel Hasil penelitian diatas menunjukan bahwa jenis kelamin

laki-laki menunjukan positif terbanyak 10 orang dari 19 responden

dibandingkan perempuan yang hanya 8 orang dari 22 responden, Berdasarkan

uji statistic person chi square menunjukan Nilai P = 0,578 > 0.05. maka H0

diterima dan H1 ditolak sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat

hubungan yang bermakna antara penderita malaria falciparun dengan jenis

kelamin di puskemas kenya kabupaten nduga.


Tabel 4.3 Gambaran Penderita Malaria Falciparum Di Puskesmas Kenyam

Kabupaten Nduga berdasarkan pekerjaan Tahun 2020

Frekuensi Nilai P.
Malaria
(%) value
pekerjaan
posisitf +++
Negatif positif + positif ++ positif +++
+
IRT 6 1 0 0 1 8
Petani 1 0 0 0 0 1
Swasta 6 4 0 0 1 11
PNS 4 3 0 0 0 7
0,482
Pelajar 5 1 2 1 0 9
tidak bekerja 0 2 0 1 0 3
pedagang 1 1 0 0 0 2
Total 23 12 2 2 2 41

Dari tabel Hasil penelitian diatas menunjukan bahwa jenis pekerjaan

swasta menunjukan positif terbanyak 5 orang dari 11 responden dibandingkan

petani, Berdasarkan uji statistic person chi square menunjukan Nilai P = 0,482

> 0.05. maka H0 diterima dan H1 ditolak sehingga dapat disimpulkan bahwa

tidak terdapat hubungan yang bermakna antara penderita malaria falciparun

dengan pekerjaan di puskemas kenya kabupaten nduga.

Tabel 4.3 Gambaran Penderita Malaria Falciparum Di Puskesmas Kenyam

Kabupaten Nduga berdasarkan tempat tinggal Tahun 2020

Frekuensi
Malaria Nilai P. value
(%)
Umur
positif ++ posisitf ++
Negatif positif + positif ++
+ ++
desa syalala 10 3 1 0 1 15 0,515
desa genik 5 4 0 1 0 10
koteka 1 3 0 1 0 5
desa alguru 7 2 1 0 1 11
Total 23 12 2 2 2 41

Dari tabel Hasil penelitian diatas menunjukan bahwa desa syalala

menunjukan positif terbanyak 5 orang dari 15 responden dibandingkan desa

koteka yang hanya 4 orang dari 5 responden, Berdasarkan uji statistic person

chi square menunjukan Nilai P = 0,515 > 0.05. maka H0 diterima dan H1

ditolak sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan yang

bermakna antara penderita malaria falciparun dengan tempat tinggal di

puskemas kenya kabupaten nduga.

4.3. Pembahasan

4.3.1. Hubungan Malaria Falciparum Dengan Umur

Hasil penelitian diatas menunjukan bahwa dari umur > 20

tahun menunjukan positif terbanyak dengan 11 orang dari 29 orang

pasien dibandingkan dengan umur 10-20 tahun sebanyak 2 orang

dari 6 orang pasien, Berdasarkan uji statistic person chi square

menunjukan Nilai P = 0,001 < 0.05. maka H0 ditolak dan H1

diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang

bermakna antara penderita malaria falciparun dengan umur di

puskemas kenya kabupaten nduga. Diantara confouding factor

memengaruhi kejadian malaria adalah umur dan jenis kelamin.

Sebagaimana yang disampaikan Gunawan (2000), bahwa secara

umum semua orang berpotensi dapat terinfeksi malaria, perbedaan


prevalensi malaria menurut umur dan jenis kelamin berkaitan dengan

tingkat kekebalan karena variasi keterpaparan terhadap gigitan

nyamuk.

Kekebalan yang diperoleh bayi dari ibunya memberikan

perlindungan terhadap malaria. Bayi biasanya mendapat

perlindungan yang lebih dari ibu terhadap gigitan nyamuk sehingga

jarang ditemukan kasus pada bayi. Namun bila terdapat kasus pada

bayi, maka diindikasikan tingginya angka penularan malaria pada

daerah tersebut. Sementara pada usia anak-anak sangat rentan

terhadap infeksi penyakit malaria hal ini dikarenakan anti bodi pada

anak belum terbentuk dengan baik sementara kekebalan dari ibu

terus menurun. Kejadian malaria pada anak sering terjadi karena

pada umumnya anak-anak tidak mengetahui faktor penyebab

malaria sehingga mereka tidak melakukan pencegahan terhadap

gigitan nyamuk. Pada kondisi ini peran orang tua dalam melindungi

anak dari infeksi malaria dengan memberikan pakaian yang dapat

melindungi anak- anak dari gigitan nyamuk, melindungi anak saat

tidur dengan kelambu, sangat diperlukan untuk mencegah penularan

malaria pada anak.

Usia remaja merupakan usia rentan terhadap infeksi malaria.

Para remaja umumnya mempunyai aktivitas yang tinggi baik pada

siang hari maupun pada malam hari. Remaja biasanya nongkrong

di pinggir jalan, di sekitar warung kopi atau di tempat terbuka

lainnya yang memungkinkan untuk terpapar gigitan nyamuk.


Namun usia remaja mampu melindungi diri dari gigitan nyamuk

dengan memakai pakaian yang pelindung yang baik atau repellent

sebagai anti nyamuk. Sementara pada usia dewasa anti bodi alami

telah terbentuk baik dari infeksi sebelumnya ataupun keadaan gizi

perorangan. Namun orang dewasa dengan aktivitas yang tinggi

sehubungan dengan pekerjaan yang dilakukan cenderung tidak

memperhatikan dan mengabaikan gigitan nyamuk saat bekerja.

Pekerjaan risiko tinggi tertular malaria seperti petani, nelayan,

beternak, buruh diduga menjadi penyebab tingginya kejadian malaria.

Peningkatan pengetahuan dan kesadaran tentang malaria pada orang

dewasa dapat mencegah penularan malaria

4.3.2. Hubungan Malaria Falciparum Dengan Jenis Kelamin

Dari tabel Hasil penelitian diatas menunjukan bahwa jenis

kelamin laki-laki menunjukan positif terbanyak 10 orang dari 19

orang dibandingkan perempuan yang hanya 8 orang dari 22 orang,

Berdasarkan uji statistic person chi square menunjukan Nilai P =

0,578 > 0.05. maka H0 diterima dan H1 ditolak sehingga dapat

disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara

penderita malaria falciparun dengan jenis kelamin di puskemas kenya

kabupaten nduga. Menurut Tjitra dkk., (2008) menyatakan bahwa

tidak ada rasio signifikan pada penderita Plasmodium falcifarum

antara laki-laki dan perempuan namun terdapat dominasi yang

signifikan untuk Plasmodium vivax pada perempuan dibanding laki-

laki pada orang dewasa; hal ini dikarenakan setelah masa remaja
hemoglobin awal lebih rendah pada perempuan dibanding laki-laki,

sehingga perempuan cenderung lebih besar menderita anemia berat

dalam menanggapi Plasmodium vivax, sementara Hormon seks,

termasuk dehydroepiandrosteran (DHEAS) dikaitkan dapat

mengurangi risiko infeksi Plasmodium falcifarum, namun perbedaan

itu tidak terjadi pada anak-anak.

Jenis kelamin tidak mempunyai pengaruh terhadap

kejadian malaria, akan tetapi ibu hamil lebih mudah menderita

malaria dibanding dengan wanita tidak hamil dan keseluruhan

polulasi. Selain mudah menderita malaria kehamilan dapat

menyebabkan terjadinya infeksi berulang, komplikasi berat dan

dapat menyebabkan keguguran, kelahiran prematur, berat badan

lahir rendah, infeksi bawaan dan kematian pada bayi maupun

ibu. Hal ini dikarenakan ketika hamil, ibu mengalami penurunan

imunitas dalam menangani infeksi parasit malaria. Sedangkan

parasit malaria dapat mereplikasi plasenta (Lestari. dan Salamah,

2014).

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang

dilakukan oleh Notobroto dkk., (2007), yang menyatakan bahwa

tidak ada perbedaan yang bermakna secara statistic antara jenis

kelamin dengan kejadian malaria.

4.3.3. Hubungan Malaria Falciparum Dengan Pekerjaan

Dari tabel Hasil penelitian diatas menunjukan bahwa jenis

pekerjaan swasta menunjukan positif terbanyak 6 orang dari 11 orang


pasien dibandingkan petani yang hanya 1 orang dari 1 orang,

Berdasarkan uji statistic person chi square menunjukan Nilai P =

0,482 > 0.05. maka H0 diterima dan H1 ditolak sehingga dapat

disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara

penderita malaria falciparun dengan pekerjaan di puskemas kenya

kabupaten nduga. Pola hidup sekelompok orang atau masyarakat

berpengaruh terhadap terjadinya penularan malaria. Orang yang

bekerja di tempat di hutan mempunyai risiko untuk tertular penyakit

malaria karena di hutan merupakan tempat hidup dan

berkembangnya nyamuk anopheles sp dengan kepadatan yang

tinggi. Pekerjaan tertentu juga berkaitan dengan tempat dan masim.

Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Notobroto

dkk (2009), yang menyatakan bahwa kategori pekerjaan tidak

berhubungan dengan kejadian malaria. Namun hasil ini berbeda

dengan hasil penelitian Friaraiyantini dkk (2006), yang menyatakan

bahwa pekerjaan secara bermakna berpengaruh terhadap kejadian

malaria. begitu juga penelitian yang dilakukan oleh Saikhu (2007),

menyatakan bahwa pekerjaan petani, nelayan dan buruh merupakan

pekerjaan risiko tinggi terhadap kejadian malaria. Hal ini disebabkan

pekerja bekerja di tempat terbuka yang berisiko terpapar gigitan

nyamuk yang dapat menularkan penyakit malaria.

4.3.4. Hubungan Malaria Falciparum Dengan Tempat Tinggal

Dari tabel Hasil penelitian diatas menunjukan bahwa desa

syalala menunjukan positif terbanyak 5 orang dari 15 orang pasien


dibandingkan desa koteka yang hanya 4 orang dari 5 orang,

Berdasarkan uji statistic person chi square menunjukan Nilai P =

0,515 > 0.05. maka H0 diterima dan H1 ditolak sehingga dapat

disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara

penderita malaria falciparun dengan tempat tinggal di puskemas kenya

kabupaten nduga.

Lingkungan adalah lingkungan tempat tinggal manusia dan

nyamuk. Faktor lingkungan berpengaruh besar terhadap kejadian

malaria di suatu daerah, karena bila kondisi lingkungan sesuai

dengan tempat perindukan, maka nyamuk akan berkembangbiak

dengan cepat. Tingkat penularan malaria dipengaruhi beberapa

faktor biologi dan iklim, yang menyebabkan fluktuasi pada lama dan

intensitas penularan malaria pada tahun yang sama atau di antara

tahun yang berbeda. Nyamuk Anopheles yang berperan sebagai

vektor malaria harus mempunyai kebiasaan menggigit manusia dan

hidup yang cukup lama. Keadaan ini diperlukan oleh parasit malaria

untuk menyelesaikan siklus hidupnya sampai menghasilkan bentuk

yang infektif (menular), dan kemudian mengigit manusia kembali.

Suhu lingkungan sangat berpengaruh terhadap kecepatan

perkembangbiakan plasmodium dalam tubuh nyamuk. Hal ini

menjadi bukti, penyebab intensitas penularan malaria paling tinggi

menjelang musim penghujan berkaitan dengan peningkatan populasi

nyamuk.

Faktor lingkungan yang mempengaruhi morbiditas malaria,


dapat dikelompokkan ke dalam 2 jenis yaitu lingkungan fisik dan

lingkungan biologik.