Anda di halaman 1dari 21

NAMA : SINTA AFRILIA

NIM : 154011810042
MK : Asuhan Kebidanan pada Neonatus

1. Pencegahan Infeksi Pada Bayi Baru Lahir


1.1 Pengertian Pencegahan Infeksi Pada Bayi Baru Lahir
Infeksi Neonatorum atau Infeksi adalah infeksi bakteri umum generalisata
yang biasanya terjadi pada bulan pertama kehidupan. yang menyebar ke seluruh
tubuh bayi baru lahir. Infeksi adalah sindrom yang dikarakteristikan oleh tanda-
tanda klinis dan gejala-gejala infeksi yang parah yang dapat berkembang ke arah
septisemia dan syok septik. (Doenges, Marylyn E. 2000, hal 871).
Septisemia menunjukkan munculnya infeksi sistemik pada darah yang
disebabkan oleh penggandaan mikroorganisme secara cepat dan zat-zat
racunnya yang dapat mengakibatkan perubahan psikologis yang sangat besar.
Infeksi merupakan respon tubuh terhadap infeksi yang menyebar melalui darah
dan jaringan lain. Infeksi terjadi pada kurang dari 1% bayi baru lahir tetapi
merupakan penyebab dari 30% kematian pada bayi baru lahir. Infeksi bakteri 5
kali lebih sering terjadi pada bayi baru lahir yang berat badannya kurang dari
2,75 kg dan 2 kali lebih sering menyerang bayi laki-laki. Pada lebih dari 50%
kasus, infeksi mulai timbul dalam waktu 6 jam setelah bayi lahir, tetapi
kebanyakan muncul dalam waktu 72 jam setelah lahir. Infeksi yang baru timbul
dalam waktu 4 hari atau lebih kemungkinan disebabkan oleh infeksi nasokomial
(infeksi yang didapat di rumah sakit).
Infeksi neonatus pada bayi sering dijumpai, apalagi di daerah pedesaan
dengan persalinan dukun beranak. Menghadapi keadaan demikian bidan harus
mampu mengatasi dan segera melakukan rujukan sehingga bayi mendapat
pengobatan yang cepat dan tepat.
Menurut Blame (1961) 3 Patogenesis infeksi pada neonatus:
1. Infeksi pre natal : rubella, sifilis, bakteri (melalui placenta)
2. Infeksi intranatal : KPD, PARTUS LAMA
3. Infeksi post natal : penggunaan alat atau perawatan yang tidak steril

1.2 Pembagian Infeksi


1. Infeksi Dini
Terjadi 7 hari pertama kehidupan.
Karakteristik: sumber organisme pada saluran genital ibu dan atau cairan
amnion, biasanya fulminan dengan angka mortalitas tinggi.
2. Infeksi lanjutan/nosokomial
Terjadi setelah minggu pertama kehidupan dan didapat dari lingkungan
pasca lahir.
Karakteristik: Didapat dari kontak langsung atau tak langsung dengan
organisme yang ditemukan dari lingkungan tempat perawatan bayi, sering
mengalami komplikasi.

1.3 Etiologi
Etiologi terjadinya infeksi pada neonatus adalah dari bakteri, virus, jamur
dan protozoa (jarang). Penyebab yang paling sering dari infeksi awal adalah
Streptokokus grup B dan bakteri enterik yang didapat dari saluran kelamin ibu.
Infeksi awitan lanjut dapat disebabkan oleh SGB, virus herpes simplek (HSV),
enterovirus dan E.coli. Pada bayi dengan berat badan lahir sangat rendah, Candida
dan Stafilokokus koagulase-negatif (CONS), merupakan patogen yang paling
umum pada infeksi awitan lanjut.
Jika dikelompokan maka didapat:
1. Bakteri gram positif
a. Streptokokus grup B → penyebab paling sering.
b. Stafilokokus koagulase negatif → merupakan penyebab utama bakterimia
nosokomial.
c. Streptokokus bukan grup B.
2. Bakteri gram negatif
a. Escherichia coli Kl penyebab nomor 2 terbanyak.
b. H. influenzae.
c. Listeria monositogenes.
d. Pseudomonas
e. Klebsiella.
f. Enterobakter.
g. Salmonella.
h. Bakteria anaerob.
i. Gardenerella vaginalis.

Walaupun jarang terjadi, terhisapnya cairan amnion yang terinfeksi dapat


menyebabkan pneumonia dan infeksi dalam rahim, ditandai dengan distres janin
atau asfiksia neonatus. Pemaparan terhadap patogen saat persalinan dan dalam
ruang perawatan atau di masyarakat merupakan mekanisme infeksi setelah lahir.
Adapun faktor yang berpengaruh terhadap infeksi pada neonatus antara lain:
1. Belum matangnya sistem imun terutama pada bayi prematur.
2. Prosedur invasif mengganggu barrier kulit normal misalnya intubasi,
kateterisasi dan jalur intravaskular.
3. Terlalu penuh dan kurangnya jumlah staf.
4. Penyalahgunaan antibiotik.
5. Ketidakpatuhan kebijakan pengendalian infeksi terutama cuci tangan. (Anik
Maryunani, 2011).

1.4 Patofisiologi
Infeksi dimulai dengan invasi bakteri dan kontaminasi sistemik. Pelepasan
endotoksin oleh bakteri menyebabkan perubahan fungsi miokardium, perubahan
ambilan dan penggunaan oksigen, terhambatnya fungsi mitokondria, dan
kekacauan metabolik yang progresif. Pada infeksi yang tiba-tiba dan berat,
complement cascade menimbulkan banyak kematian dan kerusakan sel.
Akibatnya adalah penurunan perfusi jaringan, asidosis metabolik, dan syok, yang
mengakibatkan disseminated intravaskuler coagulation (DIC) dan kematian.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kemungkinan infeksi secara umum
berasal dari tiga kelompok, yaitu:
1. Faktor Maternal
a. Status sosial-ekonomi ibu, ras, dan latar belakang. Mempengaruhi
kecenderungan terjadinya infeksi dengan alasan yang tidak diketahui
sepenuhnya. Ibu yang berstatus sosio-ekonomi rendah mungkin nutrisinya
buruk dan tempat tinggalnya padat dan tidak higienis. Bayi kulit hitam
lebih banyak mengalami infeksi dari pada bayi berkulit putih.
b. Status paritas (wanita multipara atau gravida lebih dari 3) dan umur ibu
(kurang dari 20 tahun atua lebih dari 30 tahun.
c. Kurangnya perawatan prenatal
d. Ketuban pecah dini (KPD)
e. Prosedur selama persalinan
2. Faktor Neonatatal
a. Prematurius (berat badan bayi kurang dari 1500 gram), merupakan faktor
resiko utama untuk infeksi neonatal. Umumnya imunitas bayi kurang
bulan lebih rendah dari pada bayi cukup bulan. Transpor imunuglobulin
melalui plasenta terutama terjadi pada paruh terakhir trimester ketiga.
Setelah lahir, konsentrasi imunoglobulin serum terus menurun,
menyebabkan hipigamaglobulinemia berat. Imaturitas kulit juga
melemahkan pertahanan kulit.
b. Defisiensi imun.
Neonatus bisa mengalami kekurangan IgG spesifik, khususnya
terhadap streptokokus atau Haemophilus influenza. IgG dan IgA tidak
melewati plasenta dan hampir tidak terdeteksi dalam darah tali pusat.
Dengan adanya hal tersebut, aktifitas lintasan komplemen terlambat, dan
C3 serta faktor B tidak diproduksi sebagai respon terhadap
lipopolisakarida. Kombinasi antara defisiensi imun dan penurunan
antibodi total dan spesifik, bersama dengan penurunan fibronektin,
menyebabkan sebagian besar penurunan aktivitas opsonisasi.
c. Laki-laki dan kehamilan kembar.
Insidens infeksi pada bayi laki- laki empat kali lebih besar dari pada
bayi perempuan.
3. Faktor Lingkungan
a. Pada defisiensi imun bayi cenderung mudah sakit sehingga sering
memerlukan prosedur invasif, dan memerlukan waktu perawatan di rumah
sakit lebih lama. Penggunaan kateter vena/ arteri maupun kateter nutrisi
parenteral merupakan tempat masuk bagi mikroorganisme pada kulit yang
luka. Bayi juga mungkin terinfeksi akibat alat yang terkontaminasi.
b. Paparan terhadap obat-obat tertentu, seperti steroid, bisa menimbulkan
resiko pada neonatus yang melebihi resiko penggunaan antibiotik
spektrum luas, sehingga menyebabkan kolonisasi spektrum luas, sehingga
menyebabkan resisten berlipat ganda.
c. Kadang-kadang di ruang perawatan terhadap epidemi penyebaran
mikroorganisme yang berasal dari petugas (infeksi nosokomial), paling
sering akibat kontak tangan.
d. Pada bayi yang minum ASI, spesies Lactbacillus dan E.colli ditemukan
dalam tinjanya, sedangkan bayi yang minum susu formula hanya
didominasi oleh E.coli.
Mikroorganisme atau kuman penyebab infeksi dapat mencapai
neonatus melalui beberapa. cara yaitu:
1. Pada masa antenatal atau sebelum lahir pada masa antenatal kuman dari
ibu setelah melewati plasenta dan umbilicus masuk kedalam tubuh bayi
melalui sirkulasi darah janin. Kuman penyebab infeksi adalah kuman yang
dapat menembus plasenta, antara lain virus rubella, herpes, sitomegalo,
koksaki, hepatitis, influenza, parotitis. Bakteri yang dapat melalui jalur ini
antara lain malaria, sifilis dan toksoplasma.
2. Pada masa intranatal atau saat persalinan infeksi saat persalinan terjadi
karena kuman yang ada pada vagina dan serviks naik mencapai kiroin dan
amnion akibatnya, terjadi amnionitis dan korionitis, selanjutnya kuman
melalui umbilkus masuk ke tubuh bayi. Cara lain, yaitu saat persalinan,
cairan amnion yang sudah terinfeksi dapat terinhalasi oleh bayi dan masuk
ke traktus digestivus dan traktus respiratorius, kemudian menyebabkan
infeksi pada lokasi tersebut. Selain melalui cara tersebut diatas infeksi
pada janin dapat terjadi melalui kulit bayi atau “port de entre” lain saat
bayi melewati jalan lahir yang terkontaminasi oleh kuman (mis. Herpes
genitalis, candida albican dan gonorrea).
3. Infeksi pascanatal atau sesudah persalinan. Infeksi yang terjadi sesudah
kelahiran umumnya terjadi akibat infeksi nosokomial dari lingkungan
diluar rahim (mis, melalui alat-alat; pengisap lendir, selang endotrakea,
infus, selang nasagastrik, botol minuman atau dot). Perawat atau profesi
lain yang ikut menangani bayi dapat menyebabkan terjadinya infeksi
nasokomial.

1.5 Tanda dan Gejala


1. Umum:
Panas, hipotermi, tampak tidak sehat, malas minum, letargi, sklerema
2. Saluran cerna:
Distensi abdomen, anoreksia, muntah, diare, hepatomegaly

3. Saluran napas:
Apnea, dispnea, takipnea, retraksi, napas cuping hidung, merintih, sianosis
4. Sistem kardiovaskuler:
Pucat, sianosis, kulit marmorata, kulit lembab, hipotensi, takikardi,
bradikardia.
5. Sistem saraf pusat:
Irritabilitas, tremor, kejang, hiporefleksi, malas minum, pernapasan tidak
teratur, ubun-ubun menonjol, high-pitched cry
6. Hematologi:
Ikterus, splenomegali, pucat, petekie, purpura, pendarahan. (Kapita selekta
kedokteran Jilid II, Mansjoer Arief 2008).

Gejala infeksi yang terjadi pada neonatus antara lain bayi tampak lesu,
tidak kuat menghisap, denyut jantungnya lambat dan suhu tubuhnya turun-naik.
Gejala-gejala lainnya dapat berupa gangguan pernafasan, kejang, jaundice,
muntah, diare, dan perut kembung.
Gejala dari infeksi neonatorum juga tergantung kepada sumber infeksi dan
penyebarannya:
a. Infeksi pada tali pusar (omfalitis) menyebabkan keluarnya nanah atau darah
dari pusat.
b. Infeksi pada selaput otak (meningitis) atau abses otak menyebabkan koma,
kejang, opistotonus (posisi tubuh melengkung ke depan) atau penonjolan
pada ubun-ubun.
c. Infeksi pada tulang (osteomielitis) menyebabkan terbatasnya pergerakan
pada lengan atau tungkai yang terkena.
d. Infeksi pada persendian menyebabkan pembengkakan, kemerahan, nyeri
tekan dan sendi yang terkena teraba hangat.
e. Infeksi pada selaput perut (peritonitis) menyebabkan pembengkakan perut
dan diare berdarah.
1.6 Komplikasi
a. Meningitis
b. Hipoglikemia, asidosis metabolic
c. Koagulopati, gagal ginjal, disfungsi miokard, perdarahan intracranial
d. Ikterus/kernicterus

1.7 Manifestasi Klinis


Hanya sebatas pada organ tunggal atau mungkin melibatkan banyak organ
(setempat atau sistemik).
1. Dapat ringan, sedang atau berat.
2. Akut, sub akut atau kronis.
3. Asimtomatik
4. Ketidakmampuan mentoleransi makanan.
5. Iritabilitas.
6. Lesu

1.8 Diagnosa
Gambaran klinisnya tumpang tindih dan mungkin pada awalnya tidak
dapat dibedakan.
1. Penyakit mungkin tidak tampak.
2. Infeksi ibu sering kali asimtomatik.
3. Pemeriksaan laboratorium khusus mungkin diperlukan.
4. Pengobatan spesisfik untuk toksoplasmosis, sifilis dan herpes simpleks
didasarkan pada suatu diagnosis yang akurat dan dapat menurunkan
morbiditas jangka panjang secara bermakna.

1.9 Pencegahan
Penatalaksanaan yang agresif diberikan pada ibu yang dicurigai menderita:
1. Korioamnionitis dengan antibiotika sebelum persalinan,
2. Persalinan yang cepat bagi bayi baru lahir,
3. Kemoprofilaksis intrapartum
4. Selektif nampak dapat menurunkan tingkat morbiditas dan mortalitas pada
infeksi bakteri neonatus.
5. Personal hygiene pada bayi (mandi, membersihkan mata. kuku, telinga dan
hidung)
a. Memandikan Bayi
Memandikan bayi adalah salah satu upaya untuk mencegah infeksi
pada bayi. Selain itu mandi juga merangsang kelancaran peredaran darah
bayi untuk membantu relaksasi.
b. Membersihkan Mata
Ada kalanya pada mata atau kelopak mata bayi terdapat kotoran
yang menempel di selaput mata atau di sudut mata. Kondisi mata bayi
baru lahir seringkali bengkak dan sembab. Selain itu, seringkali matanya
juga berair dan mengeluarkan kotoran. Jika mata bayi hanya sedikit
mengeluarkan kotoran dan tidak membuat kedua kelopak matanya
lengket, maka kondisi ini masih normal. Namun, jika kotorannya cukup
banyak dan menyebabkan mata bayi menempel terus, kompreslah
matanya dengan kapas yang telah dicelupkan ke air hangat. Kotoran yang
menumpuk pada mata bayi dapat menyebabkan infeksi pada mata bayi.
c. Membersihkan Telinga
Hal ini berfungsi untuk mencegah adanya infeksi telinga pada bayi.
Pada infeksi telinga, kuman memasuki kerongkongan dan hidung lalu
bepergian ke tuba eustachius hingga ke telinga bagian tengah. Tuba
eustachius menghubungkan kerongkongan ke telinga bagian dalam dan
bertugas untuk menyamakan tekanan timbal balik di kedua sisi gendang
telinga itu. Tanpa tuba ini, telinga anda akan terasa sakit dan meletup-
letup serat seperti tersumbat untuk sementara waktu ketika anda memanjat
ke tempat yang tinggi atau terbang. Selain membuat tekanan tetap
seimbang, tuba ini melindungi telinga bagian tengah, membuka dan
menutup sewajarnya, serta mengalirkan akumulasi cairan serta kuman
yang tidak diinginkan.
Tuba kecil inilah yang membuat lebih banyak mendapat infeksi
telingan dibanding anak-anak yang lebih tua. Bila tuba eustachius
menutup, cairan di dalam telinga bagian tengah ini menjadi terperangkap.
Ada prinsip umum dari tubuh manusia bahwa cairan yang terperangkap
selalu mendatangkan infeksi. Cairan yang terperangkap ini berperan
sebagai bahan gizi untuk kuman yang tumbuh di dalam cairan,
membuatnya tebal seperti nanah. Cairan yang tebal ini menyebabkan
tekanan pada gendang telinga, memproduksi rasa nyeri, terutama ketika
anak sedang berbaring. Inilah alasan yang membuat infeksi telinga lebih
terasa menyakitkan pada malam hari ketika anak berbaring, namun
kadang-kadang tampak lebih baik pada siang hari.
6. Perawatan tali pusat,
7. Sterilisasi peralatan
8. Pencucian tangan sebelum kontak dengan bayi adalah hal yang sangat
penting.

1.10 Penatalaksanaan

Tujuan utama perawatan bayi segera setelah lahir adalah


membersihkan jalan nafas, memotong tali pusat dan merawat tali pusat,
mempertahankan suhu tubuh bayi, identifikasi dan pencegahan infeksi.
Pencegahan infeksi yang dilakukan pada bayi baru lahir adalah perawatan tali
pusat dan pemberian salep mata.

Cara atau upaya pencegahan infeksi Menurut Depkes RI (2000),


berbagai upaya yang dilakukan untuk mencegah infeksi pada bayi baru lahir
yaitu:

1. Pencegahan infeksi pada tali pusat


Merawat tali pusat untuk menjaga luka tetap bersih. Jangan
mengoleskan bahan atau ramuan apapun ke tali pusat. Perawatan tali pusat
dilakukan dengan membungkus tali pusat memakai kasa steril dan kering.
2. Pencegahan infeksi pada kulit
Kontak kulit bayi dan ibu sedini mungkin setelah lahir menyebabkan
terjadinya kolonisasi mikro organisme ibu yang cenderung bersifat non
pathogen, dan juga antibodi yang terkandung di dalam air susu ibu. Di
samping itu lakukan rawat gabung ibu dan bayi dapat menghilangkan
bahaya bayi terkena infeksi silang
3. Pencegahan infeksi pada mata bayi baru lahir
Segera setelah lahir kedua mata bayi diberi salep mata tetrasiklin 1%
atau salep mata eritromisin 0,5% dalam 1 jam setelah lahir. Upaya
profilaksasi untuk gangguan pada mata tidak akan efektif jika pemberiannya
lewat 1 jam pertama.
4. Imunisasi
Pada usia bayi neonatal perlu mendapatkan imunisasi untuk
menghindari penyakit. Imunisasi yang didapatkan adalah:
a. BCG
Mengandung kuman hidup dari biakan bacillus calmate quirine
untuk mencegah TBC. Diberikan pada bayi segera setelah lahir dengan
dosis 0,05 ml secara intracutan di daerah musculus deltoideus
b. Polio
Mengandung virus polio tipe 1,2,3 yang hidup dan sudah
dilemahkan. Tiap 2 tetes mengandung 0,1 ml tipe 1,2,3. Diberikan secara
tetes ke dalam mulut bayi sebanyak 2 tetes segera setelah lahir. Polio I, II,
III, IV diberikan dengan interval 4 minggu
c. Hepatitis B
Diberikan sedini mungkin, dapat diberikan bersamaan dengan
pemberian imunisasi BCG.
Kebijakan program pemerintah imunisasi HB 1 diberikan pada umur
0-7 hari. Dosis pemberian 0,5 ml diberikan secara IM pada antero lateral
paha. Imunisasi berikutnya diberikan dengan interval 4 minggu (Depkes
RI dan PATH, 2005)

1.11 Pencegahan infeksi saluran pernafasan


Dalam bulan-bulan pertama kehidupannya, bayi tidak boleh dibawa
berpergian keluar, di rumah hubungan dengan orang dewasa harus sedikit
mungkin. Jika salah satu anggota keluarga ada yang menunjukkan tanda-
tanda flu atau pilek, Ia tidak boleh mengurus bayi atau perlengkapan bayi
sampai benar-benar sembuh.
Biasanya anak-anak di rumah harus diajari agar tidak memegang bayi,
terutama bayi hanya boleh dipegang atau dicium pada kakinya dan tidak boleh
pada tangan atau mukanya. Kebersihan itu sendiri sangat diperlukan untuk
mencegah infeksi pada bayinya. Ketelitian ibu untuk mencuci tangan sebelum
memegang bayi dan kebersihan akan pakaiannya dan pakaian bayi amat
penting.
Ada sumber lain yang menyebutkan, jika penatalaksanaan pencegahan
infeksi dapat dilakukan dengan cara:
1. Suportif
a. Lakukan monitoring cairan elektrolit dan glukosa
b. Berikan koreksi jika terjadi hipovolemia, hipokalsemia dan hipoglikemia
c. Bila terjadi SIADH (Syndrome of Inappropriate Anti Diuretik Hormon)
batasi cairan
d. Atasi syok, hipoksia, dan asidosis metabolic.
e. Awasi adanya hiperbilirubinemia
f. Lakukan transfuse tukar bila perlu
g. Pertimbangkan nurtisi parenteral bila pasien tidak dapat menerima nutrisi
enteral.
2. Kausatif
Antibiotic diberikan sebelum kuman penyebab diketahui. Biasanya
digunakan golongan Penicilin seperti Ampicillin ditambah Aminoglikosida
seperti Gentamicin. Pada infeksi nasokomial, antibiotic diberikan dengan
mempertimbangkan flora di ruang perawatan, namun sebagai terapi inisial
biasanya diberikan vankomisin dan aminoglikosida atau sefalosforin generasi
ketiga. Setelah didaapt hasil biakan dan uji sistematis diberikan antibiotic
yang sesuai. Tetapi dilakukan selama 10-14 hari, bila terjadi Meningitis,
antibiotic diberikan selama 14-21 hari dengan dosis sesuai untuk Meningitis.
Pada masa Antenatal
Perawatan antenatal meliputi pemeriksaan kesehatan ibu secara
berkala, imunisasi, pengobatan terhadap penyakit infeksi yang diderita ibu,
asupan gizi yang memadai, penanganan segera terhadap keadaan yang dapat
menurunkan kesehatan ibu dan janin. Rujuk ke pusat kesehatan bila
diperlukan. Pada masa Persalinan. Perawatan ibu selama persalinan
dilakukan secara aseptik. Pada masa pasca persalinan rawat gabung bila bayi
normal, pemberian ASI secepatnya, jaga lingkungan dan peralatan tetap
bersih, perawatan luka umbilikus secara steril.
2. Rawat Gabung Pada Bayi Baru Lahir
2.1 Konsep Dasar Rooming-In (Rawat Gabung)
Rooming in sering juga disebut dengan rawat gabung yaitu menyatukan
antara ibu dan bayinya dalam satu kamar, agar antara ibu dan bayinya terjalin
suatu hubungan batin dan ibu bisa menjadi lebih dekat dengan bayinya
(Pusdiknakes, 2000). Bayi yang lahir di rumah dan juga yang lahir di lembaga
kesehatan hendaknya dijaga agar tetap berada bersama ibunya selama 24 jam
sehari, sebaiknya ditempat tidur yang sama, diruangan yang hangat (sedikitnya
bersuhu 25˚C). Bila ibu dan bayi berada bersama-sama, maka akan lebih mudah
menjaga agar bayi tetap hangat dan juga untuk menyusuinya atas permintaan.
Pada lembaga kesehatan, rooming in atau rawat gabung bertujuan agar bayi tidak
terkena infeksi yang ditularkan dalam rumah sakit. Dalam pelaksanaannya bayi
harus selalu dekat ibunya semenjak dilahirkan sampai saatnya pulang karena ini
bukanlah hal yang baru lagi.
2.2 Pengertian Rawat Gabung
Rawat gabung adalah suatu sistem perawatan ibu dan anak bersama sama
atau pada tempat yang berdekatan sehingga memungkinkan sewaktu-waktu, setiap
saat, ibu tersebut dapat menyusui anaknya.
Rawat gabung adalah satu cara perawatan dimana ibu dan bayi yang baru
dilahirkan tidak dipisahkan, melainkan ditempatkan dalam sebuah ruangan, kamar
atau tempat bersama-sama selama 24 jam penuh seharinya.
Dalam pelaksanaannya bayi harus selalu dekat ibunya semenjak dilahirkan
sampai saatnya pulang. Ini sesungguhnya bukan hal yang baru. Bahkan di daerah
pedesaan hampir 80% ibu melahirkan segera melakukan rawat gabung di
rumahnya masing-masing.
Rawat gabung dapat bersifat:
1. Kontinu
Dengan bayi tetap berada di samping ibunya terus menerus, atau
2. Parsial
Ibu dan bayi bersama - sama hanya dalam beberapa jam seharinya.
Misalnya pagi bersama ibu sementara malam hari dirawat di kamar bayi.
2.3 Tujuan Rawat gabung
1. Bantuan emosional
Setelah menunggu selama sembilan bulan dan setelah lelah dalam
proses persalinan si ibu akan sangat senang dan bahagia bila dekat dengan
bayinya. Si ibu dapat membelai-belai bayi, mendengar tangisnya serta
memperhatikannya disaat buah hatinya tidur. Hubungan ibu dan bayi ini
sangat penting ditumbuhkan pada saat-saat awal dan bayi akan memperoleh
kehangatan tubuh ibu, suara ibu, kelembutan dan kasih sayangnya (bonding
effect).
2. Penggunaan ASI
Dari segala sudut pertimbangan maka ASI adalah makanan terbaik
bagi bayi. Dan produksi ASI akan makin cepat dan makin banyak bila
menyusui dilakukan sesegera dan sesering mungkin. Pada hari-hari pertama
yang keluar adalah kolostrum yang jumlahnya sedikit. Tetapi hal itu tak perlu
dikhawatirkan karena kebutuhan bayi masih sedikit.
3. Pencegahan infeksi
Pada perawatan bayi yang terpisah maka kejadian infeksi silang akan
sulit dicegah. Dengan melakukan rawat gabung maka infeksi silang dapat
dihindari. Kolostrum yang mengandung antibodi dalam jumlah tinggi, akan
melapisi seluruh permukaan mukosa dari saluran pencernaan bayi, dan
diserap oleh bayi sehingga bayi akan mempunyai kekebalan yang tinggi.
Kekebalan ini akan mencegah infeksi terutama terhadap diare.
4. Pendidikan kesehatan
Pada saat melaksanakan rawat gabung dapat dimanfaatkan untuk
memberikan pendidikan kesehatan kepada ibu, terutama primipara.
Bagaimana teknik menyusui, memandikan bayi, merawat tali pusat,
perawatan payudara dan nasihat makanan yang baik, merupakan bahan-
bahan yang diperlukan si ibu. Keinginan ibu untuk bangun dari tempat tidur,
menggendong bayi dan merawat diri akan mempercepat mobilisasi, sehingga
si ibu akan lebih cepat pulih dari persalinan.
2.4 Manfaat Rawat Gabung
Dalam rawat gabung suami dan keluarga dapat membantu ibu dalam
menyusui dan merawat bayinya secara baik dan benar, selain itu ibu akan
mendapatkan kehangatan emosional karena ibu dapat selalu kontak dengan buah
hati yang sangat dicintainya, demikian pula sebaliknya bayi dengan ibunya.
Rooming in akan membantu memperlancar pemberian ASI. Karena dalam
tubuh ibu menyusui ada hormon oksitosin. Hormon ini sangat berpengaruh pada
keadaan emosi ibu. Jika ibu tenang dan bahagia karena dapat mendekap bayinya,
maka hormon ini akan meningkat dan ASI pun cepat keluar sehingga bayi lebih
puas mendapatkan ASI. Manfaat rooming in bagi bayi akan lebih cepat
menyesuaikan dengan waktu tidur dan bangun dengan ibu. Selain itu jika bayi
menangis akan langsung di dekap ibu sehingga bayi akan tenang mendengrakan
detak jantung ibu.
Adanya rawat gabung sangat menguntungkan bagi ibu karena dapat
menurunkan angka kesakitan pada bayi seperti ibu dapat memberi ASI eksklusif
kepada bayinya yang dapat memberikan system kekebalan tubuh pada bayi.
Rooming in juga akan membantu menurunkan angka kematian ibu, dengan
dilakukannya rooming in akan menurunkan terjadinya perdarahan post partum
yaitu dengan cara ibu memberikan ASI eksklusif.
Dalam sumber lain juga disebutkan manfaat rawat gabung baik bagi ibu,
bayi, keluarga dan petugas, yaitu:
1. Bagi ibu
a. Aspek psikologi
1) Antara ibu dan bayi akan segera terjalin proses lekat (early infant-
mother bonding) dan lebih akrab akibat sentuhan badan antara ibu dan
bayi
2) Dapat memberikan kesempatan pada ibu untuk belajar merawat
bayinya
3) Memberikan rasa percaya kepada ibu untuk merawat bayinya. Ibu
dapat memberikan ASI kapan saja bayi membutuhkan, sehingga akan
memberikan rasa kepuasan pada ibu bahwa ia dapat berfungsi dengan
baik sebagaimana seorang ibu memenuhi kebituhan nutrisi bagi
bayinya. Ibu juga akan merasa sangat dibutuhkan oleh bayinya dan
tidak dapat digantikan oleh orang lain. Hal ini akan memperlancar
produksi ASI.
b. Aspek fisik
1) Involusi uteri akan terjadi dengan baik karena dengan menyusui akan
terjadi kontraksi rahim yang baik
2) Ibu dapat merawat sendiri bayinya sehingga dapat mempercepat
mobilisasi
2. Bagi bayi
a. Aspek psikologi
1) Sentuhan badan antara ibu dan bayi akan berpengaruh terhadap
perkembangan pskologi bayi selanjutnya, karena kehangatan tubuh ibu
merupakan stimulasi mental yang mutlak dibutuhkan oleh bayi.
2) Bayi akan mendapatkan rasa aman dan terlindung, dan ini merupakan
dasar bagi terbentuknya rasa percaya pada diri anak

b. Aspek fisik
a. Bayi segera mendapatkan colostrum atau ASI jolong yang dapat
memberikan kekebalan/antibodi
b. Bayi segera mendapatkan makanan sesuai pertumbuhannya
c. Kemungkinan terjadi infeksi nosokomial kecil
d. Bahaya aspirasi akibat susu botol dapat berkurang
e. Penyakit sariawan pada bayi dapat dihindari/dikurangi
f. Alergi terhadap susu buatan berkurang
3. Bagi keluarga
a. Aspek psikologi
Rawat gabung memberikan peluang bagi keluarga untuk
memberikan support pada ibu untuk memberikan ASI pada bayi
b. Aspek ekonomi
Lama perawatan lebih pendek karena ibu cepat pulih kembali dan
bayi tidak menjadi sakit sehingga biaya perawatan sedikit.
4. Bagi petugas
a. Aspek psikologi
Bayi jarang menangis sehingga petugas di ruang perawatan tenang
dan dapat melakukan pekerjaan lainnya.
b. Aspek fisik
Pekerjaan petugas akan berkurang karena sebagian besar tugasnya
diambil oleh ibu dan tidak perlu repot menyediakan dan memberikan susu
buatan.

2.5 Indikasi dan Kontraindikasi Rawat Gabung


Kendatipun gagasan rawat gabung telah dicanangkan dan berhasil dengan
baik dan memuaskan, namun masih terdapat beberapa pertimbangan yang harus
diperhatikan untuk melakukan rawat gabung, yaitu sebagai berikut.
2.5.1 Indikasi Rawat Gabung
a. Persalinan spontan apgar dengan skor diatas 7
b. Berat bayi 2500-4000 gr
c. Hamil aterm (diatas 36 minggu)
d. Tanpa infeksi
e. Ibu sehat dan siap memberi ASI
f. Bayinya harus memenuhi
1. Sistem kardioresprirasi yang baik
2. Sehat tanpa cacat bawaan
3. Refleks dapat menghisap dengan baik
2.5.2 Kontra Indikasi Rawat Gabung
a. Dari pihak ibu
1. Sistem kardiorespirasi kurang
2. Komplikasi hamil
a. Preeklampsia/ eklampsia
b. Infeksi akuta
c. Karsinoma mama
b. Dari pihak bayi
1. Bayi konvulsi
2. Bayi sakit berat
3. Bayi memerlukan terapi dan perawatan khusus
4. BBLR- Prematur, refleks untuk menghisap kurang
5. Cacat bawaan sehingga tidak bisa menghisap
6. Kelainan metabolisme sehingga tidak dapat menerima ASI

2.6 Pelaksanaan Rawat Gabung


Di berbagai senter situasi dan kondisinya bisa berbeda sehingga di sini
akan diambil satu contoh yang bisa dilaksanakan sesuai dengan situasi dan kondisi
setempat yang ada. Pelaksanaan rawat gabung hendaknya merupakan akhir dari
kegiatan yang telah dimulai dari perawatan pranatal di poliklinik sampai di kamar
bersalin dan kemudian di ruangan rawat gabung. Hal itu dimaksudkan untuk
mempersiapkan ibu-ibu agar sudah mulai melakukan adaptasi, mengerti dan
akhirnya tidak canggung menerima konsep rawat gabung itu.
1. Di Poliklinik Kebidanan:
a. Ibu-ibu diberikan penyuluhan tentang: kebaikan ASI dan perawatan
gabung, perawatan payudara, makanan ibu hamil, perawatan bayi dan
lain-lain.
b. Lebih baik bila ada ruangan untuk memutar film tentang cara
perawatan payudara, keluarga berencana, cara memandikan bayi,
merawat tali pusat dan lain sebagainya.
c. Melayani konsultasi dalam masalah kesehatan ibu dan anak.
d. Membuat laporan bulanan mengenai jumlah pengunjung, aktivitas-
aktivitas, problems yang dijumpai dan lain sebagainya.

2. Di Kamar Bersalin:
a. Bayi yang memenuhi syarat perawatan gabung dilakukan perawatan
bayi baru lahir seperti biasa. Kriteria yang diambil sebagai patokan
untuk dapat dirawat bersama ibunya adalah:
d. Nilai Apgar lebih dari 7
e. Berat badan > dari 2500 gr dan kurang dari 4000 gr
f. Masa kehamilan lebih dari 36 minggu dan kurang dari 42 minggu
g. Lahir spontan
h. Tidak ada infeksi intrapartum
i. Ibu sehat
j. Tidak ada komplikasi persalinan baik pada ibu maupun pada bayinya
k. Tidak ada kelainan bawaan yang berat
b. Dalam setengah jam pertama setelah lahir, bayi segera disusukan
kepada ibunya untuk merangsang pengeluaran ASI.
c. Memberikan penyuluhan mengenai ASI dan perawatan gabung,
terutama bagi yang belum mendapat penyuluhan di poliklinik.
a. Mengisi status secara lengkap dan benar.
b. Persiapan agar ibu dan bayinya dapat bersama-sama keruangan.
c. Memberitahukan kepada petugas di ruangan Perin atol ogi dan bahwa
ada bayi yang akan dirawat serta pengurusan administrasinya.
3. Di Ruang Perawatan:
1. Bayi diletakkan dalam tempat tidur yang ditempatkan di samping tempat
tidur ibu.
2. Perawat harus memperhatikan keadaan umum bayi dan dapat mengenali
keadaan-keadaan yang tidak normal serta kemudian melaporkan kepada
dokter jaga.
3. Bayi boleh menyusu bila bayi/ibu menginginkan.
4. Bayi tidak boleh diberi susu dari botol. Bila terpaksa/sesuai dengan
indikasi medis bayi dapat diberi susu formula dengan menggunakan
sendok/cangkir/pipet/sonde lambung.
5. Ibu harus dibantu untuk dapat menyusui bayinya dengan baik, juga untuk
merawat payudaranya.
6. Keadaan bayi sehari-hari dicatat dalam status.
7. Bila bayi sakit/perlu observasi lebili teliti, maka bayi dipindahkan ke
ruang perawatan khusus bayi barn lahir.
8. Bila ibu dan bayi sudah boleh pulang, sekali lagi diberi penerangan
tentang cara-cara merawat bayi dan memberikan ASI serta perawatan
payudara dan makanan ibu menyusui. Kepada ibu diberikan brosur yang
berhubungan dengan itu dan dipesan agar memeriksakan bayinya satu
minggu kemudian.
9. Status yang sudah lengkap, dikirim ke ruangan follow-up (Klinik
Laktasi/Poliklinik).
4. Di Ruangan Poliklinik/Ruangan Rawat Jalan:
Biasanya dilakukan di Poliklinik Kebidanan atau di Klinik Laktasi.

Pemeriksaan di ruangan poliklinik meliputi pemeriksaan bayi dan


keadaan ASI. Yang dikerjakan di ruangan ini ialah:
a. Menimbang berat badan bayi.
b. Memperhatikan payudara ibu, apakah ada kelainan yang mengganggu
proses laktasi.
c. Anamnesis mengenai makanan bayi yang diberikan serta keluhan yang
timbul.
d. Mengecek keadaan ASI.
e. Memberi nasihat mengenai makanan bayi, cars menyusukan bayi, pera-
watan payudara, perawatan bayi dan makanan ibu menyusui.
f. Memberikan peraturan makanan bayi.
g. Pemeriksaan bayi oleh ahli anak.
h. Pemberian immunisasi menurut aturannya.

2.7 Sasaran Dan Syarat


3. Bayi lahir dengan spontan, baik presentasi kepala atau bokong
4. Jika bayi lahir dengan tindakan maka rawat gabung dapat dilakukan setelah
bayi cukup sehat, reflek hisap baik, tidak ada tanda-tanda infeksi dsb
5. Bayi yang lahir dengan Sectio Cesarea dengan anestesi umum, RG dilakukan
segera stelah ibu dan bayi sadar penuh (bayi tidak ngantuk) misalnya 4-6 jam
setelah operasi.
6. Bayi tidak asfiksia setelah 5 menit pertama (nilai apgar minimal 7)
7. Umur kehamilan 37 minggu atau lebih
8. Berat lahir 2000-2500 gram atau lebih
9. Tidak terdapat tanda-tanda infeksi intrapartum
10. Bayi dan ibu sehat
Persyaratan Rawat Gabung Yang Ideal
1. Bayi
a. Ranjang bayi tersendiri yang mudah terjangkau dan dilihat oleh ibu
b. Bagi yang memerlukan tersedia rak bayi
c. Ukuran tempat tidur anak 40 x 60 cm
2. Ibu
a. Ukuran tempat tidur 90 x 200 cm
b. Tinggi 90 cm
3. Ruang
a. Ukuran ruang untuk satu tempat tidur 1,5 x 3 m
b. Ruang dekat dengan ruang petugas (bagi yang masih memerlukan
perawatan)

4. Sarana
a. Lemari pakaian
b. Tempat mandi bayi dan perlengkapannya
c. Tempat cuci tangan ibu
d. Setiap kamar mempunyai kamar mandi ibu sendiri
e. Ada sarana penghubung
f. Petunjuk/sarana perawatan payudara, bayi dan nifas, pemberian makanan
pada bayi dengan bahasa yang sederhana
g. Perlengkapan perawatan bayi
5. Petugas
a. Rasio petugas dengan pasien 1 : 6
b. Mempunyai kemampuan dan ketrampilan dalam pelaksanaan RG

2.8 Model Pengaturan Ruangan Rawat Gabung


a. Satu kamar dengan satu ibu dan anaknya
b. Empat sampai lima orang ibu dalam 1 kamar dengan bayi pada kamar yang
lain bersebelahan dan bayi dapat diambil tanpa ibu harus meninggalkan
tempat tidurnya
c. Beberapa ibu dalam 1 kamar dan bayi dipisahkan dalam 1 ruangan kaca yang
kedap udara
d. Model dimana ibu dan bayi tidur di atas tempat tidur yang sama
e. Bayi di tempat tidur yang letaknya disamping ibu

2.9 Keuntungan dan Kerugian


1. Keuntungan
a. Menggalakkan penggunaan ASI
b. Kontak emosi ibu dan bayi lebih dini dan lebih erat
c. Ibu segera dapat melaporkan keadaan-keadaanbayi yang aneh
d. Ibu dapat belajar merawat bayi
e. Mengurangi ketergantungan ibu pada bidan
f. Membangkitkan kepercayaan diri yang lebih besar dalam merawat bayi
g. Berkurangnya infeksi silang
h. Mengurangi beban perawatan terutama dalam pengawasan

2. Kerugian
a. Ibu kurang istirahat
b. Dapat terjadi kesalahan dalam pemberian makanan karena oengaruh orang
lain.
c. Bayi bisa mendapatkan infeksi dari pengunjung
d. Pada pelaksanaan ada hambatan teknis/fasilitas